Jurnal Ar-Raihanah: Pendidikan Islam Anak Usia Dini Volume 5 Nomor 2 Desember 2025 Pages 462-471 ISSN: 2830-5868 (Onlin. ISSN: 2614-7831 (Printe. Journal Homepage: http://ejournal. stit-alkifayahriau. id/index. php/arraihanah Pemanfaatan Media Playdough untuk Menstimulasi Motorik Halus Anak Usia Dini di PAUD Melati Indah Haerotunisa1. Muthia Sari2. Galuh Mulyawan3. Popi Dayurni4 Info Artikel Abstract Keywords: Educational Play Tools. Playdough. Children's Fine Motor Skills. Early Childhood. This study aims to describe the use of playdough educational play equipment (EAE) to stimulate fine motor development in early childhood at Melati Indah Preschool. The research focuses on how teachers utilize playdough in learning activities and the results of children's fine motor development after participating in these activities. The method used was qualitative research with a descriptive approach. Data were collected through observation, interviews, and documentation. The research subjects consisted of one teacher and ten children from Group A . ged 45 year. The results showed that playdough was used as a flexible, fun medium that stimulated fine motor skills such as rolling, picking, pressing, and shaping. These skills are an important foundation for various children's learning activities, including pre-writing readiness. Teachers played an active role in designing activities and providing playdough tools and This play not only supported fine motor development but also fostered children's creativity and self-confidence. Challenges encountered, such as limited materials and children's unruly behavior, were overcome with a persuasive approach and a variety of media. Overall, the use of playdough APE had a positive impact on stimulating fine motor development in early childhood. Kata kunci: Alat Permainan Edukasi. Playdough. Motorik Halus Anak. Anak Usia Dini. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pemanfaatan alat permainan edukatif (APE) playdough dalam menstimulasi perkembangan motorik halus anak usia dini di PAUD Melati Indah. Fokus penelitian diarahkan pada bagaimana guru memanfaatkan playdough dalam kegiatan pembelajaran serta hasil perkembangan motorik halus anak setelah mengikuti kegiatan tersebut. Metode yang digunakan adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Dengan subjek penelitian terdiri dari satu guru dan sepuluh anak kelompok A . sia 4-5 tahu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa playdough dimanfaatkan sebagai media yang fleksibel, menyenangkan, dan mampu merangsang keterampilan, motorik halus seperti menggulung, menjumput, menekan, dan 1 Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini. Universitas Bina Bangsa. Kota Serang. Indonesia Email: haerotunnisa78@gmail. 2 Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini. Universitas Bina Bangsa. Kota Serang. Indonesia Email: muthiasari1991@gmail. 3 Bimbingan dan Konseling. Universitas Bina Bangsa. Kota Serang. Indonesia Email: galuh. muliawan@gmail. 4 Pendidikan Teknologi Informasi dan Komunikasi. Universitas Bina Bangsa. Kota Serang. Indonesia Email: popi. unp@gmail. Jurnal Ar-Raihanah: Pendidikan Islam Anak Usia Dini Volume 5 Nomor 2 Desember 2025 E-ISSN: 2830-5868 P-ISSN: 2614-7831 Keterampilan-keterampilan tersebut merupakan fondasi penting bagi berbagai aktivitas belajar anak, termasuk kesiapan dalam pramenulis. Guru menunjukkan peran aktif dalam merancang kegiatan serta menyediakan alat dan bahan playdough. Permainan ini tidak hanya mendukung perkembangan motorik halus, tetapi juga menumbuhkan kreativitas dan kepercayaan diri anak. Kendala yang dihadapi berupa keterbatasan bahan dan perilaku anak yang belum teratur, diatasi dengan pendekatan persuasif dan variasi media. Secara keseluruhan, pemanfaatan APE playdough memberikan dampak positif dalam menstimulasi perkembangan motorik halus anak usia dini. Artikel Histori: Disubmit: Direvisi: Diterima: Dipublish: 16 November 2025 29 November 2025 07 Desember 2025 15 Desember 2025 Cara Mensitasi Artikel: Haerotunisa. Sari. Mulyawan. Dayurni. Pemanfaatan Media Playdough untuk Menstimulasi Motorik Halus Anak Usia Dini di PAUD Melati Indah. Jurnal Ar-Raihanah, 5 . , 462-471, https://doi. org/10. 53398/arraihanah. Korenpondensi Penulis: Haerotunisa, haerotunnisa78@gmail. DOI : https://doi. org/10. 53398/arraihanah. PENDAHULUAN Anak usia dini adalah suatu individu yang berada pada periode emas atau sering di sebut ( golden ag. berada pada rentang usia 0-6 tahun yang dimana pada masa ini sedang menjalani suatu proses perkembangan dengan pesat dan fundamental bagi kehidupan selanjutnya (Mulyawan. , et al. (Erviana et al. , 2. Anak Usia Dini (AUD) juga merupakan individu yang berbeda. Anak-anak memiliki kemampuan dan bakat yang luar biasa, dan jika mereka mendapat stimulasi yang tepat, mereka akan menjadi orang yang luar biasa juga (Ayuningtyas et al. , 2025. Suminah et al. , 2. Anak usia dini adalah sosok individu yang sedang menjalani proses pertumbuhan dan perkembangan yang pesat, yang merupakan bagian penting dari kehidupan selanjutnya. Pada saat ini, proses pertumbuhan dan perkembangan mencapai puncaknya. Anak dari usia 0 hingga 6 tahun, juga dikenal sebagai masa keemasan atau . olden ag. , yang dimana pada masa ini merupakan saat yang tepat bagi anak-anak untuk menerima berbagai upaya untuk mengembangkan seluruh potensi mereka (Yati. Usia ini sangat penting bagi pertumbuhan dan perkembangan anak, dan jika kebutuhan tumbuh kembang anak tidak dipenuhi dengan baik, hal itu akan berdampak negatif pada fase selanjutnya dari perkembangan mereka (Haeriyah et al. , n. Anak-anak sedang mengembangkan fungsi fisik dan mental mereka, dan mereka siap untuk merespon stimulasi dari lingkungan mereka selama masa peka (Mulyadi. , et al. Selain itu, pada masa ini anak sangat membutuhkan stimulasi yang tepat untuk mencapai perkembangan yang optimal dari segi perkembangan nilai agama dan moral, kognitif, bahasa, sosial emosional, seni dan fisik-motorik (Ariyanti. (Mulyawan et al. , 2. Oleh karena itu, salah satu aspek perkembangan penting dan mendasar dalam tumbuh kembang anak yaitu perkembangan motorik halus. Perkembangan motorik halus merupakan suatu pengendalian koordinasi yang melibatkan bagian tubuh tertentu dan gerakan otot kecil, seperti gerakan jari-jemari dan pergelangan tangan yang tepat. Oleh karena itu, gerakan ini tidak membutuhkan banyak tenaga. Namun, membutuhkan koordinasi tangan dan mata yang cermat (Primayana. Sedangkan menurut Wisudayanti. motorik halus adalah kemampuan untuk mengontrol gerakan otot-otot kecil terutama di tangan dan jari, yang diperlukan dalam aktivitas seperti menggulung, menekan, menjumput, dan mengepal. Keterampilan ini sangat berkaitan dengan kesiapan pra-menulis anak. Jurnal Ar-Raihanah: Pendidikan Islam Anak Usia Dini Volume 5 Nomor 2 Desember 2025 E-ISSN: 2830-5868 P-ISSN: 2614-7831 Salah satu aspek penting dari perkembangan motorik halus ialah kesiapan pra-menulis nya. Yaitu, kemampuan awal anak dalam mengontrol gerakan tangan dan jari mereka sebagai dasar untuk memegang alat tulis dan membuat bentuk huruf. Pra-menulis aktivitas termasuk menjiplak, menggulung, menjumput, membuat garis, dan mencetak bentuk sederhana, semua ini memerlukan koordinasi tangan dan mata yang optimal (Putri. Safitri. , & Lestari. Oleh karena itu, stimulasi motorik halus harus diarahkan selain untuk kepentingan bermain, juga untuk membekali anak dengan keterampilan dasar menulis. Bermain playdough dapat menjadi cara yang menyenangkan dan terarah untuk melatih kesiapan pra-menulis (Yuniyartika & Sudaryanti, 2. Hurlock. mengatakan perkembangan motorik halus pada anak tidak berkembang secara otomatis, melainkan perlu adanya stimulasi yang sesuai dengan tahap perkembangan anak. selain itu, lingkungan yang mendukung akan pengalaman sensorimotor dan aktivitas yang menantang otot-otot kecil tangan akan memberikan kontribusi yang positif. hal ini, aktivitas pembelajaran yang konkret dan menyenangkan sangat penting untuk mendukung proses perkembangan nya. Selaras dengan teori tersebut, dalam Permendikbud No. tentang Standar Tingkat Pencapaian Perkembangan Anak atau yang sering disebut STPPA merupakan suatu kriteria yang harus di capai anak usia dini dalam enam aspek perkembangan, yaitu agama dan moral, kognitif, bahasa, sosial emosional, seni dan fisik-motorik, termasuk perkembangan motorik halus. Untuk menunjang stimulasi motorik halus, salah satu metode yang efektif adalah Alat Permainan Edukatif (APE). APE adalah alat yang dirancang untuk meningkatkan perkembangan dan kecerdasan anak usia dini dan memiliki nilai edukatif (Kurniawati et al. , 2024. Rahmawati & Saputri, 2. APE tidak harus mahal dan dapat dibuat dari bahan-bahan yang tersedia di lingkungan. APE dapat digunakan untuk mengembangkan berbagai aspek perkembangan anak (Mukhtar. Selain itu. Alat Permainan Edukatif adalah alat bantu belajar yang dirancang khusus untuk mendukung perkembangan anak dan menyesuaikannya dengan usia dan tingkat perkembangannya (Agustia. Oleh karena itu, jenis permainan edukatif yang efektif untuk menstimulasi perkembangan motorik halus pada anak usia dini yaitu Playdough. Menurut Einon menyatakan bahwa Playdough adalah adonan lunak yang efektif untuk anak-anak. Mempunyai tekstur yang lembut, playdough juga cukup elastis untuk dibentuk sesuai kreativitas anak. Anak tidak hanya menikmati bermain playdough saja, tetapi juga membantu perkembangan motorik Playdough dapat membantu memperkuat otot-otot kecil tangan dan jari jemari anak, selain itu, anak-anak dapat menggunakan tangan nya untuk membentuk adonan dengan bermain playdough dengan berbagai macam kegiatan, seperti menekan, menggenggam, menggulung, menjumput, dan memelintir (Pratama. Sedangkan menurut Yohan playdough adalah media edukatif yang bisa dimanfaatkan oleh anak sehingga anak dapat berkreasi secara bebas sesuai keinginannya (Sari, , et al. Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa Playdough merupakan alat permainan edukatif yang efektif untuk menstimulasi perkembangan motorik halus anak usia dini. Melalui berbagai macam kegiatan playdough, dapat melatih keterampilan otot-otot kecil seperti jari jemari, anak dapat mengkoordinasikan mata dan tangan. Kegiatan ini tidak hanya menyenangkan, tetapi juga membantu anak mengenali bentuk, warna, dan tekstur. Berdasarkan observasi awal yang dilakukan oleh peneliti di PAUD Melati Indah, dari hasil pengamatan peneliti ditemukan bahwa perkembangan motorik halus anak masih belum sepenuhnya Beberapa anak tampak belum mampu memaksimalkan keterampilan manipulatif jari dan tangan, seperti menggenggam, menekan, atau membentuk dengan baik sesuai indikator dalam STPPA. Selain itu, respon anak dalam mengikuti pembelajaran juga masih bervariasi, sehingga dibutuhkan strategi stimulasi yang lebih variatif dan menyenangkan untuk mendukung perkembangan motorik Jurnal Ar-Raihanah: Pendidikan Islam Anak Usia Dini Volume 5 Nomor 2 Desember 2025 E-ISSN: 2830-5868 P-ISSN: 2614-7831 halus mereka. Salah satu upaya yang mulai diterapkan di PAUD Melati Indah adalah penggunaan playdough dalam kegiatan pembelajaran, playdough memiliki potensi besar karena teksturnya yang lentur, mudah dibentuk, dan dapat melatih koordinasi mata dan tangan serta kekuatan otot jari anak. Namun pemanfaatannya di kelas masih tergolong baru sehingga perlu dikaji lebih mendalam bagaimana media ini digunakan secara terarah sebagai alat permainan edukatif (APE) untuk menstimulasi motorik halus anak. Sejalan dengan kondisi tersebut, beberapa penelitian sebelumnya telah menunjukkan bahwa media playdough efektif dalam meningkatkan keterampilan motorik halus Penelitian oleh Hayatun, . menggunakan metode . indakan kela. pada anak usia 5-6 tahun, dan menunjukkan peningkatan signifikan dalam keterampilan manipulatif seperti menggulung, menjumput, dan membentuk playdough. Hal ini menunjukkan bahwa playdough memiliki potensi sebagai media stimulasi yang dapat di optimalkan dalam pembelajaran anak usia dini. Berbeda dengan permasalahan yang peneliti lihat di PAUD Melati Indah, menunjukkan adanya permasalahan yang perlu dikaji lebih lanjut melalui penelitian, yaitu bagaimana pemanfaatan APE playdough dalam menstimulasi perkembangan motorik halus anak, dan sejauh mana permainan edukatif playdough tersebut memberikan hasil yang signifikan terhadap perkembangan motorik halus anak usia dini. Meskipun penelitian sebelumnya telah menunjukkan efektivitas playdough dalam meningkatkan motorik halus, sebagian besar kajian berfokus pada langkah-langkah tindakan kelas maupun peningkatan hasil belajar tanpa menggambarkan bagaimana playdough digunakan dalam konteks pembelajaran sehari-hari di kelas. Selain itu, belum banyak penelitian yang mendeskripsikan secara spesifik bagaimana guru memanfaatkan playdough sebagai alat permainan edukatif dalam kegiatan rutin PAUD, terutama pada lembaga yang baru mulai menggunakan media ini. Kondisi yang peneliti temukan di PAUD Melati Indah menunjukkan bahwa pemanfaatan playdough masih dalam tahap awal sehingga diperlukan kajian lebih mendalam mengenai bagaimana media ini digunakan secara terarah dan sejauh mana memberikan hasil terhadap perkembangan motorik halus anak. Dengan demikian, penelitian ini hadir untuk mengisi kesenjangan tersebut. Berdasarkan uraian di atas, penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pemanfaatan APE playdough dalam menstimulasi perkembangan motorik halus anak usia dini di PAUD Melati Indah serta menganalisis sejauh mana permainan playdough memberikan dampak terhadap peningkatan keterampilan manipulatif anak. Penelitian ini juga berkontribusi dalam memperkaya literatur mengenai stimulasi motorik halus berbasis permainan edukatif, khususnya pada PAUD yang baru mengadaptasi media playdough dalam kegiatan pembelajaran. Selain itu, hasil penelitian dapat menjadi rujukan bagi guru dalam merancang strategi pembelajaran yang lebih variatif, konkret, dan menyenangkan untuk mengoptimalkan motorik halus anak usia dini. METODE Jenis penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Menurut Moleong. Penelitian kualitatif merupakan pendekatan untuk memahami secara mendalam berbagai fenomena yang dialami oleh subjek penelitian. fokus utama dalam pendekatan ini adalah menggali makna dari perilaku, persepsi, motivasi, tindakan, dan pengalaman individu atau kelompok. Penelitian dilakukan secara kontekstual dan holistik, yang berarti peneliti berusaha melihat suatu gejala secara menyeluruh dalam konteks aslinya. Data yang dikumpulkan disajikan dalam bentuk narasi atau deskripsi kata-kata, bukan angka. Yang dimana, peneliti berperan sebagai instrumen kunci dalam proses pengumpulan data, dan metode nya teknik observasi, wawancara, dan dokumentasi. Penelitian kualitatif deskriptif adalah jenis penelitian yang berfokus pada menyajikan fakta-fakta dan sifat-sifat objek dengan cara yang sistematis, nyata, dan tepat. Metode ini digunakan untuk mendeskripsikan dan menganalisis fenomena, peristiwa, aktivitas sosial, sikap, kepercayaan, persepsi. Jurnal Ar-Raihanah: Pendidikan Islam Anak Usia Dini Volume 5 Nomor 2 Desember 2025 E-ISSN: 2830-5868 P-ISSN: 2614-7831 dan pemikiran individu atau kelompok untuk menemukan prinsip dan penjelasan yang mengarah pada Penelitian ini dilaksanakan di PAUD Melati Indah yang berlokasi di Kp. Pancur Melati Kecamatan Taktakan Kota Serang. Adapun alasan lokasi ini dipilih secara purposive sampling karena dianggap relevan dengan topik penelitian, yakni ditemukannya guru dengan anak usia dini yang memiliki keterlibatan dalam menstimulasi perkembangan motorik halus pada anak usia dini. Dalam penelitian ini dipilih secara purposive sampling, yaitu guru dan siswa yang memiliki keterlibatan langsung dalam kegiatan pembelajaran pemanfaatan alat permainan edukatif playdough dalam menstimulasi perkembangan motorik halus anak usia dini. Fokus penelitian ini melibatkan 10 peserta didik dan 1 pendidik di PAUD Melati Indah, yang memiliki usia 4-5 tahun yang dimana tergolong dalam kelas A. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Hasil Penelitian Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemanfaatan permainan edukatif playdough di PAUD Melati Indah memberikan kontribusi signifikan terhadap stimulasi perkembangan motorik halus anak usia dini. Temuan diperoleh melalui observasi dan wawancara mendalam dengan guru kelas, kemudian dianalisis secara sistematis melalui proses open coding, axial coding, dan selective coding. Dari hasil analisis tersebut muncul empat tema utama yang menggambarkan pemanfaatan playdough dalam pembelajaran, tantangan dan strategi guru, perkembangan motorik halus anak, serta respon dan pemantauan perkembangan anak selama kegiatan. Pemanfaatan Playdough dalam Pembelajaran Guru memilih playdough sebagai media pembelajaran karena dianggap fleksibel, aman, mudah dibuat, dan sangat familiar bagi anak. Hal ini terlihat dari pernyataan guru yang menyampaikan bahwa playdough "sangat fleksibel dan aman untuk anak-anak, bisa dibuat sendiri dengan bahan sederhana, dan mudah dibentuk sesuka hati. " Kutipan tersebut mempertegas alasan pemilihan media ini, yaitu karena karakteristiknya yang lembut dan mudah dimanipulasi, sehingga cocok untuk melatih otot-otot halus tangan anak. Pandangan guru mengenai penggunaan playdough juga sangat positif. Guru menjelaskan bahwa permainan ini Ausangat bermanfaat dan efektif untuk mendukung pembelajaran, membuat anak lebih aktif, serta menumbuhkan rasa percaya diri karena anak dapat menunjukkan hasil karyanya. Ay Pernyataan ini menunjukkan bahwa playdough bukan hanya berfungsi sebagai alat bermain, melainkan juga mampu menciptakan suasana belajar yang lebih hidup dan interaktif. Guru merasa terbantu karena media ini membuat proses pembelajaran lebih bermakna dan memotivasi anak untuk terlibat secara aktif. Dari sisi persiapan, guru memanfaatkan berbagai alat dan bahan yang dibuat secara mandiri. Guru mengungkapkan bahwa ia menyiapkan kartu huruf dari kardus bekas dan membuat playdough sendiri menggunakan bahan sederhana seperti tepung terigu, pewarna makanan, garam, minyak, dan Guru juga menyediakan peralatan seperti nampan dan wadah penyimpanan. Hal ini menunjukkan kreativitas guru dalam menyiapkan media belajar yang murah tetapi efektif, sekaligus aman bagi anak. Kegiatan bermain dengan playdough dilakukan secara beragam. Guru menjelaskan bahwa anakanak melakukan berbagai aktivitas seperti Aumembuat bentuk dasar, menjiplak huruf, menggulung, memelintir, menekan, menjumput, mengepal, serta membuat kreasi bebas sesuai imajinasi. Ay Ragam aktivitas ini memperlihatkan bahwa playdough digunakan secara sistematis untuk menstimulasi keterampilan motorik halus sekaligus kreativitas anak. Jurnal Ar-Raihanah: Pendidikan Islam Anak Usia Dini Volume 5 Nomor 2 Desember 2025 E-ISSN: 2830-5868 P-ISSN: 2614-7831 Gambar 1. Penggunaan Permainan Playdough Tantangan dan Strategi Guru Dalam pelaksanaannya, guru menghadapi beberapa kendala. Kendala utama adalah keterbatasan jumlah playdough dan warna favorit yang tidak mencukupi. Guru menyampaikan bahwa anak-anak Ausering berebut warna, terutama warna kuning,Ay sehingga membuat situasi kelas kurang kondusif. Meskipun guru telah menyediakan beberapa variasi warna, jumlah yang terbatas tetap menjadi tantangan dalam mengelola dinamika kelas. Untuk mengatasi hal tersebut, guru menerapkan strategi persuasif dengan memberikan pengertian kepada anak tentang pentingnya berbagi dan menawarkan warna lain sebagai alternatif. Guru menjelaskan bahwa ia Aumerayu sekaligus menawarkan variasi warna lain kepada anak-anakAy agar mereka tetap mau bermain tanpa berebut. Strategi ini menunjukkan kemampuan guru dalam mengelola kelas melalui pendekatan komunikasi yang lembut dan mendidik. Stimulasi Perkembangan Motorik Halus Anak Hasil penelitian menunjukkan bahwa kegiatan bermain playdough mampu menstimulasi berbagai aspek perkembangan motorik halus anak. Guru menyatakan bahwa kegiatan ini Aumelatih otot-otot halus anak dan mengembangkan kreativitas, karena anak dapat mengekspresikan apa yang mereka Ay Hal ini menandakan bahwa permainan playdough memberikan ruang bagi anak untuk mengembangkan kekuatan genggaman, keluwesan jari, serta kemampuan koordinasi mata dan tangan. Guru juga menjelaskan secara rinci perkembangan keterampilan tangan yang dialami anak. mengungkapkan bahwa anak menjadi lebih kuat menggenggam playdough, lebih terarah saat menjumput menggunakan ibu jari dan telunjuk, dan lebih luwes ketika menggulung atau mengepal. Aktivitas membuat bola atau bentuk ular juga melibatkan kedua tangan, sehingga koordinasi tangan kanan dan kiri anak semakin baik. Berdasarkan observasi dan wawancara, perkembangan motorik halus anak menunjukkan hasil yang berbeda-beda. Anak seperti L. A, dan I memperlihatkan perkembangan yang sangat baik. Misalnya, guru menjelaskan bahwa L Aukoordinasi mata dan tangannya semakin baik ketika menggulung playdough,Ay sementara K Ausangat teliti, mampu menekan dan mengepal dengan kekuatan jari yang Ay Anak A Autelah mampu menjiplak dan membentuk pola huruf dengan dua tangan,Ay sedangkan I menunjukkan peningkatan kekuatan jari setelah bermain playdough secara berulang. Anak lain seperti N. T, dan M juga menunjukkan kemajuan signifikan. Guru menjelaskan bahwa N awalnya kaku, tetapi kini Aumulai menguasai kekuatan jari-jemarinya,Ay sedangkan F yang awalnya sulit fokus kini Aulebih terkontrol dalam menggulung, mengepal, dan menjumput. Ay T bahkan mampu Jurnal Ar-Raihanah: Pendidikan Islam Anak Usia Dini Volume 5 Nomor 2 Desember 2025 E-ISSN: 2830-5868 P-ISSN: 2614-7831 membuat bentuk rumah, menunjukkan keluwesan otot dan kreativitas yang berkembang. M tampil sangat kuat dalam menggulung dan membentuk objek kecil, dengan koordinasi mata yang baik. Sementara itu, anak R dan S berada pada tahap Mulai Berkembang. Guru menjelaskan bahwa R mulai mampu Aumembuat garis dan menggulung meski belum rapi,Ay sedangkan S yang awalnya bingung kini Aumampu menggulung, menekan, dan membentuk setelah diberi contoh. Ay Meskipun membutuhkan bimbingan tambahan, kedua anak menunjukkan perkembangan yang positif. Secara keseluruhan, mayoritas anak berada pada kategori Berkembang Sesuai Harapan (BSH) hingga Berkembang Sangat Baik (BSB), sehingga dinilai siap memasuki tahap pra-menulis. Respon dan Pemantauan Perkembangan Anak Anak-anak menunjukkan respon yang sangat positif terhadap kegiatan bermain playdough. Guru mengungkapkan bahwa ketika playdough diberikan, anak-anak Aulangsung berebut dan terlihat sangat senang,Ay menunjukkan antusiasme tinggi dan kesiapan mengikuti kegiatan. Guru juga melakukan pemantauan perkembangan secara langsung dengan berkeliling mengamati hasil karya setiap anak. Guru menjelaskan bahwa ia menilai kemampuan anak berdasarkan bentuk yang dihasilkan, seperti bola, rumah, ular-ularan, atau boneka salju. Melalui proses ini, guru dapat melihat secara jelas perkembangan motorik halus setiap anak berdasarkan ketepatan bentuk, kekuatan genggaman, dan koordinasi gerak jari. PEMBAHASAN Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pemanfaatan permainan edukatif playdough di PAUD Melati Indah berkontribusi nyata dalam menstimulasi perkembangan motorik halus anak usia dini. Temuan observasi dan kutipan dari guru aktivitas menggulung, menjiplak huruf, menjumput dengan ibu jari dan telunjuk, serta peningkatan kekuatan genggaman konsisten dengan penelitian empiris yang melaporkan peningkatan keterampilan motorik halus setelah intervensi bermain playdough. Studi eksperimental dan quasi-eksperimental sebelumnya menemukan pengaruh positif permainan playdough terhadap kemampuan motorik halus anak prasekolah (Sutapa et al. , 2. Penjelasan teoretis pertama yang mendasari temuan ini berasal dari pendekatan konstruktivissosiokultural Lev Vygotsky. Aktivitas playdough yang dipandu guru menyediakan konteks sosial dan scaffolding guru memberi contoh, membimbing, dan menawarkan variasi sehingga anak yang awalnya Aubelum bisaAy mampu melakukan gerakan halus yang lebih kompleks setelah bantuan. Pernyataan guru tentang memberi contoh kepada S dan mengelilingi setiap anak untuk menilai hasil karya adalah aplikasi praktis konsep Zone of Proximal Development (ZPD): apa yang anak lakukan dengan bantuan hari ini akan menjadi ketrampilan mandiri di masa mendatang. Hal ini menegaskan bahwa interaksi sosial yang diarahkan guru dan pemberian contoh sangat krusial untuk memindahkan kemampuan motorik halus anak ke level berikutnya (Shabani, 2. Secara perkembangan motorik, aktivitas manipulatif dengan playdough . enggulung, memelintir, menjumput, mengepal, meneka. secara langsung melatih otot-otot kecil tangan dan koordinasi mata-tangan. Literatur kajian tentang keterkaitan fine motor dan kesiapan menulis menunjukkan bahwa keterampilan manipulatif dan visual-motor merupakan komponen penting dalam kesiapan pra-menulis dan kemampuan menulis selanjutnya. Dengan kata lain, temuan bahwa beberapa anak (L. M) mencapai kategori BSHAeBSB dan menunjukkan kesiapan pra-menulis sejalan dengan literatur yang mengaitkan latihan fine motor konkret dengan peningkatan kesiapan menulis (Priyadi et al. , 2. Selain aspek motorik, penelitian ini juga menunjukkan bahwa playdough berperan dalam perkembangan afektif dan kognitif anak menjadi lebih bersemangat, percaya diri, dan kreatif ketika menampilkan karyanya. Ini selaras dengan kajian play-based learning yang menyatakan bahwa pembelajaran berbasis permainan meningkatkan keterlibatan, motivasi, ekspresi kreatif, dan berbagai Jurnal Ar-Raihanah: Pendidikan Islam Anak Usia Dini Volume 5 Nomor 2 Desember 2025 E-ISSN: 2830-5868 P-ISSN: 2614-7831 domain perkembangan kognitif, sosial-emosional, fisik. Dengan demikian, playdough berfungsi sebagai media multisensorial yang tidak hanya melatih keterampilan motorik tetapi juga mendukung perkembangan holistik anak (Sitorus et al. , 2. Temuan mengenai kendala praktis . eterbatasan jumlah bahan, anak berebut warn. menyoroti aspek implementasi program intervensi berbasis permainan. Studi-studi intervensi serupa sering melaporkan isu logistik dan pengelolaan kelas sebagai hambatan umum. hal ini menuntut strategi manajemen materi . membuat playdough tambahan, rotasi kelompok kecil, penggunaan alternatif bahan manipulati. dan pendekatan pengajaran yang menekankan normasi berbagi sebagai bagian dari pembelajaran sosial. Strategi persuasif guru dalam penelitian ini memberi pengertian, menawarkan variasi warna menunjukkan praktik manajemen kelas yang sesuai dengan rekomendasi intervensi playbased yang efektif (Wijaya et al. , 2. KESIMPULAN Penelitian ini menunjukkan bahwa pemanfaatan permainan edukatif playdough di PAUD Melati Indah memberikan kontribusi signifikan terhadap stimulasi perkembangan motorik halus anak usia dini. Playdough terbukti menjadi media pembelajaran yang efektif karena memiliki tekstur yang fleksibel, aman digunakan, dan mampu menciptakan suasana belajar yang menyenangkan serta interaktif. Guru juga menunjukkan kreativitas dalam menyiapkan alat dan bahan secara mandiri, sehingga media ini dapat digunakan secara optimal dalam kegiatan pembelajaran sehari-hari. Berbagai aktivitas manipulatif seperti menggulung, memelintir, menekan, menjumput, mengepal, hingga menjiplak huruf berdampak langsung pada peningkatan kekuatan otot jari, koordinasi mata-tangan, serta keluwesan gerak anak. Selain memberikan manfaat pada perkembangan motorik halus, penggunaan playdough juga memberikan pengaruh positif terhadap aspek afektif dan kognitif, yang terlihat dari meningkatnya motivasi belajar, kepercayaan diri, imajinasi, serta kreativitas anak. Temuan ini sejalan dengan teori Vygotsky mengenai peran penting scaffolding dan interaksi sosial dalam pembelajaran manipulatif. Meskipun demikian, kendala tetap ditemukan, seperti keterbatasan bahan dan perebutan warna playdough antar anak. Namun, guru mampu mengendalikan situasi melalui pendekatan persuasif, penguatan perilaku berbagi, dan pemberian alternatif pilihan warna, sehingga kegiatan tetap berjalan dengan kondusif. Implikasi dari penelitian ini menunjukkan bahwa guru perlu semakin kreatif dalam mengembangkan variasi aktivitas yang melibatkan playdough, tidak hanya fokus pada aspek motorik halus, tetapi juga mengintegrasikannya dengan pengembangan bahasa, kognitif, dan sosial emosional. Bagi lembaga PAUD, temuan penelitian ini memberikan penguatan bahwa media playdough layak dimasukkan ke dalam program pembelajaran rutin karena terbukti mendukung perkembangan holistik anak sekaligus meminimalkan penggunaan media pembelajaran yang mahal dan kurang fleksibel. Lembaga juga dapat mempertimbangkan penyediaan pelatihan sederhana bagi guru tentang inovasi media manipulatif agar pemanfaatannya semakin optimal. Untuk penelitian selanjutnya, disarankan agar kajian dilakukan pada kelompok usia yang berbeda, seperti anak usia 3Ae4 tahun atau 5Ae6 tahun, guna melihat bagaimana efektivitas playdough berkontribusi pada tahapan perkembangan yang Penelitian dengan metode campuran . ixed method. juga dapat memberikan gambaran yang lebih komprehensif mengenai dampak playdough, baik dari sisi peningkatan keterampilan motorik halus maupun respons emosional dan sosial anak secara lebih terukur. Secara keseluruhan, penelitian ini menegaskan bahwa playdough bukan hanya alat permainan, melainkan media edukatif yang efektif dan relevan untuk digunakan secara berkelanjutan dalam pendidikan anak usia dini. Media ini tidak hanya mendukung stimulasi motorik halus tetapi juga memperkaya pengalaman belajar anak secara holistik sesuai prinsip pembelajaran aktif dan bermain sambil belajar. DAFTAR KEPUSTAKAAN Agustia. Merancang Alat Permainan Edukatif (APE) Bagi Anak Usia Dini. Jurnal Egileaner. Jurnal Ar-Raihanah: Pendidikan Islam Anak Usia Dini Volume 5 Nomor 2 Desember 2025 E-ISSN: 2830-5868 P-ISSN: 2614-7831 , 1Ae9. AH. Penggunaan Alat Permainan Edukatif dalam Menstimulasi Perkembangan FisikMotorik Anak Usia Dini. SELING: Jurnal Program Studi PGRA, 4. , 125Ae138. Ariyanti. Pentingnya pendidikan anak usia dini bagi tumbuh kembang anak the importance of childhood education for child development. Dinamika Jurnal Ilmiah Pendidikan Dasar, 8. Ayuningtyas. Mulyawan. , & Syahidah. Persepsi Orang Tua dalam Pengenalan Numerasi Secara Digital dan Konfensional Pada Anak Usia Dini di Lingkungan Keluarga. Jurnal Inovasi Dan Teknologi Pendidikan, 3. Erviana. Kasanah. Sari. Munawir. Mahendra. Munawaroh. Maulidia. Fajrinur. Mulyawan. , & Mulyani. Perkembangan Anak Usia Dini: Kunci untuk Orang Tua dan Pendidik. Penerbit Mifandi Mandiri Digital , 1. Haeriyah. Laili. , & Mulyawan. Meninjau Kemandirian Anak Usia Dini melalui Gaya Pengasuhan Demokratis di PAUD As-SaAoadah Kota Cilegon. Asian Journal of Early Childhood and Elementary Education, 2. Hayatun. Mengembangkan Kemampuan Motorik Halus Anak Usia Dini Melalui Kegiatan Bermain Playdough. DZURRIYAT: Jurnal Pendidikan Islam Anak Usia Dini, 1. , 27Ae32. https://doi. org/10. 61104/jd. Hurlock. Perkembangan Motorik Halus. Erlangga. Kurniawati. Mulyawan. , & Sunarti. Development of the SERIBU (Sex Education. Friendly and Interactiv. Application as a Guidance Service Media for Preventive Efforts from Sexual Abuse. KONSELI: Jurnal Bimbingan Dan Konseling (E-Journa. , 11. , 179Ae186. Moleong. Metodologi Penelitian Kualitatif. Remaja Rosdakarya. Mulyadi. , et al. Pelatihan Pembuatan Media Alat Permainan Edukatif (APE) Berbahan Bekas Bagi Guru TK Laboratorium Persada Khatulistiwa. JPPM: Jurnal Pelayanan Dan Pemberdayaan Masyarakat, 3. , 30Ae38. https://doi. org/10. 31932/jppm. Mulyawan. , et al. Persepsi Orang Tua dalam Pengenalan Numerasi Secara Digital dan Konfensional Pada Anak Usia Dini Lingkungan Keluarga. Http://Jurinotep. Lppmbinabangsa. Ac. Id/Index. Php/Home, 3. , 241Ae255. Mulyawan. Kurniawati. , & Sari. Pengembangan Buku Bertekstur dalam Menstimulus Motorik Halus Anak. , 749Ae756. https://doi. org/10. 31004/obsesi. Permendikbud No. Standar Tingkat Pencapaian Perkembangan Anak. Peraturan Menteri Pendidikan Dan Kebudayaan Republik Indonesia, 1Ae31. Pratama. Implementasi Permainan Playdough Dalam Mengembangkan Kognitif TK Ceria Banjarrejo. , 238Ae246. Primayana. Meningkatkan Keterampilan Motorik Halus Berbantuan Media Kolase Pada Anak Usia Dini. PURWADITA: Jurnal Agama Dan Budaya, 4. , 91Ae100. Priyadi. Dwi. Wati. Amir. Gover. Ringo. Gatot. Yuliana. Khory. Auliya, . Ghasya. , & Haetemi. How are motor skills and writing readiness in children? A literature review ACymo son las habilidades motrices y la preparaciyn para la escritura en los niyos? Una revisiyn bibliogryfica. 2041, 141Ae147. Jurnal Ar-Raihanah: Pendidikan Islam Anak Usia Dini Volume 5 Nomor 2 Desember 2025 E-ISSN: 2830-5868 P-ISSN: 2614-7831 Putri. Safitri. , & Lestari. Peran Motorik Halus dalam Perkembangan Pra-Menulis Anak Usia 4-5 Tahun. Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini, 8. , 21-29. Rahmawati. , & Saputri. Pemanfaatan Gamifikasi untuk Meningkatkan Pengembangan Diri Siswa di SMPN 15 Kota Serang. Indonesian Research Journal on Education, 5. , 587Ae593. Sari. , et al. Pengembangan Media Playdough Untuk Meningkatkan Kreativitas Anak Kelompok A. CERIA (Cerdas Energik Responsif Inovatif Adapti. , 5. , 36. Shabani. Vygotsky Ao s Zone of Proximal Development : Instructional Implications and Teachers Ao Professional Development. , 237Ae248. Sitorus. Siregar. Sari. , & Utara. Educia Journal. , 1Ae14. Suminah. Sari. , & Mulyawan. The Effect of Lego Educational Games on SocioEmotional Development of Early Childhood At Rifa PAUD Cilegon City. ICoCSE Proceedings, 1. Sutapa. Suhartini. Sabillah. , & Annasai. The Effect of Playdough Play on Early Childhood Fine Motor Improvement in Yogyakarta National Kindergarten . , 879Ae883. https://doi. org/10. 47191/ijmra/v6-i3-04 Wijaya. Sabillah. Annasai. Sella. , & Fitri. The effect of playing playdough and collage on improving fine motor skills in early childhood in terms of independence El efecto de jugar plastilina y collage en la mejora de las habilidades motoras finas en la primera infancia en tyrminos de independencia. 2041, 1146Ae1152. Wisudayanti. Peningkatan Motorik Halus Anak Usia Dini. Purwadita: Jurnal Agama Dan Budaya, 1. , 8Ae13. Yati. Mengenal Pertumbuhan dan Perkembangan Anak Usia Dini. Al Athfal : Jurnal Kajian Perkembangan Anak Dan Manajemen Pendidikan Usia Dini , 1. , 1Ae15. Yuniyartika, & S. Pengaruh Media Playdough terhadap Perkembangan Motorik Halus dan Bermain Playdough Anak Usia Dini. Jurnal Penelitian Dan Analisis Multidisipliner, 7. , 3216Ae https://doi. org/10. 47191/ijmra/v7-i07-19