SJME KINEMATIKA Vol. 10 No. 2, 23 Juli 2025, pp 202-214 https://kinematika. id/index. php/kinematika PERBANDINGAN METODE MANUFAKTUR PROPELLER CLARK Y: 3D PRINTING DAN SILICONE MOLDING COMPARISON OF CLARK Y PROPELLER MANUFACTURING METHODS: 3D PRINTING AND SILICONE MOLDING Ikbal Rizki Putra. Ll. Aghyl Anugerah Mahesa. Sehono. Gaguk Marausna. Gilang Argya Dyaksa. Fajar Yulianto Prabowo. Brian Teo Putra. 1,3Program Studi Rekayasa Mesin. Sekolah Tinggi Teknologi Kedirgantaraan. Bantul. Indonesia 2,4,7Program Studi Teknik Dirgantara. Sekolah Tinggi Teknologi Kedirgantaraan. Bantul. Indonesia 5Program Studi Teknik Mesin. Universitas Sanata Dharma. Sleman. Indonesia 6Program Studi Teknologi Mesin. Universitas Akprind Indonesia. Yogyakarta. Indonesia email: ikbal. rizki@sttkd. *, 21021616@students. Sehono@sttkd. marausna@sttkd. , gilangad@usd. , fajaryulianto@akprind. 22021776@students. Received: 6 Februari 2025 Accepted: 4 Juli 2025 Published: 23 Juli 2025 Abstrak Saat ini, industri penerbangan berkembang sangat pesat, tidak hanya pada pesawat berawak, tetapi juga dalam pengembangan pesawat tanpa awak atau Unmanned Aerial Vehicle (UAV). Salah satu komponen krusial pada UAV adalah propeller. Metode yang umum digunakan dalam proses manufaktur propeller antara lain adalah metode forming, hand lay-up, dan vacuum bagging. Metode lain yang berpotensi menjadi alternatif adalah pencetakan menggunakan silikon . ilicone moldin. dan pencetakan tiga dimensi . D printin. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis metode manufaktur yang paling sesuai untuk pembuatan propeller dengan tipe airfoil Clark Y. Penelitian dilakukan menggunakan metode simulasi, analisis geometri, dan analisis visual. Metode manufaktur silicone molding dapat digunakan sebagai alternatif selain injection molding karena perbedaan ukuran antara desain CAD dan hasil akhir dari metode ini tidak terlalu signifikan, dengan nilai penyusutan terbesar sebesar 8,77%. Sementara itu, metode 3D printing lebih sesuai digunakan ketika ukuran airfoil lebih tebal. Kata Kunci: UAV, propeler. Clark Y, cetakan silikon, 3D printing. Abstract Currently, the aviation industry is experiencing rapid growth, not only in manned aircraft but also in the development of Unmanned Aerial Vehicles (UAV. One of the crucial components in UAVs is the propeller. Common manufacturing methods for propellers include forming, hand lay-up, and vacuum bagging. Alternative methods with promising potential include silicone molding and three-dimensional . D) printing. This study aims to determine the most suitable manufacturing method for producing a propeller with a Clark Y airfoil type. The research was conducted using simulation, geometric analysis, and visual analysis. The silicone molding method can serve as an alternative to injection molding, as the dimensional difference between the CAD design and SJME KINEMATIKA Vol. 10 No. 2, 23 Juli 2025, pp 202-214 https://kinematika. id/index. php/kinematika the final product is relatively minor, with the maximum shrinkage recorded at 8. Meanwhile, the 3D printing method is more appropriate when the airfoil thickness is greater. Keywords: UAV, propeller. Clark Y, silicone molding, 3D printing. DOI: 10. 20527/sjmekinematika. How to cite: Putra. Mahesa. Sehono. Marausna. Dyaksa. Fajar Yulianto Prabowo, , & Putra. AuPerbandingan Metode Manufaktur Propeller Clark Y: 3D Printing dan Silicone MoldingAy. Scientific Journal of Mechanical Engineering Kinematika, 10. , 202-214, 2025. PENDAHULUAN Industri penerbangan saat ini mengalami perkembangan yang sangat pesat, tidak hanya pada pesawat berawak, tetapi juga dalam pengembangan pesawat tanpa awak atau Unmanned Aerial Vehicle (UAV). UAV telah banyak dimanfaatkan di berbagai sektor, seperti pertanian, pemetaan, keamanan, dan logistik. Meskipun demikian, tantangan utama yang masih dihadapi adalah optimasi performa, peningkatan reliabilitas sistem, serta efisiensi biaya. Salah satu komponen krusial yang sangat memengaruhi performa UAV adalah propeler. Propeler merupakan komponen yang mentransmisikan energi putar dari motor menjadi gaya dorong. Propeler memiliki bentuk aerofoil yang umumnya mengacu pada standar desain dari National Advisory Committee for Aeronautics (NACA). Pada penelitian ini digunakan tipe airfoil NACA Clark Y karena memiliki karakteristik aerodinamika yang baik, seperti sudut serang yang luas, rasio lift-to-drag yang tinggi, serta karakteristik stall yang stabil. Secara umum, proses manufaktur komponen UAV menggunakan metode forming, hand lay-up, dan vacuum bagging. Namun, khusus untuk propeler UAV, metode yang paling umum digunakan adalah injection molding, karena efisiensinya dalam produksi massal. Meskipun demikian, metode ini memiliki beberapa kelemahan, seperti potensi terjadinya penyusutan . , lengkungan . , dan gelembung . Hedayati mengatakan, nilai penyusutan itu sendiri dapat dikurangi dengan melakukan Analisis Elemen Hingga (FEA) sebelum melakukan proses manufaktur. Sebagai alternatif, terdapat dua metode manufaktur yang menjanjikan untuk produksi skala kecil, yaitu silicone molding dan 3D printing. Metode 3D printing menawarkan keunggulan dalam kebebasan desain dan efisiensi biaya untuk produksi volume rendah . ,9,10,. , sementara silicone molding dikenal memiliki tingkat penyusutan yang rendah . ekitar 5%), biaya produksi yang relatif murah, serta fleksibilitas desain yang baik . ,13,. Penelitian ini dilakukan untuk membandingkan kualitas propeler hasil manufaktur menggunakan metode 3D printing dan silicone molding. Bentuk propeler sangat memengaruhi efisiensi dan keandalan sistem UAV secara keseluruhan. Metode 3D printing mampu menghasilkan bentuk geometri kompleks, tetapi memiliki kekuatan material yang lebih rendah serta waktu cetak yang relatif lama. Sebaliknya, silicone molding memiliki waktu produksi yang relatif cepat, namun kurang mampu mencetak bentuk geometri kompleks. Hingga saat ini, belum banyak penelitian yang secara langsung membandingkan kedua metode tersebut dalam konteks pembuatan propeler tipe Clark Y. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi metode manufaktur yang paling sesuai untuk produksi propeler tipe Clark Y dalam volume kecil, dengan tetap mempertahankan presisi dan kualitas hasil cetak yang optimal. METODE PENELITIAN Dalam penelitian ini terdapat 3 tahapan yaitu tahapan pemodelan desain propeler, metode manufaktur serta pemilihan material dan evaluasi perbandingan geometri akhir. SJME KINEMATIKA Vol. 10 No. 2, 23 Juli 2025, pp 202-214 https://kinematika. id/index. php/kinematika Serta ditambahkan adanya simulasi pembebanan terhadap propeler dan simulasi persebaran resin pada proses manufaktur menggunakan silicone molding. Permodelan Desain Propeler Untuk parameter desain propeler dapat dilihat pada Tabel 1 berikut ini. Tahapan pemodelan desain propeler dilakukan dengan aplikasi Autodesk Fusion360. Spesifikasi dari Airfoil Clark Y dapat dilihat pada Gambar 1. Gambar 1 a merupakan Spline Dat dari airfoil yang dijadikan acuan desain dan Gambar 1 b merupakan dimensi dari potongan desain Tabel 1. Parameter desain propeler Parameter Ukuran Jenis Airfoil Clark Y Diameter Propeler 248 mm Lebar hub 18 mm Diameter in hole 6,2 mm Panjang tip k hub 123,34 mm Tinggi hub 6,7 mm . Gambar 1. Acuan Airfoil Clark-Y . dimensi gambar potongan airfoil Gambar 2. Simulasi Persebaran Resin Setelah proses pemodelan desain propeler selesai, tahap berikutnya adalah simulasi, diikuti oleh pemilihan metode manufaktur dan material. Penelitian ini menggunakan dua metode manufaktur, yaitu 3D printing dan pencetakan silikon. Material yang digunakan terdiri atas resin jenis poliester untuk metode pencetakan silikon dan Poly-Lactic Acid (PLA) untuk metode 3D printing. SJME KINEMATIKA Vol. 10 No. 2, 23 Juli 2025, pp 202-214 https://kinematika. id/index. php/kinematika Sebelum memasuki tahap manufaktur, dilakukan simulasi proses persebaran resin menggunakan perangkat lunak Fusion 360. Parameter yang digunakan dalam simulasi ini dapat dilihat pada Tabel 2. Hasil visualisasi simulasi persebaran resin ditampilkan pada Gambar 2. Adapun dimensi propeler yang dijadikan acuan disajikan pada Gambar 3. Parameter yang digunakan pada proses simulasi dapat dilihat pada Tabel 2. Untuk proses simulasi persebaran Resin ada beberapa parameter yang harus ditentukan yaitu Material. Boundary Conditions. Melt Temperature dan Mold Surface Temperature. Untuk pengaturan mesh yang digunakan adalah jenis linear dengan ukuran mesh adaptive. Maksud dari adaptive ini adalah ukuran mesh yang digunakan menyesuaikan dengan kompleksitas Untuk persebaran mesh dan refinement mesh ini dapat dilihat pada Gambar 4. Tabel 2. Parameter simulasi Parameter Nilai Material (Boundary Conditio. Lokasi Penuangan Resin (Boundary Conditio. Aesthetic Face Melt Temperature Temperature Permukaan Mold Lama Waktu Penuangan Polyester Resin Bagian Tengah 285AC Otomatis Gambar 3. Dimensi Propeler . Gambar 4. Refinement mesh . Display ukuran mesh adaptive Pemilihan material dan metode manufaktur Proses Manufaktur Silicone Mold diawali dengan membuat cetakan acuan dari Cetakan acuan (Master Mol. diawali dengan membuat bentuk propeler menggunakan tanah liat seperti ditunjukkan pada Gambar 5. Pada awalnya ada 2 pilihan yaitu menggunakan pasir . and castin. atau tanah liat. Tanah liat dipilih karena memiliki hasil yang lebih padat dan hasil akhirnya lebih homogen dalam pemerataan kontur dan SJME KINEMATIKA Vol. 10 No. 2, 23 Juli 2025, pp 202-214 https://kinematika. id/index. php/kinematika struktur butir. Selanjutnya, campuran silikon dan pengeras dituangkan ke atas tanah liat dan ditunggu mengeras seperti ditunjukkan pada Gambar 6. Hasil dari cetakan silikon yang telah mengeras dapat dilihat pada Gambar 7. Gambar 5. Pembuatan master mold menggunakan tanah liat Gambar 6. Pengerasan campuran Silikon Gambar 7. Hasil cetakan Silikon Untuk proses manufaktur menggunakan metode 3D Printing menggunakan beberapa parameter yaitu, jenis material. Layer Height. Infill. Infill Density. Print Speed. Suhu Nozzle dan Suhu Bed. Untuk nilai dari parameter tersebut dapat dilihat pada Tabel 3. Untuk proses pencetakan dapat dilihat pada Gambar 8. Evaluasi produk akhir Setelah manufaktur selesai. Selanjutnya merupakan evaluasi geometri akhir. Pada tahap ini, ukuran hasil proses 3D printing dan silicone molding diukur dan dihitung menggunakan rumus Error Absolut dan Error Persentase. Perbandingan error atau perbedaan yang dicari adalah Diameter Propeler. Lebar Hub. Diameter in Hole. Panjang Tip ke Hub, dan Tinggi Hub. Untuk bagian-bagian yang dicek ditunjukkan pada Gambar 9. yaycycycuycyaycaycycuycoycyc = ycAEaycaycycnyco Oe ycAyccyceycycaycnycu ycAEaycaycycnycoOe ycAyccyceycycaycnycu yaycycycuycycEyceycycyceycuycycaycyce = ( ) O 100% ycAyccyceycycaycnycu Dimana. Ndesain adalah nilai referensi dari desain CAD. Nhasil adalah nilai dimensi hasil proses manufaktur. SJME KINEMATIKA Vol. 10 No. 2, 23 Juli 2025, pp 202-214 https://kinematika. id/index. php/kinematika Tabel 3. Parameter proses 3D printing Parameter Material Layer Height Jenis Infill Infill Density Print Speed Suhu Nozzle Suhu Bed Jenis 3D Print Nilai Poly-Lactic Acid (PLA) 0,2 mm Honeycomb 100 mm/s 125 C Fused Deposition Modelling (FDM) . Gambar 8. Proses manufaktur . Silicone molding dan . 3D printing Gambar 9. Bagian-bagian propeler Proses simulasi yang telah dilakukan selanjutnya di validasi dengan proses aktual dari pencetakan pada cetakan silikon. Perbandingan posisi antara simulasi dan proses aktual ditunjukkan pada Gambar 10. Posisi simulasi penuangan resin ditunjukkan pada Gambar 10 . , penuangan resin aktual ditunjukkan pada Gambar 10 . , dan Penuangan resin dilakukan pada input yang berada di tengah cetakan silikon. Salah satu hasil dari pencetakan ditunjukkan pada Gambar 10 . SJME KINEMATIKA Vol. 10 No. 2, 23 Juli 2025, pp 202-214 https://kinematika. id/index. php/kinematika . Gambar 10. Proses Penuangan Resin . Simulasi, . aktual, dan . hasil cetakan HASIL DAN PEMBAHASAN Simulasi Persebaran Resin Sebelum melakukan proses manufaktur diperlukan adanya simulasi persebaran resin. Simulasi ini digunakan agar sebelum proses manufaktur dengan Silicone Mold dilaksanakan dapat dipastikan bahwa persebaran Resin yang diaplikasikan berjalan lancar. Gambar 11 menyajikan hasil simulasi persebaran resin pada komponen baling-baling dengan menggunakan metode injeksi resin. Sebagian besar area . ,91%) ditampilkan dalam warna hijau, yang menunjukkan bahwa bagian tersebut mudah terisi oleh resin. Sementara itu, 14,44% area berwarna kuning menandakan bagian yang relatif sulit terisi. Selain itu, terdapat area kecil berwarna merah . ,613%) dan abu-abu . ,035%) yang berisiko tidak terisi resin sama sekali. Hasil simulasi ini menunjukkan bahwa, meskipun desain cetakan dan penempatan saluran masuk resin telah cukup optimal, masih terdapat beberapa bagian yang perlu diperbaiki untuk menghindari cacat seperti rongga . pada produk Gambar 12 menunjukkan hasil simulasi penyusutan volumetrik . olumetric shrinkag. pada propeler setelah proses pencetakan, yang dilakukan menggunakan perangkat lunak Fusion 360. Warna pada gambar merepresentasikan besar kecilnya nilai penyusutan, dengan gradasi dari biru . enyusutan renda. hingga merah . enyusutan Dari hasil simulasi, terlihat bahwa fenomena penyusutan terjadi secara tidak merata pada seluruh bagian propeler. Penyusutan terbesar mencapai 12,58% . arna mera. , terjadi pada bagian ujung propeler yang ditunjukkan dengan warna merah. Sementara itu, penyusutan terkecil, sebesar 1,69% . arna bir. , terjadi pada area luar penampang sayap dan ditunjukkan dengan warna biru muda. Simulasi ini memberikan informasi penting terkait potensi cacat dimensi pada hasil akhir cetakan, serta dapat dijadikan dasar untuk melakukan penyesuaian desain atau parameter proses guna meminimalkan deformasi akibat Gambar 13 memperlihatkan perbandingan antara hasil cetakan awal propeler . dan hasil simulasi penyusutan resin . Secara visual, terdapat kesesuaian yang cukup baik antara keduanya, terutama pada area-area yang mengalami cacat. Cacat pada bagian ujung propeler, seperti ditunjukkan oleh lingkaran merah, terlihat serupa dengan hasil Pada simulasi, area ini ditandai dengan warna oranye hingga merah, yang SJME KINEMATIKA Vol. 10 No. 2, 23 Juli 2025, pp 202-214 https://kinematika. id/index. php/kinematika mengindikasikan tingkat penyusutan volumetrik tertinggi. Hasil cetakan menunjukkan bahwa bagian tersebut tidak terisi resin secara sempurna, sehingga menimbulkan celah atau lubang pada ujung baling-baling. Selain itu, area di sekitar lubang tengah juga menunjukkan korespondensi antara simulasi dan hasil cetak, yang diperjelas dengan penanda panah hijau. Ketidaksempurnaan pengisian resin pada bagian-bagian ini menguatkan hasil prediksi simulasi sebelumnya. Gambar 11. Hasil simulasi persebaran resin Gambar 12. Penyusutan (Shrinkag. yang terjadi Gambar 13. Perbandingan hasil cetakan resin dan simulasi sebelum optimasi Perbandingan kuantitatif antara dimensi hasil cetakan dan simulasi ditampilkan pada Tabel 5. Hasil ini memvalidasi bahwa simulasi yang dilakukan menggunakan perangkat SJME KINEMATIKA Vol. 10 No. 2, 23 Juli 2025, pp 202-214 https://kinematika. id/index. php/kinematika lunak mampu memprediksi dengan baik area kritis pada proses manufaktur propeler, khususnya dalam hal persebaran dan penyusutan resin. Komparasi/Perbandingan Geometri Setelah proses manufaktur selesai. Selanjutnya, propeler hasil kedua metode Silicone molding dan 3D Printing akan diukur dan ditimbang. Dapat dilihat pada Tabel 4, dari kedua proses manufaktur yang dilakukan memiliki ukuran geometri akhir yang berbeda dengan desain propeler diawal. Sebagai contoh, ukuran diameter in-hole yang pada desain CAD adalah 6,2 mm, ukuran hasil Silicone molding adalah 5,7 mm, dan ukuran hasil 3D Printing adalah 5,5 mm. Perbedaan ukuran ini dikarenakan adanya penyusutan pada saat proses Penyusutan yang terjadi sebesar 12,73% antara desain CAD dan hasil 3D Printing dan sebesar 8,77% antara desain CAD dan hasil Silicone Molding. Tabel 4. Komparasi ukuran desain CAD propeler dan hasil metode manufaktur Parameter Diameter propeler Lebar Hub Diameter in hole Panjang tip ke hub Tinggi hub Berat propeler Desain CAD 249 mm 18 mm 6,2 mm 115,5 mm 6,7 mm Metode Manufaktur 3D Printing Silicone Molding 250 mm 245 mm 18 mm 17,4 mm 5,5 mm 5,7 mm 117,4 mm 115,2 mm 6,9 mm 6,8 mm 10,2 gram 12,1 gram Tabel 5. Komparasi ukuran desain dan hasil akhir silicone mold Hasil Silicone Persentase Parameter Ukuran Desain CAD Molding Diameter Propeler 249 mm 245 mm -1,63 % Lebar hub 18 mm 17,4 mm -3,45 % Diameter in hole 6,2 mm 5,7 mm -8,77 % Panjang tip ke hub 115,5 mm 115,2 mm -0,26% Tinggi hub 6,7 mm 6,8 mm 1,47 % Perbandingan perubahan geometri yang terjadi pada hasil Metode Silicone molding dapat dilihat pada Tabel 5. Dapat dilihat bahwa dari semua parameter yang kami ukur mengalami penyusutan kecuali tinggi hub dari propeler. Penyusutan ini terjadi karena adanya beberapa faktor seperti suhu ruangan yang tidak terjaga dan tingginya kelembaban. Suhu ruangan pada penelitian ini adalah sekitar 29-31AC dan tingkat kelembaban 70-75%. Dapat dilihat bahwa perbedaan ukuran antara desain CAD dan Silicone Mold menunjukkan indikator minus (-). Indikator menunjukkan adanya penyusutan atau Shrinkage. Nilai penyusutan pada penelitian ini jauh lebih baik dari penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Hedayati pada tahun 2024. Hedayati menggunakan metode injection molding untuk memanufaktur propelernya dengan nilai penyusutan minimum adalah 16,42% dari ukuran awal. Nilai ini masih lebih besar dari nilai penyusutan maksimum pada penelitian ini yaitu -8,77%. Selain membandingkan dimensi antara desain CAD dan hasil cetakan menggunakan metode silicone molding, penelitian ini juga menyajikan perbandingan ukuran antara desain CAD dan hasil manufaktur menggunakan metode 3D printing, sebagaimana ditampilkan pada Tabel 6. Perbedaan dimensi ini dipengaruhi oleh beberapa parameter proses pencetakan, seperti pemilihan tingkat infill, layer height, dan penggunaan support layer . ,19,. SJME KINEMATIKA Vol. 10 No. 2, 23 Juli 2025, pp 202-214 https://kinematika. id/index. php/kinematika Berdasarkan hasil pengukuran, seluruh dimensi propeler yang dicetak dengan metode 3D printing mengalami peningkatan ukuran dibanding desain aslinya, kecuali pada diameter in hole, yang justru mengalami penyusutan sebesar -12,73%. Penyusutan ini diduga disebabkan oleh penumpukan lapisan . ayer stackin. akibat penggunaan layer height yang terlalu tipis. Akibatnya, lapisan bagian bawah tertimpa oleh lapisan atas sebelum sempat mengeras secara sempurna selama proses pencetakan berlangsung. Tabel 6. Komparasi ukuran desain CAD dan hasil akhir 3D printing Persentase Parameter Ukuran Desain CAD Hasil 3D Printing Diameter propeler 249 mm 250 mm 0,4 % Lebar hub 18 mm 18 mm Diameter in hole 6,2 mm 5,5 mm -12,73 % Panjang tip ke hub 115,5 mm 117,4 mm 1,62 % Tinggi hub 6,7 mm 6,9 mm 2,9 % Analisa Visual Setelah dilakukan proses komparasi geometri berdasarkan ukuran. Selanjutnya, untuk mendukung hasil data diatas. Dilakukan Analisa hasil akhir manufaktur propeler dengan metode analisa visual. Pada Gambar 14 ditunjukkan . Propeler komersial yang kami jadikan acuan desain CAD, . Propeler hasil Silicone Molding, . Propeler hasil 3D Printing dengan modifikasi, dan . Propeler hasil 3D Printing tanpa modifikasi. Gambar 14. Propeler acuan dan hasil manufaktur . Propeler komersial, . Propeler resin Silicone molding, . Propeler 3D printing modifikasi, dan . Propeler 3D printing non modifikasi Terlihat bahwa propeler komersial acuan dan hasil Silicone molding secara visual tidak memiliki perbedaan. Dengan hasil permukaan yang halus sama dengan propeler komersial, propeler hasil Silicone molding dapat digunakan sebagai alternatif pengganti propeler Pemilihan metode Silicone molding sendiri digunakan untuk membuat propeler spesifik yang berbeda dengan propeler komersial namun dengan volume yang rendah. Untuk perbandingan lebih detail antara kedua propeler ini dapat dilihat pada Gambar 15. Gambar 15. Perbandingan propeler komersil dan hasil silicone molding Untuk hasil 3D Printing ditemukan adanya kendala. Kendala ini adalah untuk ukuran dari propeler dengan airfoil tipe Clark Y tidak dapat dicetak dengan maksimal. Hal ini dikarenakan bagian Leading Edge dari propeler terlalu tipis sehingga tidak dapat dicetak secara maksimal. Selain ketebalan yang terlalu tipis, jenis support juga mempengaruhi hasil SJME KINEMATIKA Vol. 10 No. 2, 23 Juli 2025, pp 202-214 https://kinematika. id/index. php/kinematika cetakan. Support yang digunakan adalah jenis Grid dan Spacing atau jarak Supportnya adalah 0,2 mm. Pada kasus penelitian ini tingkat dan jenis infill tidak mempengaruhi hasil akhir. Gambar 16 menunjukkan spacing dari support yang digunakan. Gambar 16. Spacing support sebelum modifikasi Oleh karena itu, kami melakukan modifikasi dengan mempertebal serta merubah jenis infill menjadi jenis Organic atau Tree untuk propeler yang akan dimanufaktur menggunakan metode 3D Printing. Perbandingan bentuk untuk Propeler 3D Printing modifikasi dan nonmodifikasi dapat dilihat pada Gambar 17. Gambar 17. Propeler 3D printing modifikasi dan non-modifikasi Gambar 18. Komparasi ketebalan antara propeler 3D printing modifikasi dan non-modifikasi Dapat dilihat pada Gambar 18 bahwa propeler non modifikasi terlihat ada lapisanlapisan atau layer yang tidak menempel. Hal ini dikarenakan ketebalan yang tipis sehingga masing-masing layer tidak dapat merekat dengan sempurna. Perbedaan ketebalan ini dapat dilihat pada Gambar 18. Sedangkan propeler yang di modifikasi dapat dicetakkan dengan maksimal dan menghasilkan bentuk propeler yang sempurna. Dengan penambahan ketebalan 1 mm. Namun, hal ini membuat propeler yang dihasilkan tidak sesuai dengan SJME KINEMATIKA Vol. 10 No. 2, 23 Juli 2025, pp 202-214 https://kinematika. id/index. php/kinematika ukuran airfoil Clark Y yang dijadikan acuan. Sehingga disarankan untuk penggunaan metode 3D Printing digunakan untuk propeler dengan airfoil yang lebih tebal. KESIMPULAN Metode manufaktur silicone molding dapat menjadi alternatif dalam pembuatan propeler selain metode injection molding. Keunggulan dari metode ini terletak pada selisih ukuran antara desain CAD dan hasil cetakan akhir yang tergolong kecil, dengan nilai penyusutan maksimum sebesar -8,77%. Nilai tersebut masih dapat ditekan lebih lanjut melalui pengaturan faktor-faktor proses, seperti suhu dan kelembapan ruangan selama Sementara itu, metode 3D printing lebih sesuai diterapkan pada propeler dengan profil airfoil yang memiliki ketebalan lebih besar. Hasil cetakan propeler modifikasi menunjukkan kualitas yang lebih baik dibandingkan propeler tanpa modifikasi. Penambahan ketebalan sebesar 1 mm, misalnya, menghasilkan bagian leading edge yang tercetak lebih presisi. Namun, penyesuaian terhadap ketebalan ini menyebabkan bentuk propeler yang dihasilkan tidak sepenuhnya sesuai dengan desain awal berdasarkan referensi Spline Dat yang ditunjukkan pada Gambar 1. UCAPAN TERIMA KASIH Ucapan terima kasih kami berikan kepada Sekolah Tinggi Teknologi Kedirgantaraan. Dikarenakan penelitian merupakan bagian dari Hibah Penelitian Pendanaan Internal STTKD REFERENSI