83 Sastra Pesisir Kajian Struktur Bahasa dan Nilai Budaya dalam Pantun Pernikahan Masyarakat Melayu Sambas Sultan IAIN Pontianak Di Indonesia, tradisi berpantun terdapat di beberapa daerah, satu di antara daerah yang konsisten melestarikan budaya berpantun adalah daerah Sambas. Sambas merupakan salah satu Kabupaten yang berada di bawah naungan administrasi wilayah Provinsi Kalimantan Barat. Seacara geografis. Sambas berada di deretan pesisir pantura, dan dari sudut historis kabupaten Sambas menjadi sentral penyebaran dan perluasan agama Islam di Kalimantan Barat. Pantun berfungsi sebagai alat pemelihara bahasa dan sebagai media mengasah pikiran menjadi lebih kreatif, karena untuk berpantun dibutuhkan kemampuan berpikir asosiatif secara spontanitas melalui permainan kata-kata sebagai media penyampai pesan. Budaya berpantun bagi masyarakat Melayu Sambas masih dilestarikan dengan baik, pelestarian berpantun dilaksankan salah satunya dalam acara pernikahan. Setiap acara pernikahan menjadi keharusan dihadirkan acara berbalas pantun antara kedua belah pihak, yakni dari pihak mempelai perempuan dan pihak mempelai laki-laki. Dikarenakan pernikahan merupakan unsur sakral dalam kehidupan manusia yang bernilai budaya, maka nilai-nilai yang terkandug dalam ungkapan pantun tersebut menggambarkan nilai budaya sosial dalam kehidupan. Adapun masalah yang dibahas dalam artikel ini adalah Bagaimanakah struktur bahasa pantun pernikahan masyarakat Melayu Sambas sebagai sastra Pesisir? Apakah nilai budaya yang terdapat dalam pantun pernikahan masyarakat Melayu Sambas? Bagaimana persepsi masyarakat Melayu Sambas tentang panggunaan pantun dalam upacara budaya pernikahan? Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif dengan pendekatan satra. Dari pembahasan pada artikel ini dapat disimpulkan bahwa Pantun yang dibaca saat prosesi cara pernikahan itu terbagi menjadi 8 jenis, pertama, pantun pem buka, kedua pantun untuk melamar, ketiga, pantun serah terima pengantin, keempat pantun untuk mempelai laki-laki, kelima, pantun untuk mempelai perempuan, keenam, pantun untuk orangtua pengantin laki-laki, ketujuh pantun untuk orangtua pengantin perempuan, dan yang kedelapan adalah pantun untuk para tamu undangan. Adapun struktur pantun dalam pernikahan ini terdiri dari dua struktur, yaitu struktur fisik dan struktur batin. Struktur fisiknya terdiri dari, diksi, imaji, kata konkret, bahasa figuratif, rima dan ritme. Sedangkan struktur batin terdiri dari, tema, nada dan suasana, perasaan dan amanat. Nilai-nilai yang terkandung dalam pantun pernikahan di kalangan masyarakat Melayu Sambas adalah, pertama nilai persatuan dan saling menghormati, kedua, nilai budaya optimis dan disiplin, ketiga nilai sopan santun dan ketundukan, keempat nilai menjaga tutur kata. Ada beberapa perspsi masyarakat Melayu Sambas tentang penggunaan pantun dalam acara pernikahan, pertama menurunnya minat dan antusias generasi muda untuk berpantun, kedua pantun mejnadi media penghibur, tidak lagi sebagai medium untuk penyampaian pesan-pesan moral seperti zaman-zaman terdahulu. Ketiga, pantun juga berperan sebagai pelestari budaya. Kata Kunci: Sastra, struktur, nilai budaya, dan pantun PENDAHULUAN astra merupakan khasanah suatu bangsa yang tidak ternilai harganya. Ini telah dibuktikan oleh sejarah Yunani Furba, yang kini telah diketahui kembali oleh generasi penerusnya lewat karangan Seperti diketahui bahwa. Indonesia memiliki khasanah sastra yang kaya dan luas dan menjadi sumber pengetahuan tentang kebudayaan Indonesia pada masa Penggalian sastra akan memaparkan peradaban tinggi yang pernah dimiliki, dan dalam konteks kekinian perlu dikaji sebagai bagian dalam national bulding atau pengkajian dan pembangunan karakter bangsa. Salah satu jenis sastra yang banyak terdapat dalam budaya masyarakat Melayu adalah pantun. Pantun merupakan puisi klasik yang sangat digemari oleh masyarakat bangsa Indonesia. Di berbagai daerah di Indonesia terbukti ada bentuk-bentuk pantun. Misalnya, sesindiran dan sesuwalan dalam bahasa Sunda, parikan dan wangsalan dalam bahasa Jawa, ende-ende dalam bahasa Batak, panton dalam bahasa Ambon, dan lelakaq dalam bahasa Sasaq. Pantun pertama kali diperkenalkan secara ilmiah oleh. Klinkert pada tahun, 1868 lewat tulisan Aude Pantuns of Minezzangen der MaleiersAy yang dimuat dalam surat cerita AuBijdragen tot de Tall-Landen Volken-kunde Van Ned-Indie. Ay Ch. Van Ophu -ysen, guru besar bahasa Melayu di Leiden, pada tahun 1904 juga pernah menyampaikan beberapa pemikirannya tentang pantun dalam AuBuah Pikiran Tuan Ch. Van Ophuysen dari Hal Pantun Melayu. Ay Sejak saat itu muncul berbagai pandangan mengenai sampiran dan isi dalam sebuah pantun. Liaw Yock Fang . 2mencatat asal mula istilah pantun pernah menjadi perdebatan para pengamat sastra. Pantun merupakan senandung rakyat yang hingga kini dinyanyikan dan dilestarikan sebagai tradisi lisan masyarakat melayu, khususnya masyarakat Melayu Sambas di Kalimantan Barat. Pantun dianggap berasal dari bahasa jawa halus yakni pari atau paribahasa yaitu pribahasa dalam bahasa melayu. Dalam sastra lisan jawa dikenal parikan yaitu berpantun namun bentuknya lebih Brandstetter seorang ahli perbandingan bahasa dari Swiss, menyatakan bahwa pantun berasal dari kata tun yang terdapat dalam banyak bahasa Nusantara yang berarti AotuntunAo AuteraturAy. dalam bahasa jawa kuno tuntun berarti benang dan atuntun berarti teratur serta matuntun berarti memimpin. Ternyata, pantun tidak hanya terdapat di Nusantara (Indonesi. , dengan mengutip Giacomo Prampolini. Liaw Yock Fang 3 mencatat bahwa puisi rakyat yang menyerupai pantun juga terdapat di Cina. Jepang. Iran. Arab. Spanyol. Jerman, dan negara-negara lain. Di Indonesia, tradisi berpantun terdapat di beberapa daerah, satu di antara daerah yang konsisten melestarikan budaya berpantun adalah daerah Sambas. Sambas merupakan salah satu Kabupaten yang berada di bawah naungan administrasi wilayah Provinsi Kalimantan Barat. Seacara geografis. Sambas berada di deretan pesisir pantura, dan dari sudut historis Kabupaten Sambas menjadi sentral penyebaran dan perluasan agama Islam di Kalimantan Barat. Pantun berfungsi sebagai alat pemelihara bahasa dan sebagai media mengasah pikiran menjadi lebih kreatif, karena untuk berpantun dibutuhkan kemampuan berpikir asosiatif secara spontanitas melalui permainan kata-kata sebagai media penyampai pesan. Budaya berpantun bagi masyarakat Melayu Sambas masih dilestarikan dengan baik, pelestarian ber- pantun dilaksankan salah satunya dalam acara pernikahan. Setiap acara pernikahan menjadi keharusan dihadirkan acara berbalas pantun antara kedua belah pihak, yakni dari pihak mempelai perempuan dan pihak mempelai laki-laki. Dikarenakan pernikahan merupakan unsur sakral dalam kehidupan manusia yang bernilai budaya, maka nilai-nilai yang terkandug dalam ungkapan pantun tersebut menggambarkan nilai budaya sosial dalam kehidupan. Hal itu terwujud seperti pada pantun penyerahan baran . ntar pinan. berikut ini. dan unsur sosial budaya dan agama yang terkandung di dalamnya. Dengan penelitian ini, hasilnya diharapkan dapat dijadikan sebagai informasi bagi masyarakat, khususnya masyarakat Melayu Sambas, bahwa pantun tersebut mengandung nilai sastra yang tinggi dan aspek sosial budaya masyarakat yang dapat dijadikan sebagai pedoman dalam bermasyarakat dan bernegara. Penelitian ini juga memberikan sumbangan terhadap studi tentang suatu bangsa yang melahirkan budaya sastra lisan, sebab sastra lisan berupa pantun merupakan budaya yang mengandung pikiran, perasaan, dan pengetahuan dari bangsa atau kelompok sosial budaya pendukungnya. Bukan batang sembarang batang Batang tengkawang tumbuh di bukit Bukan datang sembarang datang RUMUSAN MASALAH Datang membawa barang serba sedikit Berdasarkan uraian pada bagian latar belakang, rumusan masalah yang akan dibaDaun pandan satu ikat has dalam penelitian ini adalah: Daun selasih dalam gelas Bagaimanakah struktur bahasa pantun pernikahan masyarakat Melayu SamTiada berlian tiada intan Hanya tanda kasih yang ikhlas bas sebagai sastra Pesisir? . Apakah nilai budaya yang terdapat dalam pantun pernikahan masyarakat Dari pantun di atas, beberapa istilah Melayu Sambas? penyimbolan yang digunakan menggambar- 3. Bagaimana persepsi masyarakat Melakan unsur lokalitas, seperti batang tengkayu Sambas tentang panggunaan panwang, daun selasih. Penyimbolan ini menuntun dalam upacara budaya pernijukkan korelasi simbol lokalitas. Adapun secara pesan moral menggambarkan pesan kesederhanaan dengan ungkapan datang LANDASAN TEORI membawa barang serba sedikit. Kemudian Sastra lisan mempunyai posisi penting di pada sampiran berikutnya diakhiri dengan berbagai suku dan daerah di Indonesia. hanya tanda kasih sayang, artinya berang Posisi penting tersebut selaras dengan pernhantaran tidak hanya dilihat dari jumlah dan yataan Horace bahwa sastra itu menyenangkualitas barang hantaranya tetapi semua kan dan berguna bagi penyadaran dalam barang hanya sebagai simbol kasih sayang kehidupan. antara kedua belah pihak. Penelitian pantun dalam acara pernikaPengertian Pantun han masyarakat Melayu Sambas berorienPantun merupakan bentuk puisi Indotasi untuk mengungkap struktur bahasa nesia (Melya. , yang tiap-tiap . bi- asanya terdiri atas empat baris yang bersajak . -b-a-. , tiap-tiap lariknya terdiri atas empat kata, baris pertama dan keduanya untuk tumpuan . dan baris ketiga dan keempat merupakan isi. 6 Menurut Simanjuntak 7 bahwa pantun merupakan kepandaian bersama yang tidak dapat diketahui pengarangnya. Pantun dapat perasaan senang dan duka, memberi nasihat, pelajaran agama, dan berbagai tekateki. Adapun Sudjiman memaparkan bahwa, pantun merupakan jenis puisi lamayang terdiri dari 4 baris bersajak abab. Tiap-tiap baris terdiri atas empat kata. Dua baris pertama disebut sampiran dan dua baris kedua disebut isi. Kadang-kadang pantun juga terdiri atas enam atau delapam baris. berapa pengertian yang dikemukakan Cuddon 9 bahwa struktur merupakan hubungan antara bagian . yang satu dengan bagian yang lain yang membentuk satu-kesatuan. Tentu saja hubungan beberapa bagian tersebut dipahami dalam kaitannya dengan fungsi estetis. Selanjut10 nya Teeuw mengemukakan bahwa struktural adalah teori yang meneliti karya sastra dalam otonominya, terlepas dari latar belakang sosial, sejarah, biografi, dan sebagainnya. Unsur-unsur yang akan diteliti dalam struktural pantun pernikaha masyarakat Melayu Sambas, adalah tipologi, pilihan kata, makna, dan gaya bahasa. Tipologi. Tipologi adalah cara untuk meneliti karya sastra . secara visual yang menyangkut jumlah kata dalam satu baris, berupa frasa atau kalimat. Pilihan Kata. Pilihan kata merupakan penempatan kata yang cocok dalam satu karya sastra. Misalnya nama satu benda mempunyai banyak sebutan . , maka hanya dengan kemampuan memilih katalah suatu karya sastra akan lebih Makna Kata. Makna kata adalah arti yang terkandung dalam pantun secara totalitas yang menyangkut makna konotatif dan denotatif. Gaya Bahasa. Gaya bahasa merupakan pemanfaatan atas kekayaan bahasa oleh seseorang dalam bertutur atau menulis. Ragam Pantun Dalam kenyataannya pantun sangat beragam. Pantun dapat digolongkan berdasarkan bentuk dan isinya. Menurut JS. Badudu8 berdasarkan bentuknya, pantun dapat digolongkan menjadi pantun biasa, pantun karmina, pantun talibun, dan Untuk lebih terperinci berikut pemaparannya. Pantun biasa terdiri dari 4 baris, tiaptiap baris terdiri atas delapan sampai sepuluh suku kata. Baris pertama dan kedua pada pantun biasa disebut sampiran, sedangkan baris ketiga dan keempat merupakan isi atau makna pantun. Pada umumnya sampiran beiri tentang sesuatu Hubungan Timbal Balik Bahasa. Pola . iasanya gambaran ala. yang menjadi Pikir, dan Budaya Sampiran memiliki hubungan saran Lahirnya poststrukturalisme dan postbunyi persajakan pada makna pantun. moderenisme dalam efistimologi filsafat telah membawa pengaruh terhadap para Konsepsi Struktural pemikir dari beberapa latar belakang Dalam karya sastra, terdapat bermacam disiplin keilmuan untuk mengkaji hubun-macam pengertian istilah struktural. Be- gan antara bahasa, budaya, dan pola pikir. Ini menunjukkan bahwa ada hubungan antara suara, kata, dan kalimat suatu bahasa dengan bagaimana orang memahami dunia sekitarnya serta bertindak. Melalui bahasa, manusia tidak hanya mengekspresikan pikirannya, namun juga mengonseptualisasikan dan menginterpretasikan dunia yang mengikutinya. Bahkan, bahasa sebagai sistem tanda mengungkapkan, membentuk dan menyimbolkan realitas Menurut Nababan bahasa merupakan bagian inti dari suatu kebudayaan, karena tanpa bahasa kebudayaan masyarakat tidak akan terwujud apalagi berkembanag. Ketika berbahasa, penutur bahasa tidak mungkin melepaskan unsur-unsur kebudayaan masyarakat pemilik bahasa tersebut. Alasannya, peristiwa berbahasa sebenarnya sekaligus juga merupakan peristiwa budaya. Dari paparan tersebut disimpulkan bahwa, ada hubungan positif yang saling mempengaruhi dan saling membentuk antara bahasa dan budaya. Hubungan bahasa dan budaya semakin terlihat jelas pada perbedaan pola tutur dalam setiap budaya yang berbeda. Jika Ferdinan De Saussure memandang bahasa sebagai sistem, ada pemikiranpemikiran lain yang lebih memperhatikan perbedaan bahasa dan filsafat antara budaya yang satu dengan yang lain, serta memperhatikan dampak bahasa terhadap persepsi yang menyangkut realita. Edwar Sapir . dan Benjamin Lee Whorf . para antropolog ini mengemukakan teorinya yang kemudian jamak disebut teori Sapir-Whorf tentang hubungan bahasa dan pikiran. Hipotesis ini dibedakan menjadi dua bagian: pertama teori relativitas linguistik, kedua teori determinisme linguistik. Teori Relativitas Linguistik Thomas dan Waereing menyatakan bahwa tiap-tiap budaya akan menafsirkan dunia dengan cara yang berbeda-beda, dan perbedaan-perbedaan itu akan terkodekan dalam bahasa. Perbedaan persepsi akan tampak dalam bahasa karena para penutur bahasa harus menjelaskan cara mereka memandang dunia sehingga perbedaan pandangan itu akan tercermin dalam bahasanya. Istilah relativitas menunjuk pada ide bahwa tidak ada cara yang mutlak untuk memberikan label pada isi dari dunia ini sesuai dengan persepsi masyarakat masing -masing dan persepsi bersifat relatif, dalam artian yang lebih luas terdapat perbedaan antara budaya satu dengan budaya yang Teori Determinisme Linguistik Teori ini menjelaskan bahwa bukan hanya persepsi terhadap dunia yang mempengaruhi bahasa, tetapi bahasa yang digunakan juga dapat memengaruhi cara berpikir secara mendalam. Bahasa bisa dikatakan sebagai kerangka . dari Dan menurut teori determinisme linguistik, orang akan sulit berpikir di luar kerangka itu. Edward Sapir, setelah sistem bahasa terbentuk maka bahasa akan memengaruhi cara dari anggota masyarakat bahasa itu untuk membicarakan dan menafsirkan dunia mereka. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa bahasa, budaya dan perilaku semuanya berkembang secara bersama dan dalam perjalananya saling memengaruhi satu sama lain secara terus menerus. Seperti ungkapan Sapir menyatakan bahwa setelah kebiasaan-kebiasaan berbahasa dari kelompok terbentuk secara pasti, maka para penutur bahasa itu akan tunduk pada pengaruh bahasa itu. Dengan memper- hatikan hipotesis Sapir-Worf tersebut, maka Yang memberikan kesempatan kepada tampak ada dua versi dari hipotesis tersesaye , yakni versi radikal dan versi moderat. Orang sekuduk kematang suri Versi radikal menegaskan bahawa bahasa Bapak semuenye duduk saye sorang bediri secara mutlak membentuk pola pikir penu. turnya dan pandangan budaya masyarakat penutur bahasa tersebut. Adapun versi moderat menyatakan bahwa bahasa me- 2. Pantun untuk melamar Dalam budaya pernikahan, melamar memengaruhi pola pikir penuturnya dan juga langkah pertama yang dilakukan pandangan budaya mereka. oleh kedua belah pihak bertujuan untuk memohon persetujuan dari calon mempelai HASIL DAN PEMBAHASAN Berdasarkan data yang telah dukumpul- laki-laki kepada calon mempelai perempuan kan oleh peneliti, berikut peneliti menganal- untuk mempersunting anak atau anggota isis dan menguraikan sesuai dengan fokus keluarga menjadi bagian keluarga mempelai laki-laki yang akan terikat dalam sebuah masalah penelitian. Proses melamar ini dilakukan Struktur bahasa dan gambaran pengdengan berbagai rangkain budaya. salah satu gunaan pantun dalam pernikahan mabudayany adala berpantun. Pantun digusyarakat sambas. nakan sebagai medium untuk melamar. Pantun merupakan salah satu karya saskarena bahasa pantun adalah bahasa intra yang sudah lestari dari sejak zaman Indirektif . ahasa tidak langsun. hal ini donesia belum merdeka atau Indonesia mabertujuan untuk menjaga perasaan dari sih bernama nusantara, terutama di kalanmasing-masing pihak. Berikut pantun yang gan masyarakat Melayu. Masyarakat Melayu digunakan saat melamar. dalam budayanya selalu diidentikkan dengan masyarakat yang suka berpantun. Salah Buah Saoh di atas batang Batang patah ditimpa damar satu budaya yang tidak luput dari pantun adalah berpantun saat acara pernikahan. Dari Jaoh kamek datang Sudah mejadi tradisi yang terus dilestarikan. Kamek datang untuk melamar (P. 17 bahwa jika ada acara pernikahan, penggunaan pantun seolah-olah harus diselengDari paoh paggi ke matang Adapaun jenis-jenis pantun yang Dari selumar pgagi kekampong gelamak sering digunakan adalah sebagai berikut. Dari jaoh bapak datang Pantun yang dikhusukan buat pembawa Lamaran bapak kamek terimak (P. 18 Pantun ini dioeruntukkan kepada pemBerlabuh saoh di waktu petang bawa acara bahwa ia telah memberikan Berenang laju kekote pemangkat waktu kepada penyair atau pembaca pantun Dari jaoh kamek datang untuk mengungkapkan pantunya saat acara Karene setuju dah mupakat pernikaahn berlangsung. Pantunnya sebagai (P. Buah semangke diikat-ikat Batang selasih batang pedare Buahlah pinang dari kote lamak Beraran rotan beraran prie Rase suke mun dapat orng putat . isa di Terima kasih kepada pembawa acare Sape yang nak minang tatap diterimak (P. pelai laki-laki Pantun saat serah terima pengantin Selesainya prosesi lamaran, dilanjutkan dengan acara serah terima pengantin dari kedua belah pihak. Hal ini juga tidak luput dari penyampaian pantun dari kedua belah pihak mempelai. Adapun pantunnya sebagai Bukanlah bakol sembarang bakol Bakol berisek asam jawe sijambu merah Kite gumpol bukan sembarang ngumpol Kite ngumpol untuk acara besarah (P. Bunga selasih di dalam baki Batang keladi tersusun diatas jerami Terima kasih kepada pihak laki-laki Yang sudi datang ke dusun kami (P. Bunga selasih di atas papan Batang keladi tersusun di atas jerami Terima kasih kepada pihak perempuan Yang sudi datang ke dusun kami (P. Bunga selasih di atas batang Buah keladi di atas jerami Terima kasih kepada tamu yang sudah Yang sudi menghadiri undangan kami (P. Cak uncang burung cak uncang Ape diguncang dirumah nek uan Izinkanlah saya bincang berbincang Saya bincang berbincang mewakili pihak (P. Cak Uncang burong cak uncang Ape diguncang di dakat baki Izinkanlah saye bincang bebincang Saye bebincang-bincang mewakilek mem- (P. Cak uncang burung cak uncang Ape diguncang tapi telage Izinkanlah saya bincang berbincang Saya bincang berbincang mewakili pihak (P. Buah semangke di atas biduk Di kelakak urang di tanamek abek Rase suke mendapat urang sekuduk Lakak sorang rase nak sorang agek (P. Pantun untuk pengantin laki-laki Setalah acara serah terima dilakukan, dilanjutkan dengan penyapaan kepada ke- dua mempelai, penyapaan itu dimulai kepa- da pengantin laki-laki. Penyair atau pem- bawa pantun menyampaikan pesan kasih sayang yang harus dilakukan oleh pe- nganten lekailaki kepada istrinya. Adapun pantunya sebagai Main layang-layang sambel belari Bannangnye kandor karena kusut Sayang-sayang dangan istri Dari yang melador sampai ke ngerisut . Pantun untuk pengantin perempuan Setalah acara serah terima dilakukan, dianjutkan dengan penyapaan kepada kedua mempelai, penyapaan itu dimulai juga ke- pada pengantin perempuan. Penyair atau pembawa pantun menyampaikan pesan ka- sih sayang yang harus dilakukan oleh peng- anten perempuan kepada suaminya. Adapun pantunya sebagai berikut. Kerumah pak Agus membeli bensen Kerumah tamtimah membeli gattah Bagus-bagus kitak bemesen Supaye laki battah tinggal dirumah . Pantun untuk orangtua mempelai laki- Penyair atau pembawa pantun juga mem -berikan sapaan kepada kedua orang tua Pantun pertama diperuntukkan kepada orangtua mempelai pengantin lakilaki. Adapun pantunnya adalah sebagai berikut. Naik-naik ke atas batu Meliat ular dua tige ekok Baik-baik dangan anak menantu Supaye malar dibalikannye rokok . Pantun untuk orangtua mempelai Penyair atau pembawa pantun juga memberikan sapaan kepada kedua orang tua pengantin. Pantun kedua diperuntukkan kepada orangtua mempelai pengantin perempuan. Adapun pantunnya adalah sebagai Orang semayang ketanjung batu Nanamlah bayam di pagi hari Sayang sayang dangan anak menantu Supaye dibalikannye ayam tiap ari . Ikan sapat si ikan gabus Biar capat lebih bagus Dari sebedang ke parit setie Membawa atap ke sungai pinang Hidangan yang sudah ade tersedie Minta di santap sampai kanyang Urang sepauk pagi kepasar membeli colak Pergi ke bukit mencari jimat Kalau lauknye rase besar di pulak-pulak Kalau rase kaccik di cimat-cimat Urang persi berpindah-pindahan Urang menangguk disungai riam Mun kurang nasi padah-padahkan Mun kurang lauk diam-diam. Burung gagak burung keluang Dia terbang di pohon jati Mun belom ragak belom juak kanyang Usah lah dolok nak beranti . Struktur Pantun Pantun adalah karya sastra yang dibangun oleh dua struktur, struktur pertama adalah struktur fisik, dan struktur batin. Struktur fisik pantun merupakan alat untuk Pantun untuk tamu undangan Setiap acara pernikahan tidak luput dari mengungkapkan makna yang ingin disamhadirnya kerabat untuk menyaksikan se- paikan penyair. Mediuam pengucapan yang kaligus memberikan ucapan selamat atas hendak disampaikan oleh penyair adalah kebahagiaan yang dirasakan oleh kedua bahasa. Struktur fisik pantun terdiri dari. Sebagai rasa hormat kepada diksi, imaji, kata konkret, bahasa figuratif, tamu undangan, maka penyair tidak luput dan rima ritma. Struktur batin marupakan ungkapan untuk menyampaikan pesan komunikasi melalui pantun. Adapun pantun untuk tamu perasaan dan suasana hati seorang pembawa pantun yang disampaikan melalui adalah sebagai berikut. pantun-pantunya. Adapun struktur batin Dari lubuk rawe ke rantau panjang dari sebuah pantun yaitu, tema, perasaan. Dari semparong pagi ke sekilah nada dan suasana, dan amanat. Adapun Saye bicare daan panjang struktur fisik pantun dalam acara pernikaMun pelayan nak besurong-besuronglah han masyarakat Melayau Sambas adalah sebagai berikut. Dari sekuduk ke kote lamak . Diksi Oranglah garut membawa apar Diksi merupakan aspek bahasa yang Kamek dudok rase dah lamak ketapatan dan kesesuaian pengParut pun udah terase lapar gunaan kata. Pantun-pantun yang disam- paikan saat acara pernikahan di kalangan masyarakat Melayu Sambas disampaikan menggunakan dua aspek kata, yaitu aspek kepuitisan dan aspek makna. Aspek kepuitisan artinya pantun-pantun yang digunakan terdiri dari dua bagian, yaitu sampiran dan isi pantun. Hal ini seperti yang terdapat pada pantun berikut ini. Bukanlah bakol sembarang bakol Bakol berisek asam jawe sijambu merah Kite gumpol bukan sembarang ngumpol Kite ngumpol untuk acara besarah (P. Bunga selasih di dalam baki Batang keladi tersusun diatas jerami Terima kasih kepada pihak laki-laki Yang sudi datang ke dusun kami (P. Bunga selasih di atas papan Batang keladi tersusun di atas jerami Terima kasih kepada pihak perempuan Yang sudi datang ke dusun kami (P. Bunga selasih di atas batang Buah keladi di atas jerami Terima kasih kepada tamu yang sudah Yang sudi menghadiri undangan kami (P. Cak uncang burung cak uncang Ape diguncang dirumah nek uan Izinkanlah saya bincang berbincang Saya bincang berbincang mewakili pihak (P. Cak Uncang burong cak uncang Ape diguncang di dakat baki Izinkanlah saye bincang bebincang Saye bebincang-bincang mempelai laki-laki (P. Cak uncang burung cak uncang Ape diguncang tapi telage Izinkanlah saya bincang berbincang Saya bincang berbincang mewakili pihak (P. Buah semangke di atas biduk Di kelakak urang di tanamek abek Rase suke mendapat urang sekuduk Lakak sorang rase nak sorang agek (P. antun serah terima penganti. Rangkaian pantun di atas menunjukkan kemahiran yang dimiliki oleh pendendang dalam pemilihan kata-kata yang digunakan dalam pentun. Pemilihat dan susunan kata ditempatkan sedemikian rupa, sehingga kata-kata dalam pantun di atas tidak dapat dipertukarkan tempatnya atau kata-kata tersebut diganti dengan kata-kata yang memiliki makna yang sama. Jika kata-kata itu diganri susunannya, maka ia akan menimbulkan kerancuan bunyi. Imaji Imaji merupakan bagian dari diksi, tetapi imaji bersifat khusus, karena ada segi-segi yang perlu disentuh, khususnya mengenai imajinasi seorang penyair terhadap objek maupun abstraksi. Penyair dalam melantunkan pantun-pantunnya membuat pendengar seolah-olah ikut merasakan . maji takti. , melihat dan mendengarkan kejadiankejadia yang dilukiskan. Hal ini dapat dilihat pada pantun berikut ini. Dari lubuk rawe ke rantau panjang Dari semparong pagi ke sekilah Saye bicare daan panjang Mun pelayan nak besurong-besuronglah Dari sekuduk ke kote lamak Oranglah garut membawa apar Kamek dudok rase dah lamak Parut pun udah terase lapar Ikan sapat si ikan gabus Biar capat lebih bagus Dari sebedang ke parit setie Membawa atap ke sungai pinang Hidangan yang sudah ade tersedie Minta di santap sampai kanyang . antun untuk tamu undanga. kata konkret adalah kata abstrak. Imaji yang dilukiskan pada pantun di atas adalah imaji visual dan imaji rasa. Imaji visual dapat dilihat pada redaksi pantun Dari lubuk rawe ke rantau panjang Dari semparong pagi ke sekilah penggalan sampiran pantun ini seolah-olah membawa pendengar atau lawan bicara untuk dapat mengimajinasikan nama tempat (Lubuk Rawa menuju ke Rantau Panjan. ini adalah nama daerah. Adapun imaji rasa tergambar pada sampiran pantun Dari sebedang ke parit setie/Membawa atap ke sungai pinang/ Hidangan yang sudah ade tersedie/Minta di santap sampai kanyang. ari sebedang ke parit Setie membawa atap ke sungai Pinang, hidangan sudah siap sedia silahkan disantap samapai kenyan. Penggalan pantun ini mengajak para tamu untuk merasakan dan menikmati makanan yang telah dihidangkan. Penggunaan kata konkret Kata konkret merupakan kata yang khususnya ditempatkan dalam pantun untuk menjelaskan imaji dengan mudah. Melalui kata konkret pembaca ataua pendengar dapat merasakan atau membayangkan segala sesuatu yang dialami oleh penyair. Kata konkret pada pantun merupakan katakata yang membangkitkan imaji dan menimbulkan pengertian yang menyeluruh dalam sebait pantun, baik sampiran atau isi. Dengan kata-kata yang konkret, pendengar dapat membayangkan secara jelas peristiwa atau keadaan yang dilukiskan oleh penutur. Kata konkret dalam pantun pernikahan ini seperti kata ikan, parit dan katakata lain yang memiliki refren yang didapat dibuktikan dengan panca indera. Lawan dari . Bahasa Figuratif Bahasa figuratif merupakan bahasa yang digunakan pedendang atau penyair untuk menyatakan sesuatu dengan cara yang tidak biasa, yakni secara tidak langsung mengungkapkan makna. Kata atau bahasanya bermakna kias atau bermakna lambang. Pantunpantun yang dipakai saat acara pernikahan di Melayu Sambas menggunakan bahasa figuratif berupa ba- hasa menggambarkan sesuatu secara berlebihan, seperti pada pantun berikut ini. Mamah berkayuh memakai sampan Berangkat menuju semelagi Sama gagah samalah tampan Ibarat raja dengan permaisuri Raja Sambas memakai pedang Raja Aceh memakai rencong Sungguh bertuah ananda sekarang Mendapat istri hdungnya mancung Pantun di atas menggunakan bahasa Figuratif yang menggambarkan sesuatu secara berlebihan, yaitu pada baris keempat pada bagian isi yang berbunyi ibarat raja dengan permaisuri, dan juga pada bait pertama dan kedua pada bagian sampiran. Raja Sambas memakai pedang. Raja Aceh memakai rencong, penyair mengibaratkan pengantin itu ibarat raja, karena saat acara berlangsung, pasangn kedua mempelai di- perlakukan bak raja dan ratu sehari. Semua ini adalah perwujudan ekspresi atas kebahagian pasangan dan keluarga besar dari kedua mempelai. Rima dan ritme Rima merupakan pengulangan bunyi pada pantun, sedangkan ritme atau irama adalah turun naiknya suara secara teratur. Pantun yang digunakan saat acara perni- kahan di Melayu Sambas mempunyai ab-ab atau persaja- kan silang yang terdapat diakhir kata pada setiap baris. Rima atau pengulangan bunyi yang terdapat dalam pantun pernikahan terdiri dari, n, a, i, g. Pantun-pantun yang dipergunakan saat acara pernikahan umumnya berjumlah 4 baris seuntai. Berikut contoh pantun dengan rima tersebut. pan sukur. Burung jelatik terbang sekawan Hinggap seekor di pohon nangka Sama cantik samalah padan Seperti pinang dibelah dua Mama berkayuh memakai sampan Berangkat menuju semelangi Sama gagah samalah tampan Ibarat raja dengan permaisuri Bagian di atas memaparkan struktur fisik pantun yang digunakan saat acara pernikahan di kalangan masyarakat Melayu Sambas. Adapun struktur batin yang terdapat dalam pantun pernikahan masyarakat Melayu Sambas yaitu, tema, nada dan suasana, perasaan dan amanat. Untuk lebih fokus dan jelas berikut peneliti memaparkan satu demi satu. Tema. Tema merupakan gagasan pokok yang disampaikan oleh penyair melalui pantunnya. Tema pantun pertama adalah permohonan izin dan ucapan teriakasih dari penyair kepada pembawa acara dan audiens yang hadir saat acara berlangsung, baik dari mempelai perempuan dan mempelai laki-laki. Kemudian tema pantun yang selanjutnya adalah menyangkut tentang kasih sayang antara suami dan istri. Terdapat juga tema joke . hal ini bertujuan untuk mencairkan suasana yang sedang berlangsung. Perasaan. Perasaan adalah suasana perasaan penyair . yang ikut diekspresikan dalam karyanyan. Perasaan yang diungkapkan oleh penyair dalam pantunnya adalah tentang perasaan senang dan gembira, perasaan kebanggaan dan ungka- . Nada dan suasana. Nada diartikan sebagai sikap penyair . yang ditujukan kepada audiens atau penonton, sedangkan suasana dapat diartikan sebagai pengaruh psikologi bagi penonton setelah mendengarkan pantun tersebut. Nada yang disampaikan penyair melalui pantun adalah memberitahukan, mempersilahkan, menasehati dan menyanjung. Amanat. Amanat adalah sesuatu maksud yang terkandung dalam sebuah Tujuan atau amanat merupakan hal yang mendorong penyair untuk mencipta- kan Adapun pesan-pesan disampaikan adalah ucapak syukur, etika moran dan keharmonisan. Hal ini seperti yang terdapat dalam bait pantun berikut. Pergi Piknik ke tanjung batu Sambil melihat gang kalangbahu Berbaikbaiklah kepada menantu Tahun depan menimang cucu Memang suke makan kurme Rasanya enak dari buah nage Berbaik-baiklah kepada bapak mertue Mudah-mudahan nanti dapat pembagian Pantun di atas mengungkapkan tentang pentingnya untuk saling memperlakukan dengan baik antara kedua belah pihak, yakni pengantin atau menantu kepada mertuanya, dan begitu juga mertua kepada menantunya. Hal ini menjadi energi yang sangat postif dalam membangun rumah tangga yang ba- hagia, sakinah mawadah. Apabila ini terjadi maka kedamian di tengah leingkungan ke- luarga dan rumah tangga akan terwujud, masing-masing dapat berperan bahagia se- suai dengan paosisinya masing-masing. Gambaran penggunaan pantun Nilai-nilai budaya yang terkan- dung dalam pantun pernikahan di kala- ngan masyarakat Melayu Sambas. Masyarakat Indonesia tidak dapat dipisahkan dari lingkungan yang menjunjung Kata batang merupakan bagian pohon nilai budaya dalam kehidupannya. Hal ini atau tumbuhan yang menjadi penyangga terjadi di semua suku, begitu juga dengan dan penyatu semua unsur dalam tumbuhan. suku Melayu khususnya Melayu Sambas di Hal ini melambangkan bahwa melalui pernikalimantan Barat. Menyangkut masyarakat kahan adalah budaya pemersatu dari dua melayu, sangat relevan apa yang dikatakan insan yang berbeda, berbeda latar belakang Abror19bahwa Aumasyarakat Melayu sejak za- dan keluarga yang berbeda. Melalui pernikaman dahulu dilingkungi dengan adat. Ay Salah han akan menjadi satu keluarga yang satu budaya yang lestari di kalangan memiliki keterikatan secara kekeluargaan masyarakt Melayu Sambas hingga sekarang dan emosional. Kemudian penggunaan simadalah budaya adat pernikahan. Budaya bol menggunakan bunga Selasih merupakan adat pernikahan masyarakat Melayu Sam- acuan, bahwa bunga selasih termasuk katebas memiliki serangkain acara di antaranya, gori tumbuhan yang memiliki banyak khalamaran, tukar cincin, akad nikah, sese- siat bagi kesehatan. Bunga selasih sejenis rahan, mulang-mulangkan, balas baki, bela- dengan pohon kemangi dan termasuk satu rak, resepsi, mandi belulus, dan pengantin spesies. Penggunaan istilah batang selasih dalam pantun pernikahan ini diulang bebejalan. Pada saat melaksanakan serangkaian berapa kali seperti yang terdapat pada samacara pernikahan tersebut, biasanya setipa piran pantun berikut. subacara dapat dipastikan akan terdapat Bunga selasih di dalam baki pantun yang digunakan sebagai variasi atau Batang keladi tersusun di atas jerami genre komunikasi saat prosesi berlangsung. Terimakasih kepada pihak laki-laki Adapun pantun-pantun yang digunakan Yang sudi datang ke dusun kami memiliki nilai budaya. Adapun nilai-nilai budaya yang terkadung dalam pantun Selain penggunan kata bunga selasih, pernikahan di kalangan masyarakat Melayu dalam pantun pernikahan ini, juga selalu sambas adalah sebagi berikut. menggunakan nama nama tumbuhan Budaya persatuan dan saling seperti. Batang selasih, bungan selasih batang pedare, batang keladi, rotan jerami. Dalam bermasyarakat, budaya saling Semua ini mengacu kepada tumbuhan. menghormati menjadi pengikat dan mem- Batang atau pohon merupakan sesuatu yang perkokoh persatuan antar satu dengan yang hidup dan menghidupkan . emberi rasa Dalam tradisi masyarakat melayu hidu. Pohon juga mampu memberikan kekuatan struktur kekerabatan dan kea- rasa teduh dan damai sejuk serta mampu kraban menjadi identitas budayanya. Simbol menjadi pengayom bagi mahluk yang lain. saling menghormati ini terdapat dalam Demikian halnya dengan sebuah pernikahan, manjadi awal dimulainya rumah pantun berikut. Rumah tangga diibaratkan pohon Batang selasih batang sedare menjadi payung dan menjadi tempat bernaung dalam kehidupan. Dan rumah tangga Beraran rotan berara prie Terima kasih kepada pembawa acare juga harus dapat menciptakan kedamaian Yang memberikan kesempatan kepada bagi suami istri, anak dan keluarga serta kerabat di lingkungan sekitar, maka jadisaye kanlah rumah tangga itu laksana batang pohon yang menjadi penyejuk dan tempat bernaung. Dalam pantun pernikahan ini juga terdapat nilai budaya saling menghormati. Penghormatan ini disampaikan oleh pedendang melalui ungkapan terimakasih, baik untuk pembawa acara maupun semua yang hadir . Budaya terimakasih di lingkungan masyarakat Melayu khususnya dan masyarakat Indonesia umumnya sduah gai pasangan dalam rumah tangga di Budaya optimis dan kedisiplinan Dalam pantun pernikahan di kalangan masyarakat Melayu Sambas, terdapat beberapa simbol yang digunakan, sementara simbo itu memiliki makna, seperti makna budaya optimis dan kedisiplinan. Budaya optimis dan kedisiplinan terdapat pada penggalan pantun berikut. Memancing ikan dapat gelamak Taruh seekor di atas batu Sebelum barang antaran ini kami terima Terlebih dahulu daftar barang yang ade kame periksa Dari pantun di atas, peneliti fokus pada penggunaan kata ikan. Ikan merupakan mahluk yang hidu di air. Hewan ini selalu berenang ke arah depan apa pun kondisi yang dialaminya dan tidak pernah berenang mundur meskipun ada hal yang membuat dia untuk mundur. Seperti itulah yang harus dicontoh dalam meraih kesuksesan dan keberhasilan dalam rumah tangga dalam balutan ikatan perkawinan. Apapun halangan ataupun rintangan yang selau datang ketika menjalankan kapal rumah tangga maka harus optimis, seperti ikan yang berenang ke arah depan. Hadapi dan jangan mundur untuk mencapainya. Dan kita harus belajar dari ikan laut, meskipun air yang menjadi tempat tinggalnya terasa asin, namun tubuhnya tidak ikut asin. Artinya, seba- ing memiliki nilai optimis, harus disandingkan dengan penguatan prinsip, sehingga tidak mudah terobamg-ambing dalam lautan kahidupan yang tidak bertepi. Adapun nilai kedisiplinan yang terdapat dalam pantun di atas adalah terdapat pada penggalan isi, yakni, sebelum barang anta- ran ini kame terima, terlebih dahulu daftar barang kami periksia. Hal ini mengga- mabrkan bahwa kedisiplian dan ketaraturan dalam menjalani kehidupan rumah tangga manjdi sesuatu yang Sebagi ilus- trasi, bahwa barang antaran seyogyanya tidak butuh untuk dihitung atau diperiksa kembali, karena yang memberikan atau yang membawa adalah oarang sudah dike- nal dan dipercaya, tetapi kejelasan dan kedisiplinan menjadi acuan bersama dalam kondisi apapun Oleh sebab itu, optimis dan disiplin menjadi pegagangan hidup dalam rumah tangga. individu adalah roh Nilai Nilai merupakan suatu tatanan yang dijadikan panduan oleh individu untuk menimbang dan memilih alternatif kepu- tusan dalam situasi sosial tertentu. Dalam budaya pernikahan di kalangan masyarakat Melayu Sambas, penyampain nilai sopan santu diutarkan memlaui pedendang . Adapun pantun yang mengandung nilai kesopanan dan ketun- dukan yakni sebagai berikut. Naik-naik ke atas batu Meliat ular dua tiga ekok Baik-baik dengan anak menantu Supaya malar dibelikannye rokok Ungkapan Aubaik-baik dengan anak menantuAy ini menjadi acuan untuk mengedepankan aspek sopan santun, baik antara mertua dan menantu, atau pun den- gan semua lapisan Kekuatan nilai budaya sopan santun merupakan roh objek- tif. Sementara kekuatan subjektif. Kekuatan individu atau roh subjektif didudukan dalam posisi primer karena nilai-nilai kebudayaan hanya akan berkembang dan bertahan apabila didukung dan dihayati oleh individu. Sementara nilai ketundukan dalam pantun oernikahan ini terdapat pada penggalan pantun di bawah Galahnye patah kiliknye Main layang-layang sambil berlari Benangnya kendor karena ksusut Sayang-sayang dengan istri dari melador sampai ngerisut ke rumah pak ague membeli bensin ke rumah tamtimah membeli gattah bagus-bagus bemesen supaya laki betah di rumah Pantun yang mengajarkan budaya ketundukan terdapat pada bagian isi masingmasing pantun, seperti sayang-sayang dengan isitri, kemudian bagus-bagus bemesem, inilah menjadi acuan bahwa pantun pernikahan di kalangan masyarakat Sambas memiliki unsur nilai ketataan dan tanggung jawab, baik dari istri kepada suami atau dari suami kepada istrinya. Budaya menjaga tutur kata Sebagai orang timur, masyarakat Melayu Sambas selalu mengedepankan etika dengan menjaga tutur kata. Hal ini seperti yang terdapat pada pantun berikut. Kalau ada jarum yang patah Jangan diletakkan di atas kain Kalo ada kata-kata kami yang salah Jangan disampaikan ke orang lain Burunglah uap terbang dipohon tematok Batanglah palah berhimpunan Mohon maaf dangan orang sitok Mun kamek salah tolong barek ampunan Burung kilik hinggap di galah Wabillahitaufik walhidayah Assalamualikum warahmatullah wabarakatuh Pantun di atas mengandung nilai budaya yang ditandai dengan bait ketiga dan keem- pat Kalo ada kata-kata kami yang salah dan dilanjutkan dengan Jangan disampaikan ke orang lain. Dalam bait tersbut makna ter- sirat bahwa dalam masyarakat Melayu Sam- bas memiliki satu keyakinan untuk selalu menjaga tutur kata. Jika terlanjur mengu- capkan katakata yang menyinggung perasaan orang lain, maka dapat segera meminta maaf. Pihak yang tersinggung juga diharapkan tidak menjadi dendam, karena memaafkan lebih baik dari pada dendam. Langkah tersebut dilakukan untuk menjaga jalinan silaturrahmi dalam menjalankan ke- hidupan sosial dan Persepsi Melayu Sambas tentang panggunaan pantun dalam upacara budaya pernikahan. Dari hasil wawancara peneliti dengan beberapa warga di kecamatan Galing Kabupaten Sambas, bahwa mereka memiliki pandangan dan pendapat yang berbeda dengan penggunaan pantun dalam acara pernikahan. Menurunnya minat generasi muda untuk berpantun Hal ini seperti yang diungkapkan oleh Rian Umbara bahwa AuUntuk tradisi ber- pantun dalam acara pernikahan saat ini masih ada, namun minat masyarakat untuk berpantun itu sedikit, apalagi kalangan mudanya. Yang biasa membawakan pantun dalam acara pernikahan adalah masing- masing perwakilan pihak Baik itu pak RT. KADES, dan seseorang yang sering berpantun. Ay Pendapat ini menjadi acuan bahwa pantun di kalangan generasi muda sudah tidak lagi memiliki tempat untuk manjadi kajian sebagaimana semangat orang-orang terdahulu yang selalu tun sebagai bagian cara berkomunikasi. sisi lain, secara kebutuhan tradisi dan budaya pantus selalu dibutuhkan, hal ini seperti yang diuraikan oleh Umbara juga bahwa. AuPantun dalam acara pernikahan itu harus selalu ada, karena ini merupakan suatu budaya yang harus dilestarikan. Selain itu pantun juga sebagai media hiburan dan media untuk memberikan nasehat kepada masing-masing mempelai Ay Pantun dalam acara pernikahan pada masyarakat melayu Sambas saat ini masih ada, walaupun minat masyarakat saat ini untuk berpantun tidak sama seperti dulu. Saat ini susah sekali menemukan pemantun yang handal dan mampu menciptakan baitbait pantun yang sesuai serta memenuhi kaidah dan ciri-ciri pantun dalam waktu yang relatif singkat dan memiliki nilai. dari pihak perempuan. Pihak laki-laki Pantun menjadi media hiburan Persepsi lain bahwa pantun tidal lagi berfungsi sebagai media penyampain pesanpesan budaya dan sosial, tetapi pantun juga dianggap sebagai penghibur saat acara pernikahan berlangsung. Hal ini seperti yang dikatakan Syaiful bahwa Aupantun dalam acara pernikahan itu harus selalu ada walaupun tidak banyak. Karena selain media komunikasi, pantun juga bisa disebut dengan media hiburan. Ay Di samping itu juga pantun menghadirkan nilai sosial disini yang mengambarkan adanya media pengajaran, yaitu memberikan pesan-pesan positif kepada mempelai pengantin yang akan menjalani bahtera rumah tangga lewat isi pantun tersebut. Kemudian nilai budayanya di sini yaitu melestarikan tradisi zaman Biasa pada umumnya tetap ada. Karena pantun ini merupakan tujuan yang akan menyampaikan hajatnya, begitu juga sebaliknya. Biasa dalam acara pernikahan atau penyerahan sirih pinang ada dua wakil, yang satu wakil dari pihak laki-laki, satu wakil menyerahkan, pihak perempuan yang menerima. Tidak tentu, tergantung pada masingmasing pihak. Kadang ada yang dari awal-akhir menggunakan pantun, dan ada juga yang hanya untuk menyampaikan mak- sud-maksud tertentu menggunakan pantun. Pantun sebagai pelestari budaya Pandangan masyarakat tentang pantun, di samping sebagai media penghibur, mereka juga menganggap pantun sebagai salah satu media pelestarian budaya. Budaya yang dimaksudkan adalah budaya sastra lisannya. Hanya saja dalam faktanya tidak banyak di antara generasi muda yang tertarik untuk Kecendrungan membawa atau mendendangkan pantun adalah orang-orang tua, atau petugas desa dan para tokoh adat. Oleh se- bab itu, untuk memperkuat identitas Melayu, seyogyanya ada sosialisai dengan lomba pantun di tingkattingkat sekolah formal, sehingga budaya tetap PENUTUP Berdasarkan anlisis yang dilakukan oleh peneliti, maka dapat disimpulkan bahwa Pantun yang dibaca saat prosesi cara pernikahan itu terbagi menjadi 8 jenis, pertama, pantun pem buka, kedua pantun untuk melamar, ketiga, pantun serah terima pengantin, keempat pantun untuk mempelai laki-laki, kelima, pantun untuk mempelai perempuan, keenam, pantun untuk orangtua pengantin laki-laki, ketujuh pantun untuk orangtua pengantin perempuan, dan yang kedelapan adalah pantun untuk para tamu Adapun struktur pantun dalam pernikahan ini terdiri dari dua struktur, yaitu struktur fisik dan struktur batin. Struktur fisiknya terdiri dari, diksi, imaji, kata konkret, bahasa figuratif, rima dan ritme. Sedangkan struktur batin terdiri dari, tema, nada dan suasana, perasaan dan amanat. Nilai-nilai yang terkandung dalam pantun pernikahan di kalangan masyarakat Melayu Sambas adalah, pertama nilai persatuan dan saling menghormati, kedua, nilai budaya optimis dan disiplin, ketiga nilai sopan santun dan ketundukan, keem- pat nilai menjaga tutur kata. Ada beberapa perspsi masyarakat Melayu Sambas tentang penggunaan pantun dalam acara pernikahan, pertama menurun- nya minat dan antusias generasi muda untuk berpantun, kedua pantun mejnadi media penghibur, tidak lagi sebagai medium untuk penyampaian pesan-pesan moral seperti zaman-zaman terdahulu. Ketiga, pantun juga berperan sebagai pelestari budaya. DAFTAR PUSTAKA