IMPLEMENTASI PEMBERDAYAAN PEREMPUAN OLEH KELOMPOK TANI BANGGERIS (KTB) DI DESA TELUK DALAM KUTAI KARTANEGARA https://doi. org/10. 38214/jurnalbinaummatstidnatsir. Submitted:11-04-2024 Reviewed: 10-05-2024 Published: 25-06-2024 Jumroni Ayana abujeisyika@gmail. STID Muhammad Natsir Ae Indonesia Liizzatil Jazil Nusaf Aini jazilnusaf@gmail. STID Muhammad Natsir - Indonesia ABSTRACT This research aims to describe the implementation of women empowerment by the Banggeris Farmer Group (KTB) in Kutai Kartanegara. The research method employed is qualitative. KTB empowers women through a series of activities aimed at improving the welfare and economy of women in Teluk Dalam Village. These activities include productive gardening, fertilizer-making training, regular religious gatherings, planting activities, and the KTB caring program. Mentoring and training are conducted to assist women in enhancing their economic status. The success of this implementation is influenced by factors such as communication, resources, disposition, and bureaucratic structure. The conclusion of this research is that the implementation of women empowerment by KTB, in accordance with Edward's implementation theory, has successfully empowered women in Teluk Dalam Village. Keywords : Implementation. Empowerment. Women. Farmer Group. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan implementasi pemberdayaan perempuan oleh Kelompok Tani Banggeris (KTB) di Kutai Kartanegara. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif. KTB melakukan pemberdayaan perempuan melalui serangkaian kegiatan yang bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan dan ekonomi perempuan di Desa Teluk Dalam. Kegiatan tersebut meliputi pekarangan produktif, pelatihan pembuatan pupuk, pengajian rutin, kegiatan menanam, dan program KTB Pendampingan dan pelatihan dilakukan untuk membantu perempuan meningkatkan ekonomi mereka. Keberhasilan implementasi ini dipengaruhi oleh faktor komunikasi, sumber daya, disposisi, dan struktur birokrasi. Kesimpulan dari penelitian ini adalah bahwa implementasi pemberdayaan perempuan oleh KTB sesuai dengan teori implementasi Edward dan berhasil memberdayakan perempuan di Desa Teluk Dalam. Kata kunci : Implementasi. Pemberdayaan. Perempuan. Kelompok Tani. Jurnal Bina Ummat: Membina dan Membentengi Ummat is licensed under a Creative Commons Attribution 4. 0 International License 67 | Bina Ummat | Vol 7 | No. 1 | 2024 PENDAHULUAN Hakikat dari dakwah tidak hanya sebatas menyampaikan pesan agama, tetapi juga mengarah pada tujuan perubahan yang lebih baik dalam individu atau kelompok setelah menerima dakwah dan menjalankan pemberdayaan. Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam merupakan teladan utama dalam hal ini, beliau tidak hanya berperan sebagai Rasul, tetapi juga sebagai seorang dai yang membangun fondasi masyarakat Madinah menjadi sebuah negara adil dan makmur yang diridhai Allah Subhanahu wa Ta'ala. Dalam konteks modern, pemberdayaan masyarakat menjadi penting. Pemberdayaan berarti memberikan kekuatan kepada individu atau kelompok agar dapat menentukan nasibnya sendiri dan aktif dalam memenuhi kebutuhan fisik, ekonomi, dan sosial mereka. Ini melibatkan proses dan tujuan untuk memperkuat masyarakat secara keseluruhan. Kemandirian masyarakat adalah ketika sebuah masyarakat memiliki kemampuan untuk memikirkan, memutuskan, dan melakukan apa yang dianggap tepat untuk memecahkan masalah yang dihadapi dengan menggunakan kekuatan yang mereka miliki. Sumber daya kognitif, konatif, psikomotorik, dan afektif, bersama dengan sumber daya fisik dan material lainnya, termasuk kemampuan yang dimaksud untuk mencapai kemandirian masyarakat, tentu perlu proses Pemberdayaan masyarakat juga melibatkan aspek sosial-budaya, bukan hanya teknis. Hal ini bertujuan untuk mengubah sikap, perilaku, dan pola kerja masyarakat menuju ke arah yang lebih mandiri dan berdaya. Pemerintah memiliki peran penting dalam menyediakan infrastruktur fisik dan lingkungan yang mendukung, serta membantu dalam mempercepat pembangunan ekonomi dan Pemberdayaan merupakan satu strategi untuk melaksanakan pembangunan yang berdasarkan asas kerakyatan. Dimana segala upaya diarahkan untuk memenuhi keperluan masyarakat. Oleh sebab itu, pemberdayaan diaktualisasikan melalui partisipasi masyarakat dengan pendampingan yang dilakukan oleh pemerintah atau lembaga tertentu untuk mentransfer ilmu pengetahuan kepada kelompok masyarakat yang terorganisir. Dalam konteks pertanian, pemberdayaan petani dilakukan dengan membuat mereka menjadi subjek dalam perencanaan dan pelaksanaan program. Pendekatan partisipatif dan dialogis digunakan untuk memastikan program tersebut relevan dengan kondisi sosio-kultural masyarakat. Andi Haris. AuMemahami Pendekatan Pemberdayaan Masyarakat Melalui Pemanfaatan MediaAy. JUPITER Vol. Xi No. , hal. MOSQUE-BASED COMMUNITY EMPOWERMENT | 68 Pemberdayaan perempuan adalah upaya memperbaiki status dan peran perempuan dalam pembangunan bangsa, sama halnya dengan kualitas peran dan kemandirian organisasi perempuan. Kerangka pikir pemberdayaan perempuan menuju kesadaran gender, peningkatan keterampilan dalam kaitannya dengan kegiatan untuk menghasilkan pendapatan dan suasana lingkungan. Pentingnya peran perempuan dalam pemberdayaan masyarakat terlihat Namun, masih ada kendala dalam partisipasi mereka. Penelitian dan program khusus diperlukan untuk meningkatkan peran dan kontribusi perempuan dalam pembangunan ekonomi dan sosial. Studi kasus tentang implementasi pemberdayaan perempuan oleh Kelompok Tani Banggeris (KTB) di Desa Teluk Dalam Kutai Kartanegara menjadi penting untuk memahami bagaimana pemberdayaan berlangsung dalam konteks lokal. Penelitian ini bertujuan untuk menggali secara mendalam bagaimana KTB memberdayakan perempuan dalam aspek ekonomi, rumah tangga, dan spiritual, serta mengevaluasi dampaknya terhadap masyarakat Dua penelitian terkait pemberdayaan perempuan menunjukkan hasil yang bermanfaat dalam konteks masyarakat Islam. Nadya Kharima, dalam penelitiannya di UIN Syarif Hidayatullah. Jakarta, fokus pada implementasi program pemberdayaan perempuan melalui gender mainstreaming, dengan studi kasus tentang workshop pemberdayaan mubalighat. Hasilnya menunjukkan peningkatan pendapatan setelah mengikuti workshop tersebut. Sementara itu. Feni Auralia dari UIN Raden Intan Lampung, dalam penelitiannya tentang pemberdayaan perempuan di Desa Way Lunik Panjang. Bandar Lampung, menemukan bahwa program pemberdayaan perempuan di desa tersebut mampu memenuhi kebutuhan pangan keluarga sehari-hari. Meskipun keduanya memiliki tema yang serupa, perbedaan terletak pada objek dan lokasi penelitian yang mereka ambil. Dengan batasan masalah dan rumusan masalah yang jelas, serta tujuan penelitian yang terdefinisi dengan baik, diharapkan penelitian ini dapat memberikan pemahaman yang lebih dalam tentang praktik pemberdayaan perempuan oleh KTB dan memberikan wawasan yang berharga untuk pengembangan program pemberdayaan di masa depan. Metode penelitian ini penulis menggunakan pendekatan deskriptif Objek penelitian adalah Kelompok Tani Banggeris yang melakukan pemberdayaan perempuan di Desa Teluk Dalam. Kabupaten Kutai Kartanegara. Teknik pengumpulan data yang digunakan terdiri dari observasi, wawancara, dan Hubeis. Aida Vitayala S. Ketidakadilan Gender. Makalah dalam acara seminar Kowani 23 September 1997 69 | Bina Ummat | Vol 7 | No. 1 | 2024 Observasi digunakan untuk mengamati langsung proses pemberdayaan perempuan di Teluk Dalam serta bagaimana Kelompok Tani Banggeris melakukan pembinaan terhadap para perempuan. Observasi dilakukan pada tanggal 17 Maret 2024 dan 7 April 2024. Wawancara dilakukan dengan narasumber yang terkait dengan pemberdayaan perempuan oleh Kelompok Tani Banggeris, seperti Ketua Kelompok Tani, pengurus, penggerak kelompok tani, pedagang hasil panen, dan pemantau pertanian dari Dinas Pertanian Kutai Kartanegara. Wawancara dilakukan dengan teknik wawancara terbuka agar mendapatkan informasi yang akurat dan terpercaya. Dokumentasi digunakan sebagai pelengkap dari observasi dan wawancara, berupa catatan pelaksanaan pemberdayaan oleh Kelompok Tani Banggeris, dokumen pelaksanaan, dan fotofoto pendukung lainnya. Teknik analisis data yang digunakan adalah deskriptif analysis, yang menggambarkan dan menganalisis data yang terkait dengan topik pembahasan. Data dianalisis dengan mengaitkan teori yang digunakan untuk kemudian dihasilkan sebuah kesimpulan yang dapat menjawab pertanyaan penelitian. Penelitian ini dilakukan dengan keterlibatan peneliti dalam memperoleh informasi terkait pelaksanaan pemberdayaan perempuan oleh Kelompok Tani Banggeris, meskipun peneliti tidak dapat melihat langsung proses dari awal penanaman hingga panen. Informasi diperoleh melalui olah data dan dokumentasi dari pihak terkait, baik dari Kelompok Tani Banggeris maupun Dinas Pertanian Kutai Kartanegara. HASIL DAN DISKUSI Pembahasan Komunikasi Komunikasi merupakan kunci dalam proses implementasi pemberdayaan, karena dengan komunikasi yang baik akan membangkitkan motivasi dan potensi yang dimiliki setiap perempuan yang tergabung dalam kegiatan pemberdayaan ini agar bangkit dan mampu berdaya untuk mengubah kehidupannya ke arah yang lebih baik. Komunikasi awal yang dilakukan Kelompok Tani Banggeris (KTB) kepada perempuan di Desa Teluk Dalam adalah pertama. Kelompok Tani bnaggeris melakukan sosialisasi dan survei wilayah. Pada tahap sosialisasi dan survei wilayah ini adalah proses menganalisis tempat dan memperkenalkan program kegiatan-kegiatan pemberdayaan perempuan yang akan dilaksanakan. Para pengurus dan juga penggerak Kelompok Tani (KTB) Banggeris melakukan MOSQUE-BASED COMMUNITY EMPOWERMENT | 70 analisis keadaan dengan melakukan observasi atau kunjungan ke Desa Teluk Dalam. Setelah dilakukan analisis tempat, pengurus dan penggerak Kelompok Tani Banggeris (KTB) melakukan sosialisasi untuk memperkenalkan kegiatankegiatan yang nantinya akan dijalankan oleh perempuan di Desa Teluk Dalam berupa kegiatan-kegiatan pemberdayaan perempuan. Perempuan Desa Teluk Dalam akan dikumpulkan dan diberikan pengetahuan tentang kegiatan-kegiatan yang akan diberikan dan dilaksanakan. Mereka diberikan pengetahuan tentang tujuan daripada kegiatan pemberdayaan tersebut. Setelah analisis dan sosialisasi. KTB akan menyeleksi calon penerima manfaat atau yang akan bergabung menjadi keanggotaan KTB yang baru dengan melakukan wawancara dan memilih apakah calon anggota ini memiliki lahan yang tepat untuk diberikan kegiatan pemberdayaan nantinya. Kedua, pengurus Kelompok Tani Banggeris (KTB) akan melakukan pengkajian dalam memastikan kelayakan anggota untuk mendapatkan bantuan Pada tahap ini, pihak KTB akan mengidentifikasi kandidat atau calon anggota KTB yang cocok dan bisa diajak bekerjasama untuk maju dan terus berkembang dan tentunya siap dari objek menjadi subjek nantinya. Tahapan ini pula membantu pengurus KTB untuk mendapatkan informasi atau data untuk mengetahui seberapa tinggi motivasi calon anggota untuk berubah dan maju. Pengurus KTB dengan bantuan Dinas Pertanian memastikan kondisi calon anggota KTB untuk mengetahui kendala apa yang dialami oleh pengurus KTB dan juga anggota KTB yang sudah terlebih dahulu menjadi anggota adakah kemauan untuk berusaha, apakah bisa bertanggung jawab dengan bantuan yang akan diberikan, dan sebagainya. Pengurus KTB mencari data tersebut dari proses wawancara dengan para anggota, berkomunikasi secara langsung dengan mereka kemudian mengkaji jawaban-jawaban para anggota dan didukung dengan kelengkapan administrasi. Komunikasi ini adalah poin penting yang harus dilakukan, karena sebaik apapun sebuah kegiatan pemberdayaan tapi dalam proses implementasinya terdapat kelemahan dalam komunikasi antara pembuat kebijakan dengan pelaksana, maka kegiatan yang dibuat tidak akan berjalan maksimal bahkan berpeluang adanya salah paham antara berbagai pihak. Dari awal rencana kegiatan pemberdayaan hingga petani panen, pengurus dan juga penggerak KTB dan tentunya Dinas Pertanian berusaha terus menjalin komunikasi yang baik dengan anggota KTB. Sumber Daya Implementasi kebijakan dalam suatu program memerlukan sumber daya pelaksana, ketersediaan informasi yang memadai, kewenangan yang diberikan kepada pelaksana dan ketersediaan sarana dan prasarana dalam proses 71 | Bina Ummat | Vol 7 | No. 1 | 2024 pelaksanaan program. Sumber daya yang mendukung implementasi pemberdayaan perempuan oleh Kelompok Tani Banggeris (KTB) terdapat empat jenis sumber daya. Pertama, sumber daya manusia. Sumber daya manusia adalah para perempuan di Desa Teluk Dalam. KTB akan memberikan kelayakan dan kesanggupan untuk para perempuan Desa Teluk Dalam dalam mengelola lahan yang dimiliki dengan jumlah bantuan yang akan diterima. Para perempuan ini harus mempersiapkan diri dalam melaksanakan kegiatan. Penggerak KTB dan para petani pengurus bekerjasama, baik dalam menghadapi masalah pertanian ataupun dalam Mereka harus bertanggung jawab menjaga amanah dan mengelola dana yang diberikan oleh pemerintah melalui KTB. Upaya tanggung jawab ini dengan bersungguh sungguh dalam bertani dan menjalankannya sesuai standar dan prosedur dari Dinas Pertanian. Baik tanggung jawab terhadap diri sendiri, keluarga, masyarakat, lembaga, dan tanggung jawab kepada Allah harus disertai keikhlasan agar dapat mencapai keberkahan disetiap usahanya dalam meningkatkan perekonomian mereka dan juga ruhiyah mereka. Untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia, maka pengurus Kelompok Tani Bnaggeris (KTB) akan membuat penggerak di setiap kegiatan Para perempuan yang akan menjadi calon petani di Desa Teluk Dalam dominannya adalah orang-orang yang tidak melanjutkan pendidikan tinggi sehingga mereka sedikit kesulitan berkomunikasi dengan Dinas Pertanian Kutai Kartanegara jika ingin berkonsultasi, atas dasar itulah maka di bentuk struktur kepengurusan KTB sebagai wasilah dalam berkomunikasi ke Dinas Pertanian dan juga untuk mengkoordinir para petani. Ketua kelompok KTB dipilih berdasarkan musyawarah antara pengurus KTB, anggota KTB dan juga tim dari Dinas Pertanian mereka memilih satu orang yang dianggap kompeten dalam memimpin, mengarahkan, memberikan motivasi, dan yang menjadi jembatan komunikasi antara para petani dengan Dinas Pertanian. Adapun yang menjadi penggerak atau ketua kelompok KTB adalah Ibu Fatimah. Ibu Fatimah merupakan salah satu stakeholder di program pemberdayaan perempuan ini. Ia merupakan lulusan sarjana pendidikan di salah satu universitas Swasta di Samarinda, beliaulah yang menjadi wasilah para petani mendapatkan bantuan, dari awal pembentukan proposal, pengajuan dana, hingga proses penerimaan dan pencairan dana bantuan. Kedua, sumber daya alam. Sumber daya alam sangat menentukan bagaimana suatu kegiatan akan terlaksana, ia merupakan faktor produksi dalam rangka menghasilkan output baik berupa barang maupun jasa, sumber daya alam juga sebagai pemenuh kebutuhan baik manusia, hewan maupun tumbuhan. MOSQUE-BASED COMMUNITY EMPOWERMENT | 72 Sebelum pengimplementasian kegiatan pemberdayaan ini, pengurus Kelompok Tani Banggeris (KTB) melakukan analisis keadaan sumber daya alam berupa lahan kosong petani dan juga pekarangan depan rumah atau belakang rumah dengan melakukan observasi atau kunjungan. Pengurus KTB memeriksa dan menyusuri lahan calon anggota KTB . erempuan Desa Teluk Dala. dan menganalisis kecocokan kegiatan pemberdayaan perempuan di lahan tersebut, apakah lahan tersebut baik untuk ditanami seledri, cabai, terong, kelengkeng atau kembang kol. Adapun di Desa Teluk Dalam ini, setelah dilakukan observasi dan dianalisis ternyata lahan para perempuan atau calon anggota KTB berpotensi untuk ditanami buah-buahan dan juga sayuran sehingga kegiatan pemberdayaan oleh KTB bisa dilaksanakan disana. Seleksi tempat atau keadaan ini sesuai dengan teori program pemberdayaan menurut Oos M. Anwas, di mana program 68 pemberdayaan harus didasarkan pada potensi wilayah . lam, sosial, buday. sekitar masyarakat. Jika suatu daerah tersebut memiliki potensi alam atau sumber daya alam yang baik untuk dikembangkan, maka kegiatan pemberdayaan mengacu pada potensi tersebut dan dengan mempertimbangkan aspek kelestarian lingkungan. Ketiga, sumber daya finansial . ana atau anggara. Pendanaan dalam kegiatan pemberdayaan perempuan ini menggunakan dana yang diberikan oleh pemerintah yang dikelola Kelompok Tani Banggeris (KTB) untuk pemberdayaan Para petani mendapatkan bantuan modal masing-masing dengan jumlah yang berbeda-beda setiap individunya. Bantuan ini diterima petani setelah mendapatkan edukasi atau pelatihan dari KTB. Bantuan yang didapat berupa uang ini nantinya akan dialokasikan untuk kebutuhan perkebunan seperti benih atau biji pepaya, pupuk, dan peralatan yang mendukung perkebunan. Hal ini dilakukan karena biasanya kebanyakan petani yang diberikan bantuan tidak menggunakannya secara jujur dan dihabiskan untuk keperluan konsumtif saja. Hal ini sebagaimana yang dikatakan oleh ketua KTB Ibu Fatimah. AuKita memberikan modal berupa uang tapi nanti ketika berbelanja kami barengan belanjanya, biar tetap terkontrol bahwa modal yang diberikan dibelikan kepada barang pertanian yang memang dibutuhkanAy. Keempat, sumber daya fasilitas. Untuk menunjang terlaksananya pemberdayaan perempuan oleh KTB, pengurus Kelompok Tani Bnaggeris (KTB) memberikan fasilitas kepada para perempuan di Desa Teluk Dalam untuk digunakan sebagai proses menemukan solusi atas permasalahan yang Dengan fasilitas modal yang telah diberikan, para petani mulai melakukan kegiatan pengembangan lahan, dari mulai membeli biji pepaya, peralatan perkebunan, membuat benih, dan menanamnya hingga menunggu masa 73 | Bina Ummat | Vol 7 | No. 1 | 2024 Selain itu. KTB juga memberikan fasilitas berupa pendampingan dan pelatihan yang berkelanjutan. Pendampingan merupakan suatu strategi yang sangat menentukan keberhasilan program pemberdayaan masyarakat. Sesuai dengan prinsip pekerjaan sosial, yakni membantu orang agar membantu dirinya KTB menyediakan pendampingan dan memberikan pelatihan untuk para perempuan di Desa Teluk Dalam yang nantinya akan menjadi anggota KTB. Ketika para petani mengalami masalah, pengurus KTB langsung menuju lokasi perkebunan untuk memberikan suntikan motivasi agar terus berdoa dan tawakal, kemudian memberikan pelatihan kepada mereka. Selain itu, ada juga pendampingan dari aspek spiritual yaitu dengan mengadakan kegiatan keagamaan di musholla, infak dan shadaqah, adab pertanian dalam Islam, dan kegiatan sosial. Pendampingan spiritual ini dilakukan agar para petani mempunyai rasa tanggung jawab terhadap harta yang mereka dapatkan dari hasil panen tersebut. Dan biidnzillah para anggota KTB dan juga pengurusnya telah berkomitmen untuk sama-sama menyisihkan keuntungan dari hasil pertanian untuk membangun musholla di Desa Teluk Dalam. Hal ini dilakukan agar para petani bisa senantiasa bersyukur atas limpahan nikmat yang Allah berikan dan juga di musholla inilah anak-anak daripada petani KTB bermain dan juga mengaji sore bersama. Ketika peneliti terakhir melaksanakan observasi ke musholla ini, pembangunan musholla ini masih belum rampung secara sempurna akan tetapi secara umum musholla ini sudah dapat dipakai dan diberdayakan. Pembangunan musholla ini juga merupakan salah satu ikhtiar adalam mensyiarkan agama Allah dan juga daAowah yang sangat indah yang dilakukan oleh Kelompok Tani Banggeris (KTB). Musholla ini diberi nama musholla Al-Hidayah. Disposisi Disposisi yaitu menunjukan karakteristik yang menempel erat kepada implementor kegiatan. Karakter yang dimiliki baik oleh pengurus atau anggota dalam hal ini adalah KTB dan para petani perempuan di Desa Teluk Dalam dan yang paling penting adalah kejujuran dan komitmen. Bukti kejujuran para perempuan atau petani KTB adalah dengan membuat laporan. Dalam kegiatan pemberdayaan perempuan ini, sebulan sekali pengurus KTB akan menerima laporan dari seluruh anggota KTB, karena untuk tanaman seperti seledri, kembang kol, dan cabai apabila sudah panen bisa tiap sepekan panen. Rauf A. Hatu. AuPemberdayaan dan Pendampingan Sosial dalam MasyarakatAy. INOVASI. Vol 7. Nomor 4. Desember 2010, hal. Wawancara dengan Nur Afifah. Penggerak Kelompok Tani Banggeris. Wawancara. Kutai Kartanegara, 15 Maret 2024 MOSQUE-BASED COMMUNITY EMPOWERMENT | 74 Adapun pelaporan dari pengurus KTB kepada Dinas Pertanian mencakup jumlah atau banyaknya hasil panen, harga jual, omset selama panen, apakah hasil panen sudah melewati angka kemiskinan, dan model kerja apa yang sudah terpenuhi atau yang belum. Sedangkan untuk pelaporan dari petani ke pengurus KTB, para petani hanya melaporkan berapa kilogram sayuran atau buah-buahan yang dipanen setiap pekannya dan jumlah atau hasil penjualan buahbuahan dan sayuran ke tengkulak. Caranya yaitu dengan berkomunikasi dengan pengurus KTB yaitu salah satunya Ibu Fatimah. Ibu Uswatun yang awalnya tidak memiliki usaha tetap dalam artian masih mengharapkan bantuan baik dari lembaga zakat ataupun lembaga sosial lainnya. Namun setelah mendapat ilmu dari kegiatan pemberdayaan perempuan beliau jadi lebih mandiri karena usaha perkebunannya menghasilkan buah secara terus menerus sehingga menjadi lebih produktif. Tingkat kemandirian perempuan di Desa Teluk Dalam ini bisa diukur dengan keberhasilan dalam mengatur pemenuhan kebutuhan baik kebutuhan primer dan sekunder maupun kebutuhan Mandiri pada aspek kebutuhan primer maksudnya adalah petani bisa memenuhi kebutuhan pokok dan mampu mempertahankan hidupnya secara Kebutuhan pokok ini yang wajib dipenuhi seperti makanan, pakaian, dan tempat tinggal. Mandiri pada aspek kebutuhan sekunder maksudnya adalah petani bisa membeli kebutuhan pendukung yang berkaitan dengan menambah kebahagiaan Petani yang awalnya tidak memiliki kendaraan jadi punya kendaraan, petani yang awalnya tidak memiliki kasur atau dipan untuk tidur menjadi punya. Adapun mandiri dari aspek spiritual maksudnya adalah petani bisa beribadah secara tenang dan khusyu tanpa memikirkan besok makan apa, bisa melakukan banyak kebaikan, mampu bersedekah dan melakukan amalan-amalan sholih lainnya baik yang berkaitan dengan hablum minallah dan hablum minannys. Struktur Birokrasi Struktur birokrasi pada implementasi suatu kebijakan atau kegiatan adalah sebagaimana teori Edward adalah berupa SOP (Standard Operating Procedures. Kegiatan pemberdayaan perempuan ini memiliki tujuan, sasaran, dan SOP SOP ini dibuat oleh Ketua Kelompok Tani Banggeris (KTB) dan disahkan oleh Dinas Pertanian Kutai Kartanegara. Isi SOP diantaranya ada tujuan dan sasaran kegiatan pemberdayaan dibuat, adanya aturan bagaimana prosedur penerimaan anggota, kategori anggota dan juga pengurus, syarat-syarat administrasi, target capaian kegiatan pemberdayaan dan segala kebijakankebijakan yang dikeluarkan pengurus KTB kepada anggotanya. Wawancara dengan Nur Afifah. Penggerak Kelompok Tani Banggeris. Wawancara. Kutai Kartanegara, 15 Maret 2024 Wawancara dengan Fatimah, ketua Kelompok Tani Banggeis (KTB) Kutai Kartanegara. Wawancara. Kutai Kartanegara, 01 April 2024 75 | Bina Ummat | Vol 7 | No. 1 | 2024 Dalam menjalankan SOP kegiatan tentu sangat diperlukan dukungan dari berbagai pihak, diantaranya adalah dukungan dari pemerintah setempat, karena pemerintah juga memiliki kedudukan dan wewenang yang penting dalam upaya mengatasi masalah sosial dan ekonomi masyarakat. Sebuah implementasi pemberdayaan dalam prosesnya memungkinkan adanya kegagalan, tetapi ada banyak kemungkinan untuk berhasil. Kemungkinan berhasil selalu ada, tetapi tidak dalam arti yang sempurna, mulai dari ujung hingga akhirnya . Begitu juga kemungkinan kegagalan dalam implementasinya senantiasa mengancam, sehingga pemahaman terhadap faktorfaktor pengaruh dalam implementasi kebijakan pemberdayaan menjadi sesuatu yang sangat penting untuk dipahami dan diketahui. Kegagalan dan keberhasilan adalah sesuatu keniscayaan dalam proses implementasi sehingga harus dipandang sebagai sesuatu yang alamiah. Sama halnya dengan implementasi pemberdayaan perempuan yang diberikan oleh Kelompok Tani Banggeris baik itu yang bersifat konsumtif maupun produktif yang berpeluang gagal dan berhasil, serta tentunya memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Begitupun dengan kegiatan pemberdayaan perempuan yang mempunyai kekurangan dan kelebihan. Kelebihannya yaitu keterampilan bertani yang di dapat dan juga hasil dari tanaman yang ditanam memberikan nilai manfaat yang bukan hanya sementara tetapi berkelanjutan, sedangkan kekurangannya yaitu dampaknya tidak bisa dirasakan secara langsung dan seketika itu juga, karena model pemberdayaan cenderung membutuhkan waktu lebih lama agar dapat menyentuh semangat untuk berdaya bagi para perempuan di Desa Teluk Dalam. Pengenalan Kegiatan Kelompok Tani Banggeris (KTB) Kelompok Tani Banggeris (KTB) adalah sebuah inisiatif kelompok tani yang bertujuan untuk memberdayakan perempuan di Desa Teluk Dalam. Kabupaten Kutai Kartanegara. Program pemberdayaan perempuan dilakukan melalui berbagai kegiatan seperti pekarangan produktif, pelatihan pembuatan pupuk, pengajian rutin, kegiatan menanam pada hari Jum'at, dan program KTB Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk meningkatkan kapasitas dan kualitas perempuan serta hasil pertanian di wilayah tersebut. Kurangnya Modal Salah satu faktor utama yang membuat perempuan bergabung dengan program pemberdayaan perempuan oleh KTB adalah kesulitan dalam memperoleh modal. Minimnya modal menyulitkan para petani dalam mengembangkan lahan pertanian mereka. Oleh karena itu, bergabung dengan KTB memberikan akses pada modal awal yang dibutuhkan untuk membeli media MOSQUE-BASED COMMUNITY EMPOWERMENT | 76 tanam, pupuk, dan perlengkapan lainnya yang diperlukan dalam pertanian. Hal ini diungkapkan oleh Bu Afifah, seorang petani yang aktif dalam kegiatan KTB, yang mengatakan bahwa bergabung dengan KTB membantunya mendapatkan berbagai pengetahuan dan bantuan modal. Kurangnya Edukasi Pertanian Para petani di Desa Teluk Dalam umumnya merupakan petani turun temurun yang tidak mendapatkan akses terhadap pelatihan dan pendidikan formal terkait pertanian. Mereka mengandalkan naluri dan pengalaman dalam bertani, tanpa adanya akses terhadap informasi dan teknologi pertanian yang Keterbatasan ini membuat mereka sulit untuk berkembang dan menciptakan inovasi dalam bertani. Oleh karena itu, program pemberdayaan perempuan oleh KTB memberikan akses pada pengetahuan dan pelatihan pertanian yang dibutuhkan untuk meningkatkan hasil pertanian. Pemenuhan Kebutuhan Pangan Harian Petani di Desa Teluk Dalam bergantung pada hasil pertanian mereka untuk memenuhi kebutuhan pangan sehari-hari. Bergabung dengan KTB membantu mereka memperoleh pengetahuan tentang bercocok tanam di pekarangan rumah, yang membantu mereka menghemat biaya pembelian bahan Bu Fatimah, seorang petani yang aktif dalam KTB, mengungkapkan bahwa melalui KTB, ia memiliki pengetahuan tentang bercocok tanam yang membantu memenuhi kebutuhan pangan keluarganya. Menambah Relasi Desa Teluk Dalam memiliki posisi geografis yang terpencil, sehingga para penduduk memiliki sedikit kenalan atau relasi. Bergabung dengan KTB memberikan kesempatan bagi para petani untuk bertemu dan berinteraksi dengan petani lainnya melalui kegiatan yang diadakan oleh KTB atau Dinas Pertanian. Hal ini membantu mereka memperluas jaringan sosial dan mendapatkan dukungan dari sesama petani. Bu Anis dan Bu Uswatun menyatakan bahwa kegiatan KTB telah membantu mereka menambah relasi di wilayah tersebut. Kurangnya Akses Pasar Salah satu kendala utama yang dihadapi oleh para petani adalah kurangnya akses pasar untuk menjual hasil panen mereka. Kurangnya edukasi tentang pasar membuat para petani kesulitan dalam menawar harga yang baik untuk hasil panen mereka. Oleh karena itu. KTB membantu para petani dalam mengadvokasi pasar dan memperoleh harga yang lebih baik untuk hasil panen Aditya Alta dari Center for Indonesian Policy Studies menjelaskan bahwa akses pasar yang tidak memadai menyebabkan para petani sulit untuk meningkatkan pendapatan mereka. 77 | Bina Ummat | Vol 7 | No. 1 | 2024 Wawancara yang dilakukan dengan anggota KTB seperti Bu Afifah. Bu Fatimah. Bu Anis, dan Bu Uswatun memberikan pemahaman yang lebih dalam tentang motivasi mereka untuk bergabung dengan KTB. Mereka menyatakan bahwa kegiatan KTB telah membantu mereka memperoleh pengetahuan, modal awal, dan dukungan sosial yang dibutuhkan untuk meningkatkan hasil pertanian dan memenuhi kebutuhan hidup mereka. Selain itu, wawancara juga mengungkapkan bahwa kurangnya akses pasar dan edukasi pertanian menjadi kendala utama yang dihadapi oleh para petani di Desa Teluk Dalam. Oleh karena itu, program pemberdayaan perempuan oleh KTB menjadi sangat penting dalam memberikan solusi atas kendala-kendala tersebut keilmuan. Tahapan Pemberdayaan Sebelum memulai kegiatan pemberdayaan perempuan. Kelompok Tani Banggeris (KTB) melakukan pencarian dan penyeleksian lokasi yang potensial untuk budidaya dengan melihat potensi daerahnya. Setelah menemukan daerah yang sesuai, para pengurus KTB melakukan sosialisasi kepada masyarakat tentang program pemberdayaan perempuan ini. Sebelum melaksanakan pemberdayaan perempuan, pengurus KTB harus memastikan bahwa calon penerima memenuhi kriteria yang telah Kriteria tersebut meliputi status sebagai petani atau bukan petani, kemampuan dalam pertanian, dan bukti kekurangan ekonomi. Persyaratan administratif juga harus dipenuhi untuk validasi. "Pada tahapan awal, kami melakukan survei ke lapangan untuk menemukan lokasi yang cocok untuk program pemberdayaan perempuan. Setelah itu, kami melakukan sosialisasi kepada masyarakat sekitar untuk menjelaskan manfaat dan syarat-syarat program," ungkap Bu Ratna, salah seorang pengurus KTB. Setelah proses penerimaan anggota kelompok tani, maka selanjutnya adalah pembentukan tim berdasarkan potensi yang dimiliki. Pembentukan tim ini bertujuan agar pengurus KTB lebih mudah berkomunikasi dalam memberikan pendampingan dan pelatihan yang sesuai. "Pembentukan tim ini penting karena setiap kelompok akan fokus pada jenis tanaman atau buah-buahan tertentu. Dengan begitu, kami dapat memberikan pendampingan dan pelatihan yang lebih terarah sesuai dengan kebutuhan masing-masing kelompok," tambah Pak Budi, pengurus KTB. Pengajuan dana merupakan tahap berikutnya setelah calon penerima memenuhi syarat dan menjelaskan kebutuhan mereka. Dana tersebut berasal dari Dinas Pertanian yang dikelola oleh KTB, dengan bantuan modal sebesar 3 juta per orang untuk membeli peralatan pertanian dan bibit tanaman. "Proses pengajuan dan pendanaan ini penting untuk memastikan keberlanjutan program pemberdayaan perempuan. Dengan adanya dana yang cukup, kami dapat membeli MOSQUE-BASED COMMUNITY EMPOWERMENT | 78 perlengkapan pertanian yang diperlukan untuk meningkatkan hasil produksi," jelas Pak Surya, anggota KTB. Setelah dana disetujui, tahapan selanjutnya adalah pendampingan dan pelatihan secara berkelanjutan. Pendampingan dilakukan untuk mengawasi dan membimbing anggota KTB dalam praktik pertanian, sementara pelatihan menyediakan materi-materi yang relevan dengan pengembangan pertanian. "Kami mendapatkan bimbingan langsung dari pengurus KTB tentang cara merawat tanaman dan praktik budidaya yang baik. Selain itu, kami juga mendapatkan pelatihan terkait manajemen lahan dan pemasaran hasil pertanian," ujar Ibu Yuni, salah seorang anggota KTB. Setelah mendapatkan pelatihan, para petani perempuan mulai menerapkan pengetahuan yang telah mereka dapatkan dengan memanfaatkan pekarangan atau lahan depan rumah mereka. Langkah ini merupakan awal dari proses pengembangan lahan untuk meningkatkan kreativitas dan pemberdayaan ekonomi perempuan di Desa Teluk Dalam. "Kami merasa semakin mandiri dalam mengelola lahan kami setelah mendapatkan pelatihan dari KTB. Sekarang kami bisa memanfaatkan pekarangan rumah untuk menanam sayuran dan buah-buahan yang bisa kami jual atau konsumsi sendiri," tutur Ibu Ani, salah seorang petani perempuan di Desa Teluk Dalam. Konsep Implementasi Pemberdayaan Perempuan oleh Kelompok Tani Banggeris (KTB) Implementasi pemberdayaan perempuan oleh Kelompok Tani Banggeris (KTB) bertujuan untuk memberdayakan perempuan di Desa Teluk Dalam melalui kegiatan yang berkelanjutan. Pemberdayaan ini menggunakan pendekatan farmer first, yang memprioritaskan petani perempuan sebagai subjek utama dan memberikan mereka kebebasan dalam memilih dan menganalisis kebutuhan serta prioritas. "Saya percaya bahwa memberdayakan perempuan dalam konteks pertanian adalah kunci keberhasilan bagi pembangunan pedesaan," ungkap Pak Agus, pengurus KTB. Kegiatan pemberdayaan perempuan dilaksanakan dengan memberikan modal, materi, dan keterampilan yang menjadi modal bagi perempuan di Desa Teluk Dalam untuk mengembangkan lahan mereka dan meningkatkan Modal ini memungkinkan perempuan untuk membeli kebutuhan sehari-hari dan peralatan pertanian, sehingga meningkatkan nilai tambah ekonomi Menurut data Dinas Pertanian Kutai Kartanegara, tantangan SDM pertanian di Indonesia sangat beragam, mulai dari akses terhadap modal dan teknologi hingga partisipasi dalam pengambilan keputusan pembangunan 79 | Bina Ummat | Vol 7 | No. 1 | 2024 Oleh karena itu, pemberdayaan perempuan menjadi sangat penting untuk meningkatkan kemandirian petani perempuan. "Pemberdayaan perempuan ini tidak hanya tentang memberikan bantuan finansial, tetapi juga tentang memberikan mereka keterampilan dan pengetahuan yang diperlukan untuk mengembangkan potensi mereka," jelas Bu Dewi, anggota KTB. Konsep pemberdayaan perempuan oleh KTB diperuntukkan bagi petani perempuan yang memiliki lahan atau belum memiliki lahan tetapi memiliki semangat dan motivasi untuk berkembang. Program ini memenuhi 6 dimensi belajar menurut Dinas Pertanian, yang mencakup pemahaman lingkungan, pengembangan keterampilan, kerja sama, pengambilan keputusan, pengembangan diri, dan kepemimpinan. "Kami berfokus pada mengubah 'petani perempuan' bukan sekadar 'cara bertani'," tambah Pak Rahmat, pengurus KTB. Pemberdayaan perempuan ini juga telah memenuhi kriteria pemberdayaan, seperti memenuhi ketentuan syariah, menambah nilai tambah ekonomi, melibatkan perorangan atau kelompok, dan memberikan pembinaan atau pendampingan kepada perempuan. "Kami berusaha untuk membantu petani perempuan agar dapat mandiri dalam mengelola lahan mereka dan meningkatkan pendapatan," ujar Pak Joko, anggota KTB. Dengan pendampingan yang dilakukan oleh pengurus KTB, perempuan di Desa Teluk Dalam dapat menghadapi berbagai masalah yang muncul dalam praktik pertanian dan mencari solusinya secara bersama-sama. Ini merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan kemandirian dan keberlanjutan pemberdayaan perempuan di tingkat lokal. "Pemberdayaan perempuan adalah investasi bagi masa depan pertanian dan pembangunan pedesaan yang berkelanjutan," tutur Ibu Siti, salah seorang petani perempuan di Desa Teluk Dalam. Kegiatan Implementasi Pemberdayaan Perempuan oleh Kelompok Tani Banggeris Berbagai kegiatan pemberdayaan perempuan dilakukan oleh Kelompok Tani Banggeris (KTB) di Desa Teluk Dalam Kutai Kartanegara. "Kami percaya bahwa melalui kegiatan ini, perempuan dapat menjadi agen perubahan yang signifikan dalam pembangunan pedesaan," ujar Bu Anisa, anggota KTB. Salah satu kegiatan utama adalah pekarangan produktif, di mana perempuan diminta untuk memanfaatkan halaman rumah mereka untuk menanam tanaman sayuran dan buah-buahan. MOSQUE-BASED COMMUNITY EMPOWERMENT | 80 "Pekarangan produktif membantu perempuan menjadi lebih mandiri secara ekonomi dengan menghasilkan tanaman yang bisa dikonsumsi sendiri atau dijual," tambah Pak Budi, pengurus KTB. Selain itu, pelatihan pembuatan pupuk dari bahan-bahan alami seperti sekam padi juga rutin dilakukan. "Pelatihan ini membantu perempuan memahami cara membuat pupuk yang ramah lingkungan dan efektif untuk pertumbuhan tanaman," ungkap Ibu Siti, salah satu peserta pelatihan. Kegiatan pemberdayaan tidak hanya terbatas pada aspek pertanian, tetapi juga mencakup pengajian rutin KTB untuk memperkuat ikatan sosial dan spiritual antar-anggota. "Pengajian rutin membantu kami dalam mempererat ukhuwah islamiyah dan mendapatkan inspirasi dalam menjalani kehidupan sehari-hari," jelas Bu Nur, peserta Jum'at Menanam adalah kegiatan kolaboratif antara pemerintah, pengurus KTB, dan petani perempuan untuk menanam benih-benih baru. "Kegiatan ini memperkuat keterlibatan komunitas dalam upaya meningkatkan produktivitas pertanian," papar Pak Joko, perwakilan Dinas Pertanian. Program "KTB Peduli" juga menjadi bagian integral dari upaya pemberdayaan, di mana anggota KTB memberikan bantuan kepada sesama anggota yang membutuhkan. "Dengan KTB Peduli, kami tidak hanya memperkuat kemandirian ekonomi, tetapi juga meningkatkan solidaritas dalam komunitas," ujar Pak Ahmad, salah satu penerima bantuan. Melalui berbagai kegiatan ini. Kelompok Tani Banggeris (KTB) berkomitmen untuk terus memberdayakan perempuan di Desa Teluk Dalam dan menciptakan dampak positif bagi pembangunan pedesaan secara keseluruhan. KESIMPULAN Berdasarkan hasil temuan peneliti, implementasi pemberdayaan perempuan oleh Kelompok Tani Banggeris (KTB) di Desa Teluk Dalam terbukti berhasil sesuai dengan teori implementasi Edward. Proses komunikasi yang baik antara KTB dan perempuan di Desa Teluk Dalam, dukungan sumber daya manusia, alam, finansial, dan fasilitas, disposisi yang mencakup kejujuran dan komitmen, serta pendampingan yang terstruktur melalui SOP (Standar 81 | Bina Ummat | Vol 7 | No. 1 | 2024 Operasional Prosedu. menjadi faktor kunci keberhasilan. Bukti nyata keberhasilan terlihat dari peningkatan perekonomian dan kemandirian perempuan, serta transformasi dari penerima manfaat menjadi pelaku aktif dalam KTB, menegaskan bahwa mereka telah menjadi subjek dalam proses DAFTAR PUSTAKA