Jurnal Psikohumanika. Volume 17. No 1 Juni 2025 Hal 9 -19 JURNAL PSIKOHUMANIKA http://ejurnal. id/ojs/index. php/psikohumanika PERAN EMPATI DAN REGULASI EMOSI DENGAN PERILAKU CYBERBULLYING PADA MAHASISWA PENGGUNA INSTAGRAM Vicky Diva Kusumawardani1*. Laelatus Syifa Sari Agustina2 1,2, Fakultas Psikologi. Universitas Sebelas Maret ARTICLE INFO ABSTRACT Article History Be accepted: June 2024 Approved: April 2025 Published: June 2025 The phenomenon of cyberbullying often occurs on social media Instagram. Instagram users are dominated by the 18-24 year age group, which is the student age range. Empathy and emotional regulation are factors that are related to the emergence of cyberbullying behavior. This research aims to determine the role of empathy and emotional regulation with cyberbullying behavior among student Instagram users. The sampling method in this research used convenience sampling technique. The population in this study were students who use Instagram. The number of samples in this study was 141 samples. The criteria for participants in this study were having the status of a student, aged between 18-24 years, and users of Instagram social media. Data was collected using a questionnaire distributed via social media. Research variables were measured Keywords: emotion using the cyberbullying behavior scale . u = 0,. , empathy scale . u = 0,. , and emotion regulation scale . u = 0,. Research data was processed using multiple linear regression analysis. The results of this study indicate a significant role of empathy and emotional regulation with cyberbullying behavior in students (R = 0,381. F = 11,7. <0,. A significant role was also found partially between empathy and cyberbullying behavior . = -2,26. p = 0,. and between emotional regulation and cyberbullying behavior . = -3,67. p = <0,. Based on the results of the research that has been conducted, it can be concluded that there is a significant role between empathy and emotional regulation with cyberbullying behavior in student Instagram users. Alamat Korespondensi: Jl. Ir. Sutami 36 Kentingan. Jebres. Surakarta. Jawa Tengah. Indonesia 57127 p-ISSN: 1979-0341 e-ISSN : 2302-0660 E-mail: sa@staff. vickydivaa@gmail. Vicky Vicky Diva Kusumawardani1*. Laelatus Syifa Sari Agustina2 Jurnal Psikohumanika. Volume 17. No 1 Juni 2025 INFO ARTIKEL Sejarah Artikel Diterima: Juni 2024 Disetujui: April 2025 Dipublikasikan: Juni 2024 Kata Kunci: perundungan dunia maya. regulasi emosi Hal 9 -19 ABSTRAK Fenomena cyberbullying sering dilakukan pada media sosial Instagram. Pengguna Instagram didominasi oleh kelompok usia 18-24 tahun yang merupakan rentang usia mahasiswa. Empati dan regulasi emosi adalah faktor yang mempunyai keterkaitan dengan munculnya perilaku cyberbullying. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peran empati dan regulasi emosi dengan perilaku cyberbullying pada mahasiswa pengguna Instagram. Metode pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan teknik convenience Populasi pada penelitian ini adalah mahasiswa pengguna Instagram. Jumlah sampel pada penelitian ini yaitu 141 sampel. Kriteria partisipan dalam penelitian ini adalah berstatus sebagai seorang mahasiswa, berusia antara 18-24 tahun, dan pengguna media sosial Instagram. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner yang disebarkan melalui media sosial. Variabel penelitian diukur menggunakan skala perilaku cyberbullying . u = 0,. , skala empati . u = 0,. , dan skala regulasi emosi . u = 0,. Data penelitian diolah menggunakan analisis regresi linear berganda. Hasil penelitian ini menunjukkan adanya peran yang signifikan antara empati dan regulasi emosi dengan perilaku cyberbullying pada mahasiswa (R = 0,381. = 11,7. p = <0,. Peran yang signifikan juga didapatkan secara parsial antara empati dengan perilaku cyberbullying . = -2,26. p = 0,. dan antara regulasi emosi dengan perilaku cyberbullying . = -3,67. p = <0,. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa terdapat peran yang signifikan antara empati dan regulasi emosi dengan perilaku cyberbullying pada mahasiswa pengguna Instagram. PENDAHULUAN Pada masa sekarang ini, perkembangan teknologi terjadi begitu cepat sehingga membuat manusia lebih efisien dalam melakukan kegiatan sehari-hari mereka. Teknologi komunikasi dan internet adalah teknologi yang berkembang sangat pesat saat Internet merupakan suatu sistem komputer yang menghubungkan jaringan ke seluruh dunia melalui penggunaan standar protokol komunikasi (Wiwi et al. , 2. Riset We Are Social menunjukkan Indonesia memiliki 185,3 juta pengguna internet atau setara dengan 66,5% populasi di Indonesia (Kemp, 2. Dampak positif dari internet adalah memudahkan manusia untuk berkomunikasi dan berbagi informasi (Fitriyanti. Media sosial adalah salah satu teknologi yang memudahkan manusia. Data We Are Social menunjukkan Indonesia memiliki 139 juta atau setara dengan 49,9% pengguna media sosial pada Januari 2024 (Kemp, 2. Media sosial berfungsi sebagai alat untuk berinteraksi, mengekspresikan diri, media pembelajaran, berbagi ide, dan sebagai platform untuk memasarkan produk atau jasa (Widada, 2. Satu dari sejumlah media sosial yang populer di negara Indonesia ialah Instagram. Menurut data We Are Social. Indonesia memiliki 100,9 juta atau setara dengan 36,2% pengguna Instagram pada awal tahun 2024 (Kemp, 2. Dengan mengakses Instagram, para pemakainya bisa mempublikasikan foto bahkan video (Ruth & Candraningrum, 2. Selain itu, terdapat fitur-fitur menarik di Instagram, seperti bisa melihat foto atau video terbaru dari sesama pengguna yang diikuti melalui homepage, melihat foto atau video yang sedang populer melalui explore atau reels, mengunggah Instagram story, melakukan siaran langsung melalui Instagram Live, membagikan unggahan orang lain . , menyinggung pengguna lain . , mencari topik yang saling berhubungan melalui hashtag, dan fitur lain seperti, like, comment, reply, maupun direct message. Vicky Vicky Diva Kusumawardani1*. Laelatus Syifa Sari Agustina2 Jurnal Psikohumanika. Volume 17. No 1 Juni 2025 Hal 9 -19 Selain dampak positif yang diberikan oleh internet, salah satu dampak negatif dari internet adalah cyberbullying (Witjaksono et al. , 2. Berdasarkan riset Ditch The Label. Instagram ditetapkan sebagai media sosial yang paling sering digunakan untuk melakukan cyberbullying (Pratama & Nistanto, 2. Pada penelitian yang dilakukan oleh Laora dan Sanjaya . ditemukan bahwa bentuk cyberbullying yang dilakukan di Instagram, antara lain harassment, trickery, denigration, dan flaming. Cyberbullying di Instagram disebabkan karena interaksi atau hubungan yang kurang baik antara pelaku dan korban di dunia nyata. Ketika interaksi yang terjalin di dunia nyata kurang baik, maka pelaku melakukan cyberbullying melalui media sosial. Hal ini dikarenakan media sosial dapat menjangkau individu yang lebih luas sehingga dengan membully di Instagram bisa membuat keburukan korban tersebar lebih luas dan diketahui banyak Pada tahun 2024 pengguna Instagram didominasi oleh individu yang berusia antara 18 hingga 24 tahun sebanyak 30,8% (McLachlan, 2. Secara umum, usia mahasiswa berkisar antara 18-24 tahun (Musabiq & Karimah, 2. Mahasiswa menggunakan Instagram sebagai media perluasan diri dalam kehidupan sosial, mengetahui keadaan orang lain, keberadaan seseorang di sekitarnya, mengembangkan minat pribadi, dan membentuk citra diri yang baru (Nainggolan et al. , 2. Witjaksono et al. dalam penelitiannya menemukan 14 dari 100 mahasiswa pernah melakukan Bercanda dan dendam pribadi menjadi penyebab pelaku melakukan perilaku cyberbullying. Selain itu, terdapat juga alasan untuk menjatuhkan orang lain secara sengaja yang pada akhirnya membuat pelaku memunculkan perilaku Cyberbullying adalah perbuatan kejam yang dilakukan terhadap seseorang dengan mengirimkan atau mengunggah konten yang berbahaya atau terlibat dalam berbagai bentuk agresi sosial menggunakan internet (Willard, 2. Selain itu, cyberbullying juga berarti tindakan agresif yang dilakukan secara berulang menggunakan teknologi elektronik dengan tujuan untuk menyakiti seseorang (Patchin & Hinduja, 2. Willard . menjelaskan bahwa cyberbullying terbagi menjadi beberapa bentuk, antara lain flaming, harassment, denigration, impersonation, exclusion, cyberstalking, dan outing and trickery. Meskipun pada fenomena cyberbullying pelaku dan korban tidak berhadapan secara langsung, tetapi efek yang dirasakan korban tetap terasa nyata (Fitriyanti, 2. Pada penelitian yang dilakukan oleh Sartana dan Afriyeni . menemukan bahwa 73% responden menyatakan dampak cyberbullying lebih serius daripada bullying di dunia nyata. Hal ini dikarenakan cyberbullying menggunakan internet sehingga orang yang melihat kejadian itu lebih banyak, cenderung bertahan lama, serta dapat berlangsung kapan saja tidak terbatas ruang dan waktu (Campbell. Terdapat beberapa faktor yang memengaruhi perilaku cyberbullying, antara lain empati (Wilantika et al. , 2. , regulasi emosi (Mujidin et al. , 2. , harga diri (Haura & Ardi, 2. , kontrol diri (Bulan & Wulandari, 2. , dan anonimitas (Samsiah & Sumaryanti, 2. Berdasarkan penelitian Wilantika et al. , ditemukan bahwa empati menjadi sebuah faktor yang bisa memengaruhi perilaku cyberbullying. Seseorang dengan tingkat empati yang rendah cenderung mempunyai tingkat cyberbullying yang tinggi (Wilantika et al. , 2. Empati adalah kemampuan untuk menafsirkan, memahami pengalaman, serta perasaan orang lain (Davis, 1. Selain itu, empati juga berarti kemampuan untuk memahami perspektif orang lain, merasakan apa yang dirasakan orang lain, serta merasakan apa yang dibutuhkan orang lain (Goleman, 2. Davis . menjelaskan bahwa empati terbagi menjadi beberapa aspek, antara lain fantasy, perspective taking, empathic concern, dan personal distress. Individu yang sangat empati mempunyai kepekaan dan tenggang rasa yang tinggi terhadap perasaan orang lain sehingga cenderung tidak akan melakukan perilaku cyberbullying (Fitriyanti, 2. Vicky Vicky Diva Kusumawardani1*. Laelatus Syifa Sari Agustina2 Jurnal Psikohumanika. Volume 17. No 1 Juni 2025 Hal 9 -19 Menurut penelitian Mujidin et al. , faktor lainnya yang bisa memengaruhi perilaku cyberbullying adalah regulasi emosi. Seseorang dengan tingkat regulasi emosi yang rendah cenderung memiliki tingkat cyberbullying yang tinggi (Mujidin et al. Regulasi emosi adalah proses individu mengelola emosi yang muncul sebagai respons terhadap peristiwa, baik emosi positif maupun emosi negatif yang mungkin timbul dan cara individu tersebut mengungkapkannya (Gross & John, 2. Selain itu, regulasi emosi merupakan proses dimana individu memengaruhi emosi yang dimiliki, kapan individu memilikinya, dan bagaimana individu mengalami serta mengekspresikan emosinya (Gross, 1. Gross dan John . memaparkan regulasi emosi terbagi menjadi dua aspek, antara lain cognitive reappraisal dan expressive Tingginya regulasi emosi dapat membantu individu dalam mengelola emosi yang dialami sehingga cenderung tidak akan melakukan perilaku cyberbullying (Violenta et al, 2. Penelitian yang telah Aini dan Rahardjo . laksanakan, ditemukan adanya pengaruh antara empati dan regulasi emosi terhadap perilaku cyberbullying. Empati dan regulasi emosi adalah faktor yang mempunyai keterkaitan dengan munculnya perilaku Individu yang memiliki tingkat empati tinggi dapat merasakan serta memahami keadaan orang lain dan individu yang memiliki tingkat regulasi emosi tinggi dapat mengatur perilaku serta mengelola emosi mereka sendiri sehingga mencegah terlibat dalam perilaku cyberbullying (Aini & Rahardjo, 2. Berdasarkan uraian di atas, terdapat tiga hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini, yaitu . terdapat peran antara empati dan regulasi emosi dengan perilaku cyberbullying pada mahasiswa pengguna Instagram, . terdapat peran antara empati dengan perilaku cyberbullying pada mahasiswa pengguna Instagram, dan . terdapat peran antara regulasi emosi dengan perilaku cyberbullying pada mahasiswa pengguna Instagram. METODE Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif yang bertujuan untuk mengetahui apakah terdapat peran antara Empati dan Regulasi Emosi dengan Perilaku Cyberbullying. Populasi pada penelitian ini adalah mahasiswa pengguna Instagram. Dikarenakan peneliti tidak mengetahui jumlah dari keseluruhan populasi, maka rumus Cochran digunakan untuk mencari jumlah sampel. Menurut perhitungan dengan rumus Cochran, diketahui bahwa banyaknya sampel yang diperlukan yaitu 96 sampel. Teknik sampling dalam penelitian ini yakni teknik convenience sampling yang merupakan metode pengambilan responden untuk dijadikan sampel dalam sebuah penelitian secara Kriteria yang perlu dipenuhi sebagai penentuan sampel penelitian, yaitu berstatus sebagai seorang mahasiswa, berusia antara 18-24 tahun, dan pengguna media sosial Instagram. Pada pengambilan data, total responden yang terkumpul dalam penelitian berjumlah 141 responden. Teknik analisis data dalam penelitian ini menggunakan analisis regresi linear berganda. Selanjutnya, analisis data dilakukan dengan perangkat Jamovi. Skala perilaku cyberbullying dibuat sendiri oleh peneliti berdasarkan teori Willard . Skala perilaku cyberbullying terdiri dari 30 item menggunakan 5-point likert scale, yaitu 1 = Tidak Pernah, 2 = Jarang, 3 = Kadang-kadang, 4 = Sering, dan 5 = Sangat Sering. Reliabilitas cronbachAos alpha skala ini adalah 0,934. Vicky Vicky Diva Kusumawardani1*. Laelatus Syifa Sari Agustina2 Jurnal Psikohumanika. Volume 17. No 1 Juni 2025 Hal 9 -19 Skala empati diadaptasi dari skala asli Davis . yang berbahasa Inggris ke bahasa Indonesia. Skala empati terdiri dari 18 item menggunakan 5-point likert scale, yaitu 1 = Sangat Tidak Sesuai, 2 = Tidak Sesuai, 3 = Netral, 4 = Sesuai, dan 5 = Sangat Sesuai. Reliabilitas cronbachAos alpha skala ini adalah 0,848. Skala regulasi emosi diadaptasi dari skala asli Gross dan John . yang berbahasa Inggris ke bahasa Indonesia. Skala regulasi emosi terdiri dari 10 item menggunakan 7-point likert scale, yaitu 1 = Sangat Tidak Setuju, 2 = Tidak Setuju, 3 = Agak Tidak Setuju, 4 = Netral, 5 = Agak Setuju, 6 = Setuju, dan 7 = Sangat Setuju. Reliabilitas cronbachAos alpha skala ini adalah 0,742. HASIL DAN PEMBAHASAN Uji Asumsi Tabel 1. Hasil Uji Normalitas Statistik Kolmogorov-Smirnov 0,0887 0,217 Hasil uji normalitas Kolmogorov-Smirnov memiliki nilai signifikansi sebesar 0,217 . > 0,. , maka data pada penelitian ini berdistribusi normal. Tabel 2. Hasil Uji Heterosekedastisitas Statistik Breusch-Pagan 1,47 0,478 Hasil uji heteroskedastisitas Breusch-Pagan mendapatkan nilai signifikansi sebesar 0,478 . > 0,. , maka tidak didapati adanya heteroskedastisitas. Tabel 3. Hasil Uji Multikolinearitas VIF Empati 1,05 Regulasi Emosi 1,55 Tolerance 0,950 0,950 Hasil uji multikolinearitas mendapatkan nilai VIF sebesar 1,05 (< . dan nilai Tolerance sebesar 0,950 (> 0,. , maka tidak didapati adanya multikolinearitas. Vicky Vicky Diva Kusumawardani1*. Laelatus Syifa Sari Agustina2 Jurnal Psikohumanika. Volume 17. No 1 Juni 2025 Hal 9 -19 Gambar 1. Hasil Uji Linearitas antara X1 dengan Y Gambar 2. Hasil Uji Linearitas antara X2 dengan Y Hasil Scatterplot didapatkan garis yang membentang dari kiri atas ke kanan bawah, maka terdapat hubungan linear antara empati dan perilaku cyberbullying. Hasil yang sama juga ditemukan pada regulasi emosi dan perilaku cyberbullying. Uji Hipotesis Empati Regulasi Emosi 0,381 Tabel 4. Hasil Uji F Overall Model Test 0,145 <0,001 Hasil uji F mendapatkan nilai signifikansi sebesar <0,001 . < 0,. dan nilai F hitung sebesar 11,7 (Fhitung > Ftabel = 11,7 > 3,. Artinya, hasil menunjukkan hipotesis pertama diterima, yaitu terdapat peran yang signifikan antara empati dan regulasi emosi dengan perilaku cyberbullying pada mahasiswa pengguna Instagram. Vicky Vicky Diva Kusumawardani1*. Laelatus Syifa Sari Agustina2 Jurnal Psikohumanika. Volume 17. No 1 Juni 2025 Hal 9 -19 Tabel 5. Hasil Uji Koefisien Determinasi Overall Model Test Empati & Regulasi Emosi 0,381 0,145 <0,001 Hasil R mendapatkan nilai sebesar 0,381 yang artinya antara empati dan regulasi emosi dengan perilaku cyberbullying memiliki peran yang rendah karena dalam rentang 0,20-0,399. Hasil R2 mendapatkan nilai sebesar 0,145 yang menunjukkan besar pengaruh empati dan regulasi emosi terhadap perilaku cyberbullying sebesar 14,5%, sementara 85,5% sisanya dipengaruhi oleh faktor lain yang tidak dibahas pada penelitian ini. Tabel 6. Hasil Uji t 95% Confidence Interval Std. Estimate Predictor Estimate Intercept 46,3457 2,8153 16,46 <0,001 Empati -0,0862 0,0382 -2,26 0,026 -0,182 Regulasi Emosi -0,1284 0,0350 -3,67 <0,001 -0,296 Nilai signifikansi empati sebesar 0,026 . < 0,. dan nilai t hitung empati sebesar -2,26 . hitung > ttabel = 2,26 > 1,. , maka disimpulkan bahwa ada peran yang signifikan antara empati dengan perilaku cyberbullying. Didapati pula nilai estimate negatif sebesar -0,0862 sehingga peran yang terjadi adalah peran tidak searah. Nilai signifikansi regulasi emosi sebesar <0,001 . < 0,. dan nilai t hitung regulasi emosi sebesar -3,67 . hitung > ttabel = 3,67 > 1,. , maka disimpulkan bahwa ada peran yang signifikan antara regulasi emosi dengan perilaku cyberbullying. Didapati pula nilai estimate negatif sebesar -0,1284 sehingga peran yang terjadi adalah peran tidak searah. Berdasarkan koefisien dari variabel independen dalam tabel 6, maka diperoleh persamaan model regresi linear berganda, yaitu: Y = - 0,0862 Empati - 0,1284 Regulasi Emosi 46,3457 Hasil pengujian hipotesis pertama mendapatkan nilai signifikansi sebesar <0,001 . < 0,. dan nilai R sebesar 0,381. Hasil tersebut memperlihatkan bahwa hipotesis pertama diterima, yaitu terdapat peran antara empati dan regulasi emosi dengan perilaku cyberbullying pada mahasiswa pengguna Instagram. Semakin tinggi tingkat empati dan regulasi emosi, maka semakin rendah tingkat perilaku cyberbullying yang dimiliki mahasiswa, begitupun sebaliknya. Nilai R menunjukkan antara empati dan regulasi emosi dengan perilaku cyberbullying memiliki peran yang rendah. Temuan ini memiliki keselarasan dengan penelitian yang telah lebih dahulu Aini dan Rahardjo . laksanakan, dimana mereka mengemukakan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan antara empati dan regulasi emosi terhadap perilaku cyberbullying. Vicky Vicky Diva Kusumawardani1*. Laelatus Syifa Sari Agustina2 Jurnal Psikohumanika. Volume 17. No 1 Juni 2025 Hal 9 -19 Empati dan regulasi emosi adalah faktor yang memiliki keterkaitan dengan munculnya perilaku cyberbullying. Individu yang menunjukkan perilaku cyberbullying memiliki tingkat empati yang rendah sehingga mereka tidak dapat melihat dari perspektif orang lain atau memahami perasaan orang lain (Arofa et al. , 2. Di sisi lain, regulasi emosi dapat mencegah dan mengurangi perilaku cyberbullying karena individu dapat mengatur dan mengendalikan emosinya dengan tepat (Widyayanti et al. Oleh karena itu, empati dan regulasi emosi secara bersama-sama dapat memberikan pengaruh terhadap perilaku cyberbullying (Aini & Rahardjo, 2. Setelah hipotesis kedua diuji, diperoleh nilai signifikansi sebesar 0,026 . < 0,. Hasil tersebut memperlihatkan bahwa hipotesis kedua diterima, yaitu terdapat peran antara empati dengan perilaku cyberbullying pada mahasiswa pengguna Instagram. Semakin tinggi tingkat empati, maka semakin rendah tingkat perilaku cyberbullying yang dimiliki mahasiswa, begitu pula sebaliknya. Hal tersebut memiliki kesesuaian dengan penelitian yang sudah lebih dulu dilakukan Silalahi et al. , ditemukan adanya hubungan antara kemampuan empati dengan perilaku cyberbullying. Termuat dalam hasil penelitian yang telah dilaksanakan Primasari dan Suminar . juga ditemukan adanya hubungan negatif antara empati dengan cyberbullying. Empati menjadi satu dari sejumlah faktor yang dapat memengaruhi perilaku Pada kehidupan sehari-hari, empati diperlukan untuk mengerti apa yang dirasakan orang lain dan menciptakan hubungan sosial yang harmonis. Pelaku cyberbullying kurang berempati terhadap korbannya (Auriemma et al. , 2. Semakin rendah tingkat empati seseorang, maka semakin tinggi kemungkinan seseorang melakukan perilaku cyberbullying (Ratri & Andangsari, 2. Empati adalah faktor penting dalam mencegah cyberbullying karena dengan empati individu dapat merasakan penderitaan dan kelemahan orang lain yang membantu mencegah mereka terlibat dalam perilaku cyberbullying (Auriemma et al. , 2. Hasil pengujian hipotesis ketiga mendapatkan nilai signifikansi sebesar <0,001 . < 0,. Hasil tersebut memperlihatkan bahwa hipotesis ketiga diterima, yaitu terdapat peran antara regulasi emosi dengan perilaku cyberbullying pada mahasiswa pengguna Instagram. Semakin tinggi tingkat regulasi emosi, maka semakin rendah tingkat perilaku cyberbullying yang dimiliki mahasiswa, begitupun sebaliknya. Temuan yang didapatkan peneliti selaras dengan penelitian dari Violenta et al. yaitu ditemukan adanya hubungan negatif antara regulasi emosi dengan perilaku cyberbullying. Dalam penelitian Septiningtyas dan Tobing . juga menemukan bahwa ada hubungan antara regulasi emosi dengan perilaku cyberbullying. Regulasi emosi menjadi satu dari sejumlah faktor yang dapat memengaruhi perilaku Cowie dan Jennifer . menyatakan buruknya regulasi emosi menjadi faktor yang bisa menyebabkan individu melakukan perilaku cyberbullying. Strategi regulasi emosi yang negatif dapat meningkatkan risiko seseorang menjadi pelaku cyberbullying (Baroncelli & Ciucci, 2. Individu yang mempunyai regulasi emosi yang baik bisa menjaga, meningkatkan, atau menurunkan intensitas emosinya, baik yang positif maupun negatif sehingga tidak melakukan perilaku cyberbullying (Aini & Rahardjo, 2. Vicky Vicky Diva Kusumawardani1*. Laelatus Syifa Sari Agustina2 Jurnal Psikohumanika. Volume 17. No 1 Juni 2025 Hal 9 -19 SIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa terdapat peran yang signifikan antara empati dan regulasi emosi dengan perilaku cyberbullying pada mahasiswa pengguna Instagram. Selain itu, terdapat peran yang signifikan antara empati dengan perilaku cyberbullying pada mahasiswa pengguna Instagram dan terdapat peran yang signifikan antara regulasi emosi dengan perilaku cyberbullying pada mahasiswa pengguna Instagram. Peran yang terjadi adalah peran tidak searah. Disarankan bagi para peneliti di masa mendatang yang berkeinginan untuk meneliti tentang perilaku cyberbullying, dapat mencari faktor lainnya yang memengaruhi perilaku cyberbullying. Vicky Vicky Diva Kusumawardani1*. Laelatus Syifa Sari Agustina2 Jurnal Psikohumanika. Volume 17. No 1 Juni 2025 Hal 9 -19 DAFTAR PUSTAKA