Vol. No. 1, 2025, pp. DOI: https://doi. org/10. 29210/1202526109 Contents lists available at Journal IICET Jurnal EDUCATIO (Jurnal Pendidikan Indonesi. ISSN: 2476-9886 (Prin. ISSN: 2477-0302 (Electroni. Journal homepage: https://jurnal. org/index. php/jppi Pengaruh model pembelajaran Problem-Based Learning terhadap hasil belajar siswa mata pelajaran Pendidikan Pancasila kelas IV sekolah dasar Nurmayeni Nurmayeni*). Laili Rahmi Universitas Islam Riau. Indonesia Article Info ABSTRACT Article history: Pembelajaran Pendidikan Pancasila di sekolah dasar sering menghadapi tantangan rendahnya keterlibatan siswa dan pemahaman yang terbatas terhadap Salah satu pendekatan yang diyakini dapat meningkatkan kualitas pembelajaran adalah model Problem-Based Learning (PBL). Penelitian ini bertujuan untuk menelaah perubahan hasil belajar siswa setelah penerapan PBL pada mata pelajaran Pendidikan Pancasila di kelas IV SDN 82 Pekanbaru. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain one-group preexperimental design. Sampel penelitian adalah 17 siswa yang diambil secara sampel jenuh. Data dikumpulkan melalui tes tertulis untuk mengukur hasil belajar ranah kognitif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata skor pretest siswa adalah 9,41 (SD = 1,. dan meningkat menjadi 13,53 (SD = 6,. pada posttest, sehingga terdapat kenaikan rata-rata sebesar 4,12 poin. Uji Paired Sample t-Test menghasilkan nilai signifikansi 0,026 (< 0,. , yang menunjukkan adanya perbedaan signifikan secara statistik antara skor pretest dan posttest. Sehingga dapat disimpulkan bahwa penerapan model PBL berkaitan dengan adanya perubahan hasil belajar yang teramati, sehingga dapat menjadi alternatif strategi untuk meningkatkan pemahaman siswa terhadap materi Pendidikan Pancasila. Namun demikian, keterbatasan penelitian berupa desain satu kelompok tanpa kelas kontrol dan jumlah sampel yang relatif kecil mengharuskan hasil ini ditafsirkan secara hati-hati serta memerlukan validasi lebih lanjut pada konteks dan populasi yang lebih luas. Received Jun 21th, 2025 Revised Jul 20th, 2025 Accepted Aug 25th, 2025 Keywords: Problem-based learning Learning outcomes Pancasila education Elementary school One-group pre-experimental A 2025 The Authors. Published by IICET. This is an open access article under the CC BY-NC-SA license . ttps://creativecommons. org/licenses/by-nc-sa/4. Corresponding Author: Nurmayeni Nurmayeni. Universitas Islam Riau Email: nurmayeni@student. Pendahuluan Pendidikan di Indonesia merupakan fondasi utama dalam membangun masa depan bangsa serta meningkatkan kualitas hidup masyarakat. Lebih dari sekadar kebutuhan, pendidikan dipandang sebagai hak asasi yang dijamin oleh konstitusi dan menjadi strategi penting dalam mencetak sumber daya manusia yang unggul dan berdaya Pemerintah Indonesia terus melakukan reformasi pendidikan melalui berbagai kebijakan, seperti Kurikulum Merdeka, untuk meningkatkan mutu pembelajaran dan pemerataan akses pendidikan. Transformasi paradigma pendidikan juga terus berkembang, dari yang sebelumnya berpusat pada guru, kini bergeser menjadi pembelajaran yang menempatkan peserta didik sebagai subjek aktif. Pendidikan tidak lagi dimaknai hanya sebagai proses mentransfer ilmu, melainkan sebagai wahana pembentukan karakter, penguatan nilai-nilai sosial, serta pengembangan keterampilan abad ke-21. Hal ini menegaskan bahwa keberhasilan sistem pendidikan Indonesia tidak semata-mata diukur dari capaian akademik, tetapi juga dari perubahan sikap, nilai, dan perilaku Nurmayeni. , & Rahmi. Jurnal EDUCATIO (Jurnal Pendidikan Indonesi. Vol. No. 1, 2025, pp. peserta didik yang selaras dengan cita-cita pembangunan nasional. Dalam konteks ini, pendidikan menjadi motor penggerak peradaban dan instrumen penting dalam menciptakan generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga beretika, mandiri, dan memiliki kesadaran sosial (Oktavia et al. , 2. Pendidikan sekolah dasar memiliki peranan krusial sebagai fondasi awal dalam membentuk kepribadian, kecakapan dasar, dan karakter peserta didik. Di jenjang ini, siswa mulai dikenalkan pada berbagai pengetahuan dasar, keterampilan literasi dan numerasi, serta nilai-nilai moral dan sosial yang menjadi bekal utama mereka untuk melanjutkan ke jenjang pendidikan berikutnya. Proses pembelajaran di sekolah dasar saat ini diarahkan agar lebih aktif, kontekstual, dan menyenangkan, sehingga siswa dapat terlibat secara langsung dalam proses membangun pengetahuan melalui pengalaman nyata. Paradigma pembelajaran pun telah bergeser, di mana peserta didik tidak hanya menjadi objek, tetapi juga pelaku dalam proses belajar yang dirancang untuk menggali potensi mereka secara maksimal. Faktor-faktor seperti metode pengajaran yang inovatif, materi ajar yang relevan, dan penggunaan media pembelajaran yang tepat menjadi elemen penting dalam mencapai hasil belajar yang optimal. Pendidikan sekolah dasar tidak hanya bertujuan untuk meningkatkan kemampuan akademik, tetapi juga membentuk sikap positif seperti tanggung jawab, kerjasama, kedisiplinan, dan kepedulian sosial (Suryani et al. , 2. Keberhasilan pendidikan di jenjang ini akan menjadi fondasi kuat bagi pembentukan profil pelajar Pancasila yang siap menghadapi tantangan masa depan. Di didalam ruang pembelajaran, interaksi pedagogis menjadi jantung dari proses pencapaian tujuan Menurut Nurhayani et al. proses belajar mengajar tidak sebatas pada penyampaian materi, tetapi ialah relasi dinamis antara guru dan siswa yang saling menghidupi proses pembelajaran. Guru tidak hanya berperan sebagai fasilitator informasi, melainkan juga sebagai penggerak utama didalam ekosistem belajar. Aktivitas belajar bukanlah kejadian spontan, melainkan buah dari kesadaran individu untuk menginternalisasi perubahan didalam berperilaku sebagai respons terhadap stimulus lingkungan. Pembelajaran, oleh karena itu, ialah bentuk rekayasa sosial yang mengarahkan individu menuju kompetensi dan sikap yang selaras dengan tuntutan zaman (Paling et al. , 2. Kualitas pembelajaran bergantung pada bagaimana setiap komponen didalam proses tersebut dikelola dan diintegrasikan secara sinergis untuk menciptakan pengalaman belajar yang bermakna dan berkelanjutan. Hasil belajar ialah manifestasi dari transformasi intelektual dan keterampilan yang dialami peserta didik setelah melewati suatu rangkaian proses pedagogis. Guna mencapai hasil yang bermakna, optimalisasi proses pembelajaran menjadi keniscayaan yang tak dapat dielakkan. Hasil belajar sebagai produk dari pengalaman belajar yang telah diukur secara terencana melewati beragam instrumen asesmen, seperti tes tertulis, tes lisan, maupun tes praktik. Dengan demikian, hasil belajar tidak hanya berfungsi sebagai data kuantitatif, tetapi juga sebagai cermin reflektif terhadap efektivitas proses pembelajaran itu sendiri (Larasati et al. , 2. Secara filosofis, pembelajaran ialah proses sadar dan sistematis yang dimaksudkan untuk menciptakan ruang bagi peserta didik agar mampu berkembang secara kognitif, afektif, dan psikomotorik. Di sinilah hasil belajar menjadi indikator vital didalam menakar kualitas dan daya jangkau dari pengalaman belajar yang dialami oleh siswa selama periode waktu tertentu (Mudanta et al. , 2. Sebagai sebuah konsekuensi logis, hasil belajar tidak berdiri sendiri, melainkan turut dipengaruhi oleh dimensi internal siswa, seperti motivasi, disposisi belajar, dan aspirasi personal (Telaumbanua & Harefa, 2. Oleh karena itu, diperlukan iklim pembelajaran yang mampu menumbuhkan semangat berprestasi sebagai katalis didalam mencapai hasil belajar yang ideal, terlebih didalam mata pelajaran yang sarat nilai seperti Pendidikan Kewarganegaraan. Pendidikan Kewarganegaraan sendiri tak hanya dipandang sebagai ruang penyampaian pengetahuan normatif tentang hak dan kewajiban warga negara, melainkan sebagai platform transformatif untuk menginternalisasi nilai-nilai demokrasi, kesadaran hukum, dan partisipasi aktif didalam kehidupan bernegara. Pendidikan Pancasila memegang peranan penting dalam membentuk karakter dan identitas nasional siswa Indonesia (Rizal, 2. Dalam konteks perubahan global yang cepat di abad 21, disertai dengan tantangan baru yang kompleks, terdapat kebutuhan mendesak untuk merevisi dan memperkaya kurikulum PPKn agar lebih responsif dan relevan. Sementara itu, perspektif Nafisa et al. menempatkan Pendidikan Kewarganegaraan sebagai wahana strategis didalam membentuk generasi yang tidak hanya cakap secara intelektual, namun juga berakar kuat pada nilai-nilai kebangsaan dan semangat bela negara. Menurut (Heriyono, 2. menegaskan bahwa secara konseptual. Pendidikan Kewarganegaraan ialah praksis edukatif yang terstruktur untuk menanamkan integritas moral, karakter kebangsaan, serta kesiapan partisipatif didalam menjaga keutuhan negara. Dengan kata lain, ia tidak hanya sekadar pendidikan normatif, tetapi juga sebuah instrumen karakterologis yang secara kolektif membentuk sikap, etika, dan jiwa kebangsaan. (Zulfikar & Dewi, 2. menambahkan bahwa pendidikan ini mengemban tanggung jawab besar didalam melahirkan warga negara yang bukan hanya sadar hukum dan beretika, tetapi juga mempunyai kesanggupan untuk berkontribusi secara positif didalam merawat tatanan sosial yang berkeadaban serta menjadikan nilai-nilai moral sebagai basis kehidupan bermasyarakat yang berkelanjutan. Journal homepage: https://jurnal. org/index. php/j-edu Pengaruh model pembelajaran problem based learningA Pembelajaran Pendidikan Pancasila di sekolah dasar memiliki peran penting dalam menanamkan nilai kebangsaan sekaligus membentuk sikap aktif dan bertanggung jawab pada siswa. Namun, realitas di kelas seringkali menunjukkan tantangan. Berdasarkan hasil wawancara dengan guru kelas IV SDN 82 Pekanbaru, hanya sekitar setengah dari jumlah siswa yang mencapai ketuntasan belajar pada mata pelajaran Pendidikan Pancasila. Kondisi ini mencerminkan rendahnya keterlibatan siswa dalam proses pembelajaran serta capaian kognitif yang belum optimal. Situasi tersebut menuntut upaya segera untuk menemukan pendekatan pembelajaran yang lebih mampu meningkatkan hasil belajar sekaligus menumbuhkan keaktifan siswa. Guru juga mengungkapkan bahwa nilai siswa rendah karena mereka kurang fokus saat pembelajaran berlangsung dan cenderung pasif. Guru menjelaskan bahwa siswa sering tidak memperhatikan, tidak mengerjakan tugas dengan serius, dan jarang bertanya saat tidak paham. Selain itu, banyak dari mereka tidak berani menyampaikan pendapat karena takut salah atau kurang percaya diri. Hal ini membuat proses pembelajaran menjadi satu arah dan kurang efektif, sehingga pemahaman siswa terhadap materi pun rendah. Oleh karena itu, perlu diterapkan pendekatan pembelajaran yang lebih kontekstual dan partisipatif, seperti model Problem based learning, untuk mendorong keterlibatan dan keberanian siswa dalam proses belajar. Informasi yang diperoleh melewati wawancara dengan pendidik mata pelajaran Pendidikan Pancasila mengungkapkan sejumlah faktor yang berkontribusi terhadap rendahnya pencapaian hasil belajar. Di antaranya ialah rendahnya partisipasi aktif siswa, keberanian didalam menyampaikan pendapat yang masih terbatas, minimnya inisiatif untuk bertanya, serta kecenderungan untuk mengabaikan tugas-tugas yang diberikan guru. Situasi ini diperparah dengan munculnya perilaku siswa yang kurang kondusif selama proses pembelajaran, seperti berbicara di luar konteks, sehingga mengganggu konsentrasi dan menyebabkan materi pembelajaran tidak terserap secara optimal. Selain itu, terdapat persepsi kolektif siswa bahwa Pendidikan Pancasila ialah mata pelajaran yang kompleks, terutama ketika disampaikan melewati pendekatan konvensional yang bersifat satu arah, yakni ceramah semata. Pola penyampaian yang monoton ini menimbulkan kejenuhan serta menurunkan minat belajar, terutama ketika pembelajaran tidak disertai dengan strategi atau pendekatan yang mampu menstimulasi kemampuan kognitif dan afektif peserta didik. Salah satu strategi yang diyakini relevan untuk menjawab tantangan ini adalah Problem-Based Learning (PBL). Model PBL menekankan keterlibatan aktif siswa dalam menyelesaikan masalah nyata melalui tahapan orientasi masalah, diskusi kelompok, penyelidikan, presentasi, dan refleksi. Mekanisme ini berpotensi mendorong siswa untuk berpikir kritis, bekerja sama, serta memahami nilai-nilai Pancasila dalam konteks konkret. Meskipun PBL telah banyak dilaporkan efektif di berbagai mata pelajaran, penelitian yang secara khusus menelaah penerapannya pada Pendidikan Pancasila kelas IV sekolah dasar masih terbatas. Gap inilah yang menjadi dasar penting bagi penelitian ini. Sebagaimana dikemukakan oleh Aprina et al. PBL ialah suatu model pembelajaran yang menekankan pengembangan keterampilan berpikir kritis melewati proses identifikasi dan pemecahan masalah yang kontekstual. Sementara itu. Widyasari et al. menyatakan bahwa PBL mengandalkan permasalahan sehari-hari sebagai katalis didalam proses belajar, dengan tujuan mengasah daya nalar, kreativitas, serta keterampilan pemecahan masalah siswa. Pandangan ini diperkuat oleh (Larasati et al. yang menegaskan bahwa PBL dirancang sebagai kerangka pembelajaran berbasis masalah yang tidak hanya mendorong siswa menjadi lebih aktif dan reflektif, tetapi juga mendorong pencapaian keterampilan berpikir tingkat tinggi secara sistematis dan berkesinambungan. Penelitian sebelumnya Ariyani & Kristin . Model pembelajaran Berbasis Masalah (Problem Based Learnin. dimulai dengan identifikasi masalah yang muncul dalam situasi pekerjaan atau lingkungan belajar, dengan tujuan untuk mengumpulkan dan mengintegrasikan pengetahuan baru yang diperoleh secara mandiri oleh siswa. Model pembelajaran Problem Based Learning melatih siswa dalam berfikir untuk memecahkan suatu permasalahan (Afandi et al. , 2. Model Problem based learning (PBL) merepresentasikan suatu pendekatan pembelajaran yang menempatkan peserta didik sebagai subjek aktif didalam proses konstruksi pengetahuan melewati keterlibatan langsung didalam aktivitas pemecahan masalah yang terstruktur secara Seperti yang diutarakan oleh (Indra & Fitria, 2. pendekatan ini tidak hanya memungkinkan siswa untuk mengakses pengetahuan yang relevan dengan persoalan yang dihadapi, tetapi juga menumbuhkan kapasitas berpikir kritis dan keterampilan didalam menyusun solusi secara mandiri. Didalam konteks pembelajaran abad ke-21, diperlukan suatu model pembelajaran yang mampu memberikan pengalaman belajar yang otentik dan bermakna, serta mendorong peserta didik untuk berpartisipasi secara aktif melewati proses reflektif dan konstruktif didalam mengaitkan pengetahuan dengan realitas kehidupan sehari-hari secara alamiah. Adapun tahapan ilmiah didalam implementasi model PBL mencakup serangkaian aktivitas pedagogis yang dirancang untuk merangsang keterlibatan kognitif dan afektif peserta didik secara maksimal. (Susilowati & Saputra, 2. mengelaborasi tahapan tersebut didalam lima fase utama, yakni: . mengorientasikan peserta didik pada suatu masalah yang kontekstual, . mengorganisasikan mereka ke didalam kelompok belajar kolaboratif, . memfasilitasi proses penyelidikan mandiri maupun kelompok, . mengarahkan pengembangan serta presentasi produk pemecahan masalah, dan . mengevaluasi proses serta hasil dari penyelesaian masalah Journal homepage: https://jurnal. org/index. php/j-edu Jurnal EDUCATIO (Jurnal Pendidikan Indonesi. Nurmayeni. , & Rahmi. Vol. No. 1, 2025, pp. Pendekatan ini diharapkan mampu memberikan dampak positif terhadap hasil belajar peserta didik, yang pada dasarnya ialah refleksi dari bagaimana siswa merespons proses pembelajaran melewati serangkaian strategi, metode, dan pendekatan yang diaplikasikan selama pembelajaran berlangsung. Penelitian ini menggunakan rancangan pra-eksperimen satu kelompok pretestAeposttest dengan melibatkan 17 siswa sebagai sampel jenuh. Rancangan ini memang memiliki keterbatasan, seperti tidak adanya kelompok kontrol dan cakupan sampel yang relatif kecil. Oleh sebab itu, penelitian ini tidak dimaksudkan untuk memberikan klaim kausal yang kuat, melainkan untuk mendeskripsikan perubahan hasil belajar yang teramati setelah penerapan PBL. Dengan penekanan pada ranah kognitif melalui tes tertulis dan observasi aktivitas siswa, penelitian ini diharapkan dapat memberikan gambaran awal tentang potensi PBL dalam meningkatkan kualitas pembelajaran Pendidikan Pancasila di sekolah dasar. Dengan demikian, tujuan penelitian ini adalah untuk menelaah perubahan hasil belajar siswa kelas IV SDN 82 Pekanbaru setelah penerapan model Problem-Based Learning pada mata pelajaran Pendidikan Pancasila. Kontribusi penelitian ini diharapkan tidak hanya bersifat praktis, yakni memberi alternatif strategi pembelajaran bagi guru, tetapi juga teoretis dengan menambah bukti empiris tentang relevansi penerapan PBL pada konteks Pendidikan Pancasila di jenjang sekolah dasar. Metode Penelitian ini menggunakan rancangan pre-eksperimen dengan model one group pretestAeposttest. Rancangan ini dilaksanakan dengan memberikan tes awal . untuk mengetahui kemampuan siswa sebelum perlakuan, kemudian diberikan perlakuan berupa pembelajaran Problem-Based Learning (PBL), dan diakhiri dengan tes akhir . untuk melihat perubahan hasil belajar siswa. Subjek penelitian adalah seluruh siswa kelas IV yang berjumlah 17 orang. Teknik pengambilan sampel menggunakan sampling jenuh, karena semua anggota populasi dalam kelas tersebut dijadikan sampel penelitian. Perlakuan diberikan melalui pembelajaran berbasis masalah yang dilaksanakan dalam beberapa kali pertemuan. Setiap pertemuan mengikuti tahapan PBL, yaitu: . orientasi peserta didik pada masalah, . mengorganisasikan peserta didik untuk belajar, . membimbing penyelidikan individu maupun kelompok, . mengembangkan dan menyajikan hasil karya, serta . menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah. Untuk mendukung keterlaksanaan, peneliti menyiapkan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), lembar observasi, dan rubrik penilaian. Data penelitian diperoleh melalui tes hasil belajar yang diberikan pada saat pretest dan posttest. Sebelum analisis, data diperiksa kelengkapannya, kemudian dilakukan uji prasyarat. Analisis utama menggunakan uji t berpasangan untuk mengetahui perbedaan skor sebelum dan sesudah perlakuan. Aspek etik penelitian dijaga dengan meminta izin resmi dari sekolah, memperoleh persetujuan orang tua, serta memastikan kerahasiaan identitas siswa melalui pemberian kode pada setiap data yang terkumpul. Hasil dan Pembahasan Uji instrumen Dalam penelitian ini, peneliti menerapkan uji validitas alat ukur dengan menggunakan perangkat lunak SPSS Instrumen yang dianggap valid adalah instrumen yang mampu mengukur variabel secara tepat dan akurat sesuai tujuan penelitian. Validitas instrumen tes hasil belajar pada mata pelajaran Pendidikan Pancasila kelas IV diukur dengan membandingkan nilai r hitung dari 17 sampel dengan r tabel. Metode yang digunakan adalah uji validitas Pearson Product Moment, dengan perhitungan dilakukan melalui fitur Pearson Correlation pada SPSS. Berdasarkan tabel r pada tingkat signifikansi 5% dan jumlah sampel 17, maka nilai r tabel adalah 0,482. Suatu butir soal dianggap valid apabila nilai r hitung dari SPSS lebih besar dari 0,482. Sebaliknya, apabila nilai r hitung lebih kecil dari 0,482, maka butir soal dinyatakan tidak valid. Hasil uji validitas menunjukkan bahwa seluruh 20 butir soal dalam instrumen tes hasil belajar siswa dinyatakan valid, karena memiliki nilai r hitung yang lebih tinggi dari r tabel. Dengan demikian, seluruh item instrumen layak digunakan untuk mengukur hasil belajar siswa setelah penerapan model pembelajaran Problem-Based Learning. Untuk menguji reliabilitas instrumen, digunakan metode CronbachAos Alpha. Hasil pengujian reliabilitas dapat dilihat pada tabel di bawah ini: Tabel 1 Reliability Statics CronbachAos Alpha (Sumber : Data Olahan Peneliti : 2. Keterangan N Item Journal homepage: https://jurnal. org/index. php/j-edu Reliable / baik Pengaruh model pembelajaran problem based learningA Berdasarkan hasil uji reliabilitas instrumen tes hasil belajar yang digunakan dalam penelitian ini, diperoleh nilai CronbachAos Alpha sebesar 0,940 dengan jumlah item sebanyak 20 butir soal, sebagaimana ditampilkan pada Tabel 1. Nilai ini menunjukkan bahwa instrumen memiliki tingkat keandalan yang sangat baik. Mengacu pada kriteria interpretasi CronbachAos Alpha, suatu instrumen dikatakan reliabel apabila nilai Alpha > 0,70. Dengan demikian, instrumen tes yang digunakan dalam penelitian ini tergolong reliable atau konsisten Uji Prasyarat Ditemukan sebanyak 20 butir soal yang valid dan dapat diandalkan dalam instrumen tes hasil belajar yang digunakan untuk mengukur pengaruh model pembelajaran Problem-Based Learning terhadap hasil belajar Instrumen tersebut diberikan kepada 17 siswa kelas IV SDN 82 Pekanbaru sebagai sampel dalam penelitian ini. Sebelum dilakukan analisis lebih lanjut, terlebih dahulu dilakukan uji prasyarat berupa uji normalitas untuk mengetahui apakah data hasil pretest dan posttest berdistribusi normal. Karena jumlah sampel kurang dari 50 responden, maka pengujian normalitas dilakukan menggunakan uji Shapiro-Wilk, yang lebih tepat digunakan untuk ukuran sampel kecil. Dasar pengambilan keputusan dalam uji ini mengacu pada nilai signifikansi (Sig. Apabila nilai Sig. > 0,05, maka data dikatakan berdistribusi normal. Sebaliknya, jika nilai Sig. < 0,05, maka data dianggap tidak berdistribusi normal. Tabel 2 Pretest Posttest (Sumber : Data Olahan Peneliti : 2. Tests of Normality Statistic Sig. Berdasarkan hasil uji normalitas yang dilakukan menggunakan metode Shapiro-Wilk, diperoleh nilai signifikansi sebesar 0,332 untuk data pretest dan 0,066 untuk data posttest, seperti yang ditampilkan pada Tabel Karena kedua nilai signifikansi tersebut lebih besar dari 0,05, maka dapat disimpulkan bahwa data pretest dan posttest berdistribusi normal. Dengan demikian, data memenuhi syarat untuk dilakukan pengujian statistik parametrik pada tahap selanjutnya. Selanjutnya, guna menjamin bahwa struktur varians antar kelompok data tidak menunjukkan ketidakhomogenan yang dapat mengganggu validitas analisis, dilakukan pengujian homogenitas varians. Uji ini bertujuan untuk mengidentifikasi konsistensi varians dari masing-masing kelompok pengamatan yang terlibat dalam penelitian. Hasil dari pengujian homogenitas tersebut disajikan secara sistematis pada Tabel 3 di bawah ini sebagai bagian dari proses verifikasi asumsi klasik yang diperlukan dalam penggunaan teknik statistik Tabel 3 Test of Homogeneity of Variances Hasil Belajar Levene Statistic (Sumber : Data Olahan Peneliti : 2. Sig. Berdasarkan pengujian homogenitas varians yang dilakukan melalui pendekatan LeveneAos Test, diperoleh nilai signifikansi sebesar 0,958, dengan Levene Statistic sebesar 0,003, serta derajat kebebasan df1 = 1 dan df2 = 32. Karena nilai signifikansi tersebut jauh lebih besar dari batas signifikansi konvensional ( = 0,. , maka dapat disimpulkan bahwa distribusi varians antar kelompok data pada variabel hasil belajar adalah homogen. Dengan demikian, asumsi homogenitas varians sebagai salah satu prasyarat uji parametrik telah terpenuhi, dan data dinyatakan layak untuk dianalisis menggunakan pendekatan statistik inferensial. Uji Hipotesis Untuk mengetahui apakah terdapat pengaruh yang signifikan antara penerapan model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) terhadap hasil belajar siswa, dilakukan analisis uji hipotesis menggunakan uji Paired Sample t-Test. Uji ini dipilih karena sesuai digunakan dalam kondisi dua data yang berpasangan, yaitu nilai pretest dan posttest dari 17 siswa yang sama pada kelas IV SDN 82 Pekanbaru. Berdasarkan informasi dalam Tabel 5, hasil analisis uji Paired Sample t-Test menunjukkan bahwa nilai Sig. -taile. sebesar 0,026, yang berarti lebih kecil dari 0,05. Dengan demikian. HCA ditolak dan HCA diterima, yang mengindikasikan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan dari penerapan model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) terhadap hasil belajar siswa. Nilai rata-rata selisih antara skor pretest dan posttest sebesar -4. menunjukkan adanya peningkatan hasil belajar setelah diterapkannya model PBL. Journal homepage: https://jurnal. org/index. php/j-edu Jurnal EDUCATIO (Jurnal Pendidikan Indonesi. Nurmayeni. , & Rahmi. Vol. No. 1, 2025, pp. Tabel 4 Paired Samples Test Paired Differences Pair 1 Mean Std. Deviation Pretest Posttest (Sumber : Data Olahan Peneliti : 2. Std. Error Mean 95% Confidence Interval of the Difference Lower Upper Sig. Selain itu, nilai t-hitung sebesar -2. 457 dengan derajat kebebasan . = 16 menguatkan bahwa perbedaan yang terjadi antara nilai sebelum dan sesudah perlakuan adalah signifikan secara statistik. Selain itu, berdasarkan hasil penelitian, rata-rata skor pretest siswa kelas IV SDN 82 Pekanbaru adalah 9,41 (SD = 1,. , sedangkan rata-rata posttest meningkat menjadi 13,53 (SD = 6,. Hal ini menunjukkan adanya kenaikan ratarata sebesar 4,12 poin setelah pembelajaran, meskipun dengan sebaran nilai yang lebih bervariasi pada posttest. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penerapan model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) mampu memberikan pengaruh positif yang signifikan terhadap hasil belajar siswa pada mata pelajaran Pendidikan Pancasila kelas IV di SDN 82 Pekanbaru. Hal ini terlihat dari peningkatan skor antara pretest dan posttest serta diperkuat oleh hasil uji Paired Sample t-Test yang menunjukkan nilai signifikansi (Sig. 2-taile. sebesar 0,026 (< 0,. Temuan ini sejalan dengan hasil studi Widyasari et al . yang membuktikan bahwa penerapan PBL secara sistematis dapat meningkatkan pemahaman dan kemampuan berpikir siswa melalui proses pembelajaran aktif berbasis masalah nyata. Proses pembelajaran dalam PBL mendorong siswa untuk berpartisipasi secara langsung dalam pemecahan masalah, sehingga siswa tidak hanya memahami konsep secara teoritis tetapi juga mampu menerapkannya dalam konteks kehidupan sehari-hari, yang berujung pada meningkatnya hasil belajar. Selain itu, penelitian ini memperkuat bahwa semakin tinggi kualitas penerapan PBL, maka semakin besar peningkatan hasil belajar siswa. Menurut Cahyani & Ahmad . bahwa PBL tidak hanya efektif dalam meningkatkan hasil belajar tetapi juga mampu melatih keterampilan berpikir kritis siswa melalui tahapan orientasi masalah, pengumpulan data, analisis, dan presentasi solusi. Mekanisme inilah yang membuat siswa lebih memahami konsep secara mendalam dan mendorong keterlibatan aktif mereka dalam proses belajar, yang berdampak langsung pada hasil evaluasi pembelajaran. Menurut (Ardianti et al. , 2. PBL berpusat pada peserta didik dengan fokus pada keterampilan berpikir kritis, pemecahan masalah, dan kemandirian belajar. Guru berperan sebagai fasilitator, membimbing siswa menemukan konsep melalui pengalaman kontekstual. Tahapan PBL, dari orientasi masalah hingga presentasi hasil, memungkinkan siswa mengaitkan materi dengan situasi nyata. Sejalan dengan (Darwati & Purana, 2. PBL mengembangkan kemampuan analisis dan evaluasi informasi secara sistematis, sehingga meningkatkan hasil belajar kognitif dan keterampilan metakognitif yang relevan di era 4. (Dharma et al. , 2. menekankan pentingnya variasi media pembelajaran untuk mendukung PBL, seperti video, infografis, dan simulasi yang membuat konsep lebih konkret. Selain itu. Mubarak et al. menambahkan bahwa integrasi media yang tepat meningkatkan hasil belajar dan partisipasi siswa. Sementara itu, (Arifin et al. , 2. menyatakan bahwa di era 4. PBL relevan karena mendukung penguasaan kompetensi abad 21 melalui masalah autentik dan integrasi teknologi. Pemanfaatan platform digital dan media interaktif membuat pembelajaran lebih fleksibel, kontekstual, dan mempersiapkan siswa menghadapi tantangan global. Temuan ini juga mendukung penelitian Cahyanti et al. yang menunjukkan bahwa PBL berperan signifikan dalam meningkatkan hasil belajar siswa dalam Pendidikan Pancasila. Dalam mata pelajaran ini, yang banyak menekankan pada penanaman nilai-nilai dan sikap, metode pembelajaran yang bersifat kontekstual dan partisipatif seperti PBL menjadi sangat relevan. PBL mendorong siswa untuk terlibat dalam proses berpikir reflektif dan pemecahan masalah yang berkaitan dengan isu-isu sosial dan kebangsaan, sehingga siswa tidak hanya memperoleh pengetahuan kognitif tetapi juga mampu menginternalisasi nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, model pembelajaran PBL tidak hanya berdampak pada aspek akademik, tetapi juga pada pembentukan karakter siswa sebagai warga negara yang aktif dan bertanggung jawab. Secara keseluruhan, hasil penelitian ini memperkuat bukti empiris bahwa model pembelajaran Problem Based Learning efektif dalam meningkatkan hasil belajar siswa, termasuk pada konteks mata pelajaran Pendidikan Pancasila di jenjang sekolah dasar. Penerapan PBL memberikan kesempatan kepada siswa untuk belajar secara aktif, kolaboratif, dan kontekstual. Menurut Rahmaniati & Rahmadini . PBL memiliki beberapa kelebihan yakni: . penggunan model PBL meningkatkan kedisiplinan siswa, . penggunaan model Journal homepage: https://jurnal. org/index. php/j-edu Pengaruh model pembelajaran problem based learningA PBL meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa. Selain itu, (Jannah et al. , 2. mengungkapkan hal yang serupa, adapun kelebihan model problem based learning sebagai berikut: . Siswa terlibat dalam pembelaran sehingga pengetahuannya benar-benar di serap dengan baik. Siswa dilatih untuk bekerja sama dengan siswa yang lainnya. Siswa dapat memperoleh pemecahan masalah dari berbagai sumber Kombinasi antara pendekatan ilmiah dalam proses pengumpulan dan analisis data, serta penggunaan instrumen yang valid dan reliabel, menjadikan temuan penelitian ini relevan sebagai acuan dalam pengembangan strategi pembelajaran di sekolah dasar. Oleh karena itu, guru disarankan untuk mengintegrasikan PBL dalam praktik mengajarnya secara berkelanjutan guna mencapai tujuan pembelajaran yang tidak hanya bersifat kognitif tetapi juga afektif dan psikomotorik. Simpulan Berdasarkan hasil penelitian, rata-rata skor pretest siswa kelas IV SDN 82 Pekanbaru adalah 9,41 (SD = 1,. , sedangkan rata-rata posttest meningkat menjadi 13,53 (SD = 6,. Hal ini menunjukkan adanya kenaikan ratarata sebesar 4,12 poin setelah pembelajaran, meskipun dengan sebaran nilai yang lebih bervariasi pada posttest. Hasil analisis Paired Sample t-Test menunjukkan nilai signifikansi 0,026 (< 0,. , yang berarti terdapat perbedaan yang signifikan secara statistik antara skor pretest dan posttest. Perbedaan ini dapat dibaca sebagai indikasi adanya peningkatan pemahaman siswa terhadap materi Pendidikan Pancasila melalui penerapan model Problem-Based Learning (PBL). Namun demikian, karena penelitian ini menggunakan rancangan satu kelompok tanpa pembanding, hasil yang diperoleh tidak dapat sepenuhnya dipisahkan dari kemungkinan pengaruh faktor luar kelas, seperti maturasi atau efek latihan. Dengan demikian, kesimpulan utama penelitian ini adalah bahwa terdapat perubahan hasil belajar yang teramati setelah penerapan PBL, sementara makna kausalitas dan klaim efektivitas secara umum tetap perlu ditafsirkan dengan hati-hati sesuai dengan keterbatasan desain penelitian. Referensi