n Jurnal Dedikasi Pendidikan. Vo. No. Juli 2025 : 969-978 Available online at http://jurnal. id/dedikasi ISSN 2548-8848 (Onlin. Universitas Abulyatama Jurnal Dedikasi Pendidikan SELF-MANAGEMENT: PERSPEKTIF PRESTASI AKADEMIK DAN GENDER MAHASISWA Deci Ririen1* Manajemen. Institut Teknologi dan Bisnis Indragiri. Rengat. Indonesia. *Email korespondensi : deci@mail. Diterima Mei 2025. Disetujui Juli 2025. Dipublikasi 31 Juli 2025 Abstract: Students must have good self-management and have a strong will to be able to solve problems faced during college in an effort to achieve study success. The purpose of this study was to analyze the level of student self-management reviewed from the perspective of academic ability and gender. This study is a quantitative descriptive study. The respondents in this study were students of the Indragiri Rengat Institute of Technology and Business aged 18Ae24 years totaling 212 people. The findings of this study include: students' selfmanagement ability for the self-motivation component in the good category. Students' self-management ability for the self-control component in the sufficient category. Students who have higher academic achievement have better self-management than students with low academic achievement. There are differences based on gender in aspects of self-management, especially in self-motivation and self-control. Men have higher scores than women in both aspects. Keywords : Self-Management. Academic Achievement. Gender Abstrak: Mahasiswa harus mempunyai manajemen diri yang baik serta memiliki kemauan yang kuat untuk dapat memecahkan masalah-masalah yang dihadapi selama di perguruan tinggi dalam upaya mencapai keberhasilan studi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis tingkat manajemen diri mahasiswa yang ditinjau dari perspektif kemampuan akademik dan gender. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif Responden pada penelitian ini adalah mahasiswa Institut Teknologi dan Bisnis Indragiri Rengat yang berusia 18Ae24 tahun berjumlah 212 orang. Temuan dari penelitian ini diantaranya: kemampuan manajemen diri mahasiswa untuk komponen self-motivation dalam kategori baik. Kemampuan manajemen diri mahasiswa untuk komponen self-control dalam kategori cukup. Mahasiswa yang memiliki prestasi akademik yang lebih tinggi memiliki self-management yang lebih baik daripada mahasiswa yang prestasi akademiknya rendah. Terdapat perbedaan berdasarkan gender dalam aspek manajemen diri, khususnya pada self-motivation dan self-control. Laki-laki memiliki skor lebih tinggi dibandingkan perempuan dalam kedua aspek tersebut. Kata kunci : Manajemen Diri. Prestasi Akademik. Gender PENDAHULUAN Mahasiswa merupakan individu yang berada pada tahapan pendidikan lanjutan setelah menyelesaikan pendidikan menengah, dan pada umumnya memiliki rentang usia 18 atau 19 tahun sampai usia 24 atau 25 tahun dalam program studi sarjana (S. yang terdaftar pada institusi pendidikan tinggi, seperti universitas atau perguruan tinggi. Tujuan utama berada pada Pendidikan tinggi untuk memperoleh pengetahuan, keterampilan, dan gelar akademik dalam bidang studi tertentu. Seorang mahasiswa diwajibkan terlibat dalam kegiatan Self-Management: Perspektif Prestasi. (Ririen, 2. Jurnal Dedikasi Pendidikan. Vol. No. Juli 2025 : 969-978 http://jurnal. id/index. php/dedikasi akademik seperti kuliah, praktikum, penelitian, dan proyek. Mahasiswa diharapkan memiliki tingkat kemandirian yang tinggi dalam mengatur waktu, menyelesaikan tugas, dan mengelola kehidupan pribadi (Budiartiningsih et al. , 2. Mahasiswa juga bertanggung jawab atas kemajuan akademik mereka sendiri, karena universitas adalah jenjang yang merupakan langkah penting dalam persiapan karier individu. Mahasiswa harus mempunyai manajemen diri yang baik serta memiliki kemauan yang kuat untuk dapat memecahkan masalah-masalah yang dihadapinya dalam upaya mencapai tujuan belajarnya. Dengan demikian manajemen diri merupakan salah satu faktor penting dalam belajar sebagai usaha untuk mencapai prestasi belajar yang baik (Ririen & Heriasman, 2. Namun, masih banyak mahasiswa yang kesulitan dalam memanajemen Berikut disajikan beberapa masalah manajemen diri dari 50 orang mahasiswa. Berdasarkan survey pra-penelitian, paling banyak mahasiswa mengalami masalah prokrastinasi yaitu menunda-nunda tugas yang perlu diselesaikan, diikuti dengan manajemen waktu yang buruk sehingga kesulitan mengatur waktu, mengakibatkan banyak tugas yang tertunda atau tidak selesai tepat waktu. Setelah itu, banyak mahasiswa yang tidak mampu mengatur prioritas dan kesulitan menentukan apa yang harus dilakukan terlebih Kurangnya disiplin diri membuat mahasiswa sulit untuk mempertahankan rutinitas atau kebiasaan baik. Mahasiswa juga identik dengan kebiasaan buruk seperti kesulitan menghilangkan kebiasaan yang merugikan, seperti makan tidak sehat, tidur larut malam atau kurang olahraga, ditambah pengelolaan emosi yang buruk seperti kesulitan mengontrol emosi yang bisa mengganggu konsentrasi belajar. Stres dan Kecemasan pada mahasiswa merupakan perasaan stres yang berlebihan atau cemas yang mengganggu produktivitas dan kurangnya motivasi untuk menentukan tujuan. Pengelolaan Emosi yang buruk Kebiasaan Buruk Tidak mampu menentukan Prioritas Kurang Motivasi Stres dan Kecemasan Manajemen waktu yang buruk Kurang Disiplin Diri Prokrastinasi Gambar 1. Masalah Umum Manajemen Diri mahasiswa Setiap orang memiliki kemampuan manajemen diri yang berbeda, salah satu perbedaan ini dapat dilihat dari kemampuan akademik seseorang (Lestariwati et al. , 2. Individu yang memiliki manajemen diri yang baik akan cenderung disiplin dalam belajar, jarang menunda pekerjaan dan menyelesaikan tugas tepat waktu. Kebiasaan ini dapat berkontribusi pada pemahaman yang lebih baik terhadap materi pelajaran dan persiapan yang lebih baik untuk ujian, sehingga meningkatkan prestasi akademik. Disiplin diri membantu mahasiswa untuk tetap fokus pada tujuan akademik, menghindari gangguan, dan tetap konsisten dalam rutinitas belajar. Mahasiswa yang memiliki kecerdasan emosi yang baik akan memiliki kemampuan untuk mengorganisir pembelajaran ISSN 2548-8848 (Onlin. n Jurnal Dedikasi Pendidikan. Vo. No. Juli 2025 : 969-978 sehingga mengurangi resiko stress dan dapat mengelola setiap tekanan akademik yang datang, sehingga pada akhirnya mahasiswa dapat memanajemen diri juga dapat meningkatkan prestasi akademik. Mereka lebih mampu menjaga keseimbangan hidup dan tetap tenang dalam menghadapi tantangan akademik, yang berkontribusi pada prestasi yang lebih baik. Serta, kebiasaan belajar yang baik, seperti rutin belajar, membuat catatan yang baik, dan mengulas materi secara teratur, sangat membantu dalam memahami materi dan mempersiapkan diri menghadapi Secara keseluruhan, manajemen diri yang efektif memungkinkan mahasiswa untuk mengoptimalkan waktu, sumber daya, dan usaha mereka, yang pada akhirnya meningkatkan prestasi akademik mereka. Manajemen diri juga ada kaitannya dengan gender atau jenis kelamin. Kaitan antara manajemen diri dengan gender merupakan topik yang kompleks dan dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk perbedaan biologis, sosial, dan budaya. Beberapa penelitian telah menunjukkan bahwa terdapat perbedaan dalam cara pria dan wanita mengelola diri, meskipun hasilnya tidak selalu konsisten. Peran gender tradisional dan ekspektasi budaya sering kali mempengaruhi bagaimana pria dan wanita mengelola diri. Misalnya, wanita lebih diajarkan untuk terorganisir dan teliti dalam tugas-tugas, sedangkan pria lebih didorong untuk mengambil risiko dan bersikap lebih mandiri (Arbain et al. , 2. Oleh karena itu, peneliti tertarik untuk menggambarkan manajemen diri mahasiswa dari sudut pandang prestasi akademik dan gender. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis tingkat manajemen diri mahasiswa yang ditinjau dari perspektif kemampuan akademik dan gender. KAJIAN PUSTAKA Self-Management Menurut Prijosaksono . , manajemen diri atau self-management merupakan kemampuan individu untuk mengendalikan sepenuhnya keberadaan diri secara keseluruhan . isik, emosi, mental atau pikiran, maupun jiw. dan realita kehidupannya dengan memanfaatkan kemampuan yang dimilikinya. Komponen manajemen diri seseorang, seperti dikemukakan oleh Gie . sebagai berikut: Self-motivation (Pendorongan dir. adalah dorongan psikologis dalam diri seseorang yang merangsang sehingga mau melakukan berbagai kegiatan untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Self-organizing (Pengorganisasian dir. adalah pengaturan sebaik-baiknya terhadap pikiran, energi, waktu, tempat dan benda dalam hidup pribadi sehingga semua terasa tertib dan lancar. Self-control (Pengendalian dir. adalah berbagai tekad dan langkah untuk memacu semangat, mengikis keseganan dan mengerahkan energi untuk benar-benar melaksanakan apa yang harus dikerjakan guna mencapai tujuan yang didambakan. Hal-hal yang memengaruhi manajemen diri: . Lingkungan . Kesehatan . Keterampilan/keahlian . aktifitas dan . Identitas diri (Prijosaksono, 2. Sedangkan ada 8 faktor yang membentuk manajemen diri menjadi baik antara lain: kehangatan, kecerdasan, keberanian, kestabilan emosi, ketajaman berfikir, rasa aman serta disiplin. Self-Management: Perspektif Prestasi. (Ririen, 2. Jurnal Dedikasi Pendidikan. Vol. No. Juli 2025 : 969-978 http://jurnal. id/index. php/dedikasi Prestasi Akademik Prestasi akademik merupakan tingkat keberhasilan belajar yang dicapai oleh siswa atau mahasiswa dalam ranah kognitif yang biasanya diukur melalui tes, nilai, atau indikator evaluatif lainnya (Sudjana, 2. Prestasi mencerminkan kemampuan individu dalam memahami, mengolah, dan menerapkan pengetahuan yang diperoleh selama proses pendidikan. Menurut Slameto . , prestasi akademik dipengaruhi oleh dua faktor utama, yaitu faktor internal . otivasi belajar, minat, kecerdasan, kondisi fisi. dan faktor eksternal . ingkungan keluarga, sekolah, dan Prestasi akademik juga sering dikaitkan dengan konsep self-regulated learning dan motivasi intrinsik, di mana siswa yang mampu mengatur cara belajarnya sendiri serta memiliki dorongan belajar dari dalam diri cenderung menunjukkan hasil akademik yang lebih baik (Zimmerman, 2. Gender Menurut Murniati . gender merupakan bahasa yang digunakan untuk menegaskan perbedaan jenis kelamin laki-laki dan perempuan secara biologis, namun kata gender mempunyai makna lebih spesifik dan secara teminologis tidak hanya berkait biologis namun juga non biologis. Dalam kehidupan bermasyarakat, gender sangat erat kaitannya dengan kedudukan laki-laki dan perempuan baik dari segi peran, jabatan, tanggung jawab dan fungsinya. Ini merupakan hasil konsensus manusia yang disosialisasikan dari generasi ke generasi. Masalah gender sangat erat kaitannya dengan teori konflik sosial. Perbedaan posisi, tanggung jawab, fungsi, dan peran antara laki-laki dan perempuan dapat menimbulkan perbedaan kekuasaan (Megawangi, 1. METODE PENELITIAN Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kuantitatif, karena peneliti ingin memperoleh gambaran mengenai kemampuan manajemen diri mahasiswa yang ditinjau dari segi prestasi akademik dan gender. Responden pada penelitian ini adalah mahasiswa Institut Teknologi dan Bisnis Indragiri Rengat yang berusia 18Ae 24 tahun berjumlah 212 orang. Pengumpulan data melalui penyebaran angket dengan skala likert 1-5 yang sudah diuji validitas dan reliabilitas data untuk melihat kemampuan manajemen diri mahasiswa yang menyangkut komponen self-motivation dan self-control. Analisis data menggunakan teknik analisis statistik deskriptif yaitu penyajian data dalam bentuk tabel . enghitung tingkat capaian rata-rat. , histogram atau poligon serta menghitung ukuran pemusatan data. Pengkategorian tingkat pencapaian responden digunakan klasifikasi yang dikemukakan Sudjana . seperti pada tabel berikut: Tabel 1. Klasifikasi Tingkat Capaian Rata-Rata Rentang Persentase 90%-100% 80%-89% 65%-79% 55%-65% 0-54% Kategori Sangat baik Baik Cukup Kurang Kurang sekali ISSN 2548-8848 (Onlin. Jurnal Dedikasi Pendidikan. Vo. No. Juli 2025 : 969-978 n HASIL DAN PEMBAHASAN Validitas dan Reliabilitas Instrumen Berikut hasil pengujian validitas dengan perhitungan koefisien korelasi Pearson Product Moment Tabel. 2 Validitas Angket Variabel Pernyataan Nilai rhit SelfManage P10 0,633 0,746 0,792 0,850 0,734 0,736 0,758 0,786 0,684 0,638 Nilai 0,273 Keterang Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Sumber : Data Analisis SPSS Berdasarkan Tabel 1. semua pernyataan dengan nilai rhitung > nilai rtabel, dapat disimpulkan bahwa semua pernyataan pada angket penelitian valid. Uji reliabilitas digunakan untuk mengetahui keandalan atau konsistensi instrumen . yang Berikut hasil pengujian reliabilitas: Tabel 3. Reliabilitas Angket Reliability Statistics Cronbach's N of Items Alpha Sumber : Data Analisis SPSS Berdasarkan Tabel 3. di atas, dapat dilihat nilai reliabilitas dengan menggunakan metode CronbachAos Alpha, nilai yaitu 0,905 > 0,6 sehingga dapat disimpulkan bahwa semua pernyataan pada kuesioner dinyatakan reliabel sebagai alat untuk mengumpulkan data dan dapat digunakan untuk analisis lebih lanjut. Hasil Penelitian Hasil penelitian didapat dari pengolahan data jawaban 212 orang responden, pengumpulan data dari angket yang disebarkan dengan menggunakan skala 5 = sangat baik, 4 = baik, 3 = cukup, 2 = Kurang baik, 1= Tidak Angket self-management ini berfokus pada komponen self-motivation dan self-control. Tabel 4. Komponen Self-Motivation Pernyataan Kemampuan mengelola keingintahuan mengenai suatu pengetahuan baru Kemampuan meningkatkan kepercayaan diri akan keberhasilan Kemampuan pengaturan sikap yang sesuai dengan situasi dan kondisi Kemampuan menentukan prioritas yang sesuai dengan kebutuhan Kemampuan bersaing sehat dalam hal Rerata Mean 3,99 TCR 79,72% Keterangan Cukup 4,15 82,92% Baik 4,06 81,13% Baik 4,04 80,85% Baik 4,07 81,45% Baik 4,06 81,21% Baik Sumber : Data Olahan Angket Self-Management: Perspektif Prestasi. (Ririen, 2. Jurnal Dedikasi Pendidikan. Vol. No. Juli 2025 : 969-978 http://jurnal. id/index. php/dedikasi Berdasarkan Tabel 4. Kemampuan manajemen diri mahasiswa untuk komponen self-motivation atau kemampuan mahasiswa dalam memotivasi diri sendiri masuk dalam kategori baik. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Ririen & Heriasman, . bahwa seseorang yang sudah berada pada tahap dewasa memiliki manajemen diri yang baik. Kemampuan individu untuk mendorong dirinya mencapai tujuan tertentu dan menyelesaikan tugas tanpa perlu adanya paksaan atau pengawasan dari pihak lain disebut self-motivation. Kemampuan ini berkaitan dengan pribadi seseorang, inisiatif serta semangat untuk terus bertahan meski menghadapi tantangan dan hambatan. Beberapa aspek penting dari self-motivation meliputi, tujuan yang jelas, tekad, kemandirian, disiplin diri, pikiran positif, perencanaan dan organisasi, serta penghargaan diri. Selfmotivation sangat penting dalam kehidupan pribadi dan profesional karena membantu mahasiswa mencapai kesuksesan dan kepuasan dalam berbagai aspek kehidupannya. Tabel 5. Komponen Self-Control Pernyataan Kemampuan mengontrol emosi yang berlebihan dalam diri Kemampuan menolak pengaruh buruk yang datang Kemampuan mengelola setiap kesempatan yang baik menjadi peluang Kemampuan mengelola rasa kecewa Kemampuan menerima kritik dan saran Rerata Mean 3,76 TCR 75,19% Keterangan Cukup 3,99 79,81% Cukup 3,94 78,77% Cukup 3,67 4,06 3,88 73,49% 81,22% 77,69% Cukup Baik Cukup Sumber : Data Olahan Angket Berdasarkan Tabel 5. Kemampuan manajemen diri mahasiswa untuk komponen self-control atau kemampuan mahasiswa dalam mengelola emosi positif maupun negatif masuk dalam kategori cukup. Selfcontrol merupakan kemampuan seseorang untuk mengatur emosi, pikiran, dan perilaku mereka sendiri untuk mencapai tujuan jangka panjang. Ini melibatkan kemampuan untuk menahan dorongan atau keinginan sesaat demi mencapai hasil yang lebih besar di masa depan. Pengendalian diri sangat penting dalam mencapai kesuksesan dan kesejahteraan dalam berbagai aspek kehidupan, diantaranya hubungan interpersonal, karier, kesehatan, dan keuangan. Individu dengan self-control yang baik cenderung lebih mampu mencapai tujuan mereka dan memiliki kesiapan hidup yang lebih tinggi (Ririen & Nurjayanti, 2. Perbandingan nilai prestasi akademik penulis membagi menjadi dua bagian yaitu kategori tinggi dengan perolehan IPK besar dari 3,30 sebanyak 103 responden dan kategori rendah dengan perolehan IPK kecil dari 3,30 sebanyak 109 responden. Tabel 6. Perbandingan Berdasarkan IPK Indikator Komponen self-motivation Komponen self-control Rerata TCR Kategori IPK Tinggi 4,11 3,94 4,02 80,4% Baik IPK Rendah 4,01 3,83 3,92 78,4% Cukup Sumber : Data Olahan Angket Berdasarkan Tabel 6. Mahasiswa yang memiliki prestasi akademik yang lebih tinggi memiliki selfmanagement yang lebih baik daripada mahasiswa yang prestasi akademiknya rendah. Manajemen diri memiliki ISSN 2548-8848 (Onlin. n Jurnal Dedikasi Pendidikan. Vo. No. Juli 2025 : 969-978 hubungan yang erat dengan prestasi akademik. Kemampuan untuk mengelola diri sendiri secara efektif dapat berdampak positif pada kinerja akademik seseorang (Asda, 2. Mahasiswa dengan prestasi akademik yang baik, menunjukkan berbagai ciri dan kebiasaan yang membantu mereka mencapai keberhasilan dalam proses Berikut adalah beberapa ciri-ciri yang umum ditemui pada mahasiswa dengan prestasi akademik yang baik yaitu disiplin diri seperti menghindari penundaan dan menyelesaikan tugas tepat waktu, manajemen waktu yang baik, mahasiswa mampu mengatur waktu secara efektif untuk belajar, beristirahat, dan berpartisipasi dalam kegiatan ekstrakurikuler. Kemampuan self-management dengan sudut pandang gender, pada data penelitian responden berjenis kelamin laki-laki berjumlah 63 orang sedangkan responden dengan jenis kelamin perempuan berjumlah 149 Tabel 7. Perbandingan Berdasarkan Jenis Kelamin Indikator Komponen self-motivation Komponen self-control Rerata TCR Kategori Laki-Laki 4,04 3,86 3,95 79,0% Cukup Perempuan 4,01 3,83 3,92 78,4% Cukup Sumber : Data Olahan Angket Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan berdasarkan gender dalam aspek manajemen diri, khususnya pada self-motivation dan self-control. Laki-laki memiliki skor lebih tinggi dibandingkan perempuan dalam kedua aspek tersebut. Temuan ini menarik karena bertolak belakang dengan sejumlah penelitian sebelumnya yang sering menyatakan bahwa perempuan cenderung lebih unggul dalam pengelolaan emosi dan kontrol diri. Namun demikian, hasil ini dapat dijelaskan melalui beberapa perspektif psikologis dan sosiokultural. Secara teoritis, self-control merupakan salah satu bagian penting dari executive functioning, yang dipengaruhi oleh faktor kepribadian dan pengalaman sosial (Duckworth et al. , 2. Dalam konteks budaya tertentu, menurut Tjalla et al. , . laki-laki selalu didorong untuk menunjukkan ketegasan dan kemampuan mengendalikan emosi sebagai bagian dari konstruksi sosial maskulinitas, yang kemudian tercermin dalam skor self-control mereka. Selain itu, aspek self-motivation juga dapat dipengaruhi oleh ekspektasi sosial terhadap lakilaki untuk menjadi lebih mandiri dan kompetitif (Tjalla et al. , 2. Hal ini sejalan dengan temuan dari Schunk et al. , yang menyebutkan bahwa motivasi intrinsik dapat berkembang melalui interaksi dengan lingkungan yang menekankan nilai pencapaian dan otonomi. Beberapa studi pendukung lainnya, seperti yang dilakukan oleh Tetik et al. , menemukan bahwa dalam konteks akademik tertentu, laki-laki menunjukkan task orientation dan goal commitment yang lebih tinggi, yang merupakan komponen dari self-motivation. Temuan ini menunjukkan bahwa variabel gender tidak selalu berfungsi secara linier dalam memprediksi kapasitas manajemen diri, tetapi sangat kontekstual tergantung pada norma budaya, latar belakang pendidikan, serta pengaruh lingkungan sosial (Hakim & Izzah, 2. Meskipun demikian, hasil ini tidak lantas menafikan kontribusi perempuan dalam pengembangan aspek manajemen diri. Studi oleh Zimmermann & Schunk . menggarisbawahi bahwa perempuan sering kali menunjukkan keunggulan dalam self-regulated learning melalui Self-Management: Perspektif Prestasi. (Ririen, 2. Jurnal Dedikasi Pendidikan. Vol. No. Juli 2025 : 969-978 http://jurnal. id/index. php/dedikasi perencanaan dan refleksi, meskipun kurang pada aspek inisiatif . elf-motivatio. dibanding laki-laki dalam beberapa konteks tertentu. Dengan demikian, hasil ini memberi implikasi bagi pengembangan program intervensi manajemen diri yang lebih sensitif gender, agar pendekatan pengembangannya dapat disesuaikan dengan karakteristik unik masing-masing kelompok. KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Beradasarkan hasil penelitian, maka dapat disimpulkan: Kemampuan manajemen diri mahasiswa untuk komponen self-motivation atau kemampuan mahasiswa dalam memotivasi diri sendiri masuk dalam kategori baik. Kemampuan manajemen diri mahasiswa untuk komponen self-control atau kemampuan mahasiswa dalam mengelola emosi positif maupun negatif masuk dalam kategori cukup. Mahasiswa yang memiliki prestasi akademik yang lebih tinggi memiliki self-management yang lebih baik daripada mahasiswa yang prestasi akademiknya rendah. Terdapat perbedaan berdasarkan gender dalam aspek manajemen diri, khususnya pada self-motivation dan self-control. Laki-laki memiliki skor lebih tinggi dibandingkan perempuan dalam kedua aspek tersebut. Saran Untuk penelitian selanjutnya diharapkan peneliti dapat menggunakan pendekatan mixed methods agar dapat memberi pemahaman baru yang lebih dalam. Selain itu, bisa juga mengembangkan instrumen pengukuran selfmanagement yang dikontekstualisasikan dengan budaya akademik lokal. DAFTAR PUSTAKA