Efektor. Volume 12 Issue 1, 2025, page 128-136 Available online at: https://ojs. id/index. php/efektor-e DOI: https://doi. org/10. 29407/e. Pembelajaran Berdiferensiasi Sebagai Teori dan Praktiknya di Ruang Kelas: Studi Kasus di SDN Burengan 2 Differentiated Instruction As Theory And Its Practice In The Classroom: Case Study At SDN Burengan 2 Karimatus Saidah1*. Dwi Muhammad Nurfianto2. Nurita Primasatya3. Kharisma Eka Putri4 karimatus@unpkediri. id1, dwimuhammadnurfianto@gmail. com2, nuritaprima@unpkediri. kharismaputri@unpkediri. Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar. Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan. Universitas Nusantara PGRI Kediri. Kediri. Indonesia1,2,3,4 Diunggah: 18/04/2025 Direvisi: 11/05/2025. Diterima: 13/05/2025. Terbit: 24/05/2025 Abstract Differentiated instruction is learning that allows teachers to facilitate the diversity of students' needs. Differentiated instruction in elementary schools is one of the forms of implementing the Merdeka curriculum. SDN Burengan 2 is one of the pioneering schools that has implemented the Merdeka curriculum for the first time compared to other schools in Kediri. Experience Teachers have received various training on the curriculum and especially Differentiated instruction and applied it in classroom learning This study aims to determine the theory and practice of Differentiated instruction at SDN Burengan 2 Kediri and. The research method used is qualitative research with a case study design. The results of this study indicate that there are three aspects in the implementation of Differentiated instruction including aspects of learning planning based on learning readiness, interests and student learning profiles, implementation of learning based on content differentiation, processes and products and evaluation of learning based on diagnostics, formative and summative. The implementation of learning at SDN Burengan 2 Kediri shows that there is harmony between planning, practice and evaluation of learning. And shows the practice of Differentiated instruction that is quite diverse between class levels. The conclusion of this study is that there is harmony between the theory and implementation of Differentiated instruction at SDN Burengan 2 Kediri. Keywords: best practice, differentiated, elementary education Abstrak Pembelajaran berdiferensiasi merupakan pembelajaran yang memungkinkan guru untuk memfasilitasi keragaman kebutuhan belajar siswa. Pembelajaran berdiferensiasi di Sekolah dasar adalah salah satu dari wujud implementasi kurikulum merdeka. SDN burengan 2 merupakan salah satu sekolah penggerak yang telah mengimplementasikan kurikulum merdeka pertama kali dibandingkan dengan sekolah lainnya di Kediri. Pengalaman Guru-guru telah mendapatkan berbagai pelatihan tentang kurikulum dan khususnya pembelajaran berdiferensiasi dan menerapkannya dalam pembelajaran di kelas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Teori dan praktik pembelajaran berdiferensiasi di SDB Burengan 2 Kediri dan. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif dengan desain studi kasus. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat tiga aspek dalam pelaksanaan pembelajaran berdiferensiasi diantaranya adalah aspek perencanaan pembelajaran berbasis kesiapan belajar, minat dan profil belajar siswa, implementasi pembelajaran berbasis diferensiasi konten, proses dan produk serta evaluasi pembelajaran berbasis diagnostik, formatif dan sumatif. Implementasi pembelajaran di SDN burengan 2 kediri menunjukkan adanya keselarasan antara perencanaan, praktik dan evaluasi pembelajaran. Serta menunjukkan praktik pembelajaran berdiferensiasi yang cukup beragam antar jenjang kelas. Kesimpulan dari penelitian ini adalah terdapat keselarasan antara teori dan impelementasi pembelajaran berdiferensiasi di SDN Burengan 2 Kediri. Kata kunci: diferensiasi, pendidikan dasar, praktik baik *Penulis Korespondensi: Karimatus Saidah PENDAHULUAN Idealnya guru tidak menggunakan satu ukuran untuk semua siswa, tetapi membuat setting pembelajaran yang berbeda sehingga siswa belajar sesuai dengan kebutuhan individu masing masing . an Geel et al. , 2. Hal tersebut disitilahkan dengan pembelajaran berdiferensiasi. Pembelajaran berdiferensiasi merupakan pendekatan pembelajaran yang secara memungkinkan guru untuk aktif guru untuk menyesuaikan kurikulum, cara mengajar, sumber daya, kegiatan belajar dan hasil belajar untuk menyesuaikan dengan kepentingan belajar siswa (Deunk et al. , 2. Menurut Tomlinson & This is an open access article under the CC BY-SA License. Efektor. Volume 12 Issue 1, 2025, page 128-136 Karimatus Saidah. Dwi Muhammad Nurfianto. Nurita Primasatya. Kharisma Eka Putri Imbeau . kelas yang melaksanakan diferensiasi dapat menyajikan cara yang bervariasi dalam rangka memperoleh pengetahuan memahami ide-ide dan mengembangkan karya sehingga siswa dapat belajar dengan baik. Dalam menyiapkan pembelajaran berdiferensiasi guru harus mempertimbangkan kesiapan belajar siswa. Kesiapan belajar berkaitan dengan level pengetahuan siswa, dan keterampilan belajar. Di samping itu minat siswa juga akan meningkatkan rasa penasaran siswa untuk belajar lebih jauh sesuai dengan apa yang mereka minati. Pembelajaran berdiferensiasi membantu memetakan kebutuhan belajar dengan menghargai perbedaan level kemampuan siswa yang terdapat dikelas (Tanjung & Ashadi, 2. Selanjutnya profil belajar siswa merupakan bagian tentang bagaimana cara terbaik siswa untuk belajar (Ibrahim Magableh & Abdullah, 2. Tomlinson, . menyatakan ada tiga bentuk diferensiasi pembelajaran dalam hal ini adalah diferensiasi isi, diferensiasi proses dan diferensiasi produk. Diferensiasi isi dapat dilakukan dengan memberikan materi yang berbeda beda bagi masing masing siswa berdasarkan preferensi Kedua adalah diferensiasi proses, guru dapat mengembangkan proses pembelajaran dengan menerapkan variasi pembelajaran. Variasi pembelajaran dalam hal ini adalah dengan cara mendiferensiasi aktivitas belajar siswa di kelas. Ketiga dengan cara diferensiasi produk, yaitu dengan memberikan projek yang berbeda beda masing masing siswa atau kelompok siswa sehingga menghasilkan produk pembelajaran yang berbeda pula. Pemerintah melalui kemendikbud menerbitkan naskah akademik tentang panduan pelaksanaan pembelajaran berdiferensiasi di Indonesia. Pembelajaran berdiferensiasi dapat di lakukan dengan melakukan diferensiasi proses, produk, isi serta lingkungan belajar. Contoh dari pembelajaran berdiferensiasi konten adalah . menyajikan variasi konten materi. membuat kesepakatan belajar. memfasilitasi pembelajaran skala kecil. menyampaikan materi dengan beragam moda pembelajaran. memfasilitasi dengan beragam sistem yang mendukung. Kegiatan pembelajaran dengan diferensiasi proses yaitu dengan menyesuaikan dengan kesiapan, minat dan profil belajar siswa, contohnya dengan menggunakan ThinkAePairAeShare. Tugas dengan menggunakan RAFT (Role Audience Format Topi. sesuai minat siswa, tutor sebaya sesuai dengan gaya belajar dan sebagainya. Selanjutnya diferensiasi produk yaitu dengan membeda-bedakan produk yang dapat di hasilkan oleh siswa, misalnya guru dapat menentukan topik tertentu lalu guru dapat menjelaskan apa saja produk yang dapat di buat oleh siswa. Dan yang terakhir adalah diferensiasi lingkungan belajar meliputi komposisi kelas secara individu, sosial dan fisik, guru dapat menyiapkan tempat duduk yang dikategorikan berdasarkan minat, kesiapan dan profil belajar siswa yang telah diidentifikasi guru sebelumnya (Purba et al. , 2. Hasil penelitian Yavuz . yang menunjukkan bahwa pembelajaran yang didiferensiasi merupakan sebuah pembelajaran yang menarik, menyenangkan,instruktif dan berkaitan dengan minat siswa khususnya pada pembelajaran Bahasa. Implementasi pembelajaran berdiferensiasi juga terbukti dapat mereduksi perbedaan yang terdapat di kelas (Magableh & Abdullah, 2. Pembelajaran berdiferensiasi telah dipraktikkan dalam berbagai konteks dengan jenis siswa yang berbeda di seluruh dunia, dalam berbagai mata pelajaran akademik seperti bahasa, matematika, dan sains (Kamarulzaman et al. , 2. Namun kenyataannya Implementasi pembelajaran berdiferensiasi di lapangan menemui berbagai tantangan. Penelitian Bondie dkk. menunjukkan bahwa tantangan yang di hadapi dalam implementasi pembelajaran berdiferensiasi diantaranya adalah adalah dukungan dari pihak terkait , umpan balik,pengembangan professional yang berkelanjutan, efikasi diri, waktu, praktik, manajemen perpindahan siswa, tantangan dalam kesetaraan siswa. Temuan Whitley dkk . menunjukkan terjadi kesalah pahaman yang dialami guru bahwa Implementasi pembelajaran berdiferensiasi hanya di peruntukkan bagi siswa dengan pengecualian tertentu atau mereka yang sedang berjuang dalam pembelajarannya. Guru memahami bahwa diferensiasi pembelajaran adalah cara untuk membuat materi dan tugas lebih mudah bagi siswa, sehingga di anggap membodohi atau menurunkan standar ekspektasi. Moosa & Shareefa . menyatakan secara konseptual diferensiasi pembelajaran memiliki konsep yang cukup komplek dan sulit untuk diadopsi, selain itu https://ojs. id/index. php/efektor-e Vol 12 No 1 Tahun 2025 Efektor. Volume 12 Issue 1, 2025, page 128-136 Karimatus Saidah. Dwi Muhammad Nurfianto. Nurita Primasatya. Kharisma Eka Putri diferensiasi pembelajaran juga dipengaruhi oleh persepsi guru, serta pada beberapa penelitian kondisi demografi juga berpengaruh terhadap diferensiasi pembelajaran. Pengetahuan guru tentang diferensiasi pembelajaran mempengaruhi strategi mereka dalam mengimplementasikan strategi diferensiasi pembelajaran. Di Indonesia pembelajaran berdiferensiasi diperkenalkan sebagai inovasi pembelajaran untuk mewadahi keberagaman karakteristik siswa. Guru khususnya ditingkat sekolah dasar dituntut untuk mengadaptasi pembelajaran berdiferensiasi di kelas. Adaptasi tersebut mulai dari perencanaan, implementasi hingga evaluasi pembelajaran berdiferensiasi. Guru memiliki persepsi yang beragam terkait bagaimana implementasi pembelajaran berdiferensiasi di kelas. Hal ini juga berpengaruh terhadap bagaimana guru mengimplementasikannya di dalam kelas. SDN Burengan 2 merupakan salah satu sekolah yang telah melaksanakan pembelajaran berdiferensiasi sejak diberlakukannya kurikulum operasional sekolah penggerak hingga diberlakukan kurikulum merdeka. Adaptasi terhadap strategi pembelajaran berdiferensiasi telah dilakukan dengan menjadikannya sebagai strategi wajib yang diterapkan oleh guru di setiap kelas. Artikel ini bertujuan untuk mengetahui teori pembelajaran berdiferensiasi dan membandingkannya dengan bagaimana guru merencanakan, mengimplementasikan serta mengevaluasi pembelajaran berdiferensiasi sesuai dengan kebutuhan dan karakteristik sekolah. METODE PENELITIAN Penelitian dilaksanakan dengan tujuan untuk mengungkap fenomena antara teori dan implementasi pembelajaran berdiferensiasi di sekolah dasar. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif merupakan pendekatan penelitian dalam ilmu sosial yang memanfaatkan paradigma alamiah, berdasarkan teori fenomenologis . an sejenisny. untuk meneliti masalah sosial dalam sebuah wilayah dari segi latar dan cara pandang obyek yang diteliti secara holistik (Creswell. Desain penelitian yang digunakan adalah studi kasus. Studi kasus dilakukan untuk mengungkap permasalahan unik yang terjadi di suatu tempat. Studi kasus pada penelitian ini dilaksanakan di SDN Burengan 2, karena SDN Burengan 2 merupakan sekolah angkatan pertama yang menerapkan model pembelajaran berdiferensiasi. Subjek penelitian ini adalah kepala sekolah, guru dan siswa. Guru dan siswa yang dipilih adalah kelas satu, dua, empat dan lima. Pemilihan tersebut berdasarkan tingkat lamanya penerapan pembelajaran berdiferensiasi dikelas yaitu lebih dari dua tahun. Disamping itu guru yang mengajar di kelas tersebut juga telah mendapatkan pelatihan implementasi pembelajaran berdiferensiasi sebelumnya. Berdasarkan kriteria tersebut maka penelitian dilakukan di kelas 1a, 2b, 4a dan 5a. Instrumen pengumpulan data merupakan alat yang digunakan dalam proses pengumpulan Pada penelitian kualitatif, instrumen pengumpulan data merupakan peneliti itu sendiri, karena peneliti yang mengembangkan dan mengeksplorasi masalah dan objek penelitian dengan menggunakan berbagai Teknik. Pada proses pengambilan data penelitian, peneliti menggunakan alat bantu yaitu pedoman observasi, pedoman wawancara dan handphone serta alat elektronik lain yang digunakan untuk mendokumentasikan kegiatan. Pedoman observasi digunakan untuk mendapatkan data yang berkaitan dengan pelaksanaan pembelajaran berdiferensiasi di kelas. Pedoman wawancara digunakan untuk mendapatkan data yang berkaitan dengan bagaimana guru merencanakan pembelajaran berdiferensiasi, melaksanakan dan mengevaluasi pembelajaran berdiferensiasi. Pedoman wawancara untuk kepala sekolah digunakan untuk mendapatkan data yang berkaitan dengan kesepakatan dan kebijakan sekolah untuk melaksanakan pembelajaran berdiferensiasi. Sedangkan dokuentasi digunakan untuk mendokumentasikan draft rencana pembelajaran dan draft ahsil evaluasi pembelajaran. Penelitian ini mengadaptasi teknik analisis data yang dikemukakan oleh Miles dkk. yang terdiri dari kondensasi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Kondensasi data merupakan proses penyaringan data yang digunakan untuk memilah data yang dibutuhkan dan https://ojs. id/index. php/efektor-e Vol 12 No 1 Tahun 2025 Efektor. Volume 12 Issue 1, 2025, page 128-136 Karimatus Saidah. Dwi Muhammad Nurfianto. Nurita Primasatya. Kharisma Eka Putri relevan dengan yang tidak. Selanjutnya pada tahap penyajian data, data yang disajikan berupa deskripsi teori pembelajaran berdiferensiasi menurut Tomlinson . , dokumen rencana pelaksanaan pembelajaran yang di susun oleh guru, deskripsi pembelajaran yang berdifirensiasi maupun tidak yang telah dilaksanakan oleh guru, deskripsi hasil wawancara tentang kebijakan pembelajaran berdiferensiasi yang dilaksanakan di sekolah. Tahap akhir analisis data yaitu tahap penarikan kesimpulan. Penarikan kesimpulan dalam penelitian ini berkaitan penyajian teori pembelajaran berdiferensiasi oleh Tomlinson . yang kemudian dibandingkan dengan pemahaman guru tentang konsep pembelajaran berdiferensiasi yang dilihat dari hasil wawancara dan rencana pelaksanaan pembelajaran yang telah disusun. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Teori Pembelajaran Berdiferensiasi Pembelajaran berdiferensiasi merupakan kegiatan guru dalam memvariasikan model, metode, sumber belajar maupun hasil karya siswa untuk menyesuaikan dengan berbagai kebutuhan belajar siswa dan kelompok siswa untuk memberikan kesempatan belajar yang maksimal (Tomlinson. Kerangka pembelajaran berdiferensiasi terdiri dari aspek perencanaan, pelaksanaan dan Perencanaan pembelajaran berdiferensiasi dimulai dari pertimbangan implementasi. Pembelajaran berdiferensiasi dilaksanakan dengan tiga pertimbangan utama. Pertama diferensiasi berdasarkan kesiapan belajar. Diferensiasi pembelajaran sesuai dengan kesiapan belajar siswa harus mempertimbangkan beberapa hal berikut yaitu pertama menyajikan materi dan aktivitas belajar dari yang bersifat fondasional menuju transformasional. Selanjutnya menyajikan materi dari yang bersifat konkret menuju materi yang bersifat abstrak. Siswa perlu belajar dari hal yang familiar bagi mereka sebelum menuju materi yang lebih abstrak, menyajikan pembelajaran dari yang bersifat simpel ke pembelajaran yang bersifat kompleks, dari satu sisi ke beberapa sisi,dari lompatan kecil ke lompatan besar,dari sangat terstruktur menjadi lebih terbuka, dari ketergantungan menuju lebih independent, serta dari lambat menjadi lebih cepat (Tomlinson, 2. Kesiapan belajar siswa memandu guru untuk mengevaluasi pengetahuan dan keterampilan siswa serta mengadaptasi strategi pembelajaran yang sesuai (Stollman et al. , 2. Kedua diferensiasi berdasarkan minat siswa. Tujuan dari pembedaan berdasarkan minat siswa yaitu untuk membantu siswa menyadari bahwaa ada kesesuaian antara sekolah dan minat pribadi untuk dipelajari, menunjukkan keterhubungan dalam semua pembelajaran, menggunakan keterampilan maupun ide yang dekat dengan siswasebagai jembatan untuk ide atau keterampilan yang belum familiar bagi siswa. Serta meningkatkan motivasi siswa untuk belajar (Tomlinson, 2. Ketiga diferensiasi berdasarkan profil belajar siswa. Profil belajar siswa dapat dikaitkan dengan preferensi kecerdasan, gaya belajar, budaya dan perbedaan gender. Preferensi kecerdasan biasanya dikaitkan dengan gaya berfikir siswa seperti analitis, prakris dan kreatif. Gaya belajar berhubungan dengan bagaimana siswa belajar seperti visual, auditori dan kinestetik (Tomlinson et al. , 2. Selanjutnya imeplementasi pembelajaran berdiferensiasi fokus pada diferensiasi konten, proses dan produk. Diferensiasi konten dimaksudkan sebagai penyusunan materi yang variasinya dibedakan sesuai dengan pengelompokan siswa berdasarkan pertimbangan tertentu. Selain itu konten dapat dibedakan dengan menggunakan kegiatan pengelompokan kooperatif dan memberikan peran yang berbeda kepada siswa berdasarkan karakteristik belajar (Landrum & McDuffie, 2. Diferensiasi proses berkaitan dengan pembedaan kegiatan pembelajaran, baik berdasarkan minat, profil belajar maupun kesiapan belajar siswa. Diferensiasi proses dapat di lakukan dengan tiga pertimbangan sekaligus yaitu minat, kesiapan dan profil belajar siswa (Tomlinson, 2. Sedangkan diferensiasi produk adalah membedakan hasil belajar siswa sesuai dengan preferensi masing-masing Guru dapat membedakan produk dengan memberi siswa pilihan saat praktik, untuk memilih mode ekspresi mereka sendiri untuk mendemonstrasikan apa yang telah mereka pelajari. (Sally M. Reis & Joseph S. Renzulli, 2. https://ojs. id/index. php/efektor-e Vol 12 No 1 Tahun 2025 Efektor. Volume 12 Issue 1, 2025, page 128-136 Karimatus Saidah. Dwi Muhammad Nurfianto. Nurita Primasatya. Kharisma Eka Putri Terakhir implementasi pembelajaran berdiferensiasi akan diukur melalui evaluasi. Evaluasi dalam pembelajaran berdiferensiasi terdiri dari tiga aspek yaitu asesmen diagnostik, asesmen formatif dan asesmen sumatif (Tomlinson, 2. Asesmen diagnostik dimaksudkan untuk mengetahui mengetahui sejauh mana pengetahuan awal siswa terhadap materi yang akan di ajarkan di kelas serta mengukur sejauh mana kesiapan siswa untuk belajar di kelas, bukan untuk mengukur tingkat kecerdasan siswa (Purba et al. , 2. Asesmen formatif merupakan asesmen yang dilakukan untuk menilai proses pembelajaran. Penilaian formatif jarang digunakan untuk memberikan penilaian akhir siswa tetapi dapat untuk memberikan umpan balik yang jelas dan penting yang membantu siswa menentukan langkah selanjutnya dalam pembelajaran (Tomlinson et al. , 2. Terakhir asesmen Asesmen ini digunakan untuk memberikan penilaian akhir atau menentukan kesuksesan pencapaian tujuan pembelajaran. Dalam asesmen sumatif perlu disertakan umpan balik yang jelas dan dapat ditindaklanjuti untuk membantu siswa memahami cara melanjutkan pembelajaran (Carol A. Tomlinson & Tonya R. Moon, 2. Implementasi pembelajaran berdiferensiasi di SDN Burengan 2 Perencanaan pembelajaran berdiferensiasi Perencanaan pembelajaran dalam pembelajaran berdiferensiasi dilakukan berbasis pada hasil asesmen diagnostik. Hasil asesmen digunakan untuk menentukan bagaimana bentuk diferensiasi pembelajaran yang akan diterapkan dikelas. Berikut merupakan rangkuman hasil wawancara terkait bagaimana guru menyusun rencana pembelajaran di SDN Burengan 2. Tabel. 1 Hasil Wawancara Perencanaan Pembelajaran Guru kelas Kelas 1 Kelas 2 Kelas 4 Kelas 5 Bentuk Rencana Pembelajaran Guru menyusun rencana pembelajaran berdasarkan hasil asesmen diagnostik kognitif untuk mengetahui kesiapan belajar siswa, dalam merencanakan pembelajaran guru memilih diferensiasi proses dan merencanakan untuk memanfaatkan alat peraga dan Pola pembelajaran yang direncanakan guru yaitu dengan menjelaskan secara global kemudian memberikan pendampingan khusus pada siswa yang memiliki kesiapan belajar rendah Guru menyusun rencana pembelajaran berdasarkan hasil asesmen diagnostik non kognitif yang bertujuan untuk mengetahui gaya belajar siswa. Selanjutnya penyusunan rencana pembelajaran disesuaikan dengan gaya belajar siswa yang telah diketahui. Guru merencanakan pembelajaran dalam bentuk diferensiasi produk dan memilih untuk menggunakan media ajar berupa benda konkret dan berbantuan teknologi. Guru merancang rencana pembelajaran berdasarkan hasil asesmen diagnostik non kognitif untuk menentukan gaya belajar siswa. Guru merencanakan pembelajaran dengan mendiferensiasi produk Guru merancang rencana pembelajaran dengan melakukan pemetaan gaya belajar dan kesiapan belajar terlebih dahulu, namun pada pelaksanaannya guru menggunakan pertimbangan kesiapan belajar siswa sebagai dasar diferensiasi. Akan tetapi pada langkah langkah belajar yang disusun juga dibuat dengan pertimbangan gaya belajar siswa. Bentuk diferensiasi yang digunakan yaitu diferensiasi proses. Pelaksanaan pembelajaran berdiferensiasi Data terkait implementasi pembelajaran berdiferensiasi diambil berdasarkan hasil pengamatan saat guru mempraktikkan pembelajaran berdiferensiasi dikelas. SDN Burengan dua merupakan sekolah yang memiliki kelas paralel. Pengamatan ini dilakukan di salah satu kelas saja. Adapun hasil pengamatan pembelajaran berdiferensiasi yaitu sebagai tabel 2. https://ojs. id/index. php/efektor-e Vol 12 No 1 Tahun 2025 Efektor. Volume 12 Issue 1, 2025, page 128-136 Karimatus Saidah. Dwi Muhammad Nurfianto. Nurita Primasatya. Kharisma Eka Putri Tabel. 2 Hasil pengamatan pembelajaran berdiferensiasi Guru kelas Kelas 1A Kelas 2B Kelas 4A Kelas 5A Bentuk Rencana Pembelajaran Pelaksanaan pembelajaran dikelas satu menggunakan dasar kesiapan belajar siswa. Materi yang diajarkan adalah pola bangun datar. Siswa dengan tingkat kesiapan tinggi menyusun beberapa bangun datar menjadi sebuah pola bangunan rumah, sementara siswa dengan tingkat kesiapan sedang diajak untuk membuat pola bentuk bangun datar. Di sisi lain, siswa dengan tingkat kesiapan rendah diajak untuk memotong gambar bangun datar yang telah diberi pola. Guru memberikan soal tes untuk mengevaluasi keberhasilan siswa. Guru melaksanakan pembelajaran berdasarkan gaya belajar. Materi yang diajarkan saat pengamatan adalah pendidikan pancasila. Siswa kelompok visual memperhatikan materi melalui media powerpoint, siswa kelompok auditori diminta untuk bernyanyi dengan dibantu media dalam bentuk lagu Aupenerapan nilai-nilai pancasilaAy dan terakhir siswa kinestetik melakukan permainan melalui papan penerapan nilai-nilai pancasila. Guru mempraktikkan pembelajaran IPAS tentang materi transformasi energi. Kegiatan pembelajaran dilaksanakan berdasarkan gaya belajar siswa. Kelompok kinestetik bertugas menyusun puzzle perubahan bentuk energi dan mencatat informasi didalamnya. Kelompok auditori bertugas mendengarkan informasi dari smartphone yang telah disiapkan oleh guru dan menceritakan informasi tersebut. Terakhir kelompok visual bertugas mengamati gambar dan mencatat informasi tentang perubahan bentuk energi dari informasi tersebut. Guru mendampingi siswa dan memfasilitasi siswa untuk mempresentasikan hasil kerjanya di depan kelas Pada saat observasi guru mempraktikkan pembelajaran berdiferensiasi pada pembelajaran Guru mendiferensiasi pembelajaran dengan meminta siswa untuk membuat soal dan menyiapkan jawabannya. Selanjutnya siswa diminta untuk menuliskan soal di papan tulis. Setelah limabelas siswa menulis soal, guru meminta siswa memilih 10 soal untuk dikerjakan secara mandiri dan selanjutnya guru mendampingi siswa untuk mengerjakan dan membahas soal. Selanjutnya guru melakukan refleksi dengan memberikan penguatan materi Evaluasi pembelajaran berdiferensiasi Evaluasi pembelajaran berdiferensiasi didapatkan dari hasil wawancara. Dan dokumentasi rencana pembelajaran Hasil wawancara dari kelas satu menunjukkan bahwa soal evaluasi didiferensiasi yaitu dengan membedakantingkat kesulitan soal. Hasil wawancara guru kelas dua menunjukkan bahwa evaluasi kognitif tidak didiferensiasi, namun untuk evaluasi keterampilan didiferensiasi tergantung dari hasil karya yang dibuat oleh siswa. Hasil wawancara guru kelas empat menunjukkan bahwa sistem evaluasi tertulis dan tidak didiferensiasi. Hasil wawancara pada guru kelas lima menunjukkan bahwa bentuk evaluasi tidak didiferensiasi. Hasil analisis dokumen rencana pelaksanaan pembelajaran menunjukkan bahwa dokumen yang disusun oleh guru disemua tingkatan lengkap berisi asesmen diagnostik, langkah-langkah pembelajaran yang didiferensiasi, bentuk evaluasi formatif dan sumatif beserta lampirannya. Pembahasan Berdasarkan hasil penelitian yang telah dipaparkan menunjukkan bahwa penentuan diferensiasi pembelajaran didasarkan pada kesiapan belajar dan gaya belajar. Kesiapan belajar dipilih oleh guru kelas satu dan kelas empat. Sedangkan gaya belajar dipilih oleh guru kelas dua dan guru kelas V. Menurut teori yang dikemukakan oleh Tomlinson . pertimbangan berdasarkan kesiapan belajar harus memenuhi aspek dari sederhana ke kompleks, seperti penyajian materi yangs sederhana ke hal yang lebih rumit jika diferensiasi konten, penyajian aktivitas dari fondasional ke aktivitas yang lebih transformasional serta dari kegiatan yang tebimbing menuju kegiatan yang lebih independen pada bentuk diferensiasi proses dan hasil. Diferensiasi berdasarkan kesiapan belajar yang dilakukan di SDN Burengan 2 menunjukkan adanya keselarasan antara perencanaan dan Penyajian aktivitas belajar telah memenuhi prinsip diferensiasi. Aktivitas pembelajaran yang menunjukkan pola dari sederhana ke kompleks belum teramati dalam proses pembelajaran yang dilaksanakan oleh guru. Namun terlihat adanyanya pendampingan yang berbeda bagi siswa yang slow learner dan siswa yang telah dianggap siap untuk belajar. https://ojs. id/index. php/efektor-e Vol 12 No 1 Tahun 2025 Efektor. Volume 12 Issue 1, 2025, page 128-136 Karimatus Saidah. Dwi Muhammad Nurfianto. Nurita Primasatya. Kharisma Eka Putri Penentuan diferensiasi pembelajaran sesuai dengan gaya belajar siswa merupakan salah satu preferensi dari profil belajar siswa. Hasil wawancara menunjukkan pemilihan gaya belajar dalam hal pertimbangan pembelajaran berdiferensiasi dilakukan karena jika berdasarkan kesiapan belajar siswa dirasa akan mengklasifikasikan siswa kedalam stratifikasi yang berbeda. Sehingga akan timbul ketidaknyamanan di dalam kelas. Diferensiasi berdasarkan gaya belajar menunjukkan adanya keselarasan antara perencanaan dan implementasinya dalam pembelajaran yang dilaksanakan oleh guru dikelas. Teori gaya belajar mengacu pada preferensi individu yang terkait dengan kategori seperti lingkungan, emosi, interaksi, dan kebutuhan fisik, yang menunjukkan bahwa faktor-faktor seperti cahaya, suhu, pengaturan tempat duduk, permintaan konsentrasi, tingkat mobilitas pelajar, waktu, dan mode persepsi memengaruhi pembelajaran. Pertimbangan guru dalam memilih gaya belajar berdasarkan pertimbangan teknis yang mengacu pada pengalaman dalam mengajar (Tomlinson et , 2. Hasil penelirian (Godor, 2. menunjukkan bahwa preferensi diferensiasi pembelajaran memberikan wawasan tentang apa yang guru pilih untuk difokuskan dalam diferensiasi mereka, serta apa yang tidak boleh guru tekankan. Hasil penelitian (Nurlatifah & Munandar, 2. menunjukkan bahwa implementasi pembelajaran berdiferensiasi sesuai dengan gaya belajar siswa, mampu memberikan dampak positif dalam proses pembelajaran. Siswa menjadi lebih bersemangat dalam melakukan eksplorasi materi karena sesuai dengan gaya belajarnya sehingga pembelajaran dapat lebih bermakna. Pertimbangan pemilihan bentuk diferensiasi pembelajaran yang dilakukan oleh guru di SDN burengan yaitu diferensiasi proses dan produk. Pertimbangan bentuk diferensiasi didasarkan pada jenis materi yang diajarkan kepada siswa. Diferensiasi konten tidak menjadi pilihan oleh guru. Hal ini dapat disebabkan karena terdapat tujuan materi yang harus dicapai dalam kurun waktu tertentu dan mencapai topik tertentu, sehingga diferensiasi konten dapat dianggap kurang efisien untuk diterapkan dalam pembelajaran. Pada pembelajaran berdiferensiasi berdasarkan kesiapan belajar guru cenderung mengimplementasikannya dalam bentuk diferensiasi proses pembelajaran, sedangkan pada guru yang menentukan diferensiasi pembelajaran berdasarkan gaya belajar cenderung mendiferensiasi pembelajaran dalam bentuk diferensiasi produk pembelajaran. Diferensiasi pembelajaran mengacu pada . materi yang perlu dipelajari siswa atau cara siswa dapat memperoleh sebuah informasi. kegiatan belajar yang dilakukan siswa agar menguasai materi. proyek akhir yang memungkinkan siswa berlatih menerapkan apa yang sudah dipelajari dalam satu bab, dalam hal ini tidak ada formula khusus dalam mendiferensiasi pembelajaran (Tomlinson, 2. Artinya pertimbangan diferensiasi kembali pada analisis guru terhadap kebutuhan masing-masing Hal ini selaras dengan hasil penelitian (Hasanah et al. , 2. yang memetakan model konseptual pembelajaran berdiferensiasi di Indonesia yaitu pembelajaran terdiferensiasi adalah pembelajaran yang memberikan kesempatan kepada siswa untuk berjalan di jalurnya sendiri. pembelajaran ini juga memberikan pembelajaran yang menekankan kesejahteraan dan keamanan fisik dan mental siswa dalam proses pembelajaran. Selanjutnya dalam menilai hasil belajar siswa. Guru kelas satu membedakan evaluasi dengan membedakan tingkat kesulitan soal. Bentuk evaluasi lebih ke arah evaluasi sumatif. Tidak teramati guru melaksanakan evaluasi formatif saat pembelajaran. Selain guru kelas satu, guru lain memberikan soal yang sama bagi semua siswa. Namun ada guru yang memvariasikan bentuk penilaian pada aspek keterampilan. Pada aspek asesmen diagnostik dilaksanakan hanya sekali diawal tahun ajaran Artinya diagnostik asesmen tidak dilakukan secara dinamis dan berkesinambungan sesuai dengan perubahan kebutuhan belajar siswa. Menilai hasil belajar siswa merupakan poin yang krusial dalam implementasi pembelajaran berdiferensiasi. Penentuan penilaian pembelajaran dalam prinsip pembelajaran berdiferensiasi salah satunya mengacu pada, pemetaan pertumbuhan siswa dalam kaitannya dengan keterampilan dan pengetahuan yang bernilai dan untuk menggunakan informasi yang dikumpulkan melalui proses tersebut untuk membantu dalam merencanakan pengalaman belajar yang paling tepat bagi individu dan kelompok siswa tertentu (Tomlinson, 2. Fungsi penilaian ini belum terlihat selama proses pengamatan. Hal ini dikarenakan diferensiasi evaluasi https://ojs. id/index. php/efektor-e Vol 12 No 1 Tahun 2025 Efektor. Volume 12 Issue 1, 2025, page 128-136 Karimatus Saidah. Dwi Muhammad Nurfianto. Nurita Primasatya. Kharisma Eka Putri membutuhkan kecakapan dan manajemen waktu yang baik dari guru. Pernyataan ini didukung oleh hasil penelitian terdahulu yang dilakukan oleh (Smets et al. , 2. menunjukkan bahwa guru mengalami kesulitan dalam menilai perbedaan siswa. Selain itu guru juga memiliki respontivitas guru tidak hanya ditentukan oleh perbedaan kognitif siswa, akan tetapi juga jenis perbedaan individu SIMPULAN Implementasi pembelajaran berdiferensiasi di SDN Burengan 2 secara umum telah sejalan dengan prinsip-prinsip pembelajaran berdiferensiasi. Perbedaan penerapan pembelajaran yang berbeda dapat disebabkan oleh perbedaan kebutuhan belajar dan pertimbangan efisiensi serta fleksibilitas pembelajaran dikelas. Implikasi penelitian terhadap penelitian sejenis adalah menambah kajian terhadap praktik pembelajaran berdifierensiasi, khususnya di Indonesia. Rekomendasi dari