Jurnal Pendidikan dan Penciptaan Seni, 4. 2024: 60-65. Jurnal Pendidikan dan Penciptaan Seni Available online: https://journal. org/index. php/jipsi Diterima: 2024-07-03 . Direview: 2024-07-08. Disetujui: 2024-11-09 DOI: https://doi. org/10. 34007/jipsi. Tari Anak dalam Perspektif Perkembangan Intelektual. Sosial Emosional, dan Multikultural Children's Dance in the Perspective of Intellectual. SocialEmotional, and Multicultural Development Eko Purnomo & Hartono* Program Studi Doktoral Pendidikan Seni. Universitas Negeri Semarang. Indonesia Abstrak Kajian ini bertujuan untuk mendeskripsikan tentang tari anak dalam perkembangan intelektual, sosial emosional, dan multikultural. Teknik pengambilan data menggunakan studi dokumen dan pustaka. Teknik analisis data menggunana deskriptif analitik. Masa anak merupakan masa emas perkembanngan intelektual, sosial emosional, dan Pada masa inilah intervensi yang dilakukan dapat efektif dan efisien. Pada kemampuan intelektual menekankan pada berpikir kritis, kreatif, dan logis. Pada sosial emosional menekankan pada pembentukan sikap dan Pada multikultural menekankan pada kemampuan memahami budaya di lingkungan sendiri dan budaya di lain daerah. Pengenalan budaya ini dilakukan agar setiap anak memiliki rasa toleransi, saling menghargai, dan saling menghormati perbedaan budaya yang ada. Hasil analisis menunjukkan bahwa tari anak dapat dijadikan sebagai salah satu media untuk mengembangkan kemampuan intelektual, sosial emosional, dan multikultural. Kata kunci: Tari Anak. Intelektual. Sosial Emosional. Multikultural. Abstract This study aims to describe children's dance in intellectual, social-emotional, and multicultural development. The data collection technique uses document and literature studies. Data analysis techniques use descriptive analytics. Childhood is a golden period of intellectual, social-emotional, and multicultural development. It is during this period that the interventions carried out can be effective and efficient. Intellectual ability emphasizes critical, creative, and logical In social emotions, emphasis is placed on the formation of attitudes and character. In multiculturalism, emphasis is placed on the ability to understand cultures in one's environment and cultures in other regions. This cultural introduction is carried out so that every child has a sense of tolerance, mutual respect, and mutual respect for existing cultural differences. The results of the analysis show that children's dance can be used as a medium to develop intellectual, social-emotional, and multicultural skills. Keywords: Children's Dance. Intellectual property. Social-Emotional. Multicultural. How to Cite: Purnomo. & Hartono, . Tari Anak dalam Perspektif Perkembangan Intelektual. Sosial Emosional, dan Multikultural. Jurnal Pendidikan dan Penciptaan Seni, 4 . : 60-65 *E-mail: hartono_sukorejo@mail. ISSN 2550-1305 (Onlin. This work is licensed under a Creative Commons Attribution 4. Jurnal Pendidikan dan Penciptaan Seni, 4. 2024: 60-65. PENDAHULUAN Isu atau masalah merupakan komponen penting dalam menentukan arah dan tujuan Isu dapat menjadi sumber inspirasi untuk memilih tema dan topik penelitian, terutama dalam bidang yang kompleks dan multidimensional seperti pembelajaran tari pada anak. Rangkaian isu ini tidak hanya mencakup masalah estetika seni, tetapi juga melibatkan aspek intelektual, sosial-emosional, dan multikultural yang dapat dipadukan menjadi penelitian yang lebih holistik. Melalui berbagai isu yang teridentifikasi, peneliti dapat merancang tema penelitian yang kuat dan mengembangkan paradigma yang mendukung tujuan yang ingin dicapai. Dalam konteks penelitian ini, isu pembelajaran tari anak mencakup berbagai perspektif yang menekankan pentingnya tari sebagai media pengembangan diri bagi anak, tidak hanya dalam keterampilan menari tetapi juga dalam perkembangan mental, emosional, dan sosial mereka (Amalia, 2024. Kusumastuti, 2. Pembelajaran tari anak bukan sekadar mengajarkan keindahan gerak dan nilai Tari memiliki potensi yang lebih luas sebagai sarana pengembangan kemampuan intelektual, sosial-emosional, dan multikultural yang penting dalam pertumbuhan anak (Setyawati et al. , 2. Dari segi intelektual, pembelajaran tari dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis, kreativitas, dan logika, yang merupakan fondasi penting bagi kecerdasan anak. Tari mendorong anak untuk memecahkan masalah gerakan, mengeksplorasi ruang dan ritme, serta mengekspresikan ide secara kreatif. Misalnya, menurut penelitian oleh (Rukanda et al. , 2. , pembelajaran tari tradisional pada anak dapat meningkatkan keterampilan berpikir kritis dan logis karena mereka dilatih untuk mempelajari dan menginterpretasikan gerakan yang memiliki struktur tertentu. Aspek sosial-emosional juga menjadi fokus utama dalam pembelajaran tari anak. Melalui tari, anak-anak dapat mengembangkan rasa percaya diri, disiplin, empati, dan kemampuan berinteraksi dengan teman sebaya. Penelitian (Wulandari, 2. menunjukkan bahwa anak-anak yang aktif dalam kelas tari cenderung memiliki karakter yang lebih terbuka, mampu mengelola emosi, serta memiliki sikap yang lebih positif dalam hubungan sosial. Pendekatan sosial-emosional membantu anak memahami diri dan lingkungan sekitar, serta menanamkan nilai-nilai karakter sejak dini, yang esensial dalam pembentukan identitas diri mereka. Pendekatan ini memperkuat keterampilan sosial dan emosional, mendukung perkembangan pribadi, dan membekali anak dengan fondasi yang kuat untuk menghadapi tantangan hidup. Selain itu, pendekatan multikultural dalam pembelajaran tari anak memainkan peran penting dalam mengembangkan pemahaman lintas budaya. Dengan mengenalkan berbagai jenis tari tradisional dan kontemporer dari budaya yang berbeda, anak-anak diajarkan untuk menghargai keragaman budaya sejak usia dini. Pendekatan ini sangat relevan dalam konteks masyarakat yang semakin global, di mana kemampuan untuk memahami dan menghargai perbedaan budaya menjadi keterampilan penting. Penelitian oleh (Setiawan et al. , 2. menegaskan bahwa anak-anak yang terlibat dalam pembelajaran tari multikultural menunjukkan sikap toleransi yang lebih tinggi dan kemampuan untuk berkomunikasi dengan individu dari latar belakang budaya yang Tujuan penulisan ini adalah untuk mendeskripsikan peran pembelajaran tari anak dalam mendukung perkembangan intelektual, sosial-emosional, dan multikultural. Dengan menggunakan metode deskriptif analitik, penelitian ini akan menganalisis bagaimana tari dapat dijadikan sebagai media pembelajaran yang holistik untuk anakanak. Melalui kajian ini, diharapkan diperoleh pemahaman yang lebih mendalam mengenai manfaat pembelajaran tari tidak hanya sebagai aktivitas fisik, tetapi juga sebagai sarana untuk membentuk karakter, meningkatkan kemampuan berpikir, dan Eko Purnomo & Hartono. Tari Anak dalam Perspektif Perkembangan Intelektual. Sosial Emosional, dan Multikultural memperkenalkan anak pada keragaman budaya. Penelitian ini memberikan kontribusi penting dalam mengembangkan strategi pembelajaran yang lebih inklusif dan responsif terhadap kebutuhan perkembangan anak di era globalisasi. Dengan demikian, penelitian ini tidak hanya menekankan pada nilai seni dalam pembelajaran tari, tetapi juga memperluas cakupannya ke aspek-aspek perkembangan anak yang lebih mendasar. Kajian ini memberikan perspektif baru yang relevan bagi para pendidik, orang tua, dan pengambil kebijakan dalam meningkatkan kualitas pendidikan anak melalui pendekatan yang menyeluruh dan berkelanjutan. PEMBAHASAN Kemampuan Intelektual Pembelajaran tari berkaitan erat dengan konsep kecerdasan jamak, sebuah isu yang sering diperbincangkan di masyarakat. Tari untuk anak-anak tidak hanya melibatkan kecerdasan kinestetik, spasial, dan musikal, tetapi juga aspek logis-matematis, linguistik, serta kecerdasan interpersonal dan intrapersonal. Melalui pembelajaran tari, berbagai jenis kecerdasan ini dapat diintegrasikan, memungkinkan anak untuk mengembangkan kemampuan mereka secara holistik. Isu pembelajaran tari yang berfokus pada kecerdasan jamak ini dapat diilustrasikan dalam model berikut yang menggambarkan keterkaitan antara berbagai kecerdasan dalam proses pembelajaran tari. Gambar 1 model spektrum mazeko pembelajaran tari berbasis kecerdasan jamak . umber: penuli. ) Kemampuan bergerak merupakan bagian dari kecerdasan kinestetik, namun saat gerakan dilakukan dengan mempertimbangkan ruang, waktu, dan tenaga, hal ini melibatkan kecerdasan spasial. Kemampuan menyesuaikan gerak dengan ritme mengembangkan kecerdasan logis matematis dan musikal, karena anak dapat membedakan durasi gerakAiapakah lebih panjang, pendek, cepat, atau lambat. Mengurutkan gerakan tari menunjukkan kecerdasan linguistik, karena tari adalah bahasa gerak yang menyampaikan pesan dan makna tertentu. Selain itu, menari baik secara individu maupun dalam kelompok melibatkan kecerdasan interpersonal dan Kecerdasan interpersonal melatih anak untuk mengembangkan konsep diri yang positif, sementara kecerdasan intrapersonal melatih kerjasama serta kemampuan menerima kelebihan dan kekurangan orang lain. Dengan demikian, pembelajaran tari menjadi wadah yang efektif untuk mengasah berbagai kecerdasan pada anak secara Jurnal Pendidikan dan Penciptaan Seni, 4. 2024: 60-65. Piaget dalam Elindra & Purnomo . menekankan pada pemeroleh pengetahuan melalui skemata. Ada tiga tahapan dalam memperoleh pengetahuan, yaitu asimilasi, akomodasi, dan ekulibrium. Asimilasi merupakan cara memperoleh pengetahuan dengan cara mengeneralisasi informasi yang diperoleh. Contoh pada anak-anak usia di bawah 5 tahun ketika melihat kupu terbang, kemudian akan mengeneralisasi bahwa semua binatang yang dapat terbang adalah kupu. Anak tetap akan menganggap burung sebagai kupu karena bisa terbang. Seiring perkembangan usia, anak mulai menyadari bahwa kupu-kupu berbeda dari burung meskipun keduanya dapat terbang. Tahap ini disebut akomodasi, yaitu proses meninjau ulang dan menyesuaikan informasi yang sudah dimiliki. Ketika anak berhasil mengklasifikasikan makhluk terbang dengan istilah yang sesuai karakteristik masingmasing, mereka memasuki tahap ekuilibrium, yaitu kondisi keseimbangan dalam pemikiran berdasarkan pemahaman baru yang diperoleh. Tahapan ini mencerminkan perkembangan kognitif anak dalam memahami dan menyusun informasi secara lebih akurat sesuai dengan karakteristik objek di sekitarnya. Konsep skemata ini memiliki kemiripan dengan cara berpikir filsafati, yang melibatkan premis mayor, premis minor, dan silogisme. Ada irisan antara keduanya. Teori Piaget lebih dikenal sebagai teori perkembangan, bukan sebagai teori tentang pemerolehan pengetahuan. Penelitian yang mendasarkan teori Piaget seringkali hanya berfokus pada perkembangan cara berpikir sesuai usia, tetapi sering mengabaikan skemata dalam pemerolehan pengetahuan di tiap fase perkembangan. Skemata pada tahap sensorik-motorik berbeda dengan skemata pada praoperasional, operasional konkret, dan operasional formal. Setiap tahap perkembangan ini memiliki skemata yang unik, baik dari segi konteks maupun konten, yang memengaruhi cara individu memahami dunia di sekitarnya. Dalam ranah intelektual, pembelajaran tari dapat menjadi salah satu alternatif yang efektif untuk mendukung perkembangan anak secara holistik. Saat ini, pendidikan seni masih terfokus pada estetika tanpa memperhatikan fungsi tari dalam perkembangan intelektual dan emosional anak. Akibatnya, seni di kurikulum pendidikan lebih sering diposisikan sebagai pelengkap dan belum dianggap sebagai bagian integral dari proses Pembelajaran di sekolah cenderung mengutamakan ilmu eksakta dibandingkan humaniora dan seni, sehingga potensi seni sebagai alat pengembangan kognitif sering terabaikan. Di negara maju, mata pelajaran seni dianggap sebagai salah satu pintu masuk untuk mempelajari berbagai disiplin ilmu, karena seni mampu merangsang kreativitas, keterampilan berpikir kritis, dan kemampuan problem-solving. Integrasi seni, seperti tari, dalam kurikulum dapat memberikan pengalaman belajar yang lebih beragam serta mendukung perkembangan intelektual dan sosial anak. Pembelajaran seni adalah hak setiap anak, termasuk anak berkebutuhan khusus yang berpotensi memperoleh manfaat besar dari seni. Di negara maju, seni telah diakui sebagai media terapi yang efektif untuk anak berkebutuhan khusus, digunakan dalam meningkatkan kemampuan komunikasi, ekspresi diri, dan keterampilan sosial. Namun, kurikulum di perguruan tinggi yang menawarkan pendidikan seni di Indonesia belum memasukkan terapi seni untuk anak berkebutuhan khusus. Ironisnya, banyak penelitian telah menunjukkan fungsi seni sebagai media terapi, tetapi kajian-kajian tersebut seringkali hanya membahas manfaat seni secara dangkal tanpa mendalami seni sebagai pendekatan ilmiah untuk terapi. Integrasi terapi seni dalam kurikulum akan membuka peluang bagi calon pendidik untuk mendalami metode ini sebagai bagian dari pendidikan inklusif, serta membantu anak berkebutuhan khusus mencapai potensi maksimal mereka. Eko Purnomo & Hartono. Tari Anak dalam Perspektif Perkembangan Intelektual. Sosial Emosional, dan Multikultural Elindra & Purnomo . dalam bukunya Tari Pendidikan Melejitkan Potensi Anak Sejak Dini menjelaskan tentang bagaimana tari dikembangkangkan sebagaai menjadi pendidikan melalui pembelajaran di ruang-ruang kelas. Proses pembelajaran tari tidak hanya menampilkan nilai estetika semata, tetapi juga bagaimana setiap gerak yang dilakukan berhubungan dengan kemampuan perkembangan otak belahan kanan dan otak belahan kiri. Hergenhahn & Olson . mengutip hasil penelitian Bogen menunjukkan bahwa perbedaan cara memproses pemikiran ini merefleksikan dua jenis kecerdasan belahan Menurut Bogen, dikotonomi seperti ditunjukkan pada tabel bagaimana otak kiri dan otak kanan merespon informasi. Tabel 1. Fungsi otak kiri dan kanan merespon informasi Otak Kiri Otak Kanan Intelek Intuisi Konvergen Divergen Realistis Impulsif Intelektual Sensual . Diskret Kontinu Terarah Bebas Rasionalitas Intuitif Historis Nir-waktu Analitis Holisitik Suksesif Simultan Objektif Subjektif Atomistis Umum . Tari anak dapat digunakan untuk mengembangkan kemampuan berpikir otak belahan kanan dan otak belahan kiri. Pada praktiknya pada orang-orang yang memiliki pemikiran normal, kedua belahan otak kanan dan kiri digunakan secara bersama-sama. Informasi yang diperoleh diproses melalui fungsi belahan otak kanan maupun otak kiri. Hal ini diumngkinkan karena belahan otak kanan dan otak kiri dipisahkan oleh serabut yang disebut dengan corpus colusum. Serabut ini yang menghubungkan kedua belahan fungsi otak tersebut. Kemampuan Sosial Emosional Pembelajaran tari bagi anak berkaitan erat dengan perkembangan kemampuan sosial dan emosional. Kemampuan ini penting karena konsep diri yang kuat sejak dini dapat membantu anak dalam mengelola emosi dengan baik, yang berkontribusi pada kesehatan mental yang stabil. Emosi yang stabil sejak kecil menjadi fondasi penting bagi kesejahteraan psikologis di masa depan. Untuk mencapai tujuan ini, guru harus dapat memilih strategi pembelajaran yang sesuai dengan materi tari yang diberikan, sehingga anak tidak hanya belajar gerakan, tetapi juga aspek emosional dan sosial yang bermanfaat bagi perkembangan pribadi mereka secara menyeluruh. Ismail . menjelaskan pembelajaran pada anak harus mampu mengembangkan lima bidang pengembangan, yaitu bidang kognitif, bidang bahasa, bidang fisik motorik, bidang seni, dan bidang sosial emosional. Lima bidang pengembangan ini ada pada setiap kurikulum yang dimulai dari kurikulum KBK sampai Kurikulum Merdeka. Pada kurikulum merdeka keempat bidang ini merupakan standar kompetensi lulusan yang harus dikuasai oleh anak. Pada bidang sosial emosional inilah sejak dini anak diajarkan tentang kemampuan memiliki akhlak yang baik, yaitu mampu mengenal diri, teman bermain, bertanggung jawab, disiplin, kerjasama, serta menghargai orang lain. Jurnal Pendidikan dan Penciptaan Seni, 4. 2024: 60-65. Pembelajaran pada anak usia dini dilakukan secara holistik atau menyeluruh, sehingga membentuk kesatuan yang utuh dalam perkembangan mereka. Pendekatan ini bertujuan agar kemampuan intelektual anak tidak terpecah, melainkan berkembang secara terpadu. Dengan demikian, perkembangan kognitif dan intelektual pada anak berjalan linier, di mana setiap pengetahuan yang diperoleh saling berkaitan dan Pembelajaran holistik membantu anak memahami konsep secara lebih menyeluruh, memungkinkan mereka untuk membangun pemahaman yang utuh tanpa memisahkan aspek intelektual, emosional, dan sosial, yang semuanya penting untuk pertumbuhan optimal di masa depan. Pembelajaran tari anak dapat dijadikan sebagai media untuk mengembangkan kemampuan sosial emosional. Pada proses pembelajaran tari yang dilakukan, guru dapat mengarahkan agar setiap anak memiliki kepekaan tidak hanya pada diri sendiri, tetapi juga lingkungan sekitar. Meyer. Salovey dan Caruso seperti dikutip oleh Sternberg & Sternberg . menyatakan bahwa kecerdasan emosi adalah kemampuan untuk mencerap dan mengekspresikan emosi, kemampuan untuk mengasimilasikan emosi dengan pikiran, pemahaman dan rasio, dan kemampuan untuk mengatur emosi dalam diri sendiri dan orang lain. Kemampuan mengenal diri dan lingkungan dapat menggunakan metode bermain. Bermain dan permainan merupakan aktivitas yang senantiasa dilakukan anak tanpa adanya paksaan dari pihak mana pun. Fournier et al. , . menyatakan bahwa bermain memberi kesempatan pada anak-anak untuk mengeksplorasi emosi mereka dengan berperan dalam imajinasi mereka. Ketika terbebas dari paksaan orang dewasa, bermain memberi kesempatan pada anak-anak untuk. berpatisipasai dalam cara mereka . mengintrepretasikan tugas secara personal. membiarkan mereka mencoba rute imajinasi tanpa takut akan berbagai macam batasan. Kemampuan sosial-emosional anak sangat dipengaruhi oleh kondisi lingkungan. Tokoh seperti Piaget dan Bandura menjelaskan bahwa perkembangan sosial-emosional anak tidak dapat dipisahkan dari lingkungan di mana anak tersebut tumbuh. Bandura, yang lebih condong pada teori environmentalism, berpendapat bahwa pemikiran anakanak dibentuk oleh model, praktik, dan pelatihan sosial yang disediakan oleh lingkungan Lingkungan memberi anak-anak contoh nyata tentang bagaimana bersosialisasi dan berinteraksi, yang penting dalam membangun pemahaman sosial Dalam hal ini, guru memiliki peran penting dalam merancang dan mengembangkan pembelajaran yang memperhatikan aspek lingkungan. Melalui pendekatan ini, anak-anak didorong untuk menghargai lingkungan dan segala isinya dalam kehidupan sehari-hari. Guru dapat menyediakan pengalaman langsung yang melibatkan anak dengan lingkungan sekitar, sehingga anak belajar tentang pentingnya empati, tanggung jawab, dan kesadaran lingkungan secara lebih mendalam. Pendekatan ini mendukung perkembangan sosialemosional anak yang kuat dan bertanggung jawab terhadap lingkungannya. Kemampuan Multikultural Pendidikan multikultural pertama kali diterapkan di Amerika Serikat atas desakan gerakan sosial kaum sipil. Negara ini merasa perlu mengadopsi pendidikan multikultural untuk mengatasi ketidakadilan yang terjadi akibat politik rasial antara kaum kulit putih dan kulit hitam (Parekh, 2. Pendidikan multikultural bertujuan mencegah kesenjangan sosial dan diskriminasi dengan mengajarkan nilai kesetaraan antar ras. Dengan pendekatan ini, semua manusia dan budayanya dipandang sama dan sederajat, sehingga tercipta pemahaman dan penghargaan terhadap keberagaman. Pendidikan Eko Purnomo & Hartono. Tari Anak dalam Perspektif Perkembangan Intelektual. Sosial Emosional, dan Multikultural multikultural diharapkan dapat membangun masyarakat yang lebih inklusif dan menghormati perbedaan budaya serta identitas (Suharyanto, 2013. Susilawati et al. Ismail . mengutip teori multikultural Banks & Banks . menyebutnya sebagai pendidikan multikultural. Pendidikan ini memberikan pemahaman tentang perbedaan yang ada di lingkungan dimana tinggal. Banks & Banks memberi gambaran tentang pendidikan multikultural seperti terlihat pada gambar berikut ini. Gambar 2 Perilaku peserta didik yang diharapkan setelah mempelajari elemen atau aspek pada pendidikan multicultural . umber: Banks. James. Cherry A. McGee Banks . Multicultural Educatioan Issues and Perspectives. United State of America. John Wiley & Sons. Banks & Banks . menjelaskan setidaknya ada enam elemen pada pendidikan multikultural, yaitu jenis kelamin atau gender, etnisitas, kelas sosial, agama atau kepercayaan, kekhususan, dan variabel lainnya. Keenam elemen atau aspek ini disesuaikan dengan kondisi dan lingkungannya dalam proses pendidikan multikultural (Ismail, 2. Guru dapat memilih setidaknya tiga dari aspek tersebut yang dapat diajarkan sesuai dengan perkembangan mentalnya. Setiap jenjang pendidikan tentu memiliki cara berbeda dalam mentransformasi informasi. Ketelitian dan kecermatan dalam memilih aspek pada pendidikan multikultural sangat membantu pemahaman secara baik dan benar. Vygotsky dalam Ismail . merupakan salah satu tokoh pendidikan yang menganjurkan proses pembelajaran dilakukan dengan menggunakan budaya lingkungan dimana seseorang tinggal serta mempelajari makna dan simbol sesuai dengan budayanya. Pembelajaran berbasis budaya menurut Vygotsky menjadikan seseorang lebih mengenal konsep diri secara baik dan benar sesuai dengan nilai-nilai budaya yang dianutnya. Konsep diri berdasarkan budaya yang dianutnya merupakan modal dasar untuk dapat menerima budaya yang berbeda dan menghargai perbedaan yang ada. Konsep yang dikembangkan oleh Vygotsky merupakan cikal bakal dari pendidikan multikultural yang berkembang di Amerika Serikat. Ada dua konteks memahami multicultural yaitu multikultural sebagai keragaman perbedaan budaya dan multikultural sebagai bagian dari politik pendidikan gaya Amerika Serikat. Vygotksky lebih menekankan pada keragaman budaya dari aspek antropologi. Tilaar & Hapsari . multikulturalisme merupakan suatu konsep dengan aspekaspek yang sangat luas dan kompleks karena berhubungan dengan masalah-masalah budaya, politik, sosial, ekonomi, filsafat. Karakteristik multikultural memiliki kesamaan dengan kondisi masyarakat Indonesia saat sekarang ini. Pemahaman terhadap keragaman budaya, agama, serta sosial ekonomi, dapat ditanamkan sejak usia dini. Setiap anak melalui lingkungan baik di sekolah maupun rumah, dapat dijadikan sebagai sumber dan media pembelajaran multikultural. Jurnal Pendidikan dan Penciptaan Seni, 4. 2024: 60-65. Pendidikan multikultural memiliki kesamaan dengan program dari Kementerian Agama yaitu Moderasi Beragama. Pada panduan buku Moderasi Beragama . dijelaskan tentang tujuan pentingnya dilakukan moderasi beragama, yaitu semangat moderasi beragama adalah untuk mencari titik temu dua kutub ekstrem dalam beragama (Fahri & Zainuri, 2. Di satu sisi, ada pemeluk agama yang ekstrem meyakini mutlak kebenaran satu tafsir teks agama, seraya menganggap sesat penafsir selainnya. Kelompok ini biasa disebut ultra-konservatif. Di sisi lain, ada juga umat beragama yang esktrem mendewakan akal hingga mengabaikan kesucian agama, atau mengorbankan kepercayaan dasar ajaran agamanya demi toleransi yang tidak pada tempatnya kepada pemeluk agama Mereka biasa disebut ekstrem liberal. Keduanya perlu dimoderasi. Moderasi beragama seperti halnya pendidikan multicultural bertujuan agar setiap warga negara Indonesia memiliki kesalehan sosial lebih baik sehingga dapat membantu tatanan sosial jauh lebih baik lagi. Ketaqwaan tidak hanya bersifat vertical tetapi juga Keduanya diperlukan keseimbangan sehingga setiap manusia dapat hidup di lingkungan sosial yang damai, aman, tenteram, dan saling menghargai satu kelompok dengan kelompok lain, satu individu dengan individu lain. SIMPULAN Perubahan isu dan paradigma dalam pendidikan seni menunjukkan bahwa bidang ini terus berkembang sesuai dengan kebutuhan zaman. Pendidikan seni, terutama dalam konteks tari anak, memerlukan revitalisasi di semua jenjang pendidikan agar memiliki relevansi nyata bagi perkembangan anak. Tari anak tidak hanya mengandung nilai estetika, tetapi juga berpotensi menjadi sarana yang efektif untuk mendukung perkembangan intelektual, sosial-emosional, dan multikultural anak. Hal ini sangat penting, mengingat bahwa tari sebagai bentuk seni tidak hanya membangun keterampilan fisik, tetapi juga memperkuat kemampuan berpikir kritis, kreativitas, dan kemampuan adaptasi dalam lingkungan sosial yang beragam. Guru memiliki peran kunci dalam implementasi pendidikan seni yang efektif, khususnya dalam memilih metode pengajaran yang tepat untuk setiap tujuan Penguasaan materi seni dan pemilihan metode yang sesuai sangat penting untuk memastikan bahwa tujuan pembelajaran tercapai, terutama dalam konteks pendidikan anak usia dini dan sekolah dasar, yang merupakan masa emas dalam perkembangan otak dan kepribadian anak. Pendekatan yang tepat dalam pengajaran tari dapat membantu anak-anak dalam mengembangkan karakter, keterampilan sosial, dan pemahaman budaya yang lebih luas, mempersiapkan mereka untuk berinteraksi di dunia yang semakin terhubung secara global. Selain itu, kurikulum pendidikan seni, khususnya dalam pengajaran tari, perlu dirancang untuk mengakomodasi kebutuhan anak-anak dengan berbagai latar belakang, termasuk mereka yang berkebutuhan khusus. Hal ini penting agar pendidikan seni dapat diakses oleh semua anak dan disesuaikan dengan kemampuan dan kebutuhan perkembangan mereka. Kurikulum yang inklusif memungkinkan pendidikan seni menjadi sarana yang universal untuk mengembangkan kemampuan intelektual, sosial-emosional, dan kesadaran multikultural, menjadikan seni tari sebagai bagian integral dalam pembentukan individu yang toleran, kreatif, dan adaptif. Dengan demikian, tari anak dalam pendidikan seni bukan hanya sekadar aktivitas fisik, tetapi juga menjadi alat pembelajaran yang holistik untuk meningkatkan keterampilan dan nilai-nilai yang esensial bagi perkembangan anak di era global. Relevansi pendidikan tari dalam konteks ini memberikan kontribusi penting bagi para pendidik, orang tua, dan pembuat kebijakan dalam merancang strategi pembelajaran yang Eko Purnomo & Hartono. Tari Anak dalam Perspektif Perkembangan Intelektual. Sosial Emosional, dan Multikultural mendukung perkembangan anak secara menyeluruh, mengintegrasikan aspek-aspek intelektual, sosial-emosional, dan multikultural. DAFTAR PUSTAKA