Jurnal Mitra Rafflesia Volume 17 Nomor 2 Juli-Desember 2025 HUBUNGAN GAYA KEPEMIMPINAN TRANSFORMATIONAL DENGAN BURNOUT PERAWAT DI RUMAH SAKIT UMUM DAERAH LAGITA KAB BENGKULU UTARA Afif Nuramini 1. Ardiana Podesta 2 Rumah Sakit Umum Daerah Lagita Kab Bengkulu Utara 1 STIKes Bhakti Husada Bengkulu2 Abstrak Latar belakang: Dalam menjalankan tugas, peran dan fungsinya perawat di rumah sakit sering kali mengalami yang namanya burnout, untuk itu diperlukan adanya pemimpin yang mempunyai jiwa Rumusan masalah masih banyaknya perawat yang mengalami burnout di Rumah Sakit Umum Daerah Lagita Kab Bengkulu Utara. Tujuannya diketahuinya hubungan gaya kepemimpinan transformational dengan burnout perawat di Rumah Sakit Umum Daerah Lagita Kab Bengkulu Utara. Metodelogi penelitian kualitatif pendekatan cross sectional. Pengambilan data menggunakan data sekunder dan sampel menggunakan teknik sampel total sampling Jumlah sampel dalam penelitian 54 perawat di Penelitian ini menggunakan kuesioner. Metode analisis yang digunakan adalah uji Chi AeSquare. Hasil: hasil penelitian didapatkan gaya kepemimpinan transformational kurang . ,5%) sedangkan burnout perawat baik . ,8%) mendapatkan gaya kepemimpinan transformational yang kurang hasil uji statistic nilai P Ae Value ,0,023 lebih kecil dari 0,05 maka hal Ada hubungan gaya kepemimpinan transformational dengan burnout perawat di rumah sakit umum daerah Lagita kab Bengkulu Utara. Saran memberikan perhatian dan motivasi kepada perawat agar dapat meningkatkan mutu pelayanan keperawatannya supaya tidak terjadi burnout perawat melalui penerapan gaya kepemimpinan transformasional sehingga perawat dapat memberikan layanan terbaik supaya dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Kata Kunci: Gaya Kepemimpinan Transformasional . Bournout Perawat Abstrack In carrying out their duties, roles and functions, nurses in hospitals often experience burnout, for that a leader who has a transformational soul is needed. The formulation of the problem is that there are still many nurses who experience burnout at the Lagita Regional General Hospital. North Bengkulu Regency. The purpose is to find out the relationship between transformational leadership style and nurse burnout at the Lagita Regional General Hospital. North Bengkulu Regency. The qualitative research methodology is a cross-sectional Data collection uses secondary data and samples using total sampling techniques. The number of samples in the study was 54 nurses in This study used a questionnaire. The analysis method used is the ChiSquare test. Results: the results of the study showed that the transformational leadership style was lacking . 5%) while the nurse burnout was good . 8%) got a transformational leadership style that was lacking, the results of the statistical test P-Value, 0. 023 is smaller than 0. 05, so there is a relationship between transformational leadership style and nurse burnout at the Lagita Regional General Hospital. North Bengkulu Regency. Suggestions for providing attention and motivation to nurses to improve the quality of their nursing services so that nurse burnout does not occur through the application of a transformational leadership style so that nurses can provide the best services in order to improve community welfare. Keywords : Transformational Leadership Style. Burnout Nurse depersonalisasi menganggap orang lain sebagai objek, seperti memandang klien secara negative atau bersikap sinis (Ekawati, 2. Burnout yang dialami perawat menunjukkan perilaku seperti memberikan respon yang tidak menyenangkan kepada pasien, menunda pekerjaan, mudah marah PENDAHULUAN Burnout sebagai keadaan kelelahan fisik, emosional, dan mental yang dihasilkan dari keterlibatan jangka panjang dalam situasi kerja yang menuntut Kelelahan emosional dapat menyebabkan perasaan depersonalisasi. Seseorang Jurnal Mitra Rafflesia Volume 17 Nomor 2 Juli-Desember 2025 disaat bekerja ataupun disaat pasien bertanya hal yang sederhana, mengeluh cepat lelah dan pusing serta lebih parahnya tidak memperdulikan pekerjaan dan keadaan sekitarnya (Asih & Trisni, 2. Hasil penelitian Kleiber dan Ensman menyebutkan bahwa dalam bilbiografi yang memuat 2. 496 publikasi tentang burnout di Eropa tahun 2010 menunjukkan 90% burnout dialami pekerja kesehatan . dan sosial, 32% dialami oleh guru, 43% dialami pekerja administrasi dan manajemen, 4% pekerja dibidang hukum dan kepolisian serta 2% dialami oleh pekerja lainya. Persentase diatas dapat dilihat bahwa profesi perawat menempati urutan tertinggi sebagai profesi yang paling banyak mengalami burnout, hampir setengah dari jumlah keseluruhan pekerja yang mengalami burnout adalah perawat (Prestiana & Purbandini, 2. Indonesia berkembang dengan banyak perpulauan yang memiliki latar belakang stres kerja yang berbeda. Di Semarang prevalensi stres kerja pada perawat pada tahun 2013 mencapai angka 82,8%, diikuti Manado dengan angka 54,3%, pada tahun 2016. Kalimantan 60,9% pada tahun 2017. Banda Aceh 52,5% pada tahun 2017, gorontalo 55,15 pada tahun 2015. Yogyakarta 80,35 pada tahun 2015 dan kota Padang 55,8% pada tahun 2017(L. Sari & Nuli, 2. Menurut Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 305/MENKES/PER/i/2012 bahwa rumah sakit adalah institusi pelayanan kesehatan kesehatan perorangan secara paripurna yang menyediakan pelayanan rawat inap, rawat jalan, dan gawat darurat. ) Gaya menghadapi perubahan, meningkatkan pro aktif bawahan dan membuat bawahan lebih merasa dihargai dan lebih menyentuh kepemimpinan Transformasional. Hasil penelitian Ancok dalam (Puspitasari et al. , 2. Pemimpin transformasional merupakan pemimpin dengan nilai-nilai inspirasional yang memiliki kemampuan untuk memelihara dan mengidentifikasi bakat karyawan mereka sehingga dapat memotifasi. Para bawahan merasakan adanya kepercayaan, kebanggaan, loyalitas dan rasa respek kepada atasan dan mereka termotivasi untuk melakukan melebihi apa yang diharapkan. Mikhatun, dalam (Suweko & Dwiantoro, 2. Prabowo et. al dalam (Suweko & Dwiantoro, 2. menyatakan bahwa perawat lebih puas dengan menjadikan perawat memiliki niat untuk tetap bekerja. METODE PENELITIAN Penelitian ini merupakan penelitian survey analitik dengan menggunakan desain cross sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah semua perawat yang ada di rumah sakit umum daerah lagita kab Bengkulu utara yang berjumlah 54 orang jumlah sampel yang diperlukan Jurnal Mitra Rafflesia Volume 17 Nomor 2 Juli-Desember 2025 HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Analisis Univariat Distribusi Frekuensi Burnout Perawat Tabel 2. Distribusi Frekuensi Gaya Kepemimpinan Transformational Di Rumah Sakit Umum Daerah Lagita Kab Bengkulu Utara Gaya Kepemimpinan Frekuensi Persen Transformasional Kuranggayakepemimpinan Transformasional Baik gaya kepemimpinan Transformasional Total Berdasarkan tabel 2 diatas dapat diketahui bahwa dari 54 responden diatas dapat diketahui bahwa dari 54 responden terdapat kurang dari setengahnya . ,5%) yang kurang mengalami gaya kepemimpinan transformational. Tabel 3. Distribusi Frekuensi Burnout Perawat Di Rumah Sakit Umum Daerah Lagita Kab Bengkulu Utara Burnout Perawat Frekuensi Persen (%) Kurang Burnout Perawat Baik Burnout Perawat Total Berdasarkan tabel 3 diatas dapat diketahui bahwa dari 54 responden diketahui bahwa dari 54 responden terdapat lebih dari setengah . ,8%) yang baik burnout Tabel 4. Hubungan Gaya Kepemimpinan Transformasional Dengan Burnout Perawat Di Rumah Sakit Umum Daerah Lagita Kab Bengkulu Burnout Perawat Gaya Kepemimpinan Transformasional Burnout Perawat Baik Baik Kuranggaya Jumlah Total Burnout PerawatKuran 0,000 Jurnal Mitra Rafflesia Volume 17 Nomor 2 Juli-Desember 2025 Berdasarkan tabel 4 diatas tabulasi silang antara variabel antara variabel gaya dengan burnout perawat bahwa sebagian besar gaya kepemimpinan dalam kategori baik sebanyak 44 orang dengan burnout perawat baik sebanyak 32 orang . ,7%) dan burnout perawat kurang sebanyak 12 orang . ,3%). Terdapat 10 orang dalam kategori gaya kurang yang didalamnya terdapat 3 orang . 0%) dengan burnout perawatnya baik dan 7 orang . dengan burnout perawat kurang. Berdasarkan hasil uji Chi-Square hasil tabel diperoleh nilai p sebesar . , karena p < 0,005 maka Ha diterima artinya ada hubungan gaya dengan burnout perawat di Rumah Sakit Umum Daerah Lagita Kab Bengkulu Utara Tahun 2024 PEMBAHASAN Gaya kepimpinan yang digunakan oleh seorang atasan dengan bawahannya dengan serangkaiaan kegiatan Ae Kepemimpinan menurunkan burnout dibandingkan gaya kepemimpinan transaksional (Workman, 2. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan gaya kepemimpinan transformasional dalam kategori kurang sebanyak 10 responden atau 18,5 % dengan gaya kepemimpinan transformasional baik sebanyak 44 orang atau 81,5% Namun hasil penelitian juga didapatkan bahwa dari 19 responden yang burnout perawat dengan kategori kurang dengan burnout perawatnya baik sebanyak 35 orang atau 64,8 % . Suksesnya tujuan organisasi di dalam pelayanan rumah sakit salah satunya dari sumber daya manusia yang terlibat dalam Kinerja maksimal dari anggota dalam hal ini adalah perawat berasal dari kinerja mengerakkan anggotanya untuk bekerja dengan baik sesuai dengan (Aulia,2. transformasional bukan merupakan hal yang baru, akan tetapi saat ini pemimpin masih sering berkutat kepemimpinan otoriter, demokratis dan situasional. Fenomena ini masih kerap terlihat di instansi kerja sehingga tugas besar bagi kepala ruang atau ketua tim dalam suatu bangsal untuk menerapkan transformasional demi tercapainya visi dan misi ruangan. Hasil penelitian didapatkan data bahwa dari 10 responden transformasional dalam kategori kurang sebanyak 3 orang atau 30,0% dengan burnout perawat ada juga kategori kurang sebanyak 7 orang 70,0% dengan burnout perawat kurang di Rumah Sakit. Berdasarkan tabel 3 diatas dapat diketahui bahwa dari 54 responden terdapat kurang dari setengahnya 19 responden atau ( 35,2% ) dengan burnout perawat Sedangkan responden yang mendapatkan burnout perawat baik sebanyak 35 orang atau 64,8 %. Jurnal Mitra Rafflesia Volume 17 Nomor 2 Juli-Desember 2025 Berdasarkan asumsi peneliti yang mendapatkan burnout perawat perawat sedang dalam kondisi beban kerja yang tinggi sehingga motivasi perawat untuk melakukan penangan keluhan pasien dalam pelayanan kesehatan tidak berjalan dengan baik yang mengakibatkan kondisi emosional yang tidak stabil dan sangat mudah terjadi burnout. Hasil penelitian Liana . perawat yang mengalami stress karena pekerjaanya tetapi dengan segera dapat mengatasi stres tersebut maka memiliki resiko yang semakin kecil mengalami Dampak bagi pasien sebagai penerima pelayanan ialah menurunya kualitas pelayanan yang diberikan dari meningkatnya Seorang perawat harus dapat berpikir cepat mengenai tindakan apa yang harus dilakukan terhadap pasien yang ditanganinya sedikit kesalahan saja dilakukan oleh perawat akan membuat pasien yang ditangani (Prestiana & Purbandini,2. Terlepas dari kondisi apa pun perawat di tuntut untuk tetap memberikan pelayanan terbaik. Bertambahnya kecemasan, serta profesionalitas yang harus dilakukan membuat kelelahan kerja. Kelelahan kerja yang terjadi dapat berupa kelelahan fisik, mental ataupun perubahan perilaku akibat pekerjaannya yang lebih dikenal dengan istilah burnout ( Maulia et al. ,2. Hasil burnout perawat baik sebanyak 35 orang atau 64,8% karena perawat cara memandang suatu masalah itu suatu hal yang Dimana ketika perawat memandang sutu masalah, jika yang dirasakan hanya kesedihan dan tekanan maka hal tersebut dapat menimbulkan pikiran yang negatif yang dapat merugikan. Namun memandangnya hal yang postif terhadap suatu masalah maka perawat mampu berpikir jenih tentang apa yang harus dilakukan ketika sedang menghadapi suatu masalah yang berhubungan dengan mengendalikan masalah yang terjadi pada saat bekerja. Semakin baik cara cara pandang nya yang dimiliki oleh perawat akan mampu mengatasi burnout. SIMPULAN DAN SARAN Simpulan: Responden kurang dari setengah . ,5%) mendapatkan gaya kepemimpinan transformasional yang kurang Di Rumah Sakit Umum Daerah Lagita Kab. Bengkulu Utara. Responden lebih dari setengah . ,8%) dengan mendapatkan burnout perawat baik Rumah Sakit Umum Daerah Kab. Bengkulu Utara Ada kepemimpinan transformasional dengan burnout perawat Di Rumah Sakit Umum Daerah Kab. Bengkulu Utara Saran Diharapkan kepada pihak Rumah Sakit Umum Daerah Lagita Kab. Bengkulu Utara untuk dapat memberikan perhatian dan motivasi kepada perawat agar dapat keperawatannya supaya tidak terjadi burnout perawat melalui penerapan sehingga perawat dapat memberikan Jurnal Mitra Rafflesia Volume 17 Nomor 2 Juli-Desember 2025 meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Workman. J . Effec of employee disengagement and employee burnout in a mid Ae Wilmington University (Dalawer. REFERENSI