Maria Putri Sania Enjelu. David Djerubu. Fransiska Kurniati Natul Hubungan Antara Self Efficacy dengan Kepatuhan Menjalani Terapi Obat Anti Tuberkulosis (OAT) pada Pasien Tuberkulosis Paru di RSUD Ruteng HUBUNGAN ANTARA SELF EFFICACY DENGAN KEPATUHAN MENJALANI TERAPI OBAT ANTI TUBERKULOSIS (OAT) PADA PASIEN TUBERKULOSIS PARU DI RSUD RUTENG Maria Putri Sania Enjelu. David Djerubu. Fransiska Kurniati Natul. Universitas Katolik Indonesia Santu Paulus Ruteng. Jl. Jendral A. Yani No. Manggarai. Kecamatan Ruteng. Kabupaten Manggarai. Nusa Tenggara Timur 86511. Email: putrysania24@gmail. Universitas Katolik Indonesia Santu Paulus Ruteng. Jl. Jendral A. Yani No. Manggarai. Kecamatan Ruteng. Kabupaten Manggarai. Nusa Tenggara Timur 86511. Universitas Katolik Indonesia Santu Paulus Ruteng. Jl. Jendral A. Yani No. Manggarai. Kecamatan Ruteng. Kabupaten Manggarai. Nusa Tenggara Timur 86511 ABSTRAK Latar belakang: Penyakit Tuberkulosis (TB) paru tetap menjadi masalah serius di bidang kesehatan global, dan Indonesia mengalami peningkatan jumlah kasus tertinggi kedua di dunia. Di RSUD Ruteng data menunjukan adanya kesulitan dalam kepatuhan pasien terhadap terapi Obat Anti Tuberkulosis (OAT). Meskipun penelitian serupa telah dilakukan di berbagai wilayah, studi di Kabupaten Manggarai masih terbatas. Dengan tingginya prevalensi TB paru di Manggarai, penting untuk memahami faktor-faktor yang mempengaruhi kepatuhan, khususnya self-efficacy, sebagai dasar untuk mengembangkan strategi intervensi yang lebih efektif di tingkat lokal. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari hubungan antara self efficacy dengan kepatuhan menjalani terapi OAT pada pasien TB paru di RSUD Ruteng. Metode: Desain penelitian yang digunakan adalah analitik korelatif dengan metode pendekatan cross Teknik pengambilan sampel yang diterapkan adalah non probability sampling dengan metode accidental sampling, melibatkan 108 orang pasien TB Paru. Analisis data dilakukan dengan analisis univariat yaitu distribusi frekuensi dan analisis bivariat menggunakan uji statistik kendallAos tau. Hasil: Analisis univariat menunjukkan bahwa sebanyak 55 responden . ,9%) memiliki self-efficacy baik, sementara 40 responden . ,0%) menunjukan kepatuhan baik terhadap terapi OAT. Ditemukan hubungan yang signifikan antara self efficacy dengan kepatuhan menjalani terapi OAT pada pasien TB Paru di RSUD Ruteng dengan nilai P value 0,006 (<0,. Simpulan: dari penelitian ini Self efficacy memiliki hubungan yang signifikan dengan kepatuhan pasien dalam menjalani terapi OAT. Kata Kunci: Kepatuhan. Self Efficacy. TB Paru. Terapi OAT ABSTRACT Background :Pulmonary tuberculosis (TB) remains a serious global health issue, and Indonesia has the second highest number of cases in the world. Data from Ruteng Regional General Hospital shows difficulties in patient compliance with anti-tuberculosis drug therapy (OAT). Although similar studies have been conducted in various regions, research in Manggarai District remains limited. Given the high prevalence of pulmonary TB in Manggarai, it is crucial to understand the factors influencing adherence, particularly self-efficacy, as a foundation for developing more effective intervention strategies at the local level. Objectives: This study aims to investigate the relationship between self-efficacy and adherence to OAT therapy among pulmonary TB patients at Ruteng General Hospital. Research ICare : Jurnal Keperawatan STIKes Panti Rapih. Vol. 6 No. 2 Tahun 2025 Methods: The study design used was an analytical correlational design with a cross-sectional The sampling technique applied was non-probability sampling using accidental sampling, involving 108 pulmonary TB patients. Data analysis was conducted using univariate analysis . requency distributio. and bivariate analysis using Kendall's tau statistical test. Results: Univariate analysis showed that 55 respondents . 9%) had good self-efficacy, while 40 respondents . 0%) demonstrated good adherence to OAT therapy. A significant association was found between self-efficacy and adherence to OAT therapy among pulmonary TB patients at Ruteng General Hospital, with a P-value of 0. 006 (<0. Conclusions: of this study is that self-efficacy has a significant association with patient adherence to OAT therapy. Keywords: Adherence. Self Efficacy. Pulmonary TB. OAT Therapy PENDAHULUAN Penyakit menular merupakan faktor utama kematian di seluruh dunia. Di antara penyakit menular. TB paru memiliki peringkat kedua setelah Coronavirus Disease 2019 (COVID-. dan menempati posisi ke-13 di seluruh dunia. Penyakit ini juga menjadi penyebab kematian utama bagi orang yang terinfeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV) dan merupakan faktor kematian utama yang berkaitan dengan resistensi antimikroba (Kementerian kesehatan RI, 2. Tuberkulosis adalah infeksi yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis menyebabkan sekitar 4000 kematian setiap hari di seluruh dunia, menjadikannya penyakit menular dengan angka kematian tertinggi (Fuady et al. , 2. Menurut informasi dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada tahun 2022, diperkirakan ada sekitar 26,3 juta orang yang menderita TB paru antara tahun 2018 dan 2021. Indonesia merupakan negara dengan peningkatan jumlah kasus TB paru tertinggi kedua di seluruh dunia. Laporan dari Kementerian kesehatan RI mengenai TB Global tahun 2022 menyebutkan tahun 2021 diperkirakan ada sekitar 969. 000 kasus TB paru di Indonesia, yang setara dengan 354 kasus 000 orang. Berdasarkan Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2023 Nusa Tenggara Timur menjadi urutan ke-19 provinsi dengan prevalensi TBC terbanyak yaitu sebesar 5. 089 kasus. Badan Pusat Statistik mencatat kasus TB paru mengalami peningkatan sebanyak 9. Urutan kabupaten tertinggi yaitu Kota kupang dengan kasus 1. 253 dan di ikuti Sumba Barat Daya yaitu 702 kasus. Kabupaten Manggarai menjadi Kabupaten tertinggi TB paru Ke-11 dengan kasus sebanyak 437 . Prevalensi tuberkulosis paru di NTT menunjukkan peningkatan setiap tahunnya antara tahun 2018 hingga 2023. Kabupaten Manggarai termasuk daerah dengan tingkat TB paru yang tinggi (SKI, 2. Peningkatan jumlah kasus TB paru terlihat jelas dari tahun 2018 hingga 2023. Di Manggarai, angka tertinggi untuk kasus TB paru ditemukan di Maria Putri Sania Enjelu. David Djerubu. Fransiska Kurniati Natul Hubungan Antara Self Efficacy dengan Kepatuhan Menjalani Terapi Obat Anti Tuberkulosis (OAT) pada Pasien Tuberkulosis Paru di RSUD Ruteng RSUD Ruteng , yang mencatat sebanyak 343 kasus. Tercatat jumlah kasus yang diobati yaitu 100%, namun tingkat kesembuhan hanya mencapai 120 kasus (RISKESDAS, 2. Untuk menangani TB paru dilakukan upaya promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif. Menurut Kementerian Kesehatan Republik Indonesia pada tahun 2020, pendekatan global untuk mengatasi TB menggunakan strategi yang dikenal sebagai End TB Strategy , yang dibuat oleh WHO dengan tujuan untuk mengakhiri wabah TB di seluruh dunia. Untuk mendukung strategi ini, pemerintah Indonesia sedang melaksanakan program yang selaras dengan rencana WHO, yaitu program Directly Observed Treatment Short Course (DOTS). Program ini bertujuan memberikan obat anti tuberkulosis (OAT) selama enam hingga delapan Durasi pengobatan yang cukup panjang ini sering kali membuat pasien TB tidak mematuhi aturan obat. Ketidakpatuhan dalam mengikuti pengobatan TB paru dapat meningkatkan risiko kegagalan pengobatan dan kemungkinan penularan kepada orang lain (Harahap. Amalia dan Listia, 2. Penelitian yang dilakukan oleh Tukayo pada tahun 2020 menunjukkan bahwa efikasi diri merupakan faktor utama yang mempengaruhi kepuasan, dengan persentase tertinggi sebesar 47,8 %. Diikuti dengan dukungan dari keluarga yang tercatat sebesar 47,6 % dan dukungan dari petugas kesehatan sebesar 45,5%. Penemuan ini diperkuat oleh penelitian yang dilakukan oleh Dewi dkk di tahun 2022, yang mengungkapkan bahwa ada hubungan yang kuat antara efikasi diri dan kepatuhan pasien tuberkulosis paru. Kepercayaan individu terhadap kemampuan mereka dalam merencanakan dan menyelesaikan aktivitas yang membawa hasil yang berarti disebut sebagai efikasi diri. Pada pasien tuberkulosis yang memiliki efikasi diri yang tinggi, mereka cenderung mampu melakukan perawatan diri yang lebih baik selama pengobatan penyakit mereka, yang pada pasangannya akan meningkatkan kepatuhan terhadap pengobatan yang diberikan (Girsang. Sedangkan rendahnya self efficacy atau keyakinan diri pada pasien TB paru dapat memiliki dampak negatif yang signifikan terhadap keberhasilan pengobatan dan kualitas hidup mereka (Parwati et al. , 2. METODE PENELITIAN Desain penelitian yang digunakan dalam penelitian ini analitik korelatif dengan pendekatan cross sectional. Subjek dalam penelitian ini adalah pasien yang didiagnosis dengan tuberkulosis paru di RSUD Ruteng pada bulan November hingga Desember 2024 , dengan total 149 pasien yang tercatat. Teknik pemilihan sampel dalam penelitian ini ICare : Jurnal Keperawatan STIKes Panti Rapih. Vol. 6 No. 2 Tahun 2025 menggunakan Non-Probability Sampling dengan pendekatan accidental sampling. Jumlah sampel yang diambil adalah 108 responden, yang merupakan pasien TB paru di RSUD Ruteng. Kriteria inklusi dalam penelitian ini mencakup . pasien tuberkulosis paru aktif, pasien yang menjalani terapi OAT, pasien yang mampu memahami proses secara verbal maupun tulisan, serta pasien yang memiliki riwayat perawatan di RSUD Ruteng. Sedangkan kriteria eksklusi meliputi pasien yang mengalami gangguan mental atau jiwa dan pasien TB paru yang memiliki komplikasi. Pengambilan data dilakukan pada periode Desember 2024-Januari 2025 Pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan kuesioner TBSES (Tuberculosis Self-Efficacy Scal. yang terdiri dari 21 pertanyaan dan MMAS-8 (Morisky Medication Adherence Scal. yang terdiri dari 8 pertanyaan. Kuesioner yang digunakan sudah dilakukan uji validitas dan realiabilitasnya untuk setiap item pertanyaan. Teknik analisis data yang digunakan yaitu analisa univariat dan bivariat. Analisa univariat dilakukan dengan menggunakan distribusi frekuensi untuk melihat gambaran tentang masing-masing variabel yang diteliti. Sedangkan bivariat menggunakan uji KendallAos Tau yaitu untuk mengukur kekuatan dan arah hubungan antara dua variabel ordinal. HASIL PENELITIAN Analisis Univariat Karakteristik responden sesuai dengan data demografi pada pasien TB paru yang telah melakukan pengisian kuesioner seperti umur, jenis kelamin, pendidikan terakhir, pekerjaan, tempat tinggal, durasi mengidap TB, status pengobatan TB, tinggal bersama, akses ke fasilitas kesehatan, merokok, dan riwayat TB dalam keluarga. Tabel 1. Distribusi Frekuensi Data Demografi Pasien TB Paru RSUD Ruteng. Karakteristik Responden Frekuensi . Persentase (%) Usia 10-19 Tahun 20-24 Tahun 25-44 Tahun 45-59 Tahun >60 Tahun Total Jenis Kelamin Laki-laki Perempuan Total Alamat Pedesaan Perkotaan Total Pendidikan Terakhir Tidak Sekolah SMP Maria Putri Sania Enjelu. David Djerubu. Fransiska Kurniati Natul Hubungan Antara Self Efficacy dengan Kepatuhan Menjalani Terapi Obat Anti Tuberkulosis (OAT) pada Pasien Tuberkulosis Paru di RSUD Ruteng Total Status Pengobatan TB Total Tinggal Bersama Total Akses ke fasilitas kesehatan Total Merokok Total Riwayat TB dalam keluarga Total Sumber : (Data primer 2. SMA S1/Diploma S2/S3 Tahap Intensif Tahap Lanjutan Sendiri Keluarga Lainnya Sering Kadang-kadang Tidal Ada Tidak Ada Berdasarkan tabel 1 diatas menunjukkan bahwa mayoritas pasien TB paru berada dalam usia produktif 25-44 tahun . %) dan didominasi oleh laki-laki . ,9%). Sebagian besar tinggal di pedesaan . ,7%) dengan tingkat pendidikan terbanyak SMA . ,1%). Sebanyak 48,1% baru mengidap TB kurang dari 6 bulan, dengan distribusi status pengobatan yang seimbang antara tahap intensif dan lanjutan masing-masing . %). Mayoritas pasien tinggal bersama keluarga . ,9%), dengan akses ke fasilitas kesehatan jarang . ,5%). Sebanyak 48,1% responden merokok dan 42,6% memiliki riwayat TB dalam keluarga. Tabel 2. Distribusi Frekuensi Self efficacy Pada pasien TB Paru di RSUD Ruteng. Self Efficacy Frekuensi. Persentase (%) Baik Cukup Kurang Total Sumber : (Data primer 2. Berdasarkan tabel 2 menunjukkan bahwa analisis data mengenai frekuensi distribusi efikasi diri pada penderita TB paru di RSUD Ruteng, ditemukan bahwa 55 individu . ,9%) menunjukkan tingkat kepercayaan diri yang tinggi selama terapi. Sebanyak 49 orang . ,4%) memiliki kepercayaan diri cukup dan 4 orang responden . ,7%) menunjukkan tingkat kepercayaan diri yang rendah . Tabel 3. Distribusi Frekuensi Kepatuhan Menjalani Terapi OAT Pada Pasien TB Paru di RSUD Ruteng ICare : Jurnal Keperawatan STIKes Panti Rapih. Vol. 6 No. 2 Tahun 2025 Kepatuhan Frekuensi. Baik Cukup Kurang Total Sumber : (Data primer 2. Persen(%) Berdasarkan tabel 3 diatas menunjukkan bahwa frekuensi kepatuhan dalam menjalani terapi OAT untuk pasien TB paru di RSUD Ruteng, terdapat 40 responden . ,0%) yang menunjukkan kepatuhan tinggi terhadap terapi OAT. Selanjutnya 37 responden . ,3%) menunjukkan tingkat kepatuhan yang sedang, dan 31 responden . ,7%) memiliki tingkat kepatuhan yang rendah. Analisis Bivariat Tabel 4. Hubungan Self efficacy dengan Kepatuhan Menjalani Terapi OAT Pada Pasien TB Paru di RSUD Ruteng. Kepatuhan KendallAos Tau b Baik Cukup Kurang Total Value Self efficacy Baik 29 52,7% 14 25,5% 12 21,8% 55 50,9% Cukup 10 20,4% 20 40,8% 19 38,8% 49 45,4% 0,006 0,247 Kurang 3,7% Total 40 37% 37 34,3% 31 28,7% 108 100% Berdasarkan tabel 4 menunjukkan bahwa keterkaitan antara kepercayaan diri . elf efficac. dan kepatuhan dalam mengikuti terapi OAT pada pasien TB Paru di RSUD Ruteng . Dari jumlah responden tersebut, sebanyak 55 orang . ,9%) memiliki tingkat kepercayaan diri yang tinggi . Dari mereka, 29 orang . ,7%) menunjukkan tingkat kepatuhan yang tinggi, sementara 14 orang . ,5%) berada pada tingkat kepatuhan yang sedang, dan 12 orang . ,8%) memiliki tingkat kepatuhan yang rendah. Selanjutnya, 49 orang dengan kepercayaan diri sedang . ,4%) melaporkan bahwa 10 orang . ,4%) memiliki kepatuhan yang tinggi, 20 orang . ,8%) menunjukkan kepatuhan yang sedang, dan 19 orang . ,8%) memiliki kepatuhan yang rendah. Terakhir, dari 4 orang yang memiliki kepercayaan diri rendah . ,7%), 1 orang . %) menunjukkan kepuasan yang tinggi, 3 orang . %) berada pada tingkat kepatuhan sedang, dan tidak ada yang memiliki kepuasan rendah . %). Analisis yang dilakukan dengan uji statistik KendallAos Tau-b menunjukan hasil yang signifikan . -valu. 0,006. Hal ini mengindikasikan adanya hubungan yang signifikan antara self efficacy dan kepatuhan menjalani terapi OAT pada pasien TB Paru . < 0,. Koefisien Maria Putri Sania Enjelu. David Djerubu. Fransiska Kurniati Natul Hubungan Antara Self Efficacy dengan Kepatuhan Menjalani Terapi Obat Anti Tuberkulosis (OAT) pada Pasien Tuberkulosis Paru di RSUD Ruteng korelasi KendallAos Tau-b sebesar 0,247 mengindikasikan hubungan positif dan yang berarti semakin tinggi self-efficacy seseorang, maka semakin tinggi pula kepatuhannya dalam menjalani terapi OAT. PEMBAHASAN Berdasarkan hasil penelitian di RSUD Ruteng dari 108 responden TB Paru diperoleh bahwa Self Efficacy baik sebanyak . ,9%), cukup . ,4%), dan kurang . ,7%). Temuan ini memberikan gambaran bahwa sebagian besar pasien memiliki kepercayaan diri yang cukup tinggi dalam menjalani terapi OAT. Tingkat self-efficacy yang tinggi ini menunjukkan adanya optimisme pasien untuk sembuh, yang kemungkinan didukung oleh pemahaman yang baik terhadap penyakit, dukungan dari keluarga, serta interaksi yang positif dengan tenaga Keyakinan individu mengenai kemampuan untuk mencapai tujuan yang diinginkan, termasuk menyelesaikan pengobatan , dikenal sebagai self efficacy (Sinurat, 2. Mereka yang memiliki tingkat efikasi diri yang tinggi biasanya menunjukkan komitmen yang kuat serta percaya diri saat menahan tantangan dalam proses pengobatan. Penelitian (Berliana & Suratmini, 2. menegaskan bahwa pasien dengan efikasi diri yang tinggi cenderung lebih patuh dalam menjalani pengobatan karena mereka percaya bahwa tindakan yang mereka lakukan akan berkontribusi pada kesembuhan. Penjelasan dari (Harahap dkk. , 2. juga menyatakan bahwa sikap positif pasien dapat memperkuat efikasi diri dan mendukung kepatuhan terhadap terapi. Beberapa hal yang dapat mempengaruhi keyakinan diri seseorang antara lain adalah dukungan dari keluarga, pendidikan yang diberikan oleh tenaga medis , dan keadaan sosial serta psikologis pasien. Bandura . mengemukakan bahwa dukungan sosial sangat berpengaruh dalam meningkatkan kepercayaan seseorang terhadap kemampuannya. Penelitian yang dilakukan (Putri et al. , 2. juga menunjukkan bahwa pasien TB paru yang mendapatkan dukungan keluarga yang baik memiliki tingkat keyakinan diri yang lebih tinggi. Di sisi lain , tenaga medis juga memiliki peran penting dalam meningkatkan keyakinan diri dengan cara memberikan informasi yang tepat dan motivasi yang berkelanjutan (Yunita et al. Banyak responden yang menunjukan self-efficacy baik, namun masih terdapat 49,1% responden yang memiliki self-efficacy yang belum optimal yaitu berada pada tingkat cukup dan rendah. Kondisi ini menunjukkan bahwa masih ada kendala dalam keyakinan diri pasien ICare : Jurnal Keperawatan STIKes Panti Rapih. Vol. 6 No. 2 Tahun 2025 untuk menjalani terapi secara konsisten. Oleh karena itu, diperlukan intervensi tambahan seperti pendidikan kesehatan, konseling motivasi, serta pelibatan keluarga dalam proses Strategi-strategi ini diyakini dapat meningkatkan self-efficacy pasien, yang berdampak positif terhadap keberhasilan terapi jangka panjang (Sari et al. , 2. Hasil penelitian di RSUD Ruteng dengan jumlah responden 108 penderita TB paru menunjukkan bahwa kepatuhan menjalani terapi OAT dalam kategori baik sebesar 37%, cukup 34,3%, dan kurang 28,7%. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun terdapat sebagian pasien yang patuh dalam menjalani pengobatan, namun masih ada lebih dari separuh responden yang memiliki tingkat kepatuhan kurang dan cukup, yang mengindikasikan perlunya perhatian dan intervensi lebih lanjut. Pasien dengan kepatuhan rendah memiliki risiko lebih besar terhadap kegagalan terapi, resistensi obat, bahkan kemungkinan drop out dari pengobatan. Hasil penelitian ini mendukung temuan yang dipaparkan oleh Haris dkk. Pada tahun 2021 yang menemukan bahwa dari 30 responden, hanya 60% yang memiliki kepatuhan tinggi terhadap terapi TB, sementara sisanya mengalami ketidakpatuhan karena kelalaian mengkonsumsi obat dan kurangnya dukungan keluarga. (Sari et al. , 2. juga menegaskan bahwa motivasi dan keyakinan diri pasien berperan penting dalam keberhasilan pengobatan, serta bahwa dukungan sosial dan edukasi kesehatan sangat berpengaruh terhadap kepatuhan. Selain itu, (Pratiwi, 2. menyatakan bahwa sikap positif dan keinginan kuat untuk sembuh merupakan faktor internal yang mendorong pasien untuk patuh menjalani terapi. Faktor eksternal seperti usia, tingkat pendidikan, dan gaya hidup juga disebut sebagai penentu kepatuhan dalam penelitian oleh (Haris & Santoso, 2. , serta (Lestari et al. ,2. Kepatuhan terhadap pengobatan TB paru dapat dipahami sebagai perilaku kesehatan yang terbentuk dari pengaruh aspek kognitif, afektif, maupun sosial (Notoatmodjo, 2. Menurut Bandura . , self-efficacy atau keyakinan individu terhadap kemampuan dirinya dalam menjalani suatu tindakan, seperti mengikuti terapi jangka panjang, berperan penting dalam membentuk perilaku yang konsisten. WHO pada tahun 2022 melaporkan bahwa pasien TB yang memiliki self-efficacy tinggi cenderung lebih mampu menghadapi dan mengatasi berbagai hambatan dalam proses pengobatan, termasuk efek samping obat dan stigma sosial, sehingga lebih mungkin menyelesaikan terapi. Penelitian oleh (Smith et ,2. memperkuat teori ini dengan menunjukkan bahwa intervensi berbasis self-efficacy dapat meningkatkan kepatuhan pengobatan hingga 30%, dan berdampak langsung pada penurunan resistensi obat serta kekambuhan. Maria Putri Sania Enjelu. David Djerubu. Fransiska Kurniati Natul Hubungan Antara Self Efficacy dengan Kepatuhan Menjalani Terapi Obat Anti Tuberkulosis (OAT) pada Pasien Tuberkulosis Paru di RSUD Ruteng Kepatuhan dalam terapi OAT pada pasien TB paru merupakan hasil dari interaksi antara faktor internal, termasuk efikasi diri, motivasi, sikap, dan pengetahuan, serta faktor eksternal seperti dukungan sosial keluarga, ketersediaan fasilitas kesehatan, dan komunikasi dengan petugas medis. Pasien yang mempunyai self-efficacy tinggi diyakini lebih mampu mengatasi tantangan selama pengobatan, termasuk mengatasi efek samping dan tekanan sosial. Di sisi lain, pasien dengan tingkat kepatuhan rendah kemungkinan menghadapi hambatan psikologis dan sosial yang belum tertangani. Hasil Uji Statistik KendallAos Tau b menunjukan bahwa ada hubungan yang signifikan antara Self Efficacy dengan kepatuhan menjalani terapi OAT pada Pasien TB Paru di RSUD Ruteng, dengan nilai p = 0,006 . < 0,. Hasil ini menunjukan hipotesis nol (H. di tolak dan hipotesis alternatif (H. diterima, yang berarti terdapat keterkaitan antara self efficacy dengan kepatuhan menjalani terapi OAT pada pasien TB paru di RSUD Ruteng. Hasil ini menunjukan bahwa tingkat keyakinan diri yang lebih tinggi pada pasien akan meningkatkan kemungkinan mereka untuk patuh dalam menjalani terapi OAT. Sebaliknya, semakin rendah self-efficacy seseorang, semakin rendah pula kemungkinan mereka untuk mengikuti anjuran pengobatan dengan benar. Hal ini sejalan dengan teori yang dikemukakan oleh Albert Bandura . , yang menyatakan bahwa self efficacy adalah keyakinan seseorang terhadap kemampuannya untuk melakukan tindakan tertentu guna mencapai hasil yang diinginkan. Dalam konteks pengobatan TB, self efficacy menjadi faktor utama yang mempengaruhi keputusan pasien untuk tetap disiplin dalam mengkonsumsi obat, menghadapi efek samping pengobatan, serta mengatasi berbagai hambatan yang mungkin timbul selama proses terapi (Cao et al. , 2. Dalam teori perilaku kesehatan (Health Belief Mode. yang dikembangkan oleh Rosenstock. Strecher, dan Becker . , self efficacy merupakan faktor kognitif yang berperan dalam membentuk perilaku kesehatan seseorang, termasuk kepatuhan terhadap Self efficacy dapat meningkatkan keyakinan pasien dalam mengkonsumsi obat secara teratur meskipun terdapat efek samping, mengelola waktu dan aktivitas sehari-hari agar tidak lupa minum obat, serta mengatasi hambatan seperti kesulitan ekonomi atau stigma sosial. Penelitian sebelumnya juga menunjukkan bahwa pasien TB dengan self efficacy tinggi lebih mungkin untuk menyelesaikan terapi OAT dibandingkan mereka yang memiliki self efficacy rendah (Cao et al. , 2. Hal ini memperkuat temuan bahwa self efficacy yang tinggi berperan dalam meningkatkan kepatuhan pasien TB paru. ICare : Jurnal Keperawatan STIKes Panti Rapih. Vol. 6 No. 2 Tahun 2025 Menurut penelitian yang dilakukan oleh (Ratna Dewi et al. , 2. , ditemukan bahwa ada hubungan signifikan antara self-efficacy dan kepatuhan dalam meminum obat dengan p-value 0,000 . < 0,. Self efficacy merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi kepatuhan seseorang dalam mengkonsumsi obat. Hal ini dipengaruhi oleh keyakinan diri, karena dengan keyakinan yang baik terhadap kemampuan diri sendiri dalam mengatasi masalah, termasuk kepatuhan dalam menjalani pengobatan TB Paru secara rutin, seseorang akan lebih percaya diri untuk sembuh dari penyakit yang dideritanya. Self efficacy yang tinggi dapat meningkatkan rasa tanggung jawab pribadi dan motivasi untuk menjalani pengobatan, serta mengurangi kecemasan yang mungkin timbul selama proses terapi. Oleh karena itu, memperkuat self efficacy pasien dapat menjadi kunci dalam meningkatkan kepatuhan terhadap pengobatan TB paru. Faktor internal, seperti pengalaman sebelumnya dalam menghadapi masalah kesehatan, dapat memperkuat keyakinan pasien terhadap kemampuannya, sedangkan dukungan sosial dari keluarga, teman, dan tenaga medis berfungsi sebagai faktor eksternal yang dapat memperkuat atau melemahkan self efficacy Pendekatan yang holistik, yang melibatkan aspek psikologis pasien serta dukungan dari lingkungan sekitar, menjadi penting dalam meningkatkan kepatuhan pasien dalam menjalani terapi OAT. Berdasarkan hasil penelitian dan tinjauan teori, dapat diasumsikan bahwa self efficacy yang tinggi meningkatkan kepatuhan pasien TB paru dalam menjalani terapi OAT, karena pasien dengan self efficacy tinggi lebih percaya diri dalam mengatasi tantangan selama pengobatan serta cenderung memiliki strategi coping yang baik, seperti mencari dukungan sosial dan mengatur jadwal pengobatan dengan disiplin. Intervensi berbasis peningkatan self efficacy, seperti edukasi dan program pendampingan psikososial, dapat menjadi strategi efektif dalam meningkatkan kepatuhan pasien. Adapun faktor lain seperti dukungan keluarga, tingkat pendidikan, dan akses terhadap fasilitas kesehatan juga dapat mempengaruhi kepatuhan pasien dalam menjalani terapi OAT. Dalam upaya meningkatkan keberhasilan pengobatan TB paru, diperlukan pendekatan yang komprehensif dengan mempertimbangkan berbagai faktor yang berkontribusi terhadap kepatuhan pasien. SIMPULAN Berdasarkan penelitian yang dilakukan di RSUD Ruteng pada tahun 2024 tentang Hubungan antara Self Efficacy dengan Kepatuhan Menjalani Terapi OAT Pada Pasien TB Paru, maka diperoleh kesimpulan: Self Efficacy pada pasien TB Paru di RSUD Ruteng Maria Putri Sania Enjelu. David Djerubu. Fransiska Kurniati Natul Hubungan Antara Self Efficacy dengan Kepatuhan Menjalani Terapi Obat Anti Tuberkulosis (OAT) pada Pasien Tuberkulosis Paru di RSUD Ruteng sebanyak 55 responden . ,9%) menunjukan Self Efficacy yang baik, 49 responden ( 45,4%) cukup dan 4 . ,7%) diantaranya memiliki Self Efficacy yang kurang. Kepatuhan menjalani terapi OAT pada pasien TB Paru di RSUD Ruteng sebanyak 40 responden . %) memiliki kepatuhan baik, 37 responden . ,3%) cukup dan 31 responden . ,7%) lainnya kepatuhan Dan Adanya Hubungan antara Self Efficacy dengan Kepatuhan Menjalani Terapi OAT Pada Pasien TB Paru di RSUD Ruteng. Hasil uji KendallAos Tau b menunjukan pValue 0,006 . < 0,. menunjukan bahwa adanya Hubungan antara Self Efficacy dengan Kepatuhan Menjalani Terapi OAT pada Pasien TB Paru di RSUD Ruteng. Oleh karena itu. H0 ditolak dan H1 diterima, yang berarti self efficacy memiliki hubungan yang signifikan dengan tingkat kepatuhan pasien dalam menjalani terapi OAT. Diharapkan bagi instansi pelayanan keperawatan khususnya Rumah sakit umum daerah Ruteng dapat menggunakan hasil penelitian untuk lebih memotivasi dan memberikan edukasi terhadap pentingnya keyakinan diri pada diri pasien dalam mengikuti pengobatan TB Paru dengan meningkatkan kesadaran kesehatan. DAFTAR PUSTAKA