Kontribusi Terapeutik dalam Pameran #Walkingwithraws di Red Raws Center Rayhadi Shadiq1. Jaini B Wastap2. Sukmawati Saleh3 Dinas Komunikasi dan Informatika Kota Bandung , 2,3Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung Jl. Wastukencana No. Kota Bandung, 2,3Jl. Buah Batu No. fahdihasanrahaidi21@gmail. com, 2jaeni@isbi. id, 3sukmawati_saleh@isbi. ABSTRACT Photography are not just ordinary visual works that are only displayed on a wall or exhibited to see their beauty. Photography can be used in the economic, social and political issue. On the other hand, photography will always see the development of itAos era. During the Covid-19 pandemic, one of the photography community could not remain silent about the physical and psychological impact of the pandemic within themselves. The community rose to fight the impact together. Through the #walkingwithraws exhibition. Red Raws Center photography community conducts therapeutic photography activities. Involving twenty-one exhibitors, #walkingwithraws is the first therapeutic photography exhibition in the city of Bandung after Social Distancing (Pembatasan Sosial Berskala Besar/PSBB). Through this exhibition, all exhibitors explore photography and express things that are considered disturbing their mental health. The results of this study indicate that photography has now become a part of human life. Keywords: Photography Terapeutic. Art Therapy. Photography Exhibition. Red Raws Center ABSTRAK Karya fotografi bukan sekadar karya visual biasa yang hanya dipajang di sebuah dinding atau dipamerkan untuk dilihat keindahannya. Fotografi bisa digunakan dalam bidang ekonomi, sosial maupun politik. Pada sisi lain, fotografi akan selalu melihat perkembangan Saat pandemi Covid-19, komunitas fotografi tidak bisa diam menyimpan dampak fisik maupun psikologis pandemi itu dalam diri mereka. Komunitas itu bangkit bersamasama memerangi dampak tersebut. Melalui pameran #walkingwithraws, komunitas pegiat fotografi Red Raws Center melakukan kegiatan fotografi terapeutik. Melibatkan dua puluh satu pameris, #walkingwithraws merupakan pameran fotografi terapeutik pertama di Kota Bandung pasca Pembatasan Sosial Berskala Besar. Lewat pameran ini, seluruh pameris mengeksplorasi fotografi dan mengekspresikan hal yang dianggap mengganggu kesehatan mental mereka. Hasil dari penelitian ini menunjukkan fotografi saat ini sudah menjadi bagian dari hidup manusia. Kata kunci: Fotografi Terapi. Art Therapy. Pameran Foto. Red Raws Center Pantun Jurnal Ilmiah Seni Budaya Vol. 8 No. 1 Juni 2023 PENDAHULUAN Peningkatan kasus yang signifikan tiap harinya, ditambah lagi jumlah kematian akibat virus Covid-19, dampak sosial ekonomi, menjadikan masyarakat lebih waspada dan khawatir. Belum lagi bias pemberitaan media massa yang membuat masyarakat memilih untuk mengetatkan protokol kesehatan dan mengurung diri di rumah atau mengikuti aturan karantina wilayah. Bias kognisi sosial dapat mempengaruhi cara berpikir dan bertindak tiap individu. Bias kognisi dapat disebabkan oleh paparan informasi yang tersedia dalam individu. Paparan informasi masif seputar Covid-19 menyebabkan jumlah ketersediaan informasi Covid-19 dari individu lebih banyak dari yang lainnya (Zalukhu, 2. Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil dalam sambutannya pada Talkshow dan Konsultasi Psikologi Mental Ilness di Kota Bandung pun menyampaikan kekhawatiran terhadap kondisi kesehatan masyarakat Jawa Barat akibat pandemi. menyampaikan data, 60 persen warga Jawa Barat mengalami depresi akibat pandemi Covid-19 . ttps://nasional. read/1502441/dampak-pandemi-ridwankamil-cemaskan-kesehatan-mental-wargajawa-barat, diakses pada 18 April 2. Terpaan Covid-19 dunia, tanpa terkecuali berdampak bagi masyarakat Indonesia dan Kota Bandung. Hampir semua kegiatan non esensial, termasuk kegiatan berkesenian di dalamnya, terdampak pembatasan sosial atau kebijakan karantina wilayah dari Pemerintah RI, yang diturunkan dalam Peraturan Gubernur dan Peraturan Wali Kota. Pembatasan sosial tersebut rupanya menimbulkan respons yang beragam. Pegiat fotografi di RAWS Syndicate merespon pembatasan sosial dan bias pemberitaan seputar Covid-19. Aktivitas yang sebelumnya tak terbentung dan tak terbatas, kini justru sangat dibatasi. Pandemi Covid-19 secara cepat mengakibatkan perubahan signifikan pada segala aspek kehidupan masyarakat. Kasus pertama Virus Corona (Corona Virus-19 Diseas. tercatat masuk ke Indonesia pada 2 Maret 2020. Dampak dari pandemi Covid-19 itu sendiri antara lain tidak adanya kegiatan seni pertunjukan selama kebijakan karantina wilayah dengan istilah Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) diberlakukan mulai 16 Maret Hal itu terjadi hampir di seluruh wilayah di Indonesia, tanpa terkecuali di Kota Bandung. Seluruh aktivitas seni budaya yang mengakibatkan terbentuknya kerumunan harus dihentikan. Dampak lebih jauh dari terpaan pandemi Covid-19 juga menyerang aspek psikologis masyarakat di seluruh belahan dunia, tanpa terkecuali di Indonesia dan Kota Bandung. Berdasarkan review kasus kematian akibat Covid-19, tindakan isolasi dapat memengaruhi kesehatan mental masyarakat (Zalukhu, 2. Tingginya angka kematian dan perpanjangan isolasi di suatu daerah dapat memicu depresi, kecemasan, rasa takut berlebihan, serta perubahan pola tidur seseorang. Hal ini bukan saja memperburuk kondisi kesehatan mental seseorang, melainkan juga kondisi fisiknya. Dampak psikologis akibat pandemi Covid-19 begitu signifikan terasa. Ada tiga elemen dalam pandemi, yaitu virus dan bakteri sebagai elemen yang menyebabkan infeksi, manusia sebagai host yang berkaitan dengan faktor psikologis dalam mengatasi ancaman penyakit tersebut. Serta lingkungan sosial dan fisik yang membantu manusia dalam menghadapi pandemi (Taylor, 2. Ketiga faktor ini saling mempengaruhi dalam situasi pandemi, sehingga psikologis manusia mengalami perubahan dalam memahami relasi diri dan sosial. Shadiq. Wastap. Saleh: Kontribusi Terapeutik Dalam Pameran #Walkingwithraws Di Red Raws Center Dampaknya adalah kecemasan berlebih yang memicu individu memasuki fase Setelah diberlakukan pelonggaran PSBB untuk merelaksasi pertumbuhan ekonomi di tiap wilayah. RAWS Syndicate Mereka menggelar Pameran Fotografi #walkingwithraws pada 9 hingga 20 September 2020. Pameran ini merupakan pameran fotografi, khususnya fotografi terapeutik, pertama di Kota Bandung setelah kemunculan pandemi Covid-19. Dampak psikologis akibat pandemi Covid-19 bisa dikatakan masih sangat terasa. Pasalnya, jarak antara faktor munculnya gangguan psikologis akibat karantina wilayah yang merupakan rangkaian dampak pandemi Covid-19 hanya dua bulan dari pameran ini. Pameran Fotografi #walkingwithraws yang diselenggarakan di Red Raws Center melibatkan 21 fotografer dengan kalangan usia 8 hingga 24 tahun. Melalui siaran pers yang disebar. Pameran Fotografi Walking With Raws ini disebut sebagai intervensi terhadap gangguan kesehatan mental seperti cemas dan depresi yang dialami ke-21 pameris di fase awal terpaan pandemi Covid-19. Pameran ini berlangsung sejak 5 September 2020 hingga 19 September 2020 atau berlangsung selama dua pekan . Ruang lingkup penelitian ini dibatasi pada kegiatan fotografi para pameris dalam pameran foto #walkingwithraws. Juga bagaimana foto-foto karya pameris dapat menghasilkan kontribusi terapeutik kepada para pameris dalam pameran pengucilan, isolasi sosial. Secara umum fotografi terapeutik dilakukan oleh pasien atau itu sendiri karena bertujuan untuk mendapatkan efek AuhealingAy bagi dirinya Meski kemungkinan dalam proses menghasilkan karya foto dibantu oleh orang lain selama hal tersebut masih dapat menghasilkan efek AuhealingAy bagi pasien atau klien. Foto terapi dan kegiatan terapeutik merupakan hal yang sama. Perbedaannya hanya pada pendamping konselingnya. Jadi, teknik dasar dalam Phototherapy juga dapat diaplikasikan pada fotografi Beberapa teknik dasar tersebut antara lain: Foto yang dibuat oleh pasien/klien Kegiatan memotret langsung atau mengumpulkan dari berbagai sumber seperti majalah, kartu pos, internet, dan Foto pasien/klien yang dibuat oleh orang lain Kegiatan memotret pasien/klien baik secara sengaja diarahkan atau secara spontan tanpa disadari oleh pasien/klien Self-portraits Kegiatan memotret tentang diri pasien/ klien baik secara harfiah atau metaforis, namun pasien/klien memiliki kontrol penuh atas segala aspek pembuatan foto Foto keluarga, atau foto biografi pasien/klien Kegiatan melihat kembali momenmomen yang terekam dalam foto keluarga atau foto biografi baik itu dalam buku album, dinding, diatas meja, pada pintu lemari es, dompet, komputer, ponsel, sosial media dan sebagainya. Dan kemudian mendengarkan narasi dari pasien/klien tentang latar belakang HASIL DAN PEMBAHASAN Judy Weiser menyebut penggunaan aplikasi fotografi yang dapat memberikan meningkatkan pemahaman diri pasien, kesadaran, kesejahteraan, hubungan, dan untuk menentang isu-isu sosial seperti Pantun Jurnal Ilmiah Seni Budaya Vol. 8 No. 1 Juni 2023 Photo-Projectives Kegiatan merencanakan foto atau memilih dan memilah foto yang menarik bagi pasien/klien dan terapis untuk saling berinterpretasi dan bernarasi tentang foto tersebut. Kurang lebih seperti penggabungan empat teknik sebelumnya. Proses kreatif dua puluh satu pameris #walkingwithraws dimulai dengan proses kurasi, wawancara, dan memulai pengambilan gambar untuk kebutuhan eksibisi. Setelah itu, para pameris diminta menulis catatan pengalaman mereka selama berproses Selanjutnya, dua puluh satu pameris #walkingwithraws menjawab kontribusi terapeutik dalam pameran ini terletak pada efek self healing yang dirasakan selama penggarapan pameran #walkingwithraws. Selain efek self healing tersebut, para pameris juga Mulai dari pengalaman spiritual, kembalinya memori masa lalu yang menyenangkan, atau pelepasan emosi/ ekspresi yang mereka anggap negatif melalui kegiatan memotret. Penjelasan seluruh pameris sebagai berikut: Gambar 1 AuHampir RobohAy, karya Dewi Permana Sari. (Dokumentasi: RAWS Syndcate, 2. Hal ini sejalan dengan pernyataan Weiser. Pada karya Dewi, keterkaitannya terdapat pada pemahaman diri dan kesejahteraan yang ia dapatkan saat menjalani proses kreatif, sehingga dapat disimpulkan ada kesejahteraan yang dirasakan oleh Dewi. Nurti Istila Ratnasari Nurti Istila Ratnasari merupakan pameris dalam pameran #walkingwithraws dengan karya berjudul AoSebelum yang Lain BersinarAo. Dalam testimoninya, ia merasa semringah atau semangat saat menjalani proses kreatif. Selain itu. Nurti pun merasa berjalan kaki sembari memotret merupakan salah satu dampak positif yang menyenangkan dalam proses kreatif pameran #walkingwithraws. Dewi Permana Sari Dewi Permana Sari merupakan pameris dalam pameran #walkingwithraws. menyajikan karya dengan judul AoHampir RobohAo. Karya fotonya ini tersaji dengan pendekatan warna hitam putih dan menerapkan teknik fotografi terapeutik yaitu foto yang dibuat oleh pasien/klien. Dewi mengaku, kontribusi terapeutik dalam proses kreatif pameran ini antara lain membuat tubuhnya lebih sehat karena melakukan proses kreatif sembari berjalan Selain itu. Dewi juga merasa proses kreatif pameran ini membuatnya merasa Gambar 2 AuSebelum yang Lain BersinarAy, karya Nurti Istila Ratnasari (Dokumentasi: RAWS Syndcate, 2. Shadiq. Wastap. Saleh: Kontribusi Terapeutik Dalam Pameran #Walkingwithraws Di Red Raws Center Hal ini sejalan dengan pernyataan Weiser. Pada karya Nurti, keterkaitannya terdapat pada pemahaman diri dan kesejahteraan yang ia dapatkan saat menjalani proses kreatif. Asep Saepuloh Pameris #walkingwithraws selanjutnya adalah Asep Saepuloh. Pada pameran #walkingwithraws. Asep membawakan AoKetetapanAo. Asep menyebut, proses kreatif dalam pameran #walkingwithraws endorphin dalam dirinya. Asep pun mengaku dirinya bisa sampai kecanduan memotret, dan merasa ekspresi dalam dirinya tersalurkan, salah satunya melalui kegiatan pameran ini. Gambar 4 AuMenengok AkuAy, karya Insan Kamil (Dokumentasi RAWS Syndcate, 2. membuatnya merasa senang sekaligus Ia mengingat kembali masamasa SD, di mana saat itu banyak kegiatan menyenangkan seperti bermain bola, belajar, bersaing untuk mendapatkan peringkat atau ranking di kelas. Hal ini sejalan dengan pernyataan Weiser. Pada karya Insan, keterkaitannya terdapat pada pemahaman dirinya sendiri, karena proses kreatif dan karyanya membawa kembali memori yang di masa Teguh Sugiharto Wibowo Teguh Sugiharto Wibowo adalah pameris dalam #walkingwithraws. Pria yang berasal dari Palu. Sulawesi Tengah ini menyajikan karya dengan judul AoBerjemurAo. Ia sudah berkenalan dengan dunia fotografi pada 2007. Bagi Teguh, kegiatan berfotografi dapat sejenak membuatnya lupa akan rutinitas bekerja. Gambar 3 AuKetetapanAy, karya Asep Saepuloh (Dokumentasi: RAWS Syndcate, 2. Hal ini sejalan dengan pernyataan Weiser. Pada karya Asep, keterkaitannya terdapat pada pemahaman diri dan kesejahteraan yang ia dapatkan saat menjalani proses kreatif. Seperti yang ia sebutkan, bahwa kegiatan ini seperti memberinya endorphin. Insan Kamil Insan Kamil yang merupakan pameris dalam #walkingwithraws. Pada pameran ini. Insan meyajikan karya dengan judul AoMenengok AkuAo. Karya ini menampilkan objek di dekat rumahnya Diakui Insan, proses kreatif pembuatan karya ini Gambar 5 AuBerjemurAy, karya Teguh Sugiharto Wibowo (Dokumentasi: RAWS Syndcate, 2. Pantun Jurnal Ilmiah Seni Budaya Vol. 8 No. 1 Juni 2023 Hal ini sejalan dengan pernyataan Weiser tentang manfaat fotografi terapeutik. Pada karya Teguh, keterkaitannya terdapat pada kesejahteraan . ell-bein. yang ia dapatkan saat menjalani proses kreatif. AoHealingAo. Karya tersebut menampilkan sepasang kaki manusia yang sedang menginjak rumput. Yuliana menyebut, ada perasaan lega saat dirinya melakukan proses kreatif. Dani Aulia Rahman Pameris berikutnya dalam pameran #walkingwithraws adalah Dani Aulia Rahman. Ia menyajikan karya fotografi dengan judul AoPlayAo. Ia mengaku senang dapat berproses kreatif dalam pameran #walkingwithraws. Hal itu dikarenakan ia telah lama menahan diri di dalam rumah akibat pembatasan sosial yang berlaku saat pandemi Covid-19. Gambar 7 AuHealingAy, karya Yuliana Syafin (Dokumentasi RAWS Syndcate, 2. Selanjutnya, ia mengaku rasa lega yang didapatkan setelah kegiatan memotret dilakukan sebagai kontribusi terapeutik selama menjalani proses kreatif ini. Hal ini sejalan dengan pernyataan Weiser. Pada karya Yuliana, keterkaitannya terdapat pada pemahaman diri dan kesejahteraan yang ia dapatkan saat menjalani proses Fitria Rahmawati Selanjutnya, pameris dalam #walkingwithraws adalah Fitria Rahmawati. Wanita asal Blitar ini menyajikan karya dengan judul AoBring Me BackAo. Ia memotret suasana di depan rumah dengan gaya vintage dan menampilkan sosok wanita yang sedang menatap tanaman di depan rumah tersebut. Gambar 6 AuPlayAy, karya Dani Aulia Rahman (Dokumentasi RAWS Syndcate, 2. Kontribusi terapeutik dari proses kreatif dirasakan saat bertemu orang-orang baru saat memotret untuk kebutuhan pameran #walkingwithraws. Hal ini sejalan dengan pernyataan Weiser tentang kontribusi fotografi terapeutik. Pada karya Dani, keterkaitannya terdapat pada pemahaman diri, kesejahteraan serta hubungan sosial yang ia dapatkan saat menjalani proses Yuliana Syafin Yuliana Syafin merupakan pameris berikutnya dalam pameran #walkingwithraws. Ia menyajikan karya berjudul Gambar 8 AuBring Me BackAy, karya Fitria Rahmawati (Dokumentasi RAWS Syndcate, 2. Shadiq. Wastap. Saleh: Kontribusi Terapeutik Dalam Pameran #Walkingwithraws Di Red Raws Center Selain itu. Fitria juga mengaku proses kreatif pembuatan karyanya ini dilakukan sembari berjalan kaki dan memotret apa yang ia lihat di sekitarnya. Tanpa disadari, dirinya melakukan kontemplasi dan merasa senang setelah membayangkan hidupnya masih baik-baik saja, ia merasa begitu bersyukur. Ia mengaku, kontribusi terapeutik dalam pameran ini terletak saat dirinya Menurutnya, kegiatan ini mengingatkan pada rasa bersyukur. Hal ini sejalan dengan pernyataan Weiser. Pada karya Fitria, keterkaitannya terdapat pada pemahaman diri dan kesejahteraan yang ia dapatkan saat menjalani proses kreatif. Gambar 9 AuMachine for LivingAy karya Christoper Junior (Dokumentasi RAWS Syndcate, 2. Ia mengaku, pengalaman healing dari proses kreativitas memotret untuk pameran #walkingwithraws dapat menjadi kontribusi terapeutik yang dirasakan. Hal ini sejalan dengan pernyataan Weiser tentang kontribusi fotografi terapeutik. Pada karya Christoper, keterkaitannya terdapat pada pemahaman diri dan kesejahteraan yang ia dapatkan saat menjalani proses kreatif, yang dibuktikan dengan pengalaman selfhealing yang didapatkannya. Christoper Junior Pameris selanjutnya dalam #walkingwithraws adalah Christoper Junior. Mahasiswa asal Jakarta ini menyajikan karya dengan judul AoMachine for LivingAo. Saat proses kreatif. Christoper merasakan adanya perubahan cara berpikir tentang Awalnya, ia menganggap kegiatan berfotografi identik dengan teknis yang rumit. Akan tetapi pada proses kreatif ini, untuk mendapatkan sebuah gambar yang dapat memberikan efek terapi. Ia merasa caranya dapat dilakukan dengan sederhana, yakni berjalan kaki dan tinggal memotret apa yang ada di sekitarnya. Selain itu. Christoper juga mendapatkan pengalaman atau efek healing dari proses kreatif mengambil gambar dalam pameran Ia merasa kondisi pembatasan sosial akibat pandemi membuatnya lebih menerima atau mengafirmasi, serta menghargai hal-hal sederhana yang mungkin pada era sebelum pandemi dianggap sebagai sesuatu yang tidak Muhammad Ardhiansyah Pameris selanjutnya dalam #walkingwithraws adalah Muhammad Ardhiansyah. Ia menyajikan karya dengan judul AoWhen Hope Become a LossAo. Ardhiansyah menyebut proses memotret membuatnya merasa lega, terlebih kegiatan ini dilakukannya juga dalam rangkaian project fotografi Gambar 10 AuWhen Hope Become a LossAy karya Muhammad Ardhiansyah (Dokumentasi RAWS Syndcate, 2. Pantun Jurnal Ilmiah Seni Budaya Vol. 8 No. 1 Juni 2023 Hal ini sejalan dengan pernyataan Weiser. Pada karya Dewi, keterkaitannya kesejahteraan, serta hubungan . yang ia dapatkan saat menjalani proses Lita Okta Pameris selanjutnya dalam #walkingwithraws adalah Lita Okta. Wanita asal Bandung ini menyajikan karya dengan judul AoThe Bird You Cannot ChangeAo. mengambil konsep foto dengan pendekatan hitam putih. Ia mengaku kontribusi terapeutik terletak pada rasa lega saat memotret untuk pameran #walkingwithraws. Hal ini sejalan dengan pernyataan Weiser. Pada karya Ardhiansyah, keterkaitannya terdapat pada pemahaman diri dan kesejahteraan yang ia dapatkan saat menjalani proses kreatif. Arifian Sudaryanto Selanjutnya, ada Arifian Sudaryanto yang merupakan pameris dalam pameran #walkingwithraws. Dalam pameran ini. Arifian menyajikan karya dengan judul AoBerjemurAo. Karya fotonya menampilkan seorang Ibu yang sedang menggendong anak dengan sentuhan hitam-putih. Selain itu. Arifian juga memasukkan bayangan dirinya sebagai objek foto. Arifian menyebut, kegiatan memotret #walkingwithraws merupakan momen pertama kali dirinya keluar rumah sejak adanya kebijakan pembatasan sosial. Selain itu. Ia mengaku kegiatan memotret ini memberinya efek self Gambar 12. AuThe Bird You Cannot ChangeAy, karya Lita Okta (Dokumentasi RAWS Syndcate, 2. Ia merasa, pengenalan terhadap diri sendiri saat melakukan aktivitas memotret sebagai salah satu kontribusi terapeutik yang dirasakannya saat mengikuti pameran Hal ini sejalan dengan pernyataan Weiser. Pada karya Lita, keterkaitannya terdapat pada pemahaman diri yang didapatkannya saat menjalankan proses kreatif ini. Faqihza Mukhlis Pameris selanjutnya dalam #walkingwithraws adalah Faqihza Mukhlis. menyajikan karya dengan judul AoJemuranAo. Proses kreatif pameran ini dianggap Mukhlis dapat menyalurkan emosi yang ada dalam dirinya. Ia juga mengaku agak kesulitan menuangkan apa yang ia rasa dalam bentuk teks. Oleh karena itu, fotografi dipilihnya sebagai salah satu medium berekspresi tersebut. Gambar 11 AuBerjemurAy, karya Arifian Sudaryanto (Dokumentasi RAWS Syndcate, 2. Ia mengaku, ada pengalaman merasakan sensasi self healing saat melakukan kegiatan sederhana di tengah pembatasan sosial yang mengharuskan banyak orang berdiam diri di rumah. Selain itu, proses memotret keluarga yang disebut pertama kali dilakukan sebagai kontribusi lainnya. Shadiq. Wastap. Saleh: Kontribusi Terapeutik Dalam Pameran #Walkingwithraws Di Red Raws Center Ia mengaku, ketenangan jiwa yang dirasakan saat memotret sebagai kontribusi yang didapatkannya. Selain itu, proses kreatif ini mengobati kerinduannya berpetualang yang harus tertunda akibat regulasi pembatasan sosial. Hal ini sejalan dengan pernyataan Weiser. Pada karya Enda, keterkaitannya terdapat pada pemahaman diri dan kesejahteraan yang ia dapatkan saat menjalani proses kreatif. Gambar 13 AuJemuranAy, karya Faqihza Mukhlis (Dokumentasi RAWS Syndcate, 2. Danny Lukita Tanudjadja Pameris selanjutnya dalam #walkingwithraws adalah Danny Lukita Tanudjadja. Pada pameran ini, ia menyajikan karya dengan judul AoPanopticonAo. Lebih lanjut. Danny menyebut kegiatan fotografi sebagai peluapan emosi dan juga pengungkapan ide melalui media visual. Fotografi juga disebutnya dapat mewakili perspektif seseorang dalam melihat suatu kejadian. Ia mengaku, kontribusi terapeutik yang didapatkannya terletak pada posisi fotografi itu sendiri yang dapat menyalurkan emosi negatif yang dirasakan olehnya. Hal ini sejalan dengan pernyataan Weiser. Pada karya Mukhlis, keterkaitannya terdapat pada pemahaman diri dan kesejahteraan yang ia dapatkan saat menjalani proses Enda Sagita Kaban Pameris berikutnya dalam pameran #walkingwithraws adalah Enda Sagita Kaban. Ia menyajikan karya dengan judul AoSenja dan RefleksiAo. Enda menyajikan karya foto landscape pemandangan langit di sore Ketertarikannya terhadap fotografi dimulai karena ia gemar mendaki gunung. Sejak itu, ia gemar memotret pemandangan atau landscape. Gambar 15: AuPanopticonAy, karya Danny Lukita Tanudjadja (Dokumentasi RAWS Syndcate, 2. Ia mengaku kemampuan melihat sudut pandang diri sendiri dan orang lain yang diilhami dari kegiatan fotografi sebagai kontribusi terapeutik yang dirasakannya saat menjalani proses kreatif pameran ini. Hal ini sejalan dengan pernyataan Weiser. Pada karya Danny, keterkaitannya terdapat pada pemahaman diri dan kesejahteraan yang ia dapatkan saat menjalani proses Gambar 14 AuSenja dan RefleksiAy, karya Enda Sagita Kaban (Dokumentasi RAWS Syndcate, 2. Pantun Jurnal Ilmiah Seni Budaya Vol. 8 No. 1 Juni 2023 Aprindo Islam Perdana Selanjutnya ada Aprindo Islam Perdana yang merupakan pameris dalam #walkingwithraws. Ia menyajikan karya dengan judul AoKehendak TersekatAo dengan pendekatan foto hitam putih. Aprindo mengaku fotografi menjadi salah satu media komunikasi melalui Sebelumnya, ia biasa berkesenian melalui medium audio. Ia merasa kegiatan ini menambah medium bagi dirinya mengekspresikan sesuatu. Gambar 17 Au4-0-3Ay, karya Sjuaibun Iljas (Dokumentasi RAWS Syndcate, 2. Ia mengaku, ketenangan jiwa yang dan berjalan kaki. Proses ini diakui mendekatkan diri kepada Sang Pencipta. Hal ini sejalan dengan pernyataan Weiser Pada karya Iljas, keterkaitannya terdapat pada pemahaman diri dan kesadaran yang ia dapatkan saat menjalani proses kreatif. Gambar 16: AuKehendak TersekatAy, karya Aprindo Islam Perdana (Dokumentasi RAWS Syndcate, 2. Fitria Khairiah Pameris selanjutnya dalam pameran #walkingwithraws adalah Fitria Khairiah. Ia menyajikan karya dengan judul AoSesaat Kala Kau BerkilauAo. Fitria menyajikan kolase tiga buah foto dengan objek bunga atau tanaman. Ia mengaku belajar fokus, serta menjadikan fotografi sebagai pelipur lara di kala mengalami stress. Ia mengaku, fotografi terapeutik jadi medium berekspresi yang baru yaitu berupa fotografi, setelah sebelumnya terbiasa berekspresi dengan medium audio. Hal ini sejalan dengan pernyataan Weiser. Pada karya Aprindo, keterkaitannya terdapat pada pemahaman diri dan kesejahteraan yang ia dapatkan saat menjalani proses berekspresi baru yang didapatkannya. Sjuaibun Iljas Pameris selanjutnya dalam #walkingwithraws adalah Sjuaibun Iljas. menyajikan karya berjudul Ao4-0-3Ao. mengaku fotografi dapat mendekatkannya pada Sang Khalik. Artinya, ada nilainilai spiritual yang didapatkannya saat melakukan kegiatan memotret. Gambar 18 AuSesaat Kala Kau BerkilauAy karya Fitria Khairiah (Dokumentasi RAWS Syndcate, 2. Shadiq. Wastap. Saleh: Kontribusi Terapeutik Dalam Pameran #Walkingwithraws Di Red Raws Center Ia mengaku fotografi terapeutik sebagai medium untuk berlatih fokus dan juga mendapatkan ketenangan jiwa. Dua hal ini merupakan kontribusi terapeutik yang Maka dapat disimpulkan, hal ini sejalan dengan pernyataan Weiser. Pada karya Fitria, keterkaitannya terdapat pada pemahaman diri dan kesejahteraan yang ia dapatkan saat menjalani proses kreatif. diri dan kesejahteraan yang ia dapatkan saat menjalani proses kreatif dari sensasi self-healing yang didapatkannya. Baskara Puraga Pameris selanjutnya dalam pameran #walkingwithraws adalah Baskara Puraga. Ia menyajikan karya dengan judul AoCover | KafirAo. Ia merasa proses kreatif pembuatan karya ini sebagai terapi dari rasa kesepian dan kebingungan yang dialami atau dirasakannya sendiri. Foto karya Puraga ini disajikan dalam konsep hitam putih. Radhya Perkasa Imbarraga Pameris selanjutnya dalam pameran #walkingwithraws Radhya Perkasa Imbarraga. Ia menyajikan karya dengan judul AoMelihat Rumah dalam Sudut Pandang Lebih LuasAo. Karyanya ini disajikan dengan pendekatan foto hitam putih dengan menampilkan suasana Menurut Radhya, fotografi merupakan sarana bagi dirinya untuk berkomunikasi Proses memotret juga disebut dapat memicu efek healing yang dialaminya. Gambar 20 AuCover | KafirAy, karya Baskara Puraga (Dokumentasi RAWS Syndcate, 2. Ia mengaku, kegiatan fotografi untuk mengobati perasaan kesepian dan tidak karuan yang dirasakan diri sendiri yang menimbulkan efek self healing. Hal ini sejalan dengan pernyataan Weiser. Pada karya Baskara, keterkaitannya terdapat pada pemahaman diri dan kesejahteraan yang ia dapatkan saat menjalani proses Ritmyka Nafsya Pameris terakhir dalam pameran #walkingwithraws adalah Ritmyka Nafsya. Ia menyajikan karya dengan judul AoUp and DownAo. Ia memotret dirinya sendiri sembari berjalan-jalan di sekitar rumahnya saat melakukan proses kreatif pembuatan karya untuk pameran ini. Ritmyka mengaku, ada rasa bahagia yang dialaminya saat melakukan kegiatan sederhana ini. Ia merasa berjalan kaki Gambar 19 AuMelihat Rumah dalam Sudut Pandang Lebih LuasAy, karya Radhya Perkasa Imbaragga. (Dokumentasi RAWS Syndcate, 2. Ia mengaku, eksplorasi saat melakukan proses kreatif dianggap dapat menghadirkan efek self healing. Hal ini disebutnya sebagai salah satu kontribusi terapeutik yang didapatkannya. Pengalamannya ini sejalan dengan pernyataan Weiser. Pada karya Radhya, keterkaitannya terdapat pada pemahaman Pantun Jurnal Ilmiah Seni Budaya Vol. 8 No. 1 Juni 2023 dan memotret sekitar dapat sedikit mengembalikkan kondisi mentalnya dari rasa jenuh akibat pembatasan sosial selama pandemi yang mengakibatkan kegiatannya di sekolah harus terhenti. fotografi terapeutik dilakukan oleh pasien atau itu sendiri karena bertujuan untuk mendapatkan efek AuhealingAy bagi dirinya Secara teknis, fotografi terapeutik pada kegiatan pameran #walkingwithraws dilakukan oleh pasien/klien itu sendiri karena bertujuan untuk mendapatkan efek AuhealingAy bagi dirinya sendiri. Selain itu, para pameris merasakan kontribusi terapeutik dalam pameran #walkingwithraws. Dua puluh satu pameris menyebut, kontribusi terapeutik yang dirasakan antara lain mampu menekan rasa stress atau gangguan kesehatan mental yang dialaminya, khususnya dalam masa pembatasan sosial akibat pandemi Covid-19. Dapat disimpulkan, fotografi terapeutik memiliki kontribusi bagi pertumbuhan kesehatan mental dua puluh satu pameris yang mengikuti pameran ini. Gambar 21 AuUp and DownAy, karya Ritmyka Nafsya (Dokumentasi RAWS Syndcate, 2. Ia mengaku. rasa senang yang untuk kebutuhan karya dalam pameran #walkingwithraws sebagai salah satu kontribusi terapeutik yang didapatkannya. Hal ini sejalan dengan pernyataan Weiser. Pada karya Ritmyka, keterkaitannya terdapat pada pemahaman diri dan kesejahteraan yang ia dapatkan saat menjalani proses kreatif. Daftar Pustaka