Journal of Medical Science Jurnal Ilmu Medis Rumah Sakit Umum dr. Zainoel Abidin Vol. No. Hlm. 51 - 59. April 2026 e-ISSN: 2721-7884 https://doi. org/10. 55572/jms. Hubungan Kadar Alpha-Fetoprotein dengan Derajat Keparahan Hepatocellular Carsinoma Correlation of Alpha-Fetoprotein Levels with the Severity of Hepatocellular Carcinoma Kamalya Ulfa1*. Desi Maghfirah2. Vera Dewi Mulia3. Rachmat Hidayat4. Soraya Rezeki5 Program Studi Pendidikan Dokter. Fakultas Kedokteran. Universitas Syiah Kuala. Jl. Teuku Nyak Arief. Kopelma Darussalam. Banda Aceh. Divisi Gastroenterohepatologi. Departemen Ilmu Penyakit Dalam. Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Zainoel Abidin. Banda Aceh. Indonesia Divisi Patologi Anatomi. Fakultas Kedokteran. Universitas Syiah Kuala. Jl. Teuku Nyak Arief. Kopelma Darussalam. Banda Aceh. Divisi Parasitologi. Departemen Ilmu Penyakit Dalam. Fakultas Kedokteran. Universitas Syiah Kuala. Jl. Teuku Nyak Arief. Kopelma Darussalam. Banda Aceh. Divisi Anak. Rumah Sakit Pendidikan USK. Limpok. Banda Aceh. Indonesia. *E-mail: desimaghfirah@usk. Submit: 29 Januari 2026. Revisi: 20 April 2026. Terima: 29 April 2026 Abstrak Hepatocellular Carsinoma (HCC) merupakan kanker hati primer yang paling sering ditemukan dan menjadi penyebab utama kematian akibat kanker di dunia. Alpha-fetoprotein (AFP) digunakan secara luas sebagai penanda tumor dalam diagnosis dan pemantauan HCC, di mana peningkatan kadar AFP diduga berkorelasi dengan derajat keparahan penyakit berdasarkan sistem klasifikasi Barcelona Clinic Liver Cancer (BCLC). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara kadar AFP dengan derajat keparahan HCC berdasarkan klasifikasi BCLC di RSUD dr. Zainoel Abidin Banda Aceh tahun 2024. Penelitian ini menggunakan desain observasional analitik dengan pendekatan cross-sectional, dengan data diperoleh dari rekam medis pasien HCC yang memenuhi kriteria inklusi. Sebanyak 40 pasien dijadikan sampel dan dibagi berdasarkan stadium BCLC (AAeD), kemudian dianalisis menggunakan uji Kruskall Wallis karena data tidak berdistribusi Hasil penelitian menunjukkan bahwa distribusi pasien terbanyak terdapat pada stadium BCLC B . ,5%) dengan mayoritas berjenis kelamin laki-laki dan rentang usia 14Ae74 tahun. Kadar AFP menunjukkan rentang luas . ,41Ae1000 ng/mL) dengan nilai yang meningkat seiring bertambahnya derajat BCLC dimana kadar AFP pada stadium A dan B yaitu 1,41-1000 ng/mL dan stadium C dan D yaitu 68,86-1000 ng/mL, serta terdapat perbedaan signifikan antara kadar AFP pada stadium A. B,C,dan D dengan p = 0,01. Penelitian ini menunjuukan terdapat hubungan bermakna antara kadar AFP dengan derajat keparahan HCC, di mana peningkatan kadar AFP pada stadium lanjut mencerminkan aktivitas tumor yang lebih agresif serta gangguan fungsi hati yang lebih berat. Pemeriksaan AFP dapat dijadikan indikator tambahan dalam menilai progresivitas HCC meskipun perlu dikombinasikan dengan penilaian klinis dan radiologis lainnya. Kata kunci: Hepatocellular Carsinoma. Alpha-Fetoprotein. Child Pugh. Barcelona Clinic Liver Cancer (BCLC). Kanker hati Abstract Hepatocellular carcinoma (HCC) is the most common primary liver malignancy and remains a leading cause of cancer-related mortality worldwide. Alpha-fetoprotein (AFP) is widely used as a tumor marker in the diagnosis and monitoring of HCC, where elevated AFP levels are suspected to correlate with disease severity based on the Barcelona Clinic Liver Cancer (BCLC) classification system. This study aimed to determine the Ulfa K / Journal of Medical Science Vol. 7 No. association between AFP levels and the severity of HCC according to the BCLC classification at Dr. Zainoel Abidin General Hospital. Banda Aceh, in 2024. This research employed an analytical observational design with a cross-sectional approach, using data obtained from the medical records of HCC patients who met the inclusion criteria. A total of 40 patients were included as samples and categorized according to BCLC stages (AAeD), followed by analysis using the Kruskall Wallis test due to non-normal data distribution. The results showed that the majority of patients were in BCLC stage B . 5%), predominantly male, with an age range of 14Ae74 years. AFP levels demonstrated a wide range . 41Ae1000 ng/mL) and tended to increase with advancing BCLC stages, where AFP levels in A and B stage disease ranged from 1. 41Ae1000 ng/mL and in C and D stage disease from 68. 86Ae1000 ng/mL. A significant difference was found between AFP levels in A. C, and D stages . = 0. This study indicates a significant association between AFP levels and the severity of HCC, where elevated AFP levels in advanced stages reflect more aggressive tumor activity and more severe hepatic dysfunction. AFP measurement may serve as an additional indicator for assessing HCC progression, although it should be used in conjunction with other clinical and radiological assessments. Keywords: Hepatocellular Carsinoma. Alpha-Fetoprotein. Child Pugh. Barcelona Clinic Liver Cancer (BCLC), liver malignancy Pendahuluan Hepatocellular carcinoma (HCC) adalah jenis kanker hati primer yang berasal dari sel hepatosit dan menjadi salah satu penyebab utama kematian akibat kanker di seluruh dunia. Berdasarkan laporan Global Burden of Cancer (GLOBOCAN) tahun 2020 yang diterbitkan oleh World Health Organization (WHO), kanker hati primer menempati peringkat keenam sebagai jenis kanker yang paling sering didiagnosis serta menjadi penyebab kematian akibat kanker tertinggi ketiga di dunia. Tercatat sekitar 906. 000 kasus baru dan 830. 000 kematian akibat penyakit ini, dengan tingkat kematian yang 2 hingga 3 kali lebih tinggi pada pria dibandingkan wanita. (Ananda Muhamad Tri Utama, 2. Hepatocellular Carcinoma di Indonesia menempati urutan ke-5 sebagai kanker dengan penyumbang angka kejadian terbanyak dan urutan ke-3 sebagai kanker paling banyak diderita oleh laki-laki. (Torimura and Iwamoto, 2. Insiden kanker hati terus meningkat hingga saat ini dan masih menjadi tantangan kesehatan global. Hepatocellular carsinoma merupakan bentuk paling umum dari kanker hati yang paling banyak ditemukan dimana HCC menyumbang hingga 80% kasus kanker hati. (Aprilicia et al. , 2. Staging Barcelona Clinic Liver Cancer (BCLC) selalu menjadi pilihan utama yang dipakai untuk mengklasifikasikan tingkat keparahan dari HCC. Hal ini dikarenakan BCLC memiliki kemampuan dalam memprediksi hasil serta membantu dalam perencanaan pengobatan berdasarkan BCLC direkomendasikan oleh EASL untuk menilai derajat keparahan HCC karena BCLC mempertimbangkan derajat fungsi hati, status performa, prognosis serta rekomendasi (Fadillah. Rotty and Sugeng, 2. BCLC mengklasifikasikan keparahan HCC menjadi lima derajat, yaitu derajat sangat awal . , derajat awal (A), derajat menengah (B), derajat lanjut (C), dan derajat akhir (D) (Darmadi and Ruslie, 2. Sistem penentuan stadium BCLC dinilai juga berdasarkan jumlah dan ukuran tumor di hati, fungsi hati, kondisi umum . tatus perform. , serta penyebaran kanker ke pembuluh darah terdekat, kelenjar getah bening atau organ luar (Martinelle et al. , 2. BCLC juga digunakan sebagai penentuan eligibilitas dalam uji (Jearth et al. , 2. Metode dalam pemeriksaan hepatocellular carsinoma (HCC) salah satunya adalah dengan menggunakan penanda serum tumor. Metode ini umumnya tidak dapat digunakan secara mandiri untuk menegakkan diagnosis HCC dan perlu dikombinasikan dengan metode pemeriksaan lain, seperti pemeriksaan radiologi. Alpha-fetoprotein (AFP) merupakan yang paling sering (Liu. Wu and Chang, 2. Biomarker ini telah melalui lima tahap validasi oleh Early Ulfa K / Journal of Medical Science Vol. 7 No. Detection Research Network of National Cancer Institute, sehingga AFP direkomendasikan untuk digunakan dalam praktik klinis. (Parikh et al. , 2. Kadar AFP pada individu sehat tetap rendah seumur hidup, tetapi meningkat secara tidak normal pada kanker hati (HCC). AFP (Alpha-fetoprotei. dilaporkan meningkat secara diagnostik dengan ambang batas 400 ng/mL pada 28% hingga 87% pasien dengan kanker hati primer (HCC). Peningkatan kadar Alpha-Fetoprotein (AFP) mencerminkan aktivitas proliferasi sel tumor yang lebih tinggi dan berkaitan dengan mekanisme molekuler seperti disregulasi mikroRNA . iRNA), perubahan epigenetik, serta peningkatan invasi dan angiogenesis, sehingga berhubungan dengan perilaku tumor yang lebih agresif. Pemeriksaan AFP juga memiliki nilai praktis dalam tatalaksana HCC karena biayanya relatif lebih murah dan lebih mudah diakses dibandingkan pemeriksaan radiologis lanjutan seperti CT scan atau MRI. AFP sering digunakan sebagai parameter tambahan untuk menilai keparahan dan progresivitas HCC, terutama pada fasilitas kesehatan dengan keterbatasan sumber daya, meskipun tetap perlu dikombinasikan dengan evaluasi klinis dan pencitraan untuk memperoleh penilaian yang komprehensif. Penelitian yang dilakukan di rumah sakit RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta pada tahun 2022 dengan judul penelitian AuHubungan kadar AFP dengan Derajat Karsinoma Hepatoseluler Berdasarkan Staging Barcelona Clinic Liver Cancer (BCLC) di RSUP Dr. Sardjito YogyakartaAy pada 120 responden didapatkan hasil bahwa terdapat korelasi positif dan signifikan antara kadar Alpha-fetoprotein dengan derajat keparahan Hepatocellular Carsinoma berdasarkan klasifikasi BCLC dengan . =0. p=0. (Ramadhini, 2. Temuan ini memperkuat dugaan bahwa peningkatan AFP berkaitan dengan progresivitas penyakit. (Martinelle et al. , 2. Sejauh ini belum ada penelitian yang membandingkan signifikansi hubungan antara kadar AFP dengan derajat keparahan HCC di RSUDZA. Penelitin ini dapat menjadi referensi untuk menilai keparahan HCC berdasarkan kadar AFP, sehingga dapat menjadi parameter tambahan dalam menentukan prognosis pasien. Metodelogi Rancangan Penelitian Penelitian ini merupakan studi observasional analitik dengan desain cross-sectional yang dilakukan dengan menganalisis data rekam medis pasien hepatocellular carcinoma (HCC) pada Penelitian dilaksanakan di RSUD dr. Zainoel Abidin dengan menggunakan data sekunder yang berasal dari rekam medis pasien. Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian dilaksanakan di RSUD dr. Zainoel Abidin dengan menggunakan data rekam medis pasien tahun 2024. Populasi dan Sampel Penelitian Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh rekam medis pasien yang didiagnosis Hepatocellular carcinoma (HCC) dengan kode ICD-10 C22. 0 pada tahun 2024, yang berjumlah 64 rekam medis. Sampel dalam penelitian ini adalah 40 rekam medis pasien yang memenuhi kriteria penelitian. Ulfa K / Journal of Medical Science Vol. 7 No. Kriteria Inklusi dan Eksklusi Kriteria inklusi dalam penelitian ini adalah rekam medis pasien dengan diagnosis HCC yang memiliki data lengkap, yaitu mencakup nilai Alpha-fetoprotein (AFP) serta derajat keparahan HCC berdasarkan klasifikasi BCLC. Sementara itu, kriteria eksklusi meliputi rekam medis dengan data yang tidak lengkap, terutama yang tidak memiliki nilai AFP atau tidak memiliki data yang memadai untuk menentukan stadium BCLC, termasuk tidak tersedianya hasil pemeriksaan radiologis seperti CT-Scan. Variabel Penelitian Variabel independen dalam penelitian ini adalah kadar Alpha-fetoprotein (AFP), sedangkan variabel dependen adalah derajat keparahan HCC berdasarkan klasifikasi BCLC. Kadar AFP merupakan variabel numerik dengan satuan ng/mL, sedangkan derajat BCLC merupakan variabel ordinal yang diklasifikasikan ke dalam stadium A. C, dan D. Alat dan Bahan Alat dan bahan yang digunakan dalam penelitian ini berupa data rekam medis pasien hepatocellular carcinoma (HCC), yang mencakup hasil pemeriksaan laboratorium kadar Alphafetoprotein (AFP) serta data pemeriksaan radiologis berupa CT-Scan untuk penentuan stadium berdasarkan klasifikasi Barcelona Clinic Liver Cancer (BCLC). Selain itu, digunakan lembar pengumpulan data . ata extraction for. sebagai instrumen untuk mencatat variabel penelitian dari rekam medis secara sistematis. Prosedur Penelitian Data diperoleh dari rekam medis pasien yang telah memenuhi kriteria inklusi dengan metode pengukuran yang seragam pada seluruh subjek. Data kadar AFP dicatat dan kemudian dianalisis dengan membandingkan nilai tersebut pada masing-masing kelompok stadium BCLC. Sumber Data Data yang digunakan merupakan data sekunder yang diperoleh dari rekam medis pasien HCC di RSUDZA tahun 2024. Pemilihan Sampel Pengambilan sampel dilakukan dengan metode purposive sampling. Dari total populasi, sebanyak 24 rekam medis tidak diikutsertakan karena data yang tidak lengkap, terutama terkait penentuan derajat keparahan berdasarkan klasifikasi Barcelona Clinic Liver Cancer (BCLC) akibat tidak tersedianya data pemeriksaan CT-Scan yang memadai. Hasil dan Pembahasan Karakteristik Dasar Pasien Serta Kadar AFP, dan BCLC. Distribusi pasien berdasarkan stadium BCLC, kadar AFP. Child Pugh usia, dan jenis kelamin disajikan pada Tabel 1. Tabel ini memberikan gambaran karakteristik dasar pasien penelitian, yang dapat membantu memahami perbedaan profil klinis antara stadium awal hingga lanjut. Ulfa K / Journal of Medical Science Vol. 7 No. Tabel 1. Karakteristik dasar pasien serta kadar AFP, dan BCLC Variable Jenis kelamin, n (%) Laki-laki Perempuan Usia, median . in-ma. AFP mg/dl, median . in-ma. Child Pugh, n (%) Etiologi, n (%) Hepatitis B Hepatitis C Non Viral An=5 Derajat HCC BCLC B n = 15 C n = 14 Dn=6 3. 1,41-1000 11. 1,77-1000 10. 68,86-1000 Total pasien 40 orang, terbanyak pada BCLC B . dan paling sedikit BCLC A . dengan laki-laki lebih dominan dibanding perempuan. Usia pasien berkisar 14Ae74 tahun, dengan stadium lanjut umumnya terjadi pada usia >40 tahun. Kadar AFP rendah ditemukan di stadium A dan B, sedangkan stadium C dan D didominasi AFP tinggi. Distribusi Child Pugh menunjukkan bahwa stadium A dan B didominasi fungsi hati baikAesedang (Child pugh AAeB), sedangkan stadium D seluruhnya tergolong Child pugh C yang menandakan penurunan fungsi hati pada stadium lanjut. Etiologi kebanyakan pasien HCC adalah hepatitis B, namun banyak juga yang disebabkan oleh non viral seperti dislipidemia, diabetes, hipertensi serta penyakit jantung coroner. Rentang usia pasien 14Ae74 tahun menggambarkan bahwa HCC dapat terjadi baik pada usia muda maupun usia lanjut. Walaupun demikian, sebagian besar literatur melaporkan HCC lebih sering ditemukan pada usia 50Ae70 tahun. (Nevola et al. , 2. Adanya kasus usia muda dalam penelitian ini mengindikasikan kemungkinan faktor risiko seperti infeksi hepatitis B sejak usia anak atau predisposisi genetik yang mempercepat terjadinya proses karsinogenesis hati. Distribusi usia yang lebar juga menandakan HCC bukan hanya penyakit usia lanjut, melainkan dapat muncul lebih dini pada populasi berisiko. (Nandiaty and Farida, 2. Distribusi kadar Alpha-fetoprotein (AFP) bervariasi luas antara 1,41 hingga 1000 ng/mL pada seluruh pasien HCC. Distribusi berdasarkan stadium BCLC memperlihatkan bahwa kelompok stadium C memiliki batas bawah AFP relatif tinggi (Ou249 ng/mL), sedangkan kelompok stadium A. B, dan D menunjukkan rentang lebih bervariasi. Temuan ini menggambarkan bahwa kadar AFP cenderung meningkat seiring bertambahnya derajat keparahan HCC, meskipun tidak sepenuhnya linear pada setiap stadium. (Lee, 2. Mayoritas pasien berada pada stadium B dan C, dengan proporsi masing-masing 37,5% dan 35%. BCLC B yang identik dengan stadium menengah menunjukkan nilai AFP yang relatif tinggi, mencerminkan beban tumor lebih besar dan aktivitas karsinogenesis lebih agresif dibanding stadium A. stadium C juga menunjukkan kadar AFP meningkat meskipun dengan variasi cukup lebar, sedangkan stadium D masih memiliki nilai rendah pada beberapa pasien. (Mulla et al. Hal ini mengindikasikan bahwa kadar AFP tidak selalu berkorelasi sempurna dengan Ulfa K / Journal of Medical Science Vol. 7 No. progresivitas klinis, karena stadium lanjut sering dipengaruhi pula oleh faktor lain seperti fungsi hati, status performa, serta komplikasi ekstrahepatik. (Zhang et al. , 2. Peran AFP sebagai penanda biologis telah dibuktikan berbagai penelitian. AFP tinggi sering dikaitkan ukuran tumor lebih besar, vaskularisasi yang lebih masif, serta potensi metastasis yang lebih tinggi. Studi menyebutkan cut-off >400 ng/mL berhubungan kuat dengan diagnosis HCC dan prognosis lebih buruk. Sekitar 30Ae40% pasien HCC dapat menunjukkan kadar AFP normal, sehingga interpretasi harus dikombinasikan dengan pencitraan diagnostik. Hasil penelitian ini konsisten dengan teori tersebut, di mana meskipun sebagian besar pasien stadium menengah hingga lanjut menunjukkan kadar AFP tinggi, tetap ditemukan nilai rendah pada stadium (Turshudzhyan et al. , 2. Distribusi Child Pugh pada penelitian ini memperlihatkan mayoritas pasien Child Pugh B . %), yang menandakan gangguan fungsi hati sedang. Gangguan fungsi hati turut memengaruhi variasi kadar AFP, karena kemampuan hepatosit memproduksi AFP bergantung integritas jaringan hati. Kombinasi fungsi hati terganggu dan ukuran tumor besar menyebabkan kadar AFP meningkat signifikan pada sebagian pasien. Dengan demikian, hubungan kadar AFP dengan derajat keparahan HCC tidak hanya ditentukan oleh ukuran dan jumlah tumor, tetapi juga kondisi cadangan hati pasien. (El-Azab et al. , 2. Temuan ini menegaskan pentingnya pemeriksaan AFP sebagai bagian dari evaluasi pasien HCC, meskipun penggunaannya tidak boleh berdiri sendiri. Implikasi klinis menunjukkan bahwa kadar AFP tinggi dapat memperkuat dugaan keparahan HCC serta prognosis lebih buruk, sedangkan AFP rendah tidak menyingkirkan kemungkinan stadium lanjut. Penggunaan AFP harus dipadukan dengan pencitraan diagnostik dan penilaian fungsi hati. Upaya skrining berkala pada kelompok risiko tinggi, terutama penderita hepatitis kronis dan sirosis, diharapkan mampu mendeteksi HCC lebih dini sebelum kadar AFP meningkat signifikan dan sebelum pasien memasuki stadium menengah hingga lanjut. (AoJournal of the American College of RadiologyAo, 2. Hubungan kadar AFP dengan derajat keparahan HCC berdasarkan BCLC Hubungan kadar AFP dengan Derajat keparahan Hepatocellular Carsinoma di uji dengan metode Kruskall Wallis dimana terdapat empat pembagian kelompok yaitu stadium A, stadium B, stadium C, dan stadium D yang dapat dilihat pada Tabel 2. Tabel 2. Hubungan kadar AFP dengan derajat keparahan HCC berdasarkan BCLC Stadium Stadium A Stadium B Stadium C Stadium D AFP median . in-ma. 1,41-1000 1,71-1000 68,86-1000 Pada Tabel 2 dapat dilihat p value 0. 001 yang menunjukkan terdapat perbedaan yang signifikan antara nilai AFP pada stadium A, stadium B. Stadium C, dan stadium D yang menunjukkan bahwa kadar AFP memberikan pengaruh signifikan terhadap derajat keparahan Hepatocellular Carsinoma (BCLC). Hasil ini menunjukkan bahwa kadar AFP meningkat seiring dengan bertambahnya derajat keparahan penyakit. Ulfa K / Journal of Medical Science Vol. 7 No. Peningkatan kadar AFP pada HCC disebabkan oleh proses transformasi maligna hepatosit yang menyebabkan perubahan ekspresi gen sel hati. Pada kondisi fisiologis. AFP diproduksi dalam jumlah tinggi selama masa janin dan menurun drastis setelah kelahiran. Namun, pada proses karsinogenesis, hepatosit mengalami dediferensiasi, yaitu kehilangan karakter sel dewasa dan kembali mengekspresikan gen fetal seperti AFP. Peningkatan produksi AFP menggambarkan aktivitas biologis tumor yang lebih tinggi, termasuk peningkatan proliferasi sel, invasi vaskular, dan potensi metastasis. Oleh karena itu, kadar AFP yang tinggi umumnya dijumpai pada HCC dengan ukuran tumor besar, invasi vaskular, dan derajat diferensiasi yang buruk. (Chi et al. , 2. Fungsi hati juga berpengaruh terhadap kadar AFP. Pasien dengan fungsi hati menurun, seperti pada Child Pugh B atau C, umumnya mengalami kerusakan hepatosit yang luas dan peningkatan regenerasi sel hati, yang turut meningkatkan produksi AFP. (Chi et al. , 2. (Liu et al. , 2. Meski demikian, tidak semua pasien dengan stadium lanjut memiliki kadar AFP tinggi. Beberapa jenis HCC dikenal sebagai AFP-negative HCC, yaitu tumor yang tidak mengekspresikan AFP secara signifikan, sehingga kadar AFP tetap rendah meskipun penyakit telah mencapai stadium lanjut. Pada pasien dengan sirosis berat, kemampuan sintesis protein hepatosit dapat menurun, sehingga kadar AFP menjadi tidak mencerminkan secara langsung aktivitas tumor. (Shi et al. , 2. Hasil penelitian ini sejalan dengan temuan Mazza et al. dan Kim et al. , yang menunjukkan bahwa kadar AFP yang tinggi, khususnya Ou1000 ng/mL, berhubungan dengan karakteristik tumor yang lebih agresif. Kadar AFP tersebut dikaitkan dengan ukuran tumor yang lebih besar, tingkat diferensiasi yang rendah, serta adanya invasi vaskular. Peningkatan kadar AFP juga berasosiasi dengan luaran klinis yang lebih buruk, seperti penurunan overall survival (OS) dan recurrence-free survival (RFS) pada pasien karsinoma hepatoseluler (HCC) (Mazza et al. , 2024. Kim. Jang and Kim, 2. Studi Wang et al. juga mengatakan bahwa kadar AFP praoperatif > 400 ng/mL merupakan prediktor independen terhadap penurunan OS pada pasien yang menjalani reseksi hati. (Ursu et al. , 2. Penelitian Chen et al. menunjukkan bahwa rasio AFP pra dan pascaoperatif yang tinggi berhubungan dengan peningkatan risiko kekambuhan (Yang et al. , 2. Penelitian lain yang mendukung hasil ini dilakukan oleh Liu et al. pada pasien HCC di Tiongkok, yang menunjukkan bahwa pasien dengan AFP positif cenderung memiliki ukuran tumor lebih besar, tingkat diferensiasi lebih buruk, dan tingkat metastasis lebih tinggi dibandingkan kelompok AFP negatif. Hasil-hasil tersebut menguatkan temuan bahwa kadar AFP mencerminkan derajat keparahan dan progresivitas HCC. (Chi et al. , 2. Beberapa penelitian terbaru juga melaporkan keterbatasan AFP sebagai indikator tunggal. Studi oleh Turshudzhyan et al. menunjukkan bahwa sekitar 40% pasien HCC memiliki kadar AFP normal pada stadium awal, sehingga sensitivitas AFP untuk deteksi dini masih (Turshudzhyan et al. , 2. Penelitian Liu et al. juga melaporkan bahwa sensitivitas AFP dalam mendeteksi HCC hanya mencapai sekitar 49% meskipun spesifisitasnya tinggi, sehingga penggunaan AFP sebaiknya dikombinasikan dengan biomarker lain. (Shi. Zhu and Yang, 2. Selain itu, penelitian Shi et al. menyoroti bahwa nilai prognostik AFP tunggal kurang konsisten dibandingkan dengan model prediktif berbasis rasio AFP atau kombinasi AFP dengan klasifikasi BCLC dan Child Pugh Score. (Dong et al. , 2. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kadar AFP meningkat seiring dengan peningkatan stadium HCC, sehingga AFP dapat digunakan sebagai indikator tambahan dalam menilai derajat keparahan dan progresivitas penyakit. Mengingat adanya variasi ekspresi AFP antar pasien dan keterbatasan sensitivitasnya pada stadium awal serta keterbatasan jumlah sampel . Ulfa K / Journal of Medical Science Vol. 7 No. interpretasi hasil AFP tidak dapat digunakan secara tunggal. Penilaian klinis yang komprehensif dengan mempertimbangkan stadium BCLC, fungsi hati (Child Pug. , serta karakteristik morfologi tumor tetap diperlukan untuk menilai kondisi dan prognosis pasien secara lebih akurat. (Mulla et , 2. Kesimpulan Penelitian ini menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara kadar Alpha-Fetoprotein (AFP) dengan derajat keparahan Hepatocellular Carcinoma (HCC) berdasarkan klasifikasi BCLC . < . , di mana kadar AFP cenderung lebih tinggi pada stadium C dan D. Temuan ini mengindikasikan bahwa AFP dapat digunakan sebagai biomarker tambahan dalam menilai progresivitas penyakit. Namun, mengingat adanya variasi ekspresi AFP dan keterbatasan sensitivitasnya, terutama pada stadium awal, penggunaannya harus dikombinasikan dengan parameter klinis lain seperti stadium BCLC, fungsi hati (Child-Pug. , serta karakteristik tumor untuk meningkatkan akurasi penilaian prognosis. Daftar Pustaka