ANALISIS NILAI AGAMA ISLAM DALAM FILM ANIMASI NUSSA DAN RARA PADA EPISODE SHOLAT ITU WAJIB Silvia Rahmah1. Fitri Febri Handayani2. Naili Rohmah3 1,2,3 PGPAUD. Universitas Negeri Semarang email: silviarahmah@students. id, 2handayanifitrifebri@mail. nailirohmah@mail. Abstrak. Perkembangan teknologi digital yang pesat membuka peluang luas bagi anak-anak untuk mengakses berbagai jenis informasi, termasuk konten hiburan seperti film animasi. Salah satu tayangan edukatif yang dinilai relevan untuk anak usia dini adalah film animasi Nussa dan Rara, khususnya pada episode AuSholat itu WajibAy. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis nilai-nilai agama Islam yang terdapat dalam tayangan tersebut. Menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dan metode analisis isi terhadap tayangan animasi. Data dikumpulkan melalui observasi visual terstruktur terhadap episode AuShplat itu WajibAy yang ditayangkan di channel You Tube Nussa Official. Serta didukung dengan literatur sekunder berupa buku dan jurnal ilmiah yang relevan dengan nilai-nilai keislaman dan pendidikan karakter anak. Hasil analisis menunjukkan bahwa film ini mengandung tiga nilai utama Islam, yaitu nilai akidah, syariat, dan akhlak. Nilai-nilai tersebut disampaikan melalui dialog. Tindakan, dan interaksi tokoh dalam cerita , dengan pendekatan yang sederhana dan mudah dipahami anak-anak. Film ini juga berfungsi sebagai media edukatif yang efektif dalam membantu orang tua menanamkan ajaran agama dan moral sejak usia dini. Dengan demikian. Nussa dan Rara tidak hanya menjadi tontonan hiburan, tetapi juga sarana pembelajran yang relevan dan kontektual. Keywords: anak usia dini, film animasi, nilai agama. Nussa dan Rara Abstract. The rapid advancement of digital technology has made it easier for children to access various types of content, including entertainment such as animated film. One educational show considered suitable for early childhood is the animated series Nussa and Rara, particulary the episode titled AuSholat itu WajibAy (Prayer is Mandator. This study aims to analyze the Islamic religious values conveyed in the epispde using a descriptive qualitative approach and content analysis method. Data were collected through visual observation of the episode available on the official Nussa You Tube channel and supported by relevant literature. The analysis relevals three core Islamic values embedded in the story: Aqidah. , sharia . eligious obligation. , and akhlaq . These values are presented through the charactersAo dialogues, actions, and interactions in a simple and child-friendly manner. The animation serves not only as an engaging form of entertainment but also as an effective aducational tool that helps parents instill moral and religious values from an early age. Therefore. Nussa and Rara functions as both entertainment and a contextual learning medium amid the fast-paced digital era. Keywords: early childhood, animated film. Islamic values. Nussa and Rara Silvia Rahmah, dkk. PENDAHULUAN Terdapat berbagai pandangan mengenai definisi usia ini. Menurut National Association for the Education of Young Children (NAEYC), sebuah asosiasi pendidik anak yang berbasis di Amerika Serikat, anak usia dini mencakup usia 0 sampai 8 tahun, yang termasuk dalam program pendidikan seperti tempat penitipan anak, penitipan yang dikelola oleh keluarga . amily child car. , pendidikan prasekolah baik swasta maupun negeri, taman kanak-kanak, hingga sekolah dasar. Menurut Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, anak usia dini adalah mereka yang berada dalam rentang usia sejak lahir hingga enam tahun. Artinya, masa anak usia dini mencakup sejak kelahiran hingga memasuki usia pendidikan taman kanak-kanak. Namun, penting untuk dicatat bahwa batasan usia yang ditetapkan dalam undang-undang ini memiliki kelemahan mendasar, yang dapat memengaruhi kualitas layanan dalam program pemeliharaan, pengasuhan, pendidikan, serta pembelajaran, karena belum sepenuhnya sesuai dengan tahap perkembangan anak. Masa kanak-kanak biasa dikenal dengan periode emas . olden ag. , karena di tahap ini anak mengalami lonjakan pesat dalam pertumbuhan dan perkembangannya (Amini & Aisyah, 2. Selain itu kemampuan anak dalam menyerap informasi dan membentuk karakter dasar pada titik optimal. Oleh karena itu stimulus yang diberikan harus yang baik dan sesuai dengan tahap perkembanganya, jika tidak tepat atau sesuai dengan perkembangan anak, maka dapat menimbulkan dampak negatif terhadap kehidupannya di masa depan (Dewi, 2. Terdapat enam aspek perkembangan pada anak usia dini yang perlu diperhatikan dalam perkembangan anak. Hal ini tercantum dalam Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 146 Tahun 2014 mengenai Kurikulum 2013 untuk Pendidikan Anak Usia Dini, di pasal 5 yang menjelaskan bahwa aspek perkembangan dalam Kurikulum PAUD mencakup nilai-nilai agama dan moral, perkembangan fisik-motorik, bahasa, kognitif, sosial-emosional, serta seni (Merinda et al. , 2. Salah satu aspek yang sangat krusial untuk ditanamkan sejak dini yaitu perkembangan agama dan moral. Aspek agama dan moral adalah dua hal yang memiliki hubungan erat. Perkembangan aspek keagamaan pada peserta didik memiliki pengaruh terhadap perkembangan moral mereka, karena berbagai norma Silvia Rahmah, dkk. dalam ajaran agama sering dijadikan pedoman dalam bersikap dan berperilaku. Oleh sebab itu, ketika membahas perkembangan keagamaan, secara tidak langsung juga sedang membahas perkembangan moral (Nurjanah, 2. Nilai agama dan moral pada anak usia dini adalah kemampuan mereka untuk mengerti serta menerapkan perbuatan yang benar dan menghindari perbuatan yang tidak sesuai dengan ajaran agama yang mereka pahami, yang tercermin melalui aspek keagamaan, sikap, dan perilaku sehari-hari (Cindy & Khadijah, 2. Nilai-nilai moral dan keagamaan sangat berkaitan dengan pembentukan karakter anak, seperti budi pekerti, perilaku santun, serta kesediaan untuk mengamalkan ajaran agama dalam aktivitas sehari-hari (Lestariningrum, 2. Intinya, menanamnkan nilai agama dan moral mulai dari usia dini akan mempengaruhi insting anak untuk menerima perilaku luhur serta terpuji, serta membiasakan mereka untuk berperilaku dengan akhlak yang baik (Safitri et al. , 2. Karena nilai-nilai agama punya peran besar dalam membentuk karakter anak, tentu penting juga untuk melihat bagaimana nilai-nilai itu ditanamkan sejak kecil. Salah satu caranya adalah melalui pendidikan agama Islam. Menurut Elihami . alam Muhammadin et al. , 2. Pendidikan agama Islam mengajarkan nilai-nilai kebaikan dan penting untuk diterapkan pada aktivitas sehari-hari, seperti sikap sabar, kasih sayang, kejujuran, keadilan, semangat kerja yang tinggi, serta sikap bertanggung jawab. Pendidikan agama Islam merupakan upaya dalam membina dan mengembangkan sisi religius peserta didik melalui penyampaian ajaran-ajaran dalam Islam. Pendidikan ini berperan sebagai panduan yang dapat membuka jalan bagi datangnya hidayah untuk meyakini keesaan Allah SWT, memanfaatkan akal secara bijak, membentuk amal yang mulia, serta menghindarkan diri dari kemusyrikan, penyimpangan, kebatilan, kerusakan fisik, kehancuran hubungan sosial, dan kemerosotan akhlak manusia (Santoso et al. , 2. Penanaman nilai-nilai moral dan agama tidak hanya dapat disampaikan melalui materi pembelajaran dalam bentuk hafalan atau tulisan Oleh sebab itu, peran guru dan orang tua sangat penting dalam menunjukkan teladan yang baik, khususnya pada hal beribadah, berdoa dengan sopan, serta menghormati sesama (Ramadhini, 2. Di tengah pesatnya kemajuan teknologi, orang tua seringkali dengan mudah memberikan gadget kepada anak-anak mereka sebagai bentuk penyesuaian dengan Silvia Rahmah, dkk. perkembangan zaman. Namun, tanpa adanya pengawasan yang tepat, penggunaan teknologi justru berisiko menjauhkan anak dari proses pendidikan (Ikhwantoro et , 2. Meskipun begitu kemajuan teknologi sebenarnya tidak selalu memberikan dampak negatif. Jika dimanfaatkan dengan bijak, teknologi justru bisa menjadi sarana pendukung dalam proses pembelajaran anak, termasuk dalam penanaman nilai agama. Salah satu bentuk pemanfaatan teknologi yang paling dekat dengan dunia anak adalah video animasi atau film kartun. Film merupakan salah satu media yang cukup efektif dalam memberikan teladan positif, karena secara tidak langsung anak dapat menyaksikan langsung peran para tokohnya, sehingga mendorong mereka untuk meniru dan meneladani gerak-gerik serta perilaku positif yang ditampilkan dalam tayangan tersebut (Ramadhini, 2. Menurut Lalompoh film animasi sangat diminati oleh anak-anak, termasuk mereka yang berada pada usia dini. Tayangan berupa gambar bergerak seperti film memiliki daya tarik tersendiri melalui visual dan audio yang lengkap serta menarik. Berkat perpaduan teknologi yang canggih, film animasi mampu menyuguhkan tontonan yang memikat, sehingga membuat anak-anak merasa nyaman dan betah saat menontonnya (Hayati et al. , 2. Oleh karena itu, orang tua sebagai lembaga pendidikan pertama bagi anak harus memiliki kemampuan dalam memilih konten yang bersifat edukatif dan mengandung nilai-nilai Islami. Jika orang tua memberikan akses teknologi kepada anak-anaknya, maka sebaiknya disertai dengan penyajian tayangan yang mendidik, seperti film edukatif yang sesuai dengan nilainilai agama (Ikhwantoro et al. , 2. Salah satu contoh media yang sesuai dan relevan untuk anak usia dini di era digital saat ini adalah film animasi Nussa dan Rara karya Aditya Triantoro. Film ini dapat diakses di channel youtube Nussa official. Film animasi Nussa dan Rara merupakan tayangan yang dikemas dalam cerita keseharian anak-anak dengan penggunaan bahasa yang sederhana dan mudah dipahami. Selain memberikan hiburan yang menyenangkan bagi anak-anak, film ini juga menyisipkan nilainilai edukatif yang berlandaskan ajaran agama Islam, serta mengandung pesan moral dan motivasi kehidupan. Serial animasi ini dapat dimanfaatkan sebagai sarana pendidikan yang mendukung pembentukan karakter anak dan pengembangan kecerdasan emosional mereka (Ikhwantoro et al. , 2. Menurut Ikhwantoro Silvia Rahmah, dkk. dari segi penyampaian, gaya bahasa yang digunakan dalam film Nussa dan Rara sangat mudah dipahami dan sesuai dengan tingkat perkembangan intelektual anak-anak. Film animasi ini juga berpotensi menjadi media pembelajaran yang efektif, membantu membentuk karakter, serta membimbing perkembangan kecerdasan emosional anak. Kehadiran film animasi Nussa dan Rara jawaban atas kekhawatiran Tayangan ini dikemas dengan cerita yang sederhana, visual yang menarik, serta pesan-pesan keislaman yang kuat dan mudah dipahami oleh anak-anak. Seperti mengajarkan tentang salat, doa, dan adab sehari-hari. Di Tengah maraknya tayangan anak yang mengedepankan hiburan tanpa muatan nilai, keberadaan film animasi Nussa dan rara menjadi alternatif tontonan edukatif yang mengjarkan nilainilai keislaman. Meskipun demikian, belum banyak penelitian yang secara spesifik mengkaji bagiaman nilai-nilai agama Islam ditanamkan dalam film Nussa dan Rara dan bagaimana tayangan ini dapat berfungsi sebagai media pembelajaran agama bagi anak usia dini. Padahal, di era digital ini, film animasi menjadi salah satu media yang sangat dekat dengan keseharian anak-anak dan berpotensi besar dalam membentuk karakter mereka. Oleh karena itu, penelitian ini penting untuk dilakukan guna menggali dan menganalisis nilai-nilai keagamaan dalam tayangan tersebut, khususnya pada episode AuSholat Itu WajibAy agar dapat diketahui sejauh mana pesan moral dan religius tersampaikan secara efektif melalui media audio visual kepada anak usia dini. METODE Metode penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif yang ditujukan untuk menggambarkan dan menganalisis nilai-nilai agama Islam yang terdapat pada tayangan animasi Nussa dan Rara, khususnya pada episode yang berjudul AuSholat Itu WajibAy. Pendekatan ini dipilih karena peneliti tidak melakukan observasi langsung di lapangan, melainkan fokus pada analisis tayangan animasi Nussa dan Rara untuk menggali nilai-nilai agama Islam yang terkandung di Penelitian ini termasuk dalam jenis studi pustaka . ibrary researc. , di mana data dikumpulkan melalui sumber-sumber dokumenter seperti tayangan video dan literatur yang relevan. Subjek dalam penelitian ini adalah tayangan kartun Silvia Rahmah, dkk. Nussa dan Rara, dengan fokus pada satu episode yang dipilih secara purposif karena relevan dengan tema kewajiban sholat dalam Islam. Episode ini dianalisis secara mendalam untuk melihat bagaimana pesan-pesan religius disampaikan kepada anak-anak melalui cerita, dialog, dan visual. Data primer dikumpulkan dari video tayangan yang diakses melalui channel YouTube resmi, sedangkan data sekunder diperoleh dari berbagai literatur yang relevan, seperti jurnal dan artikel ilmiah yang membahas pendidikan agama Islam pada anak usia dini, dan media pembelajaran berbasis animasi. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi terhadap dokumen visual, yaitu dengan menonton dan mencermati episode tersebut secara berulang untuk mengidentifikasi unsur-unsur yang berkaitan dengan nilai keislaman. Selain itu, digunakan pula sumber-sumber literatur seperti buku, jurnal, dan artikel ilmiah yang mendukung pemahaman tentang pendidikan agama Islam dan media anak. Analisis data dilakukan dengan cara sederhana, yaitu menonton tayangan secara teliti, mencatat bagian-bagian yang mengandung nilai agama Islam, lalu mengelompokkan dan menjelaskan maknanya secara deskriptif. Hasil analisis tersebut kemudian disimpulkan untuk mengetahui bagaimana pesan-pesan keagamaan dalam episode Sholat Itu Wajib disampaikan dengan cara yang sederhana dan mudah dimengerti oleh anak-anak. Dengan metode ini, peneliti berharap dapat memperlihatkan jika animasi Nussa dan Rara tidak hanya bersifat menghibur, tapi juga memiliki fungsi edukatif yang mendukung pembentukan karakter religius anak. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Nilai Agama Islam Nilai sering dipahami sebagai sesuatu yang berkaitan dengan moral. Nilai menunjukkan bagaimana seharusnya orang bersikap dan berperilaku dengan baik, yang sesuai dengan aturan adat dan menjadi pedoman dalam kehidupan sehari-hari. Berdasarkan kajian dari Bermi . , menyatakan bahwa nilai tidak hanya berfungsi sebagai pedoman dalam bersikap dan bertindak di tengah masyarakat, tetapi juga digunakan sebagai ukuran untuk menilai apakah suatu tindakan dianggap benar atau salah. Hal ini sejalan dengan teori perkembangan moral menurut Piaget yang menekankan bahwa anak usia dini mumai memahami aturan Silvia Rahmah, dkk. sosial dan nilai melalui pengalaman konkret dan pengamatan. Dalam kehidupan bermasyarakat, terdapat beragam nilai yang menjadi dasar tatanan sosial, yaitu nilai ketuhanan, nilai kemanusiaan, nilai keadilan, serta nilai moral (Masrur & Amri. Nilai merupakan pedoman sekaligus keyakinan yang digunakan seseorang dalam menentukan pilihan. Selain itu. Koasih . menekankan bahwa nilai tidak hanya menjadi pedoman, tetapi juga merupakan bentuk keyakinan yang membantu seseorang dalam menentukan pilihan hidup. Pedoman tersebut dapat berupa norma, etika, peraturan perundang-undangan, adat istiadat, aturan agama, maupun acuan lainnya yang dianggap bernilai dan penting dalam kehidupan seseorang. Nilai merupakan sesuatu yang bersifat abstrak dan memiliki makna penting, yang dapat melekat pada suatu hal dan terlihat melalui perilaku seseorang. Nilai ini berkaitan erat dengan fakta, tindakan, norma, moral, serta keyakinan yang dianut oleh individu maupun kelompok dalam kehidupan sosial (Imelda, 2. Secara garis besar, nilai dapat dipahami sebagai pedoman hidup yang bersifat abstrak namun memiliki makna mendalam, yang berfungsi mengarahkan sesorang vdalam bersikap dan bertindak sesuai dengan norma, moral, dan keyakinan yang berlaku di Dalam Islam, nilai agama bersumber dan berakar dari ajaran serta landasan agama yaitu AlqurAoan dan Alhadits. Pada dasranya, nilai-nilai dalam ajaran agama Islam merupakan kumpulan prinsip hidup yang mengajarkan bagaimana seharusnya manusia menjalani kehidupan. Dimana setiap prinsip saling berkaitan dan membentuk satu kesatuan utuh yang tidak dapat dipisahkan satu sama Nilai-nilai ajaran Islam perlu diwujudkan melalui proses transformasi dan internalisasi dalam kehidupan Masyarakat secara luas. Hal ini penting, karena nilainilai islam memiliki pengaruh yang besar terhadap kehidupan sosial. Bahkan, tanpa adanya nilai-nilai tersebut, manusia akan hidup dengan derajat tingkat bawah. Oleh sebab itu, agar nilai-nilai tersebut benar-benar memberikan manfaat, maka perlu diterapkan secara nyata dalam kehidupan sehari-hari. Untuk dapat menerapkan dan mengamalkan nilai-nilai Islam, diperlukan upaya melalui pendidikan agama Islam. Karena, pendidikan menjadi srana dan proses penting dalam membnetuk kesadaran kritis, kedewasaan berpikir, serta kemandirian sesoraqng dalam menjalani Silvia Rahmah, dkk. Dalam konteks Islam, istilah pendidikan umumnya merujuk pada tiga kata utama, yaitu at-tarbiyah, at-taAodib, dan at-taAolim. Diantara ketiganya, istilah attarbiyah lebih sering digunakan dalam praktik Pendidikan, karena maknanya paling dekat dengan konsep pendidikan secara menyeluruh (Masrur & Amri, 2. Menurut Ristianah . , nilai-nilai dalam prespektif Islam yang penting untuk ditanamkan pada anak terdapat tiga aspek utama, yaitu nilai akidah, nilai syariat, dan nilai akhlak. Yang pertama, nilai akidah merupakan aspek keyakinan atau ideologi dalam ajaran Islam. Istilah ini merujuk pada tingkat keimanan seorang Muslim terhadap kebenaran ajaran Islam, khususnya yang berkaitan dengan prinsip-prinsip dasar keimanan. Prinsip-prinsip tersebut meliputi kepercayaan kepada Allah SWT, para malaikat-Nya, kitab-kitab suci, nabi dan rasul, hari kiamat, serta ketentuan takdir . adha dan qada. (Damanik, 2. Ulama fikih menjelaskan akidah sebagai keyakinan yang kuat dan dipegang erat, sehingga sangat sulit untuk dijadikan perubahan. Keyakinan ini didasarkan pada dalil-dalil yang sejalan dengan kenyataan, seperti keimanan kepada Allah SWT, para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para rasul-Nya, adanya takdir baik dan buruk, serta kepercayaan akan hari kiamat (Asbar & Setiawan, 2. Yang kedua, nilai syariat. Syariat adalah hukum atau aturan yang ditetapkan oleh Allah. Nilai syariah merujuk pada pelaksanaan ajaran agama, yakni sejauh mana seorang Muslim menaati dan menjalankan berbagai aktivitas ibadah dan ritual keagamaan. Dalam konteks penerapan nilai-nilai religius di lingkungan sekolah, hal ini berkaitan dengan bagaimana seluruh elemen sekolah mengarahkan peserta didik untuk mendapatkan pemahaman tentang ajaran Islam secara menyeluruh . , serta mendorong mereka agar mampu mengamalkannya dengan tepat dan benar dalam kehidupan sehari-hari (Damanik, 2. Yang ketiga, nilai akhlak. Istilah akhlak merupakan bentuk jamak dari kata Arab, yaitu khuluqun, yang memiliki makna sajiyyatun, thabi'atun, atau 'aadatun. Istilah-istilah tersebut berarti karakter, tabiat, atau kebiasaan, dan sering juga diartikan sebagai etika dalam konteks perilaku manusia (Maulidah, 2. Nilai akhlak lebih menekankan pada aspek pengamalan, yaitu sejauh mana perilaku seorang Muslim didorong oleh ajaran agamanya. Hal ini mencakup bagaimana individu menjalin hubungan dengan lingkungan sekitarnya, khususnya dengan sesama manusia. Akhlak mengartikan sekumpulan nilai agama Silvia Rahmah, dkk. yang wajib diterapkan pada perilaku sehari-hari, bersifat praktis, dan berpijak pada wahyu Ilahi. Film Animasi Nussa dan Rara Film adalah sarana audiovisual yang berfungsi menyampaikan cerita atau kisah tertentu kepada penonton. Secara umum, film dapat diartikan sebagai pertunjukan gambar bergerak yang biasanya diputar melalui layar lebar seperti Namun, secara yang lebih luas, film bukan hanya yang ada pada layar bioskop, tetapi juga yang termasuk pada tayangan yang ditampilkan melalui televisi, platform digital, dan berbagai media lainnya. Menurut UU Perfilman 2009, film adalah pranata sosial dan alat komunikasi yang luas. Istilah pranata sendiri berasal dari kata AunataAy yang berasal dari bahasa Jawa yang artinya mengatur atau mengelola, sehingga film dapat memberikan dampak mempengaruhi, baik pengaruh baik maupun pengaruh buruk, tergantung pada pengetahuan serta pengalaman tiap individu (Nisa, 2. Kata animasi bersumber dari bahasa latin yaitu AuAnimeAy yang mengandung arti jiwa, kehidupan, semangat. Animasi merupakan susunan gambar yang dirancang sedemikian rupa sehingga menciptakan ilusi gerak, sehingga objek-objek di dalamnya terlihat seolah-olah hidup. Efek gerakan ini muncul karena gambar-gambar tersebut ditampilkan secara bergantian dan teratur dalam waktu yang cepat (Hafidh, 2. Animasi dimanfaatkan dalam pendidikan untuk meningkatkan semangat dan menarik perhatian anak. Berdasarkan uraian tersebut, film animasi dinilai sebagai salah satu sarana yang cukup efektif untuk digunakan dalam kegiatan pembelajaran. Melalui perpaduan suara dan gerak gambar, film animasi mampu menyampaikan pesan-pesan serta nilai-nilai pendidikan dengan cara yang menarik dan mudah dipahami oleh berbagai kalangan, khususnya anak-anak. Film animasi memiliki keindahan estetika yang tinggi, yang bisa dinikmati melalui beragam brntuk tampilan. Perpaduan antara warna yang menarik, gerakan . , ekspresi karakter, serta bentuk visual yang unik menciptakan daya tarik tersendiri bagi penonton. Keindahan visual ini bukan sekedar menghibur, namun juga mampu menyampaikan pesan atau makna tertentu secara lebih efektif dan emosional, sehingga pengalaman menonton menjadi lebih hidup dan berkesan (Masrur & Amri, 2. Berdasarkan perkembangn teori Silvia Rahmah, dkk. perkembangan moral Piaget, sikap dan perilaku moral anak tidak semata-mata terbentuk dari proses sosialisasi atau pelajaran yang bersumber dari kebiasaan dalam nilai-nilai budaya. Sebaliknya, hal tersebut berkembang melalui aktivitas spontan yang muncul dan berkembang dari interaksi sosial anak dengan lingkungan Dengan demikian, film animasi Nussa dan Rara dapat berperan sebagai figur teladan yang memperkenalkan nilai-nilai moral dan aturan agama, seperti kewajiban melaksanakan salat serta pentingnya bersikap sopan dalam kehidupan sehari-hari. Nussa dan Rara merupakan film animasi yang diluncurkan pada 20 November 2018 melalui channel YouTube, yang bersamaan dengan perayaan Maulid Nabi Muhammad Saw. Film ini diperkenalkan dalam sebuah acara Hijrah Fest tahun 2018. Animasi Nussa dan Rara dibuat oleh studio animasi The Little Giantz, yang merupakan hasil gagasan dari seorang pemuda Indonesia bernama Mario Irwinsyah. Dalam proses produksinya, animasi ini melibatkan kerja sama dengan 4 Stripe Productions yaitu yaitu: Aditya Triantoro sebagai Chief Executive Officer The Little Giantz. Bony Wirasmono sebagai Creative Director. Yuda Wirafianto sebagai Executive Produser, dan Ricky Manoppo sebagai producer Animasi AuNussaAy (Langga et al. , 2. Kehadirannya langsung mendapat tanggapan positif dari warga, yang terlihat dari banyaknya jumlah penonton di setiap episode barunya, yang selalu meraih jutaan views. Popularitas film ini semakin meluas setelah ditayangkan di berbagai stasiun televisi nasional di Indonesia, seperti Net TV. Trans TV. MNC TV, dan Indosiar, dalam berbagai Tidak hanya berhenti di dalam negeri, animasi Nussa juga berhasil menembus pasar internasional, dengan penayangannya melalui saluran televisi berbayar di Malaysia, seperti Malaysia Astro Ceria. Hal ini menjadi bukti bahwa animasi Nussa telah mendapatkan sambutan yang baik dari masyarakat, bukan hanya di negara senditi tetapi juga sampai di negara tetangga (Masrur & Amri. Film animasi ini telah meraih berbagai penghargaan, seperti mendapatkan penghargaan dalam kategori Production House Inspiratif oleh Pemuda Indonesia serta diakui sebagai program anak-anak terfavorit di acara Anugerah Syiar Ramadan 2019. Pengakuan ini menjadi bukti bahwa animasi Nussa dan Rara merupakan tayangan yang memiliki kualitas tinggi, yang tidak hanya menghibur Silvia Rahmah, dkk. tetapi juga menyampaikan nilai-nilai positif bagi penontonnya. Adapun dalam pembahasan kali ini, fokus utama diarahkan pada salah satu episode dengan judul "Sholat Itu Wajib". Serial animasi Nussa dan Rara menggambarkan keseharian satu keluarga yang terdiri dari kakak dan adik yaitu Nussa dan Rara, dan juga ibu mereka yang akrab disapa AuUmmaAy, serta kucing peliharaan mereka bernama Anta. Menariknya, nama-nama karakter utama yaitu Nussa. Rara, dan Anta . ucing peliharaanny. jika digabungkan akan membentuk kata AuNusantaraAy. Pemilihan nama ini bukan tanpa alasan, melainkan merupakan upaya kreatif untuk memperkenalkan karya anak bangsa yang berpotensi mendunia. Penekanan pada huruf AuSAy dalam nama Nussa juga dimaksudkan untuk memperkuat daya ingat masyarakat bahwa Nussa adalah animasi asli Indonesia. (Ikhwantoro et al. , 2. Nussa merupakan anak penyandang disabilitas tunadaksa yang hanya memiliki satu kaki. Yang digambarkan dengan pakaian khas berupa baju gamis dan peci putih yang menjadi ciri utamanya. Ada juga Rara adiknya Nussa, seorang anak perempuan berusia lima tahun yang ceria, lucu, dan penuh rasa ingin tahu. Karakter lain yang tak kalah penting adalah Umma, sosok ibu yang penyayang dan sabar dalam membimbing serta mendidik anak-anaknya sesuai agama islam. Keluarga Nussa dan Rara dalam film animasi ini digambarkan sebagai keluarga yang religius, menjalankan rutinitas harian berdasarkan prinsip-prinsip agama Islam. Cara mereka berpikir, bersikap, dan berperilaku mencerminkan ketaatan terhadapa ajaran agama. Serial ini mengandung banyak pesan edukatif, yang mana sangat penting untuk perkembangan karakter anak sejak dini. Nilai- nilai tersebut meliputi pendidikan agama, sikap saling menyayangi dalam keluarga, tanggung jawab, kejujuran, dan kepedulian terhadap sesame. Setiap episode menyampaikan pesan moral dan agama secara sederhana, ringan, dan mudah dimengerti anak-anak. Tayanagn ini tidak hanya menyenangkan, tetapi juga mendidik. Sinopsis Episode Sholat itu Wajib Di pagi hari. Nussa dengan penuh kelembutan masuk ke kamar Rara dengan maksud untuk membangunkan adiknya yang masih tertidur lelap, supaya tidak melewatkan sholat Subuh. Rara yang menganggap hari masih gelap dan malas Silvia Rahmah, dkk. bangun, malah memeluk bantal dan menolak untuk berubah dari posisi tidurnya. Melihat hal itu. Nussa pun mencari cara lain agar adiknya segera terbangun, salah satunya dengan memercikkan sedikit air ke wajah Rarra. Tindakan tersebut berhasil membuat Rarra terbangun dari tidurnya. Tidak berselang lama. Umma datang dan memberikan pengingat kepada Rara bahwa sholat Subuh merupakan kewajiban yang tidak boleh diabaikan. Dalam momen tersebut. Rara sempat mencoba berdalih dengan mengatakan bahwa usianya belum mencapai tujuh tahun. Namun, baik Nussa maupun Umma dengan bijak menegaskan bahwa membiasakan diri melaksanakan sholat sejak usia dini sangatlah penting, agar ketika dewasa nanti, kewajiban tersebut tidak mudah ditinggalkan. Nilai-Nilai Pendidikan Islam dalam Film Animasi Nussa dan Rara Episode AuSholat itu WajibAy Episode AuSholat Itu WajibAy merupakan salah satu tayangan edukatif yang menyampaikan pesan-pesan agama Islam melalui cerita sederhana dan dialog antar Dalam episode ini, digambarkan bagaimana seorang kakak. Nussa, berusaha membangunkan adiknya. Rarra, untuk melaksanakan sholat subuh. Upaya ini tidak hanya menunjukkan pentingnya menjalankan ibadah sholat sebagai kewajiban umat Islam, tetapi juga memperlihatkan cara penyampaian nilai-nilai keagamaan dalam lingkungan keluarga secara santun dan penuh kasih sayang. Melalui adegan-adegan yang ditampilkan, penonton anak-anak maupun orang tua dapat melihat bagaimana proses pengenalan ajaran Islam dilakukan dengan pendekatan yang lembut dan sesuai dengan keseharian. Nilai-nilai keislaman tidak hanya ditunjukkan dalam bentuk anjuran untuk sholat, tetapi juga melalui ucapan, sikap, serta interaksi antar tokoh dalam cerita. Episode ini menekankan bahwa membiasakan anak untuk taat beribadah dapat dimulai sejak dini, dimulai dari lingkungan rumah, dengan contoh nyata dari orang tua atau saudara. Berdasarkan pengamatan terhadap percakapan dan perilaku para tokoh dalam episode ini, terdapat beberapa nilai penting dalam ajaran Islam yang tergambar, baik secara langsung maupun melalui makna yang Nilai-nilai tersebut secara umum terbagi menjadi tiga jenis, yakni: akidah, yang berkaitan dengan keimanan kepada Allah. Nilai syariat, yang berhubungan dengan pelaksanaan ibadah. Dan nilai akhlak, yang mencerminkan Silvia Rahmah, dkk. perilaku baik dalam aktivitas harian. Berikut merupakan ulasan terhadap ketiga nilai tersebut sebagaimana tercermin dalam film animasi Nussa dan Rarra, khususnya episode AySholat Itu WajibAy. Nilai Akidah Gambar 1. [Nussa mengucapkan salam saat memasuki kamar Rar. Nussa : AuAssalamuAoalaikumAy . asuk kamar Rarr. Nussa : AuAstagfirullahAy Raa. Bangun Rarra : Auhm. Ay . asih melanjutkan tidu. Nilai akidah pada animasi Nussa dan Rara dapat dikenali melalui percakapan dan tindakan para tokohnya, khususnya Nussa. Rara, dan Umma. Seperti ketika Nussa memasuki kamar Rarra, ia mengucapkan salam. AuAssalamuAoalaikumAy. Ucapan salam dalam agama Islam merupakan bentuk sapaan yang dianjurkan unutk diucapkan oleh umat Muslim saat hendak memasuki suatu ruangan atau rumah. Selain itu, salam ini juga umum digunakan ketika bertemu dengan sesame Muslim, sebagai tanda penghormatan, doa keselamatan, serta memperkuat ukhuwah atau tali persaudaraan. Ucapan AuAssalamuAoalaikumAy memiliki arti Ausemoga keselamatan tercurah untukmu. Ay Kalimat ini tidak hanya digunakan sebagai sapaan, tetapi juga mengandung makna doa yang penuh Ucapan ini diajarkan langsung oleh Nabi Muhammad SAW. Karena salam adalah doa, maka kebaikan dari ucapan ini berlaku bagi siapa pun yang mengucapkannya maupun yang mendengarkannya. Selain itu. Nussa juga mengucapkan kalimat AuAstaghfirullahAy saat melihat Rarra masih tidur dan belum bangun untuk shalat. Ucapan tersebut mencerminkan kesadaran spiritual akan pentingnya memohon ampun kepada Allah, sekaligus mengingatkan saudaranya untuk segera melaksanakan kewajiban sebagai seorang muslim. Nussa : AuHuft! Keburu terang tuh Ra. Nussa : AuAsh Shalatu Khairum Minan Naum. Ay Silvia Rahmah, dkk. Nussa : AuSholat lebih baik dari pada tidurAy Dalam potongan dialog tersebut, digambarkan bahwa Rara sulit dibangunkan untuk melaksanakan sholat Subuh. Namun demikian. Nussa tetap berupaya membangunkannya dengan mengucapkan kalimat Ash-Shalatu Khairum Minan Naum, yang berarti "sholat lebih baik daripada tidur. " Kalimat ini termasuk dalam lafadz dari adzan Subuh yang disebut kalimat at-tatswib, yang bertujuan untuk membangunkan orang-orang yang masih tertidur serta mengingatkan bahwa waktu shalat telah tiba. Ucapan ini mengandung ajakan untuk lebih mengutamakan kewajiban ibadah daripada kenyamanan duniawi. Tindakan Nussa mencerminkan adanya kepedulian dalam keluarga untuk saling menasihati dalam kebaikan, khususnya dalam hal ibadah kepada Allah SWT. Berdasarkan adegan dan ucapan tersebut, dapat disimpulkan bahwa keluarga Nussa memiliki tingkat keimanan yang Mereka menjadikan nilai-nilai agama sebagai pedoman hidup, serta menanamkan kebiasaan baik kepada anak sejak dini. Nilai Syariat Gambar 2. [Rara bertanya jika tidak sholat, karena masih umur 7 tahu. Umma : AuRara, cepetan sholat nanti waktu shubuhnya keburu habis Rara : Aukan Rarra belum umur 7 tahun, boleh ngga, kalau ngga sholat? Nussa : Aukata siapa ngga sholat ngga apa-apa Ra? Huft! Ngarang Ay Rara : Auiya-iya. Rara tau kok. kak Nussa yang paling rajin sholat deh. Ay Nussa : AuYeAy Nussa : Ausholat itu bukan masalah rajin Ra, tapi wajib bagi semua orang IslamAy Umma : . Silvia Rahmah, dkk. Umma : Aukalo Rara dari kecil sudah terbiasa sholat. InsyaAllah kalo nanti sudah besar tidak akan meninggalkan sholatAy Kutipan dialog di atas, menampilkan secara jelas nilai syariat melalui dialog antara tokoh Umma. Nussa, dan Rara. Syariat Islam adalah sekumpulan ketentuan yang berasal dari Al-QurAoan dan Hadis, yang mengatur tata cara ibadah dan kehidupan umat Muslim secara menyeluruh. Salah satu kewajiban utama dalam syariat adalah mendirikan sholat lima waktu, termasuk sholat Subuh yang waktunya terbatas dan sering menjadi tantangan bagi banyak orang, terutama anak-anak, karena dilakukan di awal pagi. Dalam cuplikan dialog. Umma berkata. AuRara, cepetan sholat, nanti waktu Subuhnya keburu habis loh. Ay. Kalimat ini menunjukkan pentingnya melaksanakan sholat pada waktunya, bukan hanya sekadar melakukannya, tetapi juga menjaga agar tidak keluar dari waktu yang telah Hal ini juga mengajarkan anak untuk memiliki rasa tanggung jawab dan disiplin dalam manajemen waktu sejak dini. Rara kemudian menjawab. AuKan Rara belum umur 7 tahun, boleh ngga kalau ngga sholat?Ay. Ini menggambarkan pemikiran anak kecil yang masih mencari tahu tentang batas kewajiban dalam Namun Nussa langsung membalas dengan tegas. AuKata siapa ngga sholat ngga apa-apa Ra? Huuft! Ngarang kamu. ngarang! Sholat itu bukan masalah rajin Ra, tapi wajib bagi semua orang Islam. Ay Di sini. Nussa tidak hanya mengoreksi pemahaman adiknya, tetapi juga menekankan bahwa sholat bukan pilihan atau hanya soal kebiasaan, melainkan kewajiban yang harus dijalankan oleh setiap Muslim. Umma pun menambahkan. AuKalau Rara dari kecil sudah terbiasa sholat. InsyaAllah kalau nanti sudah besar tidak akan meninggalkan sholat. Ay Ucapan ini memperkuat pentingnya pembiasaan sejak dini. Anak-anak perlu dikenalkan dengan ibadah sholat secara perlahan namun konsisten agar terbentuk karakter yang taat terhadap ajaran Islam. Dalam konteks sholat Subuh, membiasakan bangun pagi dan tidak menunda-nunda sholat juga akan membentuk kedisiplinan dan rasa tanggung jawab pada anak. Dengan demikian, dialog tersebut menyampaikan pesan bahwa pelaksanaan syariat islam, terutama kewajiban sholat, perlu dikenalkan sejak dini dalam suasana yang positif dan menyenangkan. Penanaman nilai ini diperlihatkan tidak dalam bentuk paksaan, melainkan melalui dialog yang akrab antara anak dan orang tua. Silvia Rahmah, dkk. dan juga melalui keteladanan antar saudara. Cara penyampaian seperti ini cocok untuk anak-anak karena membuat mereka semakin lebih mudah memahami makna dan pentingnya menjalankan ajaran agama. Nilai Akhlak Gambar 3. [Nussa dan Rara berpamitan kepada Umm. Nussa : AuUmma kita berangkat dulu yaa. Ay Umma : Auiyaa sayang. Ay Nussa : AuAssalamuAoalaikumAAy Umma : AuWaalaikumussalam. hati-hati ya. Ay Rara : (Berputar dan berlari menuju kearah Umm. AuUmma, terimakasih yaa udah bangunin Rara untuk sholat. Ay Umma : Auyang bangunin tadi kan kak Nussa, tandanya kak Nussa sayang sama RaraAy Rara : Auoh iya. Ay Nilai Akhlak juga ditampilkan secara jelas dalam dialog dan sikap antar Akhlak mulia yang ditunjukkan seperti berpamitan kepada Umma sebelum berangkat ke sekolah sambil mengucapkan salam dan mencium tangannya. Tindakan ini mencerminkan sikap sopan santun serta bentuk penghormatan kepada orang tua. Dalam satu adegan Nussa berpamitan kepada Umma dengan berkata. AuUmma, kita berangkat yay lalu diikuti ucapan salam. Umma pun menjawab dengan penuh kasih AuWaalaikumsalamA hati-hati ya. Ay Ucapan salam dan pamitan ini menunjukkan contoh akhlak baik anak kepada orang tua. Memberi salam sebelum keluar rumah dan meminta izin adalah kebiasaan yang mencerminkan rasa hormat dan tata krama yang diajarkan dalam Islam. Selanjutkan, akhlak baik juga terlihat dari sikap Rara yang berlari menghampiri Umma dan berkata. AuUmma, terimakasih ya sudah bangunin Rara untuk sholat. Ay Meskipun ternyata yang membangunkan sholat adalah Nussa. Rara tetap menunjukkan rasa terimakasih dan Silvia Rahmah, dkk. perhatian keapada Umma. Ini mencerminkan bahwa anak-anak telah belajar untuk Umma AuYang membangunkan kan Kak Nussa, tandanya Kak Nussa sayang sama RaraAy yang kemudian direspon oleh Rarra. AuOh iya. Ay dengan wajah polos namun penuh Dialog ini memperlihatkan bagaimana rasa cinta dan kepedulian ditanamkan dalam hubungan keluarga. Anak-anak diajarkan untuk saling menyayangi, menghargai bantuan orang lain, serta membalas kebaikan dengan ucapan yang sopan santun, rasa syukur, kasing saying antar saudara, dan menghormati orang tua ditampilkan secara sederhana namun sangat bermakna, sehingga mudah dipahami oleh anak-anak. Melalui interaksi dalam keluarga Nussa dan Rara, episode ini merupakan bukti konkret bahwa nilai-nilai akhlak dapat disampaikan melalui tayagan yang ringan namun mendidik. Sehingga anak-anak yang menonton diajak untuk meneladani sikap positif yang mereka lihat melalui cerita dan diterapkan dalam rutinitas harian mereka. Film Nussa dan Rara sebagai Sarana Menanamkan Nilai Moral dan Agama Anak di Era Digital Terpaparnya anak-anak pada konten yang negative menjadi persoalan serius di era digital saat ini. Kemudahan dalam mengakses internet memungkinkan anak untuk dapat dengan cepat menemukan berbagai konten yang tidak sesuai dengan usia mereka, seperti kekerasan, pornografi, bahasa yang tidak sopan, maupun ideologi ekstrem. Banyak anak yang menggunakan perangkat digital secara bebas tanpa pengawasan yang cukup dari orang dewasa, akibatnya anak-anak dapat bebas menjelajahi internet dan mengakses konten yang tidak layak tanpa adanya batasan yang jelas (Nur Rahmi et al. , 2. Dengan semakin meluasnya penggunaan teknologi dalam kehidupan sehari-hari, anak-anak kini lebih mudah terpapar berbagai informasi dan pengaruh dari internet, media sosial, serta perangkat digital Kondisi ini kerap menyebabkan hilangnya batas antara nilai yang benar dan salah, sehingga menghambat pembentukan nilai-nilai moral dan keagamaan yang kokoh. Selain itu hal ini turut menimbulkan keresahan tersendiri dari kalangan Silvia Rahmah, dkk. orang tua, karena tidak semua konten digital yang tersedia sesuai dengan ajaran moral dan agama yang ingin dibentuk sejak awal usia anak-anak. Dalam konteks ini, dibutuhkan media alternatif yang tidak semata-mata menghibur, tetapi juga mengandung nilai edukatif yang kuat. Film animasi AuNussa dan RaraAy hadir sebagai salah satu solusi di tengah kegelisahan tersebut. Dengan pendekatan visual yang menarik dan cerita yang sederhana namun sarat makna, film ini menyajikan pesan-pesan moral dan nilai-nilai agama Islam yang dapat dipahami anak-anak dengan mudah. Episode AuSalat Itu WajibAy, misalnya, tidak hanya mengajarkan kewajiban salat lima waktu, tetapi juga menanamkan nilai kedisiplinan, tanggung jawab, dan cinta kepada Allah sejak usia dini. Karakter Nussa dan Rara menggambarkan anak-anak yang menjalankan ajaran agama dalam aktivitas sehari-hari, sehingga dapat menjadi teladan yang baik bagi para Selain itu, film ini juga mendorong keterlibatan orang tua, karena bisa ditonton bersama dan menjadi bahan obrolan ringan yang mempererat hubungan antara orang tua dan anak. Dengan cara penyampaian yang santai dan menyenangkan, film ini juga berperan sebagai media pembelajaran. Oleh karena itu. AuNussa dan RaraAy tidak sekedar hiburan, melainkan juga media untuk menyampaikan nilai moral dan agama yang sesuai dengan kehidupan anak-anak di era digital yang serba cepat dan terbuka. Dengan hadirnya film Nussa dan Rara, orang tua kini memiliki pilihan tontonan yang lebih aman dan mendidik untuk anak-anak di tengah banyaknya tayangan digital yang kurang sesuai. Film ini selain menghibur, tayangan ini turut menyampaikan nilai-nilai penting dalam agama Islam, seperti kejujuran, sholat, tanggung jawab, dan kasih sayang, dengan cara yang mudah dipahami anak-anak. Karakter dan cerita yang ditampilkan dekat dengan kehidupan sehari-hari anak, sehingga membuat pesan moral dan agama yang disampaikan terasa lebih nyata dan mudah ditiru. Melalui media seperti ini, pembelajran agama jadi terasa menyenangkan bagi anak-anak. Maka dari itu, film Nussa dan Rara bisa menjadi salah satu contoh bahwa media digital juga bisa menjadi sarana pendidikan moral dan agama yang efektif, asalkan dipilih dengan bijak dan diarahkan dengan baik oleh orang tua. Silvia Rahmah, dkk. KESIMPULAN Berdasarkan hasil analisis terhadap episode AuSholat itu WajibAy dalam film animasi Nussa dan Rara, dapat disimpulkan bahwa tayangan inu megandung nilainilai agama Islam yang kuat dan relevan untuk ditanamkan kepada anak usia dini. Tiga nilai utama yang ditemukan meliputi nilai akidah . eperti kesadaran terhadap Allah dan pentingnya berdoAo. , nilai syariat . ewajiban menjalankan shola. , dan nilai akhlak . opan santun, hormat kepada orang tua, dan kasih saying antar Nilai-nilai ini disampaikan melalui cerita yang sederhana, karakter yang menarik, dan pendekatan yang mudah dipahami oleh anak-anak. Film ininjuga mendorong keterlibatan orang tua dalam mendampingi anak menonton dan mendiskusikan isi tayangan. Dengan demikian. Nussa dan Rara bukan hanya berperan sebagai sumber hiburan, tetapi juga sebagai alat yang bermanfaat untuk mendidik dalam mengajarkan nilai-nilai moral dan agama dengan tepat di tengah derasnya arus informasi digital. DAFTAR PUSTAKA