Journal of Education and Culture Vol. No. Februari 2022 ISSN: 2797-8052 PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DALAM TUNTUNAN SYARIAoAT RASULULLAH SAW. Imam Tabroni1. Dyah Erawati2. Imas Maspiah3. Hilma SaAoadatunnisa 4 1,2,3,4 Pendidikan Agama Islam. STAI Dr. KH. EZ. Muttaqien Purwakarta. Indonesia imamtabroni70@gmail. Article Info Abstract Keywords: Islamic education is education that must be instilled as early as possible, even from the time of a motherAos womb. Because basically informal education is the beginning of the development of the childAos character is Children who are happy in family care will bring up good character and are friendly to their environment when he enter the formal and nonformal education environment the will be more dominant and confident. Islamic religious in formal and non-formal schools must be further developed, especially in teaching the character of the personality of students. The problem formulation of this research is how Islamic religious education can be used as a reference in formal and non-formal educational institutions as a way to rediscover the character of students who excel and have good morals according to the guidance of the Prophet SAW. It is intended that Islamic religious education can be used as a benchmark for educational institutional in producing generation of good morals. This education uses the literature review method because in the process of collecting data it takes several book sources as a references. Then used descriptive qualitative to analyze the research that is in the form of a systematic systematic sentence according to the source of the reference. Pendidikan Agama Islam Akhlak Pendidikan Formal Nonformal Abstrak Pendidikan Agama Islam adalah pendidikan yang harus ditanamkan sedini mungkin, bahkan sejak dalam masa kandungan seorang Ibu. Karena pada dasarnya pendidikan informal itu adalah awal dari perkembangan karakter anak itu terbentuk. Anak yang bahagia dalam pengasuhan keluarga akan memunculkan karakter yang baik serta ramah terhadap lingkungannya ketika dia masuk ke dalam lingkungan pendidikan formal dan nonformal pun dia akan lebih dominan dan percaya diri. Pendidikan Agama Islam di sekolah formal maupun nonformal harus lebih dikembangkan lagi terutama dalam pengajaran akhlak kepribadian peserta didik. Rumusan masalah dari penelitian ini adalah bagaimana pendidikan Agama Islam dapat dijadikan rujukan di lembaga-lembaga pendidikan formal maupun nonformal sebagai cara untuk menumbuhkan kembali karakter peserta didik yang berprestasi dan memiliki akhlakul karimah sesuai tuntunan Rasulullah SAW. Hal ini bertujuan bahwa pendidikan Agama Islam bisa dijadikan tolak ukur bagi lembaga-lembaga pendidikan dalam mencetak generasi-generasi berakhlakul Penelitian ini menggunakan metode kajian pustaka karena dalam proses pengumpulan data ini memakai beberapa sumber buku sebagai Selanjutnya digunakan deskriptif kualitatif untuk menganalisis penelitian yaitu dalam bentuk kalimat yang sistematis sesuai sumber Corresponding Author: Imam Tabroni Pendidikan Agama Islam STAI Dr. KH. EZ. Muttaqien Purwakarta. Indonesia imamtabroni70@gmail. https://w. com/index. php/jec/index Journal of Education and Culture ISSN: 2797-8052 PENDAHULUAN Mendidik bukan hanya suatu proses untuk menyampaikan sebuah pengetahuan saja, melainkan juga proses pengembangan potensi dan menanamkan nilai-nilai luhur pada diri peserta didik. Salah satu problematika pendidikan adalah rendahnya prestasi peserta didik, dan yang menjadi dasar problematika ini adalah karakteristik yang terbangun dari peserta didik (I. Tabroni, 2. , (Imam Tabroni et al. , 2. Jika kita melihat kenakalan siswa di tahun 1940 yaitu masih seputar berbicara sebelum giliran keributan di dalam kelas, berlarian di lorong, melanggar peraturan cara berpakaian dan membuang sampah sembarangan. Seiring perkembangan zaman, mulai tahun 1990, kenakalan siswa pun berkembang, seperti penyalahgunaan obat bius dan alcohol, perempuan hamil diluar nikah, aborsi, pelecehan seksual, merampok, tawuran dan lain Problematika-problematika ini semakin menyadarkan masyarakat akan pentingnya pendidikan agama Islam yang melahirkan nilai-nilai akhlakul karimah dengan merujuk kepada keteladanan akhlak dari Rasulullah SAW (I. Tabroni et al. , 2. , (Imam Tabroni & Siti Maryatul Qutbiyah, 2. Pada dasanya pendidikan dalam Islam itu berawal sejak dalam kandungan. Nabi sudah mengajarkan bahwa mendidik anak itu harus dengan penuh kasih sayang. Setelah dilahirkan, bayi disusui oleh ibunya dengan sentuhan kasih dan belaian dalam pelukan hangat ibunya serta stimulus ucapan shalawat akan merangsang perkembangan otak dan watak si anak, menjadi lebih optimal. Selanjutnya beranjak masa kanakkanak selalu di didik dan dibimbing ke arah yang lebih baik. Dengan menampilkan figur ibu dan ayah yang memiki suri tauladan bagi anaknya, selau beri arahan yang tepat. Ajarkan pada anak hal-hal baik untuk melatih kemandirian, percaya diri, akhlak kepada sesama, rajin menolong dan selalu rendah hati. (Suwaid. Jika dari pendidikan keluarga saja sudah baik, maka ketika anak terjun ke kehidupan luar anak akan sangat siap menghadapi segala macam tantangan kehidupan (I. Tabroni & Dodi, 2. , (Imam Tabroni. Erfian Syah, 2. Lain halnya jika anak dilahirkan dalam keluarga yang kurang peduli dengan pendidikan anak, dia akan mencari dimana letak kekurangan dari pengasuhan keluarga yang kurang memperhatikan kebutuhan batin si anak. Dari lingkungan luar pun pasti baik ataupun buruk tidak akan dapat tersaring Pada lembaga pendidikan, pentingnya peran guru sebagai pendidik di sekolah untuk meluruskan dan membentuk akhlak peserta didik dalam hal ini melalui pembelajaran pendidikan agama Islam yang sesuai dengan teladan Rasulullah SAW. Ada beberapa metode mendidik anak ala Rasulullah SAW (Berry, 2. Menampilkan suri tauladan yang baik Mencari waktu yang tepat untuk memberi arahan Bersikap adil Menunaikan hak anak Membantu anak berbakti dan mengerjakan ketaatan Tidak suka marah dan mencela Jika dirumah adalah kedua orang tuanya yang melakukan metode ini maka disekolah gurulah yang harus menjadi pengganti orang tua. Adanya sinergitas serta pean aktif dari lembaga informal dan nonformal ini, maka akan memunculkan peserta didik yang tidak hanya pintar melainkan lebih dari itu, mampu mengusai diri dan lingkungan sekitarnya (Widayanti, 2. , ( dkk I. Tabroni, 2. , . METODE PENELITIAN Bagian metode menggambarkan langkah-langkah yang dilalui dalam mengeksekusi penelitian/kajian. Oleh karena itu, perlu ditampilkan secara detail kepada pembaca . mengapa metode yang digunakan reliabel dan valid dalam menyajikan temuan penelitian/kajian. Bagian metode penelitian harus dapat menjelaskan metode penelitian yang digunakan, termasuk bagaimana prosedur pelaksanaannya, penjelasan alat, bahan, media atau instrumen yang digunakan, penjelasan rancangan penelitian, populasi dan sampel . asaran penelitia. , teknik pengumpulan data, pengembangan instrumen, dan teknik analisis data. Penulisan sub judul pada metode hendaknya dimasukkan ke dalam paragraf bukan bullets, atau numbering (Creswell, 2. Untuk penelitian kualitatif seperti penelitian tindakan kelas, studi kasus, dan lain-lain, perlu ditambahkan kehadiran peneliti, subyek penelitian, informan yang ikut membantu beserta cara-cara menggali data-data penelitian, lokasi dan lama penelitian serta uraian mengenai pengecekan keabsahan hasil penelitian. PEMBAHASAN Menurut Imam Al-Gazali akhlak adalah sifat yang tertanam dalam jiwa yang menimbulkan perbuatan dengan gampang dan mudah tanpa memerlukan pemikiran dan pertimbangan. Seiring perkembangan zaman, akhlak generasi mengalami dinamika, dapat dilihat dari kenakalan remaja di tahun 1940 yang masih seputar keributan di dalam kelas sampai pada saat ini. Kenakalan remaja mengalami Pendidikan Agama Islam Dalam Tuntunan SyariAoat Rasulullah SAW. Journal of Education and Culture ISSN: 2797-8052 perkembangan sampai pada penyalahgunaan narkoba bahkan sampai pada pelecehan seksual (Ernawati. Kondisi dinamika akhlak peseta didik ini menyadarkan pendidik sampai pada kalangan masyarakat akan pendidikan akhlak. Pendidikan akhlak dapat diperoleh dari pendidikan agama Islam yang merujuk pada keteladanan Rasulullah SAW. Fakta kekerasan di Indonesia: Tahun 2015, komisi perlindungan anak (KPAI) merilis data yang menyimpulkan bahwa perilaku kekerasan dan kejahatan yang dilakukan oleh anak-anak mengalami peningkatan. Tahun 2014, kasus kekerasan dan kejahatan yang dilakukan oleh anak tercatat 67 kasus. Sementara pada tahun 2015,jumlahnya bertambah menjadi 79 kasus. Tahun 2014, tawuran antar pelajar terjadi sebanyak 46 kasus,pada tahun 2015 ,jumlahnya meningkat menjadi 103 kasus. Indonesia police watch (IPW)merilis sejumlah data mengenai perilaku yang tidak sepantasnya dilakukan anak-anak dibawah umur,yang rentang usianya antara 10-17 tahun. sebagian perilaku mereka masuk ke dalam kategori sadis. padahal,kasus-kasus tersebut rata-rata dimulai hanya karena persoalan sepele,seperti olok-olok sesama teman dan pertengkaran mulut. Melihat dan mengetahui data-data perilaku di atas sangat miris dan mengkhawatirkan. Krisis akhlak dan adab serta kurangnya ilmu pengetahuan yang terpengaruh oleh pesatnya perkembangan teknologi,digitalisasi serta lemahnya pengelolaan sumber daya manusia yang berorientasi pada pendidikan agama Islam menjadi hal kesekian yang menjadi pemicu bobroknya akhlak anak-anak saat ini (I. Tabroni et , 2. Peran pemerintah pun harusnya bisa mengawasi melalui peraturan serta kebijakan- kebijakan untuk menekan kasus-kasus kekerasan anak di Indonesia saat ini (Imam Tabroni et al. , 2. Generasi alfa diperkirakan menjadi generasi terbesar dan terpintar cepat menyerap teknologi terkini. Perhatian terhadap masalah kesehatan ,bersekolah pada usia dini dan belajar di sekolah lebih lama,fokus dan terobsesi pada produk baru yang berhubungan dengan teknologi ,juga kesempatan berkarir terbuka diseluruh dunia dan bersaing dengan warga dunia lainnya. Perkembangan zaman yang seiring dengan kemajuan teknologi dapat berdampak dan juga negatif. Salah satu dampank positifnya adalah informasi dan komunikasi terbuka dari mana saja dan kapan saja. sedangkan dampak negatifnyajika informasi tidak tersaring ,misalnya berita dan tayangan kekerasan ,maka akan membawa pengaruh buruk anak yang sering melihat tayangan atau bermain game AykekerasanAy cenderung tumbuhmenjadi anak yang cemas,penakut,dan selalu merasa tidak aman,atau bahkan sebaliknya bisa jadi pengaruh informasi kekerasan akan menjadikan seorang anak kelak memiliki sikap tempramental (Kessi, 2. , (Ernawati. , 2. Untuk menghadapi tantangan kehidupan umat Islam patut bersyukur atas sempurnanya ajaran Islam. Ajaran Islam sudah diajarkan Rasulullah SAW. Seluruh kehidupan Rasul adalah keteladanan dalam melaksanakan ajaran islam, sebagaimana Allah SWT berfirman dalam Q. S Al-Ahzab: AuSesungguhnya telah ada pada diri rasul . Rasullullah itu suri teladan yang baik bagimu . bagi orang yang mengharap ( rahmat ) Allah dan . hari kiamat dan yang banyak mengingat AllahAy. Segenap umat islam memiliki keyakinan penuh bahwa manusia yang paling bertakwa di muka bumi ini adalah Rasulullah SAW. Oleh karena itu mewujudkan ketakwaan dalam diri dan anggota keluarga adalah dengan meneladani kehidupan Rasulullah SAW. Sebuah keteladanan,dijadikan sebagai kunci utama dalam mendidik ,metode keteladanan ini terbukti berhasil dilakukan oleh Rasulullah SAW saat memimpin dan mendidik orang anak ibarat kertas putih bersih,isi kertas tersebut aka sangat dipengaruhi apa yang dilihat anak-anak dari orang disekitarnya,terutama lingkungan terdekatnya (Muakhir, 2. KESIMPULAN 1 Kesimpulan Membentuk akhlak peserta didik dalam persfektif pembelajaran tidak terlepas dari strategi pembelajaran di dalam kelas,perlu adanya kesinambungan antara sistem dan praktek pembelajarannya, semakin tepat strategi dalam menyampaikan pembelajarannya maka akan semakin cepat pula peserta didik mendapatkan nilai-nilai dari pembelajaran tersebut. Startegi pendidikan,cara penyampaian,desain pembelajaran adalah hal utama yang harus terus dikembangkan dalam proses pembelajaran pendidikan gama islam secara terus-menerus untuk membentuk generasi-generasi emas masa kini yang mampu bersaing di dunia global. REFERENSI