POLINOMIAL Jurnal Pendidikan Matematika Volume 5 Issue 1 . , pp. Online: https://ejournal. org/index. php/jp e-ISSN: 2830-0378 Modul Ajar Berbasis Problem Based Learning Konten Sistem Persamaan dan Pertidaksamaan Linear untuk Memfasilitasi Kemampuan Pemecahan Masalah Matematis Peserta Didik Adela Putri 1*. Armis 2. Elfis Suanto 3 1,2,3 Program Studi Pendidikan Matematika. Universitas Riau. Indonesia *Corresponding Author: putri1376@student. Submitted: 18 December 2025 | Revised: 27 January 2026 | Accepted: 29 January 2026 Abstrak Penelitian ini bertujuan mengembangkan modul ajar berbasis Problem Based Learning pada materi Sistem Persamaan dan Pertidaksamaan Linear untuk memfasilitasi kemampuan pemecahan masalah matematis dengan kriteria modul yang valid dan praktis. Penelitian ini merupakan penelitian pengembangan dengan model 4D yaitu Define (Pendefinisia. Design (Perancanga. Development (Pengembanga. , dan Disseminate (Penyebarluasa. Proses pengembangan meliputi beberapa tahapan yang dilakukan: . Define, mencakup proses analisis awal akhir, peserta didik, konsep, tugas, dan spesifikasi tujuan pembelajaran. Design, melibatkan proses penyusunan standar tes, pemilihan media, format dan rancangan awal. Develop, mencakup penilaian ahli serta uji coba pengembangan. Disseminate, tahap penyebarluasan produk melalui seminar dan publikasi. Instrumen yang digunakan adalah lembar validasi ahli untuk memvalidasi modul ajar dan lembar angket respon peserta didik untuk kepraktisan LKPD. Hasil penelitian menunjukkan bahwa modul ajar telah valid dari beberapa aspek dengan kriteria sangat valid dengan perbaikan sesuai saran dari validator. Selanjutnya, implementasi LKPD pada tahap small group dan field test menunjukan kepraktisan LKPD dengan kriteria sangat praktis. Hal ini dapat dilihat dari LKPD yang mudah dimengerti oleh peserta didik. Kata Kunci: Modul Ajar. Pembelajaran Berbasis Masalah. Kemampuan Pemecahan Masalah Matematis. Sistem Persamaan dan Pertidaksamaan Linear Abstract This study aims to develop a Problem Based LearningAebased teaching module on the topic of Systems of Linear Equations and Inequalities to facilitate studentsAo mathematical problem-solving skills, with the criteria of validity and practicality. This research is a development study employing the 4D model, which consists of Define. Design. Develop, and Disseminate stages. The development process includes several stages: . Define, which involves front-end analysis, learner analysis, concept analysis, task analysis, and the specification of learning objectives. Design, which includes the preparation of test standards, media selection, format determination, and initial design. Develop, which comprises expert validation and development trials. Disseminate, which involves the dissemination of the product through seminars and publications. The instruments used in this study were expert validation sheets to assess the validity of the teaching module and student response questionnaires to measure the practicality of the student worksheets (LKPD). The results indicate that the teaching module is valid in several aspects and meets the criteria of being very valid after revisions based on validatorsAo Furthermore, the implementation of the LKPD in the small group and field test stages demonstrates that the LKPD is very practical. This is evidenced by the fact that the LKPD is easy for students to understand. Keywords: Teaching Module. Problem Based Learning. Mathematical Problem-Solving Skills. Systems of linear equations and inequalities This is an open access article under the CC BY-SA license. Copyright A 2026 by Author | 163 Jurnal Polinomial. Volume 5 Issue 1 . , pp. 163-173, Adela Putri. Armis. Elfis Suanto PENDAHULUAN Dalam Keputusan Kepala Badan Standar. Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan. Kementerian Pendidikan. Kebudayaan. Riset dan Teknologi . termuat salah satu tujuan mata pelajaran matematika yaitu memecahkan masalah yang meliputi kemampuan memahami masalah, merancang model matematis, menyelesaikan model atau menafsirkan solusi yang diperoleh. Menurut National Council of Teachers of Mathematics . Kemampuan Pemecahan Masalah Matematis adalah kemampuan yang esensial bagi peserta Pentingnya kemampuan pemecahann masalah matematis sejalan dengan pendapat Ariawan & Nufus . bahwa peserta didik perlu memiliki kemampuan pemecahan masalah matematis karena merupakan tujuan pembelajaran matematika dan sebagai jantungnya Namun pada kenyataannya. KPMM peserta didik masih jauh dari yang diharapkan karena kurangnya minat peserta didik dalam pembelajarran matematika. Banyak peserta didik yang merasa takut dan tidak percaya diri untuk menghadapi kesulitan dalam belajar matematika (Ulandari. Army, dan Saragih, 2. Rendahnya KPMM peserta didik juga dapat dilihat dari penelitian terdahulu oleh Ravina . yang menyimpulkan bahwa KPMM peserta didik tergolong rendah dilihat dari pencapaian pada setiap indicator yaitu memahami masalah 40%, merencanakan penyelesaian masalah 36%, menyelesaikan masalah 36%, dan memeriksa hasil 22%. Dimana hasil menunjukan bahwa peserta didik tidak terbiasa mengerjakan soal berbasis masalah, sementara peserta didik lain tidak mampu membuat model matematika dan belum mampu melakukan perhitungan aljabar. Misalnya untuk elemen aljabar pada konten AuSistem Persamaan dan Pertidaksamaan LinearAy, sering kali dihubungkan dengan permasalahan pada kehidupan sehari-hari. Peserta didik belum mampu mengidentifikasi unsur diketahui dan ditanya, memodelkan masalah dalam soal, memulai perencanaan penyelesaian masalah, serta melakukan penyelesaian masalah (Dewi, dkk, 2. Untuk mengatasi rendahnya KPMM, diperlukan kebiasaan peserta didik dalam menyelesaikan permasalahan dengan langkah-langkah yang jelas. Upaya yang dapat dilakukan untuk mengatasi permsalahan yaitu perlu adanya sebuah rencana pembelajaran yang dapat memfasilitasi KPMM sesuai dengan kurikulum merdeka dan memiliki model pembelajaran yang mampu mengatasi permasalahan Menurut Rahmadani . salah satu model pembelajaran yang berpusat pada peserta didik serta menerapkan pemecahan masalah adalah model pembelajaran berbasis masalah atau Problem Based Learning (PBL). Novianti . menyatakan bahwa penerapan PBL dapat meningkatkan KPMM peserta didik. Menurut Silalahi . , dalam penerapan model Problem Based Learning (PBL), guru harus memiliki kemampuan menyusun perencanaan pembelajaran yang sesuai. Perencanaan tersebut diwujudkan dalam bentuk modul ajar yang disusun secara sistematis dan menarik, serta selaras dengan Capaian Pembelajaran (CP) pada fase yang ditetapkan. Berdasarkan CP tersebut, tujuan pembelajaran dan alur tujuan pembelajaran dapat dirumuskan. Oleh karena itu, diperlukan perangkat pembelajaran yang valid dan praktis. Penelitian ini bertujuan mengembangkan modul ajar berbasis Problem Based Learning pada materi Sistem Persamaan dan Pertidaksamaan Linear untuk memfasilitasi kemampuan pemecahan masalah Open Access: https://ejournal. org/index. php/jp | 164 Jurnal Polinomial. Volume 5 Issue 1 . , pp. 163-173, Adela Putri. Armis. Elfis Suanto METODE Penelitian ini merupakan penelitian pengembangan dengan menggunakan model pengembangan 4-D yaitu Define. Designe. Develop, dan Disseminate. Penelitian pengembangan bertujuan untuk menghasilkan produk baru atau menyempurnakan produk yang ada. Dalam penelitian ini, produk yang dikembangkan berupa modul ajar yang sesuai dengan kurikulum merdeka mengandung konten sistem persamaan dan pertidaksamaan linear untuk peserta didik fase E atau kelas X SMA. Proses pengembangan meliputi beberapa tahapan yang dilakukan: . Define, mencakup proses analisis awal akhir, peserta didik, konsep, tugas, dan spesifikasi tujuan pembelajaran. Design, melibatkan proses penyusunan standar tes, pemilihan media, format dan rancangan awal. Develop, mencakup penilaian ahli serta uji coba pengembangan. Disseminate, tahap penyebarluasan produk melalui seminar dan publikasi. Penelitian melibatkan 25 siswa dari kelas XI Al-Khazani SMA IT Al-Fityah Pekanbaru yang memiliki kemampuan heterogen. Dilakukan beberapa tahapan penelitian sesuai dengan tahapan eveluasi Tessmer yaitu penilaian ahli untuk memvalidasi produk yang dikembangkan, uji coba one to one untuk menguji keterbacaan LKPD (Lembar Kerja Peserta Didi. , uji coba kelompok kecil untuk mengidentifikasi kekurangan pada LKPD, dan uji coba kelompok besar untuk menguji kepraktisan LKPD setelah dilakukannya revisi. Teknik pengumpulan data yang dilakukan melibatkan wawancara terhadap guru untuk mengidentifikasi permasalahan dasar, instrumen yang digunakan yaitu instrumen validitas untuk mendapatkan penilaian validator terhadap kevalidan modul ajar dan instrumen praktikalitas berupa lembar angket respon peserta didik untuk menilai kepraktisan LKPD. Analisis kevalidan modul ajar menggunakan rumus berikut: Ocycuycn=1 ycOycaycn ycOIyca = ycu Dari rata-rata penilaian validator kemudian dikonversikan kedalam tabel 1 untuk melihat kriteria kevalidan modul ajar. Tabel 1. Kriteria Uji Validitas Interval ycOyca < 50,00 % 50,00 % O ycOIyca < 70,00 % 70,00 % O ycOIyca < 85,00 % 85,00 % O ycOIyca O 100 % Kriteria Validasi Tidak Valid Kurang Valid Valid Sangat Valid Sumber: Modifikasi dari Akbar . Jika modul ajar mencapai minimal skor validasi 70,00 % O ycOIyca < 85,00 % maka modul ajar dapat dinyatakan valid dan bisa diuji cobakan pada peserta didik berdasarkan kegiatan pembelajaran yang telah dirancang. Selanjutnya, analisis kepraktisan dihitung menggunakan rumus berikut : ycOIycy = Ocycuycn=1 ycOycyycn ycu Dari rata-rata penilaian lembar angket respon peserta didik kemudian dikonversi ke dalam tabel 2 untuk melihat kriteria kepraktisan LKPD. Open Access: https://ejournal. org/index. php/jp | 165 Jurnal Polinomial. Volume 5 Issue 1 . , pp. 163-173, Adela Putri. Armis. Elfis Suanto Tabel 2. Kriteria Uji Praktikalitas Interval ycOIyca < 50,00 % 50,00 % O ycOIyca < 70,00 % 70,00 % O ycOIyca < 85,00 % 85,00 % O ycOIyca O 100 % Kriteria Praktikalitas Tidak Praktis Kurang Praktis Praktis Sangat Praktis Jika LKPD mencapai minimal skor praktikalitas 70,00% O ycOIyca < 85,00% maka LKPD dapat dinyatakan praktis digunakan oleh peserta didik, namun jika hasil angket respon peserta didik kurang praktis atau tidak praktis maka harus diperbaiki sesuai komentar dari peserta didik. HASIL PENELITIAN Dari hasil penelitian yang dilakukan, dihasilkan sebuah produk berupa modul ajar yang disusun sesuai kurikulum merdeka berdasarkan BSKAP tahun 2022 yang menerapkan model Problem Based Learning. Modul ajar dirancang guna memfasilitasi Kemampuan Pemecahan Masalah Matematis (KPMM) peserta didik fase E atau kelas X SMA/Sederajat dalam konten Sistem Persamaan dan Pertidaksamaan Linear dan telah terbukti valid serta praktis untuk Penelitian ini mengikuti alur pengembangan model 4D dan pada tahap pengembangan (Develo. menggunakan tahap evaluasi formatif Tesmer dengan tahapan sebagai berikut. Tahap Define (Pendefinisia. Tahap pendefinisan dilakukan untuk mengidentifikasi kebutuhan melalui analisis awalakhir, analisis peserta didik, analisis konsep, analisis tugas, dan spesifikasi tujuan Temuan pada tahap ini menunjukkan bahwa perangkat yang digunakan berupa modul ajar masih menggunakan hasil adaptasi guru lain dan tertera secara singkat sehingga modul belum memenuhi kebutuhan siswa di sekolah. Selain itu, peserta didik masih mengalami kesulitan dalam memahami penerapan serta pemecahan masalah khususnya pada konteks soal kehidupan sehari-hari. Pada analisis konsep dilakukan untuk merinci dan menyusun konten yang relevan. Penyusunan konten pada pengembangan modul ajar ini mengacu pada BSKAP Kemendikbudristek 2024 panduan pembelajaran. Konten Sistem Persamaan dan Pertidaksamaan Linear disusun mengacu pada buku guru dan buku siswa kurikulum merdeka yang terdiri dari Sistem Persamaan Linear Tiga Variabel dan Sistem Pertidaksamaan Linear Dua Variabel. Analisis tugas dilakukan untuk menentukan kompetensi dasar yang harus dicapai. Dilakukan analisis pada capaian pembelajaran pada fase E konten Sistem Persamaan dan Pertidaksamaan Linear. Capaian pembelajaran mengacu pada BSKAP No. 32/H/KR/2024 tentang capaian pembelajaran. Adapun capaian pembelajarannya adalah Di akhir Fase E, peserta didik dapat menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan sistem persamaan linear tiga variabel dan sistem pertidaksamaan linear dua variabel. Hasil pada tahap ini adalah Alur Tujuan Pembelajaran (ATP) yang dapat dilihat pada tabel berikut. Open Access: https://ejournal. org/index. php/jp | 166 Jurnal Polinomial. Volume 5 Issue 1 . , pp. 163-173, Adela Putri. Armis. Elfis Suanto Tabel 3. Alur Tujuan Pembelajaran Capaian Pembelajaran Pada akhir Fase E, peserta didik dapat menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan sistem persamaan linear tiga variabel dan sistem pertidaksamaan linear dua Tujuan Pembelajaran Peserta didik dapat memodelkan masalah yang berkaitan dengan Sistem Persamaan Linear Tiga Variabel Peserta didik dapat mengidentifikasi dan menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan Sistem Persamaan Linear Tiga Variabel Peserta didik dapat menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan Sistem Pertidaksamaan Linear Dua Variabel Kode TP Kegiatan analisis tugas dan spesifikasi tujuan pembelajaran mencakup analisis CP terkait materi yang dikembangkan untuk menghasilkan Alur Tujuan Pembelajaran dan Tujuan Pembelajaran. Tahap Design (Perancanga. Pada kegaiatan perancangan, peneliti membuat rancangan awal menggunakan model PBL dengan tahap-tahap pendekatan saitifik serta indikator KPMM. Dimana produk yang dikembangkan sesuai dengan data hasil analisis pada tahap pendefinisian. Tahap design meliputi empat langkah. Penyusunan standar tes, pada tahap ini dilakukan penyusunan lembar validasi dan angket respon peserta didik untuk mengukur kevalidan dan kepraktisan Lembar validasi modul ajar dirancang berdasarkan aspek isi dan konstruk sedangkan lembar validasi LKPD dan asesmen dirancang berdasarkan aspek didaktik, isi, bahasa, penyajian, waktu dan konstruk. Rancangan angket respon peserta didik berdasarkan 3 aspek yaitu Tampilan LKPD. Isi/materi pada LKPD, dan Kemudahan penggunaan LKPD. Tahap selanjutnya melakukan pemilihan format yakni dikembangkan dengan tahapan model PBL yang berpedoman pada BSKAP Kemendikbudristek tahun 2022, dimana modul ajar terdiri dari 3 bagian yaitu Informasi Umum. Komponen Inti, dan Lampiran. Kemudia pemilihan media yang digunakan untuk membuat produk berupa modul ajar yaitu Microsoft Office Word 2010 dan untuk membuat LKPD menggunakan Canva. Tahapan terakhir yaitu membuat rancangan awal modul ajar berdasarkan pemilihan format dan media. Tahap Develop (Pengembanga. Dilanjutkan dengan tahap pengembangan yang mana menggunakan tahapan evaluasi formatif tesmer. Peneliti terlebih dahulu melakukan self evaluation untuk meninjau kembali kesesuaian isi, tampilan, dan struktur modul ajar sesuai dengan model Problem Based Learning. Peninjauan ini meliputi pemeriksaan kesesuaian tujuan pembelajaran dengan capaian pembelajaran Kurikulum Merdeka, kejelasan langkah-langkah kegiatan berbasis masalah, serta kebenaran konsep dan simbol matematika. Selain itu, dilakukan pula pengecekan terhadap tata bahasa dan tampilan visual modul sebelum divalidasi ke ahli. Open Access: https://ejournal. org/index. php/jp | 167 Jurnal Polinomial. Volume 5 Issue 1 . , pp. 163-173, Adela Putri. Armis. Elfis Suanto Kegiatan validasi dilakukan oleh tiga validator yang terdiri dari satu dosen Matematika Universitas Islam Riau, satu dosen Universitas MaAoarif Lampung, dan satu dosen STKIP PGRI Jombang. Validator melakukan penilaian modul ajar untuk memeriksa tingkat kevalidannya. Gambar 2 menampilkan hasil validasi modul ajar penelitian ini. Tabel 4. Hasil Validasi Modul Ajar Butir Penilaian Modul Ajar 1 Modul Ajar 2 Modul Ajar 3 Modul Ajar 4 Modul Ajar 5 Informasi Umum Komponen Inti Lampiran Informasi Umum Komponen Inti Lampiran Informasi Umum Komponen Inti Lampiran Informasi Umum Komponen Inti Lampiran Informasi Umum Komponen Inti Lampiran Rata-Rata Validator . cyeC) 97,62% 98,61% 94,90% 97,62% 98,61% 94,90% 97,62% 98,61% 94,90% 97,62% 98,61% 94,90% 97,62% 98,61% 94,90% Rata-Rata Keseluruhan . cIyeCI) Rata-Rata Aspek cIIyeC)I Kategori 97,04% Sangat Valid 97,04% Sangat Valid 97,04% Sangat Valid 97,04% Sangat Valid 97,04% Sangat Valid 97,04% Sangat Valid Berdasarkan hasil validasi dari ketiga validator diperoleh hasil yang menunjukkan bahwa validasi mencapai rata-rata 97,04% dengan kriteria sangat valid. Validator memberi saran untuk memperbaiki penggunaan bahasa dan tata kalimat serta soal dalam LKPD dibuat sesuai kehidupan sehari-hari khususnya pada peserta didik pada fase E. Validator memberi saran untuk memperbaiki penggunaan bahasa dan tata kalimat serta soal dalam LKPD dibuat sesuai kehidupan sehari-hari khususnya pada peserta didik pada fase E. Selanjutnya, perangkat pembelajaran berupa LKPD diujicobakan melalui uji coba oneto-one, kelompok kecil, dan kelompok besar. Pelaksanaan uji coba dilakukan pada sampel peserta didik SMA IT Al-Fityah kelas XI yang telah mempelajari materi sistem persamaan dan pertidaksamaan linear. Uji coba one-to-one dilakukan untuk melihat keterbacaan LKPD pada tiga orang peserta didik dengan kemampuan berbeda. Pada pengerjaan LKPD didampingi langsung oleh peneliti. Peneliti menyampaikan penjelasan singkat terkait pengerjaan LKPD dengan tepat. Setelah melakukan uji one-to-one, dilakukan perevisian sesuai komentar dari peserta didik. Tahap selanjutnya, uji coba kelompok kecil yang melibatkan enam peserta didik dan menghasilkan rata-rata kepraktisan sebesar 90,52% dengan kategori sangat praktis. Peserta didik menilai LKPD menarik, dan membantu mereka memahami materi melalui kegiatan berbasis masalah. Open Access: https://ejournal. org/index. php/jp | 168 Jurnal Polinomial. Volume 5 Issue 1 . , pp. 163-173, Adela Putri. Armis. Elfis Suanto Tabel 5. Hasil Angket Respon Peserta Didik Uji Kelompok Kecil Aspek Tampilan Penyajian Materi Kemudahan Penggunaa n LKPD Rata-rata Rata-rata LKPD ke2 Rata-rata Kategori Sangat Sangat 91,67% 93,06% 90,28% 94,44% 88,89% 91,67% 88,33% 85,00% 89,17% 87,50% 84,17% 86,83% 94,44% 94,44% 90,28% 93,06% 93,06% 93,06% Sangat 91,48 % 90,83% 89,91% 91,67% 88,71% 90,52% Sangat Setelah melaksanakan uji coba kelompok kecil kemudian dilakukan uji coba kelompok besar pada 25 orang peserta didik SMA IT Al-Fityah Pekanbaru untuk menilai kepraktisan LKPD berbasis PBL dalam situasi pembelajaran yang sesungguhnya. Pada tahap ini, peserta didik dibagi menjadi 6 kelompok dengan 5 kelompok berjumlah empat orang dan 1 kelompok berjumlah lima orang. Tabel 5. Hasil Angket Respon Peserta Didik Uji Kelompok Besar Aspek Rata-rata LKPD ke3 Rata-rata Kategori 88,89% 91,67% Sangat 87,50% 84,17% 86,83% Sangat 90,28% 93,06% 93,06% 93,06% Sangat 89,91% 91,67% 88,71% 90,52% Sangat Tampilan 91,67% 93,06% 90,28% 94,44% Penyajian Materi 88,33% 85,00% 89,17% Kemudahan Penggunaan LKPD 94,44% 94,44% Rata-rata 91,48% 90,83% Hasil penelitian menunjukkan bahwa modul ajar yang dikembangkan telah memenuhi kriteria valid dan praktis sesuai dengan pedoman pengembangan perangkat pembelajaran (Akbar, 2. Kepraktisan modul terlihat dari hasil respon peserta didik yang menyatakan kegiatan berbasis masalah membantu mereka memahami konsep dan solusi. Hal ini menunjukkan bahwa pendekatan PBL memberikan ruang bagi peserta didik untuk dapat merencanakan pemecahan masalah melalui proses penyelidikan. Tahap Disseminate (Penyebara. Tahap penyebaran terdiri dari 2 kegiatan yaitu pengemasan produk dan penyebaran produk kepada sekolah dengan menyerahlan modul ajar kepada SMA IT Al-Fityah Pekanbaru. Berikut tampilan sampul pengemasan modul ajar konten sistem persamaan dan pertidaksamaan linear berbasis PBL untuk memfasilitasi kemampuan pemecahan masalah matematis peserta didik fase-E. Open Access: https://ejournal. org/index. php/jp | 169 Jurnal Polinomial. Volume 5 Issue 1 . , pp. 163-173, Adela Putri. Armis. Elfis Suanto Gambar 1. Tampilan Sampul Produk PEMBAHASAN Penelitian yang dilaksanakan dengan menerapkan model pengembangan 4-D yang terdiri dari empat tahap, yaitu define, design, development, dan disseminate. Produk yang dihasilkan adalah modul ajar yang terdiri dari bagian I informasi umum, bagian II komponen inti, dan bagian i lampiran. Modul ajar yang dihasilkan adalah modul ajar berbasis model pembelajaran problem based learning (PBL) pada konten sistem persamaan dan pertidaksamaan linear yang bertujuan memfasilitasi kemampuan pemecahan masalah matematis peserta didik. Modul ajar yang dihasilkan merupakan modul ajar yang valid dan Penelitian ini diawali dari tahap define . dengan menganalisis awal Ae akhir, analisis peserta didik, analisis tugas, analisis konsep, dan perumusan tujuan Peneliti menganalisis kebutuhan siswa berdasarkan masalah yang dihadapi ketika pembelajaran matematika yang diperoleh dengan melakukan wawancara. Masalah yang dihadapi adalah rendahnya kemampuan pemecahan masalah matematis peserta didik dan kurang tersedianya modul ajar matematika yang memuat kegiatan pembelajaran berbasis pembelajaran kontekstual, karena sebagian besar pembelajaran masih berpusat pada guru. Sejalan dengan hasil penelitian Delfita et al. yaitu kegiatan pembelajaran yang berlangsung berpusat pada guru masih dilakukan serta permasalahan kontesktual tidak diberikan melainkan soal Ae soal rutin. Soal Ae soal rutin tidak memotivasi peserta didik untuk menemukan sendiri konsep pembelajaran matematika (Arta et al. , 2. Oleh karena itu, peneliti mengembangkan produk berupa modul ajar pada konten sistem persamaan dan pertidaksamaan linear berbasis model pembelajaran PBL yang memfasilitasi kemampuan pemecahan masalah matematis peserta didik. Modul ajar yang dibuat terdiri atas 3 bagian diantaranya, bagian I : infomasi umum, bagian II : komponen inti, bagian i : lampiran. Open Access: https://ejournal. org/index. php/jp | 170 Jurnal Polinomial. Volume 5 Issue 1 . , pp. 163-173, Adela Putri. Armis. Elfis Suanto Pada tahap design . peneliti menyusun instrumen tes yang digunakan untuk menilai validitas dan praktikalitas modul ajar. Peneliti memilih media yang sesuai untuk pengembangan modul ajar. Format serta rancangan awal modul ajar mengacu pada panduan pembelajaran dan asesmen dengan menerapkan model pembelajaran PBL. Peneliti juga membuat rancangan awal dari modul ajar. Rancangan awal atau desain awal modul mengacu pada BSKAP Kemendibudristek tahun 2022 tentang Panduan Pembelajaran dan Asesmen dengan menggunakan model PBL dan pendekatan saintifik. Pada tahap development . , modul ajar yang telah dikembangkan dan divalidasi oleh 3 validator. Berdasarkan hasil validasi dari ketiga validor yang didapatkan untuk bagian I adalah 97,62% dengan kategori sangat valid, pada bagian II adalah 98,61% dengan kategori sangat valid dan bagian i adalah 94,90% dengan kategori sangat valid. Validator menyimpulkan bahwa modul layak diuji cobakan dengan revisi sesuai saran. Menurut (Akbar, 2. , modul ajar dikatakan valid jika pada validasi memperoleh rata Ae rata skor berada di interval > 70%. Modul ajar yang dikembangkan dapat diuji cobakan apabila telah memnuhi kriteria valid (Derniati et al. , 2. Setelah direvisi, peneliti melakukan ujicoba one to one evaluation. Uji coba one to one dilakukan terhadap tiga orang peserta didik yang memiliki kemampuan akademis yang Peserta didik diberikan LKPD untuk dikerjakan secara mandiri dengan pengawasan dan pendampingan peneliti. Temuan penelitian menunjukkan bahwa LKPD dapat digunakan dengan baik oleh peserta didik,. Peserta didik menyatakan bahwa tampilan modul menarik. Namun demikian, hasil uji coba one to one pada LKPD 2 dan LKPD 3, peserta didik memberitahu bahwa mereka merasa bingung dengan arahan langkah pengerjaan soal. Kesulitan yang dialami peserta didik disebabkan minimnya pengalaman peserta didik dalam pembelajaran PBL yang mengharuskan peserta didik aktif, mandiri, dan berfikir kritis, sehingga peserta didik memerlukan arahan untuk memahami maksud langkah pengerjaan soal. Temuan ini sejalan dengan hasil penelitian terdahulu yang menyatakan bahwa penerapan PBL pada tahap awal sering menimbulkan kebingungan peserta didik akibat perubahan pola belajar dan meningkatnya tuntutan kemandiran dalam belajar (Barrows & Tamblyn, 1980. HmeloSilver, 2. Uji coba small group dilakukan setelah revisi produk berdasarkan hasil one to one Pada saat pengerjaan, diperoleh temuan bahwa LKPD tergolong praktis dalam pembelajaran kelompok kecil. Meskipun demikian, masih ditemukan bahwa peserta didik bingung mengenai simbol yang digunakan untuk permodelan bentuk sistem persamaan linear, serta masih bergantung pada teman yang lebih dominan dalam kelompok. Selain itu, peserta didik masih memerlukan bimbingan guru. Pada akhir pengerjaan LKPD diberikan angket respon peserta didik yang bertujuan untuk mengukur praktikalitas LKPD. Berdasarkan hal tersebut diperoleh rata Ae rata kepraktisan dengan nilai 90,52%. Menurut (Akbar, 2. , modul ajar dikatakan praktis jika pada hasil angket respon memperoleh rata Ae rata skor berada di interval > 70%. Kepraktisan dinilai berdasarkan indikator tampilan LKPD, materi dan kemudahan dalam penggunaan LKPD. Uji coba Field test diadakan pada 25 orang peserta didik fase E. Hasil uji coba menunjukkan bahwa LKPD memiliki tingkat kepraktisan yang sangat baik, ditunjukkan oleh respon positif peserta didik terhadap LKPD. Praktikalitas LKPD berdasarkan angket respon peserta didik pada field test memperoleh rata Ae rata 91,3%. Hal ini menunjukkan bahwa LKPD Open Access: https://ejournal. org/index. php/jp | 171 Jurnal Polinomial. Volume 5 Issue 1 . , pp. 163-173, Adela Putri. Armis. Elfis Suanto dapat digunakan dengan baik. Namun, hasil menunjukkan bahwa KPMM peserta didik belum merata, khususnya pada indikator merencanakan pemecahan masalah. Sebagian peserta didik masih kesulitan mengaitkan konsep matematika dengan konteks masalah secara Temuan ini mengindikasikan bahwa LKPD layak digunakan, namun penguatan latihan pemecahan masalah masih diperlukan. Hasil ini sejalan dengan teori PBL yang menekankan pentingnya pembiasan dan latihan berulang agar peserta didik mampu mengembangkan KPMM secara optimal (Barrows & Tamblyn, 1. Pada tahap disseminate . , peneliti mengemas produk dan memberikan modul ajar yang telah valid dan praktis kepada sekolah yang berkontribusi untuk dijadikan referensi pada pengembangan modul ajar selanjutnya serta dilakukan publikasi artikel yang diunggah ke jurnal terakreditasi dan diseminarkan dalam seminar hasil penelitian. SIMPULAN DAN SARAN Penelitian ini menghasilkan modul ajar berbasis problem based learning pada konten sistem persamaan dan pertidaksamaan linear untuk peserta didik Fase E yang bertujuan memfasilitasi kemampuan pemecahan masalah matematis. Pengembangan dilakukan dengan menggunakan model 4D (Define. Design. Develop. Disseminat. yang juga dipadukan dengan evaluasi formatif Tesmer. Hasil validasi ahli menunjukkan bahwa modul ajar berapa pada kriteria sangat valid, sedangkan hasil uji coba kepada peserta didik menunjukkan kriteria sangat praktis. Hal ini membuktikan bahwa modul ajar yang dikembangkan layak digunakan sebagai bahan ajar pendukung dalam pembelajaran matematika untuk memfasilitasi kemampuan pemecahan masalah matematis peserta didik. Berdasarkan hasil penelitian, disarankan kepada guru agar menggunakan modul sebagai alternatif bahan ajar yang kontekstual bagi peserta didik serta menyesuaikan konteks permasalahan dengan lingkungan atau kehidupan sehari-hari. Peneliti selanjutnya disarankan untuk melakukan tes awal guna mengetahui kemampuan awal peserta didik dan melakukan uji coba pada peserta didik yang sedang mempelajari konten tersebut. DAFTAR PUSTAKA