PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE THINK PAIR SHARE (TPS) UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN IPS MATERI MASYARAKAT INDONESIA MASA PRAAKSARA. HINDU-BUDHA. DAN ISLAM PADA SISWA KELAS VII C SMPN 33 BANDAR LAMPUNG Kartini SMPN 33 Bandarlampung kartini@gmail. How to cite . n APA Styl. : Kartini. Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Think Pair Share (TPS) untuk Meningkatkan Kualitas Pembelajaran IPS Materi Masyarakat Indonesia Masa Praaksara. Hindu-Budha, dan Islam pada Siswa Kelas VII C SMPN 33 Bandar Lampung. LENTERA: Jurnal Ilmiah Kependidikan, 14 . , pp. Abstract: The purpose of this study is to describe improving social studies learning outcomes for students by applying the Think Pair Share learning model to social studies learning. The type of research is classroom action research. The subjects of this study were 32 students of class VIIC at SMPN 33 Bandar Lampung for the 2018/2019 academic year, consisting of 18 male students and 14 female students. Data collection techniques used test and non-test techniques. This classroom action research was conducted in 2 cycles, each consisting of 2 meetings. Each meeting consists of 4 stages, namely planning, implementing, observing, and The results showed that application of the Think Pair Share Learning Model in social studies learning can improve social studies learning outcomes of Indonesian Society Material during the Praaksara. Hindu-Buddhist and Islamic periods of class VII SMPN 33 Bandar Lampung 2018/2019. Keywords: Think Pair Share learning model. Social Studies Learning Abstrak: Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan meningkatkan hasil belajar IPS bagi siswa dengan menerapkan model pembelajaran Think Pair Share pada pembelajaran IPS. Jenis penelitian ini adalah ting dakan kelas. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas VIIC SMPN 33 Bandar Lampung Tahun Pelajaran 2018/2019 yang berjumlah 32 orang siswa. terdiri dari 18 siswa laki-laki dan 14 siswa perempuan. Teknik pengumpulan data menggunakan teknik tes dan non tes. Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan dalam 2 siklus, masing-masing terdiri dari 2 pertemuan. Setiap pertemuan terdiri atas 4 tahap, yaitu perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan model pembelajaran Think Pair Share pada pembelajaran IPS dapat meningkatkan hasil belajar IPS bagi siswa kelas VII SMPN 33 Bandar Lampung 2018/2019. Kata kunci : model pembelajaran Think Pair Share. Pembelajaran IPS Metode Pendidikan dan Pengajaran yang Diterapkan oleh Nabi Muhammad SAW PENDAHULUAN Pembelajaran yang efektif merupakan proses belajar mengajar yang bukan saja terfokus kepada hasil yang dicapai peserta didik, namun bagaimana proses pembelajaran yang efektif mampu memberikan pemahaman yang baik, kecerdasan, ketekunan, kesempatan, dan dapat memberikan perubahan perilaku serta mengaplikasikannya dalam kehidupan mereka. Menurut Gagne . alam Suprijono, 2012: . Aubelajar adalah perubahan disposisi atau kemampuan yang dicapai seseorang melalui aktivitas. Perubahan disposisi tersebut bukan diperoleh langsung dari proses pertumbuhan seseorang secara alamiahAy. Melalui aktivitas belajar tersebut, siswa akan memperoleh hasil belajar. Dalam hal ini, siswa hanya berperan sebagai penerima materi pelajaran, dan guru sebagai sumber informasi. Siswa tidak diberi kesempatan untuk menemukan sendiri pengetahuannya sehingga berdampak pada kurangnya kemampuan siswa untuk mengembangkan potensi yang dimiliki Untuk memperbaiki keadaan tersebut, guru perlu mengupayakan pembelajaran yang tidak hanya berorientasi pada hasil pembelajaran, tetapi juga pada proses pembelajarannya. Upaya yang dapat dilakukan guru yaitu dengan menerapkan model pembelajaran yang sesuai dengan tujuan pembelajaran yang akan dicapai. Salah satu model pembelajaran yang sesuai yaitu model pembelajaran kooperatif yang bertujuan agar siswa lebih mudah menemukan dan memahami konsep yang sulit dengan bekerja dalam kelompok. Kenyataanya untuk mewujudkan proses pembelajaran yang aktif dan menyenangkan dan dapat mengembangkan potensi siswa seperti yang telah disampaikan di atas ternyata tidaklah mudah. Begitu pula yang terjadi pada pembelajaran IPS. Proses pembelajaran di dalam kelas hanya diarahkan kepada kemampuan anak untuk menghafal informasi dan tidak diarahkan untuk membangun dan mengembangkan karakter serta potensi yang dimiliki (Winataputra, 2008: 1-. Berdasarkan hasil pengamatan dan tes pada siswa kelas VIIC SMPN 33 Bandar Lampng diperoleh data bahwa masih banyak siswa yang mengalami kesulitan untuk memahami konsep. Selain itu, kegiatan pembelajaran masih berpusat pada guru dan siswa kurang dilibatkan secara aktif dalam pembelajaran. Berdasarkan hasil penilaian mata pelajaran IPS materi Masyarakat Indonesia pada masa Praaksara. Hindu-Budha dan Islam semester genap tahun 2018/2019, diperoleh data rata-rata nilai kelas VIIC hanya mencapai 58,4. Dari 32 siswa kelas VIIC, siswa yang memperoleh nilai di atas KKM hanya 8 siswa atau sekitar 25%. Proses belajar mengajar yang baik menuntut siswa untuk lebih aktif sehingga proses belajar mengajar harus mencerminkan komunikasi dua arah, tidak sekedar pemberian informasi searah dari guru tanpa mengembangkan mental pembelajaran yang kurang variatif dan tidak memanfaatkan media sebagai alat bantu belajar sehingga siswa merasa bosan dan kurang berpartisipasi dalam kegiatan pembelajaran IPS. Berdasarkan masalah tersebut, peneliti menggunakan Kartini LENTERA: Jurnal Ilmiah Kependidikan. Vol. No. , 41-52 model pembelajaran Think Pair Share untuk meningkatkan kualitas pembelajaran IPS materi Masyarakat Indonesia pada masa Praaksara. Hindu-Budha dan Islam. Materi Masyarakat Indonesia pada masa Praaksara. Hindu-Budha dan Islam seringkali sulit untuk dipahami dan dikuasai oleh siswa. Untuk itu, perlu diupayakan agar pembelajaran IPS ini dapat dengan mudah dipahami dan dikuasai oleh siswa. Untuk mencapai hal tersebut, peneliti akan menerapkan model Think Pair Share (TPS) pada pembelajaran IPS materi Masyarakat Indonesia pada masa Praaksara. Hindu-Budha dan Islam. Materi Masyarakat Indonesia pada masa Praaksara. Hindu-Budha dan Islam seringkali sulit untuk dipahami dan dikuasai oleh siswa. Untuk itu, perlu diupayakan agar pembelajaran IPS ini dapat dengan mudah dipahami dan dikuasai oleh siswa. Untuk mencapai hal tersebut, peneliti akan menerapkan model Think Pair Share (TPS) pada pembelajaran IPS materi Masyarakat Indonesia pada masa Praaksara. Hindu-Budha dan Islam. Pada pembelajaran dengan menggunakan model TPS ini, siswa akan melaksanakan tiga tahap yaitu thinking, pairing, dan sharing. Pembelajaran ini dimulai dengan guru memberikan pertanyaan atau isu tertentu yang harus dijawab oleh siswa secara individual . , kemudian siswa akan dipasangkan dengan siswa lain untuk berdiskusi menyelesaikan dan memperdalam makna jawaban . , kemudian setiap pasangan diminta untuk menyampaikan hasil diskusi mereka di depan kelas . Dengan kegiatan tersebut, siswa dapat melibatkan diri secara aktif dalam pembelajaran dan dapat lebih mudah memahami materi pelajaran karena siswa menggali sendiri pengetahuannya, tidak sekedar menerima pengetahuan baru dari guru. Dengan menerapkan model pembelajaran TPS ini, diharapkan dapat meningkatkan performansi guru, aktivitas dan hasil belajar siswa pada pembelajaran IPS. Berdasarkan latar belakang di atas, peneliti tertarik untuk melakukan penelitian tindakan kelas (PTK) dengan judul AuPenerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Think Pair Share (TPS) Untuk Meningkatkan Kualitas Pembelajaran IPS Materi Masyarakat Indonesia pada masa Praaksara. HinduBudha dan Islam Pada Siswa Kelas VIIC SMPN 33 Bandar Lampung Tahun Pelajaran 2018/2019Ay. KAJIAN TEORI Pembelajaran Kooperatif Panitz . alam Suprijono, 2012: . mengemukakan bahwa Aypembelajaran kooperatif adalah konsep yang lebih luas yang meliputi semua jenis kerja kelompok termasuk bentuk-bentuk yang lebih dipimpin oleh guru atau diarahkan oleh guruAy. Selanjutnya menurut Nurulhayati . alam Rusman, 2012: . , pembelajaran kooperatif adalah strategi pembelajaran yang melibatkan partisipasi siswa dalam satu kelompok kecil untuk saling berinteraksi. Menurut Roger dan Johnson . alam Suprijono, 2012: . , untuk mencapai hasil yang maksimal, lima unsur model pembelajaran kooperatif harus diterapkan yaitu saling Metode Pendidikan dan Pengajaran yang Diterapkan oleh Nabi Muhammad SAW ketergantungan positif, tanggung jawab perseorangan, interaksi promotif, komunikasi antaranggota, dan pemrosesan kelompok. Berikutnya Artzt & Newman . alam Trianto, 2012: . menyatakan bahwa dalam belajar kooperatif siswa belajar bersama sebagai suatu tim dalam menyelesaikan tugas-tugas kelompok untuk mencapai tujuan bersama. Lebih lanjut. Sanjaya . alam Rusman, 2012: . mengemukakan bahwa cooperative learning merupakan kegiatan belajar siswa yang dilakukan dengan cara berkelompok. Model pembelajaran kelompok adalah rangkaian kegiatan belajar yang dilakukan oleh siswa dalam kelompok-kelompok tertentu untuk mencapai tujuan pembelajaran yang telah Berdasarkan beberapa pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran kooperatif yaitu model pembelajaran yang dirancang dengan menempatkan siswa dalam kelompok-kelompok untuk mengembangkan kemampuan kognitif dan ketrampilan sosial siswa dalam menyelesaikan tugas Berdasarkan beberapa pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran kooperatif yaitu model pembelajaran yang dirancang dengan menempatkan siswa dalam kelompok - kelompok untuk mengembangkan kemampuan kognitif dan ketrampilan sosial siswa dalam menyelesaikan tugas Berdasarkan beberapa pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran kooperatif yaitu model pembelajaran yang dirancang dengan menempatkan siswa dalam kelompok-kelompok untuk mengembangkan kemampuan kognitif dan ketrampilan sosial siswa dalam menyelesaikan tugas Model Think Pair Share Strategi Think-Pair-Share (TPS) atau berpikir berpasangan berbagi merupakan jenis pembelajaran kooperatif yang dirancang untuk memengaruhi pola interaksi siswa. Strategi think-pair-share ini berkembang dari penelitian belajar kooperatif dan waktu tunggu. Menurut Frang Lyman dan koleganya di Universitas Maryland sesuai yang dikutip Trianto . 2: . Think-Pair-Share merupakan suatu cara yang efektif untuk membuat variasi suasana pola diskusi Dengan asumsi bahwa semua resitasi atau diskusi membutuhkan pengaturan untuk mengendalikan kelas secara keseluruhan, dan proses yang digunakan dalam think- pair-share dapat memberi siswa lebih banyak waktu berpikir, untuk merespon dan saling membantu. Suprijono . 2: . menyatakan bahwa langkah- langkah think pair share yakni: thinking, guru mengajukan pertanyaan atau isu terkait dengan pelajaran untuk dipikirkan oleh siswa. Guru memberikan kesempatan kepada mereka memikirkan jawabannya. pairing, guru meminta siswa untuk berpasangpasangan. Guru memberi kesempatan kepada pasangan-pasangan itu untuk Diskusi diharapkan dapat memperdalam makna dari jawaban yang telah dipikirkan melalui bertukar pikir dengan pasangannya. sharing, hasil diskusi Kartini LENTERA: Jurnal Ilmiah Kependidikan. Vol. No. , 41-52 dari tiap-tiap pasangan dibicarakan dengan pasangan seluruh kelas, dalam kegiatan ini diharapkan terjadi tanya jawab yang mendorong pada pembangunan pengetahuan secara integratif sehingga siswa mampu menemukan sendiri pengetahuan yang dipelajarinya. Pernyataan di atas mengandung pengertian bahwa berpikir, berpasangan, berbagi Ae TPS adalah sebuah strategi pembelajaran aktif yang dapat digunakan di semua bentuk kelas yang memberi siswa waktu untuk berpikir pada suatu topik, berbaur dengan lingkungan di kelasnya untuk berdiskusi di sepanjang sisa Menurut Suyitno . keunggulan dari model TPS adalah optimalisasi partisipasi siswa dengan metode klasikal yang memberikan kesempatan kepada satu siswa untuk maju dan membagikan hasil diskusinya untuk seluruh kelas, serta memberikan kesempatan kepada setiap siswa untuk menunjukkan partisipasi mereka. Langkah-langkah model pembelajaran think-pair-share menurut Arends yang disadur oleh Trianto . 2: 81-. terdiri dari tiga langkah. Langkah pertama berpikir . , guru mengajukan pertanyaan atau masalah sesuai dengan pelajaran, dan meminta siswa untuk memikirkan sendiri jawaban dari masalah Langkah kedua berpasangan . , guru meminta siswa untuk berpasangan dan mendiskusikan hasil pemikiran mereka. Guru memberikan kesempatan kepada setiap pasangan untuk dapat menyatukan jawaban dari pertanyaan yang diajukan atau menyatukan gagasan apabila suatu masalah khusus yang diidentifikasi. Langkah ketiga berbagi . , guru meminta pasanganpasangan untuk berbagi dengan keseluruhan kelas yang telah mereka diskusikan. Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) merupakan ilmu yang mengkaji tentang manusia dan dunianya. Dalam kurikulum. IPS terpadu merupakan mata pelajaran yang diberikan sejak SD/MI sampai SMP/MTs. Mata pelajaran IPS memiliki karakteristik tertentu, antara lain: . IPS merupakan keterpaduan dari berbagai disiplin ilmu sosial seperti sosiologi, sejarah, geografi dan ekonomi, . Materi bagian IPS terdiri dari sejumlah konsep, prinsip, dan tema yang berkenaan dengan hakekat manusia sebagai mahkluk sosial . omo sociu. , . kajian IPS dikembangkan melalui tiga pendekatan utama, yaitu functional approach. Ruang lingkup mata pelajaran IPS meliputi aspek-aspek: . Manusia, tempat dan . Waktu, berkelanjutan dan perubahan. Sistem sosial dan budaya. Perilaku ekonomi dan kesejahteraan (Japar dan Siska, 2. Karakteristik mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial SMP / MTs (Depdiknas 2004:6 ) antara lain: . Ilmu Pengetahuan Sosial merupakan gabungan dari unsur-unsur geografi, sejarah, ekonomi, hukum dan politik, kewarganegaraan, sosiologi , bahkan bidang humaniora, pendidikan dan agama. Kompetensi dasar IPS berasal dari struktur keilmuan geografi, sejarah, ekonomi, hukum dan politik dan sosiologi yang dikemas sedemikian rupa Metode Pendidikan dan Pengajaran yang Diterapkan oleh Nabi Muhammad SAW sehingga menjadi pokok bahasan atau topik . Kompetensi dasar IPS juga menyangkut berbagai masalah sosial yang dirumuskan dengan pendekatan interdisipliner dan multidisipliner. Standar kompetensi dan kompetensi dasar dapat menyangkut peristiwa dan perubahan kehidupan masyarakat dengan prinsip sebab, akibat, kewilayahan, adaptasi dan pengelolaan lingkungan, struktur, proses dan masalah sosial serta upaya-upaya perjuangan hidup agar survive seperti pemenuhan kebutuhan, kekeuasaan, keadilan dan jaminan keamanan. METODE Prosedur yang ditetapkan dalam penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas. Menurut Arikunto . , penelitian tindakan kelas merupakan suatu pencermatan terhadap kegiatan belajar berupa sebuah tindakan, yang sengaja dimunculkan dan terjadi dalam sebuah kelas secara bersama. Daur ulang dalam penelitian tindakan diawali dengan perencanaan tindakan . , penerapan tindakan . , mengobservasi dan mengevaluasi proses dan hasil tindakan . bservation and evaluatio. , dan melakukan refleksi . , dan seterusnya sampai perbaikan atau peningkatan yang diharapkan tercapai . riteria Penelitian bertempat di SMPN 33 Bandar Lampung pada tahun pelajaran 2018/2019 dan dilaksanakan pada Maret Ae Mei 2019. Subjek penelitian ini adalah guru IPS kelas VII C dan siswa kelas VII C SMPN 33 Bandar Lampung tahun pelajaran 2018/2019. Adapun jumlah siswa yang dimaksud adalah 32 orang siswa yang terdiri dari 18 siswa laki-laki dan 14 siswa perempuan. Penelitian ini semua siswa terlibat dalam kegiatan pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran Think Pair Share. Pada penelitian ini yang melaksanakan kegiatan mengajar adalah peneliti, sedangkan yang bertindak sebagai observer adalah teman sejawat peneliti. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan pada keterampilan guru, aktivitas siswa, nilai rata-rata serta ketuntasan belajar siswa secara keseluruhan. Prasiklus Pra siklus dilaksanakan pada hari Selasa, 26 Maret 2019 pukul 07. WIB, dengan alokasi waktu 2 jam pelajaran . Pada tahap pra skilus pembelajaran IPS dilaksanakan denagan metode ceramah, setelah selesai siswa diberi soal tes formatif. Berikut hasil tes formatif pra siklus. Tabel 1. Hasil tes formatif pra siklus Uraian Nilai rata-rata tes formatif Nilai Tertinggi Nilai Terendah Jumlah siswa yang tuntas belajar Hasil Pra Siklus Kartini LENTERA: Jurnal Ilmiah Kependidikan. Vol. No. , 41-52 Jumlah siswa yang belum tuntas belajar Presentase ketuntasan belajar Siklus I Pelaksanaan kegiatan belajar mengajar untuk siklus I Pertemuan 1 dilakasanakan pada tanggal 9 april 2019 dan Pertemuan II pada tanggal 11 april 2019 di Kelas VIIC dengan jumlah siswa 32 siswa. Dalam hal ini peneliti bertindak sebagai pengajar, sedangkan yang bertindak sebagai pengamat adalah teman sejawat adapun proses belajar mengajar mengacu pada rencana pelaksanaan pembelajaran yang telah dipersiapkan. Keterampilan Guru Pengamatan keterampilan guru dilakukan selama proses pembelajaran Keterampilan guru terlihat dari aktivitas selama proses pembelajaran IPS dengan menerapkan model pembelajaran Think Pair Share dicatat melalui lembar observasi keterampilan guru siklus I. Tabel 2. Lembar observasi keterampilan guru siklus I Indikator Merencanakan pembelajaran Membuka pelajaran Menjelaskan materi pelajaran Kualitas materi pelajaran Mengajukan permasalahan Memberikan kesempatan kepada siswa secara individu untuk menyelesaikan masalah Menggunakan media Kualitas media pelajaran Mengkondisikan siswa dalam kelompok Membimbing siswa diskusi dan presentasi hasil Menciptakan iklim pembelajaran yang kondusif Menutup pelajaran Jumlah Skor Rata-Rata Dilaksanakan Tidak Oo 0,67 Berdasarkan tabel hasil pengamatan keterampilan guru pada siklus I diperoleh nilai sebesar 8 dengan nilai rata-rata 0,67, pada kriteria Baik Guru sudah melaksanakan kegiatan pembelajaran dengan baik meskipun masih terdapat beberapa kekurangan. Aktivitas Siswa Pengamatan aktivitas siswa dilakukan selama proses pembelajaran Aktivitas siswa terlihat dari aktivitas selama proses pembelajaran Metode Pendidikan dan Pengajaran yang Diterapkan oleh Nabi Muhammad SAW IPS dengan menerapkan model pembelajaran Think Pair Share dicatat melalui lembar observasi aktivitas siswa siklus I. Tabel 3. Aktivitas siswa selama proses pembelajaran IPS Indikator Jumlah Siswa Tidak Melakukan Melakukan Kesiapan siswa mengikuti pembelajaran Menanggapi apersepsi yang diberikan guru Merespon dan memperhatikan penjelasan guru Memikirkan masalah secara individu yang berkaitan dengan materi Berkelompok secara berpasangan Mendiskusikan jawaban dengan pasangan Mempresentasikan jawaban dengan pasangan Mengerjakan soal evaluasi Jumlah Skor Rata-Rata Berdasarkan tabel hasil pengamatan aktivitas siswa pada siklus I diperoleh nilai sebesar 189 dengan nilai rata-rata 23,6 termasuk ke dalam kriteria baik. Hasil Belajar Pada akhir proses belajar mengajar siswa diberi tes formatif I dengan tujuan untuk mengetahui tingkat keberhasilan siswa dalam proses belajar mengajar yang telah dilakukan. Berikutnya adalah rekapitulasi hasil tes formatif siswa seperti terlihat pada tabel berikut. Tabel 4. Hasil penelitian pada siklus I Uraian Nilai rata-rata tes formatif Nilai Tertinggi Nilai Terendah Jumlah siswa yang tuntas belajar Jumlah siswa yang belum tuntas belajar Presentase ketuntasan belajar Hasil Siklus I Tabel di atas menunjukkan bahwa nilai rata-rata tes formatif sebesar 65,9 dengan nilai yang tertinggi 90 dan terendah 50. Jumlah siswa yang tuntas belajar 19 siswa dan yang belum tuntas sebanyak 13 siswa dari 32 siswa. Prosentase ketuntasan belajar klasikal sebesar 59,4 % lebih kecil dari presentase ketuntasan yang dikehendaki yaitu sebesar 80%. Kartini LENTERA: Jurnal Ilmiah Kependidikan. Vol. No. , 41-52 Siklus II Pelaksanaan kegiatan belajar mengajar untuk siklus II Pertemuan 1 dilakasanakan pada tanggal 16 April 2019 dan Pertemuan II pada tanggal 18 April 2019 di Kelas VIIC dengan jumlah siswa 32 siswa. Dalam hal ini peneliti bertindak sebagai pengajar, sedangkan yang bertindak sebagai pengamat adalah teman sejawat adapun proses belajar mengajar mengacu pada rencana pelaksanaan pembelajaran yang telah dipersiapkan. Keterampilan Guru Pengamatan keterampilan guru dilakukan selama proses pembelajaran Keterampilan guru terlihat dari aktivitas selama proses pembelajaran IPS dengan menerapkan model pembelajaran Think Pair Share dicatat melalui lembar observasi keterampilan guru siklus II. Tabel 5. Lembar observasi keterampilan guru siklus II Indikator Merencanakan pembelajaran Membuka pelajaran Menjelaskan materi pelajaran Kualitas materi pelajaran Mengajukan permasalahan Memberikan kesempatan kepada siswa secara individu untuk menyelesaikan masalah Menggunakan media Kualitas media pelajaran Mengkondisikan siswa dalam kelompok berpasangan Membimbing siswa diskusi dan presentasi hasil diskusi Menciptakan iklim pembelajaran yang kondusif Menutup pelajaran Jumlah Skor Rata-Rata Dilaksanakan Tidak Oo 0,92 Berdasarkan tabel hasil pengamatan kegiatan guru pada siklus I diperoleh nilai total sebesar 11 dengan niai rata-rata 0,92. Kekurangan pada siklus I telah berhasil diperbaiki pada siklus II sehingga pelaksanaan pembelajaran IPS melalui penerapan model pembelajaran Think Pair Share pada siklus II khususnya pada keterampilan guru telah berjalan dengan baik. Aktivitas Siswa Pengamatan aktivitas siswa dilakukan selama proses pembelajaran Aktivitas Siswa terlihat dari aktivitas selama proses pembelajaran IPS dengan menerapkan model pembelajaran Think Pair Share dicatat melalui lembar observasi aktivitas siswa siklus II Metode Pendidikan dan Pengajaran yang Diterapkan oleh Nabi Muhammad SAW Tabel 6. Lembar observasi aktivitas siswa siklus II Jumlah Siswa Indikator Tidak Melakukan Melakukan Kesiapan siswa mengikuti pembelajaran Menanggapi apersepsi yang diberikan guru Merespon dan memperhatikan penjelasan guru Memikirkan masalah secara individu yang berkaitan dengan materi Berkelompok secara berpasangan Mendiskusikan jawaban dengan pasangan Mempresentasikan jawaban dengan pasangan Mengerjakan soal evaluasi Jumlah Skor Rata-Rata Berdasarkan tabel hasil pengamatan aktivitas siswa pada siklus I diperoleh nilai total sebesar 223 dengan rata-rata 27,9 dan masuk dalam kriteria sangat baik. Hasil Belajar Pada akhir proses belajar mengajar siswa diberi tes formatif II dengan tujuan untuk mengetahui tingkat keberhasilan siswa dalam proses belajar mengajar yang telah dilakukan. Berikutnya adalah rekapitulasi hasil tes formatif siswa seperti terlihat pada tabel berikut. Tabel 7. Hasil penelitian pada siklus II Uraian Hasil Siklus II Nilai rata-rata tes formatif Nilai Tertinggi Nilai Terendah Jumlah siswa yang tuntas belajar Jumlah siswa yang belum tuntas belajar Presentase ketuntasan belajar 81,25% Dari tabel diatas menunjukkan bahwa nilai rata-rata tes formatif sebesar 75,3 dengan nilai yang tertinggi 100 dan terendah 60. Jumlah siswa yang tuntas belajar 26 siswa dan yang belum tuntas sebanyak 6 siswa dari 32 siswa. Prosentase ketuntasan belajar klasikal sebesar 81,25 % dan telah memenuhi indicator keberhasilan penelitian yaitu, ketuntasan belajar klasikal sebesar Ou 80% dari jumlah total seluruh siswa kelas VIIC sehingga penelitian dihentikan pada siklus II Kartini LENTERA: Jurnal Ilmiah Kependidikan. Vol. No. , 41-52 SIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian terhadap aktivitas siswa, keterampilan guru dan hasil belajar siswa pada pembelajaran IPS melalui model pembelajaran Think Pair Share dapat disimpulkan bahwa Penerapan Metode Think Pair Share dapat meningkatkan hasil belajar IPS siswa kelas VIIC SMPN 33 Bandar Lampung kesimpulan tersebut didasarkan pada hal berikut. Penerapan Model Pembelajaran Think Pair Share pada pembelajaran IPS dapat meningkatkan keterampilan guru hal ini ditunjukkan dengan peningkatan keterampilan guru pada setiap siklusnya, siklus I mendapat skor 8 dengan kategori baik meningkat pada siklus II mendapat skor 11 dengan kategori sangat baik. Penerapan Model Pembelajaran Think Pair Share pada pembelajaran IPS dapat meningkatkan aktivitas siswa ditunjukkan dengan peningkatan siklus I jumlah skor 189 kategori baik meningkat pada siklus II mendapat skor 223 dengan kategori sangat baik. Penerapan Model Pembelajaran Think Pair Share pada pembelajaran IPS dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Pada tahap prasiklus ketuntasan belajar siswa sebesar 25% atau 8 siswa dari 32 siswa telah tuntas belajar. Meningkat pada siklus I menjadi 59,4% atau 19 siswa dari 32 siswa. Pada siklus II meningkat kembali menjadi 81,25% atau 26 siswa dari 32 siswa. Penerapan Model Pembelajaran Think Pair Share dapat meningkatkan kualitas pembelajaran IPS hal ini ditunjukkan dengan peningkatan keterampilan guru,aktivitas siswa serta hasil belajar. DAFTAR PUSTAKA