Diligentia: Journal of Theology and Christian Education E-ISSN: 2686-3707 edu/index. php/DIL DOI: https://doi. org/10. 19166/dil. Memahami Cinta. Kesetiaan, dan Hubungan Manusia dengan Tuhan dalam Kitab Kidung Agung: Sebuah Analisis Stilistika Simbol dan Metafora [Understanding Love. Faithfulness, and the Human Relationship with God in the Book of Song of Songs: A Stylistic Analysis of Symbols and Metaphor. Pitaya Rahmadi1. Gabriela Azelerie Thiodorus2 Universitas Pelita Harapan. Indonesia Correspondence email: pitaya. rahmadi19@gmail. Received: 09/05/2025 Accepted: 13/10/2025 Published: 30/09/2025 Abstract This study aims to understand the meaning of love, loyalty, and the relationship between human and God as revealed in the Book Song of Songs through a stylistic approach, especially the analysis of symbols and metaphors. The Book Song of Songs, which is rich in poetic language, is often interpreted not only as an expression of love between humans, but also as an allegory of the otherworldly relationship between humans and God. This study uses a qualitative descriptive method with text analysis techniques to identify and interpret the dominant symbols and metaphors in the text. The results of the analysis show that symbols such as gardens, grapes, flowers, and certain animals depict beauty, intimacy, and deep longing between lovers and loved ones, which in a theological context can be interpreted as a representation of the otherworldly relationship between human and God. The metaphor of love is also used to explain loyalty and pure devotion. This paper also emphasizes that the Book Song of Songs is not only a love poem but also has a deep theological meaning of a transcendental In addition, this book teaches that true love is a gift from God, and that you must live with commitment and respect. By understanding the symbols and metaphors used, readers are invited to think about the spiritual dimensions of love and loyalty in relationships between human and God. Keywords: love, loyalty, metaphor, relationship between human and God, symbol Pendahuluan Kidung Agung adalah kitab kidung yang berisi syair-syair terbaik yang ditulis oleh seorang raja yang paling berhikmat yaitu Raja Salomo, sesuai dengan namanya Kidung Agung. Di antara 1005 nyanyian yang ditulis oleh Raja Salomo . Raj. , kitab ini adalah yang terindah dan terbaik, sama seperti namanya AuKidung AgungAy. 1 Nama Raja Salomo juga dituliskan di awal kitab, yang memberikan kita penjelasan bahwa Ia adalah penulis dari kitab Selain itu kitab . Raj. 4:29-. memperkuat argumentasi bahwa salomo diyakini sebagai penulis Kidung Agung karena Raja Salomo termasyhur sebagai seorang raja dan penulis yang Art Semuel Thomas and Agus Santoso. Pengantar kepada Struktur Perjanjian Lama (Yogyakarta. Indonesia: Wahana Resolusi, 2. Diligentia Vol. No. September 2025 Page 150 Kitab ini biasanya dibacakan pada perayaan hari Raya Paskah umat Yahudi karena isi kitab ini mengingatkan umat Israel pada kasih Allah yang membebaskan mereka dari perbudakan Mesir. 2 Sebagai salah satu kitab sastra, kidung agung berisi syair-syair puisi yang menggambarkan cinta, kesetiaan, dan relasi manusia dengan Allah yang ditulis dengan gaya bahasa yang khas. Kitab ini ditulis dengan metafora-metafora yang berfungsi untuk memberikan perbandingan, serta menggunakan simbol-simbol untuk melambangkan dan mendefinisikan cinta, kesetiaan, dan relasi manusia dengan Allah dan pasangan. Selintas Kitab Kidung Agung memberikan makna keterbukaan terhadap kegairahan relasi antara laki-laki dan perempuan muda. Pujian, harapan, keagungan cinta dan rasa dengan bahasa yang boleh dikata hampir vulgar yang menyiratkan gejolak hasrat dan rasa dari seorang yang sedang mengalami jatuh cinta. Raja Salomo dikenal sebagai penulis kitab Kidung Agung namun dalam buku survei Perjanjian Lama seri I. Andrew E. Hill menuliskan bahwa kitab Kidung Agung adalah kitab yang membingungkan, mengejutkan, dan memalukan para pembaca Yahudi dan Kristen sehingga para Rabi selama berabad-abad dan Bapa gereja mula-mula telah memperdebatkan nilai kitab ini dan tempatnya dalam Perjanjian Lama. Kitab ini tidak bisa dengan mudah dipahami sifat dasar dan struktur syair cinta itu sendiri. Kitab ini secara sosiologis tidak berfokus, dalam arti pengaturannya menimbulkan makna ganda. 3 Kalaupun muncul kebingungan terkait dengan ketidakpastian waktu penulisan, kepastian siapa penulisnya namun setiap orang Kristen percaya atau mengimani bahwa kitab ini tetap diilhamkan oleh Roh Kudus. Membaca ayat-ayat kitab Kidung Agung seolah menghadapi loncatan kegairahan antara laki-laki dan perempuan dalam konteks pernikahan. Pernikahan yang menurut kehendak Tuhan, yang dalam pembahasan selanjutnya akan dikaitkan dengan kitab Kejadian di pasal 1 dan 2. Kitab Kidung Agung ini juga seolah harmoni nyanyian kanon yang bersahut-sahutan, saling memberi-menerima, memuji-dipuji seakan gelombang gairah seksual pria dan wanita pranikah, dan kesetiaan saat setelah menikah. Kitab Kidung Agung juga menjadi kitab yang memberikan perenungan dan memunculkan kehidupan relasi yang menjadi refleksi kegairahan kehidupan seorang manusia yang disebut laki-laki dan perempuan. Keberadaan simbol dan metafora dalam Kidung Agung telah menimbulkan penafsiran yang beragam oleh bapak gereja dan para teolog. Penafsiran tersebut menimbulkan pertanyaan apa sebenarnya makna teologis dari simbol-simbol dalam kitab ini, serta bagaimana makna teologis disampaikan melalui bentuk-bentuk metafora dalam kitab Dalam tradisi Yahudi. Kidung Agung dipahami sebagai gambaran kasih Allah kepada bangsa Israel, sedangkan dalam Kekristenan. Kidung Agung merupakan representasi relasi Kristus dengan jemaat atau gereja-Nya. Namun demikian, penafsiran seperti ini bersifat global dan belum menyentuh kajian stilistika secara spesifik terhadap penggunaan metafora dan simbol yang membentuk makna teologis terhadap kitab ini. Andrew E. Hill and John H. Walton. Survei Perjanjian Lama, trans. Triyogo Setyatmoko (Malang. Indonesia: Gandum Mas, 2. 3 Hill and Walton. Survei Perjanjian Lama. Diligentia Vol. No. September 2025 Page 151 Metodologi Artikel ini ditulis dengan tujuan untuk menginterpretasikan dan menganalisis simbolisme dan metafora yang digunakan dalam Kidung Agung secara stilistik dan teologis, dengan pendekatan stilistika berbasis studi literatur. Artikel ini berupaya untuk menjawab pertanyaan bagaimana simbol dan metafora dalam Kidung Agung merepresentasikan makna kasih ilahi dalam relasi Kristus dan gereja-Nya. Kebaruan dalam karya tulis ini terletak pada metode stilistika yang digunakan untuk mengungkapkan simbol dan metafora yang terdapat dalam Kitab Kidung Agung, tidak semata melalui penafsiran teologis atau analisis sastra yang biasa dilakukan Dengan mengintegrasikan analisis stilistika dan hermeneutika spiritual, penelitian ini memberikan perspektif interdisipliner yang menempatkan keindahan bahasa sebagai pusat pemahaman. Pendekatan ini menghasilkan kontribusi metodologis yang segar dengan membaca Kidung Agung sebagai puisi spiritual yang kaya akan simbol dan metafora, sehingga mengaitkan pengalaman cinta antara manusia dan cinta Ilahi. Studi-studi sebelumnya terkait Kidung Agung umumnya lebih menitikberatkan pada tafsir teologis-doktrinal, di mana cinta dilihat sebagai alegori dari kasih Allah kepada umatNya. Alegori berarti upaya untuk menyampaikan makna secara tidak langsung dari suatu kata yang digunakan dalam Alkitab. 4 Metode yang umum digunakan biasanya mencakup eksegesis biblis atau hermeneutika teologis, dengan penekanan analisis pada makna teks dari perspektif historis dan doktrinal. Dalam konteks ini, elemen estetika bahasa sering kali dinilai sebagai hal yang kurang penting, hanya menyajikan bentuk sastra kuno tanpa dipandang sebagai inti dari pemahaman. Selain itu, penelitian yang dilakukan sering kali terbatas pada area teologi atau sastra semata, sehingga kontribusinya lebih kepada tafsir iman atau kajian literatur saja. Seperti yang dilakukan dalam penelitian huluan sebagai penelitian dasar yang meliputi, bunyi bahasa . onetik dan fonolog. , sistem pembentukan kata . , dan sistem pembentukan kalimat . , adapula yang menggunakan penelitian hiliran sebagai lanjutan dari penelitian huluan meliputi: penelitian sosiolinguistik, psikolinguistik dan pragmatik. 5 Sedangkan, permasalahan utama yang melatarbelakangi artikel ini adalah upaya untuk menafsirkan makna terdalam dari Kitab Kidung Agung yang sarat dengan bahasa puitis, simbolik, dan metaforis, terutama dalam kaitannya dengan tema cinta, kesetiaan, dan relasi spiritual antara manusia dan Tuhan. Oleh sebab itu, penulis menggunakan pendekatan stilistika dalam menganalisis kitab Kidung Agung. Permasalahan utama yang bisa penulis lihat terkait dengan topik dalam artikel ini dapat dijelaskan sebagai berikut. Pertama. Kitab Kidung Agung terkenal karena memanfaatkan bahasa sastra yang tidak biasa, bahasa kias, simbol, dan metafora untuk menyampaikan makna spiritual. Ini memberikan tantangan dalam penafsiran: apakah puisi-puisi cinta itu sekadar melukiskan hubungan romantis antara dua manusia, ataukah terdapat makna alegoris yang merujuk pada hubungan antara manusia dan Tuhan? Oleh sebab itu, pendekatan stilistika . nalisis gaya bahas. dipakai untuk memahami lebih jauh makna dari simbol dan metafora yang digunakan. Paulus Dimas Prabowo. AuRagam Penafsiran Kitab Kidung AgungAy (Preprint. OSF, 2. , https://doi. org/10. 17605/OSF. IO/GA34V. 5 Jusuf Haries Kelelufna. AuAnalisis Bahasa Kitab Kidung Agung: Suatu Upaya Melacak Peredaksian,Ay Dunamis: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani 6, no. 1 (October 2. : 65Ae86, https://doi. org/10. 30648/dun. Diligentia Vol. No. September 2025 Page 152 Kedua. Kitab Kidung Agung menghadirkan banyak makna yang ganda dan ambigu. Banyak bagian dalam Kidung Agung yang bisa ditafsirkan secara gandaAibaik secara literal . isah cinta manusi. maupun spiritual . ubungan manusia dengan Tuha. Analisis simbol dan metafora bertujuan untuk mengatasi ambiguitas tersebut dengan mengeksplorasi pola bahasa, struktur simbolik, dan peran metafora. Ketiga, tulisan ini juga berusaha memahami relevansi dengan spiritualitas, bagaimana gagasan cinta dan kesetiaan dalam teks tersebut mencerminkan spiritualitas dan hubungan teologis, bukan hanya sisi emosional atau seksual belaka. Masalahnya adalah bagaimana pembaca bisa menangkap makna spiritual yang mendalam di balik simbol-simbol cinta Tafsir literal atau teologis konvensional sering kali memiliki keterbatasan, kurang mengeksplorasi aspek estetika dan bahasa dari kitab tersebut. Dengan demikian, analisis stilistika diterapkan untuk mengungkapkan dimensi ekspresif yang lebih dalam dari teks Selanjutnya juga dapat dijelaskan bahwa keberadaan artikel ini memunculkan signifikansi apabila dibandingkan dengan buku atau jurnal terdahulu, karena pendekatan analisis yang diterapkan serta penekanan pada elemen simbol dan metafora untuk memperdalam pemahaman teologis dan hubungan spiritual dalam Kitab Kidung Agung. Hal ini juga bisa dijelaskan, pertama, pendekatan stilistika sebagai pusat perhatian utama. Banyak penelitian sebelumnya biasanya lebih menyoroti segi teologis, historis, atau alegoris dari Kitab Kidung Agung. Artikel ini lebih banyak mengungkap makna melalui pendekatan stilistikaAiyaitu menganalisis cara bahasa berfungsi: bagaimana metafora, simbol, dan gaya sastra membangun makna spiritual. Ini memberikan perspektif baru terhadap teks yang sering kali ditafsirkan secara simbolis tanpa memerhatikan struktur dan fungsi bahasa dengan cukup. Hal ini juga merupakan kebaruan dari tulisan-tulisan sebelumnya. Kedua, penegasan hubungan vertikal (ManusiaAeTuha. Melalui Gambar Cinta. Artikel ini secara khusus berusaha mengungkap bagaimana simbol-simbol cinta dan kesetiaan yang terlihat sekuler . ubungan pria dan wanit. dapat diartikan sebagai cerminan hubungan antara manusia dan Tuhan. Ini memperkaya interpretasi teologis dengan menyoroti dimensi emosional dan artistik dari hubungan spiritual, bukan hanya ikatan hukum atau kepatuhan. Cinta kepada Tuhan tidak terpisahkan dari fisik, perasaan, dan keindahan, melainkan justru dihubungkan oleh simbol-simbol kemanusiaan. Hal ini menjadi tambahan kebaruan dari artikel ini. Selain itu, artikel ini mengungkapkan bahwa hubungan dengan Tuhan dapat dijelaskan secara pribadi dan emosional, bahkan erotis dalam arti simbolis, berbeda dengan hubungan yang kaku atau formal di banyak kitab lainnya. Penelitian ini penting karena dapat memberikan sumbangan dalam kajian teologi Selain itu, artikel ini menawarkan pendekatan stilistika sebagai metode baru dalam memahami pesan teologis kitab Kidung Agung. Oleh sebab itu, artikel ini tidak hanya memaparkan simbol dan metafora secara diskriptif, tetapi juga menelusuri relasi antara bentuk bahasa dan makna teologisnya. Melalui kajian ini diharapkan dapat memberikan pemahaman yang baru yang lebih mendalam dan relevan bagi refleksi iman Kekristenan masa kini. Penelitian ini menggunakan pendekatan stilistika yaitu pendekatan analisis yang berfokus pada analisis gaya bahasa dalam kitab Kidung Agung, khususnya simbol dan metafora yang terdapat dalam Kidung Agung. Pendekatan stilistika dipilih karena dapat memberikan penjelasan dan mengungkapkan fungsi penggunaan diksi dan majas dalam isi kitab Kidung Agung. Metode yang digunakan untuk mengkaji Kitab Kidung Agung ini adalah deskriptif kualitatif yang terintegrasi dengan metode close reading. Analisis dilakukan Diligentia Vol. No. September 2025 Page 153 terhadap ayat-ayat yang dipilih secara bertujuan karena mengandung kekayaan simbolik dan metafora yang dapat diungkap makna teologisnya. Peneliti menggunakan literatur dan berbagai sumber lainnya seperti buku atau jurnal yang berkaitan dengan topik yang dibahas. Metode ini menyediakan rangkaian bagianbagian berupa sub-judul dalam menjabarkan hasil penelitian. Melalui kutipan dari ayat-ayat dalam Kitab Kidung Agung yang diteliti, peneliti akan menganalisis kutipan teks tersebut untuk melihat secara spesifik apa saja hal yang diperlukan dalam mencapai tujuan dari Sebuah penelitian tidak boleh terlepas dari keteraturan yang ditawarkan akan tetapi di saat yang bersamaan tetap mengedepankan nilai kesusastraan dalam sebuah teks Terdapat beberapa cara yang digunakan untuk menunjang penelitian sebuah karya sastra salah satunya ialah close reading. Metode ini dipergunakan dengan cara membaca ulang secara cermat di setiap celah teks untuk menghasilkan interpretasi yang komprehensif. 6 Metode close reading memungkinkan pemeriksaan yang intensif terhadap kata-kata, struktur kalimat dan gaya Adapun alasan dipilihnya metode tersebut karena Kidung Agung bukan teks berbentuk naratif atau dogmatis, melainkan berbentuk puisi cinta yang sarat dengan simbol dan metafora. Close Reading memungkinkan peneliti dapat meneliti hingga ke lapisan bahasa bukan sekedar memahami isi secara permukaan. Selain itu, close reading sering menjadi suatu langkah penting dalam stilistika karena fokusnya pada unsur diksi atau pilihan kata. Maka kedua metode ini dapat digabungkan secara sinergis dalam peneitian tersebut. Dengan demikian, peneliti akan menggunakan metode ini dengan membaca teks per teks secara mendalam untuk mencapai interpretasi yang sesuai dengan tujuan penelitian. Metode ini membawa peneliti untuk menggali Kidung Agung dengan ketekunan dan kerendahan hati dalam menyingkap kekayaan teologis dalam puisi mempelai laki-laki dan perempuan sebagai cerminan kasih Kristus yang kudus, suci, intim, serta penuh keagungan dan Pembahasan Kitab Kidung Agung adalah salah satu kitab Alkitab yang paling puitis yang membahas konsep cinta dan kesetiaan. Kitab ini menggambarkan cinta sebagai sesuatu yang penuh dengan kesucian, keindahan, dan kesetiaan. Hubungan antara manusia dengan Tuhan dan hubungan antara kekasih adalah dua dimensi utama yang sering digunakan untuk memahami makna cinta. Dalam Kidung Agung, cinta menunjukkan kasih Allah yang begitu besar kepada umatNya. Allah diibaratkan sebagai kekasih yang penuh perhatian, selalu mencintai, dan setia, meskipun umat-Nya sering kali tidak memenuhi panggilan-Nya untuk setia. Kasih ini menekankan bahwa Allah tidak pernah meninggalkan umat-Nya, melainkan terus memanggil mereka kembali ke dalam relasi perjanjian sebagaimana mestinya antara mempelai laki-laki dan mempelai perempuan. Kidung Agung juga menggambarkan cinta dalam hubungan pasangan. Cinta ini melibatkan keharmonisan fisik, emosional, dan spiritual. Kesetiaan adalah dasar dalam membangun relasi ini, yang ditunjukkan oleh komitmen untuk menjaga, menghormati, dan mendukung satu sama lain. Tidak ada rasa takut akan pengkhianatan dalam cinta kedua Widyastuti Purbani. AuMetode Penelitian Sastra,Ay Jurnal Universitas Negeri Yogyakarta . : 1Ae 13, https://w. edu/download/38996322/metode-penelitian-susastra. Diligentia Vol. No. September 2025 Page 154 kekasih dalam kitab ini. Kitab ini menggambarkan hubungan pasangan yang ideal karena mencerminkan kesucian dan keindahan cinta sejati dalam Tuhan. Kidung Agung menekankan bahwa cinta yang benar-benar sempurna adalah cinta yang penuh dengan kasih sayang, kesetiaan, dan pengorbanan. Kesetiaan adalah contoh nyata dari cinta yang dapat bertahan menghadapi tantangan dan waktu. Kitab ini mengajarkan bahwa cinta dan kesetiaan adalah dua komponen yang tidak dapat dipisahkan yang menjadi dasar dari hubungan yang harmonis dan bermakna, baik dalam hubungan manusia dengan Tuhan maupun dengan pasangan. Metafora Cinta dalam Kidung Agung Menurut Gorys Keraf, metafora adalah majas yang berupa analogi untuk menginterpretasikan suatu hal dengan cara membandingkannya secara langsung dengan hal lain, melalui ungkapan yang singkat. 7 Metafora berfungsi sebagai alat untuk menyampaikan konsep melalui analogi yang konkret, sehingga ide-ide yang sulit dapat dipahami dengan lebih baik, jelas, dan menarik secara emosional bagi pembacanya. Simbol, di sisi lain, adalah bagian dalam karya sastra yang menggunakan objek, karakter, atau situasi tertentu untuk merepresentasikan ide-ide atau konsep. Fungsi simbol dalam komunikasi sastra adalah untuk menyampaikan makna secara tersirat, hal ini mendorong pembaca untuk menemukan dan menafsirkan makna dengan lebih dalam. Simbol sering digunakan untuk menciptakan hubungan emosional dan intelektual dengan pembaca, memberikan ruang bagi mereka untuk merefleksikan pesan yang disampaikan. Metafora dan simbol sangat penting untuk menghasilkan makna yang mendalam itulah yang digunakan dalam Kitab Kidung Agung. Metafora seperti Au. mempelai pria. Ay dan Aumempelai wanitaAy tidak hanya menggambarkan hubungan romantis dengan pasangan, tetapi juga menggambarkan hubungan antara Kristus dan gereja-Nya. Dengan membandingkan hubungan manusiawi dengan hubungan spiritual, metafora ini mendorong pembaca untuk memahami cinta Tuhan kepada manusia dengan cara yang lebih dekat dan Dalam kitab ini, simbol digunakan untuk melukiskan keindahan, cinta, dan kesetiaan dalam hubungan dengan Tuhan. Simbol berguna untuk memperdalam makna teks dengan memberikan gambaran visual dan emosional tentang bagaimana kasih Tuhan memenuhi dan memperkaya kehidupan umat-Nya. Kebun tertutup, misalnya, adalah simbol penjagaan terhadap hati yang murni, yang menunjukkan tempat di mana hubungan dengan Tuhan dapat berkembang dan terjaga dengan baik. Kidung Agung menggunakan berbagai metafora untuk mendeskripsikan cinta Kristus kepada gereja. Adapun metafora yang digunakan untuk menggambarkan kualitas cinta pada (Kid. 1: . adalah anggur. Au. Cintamu lebih nikmat dari pada anggur,Ay berarti kenikmatan cinta yang diberikan sang kekasih melebihi kenikmatan anggur terbaik sekalipun. Cinta Kristus kepada gereja-Nya melebihi kenikmatan duniawi. Dalam budaya Mesir Kuno anggur dihormati sebagai lambang kesuburan dan keabadian, sedangkan pada masa Yunani Kuno, anggur dikatkan dengan dewa anggur Dionysus, yang menjadi simbol kegembiraan, pesta, dan kehidupan. 8 Hal-hal yang demikian dapat diamati lebih berkaitan dengan kesenangan Tetapi melalui ayat dalam Kidung Agung ingin mengatakan bahwa, sukacita yang Gorys Keraf. Diksi dan Gaya Bahasa (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2. Tresno Saras. Anggur: Keindahan Rasa. Kesehatan, dan Budaya (Semarang. Indonesia: Tiram Media, 2. Diligentia Vol. No. September 2025 Page 155 sejati tidak ditemukan dalam kesenangan duniawi, tetapi hanya dalam kasih Kristus yang Ayat ini ingin mengatakan bahwa cinta Kristus pada gereja adalah representasi kualitas cinta kasih yang terbaik. Kasih-Nya adalah kasih yang tidak hanya mengampuni tetapi juga Ia rela memberikan nyawa-Nya untuk menebus umat pilihan-Nya sehingga kasih inilah yang dirasakan oleh umat-Nya sehingga mereka mengakui bahwa kasih Kristus melebihi nikmatnya anggur yang terbaik sekalipun. AuHarum bau minyakmu,Ay nama Kristus seperti aroma minyak yang tercurah yang harumnya memenuhi ruangan (Kid. Nama Kristus harum dan berharga bagi gereja-Nya. Kasih dan ketaatan-Nya yang sempurna kepada Allah Bapa telah membuat kita juga menjadi harum . Kor. 2:14-. Kehadiran-Nya menyegarkan jiwa. Seperti minyak yang digunakan untuk mengurapi imam dan raja, demikian juga nama Kristus membawa kehadiran dan kuasa Allah dalam kehidupan umat-Nya. Selain itu ayat ini juga merujuk kepada karya Roh Kudus yang mengurapi setiap orang percaya menjadi anggota tubuh Kristus. Metafora mempelai perempuan seperti kuda betina pada kereta Firaun (Kid 1:. yang menggambarkan gereja sebagai kekuatan yang menarik hati Kristus. Firaun merupakan raja yang memerintah Mesir dan terkenal dengan kuda-kuda terbaiknya. 9 Dalam konteks Mesir Kuno, kuda kereta Firaun adalah lambang kekuatan, keindahan, dan kemegahan. Selain itu, kereta kerajaan pastilah ditarik oleh kuda-kuda betina yang kuat dan gagah, gereja diumpamakan seperti kuda betina yang kuat. Kristus memuji gereja-Nya sebagai mempelai perempuan yang kuat dan elok, yang telah ditebus dan dimurnikan dari dosa. Oleh karena itu. Kristus membebaskan dan memberikan kepada gereja-Nya kekuatan dan kuasa untuk berperang melawan dosa, seperti kuda betina yang kuat dan siap bertempur di medan Gereja bukanlah sebatas objek belas kasihan Allah, melainkan bagian dari rencana ilahi dan ketetapan Allah. Melalui gereja Injil kabar baik diberitakan ke seluruh penjuru dunia, sehingga Allah begitu mengasihi gereja-Nya. Gereja merupakan rekan seperjalanan Kristus dalam misi-Nya bagi dunia ini. Seperti kuda yang menarik kereta perang, gereja juga turut memikul beban pelayanan dan menghadapi pertempuran rohani demi memenangkan jiwa-jiwa dan untuk menyatakan kebenaran Injil kerajaan Allah. Mempelai perempuan menggambarkan mempelai laki-laki seperti, sebungkus Mur dan setangkai bunga pacar (Kid. 1:13-. Mur dalam tradisi Ibrani adalah rempah yang digunakan dalam pengurapan dan penguburan, hal ini melambangkan pengorbanan dan kasih yang mahal. Selain itu, mur biasanya dilambangkan sebagai tanda penghormatan, layaknya persembahan yang dibawa oleh orang Majus dari Timur yang menandakan bentuk penghormatan kepada bayi Kristus. 10 Kristus sebagai Ausebungkus mur yang tersisip di antara buah dadaku (Kid. 1: . , berarti gereja senantiasa mengingat dan menyimpan pengorbanan Kristus di dalam hatinya. Ayat ini juga ingin mengatakan bahwa mempelai perempuan atau gereja bagitu mengasihi, menghormati, dan mengagungkan kebesaran Kristus sebagai mempelai laki-lakinya karena pengorbanannya di kayu salib. Seperti mur yang menenangkan dan menyembuhkan, kasih Kristus memberikan penghiburan dalam penderitaan dan pengharapan di tengah kesedihan. Johnny Tjia and Barry van der Schoot, eds. Tafsiran Matthew Henry: Kitab Pengkhotbah. Kidung Agung, trans. Herdian Aprilani et al. (Surabaya. Indonesia: Penerbit Momentum, 2. , https://download. org/buku/Tafsiran_MHC/21-22_PL__Pengkhotbah--Kidung-Agung. 10 Tjia and Van der Schoot. Tafsiran Matthew Henry. Diligentia Vol. No. September 2025 Page 156 Bunga pacar adalah lambang kesukaan dan menyenangkan. 11 Hal ini menggambarkan kasih Kristus di tengah padang gurun kehidupan. Kehadiran Kristus membawa kelegaan rohani serta menyegarkan iman gereja di tengah kekeringan dunia. Hal ini ingin mengatakan bahwa hanya dalam Kristus, orang percaya merasakan kesukaan besar, kasih dan damai Melalui kelahiran, kematian, dan kebangkitan-Nya kita beroleh kesukaan besar, melalui Dia kita beroleh kasih Bapa. Ia adalah setangkai pengharapan kita untuk dapat kembali berelasi dengan Bapa. Oleh sebab itu, kita memandang Ia berharga dan ingin menikmati kasih-Nya seumur hidup kita. Mempelai laki-laki mendefinisikan mata kekasihnya seperti merpati (Kid. yang berarti manis, murni dan polos, ini menggambarkan-menyimbolkan kesederhanaan, kerendahan hati, ketulusan dan kemurnian layaknya burung merpati. 12 Kristus melihat gereja dengan kasih dan kekaguman. Mata merpati adalah lambang kesetiaan, kemurnian, dan Gereja dibenarkan hanya oleh darah Kristus yang tercurah di atas kayu salib oleh karena itulah gereja berharga dan dipandang indah dan suci, bukan karena usahanya sendiri melainkan karena anugerah Allah. Mata seperti merpati menunjukkan fokus yang tidak terbagi kepada Sang kekasih sebuah lambang pengabdian yang tulus dari gereja kepada Kristus. Selain itu. Roh Kudus juga sering dilambangkan sebagai merpati, ini menandakan bahwa gereja adalah tempat kediaman Roh Allah yang membawa damai sejahtera dan keintiman ilahi dalam kehidupan orang percaya. Jadi. Kristus mendefinisikan orang percaya sebagai orang-orang yang rendah hati dan takut akan Tuhan. Matanya tidak memancarkan kesombongan dan keangkuhan, tetapi kerendahan hati dan ketulusan untuk mau tunduk pada mempelai laki-laki yaitu Kristus. Bunga mawar dari Saron (Kid. Bunga bakung di antara duri (Kid. ingin mengatakan bahwa Kristus memandang gereja sebagai sesuatu yang indah dan istimewa di tengah dunia yang rusak dan berdosa. Bunga bakung melambangkan kemurnian dan keanggunan, sedangkan duri-duri adalah gambaran dunia yang penuh luka dan penderitaan. Jadi, frasa ini menandakan bahwa umat-Nya yaitu, mempelai perempuan merupakan keindahan yang berada di antara duri. Au. bunga bakung di antara duriAy (Kid. ingin mengatakan bahwa umat Tuhan adalah suatu hal yang indah di tengah dunia yang berdosa. Frase ini menandakan bahwa umat-Nya yaitu mempelai perempuan adalah suatu keindahan yang berada di tengah duri yang dihimpit oleh berbagai pergumulan dan godaan dunia yang Oleh sebab itu, gereja dipanggil untuk menjadi terang dan kesaksian kasih Allah dalam dunia, bukan tenggelam ataupun terseret arus dunia yang menyesatkan. Gereja dengan keyakinan kepada Kristus berdiri dengan teguh sebagai saksi Kristus di tengahtengah dunia ini. Oleh sebab itu. Kristus memberikan kepada umat-Nya keindahan yang tidak akan pernah sebanding dengan keindahan dunia ini melalui kasih, ketaatan, kekudusan dan kesetiaan-Nya. Pengorbanan Kristus adalah keindahan yang tiada tara yang dikaruniakan bagi orang percaya. Au. Pohon apel di antara pohon-pohon di hutan. Ay (Kid 2:. , kehadiran Kristus berbeda dari kehadiran siapapun di dunia ini. Ia sebagai pohon kehidupan dan perlindungan bagi Ayat ini menyatakan bahwa mempelai laki-lakinya berbeda dari laki-laki lainnya yang ia temui. Kristus digambarkan sebagai pohon apel, unik di antara semua pohon yang ada. hutan mungkin saja ada berbagai jenis pohon namun, pohon-pohon itu tidak berbuah sehingga tidak memberikan manfaat bagi mempelainya, tidak memuaskan dan menyegarkan Tjia and Van der Schoot. Tafsiran Matthew Henry. Tjia and Van der Schoot. Tafsiran Matthew Henry. Diligentia Vol. No. September 2025 Page 157 Seperti pohon apel yang memberikan buah yang memuaskan dan menjadi tempat bernaung dan berlindung maka, demikianlah gereja berlindung di bawah naungan kasih Kristus. Melalui Kristus gereja menerima penghiburan, perlindungan, dan pemulihan yang Dunia ini dideskripsikan sebagai pohon-pohon di hutan yang mandul tidak memberikan buah dan kesegaran jiwa. Kristus adalah pohon yang berbuah subur dan menyegarkan jiwa kita. 13 Buah Kristus adalah makanan rohani yang mengenyangkan dan memberikan hidup yang kekal. Dalam Kid. 2: 5, dituliskan bahwa mempelai perempuan ingin disegarkan oleh buah apel. Aubuah apelAy merupakan lambang cinta. Memberikan buah apel kepada orang yang dikasihi adalah salah satu cara untuk menunjukkan perhatian dan cinta kepada mereka. Rasa buah yang manis dan menyegarkan, mendeskripsikan cinta kasih yang mampu mengobati luka di hati. Dalam ayat ini, mempelai perempuan sedang dirasuk asmara oleh sebab itu, menginginkan buah apel yang menyegarkan. Sama seperti kita yang hidup ditengah-tengah pergumulan terhadap dosa sehingga membutuhkan kesegaran jiwa dan pengampunan. Kristus adalah jalan bagi kita untuk kembali disegarkan, diampuni, dan beroleh kasih karunia Bapa. Frasa Au. kijang atau anak rusa. Ay pada Kid. 2:9, menggambarkan mempelai laki-laki yang bergembira, bersemangat, dan bersukacita menyambut mempelai perempuannya. Kristus datang untuk menyelamatkan umat-Nya, membawa sukacita besar, meskipun menghadapi pergumulan berat menuju salib. Ia tetap menjalankan ketaatan seturut kehendak Bapa. Oleh karena itu, kita juga menantikan kedatangan-Nya kembali baik secara pribadi secara eskatologis pada akhir zaman. Dalam masa penantian itu kita tetap beroleh sukacita yang besar ketika percaya kepada-Nya karena kita mendapatkan pengampunan dan relasi dengan Bapa dipulihkan. Sukacita ini teramat indah seperti ketika memandang kepada anak kijang atau anak rusa yang sangat lincah dan agresif, kita akan terhibur dan bersukacita. Ketika melihat Kristus dan mengingat pekerjaan-Nya bagi keselamatan kita, kita juga bergembira dan bersuka karena telah dibebaskan dari kuasa dosa. Jadi ayat ini dapat dikaitkan dengan kedatangan Kristus yang membawa sukacita bagi orang percaya. Penggunaan metafora Aurubah-rubahAy pada Kid. 15, menggambarkan berbagai gangguan dan godaan dosa yang dapat merusak kebun anggur atau kesejahteraan umat Allah. Dosa dapat merusak dan menghancurkan relasi kasih antara Kristus dan gereja. Gereja dipanggil untuk berjaga-jaga dan membersihkan dirinya dari segala hal yang dapat merusak keintiman relasi kita dengan Tuhan. Pertumbuhan iman kita dapat terganggu jika kita tidak waspada terhadap godaan dosa. Oleh sebab itu. Kristus memerintahkan umat-Nya untuk mengusir rubah-rubah itu karena akan merusak hidup mereka. Kristus sebagai Kepala Gereja menghendaki relasi yang murni dan kudus dengan umat-Nya. Oleh karena itu. Kristus memerintahkan agar gereja menangkap dan menyingkirkan segala bentuk kompromi dan ketidaktaatan terhadap perintah Allah. Karena sejatinya, setiap orang percaya yang telah lahir baru mereka juga telah ditebus dengan darah Kristus, sehingga diberi kuasa untuk dapat melawan kuasa dosa sehingga mampu hidup berkenan bagi Allah. Di dalam Kitab Kidung Agung pasal 8:6 tertulis bahwa AuNyalanya adalah nyala api, seperti nyala api TUHAN!Ay Dalam konteks ini, cinta dianalogikan sebagai Aunyala apiAy dalam ayat tersebut mencerminkan intensitas cinta yang luar biasa. 14 Frasa "nyala api" menunjukkan Tjia and Van der Schoot. Tafsiran Matthew Henry. Lylyan Firdaus and Agus Prayitno. AuMakna Berpacaran yang Benar menurut Kidung Agung Diligentia Vol. No. September 2025 Page 158 intensitas, kekuatan, dan daya tahan dari kasih. Ini bukan cinta yang lemah atau mudah padam, melainkan membara seperti api yang kuat. Cinta sejati bersumber dari Allah dan bersifat Ilahi. Pernyataan ini sangat kuat karena hanya di bagian ini dalam seluruh Kitab Kidung Agung nama TUHAN (YHWH) disebut secara langsung. Artinya. Cinta yang dibicarakan bukan cinta biasa, tetapi kudus, murni, dan berasal dari Allah sendiri. Cinta Krisus tidak dapat dibatalkan oleh maut atau penderitaan sekalipun. Ini adalah cinta kasih yang Ia buktikan di atas kayu salib, kasih yang teramat besar yang tidak dapat tergantikan. Ini menunjukkan bahwa kasih sejati dalam relasi yang dikehendaki Allah mengandung dimensi ilahi - kekal, berkuasa, dan tak terpadamkan. Kasih sejati yang berasal dari Tuhan bersifat kudus dan tidak bisa dipadamkan oleh tantangan atau kesulitan hidup. Dalam konteks pernikahan Kristen, ayat ini sering diartikan bahwa cinta dalam pernikahan seharusnya mencerminkan kasih Tuhan - penuh komitmen, kuat, dan tidak mudah luntur. Frasa Aunyala api TUHANAy mengandung makna bahwa kasih itu bukan sekadar perasaan, tetapi anugerah ilahi. Kasih sejati menjadi bagian dari karakter Allah, dan ketika manusia mengalaminya atau membagikannya, mereka turut mencerminkan sifat Allah Ibarat api, cinta Allah dan panggilan-Nya tak bisa dihindari siapa pun. Cinta hadir tanpa bisa ditebak dan tidak bisa dibendung oleh siapa pun. Tidak ada kekuatan, bahkan harta sebanyak apa pun, yang mampu melawan kekuatan cinta. Walaupun berbagai rintangan datang silih berganti, cinta membuat semua terasa lebih mudah untuk dihadapi. Ketika merasuk sukma cinta menjadi kekuatan yang besar, yang seperti nyala api, bukan nyala api biasa namun nyala seperti nyala api Tuhan. Metafora ini semakin mendeskripsikan betapa hebatnya kekuatan cinta. Cinta sejati hanya berasal dari Tuhan. Tak seorang pun mampu mencintai dengan kesempurnaan seperti cinta Tuhan terhadap manusia. Cinta Allah tersebut tampak nyata dalam pengorbanan-Nya yang rela menderita dan disalibkan demi menyelamatkan umat-Nya. Maka dari itu, bila seseorang menjadikan sesuatu selain Tuhan sebagai sumber cinta sejati, hal itu berarti telah menempatkan Tuhan di posisi kedua. Bertalian dengan hal ini banyak penafsir melihatnya sebagai gambaran simbolis dari kasih antara Allah dan umat-Nya (Israel atau gerej. , atau antara Kristus dan gereja-Nya. Dalam konteks literal, ayat ini merupakan bagian dari pujian dan komitmen mendalam dalam relasi kasih. Dalam Kidung Agung 2:17, tertulis: AuSebelum angin senja berhembus dan bayangbayang menghilang, kembalilah kekasihku, berlakulah seperti kijang atau seperti anak rusa di atas gunung-gunung tanaman rempah-rempah. Ay Ayat ini menggambarkan kerinduan yang besar dan keinginan agar sang kekasih segera kembali. AuSebelum angin senja berhembus dan bayang-bayang menghilangAy, ayat Ini menggambarkan suatu referensi waktu menjelang malam atau saat senja, demikian juga mendeskripsikan simbol transisi atau perpisahan sementara. Waktu ini sering diasosiasikan dalam Alkitab dengan masa pencobaan, kekelaman rohani, atau ketidakhadiran Allah yang di rasakan. Dalam konteks hubungan Kristus dan gereja ini dapat ditafsirkan sebagai masa penderitaan gereja, atau masa ketika kehadiran Kristus tampaknya tersembunyi. Secara 8:6,Ay FILADELFIA: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen 2, no. 2 (October 2. : 249Ae63, https://doi. org/10. 55772/filadelfia. 15 Falentino Gega Herin Herin. AuRelasi antara Allah dan Manusia dalam Kidung Agung,Ay SAMI: Jurnal Sosiologi Agama Teologi Indonesia (June 111Ae32, https://doi. org/10. 24246/sami. Diligentia Vol. No. September 2025 Page 159 rohani, ayat ini bisa menggambarkan satu momen sebelum masa kesulitan atau kegelapan Aubayang-bayang menghilang. Ay . aktu ketika Allah terasa jau. Ini merupakan bentuk kerinduan umat Allah terhadap Kristus. Selanjutnya AuKembalilah kekasihkuAy, bisa diinterpretasikan sebagai ungkapan kerinduan dan harapan sang perempuan agar atau sang kekasih Ae Allah, hadir kembali. Ini merupakan bentuk kerinduan umat percaya yang terus menerus memanggil dan merindukan hadirat Kristus, baik secara pribadi maupun secara komunal bersama komunitas orang percaya melalui sakramen dan ibadah. Dalam pemikiran yang rasional hal ini bisa diartikan sebagai kerinduan untuk terus berelasi, bersama dalam kasih. Seruan ini memperlihatkan bahwa kasih sejati melibatkan kehadiran, kedekatan, dan persekutuan yang nyata. AuBerlakulah seperti kijang atau anak rusaAy. Kalimat di ayat ini, kijang dan anak rusa menjadi simbol keanggunan, kecepatan, kelincahan, dan kebebasan. Ini bisa berarti kerinduan akan kehadiran kekasih yang cepat dan dinamis, atau penampilan yang memberikan makna mengagumkan dan penuh daya tarik. Dalam konteks makna rohani, ayat ini melambangkan kehadiran ilahi yang penuh kasih dan cepat menolong. Adanya kerinduan jiwa manusia kepada kehadiran Allah. Oleh sebab itu, ayat ini ingin menyatakan bahwa cinta Allah adalah cinta yang aktif untuk menyelamatkan umat-Nya bukan cinta yang pasif. Allah yang lebih dahulu secara aktif menunjukkan anugerah-Nya bagi orang pilihan-Nya, hanya oleh kehendak dan inisiatif aktif Allah, bukan manusia. AuGunung-gunung tanaman rempah-rempahAy, gunung adalah simbol tempat yang tinggi yang sakral sebagai tempat pertemuan Allah dengan manusia seperti Gunung Sinai. Sedangkan, kata rempah-rempah merupakan simbol yang mendeskripsikan kekudusan, keharuman, kemewahan, kenikmatan rohani, dan persembahan atau pengorbanan. Maka, gambaran ini menyatukan antara tempat kudus dan persembahan kasih. Ini menunjuk pada Kristus sebagai Imam Besar yang mempersembahkan diri-Nya di tempat Mahakudus dan juga hadir dalam setiap ibadah dan penyembahan yang dilakukan oleh umat-Nya. Jika ditarik dalam konteks relasi manusia dan Tuhan, teks ayat dari Kidung Agung 2:17 ini dapat dimaknai sebagai doa umat yang merindukan kehadiran Tuhan dalam masa kesendirian atau kesunyian, dan berharap akan persekutuan kembali yang mesra dan penuh Perumpamaan kijang dan anak rusa melambangkan kerinduan yang murni dan keinginan yang penuh semangat. Kerinduan ini bisa disamakan dengan perasaan suami-istri yang lama tidak bertemu karena suatu keadaan. Mereka mengenang masa-masa indah bersama, dan kenangan itu menjadi sumber kekuatan. Ketika cinta yang tulus tumbuh dalam hati, perpisahan hanya akan memperbesar rindu sehingga rasanya tidak sabar ingin bertemu. Namun, rindu itu juga bisa menjadi menyakitkan ketika harapan untuk bertemu tidak segera terwujud. Hal ini terlihat dalam kalimat AuKekasihku, aku membuka pintu, tapi kekasihku sudah pergi. Rasanya seperti aku pingsan saat dia menghilang. Kucari dia, tetapi tidak kutemui, kupanggil, tetapi tak disahutnya. Ay (Kid. Ayat ini menggambarkan kesedihan yang dalam ketika cinta tidak mendapatkan Perasaan kehilangan itu sangat menyakitkan. Lebih dari itu, bagian ini juga bisa dimaknai secara rohani. 16 Rindu ini menggambarkan kerinduan kita kepada Tuhan. Ketika Tuhan terasa jauh, hati menjadi gelisah dan kosong. Walaupun hati sudah terbuka untukNya, terkadang kehadiran-Nya belum terasa padahal sesungguhnya Ia selalu berada dekat dengan kita. Dalam pengertian ini, cinta bukan hanya hubungan manusia dengan manusia. Herin. AuRelasi antara Allah dan Manusia dalam Kidung Agung. Ay Diligentia Vol. No. September 2025 Page 160 tetapi juga hubungan manusia dengan Tuhan. Hal ini mengajarkan bahwa cinta sejati selalu melibatkan kesetiaan, harapan, dan usaha yang terus menerus untuk mencari dan menantikan dengan hati yang penuh kasih. Dalam Kid. 1: 17 mengatakan Audari kayu aras balok-balok rumah kita. Ay Kayu aras pada zaman kuno sangat dihargai di wilayah Timur Dekat. 17 Kayu ini sering digunakan untuk membangun bangunan penting dan mewah, seperti Bait Allah dan Istana Raja Salomo . Rajaraja 5:3Ae9. 7:1Ae. Penggunaan kayu aras dalam ayat ini bukan hanya menunjukkan kemegahan secara fisik, tetapi juga melambangkan kekokohan dan keteguhan cinta antara sepasang kekasih. Kayu yang kuat dan tahan lama menggambarkan cinta yang tidak mudah goyah oleh waktu dan tantangan. Seperti bait Allah yang dibangun menjadi tempat kehadiran Allah, maka gereja sebagai tubuh Kristus adalah rumah rohani yang dibangun atas dasar kasih Allah yang suci. Dalam Kid. 1:17 ini, si perempuan mungkin sedang membayangkan pertemuan romantis dengan kekasihnya di sebuah kamar yang indah dan megah. Penulis puisi ini menggambarkan mereka seolah-olah berada di lingkungan kerajaan, seperti raja dan ratu. Kayu eru yang disebut di sini mirip dengan cemara atau bambu dan biasanya digunakan untuk dinding rumah karena bisa dianyam dengan mudah. 18 Pujiannya kepada sang kekasih menunjukkan betapa ia menghargai kerja keras dan ketampanan pria itu dalam membangun rumah impian. Kayu-kayu yang disebutkan ini berasal dari daerah pegunungan, yang dalam kepercayaan lama dianggap sebagai tempat tinggal para dewa dan lambang kesejukan serta 19 Maka, gambaran rumah yang dibangun dari kayu-kayu pilihan tersebut mencerminkan cinta yang suci, agung, dan diberkati oleh Tuhan. Jadi, ayat ini bisa dilihat sebagai bayangan dari gereja sebagai rumah Allah yang hidup sehingga kehidupan kekal sebagai tempat dimana kasih Kristus dan gereja mencapai kesempurnaan. Simbolisme Kesetiaan dalam Hubungan Tuhan dan Umat-Nya Pada Kid. 1:4, raja dan mahligai-mahligainya dapat diartikan sebagai kemewahan yang ditawarkan dunia namun, pada ayat ini kita akan melihat bahwa gadis ini tidak tertarik tetapi meminta kekasihnya untuk membawanya lari dan pergi. Ayat ini ingin mengatakan bahwa tawaran yang diberikan raja tidak berlaku atas dirinya dan ia tetap setia pada kekasihnya meskipun kekasihnya adalah seorang gembala (Kid. Umat Tuhan yang berpegang teguh pada Injil-Nya akan setia meskipun ditawarkan berbagai macam kemewahan dan kenikmatan dunia, mereka akan bertahan meskipun berada di bawah tekanan sekalipun karena cinta sang mempelai adalah cinta yang tidak dapat dibandingkan dengan seluruh harta duniawi. Gembala pada ayat ini juga menggambarkan kesederhanaan seperti kedatangan Kristus yang pertama penuh kesederhanaan, tetapi orang-orang yang menantikannya berbahagia seperti para gembala dan Orang Majus yang berbahagia menyambut kedatangan-Nya. Kesederhanaan inilah yang kita teladani dari Kristus. Kesederhanaan untuk melayani, setia, dan taat kepada kehendak Bapa. Hitam tapi cantik. (Kid. seperti kemah orang Kedar menyimbolkan hitam dan tirai-tirai salma yang melambangkan keindahan. Kemah orang Kedar adalah kemah yang Mick Mordekhai Sopacoly. AuMerayakan Cinta berdasarkan Kidung Agung 1:9-17,Ay Dunamis: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani 4, no. 2 (April 2. : 234Ae53, https://doi. org/10. 30648/dun. 18 Sopacoly. AuMerayakan Cinta. Ay 19 Sopacoly. AuMerayakan Cinta. Ay Diligentia Vol. No. September 2025 Page 161 sederhana, namun tirai-tirai salma atau Raja Salomo indah. 20 Dua hal yang terlihat bertolak belakang dalam pandangan duniawi pada umumnya. Hitam disamakan dengan kemah orang Kedar yang sederhana berarti mempelai perempuan hidup dalam kesederhanaan, kerendahan hati, dan kesetiaan tetapi dalam kesederhanaannya di situlah tampak keindahannya seperti tirai-tirai salma. Penggambaran ini menyimbolkan kehidupan umat percaya yang sederhana, rendah hati dan setia, namun berharga karena perbuatannya adalah indah dan benar dihadapan Allah. Pada Kidung Agung 2:16 kepunyaanku menjadi tanda bahwa gereja adalah orangorang yang sudah ditebus dan menjadi milik kepunyaan Kristus dan Kristus menjadi milik umat-Nya. Oleh sebab itu, karena gereja adalah milik Kristus, hidupnya harus berpadanan dengan Injil-Nya, hidup seturut kehendak-Nya yang telah menebus kita, karena kita telah dibeli dan harganya sudah dibayar lunas oleh darah-Nya yang mahal . Kor. Kidung Agung 6:9, frasa dialah satu-satunya merpatiku merujuk pada mempelai perempuan yang dicintai oleh mempelai lelakinya meskipun banyak perempuan lainnya namun kesetiaan terhadap pasangan tercermin dalam ayat ini. Meterai pada Kid. 8:6, melambangkan suatu tanda yang mengikat, komitmen, dan Ayat ini mengingatkan kita kepada Tuhan dan janjinya yang setia. Meterai adalah tanda umat-Nya sah menerima perjanjian yang dikaruniakan-Nya. Kita dimeteraikan oleh Roh Kudus menjadi milik Allah. Ia memberikan jaminan keselamatan dan keselamatan ini tidak dapat hilang karena Allah setia memegang umat pilihan-Nya. Allah juga telah memeteraikan kasih-nya dihati kita sehingga terus mengingatkan kita untuk setia kepadaNya. Frasa Au. kebun tertutup. Ay pada Kid. 4:12, melambangkan hati seorang beriman yang dijaga, disiapkan, dan dipersembahkan hanya untuk Tuhan. Kebun ini melambangkan hati yang kudus, suci dan indah, di mana relasi pribadi dengan Tuhan dapat berkembang. Melalui frasa tersebut, kitab Kidung Agung ingin mengatakan bahwa umat Allah adalah orang-orang yang saleh dan setia dalam menjaga hati dan relasi yang hanya ditujukan pada Allah. Cinta yang digambarkan seperti Aunyala apiAy (Kid. menunjukkan cinta yang tidak dapat digantikan oleh apa pun. Api ini adalah simbol kesetiaan, kasih abadi Tuhan yang membara kepada umat-Nya. Dalam hubungan spiritual kita dengan Allah, ayat ini menggambarkan kasih dan kesetiaan yang harus dipertahankan. Frasa Aukepunyaan kekasihku akuAy pada Kid. 7:10 menyatakan pengakuan dan komitmen kesetiaan dari seorang wanita yang mengakui dirinya sebagai milik pasangannya dan setia kepada pasangannya. 21 Pernyataan tersebut jika dihubungkan dengan pemahaman teologi Kristen dapat dimaknai sebagai simbolisme relasi gereja dengan Kristus sebagai Kepala Gereja. Frasa tersebut mengungkapkan pernyataan kesetiaan penuh gereja kepada Kristus. Hal ini berarti gereja mengidentikkan dirinya sebagai milik Kristus dan telah dipersatukan dengan Kristus melalui kematian dan kebangkitan-Nya. Kesetiaan cinta terhadap pasangan yang tidak dapat dinilai dengan harta seperti tertulis dalam Kid. 8:7. Ayat tersebut ingin menyatakan bahwa natur cinta sangat berharga dan tak Agus Santoso. Cinta Kuat seperti Maut: Tafsir Kitab Kidung Agung (Cianjur. Indonesia: Cipanas Press, 2. 21 Weldemina Yudit Tiwery. AuDesire of Love: Menafsir Kidung Agung 7:10-8:4,Ay Gema Teologi 39, 1 (April 2. : 1Ae14, https://journal-theo. id/index. php/gema/article/view/190. Diligentia Vol. No. September 2025 Page 162 terhingga harganya sehingga tidak dapat dibandingkan dengan harta kekayaan. 22 Cinta Kristus kepada gereja tidak bisa dipadamkan oleh apapun termasuk dengan harta kekayaan bahkan oleh cinta-Nya yang besar. Ia bersedia menderita, ditolak, bahkan mati bagi umat yang dikasihi-Nya. Ayat tersebut ingin menegaskan bahwa cinta tidak bisa dibeli dengan Ini mencerminkan bahwa keselamatan dan kasih Kristus bukan hasil usaha, perbuatan baik atau sumbangsih dari kekayaan manusia, tetapi murni anugerah Allah. Kitab Kidung Agung memberikan pemahaman yang positif dan luhur terhadap seksualitas dalam terang kehendak Allah. Kitab ini menegaskan bahwa relasi seksual bukanlah sesuatu yang tercela, tetapi merupakan bagian dari kasih yang murni dan dirancang oleh Allah, selama dijalani dalam bingkai kesetiaan dan komitmen. 23 Cinta yang ditampilkan dalam Kidung Agung bersifat eksklusif, terarah hanya kepada satu pribadi, dan penuh dengan kesetiaan serta keintiman yang suci. Tidak ada pengkhianatan, tidak ada perselingkuhan, hanya ada ketulusan dan komitmen yang utuh antara keduanya. Relasi yang diidealkan di dalamnya bukan cinta yang bebas dan tanpa batas, melainkan cinta yang memilih untuk terikat, menjaga kemurnian hubungan, serta menghormati batasan yang ditetapkan oleh Tuhan. Kidung Agung, dalam hal ini, tidak hanya merayakan keindahan cinta dan hasrat, tetapi juga mengajarkan pentingnya tanggung jawab dan integritas dalam menjalin hubungan. Kidung Agung menghadirkan suara yang meneguhkan pentingnya membangun cinta berdasarkan prinsip-prinsip ilahi yang menghormati martabat manusia dan rencana Allah. Kidung Agung mengulang pernyataan AuJangan Kamu Membangkitkan dan Menggerakkan Cinta Sebelum DiingininyaAy sebanyak tiga kali, yaitu di pasal 2:7, 3:5, dan 8:4. Pengulangan ini menunjukkan bahwa nasihat tersebut sangat penting dan tidak bisa Pesan ini mengingatkan bahwa cinta tidak boleh dipaksakan atau dijalani dengan tergesa-gesa. Baik dalam bentuk perasaan maupun tindakan fisik, cinta seharusnya muncul secara alami pada waktu yang tepat. Cinta adalah anugerah yang kudus dan berharga, sehingga perlu dijaga dan dihormati. 24 Bila cinta diekspresikan sebelum waktunya atau di luar kehendak Tuhan, hal itu dapat menimbulkan luka, dosa, bahkan merusak hubungan dengan sesama maupun dengan Tuhan sendiri. Oleh karena itu, ungkapan ini mengajarkan pentingnya kesabaran dan kesadaran moral dalam menjalin hubungan cinta, agar cinta benarbenar menjadi berkat, bukan sebaliknya. Seiring waktu berlalu, daya tarik fisik seseorang bisa memudar maka penampilan berubah, tubuh menua, dan mungkin tak lagi terlihat menarik. Namun, dalam situasi apa pun, kesetiaan tetap harus dijaga. Cinta sejati tidak boleh terbagi, melainkan hanya diberikan secara utuh kepada pasangan yang sah. Dalam Kidung Agung 2:16. 6:3. dan 7:10 terdapat ungkapan: AuKekasihku kepunyaanku, dan aku kepunyaan dia . Aku kepunyaan kekasihku, dan kepunyaanku kekasihku . Kepunyaan kekasihku aku, kepadaku gairahnya tertuju. Ay Jusuf Haries Kelelufna. AuBenarkah Cinta Kuat seperti Maut? Eksegesis Kidung Agung 8:6-7 dan Relevansinya,Ay Evangelikal: Jurnal Teologi Injili dan Pembinaan Warga Jemaat 5, no. 1 (January 2. 1Ae15, https://doi. org/10. 46445/ejti. 23 Prabowo. AuRagam Penafsiran Kitab Kidung Agung. Ay 24 Intan Falensia Sambeta. I Gede Agus Z. , and Ray Arnawijaya Riko. AuMakna Ungkapan AuJangan Kamu Membangkitkan dan Menggerakkan Cinta sebelum Diingininya (Kidung Agung 2: 7. Ay dan Implementasinya bagi Pasangan Pranikah,Ay Jurnal Iluminasi 2, no. 2 (October 2. : 15Ae25, https://doi. org/10. 71401/iluminasi. Diligentia Vol. No. September 2025 Page 163 Ketiga ayat ini menegaskan bahwa cinta yang sejati adalah hubungan yang saling memiliki dan saling menyerahkan diri. Daya tarik luar bisa memudar, tetapi cinta sejati tidak bertumpu pada hal-hal yang bisa hilang oleh waktu. Dalam hubungan yang sehat dan mendalam, yang terpenting bukanlah penampilan fisik, melainkan kesetiaan yang terus dijaga. Kesetiaan adalah fondasi yang kokoh dalam sebuah relasi, karena ia menunjukkan komitmen yang tak goyah, meski keadaan berubah. Menurut Laurin, ayat-ayat ini menggambarkan kesetiaan dan eksklusivitas dalam relasi antara pria dan wanita. Sedangkan Hess menambahkan bahwa ayat-ayat tersebut menunjukkan keseimbangan dalam hubungan, di mana masing-masing mengakui komitmen dan saling memiliki satu sama lain. 25 Kesetiaan bukan sekadar bertahan dalam hubungan, tetapi sebuah pilihan sadar untuk tetap mencintai dan menghargai pasangan, apa pun kondisi dan perubahan yang terjadi. Inilah cinta yang dewasa, cinta yang tidak goyah oleh waktu, tidak terpengaruh oleh rupa, tetapi terus bertumbuh di atas dasar komitmen dan kesetiaan yang kokoh. Dari dua pandangan ini dapat disimpulkan bahwa dalam cinta, dua hal yang sangat penting adalah kesetiaan dan komitmen yang tulus. Makna Spiritual dalam Kidung Agung Kidung Agung adalah kitab yang kaya dengan metafora yang menggambarkan cinta, kesetiaan, dan hubungan spiritual antara manusia dan Tuhan. Salah satu metafora kunci dalam kitab ini adalah Aumempelai pria dan mempelai wanita,Ay yang melambangkan hubungan antara Kristus sebagai mempelai pria dan gereja sebagai mempelai wanita. Metafora ini mengarahkan kita untuk memahami konteks kitab ini serta interpretasinya. Metafora cinta dan kesetiaan antara mempelai laki-laki dan mempelai perempuan, menunjukkan cinta kasih Kristus kepada gereja begitu pula sebaliknya. Melalui penggunaan metafora tergambar ketulusan dan kesetiaan yang tak tergoyahkan dari Allah kepada umatNya. Kitab ini mengajarkan bahwa hubungan spiritual dengan Tuhan bersifat intim dan penuh kasih, seperti hubungan pernikahan yang didasarkan pada cinta sejati. Metafora-metafora seperti anggur, kuda, minyak harum, mur, pohon dan buah apel, digunakan untuk mengekspresikan cinta dan relasi yang intim antara Kristus dan gereja. Hubungan tersebut adalah hubungan yang penuh kasih, kuat, dan mendalam. Tuhan tidak hanya dilihat sebagai Sang Pencipta dan Hakim, tetapi juga sebagai kekasih jiwa yang mendambakan relasi yang dekat dengan umat-Nya. Penggunaan berbagai metafora dalam kitab Kidung Agung memberi pemahaman kepada pembaca dan mendorongnya untuk merenungkan kedalaman kasih setia Tuhan. Melalui kitab ini kita juga diarahkan untuk merespons dengan cinta dan kesetiaan kita pada Allah. Kitab ini mengajarkan kepada kita bahwa kehidupan rohani berbicara tentang bagaimana kita membangun relasi yang intim dan penuh makna dengan Tuhan. Kidung agung bukan hanya sekadar kidung cinta namun lebih dari itu kita bisa menemukan makna teologis yang tersirat di dalamnya. Kitab ini merupakan gambaran kesatuan jiwa manusia dengan pasangannya dan kesatuan jiwa manusia dengan Allah dalam cinta kasih yang sempurna. Jika kita melihat kilas balik kehidupan manusia sejak semula diciptakan Allah di Taman Eden. Allah telah berfirman pada Kejadian 2: 24, bahwa suami dan istri adalah satu dalam ikatan pernikahan yang diberkati oleh Allah. Jika dikaitkan dengan Paulus Dimas Prabowo. AuKajian Didaktis mengenai Cinta Lelaki dan Wanita dalam Kidung Agung,Ay HUPERETES: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen 2, no. 1 (December 2. : 1Ae13, https://doi. org/10. 46817/huperetes. Diligentia Vol. No. September 2025 Page 164 Kidung agung terutama pada Kidung Agung 8:6-7, cinta kuat seperti maut, kitab ingin mengatakan bahwa cinta sejati itu begitu kuat dan dalam. Cinta adalah karunia Allah bagi manusia yang seharusnya dinikmati dalam hidup ini. Kitab ini memang membahas hal yang berhubungan dengan kondisi seksualitas manusia, tetapi dalam lingkup pernikahan kudus atas dasar saling mencintai. Kitab ini adalah perumpamaan yang mendeskripsikan kekayaan cinta manusia sebagai pemberian Allah, karena Allah mengasihi manusia. 27 Oleh sebab itu, dalam Kekristenan, seks merupakan salah satu cara untuk menikmati dan merayakan cinta kasih bersama pasangan dalam lingkup rumah tangga. Seks bukanlah suatu hal yang jahat namun dipandang baik dalam konteks pernikahan dan untuk dinikmati oleh suami dan istri. Seks dipakai Allah sebagai cara bagi manusia untuk memenuhi mandat budaya yang diperintahkan Allah yaitu, untuk beranak cucu dan memenuhi bumi (Kejadian 1:. Jadi. Allah mengaruniakan cinta kasih dalam diri manusia semata-mata untuk dipakai bagi kemuliaan nama Tuhan. Selain itu kitab ini juga mendeskripsikan cinta kasih Allah Tritunggal bagi umat pilihanNya yaitu melalui Kristus sebagai mempelai laki-laki. Dalam kilas balik sejarah manusia setelah kejatuhan dalam dosa, berita Injil pertama kali disebutkan dalam Kejadian 3:15 (Protoevangeliu. yaitu keturunan perempuan yang akan meremukkan kepala ular sehingga dapat memperdamaikan relasi antara umat pilihan Allah dengan Allah. Dalam Perjanjian Baru. Injil kabar baik ini digenapi melalui Yesus Kristus yang merupakan anak dara Maria (Matius 1: 21-. Kristus yang mengasihi gereja-Nya dan memberikan diri-Nya bagi gereja untuk menebus mereka dari perbudakan dosa (Efesus 5:. Secara lebih jelas bagi umat kristiani, kita memahami bahwa Kristus dilambangkan sebagai mempelai laki-laki dan gereja sebagai mempelai perempuan seperti dituliskan dalam kitab Kidung Agung. Kristus sendiri mengatakan bahwa Ia adalah mempelai laki-laki itu (Matius 9:. Gereja adalah mempelai perempuan yang senantiasa berharap dan merindukan kedatangan mempelai laki-laki yaitu Kristus seperti digambarkan dalam Kidung Agung 3, 5. Penantian gereja terhadap kedatangan Kristus yang kedua kalinya pada akhirnya akan digenapi pada kesudahan zaman, pada saat itu mempelai perempuan bertemu dan bertatap muka dengan mempelai laki-laki seperti digambarkan dalam Kidung agung 5-6 dan mereka saling memuji satu sama lain. Pada saat itu Gereja memuji keagungan Kristus dan pekerjaan tangan-Nya yang besar dan ajaib dan Kristus akan memuji keindahan mempelai perempuan yaitu gereja-Nya, karena perbuatan benar, kekudusan dan kesetiaannya (Yesaya 62:5 & Wahyu 19:7-. Oleh sebab itu, kita akan berbahagia bahkan lebih bahagia daripada Salomo (Kidung agung 8:11 &. hanya jika, ikut berbagian di dalam Kristus dalam kematian dan kebangkitannya atas dosa. Kesimpulan Kidung Agung adalah kitab yang menyampaikan banyak pesan-pesan spiritual yang mendalam melalui cara yang indah, memiliki estetika, dan penuh makna melalui penggunaan metafora dan simbol. Kitab Kidung Agung ditulis sebagai puisi cinta antara mempelai pria dan wanita, selain itu memiliki makna yang lebih mendalam yaitu relasi Kristus dengan Art Semuel Thomas and Agus Santoso. Kekasihku Kepunyaanku, dan Aku Kepunyaan Dia: Kidung Agung sebagai Kumpulan Lagu Cinta (Yogyakarta. Indonesia: WR Publishing, 2. 27 William Sanford LaSor. David Allan Hubbard, and Frederic William Bush. Pengantar Perjanjian Lama 2: Sastra dan Nubuat, trans. Lisda T. Gamadhi and Lily W. Tjiputra (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1. Diligentia Vol. No. September 2025 Page 165 Cinta kasih Kristus kepada gereja-Nya adalah cinta yang benar-benar tulus dan tidak pernah berubah. Ini mengajarkan kita untuk memprioritaskan relasi dan kasih kepada Tuhan dalam hidup ini. Kita bisa menunjukkan kasih kita dengan berdoa, beribadah, dan hidup seturut kehendak-Nya dalam kehidupan sehari-hari kita. Kidung Agung memberi kita contoh kesetiaan yang nyata bahwa Tuhan selalu setia pada janji-Nya. Oleh sebab itu, kita dipanggil untuk meneladani hal ini dalam hidup kita. Kita bisa menunjukkan kesetiaan kita kepada-Nya dengan menjaga iman percaya kita melalui disiplin rohani yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Ketika kita menghadapi berbagai masalah dan pergumulan hidup kita juga harus tetap setia, taat, dan percaya bahwa Tuhan tetap bekerja untuk menolong kita. Dalam kitab ini, simbol-simbol seperti api, materai dan kebun tertutup menunjukkan kesetiaan dan keindahan hidup orang-orang yang dekat dengan Tuhan. Relasi yang intim dengan Tuhan tidak hanya membawa kebahagiaan tetapi juga kedamaian hati. Dengan membaca firman Tuhan, meluangkan waktu untuk berefleksi, atau berbagi kasih dengan orang lain, kita dapat merasakan damai dan sukacita. Jika kita menjalani hidup yang dekat dengan Tuhan, hati kita akan lebih tenang meskipun kita diterpa berbagai pergumulan hidup. Kitab ini juga menggambarkan bahwa cinta sejati tidak mengharapkan imbalan, adanya ketulusan, pengorbanan dan kasih setia. Mengasihi teman, keluarga, dan sesama tanpa pamrih adalah salah satu cara kita untuk menerapkan Firman Tuhan dalam kehidupan kita. Kita menyadari bahwa telah terlebih dahulu menerima kasih dari Kristus sehingga kita pun juga mampu mengasihi sesama dengan ketulusan. Dengan mengasihi Tuhan dan sesama, kita dapat menjalani hidup yang penuh cinta, damai sejahtera, dan sukacita. Soli Deo Gloria. Diligentia Vol. No. September 2025 Page 166 Daftar Pustaka