ABSYARA: Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat Vol. No. Juli 2022 Hal. 71 - 78 e-ISSN: 2723-6269 Sosialisasi Konsep Penyakit Diabetes Millitus Untuk Meningkatkan Pengetahuan. Lansia Tentang Diabetes Millitus Dewi Nur Sukma Purqoti*1. Zaenal Arifin2. Dian Istiana3. Ilham4. Baiq Ruli Fatmawati5. Harlina Putri Rusiana6 purqotidewi87@gmail. com*1, nifira. z70@gmail. com2, dianistiana564@gmail. ilhamzhofir@gmail. com4, yulithafatmawati@gmail. com5, harlinarusian@gmail. 1,2,3,4,5,6 Program Studi Pendidikan Ners. STIKES Yarsi Mataram Received: 29 Mei 2022 Accepted: 29 July 2022 Online Published: 31 July 2022 DOI: 10. 29408/ab. Abstrak: Penyakit Diabetes Mellitus (DM) merupakan salah satu penyakit degenerative yang dikenal dengan istilah lifelong disease karena dikenal dengan penyakit yang tidak dapat disembuhkan selama rentang hidup penderitanya dan penyakit ini banyak dijumpai pada lansia. Dalam tatalaksana DM ada 6 hal yang harus diperhatikan antara lain edukasi, pengaturan pola makan, aktivitas fisik teratur, medikamentosa, penggunaan insulin, serta monitoring kadar gula darah harian. Tujuan kegiatan pengabdian masyarakat ini adalah untuk meningkatkan pengetahuan lansia tentang konsep dasar Penyakit DM. Metode kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang dilakukan dalam bentuk pemberian pendidikan kesehatan tentang konsep dasar DM dan penanganannya dengan cara Ceramah dan tanya jawab. Adapun Tahapan kegiatan dimulai dari pengukuran pengetahuan warga tentang DM, sebagai data pre tes, selanjutnya diberikan materi konsep dasar DM dan penanganannya dengan cara ceramah dan sesi selanjutnya tanya jawab tentang materi yang belum jelas, serta tahapan terakhir adalah mengukur kembali pengetahuan warga tentang konsep DM sebagai data post tes. Hasil dari pengbdian ini adanya peningkatan pengetahuan setelah diberikan Pendidikan Kesehatan. Kesimpulan dari kegiatan pengabdian masyarakat ini adalah sosialisasi konsep penyakit DM berdampak positif terhadap pengetahuan lansia tentang penyakit DM itu sendiri. Kegiatan- kegiatan serupa harus tetap dilakukan guna meningkatkan kualitas hidup penyandang DM. Kata kunci: Diabetes Miletus. Lansia . Pendidikan Kesehatan. Abstract: Diabetes Mellitus (DM) is one of the degenerative diseases known as a lifelong disease because it is a disease that cannot be cured during the life span of the sufferer and is commonly found in the elderly. In the management of DM, six things must be considered, including education, dietary regulation, regular physical activity, medicaments, insulin use, and monitoring daily blood sugar levels. The purpose of this community service activity is to increase the knowledge of the elderly about the basic concepts of DM. The method of community service activities was carried out by providing health education about the basic concepts of DM and its handling through lectures and questions and answers. The stages of the activity start from measuring residents' knowledge about DM as pre-test data, then giving material on the basic concepts of DM and its handling through lectures and subsequent sessions of question and answer about material that is not yet clear. The last stage is to re-measure citizens' knowledge about the concept of DM as post-test data. This activity results in an increase in knowledge after being given Health Education. This community service activity concludes that the socialization of the concept of DM disease has a positive impact on the knowledge of the elderly about DM. Similar activities must continue to be carried out to improve the quality of life of people with DM. Keywords: Diabetes Miletus. Elderly. Health Education. ABSYARA: Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat. Vol. No. Juli 2022 | 71 Purqoti. Arifin. Istiana. Ilham. Fatmawati. Rusiana. Sosialisasi konsep penyakit Diabetes Millitus untuk meningkatkan pengetahuan. Lansia tentang Diabetes Millitus. ABSYARA: Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat, 3. , 71-78. doi:10. 29408/ab. PENDAHULUAN Perkembangan teknologi dan informasi yang begitu pesat saat ini memberikan pengaruh terhadap perubahan perilaku hidup masyarakat. Perubahan prilaku tersebut menjadi penyebab utama tingginya angka kesakitan yang disebabkan oleh Penyakit Tidak Menular (PTM) seperti peningkatan jumlah kasus Diabetes Melitus (DM) yang cukup serius di negara maju dan negara berkembang. Penyakit DM merupakan penyakit metabolisme yang disebabkan karena resistensi insulin dan disfungsi sel beta pankreas. Penyakit DM disebabkan oleh perubahan gaya hidup masyarakat serta kurangnya kesadaran untuk melakukan deteksi dini penyakit DM, kurangnya aktivitas fisik, dan pengaturan pola makan yang salah. Pola hidup yang dominan menjadi pencetus DM ialah pola makan dan aktivitas fisik Perubahan gaya hidup seperti kebiasaan mengonsumsi makanan tidak sehat dan aktivitas fisik yang kurang memiliki risiko tinggi mengalami Diabetes Melitus Type 2 (Murtiningsih et al. , 2. Penyakit DM ditandai dengan gangguan metabolik yang diakibatkan oleh salah satu fungsi organ tubuh tidak dapat memproduksi cukup insulin atau tidak dapat menggunakan insulin yang diproduksi secara efektif sehingga terjadi peningkatan kadar gula di dalam darah atau disebut juga dengan hiperglikemia (Kemenkes RI, 2. Berdasarkan data International Diabetes Federation (IDF) prevalensi DM global pada tahun 2021 sebanyak 10,5% . juta orang dewas. pada umur 20-79 tahun atau 1 dari 10 orang hidup dengan diabetes diseluruh Penderita diabetes pada tahun 2030 diperkirakan mencapai 11,3% . juta oran. , naik menjadi 12,2% . pada tahun 2045 (Ogurtsova et al. , 2. IDF menyebutkan bahwa Indonesia saat ini berada pada posisi 7 dengan DM di dunia, dengan jumlah sebanyak 10 juta jiwa dan diprediksi akan megalami peningkatan ke posisi 6 pada tahun 2040 dengan jumlah 16,2 juta jiwa yang berpotensi akan komplikasi Luka Kaki Diabetik (LKD). Berdasarkan hasil Riset Kesehatan Dasar Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Riskesda. tahun 2018 prevalensi penyakit tidak menular mengalami peningkatan salah satunya penyakit Diabetes Mellitus, yakni menjadi 8,5% dari 6,9% pada tahun 2013 berdasarkan pemeriksaan darah pada penduduk umur Ou 15 tahun dan prevalensi diabetes melitus berdasarkan diagnosis dokter didapatkan data bahwa pasien di dominasi oleh masyarakat yang tidak/belum pernah sekolah sebesar 13,7% dan 9,90% terjadi pada petani/ buruh tani dan sekitar 25% penderita diabetes yang mengetahui bahwa dirinya menderita diabetes (Kemenkes RI, 2. Data DM di Nusa Tenggara Barat sebesar 1,2% . 247 oran. dari seluruh jumlah penderita DM di Indonesia (Riskesdas, 2. Data penderita DM di Lombok barat sejumlah 8. 635 orang pada tahun 2020 dan kabupaten Lombok barat menjadi kabupaten tertinggi ke 4 untuk kasus DM di NTB (Dikes Provinsi NTB, 2. Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan Lombok Barat tahun 2019, tercatat 3 puskesmas yang memiliki penderita diabetes mellitus terbanyak diantaranya Puskesmas Gunungsari dengan jumlah pasien 737 orang. Kasus DM mayoritas dijumpai pada lansia, walaupun saat ini kasus DM tidak hanya menyerang lansia tapi juga pada remaja dan anak-anak, hampir 50 persen penderita DM berusia di atas 65 tahun (Suprapti, 2. Dalam penelitian Rusiana . juga menyatakan penyakit DM banyak di jumpai pada lansia dikarenakan lansia tidak mampu memproduksi insulin dalam jumlah yang cukup sesuai dengan kebutuhan. Enam pilar dalam penatalaksanaan DM yaitu: edukasi, pengaturan pola makan, aktivitas fisik teratur, medikamentosa, penggunaan insulin, serta monitoring kadar gula darah ABSYARA: Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat. Vol. No. Juli 2022 | 72 Purqoti. Arifin. Istiana. Ilham. Fatmawati. Rusiana. Sosialisasi konsep penyakit Diabetes Millitus untuk meningkatkan pengetahuan. Lansia tentang Diabetes Millitus. ABSYARA: Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat, 3. , 71-78. doi:10. 29408/ab. harian penyandang diabetes. Aktifitas fisik teratur sangat dibutuhkan untuk menjaga Fungsi hormon dalam tubuh, dimana fungsi hormone dalam tubuh akan meningkat jika melakukan olahraga secara rutin (Pane, 2015 dalam Soemardiawan, 2. Melihat tatalaksana 6 pilar tersebut Salah satu upaya yang bisa dilakukan untuk menekan angka kesakitan pada penyandang DM adalah memberikan edukasi tentang pencegahan dan penanganan DM itu Berdasarkan hal tersebut di atas menjadi dasar tim melakukan pengabdian tentang ppendidikan Kesehatan untuk meningkatkan pengetahuan lansia tentang DM. Adapun tujuan dari kegiatan pengabdian ini ada Clah untuk meningkatkan pengetahuan lansia tentang konsep dasar DM dan penanganannya. METODE PELAKSANAAN Waktu dan tempat Kegiatan pengabdian masyarakat ini dilakukan pada hari kamis 23 Desember 2021 di desa kekeri kecematan gunung sari dan diikuti oleh 15 orang warga. Prosedur pelaksanaan Metode pengabdian kepada masyarakat yang dilakukan dalam bentuk pemberian pendidikan kesehatan tentang konsep dasar DM dan penanganannya dengan cara ceramah dan tanya jawab. Adapun Tahapan kegiatan dimulai dari pengukuran pengetahuan warga tentang DM, sebagai data pre tes, selanjutnya diberikan materi konsep dasar DM dan penanganannya dengan cara ceramah dan sesi selanjutnya tanya jawab tentang materi yang belum jelas, serta tahapan terakhir adalah mengukur kembali pengetahuan warga tentang konsep DM sebagai data post tes. HASIL DAN PEMBAHASAN HASIL Hasil dari kegiatan pengabdian masyarakat yang dilakukan di desa kekeri kecematan gunung sari dapat dilihat pada table berikut. Tabel 1. Distribusi karakteristik peserta pengabdian masyarakat berdasarkan Usia. Jenis kelamin. Pendidikan dan Pengetahuan warga di Desa kekeri, kecamatan gunung sari. No Usia Frekuensi 1 <50tahun 2 Ou 50 tahun Total No Jenis Kelamin Frekuensi 1 Laki-laki 2 Perempuan Total No Pendidikan Frekuensi 1 SD 2 SMP 3 SMA Total . umber: Data primer 2. ABSYARA: Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat. Vol. No. Juli 2022 | 73 Purqoti. Arifin. Istiana. Ilham. Fatmawati. Rusiana. Sosialisasi konsep penyakit Diabetes Millitus untuk meningkatkan pengetahuan. Lansia tentang Diabetes Millitus. ABSYARA: Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat, 3. , 71-78. doi:10. 29408/ab. Berdasarkan table diatas dapat dilihat Sebagian besar peserta pengabdian masyarakat berada pada rentan usia diatas 50 tahun sejumlah 10 orang . 7%), mayoritas berjenis kelamin perempuan sejumlah 11 orang . 3%). Sebagian besar Pendidikan SD sebanyak 10 orang . 7%). Tabel 2. Distribusi karakteristik peserta pengabdian masyarakat berdasarkan Pengetahuan warga sebelum dan setelah Pendidikan Kesehatan di Desa kekeri, kecamatan gunung sari. No Pengetahuan Pre test Frekuensi 1 Kurang 2 Cukup 3 Baik Total No Pengetahuan Post test Frekuensi 1 Kurang 2 Cukup 3 Baik Total . umber: Data primer 2. Berdasarkan table diatas dapat dilihat bahwa ada peningkatan pengetahuan sebelum dan sesudah dilakukannya kegiatan Pendidikan Kesehatan. Data sebelum diberikan Pendidikan kesehatan didapatkan peserta pengabdian masyarakat berada pada kegori pengetahuan kurang sebanyak 10 orang . ,7%) dan menjadi 8 orang . ,4%) setelah kegiatan dilaksanakan. Gambar 1. Pelaksanaan Pre test Adapun pelaksanaan pre tes dimaksudkan untuk mengetahui sejauh mana pengetahuan warga terkait penyakit DM, warga diminta untuk mengisi kuesioner pengetahuan yang sudah Proses pengisian kuesioner ini didampingi oleh tim pegabdian guna mempermudah proses pelaksanaan pre tes. ABSYARA: Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat. Vol. No. Juli 2022 | 74 Purqoti. Arifin. Istiana. Ilham. Fatmawati. Rusiana. Sosialisasi konsep penyakit Diabetes Millitus untuk meningkatkan pengetahuan. Lansia tentang Diabetes Millitus. ABSYARA: Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat, 3. , 71-78. doi:10. 29408/ab. Gambar 2 Pelaksanan Post tes Setelah pelaksanaan Pendidikan Kesehatan kemudian dilanjutkan dengan pelaksanaan post tes, untuk melihat pemahaman warga tentang materi yang sudah diberikan. Pada kegiatan post tes ini warga diminta mengisi Kembali kuesioner pengetahuan yang sudah disiapkan dengan didampingi tim pengabdian masyarakat. Dari hasil post tes terlihat adanya peningkatan pengetahuan dari sebelum dan sesudah diberikan Pendidikan Kesehatan. Gambar 3 dokumentasi setelah kegiatan dilakukan. PEMBAHASAN Berdasarkan hasil Kegiatan pengabdian masyrakat ini didapatkan usia warga didominasi mayoritas berusia diatas 50 tahun yaitu sebanyak 10 orang. Sebagian besar perempuan sebanyak 11 orang. Sebagian besar Pendidikan SD sebanyak 10 orang, dan ada peningkatan pengetahuan sebelum dan sesudah dilakukannya kegiatan Pendidikan Kesehatan. Berdasarkan*penelitian sebelumnya didapatkan usia penderita DM mayorotas di atas 40 tahun disebabkan pada usia tersebut resiko terjadinya resistensi insulin akan meningkat diakibatkan adanya penurunah fungsi fisiologis tubuh. Seiring bertambahnya usia maka kemampuan untuk beradaptasi dengan segala kondisi akan menurun, hal ini sesuai dengan fisiologis proses penuaan (Ratnawati, 2. Selain usia, jenis kelamin juga meningkatkan ABSYARA: Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat. Vol. No. Juli 2022 | 75 Purqoti. Arifin. Istiana. Ilham. Fatmawati. Rusiana. Sosialisasi konsep penyakit Diabetes Millitus untuk meningkatkan pengetahuan. Lansia tentang Diabetes Millitus. ABSYARA: Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat, 3. , 71-78. doi:10. 29408/ab. resiko DM. Wanita lebih beresiko terdiagnosa DM dibandingkan laki-laki, hasil ini sesuai dengan penelitian Mildawati . yang menyatakn bahwa Wanita lebih rentan terkena DM dibandingkan laki-laki dikarenakan status hormonal. Hormone estrogen berpengaruh proses penyerapan iodium pada usus, dimana proses ini sering mengalami gangguan sehingga mengakibatkan Wanita lebih sering terkena neuropati karena pembentukan mielin syaraf tidak Pengetahuan akan mengalami peningkatan dengan diberikannya Pendidikan Kesehatan, hal ini sejalan dengan penelitian Gandini . yang menyatakan bahwa pendidikan kesehatan dapat meningkatkan pengetahuan dan perilaku pasien DM tipe 2. Dalam Purqoti . juga menyatakan pemberian promosi Kesehatan dapat meningkatkan pengetahuan responden terhadap permasalahan terkait. Pernyataan ini juga diperkuat oleh Ernawati . yang menyatakan pengetahuan remajameningkat setelah diberikan penyuluhan Kesehatan. Respons mitra tentang kegiatan pengabdian masyarakat sangat baik, dapat dilihat pada tabel 3 berikut ini. Tabel 3. Respons Mitra tentang Kegiatan Pengabdian masyarakat di Desa kekeri, kecamatan gunung sari. No. Kegiatan Respons Penyampaian materi konsep dasar DM dengan Mitra dapat mengerti dan faham tentang materi yang Bahasa yang digunakan saat penyampaian materi mudah No. Kegiatan Respons mitra pada saat sesi tanya Respons Mitra kesempatan tanya jawab untuk menanyakan yang belum jelas terkait materi, dan mitra merasa sangat puas atas jawaban yang diberikan oleh tim. SIMPULAN Tujuan yang sudah di targetkan dalam kegiatan pengabdian ini sudah tercapai setelah kegiatan ini terlaksana. Kegiatan pengabdian masyarakat ini sangat memberikan dampak positif dalam meningkatkan pengetahuan warga tentang konsep dasar DM, hal ini terlihat dari adanya peningkatan pengetahuan setelah dilakukan Pendidikan Kesehatan. Kami menyadari masih adanya kekurangan dalam pelaksanaan kegiatan ini, diantaranya tidak dilaksanakannya monitoring dan evaluasi kembali setelah kegiatan ini dilaksanakan, diharapkan kegiatankegiatan serupa harus tetap dilakukan untuk meningkatkan kualitas hidup penderita DM. ABSYARA: Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat. Vol. No. Juli 2022 | 76 Purqoti. Arifin. Istiana. Ilham. Fatmawati. Rusiana. Sosialisasi konsep penyakit Diabetes Millitus untuk meningkatkan pengetahuan. Lansia tentang Diabetes Millitus. ABSYARA: Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat, 3. , 71-78. doi:10. 29408/ab. PERNYATAAN PENULIS Artikel ini bersifat orisinal dan belum pernah diterbitkan di jurnal mana pun. Hasil dan pembahasan merupakan hasil kegiatan dan kajian dari berbagai sumber yang relevan dan didukung berbagai jurnal terdahulu yang telah dilakukan peneliti lain sebelumnya. DAFTAR PUSTAKA