Jurnal Pelita Sains dan Kesehatan (JPASAIK) Volume 4. No 2 Mei 2024 HUBUNGAN USIA DAN PARITAS DENGAN KEJADIAN RETENSIO PLASENTA DI RUMAH SAKIT UMUM DEWI SARTIKA KOTA KENDARI Yusmainnah Amin1. Andriyani2*. Julian Jingsung3 STIKes Pelita Ibu *kikidhilaira@yahoo. Received: 11-03-2024 Revised: 07-05-2024 Approved: 25-05-2024 ABSTRACT Placental retention is a leading cause of postpartum hemorrhage, significantly contributing to maternal mortality. This study aims to determine the correlation between maternal age and parity with the incidence of placental retention. This analytical study with a cross-sectional approach was conducted at Dewi Sartika General Hospital. Kendari City, in 2023. The population comprised all mothers who experienced placental retention from 2018 to 2022, totaling 168 cases. The sampling technique used was total sampling. Data analysis employed the chi-square test with a significance level of =0. The results showed a significant relationship between maternal age (A=0. and parity (A=0. with the incidence of placental It can be concluded that maternal age and parity are risk factors influencing the incidence of placental retention. Keywords: placental retention, age, parity PENDAHULUAN Retensio plasenta merupakan kondisi obstetri yang ditandai dengan tidak lahirnya plasenta dalam waktu 30 menit setelah bayi lahir. Komplikasi ini menyumbang 15Ae20% dari kematian ibu di seluruh dunia (Mochtar, 2. Di Indonesia, perdarahan akibat retensio plasenta merupakan penyebab utama kematian maternal, terutama pada kelompok usia <20 tahun dan >35 tahun serta ibu dengan paritas tinggi. Berdasarkan data rekam medik Rumah Sakit Umum Dewi Sartika, kasus retensio plasenta selama periode 2018-2022 menunjukkan tren yang fluktuatif namun tetap signifikan, dengan angka tertinggi sebesar 4,34% pada tahun 2021 (Manuaba, 2. Faktor risiko utama yang berkontribusi terhadap kejadian ini meliputi usia ekstrem reproduksi dan paritas yang tidak ideal. Selain itu, komplikasi seperti anemia, preeklamsia, dan riwayat persalinan dengan manual plasenta turut meningkatkan kemungkinan terjadinya retensio plasenta. Sejumlah penelitian sebelumnya telah menunjukkan adanya hubungan signifikan antara usia dan paritas dengan kejadian retensio plasenta. Fenomena ini menjadi perhatian serius dalam pelayanan kebidanan karena retensio plasenta tidak hanya menimbulkan risiko perdarahan hebat, tetapi juga meningkatkan kemungkinan tindakan medis invasif seperti kuretase atau manual plasenta yang berpotensi menimbulkan komplikasi lanjutan. Dalam praktik kebidanan, pengenalan dini faktor risiko melalui pencatatan usia dan paritas ibu menjadi langkah strategis dalam menekan angka kejadian. Oleh karena itu, evaluasi faktor risiko ini penting untuk perencanaan tindakan preventif dan penanganan dini (Pupita, 2. Selain itu, kebijakan institusi pelayanan kesehatan dalam pemantauan kehamilan berisiko tinggi harus didukung dengan data epidemiologi yang akurat dan terkini, salah satunya melalui hasil penelitian seperti ini (Wiknjosastro, 2. Pemahaman tentang hubungan usia dan paritas terhadap retensio plasenta juga berperan dalam pengambilan keputusan klinis oleh tenaga kesehatan selama antenatal Jurnal Pelita Sains dan Kesehatan (JPASAIK) Volume 4. No 2 Mei 2024 dan intrapartum care (Depkes RI, 2. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengkaji hubungan antara usia dan paritas dengan kejadian retensio plasenta di Rumah Sakit Umum Dewi Sartika Kota Kendari sebagai dasar perbaikan mutu pelayanan kesehatan ibu METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan desain analitik dengan pendekatan cross sectional. Lokasi penelitian adalah Rumah Sakit Umum Dewi Sartika Kota Kendari, dengan waktu pelaksanaan pada April 2023. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh ibu bersalin yang mengalami retensio plasenta pada tahun 2018-2022 sebanyak 168 orang. Teknik pengambilan sampel adalah total sampling. Data diperoleh dari rekam medis dan dianalisis secara univariat dan bivariat menggunakan uji chi-square. Variabel independen adalah usia dan paritas, sedangkan variabel dependen adalah kejadian retensio plasenta. Instrumen penelitian menggunakan lembar pengumpulan data dari rekam medis dengan kriteria operasional usia . erisiko <20 dan >35 tahun, tidak berisiko 20-35 tahu. dan paritas . erisiko 1 dan Ou4, tidak berisiko 2-. (Siregar, 2. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Penelitian Retensio plasenta merupakan kondisi kegawatdaruratan obstetri yang dapat meningkatkan risiko perdarahan pascapersalinan. Faktor-faktor yang dapat memengaruhi kejadian retensio plasenta antara lain usia ibu dan paritas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara usia dan paritas dengan kejadian retensio plasenta di RSU Dewi Sartika. Kota Kendari, berdasarkan data primer tahun 2023. Tabel 1. Distribusi Berdasarkan Usia Usia Ibu Frekuensi Persentase <20 dan >35 tahun 63,1% 20Ae35 tahun 36,9% Total Mayoritas ibu yang mengalami persalinan di RSU Dewi Sartika berada pada kelompok usia <20 dan >35 tahun, yaitu sebesar 63,1%. Hal ini menunjukkan bahwa kelompok usia yang secara biologis dianggap berisiko tinggi terhadap komplikasi obstetri seperti retensio plasenta masih cukup dominan dalam populasi yang diteliti. Tabel 2. Distribusi Berdasarkan Paritas Paritas Frekuensi Persentase 1 dan Ou4 70,2% 2Ae3 29,8% Total Sebagian besar ibu dalam penelitian ini memiliki paritas 1 dan Ou4 . ,2%). Paritas ekstrem . aik primipara maupun multipara tingg. diketahui berkaitan dengan meningkatnya risiko komplikasi obstetri, termasuk retensio plasenta. Jurnal Pelita Sains dan Kesehatan (JPASAIK) Volume 4. No 2 Mei 2024 Tabel 3. Hubungan Usia dengan Kejadian Retensio Plasenta Usia Ibu Retensio ( ) Retensio (A. Total A-value <20 dan >35 tahun 20Ae35 tahun Hasil analisis menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara usia ibu dengan kejadian retensio plasenta (A-value = 0. Ibu yang berusia <20 dan >35 tahun lebih banyak mengalami retensio plasenta . dibandingkan kelompok usia 20Ae35 tahun . Hal ini memperkuat temuan bahwa usia ibu di luar rentang reproduksi sehat cenderung memiliki risiko lebih tinggi terhadap komplikasi persalinan. Tabel 4. Hubungan Paritas dengan Kejadian Retensio Plasenta Paritas Retensio ( ) Retensio (A. Total 1 dan Ou4 2Ae3 A-value Terdapat hubungan yang signifikan antara paritas dengan kejadian retensio plasenta (A-value = 0. Ibu dengan paritas 1 dan Ou4 menunjukkan jumlah kejadian retensio yang lebih tinggi . dibandingkan paritas 2Ae3 . Temuan ini menunjukkan bahwa paritas ekstrem dapat meningkatkan kemungkinan terjadinya gangguan pelepasan plasenta. Pembahasan Hasil penelitian ini memiliki implikasi penting bagi praktik kebidanan dan kebijakan pelayanan kesehatan ibu. Identifikasi faktor risiko seperti usia dan paritas dapat dimanfaatkan dalam pengelompokan ibu hamil ke dalam kategori risiko tinggi sehingga dapat diberikan perhatian lebih dalam pengawasan kehamilannya (Mochtar. Strategi ini sangat penting dalam sistem pelayanan antenatal yang berorientasi pada pencegahan komplikasi persalinan (Manuaba, 2. Selanjutnya, retensio plasenta sebagai penyebab utama perdarahan postpartum memerlukan intervensi yang tepat dan cepat. Oleh karena itu, hasil penelitian ini menggarisbawahi perlunya peningkatan kapasitas tenaga kesehatan dalam mengenali dan menangani risiko ini sejak fase kehamilan. Penyuluhan kesehatan kepada ibu hamil juga harus difokuskan pada edukasi tentang usia ideal kehamilan dan pentingnya perencanaan jumlah anak yang rasional sesuai kemampuan tubuh ibu. Temuan ini juga dapat dijadikan dasar dalam penyusunan panduan klinis dan pelatihan berkelanjutan bagi bidan dan tenaga kesehatan lainnya, khususnya di fasilitas layanan primer (Wiknjosastro, 2014. Yuni, 2. Selain itu, data ini dapat mendukung penyusunan program rujukan berbasis risiko yang efektif (Leonita, 2021. Pupita, 2. , sehingga ibu hamil dengan risiko tinggi seperti usia ekstrem dan paritas tinggi bisa mendapatkan pelayanan lebih lanjut di fasilitas dengan sumber daya lengkap (Hidayati. Waspodo, 2. Dalam konteks penelitian lebih lanjut, temuan ini membuka peluang untuk mengeksplorasi hubungan antara faktor risiko lain (Pratiwi, 2021. Rosyida, 2. seperti status gizi, riwayat obstetri, dan akses terhadap pelayanan antenatal dengan kejadian retensio plasenta. Penelitian longitudinal juga dibutuhkan untuk melihat dampak jangka panjang dari intervensi dini terhadap penurunan kejadian komplikasi obstetri, khususnya retensio plasenta (Ningsih, 2. Jurnal Pelita Sains dan Kesehatan (JPASAIK) Volume 4. No 2 Mei 2024 KESIMPULAN Terdapat hubungan yang signifikan antara usia dan paritas dengan kejadian retensio plasenta di Rumah Sakit Umum Dewi Sartika Kota Kendari. Usia <20 tahun dan >35 tahun serta paritas 1 dan Ou4 memiliki risiko lebih tinggi terhadap kejadian ini. Diperlukan upaya preventif dalam bentuk penyuluhan dan pemantauan ketat terhadap ibu hamil dengan faktor risiko tersebut guna menekan angka kejadian retensio plasenta DAFTAR PUSTAKA