KAJIAN REFLEKSI TEORI PENGEMBANGAN KARAKTER ANAK MELALUI PEMBELAJARAN AGAMA PERSPEKTIF ALBERT BANDURA Chusnul Muali Universitas Nurul Jadid. Indonesia yayahdaddy@gmail. Putri Naily Rohmatika Universitas Nurul Jadid. Indonesia email:, putrinailyrohmatika@gmail. Abstract In the current reform era, character education has experienced a decline marked by increasing juvenile delinquency, corruption and moral deviations carried out by students and intellect to show character education has been eroded The role of school plays an important role in character development through religious learning. In the process, religious learning in schools should use two learning approaches, that is transfer of knowlage and transfer of value. Synchronized with the theory of Albert Bandura, the teacher as a model and students as a observers. As an observer, there are two processes in learning: that is . imitation proces, the learning process changes itself through certain stimuli, . modelling process, the process of changing his own behavior through observing the behavior of others. Keywords: character education, religious learning. Albert Bandura's theory Abstrak Pada era reformasi saat ini, pendidikan karakter telah mengalami kemerosotan yang ditandai dengan meningkatnya kenakalan remaja, korupsi serta penyimpangan-penyimpangan moral yang dilakukan oleh para pelajar dan intelek menunjukkan pendidikan karakter telah terkikis secara bertahap. Di sinilah peran sekolah memegang peranan penting dalam pengembangan karakter melalui pembelajaran agama. Dalam prosesnya pembelaran agama di sekolah sudah seharusnya menggunakan dua pendekatan pembelajaran, yaitu transfer of knowlage dan transfer of value. Disinkronkan dengan teori sosial kognitif Albert Bandura, guru sebagai model . sedangkan murid sebagai pengamat. Sebagai pengamat, terjadi dua proses dalam belajar yaitu: . proses imitation . , yaitu proses belajar mengubah dirinya sendiri melalui stimulus tertentu, . proses modeling,. yaitu proses mengubah perilakunya sendiri melalui pengamatan terhadap perilaku orang lain. Kata Kunci:pendidikan karakter, pembelajaran agama, teori Albert Bandura FIKROTUNA. Jurnal Pendidikan dan Manajemen Islam Volume. Nomor. Juli 2019. P-ISSN 24412401. e-ISSN 2477-5622 FIKROTUNA. Jurnal Pendidikan dan Manajemen Islam Volume. Nomor. Juli 2019 Pendahuluan Bagian terpenting dari pendidikan adalah membentuk karakter peserta Itulah Indonesia menumbuhkembangkan karakter peserta didikmelalui pembelajaranyang ada di sekolah. Dengan begitu tujuan pendidikan bukan hanya sebagai wacana saja, melainkan sebagai pedoman dalam melahirkan anak bangsa yang berkarakter. Islam sebagai agama mayoritas di Indonesia bukan hanya sebagai sebatas agama atau kepercayaan. Akan tetapi. Islam di Indonesia ini mengandung ajaran-ajaran eternal dan universal bagi seluruh aspek kehidupan. Oleh sebab itu. Islam membawamenuju harkat dan martabat yang tinggi, melalui nilai-nilai dan konsep pendidikan serta ajaran-ajaran yang ada dikandungnya. Islam telah membantu pendidikan di Indonesia dalam mempersiapkan generasi yang memiliki keimanan, keilmuan, pengetahuan serta berakhlakul karimah yang tinggi. Sehingga, dapat menjadikan agama, bangsa dan negaranya menjadi berkembang dengan ilmu pengetahuan serta karakter ke-islaman yang dimilikinya. Pada era reformasi saat ini, menutut pendidikan agama sebagai mata pelajaran harus dinomorsatukan pada pembelajaran di sekolah yang tujuannya adalah membentuk karakter bangsa yang berbasiskan nilai-nilai keislaman. Dengan kata lain, bahwa Pedidikan Agama menjadi bagian terpenting dalam misi pendidikan untuk mencetak karakter bangsa. Dengan begitu pembelajaran agama yang ada di sekolah dapat terinternalisasi dan menjadi ruh alamiyah pada diri peseta didik yang implikasinya pembelajaran agama di sekolah bukan hanya sebagai mata pelajaran, akan tetapi juga sebagai media pembentukan karakter yang bernafaskan keislaman. Akan tetapi, saat ini banyak yang mempertanyakan tentang efektifitas pembelajaran agama di sekolah. Apabila dikaitkan dengan realita masyarakat, pembelajaran agama di sekolah tidak dapat membentuk karakter keislmanan seperti harapan dan tujuan pendidikan Islam yang ada. Realitanya, masih banyaknya kenakalan remaja, korupsi serta penyimpangan-penyimpangan moral yang dilakukan oleh para Moh Fahri. AoUrgensi Pendidikan Agama Islam Dalam Pembentukan Karakter BangsaAo. At - Turas, 1 no 335 . Tujuan pendidikan menurut UU No. 20 tahun 2003 Auberkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepadaTuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warganegara yang demokratis serta bertanggung jawabAy Hasan Baharun. AoPendidikan Anak Dalam Keluarga. Telaah EpistemologisAo. Pedagogik, 3. , 96Ae Chusnul Muali. Putri Naily Rohmatika. Kajian Refleksi Teori Pengembangan Karakter Anak pelajar dan intelek yang saat ini bukan hanya di kota-kota besar saja, melainkan juga di bagian pelosok desa telah banyak penyimpangan moral serupa. Ketika telah terjadi penyimpangan di sekolah, maka sorotan utama yang menjadi sasaran kritikan adalah Walaupun secara kuantitatif nilai pendidikan agama sudah berhasil. Namun secara kualitas, pendidikan agama masih belum sesuai dengan apa yang diharapkan. Hal seperti ini merupakan problematika pendidikan yang harus dicari solusinya, sehingga pendidikan benar-benar dapat mencetak karakter bangsa dengan nilai-nilai Dengan anggapan yang ada, salah satu faktor penyebab kualitas pembelajaran agama belum sesuai, nampaknya adalah penggunaan pendekatan pembelajaran yang kurang sesuai. Adapun pendekatan pembelajaran yang dapat disaksikan saat ini hanya sekitar transfer of knowlage dan mengesampingkan tranfer of value. Padahal untuk memaksimalkan pembelajaran agama di sekolah agar terbentuk sebuah karakter, kedua pendekatan tersebut harus ada di dalam pembelajaran. Oleh sebabnya pembelajaran agama masih bersifat kognitif saja, dan ini menyebabkan para siswa hanya mengikat pengetahuannya tentang agama saja, akan tetapi hakikat keberadaannya tidak mengikat bahkan menurun. Dengan demikian, untuk meningkatkan efektifitas pembelajaran agama di sekolah sebagai wadah pengembangan peserta didik sangat berkaitan dengan teori Albert Bandura yang dikenal dengan Theory Social Kognitive atau dapat pula disebut sebagai model pembelajaran melalui peniruan. Peniruan yang dimaksud adalah meniru apa yang ada di lingkungannya, bisa guru, orang tua serta teman sepermainannya. Guru sebagai suri tauladan bagi murid-muridnya harus memberikan suri tauladan yang baik untuk peserta didiknya. Karena kata AuguruAy mempunyai makna digugu dan ditiru. Bukan hanya dalam ucapan, melainkan juga dalam tingkah laku atau bahkan dalam segi 6 Karena itulah, pembelajaran di dalam kelas tidak akan luput dari peran seorang guru. Apalagi pembelajaran agama yang menuntut adanya sebuah perubahan pasca pengalaman belajar peserta didik yaitu perubahan secara kognitif dan juga perubahan nilai. Dengan begitu, pendekatan dengan menggunakan teori Albert Bandura Qumruin Nurul Laila. AoPemikiran Pendidikan Moral Albert Bandura. Ao. MODELING: Jurnal Program Studi PGMI, 2. , 21Ae36 . Arylien Ludji Bire. AoPengaruh Gaya Belajar Visual. Auditorl. Dan Kinestetik Terhadap Prestasi Belajar SiswaAo. Jurnal Kependidikan, 44. No 2 . , 168Ae74. Ahmad Susanto. Chusnul Muali. Putri Naily Rohmatika. Kajian Refleksi Teori Pengembangan Karakter Anak dapat bermanfaat untuk dirinya dan juga untuk masyarakatnya atau lingkungannya, . memperbaiki segala kesalahan serta kekurangsempurnaannya dalam keyakinan pemahaman serta pengamalan ajaran agama Islam dalam kehidupan sehari-hari, . mencegah seluruh hal-hal negatif yang dapat menghambat perkembangan keyakinan peserta didik, . menyesuaikan diri dengan lingkingannya, baik lingkungan fisik siswa ataupun lingkungan sosialnya yang sesuai dengan ajaran agama Islam, . menjadikan ajaran Islam sebagai pedoman hidup untuk dunia serta akhiratnya, . mampu memahami pengetahuan agama Islam secara menyeluruh sesuai dengan kemampuan daya serapnya dan batas waktu yang tersedia. Akan tetapi, tugas ini bukan hanya ditumpukan kepada guru mata pelajaran Pendidikan Agama Islam saja melainkan juga dari seluruh unsur yang ada di lembaga Tujuannya adalah agar pembelajaran agama dapat terserap dengan baik. Hal ini senada dengan yang disampaikan oleh Yasin bahwa untuk menjadi lembaga yang unggul dan memperoleh keberhasilan yang menyeluruh, maka seluruh unsur dan komponen di suatu lembaga harus menyatu. 23 Oleh sebabnya, lembaga sebagai pendidikan yang berlebelkan agama, maka pendidikan agama memiliki transmisi yang lebih nyata dalam pembelajarannya. Yaitu tidak hanya cukup pada kemampuan kognitif saja, melainkan juga dari segala kempuan yang nantinya akan tumbuh dan berkembang menjadi karakter peserta didik. 24 Dengan kata lain, nilai-nilai agama yang telah diserap oleh peserta didik melalui pembelajaran mampu diaktualisasikan dalam tindakan yang Pendidikan atau pembelajaran agama merupakan salah satu dari subjek pelajaran yang harus dimasukkan ke dalam kurikulum pendidikan di Indonesia. Karena kehidupan beragama adalah salah satu dimensi kehidupan yang diharapkan dapat terpadukan dengan dimensi kehidupan lain pada setiap individu yang ada di negara Indonesia. 25 Dengan demikian semua lembaga pendidikan di Indonesia ini mengharuskan adanya kurikulum pendidikan agama. Nur Ainh. AoPembentukan Karakter Melalui Pendidikan Agama IslamAo. Al-Ulum, 13. , 25Ae38. Ahmad Fatah Yasin and others. AoPENGEMBANGAN KOMPETENSI PEDAGOGIK GURU PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI MADRASAH ( Studi Kasus Di MIN Malang I )Ao. El-QUDWAH. April . , 157Ae81. Maesaroh Lubis. AuKapita Selekta Pendidikan IslamAy (Jawa Barat: Edu Publisher, 2. , 13 Fathurrahman. AoPembelajaran Agama Sekolah Luar BsaAo. El-Hikam: Jurnal Pendidikan Dan Kajn Keislaman. VII. , 68Ae92. FIKROTUNA. Jurnal Pendidikan dan Manajemen Islam Volume. Nomor. Juli 2019 Demi terealisasinya tujuan pembelajaran agama yang sesuai dengan tujuan pendidikan Islam, seorang guru harus mampu membuat perencanaan pembelajaran sebelum bertatap muka dengan para siswanya: Strategi pembelajaran Di dalam pembelajaran strategi diartikan sebagai rencana tindakan atau sebuah usaha yang dilakukan termasuk juga dalam penggunaan metode serta serta penggunaan berbagai sumber daya yang digunakan untuk tercapainya sebuah tujuan pembelajaran. Sebuah dilaksanakan, karena tanpa perencanaan proses pembelajaran tidak akan terseusun dan terarah sesuai dengan tujuan pembelajaran dalam satuan pendidikan. 27 Oleh karenanya ketika hendak menyampaikan materi, seorang guru perlu mendesain rencana pelaksanaan pembelajarannya sedemikian rupa agar materi pembelajaran yang akan ia sampaikan dapat terserap dengan baik sesuai dengan tujuan pembelajaran. Menurut jenisnya, ada tiga jenis strategi di dalam pembelajaran yaitu: . strategi pengorganisasian pembelajaran atau disebut juga sebagai stuktural starategi. Startegi ini mnegacu pada bagaimana seorang guru membuat urutan, mensintesis fakta, konsep, prosedur dan prinsip-prinsip yang berkaitan. Jenis strategi ini masih dibagi menjadi dua bagian, yaitu strategi pengorganisasian makro dan startegi pengorganisasian mikro. Adapun strategi pengorganisasian makro adalah bagaimana seorang guru memilih, menata, mensintesis isi rangkuman pelajaran yang saling berkaitan dengan mengacu pada tujuan pembelajaran yang hendak dicapai dan pemantapan konsep apa yang akan yang diperlukan untuk mencapai tujuan pembelajaran. Sedangkan strategi pembelajaran mikro merupakan startegi yang berkaitan pemilihan metode untuk mengoganisasikan isi pembelajaran, . strategi penyampaian pembelajaran, yaitu suatu perencanaan atau komponen variabel metode yang akan digunakan dalam proses pembelajaran yang fungsinya untuk menyampaikan pembelajaran serta penyedian media pembelajaran. startegi pengelolaan pembelajaran merupakan penataan interaksi antara guru dan murid dalam proses pembelajaran. Surya Dharma. AoStrategi Pembelajaran Dan PemilihannyaAo, 2008, 57 . Isnawardatul Bararah. AoEfektifitas Perencanaan Pembelajaran Pendidikan Agama Islam Di SekolahAo. Jurnal Mudarrisuna, 7. , 131Ae47. Dharma. Chusnul Muali. Putri Naily Rohmatika. Kajian Refleksi Teori Pengembangan Karakter Anak Media pembelajaran Media menyampaikan materi pembelajaran. Karena itulah media pembelajaran memiliki arti penting dalam proses pembelajaran. Dengan kata lain, bahwa media pembelajaran merupakan alat bantu pembelajaran untuk memberikan pengalam visual kepada peserta didik sebagai motivasi belajar, mempermudah menjelaskan konsep yang sifatnya abstrak menjadi konkrit dan mudah diserap serta dipahami. Ada sekian banyak media pembelajaran yang dapat digunakan oleh guru untuk menyampaikan materi, khususnya materi Pendidikan Agama Islam di dalam kelas. Petama, media pembelajaran berbasis cetak. Media pembelajaran berbasis cetak ini merupakan media yang di dapat dari proses mencetak yang berisikan penyajian berupa tulisan atau gambar sehingga dapat diterima oleh panca indra sehingga pesan yang disampaikan oleh guru dapat diperjelas melewati gambar atau tulisan tersebut. Dengan begitu, tujuan dari media cetak adalah agar peserta didik dapat dengan mudah memperoleh pengalaman belajar melalui indra penglihatannya. Kedua, media Media pembelajaran elektronik ini merupakan alat bantu pembelajaran melalui alat-alat elektronik ataupun elektomekanik seperti radio, televisi, permainan vidio dan lain-lain. Ketiga, media digital . Media pembelajaran digital ini merupakan alat bantu pembelajaran dengan menggabungkan suatu bahan berupa bacaan, gambar, aktifitas dan lain sebaginya ke dalam bentuk multimodaltexts. 30 Dalam menggunakan ketiga media tersebut, perlu adanya pengawasan seorang guru dan juga orang tua, karena tidak semua media aman bagi pengembangan karakter peserta didik. Bisa jadi tujuan adanya media pembelajaran yang awalnya untuk mempermudah pembelajaran menjadi sesuatu yang menyulitkan bagi pendidik dan orang tua. Oleh karenanya, dalam memilih media pembelajaran, perlu adanya sebuah pertimbangan-pertimbangan, mengingat tidak semua media pembelajan cocok untuk Dalam pemilihan media pembelajaran tersebut bisa dirumuskan dengan sebutan ACTION . cces, cost, technology, interacvtivity, organization dan novelt. acces, merupakan media yang diperlukan dapat tersedia dengan mudah dan dapat Hasan Baharun. AoPengembangan Med Pembelajaran PAI Berbasis Lingkungan Melalui Model ASSUREAo. Cendek: Journal Education Society, . , 231Ae46 . Ahmad Nawawi. AoPENTINGNYA PENDIDIKAN NILAI MORAL BAGI GENERASI PENERUSAo. Insan, 16. , 119Ae33. IECC. AoResidentl Perspective RequirementsAo. Jurnal Pendidikan Ekonomi, 3. , 73Ae82 . Chusnul Muali. Putri Naily Rohmatika. Kajian Refleksi Teori Pengembangan Karakter Anak perilaku yang akan ditiru . Kedua, pengaruh perilaku model. Setelah mengenal perilaku yang akan ditiru, siswa akan mempertimbangkan apakah model tersebut sesuai untuk dirinya atau tidak. Ketiga, proses internal pelajar. Pada proses yang ketiga ini, siswa memutuskan untuk meniru perilaku model sehingga dari proses meniru tersebut akan menjadi perilaku dirinya sendiri. Menurut teori pembelajaran sosial Albert Bandura, dalam pembentukan karakter dibutuhkan adanya figur atau contoh keteladanan yang menjadi panutan bagi peserta didik. Seorang figur ini bisa dari guru, orang tua, tokoh masyarakat sebagai cerminan dalam kehidupan sehari-hari. 44 Dengan kata lain, dalam pembentukan karakter harus didukung oleh segala dimensi lingkungan sekitar peserta didik karena peserta didik merupakan pengamat. Menurut Bandura seperti yang dikutip oleh Laila bahwa terdapat lima hal yang dapat dipelajari melalaui pengamatan, yaitu: . eserta didi. dapat mempelajari tentag keterampilan kognitif, afektif dan psikomotorik dari perilaku model, . pengamatan terhadap model bisa melemahkan juga menguatkan bagi pengamat. Tergantug pertimbangan seorang pengamat, apakah menguntungkan baginya? Apakah ia memperoleh atau sanksi? Apakah ia akan mengalami konsekuensi yang sama jika meniru model. Seorang pengamat akan menentukan untuk tidak meniru model ketika model megalami konsekuensi yang tidak menyenangkan. Namun ada juga pengamat yang lebih berani untuk meniru ketika melihat model yang sama tidak mengalami konsekuensi yang tidak menyenangkan, . selain itu para pengamat juga dapat menjadi sebagai penganjur umum atau pendorong bagi pengamat. Dengan kata lain, pengamat bisa belajar tentang apa keuntungan dari melakukan perbuatan, . pengamat dapat belajar tentang bagaimana memanfaatkan lingkungan sekitar, . pengamat dapat belajar bagaimana mengepresikan ekspresi emosional sebagaiman yang dilakukan oleh Dalam hal ini guru merupakan suri tauladan atau model bagi peserta didik di lingkungan sekolah. Sebagai contoh, seorang guru akan menjadi sorotan bagi peserta didik maupun orang-orang yang berada disekitarnya yang menyebutnya atau Laila. Oos M Anwas. AoMembangun Med Massa Publik Dalam Menanamkan Pendidikan KarakterAo. Jurnal Pendidikan Dan Kebudayaan, 17. Laila. FIKROTUNA. Jurnal Pendidikan dan Manajemen Islam Volume. Nomor. Juli 2019 menganggapnya sebagai guru. Selain sebagai contoh untuk ditiru, peran seorang guru juga dapat memperlemah dan memperkuat perilaku siswa yang telah ada serta dapat menginternalisasikan nilai-nilai moral baru. 46 Oleh karenanya, untuk melahirkan peseta didik yang berkarakter ini sangat bergantung pada seorang guru. Walaupun lingkungan keluarga merupakan wilayah urgen dalam pendidikan karakter, namun ada baiknya jika kita mengibaratkan proses pembelajaran disekolah layaknya kehidupan di masyarakat. Karena, semua orang tua tidak hanya mengharapkan anak-anaknya memiliki intelektual yang tinggi, melainkan juga mengharapkan sukses dalam segi emosional dan sosial yang dapat disenergikan. 47 Dari itulah, peran seorang guru dalam membentuk karakter anak menjadi sangat urgen, karena soeorang guru merupakan pengganti orang tua dalam pendidikan. Melawannya berarti melawan orang Jika demikian adanya menjadi guru yang ideal adalah ia yang bisa menjadi uswatun hasanah bagi para siswanya. 48 Sama halnya dengan teori yang dicetuskan oleh Albert Bandura, bahwa manusia dapat belajar melalui peniruan, pendidikan Islam telah lebih dulu mencetuskan teori peniruan tersebut dengan sebutan uswatun hasanah. Keteladanan telah tebukti sebagai metodelogi pendidikan Islam yang sangat efektif dan sukses, karena keteladanan memberikan contoh yang jelas untuk ditiru. Dalam pandangan Wahid Hasyim seperti yang dikutip oleh Baharun dan Mahmudah bahwa terdapat delapan nilai pendidikan karakter yang harus dikembangkan oleh lembaga pendidikan, yaitu: . Dalam pendidikan karakter nilai religius berada di posisi paling utama. Nilai religius ini berperan dalam pengontrolan diri yang dapat mendoktrin hati seseorang bahwa ada yang maha tinggi yang sedang mengawasi. toleransi, sikap toleransi merupakan sikap pemberian kebebasan terhadap sesama selama tidak melenceng dari norma-norma . Mandiri, merupakan sikap tanggung jawab atas dirinya sendiri tanpa melibatkan orang lain, dengan rasa tanggung jawab itulah ia tidak akan mudah bergantung pada orang lain ketika mengalami hal-hal sulit . demokratis, merupakan sikap saling memahami terhadap sesama. Dengan memiliki sikap ini, seseorang tidak akan terjebak dalam egoisme yang menomersatukan dirinya Laila. Abd Hamid Wahid . Chusnul Muali. Rhoni Rodin. AoBAGI SEORANG GURU AGAMA ( Kajn Terhadap Metode Pendidikan Islam )Ao. Julie Andrews Yasin. Fatah. Santoso Sastropoetra. AoPenumbuhan Kedisiplinan Sebagai Pembentukan Karakter Peserta Didik Di MadrasahAo. El-Hikmah. IX. , 129 . Chusnul Muali. Putri Naily Rohmatika. Kajian Refleksi Teori Pengembangan Karakter Anak sendiri tanpa menghormati sesamanya . cinta tanah air, merupakan perasaan memiliki terhadap negaranya sebagai tempat tinggalnya. Dengan begitu ia akan membela dan menjaga negaranya dengan segenap jiwa dan raga . komunikatif atau bersahabat, merupakan sikap senang bergaul denagan sesamanya. semangat kebangsaan, merupakan semangat yang timbul dalam diri seseorang untuk menyerahkan kesetiaannya terhadap bangsa dan negaranya dan . gemar membaca, dengan membaca manusia dapat membuka jendela dunia yang berisikan tentang informasi-informasi yang tidak ia saksikan langsung. Denagn membaca pula seseorang dapat menghilangkan ketidak tahuan dalam dirinya menjadi pribadi yang memiliki pengetahuan50 Penutup Dalam konsep pengembangan karakter anak. Bandura menggunakan teori kognitif sosial. Bahwasannya guru sebagai model dan pengamat. Kecenderungan peserta didik untuk melakukan 2 . hal, yaitu peniruan dan penyajian contoh. Dalam pembelajaran agama di sekolah yang penerapannya dilimpahkan kepada guru dapat menggunakan pendekatan melalui pemikiran Albert Bandura sebagai pengembangan nilai . anak didik. Dengan demikian, dalam rangka tercapainya tujuan pendidikan untuk menjadikan anak-anak bangsa yang berkarakter dapat dilakuakan melalui dua pendekatan, pendekatan transfer of knowlage dan transfer of value. Guru sebagai model . , harus mampu menjadi suri tauladan yang baik bagi peserta didiknya . agar memiliki karakter sebagaimana yang dicita-citakan oleh pendidikan, khususnya pendidikan Islam. Hasan Baharun and Mahmudah. AoKonstruksi Pendidikan Karakter Di Madrasah Berbasis PesantrenAo. Jurnal Mudarrisuna, 8. , 153. FIKROTUNA. Jurnal Pendidikan dan Manajemen Islam Volume. Nomor. Juli 2019 Daftar Pustaka