Tayub Khas Kasumedangan Sebagai Ibing Kalangenan Kaum Menak dan Kaum Somah Asep Jatnika Prodi Seni Tari. Fakultas Seni Pertunjukan. Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung asepjatnika390@gmail. Abstrak : Tayub merupakan ibing kalangenan yang menjadi satu ikon kesenian daerah Sumedang pada tahun 1921 menjadi bagian dari pola kehidupan masyarakat, berubahnya pola kehidupan mempengaruhi juga selera berkesenian sehingga keberadaan ibing tayub dalam kondisi saat ini boleh dikatakan hampir tidak kelihatan. Ada dua jenis ibing tayub, diantaranya tayub menak dan tayub somah. Tayub menak penarinya merupakan para bangsawan karena ada suatu keharusan salah satu syarat untuk menjadi seorang bangsawan yaitu terampil ibing tayub, menari dalam peristiwa tayuban sebagai identitas sosial bagi menak. Sedangkan tayub balandongan pelakunya merupakan masyarakat biasa yang meniru kebiasaan menak karena anggapannya bahwa bangsawan atau menak merupakan panutan bagi masyarakat. Peran ronggeng dalam tayub sangat signifikan karena merupakan roh dan magnet dalam pertunjukan ibing tayub. Metode kualitatif dengan studi dokumentasi salah satu alternatif untuk menghasilkan data, bertujuan melestarikan kembali ibing tayub dalam penafsiran baru, sehingga dapat hidup kembali di tengah masyarakat yang sedang mengalami proses transisi dengan masuknya pengaruh modernisme. Target yang ingin dicapai menghadirkan kembali ibing tayub secara tekstual dan kontekstual sehingga dapat hidup kembali di masyarakat. Kata Kunci: Ibing kalangenan. Tayub Menak. Tayub Somah. Ronggeng. PENDAHULUAN Tayuban adalah tradisi berkesenian yang biasanya dilakukan oleh golongan menak, diselenggarakan di ibukota Kabupaten yang bertempat di pendopo-pendopo Kabupaten hampir di seluruh wilayah Priangan. Acara Tayuban diselenggarakan ketika ada perhelatan atau acara-acara penting baik acara kenegaraan atau perhelatan keluarga misalnya sunatan, pernikahan. Tayuban merupakan acara kalangen-an/hiburan menak keberadaannya ber-samaan dengan terbentuknya pemerintahan Kabupaten di wilayah Priangan. Popularitas Tayuban di Priangan mulai pada abad ke-18. Anis Sujana dalam bukunya mengenai popularitas Tayuban di Priangan ini muncul pada masa Bupati Sumedang ke-18, yaitu Pangeran Suria Kusumah Adinata . 2: . , dan puncak popularitas Tayuban di Kabupaten Bandung yaitu pada masa Bupati R. Martanagara . dilanjutkan masa Bupati Wiranatakusumah V . Tayuban lebih populer di Wilayah Priangan sekitar abad ke 20, setiap Kabupaten menyelenggarakan acara tayuban apabila ada perhelatan. Pertunjukan Tayuban biasanya diselenggarakan pada malam hari setelah waktu Isya kurang lebih jam 8. 00 sampai menjelang subuh. Peserta yang hadir menari secara bergiliran, berurutan dimulai dari pangkat yang paling tinggi atau yang mempunyai status sosial paling tinggi di antara peserta yang hadir, dilanjutkan kepada yang dibawahnya. Penari utama yang tampil disebut Pangibing atau penari pokok Peserta yang lainnya dapat mengikuti menari bersama disamping atau dibelakangnya disebut mairan. Sedangkan yang ikut menari bersama penari utama disebut pamair, gerak tari pamair tidak boleh kelihatan dominan atau secara etika gerak tari pamair tidak boleh lebih menonjol dari pada gerak-gerak tari penari utamanya, dan ketika tarian naik menjadi karakter gagah/kering dua atau naik kering tilu maka pamair harus berhenti. Sekitar tahun 1921 Sumedang salah satu wilayah basis perkembangan tayuban sehingga keberadaanya cukup lestari karena pada waktu itu tayub merupakan bagian dari pola kehidupan kaum menak. Karena ada suatu keharusan bahwa seorang menak harus terampil ngibing tayub dengan ronggeng, sebagai status sosial sehingga kredibilitas menak mendapat pengakuan. Ada dua bentuk tayub yang berkembang di wilayah Sumedang, diantaranya tayub yang didomonasi kaum menak dikenal dengan tayub pendopo, dan tayub yang didominasi oleh masyarakat biasa atau kaum somah yang dikenal dengan tayub balandongan. Sumedang sedang gencar menggali kembali kesenian lokal yang menjadi ikon diantaranya ibing tayub, daerah ini sedang berbenah untuk mewujukan Sumedang menjadi Puseur Budaya Pasundan, seperti diungkapkan Bupati Sumedang dalam sambutan di acara Upacara ngalaksa di Rancakalong Sumedang . Mei 2. , menegaskan: Harapan ke depan apabila orang mendengar kata Sumedang, maka yang tergambar adalah kekayaan dan keindahan budaya Aotanah Pasundan atau ParahiyanganAo yang terpresentasikan pada kebesaran keraton Sumedang Larang sebagai pelanjut Pajajaran, koleksi monumental Museum Pangeran Sumedang, keunikan kesenian tradisional, lokasi wisata yang potensial, keragaman dan kekhasan makanan, keramahan penduduknya, adat 34 | P r o s i d i n g S e m i n a r N a s i o n a l istiadat yang luhur yang ditopang oleh solidaritas masyarakat adat, tata kelola pemerintahan yang berwawasan budaya, serta wujud budaya adiluhung, dan ingin mewujudkan Rancakalong sebagai Bali ke 2. HASIL DAN PEMBAHASAN Salah satu potensi kesenian yang menjadi ikon daerah Sumedang diantaranya ibing tayub, merupakan produk budaya lokal masyarakat primordial yang pada jamannya mengalami popularitas. Seperti halnya ibing tayub sebagai perwujudan kreasi manusia yang digunakan dalam kehidupan manusia, diperoleh dari hasil pemikiran akal manusia melalui proses belajar dengan sesama manusia dan lingkungan sosial budayanya. Ibing Tayub sudah berkiprah mengisi dinamika perkembangan tari Sunda, pada jamannya tarian ini menjadi bagian dari pola kehidupan masyarakat Sumedang tetapi keberadaannya saat ini sangat mengkhawatirkan boleh dikatakan sudah Upaya penulis ingin mencoba mengembalikan kembali daya hidup, dengan mengintepretasi penomena yang terjadi pada peristiwa ibing tayub balandongan yang dikemas menjadi suatu model kemasan tari yang inovatif yang berpijak dari kebiasaan masyarakat ngibing dengan ronggeng. Gambar 1. Tayub Balandongan (Dokumentasi: Asep Jatnika, 2. Ibing tayub merupakan bagian dari kebudayaan masyarakat dan menjadi identitas suatu daerah khususnya Sumedang. Anderson berpendapat bahwa kebudayaan adalah sistem yang dipikul bersama oleh para anggota masyarakat yang dipandang lebih secara kolektif dari pada secara individual. Mengindikasikan bahwa kebudayaan itu ditata sebagai sebuah ekspresi lahiriah, atau prinsif ideologis yang mampu menampilkan bentuk kultural melalui serentetan tingkah laku yang disadari. Bentuk kebudayaan tersebut akan semakin tampak nyata lewat tindakan dari masyarakat pendukung kebudayaan itu, maka akan memunculkan suatu wilayah budaya yang mempunyai ciri khas baik dalam adat istiadat, kebiasaan, kesenian, diantaranya ibing tayub sebagai identitas wilayah yang dikenal dengan ibing tayub balandongan dan tayub Pendopo khas Sumedang. Ibing tayub di Sumedang sebagai ibing kalangenan merupakan habit atau kebiasaan kaum menak menari bersama ronggeng, diantaranya Bupati, wadana, camat, dan kerabatnya. Dipertegas Anis Sujana ada tiga klasifikasi tentang menak yaitu: menak luhur kalangan bupati, menak sedeng kalangan wadana, camat dan menak leutik asisten dari wadana . 2: . Tetapi dalam perkembangannya masyarakat meniru kebiasaan menak karena pola perilaku kaum menak menjadi panutan bagi masyarakat, sehingga muncul duplikasi ibing tayub yang biasa dilakukan oleh kaum menak yang ditiru oleh masyarakat. Maka berkembang juga dikalangan rakyat dikenal dengan tayub balandongan yang didominasi oleh masyarakat kaum Somah atau cacah. Istilah balandongan mengacu pada tempat pertunjukan yaitu sebuah arena dalam peristiwa tayuban yang berupa panggung yang tempatnya di luar . ut doo. Adapun ciri khas artistik dalam panggung balandongan yaitu bagian depan atas dan samping panggung diberi gantungan merupakan hasil pertanian dari masyarakat diantaranya singkong, padi, kacang panjang, pisang, kelapa, terung, dan olahan hasil pertanian diantaranya opak, ranginang, kupat leupeut. 35 | P r o s i d i n g S e m i n a r N a s i o n a l Gambar 2. Tayub Menak (Dokumentasi: Asep Jatnika, 2. Ibing tayub ini termasuk dalam ibing kalangenan. Ibing berasal dari kata Ngibing, mengandung pengertian nari atau menari, sedangkan kalangenan merupakan kebiasaan . yang dilakukan secara rutin yang sifatnya untuk kesenangan atau hiburan. Kalangenan disini lebih berorientasi pada kebiasaan masyarakat dalam ngibing tayub sebagai ungkapan ekspresi yang diaktualisasikan melalui ngibing bersama ronggeng. Tayub sebagai bentuk kesenian kalangenan/habit masyarakat sebagai ungkap ekspresi dalam ngibing, awalnya ibing kalangenan ini di dominasi oleh para menak . , tetapi di Sumedang ibing tayub juga menjadi habit masyarakat kebanyakan . Ibing tayub balandongan mengalami masa popularitas sekitar tahun 1960-an, sehingga keberadaan kesenian ini menjadi bagian dari kehidupan masyarakat. Seperti dijelaskan oleh Juju Junaedi . awancara, 15 Mei 2. Ampir dina tiap hajatan kawinan, nyunatan, salametan imah, salametan lembur, tayub balandongan sok ditaranggap, margi waktos harita nanggap tayub gaduh pamor. Tibalik jaman kiwari mah tayub tos jarang ditanggap malah tara aya nu nanggap, ahirna pacabakan seniman tayub aya nu jadi tukang ojeg, (Hampir dalam peristiwa hajatan baik itu pernikahan, sunatan, selamatan rumah, selamatan lembur, tayub balandongan ini selalu ditanggap atau dipertunjukan, karena punya gengsi tersendiri apabila dalam hajatan nanggap tayub. Tetapi ironis sekali dengan keberadaannya sekarang sudah hampir punah bahkan boleh dikatakan sudah tidak ada, akibat dari jarangnya ditanggap akhirnya profesi seniman tayub beralih ada yang menjadi tukang ojeg, bertani. Kegelisahan akan terjadinya kepunahan ibing tayub menjadi motivasi bagi penulis untuk melakukan pelestarian, pekerjaan melestarikan seni tradisi pada zaman postmodernisme bukan suatu yang sia-sia. Piliang . 7: . mengatakan Aukelahiran postmodernisme berarti kelahiran kembali tradisi . eturn of the traditio. , dalam bentuk, posisi, dan konteks yang baruAy. Menanggapi pendapat tersebut dapat dimaknai sebagai kelahiran kembali seni tradisi dalam teks dan konteks baru, tampilan baru yang menggiring semangat baru sesuai dengan Peristiwa budaya dalam pertunjukan tayub menarik untuk dikaji lebih dalam terutama dengan salah satu upaya revitalisasi. Pengertian Revitalisasi menurut Sumandyo Hadi . 8: . : Termasuk proses pelestarian atau perlindungan, pengembangan, dan pemeliharaan, serta sekaligus dipahami sebagai proses kreativitas. Oleh karena itu, dapat dipahami bahwa proses revitalisasi . , yaitu suatu cara memperbaiki vitalitas . estore the vitalit. yang dapat memberi kehidupan baru atau to inpart new life. Upaya dalam pelestarian penulis ingin mencoba mengintepretasi penomena yang terjadi pada peristiwa ibing tayub balandongan digarap menjadi suatu model kemasan tari yang inovatif yang berpijak dari kebiasaan menak baheula yaitu ngibing dengan ronggeng. Ronggeng adalah penari wanita profesional yang difungsikan sebagai partner penari pria, selain juga ngawih (Anis, 2002: . Keberadaan ronggeng dalam peristiwa tayuban mempunyai daya pikat yang luar biasa bagi para penayub, sehingga kedudukan ronggeng posisinya sangat tinggi boleh dikatakan sebagai magnet atau ruh dalam pertunjukan tayub balandongan. 36 | P r o s i d i n g S e m i n a r N a s i o n a l Fenomena pertunjukan Tayuban yang terjadi di daerah Sumedang, kalau dilihat dari sisi fungsi sebagai media hiburan terutama kaum menak dan berkembang menjadi hiburan kaum somah dan biasa dikenal dengan ibing Kalangenan. Dari sumber lisan menurut salah satu tokoh tayub dari Sumedang menjelaskan: Tayub di Sumedang telah berkembang menjadi dua gaya yang khas, yakni Tayub yang berkembang secara khas gaya menak dan gaya rakyat. Tetapi seiring dengan keberadaannya sekarang atas dasar kerakyatan dan tidak mengenalnya tingkatan sosial seperti pada jamannya, maka Tayub yang telah berkembang sekarang lebih dominan dengan gaya kerakyatannya seperti yang ada di daerah Sumedang sekarang ini. Penyajiannya Tayub lebih kental dengan warna penyajian yang bernuansa Ketuk Tiluan, imbasnya kebanyakan lagu-lagu yang disajikannya lebih condong pada seni ketuk tilu yang dibalut dari tata cara penyajiannya dengan pola Tayuban. Dengan hadirnya Juru Baksa (Nu Nyodera. Irama Naek Kering dengan gaya-gaya ibing Cirebonan dengan iringan gamelan lengkap, dan tidak menutup kemungkinan dengan bercampurnya tata cara penyajian tersebut masih menghadirkan lagu yang biasa disajikan pada Seni Tayub gaya Menak pada jaman dahulu (Utang Juhara, wawancara 13 Mei 2. Peristiwa ibing tayub sebagai ajang hiburan seteleh lelah bekerja dengan menampilkan para penayub ngibing, sebagai unjuk keterampilan ngibing dengan ronggeng. Tujuan dari tulisan ini untuk mengungkap kembali ibing tayub dengan mencari tahu lebih dalam tentang keberadaan ibing tayub yang pada masanya mengalami Tulisan ini menggunakan metode kualitatif dengan penekatan studi dokumentasi, seperti menurut Sugiyono . 0: . dokumen merupakan catatan peristiwa yang sudah berlalu. Dukumen bisa berbentuk tulisan, gambar, atau karya monumental dari seseorang. Studi dokumentasi merupakan suatu teknik pengumpulan data dengan cara mempelajari dokumen untuk mendapatkan data atau informasi yang berhubungan dengan masalah yang diteliti. Melalui proses pendokumentasian merupakan suatu usaha untuk membangkitkan energi baru dari ibing tayub, dengan tahapan diantaranya nyantrik merupakan penyadapan dari sisi koreografi juga struktur pertunjukan, penggalian data melalui tokoh tayub dan sekaligus sebagai penayub yang mengetahui sisi sejarah. Kenyataan di lapangan ternyata masih ada sisa-sisa pertunjukan tetapi sifatnya tidak rutin, itu merupakan modal yang sangat berharga bagi penulis untuk mewujudkan model ibingan melalui proses dari tarian tersebut. Proses reinterpretasi tujuannya untuk mengembangkan wacana dengan membuat warna baru pada ibing tayub disini penulis harus berperan aktif dan kreatif. Tafsir membutuhkan kreatifitas dan pemikiran cerdas yang sesuai dengan makna dan esensi dari tarian yang akan direvitalisasi. Untuk mewujudkan hasil revitalisasi ini memerlukan daya interpretasi dan daya kreativitas. Interpretasi merupakan upaya pemaknaan secara personal untuk mengupas arti dari objek, aktivitas, pengungkapan, atau bentuk dari suatu tindakan. Bentuk kupasan sebagai upaya untuk menerjemahkan, membaca, dan melogikakan suatu objek. Untuk menginterpretasi tarian ini membutuhkan setidaknya nara sumber yang mengetahui wujud dari objek tersebut. Selanjutnya untuk mengeksplanasi pengalaman yang dijelaskan nara sumber perlu ada pengetahuan yang berkaitan dengan interpretasi. Daya interpretasi sebagaimana dijelaskan Palmer . 3: . terdapat Autiga bentuk yakni mengungkapkan . o ekspres. , menjelaskan . o explai. , dan menerjemahkan . o translat. Ay. Mengungkapkan . o ekspres. bermakna sebagai perkataan/pembicaraan yang mengarah pada bagaimana ekspresi gaya penampilan sebuah karya. Setelah diketahui ekspresi gaya penampilan dari objek, menggiring pada wilayah penjelasan . o explai. yang bersifat rasional dengan cara memahami objek, membentuk dan memilah, serta menalar dari sesuatu yang diketahui kepada sesuatu yang tidak diketahui. Pekerjaan selanjutnya yakni penyampaian objek kepada khalayak. Sebagai upaya agar objek dapat dipahami perlu tindakan untuk menerjemahkan . o translat. Sebagai pemenuhan terwujudnya suatu interpretasi terhadap revitalisasi, dapat dibantu dengan daya kreativitas. Daya kreativitas dalam wilayah revitalisasi terbatas pada koridor menggarap keanekaragaman tarian menjadi wajah baru dengan tetap mempertahankan bentuk dan isi sumbernya. Seperti dijelaskan Iyus Rusliana . 8: . yakni Aumerekomposisi koreografi dan menyelaraskan rekomposisi koreografi dengan unsur seni yang menjadi pelengkap keutuhan tariAy. Dari hasil proses revitalisasi tentunya harus ada manfaat terutama untuk perbendaharaan dan pewacanan baru bagi mahasiswa Prodi Tari Sunda Jurusan Seni Tari Fakultas Seni Pertunjukan ISBI Bandung pada mata kuliah penyajian tari Keurseus di semester VII. Model kemaan ini juga sebagai alternatif dalam ranah konsumsi pertunjukan terutama bagi masyarakat baik dilingkungan kampus juga masyarakat umum. PENUTUP Ibing tayub sebagai sebagai kekayaan budaya lokal yang perlu mendapatkan perhatian dari berbagai kalangan terutama pemerintah daerah khususnya Sumedang, apalagi pemerintah Sumedang sedang berbenah untuk menjadi kota budaya. Upaya pelestarian melalui revitalisasi merupakan suatu terobosan supaya kesenian tersebut dapat eksis kembali di masyarakat. Revitalisasi dalam ibing tayub menak dan ibing tayub somah dengan merestrukturisasi kembali dari struktur pertunjukan dan tarian sehingga akan mewujudkan suatu kemasan tarian 37 | P r o s i d i n g S e m i n a r N a s i o n a l dengan tidak menghilangkan esensi dari ibing tayub balandongan khas kasumedangan. Tahapan revitalisasi, secara realitas melibatkan ranah kreativitas yang mengarah pada bentuk model kemasan tari. Perihal tersebut, mengandung arti bahwa revitalisasi termasuk pada kreativitas yang terbatas pada pertimbangan bentuk dan isi tradisi yang melatar belakanginya. DAFTAR PUSTAKA