Jurnal Ibu dan Anak Vol 12. No. Mei 2024, pp. ISSN 2721-0499 (Onlin. ISSN 2338 Ae 1930 (Prin. Factors Associated with Early Complementary Feeding in Infants Before 6 Months of Age Zilfi Yola Pitri1. Kholilah Lubis2. Desri Nova H3 Universitas Prima Nusantara Bukittinggi1,2,3 zilfiyola@gmail. com1, lilazgreeny@gmail. com2, desrinova17@gmail. Article Info Article history Received date: 4 April 2024 Revised date: 4 Mei 2024 Accepted date: 31 Mei 2024 Abstract The achievement of exclusive breastfeeding in Bukittinggi City increased by 9%, but the results are still below the national target of 80%, which means that there are still many babies who are given complementary foods before the age of 6 months. The purpose of this study was to determine the factors associated with the provision of complementary foods to infants before 6 months of age in Bukittinggi city in 2024. This type of research is analytic in nature with a cross sectional design. the sample in this study was 49 respondents who were taken by saturation, namely all populations were used as research subjects. Chi Square statistical test. The results showed that 36. of respondents gave complementary foods to their babies before the age of 6 months. The results of bivariate data analysis obtained a value of p <0. for maternal employment status with a value of p = 0. 001 and health worker support with a value of p = 0. It is concluded that there is a significant relationship between working mothers and health worker support with the provision of complementary foods to infants before the age of 6 months. Keywords: Complementary feeding, mother's employment status, husband's support, health worker support. Abstrak Pencapaian ASI Ekslusif di Kota Bukittinggi meningkat yaitu sebesar 71,9%, namun hasilnya masih dibawah target nasional sebesar 80% yang berarti masih banyak bayi yang diberikan MP-ASI sebelum usia 6 bulan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan pemberian MP-ASI pada bayi sebelum usia 6 bulan di kota Bukittinggi Tahun 2024. Jenis penelitian ini adalah bersifat analitik dengan desain cross sampel dalam penelitian ini sebanyak 49 responden yang diambil secara jenuh yaitu semua populasi dijadikan subjek penelitian. Uji statistik Chi Square. Hasil penelitian menunjukkan sebanyak 36,7% responden yang memberikan MP-ASI pada bayinya sebelum usia 6 bulan. Hasil analisa data bivariate didapatkan nilai p<0,05 untuk status pekerjaan ibu dengan nilai p=0,001 dan dukungan tenaga kesehatan dengan nilai p=0,023. Disimpulkan bahwa ada hubungan yang bermakna antara ibu bekerja dan dukungan tenaga kesehatan dengan pemberian MP-ASI pada bayi sebelum usia 6 bulan Kata Kunci Makanan Pendamping ASI. Status Pekerjaan Ibu. Dukungan Suami. Dukungan Tenaga Kesehatan. Zilfi Yola Pitri and zilfiyola@gmail. Jurnal Ibu dan Anak Vol 12. No. Mei 2024, pp. ISSN 2721-0499 (Onlin. ISSN 2338 Ae 1930 (Prin. PENDAHULUAN Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Tahun 2012 Pasal 6 menyatakan bahwa Ausetiap ibu yang melahirkan harus memberikan ASI Eksklusif kepada Bayi yang dilahirkanAy (Kemenkes RI. Dimana bayi hanya diberi ASI saja tanpa tambahan cairan lain seperti susu formula, jeruk, madu, air teh, air putih, dan tanpa tambahan makanan padat seperti pisang, pepaya, bubur susu, biskuit, bubur nasi, dan tim (Roesli, 2. Namun kadar gizi pada ASI akan menurun setelah 6 bulan paska ibu melahirkan, sehingga dibutuhkan MP-ASI. Makanan pendamping Air Susu Ibu (ASI) adalah makanan tambahan yang diberikan kepada bayi setelah umur 6 bulan untuk melengkapi kebutuhan zat gizi yang diperlukan bagi bayi karena produksi ASI mulai berkurang dimana bayi secara perlahan- lahan dibiasakan dengan makanan orang dewasa atau makanan keluarga. Pemberian MP-ASI yang tepat yaitu setelah bayi A 6 bulan, karena dengan pemberian makanan tambahan kepada bayi yang belum berusia 6 bulan dapat menyebabkan penyakit-penyakit seperti: diare, sembelit, batuk, pilek dan panas, alergi, obesitas (Lituhayu, 2. Pemberian makanan pendamping ASI 0-6 bulan dapat menyebabkan berbagai penyakit, hal ini disebabkan karena sistem imun bayi yang berumur kurang dari enam bulan belum sempurna. (Laksono, 2. Pendapat lain menyatakan makanan pendamping ASI adalah makanan yang diberikan kepada bayi setelah berumur 6 bulan. Makanan pendamping ASI tidak untuk mengganti ASI melainkan hanya untuk melengkapi ASI, jadi makanan pendamping ASI berbeda dengan makanan sapihan, karena makanan sapihan dikonsumsi karena bayi tidak mengkonsumsi ASI. Ilmu penyakit anak . menjelaskan bahwa pemberian MP-ASI 0-6 bulan dapat meyebabkan peningkatan risiko untuk terjadinya diare, infeksi telinga, dan radang selaput otak (Meningiti. bakteri sebanyak 30 % dan menyebutkan bahwa bahwa 42% penyebab kematian balita di dunia adalah penyakit pneumonia sebanyak 58% terkait dengan malnutrisi, malnutrisi sering kali Zilfi Yola Pitri and zilfiyola@gmail. terkait dengan kurangnya asupan ASI (Arifin. Roesli . menjelaskan bahwa bayi mendapatkan ASI secara Eksklusif merupakan hak asasi bayi yang harus dipenuhi si ibu, jika bayi usia 0-6 bulan telah mendapat makanan tambahan, maka mengurangi zat kekebalan tubuh yang diperoleh dari ASI sehingga menurunkan daya tahan tubuh, hal ini disebabkan system imun bayi belum sempurna, pemberian MP-ASI 0-6 bulan sama saja membuka pintu gerbang masuknya berbagai jenis kuman. Dampak jangka panjang dari pemberian makanan pendamping ASI pada usia sebelum 6 bulan adalah bayi bisa terkena obesitas karena kelebihan kalori yang United Nation Childrens Fund (UNICEF) dan World Health Organization (WHO) tahun 2010 merekomendasikan pemberian ASI eksklusif sampai bayi berumur 6 bulan. Setelah itu anak harus diberi makanan padat dan semi padat sebagai makanan tambahan ASI sesudah anak berumur 6 bulan dan pemberian ASI dilanjutkan sampai anak berumur 2 tahun. Target Millennium Development Goals (MDG. ke4 adalah menurunkan angka kematian bayi dan balita menjadi 2/3 dalam kurun waktu 2015. Penyebab utama kematian bayi dan balita adalah diare dan pneumonia dan lebih dari 50% kematian balita didasari oleh kurang gizi. Pemberian ASI secara eksklusif selama 6 bulan dan diteruskan sampai usia 2 tahun disamping pemberian MP-ASI secara adekuat terbukti merupakan salah satu intervensi efektif dapat menurunkan Angka Kematian Bayi (AKB). Pencapaian ASI Ekslusif di Indonesia masih jauh dari target nasional yaitu 80%. Tingginya angka bayi yang telah diberi MP- ASI sebelum usia 6 bulan menyebabkan rendahnya pencapaian ASI Secara nasional pada tahun 2011 pencapaian ASI ekslusif berdasarkan data Badan Pusat Statistik adalah 36. 6%, dan pada tahun 2012 terjadi kenaikan pencapaian ASI ekslusif dan hasil Riskesdas tahun 2013 menunjukkan persentase bayi yang menyusui ekslusif pada usia 6 bulan di Indonesia hanya Jurnal Ibu dan Anak Vol. ISSN 2580-0191 (Onlin. ISSN 2338 Ae 5634 (Prin. Laporan Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Barat tahun 2022, cakupan pemberian ASI eksklusif pada bayi 0-6 bulan sebesar 72,2% dari jumlah total bayi usia 0-6 bulan, atau secara absolut 929 bayi dan mendapat ASI Eksklusif 278 bayi atau bayi 0-6 bulan yang tidak ASI eksklusif sebayak 1. 014 bayi. Sedangkan pada tahun 2022. Indonesia mempunyai target cakupan pemberian ASI Eksklusif sebesar 80%. Sehingga perlu dilakukan upaya agar provinsi yang masih di bawah angka nasional agar dapat meningkatkan cakupan ASI Eksklusif (Kemenkes RI, 2. Pencapaian cakupan bayi yang diberi ASI Ekslusif di Provinsi Sumatera Barat meningkat, namun hasilnya masih berada di bawah target nasional yang berarti masih banyak lagi bayi yang telah di beri MP ASI sebelum usia 6 bulan. Berdasarkan Profil Dinas Kesehatan Sumatera Barat tahun 2018, bayi 0-6 bulan yang mendapat ASI ekslusif sebesar 60%, tahun 2012 sebesar 61,2% , tahun 2013 sebesar 67. 4%, dan tahun 2014 sebesar 72,2%. Pencapaian cakupan bayi yang diberi ASI Ekslusif di Kota Bukittinggi meningkat, namun hasilnya masih dibawah target nasional karena masih banyaknya bayi yang diberikan MP-ASI sebelum usia 6 bulan yaitu sebanyak 28,1%, sedangkan di Kota Padang Panjang sebanyak 23,4%. Faktor-faktor yang mempengaruhi dalam pemberian makanan pendamping ASI sebelum usia 6 bulan adalah status pekerjaan ibu, dukungan suami, dukungan dari petugas kesehatan (Roesli, 2. Adanya kebiasaan yang kurang baik seperti pemberian makanan pralaktal yaitu pemberian makanan dan minuman untuk menggantikan ASI apabila ASI belum keluar yang dapat membahayakan kesehatan bayi dan menyebabkan berkurangnya kesempatan untuk merangsang produksi ASI sedini mungkin melalui isapan bayi pada payudara ibu (Depkes RI. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Saidi . di Kabupaten Meringin Jambi menyatakan bahwa pekerjaan ibu berhubungan dengan pemberian MP ASI. Penelitian Lestari . menyatakan bahwa terdapat hubungan dukungan keluarga dengan pemberian MP- ASI. Selain itu. Zilfi Yola Pitri zilfiyola@gmail. hasil penelitian Nuraeni . di Desa Waru Jaya Kabupaten Bogor menyatakan bahwa motivasi atau pemberian pendidikan kesehatan oleh petugas kesehatan memiliki hubungan dengan pemberian MP- ASI. Survey awal yang dilakukan di kota bukittinggi terhadap 6 responden yang mempunyai bayi usia lebih dari 6 bulan, didapatkan 4 responden yang tidak memberikan ASI Eksklusif pada bayinya dan 2 responden yang memberikan ASI Eksklusif. Salah satu alasan ibu tidak memberikan ASI Eksklusif pada bayinya adalah pekerjaan yang terlalu sibuk sehingga waktu untuk menyusui bayinya terganggu serta makanan ataupun minuman tambahan yang diberikan anggota keluarga lain tanpa sepengetahuan ibu. Dari latar belakang masalah diatas peneliti tertarik untuk melakukan penelitian tentang Faktor-faktor yang berhubungan dengan pemberian makanan pendamping ASI pada bayi sebelum usia 6 bulan di kota bukittinggi tahun METODE Jenis penelitian ini bersifat analitik dengan desain cross sectional yaitu variabel independen dan variabel dependen diambil secara bersamaan untuk melihat Faktor-Faktor yang berhubungan dengan Pemberian Makanan Pendamping ASI pada Bayi Sebelum usia 6 bulan di kota Penelitian telah dilaksanakan di pada bulan November - Mei 2024. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh ibu yang mempunyai bayi usia 7 sampai 12 bulan di Tahun 2023 sebanyak 49 orang. Teknik pengambilan sampel diambil secara sampel jenuh yaitu teknik memilih semua populasi untuk dijadikan subjek penelitian yaitu sebanyak 49 orang ibu yang mempunyai bayi 7 sampai 12 bulan di Kota Bukittinggi tahun HASIL Analisa Univariat Tabel 1 Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Pemberian MP-ASI Pada Bayi Sebelum Usia 6 Bulan Di Kota Bukittinggi Tahun 2024 Jurnal Ibu dan Anak Vol. ISSN 2580-0191 (Onlin. ISSN 2338 Ae 5634 (Prin. Pemberian Frekuensi MP-ASI Diberikan Tidak Jumlah Tabel 1 didapatkan 18 responden . ,7%) yang diberikan MP-ASI sebelum usia 6 bulan , dan 31 responden . ,3%) yang tidak memberikan MP-ASI sebelum usia 6 bulan di kota Bukittinggi tahun 2024. Tabel 2 Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Status Pekerjaan Ibu Terhadap Pencegahan Pemberian MP-ASI Pada Bayi Sebelum Usia 6 Bulan Di kota bukittinggi tahun Ibu bekerja Frekuensi Bekerja Tidak bekerja 34 Jumlah Tabel 2 didapatkan ibu bekerja di kota bukittinggi Tahun 2024 sebanyak 15 responden . ,6%) dan ibu yang tidak bekerja 34 responden . ,4%). Tabel 4 Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Dukungan Tenaga Kesehatan terhadap Pencegahan Pemberian MP-ASI Pada Bayi Sebelum Usia 6 Bulan Di Kota Bukittinggi Tahun 2024 Dukungan Frekuensi Tidak Tabel 4 didapatkan sebanyak 28 responden . ,1%) petugas kesehatan yang mendukung, sebanyak 21 responden . ,9%) petugas kesehatan yang tidak mendukung pemberian MPASI pada bayi sebelum usia 6 bulan di Kota Bukittinggi tahun 2024. Analisa Bivariat Hubungan antara ibu bekerja dengan Pemberian MP-ASI sebelum usia 6 bulan Tabel 5 Hubungan Status Pekerjaan Ibu Dengan Pemberian MP-ASI Pada Bayi Sebelum Usia 6 Bulan Di Kota Bukittinggi Tahun 2024 Tabel 3 Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Dukungan Suami Terhadap Pencegahan Pemberian MP-ASI Pada bayi Sebelum usia 6 bulan di kota bukittinggi tahun Ibu Dukungan Frekuensi Tidak Jumlah Tabel 3 didapatkan sebanyak 28 responden . ,1%) dengan dukungan suami, sebanyak 13 responden . ,5%) yang mendukung pemberian MP-ASI pada bayi sebelum usia 6 bulan di Kota Bukittinggi tahun 2024. Zilfi Yola Pitri zilfiyola@gmail. MPASI Tidak 0-6 BLN Tolal Pvalue Tidak Bekerja Hasil analisa data didapatkan bahwa p value adalah 0,001 < : 0,05, yang berarti terdapat hubungan antara ibu bekerja dengan pemberian MP-ASI pada bayi sebelum usia 6 bulan di kota bukittinggi Tahun 2024. Tabel 6 Hubungan Dukungan Suami/Keluarga dengan Pemberian MP-ASI sebelum usia 6 bulan di Kota Bukittinggi tahun 2024 0,001 Jurnal Ibu dan Anak Vol. ISSN 2580-0191 (Onlin. ISSN 2338 Ae 5634 (Prin. Dukungan Suami MPASI Tidak 0-6 BLN Tolal Mendukung Tidak Total Dari hasil analisa data didapatkan bahwa p value adalah 0,185 > : 0,05 yang berarti tidak ada hubungan antara dukungan suami/keluarga dengan pemberian MP-ASI pada bayi sebelum usia 6 bulan di kota Bukittinggi Tahun 2024. Tabel 7 Hubungan Dukungan Tenaga Kesehatan Dengan Pemberian MP-ASI Pada Bayi Sebelum Usia 6 Bulan Di Kota Bukittinggi Dukungan MPASI Tidak BLN Tolal Mendukung Tidak Dari hasil analisa data didapatkan bahwa p value adalah 0,023< : 0,05, yang berarti ada hubungan antara dukungan petugas kesehatan dengan perilaku pemberian MP- ASI. ibu dengan susu formula saat pulang dari proses persalinan serta pada ibu- ibu di posyandu yang masih masuk dalam program ASI Eksklusif. PEMBAHASAN Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Pemberian MP-ASI Pada Bayi Sebelum Usia 6 Bulan Di Kota Bukittinggi Tahun 2024 Zilfi Yola Pitri zilfiyola@gmail. Hasil penelitian ini tidak sama dengan hasil penelitian Marjiati . di Desa Nabang Baru Kecamatan Marga Tiga dengan hasil bahwa Pvalue terdapat 57,5% responden yang diberikan MPASI. Hasil penelitian unggaran barat kabupaten semarang dengan hasil bahwa terdapat 57,5% 0,185 respon yang diberikan MP-ASI. Dengan demikian pada penelitian ini pemberian MP-ASI ditempat lain lebih dari separoh responden yang memberikan MP-ASI pada bayi sebelum usia 6 Bulan. Makanan Pendamping ASI adalah makanan tambahan yang diberikan kepada bayi setelah berumur 6 bulan untuk melengkapi kebutuhan zat Gizi yang diperlukan bagi bayi karena produksi ASI mulai berkurang dimana bayi secara perlahan- lahan di biasakan dengan makanan orang dewasa atau makanan keluarga. Makan pendamping ASI secara 0-6 bulan adalah makanan pengganti atau makanan tambahan ASI yang di berikan pada bayi sebelum berumur 6 bulan, berupa bubur susu, nasi tim, buah, dan sebagainya (Lituhayu, 2. Asumsi peneliti, menjelaskan tingginya angka Pvalue pemberian MP-ASI dalam penelitian ini menunjukkan bahwa proporsi bayi yang sudah diberikan MP-ASI sebelum usia 6 bulan cukup tinggi dimana hal ini dimungkinkan karena 0,023 kurangnya kesadaran ibu mengenai dampak dari diberikannya makanan tambahan terlalu dini sesuai dengan data cakupan bayi tidak ASI Eksklusif bulan november-mei di bukittinggi sebesar 36,7%. Dari hasil data tersebut, bayi yang sudah diberikan MP-ASI pada usia 4 bulan sebanyak 7 bayi . ,2%), pada bayi usia 3 bulan sebanyak 4 bayi . ,16%), dan pada bayi usia 5 bulan sebanyak 5 bayi . ,2%). Kebanyakan bayi diberikan makanan pendamping seperti bubur tim, dan susu formula. Maka diperlukan upaya guna meningkatkan cakupan pemberian ASI Eksklusif di kota bukittinggi dengan meningkatkan pengetahuan ibu tentang manfaat ASI Eksklusif dan mengajarkan pada ibu waktu dari pemberian MP-ASI yang tetap setelah berumur 6 bulan. Jurnal Ibu dan Anak Vol. ISSN 2580-0191 (Onlin. ISSN 2338 Ae 5634 (Prin. Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Status Pekerjaan Ibu Terhadap Pencegahan Pemberian MP-ASI Pada Bayi Sebelum Usia 6 Bulan Di kota bukittinggi 2024 Hasil penelitian ini tidak sama dengan hasil penelitian Saidi . di Kelurahan Pematang Kabupaten Merangin Jambi tentang faktor- faktor yang mempengaruhi pemberian MP- ASI diperoleh hasil bahwa sebanyak 62,20% responden dengan ibu yang bekerja. Hasil penelitian Marhaento . di Desa Langensari Unggaran Barat Kabupaten Semarang dengan hasil bahwa terdapat 59,5% responden dengan ibu yang bekerja. Status pekerjaan adalah kedudukan seseorang dalam melakukan pekerjaan di suatu unit usaha/kegiatan. Indikator status pekerjaan pada dasarnya melihat empat kategori yang berbeda tentang kelompok penduduk yang bekerja yaitu tenaga kerja dibayar . , pekerja yang berusaha sendiri, pekerja bebas dan pekerja keluarga (Meneg. Pemberdayaan Perempuan. Asumsi peneliti, menjelaskan bahwa hasil yang diperoleh dari penelitian ini menunjukkan bahwa dari separuh ibu bayi sebagai ibu bekerja sebanyak 30,6% . Hasil ini menggambarkan bahwa distribusi frekuensi ibu bekerja tersebut menyebabkan ibu menjadi sibuk dan sedikit memiliki waktu untuk mengurusi anaknya sehingga mereka memilih untuk memberikan MP-ASI dengan pertimbangan praktis, dapat diwakilkan kepada orang lain dan untuk mempersingkat waktu. Kesimpulan hasil yang diperoleh mengenai status pekerjaan ibu tersebut didapatkan penduduk di Bukittinggi berkaitan dengan ibu rumah tangga 33 responden . ,3%), 2 responden . ,08%) ibu sebagai pedagang, 5 responden . ,2%) ibu sebagai pegawai swasta, dan 8 responden . ,3%) ibu sebagai pegawai negeri sipil. Berdasarkan hal tersebut maka tenaga kesehatan untuk mengajarkan ibu cara memberikan ASI meskipun mereka bekerja dengan memerah susu ke dalam botol atau meluangkan waktu untuk menyusui bayinya di sela-sela waktu istirahat saat Zilfi Yola Pitri zilfiyola@gmail. Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Dukungan Suami Terhadap Pencegahan Pemberian MP-ASI Pada bayi Sebelum usia 6 bulan di kota bukittinggi tahun 2024 Hasil penelitian ini tidak sesuai dengan hasil penelitian Lestari . tentang faktor-faktor yang berhubungan dengan perilaku pemberian MP-ASI di Desa Klepu Kecamatan Pringapus Kabupaten Semarang dengan hasil bahwa proporsi dukungan keluarga terhadap pemberian MP-ASI sebesar 39,28% responden. Hasil penelitian Nuraeni . di Desa Waru Jaya Kecamatan Parung Kabupaten Bogor dengan hasil sebanyak 55,17% dengan dukungan keluarga terhadap pemberian MP-ASI. Hubungan antara seorang ayah dan bayinya merupakan faktor yang penting dalam pertumbuhan dan perkembangan anak. Seorang suami dan keluarga dapat memberikan peran penting pada ibu untuk memberikan motivasi ibu agar dapat menyusui dengan baik, maka ayah perlu mengerti dan memahami persoalan pentingnya ASI dan kapan diperbolehkannya pemberian MP-ASI pada bayi (Roesli, 2. Asumsi peneliti, menjelaskan bahwa adanya dukungan suami dalam pemberian MP- ASI kurangnya pengetahuan mereka tentang pemberian ASI secara eksklusif dimana bayi seharusnya hanya diberikan ASI sampai dengan 6 bulan serta adanya kebiasaan masyarakat yang memberikan makanan seperti madu, air tajin dan pisang kepada bayi yang berumur kurang dari 6 Dukungan suami terhadap Pemberian MP-ASI sebelum usia 6 bulan di kota bukittinggi terlihat dari hasil penyebaran kuisioner dimana dukungan suami terlihat dari tindakan berupa suami dan keluarga pada pernyataan yang kadang-kadang menunjukkan pada ibu tentang promosi-promosi yang diberikan oleh produsen produk makanan bayi 22 responden . ,8%), suami dan keluarga yang sering mengajak ibu untuk melihat atau berbelanja peralatan makan bayi 14 responden . ,5%), suami dan keluarga yang menganjurkan ibu untuk memberikan makanan lain selain ASI 4 responden . ,16%) suami dan anggota keluarga Jurnal Ibu dan Anak Vol. ISSN 2580-0191 (Onlin. ISSN 2338 Ae 5634 (Prin. yang menceritakan tentang keistimewaan produk makanan bayi atau susu formula 9 responden . ,3%), dan suami yang tidak menawarkan bu dibantu oleh orang lain mempekerjakan pembantu rumah tangga 28 responden . ,1%). Hasil penelitian yang diperoleh, maka perlu dilakukan konseling bagi para ibu, suami dan juga anggota keluarga, karena keluarga juga berperan mengenai pentingnya pemberian ASI Eksklusif kemasyarakatan yang dapat melibatkan anggota masyarakat atau melalui media promosi kesehatan yang bersifat luas seperti poster dan pamflet yang diletakkan di sarana-sarana umum. Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Dukungan Tenaga Kesehatan terhadap Pencegahan Pemberian MP-ASI Pada Bayi Sebelum Usia 6 Bulan Di Kota Bukittinggi Tahun Asumsi peneliti, menjelaskan hasil ini menunjukkan bahwa dengan distribusi frekuensi yang besar dapat mendorong ibu untuk memberikan MP-ASI kepada bayinya, dimana hal tersebut dapat dimungkinkan karena gencarnya promosi dari produk-produk makanan bayi sehingga terdapat beberapa tenaga kesehatan yang secara tidak langsung turut mempromosikan mengenai keunggulan dari suatu produk makanan tertentu atau dapat juga disebabkan karena kurangnya peran tenaga kesehatan dalam memberikan promosi kesehatan mengenai ASI Eksklusif. Dukungan tenaga kesehatan terhadap pemberian MP-ASI ini terlihat dari beberapa pernyataan yang mendapatkan dukungan dari tenaga kesehatan berdasarkan hasil pengumpulan data yang diberikan oleh responden pada kuesioner seperti tenaga kesehatan tidak mengingatkan ibu untuk memberikan ASI saja sampai bayi berumur 6 bulan 2 responden . ,08%), tenaga kesehatan yang selalu mengajarkan ibu cara pembuatan MP-ASI 5 responden . ,2%), petugas atau kader memberikan penyuluhan tentang dampak diberikan MP-ASI 9 responden . ,3%), tenaga kesehatan yang menganjurkan ibu untuk Zilfi Yola Pitri zilfiyola@gmail. memberikan MP-ASI saat anak rewel 2 responden . ,08%), tenaga kesehatan yang menawarkan atau membekali produk susu formula atau makanan bayi 6 responden . ,24%), tenaga kesehatan yang menceritakan tentang keunggulan dari susu formula dan produk makanan bayi lainnya . ,3%), dan tenaga kesehatan yang justru mengajarkan ibu tentang cara menyajikan MP- ASI 9 responden . ,3%). Kesimpulan dari hasil diatas, maka perlu ditingkatkan kesadaran tenaga kesehatan mengenai perannya dalam masyarakat selaku pemberi informasi untuk dapat memberikan informasi yang benar kepada masyarakat dalam rangka mensukseskan program pemberian ASI Eksklusif. Hubungan antara ibu bekerja dengan Pemberian MP-ASI sebelum usia 6 bulan Tabel 5 Hubungan Status Pekerjaan Ibu Dengan Pemberian MP-ASI Pada Bayi Sebelum Usia 6 Bulan Di Kota Bukittinggi Tahun 2024 Hasil penelitian ini tidak sama dengan hasil penelitian Saidi . di Kelurahan Pematang Kabupaten Merangin Jambi tentang faktor- faktor yang mempengaruhi pemberian MP- ASI diperoleh hasil bahwa terdapat hubungan antara pekerjaan ibu dengan pemberian MP- ASI dengan p value: 0,04. Roesli . , mengungkapkan bahwa fenomena banyaknya pemberian MP- ASI 0-6 bulan disebabkan oleh beberapa faktor, diantaranya pengetahuan ibu yang kurang memadai tentang MP-ASI, beredarnya mitos yang kurang baik tentang pemberian ASI, serta kesibukan ibu dalam pemberian cuti melahirkan yang diberikan oleh pemerintah terhadap ibu yang bekerja, merupakan alasan- alasan yang sering diungkapkan oleh ibu yang tidak berhasil menyusui secara benar. Untuk buah hati tercinta, seharusnya bekerja di luar rumah bukanlah halangan untuk memberikan yang terbaik untuknya, termasuk memberikan ASI. Ibu tetap bisa memberikan ASI peras, yakni ASI yang diperas dan payudara, lalu diberikan pada bayi saat ibu bekerja di kantor. Jurnal Ibu dan Anak Vol. ISSN 2580-0191 (Onlin. ISSN 2338 Ae 5634 (Prin. Ibu yang bekerja dan tempat bekerja ibu jauh dari rumah, tetapi ibu tetap dapat memberikan ASI kepada bayinya. Memberikan ASI sesering mungkin selama ibu cuti melahirkan, dan tidak memberikan makanan pendamping ASI sebelum bayi berusia 6 bulan ke atas, mengusahakan untuk tidak memberi ASI melalui botol, berikan melalui cangkir atau sendok yang mulai dilatih I minggu sebelum ibu mulai bekerja (Arifin, 2. Ibu yang bekerja sering memberikan makanan pendamping ASI pada usia 0-6 bulan meskipun kelompok ini tahu keunggulan ASI, namun sulit untuk institusi bekerja tidak mendukung program pemberian ASI. Tidak ada upaya penyiapan ruangan khusus untuk tempat menyusui dan memompa ASI pada ibu bekerja. Sehingga ibu bekerja tidak bisa merawat bayinya Full Time. Pemberian ASI yang tidak bisa dilakukan secara penuh biasanya akan didampingi dengan susu Padahal sebenarnya ibu yang bekerja penuh waktu pun tetap dapat memberikan ASI. Pemberian secara langsung sudah jelas dengan cara menyusui sedangkan pemberian ASI secara tidak langsung dilakukan dengan cara memeras atau memompa ASI, menyimpannya untuk kemudian diberikan pada bayi (Roesli, 2. Asumsi peneliti, menjelaskan hasil yang diperoleh dalam penelitian ini menunjukkan bahwa pada ibu yang bekerja cenderung untuk memberikan MPASI dimana hal tersebut dapat dimungkinkan karena pertimbangan kepraktisan dari pemberian MP- ASI pada ibu yang bekerja sehingga mereka lebih memilih untuk memberikan MP-ASI agar tidak mengganggu pekerjaanya. Kesimpulan hasil penelitian, maka diperlukan upaya mengajarkan ibu untuk tetap memberikan ASI nya kepada bayi meskipun mereka bekerja dengan menyimpan dalam botol untuk dapat disimpan dan diberikan kepada bayinya selama ibu bekerja serta memberikan rekomendasi kepada instansi tempat ibu bekerja untuk dapat memberikan keluangan waktu kepada ibu yang masih menyusui untuk dapat memberikan ASI kepada bayi baik itu di tempat kerja ataupun diberikannya izin waktu untuk memberikan kesempatan pada ibu menyusui bayinya. Zilfi Yola Pitri zilfiyola@gmail. Hubungan Dukungan Suami/Keluarga dengan Pemberian MP-ASI sebelum usia 6 bulan di Kota Bukittinggi tahun 2024 Hasil penelitian ini tidak sesuai dengan hasil penelitian Nuraeni . di Desa Waru Jaya Kecamatan parung Kabupaten Bogor tentang hubungan karakteristik ibu, dukungan keluarga dan pendidikan kesehatan dengan perilaku pemberian MP-ASI dengan hasil bahwa tidak ada hubungan antara dukungan keluarga dengan pemberian MP- ASI dengan p value: 0. Hubungan antara seorang ayah dan bayinya merupakan faktor yang penting dalam dikemudian hari untuk membantu ibu agar dapat menyusui dengan baik maka ayah perlu mengerti dan memahami persoalan ASI dan kapan pemberian MP-ASI (Roesli, 2. Orford . dalam Sarafino . mengatakan bahwa dukungan mempengaruhi kondisi fisik dan psikologis individu, dukungan sosial mempengaruhi kondisi fisik dan psikologis individu dengan melindunginya dari efek negatif yang timbul dari tekanan- tekanan yang dialaminya dan pada kondisi yang tekanannya lemah atau kecil, dukungan sosial tidak bermanfaat. Dukungan sosial bekerja dengan tujuan untuk memperkecil pengaruh dari tekanan-tekanan atau stres yang dialami individu. Selain itu dukungan sosial dapat meningkatkan kesehatan fisik dan psikologis individu dengan adanya ataupun tanpa tekanan, dengan kata lain seseorang yang menerima dukungan sosial dengan atau tanpa adanya tekanan ataupun stres akan cenderung lebih berperilaku sehat (Sarafino, 2. Asumsi peneliti, menjelaskan hasil yang diperoleh melalui penelitian ini menunjukan bahwa suami dan keluarga turut berperan terhadap perilaku ibu dalam memberikan MP-ASI kepada bayi, dimana hal tersebut menyebabkan ibu lebih yakin untuk memberikan MP-ASI keoada bayi karena persetujuan dari suami dan Maka diperlukan upaya promosi kesehatan tidak hanya kepada ibu dan suami saja tapi juga kepada anggota keluarga lainnya, karena keluarga juga berperan untuk menjadi pendukung ibu dalam memberikan ASI Jurnal Ibu dan Anak Vol. ISSN 2580-0191 (Onlin. ISSN 2338 Ae 5634 (Prin. secara eksklusif seperti menyarakan suami untuk membantu pekerjaan rumah tangga ibu dan merawat bayi, dengan melakukan kunjungan ke rumah ataupun menyaran ibu untuk mengajak suaminya saat membawa bayi ke sarana kesehatan atau posyandu agar informasi mengenai manfaat ASI eksklusif dan dampak MPASI dapat sampai kepada seluruh anggota keluarga, serta dapat dilakakukan dengan menggunakan media promosi kesehatan yang bersifat umum seperti poster dan leaflet-leaflet di letakkan di sarana-sarana umum yang ada di lingkungan masyarakat. Hubungan Dukungan Tenaga Kesehatan Dengan Pemberian MP-ASI Pada Bayi Sebelum Usia 6 Bulan Di Kota Bukittinggi tahun 2024 Hasil ini tidak sesuai dengan hasil penelitian Marhaento. Visyara, dan Sari . di Desa Langensari Unggaran Barat Kabupaten Semarang tentang beberapa faktor yang berhubungan dengan pemberian MP-ASI pada bayi 0-6 bulan dengan hasil bahwa ada hubungan antara dukungan tenaga kesehatan dengan pemberian MP-ASI dengan p value: 0,001, dimana perbedaan tersebut terjadi karena perbedaan jumlah bayi yang diberikan MP-ASI dengan proporsi dukungan yang diperoleh oleh Hasil penelitian ini menunjukkan keadaan yang selaras dengan teori mengenai dukungan tenaga kesehatan merupakan fakor yang berhubungan dengan pemberian MP-ASI pada bayi sebelum usia 6 bulan. Beberapa penelitian membuktikan bahwa sikap tenaga kesehatan sangat mempengaruhi pemilihan makanan bayi oleh Pengaruh itu dapat berupa sikap negatif secara pasif, sikap yang AuindifferentAy yang dinyatakan dengan tidak menganjurkan dan tidak membantu bila ada kesulitan laktasi. (Soetjiningsih. Asumsi peneliti, menjelaskan hasil yang diperoleh dalam penelitian ini menunjukkan bahwa peran tenaga kesehatan merupakan faktor menyebabkan ibu memberikan MP-ASI kepada bayinya di kota bukittinggi 2024. Maka perlu ditingkatkan peran petugas kesehatan dalam Zilfi Yola Pitri zilfiyola@gmail. upaya promosi kesehatan mengenai pemberian ASI Eksklusif, serta untuk tidak terpengaruh terhadap promosi atau iklan yang disampaikan oleh produsen produk susu formula dan makanan bayi lainnya serta turut memasarkan produk mereka seperti membekali ibu dengan susu formula saat pulang dari proses persalinan serta pada ibu- ibu di posyandu yang masih masuk dalam program ASI Eksklusif. KESIMPULAN D Berdasarkan hasil pengolahan data mengenai faktor-faktor yang berhubungan dengan pemberian MP ASI terhadap 49 orang ibu yang memiliki bayi sebelum usia 6 bulan di kota bukittinggi maka dapat disimpulkan sebagai Sebagian besar responden tidak memberikan MP-ASI pada bayinya sebelum usia 6 bulan, yaitu 31 responden . ,3%). Sebagian besar responden tidak bekerja, yaitu 34 responden . ,4%). Kurang dari separoh suami mendukung untuk tidak memberikan MP-ASI sebelum usia 6 bulan, yaitu sebanyak 21 responden . ,9%). Kurang dari separoh tenaga kesehatan mendukung untuk tidak memberikan MP- ASI sebelum usia 6 bulan, yaitu sebanyak 21 responden . ,9%). Ada hubungan antara ibu bekerja dengan pemberian MP-ASI pada bayi sebelum usia 6 bulan di kota bukittinggi tahun 2024, dengan nilai p=0,001. Tidak ada hubungan yang bermakna antara dukungan suami dengan pemberian MP-ASI pada bayi sebelum usia 6 bulan di kota bukittinggi Bukittinggi Tahun 2024, dengan nilai p=0,185. Ada hubungan yang bermakna antara dukungan tenaga kesehatan dengan pemberian MP-ASI pada bayi sebelum usia 6 bulan di kota bukittinggi, dengan nilai p=0,23. Jurnal Ibu dan Anak Vol. ISSN 2580-0191 (Onlin. ISSN 2338 Ae 5634 (Prin. DAFTAR PUSTAKA