Resiliensi Anak Yang Berkonflik Dengan Hukum Di Sentra AuAntasenaAy Di Magelang Provinsi Jawa Tengah Pudi Yadhatul Rohman ,Aep Rusmana 2b,Yeane Ellen Marry Tungga 3c a bc Politeknik Kesejahteraan Sosial Bandung pudiyadhatulr@gmail. 123 Corresponding Author: ARTICLE INFO Article history: Received May 2025 Revised 20 June 2025 Accepted 29 June 20245 Published Online 30 June 2025 ABSTRACT Resilience is the capacity of individuals to face, overcome, and recover from adversity, particularly for children in conflict with the law. This research aims to describe: . the characteristics of the respondents, . external support (I Hav. , . personal strengths (I A. , and . interpersonal skills and problem-solving abilities (I Ca. of children in conflict with the law. The study employs a quantitative approach with a descriptive method. The sample consists of 30 children selected through saturated sample. Data were collected using questionnaires and documentation studies. The validity of the instruments was tested using face validity, while reliability was measured using Cronbach's Alpha. The findings reveal that the resilience level of children in conflict with the law at Sentra Antasena Magelang is categorized as good. The external support aspect (I Hav. scored 1,617, the personal strengths aspect (I A. scored 868, and the interpersonal skills and problem-solving aspect (I Ca. Based on these results, the researcher proposes a program titled "Reinforcement Resilience of Children in Conflict with the Law Through Self Help Groups" to enhance the resilience of children at Sentra Antasena Magelang Keywords: Resilience. Children in Conflict with the Law. Social Rehabilitation ABSTRAK Resiliensi adalah kemampuan individu untuk menghadapi, mengatasi, dan bangkit kembali dari kesulitan, khususnya pada anak yang berkonflik dengan Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan: . karakteristik responden, . dukungan eksternal (I Hav. , . kekuatan personal (I A. , dan . kemampuan interpersonal serta pemecahan masalah (I Ca. pada anak yang berkonflik dengan hukum. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode deskriptif. Sampel terdiri dari 30 anak yang dipilih melalui teknik sampel jenuh. Pengumpulan data dilakukan melalui kuesioner dan studi Uji validitas alat ukur menggunakan validitas muka, sedangkan reliabilitas diuji menggunakan CronbachAos Alpha. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat resiliensi anak yang berkonflik dengan hukum di Sentra Antasena Magelang berada dalam kategori baik. Aspek dukungan eksternal (I Hav. memperoleh skor 1. 617, aspek kekuatan personal (I A. memperoleh skor 868, dan aspek kemampuan interpersonal serta pemecahan masalah (I Ca. memperoleh skor 484. Berdasarkan hasil tersebut, peneliti mengusulkan program berjudul AuPenguatan Resiliensi Anak yang Berkonflik dengan Hukum Melalui Kelompok Bantu Diri (Self Help Group. Ay untuk meningkatkan resiliensi anak di Sentra Antasena Magelang Kata kunci: Resiliensi. Anak yang Berkonflik dengan Hukum. Rehabilitasi Sosial Author correspondence email: pudiyadhatulr@gmail. Available online at: https://jurnal. id/index. php/rehsos Copyright . 20245by REHSOS: Jurnal Ilmiah Rehabilitasi Sosial Pudi Yadhatul Rohman, et al INTRODUCTION Masa anak secara khusus yang berusia 12-17 tahun adalah masa yang masih dalam tahap perkembangan dan pertumbuhan fisik dan emosional, pada masa ini merupakan fase krusial dalam siklus perkembangan individu, di mana terjadi pertumbuhan fisik, emosional, sosial, dan kognitif yang pesat. Pada tahap ini, anak-anak menghadapi berbagai krisis perkembangan yang memengaruhi pembentukan identitas dan fungsi psikososial di masa depan (Erikson, 1. Piaget dan Duckworth . menegaskan bahwa anak memiliki tahapan berpikir yang khas, bukan sekadar miniatur orang dewasa, sehingga pemahaman dunia oleh anak sangat dipengaruhi oleh interaksi aktif dengan lingkungannya. Namun demikian, tidak semua anak dapat melalui fase ini dengan dukungan lingkungan yang optimal. Anak yang terlibat dalam konflik hukumAiyang selanjutnya disebut Anak yang Berkonflik dengan Hukum (ABH)Aimerupakan kelompok rentan yang menghadapi tekanan sosial, ekonomi, dan psikologis secara bersamaan. Anak yang berkonflik dengan hukum kerap kali berada dalam kondisi yang kompleks, mulai dari pola asuh yang disfungsional, lingkungan yang permisif terhadap kenakalan remaja, hingga keterbatasan ekonomi dan kurangnya dukungan psikososial (Nala, 2. Data Mahkamah Agung Republik Indonesia menunjukkan bahwa selama Januari hingga Agustus 2023, 749 perkara anak yang diproses di pengadilan, dengan kasus pencurian dan kekerasan sebagai kategori terbanyak. Di Provinsi Jawa Tengah, kasus ABH mencapai angka 596 pada tahun 2023 dan mengalami peningkatan signifikan pada 2024, khususnya dalam tindak kekerasan, pencurian, dan penyalahgunaan narkoba (P2TP2A Jawa Tengah, 2. Kementerian Sosial Republik Indonesia menjadi unit pelaksana teknis yang menyediakan layanan rehabilitasi sosial dengan upaya penanganan anak yang berkonflik dengan hukum melalui Sentra Antasena di Magelang. Januari 2025, tercatat sebanyak 37 anak berkonflik dengan hukum menjalani rehabilitasi residensial di Sentra Anatsena di Magelang. Namun, dalam praktiknya anak yang berkonflik dengan hukum di Sentra Antasena di Magelang masih menunjukkan perilaku menyimpang, seperti kekerasan verbal, perundungan, hingga kabur dari Penelitian Aji . Anak berhadapan dengan hukum yang tidak betah selama menjalankan rehabilitasi. Berdasarkan situasi di pusat rehabilitasi dan temuan sebelumnya, resiliensi anak yang berhadapan dengan hukum dalam proses rehabilitasi berkaitan erat dengan kemampuan mengendalikan diri, yang merupakan bagian penting dari aspek I Can dalam konsep Resiliensi merupakan kapasitas individu untuk menghadapi, mengatasi, dan bangkit dari situasi sulit (Hendriani, 2. Konsep ini dijabarkan lebih lanjut ke dalam tiga aspek utama oleh Grotberg, yaitu I Have . ukungan eksterna. I Am . ekuatan persona. , dan I Can . emampuan interpersonal serta pemecahan masala. Ketiganya merepresentasikan cara anak membentuk mekanisme koping dalam menghadapi tekanan hidup. Dalam konteks ABH, resiliensi menjadi indikator penting keberhasilan rehabilitasi. Anak yang resilien cenderung mampu mengendalikan diri, membangun relasi sehat, serta memiliki harapan dan motivasi untuk berubah menjadi lebih baik. Penelitian terdahulu oleh Rahayu telah mengkaji mengenai resiliensi anak yang berkonflik dengan hukum yang berlandaskan UU No. 11 Tahun 2012. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dan fokus pada konteks hukum atau implementasi kebijakan diversi REHSOS: Jurnal Ilmiah Rehabilitasi Sosial | dengan hasil penelitian bahwa anak berkonflik dengan hukum yang resiliensi tentunya mendapatkan dukungan dari berbagai pihak, dibandingkan yang tidak resilien. Sedangkan penelitian terdahulu oleh Aji, menyebutkan bahwa kemampuan interpersonal ABH masih rendah, ditunjukkan dengan ketidakmampuan menyelesaikan masalah dan keterbukaan emosi. Penelitian ini berbeda dengan studi terdahulu karena menggunakan pendekatan kuantitatif untuk memperoleh gambaran statistik yang lebih akurat mengenai dinamika resiliensi ABH di lingkungan institusi rehabilitasi. Penelitian terdahulu oleh Rahayu menggunakan perspektif peraturan perundangundangan dan menyoroti bahwa faktor resiliensi anak yang berkonflik dengan hukum dipengaruhi oleh lingkungan sosial serta pola asuh yang diterima sebelum memasuki lembaga rehabilitasi. Meskipun temuan dalam penelitian ini memiliki kesamaan dalam hal pentingnya peran keluarga, terdapat perbedaan dalam cakupannya. Penelitian terdahulu lebih menekankan pada dukungan keluarga sebelum proses rehabilitasi, sedangkan penelitian ini memberikan gambaran yang lebih luas, mencakup hubungan keluarga baik sebelum maupun selama anak menjalani rehabilitasi. Hal ini dapat dilihat pada pernyataan AuKeluarga saya memberikan batasan atas perilaku yang dilakukan . ulang malam, kegiatan di luar sekolah, bergaul dengan tema. sebelum dan saat menjalankan rehabilitasiAy dan didukung dengan pernyataan AuKeluarga mendorong saya untuk melakukan aktivitas secara mandiri saat menjalankan rehabilitasiAy dan AuSaya mendapatkan dukungan dari keluarga dalam setiap situasi . akit, sedih, patah hati, takut, dan bingun. saat menjalankan rehabilitasiAy. Fokus utamanya yaitu terletak pada aspek keluarga dan pengasuhan sebagai pondasi pembentukan resiliensi anak, serta bagaimana pengalaman traumatis memengaruhi daya tahan psikologisnya. Jika dibandingkan dengan temuan Rahayu, menunjukkan bahwa dukungan tersebut juga sangat krusial selama proses rehabilitasi, khususnya bagi ABH di Sentra Antasena. Hal ini menunjukkan bahwa dukungan eksternal, terutama dari keluarga, merupakan bagian penting dari aspek "I Have" dalam teori resiliensi Grotberg . , yang menekankan perlunya keberadaan orang-orang yang dapat dipercaya dan memberi rasa aman. Dukungan keluarga harus diberikan secara berkelanjutan sebelum, selama, dan setelah rehabilitasi untuk memperkuat proses pemulihan dan pembentukan kembali resiliensi anak. Jika dibandingkan dengan penelitian ini, terdapat beberapa keunggulan dan kontribusi baru yang dihasilkan. Penelitian ini mengkaji tiga aspek utama menurut Grotberg . yaitu kekuatan secara eksternal, kekuatan personal, dan kemampuan Interpersonal dan pemecahan Tidak hanya mendeskripsikan pengaruh lingkungan atau keluarga, penelitian ini menyajikan data kuantitaif yang sistematis dan lengkap terkait ketiga aspek tersebut, sehingga mampu memberikan gambaran yang rinci dan terukur mengenai resiliensi anak, seperti temuan penelitian yang terdapat pada aspek kekuatan eksternal (I Hav. dimana ABH mendapatkan dukungan dari keluarga, teman sebaya, maupun professional saat menjalani rehabilitasi. Hal ini menggambarkan temuan kekuatan data yang dihasilkan dalam penelitian ini. 33 | REHSOS: Jurnal Ilmiah Rehabilitasi Sosial Pudi Yadhatul Rohman, et al METODE Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kuantitatif dengan metode deskriptif terhadap sampel anak yang berkonflik dengan hukum di Sentra Antasena di Magelang. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran, secara sistematis, faktual, dan akurat mengenai resiliensi anak yang berkonflik dengan hukum dengan didasarkan oleh fakta yang terjadi di lapangan, serta hubungan antar fenomena yang diselidiki. Populasi dari penelitian adalah penerima manfaat residensial, yaitu anak yang berkonflik dengan hukum yang tinggal di Sentra Antasena di Magelang. Jumlah populasi dalam penelitian ini adalah 30 responden. Selanjutnya, penarikan sampel menggunakan sampel jenuh yaitu teknik penentuan sampel di mana semua anggota populasi dijadikan sampel. Sehingga, sampel yang dijadikan sebagai responden dalam penelitian ini berjumlah sebanyak 30 responden. Pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan dua teknik yaitu kuesioner dan studi dokumentasi. Penelitian ini menggunakan skala penilaian . ating scal. untuk mengetahui penjelasan secara kualitatif yang didapatkan dari data berupa angka. Kuisioner yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan skala rating scale yang disusun oleh peneliti dengan cara mengintegrasikan teori resiliensi. Alat ukur ini digunakan berdasarkan definisi operasional aspek resiliensi yaitu aspek dukungan eksternal, personal, dan kemampuan interpersonal dan pemecahan masalah anak yang berkonflik dengan hukum di Sentra Antasena di Magelang. Skala kuisioner yang digunakan dalam penelitian ini dikembangkan oleh peneliti sendiri berdasarkan Skala rating scale dan kuisioner disusun dengan cara menghubungkan indikator dari tiap aspek resiliensi dengan permasalahan Anak yang Berkonflik dengan Hukum dalam konteks rehabilitasi Residensial. Jadi indikator-indikator dalam aspek resiliensi ditentukan dengan cara menghubungkan teori dan konsep tentang resiliensi dengan indikator indikator: dukungan eksternal (I Hav. , kekuatan personal (I A. , kemampuan memecahkan masalah (I Ca. Penelitian ini telah diuji dengan validitas muka . ace validit. yaitu teknik pengukuran dengan berkonsultasi kepada ahlinya peneliti mengonsultasikan kelayakan pada pembimbing sebelum instrumen digunakan sebagai alat pengumpulan data dan alat ukur reliabilitas menggunakan SPSS 29 for Windows dengan hasil perhitungan reliabilitas sebagai berikut. Tabel 1. Nilai Reliabilitas Alat Ukur Realiability Statistics CronbachAos Alpha N of Items Hasil 0. 969 menunjukkan bahwa tingkat reliabilitasnya sangat tinggi. Pengujian tersebut telah memastikan alat ukur penelitian layak digunakan. Pengumpulan data dalam penelitian ini dibantu oleh pengasuh asrama Sentra Antasena di Magelang. Jawaban responden diberi skor dan dilakukan skrining terhadap data yang diperoleh, data kemudian diolah dan dianalisis dengan menggunakan statistika deskriptif. Setelah data penelitian terkumpul, maka diklasifikasikan menjadi dua kelompok data, yaitu data kuantitatif yang berbentuk angka-angka dan kualitatif yang dinyatakan dalam kata-kata atau Teknik analisa data kuantitatif adalah data yang diperoleh dihitung banyaknya jawaban REHSOS: Jurnal Ilmiah Rehabilitasi Sosial | kemudian dituangkan ke dalam bentuk tabel dan dapat digunakan sebagai analisa. Analisa data kualitatif yaitu data yang telah disajikan dalam bentuk tabel akan diuraikan kembali dengan kalimat yang sederhana dan logis agar mendapatkan gambaran yang jelas dari data yang telah disajikan dalam bentuk tabel. HASIL PENELITIAN Hasil penelitian ini digambarkan berdasarkan bagian aspek-aspeknya dan secara Struktur tersebut sesuai dengan rumusan masalah atau pertanyaan-pertanyaan penelitian yang diajukan. Dukungan Eksternal (I Hav. Aspek resiliensi pertama yang akan dibahas adalah aspek external supports atau dukungan eksternal yang disebut oleh Grotberg . dengan istilah (I Hav. Dukungan eksternal merupakan bantuan, dukungan, atau pendorong yang bersumber dari luar diri individu yang dapat meningkatkan atau menguatkan resiliensi. Kapasitas ABH tentunya sangat dipengaruhi oleh faktor eksternal dari para ABH. Faktor keluarga dan lingkungan sosial mempunyai peranan penting dalam meningkatkan kapasitas serta resiliensi para ABH. Berikut adalah tabel hasil skor total jawaban responden terhadap 18 pernyataan yang mewakili aspek dukungan eksternal (I Hav. Tabel 2. Total Skor Aspek Kekuatan Eksternal Pernyataan (P) Skor Saya mendapatkan dukungan positif dari keluarga saat menjalankan rehabilitasi Saya mendapatkan dukungan secara menjalankan rehabilitasi Saya mendapatkan dukungan dari keluarga dalam setiap situasi . akit, sedih, patah hati, takut, dan bingun. saat menjalankan rehabilitasi Saya bercerita kepada keluarga ketika masa berkunjung saat menjalnkan rehabilitasi Keluarga saya memberikan batasan atas perilaku yang dilakukan . ulang malam, kegiatan di luar sekolah, bergaul dengan tema. sebelum dan saat menjalankan rehabilitasi Keluarga mendorong saya untuk melakukan aktivitas secara mandiri saat menjalankan Saya mendapatkan dukungan pertemanan yang baik dan positif saat menjalankan rehabilitasi Saya mendapatkan dukungan dari teman saat menjalankan rehabilitasi 35 | REHSOS: Jurnal Ilmiah Rehabilitasi Sosial Pudi Yadhatul Rohman, et al Saya mendapatkan dukungan dari teman dalam setiap situasi . akit, sedih, patah hati, takut, dan bingu. saat menjalankan rehabilitasi Saya menceritakan perasaan kepada teman saat menjalankan rehabilitasi Teman mengingatkan saya dalam bertindak menyimpang saat menjalankan rehabilitasi Saya mendapatkan dorongan dari teman untuk melakukan aktivitas secara madiri Saya mendapatkan dukungan positif dari pekerja sosial, pengasuh, psikolog, dan penyuluh Saya mendapatkan dukungan dari pekerja sosial, pengasuh, psikolog, dan penyuluh Saya mendapatkan dukungan dalam setiap situasi . akit, sedih, patah hati, takut, dan bingun. dari pekerja sosial, pengasuh, psikolog, dan Saya menceritakan perasaan kepada pekerja sosial, pengasuh, psikolog, dan penyuluh Saya tidak diingatkan ketika bertindak menyimpang oleh pekerja sosial, pengasuh, psikolog, dan penyuluh Saya mendapatkan dorongan oleh pekerja sosial, pengasuh, psikoloh, dan penyuluh untuk melakukan aktivitas secara madiri Jumlah Skor Skala Resiliensi Anak yang Berkonflik dengan Hukum dalam konteks Rehabilitasi berbasis Residensial, . isusun oleh Pudi Yadhatul Rohman 2. Hasil penelitian pada aspek kekuatan eksternal (I Hav. menunjukkan temuan baru bahwa terdapat kekuatan pada aspek kekuatan eksternal (I Hav. yang berada pada pernyataan AuSaya mendapatkan dukungan pertemanan yang baik dan positif saat menjalankan rehabilitasiAy yang didukung dengan pernyataan AuSaya mendapatkan dukungan positif dari pekerja sosial, pengasuh, psikolog, dan penyuluh sosialAy Hal ini dapat ditafsirkan bahwa ABH memiliki dukungan sosial yang kuat selama menjalani proses rehabilitasi. Hal ini terlihat dari adanya perasaan mendapatkan pertemanan yang baik dan positif, serta dukungan dari berbagai pihak seperti pekerja sosial, pengasuh, psikolog, dan penyuluh sosial. Temuan ini mencerminkan bahwa lingkungan sekitar memberikan pengaruh positif yang membantu ABH merasa diterima, didampingi, dan tidak menjalani proses pemulihan seorang diri. Dukungan eksternal ini sangat penting karena dapat memperkuat rasa aman, meningkatkan motivasi untuk berubah, dan membantu anak dalam membangun kembali hubungan sosial yang sehat di masa depan. REHSOS: Jurnal Ilmiah Rehabilitasi Sosial | Sejumlah 63,33% responden kurang memiliki keterbukaan emosional untuk menceritakan perasaan kepada teman selama proses rehabilitasi, sementara itu responden ini mendapatkan dukungan sosial profesional . Jadi meskipun responden tidak menceritakan kepada teman sebaya tentang perasaanya tetapi tetp mendapatkan dukungan hal ini menjadi isu penting dalam ketangguhan . Hav. Isu duukungan ini merupakan hal penting seperti yang dikemukakan oleh Grotberg . Pada aspek (I Hav. Ini menandakan ketersediaan dukungan eksternal, program rehabiltasi di Sentra Antasena di Mageang adalah akses bagi responden membangun resiliensi anak, slama menjalani program rehabilitasi. Hal ini terlihat pada level resiliensi seperti tergambar pada . yang menggambarkan resiliensi terdapat pada kategori sedang. Namun, terdapat juga temuan kelemahan dalam kekuatan eksternal (I Hav. , yang terdapat pada pernyataan AuSaya menceritakan perasaan kepada teman saat menjalankan rehabilitasiAy yang didukung dengan pernyataan AuSaya mendapatkan dorongan dari teman untuk melakukan aktivitas secara madiriAy dan AuSaya mendapatkan dorongan oleh pekerja sosial, pengasuh, psikoloh, dan penyuluh untuk melakukan aktivitas secara madiriAy. Temuan kelemahan dalam aspek kekuatan eksternal (I Hav. , yang terlihat dari pernyataan bahwa anak jarang menceritakan perasaannya kepada teman selama menjalani rehabilitasi, meskipun ia mendapatkan dorongan dari teman maupun dari pihak pendamping seperti pekerja sosial, pengasuh, psikolog, dan penyuluh untuk melakukan aktivitas secara mandiri. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun dukungan eksternal tersedia, anak belum sepenuhnya mampu memanfaatkan dukungan tersebut secara optimal, khususnya dalam hal membangun komunikasi emosional yang terbuka dan membentuk relasi yang lebih mendalam. Kelemahan ini mengindikasikan adanya hambatan dalam keterbukaan diri dan kepercayaan interpersonal yang masih perlu diperkuat agar proses rehabilitasi dapat berjalan lebih efektif dan bermakna. Tingkat resiliensi ditinjau dari aspek Dukungan Eksternal (I Hav. responden Anak yang berkonflik dengan hukumtermasuk ke dalam kategori Sedang. Posisinya pada garis kontinum untuk skor tersebut adalah sebagai berikut. Gambar 1. Garis Kontinum Aspek Dukungan Eksternal (I Hav. Sejumlah 30 Responden . ,59%) pada aspek dukungan eksternal (I Hav. dan pemecahan masalah berada pada kategori sedang. Aspek kekuatan eksternal (I Hav. pada ABH menunjukkan dinamika yang kompleks, di mana di satu sisi mereka mendapatkan nilai yang tinggi karena selama menjalani proses rehabilitasi merasakan adanya dukungan sosial yang kuat dari lingkungan sekitar, baik dari teman sebaya maupun dari profesional seperti pekerja sosial, pengasuh, psikolog, dan penyuluh sosial. Dukungan ini memberikan rasa aman, penerimaan, dan keyakinan bahwa mereka tidak sendiri dalam menghadapi proses perubahan diri. Dalam 37 | REHSOS: Jurnal Ilmiah Rehabilitasi Sosial Pudi Yadhatul Rohman, et al kerangka teori resiliensi Grotberg . , aspek (I Hav. mencakup keberadaan sumber daya eksternal yang dapat diandalkan, seperti relasi yang mendukung, struktur yang stabil, serta bimbingan dan kasih sayang dari orang dewasa. Sejumlah 63,33% responden menjawab AuSaya menceritakan perasaan kepada teman saat menjalankan rehabilitasiAy Pernyataan ini menunjukkan nilai yang kurang dalam hal keterbukaan emosional, terlihat dari jarangnya anak menceritakan perasaan kepada teman selama menjalani proses rehabilitasi. Meskipun dukungan sosial dari teman sebaya maupun dari tenaga pendamping seperti pekerja sosial, pengasuh, psikolog, dan penyuluh sosial tersedia dan diberikan secara aktif, anak belum sepenuhnya mampu membangun relasi yang mendalam atau memanfaatkan hubungan tersebut sebagai ruang aman untuk berbagi perasaan dan pengalaman secara terbuka. Kurangnya kemampuan untuk terbuka secara emosional juga dapat menunjukkan belum optimalnya pengembangan keterampilan sosial yang berkaitan dengan komunikasi empatik dan ekspresi diri yang sehat. Hambatan-hambatan ini berdampak pada tertundanya pembentukan ikatan sosial yang kuat, padahal keterikatan sosial yang positif merupakan elemen penting dalam membangun Dalam konteks kerangka resiliensi Grotberg . Kekuatan Personal (I A. Aspek kekuatan personal (I A. , yang disebut oleh Grotberg merupakan kekuatan yang berasal dari dalam diri, seperti perasaan, tingkah laku dan kepercayaan yang terdapat dalam diri Berikut adalah tabel hasil skor total jawaban responden terhadap 10 pernyataan yang mewakili aspek kekuatan personal. Tabel 3. Total Skor Aspek Kekuatan Personal Pernyataan (P) Skor Saya menyadari bahwa lingkungan sekitar memberikan dukungan dan kasih Saya memberikan kepedulian dan dukungan kepada lingkungan sekitar Saya bangga dapat menyelesaikan kewajiban selama menjalankan proses Saya dapat memecahkan masalah dengan kemampuan yang dimiliki Saya dapat mengendalikan emosi dan perilaku ketika emosi Saya melihat sisi positif dan belajar dari setiap kejadian Saya mengetahui kelemahan yang dimiliki Saya menyadari dan bertanggunjawab atas perilaku yang dilakukan REHSOS: Jurnal Ilmiah Rehabilitasi Sosial | Saya memiliki harapan untuk berubah dan memiliki masa depan yang lebih baik Saya mengekspresikan kepercayan Tuhan Jumlah Skor Skala Resiliensi Anak yang Berkonflik dengan Hukum dalam konteks Rehabilitasi berbasis Residensial, . isusun oleh Pudi Yadhatul Rohman 2. Hasil penelitian pada aspek kekuatan personal (I A. menunjukkan temuan baru bahwa terdapat kekuatan pada Kekuatan Personal (I A. yang berada pada pernyataan AuSaya bangga dapat menyelesaikan kewajiban selama menjalankan proses rehabilitasiAy yang didukung dengan pernyataan AuSaya menyadari dan bertanggunjawab atas perilaku yang dilakukanAy berdasarkan temuan baru tersebut bisa ditafsirkan bahwa responden memiliki kekuatan internal yang tinggi, ditunjukkan melalui rasa bangga dalam menyelesaikan kewajiban selama menjalani proses rehabilitasi dan rasa tanggung jawab responden atas perilaku yang telah dilakukan di masa lalu. Hal ini menunjukkan adanya motivasi dalam diri dan sikap positif terhadap proses perubahan diri. Kekuatan dari kedua pernyataan ini mencerminkan tumbuhnya identitas positif, pengakuan terhadap kesalahan, serta kesiapan untuk memperbaiki diri, yang merupakan inti dari aspek "I Am" dalam kerangka resiliensi, yaitu kesadaran diri, harga diri, dan integritas personal. Adanya kekuatan spiritual dan motivasi internal yang penting bagi anak yang berkonflik dengan hukum. Harapan akan masa depan menunjukkan bahwa anak memiliki visi positif dan keyakinan untuk berubah, sementara kepercayaan diri dalam mengekspresikan iman mencerminkan adanya pegangan moral dan dukungan batin yang membantu ABH menghadapi tekanan atau stigma. Kekuatan ini mendorong ABH untuk menjalani proses rehabilitasi dengan lebih sungguhsungguh, menjauhi perilaku menyimpang, serta membangun kembali relasi sosial yang sehat, menunjukkan bahwa mereka tetap memiliki potensi besar untuk bertumbuh dan berkontribusi secara positif di masyarakat. Posisi pada garis kontinum untuk skor tersebut adalah sebagai Gambar 2. Garis Kontinum Aspek Kekuatan Personal (I A. Sejumlah 30 Responden . ,17%) pada aspek aspek kekuatan personal (I A. berada pada kategori sedang hal ini dikarenakan ABH menunjukkan adanya kesadaran diri, rasa tanggung jawab, kebanggaan atas pencapaian selama rehabilitasi, serta keyakinan akan masa depan yang lebih baik yang didukung oleh kekuatan spiritual. Rasa bangga dalam menyelesaikan kewajiban dan pengakuan atas perilaku masa lalu mencerminkan perkembangan identitas positif 39 | REHSOS: Jurnal Ilmiah Rehabilitasi Sosial Pudi Yadhatul Rohman, et al dan kesiapan untuk ABH berubah, sementara harapan terhadap masa depan dan kepercayaan kepada Tuhan menunjukkan adanya dorongan internal yang kuat serta pegangan moral yang membantu mereka menghadapi tantangan emosional maupun sosial. Dalam kerangka teori resiliensi menurut Grotberg . , aspek kekuatan personal (I A. mencakup kesadaran diri, harga diri, dan sikap positif terhadap kehidupan, yang semuanya tercermin dalam temuan ini. Kekuatan-kekuatan ini berperan penting dalam proses pemulihan ABH, karena membentuk fondasi psikologis yang memungkinkan mereka bertahan dalam tekanan dan membangun kehidupan yang lebih baik pasca-konflik hukum. Kemampuan Interpersonal dan Pemecahan Masalah (I Ca. Sejumlah 30 Responden . ,22%) pada aspek dukungan eksternal dan pemecahan masalah (I Ca. berada pada kategori sedang. Meskipun pada garis kontinum yang terdapat pada (Gambar . menunjukkan bahwa aspek eskternal responden dalam kategori sedang namun jika dibandingkan kedalam kedua aspek lainya, aspek. Aspek kemampuan interpersonal dan pemecahan masalah (I Ca. ini berada pada posisi terendah dibanding kedua aspek yang lain. Aspek Kemampuan Interpersonal dan Pemecahan Masalah yang disebut oleh Grotberg dengan istilah AuI CanAy merupakan kompetensi sosial dan interpersonal yang harus dimiliki setiap Kompetensi sosial dan interpersonal merupakan kemampuan mengelola hubungan kemasyarakatan yang membutuhkan berbagai keterampilan, kecakapan dan kapasitas dalam menyelesaikan masalah yang interpersonal terjadi. dalam Kemampuan resiliensi adalah kemampuan seseorang sendiri berinteraksi dengan orang lain. Berikut adalah tabel hasil skor total jawaban responden terhadap 6 pernyataan yang mewakili aspek kemampuan interpersonal dan pemecahan masalah. Tabel 4. Total Skor Aspek Kemampuan Interpersonal dan Pemecahan Masalah Pernyataan (P) Skor Saya mendengarkan dengan baik teman ketika Saya dapat mengontrol diri dalam memecahkan masalah dengan kemampuan yang dimiliki Saya dapat mengungkapkan perasaan ketika senang, gembira, sedih, dan marah Saya ikut serta dalam proses pemecahan masalah yang terjadi antar teman Saya dapat mengungkapkan emosi ketika sedang marah tanpa menggunakan kekerasan atau menyakiti orang lain Saya meminta pertolongan dalam pemecahan masalah kepada pihak lain . erperti, keluarga, pekerja sosial, pengaush, dan teman sebay. Jumlah Skor REHSOS: Jurnal Ilmiah Rehabilitasi Sosial | Skala Resiliensi Anak yang Berkonflik dengan Hukum dalam konteks Rehabilitasi berbasis Residensial, . isusun oleh Pudi Yadhatul Rohman 2. Hasil penelitian pada aspek kemampuan interpersonal dan pemecahan masalah (I Ca. menunjukkan temuan bahwa terdapat kekuatan pada aspek kemampuan interpersonal dan pemecahan masalah (I Ca. , yang terdapat pada pernyataan AuSaya mendapatkan dukungan pertemanan yang baik dan positif saat menjalankan rehabilitasiAy dan didukung dengan pernyataan AuSaya mendapatkan dukungan positif dari pekerja sosial, pengasuh, psikolog, dan penyuluhAy. Kedua pernyataan tersebut saling adanya keterkaitan bahwa anak yang berkonflik dengan hukum mendapatkan dukungan dari lingkungan sosialnya dalam melakukan rehabilitasi di Sentra Antasena di Magelang. Namun, terdapat juga temuan kelemahan dalam aspek kemampuan interpersonal dan pemecahan masalah (I Ca. , yang terdapat pada pernyataan AuSaya dapat mengungkapkan perasaan ketika senang, gembira, sedih, dan marahAy dan didukung dengan pernyataanAy Saya dapat mengungkapkan emosi ketika sedang marah tanpa menggunakan kekerasan atau menyakiti orang lainAy dimana berdasarkan pernyataan tersebut dapat ditafsirkan bahwa responden bisa menggunakan kekerasan bila tidak bisa mengungkapkan emosi ketika sedang marah. Kemampuan Interpersonal dan Pemecahan Masalah (I Ca. termasuk ke dalam kategori Sedang. Posisinya pada garis kontinum untuk skor tersebut adalah sebagai berikut. Gambar 3. Garis Kontinum Aspek Kemampuan Interpersonal dan Pemecahan Masalah Garis kontinum di atas menunjukkan bahwa secara umum aspek Kemampuan Interpersonal dan Pemecahan Masalah resiliensi Anak yang Berkonflik dengan Hukum di Sentra Antasena di Magelang berada pada kategori sedang. Terdapat kelemahan yang ditemukan dalam beberapa pernyataan pada aspek kemampuan interpersonal dan pemecahan masalah (I Ca. terlihat pada kesulitan responden dalam mengelola dan mengekspresikan emosi secara sehat, terutama ketika menghadapi perasaan marah. Hal ini tercermin dari pernyataan responden yang menyatakan bahwa dirinya tidak dapat mengungkapkan emosi marah tanpa menggunakan kekerasan atau menyakiti orang lain. Responden kurang mampu mengungkapkan perasaan seperti senang, gembira, dan sedih, terdapat hambatan yang signifikan dalam mengungkapkan emosi negatif, khususnya kemarahan. Jika dikaitkan dengan teori resiliensi Grotberg . , pada aspek "I Can" merujuk pada kemampuan individu dalam menyelesaikan masalah, mengontrol impuls, dan mencari dukungan sosial yang tepat. Dapat di tafsirkan bahwa kelemahan yang muncul pada responden ini menunjukkan kurangnya keterampilan dalam mengontrol impuls dan 41 | REHSOS: Jurnal Ilmiah Rehabilitasi Sosial Pudi Yadhatul Rohman, et al mencari solusi damai ketika menghadapi situasi emosional yang memicu kemarahan. Ketidakmampuan untuk menyalurkan emosi secara non-kekerasan dapat mengindikasikan rendahnya kapasitas dalam menghadapi konflik secara sehat PEMBAHASAN Pembahasan Temuan Aspek Dukungan Eksternal (I Hav. Pendapat yang dikemukakan oleh Grotberg . menyebut aspek dukungan eksternal dengan istilah (I Hav. merupakan bantuan dan sumber dari luar yang dapat meningkatkan Aspek-aspek ini di dalamnya terdapat orang yang dapat dipercaya baik anggota keluarga maupun orang yang tidak bisa diandalkan. Jika seseorang memiliki orang yang dipercayai, maka dapat meningkatkan resiliensinya. Hasil penelitian pada (Tabel . mendapatkan nilai 78% menunjukkan bahwa responden mendapatkan dukungan positif dari keluarga, rekan sebaya dan tenaga profesional saat menjalankan masa rehabilitasi di Sentra Antasena di Magelang sangat baik. Hasil penelitian sejalan dengan teori resiliensi dari Grotberg . yang mendukung perkembangan resiliensi seseorang meliputi sumber daya sosial yang berasal dari luar diri individu, seperti keluarga, teman sebaya, dan profesional. Hasil penelitian ini tercermin pada pernyataan AuSaya mendapatkan dukungan positif dari keluarga saat menjalankan rehabilitasi di Sentra Antasena di MagelangAy bahwa responden menyatakan sering mendapatkan dukungan dari keluarga, begitu pula pada pernyataan AuSaya mendapatkan dukungan pertemanan yang baik dan positif dari teman saya saat menjalankan rehabilitasi di Sentra Antasena di MagelangAy bahwa responden menyatakan merasa sering mendapatkan dukungan dari teman sebaya. Begitu pula dengan dukungan professional seperti pekerja sosial, penyuluh sosial, dan pengasuh, pada pernyataan AuSaya mendapatkan dukungan positif dari pekerja sosial, pengasuh, psikolog, penyuluh sosialAy bahwa responden juga selalu merasakan dukungan emosional dan motivasional dari pekerja sosial, pengasuh, dan penyuluh Temuan ini menunjukkan bahwa faktor eksternal yang mendukung, sebagaimana dijelaskan oleh Grotberg sebagai bagian dari komponen I Have . aya memilik. , sangat berperan dalam membangun ketahanan psikologis para responden. Dukungan eksternal yang stabil dari lingkungan sosial memberikan landasan kuat bagi anak yang berkonflik dengan hukum untuk mengembangkan kemampuan resiliensinya dalam menghadapi tantangan dan tekanan selama masa rehabilitasi. Responden yang merasakan dukungan akan lebih tangguh dalam menghadapi masa rehabilitasi. Hal ini menunjukkan bahwa resiliensi bukanlah semata-mata kemampuan internal, tetapi juga hasil dari interaksi sosial yang positif dan membangun. Maka, keberadaan dukungan sosial yang kuat menjadi salah satu kunci penting dalam keberhasilan proses rehabilitasi bagi anak yag berkonflik dengan hukum di Sentra Antasena di Magelang. Selain itu, terdapat responden terkadang hanya terbuka kepada keluarganya, yang menandakan keterbatasan dukungan emosional dari lingkungan keluarga. Selain itu, keluarga responden juga tidak memberikan batasan perilaku seperti aturan pulang malam atau batasan pergaulan, yang menunjukkan lemahnya kontrol dan perlindungan dari pihak keluarga. Hal ini mencerminkan lemahnya fondasi eksternal yang seharusnya dapat menjadi sumber keamanan. REHSOS: Jurnal Ilmiah Rehabilitasi Sosial | struktur, dan arahan yang positif bagi anak berkonflik dengan hukum, sehingga berdampak pada rendahnya resiliensi dari sisi (I Hav. Selanjutnya didukung dengan memperlihatkan bahwa keterbukaan responden kepada teman sebaya juga masih rendah, bahwa responden terkadang hanya membagikan perasaan mereka. Ini mengindikasikan bahwa hubungan pertemanan belum sepenuhnya menjadi sistem dukungan emosional yang kuat. Meskipun begitu, terdapat juga pernyataan yang menyatakan bahwa responden sering terbuka kepada pekerja sosial dan tenaga pendamping lainnya. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun dukungan dari keluarga dan teman kurang optimal, sebagian responden mulai menemukan sumber dukungan yang lebih aman dan dipercaya dari figur profesional. Berdasarkan hasil penelitian responden membutuhkan Peningkatan Keterbukaan pada responden. Pembahasan Temuan Aspek Kekuatan Personal (I A. Pendapat yang dikemukakan oleh Grotberg . menyebut aspek kekuatan personal dengan istilah AuI AmAy. Kekuatan personal merupakan kekuatan yang berasal dari dalam diri, seperti perasaan, tingkah laku dan kepercayaan yang terdapat dalam diri seseorang. Aspek ini terdiri dari beberapa bagian, antara lain yaitu intividu merasa seperti orang-orang pada umumnya, yang dapat menyukai dan mencintai perasaan dicintai dan memiliki sikap yang menarik, yatu tenang dan baik hati, serta peraih kesuksesan dan perencanaan masa depan. Hasil Penelitian ini diketahui bahwa responden memiliki kekuatan personal yang cukup baik, meliputi rasa percaya diri, sikap positif terhadap diri sendiri dan orang lain, serta kesadaran akan nilai dan peran yang dimiliki. Berdasarkan pernyataan AuSaya menyadari bahwa lingkungan mendukung dan mencintai sayaAy bahwa sebagian besar responden merasa bahwa lingkungan sekitar mereka di Sentra Antasena mendukung dan mencintai. Temuan ini mencerminkan perkembangan positif dalam aspek I Am, di mana para responden mulai menyadari bahwa mereka layak mendapatkan kasih sayang dan perhatian dari lingkungan sekitar. Kesadaran ini penting karena menjadi fondasi dalam membangun identitas diri yang sehat dan memperkuat keyakinan bahwa mereka layak untuk diperhatikan, dicintai, dan dihargai, sesuai dengan salah satu indikator kekuatan personal dalam teori Grotberg. Selanjutnya terdapat pernyataan AuSaya memberikan kepedulian dan dukungan kepada lingkunganAy menunjukkan bahwa responden selalu menunjukkan kepedulian terhadap lingkungan mereka. Ini mengindikasikan bahwa para responden tidak hanya merasa didukung, tetapi juga mampu membalas dukungan tersebut dengan tindakan positif, yang menunjukkan terbentuknya rasa empati dan tanggung jawab sosial. Dalam aspek ini terdapat temuan yang dapat dilihat pada . dari pernyataan AuSaya bangga bisa menyelesaikan kewajiban selama menjalankan proses rehabilitasi saat menjalankan rehabilitasi di Sentra Antasena di MagelangAy bahwa responden merasa selalu percaya diri dalam menyelesaikan kewajiban selama proses rehabilitasi, dan terdapat juga responden merasa bangga atas pencapaian mereka. Kepercayaan diri dan kebanggaan ini menunjukkan bahwa para responden mulai memiliki pandangan yang positif terhadap kemampuan diri mereka, yang merupakan indikator kuat dari aspek I Am. Dengan demikian, meskipun sebelumnya mungkin terdapat hambatan dalam keterbukaan, para responden menunjukkan kelebihan dalam kekuatan personal yang dapat menjadi pondasi 43 | REHSOS: Jurnal Ilmiah Rehabilitasi Sosial Pudi Yadhatul Rohman, et al penting dalam membangun resiliensi yang berkelanjutan. Pembahasan Temuan Aspek Kemampuan Interpersonal dan Pemecahan Masalah (I Ca. Pendapat yang dikemukakan oleh Grotberg . menyebut aspek kemampuan interpersonal dan pemecahan masalah dengan istilah (I Ca. Kemampuan interpersonal dan pemecahan masalah merupakan kompetensi sosial dan interpersonal seseorang. Bagian-bagian dari aspek ini adalah dimana anak mampu mengekspresikan pikiran dan perasaan dengan baik, yaitu keterampilan dalam berkomunikasi. Individu mampu mengekspresikan berbagai macam pikiran dan perasaan kepada orang lain dan data mendengar apa yang orang lain katakan serta merasakan perasaan orang lain, mampu mengukur temperamen diri sendiri dan orang lain, dimana individu memahami temperamen mereka sendiri bagaimana berringkah, merangsang, dan mengambil risiko atau diam, refleks dan behati-hati juga terhadap temperamen orang lain. Hal ini menolong individu untuk menetahui berapa lama waktu yang diperlukan untuk berkomunikasi, membantu individu untuk mengetahui kecepatan untuk bereaksi, dan berapa banyak individu mampu sukses dalam berbagai situasi. Hasil Penelitian ini diketahui bahwa responden responden memiliki kelemahan yaitu kurang mampu dalam mengungkapkan emosi, serta menyelesaikan masalah secara konstruktif. Hal tersebut tercermin pada pernyataan AuSaya mengungkapkan perasaan ketika responden senang, gembira, sedih, marahAy bahwa responden terkadang mampu mengungkapkan perasaannya ketika sedang senang, sedih, atau marah. Hal ini menandakan adanya hambatan dalam kemampuan komunikasi emosional, yang merupakan komponen penting dari (I Ca. Keterbatasan dalam mengekspresikan perasaan dapat menyebabkan kesulitan dalam menjalin hubungan interpersonal yang sehat. Selanjutnya, diperkuat pada pernyataan AuSaya dapat mengungkapkan emosi ketika sedang marah tanpa menggunakan kekerasan atau menyakiti orang lainAy bahwa sebanyak responden terkadang mampu mengungkapkan kemarahan tanpa menggunakan kekerasan atau menyakiti orang lain. Hal ini menunjukkan bahwa sebagian besar responden belum sepenuhnya memiliki kemampuan mengungkapkan perasaan secara verbal, baik ketika merasakan emosi positif seperti senang dan gembira maupun mengungkapkan emosi negatif tanpa menggunakan Menurut Grotberg, kemampuan untuk merespons konflik tanpa kekerasan adalah bagian penting dari keterampilan memecahkan masalah secara positif. Ketidakmampuan ini berpotensi menjadi penghambat dalam proses rehabilitasi, karena individu yang belum mampu mengelola emosinya dengan sehat lebih rentan terhadap perilaku impulsif. Berdasarkan hasil penelitian di atas, bahwa responden memerlukan peningkatan hubungan emosional. Implikasi Hasil Penelitian Hasil penelitian ini memberikan implikasi penting terhadap praktik pelayanan sosial, khususnya dalam upaya penguatan resiliensi Anak yang Berkonflik dengan Hukum (ABH) yang menjalani rehabilitasi di Sentra Antasena Magelang. Berdasarkan temuan bahwa tingkat resiliensi anak masih berada pada kategori sedang dalam aspek dukungan eksternal (I Hav. , kekuatan personal (I A. , dan kemampuan interpersonal serta pemecahan masalah (I Ca. REHSOS: Jurnal Ilmiah Rehabilitasi Sosial | maka dibutuhkan pengembangan intervensi yang lebih terstruktur dan menyeluruh. Penguatan resiliensi ini dapat dilakukan melalui peningkatan kemampuan anak dalam mengelola emosi, menyelesaikan masalah secara mandiri, serta memanfaatkan dukungan dari lingkungan sekitar, seperti keluarga, teman sebaya, dan tenaga profesional . ekerja sosial, psikolog, pengasuh, dan penyuluh sosia. Intervensi sosial sebaiknya diawali dengan asesmen komprehensif untuk mengidentifikasi kebutuhan spesifik, potensi, serta sumber daya pendukung dari masing-masing Berdasarkan hasil asesmen tersebut, program rehabilitasi dapat dirancang menggunakan pendekatan kelompok bantu diri yang mengedepankan dukungan timbal balik antar anak, pelatihan kemandirian, dan terapi psikososial berbasis nilai-nilai spiritual. Selain itu, penguatan resiliensi juga perlu didukung dengan kegiatan pembinaan yang dapat menumbuhkan kesadaran diri, tanggung jawab atas perilaku, serta keyakinan bahwa mereka mampu berubah dan meraih masa depan yang lebih baik. Dengan demikian, proses rehabilitasi tidak hanya berfokus pada perubahan perilaku semata, tetapi juga membentuk anak sebagai pribadi yang tangguh, mampu menghadapi tekanan hidup, dan siap untuk kembali hidup Peran aktif keluarga dan tenaga profesional sangat krusial dalam menciptakan lingkungan yang aman, suportif, dan penuh harapan. Maka dari itu, upaya kolaboratif antar unsur di Sentra Antasena serta dukungan kebijakan dari Kementerian Sosial perlu terus diperkuat guna memastikan proses rehabilitasi berjalan optimal dan berkelanjutan. Apabila dilakukan secara konsisten, anak-anak yang berkonflik dengan hukum akan memiliki peluang lebih besar untuk bangkit, tumbuh sehat secara psikososial, dan menjadi generasi penerus bangsa yang Program Ay(Self Help Grou. untuk penguatan resiliensi Anak yang Berkonflik dengan HukumAy dirancang sebagai upaya untuk meningkatkan resiliensi Anak yang Berkonflik dengan Hukum (ABH) di Sentra Antasena Magelang. Berdasarkan latar belakang permasalahan yang ada seperti responden mengalami kesulitan dalam mengungkapkan atau menceritakan perasaan pribadi kepada teman, dan responden menunjukkan kesulitan dalam mengungkapkan perasaan secara verbal, baik ketika merasakan emosi positif seperti senang dan gembira, maupun emosi negatif seperti sedih dan marah program ini hadir untuk memberikan dukungan emosional dan sosial yang dibutuhkan. Program ini menyasar pada peningkatan tiga aspek utama resiliensi yaitu dukungan eksternal (I Hav. , kekuatan personal (I A. , serta kemampuan interpersonal dan pemecahan masalah (I Ca. , dengan fokus utama pada aspek yang paling rendah yaitu dukungan eksternal (I Hav. , dan pemecahan masalah. Melalui interaksi kelompok yang terstruktur serta bimbingan professional (I Ca. , program ini diharapkan mampu membentuk ABH yang lebih kuat, adaptif, dan mampu mengelola kehidupannya secara positif. Secara teknis, pelaksanaan program menggunakan metode kerja kelompok dengan teknik seperti FGD, role playing yang dirancang dalam dua tahap kegiatan utama: kegiatan awal berupa pemberian materi dan kegiatan lanjutan berupa pertemuan rutin. Program ini dilaksanakan oleh tim profesional dari berbagai latar belakang, serta didukung internal Sentra Antasena di Magelang. Dengan pengorganisasian yang matang serta tahapan pelaksanaan yang sistematis, program ini berpeluang besar dalam membentuk sistem dukungan yang komprehensif bagi Anak Yang Berkonflik Hukum. Dengan demikian. Program Au(Self Help Grou. 45 | REHSOS: Jurnal Ilmiah Rehabilitasi Sosial Pudi Yadhatul Rohman, et al untuk penguatan resiliensi Anak yang Berkonflik dengan HukumAy menjadi model intervensi sosial yang menyeluruh dan berorientasi pada pemulihan serta penguatan ketahanan psikososial anak. KESIMPULAN Penelitian mengenai resiliensi anak yang berkonflik dengan hukum di Sentra Antasena di Magelang mendapatkan hasil bahwa secara umum tingkat resiliensi para anak yang berkonflik dengan hukum berada pada kategori baik. Hal ini tercermin dari ketiga aspek utama resiliensi yang dikemukakan oleh Grotberg . , yaitu aspek dukungan eksternal (I Hav. , kekuatan personal (I A. , dan kemampuan interpersonal serta pemecahan masalah (I Ca. Hasil dari aspek dukungan eksternal (I Hav. menunjukan sebagian besar anak yang berkonflik dengan hukum di Sentra Antasena di Magelang memiliki dukungan eksternal yang cukup, meskipun bervariasi tingkatannya. Mereka mendapatkan perhatian dari petugas pembimbing, psikolog, serta pembina di lembaga tersebut. Keberadaan lingkungan yang mendukung, seperti adanya kegiatan pembinaan rohani dan keterampilan, menjadi sumber kekuatan eksternal bagi anak untuk bangkit dari pengalaman traumatis. Namun terdapat masalah yang harus ditingkatkan Kembali yaitu responden mengalami kesulitan dalam mengungkapkan atau menceritakan perasaan pribadi kepada teman selama menjalani rehabilitasi di Sentra Antasena Magelang. Aspek kemampuan interpersonal dan pemecahan masalah (I Ca. , menjadi aspek yang masih perlu ditingkatkan dikarenakan responden menunjukkan kesulitan dalam mengungkapkan perasaan secara verbal, baik ketika merasakan emosi positif seperti senang dan gembira, maupun emosi negatif seperti sedih dan marah selama menjalani proses rehabilitasi. Sementara itu, aspek kekuatan personal (I A. , merupakan aspek yang memperoleh nilai paling tinggi diantara ketiga aspek. Hal ini didukung dengan banyaknya responden yang menjawab selalu dan sering, yang menunjukkan bahwa para Anak yang Berkonflik dengan Hukum telah memiliki kepercayaan diri, tanggung jawab, serta harapan untuk perubahan positif. Responden menunjukkan jati diri yang berkembang secara positif selama berada di Sentra Antasena di Magelang. Mereka memiliki kesadaran diri yang semakin terbentuk, mulai dari menyadari kesalahan, merasa menyesal, hingga memiliki tekad untuk berubah menjadi lebih Hasil temuan memberikan dasar bagi pengembangan program rehabilitasi sosial yang lebih komprehensif dan terstruktur. Praktisi sosial di lembaga seperti Sentra Antasena dapat memanfaatkan hasil penelitian ini untuk menyusun intervensi yang fokus pada peningkatan kemampuan interpersonal dan ekspresi emosi anak, khususnya melalui pembentukan kelompok dukungan sebaya . elf help grou. , pelatihan regulasi emosi, dan keterampilan komunikasi. Selain itu, penting juga untuk memperkuat keterlibatan keluarga dan pendamping profesional dalam proses pembinaan, guna menciptakan sistem dukungan yang berkelanjutan. Penelitian ini juga memperkuat validitas teori resiliensi Grotberg dalam rehabilitasi sosial, khususnya pada anak yang berkonflik dengan hukum. Ketiga aspek yang diuraikan dalam teori tersebut terbukti dapat mengungkap dinamika resiliensi secara menyeluruh, baik dari sisi dukungan lingkungan, kekuatan internal, maupun keterampilan sosial. Hal ini menunjukkan REHSOS: Jurnal Ilmiah Rehabilitasi Sosial | bahwa kerangka resiliensi dapat dijadikan acuan dalam merancang pendekatan intervensi sosial untuk populasi rentan seperti ABH REFERENCES