Afeksi: Jurnal Penelitian dan Evaluasi Pendidikan Volume 6 Nomor 6 Tahun 2025 https://afeksi. id/jurnal/index. php/afeksi e-ISSN: 2745-9985 Efektivitas Pelayanan Bursa Kerja Khusus (BKK) dalam Memfasilitasi Alumni Sebagai Calon Tenaga Kerja di SMK PGRI Wlingi Kabupaten Blitar Rania Cinta Mariska1. Anwar Hakim Darajat2. Wydha Mustika Maharani3 Universitas Islam Balitar. Blitar Indonesia Email: mariskarania02@gmail. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi efektivitas pelayanan Bursa Kerja Khusus (BKK) dalam memfasilitasi alumni sebagai calon tenaga kerja di SMK PGRI Wlingi. Kabupaten Blitar. Fokus penelitian mencakup empat indikator efektivitas organisasi menurut Gibson, yaitu produktivitas, adaptabilitas, kepuasan layanan, dan pencapaian hasil, serta ditambah dua faktor penghambat, yakni sumber daya teknis dan ketersediaan Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Analisis data dilakukan dengan model Miles. Huberman, dan Saldaya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa BKK telah menunjukkan efektivitas yang cukup tinggi, terutama pada aspek produktivitas melalui peningkatan penyerapan alumni oleh dunia kerja dan perluasan kemitraan industri. Adaptabilitas tercermin dalam penyesuaian program pelatihan terhadap kebutuhan industri serta pemanfaatan teknologi informasi. Tingkat kepuasan alumni dan mitra industri relatif tinggi, meskipun masih ditemukan keterbatasan akses informasi. Pencapaian hasil ditandai dengan keberhasilan penempatan alumni sesuai bidang keahlian dan peningkatan keterampilan kerja. Hambatan utama yang dihadapi BKK meliputi terbatasnya anggaran, jumlah dan kompetensi staf, serta sistem komunikasi yang belum Penelitian ini merekomendasikan penguatan kelembagaan BKK dan sinergi multisektor untuk mendukung transisi alumni ke dunia kerja secara berkelanjutan. Kata Kunci: Efektivitas. Bursa Kerja Khusus. Smk. Ketenagakerjaan Alumni. Penempatan Kerja PENDAHULUAN Investasi dalam pengembangan modal manusia menjadi prioritas utama di Indonesia, mencakup sektor pendidikan dari tingkat dasar hingga perguruan tinggi. Seiring dengan transformasi ekonomi menuju sistem berbasis pengetahuan dan digitalisasi. Indonesia bertujuan untuk meningkatkan daya saingnya di tingkat global dengan memastikan tenaga kerja memiliki keterampilan yang memadai untuk memenuhi tuntutan pasar yang terus Pendidikan vokasi, khususnya di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), memiliki tujuan untuk mempersiapkan siswa agar langsung dapat memasuki dunia kerja. Namun, meskipun SMK dirancang untuk menghasilkan tenaga kerja yang terampil, tantangan besar tetap ada, yakni ketidaksesuaian antara kompetensi yang diberikan di sekolah dan kebutuhan dinamis industri (Gog et al. , 2. Afeksi: Jurnal Penelitian dan Evaluasi Pendidikan Volume 6 Nomor 6 Tahun 2025 https://afeksi. id/jurnal/index. php/afeksi e-ISSN: 2745-9985 Gambar 1. Pengangguran Terbuka Berdasarkan Tingkat Pendidikan Ditamatkan di Kabupaten Blitar (Sumber: BPS Kabupaten Blitar, 2. Berdasarkan data di atas, tingkat pengangguran terbuka berdasarkan jenjang pendidikan yang ditamatkan di Kabupaten Blitar pada tahun 2025 sebesar 7,12% secara konsisten menempati posisi tertinggi dalam angka pengangguran dibandingkan dengan lulusan dari jenjang pendidikan lainnya, seperti SD. SMP, maupun SMA. Fenomena ini menunjukkan adanya ketimpangan yang signifikan antara tujuan pendidikan vokasional dengan realitas di lapangan. Fenomena ini menunjukkan bahwa meskipun pendidikan vokasi bertujuan untuk melahirkan tenaga kerja yang siap pakai, kesenjangan antara keterampilan yang diajarkan dan kebutuhan pasar kerja masih sangat signifikan. Salah satu penyebab utama adalah tidak adanya penyelarasan antara kurikulum yang diberikan di SMK dan kebutuhan industri yang terus berubah. Hal ini menciptakan ketidakcocokan antara kompetensi yang diajarkan di SMK dan kompetensi yang dibutuhkan oleh dunia usaha dan industri (Oswald-Egg & Renold, 2. Peran Bursa Kerja Khusus (BKK) di SMK diharapkan dapat menjembatani kesenjangan ini, dengan menyelenggarakan berbagai program yang mendukung penyaluran lulusan ke dunia kerja. BKK bertugas untuk memberikan informasi lowongan pekerjaan, melakukan pelatihan keterampilan, serta menjalin kerja sama dengan perusahaan untuk menyalurkan lulusan yang kompeten ke industri. Namun, efektivitas BKK dalam melaksanakan fungsinya masih dipertanyakan. Penelitian oleh Fitriani dan Indriati . menunjukkan bahwa meskipun BKK memiliki peran strategis dalam memfasilitasi penempatan kerja, pelaksanaannya sering kali terbatas karena kurangnya sumber daya, kurangnya komunikasi yang efektif dengan dunia industri, dan ketidakmampuan dalam mengidentifikasi kebutuhan pasar kerja secara tepat. Hal ini juga didukung oleh penelitian sebelumnya yang mengidentifikasi bahwa banyak lulusan bekerja di sektor yang tidak sesuai dengan keahlian mereka (Listiana, 2019. Irwansyah et al. , 2. Penelitian oleh Ula et al. juga mengungkapkan bahwa banyak lulusan yang kurang memanfaatkan layanan yang disediakan oleh BKK dalam mencari Afeksi: Jurnal Penelitian dan Evaluasi Pendidikan Volume 6 Nomor 6 Tahun 2025 https://afeksi. id/jurnal/index. php/afeksi e-ISSN: 2745-9985 pekerjaan, yang disebabkan oleh faktor keengganan lulusan untuk bekerja di luar wilayah asal atau kurangnya sistem pelacakan lulusan yang efektif. Dengan demikian, penting untuk mengevaluasi kembali efektivitas BKK dalam memfasilitasi penempatan kerja bagi alumni SMK PGRI Wlingi. Salah satu aspek penting dalam penelitian ini adalah menganalisis hambatan-hambatan yang menghambat efektivitas BKK, seperti keterbatasan sumber daya, komunikasi yang terbatas dengan dunia industri, dan ketidaksesuaian antara kurikulum SMK dengan kebutuhan dunia usaha dan industri. Penelitian ini bertujuan untuk memberikan pemahaman yang lebih mendalam tentang efektivitas BKK, serta mengidentifikasi langkah-langkah yang perlu diambil untuk meningkatkan kinerjanya dalam memfasilitasi penempatan tenaga kerja yang sesuai dengan kompetensi yang dibutuhkan oleh pasar. Di tengah permasalahan ini. Bursa Kerja Khusus (BKK) muncul sebagai salah satu solusi yang diharapkan dapat mengatasi kesenjangan antara kompetensi lulusan SMK dan kebutuhan industri. BKK berfungsi sebagai lembaga yang menyediakan informasi lowongan pekerjaan, melakukan pelatihan keterampilan, serta menjembatani hubungan antara industri dan alumni SMK. Menurut penelitian oleh Fitriani dan Indriati . BKK memiliki peran yang sangat penting dalam meningkatkan kesiapan kerja siswa SMK, terutama melalui program pelatihan yang disesuaikan dengan permintaan pasar. Programprogram tersebut sering kali melibatkan kerja sama dengan industri untuk memastikan bahwa pelatihan yang diberikan relevan dengan kebutuhan dunia kerja. Namun, meskipun BKK memiliki peran penting dalam proses penyelarasan kompetensi ini, efektivitas perannya masih dipertanyakan. Penelitian oleh Sulistyo et al. menunjukkan bahwa banyak BKK yang belum dapat menjalankan fungsinya dengan maksimal, terutama dalam hal menjalin kerja sama yang efektif dengan industri. Salah satu faktor yang menjadi kendala adalah kurangnya dana dan sumber daya untuk melaksanakan program-program pelatihan yang memadai. Selain itu, rendahnya partisipasi dari pihak industri dalam program BKK juga menjadi salah satu hambatan utama dalam meningkatkan efektivitas BKK dalam memfasilitasi penempatan kerja bagi alumni SMK. Fenomena ini juga tercermin pada SMK PGRI Wlingi Kabupaten Blitar, yang menjadi objek penelitian dalam studi ini. SMK PGRI Wlingi memiliki berbagai program unggulan di bidang kejuruan, namun, banyak lulusan yang belum berhasil memperoleh pekerjaan yang sesuai dengan bidang mereka. Hal ini mengindikasikan adanya ketidaksesuaian antara kompetensi yang diperoleh selama masa pendidikan dan kebutuhan dunia industri. Selain itu. BKK juga menghadapi tantangan dalam hal pengembangan kurikulum pelatihan yang sesuai dengan kebutuhan industri. Menurut Santoso dan Setiawan . , banyak BKK yang masih mengandalkan kurikulum lama yang tidak mengikuti perkembangan tren industri terbaru. Hal ini menyebabkan ketidaksesuaian antara keterampilan yang diajarkan di SMK dengan keterampilan yang dibutuhkan di dunia kerja. Oleh karena itu. BKK perlu terus beradaptasi dengan perkembangan teknologi dan kebutuhan industri agar dapat memberikan pelatihan yang lebih relevan dan efektif bagi lulusan SMK. Penelitian ini bertujuan untuk memberikan gambaran yang lebih jelas tentang sejauh mana BKK dapat berkontribusi dalam meningkatkan kesiapan kerja lulusan dan Afeksi: Jurnal Penelitian dan Evaluasi Pendidikan Volume 6 Nomor 6 Tahun 2025 https://afeksi. id/jurnal/index. php/afeksi e-ISSN: 2745-9985 untuk mengidentifikasi langkah-langkah yang perlu diambil untuk meningkatkan efektivitas SMK PGRI Wlingi. Kabupaten Blitar di masa depan. METODE Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif, yang bertujuan untuk menggambarkan dan menganalisis kondisi atau situasi yang ada di lapangan berdasarkan data yang dikumpulkan, seperti wawancara dan observasi. Metode ini memungkinkan peneliti untuk mengumpulkan data dalam bentuk kata-kata, gambar, atau dokumen nonangka (Moleong, 2. Data yang diperoleh akan dianalisis untuk memberikan pemahaman yang lebih mendalam tentang fenomena yang sedang diteliti, dalam hal ini efektivitas pelayanan Bursa Kerja Khusus (BKK) di SMK PGRI Wlingi dalam memfasilitasi alumni sebagai calon tenaga kerja. Fokus Penelitian penelitian ini adalah untuk menggambarkan efektivitas pelayanan yang diberikan oleh BKK, serta mengidentifikasi hambatan-hambatan yang dihadapi selama proses pelaksanaan. Penelitian ini menggunakan kerangka teori efektivitas organisasi yang dikemukakan oleh Gibson et al. , yang mencakup indikator produktivitas, adaptabilitas, kepuasan penerima layanan, dan pencapaian hasil. Indikator-indikator tersebut digunakan untuk mengevaluasi keberhasilan BKK dalam fasilitasi calon tenaga kerja, menjalin kerja sama dengan penyedia kerja, pelaksanaan rekrutmen, bimbingan karir, dan penempatan kerja. Selain itu, penelitian ini juga fokus pada hambatan yang ada berdasarkan teori pelayanan publik dari Dwiyanto . , yang mengelompokkan hambatan menjadi tiga kategori: hambatan struktural, hambatan sumber daya, dan hambatan koordinasi serta komunikasi. Objek dan Subjek Penelitian adalah anggota yang berperan dalam proses pelayanan BKK, yang terdiri dari informan kunci (Ketua BKK SMK PGRI Wling. dan informan pendukung (Staf BKK dan alumni 2023-2. Penelitian ini dilakukan di SMK PGRI Wlingi. Kabupaten Blitar, dengan pengumpulan data dilakukan antara Januari hingga Juni Untuk pengumpulan data, penelitian ini mengandalkan observasi, wawancara, dan Observasi dilakukan langsung di lapangan untuk memahami konteks sosial, wawancara dengan informan kunci dan pendukung, serta dokumentasi untuk melengkapi data yang dikumpulkan. Semua data yang diperoleh kemudian dianalisis menggunakan model analisis data interaktif dari Miles. Huberman, dan Saldaya . , yang melibatkan pengumpulan data, kondensasi data, penyajian data, serta penarikan kesimpulan yang dilakukan secara bersamaan. Keabsahan data dilakukan melalui uji kredibilitas dengan teknik triangulasi, yang melibatkan pengecekan konsistensi data melalui berbagai sumber dan teknik pengumpulan data yang berbeda. Proses ini membantu untuk memastikan kredibilitas dan keandalan temuan yang diperoleh dalam penelitian. HASIL DAN PEMBAHASAN Efektivitas Pelayanan Bursa Kerja Khusus (BKK) di SMK PGRI Wlingi Efektivitas program BKK SMK PGRI WLINGI dalam mencapai penyesuaian kompetensi lulusan dengan kebutuhan pasar kerja terbukti melalui rangkaian kegiatan yang sistematis dan terintegrasi. Efektivitas pelayanan BKK dapat ditinjau melalui empat Afeksi: Jurnal Penelitian dan Evaluasi Pendidikan Volume 6 Nomor 6 Tahun 2025 https://afeksi. id/jurnal/index. php/afeksi e-ISSN: 2745-9985 indikator utama menurut Gibson et al. , yaitu produktivitas, adaptabilitas, kepuasan penerima layanan, dan pencapaian hasil. Produktivitas Produktivitas pelayanan Bursa Kerja Khusus (BKK) tercermin dari kemampuannya dalam mengelola serta mendistribusikan informasi lowongan kerja secara aktif dan relevan kepada alumni. Penyampaian informasi dilakukan melalui berbagai media seperti media sosial, grup WhatsApp, brosur digital, dan papan pengumuman sekolah. Strategi ini membentuk sistem komunikasi dua arah yang responsif dan adaptif, sejalan dengan prinsip penyediaan informasi ketenagakerjaan yang relevan sebagaimana dikemukakan oleh Tim SED-TVET . Peningkatan produktivitas BKK juga terlihat dari kemampuannya dalam menindaklanjuti alumni yang berminat terhadap lowongan yang ditawarkan, serta mengatur tahapan proses seleksi kerja secara sistematis. Ini mencerminkan adanya pemantauan berkelanjutan terhadap lulusan, yang menunjukkan komitmen institusi dalam menjalankan fungsi fasilitasi transisi dari sekolah ke dunia kerja. BKK menerapkan pendekatan job matching yang terstruktur dengan menyaring informasi lowongan berdasarkan kesesuaian dengan program keahlian alumni. Proses seleksi mencakup tahapan administrasi, psikotes, hingga wawancara kerja yang diselenggarakan oleh perusahaan mitra. Strategi ini bertujuan untuk memastikan bahwa lulusan yang difasilitasi telah memenuhi standar kompetensi teknis dan kesiapan profesional yang dibutuhkan industri. Penerapan sistem ini sekaligus menunjukkan keterpenuhan indikator pencapaian hasil, yaitu menyalurkan lulusan yang telah dipersiapkan secara optimal. Data hasil monitoring menunjukkan adanya peningkatan signifikan dalam penempatan kerja, dengan tingkat serapan langsung sebesar 63,7% pada tahun 2024. Selain itu, terdapat kecenderungan peningkatan partisipasi alumni dalam kegiatan kewirausahaan sebagai alternatif solusi ketenagakerjaan. Secara keseluruhan, sebanyak 482 alumni berhasil mendapatkan pekerjaan melalui fasilitasi BKK, yang menunjukkan kontribusi nyata program terhadap penurunan angka pengangguran di kalangan lulusan SMK. Keberhasilan program ini turut ditopang oleh kemitraan strategis dengan lebih dari 30 perusahaan yang berasal dari berbagai sektor industri, termasuk otomotif, pertambangan, hingga ritel. Setiap tahunnya. BKK secara aktif menjalin kerja sama baru dengan minimal lima perusahaan sebagai bagian dari strategi ekspansi jaringan. Kolaborasi ini tidak hanya membuka peluang kerja, tetapi juga mendorong pertukaran informasi dan pembaruan kurikulum berbasis kebutuhan riil dunia industri. BKK juga melaksanakan program bimbingan karier secara intensif, mulai dari pelatihan pembuatan curriculum vitae, simulasi wawancara kerja, hingga sosialisasi langsung oleh praktisi industri. Evaluasi terhadap program ini menunjukkan bahwa pendekatan komprehensif BKK telah berhasil menjembatani kesenjangan antara kompetensi lulusan dan kebutuhan pasar kerja. Tidak hanya terbatas pada aspek administratif. BKK turut memberikan pendampingan personal yang memperkuat kesiapan lulusan dalam Afeksi: Jurnal Penelitian dan Evaluasi Pendidikan Volume 6 Nomor 6 Tahun 2025 https://afeksi. id/jurnal/index. php/afeksi e-ISSN: 2745-9985 menghadapi dinamika dunia kerja. Hal ini turut meningkatkan kepuasan baik dari sisi alumni maupun mitra industri terhadap layanan yang diberikan. Gambar 2. Keselarasan Program BKK SMK PGRI Wlingi (Sumber: Data BKK SMK PGRI Wlingi, 2. Beradasarkan data diatas menunjukkan bahwa dari total siswa alumni SMK PGRI WLINGI, sebanyak 482 lulusan menyatakan bahwa pekerjaan atau usaha yang dijalankan selaras dengan pelatihan yang diterima melalui program BKK, sedangkan 80 lulusan menyatakan sebaliknya. Temuan ini mengindikasikan adanya tingkat relevansi yang tinggi antara kompetensi yang dibekalkan melalui pelatihan BKK dengan kebutuhan praktis di dunia kerja maupun kewirausahaan. Kesesuaian ini menunjukkan bahwa BKK SMK PGRI Wlingi telah mampu menyesuaikan desain pelatihannya dengan dinamika pasar kerja. Pelatihan yang memadukan penguatan keterampilan teknis dan soft skills terbukti meningkatkan kesiapan lulusan untuk beradaptasi terhadap standar industri yang terus berkembang. Dengan demikian, hasil ini memperkuat efektivitas BKK dalam dua aspek sekaligus, yaitu indikator adaptabilitasAi dalam hal penyesuaian program terhadap kebutuhan eksternal, serta indikator kepuasan layanan yang tercermin dari persepsi positif mayoritas alumni terhadap manfaat pelatihan yang telah mereka ikuti. Adaptabilitas BKK SMK PGRI Wlingi menunjukkan tingkat adaptabilitas yang tinggi dalam merespons perubahan kebutuhan pasar kerja dan perkembangan teknologi. Hal ini tercermin dari strategi kemitraan yang dijalankan secara terencana dan berorientasi jangka Penetapan target tahunan untuk menjalin kerja sama dengan minimal lima perusahaan baru menunjukkan adanya komitmen strategis dalam membangun ekosistem kemitraan industri. Bentuk kerja sama mencakup kunjungan industri, penandatanganan MoU dalam program Praktik Kerja Industri (Prakeri. , dan kolaborasi berkelanjutan untuk pengembangan jaringan kerja. Temuan ini sejalan dengan pendapat Yelia . dan Afeksi: Jurnal Penelitian dan Evaluasi Pendidikan Volume 6 Nomor 6 Tahun 2025 https://afeksi. id/jurnal/index. php/afeksi e-ISSN: 2745-9985 Irwansyah et al. yang menekankan bahwa keberhasilan BKK sangat ditentukan oleh fleksibilitas dan inovasi dalam menghadapi dinamika ketenagakerjaan. Dari perspektif jangka pendek. BKK berfokus pada peningkatan kesiapan kerja siswa melalui pelatihan intensif, yang meliputi pembuatan curriculum vitae, simulasi wawancara kerja, serta pembinaan soft skills seperti kedisiplinan, tanggung jawab, dan kemampuan Strategi ini menunjukkan sinergi antara produktivitas dan adaptabilitas, di mana kesiapan kerja disiapkan sejak sebelum siswa lulus. Dalam jangka menengah, adaptabilitas tercermin dari mekanisme penempatan kerja dan magang yang disesuaikan dengan kompetensi keahlian masing-masing siswa. BKK tidak hanya memfasilitasi proses rekrutmen, tetapi juga melakukan evaluasi pasca penempatan guna memastikan kelanjutan proses adaptasi dan peningkatan keterampilan lulusan di dunia kerja. Mekanisme ini mencerminkan responsivitas BKK terhadap dinamika kebutuhan perusahaan serta fokus pada pengembangan kompetensi berkelanjutan. Secara jangka panjang. BKK berupaya membentuk ekosistem kerja sama industri yang berkelanjutan melalui perluasan jaringan kemitraan dan integrasi masukan industri ke dalam kurikulum sekolah. Penyesuaian program pelatihan dengan kebutuhan teknologi terbaru dan standar industri memungkinkan terjadinya pembaruan materi pelatihan secara Ini memperkuat kualitas sumber daya manusia lulusan agar tetap relevan dan kompetitif di tengah perubahan struktur pasar kerja. Selain itu, pemanfaatan teknologi digital menjadi salah satu wujud inovasi layanan BKK. Penyebaran informasi lowongan kerja dan pelatihan dilakukan melalui media sosial, grup WhatsApp, serta platform digital lainnya, yang memperluas jangkauan informasi hingga alumni di luar daerah. Pemanfaatan teknologi ini tidak hanya meningkatkan aksesibilitas, tetapi juga mempercepat proses penyampaian informasi secara real-time. BKK juga menunjukkan responsivitas terhadap perubahan kebijakan nasional, seperti penyesuaian terhadap program revitalisasi pendidikan vokasi dan implementasi kebijakan link and match antara dunia pendidikan dan industri. Pelaksanaan program job matching, pelatihan berbasis kebutuhan pasar, dan keterlibatan langsung mitra industri dalam pembinaan karakter siswa menjadi bukti nyata dari kemampuan adaptif BKK dalam menjawab tantangan sistem ketenagakerjaan modern. Kepuasan Penerimaan Layanan Hasil wawancara menunjukkan bahwa sebagian besar alumni menyatakan kepuasan terhadap layanan yang disediakan oleh BKK SMK PGRI Wlingi. Aspek yang paling diapresiasi adalah pembinaan karier yang bersifat personal, seperti layanan konsultasi, pendampingan dalam proses pendaftaran kerja, dan pelatihan soft skills yang mencakup komunikasi, kepercayaan diri, dan kedisiplinan. Alumni merasakan bahwa pendekatan ini sangat membantu dalam meningkatkan kesiapan mereka untuk memasuki dunia kerja. Dari perspektif pengguna layanan, kemudahan akses informasi juga menjadi faktor yang mendukung kepuasan alumni. Informasi lowongan kerja yang disebarkan melalui berbagai saluranAitermasuk media sosial, grup WhatsApp, dan brosur digitalAidinilai memudahkan alumni dalam mengakses peluang kerja yang relevan. Namun demikian. Afeksi: Jurnal Penelitian dan Evaluasi Pendidikan Volume 6 Nomor 6 Tahun 2025 https://afeksi. id/jurnal/index. php/afeksi e-ISSN: 2745-9985 sebagian alumni mengeluhkan keterbatasan akses informasi bagi mereka yang tidak aktif secara digital, sehingga penyebaran informasi masih dirasakan belum merata. Temuan ini memperkuat kajian World Economic Forum . dan Ula et al. , yang menekankan pentingnya distribusi informasi ketenagakerjaan yang merata dan sistem pelacakan alumni yang efektif. Dari sisi perusahaan mitra, kepuasan terhadap lulusan SMK PGRI Wlingi secara umum cukup tinggi. Sebagian besar perusahaan menyatakan bahwa lulusan memiliki keterampilan teknis yang memadai dan sikap kerja yang positif. Namun, beberapa perusahaan menyoroti perlunya peningkatan pada aspek etos kerja dan kemampuan komunikasi interpersonal. Masukan ini menunjukkan pentingnya evaluasi berkelanjutan terhadap kurikulum pelatihan dan pembinaan karakter. BKK juga telah menyediakan fasilitas pendukung yang memadai untuk mendukung pelayanan, seperti ruang layanan khusus bagi alumni, media informasi cetak dan digital, serta sistem komunikasi jaringan alumni yang cukup aktif. Namun, tantangan masih muncul terkait pemerataan akses, terutama bagi lulusan yang berada di luar daerah atau tidak memiliki konektivitas digital yang baik. Secara keseluruhan, temuan ini menunjukkan bahwa tingkat kepuasan terhadap layanan BKK relatif tinggi, baik dari sisi alumni maupun mitra Akan tetapi, masih diperlukan optimalisasi pada aspek pemerataan akses informasi dan peningkatan kualitas interpersonal lulusan, sebagai bagian dari penguatan layanan Pencapaian Hasil Indikator hasil menunjukkan bahwa BKK SMK PGRI Wlingi telah mencapai capaian signifikan dalam memfasilitasi transisi lulusan ke dunia kerja. Berdasarkan data tahun 2024, sebanyak 482 alumni berhasil memperoleh pekerjaan melalui fasilitasi BKK, dengan tingkat penyerapan kerja langsung sebesar 63,7% dalam kurun satu tahun setelah kelulusan. Capaian ini merefleksikan efektivitas BKK dalam menurunkan angka pengangguran di kalangan lulusan SMK. Penempatan alumni dilakukan melalui proses rekrutmen yang terstruktur, mulai dari seleksi administrasi, psikotes, hingga sosialisasi kepada orang tua. BKK juga memberikan pembekalan teknis dan non-teknis secara intensif, melalui pelatihan penguatan karakter serta kehadiran guru tamu dari kalangan praktisi industri. Hal ini menunjukkan bahwa BKK tidak hanya fokus pada penyaluran kerja, tetapi juga pada pembentukan kesiapan mental dan profesionalisme lulusan, selaras dengan indikator pencapaian hasil dalam teori efektivitas organisasi oleh Gibson et al. BKK juga berhasil memfasilitasi penempatan kerja yang sesuai dengan bidang keahlian siswa. Misalnya, lulusan dari kompetensi keahlian teknik otomotif banyak terserap di PT Jatim Autocomp dan PT Surabaya Autocam, sementara lulusan administrasi dan pemasaran tersebar di perusahaan ritel seperti Indomaret. Kesesuaian ini mengindikasikan bahwa proses job matching yang dilakukan BKK telah mempertimbangkan kecocokan antara kompetensi lulusan dan kebutuhan industri, sehingga meningkatkan relevansi dan daya saing alumni di dunia kerja. Afeksi: Jurnal Penelitian dan Evaluasi Pendidikan Volume 6 Nomor 6 Tahun 2025 https://afeksi. id/jurnal/index. php/afeksi e-ISSN: 2745-9985 Gambar 3. Keterserapan Siswa Alumni SMK PGRI Wlingi 2024 (Sumber: BKK SMK PGRI Wlingi 2. Capaian penempatan kerja juga tercermin dalam data mitra industri yang bekerja sama dengan BKK. Hingga tahun 2024, tercatat lebih dari 30 perusahaan mitra dari berbagai sektor industri telah membuka rekrutmen melalui BKK. Perusahaan seperti PT Jatim Autocomp. PT Surabaya Autocam, dan Indomaret menyerap lebih dari 15 lulusan per tahun, menunjukkan adanya hubungan kemitraan yang kuat dan berkesinambungan. Di sisi lain, beberapa perusahaan seperti PT Bambang Djaja dan PT Greenfields menyerap kurang dari lima lulusan, yang kemungkinan dipengaruhi oleh kuota terbatas atau spesifikasi kompetensi tertentu yang dibutuhkan. Selain menyalurkan lulusan ke dunia kerja. BKK juga berkontribusi dalam peningkatan keterampilan melalui pelatihan yang terstruktur dan berbasis kebutuhan pasar. Banyak alumni menyatakan bahwa pelatihan tersebut sangat membantu dalam menghadapi seleksi kerja serta adaptasi terhadap lingkungan industri. Program ini mencakup pelatihan Afeksi: Jurnal Penelitian dan Evaluasi Pendidikan Volume 6 Nomor 6 Tahun 2025 https://afeksi. id/jurnal/index. php/afeksi e-ISSN: 2745-9985 soft skills, teknis dasar, serta pembiasaan terhadap budaya kerja profesional. Secara keseluruhan, pencapaian ini menunjukkan bahwa layanan BKK tidak hanya bersifat administratif, melainkan menghasilkan outcome konkret berupa lulusan yang kompeten, terserap sesuai bidangnya, dan siap menghadapi dinamika dunia kerja. Capaian ini membuktikan bahwa indikator pencapaian hasil telah terpenuhi secara substansial, sejalan dengan misi pendidikan vokasi untuk menghasilkan sumber daya manusia yang unggul dan relevan dengan kebutuhan industri. Hambatan Efektivitas Pelayanan BKK Dalam Fasilitasi Calon Tenaga Kerja Dalam perspektif teori efektivitas pelayanan publik menurut Wenas et al. keberhasilan suatu layanan ditentukan oleh keterpaduan antara input, proses, dan output. Ketika salah satu unsur tersebut tidak berjalan optimal, maka efektivitas pelayanan akan Dalam konteks pelayanan Bursa Kerja Khusus (BKK) di SMK PGRI Wlingi, berbagai hambatan yang teridentifikasi selama penelitian menunjukkan bahwa proses fasilitasi penyaluran tenaga kerja belum sepenuhnya efektif. Hambatan-hambatan ini Sumberdaya dan Teknis Pelaksanaan layanan BKK SMK PGRI Wlingi secara umum telah berjalan cukup baik, namun masih terdapat beberapa kendala teknis yang dapat mempengaruhi efektivitas jangka panjang. Salah satu aspek yang justru menjadi kekuatan adalah ketersediaan Dana yang digunakan untuk mendukung program BKK berasal dari dana sekolah dan sumber pendukung lainnya, serta telah dialokasikan secara rutin untuk mendukung pelatihan, promosi, dan pelaksanaan rekrutmen. Namun demikian, hambatan tetap ditemukan pada aspek sumber daya manusia (SDM). Jumlah personel yang mengelola BKK masih terbatas dan belum seluruhnya memiliki kompetensi khusus dalam bidang kehumasan, teknologi informasi, atau manajemen ketenagakerjaan. Tugas yang bersifat administratif seringkali dilakukan secara rangkap oleh guru atau staf yang juga memiliki tanggung jawab lain di sekolah. Hal ini menyebabkan keterlambatan dalam proses pelacakan alumni, penyusunan laporan rekapitulasi data, serta koordinasi dengan dunia industri. Dari sisi teknologi pendukung. BKK memang telah memanfaatkan media sosial dan grup komunikasi digital sebagai alat penyebaran informasi. Akan tetapi, belum tersedia sistem informasi berbasis website atau database digital yang dapat mengelola data alumni secara terintegrasi dan real-time. Pengelolaan informasi masih dilakukan secara manual, yang menyulitkan proses pemantauan dan evaluasi pasca penempatan kerja. Selain itu, keterbatasan akses teknologi bagi sebagian alumni, terutama yang berada di daerah terpencil atau tidak aktif secara digital, menjadi kendala tambahan dalam penyampaian informasi secara merata. Koordinasi dan Komunikasi Salah satu permasalahan utama adalah belum terintegrasinya seluruh alumni dalam sistem komunikasi digital yang digunakan oleh BKK, seperti grup WhatsApp atau media sosial sekolah. Sebagian lulusan, khususnya yang telah berada di luar daerah atau tidak aktif Afeksi: Jurnal Penelitian dan Evaluasi Pendidikan Volume 6 Nomor 6 Tahun 2025 https://afeksi. id/jurnal/index. php/afeksi e-ISSN: 2745-9985 secara digital, tidak tergabung dalam kanal resmi informasi BKK. Ketimpangan ini mengakibatkan distribusi informasi lowongan kerja, jadwal pelatihan, maupun kegiatan rekrutmen menjadi tidak merata, sehingga mengurangi peluang yang seharusnya dapat diakses oleh semua alumni secara adil. Permasalahan ini berdampak langsung terhadap fungsi pelayanan BKK, karena penyampaian informasi merupakan komponen inti dalam proses fasilitasi kerja. Tanpa sistem komunikasi yang merata dan terstruktur, efektivitas penempatan kerja, pelacakan lulusan, hingga pelaporan hasil layanan menjadi terganggu. Selain komunikasi eksternal dengan alumni, koordinasi internal di lingkungan BKK juga masih memiliki keterbatasan. Kegiatan monitoring dan evaluasi belum dilakukan secara berkala dengan standar dokumentasi yang konsisten. Akibatnya, beberapa data alumni maupun pencatatan hasil rekrutmen tidak terdokumentasi secara sistematis, sehingga menyulitkan proses analisis untuk perbaikan layanan ke depan. Untuk mengatasi hambatan ini, dibutuhkan solusi strategis melalui pengembangan platform alumni berbasis web atau sistem informasi terintegrasi yang dapat mencatat data secara real-time, menyebarkan informasi secara merata, serta memfasilitasi komunikasi dua arah antara BKK dan seluruh alumni. Pemanfaatan teknologi digital tidak hanya akan memperluas jangkauan komunikasi, tetapi juga memperkuat sistem pelacakan dan evaluasi pasca penempatan kerja. Dengan demikian. BKK dapat menjalankan fungsinya secara lebih optimal sebagai lembaga intermediasi ketenagakerjaan di era digital. Ketersediaan Peluan Kerja Meskipun lulusan telah dibekali kompetensi vokasional, tidak semua sesuai dengan kebutuhan spesifik industri. Beberapa perusahaan masih mensyaratkan pengalaman kerja atau sertifikasi tambahan yang belum dimiliki lulusan. Hal ini menunjukkan adanya ketidaksesuaian keterampilan . kills mismatc. , sebagaimana disoroti dalam laporan World Economic Forum . Maka, diperlukan integrasi kurikulum dengan kebutuhan industri agar lulusan lebih siap bersaing di pasar kerja. Di sisi lain, staf BKK juga mencatat terbatasnya lowongan kerja di sekitar sekolah serta preferensi industri terhadap tenaga kerja Letak geografis yang jauh dari kawasan industri turut mempersempit akses kerja bagi lulusan. Selain itu, kesiapan soft skills seperti disiplin dan kemampuan kerja sama masih perlu diperkuat, meskipun keterampilan teknis telah dibekali melalui pembelajaran Berdasarkan teori Wenas et al. , hambatan-hambatan tersebut mengganggu fase proses dalam pelayanan yakni tahapan strategis yang menjembatani input dan output. Ketidakseimbangan pada fase ini menghambat efektivitas penempatan kerja meski input . ulusan dan pelatiha. telah tersedia. Oleh karena itu, peningkatan kualitas proses dapat dilakukan melalui penguatan komunikasi, pengembangan soft skills, perluasan kemitraan industri, serta pendekatan persuasif kepada orang tua agar efektivitas layanan BKK dapat tercapai secara optimal. Afeksi: Jurnal Penelitian dan Evaluasi Pendidikan Volume 6 Nomor 6 Tahun 2025 https://afeksi. id/jurnal/index. php/afeksi e-ISSN: 2745-9985 SIMPULAN Pelayanan Bursa Kerja Khusus (BKK) di SMK PGRI Wlingi tergolong efektif berdasarkan indikator efektivitas organisasi menurut Gibson et al. , yang mencakup produktivitas, adaptabilitas, kepuasan penerima layanan, dan pencapaian hasil. BKK berhasil menyebarkan informasi lowongan kerja secara efisien melalui berbagai saluran komunikasi, menunjukkan produktivitas yang baik. Dalam hal adaptabilitas. BKK mampu menjalin dan mempertahankan hubungan kerja sama dengan dunia industri, serta menyesuaikan diri dengan kebutuhan pasar kerja yang dinamis. Kepuasan alumni tercermin dari tanggapan positif terhadap layanan bimbingan karier dan rekrutmen yang diberikan BKK. Pencapaian hasil pelayanan juga signifikan, dengan lebih dari 30 perusahaan mitra yang berhasil menyalurkan alumni ke berbagai sektor industri. Namun, terdapat beberapa hambatan yang mempengaruhi efektivitas pelayanan BKK. Hambatan struktural, seperti keterpusatan tanggung jawab pada beberapa personel inti, membatasi pelaksanaan program secara menyeluruh. Hambatan sumber daya meliputi keterbatasan staf, kurangnya pelatihan teknis, dan belum adanya sistem pelacakan alumni berbasis digital. Selain itu, hambatan dalam koordinasi dan komunikasi antara BKK, alumni, mitra industri, dan orang tua siswa menyebabkan arus informasi yang tidak optimal. Hambatan eksternal, seperti keterbatasan lapangan kerja di wilayah lokal dan kurangnya dukungan orang tua terhadap pilihan karier siswa, juga menghambat penyerapan alumni di dunia kerja. DAFTAR PUSTAKA