Making Disciples of All Nations: Membangun Pemuridan Lintas Negara dalam Era Global Ardianto Lahagu*. Jabes Pasaribu. Manahan Uji Simanjuntak. Rame Irmaida Sihombing Sekolah Tinggi Teologi Real Batam Email koresponden: lahaguardi8855@gmail. Submit: 05-02-2025 Review: 21-04-2025 Revisi: 23-04-2025 Terbit: 30-04-2025 Keywords: end times. Gospel, making disciples of all nations (MDN) Kata Kunci: akhir zaman. Injil, membuat murid dari segala bangsa p: ISSN: 2723-7036 e-ISSN: 2723-7028 A2025. The Authors. License: Open Journals Publishing. This work is licensed under the Creative Commons Attribution License. https://jurnal. id/index. php/pkm/inde Abstract The Community Service activity titled "Making Disciples of All Nations" will take place from October 22 to 27, 2024, in Singapore. This event aims to equip participants from 14 countries with the skills needed for cross-national discipleship missions. With approximately 100 attendees, the program will cover the principles of Discipling Nations (DN). Making Disciples of All Nations (MDN), and Preparing My People for End Times (PET). Participants will engage in presentations, discussions, practical skills training, and the development of follow-up action plans. This comprehensive approach will help them understand how to embody Christian values within a global context. As a result, participants will be able to comprehend and devise discipleship strategies tailored to their national contexts. They will also be prepared to become effective Gospel messengers and tackle end-times challenges. This program not only enhances participants' discipleship capabilities but also guides them in contributing to national transformation and building congregations that are ready to adapt to changing circumstances. Abstrak Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) bertajuk Making Disciples of All Nations yang diselenggarakan pada 22-27 Oktober 2024 di Singapura bertujuan untuk memperlengkapi para peserta dari 14 negara dalam menjalankan misi pemuridan lintas negara. Dengan sekitar 100 peserta, program ini mengajarkan prinsip-prinsip Discipling Nations (DN). Making Disciples of All Nations (MDN), dan Prepare My People for End Times (PET). Melalui metode presentasi, diskusi, pelatihan keterampilan praktis, dan penyusunan rencana tindak lanjut, peserta memperoleh pemahaman komprehensif tentang cara membawa nilai-nilai kekristenan di tengah masyarakat global. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa peserta mampu memahami dan merencanakan pendekatan pemuridan yang sesuai dengan konteks negara masing-masing, serta siap untuk menjadi pemberita Injil yang berdampak positif dan persiapan menghadapi tantangan zaman akhir. PKM ini tidak hanya meningkatkan kemampuan pemuridan peserta, tetapi juga mengarahkan mereka untuk berkontribusi dalam transformasi bangsa dan membangun jemaat yang siap menghadapi perubahan zaman. Jurnal PkM Setiadharma Volume 6 Nomor 1. April 2025 PENDAHULUAN Paradigma Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) ini berangkat dari keyakinan bahwa gereja bukan hanya tempat ibadah, tapi juga agen transformasi global yang dipanggil untuk menjawab tantangan zaman melalui pemuridan lintas negara. Dalam dunia yang semakin terhubung dan beragam, gereja perlu memperlengkapi para pelayan dan jemaat agar mampu membawa nilai-nilai kristiani di tengah masyarakat global dengan cara yang relevan dan kontekstual. Urgensi kegiatan ini terletak pada kebutuhan untuk membangun generasi pengajar yang tidak hanya kuat secara spiritual, tetapi juga peka terhadap perubahan sosial, budaya, dan eskatologis, sehingga dapat menjadi Auterang dan garamAy di manapun mereka diutus. Pada era globalisasi saat ini, gereja menghadapi tantangan untuk memenuhi amanat agung yang diberikan oleh Yesus, yaitu menjadikan segala bangsa murid-Nya (Mat. Perintah ini tidak hanya bagi gereja lokal, tetapi juga dalam konteks internasional yang semakin terbuka dan terkoneksi. Untuk menjawab panggilan ini, kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) bertema AuMaking Disciples of all NationsAy diselenggarakan pada 22-27 Oktober 2024 di Singapura. Acara ini akan melibatkan kurang lebih 100 peserta dari 14 negara, yang memiliki tujuan untuk memperkuat kapasitas para pelayan gereja dan kaum awam dalam melakukan pelayanan lintas budaya serta membagikan nilai-nilai kristiani di tengah masyarakat Yesus adalah Tuhan yang pengasih yang menyelamatkan. Tujuan-Nya adalah semua orang beroleh hidup (Yoh. , hidup yang abadi bersama Dia dalam kemuliaan dan kemenangan atas dosa. Sehingga arah misi dipertegas menjadi siapa yang akan menjadi orang yang diselamatkan adalah harus menjadi murid-Nya dan oleh karena Anugerah itu, adalah menjadi panggilan untuk menjadi murid Kristus. Panggilan ini terjadi sejak deklarasi keselamatan itu digaungkan melalui Yesus bagi semua orang (Taylor 2. Sehingga dalam aktivitas misi Amanat Agung tidak lagi hanya simbol tugas Mulia saja, namun ia sekaligus adalah deklarasi bahwa semua bangsa bangsa berhak menjadi murid dan menjadi orang yang memuridkan. Tentu hal ini bisa dilihat dalam hal-hal yang lebih nyata, sebagai contoh bagaimana kekristenan dalam integrasi pada masyarakat sekitar. Sebagai contoh Jabes Pasaribu dkk, dalam tulisannya AuMisi Dan Pelayanan Kesehatan Serta Pendidikan Di Desa Air GelubiAy salah satu penyelamatan yang hidup adalah bagaimana Kekristenan tampil dalam membersamai masyarakat yang yang AuterisolasiAy baik dari pendidikan, kesehatan, sosial ekonomi dan modernisasi (Pasaribu et al. Yang hendak kami katakana bahwa panggilan penyelamatan itu bukan melulu soal-soal penyelamatan AueskatologisAy tetapi juga masuk dalam ranah membumi juga dan itu adalah panggilan. Memuridkan adalah panggilan bagi gereja bahkan dalam berbagai iklim perubahan zaman (Widjaja et al. Siapa mengaku diri sebagai gereja dibalik entitasnya sebagai umat yang menerima kasih karunia Allah mengemban sebuah panggilan untuk memuridkan sebanyak orang. Hal ini juga dilatarbelakangi oleh realitas religius, pluralisme, relativisme, altruisme yang membuat bidang misi semakin kompleks MAKING DISCIPLES OF ALL NATIONS: A (A. Lahagu. Pasaribu. Simanjuntak. Sihombin. (Widjaja. Simanjuntak, and Boiliu 2. Pemuridan dilaksanakan bukan dalam batasan etnografi namun sampai ke seluruh bumi. Ini adalah panggilan holistic. Mercy Amba Oduyoye and Hendrik M. Vroom mengatakan bahwa panggilan Allah untuk semua suku, ras, bahasa dan bangsa-bangsa (Oduyoye and Vroom 2. Hal ini selaras dengan Markus. 16:15-16. Yesus berkata kepada murid AuAPergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk. Siapa yang percaya dan dibaptis akan diselamatkan, tetapi siapa yang tidak percaya akan dihukum. Ay Jadi panggilan itu adalah untuk semua suku, bangsa dan bahasa, maka strategi pemuridan pun ikut menjadi fleksibel sesuai kebutuhan dimana lokus itu ada. Sebagai contoh Marde Christian Stenly Mawikere dan Sudiria Hura dengan pendekatan pemeliharaan konteks tradisional dengan menyeimbangkan teologi lokal yang sekaligus dalam pelestarian warisan budaya di tengah dinamika global (Mawikere and Hura 2. Itulah pentingnya pengabdian ini bagi masyarakat global yang mempersiapkan para pengajar dari negara masing-masing sesuai dengan konteks lokal. Maka di tengah dunia yang penuh tantangan global anggap saja itu pluralisme, relativisme dan kesenjangan sosial dimana misi gereja untuk memuridkan tidak bisa lagi sebagai tugas rohani semata, tetapi sebagai panggilan menyeluruh yang menjangkau seluruh dimensi kehidupan. Yesus memanggil setiap orang untuk menjadi murid-Nya, dan melalui panggilan itu, gereja diutus untuk menghadirkan kasih, keadilan, dan pengharapan, baik secara spiritual maupun sosial. Misalnya dalam konteks pengungsi yang saat ini menjadi perhatian publik secara internasional memperlihatkan bagaimana unsur penerimaan dan penolakan komunitas pengungsi terhadap Negara . aerah persinggaha. , sehingga dalam banyak literatur misi, kritik yang sering dilontarkan adalah bagaimana negara dan gereja melihat nilai-nilai kemanusiaan secara khusus dalam komunitas pengungsi yang acap kali tertolak dan terabaikan (Loul. Willott, and Robinson 2. Jadi pemuridan lintas bangsa menjadi cara konkret menjawab panggilan tersebut, dengan pendekatan yang kontekstual, menghormati budaya lokal, dan menjangkau masyarakat yang terpinggirkan. Inilah yang membuat pengabdian kepada masyarakat bukan sekadar kegiatan, melainkan bagian dari misi global AllahAi membangun kehidupan yang diselamatkan, dimuridkan, dan diberdayakan di seluruh Melalui kegiatan ini, para peserta mengikuti kegiatan making disciples of nations diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan dan pemahaman tentang prinsip-prinsip pemuridan, memperoleh keterampilan dalam menghadapi tantangan di lapangan, serta membangun jejaring yang kuat dengan sesama pelayan dan gereja dari berbagai negara. Kegiatan ini juga menjadi wadah bagi para peserta untuk berbagi pengalaman, tantangan, dan solusi yang relevan dalam konteks global, sehingga pelayanan dan misi gereja modern dapat dijalankan secara efektif di tengah keberagaman. Jurnal PkM Setiadharma Volume 6 Nomor 1. April 2025 METODE PELAKSANAAN Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) Making Disciples of All Nations (MDN) menggunakan pendekatan holistik yang dirancang untuk membekali para peserta dari berbagai negara dengan prinsip dan keterampilan pemuridan lintas negara. Metode ini menggabungkan berbagai bentuk penyampaian dan interaksi untuk mempersiapkan peserta menjadi pemberita Injil yang tangguh di negara asal masingmasing. Metode yang digunakan iala: pertama. Presentasi dan Pemaparan Materi Lintas Negara, diisi dengan presentasi dari para ahli pemuridan dan pelayan lintas negara yang Materi ini memberikan pemahaman mendalam tentang pentingnya pemuridan global dan berbagai tantangan serta peluang yang muncul ketika mengkomunikasikan nilai-nilai kristiani di berbagai negara. Sesi ini membahas prinsipprinsip pemuridan dalam konteks yang berbeda-beda, termasuk pengaruh budaya, hukum, dan sosial di setiap negara. Kedua. Diskusi dan Pertukaran Pengalaman Internasional, peserta diberi ruang untuk berbagi pengalaman tentang tantangan dan peluang yang mereka hadapi di negara masing-masing. Pertukaran pandangan ini tidak hanya memperluas wawasan tentang pendekatan pemuridan yang efektif di berbagai wilayah, tetapi juga membuka peluang untuk membangun jejaring internasional, memungkinkan kolaborasi lintas negara di masa mendatang. Gambar. 1 Persiapan Mengikuti Making Disciples Of All Nation Ketiga. Pelatihan Keterampilan Khusus untuk Penyampaian Injil Lintas Negara, meliputi teknik komunikasi lintas budaya dan negara, strategi untuk beradaptasi dengan kebijakan atau regulasi lokal terkait penyampaian pesan Injil, serta cara mengatasi resistensi yang mungkin muncul dalam konteks tertentu. Pelatihan ini memberikan pengetahuan yang esensial agar setiap peserta dapat menyampaikan pesan secara MAKING DISCIPLES OF ALL NATIONS: A (A. Lahagu. Pasaribu. Simanjuntak. Sihombin. efektif, relevan, dan penuh hikmat di negaranya. Keempat. Penyusunan Rencana Tindak Lanjut di Negara Asal, setiap peserta menyusun rencana tindak lanjut khusus untuk negara asal mereka, mencakup langkah-langkah praktis yang akan mereka lakukan dalam pemuridan di wilayah masing-masing. Dalam sesi ini, peserta juga diajak untuk berkomitmen pada visi global untuk menyebarkan pesan Injil sambil menghargai konteks nasional mereka. Hal ini memastikan bahwa rencana yang disusun sesuai dengan tantangan dan peluang unik di setiap negara. Dan kelima. Pendampingan dan Evaluasi Internasional Pasca-Kegiatan, peserta akan tetap mendapatkan bimbingan dan pendampingan jarak jauh. Tim penyelenggara akan melakukan evaluasi berkala untuk memantau perkembangan misi yang dijalankan di setiap negara, memberi masukan terhadap tantangan yang dihadapi, dan menyediakan wadah berbagi untuk mendorong keberlanjutan misi lintas negara. Dengan pendekatan ini, setiap peserta diharapkan mampu menjalankan peran mereka sebagai pemberita Injil yang tangguh di negara masing-masing, membawa nilai-nilai kristiani dengan bijak, efektif, dan penuh pengertian terhadap konteks yang beragam di dunia. Pemateri dalam kegiatan ini adalah pembicara pertama Ps. Papa Khoo, pembicara kedua ialah Ps. Jehu Chan, pembicara ketiga Katharyn Peh, keempat Caroline Sim dan Ps. Chiam Tun Boon. Waktu dan tempat Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) Making Disciples of All Nations diselenggarakan pada hari Selasa, 22-27 November 2024, bertempat di Changi Cove Hotel. Singapura. Acara ini berlangsung di ruang pertemuan di lantai 1 dan diadakan selama 5 hari dengan jadwal sebagai berikut: Hari Pertama 22 November 2024, dimulai dengan registrasi, perkenalan peserta, dan doa panggilan untuk memulai acara. Hari Kedua hingga Keempat 23-25 November 2024. Sesi penyampaian materi, pelatihan keterampilan, diskusi, dan pembahasan pemuridan lintas negara. Hari Kelima 26 November 2024, penutupan kegiatan, doa bersama, dan doa peneguhan bagi setiap peserta. Sebelum setiap sesi dimulai, acara akan diawali dengan lagu dan doa untuk menciptakan suasana yang penuh penyembahan. HASIL DAN PEMBAHASAN Dalam kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) Making Disciples of All Nations (MDN) peserta mendapatkan pemahaman yang komprehensif tentang konsep Discipling Nations (DN). Making Disciples of All Nations (MDN), dan Prepare My People for End Times (PET). Konsep ini adalah fondasi melaksanakan misi pemuridan lintas negara yang berorientasi pada transformasi spiritual di tengah dinamika global. Sebab hal ini tidak menyimpang dari realitas kekristenan sesudah 2000 tahun setelah Yesus memberikan perintah untuk menjadi semua bangsa murid dan ini adalah panggilan yang diemban secara holistic. Melihat data kekristenan oleh Global Frontier Mission, dari keseluruhan populasi dunia saat ini adalah 10% orang percaya sejati, sebagai penganut iman Kristen 23%, ada yang disebut sebagai AuDunia CAy . ereka yang sudah terakses dengan Inji. 33% yaitu mereka 72% misionaris dan 87% keuangan misi (Editor 2. Jurnal PkM Setiadharma Volume 6 Nomor 1. April 2025 Kenyataan misi global saat ini lebih kompleks sekaligus fleksibel. Misi dilakukan dengan berbagai klasifikasi. Seperti misi jangka pendek dan jangka panjang . ampai kepada kedatangan Yesu. Kekristenan melakukan misi dalam konteks globalisasi dengan misi. Misi jangka pendek dimana puluhan ribu gereja dan ribuan perguruan tinggi Kristen, seminari sekolah menengah mensponsori misi ini (MissionWorks, n. Tujuannya adalah untuk perjalanan misi seperti pengutusan, peserta, kebutuhan sampai kepada penanaman kelompok-kelompok kecil . mall group. atau komunitas Kristen Dalam perjalanan misi, sasarannya adalah komunitas yang belum terjangkau . , komunitas yang tidak terlibat . , komunitas yang tidak dimuridkan . , daerah yang tidak bertransformasi, komunitas yang tidak dimobilisasi . , penetrasi, menjangkau . , membuat murid . aking Disciple. , penginjilan dunia . orld evangelizatio. , masyarakat yang belum terjangkau . nreached people. dan lain sebagainya (Newell, n. Ini hanyalah sebuah istilah di dalam kesibukan untuk Aumenjadikan semua bangsa murid YesusAy. Suku Persentase Populasi Dunia 9,2% Hindu 13,3% Tidak Beragama 21,9% Muslim 23,7% Budha 6,8% Agama Populasi Jumlah Misionaris Rasio . misionaris pe. Tabel. 1 Misionaris berdasarkan Agama . rang THUMB Ae Suku. Hindu. Tidak Beragama (Athei. Muslim. Budh. Undangan untuk nilai-nilai kehidupan sudah lahir melalui Yesus Kristus yang melampaui batasan suku, budaya dan Negara. Yesus memanggil bagai mereka yang bersedia dalam kerendahan hati melalui iman. Sehingga orang-orang yang mengikutiNya disebut dengan murid. Menjadi murid Yesus tidak hanya berarti menerima ajaran, tetapi juga mengalami transformasi batin yang menghubungkan setiap orang dengan sumber kasih, pengampunan, dan kebenaran yang ilahi. Artinya ada transformasi bagi kehidupan murid yang membawa kepada keselarasan Injil dan menjadi sama dengan Kristus (Bharathi 2. Transformasi ini bukan saja dalam aktivitas religius namun kepada perubahan pada nilai-nilai dasar kehidupan dan itulah panggilan (Pasaribu 2. Artinya bahwa Injil tidak serta merta berbicara hanya soal mengikut Yesus atau tidak namun ada dampak transformatif. Missal dengan mengutip Yeremia 29:7 Usahakanlah kesejahteraan kotaAdan berdoalah untuk kota itu kepada TUHAN, sebab kesejahteraannya adalah kesejahteraanmu. Jadi konteks dimana Yesus memanggil orang menjadi murid-Nya adalah untuk memuridkan, lalu murid melahirkan MAKING DISCIPLES OF ALL NATIONS: A (A. Lahagu. Pasaribu. Simanjuntak. Sihombin. murid sama seperti akar bercabang yang tidak pernah terputus yang mengerjakan kemuliaan Tuhan di bumi melalui berbagai transformasi. Overview of Discipling Nations (D. Pembahasan awal dalam pertemuan paparan yang ditonjolkan adalah bagaimana kekristenan ditinjau tentang bagaimana kekristenan yang mulai merosot. Berdasarkan survei Pew Research Center . , 65% orang dewasa Amerika mengidentifikasi diri sebagai Kristen, turun 12% dalam satu dekade. Sementara itu, 26% populasi tidak berafiliasi dengan agama, meningkat dari 17% pada 2009. Baik Protestan . %, turun dari 51%) maupun Katolik . %, turun dari 23%) mengalami penurunan, sementara kelompok "nones" . teis, agnostik, dan tidak memiliki keyakinan tertent. terus Kini, 4% orang dewasa mengidentifikasi sebagai ateis . aik dari 2%), 5% sebagai agnostik . aik dari 3%), dan 17% sebagai Autidak ada yang khususAy . aik dari 12%). Agama non-Kristen juga mengalami sedikit peningkatan (Lipka. Sandstrom, and Webster 2. Dalam penyampaian materi topik yang ditonjolkan adalah bagaimana legalitas kaum LGBT yang semakin marak secara global. Hal ini disebabkan oleh pemuridan sudah memiliki orientasi yang menyimpang dari Injil. Sebagai contoh bagaimana komunitas LGBT secara global mendapat perhatian banyak umum dengan menyebut komunitas mereka sudah didiskriminasi, dipersekusi bahkan sampai dibunuh dalam beberapa kasus (Team OHCHR and the human rights of LGBTI people, n. Dan berbagai Negara yang masih kuat akan permusuhan, kekerasan, kemiskinan dan lain Gambar. 2 Team dari Indonesia sesudah Kegiatan MDN Jurnal PkM Setiadharma Volume 6 Nomor 1. April 2025 Dalam pendekatan Discipling Nations, peserta belajar bahwa pemuridan tidak hanya berfokus pada jiwa, tetapi juga mencakup pembentukan nilai-nilai kerajaan Allah di tingkat masyarakat dan bangsa. Diskusi menggarisbawahi bahwa pemuridan bangsa bertujuan untuk membangun masyarakat yang menjunjung tinggi nilai-nilai kristiani, seperti keadilan, kasih, dan integritas. Hal ini sejalan dengan apa yang dikatakan oleh Simanjuntak dkk. , bahwa kekristenan masa kini adalah replika tugas dalam sejarah perjalanan nomaden Israel yang sekaligus membawa Allah bagi bangsa-bangsa asing (Simanjuntak 2. Jadi pendekatan ini membuka pemahaman bahwa tugas pemuridan melibatkan perubahan yang lebih luas, mencakup aspek sosial, budaya, dan ekonomi. Peserta melihat bagaimana pemuridan bangsa dapat menjadi sarana untuk membawa transformasi nyata di setiap negara mereka, dengan fokus pada pengaruh kristiani yang berkelanjutan dalam kehidupan bermasyarakat. Making Disciples of All Nations (Md. Menjadikan semua bangsa menjadi Murid Yesus adalah titik berat dari kegiatan ini. Strategi yang harus diusahakan adalah bagaimana Injil itu dikumandangkan. Semua bangsa menjadi murid Yesus adalah visi gereja. Gereja menyuarakan Injil kerajaan Allah dengan semangat pelayanan dan tanggung jawab bagi semua bangsa. Pewartaan Injil seruan kepada bangsa-bangsa bertumbuh dalam Iman, komitmen yang penuh dengan Konsep Making Disciples of All Nations menjadi inti dari kegiatan ini, di mana para peserta memahami panggilan Injil untuk membuat murid di segala bangsa, seperti yang tercantum dalam Mat. 28:19 A Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-KuA semua orang harus menjadi murid Kristus yang dimulai dari pribadi, keluarga, komunitas sosial, lingkungan terdekat, sampai kepada bangsa-bangsa. Peserta dihadapkan pada realitas tantangan yang dihadapi saat melakukan pemuridan lintas negara, termasuk perbedaan budaya, kebijakan pemerintah, dan resistensi dari komunitas lokal. Pembahasan dalam sesi ini strategi praktis untuk mengatasi tantangan tersebut dan memperlengkapi para peserta dengan keterampilan untuk melakukan pemuridan di negara masing-masing. Sesi ini menekankan pentingnya pendekatan yang kontekstual dan relevan untuk setiap budaya, sehingga pesan Injil dapat diterima secara baik dan efektif. Sejarah yang berkepanjangan banyak menyisipkan fenomenal misi penjangkauan. Dalam berbagai diskusi teologis, menjadi orang menjadi orang Kristen bukanlah tujuan dari Gereja, melainkan menjadikan orang menjadi murid Kristus dan memuridkan. Dalam studi kasus generasi modernitas ini mencerminkan adanya kehilangan identitas diri bahkan dalam hal religius sekalipun mereka banyak kemampuan AulebihAy dari era sebelumnya (Gultom 2. Artinya bahwa ada panggilan Pastoral yang diembankan bagi gereja sesudah ia terklasifikasi murid Kristus . elalui iman dan tindakan setiap saa. (Marisi. Sutanto, and Lahagu 2. Sementara itu Yusnoveri dkk. , malah justru mempertanyakan model misi reformasi gereja dengan model misi gereja . (Chung et al. Dalam isu teologi misi yang lain Simanjuntak melihat bahwa misi harus direvitalisasi kembali oleh faktor kebudayaan patriakh yang membatasi semua MAKING DISCIPLES OF ALL NATIONS: A (A. Lahagu. Pasaribu. Simanjuntak. Sihombin. orang datang kepada Kristus (Lahagu et al. jadi secara sederhana kami menyimpulkan bahwa Injil yang akan sampai kepada ujung bumi . emua bangsa murid Kristu. adalah menanggalkan sandera masa lalu dengan mempertimbangkan bahwa misi harus diberitakan sampai ke ujung bumi dan semua makhluk (Gea 2. Prepare My People for End Times (Pe. Gereja harus memberitakan injil yang benar. Gereja tidak perlu memanggil orang untuk beribadah di dalam gedung, namun panggilan yang pertama adalah gereja keluar dan pergi ke masyarakat. Itulah penginjilan yang hidup, yaitu bahwa pribadi kekristenan itu sendiri adalah gereja dimana Injil dikumandangkan. Kemudian gereja mempersiapkan dirinya sebagai murid berarti gereja sedang mempersiapkan dirinya sebagai mempelai yang dewasa dan ini adalah panggilan. Sama halnya dengan eksistensi sida-sida dalam Alkitab yang menjaga tempat tidur sebab mereka tidak kawin (Wahyu. Demikian juga kekristenan dipersiapkan sebagai mempelai perempuan bagi Yesus. Dengan panggilan untuk bertahan, dalam iman, pengharapan dan dalam kasih. Konsep Prepare My People for End Times (PET) diperkenalkan sebagai persiapan eskatologis yang tidak hanya memandang pemuridan sebagai upaya jangka pendek, tetapi juga sebagai persiapan spiritual yang lebih besar untuk masa-masa yang akan datang. Dalam teologi eskatologi fakta ini adalah kenyataan kecelakaan tanpa akhir dalam dunia sampai yesus datang kedua kalinya barulah akhir dari segala zaman. Kekristenan mengambil bagian dalam misi penjangkauan dan bahkan sampai martir sekalipun (Pasaribu. Buulolo, and Harefa 2. Dalam sesi ini, peserta diajak untuk merenungkan pentingnya persiapan pribadi dan komunitas untuk menghadapi tantangan akhir zaman. Pembahasan PET membekali para peserta dengan wawasan dan arahan untuk memperkuat iman jemaat dalam menghadapi perubahan zaman, termasuk bagaimana menghadapi penganiayaan, ketidakpastian, dan tantangan iman di masa mendatang. Para peserta didorong untuk membangun jemaat yang siap menghadapi zaman akhir dengan keyakinan, kesetiaan, dan keteguhan iman. Evaluasi Program Making Disciples Of All Nations (MDN) berhasil membawa dampak positif bagi para peserta. Pada umumnya mereka mengaku terberkati oleh pengalaman dan pembelajaran yang mereka dapatkan selama program ini. Mereka merasa dipulihkan dan bersemangat dengan AoapiAo baru untuk melanjutkan misi mereka di negara asal masing-masing. Bahkan, beberapa peserta menunjukkan komitmen yang sangat kuat, menyatakan kesiapan mereka untuk mengorbankan segalanya, bahkan nyawa mereka, demi Injil. Beberapa peserta juga bertekad untuk memulai perubahan dari lingkungan terdekat mereka, seperti keluarga dan institusi tempat mereka bekerja, serta melanjutkannya ke lingkup yang lebih luas. Tekad ini menunjukkan bahwa program ini bukan hanya memberikan inspirasi, tetapi juga menanamkan visi dan strategi yang dapat diimplementasikan secara nyata dalam kehidupan mereka. Mereka berkomitmen untuk melayani dengan sepenuh hati sampai Tuhan memanggil mereka, menunjukkan Jurnal PkM Setiadharma Volume 6 Nomor 1. April 2025 bahwa program MDN berhasil menumbuhkan tekad dan tujuan jangka panjang dalam hati para peserta untuk memuliakan Tuhan. KESIMPULAN Program Making Disciples of All Nations (MDN) yang diadakan pada 22-27 Oktober 2024 di Singapura berhasil memenuhi tujuan utamanya: memperlengkapi para peserta dari berbagai negara dengan prinsip dan keterampilan pemuridan lintas negara. Melalui pemahaman tentang konsep Discipling Nations (DN). Making Disciples of All Nations (MDN), dan Prepare My People for End Times (PET), para peserta memperoleh wawasan mendalam mengenai pemuridan global yang efektif dan relevan. Kegiatan ini memberikan bekal rohani, pengetahuan, dan keterampilan praktis yang sangat dibutuhkan untuk menghadapi tantangan dalam pelayanan lintas negara, dengan fokus pada nilai-nilai kristiani yang bertransformasi dan berkelanjutan. Evaluasi menunjukkan bahwa para peserta merasa diberkati, terinspirasi, dan siap membawa perubahan di lingkungan mereka masing-masing. Komitmen peserta untuk memulai perubahan dari lingkup pribadi hingga ke masyarakat yang lebih luas menegaskan keberhasilan program ini dalam menanamkan visi pemuridan jangka panjang yang berdampak. Secara keseluruhan. Making Disciples of All Nations bukan hanya meningkatkan pemahaman dan keterampilan pemuridan peserta, tetapi juga mempersiapkan mereka sebagai agen transformasi yang membawa kasih dan kebenaran Injil di negara masingmasing, terutama dalam menghadapi tantangan zaman yang semakin kompleks. DAFTAR PUSTAKA