Journal of Pharmaceutical and Sciences Electronic ISSN: 2656-3088 DOI: https://doi. org/10. 36490/journal-jps. Homepage: https://journal-jps. ORIGINAL ARTICLE JPS. 2024, 7. , 208-215 Formulation of essential patchouli oil soap with with copigmentation dye of kesumba keeling (Bixa orellana L. ) seeds with Red Mold Rice Formulasi sabun mandi esensial minyak nilam dengan pewarna kopigmentasi biji kesumba keling (Bixa orellana L. ) dengan angkak merah Meutia Indriana a. Nurmala Sari a. Siti Muliani Julianty a. Muzakkir a. Yessi Febriani a. Taufik Nurrahman a. Salman a* a Universitas Tjut Nyak Dhien. Medan. Sumatera Utara. Indonesia. *Corresponding Authors: salman@utnd. Abstract Background. The skin is the outermost layer of the body that serves as a protective barrier against exposure to sunlight and is also where sweat is produced. Sweat can make the skin appear dull and sticky. Soap is a cosmetic product that is used for body cleansing. Annatto and red mold rice are used as natural colorants formulated in soap preparations, where the color produced by annatto and red mold rice is not stable. Therefore, a copigmentation method is needed to stabilize the colorant annatto with red mold rice. Method. This research use an experimental approach that initially involves the extraction of annatto seeds and red mold rice using 96% ethanol. Subsequently, the extracted compounds are formulated into soap preparations with variations in ratios of 1:1, 1:2, 2:1, and 2:2. To evaluate the quality of the soap preparations, various tests have been conducted, including homogeneity testing, pH testing, foam height testing, water content testing, and irritation testing. Result. The results showed that the copigmentation of annatto seeds with red mold rice in the form of ethanol extract could be formulated into a soap dosage form at a ratio of 2:1 (F. is the best preparation, is a homogeneous preparation, has a pH of 9. 4 , has a foam height of 8. 3 cm, has a water content All copigmented soap with ethanol extract of annatto seeds with red mold rice does not irritate the skin of the hands. Keywords: Angkak Merah. biji Kesumba Keling. Kopigmentasi. Sabun Abstrak Pendahuluan. Kulit merupakan bagian terluar tubuh yang berfungsi untuk melindungi tubuh dari paparan sinar matahari dan tempat menghasilkan keringat. Keringat membuat kulit menjadi kusam dan lengket. Sabun merupakan sediaan kosmetik yang bisa membersihkan tubuh. Biji kesumba keling (Bixa orellana L. dan angkak merah dijadikan pewarna alami yang diformulasi dalam sediaan sabun dimana warna yang dihasilkan oleh biji kesumba keling (Bixa orellana L. ) dan angkak merah tidak stabil sehingga perlu dilakukan metode kopigmentasi untuk menstabilkan zat warna dari biji kesumba keling (Bixa orellana L. ) dengan angkak merah. Metode. Penelitian ini memakai metode eksperimental yang pertama-tama melibatkan ekstraksi biji kesumba keling (Bixa orellana L. ) dan angkak merah dengan menggunakan etanol 96%. Kemudian, hasil ekstraksi tersebut akan diformulasikan dalam sediaan sabun dengan variasi perbandingan 1:1, 1:2, 2:1, dan 2:2. Untuk mengevaluasi kualitas sediaan sabun yang dihasilkan berbagai pengujian telah dilakukan termasuk uji homogenitas, uji pH, uji tinggi busa, uji kadar air, dan uji iritasi. Hasil. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kopigmentasi biji kesumba keling (Bixa orellana L. ) dengan angkak merah dalam bentuk ekstrak etanol dapat diformulasikan ke dalam bentuk sediaan sabun pada perbandingan 2:1 (F. merupakan sediaan yang terbaik, merupakan sediaan yang homogen, memiliki pH 9,4, memiliki tinggi busa 8,3 cm. Journal of Pharmaceutical and Sciences 2024. , . - https://doi. org/10. 36490/journal-jps. memiliki kadar air sebesar 6,25%. Seluruhsabun kopigmentasi ekstrak etanol biji kesumba keling (Bixa orellana L. ) dengan angkak merah tidak mengiritasi kulit tangan. Kata Kunci: Angkak Merah. biji Kesumba Keling. Kopigmentasi. Sabun Copyright A 2020 The author. You are free to : Share . opy and redistribute the material in any medium or forma. and Adapt . emix, transform, and build upon the materia. under the following terms: Attribution Ai You must give appropriate credit, provide a link to the license, and indicate if changes were made. You may do so in any reasonable manner, but not in any way that suggests the licensor endorses you or your use. NonCommercial Ai You may not use the material for commercial purposes. ShareAlike Ai If you remix, transform, or build upon the material, you must distribute your contributions under the same license as the original. Content from this work may be used under the terms of the a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4. 0 International (CC BY-NC-SA 4. License Article History: Received:04/12/2023. Revised: 01/04/2024 Accepted: 16/06/2024 Available Online: 30/06/2024 QR access this Article https://doi. org/10. 36490/journal-jps. Pendahuluan Epidermis adalah integumen eksternal organisme seperti manusia yang berperan dalam perlindungan terhadap paparan sinar UV, radiasi, patogen bakteri, dan virus. Kulit juga sebagai tempat keluar keringat pada saat beraktivitas. Keringat yang ditimbulkan membuat kulit menjadi kusan dan lengket sehingga membuat tubuh jadi tidak nyaman. Sabun merupakan sediaan kosmetik yang bisa membersihkan tubuh . Sabun mandi merupakan bahan sanitasi yang sudah menjadi bahan pokok manusia untuk membersihkan tubuh. Sabun mandi merupakan gabungan antara senyawa NaOH atau KOH dengan minyak yang berasal dari nabati atau hewani yang mampu membersihkan tubuh dan dapat menimbulkan busa jika digunakan dengan air. Salah satu komponen penyusun sabun mandi yang memberikan daya tarik pada konsumen yaitu zat pewarna. Namun zat pewarna sintetik yang digunakan untuk sabun mandi sangat berbahaya bagi tubuh karena memiliki sifat karsinogenik seperti rodamin B . Ae. Perlu dilakukan upaya penggantian zat warna sintetik ke zat warna alami dimana zat warna alami sangat mudah dijumpai seperti biji kesumba keling (Bixa orellana L. ) yang memiliki kandungan senyawa yang dijadikan zat warna alami . Ae Hasil fermentasi beras dengan kapang (Monascus purpureu. yaitu angkak bisa dijadikan pewarna alami menggantikan pewarna sintetik karena mengandung antosianin. Beras angkak merah juga tidak mempengaruhi sistem kekebalan tubuh sehingga angkak merah aman dikonsumsi . ,8,. Pigmen alami memiliki beberapa kekurangan, seperti kurangnya kecerahan warna, ketidakstabilan, dan rentan terhadap pemudaran, terutama saat terpapar sinar matahari. Namun, fokus utama dalam penggunaan pigmen ini adalah untuk mempertahankan stabilitas warna pigmen selama proses pengolahan dan penyimpanan, sehingga penurunan intensitas warna dapat dicegah . Defisiensi pigmen alami dapat diperbaiki melalui teknik kopigmentasi, suatu proses di mana molekul pigmen berinteraksi dengan molekul kopigmen, menghasilkan pembentukan ikatan baru yang mengalami Hal ini mengakibatkan peningkatan stabilitas dan kekuatan warna zat tersebut . ,6,12,. Berdasarkan konteks yang telah dijelaskan sebelumnya, penelitian ini diinisiasi oleh ketertarikan untuk mengatasi kekurangan pigmen alami dalam pembuatan sabun mandi. Dengan menggunakan pendekatan kopigmentasi, penelitian ini bertujuan untuk menghasilkan sabun mandi yang menggunakan zat warna merah alami yang diperoleh dari biji kesumba keling dan angkak merah. Tujuan utama penelitian ini adalah meningkatkan stabilitas dan kekuatan warna sabun mandi alami yang dihasilkan, sehingga menghasilkan produk yang lebih tahan lama dan estetis. Electronic ISSN : 2656-3088 Homepage: https://w. journal-jps. Journal of Pharmaceutical and Sciences 2024. , . - https://doi. org/10. 36490/journal-jps. Metode Penelitian Alat dan bahan Alat yang digunakan dalam penelitian ini berupa pH Meter (ATC). Rotary Evaporator (BUCHI). Gelas-Gelas Kimia (Pyre. Blender (Miyak. Kertas Saring (Merc. Toples Kaca (Merc. Timbangan Analitik (Shimadzu ATX . Cawan Porselin (Merc. Cetakan Sabun (Merc. Penangas Air (Memmert WNB . dan Oven (Memmer. Bahan yang digunakan dalam penelitian ini berupa Etanol 96% (Emsur. Minyak Kelapa (Merc. Minyak Nilam (Merc. Akuades (Merc. Asam Stearat (Merc. Natrium Lauril Sulfat (Merc. NaCl (Merc. Biji Kesumba Keling. Angkak Merah. Gliserin (Merc. Pengumpulan Bahan Biji kesumba keling dan angkak merah dipisahkan berdasarkan penampilan fisik, diikuti dengan pengeringan selama setengah jam dalam lemari pengering untuk memastikan kekeringan dari sampel yang akan di ekstraksi. Setelah itu, kedua sampel diblender menjadi serbuk dan disimpan dalam toples kaca yang kedap udara di dalam lemari penyimpanan sampel hingga digunakan untuk proses ekstraksi. Maserasi Angkak Merah Sebanyak 0,5 kilogram angkak merah direndam dalam 3000 mL etanol 96% dalam sebuah wadah yang kemudian ditutup rapat dan dibiarkan selama 5 x 1440 menit dengan menjaga perlindungan dari paparan Sambil sesekali dikocok. Setelah proses maserasi tersebut, maserasi disaring menggunakan kertas saring untuk mendapatkan filtrat etanol 96% I. Sisa dari proses tersebut kemudian direndam kembali dalam cara yang sama menghasilkan filtrat etanol 96% II. Filtrat I dan II kemudian digabungkan dalam sebuah wadah, ditutup rapat, dan kemudian dipekatkan menggunakan rotari evaporator . ,6,12Ae. Maserasi Biji Kesumba Keling Simplisia Kesumba Keling (Bixa orellana L. ) yang telah mengering, ditimbang sebanyak 0,4 kilogram lalu direndam dalam pelarut etanol 96% dengan perbandingan 1:10 . erat per volum. dalam sebuah botol yang terbuat dari bahan gelap. Proses perendaman ini berlangsung selama 5 x 1400 menit dengan sesekali Setelah proses perendaman, maserasi yang dihasilkan kemudian dipekatkan menggunakan alat rotari evaporator untuk menghilangkan pelarut etanol dan meninggalkan senyawa-senyawa yang terkandung dalam simplisia Kesumba Keling . ,6,12Ae. Proses ini bertujuan untuk menghasilkan ekstrak yang konsentrat, yang kemudian dapat digunakan dalam proses formulasi sabun mandi. Proses Kopigmentasi ekstrak biji kesumba keling dengan angkak merah Kopigmentasi dari ekstrak biji kesumba keling dengan angkak merah dilakukan menggunakan asam Sebanyak 5 mL ekstrak pekat diencerkan dengan menambahkan buffer pH 3,5 sebanyak tiga kali volume ekstrak pekat tersebut. Larutan yang dihasilkan kemudian dipisahkan dari endapan menggunakan centrifuge dengan kecepatan 10. 000 rpm pada suhu 5AC selama 10 menit. Jumlah kopigmen yang akan ditambahkan dihitung dan dicampurkan dengan rasio . 1:0, 1:1, 2:1, dan 5:1 . ,6,12Ae. Prosedur Pembuatan Sabun Minyak nilam ditimbang dan dimasukkan ke dalam beaker glass, kemudian dipanaskan di atas penangas air pada suhu 80AC A 2AC. Setelah itu. NaOH ditambahkan sedikit demi sedikit sambil terus diaduk menggunakan batang pengaduk hingga terbentuk stok sabun. Selanjutnya, ditambahkan pewarna hasil kopigmentasi ekstrak biji kesumba keling dengan angkak merah, selanjutnya ditambahkan juga asam stearat, gliserin, natrium lauril sulfat. NaCl, dan akuades ditambahkan secara berangsur-angsur ke dalam campuran Setelah homogen, campuran sabun yang masih panas dimasukkan ke dalam cetakan, lalu didinginkan di dalam lemari es hingga mengeras . ,15Ae. Uji organoleptik Uji organoleptik adalah prosedur evaluasi yang digunakan untuk mengamati dan menilai karakteristik fisik suatu sediaan. Fokus utama adalah pada aspek yang dapat dirasakan oleh indra manusia, seperti aroma, bentuk, warna, dan tekstur. Pengujian ini memberikan pemahaman yang signifikan tentang Electronic ISSN : 2656-3088 Homepage: https://w. journal-jps. Journal of Pharmaceutical and Sciences 2024. , . - https://doi. org/10. 36490/journal-jps. kualitas fisik sediaan, yang penting dalam pengembangan produk dan memenuhi preferensi konsumen. Sebagai tahap awal dalam penilaian produk, prosedur ini memiliki peran penting dalam memastikan kualitas produk yang tinggi . ,15,. Uji pH Sebanyak 10 g sabun ditimbang dan dimasukkan ke dalam gelas beaker, kemudian ditambahkan 100 ml akuades. Selanjutnya, pH meter dimasukkan ke dalam larutan tersebut, dan hasil pengukuran diamati hingga nilai pH yang ditunjukkan stabil. Persyaratan uji pH untuk sabun adalah berkisar antara 9-11 . ,3,15,. Uji kestabilan busa Sabun seberat 2 g ditimbang dan dimasukkan ke dalam gelas ukur, kemudian ditambahkan 15 mL Campuran ini kemudian dikocok dengan kuat, dan tinggi busa yang terbentuk diukur dari dasar hingga puncak busa. Pengukuran ini dilakukan sebagai pengukuran busa awal. Setelah 5 menit, pengukuran busa dilakukan kembali dengan metode yang sama untuk memperoleh pengukuran busa akhir. Selanjutnya, ditentukan tinggi kestabilan busa berdasarkan perbedaan antara pengukuran awal dan akhir. Tinggi busa dianggap memenuhi syarat apabila berada dalam rentang 1,3-22 cm. ,3,. Uji kadar air Sebanyak 4 g sabun ditimbang dan dimasukkan ke dalam cawan, kemudian cawan tersebut ditempatkan di dalam oven pada suhu 105AC A 2AC selama 2 jam. Setelah itu, sabun ditimbang kembali menggunakan timbangan digital. Persentase kadar air kemudian dihitung berdasarkan perbedaan massa sebelum dan sesudah pengeringan. Kadar air dianggap memenuhi syarat jika nilainya kurang dari 15% . Uji homogenitas Tujuan dari perlakuan dalam pengujian ini adalah untuk mengidentifikasi perubahan signifikan pada karakteristik akhir sediaan yang telah dibuat. Sampel dengan berat 0,001 kilogram diperiksa menggunakan dua kaca objek, di mana sampel disebar merata di atas salah satu kaca objek, kemudian ditutup dengan kaca objek kedua. Parameter kualitas yang diharapkan meliputi tercapainya homogenitas yang optimal dalam sediaan serta ketiadaan gumpalan partikel yang terlihat . Uji iritasi Uji iritasi merupakan bagian penting dari evaluasi untuk semua produk sabun yang telah dibuat. Prosedur pengujian dimulai dengan membersihkan kedua tangan sukarelawan menggunakan air. Setiap formulasi sabun kemudian digosokkan selama 60 detik pada kedua tangan yang telah dibersihkan. Setelah itu, tangan sukarelawan dicuci hingga bersih dengan air mengalir, dan perubahan pada kulit tangan diamati setelah 300 detik pasca pencucian. Uji iritasi ini dilakukan untuk setiap formulasi yang berbeda, yaitu formulasi 1, formulasi 2, formulasi 3, formulasi 4, dan formulasi 5, dengan prosedur yang sama seperti pada Keberhasilan pengujian diindikasikan oleh ketiadaan perubahan pada kulit tangan sukarelawan, seperti munculnya rasa gatal, perasaan kasar, atau kemerahan. Pengujian ini melibatkan partisipasi dari 20 sukarelawan . ,15,17,. Hasil dan Diskusi Sampel angkak merah dan biji kesumba keling direndam dalam pelarut dengan perbandingan 1:10 . erat per volum. dan kemudian menjalani proses maserasi selama 5 hari. Selama periode tersebut, sampel secara berkala dikocok untuk memastikan pencampuran yang merata dan ekstraksi yang efisien. Setelah 5 hari filtrat dari kedua sampel tersebut disaring lalu ditampung ke wadah tertutup. Lalu kedua maserat tersebut dipekatkan dengan rotari evaporator. Lalu kedua sampel dari hasil rotari evaporator tersebut diuapkan kembali untuk mendapatkan hasil ekstrak kental yang maksimal. Kemudian masing-masing ekstrak kental dari kedua maserat tersebut ditimbang lalu didapatkan ekstrak kental sebanyak 43,27 gram dan 44,76 gram kemudian didapatkan hasil rendemen sebesar 8,65 % dan 11,19% . ,6,. Electronic ISSN : 2656-3088 Homepage: https://w. journal-jps. Journal of Pharmaceutical and Sciences 2024. , . - https://doi. org/10. 36490/journal-jps. Berdasarkan tabel 2 menunjukkan bahwa formulasi formulasi 0 memiliki aroma minyak kelapa dan formulasi 1, formulasi 2, formulasi 3, formulasi 4 dan formulasi 5 memiliki aroma nilam. Semua formulasi memiliki bentuk yang sama yaitu berbentuk oval. Formulasi formulasi 0 dan formulasi 1 berwarna putih. Formulasi 2 dan formulasi 5 berwarna jingga. Formulasi 3 berwarna orange dan formulasi formulasi 4 berwarna merah hati. Data dalam Tabel 3 menunjukkan bahwa pada formulasi F0, pH mencapai 10,1 dengan tinggi busa mencapai 10 cm. Formulasi 1 memiliki pH sebesar 10,7 dan tinggi busa sebesar 8,3 cm. Formulasi 2 memiliki pH sekitar 9,4 dengan tinggi busa mencapai 6,1 cm. Formulasi 3 memiliki pH sebesar 9,1 dan tinggi busa sekitar 10,8 cm. Formulasi 4 memiliki pH sekitar 9,4 dengan tinggi busa mencapai 9,4 cm. Sementara pada formulasi 5, pH mencapai 10,3 dengan tinggi busa sebesar 7,1 cm. Hasil uji kadar air pada semua formulasi sabun dengan berbagai konsentrasi memenuhi standar yang ditetapkan, dengan rentang hasil antara 4,75% hingga 9,25%. Evaluasi homogenitas menunjukkan bahwa semua formulasi sabun yang telah dibuat berhasil mencapai pencampuran yang sangat baik. Hal ini terlihat dari ketiadaan granul atau partikel kasar pada semua formulasi sabun yang diuji. Proses homogenisasi yang diterapkan selama pembuatan sabun berhasil mencapai tingkat dispersi yang optimal sehingga tidak terlihat ketidakseragaman atau ketidakhomogenan dalam bentuk granul pada sediaan sabun. Kesimpulan ini mengindikasikan bahwa formulasi sabun telah berhasil mencapai tingkat homogenitas yang memadai, memenuhi standar kualitas yang diinginkan. Hasil pengujian iritasi pada 20 panelis menunjukkan bahwa semua sediaan sabun yang dibuat tidak menimbulkan reaksi iritasi yang signifikan pada kulit. Tidak terdapat tanda-tanda iritasi yang dapat diamati pada kulit panelis, seperti kemerahan, rasa gatal, atau peningkatan ketidakhalusan permukaan kulit mereka. Temuan ini menggambarkan bahwa sediaan sabun yang diuji aman untuk digunakan dan tidak menginduksi iritasi pada kulit panelis yang menjadi subjek uji. Kesimpulan ini mendukung tingkat keamanan yang tinggi dari produk sabun yang telah dihasilkan selama pengujian iritasi. Tabel 1 Formula Modifikasi Sediaan Sabun Komposisi EBKK EAM Minyak Kelapa Minyak Nilam Asam Stearat Gliserin Natrium Lauril Sulfat NaCl Akuades Keterangan : EBKK EAM 5 tetes 0,2 g 0,2 g Ad 100 mL Ad 100mL 5 tetes 0,2 g Ad 100mL 0,33 0,66 5 tetes 0,2 g Ad 100mL 0,66 0,33 5 tetes 0,2 g Ad 100mL 5 tetes 0,2 g Ad 100mL : Ekstrak Biji Kesumba Keling : Ekstrak Angkak Merah : Blanko : Blanko dengan minyak nilam tanpa ekstrak : Formula dengan perbandingan BKK dengan AM 1:1 : Formula dengan perbandingan BKK dengan AM 1:2 : Formula dengan perbandingan BKK dengan AM 2:1 : Formula dengan perbandingan BKK dengan AM 2:2 Tabel 2. Hasil Uji organoleptik Formulasi Bau Aroma minyak Aroma Nilam Aroma Nilam Aroma Nilam Bentuk Oval Warna Putih Tekstur Padat dan halus Oval Oval Oval Putih Jingga Orange Padat dan halus Padat dan halus Padat dan halus Electronic ISSN : 2656-3088 Homepage: https://w. journal-jps. Journal of Pharmaceutical and Sciences 2024. , . - https://doi. org/10. 36490/journal-jps. Aroma Nilam Aroma Nilam Keterangan Oval Oval Merah hati Jingga Padat dan halus Padat dan halus : Blanko : Blanko dengan minyak nilam tanpa ekstrak : Formula dengan perbandingan BKK dengan AM 1:1 : Formula dengan perbandingan BKK dengan AM 1:2 : Formula dengan perbandingan BKK dengan AM 2:1 : Formula dengan perbandingan BKK dengan AM 2:2 Tabel 3 Hasil Uji pH, uji tinggi busa dan uji kadar air Formulasi Keterangan : Tinggi Busa . Kadar Air (%) 9,25 5,75 6,25 4,75 : Blanko : Blanko dengan minyak nilam tanpa ekstrak : Formula dengan perbandingan BKK dengan AM 1:1 : Formula dengan perbandingan BKK dengan AM 1:2 : Formula dengan perbandingan BKK dengan AM 2:1 : Formula dengan perbandingan BKK dengan AM 2:2 Gambar 1. Sabun mandi esensial minyak nilam dengan pewarna kopigmentasi biji kesumba keling (Bixa orellana L. ) dengan angkak merah. Keterangan : : Blanko : Blanko dengan minyak nilam tanpa ekstrak : Formula dengan perbandingan BKK dengan AM 1:1 : Formula dengan perbandingan BKK dengan AM 1:2 : Formula dengan perbandingan BKK dengan AM 2:1 : Formula dengan perbandingan BKK dengan AM 2:2 Electronic ISSN : 2656-3088 Homepage: https://w. journal-jps. Journal of Pharmaceutical and Sciences 2024. , . - https://doi. org/10. 36490/journal-jps. Kesimpulan Secara keseluruhan, hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan bahan pewarna dari kopigmentasi ekstrak biji kesumba keling dengan angkak merah dalam formulasi sabun menghasilkan produk yang memenuhi berbagai aspek kualitas. Semua formulasi sabun menunjukkan homogenitas yang baik, tidak menghasilkan iritasi pada kulit, dan memiliki karakteristik organoleptik yang baik, termasuk aroma yang khas, bentuk yang seragam, warna yang menarik, serta tekstur yang padat dan halus. formulasi sabun berada dalam rentang 9,1 hingga 10,7, sementara tinggi busa mencapai rentang 6,1 cm hingga 10,8 cm. Kadar air pada semua formulasi berada dalam kisaran 4,75% hingga 9,25%. Keseluruhan, formulasi sabun ini terbukti aman dan berkualitas tinggi dalam pengujian ini. Conflict of Interest Semua penulis mengonfirmasi bahwa penelitian ini bebas dari konflik kepentingan. Penelitian dan penulisan artikel dilakukan secara independen, tanpa pengaruh eksternal, serta tidak ada kepentingan pribadi, keuangan, atau profesional yang memengaruhi objektivitas dan integritas penelitian. Acknowledgment Saya ingin mengungkapkan terima kasih yang tulus kepada Fakultas Farmasi Universitas Tjut Nyak Dhien atas dukungan dan fasilitas yang telah mereka sediakan untuk membantu saya menyelesaikan Supplementary Materials Referensi