Journal of Management. Accounting and Business Research (JMABR) Vol. Juni 2025: 41 - 58 DOI: 10. 51170/jmabr. Earnings Persistence and Its Influencing Factors: A Study of Property and Infrastructure Sectors Elisa. * A Accounting. Multimedia Nusantara University. Tangerang. Indonesia *elisahdwyh@gmail. Abstract This study aims to provide empirical insights into how debt level, firm size, operating cash flow, and market concentration influence earnings persistence. The research sample was selected using a purposive sampling technique and focuses on companies in the Property. Real Estate & Building Construction as well as Infrastructure. Utilities & Transportation sectors listed on the Indonesia Stock Exchange during the 2016Ae2018 period. The study utilizes secondary data obtained from financial statements and applies multiple linear regression analysis. The findings reveal that . firm size and . operating cash flow both have a significant positive impact on earnings . market concentration has a significant negative impact. debt level does not significantly influence earnings persistence. collectively, debt level, firm size, operating cash flow, and market concentration exert a significant effect on earnings persistence. Keywords: Debt Level. Earning Persistence. Firm Size. Market Concentration. Operating Cashflow Article history: Received June 29th 2025. Accepted June 29th 2025. Available online June 30th 2025 PENDAHULUAN Perkembangan pembiayaan pada sektor infrastruktur, utilitas, dan transportasi di pasar modal dinilai memberikan kontribusi signifikan terhadap total kapitalisasi pasar di Bursa Efek Indonesia (BEI). Hal ini tercermin dari keberadaan 74 perusahaan dari total 653 emiten yang tergolong dalam sektor tersebut, dengan nilai kapitalisasi pasar mencapai Rp 865 triliun, atau sekitar 12% dari total kapitalisasi BEI. Country Manager Rumah. com menyatakan bahwa pembangunan infrastruktur, khususnya pada sektor transportasi, sangat mendukung pertumbuhan industri properti di Indonesia. Selain itu. Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Real Estat Indonesia (REI). Soelaeman Soemawinata, menekankan peran strategis para pengembang dalam menarik investasi, sebagaimana terlihat pada kehadiran AEON di BSD dan IKEA di Alam Sutera, yang kemudian memicu investasi baru di sektor properti (Kompas. com, 2. Pada periode 2017 hingga 2020, jumlah perusahaan properti dan real estate yang tercatat di BEI terus mengalami peningkatan. Namun demikian, meskipun jumlahnya meningkat, laba periode berjalan di sektor tersebut menunjukkan fluktuasi yang cukup tinggi, sehingga menarik untuk dikaji lebih lanjut. Berdasarkan Survei Harga Properti Residensial Bank Indonesia, kondisi ini dipengaruhi oleh berbagai faktor penghambat penjualan properti, seperti pandemi Covid-19, kendala perizinan dan birokrasi, kenaikan harga bahan bangunan. JMABR Elisa . serta tingginya proporsi uang muka dalam pengajuan Kredit Pemilikan Rumah (KPR) di lembaga perbankan (Bisnis. com, 2. Pirveli . menjelaskan bahwa investor dalam mengambil keputusan tidak hanya melihat laba pada tahun berjalan, melainkan memperhatikan rangkaian laba historis yang mencerminkan potensi sumber daya perusahaan di masa mendatang. Sejalan dengan hal tersebut. Aguguom et al. menyatakan bahwa salah satu fokus utama analis keuangan adalah menilai konsistensi laba untuk memahami sejauh mana laba tersebut mencerminkan kinerja fundamental perusahaan dalam jangka panjang, bukan sekadar kinerja sesaat. Dalam hal ini, persistensi laba menjadi salah satu indikator kualitas laba yang menggambarkan keberlanjutan kinerja keuangan suatu entitas. Enomoto . menekankan bahwa laba yang berkualitas tinggi mengandung informasi yang lebih relevan untuk pengambilan keputusan. Kualitas laba dianggap berguna apabila laporan keuangan mampu mencerminkan kondisi perusahaan secara akurat dan tidak bias, menyajikan informasi secara tepat waktu, transparan, persisten, dan dapat diperbandingkan. Oleh karena itu, persistensi laba menjadi elemen penting yang mencerminkan keberlanjutan performa keuangan suatu perusahaan. Menurut Arisandi dan Astika . , laba yang persisten adalah laba yang dapat dijadikan indikator untuk memproyeksikan laba di masa depan secara berulang dan konsisten dalam jangka panjang. Laba yang memiliki tingkat persistensi tinggi mencerminkan kinerja yang berkelanjutan (Sujana et. , 2. Hal ini menjadi sangat penting, khususnya bagi investor, karena persistensi laba dapat memengaruhi kebijakan dividen dan potensi tertahannya dana Rendahnya persistensi laba berisiko menyebabkan perusahaan tidak dapat membagikan dividen ataupun menciptakan pendapatan yang memadai, yang dalam beberapa kasus dapat menyebabkan suspensi dan tertahannya dana investor. Perusahaan sangat membutuhkan tingkat persistensi laba yang tinggi. Sebagaimana dinyatakan oleh Sujana et. , laba yang berkelanjutan merupakan indikator kualitas laba yang baik dan dapat digunakan untuk memperkirakan laba di masa mendatang. Pernamasari . juga menyebutkan bahwa laba yang berkelanjutan dan berkualitas tinggi merupakan bagian dari persistensi laba. Subramanyam . menambahkan bahwa laba yang lebih persisten biasanya berasal dari aktivitas operasional yang berulang, stabil, dan dapat diprediksi. Pengukuran persistensi laba dilakukan dengan menggunakan regresi sederhana, di mana laba sebelum pajak tahun berjalan (PTBI. digunakan sebagai variabel independen dan laba sebelum pajak tahun berikutnya (PTBIt . sebagai variabel dependen. PTBIt dihitung dengan membagi laba sebelum pajak tahun berjalan terhadap rata-rata total aset, sedangkan PTBIt 1 dihitung dengan pendekatan yang sama menggunakan data tahun berikutnya (Arisandi dan Astika, 2. Dengan demikian, persistensi laba mencerminkan kemampuan JMABR Journal of Management. Accounting and Business Research (JMABR) Vol. Juni 2025: 41 - 58 DOI: 10. 51170/jmabr. perusahaan untuk secara konsisten menghasilkan laba sebelum pajak terhadap total aset rata-rata dari waktu ke waktu, yang dapat dijadikan dasar dalam memprediksi laba di periode Berdasarkan berbagai penelitian sebelumnya, terdapat beberapa faktor yang dapat memengaruhi persistensi laba, antara lain tingkat utang, ukuran perusahaan, aliran kas operasi, dan konsentrasi pasar. Menurut Weygandt et al. , rasio utang terhadap total aset (Debt to Total Asset Ratio/DTA) mencerminkan proporsi pendanaan perusahaan yang berasal dari kreditur. DTA yang tinggi menunjukkan perusahaan memiliki lebih banyak dana untuk meningkatkan produktivitas operasional, yang dapat berdampak pada kenaikan laba Putri dan Supadmi . menemukan bahwa tingkat utang berpengaruh signifikan terhadap persistensi laba. Namun. Arisandi dan Astika . melaporkan hasil berbeda, yaitu tidak adanya pengaruh signifikan. Ukuran perusahaan juga diperkirakan memengaruhi persistensi laba. Menurut Arisandi dan Astika . , ukuran perusahaan mencerminkan skala bisnis, sementara Gunawan dan Harjanto . menyatakan bahwa total aset merupakan indikator utama. Perusahaan dengan aset besar cenderung memiliki kapasitas produksi dan penjualan yang lebih tinggi. Bila dikelola secara efisien, hal ini dapat menghasilkan laba yang berkelanjutan. Arisandi dan Astika . menemukan pengaruh positif antara ukuran perusahaan dan persistensi laba, sedangkan Nuraeni et. menunjukkan pengaruh negatif, dan Nurochman dan Solikhah . menyatakan tidak ada pengaruh. Faktor berikutnya adalah aliran kas operasi, yang menurut PSAK 2 (Ikatan Akuntan Indonesia, 2. berasal dari aktivitas utama perusahaan. Aliran kas operasi yang positif menunjukkan efisiensi operasional dan kemampuan menghasilkan laba secara konsisten (Putri et. , 2. Salsabiila et. menemukan bahwa aliran kas operasi berpengaruh positif terhadap persistensi laba, berbeda dengan hasil Chowijaya . dalam Salsabiila et. yang tidak menemukan pengaruh signifikan. Faktor terakhir adalah konsentrasi pasar, yang diukur dengan membandingkan penjualan perusahaan terhadap total penjualan industri (Nuraeni et. , 2. Tingkat konsentrasi pasar yang tinggi menunjukkan dominasi perusahaan dalam industri dan rendahnya tingkat persaingan, yang berpotensi meningkatkan penjualan dan laba berkelanjutan. Penelitian Nuraeni et. serta Mahendra dan Suardikha . menunjukkan bahwa konsentrasi pasar berpengaruh positif terhadap persistensi laba. Berdasarkan uraian di atas, rumusan masalah dalam penelitian ini adalah: apakah tingkat utang, ukuran perusahaan, aliran kas operasi, dan konsentrasi pasar berpengaruh terhadap persistensi laba pada perusahaan sektor properti dan infrastruktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia? Penelitian ini memiliki kebaruan . pada kombinasi variabel yang diuji JMABR Elisa . secara simultan terhadap persistensi laba, khususnya dalam konteks sektor Property. Real Estate & Building Construction serta Infrastructure. Utilities, & Transportation selama periode 2016Ae2018. Selain itu, studi ini memperkuat temuan empiris yang masih menunjukkan hasil yang inkonsisten di antara penelitian terdahulu, sehingga diharapkan dapat memberikan kontribusi dalam memperkaya literatur akuntansi keuangan mengenai determinan kualitas laba di pasar berkembang seperti Indonesia. TINJAUAN PUSTAKA Persistensi Laba (Earning Persistenc. Laporan laba rugi mencerminkan selisih antara total pendapatan dan beban, tanpa memasukkan unsur penghasilan komprehensif lain. Penghasilan komprehensif lain mencakup elemen pendapatan dan beban yang tidak dicatat dalam laporan laba rugi, sebagaimana ditentukan atau diperbolehkan oleh Standar Akuntansi Keuangan (SAK). Oleh karena itu, total penghasilan komprehensif terdiri atas dua komponen utama, yakni "laba rugi" dan "penghasilan komprehensif lain" (Ikatan Akuntan Indonesia, 2. Karena laporan laba rugi merupakan salah satu sumber informasi utama mengenai kinerja keuangan suatu entitas dalam satu periode, maka idealnya seluruh pendapatan dan beban dicantumkan dalam laporan ini. Laba adalah salah satu elemen dalam laporan keuangan yang sering dijadikan acuan dalam pengambilan keputusan. Laba juga digunakan sebagai indikator untuk menilai kinerja perusahaan (Putri dan Supadmi, 2. Kualitas laba mencerminkan sejauh mana laba tersebut relevan dalam menggambarkan kinerja perusahaan. Penilaian terhadap kualitas laba diperlukan untuk memungkinkan perbandingan antar perusahaan serta untuk membedakan laba berkualitas tinggi dan rendah, terutama dalam konteks penilaian nilai perusahaan. Tiga faktor utama yang sering digunakan untuk menilai kualitas laba adalah kebijakan akuntansi, penerapannya, dan tingkat risiko bisnis yang dihadapi (Subramanyam, 2. Laba dikatakan berkualitas apabila mampu mencerminkan kondisi perusahaan secara jujur dan objektif, serta menyajikan informasi keuangan yang akurat, tepat waktu, transparan, konsisten . , dan dapat diperbandingkan (Aguguom et al. , 2. Laba yang persisten dan tidak dipengaruhi praktik manajemen laba dianggap memiliki kualitas tinggi dan lebih dapat diandalkan oleh investor serta analis untuk membuat keputusan investasi. Laba yang bersifat persisten juga menjadi alat prediktif yang berguna dalam memperkirakan kinerja keuangan di masa depan (Aguguom et al. , 2. Menurut Arisandi dan Astika . , laba persisten merupakan laba yang mampu menjadi indikator yang andal terhadap laba pada periode berikutnya, yang dihasilkan secara berulang dalam jangka panjang. Laba yang memiliki tingkat persistensi tinggi mencerminkan kinerja yang berkelanjutan (Sujana et al. , 2. Dalam perspektif yang lebih luas. Kolozsvari JMABR Journal of Management. Accounting and Business Research (JMABR) Vol. Juni 2025: 41 - 58 DOI: 10. 51170/jmabr. et al. menyatakan bahwa persistensi laba adalah karakteristik dari informasi akuntansi yang berkaitan erat dengan kemampuan untuk memprediksi arus kas masa depan, sehingga sangat bermanfaat dalam proses evaluasi investasi. Persistensi laba dapat diukur menggunakan regresi antara laba sebelum pajak tahun berjalan (PTBI. dan laba sebelum pajak tahun berikutnya (PTBIt . , dengan PTBIt 1 sebagai variabel dependen dan PTBIt sebagai variabel independen (Suwandika dan Astika, 2013 dalam Arisandi dan Astika, 2. Tingkat Hutang (DTA) Struktur modal merujuk pada kombinasi antara pendanaan melalui ekuitas dan utang yang dimiliki oleh suatu perusahaan. Umumnya, struktur modal diukur berdasarkan proporsi relatif dari berbagai sumber pembiayaan. Stabilitas keuangan serta risiko terjadinya insolvensi pada suatu perusahaan sangat dipengaruhi oleh jenis pendanaan yang digunakan, serta tipe dan jumlah aset yang dimiliki. Jenis aset yang digunakan dalam kegiatan operasional turut menentukan sumber pendanaan yang sesuai. Sebagai contoh, aset tetap dan aset jangka panjang lainnya biasanya tidak dibiayai menggunakan utang jangka pendek, melainkan dengan modal jangka panjang seperti ekuitas atau utang jangka panjang. Pada sektor-sektor dengan pendapatan stabil seperti utilitas, penggunaan utang sebagai sumber pendanaan jangka panjang menjadi hal yang umum (Subramanyam, 2. Sumber pendanaan perusahaan sangat berkaitan erat dengan penggunaan utang, yang merupakan salah satu cara untuk memperoleh dana eksternal melalui hubungan kontraktual dengan kreditor. Kemampuan perusahaan dalam memperoleh laba turut dipengaruhi oleh struktur modal yang digunakan untuk mengembangkan usaha dan memaksimalkan profitabilitas (Putri dan Supadmi, 2. Weygandt et al. menjelaskan bahwa rasio solvabilitas merupakan ukuran yang menunjukkan kapasitas perusahaan untuk bertahan dalam jangka panjang. Solvabilitas ini menggambarkan kelangsungan keuangan perusahaan, termasuk kemampuannya untuk melunasi kewajiban jangka panjang. Seluruh aktivitas bisnis perusahaanAibaik pembiayaan, investasi, maupun operasionalAiakan berdampak pada tingkat solvabilitasnya. Salah satu komponen penting dalam menilai solvabilitas jangka panjang adalah kemampuan laba atau earning power, yaitu kapasitas perusahaan untuk secara berulang menghasilkan kas dari aktivitas operasional (Subramanyam, 2. Bagi kreditor jangka panjang dan pemegang saham, aspek utama yang diperhatikan adalah kemampuan perusahaan dalam membayar bunga tepat waktu serta memenuhi kewajiban pokok utang saat jatuh tempo. Salah satu alat ukur solvabilitas yang umum JMABR Elisa . digunakan adalah rasio utang terhadap aset (Debt to Assets Ratio/DTA), yang menunjukkan proporsi aset yang dibiayai oleh kreditor (Kieso et al. , 2. Tingkat rasio ini mencerminkan seberapa besar leverage yang dimiliki perusahaan serta kemampuannya menanggung kerugian tanpa mengorbankan kepentingan kreditor (Weygandt et al. , 2. Leverage yang tinggi dapat meningkatkan potensi laba karena perusahaan memiliki lebih banyak dana dari utang yang dapat digunakan untuk mendukung kegiatan produktif (Nuraeni et al. , 2. Kecukupan rasio DTA sering kali dinilai dengan Secara pendapatan yang stabil cenderung memiliki nilai DTA yang lebih tinggi dibandingkan perusahaan yang memiliki pola pendapatan musiman yang fluktuatif (Weygandt et al. , 2. Dengan demikian hipothesi penelitian pertama adalah: Ha1: Tingkat utang (DTA) berpengaruh positif terhadap persistensi laba Ukuran Perusahaan (Firm Siz. Perusahaan dengan skala besar umumnya memiliki operasi yang lebih stabil dan dapat diprediksi, sehingga potensi terjadinya kesalahan dalam estimasi kinerja menjadi lebih kecil. Selain itu, perusahaan besar memiliki akses terhadap sumber daya yang lebih luas untuk menunjang kegiatan bisnisnya. Ukuran perusahaan yang besar sering dihubungkan dengan prospek jangka panjang yang lebih menjanjikan, serta menunjukkan kestabilan dan kemampuan yang lebih tinggi dalam menghasilkan laba dibandingkan perusahaan dengan aset yang lebih kecil. Agen dalam perusahaan besar biasanya terdorong untuk menunjukkan kinerja yang optimal guna mendapatkan penilaian positif dari pemilik modal . maupun calon investor. Hal ini disebabkan karena investor cenderung lebih tertarik berinvestasi pada perusahaan yang berukuran besar. Oleh sebab itu, semakin besar ukuran perusahaan, semakin tinggi pula dorongan bagi manajemen untuk menciptakan laba yang persisten (Arisandi dan Astika, 2. Perusahaan besar yang telah mencapai fase kematangan bisnis menunjukkan tingkat kestabilan operasional yang lebih tinggi dibandingkan perusahaan kecil. Hal ini mencerminkan bahwa potensi perusahaan besar dalam memperoleh laba yang berkelanjutan juga lebih Sebaliknya, perusahaan kecil memiliki kemungkinan lebih besar untuk mengalami ketidakpastian laba karena sifat operasionalnya yang belum stabil (Nuraeni et al. , 2. Penelitian yang dilakukan oleh Arisandi dan Astika . serta Khasanah dan Jasman . menemukan bahwa ukuran perusahaan berpengaruh positif terhadap persistensi laba. Sebaliknya, hasil penelitian Nuraeni et al. menunjukkan adanya pengaruh negatif, sementara studi yang dilakukan oleh Nurochman dan Solikhah . serta Pernamasari . menyimpulkan bahwa ukuran perusahaan tidak memiliki pengaruh terhadap JMABR Journal of Management. Accounting and Business Research (JMABR) Vol. Juni 2025: 41 - 58 DOI: 10. 51170/jmabr. persistensi laba. Penelitian Arisandi dan Astika . , yang menggunakan data dari 11 perusahaan properti dan real estat di BEI selama periode 2013Ae2016, menyatakan bahwa perusahaan besar cenderung menjadi sorotan publik dan karena itu berupaya menjaga reputasi serta kestabilan kinerja. Upaya tersebut dilakukan melalui peningkatan dan pemeliharaan kinerja keuangan yang pada akhirnya mendukung terciptanya laba yang berkesinambungan . Dengan demikian, hipothesis kedua penelitian ini adalah: Ha2: Ukuran perusahaan berpengaruh positif terhadap persistensi laba. Aliran Kas Operasi (Operating Cash Flo. Menurut Ikatan Akuntan Indonesia . , arus kas dari aktivitas operasi diperoleh terutama dari aktivitas utama penghasil pendapatan entitas. Komponen arus kas operasi seringkali memberikan petunjuk penting mengenai stabilitas sumber kas. Sebagian besar komponen operasi cenderung berulang, dan bersumber dari kegiatan operasi perusahaan yang masih berlanjut (Subramanyam, 2. Data arus kas merupakan indikator keuangan yang lebih baik dibandingkan dengan akuntansi karena arus kas relatif lebih sulit untuk dimanipulasi. Sehingga, semakin tingginya aliran kas operasi terhadap laba maka akan semakin tinggi pula laba tersebut (Marnilin et. Aliran kas operasi memiliki pengaruh signifikan terhadap persistensi laba. Penelitian Salsabiila et. dan Putri et. menunjukkan hasil bahwa aliran kas operasi berpengaruh positif terhadap persistensi laba. Sedangkan penelitian Chowijaya . dalam Salsabiila dkk. menyatakan bahwa aliran kas operasi tidak berpengaruh terhadap persistensi laba. Dengan dmeikian, hipothesis penelitian yang akan diuji adalah: Ha3: Aliran kas operasi berpengaruh positif terhadap persistensi laba. Konsentrasi Pasar Menurut Nuraeni et al. , konsentrasi pasar mengacu pada jumlah serta distribusi ukuran penjual dan pembeli dalam suatu pasar. Konsentrasi ini berkaitan erat dengan persentase penguasaan pangsa pasar oleh suatu perusahaan dibandingkan dengan total pangsa pasar industri. Makin tinggi tingkat konsentrasi pasar, maka makin besar pula proporsi pangsa pasar dan volume penjualan perusahaan terhadap keseluruhan industri (Mahendra dan Suardikha, 2. Dalam pasar yang tidak kompetitif, atau cenderung monopolistik, umumnya terdapat pola keberlanjutan tingkat laba yang tinggi secara relatif stabil. Sebaliknya, dalam pasar yang JMABR Elisa . bersifat kompetitif, tingkat laba cenderung fluktuatif karena adanya dinamika keluar-masuk perusahaan ke dalam industri yang sedang mengalami profit tinggi atau rendah. Proses tersebut menciptakan gangguan terhadap keseimbangan industri dan menghasilkan perubahan tingkat pengembalian secara berkelanjutan. Namun, dalam pasar monopoli, perusahaan dengan keuntungan tinggi dapat mempertahankan keunggulannya dalam jangka panjang (Pirveli, 2. Mahendra dan Suardikha . mengukur tingkat konsentrasi pasar dengan membandingkan pendapatan masing-masing perusahaan terhadap total pendapatan Tingkat konsentrasi ini menjadi indikator dari struktur pasar secara keseluruhan. Jika konsentrasi pasar tinggi, maka tingkat persaingan cenderung rendah, mendekati bentuk Sebaliknya, tingkat konsentrasi yang rendah mencerminkan struktur pasar yang lebih kompetitif, seperti dalam bentuk oligopoli, karena persaingan antar perusahaan lebih intens (Nuraeni et al. , 2. Sebuah perusahaan dikatakan memiliki konsentrasi pasar tinggi ketika telah menguasai sebagian besar pangsa pasar. Pangsa pasar ini berpengaruh langsung terhadap laba karena mencerminkan aktivitas penjualan perusahaan. Semakin besar volume penjualan yang dimiliki dan berhasil dipertahankan, semakin besar pula potensi keuntungan. Dalam situasi ini, perusahaan dengan konsentrasi pasar tinggi biasanya memiliki posisi kompetitif yang kuat dan mampu memberikan sinyal kinerja keuangan masa depan yang menjanjikan melalui tingkat persistensi laba yang tinggi (Mahendra dan Suardikha, 2. Hasil penelitian oleh Nuraeni et al. serta Mahendra dan Suardikha . mendukung pandangan bahwa konsentrasi pasar memiliki pengaruh positif terhadap persistensi laba. Dalam penelitian Mahendra dan Suardikha . yang dilakukan pada sektor transportasi di Bursa Efek Indonesia selama periode 2014Ae2017 dengan sampel 9 perusahaan selama 4 tahun pengamatan, ditemukan bahwa konsentrasi pasar yang tinggi cenderung memperkuat persistensi laba. Hal ini karena pangsa pasar yang besar berkaitan erat dengan kemampuan perusahaan untuk mempertahankan volume penjualan, yang pada akhirnya mendukung keberlanjutan laba. Dengan demikian hipothesis penelitian keempat Ha4: Konsentrasi pasar berpengaruh positif terhadap persistensi laba. Pengaruh Secara Simultan Putri et al. menemukan bahwa aliran kas operasi, perbedaan temporer, dan tingkat utang secara simultan berpengaruh signifikan terhadap persistensi laba pada perusahaan otomotif yang terdaftar di BEI selama periode 2011Ae2015. Temuan serupa juga disampaikan oleh Marnilin et al. , yang menunjukkan bahwa aliran kas operasi, selisih JMABR Journal of Management. Accounting and Business Research (JMABR) Vol. Juni 2025: 41 - 58 DOI: 10. 51170/jmabr. antara laba akuntansi dan laba fiskal, serta tingkat utang secara bersama-sama memengaruhi persistensi laba pada perusahaan jasa di sektor perdagangan, jasa, dan Sementara itu. Arisandi dan Astika . menunjukkan bahwa tingkat utang, ukuran perusahaan, dan kepemilikan manajerial berpengaruh secara simultan terhadap persistensi laba. Penelitian Mahendra dan Suardikha . juga mengungkapkan bahwa kombinasi antara tingkat utang, fee audit, dan konsentrasi pasar berkontribusi signifikan terhadap persistensi laba perusahaan. Dengan demikian, hipothesis terakhir penelitian ini Ha5: Terdapat pengaruh simultan dari tingkat utang, ukuran perusahaan, aliran kas operasi, dan konsentrasi pasar terhadap persistensi laba. METODOLOGI PENELITIAN Objek dalam penelitian ini adalah perusahaan properti, real estate, dan konstruksi bangunan serta infrastruktur, utilitas, dan transportasi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuantitatif yang bersifat causal study. Penelitian ini menggunakan data sekunder berupa data laporan keuangan perusahaan properti, real estate, dan konstruksi bangunan serta infrastruktur, utilitas, dan transportasi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) selama periode 2016- Data yang digunakan adalah laporan keuangan yang telah diaudit oleh auditor eksternal Data laporan keuangan tersebut diperoleh dari situs resmi BEI yaitu idx. id dan juga dari website perusahaan. Sampel dalam penelitian ini diambil dengan menggunakan metode purposive sampling. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis statistik regresi linear berganda. HASIL PENELITIAN Berdasarkan hasil analisis statistik deskriptif terhadap 36 observasi yang disajikan pada Tabel 4. 2, diketahui bahwa nilai terendah dari variabel persistensi laba (EP) adalah 0,00768, dimiliki oleh PT Kawasan Industri Jababeka Tbk. (KIJA), sedangkan nilai tertingginya sebesar 0,98022 dicapai oleh PT Jaya Real Property Tbk. (JRPT). Selisih antara nilai maksimum dan minimum . dari variabel ini adalah 0,97255, dengan standar deviasi sebesar 0,34313593. Nilai rata-rata persistensi laba tercatat sebesar 0,5197276, yang mengindikasikan bahwa secara umum, laba sebelum pajak penghasilan yang diperoleh dari rata-rata total aset pada tahun berjalan dapat menjelaskan sekitar 51,97% dari laba sebelum pajak penghasilan yang akan dihasilkan pada tahun berikutnya. JMABR Elisa . Variabel tingkat utang yang diukur menggunakan Debt to Assets Ratio (DTA) menunjukkan nilai minimum sebesar 0,07497 pada PT Pelayaran Nelly Dwi Putri Tbk. (NELY) tahun 2017, dan nilai maksimum sebesar 0,93124 pada PT Tower Bersama Infrastructure Tbk. (TBIG) tahun 2016. Rentang nilai . dari variabel ini adalah 0,85627, dengan standar deviasi sebesar 0,22318105. Nilai rata-ratanya sebesar 0,4325214, menunjukkan bahwa rata-rata 43,25% dari total aset perusahaan dibiayai melalui utang. Ukuran perusahaan (FS), yang diukur melalui logaritma natural dari total aset, memiliki nilai terendah sebesar 26,73817 (PT Pelayaran Nelly Dwi Putri Tbk. (NELY), 2. dan tertinggi sebesar 32,95985 (PT Telekomunikasi Indonesia (Perser. Tbk. (TLKM), 2. Variabel ini memiliki range sebesar 6,22168 dan standar deviasi sebesar 1,64516452. Nilai rata-rata ukuran perusahaan adalah 29,7683717, yang jika dikonversi setara dengan rata- rata total aset sebesar Rp 8. Berdasarkan nilai tersebut, perusahaan dalam sampel ini dapat dikategorikan sebagai perusahaan besar karena memiliki aset lebih dari Rp 10 miliar. Aliran kas operasi (OCF) menunjukkan nilai minimum sebesar -0,00656 (PT Perdana Gapuraprima Tbk. (GPRA), 2. dan maksimum 0,26296 (PT Telekomunikasi Indonesia (Perser. Tbk. (TLKM), 2. , dengan range sebesar 0,25640 dan standar deviasi 0,06442059. Rata-rata OCF sebesar 0,0836459, menunjukkan bahwa secara rata-rata, perusahaan mampu menghasilkan arus kas bersih dari aktivitas operasional sebesar 8,36% dari total aset yang dimiliki. Untuk variabel konsentrasi pasar (MS), nilai minimum tercatat sebesar 0,00044 (PT Pelayaran Nelly Dwi Putri Tbk. (NELY), 2. , dan maksimum sebesar 0,34207 (PT Telekomunikasi Indonesia (Perser. Tbk. (TLKM), 2. Variabel ini memiliki rentang 0,34163 dan standar deviasi sebesar 0,09018711. Nilai rata-rata MS sebesar 0,0403112 mencerminkan bahwa secara umum, perusahaan dalam sampel mampu menghasilkan pendapatan sebesar 4,03% dari total pendapatan industri tempat mereka beroperasi. Tabel 1. Hasil Statistik Deskriptif Variabel Penelitian Range Minimum Maksimum Mean Std Dev Persistensi Laba 0,97255 0,00768 0,98022 0,5197276 0,3431359 Tingkat Utang Ukuran Perusahaan Aliran Kas Operasi 0,85627 6,22168 0,25640 0,07497 26,73817 0,00656 0,93124 32,9599 0,26296 0,4325214 29,768372 0,0836459 0,2231811 1,6451645 0,0644206 Konsentrasi Pasar 0,34163 0,00044 0,34207 0,0403112 0,0901871 Hasil uji asumsi klasik dan distribusi normal residual memenuhi kriteria minimal. Nilai Kolmogorov-Smirnov sebesar 0,094 dengan signifikansi sebesar 0,877. Karena nilai signifikansi lebih besar dari 0,05 berarti data terdistribusi secara normal. Seluruh variabel JMABR Journal of Management. Accounting and Business Research (JMABR) Vol. Juni 2025: 41 - 58 DOI: 10. 51170/jmabr. independen yaitu tingkat utang, ukuran perusahaan, aliran kas operasi, dan konsentrasi pasar masing-masing memiliki nilai tolerance lebih dari 0,1 dan VIF kurang dari 10. Sehingga, dapat dinyatakan bahwa tidak terdapat korelasi antar variabel independen dalam model regresi yang digunakan dalam penelitian ini. Hasil uji run-test juga menunjukkan residual terdistribusi acak dengan nilai signifikansi 0,398. Oleh karena itu tidak ditemukan autokorelasi. Sebaran residual dengan menggunakan grafik juga mengkonfirmasi tidak terdapat masalah heteroskedastisitas dalam penelitian ini. Gambar 1. Hasil Uji Hetroskedastisitas (Scatter Plo. Koefisien korelasi (R) dalam penelitian ini sebesar 0,708. Nilai tersebut menunjukkan bahwa hubungan antara variabel independen yaitu tingkat utang, ukuran perusahaan, aliran kas operasi, dan konsentrasi pasar dengan variabel dependen yaitu persistensi laba memiliki korelasi yang cukup, karena nilai koefisien korelasi berada pada kelompok antara 0,61 Ae 0,80. Nilai Adjusted R Square adalah sebesar 0,437. Nilai tersebut menunjukkan bahwa variabel tingkat utang, ukuran perusahaan, aliran kas operasi, dan konsentrasi pasar dapat menjelaskan variabel persistensi laba sebesar 43,7% sedangkan sisanya sebesar 56,3% dijelaskan oleh variabel lain yang tidak dibahas dalam penelitian ini. Nilai Standard Error of the Estimate (SEE) sebesar 0,25738847 dapat diartikan bahwa semakin rendah nilai SEE tersebut, semakin tinggi kemampuan model regresi dalam penelitian ini dalam memprediksi variabel dependen yaitu persistensi laba. Tabel 2. Ringkasan Model Penelitian R-Square Adj R-Square Std Error 0,708 0,502 0,437 0,257388 JMABR Elisa . Nilai uji F sebesar 7,801 dengan tingkat signifikansi lebih kecil dari 0,05 yaitu sebesar 0,000. Oleh karena itu, dapat dinyatakan bahwa tingkat utang, ukuran perusahaan, aliran kas operasi, dan konsentrasi pasar secara bersama-sama berpengaruh signifikan terhadap persistensi laba. Untuk uji t, nilai signifikansi adalah kurang dari 0,05 untuk keempat variabel Dengan demikian terbukti keempat variabel mempengaruhi persistensi laba dalam perusahaan properti dan konstruksi. Tabel 3. Hasil Uji F Uji F Sum of Square Mean Square Sig Regression 2,067 0,517 7,801 0,000 Residual Total 2,054 4,121 0,066 Tabel 4. Hasil Uji t dan Estimasi Koefisien Regresi Parameter Std Error Konstanta Tingkat Utang Ukuran Perusahaan -7,358 -0,846 0,274 1,683 0,322 0,061 -4,371 -2,626 4,497 0,000 0,013 0,000 Aliran Kas Operasi Konsentrasi Pasar 3,447 -4,802 0,992 1,025 3,476 -4,683 0,002 0,000 DISKUSI DAN PEMBAHASAN Penelitian terdahulu menunjukkan bahwa persistensi laba dipengaruhi oleh berbagai Arisandi dan Astika . menemukan bahwa tingkat utang, ukuran perusahaan, dan kepemilikan manajerial berpengaruh secara simultan. Putri et al. menyatakan bahwa aliran kas operasi, perbedaan temporer, dan tingkat utang juga berpengaruh signifikan. Sementara itu. Mahendra dan Suardikha . mengidentifikasi pengaruh tingkat utang, fee audit, dan konsentrasi pasar terhadap persistensi laba. Pada penelitian ini, uji regresi menunjukkan nilai signifikansi sebesar 0,000, menandakan bahwa persistensi laba dapat diukur dari hubungan laba tahun berjalan dan laba tahun depan (Arisandi dan Astika, 2. Hasil uji parsial . memberikan temuan sebagai berikut. Tingkat utang (DTA) memiliki nilai t -2,626 dan signifikansi 0,013, yang berarti berpengaruh negatif signifikan terhadap persistensi laba. Temuan ini konsisten dengan Khasanah dan Jasman . , namun bertentangan dengan Mahendra dan Suardikha . Meski teori menyebutkan bahwa utang dapat meningkatkan produktivitas dan laba (Subramanyam, 2. , hasil ini menunjukkan sebaliknya. Dari 36 observasi, 19 perusahaan . ,78%) memiliki rasio DTA di bawah rata-rata. Mayoritas utangnya berupa pinjaman jangka panjang lama dan kewajiban operasional yang tidak berdampak langsung terhadap peningkatan laba. Hal ini didukung oleh contoh PT Pakuwon Jati Tbk. (PWON) yang meskipun memiliki DTA di bawah JMABR Journal of Management. Accounting and Business Research (JMABR) Vol. Juni 2025: 41 - 58 DOI: 10. 51170/jmabr. rata-rata, menunjukkan nilai persistensi laba tinggi karena kestabilan kinerja laba yang dapat Ukuran perusahaan (FS) menunjukkan pengaruh positif signifikan terhadap persistensi laba dengan nilai t 4,497 dan signifikansi 0,000. Hasil ini mendukung temuan Arisandi dan Astika . , namun berbeda dengan Nurochman dan Solikhah . Aliran kas operasi (OCF) juga berpengaruh positif signifikan dengan nilai t 3,476 dan signifikansi 0,002. Temuan ini sejalan dengan Putri et al. , tetapi bertolak belakang dengan hasil Chowijaya . dalam Salsabiila et al. Konsentrasi pasar (MS) justru menunjukkan pengaruh negatif signifikan terhadap persistensi laba dengan nilai t -4,683 dan signifikansi 0,000. Hasil ini bertentangan dengan temuan Mahendra dan Suardikha . yang menyatakan pengaruh positif. Dari 36 observasi, 21 berasal dari sektor infrastruktur, utilitas, dan transportasi dengan konsentrasi pasar relatif tinggi . ata-rata 6,07%). Namun, fluktuasi laba yang besar dalam sampel ini disebabkan merger, penjualan aset, atau pendapatan non-operasional lainnya membuat laba lebih sulit diprediksi, sehingga menurunkan persistensi laba. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa meskipun perusahaan memiliki pangsa pasar yang besar, jika laba bersihnya tidak stabil, maka tingkat persistensinya akan rendah. Secara keseluruhan, variabel tingkat utang dan konsentrasi pasar berpengaruh negatif signifikan terhadap persistensi laba, sedangkan ukuran perusahaan dan aliran kas operasi berpengaruh positif signifikan. Koefisien regresi untuk variabel tingkat utang (DTA) sebesar -0,551 menunjukkan bahwa setiap kenaikan 1% pada rasio utang terhadap aset akan menurunkan persistensi laba sebesar 55,1%. Hal ini mencerminkan bahwa perusahaan dengan tingkat utang yang rendah, meskipun memiliki penjualan di bawah rata-rata, tetap mampu menghasilkan laba yang lebih stabil dan dapat diprediksi apabila fluktuasi laba antar periode tidak signifikan. Ukuran perusahaan memiliki koefisien regresi sebesar 1,313, yang berarti setiap peningkatan 1% dalam ukuran perusahaan diperkirakan akan meningkatkan persistensi laba sebesar 131,3%. Ini mengindikasikan bahwa perusahaan dengan aset yang lebih besar cenderung memiliki kinerja keuangan yang lebih berkelanjutan. Untuk variabel aliran kas operasi, koefisien sebesar 0,647 menunjukkan bahwa setiap peningkatan 1% dalam arus kas operasi berkontribusi pada peningkatan persistensi laba sebesar 64,7%. Hal ini menegaskan peran penting arus kas dari aktivitas operasional dalam menjaga keberlanjutan laba. Sementara itu, koefisien regresi untuk konsentrasi pasar sebesar -1,262 menandakan bahwa setiap kenaikan 1% dalam pangsa pasar perusahaan dapat menurunkan persistensi laba sebesar 126,2%. Meskipun pangsa pasar besar biasanya mengindikasikan dominasi JMABR Elisa . industri, hasil ini menunjukkan bahwa perubahan laba yang drastis, misalnya karena merger atau pendapatan non-operasional, dapat membuat laba menjadi kurang stabil dan sulit KESIMPULAN Penelitian ini berhasil membuktikan pengaruh tingkat hutang, ukuran perusahaan, aliran kas operasi dan konsentrasi pasar terhadap persistensi laba. Pengaruh tingkat hutang dan konsentrasi pasar berpengaruh negative sedangkan ukuran perusahaan dan aliran kas operasi berpengaruh positif. Penelitian ini memiliki beberapa keterbatasan terkait periode penelitian dan mungkin masih ada beberapa variabel bebas yang layak diteliti untuk memahami persistensi laba perusahaan sektor properti dan infrastruktur. Penambahan variabel seperti likuiditas, pertumbuhan penjualan, audit fee atau siklus operasi mungkin cukup penting dalam pengembangan penelitian berikutnya. Implikasi Manajemen Implikasi dari temuan ini menunjukkan bahwa manajemen perusahaan perlu fokus pada strategi yang mendukung pertumbuhan ukuran perusahaan, misalnya melalui ekspansi aset produktif, efisiensi struktur modal, serta akuisisi strategis, guna meningkatkan kemampuan menghasilkan laba yang berkelanjutan. Ukuran perusahaan yang besar tidak hanya mencerminkan stabilitas operasional, tetapi juga meningkatkan daya saing dan kepercayaan investor terhadap kinerja jangka panjang. Selain itu, perusahaan juga disarankan untuk memperkuat kualitas arus kas operasional melalui pengelolaan piutang yang efektif, efisiensi pengeluaran, dan optimalisasi proses bisnis inti. Arus kas operasi yang kuat mencerminkan likuiditas yang sehat dan mendukung keberlanjutan laba dari aktivitas inti. Dengan demikian, melalui pengelolaan aset dan kas operasional yang tepat, perusahaan dapat menciptakan profitabilitas yang lebih stabil dan meningkatkan nilai perusahaan di mata pemangku DAFTAR PUSTAKA