JURNAL SATYA WIDYA - VOL. 39 NO. 1 (JUNI, 2. Available online at: https://ejournal. edu/satyawidya EVALUASI PROGRAM BIMBINGAN DAN KONSELING BERBASIS CIPP PADA MASA PANDEMI COVID 19 Setyo Budi Utomo1. Elisabet Septia Atma2. Lobby Loekmono3. Yari Dwikurnaningsih4 Universitas Kristen Satya Wacana. E-mail: 942021006@student. Universitas Kristen Satya Wacana. E-mail: 942021020@student. Universitas Kristen Satya Wacana. E-mail: lobby. loekmono@uksw. Universitas Kristen Satya Wacana. E-mail: yari. dwikurnaningsih@uksw. INFORMASI ARTIKEL A B S T R A C T Submitted Review Accepted Published The purpose of evaluating the Guidance and Counseling (BK) program at SMP Negeri 2 Ambarawa during the pandemic is to evaluate the context, input, process and product of the guidance and counseling program during the pandemic. This research is evaluative research. The principal provides full support in implementing counseling services during the pandemic by providing a schedule and budget allocation. The ratio of counseling teachers to students is fulfilled by the presence of school counselors with a background in counseling education. Facilities and infrastructure are in good condition, but do not yet have a special counseling BK services are carried out with the help of applications, namely Google classroom, and google forms used by school counselors for delivery systems in service activities with asynchronous types and in synchronous types using WhatsApp. Zoom or Google Meet depending on the agreement between teachers and students. The problems experienced in the implementation of online counseling services are less than optimal since not all students have devices. The essential material compiled by the MGBK is less appropriate to use, it is more appropriate to use a needs assessment of students to develop a BK program. School counselors provide time for learners to consult with flexible time, either through in-person or device-assisted. : 2022-11-14 : 2023-04-27 : 2023-08-04 : 2023-06-30 KEYWORDS Evaluasi. Program BK. CIPP Evaluation. Guidance and Counseling Program. CIPP KORESPONDENSI Phone: 6282220591687 E-mail: 942021006@student. Tujuan dari pelaksanaan evaluasi program Bimbingan dan Konseling (BK) di SMP Negeri 2 Ambarawa pada masa pandemi adalah untuk mengevaluasi konteks, masukan, proses serta produk pada program bimbingan dan konseling pada masa pandemi. Penelitian ini adalah penelitian evaluatif. Kepala sekolah memberikan dukungan penuh dalam melaksanakan layanan BK pada kondisi pandemi, dengan memberikan jadwal, dan alokasi Rasio guru BK dengan peserta didik terpenuhi dengan adanya konselor sekolah berlatar belakang pendidikan BK. Sarana dan prasarana dalam kondisi baik, namun belum memiliki ruang konseling secara khusus. Layanan BK dilakukan dengan berbantu aplikasi yaitu Google classroom, dan google form digunakan oleh konselor sekolah untuk delivery system dalam kegiatan layanan dengan jenis asinkronus serta pada jenis sinkronus menggunakan WhatsApp. Zoom ataupun Google Meet tergantung kesepakatan antara guru dengan peserta didik. Permasalahan yang dialami pada pelaksanaan layanan BK secara daring kurang optimal karena 40 | Satya Widya Jurnal Satya Widya Ae Vol. 39 No. 1 (Juni, 2. 40 Ae 50 tidak semua peserta didik memiliki gawai. Materi esensial yang disusun oleh MGBK kurang tepat digunakan, lebih tepat dengan menggunakan asesmen kebutuhan peserta didik untuk menyusun program BK. Konselor sekolah menyediakan waktu bagi peserta didik untuk berkonsultasi dengan waktu yang fleksibel, dapat melalui tatap muka secara langsung ataupun berbantu gawai. PENDAHULUAN Bimbingan dan konseling (BK) merupakan bagian integral dari pendidikan secara umum yang mana dengan layanan yang dilakukan berkontribusi dalam keberhasilan pendidikan di sekolah. BK merupakan sub sistem dari sistem pendidikan di sekolah, oleh karena itu pemahaman yang benar tentang konsep BK merupakan suatu keharusan formal dan keharusan objektif. BK komprehensif yang sekarang diimplementasikan sebagai manajemen dalam pelaksanaan pelayanan BK merupakan bentuk bahwa dalam pelayanan BK itu sendiri mengalami perbaikan dan perubahan. Irawan & Meylani . berpendapat bahwa BK merupakan suatu proses pemberian bantuan kepada siswa yang mengalami masalah, tantangan dan kesulitan di sekolah. Pemberian bantuan kepada siswa dapat dilakukan melalui layanan dalam setting klasikal, kelas besar, kelompok maupun individual. Senada dengan pendapat tersebut Suroso & Salehudin . menyatakan bahwa BK merupakan serangkaian perencanaan yang berbentuk program layanan dimana peserta didik menjadi subyek dari program layanan tersebut dan diharapkan dari pelaksanaan program tersebut dapat berdampak pada perkembangan peserta didik ke arah yang lebih positif. Mafirja & SaAoadah . menyatakan bahwa layanan bimbingan dan konseling merupakan suatu upaya untuk membantu siswa mengembangkan dirinya, pengenalan kekuatan dan kekurangannya serta penerimaan diri secara positif dan dinamis Pelaksanaan layanan BK di sekolah harus terencana dengan baik dan dilakukan dengan skenario yang telah ditetapkan. Program BK yang komprehensif di dalamnya akan tergambarkan visi, misi, tujuan, fungsi, sasaran layanan, kegiatan, strategi, personel, fasilitas dan rencana evaluasinya. Program BK yang komprehensif disusun untuk merefleksikan pendekatan yang menyeluruh bagi dasar penyusunan program, pelaksanaan program, sistem manajemen, dan sistem pertanggung jawabannya (Suherman, 2. Pelaksanaan layanan BK mengalami banyak perubahan pada masa pandemi covid 19. Pada masa pandemi covid 19 guru dituntut untuk dapat membuat inovasi dalam pelaksanaan layanan BK. Inovasi dalam hal ini adalah penggunaan strategi yang tepat dalam layanan, menggunakan delivery system, penggunaan media yang lebih menarik. Pada pandemi covid 19 fungsi layanan lebih ditekankan pada fungsi preventif dan kuratif agar siswa tidak mengalami perilaku maladjustment, sehingga layanan BK yang diberikan diharapkan dapat membantu siswa untuk mampu beradaptasi dengan kondisi pada masa pandemi. Hal tersebut senada dengan dipaparkan oleh Ernawati . bahwa layanan BK diharapkan dapat membantu dalam mencegah ataupun juga mengentaskan permasalahan perilaku maladjusment pada siswa. Evaluasi program BK di sekolah memiliki peran yang penting dalam upaya untuk mengetahui kekurangan serta ketercapaian layanan BK secara keseluruhan. Program BK perlu dievaluasi karena dalam implementasi pelaksanaan program BK pasti terdapat kelemahan dan kelebihan. Berdasarkan data mengenai kelemahan dan kelebihan program BK yang telah diimplementasikan selanjutnya dapat disusun suatu rekomendasi untuk perbaikan penyusunan program BK selanjutnya. Gysbers & Satya Widya | 41 Evaluasi Program Bimbingan dan Konseling Berbasis CIPP Pada Masa Pandemi Covid 19 Henderson . menyatakan hasil program akan terlihat jika proses evaluasinya berjalan baik. Program yang dibuat perlu dievaluasi . valuasi perencanaan progra. sejauh mana dapat dilaksanakan . valuasi proses/pelaksanaa. dan bermanfaat untuk mencapai hasil yang diinginkan . valuasi hasi. , sehingga jika terdapat kelemahan program dapat segera diperbaiki dan dikembangkan. Evaluasi program merupakan sebuah proses penilaian terhadap penyusunan program, pelaksanaan program, penilaian dan analisis hasil serta tindak lanjut kegiatan yang dilaksanakan (Sugiyo, 2. Model evaluasi CIPP merupakan salah satu model yang komprehensif untuk menilai bagaimana suatu program bisa berjalan, dikarenakan model ini menekankan evaluasi sebagai proses yang menyeluruh dalam sistem manajerial. Model evaluasi CIPP dikembangkan oleh Stufflebeam & Shinkfield . yang menjelaskan bahwa model evaluasi CIPP merupakan sebuah kerangka yang komprehensif untuk memandu evaluasi program, proyek, personil, produk, institusi dan sistem. Stufflebeam menyatakan bahwa evaluasi seharusnya mampu memberikan gambaran secara menyeluruh serta komprehensif terhadap program BK yang ada. Stufflebeam melihat evaluasi sebagai sebuah tahapan yang sistematis dan menyeluruh. Berdasarkan hal tersebut maka kemudian model evaluasi ini menetapkan ada empat komponen didalamnya, yaitu konteks . , input, proses . , dan produk . Berdasarkan wawancara dan studi dokumentasi yang dilakukan berkenaan dengan administrasi program BK di SMP Negeri 2 Ambarawa dapat dinyatakan bahwa pelaksanaan BK di sekolah dapat terlaksana dengan baik. Berkaitan dengan evaluasi yang dilakukan oleh guru BK. Guru di SMP Negeri 2 Ambarawa sudah melaksanakan evaluasi, namun evaluasi yang dilakukan masih pada evaluasi hasil dan proses kegiatan layanan BK saja. Berdasarkan hal tersebut maka kemudian program BK yang disusun di tahun berikutnya berdasarkan asesmen saja, tanpa mempertimbangkan kelemahan yang ada pada program BK sebelumnya. Kebijakan kebijakan yang diambil oleh Dinas Pendidikan Kebudayaan Kepemudaan dan Olah Raga (Disdikbudpor. Kab. Semarang dan Kepala Sekolah dapat menjadi dasar kegiatan layanan BK dapat tetap terlaksana sesuai dengan program yang telah disusun. Suatu program akan menjadi tepat sasaran apabila dalam penyusunannya didasarkan atas asesmen kebutuhan warga sekolah, yaitu asesmen kebutuhan peserta didik, kebutuhan sekolah, serta harapan dari orang tua tentang layanan BK yang diselenggarakan di sekolah. Di SMP Negeri 2 Ambarawa program BK disusun berdasarkan asesmen kebutuhan peserta didik, belum menyentuh pada ranah kebutuhan sekolah dan harapan orang tua. Dukungan sekolah dalam bentuk penyediaan sarana prasarana serta ketercukupan antara guru BK dengan peserta didik turut mendukung pelaksanaan layanan BK agar terlaksana dengan baik. Dengan adanya 4 guru BK di sekolah serta ketercukupan sarana dan prasarana yang dibutuhkan dalam kegiatan layanan BK membantu guru BK untuk menyiapkan materi dengan relatif cepat. Pada kondisi pandemi guru BK dituntut untuk dapat memberikan layanan yang optimal dengan tujuan lebih pada pencegahan dan Pada masa awal pandemi layanan BK dilakukan dengan model daring Perubahan terjadi pada saat pemerintah menetapkan model tatap muka terbatas seiring dengan menurunnya kasus covid 19. Permasalahan muncul pada layanan daring dimana tidak setiap peserta didik memiliki gawai, ada yang masih memakai gawai dari orang tua atau harus bergantian dengan saudaranya. Hal ini menjadi permasalahan tersendiri pada pelaksanaan layanan BK di sekolah. 42 | Satya Widya Jurnal Satya Widya Ae Vol. 39 No. 1 (Juni, 2. 40 Ae 50 Berkaitan dengan evaluasi pelaksanaan layanan BK komprehensif di sekolah guru BK dituntut untuk melakukan survei kepuasan bagi peserta didik dan guru mapel terhadap pelaksanaan layanan BK. Kondisi di lapangan evaluasi untuk melihat kepuasan peserta didik dan warga sekolah belum dapat terlaksana dengan penuh, berdasarkan studi dokumentasi guru BK di SMP Negeri 2 Ambarawa survei kepuasan dilakukan hanya kepada beberapa kelas tetapi belum pada peserta didik secara keseluruhan. Penelitian mengenai implementasi model evaluasi CIPP dilakukan oleh dalam Badrujaman . dimana hasil dari penelitian tersebut adalah tujuan yang ditetapkan telah sesuai dengan tugas perkembangan siswa dan permasalahan, rasio guru BK dengan peserta didik masih belum sesuai, masih ditemukan guru BK dengan latar belakang pendidikan non-BK. Penentuan materi yang diberikan masih belum sesuai dengan tugas perkembangan dan permasalahan siswa, tidak ada metode yang digunakan dalam menyampaikan materi, serta media yang terbatas dan kurang variatif, terdapat banyak materi, metode, serta media yang diberikan kepada siswa tidak sesuai dengan perencanaan program, tidak terdapat perbedaan antara tugas perkembangan dan tingkat permasalahan siswa pada awal semester dan akhir semester. Selain itu, diketahui juga bahwa tidak terdapat perbedaan antara siswa yang mendapatkan program bimbingan kelompok terjadwal dengan siswa yang tidak mendapatkan program bimbingan kelompok terjadwal. Setiawan . melakukan penelitian evaluasi program BK di SMA Negeri 2 Singaraja berbasis CIPP juga menentukan tingkat kesenjangan program BK yang dilaksanakan untuk lebih jelas melihat tingkat keefektifan program BK yang telah Hasil penelitian tersebut dapat dinyatakan bahwa model CIPP dapat secara efektif untuk mengetahui bagaimana program BK yang telah diimplementasikan di SMA Negeri 2 Singaraja. Dari komponen konteks, input, proses dan program bahwa tingkat keefektifan program BK di SMA Negeri 2 Singaraja dapat dinyatakan sangat Berkaitan dengan masa pandemi Covid 19. Hidayah . melakukan penelitian tentang evaluasi Pelaksanaan Layanan Konseling Individual Menggunakan Model CIPP yang hasilnya adalah pelaksanaan layanan konseling individual di SMP Negeri 6 Banjarmasin pada komponen evaluasi konteks dalam kategori baik, komponen input dengan kategori baik komponen proses yang pelaksanaannya efektif serta komponen produk dalam kondisi yang baik. Lebih lanjut dengan topik yang sama Nisya . menyatakan bahwa program pada konseling individu menunjukan bahwa pada komponen konteks memiliki nilai yang tinggi, yang meliputi relevansi dan legalitas penyelenggaraan layanan konseling individu memiliki nilai tinggi, komponen input dalam kategori sedang, komponen proses berada pada kategori sedang dan komponen produk yang berada pada kategori tinggi. Tujuan dari pelaksanaan survei mengenai program BK di SMP Negeri 2 Ambarawa pada masa pandemi adalah untuk mengevaluasi konteks . , masukan . , proses . serta produk . pada program BK pada masa pandemi. Berdasarkan dari latar belakang dan permasalahan tersebut kemudian peneliti kemudian menetapkan judul dalam penelitian ini yaitu AuEvaluasi Program Bimbingan dan Konseling Berbasis CIPP pada Masa Pandemi Covid 19 di SMP Negeri 2 Ambarawa. Ay. Satya Widya | 43 Evaluasi Program Bimbingan dan Konseling Berbasis CIPP Pada Masa Pandemi Covid 19 METODE PENELITIAN Studi ini merupakan penelitian yang menerapkan pendekatan kualitatif dengan fokus pada jenis penelitian evaluatif. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan teknik wawancara semi terstruktur dan studi dokumentasi. Dalam analisis data, peneliti mengadopsi triangulasi teknik untuk memastikan keakuratan dan validitas Penelitian ini dilaksanakan di SMP Negeri 2 Ambarawa, yang terletak di Jl. Kartini 1a. Lodoyong. Ambarawa. Kabupaten Semarang. Subyek penelitian terdiri dari 1 . wakil kepala sekolah, 2 . guru BK (Bimbingan dan Konselin. , 2 . guru mata pelajaran, dan 1 . tenaga kependidikan di SMP Negeri 2 Ambarawa. Metode pendekatan kualitatif dalam penelitian ini dipilih untuk mendapatkan pemahaman mendalam tentang situasi dan konteks yang sedang diteliti. Jenis penelitian evaluatif digunakan untuk mengevaluasi efektivitas dan efisiensi dari suatu kebijakan, program, atau inisiatif tertentu yang berlaku di lingkungan SMP Negeri 2 Ambarawa. Penggunaan teknik wawancara semi terstruktur memungkinkan peneliti untuk memiliki kerangka kerja yang terdefinisi dengan baik, sambil memberikan ruang untuk mengeksplorasi isu-isu yang relevan dan potensial yang muncul selama wawancara. Selain itu, teknik studi dokumentasi digunakan untuk mendapatkan data dari berbagai sumber tertulis yang relevan dengan topik penelitian. Dalam analisis data, triangulasi teknik digunakan sebagai metode untuk memverifikasi dan mengonfirmasi temuan dari berbagai sumber dan sudut pandang. Dengan demikian, penelitian ini bertujuan untuk memastikan bahwa temuan yang dihasilkan merupakan interpretasi yang lebih kuat dan kredibel dari fenomena yang sedang diteliti. HASIL DAN PEMBAHASAN Komponen Konteks (Contex. Secara prinsip, pelaksanaan program BK di sekolah di masa pandemi adalah mengutamakan kesehatan dan keselamatan peserta didik, pendidik, tenaga kependidikan, keluarga dan masyarakat secara umum, serta mempertimbangkan tumbuh kembang peserta didik dan kondisi psikososial dalam upaya pemenuhan layanan pendidikan selama pandemi. Berdasarkan informasi dari wakil Kepala sekolah. Kepala sekolah selaku pimpinan tertinggi di sekolah menyikapi kondisi pandemi dengan menyelenggarakan pembelajaran dengan model tatap muka terbatas yaitu 50% peserta didik masuk sekolah sedangkan 50% yang lain dengan daring. Pada pelaksanaan layanan BK, kepala sekolah mengambil kebijakan bahwa BK sendiri tetap harus dilaksanakan dengan memberikan jadwal masuk seperti biasa. Berkaitan dengan kebijakan mengenai anggaran, sekolah memberikan fasilitas/ mengalokasikan anggaran untuk pelaksanaan layanan BK apabila memang dibutuhkan misalnya pada kegiatan home visit. Dalam perumusan tujuan layanan BK, guru BK di SMP Negeri 2 Ambarawa mendasarkan perumusan tujuan layanan BK berdasarkan visi dan misi BK di SMP Negeri 2 Ambarawa berkaitan dengan tujuan pelayanan BK, yang menjadi tujuan pelayanan BK di SMP Negeri 2 Ambarawa adalah: . Melayani peserta didik untuk dapat mengenal diri dan mengembangkan diri secara optimal sesuai tahap perkembangannya sebagai makhluk pribadi, sosial dan makhluk beragama (Tuha. Merencanakan kegiatan penyelesaian studi. Mengembangkan seluruh potensi dan kekuatan yang dimilikinya seoptimal mungkin. Menyesuaikan diri dengan . Mengatasi hambatan dan kesulitan yang dihadapi 44 | Satya Widya Jurnal Satya Widya Ae Vol. 39 No. 1 (Juni, 2. 40 Ae 50 Dalam upaya pemenuhan kebutuhan peserta didik terhadap layanan BK. Guru BK di SMP Negeri 2 Ambarawa melakukan asesmen kebutuhan peserta didik untuk mengetahui kebutuhan kebutuhan peserta didik secara aktual. Selanjutnya guru BK di SMP Negeri 2 Ambarawa melaksanakan kegiatan layanan dengan strategi klasikal, kelompok maupun individual. Pada masa pandemi, semua MGMP serta MGBK diberikan tugas oleh dinas pendidikan untuk menyusun materi action plan dengan materi esensial serta modul untuk pelaksanaan layanan Daring secara asinkronus. Dengan demikian maka pada pelaksanaan layanan BK di masa pandemi awal belum semuanya dapat mengakomodasi kebutuhan peserta didik. Hal lain yang belum terakomodasi dalam pelaksanaan program BK pada masa pandemi adalah pelaksanaan test psikologi dimana hal tersebut membutuhkan keterlibatan pihak lain dengan waktu khusus. Kebutuhan peserta didik terhadap layanan BK adalah harapan dari penyelenggaraan layanan BK, kebutuhan materi yang belum dapat terakomodasi dalam program BK di SMP Negeri 2 Ambarawa adalah pada layanan kelas besar . intas kela. dengan materi yang berkaitan dengan kesehatan reproduksi dan dampak penggunaan narkoba dimana pada kondisi normal sekolah mengagihkan kegiatan tersebut dengan mengundang narasumber yaitu dokter . enaga kesehata. Berdasarkan hasil wawancara dengan guru BK di SMP Negeri 2 Ambarawa, berkaitan dengan tujuan pelayanan BK, aspek yang terdapat pada tujuan yang paling mudah untuk dicapai adalah aspek akademik. Aspek akademik dinilai oleh para guru BK menjadi aspek dari tujuan pelayanan BK yang mudah dicapai yaitu dikarenakan pada aspek akademik ini dimana perkembangan peserta didik dapat dipantau dan diukur berdasarkan hasil evaluasi layanan serta berdasarkan penilaian dari guru mata pelajaran Program BK yang disusun oleh guru BK di SMP Negeri 2 Ambarawa disusun berdasarkan hasil kebutuhan peserta didik. Program yang disusun oleh guru BK di SMP negeri 2 ambarawa mengalami perubahan sesuai dengan perubahan peserta didik di setiap tahunnya dan perubahan kebutuhan peserta didik di setiap tahunnya. Kelemahan program BK yang telah disusun adalah pada keterbatasan waktu berkaitan dengan waktu tiap jam pembelajaran yang pelaksanaan yang disesuaikan dengan kebijakan dari dinas pendidikan dan kepala sekolah. kegiatan yang tidak dapat terlaksana pada masa pandemi ini adalah kegiatan konseling kelompok. Strategi yang direncanakan pada implementasi program BK di SMP Negeri 2 Ambarawa agar pelayanan BK lebih optimal adalah dengan membuat forum diskusi dengan google classroom dan WhatsApp group BK untuk menuntaskan materi layanan dan wahana saling berbagi antara peserta didik dengan guru BK. Selanjutnya guru BK melibatkan seluruh komponen di sekolah untuk memperlancar kegiatan layanan BK. Dengan perkembangan kondisi yang semakin membaik, guru BK menyusun alternatif metode untuk diterapkan dalam pelaksanaan program BK di SMP Negeri 2 Ambarawa yaitu dengan mengoptimalkan tapka dengan materi dan media yang menarik, mengoptimalkan forum diskusi kelas, mencoba merumuskan tentang bagaimana konseling online dapat diterapkan di sekolah Komponen Input SMP Negeri 2 Ambarawa memiliki 4 guru BK yang kesemuanya memiliki latar belakang pendidikan BK dan kesemuanya sudah memiliki sertifikasi pendidik. Berkaitan dengan jumlah peserta didik di SMP Negeri 2 Ambarawa, jumlah keseluruhan peserta didik di SMP Negeri 2 Ambarawa adalah 724 peserta didik dengan Satya Widya | 45 Evaluasi Program Bimbingan dan Konseling Berbasis CIPP Pada Masa Pandemi Covid 19 pembagian 32 - 36 peserta didik per rombel. Dengan kata lain bahwa rasio untuk guru BK dengan peserta didik sudah terpenuhi. Guru BK memahami bagaimana prinsip pelaksanaan BK komprehensif, dimana layanan BK dilaksanakan dengan memberdayakan segenap sumber daya yang ada atau dengan kata lain melibatkan seluruh unsur atau komponen yang ada di sekolah. Disamping itu layanan BK dilaksanakan berdasarkan kebutuhan, kekuatan, minat dan isu-isu yang berkaitan dengan tahapan perkembangan siswa. Guru BK melaksanakan layanan BK dengan strategi sinkronus dan asinkronus. Sinkronus dilaksanakan dengan tatap maya sedangkan asinkronus untuk pendalaman materi layanan. SMP Negeri 2 Ambarawa memberikan dukungan pendanaan bagi pelaksanaan layanan BK di sekolah, dimana pendanaan diberikan berdasarkan kebutuhan dan berdasarkan rencana yang telah diajukan oleh guru BK. Semua kebutuhan pendanaan untuk pelaksanaan layanan BK sudah tertuang dalam rencana anggaran sekolah. Berdasarkan tingkat ketercukupan anggaran bagi layanan BK, guru BK menyatakan bahwa kegiatan dan kebutuhan pada layanan BK dapat terpenuhi dan tercukupi. Pendanaan yang dapat dipenuhi pada kegiatan layanan BK di masa pandemi diantaranya pada kebutuhan administrasi (ATK), kunjungan rumah dan pada unsur prosedur kesehatan untuk mengantisipasi persebaran covid 19. SMP Negeri 2 Ambarawa sangat mendukung pelaksanaan layanan BK di sekolah salah satunya dengan memberikan dukungan terhadap sarana dan prasarana yang dibutuhkan oleh guru BK. Ruang BK di SMP Negeri 2 Ambarawa cukup luas untuk menampung 4 guru BK, dengan memiliki kursi untuk menerima tamu. Ketersediaan perangkat komputer dan jaringan internet di ruang BK turut mempermudah guru BK dalam mencari dan menyiapkan materi, kursi tamu yang mencukupi sirkulasi udara yang baik. Sehubungan dengan sarana dan prasarana di SMP Negeri 2 Ambarawa, sekolah belum memiliki ruang konseling individu maupun kelompok, sehingga pelaksanaan konseling dilakukan dengan menggunakan ruang BK secara bergantian. Pelaksanaan layanan klasikal sesuai dengan jadwal yang telah disusun yaitu 1 jam setiap minggu untuk per kelas. Pada pelaksanaan layanan konseling individual dilaksanakan secara fleksibel yaitu bisa dilaksanakan dengan tatap muka secara langsung atau dengan menggunakan WhatsApp . engan fasilitas chat dan atau panggilan vide. Selanjutnya prosedur untuk penanganan permasalahan peserta didik mengikuti kaidah yang ada yaitu. Identifikasi kasus. Identifikasi masalah. Diagnosis. Prognosis. Treatment. Evaluasi dan tindak lanjut Komponen Proses (Proces. Dalam pelaksanaan BK komprehensif di sekolah, setiap komponen yang ada di sekolah memiliki keterlibatan dan perannya masing-masing. Kepala sekolah sebagai pimpinan tertinggi di sekolah memberikan dukungan secara penuh dengan komunikasi terbuka kepada setiap komponen di sekolah termasuk kepada guru BK, selain itu guru BK melakukan pengawasan serta Aucek dan ricekAy terhadap perkembangan pelaksanaan layanan BK. Kepala sekolah memberikan dukungan penuh terhadap pelaksanaan layanan BK dengan memberikan dukungan biaya/ anggaran serta pemenuhan sarana prasarana yang dibutuhkan oleh guru BK, dengan dasar bahwa pada kondisi pandemi guru BK menjadi ujung tombak dalam pencegahan dan pengentasan permasalahan peserta didik, guru BK melakukan upaya agar peserta didik tidak mengalami AuburnoutAy dengan banyaknya tugas yang diberikan oleh guru mata pelajaran. Peran Guru Mata pelajaran tidak dapat dipisahkan sebagai pendukung pelaksanaan layanan BK di sekolah, guru mata pelajaran memberikan dukungan dalam hal memberikan informasi 46 | Satya Widya Jurnal Satya Widya Ae Vol. 39 No. 1 (Juni, 2. 40 Ae 50 berkaitan dengan perkembangan peserta didik dimana pada masa pandemi, semakin besar potensi peserta didik yang mengalami masalah, selain itu guru mata pelajaran dan guru BK dapat bersama-sama melakukan koordinasi berkoordinasi tentang kendala, kesulitan yang dialami oleh peserta didik. Tenaga kependidikan menjadi pendukung dalam memperlancar layanan BK dimana tenaga kependidikan memberikan dukungan dan membantu persiapan perlengkapan serta membantu dalam proses surat menyurat. Pada pelaksanaan layanan BK di masa pandemi, guru BK melaksanakan kegiatan layanan dengan jenis kegiatan sinkronus dan asinkronus. Beberapa aplikasi digunakan untuk mendukung pelaksanaan layanan BK di SMP Negeri 2 Ambarawa. Google classroom, dan google formulir digunakan oleh guru BK untuk delivery system dalam kegiatan layanan dengan jenis asinkronus. pada jenis sinkronus guru BK menggunakan WhatsApp . rup dan pribad. Zoom ataupun Google Meet tergantung pada kesepakatan antara guru dengan peserta didik. Dalam pelaksanaannya guru BK di SMP Negeri 2 Ambarawa menyusun prosedur yang akan diterapkan pada pelaksanaan layanan BK, prosedur yang disusun antara lain adalah untuk pelaksanaan layanan klasikal, konseling individual dimana terlebih dahulu peserta didik dapat membuat kesepakatan waktu untuk bertemu dengan guru BK terlebih dahulu. dalam pelaksanaan layanan BK, guru BK membuat semacam prediksi tentang potensi permasalahan apa saja yang muncul pada peserta didik pada masa pandemi ini, dari prediksi tersebut selanjutnya guru BK dapat menyusun alternatifalternatif untuk membantu pengentasan permasalahan peserta didik. Alternatif-alternatif yang disusun tersebut nantinya akan dilihat secara tepat alternatif mana yang dapat digunakan untuk pengentasan masalah pada peserta didik. Permasalahan yang dialami oleh guru BK pada pelaksanaan layanan BK secara daring adalah dengan pada aspek sarana yang tidak semua peserta didik memiliki gawai. Hal ini menjadi permasalahan dimana kegiatan layanan BK menjadi kurang optimal karena tidak semua peserta didik bisa bergabung di kelas tatap maya. Komponen Produk (Produc. Berdasarkan hasil wawancara dan studi dokumentasi yang telah dilakukan kepada guru BK, pada komponen produk materi layanan yang telah ditetapkan di dalam program BK mendukung ketercapaian program BK pada awal masa pandemi dengan menggunakan materi esensial yang sudah disusun oleh MGBK sesuai dengan arahan dari Disdikbudpora Kabupaten Semarang untuk awal masa pandemi dan kemudian disesuaikan dengan kebutuhan peserta didik yang disajikan secara daring/luring. Pada awal tahun pelajaran 2021/ 2022 guru BK di SMP Negeri 2 Ambarawa kembali lagi menyusun program dengan berdasarkan kebutuhan peserta didik secara riil. Berkaitan dengan survei kepuasan terhadap layanan BK. Guru BK di SMP Negeri 2 Ambarawa melaksanakan survei kepuasan dengan mengambil sampel dari peserta didik, survei kepuasan kepada peserta didik dilakukan untuk melihat sejauh mana peserta didik mendapatkan informasi mengenai tingkat kepuasan peserta didik terhadap layanan BK yang telah dilaksanakan dan bagaimana peserta didik mampu mendapatkan makna dari layanan BK yang telah dilakukan dan hasilnya adalah survei terhadap peserta didik mendapatkan respon baik dan dari sampel yang yang mengisi survei tersebut didapatkan peserta didik puas terhadap layanan BK yang telah dilaksanakan oleh guru BK. Survei kepuasan kepada guru mata pelajaran, tenaga kependidikan dan orang tua belum dilaksanakan dengan terkendala guru BK belum mendapatkan format tepat untuk melakukan survei kepuasan tersebut. Satya Widya | 47 Evaluasi Program Bimbingan dan Konseling Berbasis CIPP Pada Masa Pandemi Covid 19 Strategi yang dilaksanakan oleh guru BK di SMP Negeri 2 Ambarawa dalam mengatasi kendala atau hambatan dalam pelaksanaan layanan BK pada masa pandemi adalah dengan memberikan layanan konseling individual dengan melakukan perjanjian terlebih dahulu dengan guru BK dan strategi selanjutnya adalah dengan layanan klasikal dengan menggunakan media yang menarik. Strategi konseling individual diambil dengan pelaksanaan atau dengan waktu yang ditentukan bersama antara guru BK dan peserta didik, hal ini untuk menjawab permasalahan batasan waktu peserta didik berada di sekolah dimana setelah pelaksanaan layanan dan pembelajaran tatap muka selesai peserta didik harus segera meninggalkan sekolah. Guru BK di SMP Negeri 2 Ambarawa juga menyediakan waktu bagi peserta didik untuk berkonsultasi dengan waktu yang fleksibel, dapat melalui tatap muka secara langsung ataupun berbantu aplikasi gawai yaitu WhatsApp pribadi dengan guru BK. Bagi peserta didik yang tidak memiliki gawai pribadi, maka guru BK melayani konseling individu dan konsultasi bagi peserta didik dengan tatap muka secara langsung dengan mengajukan izin kepada kepala sekolah dan atau kepada guru yang lain. Dengan kondisi belum dapat masuk dengan tatap muka penuh secara keseluruhan, guru BK di SMP Negeri 2 Ambarawa menyatakan bahwa tim BK dituntut untuk lebih inovatif dalam melaksanakan layanan BK sesuai dengan program, berkoordinasi dengan seluruh unsur atau elemen di sekolah dalam upaya pencapaian tujuan program yang telah ditetapkan. Guru BK di SMP Negeri 2 Ambarawa berpendapat bahwa pada kondisi pandemi seperti ini strategi tersebut merupakan strategi yang tepat apabila dilihat dari evaluasi proses dan hasil serta tingkat pemahaman peserta didik. Kondisi pandemi memaksa guru untuk lebih kreatif dalam pelaksanaan layanan BK sesuai dengan program yang telah disusun. Evaluasi program BK di sekolah memiliki peran yang krusial dalam proses untuk mengetahui tingkat ketercapaian program, penemuan kelemahan yang perlu untuk ditingkatkan dan kelebihan pada program yang perlu untuk dipertahankan atau dikembangkan. Hasil dari evaluasi program BK itu sendiri dapat digunakan untuk perbaikan atau bahkan peningkatan program agar menjadi lebih baik dan meningkat. Gysbers dan Henderson . menyatakan hasil program akan terlihat jika proses evaluasinya berjalan baik. Program yang dibuat perlu dievaluasi . valuasi perencanaan progra. sejauh mana dapat dilaksanakan . valuasi proses/pelaksanaa. dan bermanfaat untuk mencapai hasil yang diinginkan . valuasi hasi. , sehingga jika terdapat kelemahan program dapat segera diperbaiki dan dikembangkan. Evaluasi program diperlukan untuk mengetahui ketercapaian tujuan dari program, sehingga apabila guru BK melakukan layanan evaluasi hanya pada tataran evaluasi proses dan hasil setelah pelaksanaan layanan BK dilaksanakan saja maka tidak akan mengetahui apakah tujuan dari program BK yang telah disusun telah tercapai atau belum. Evaluasi program menjadi suatu hal penting untuk dilaksanakan oleh guru BK setidaknya pada akhir program BK yang telah berjalan, hal ini untuk melihat ketercapaian program, melihat ketercapaian tujuan yang telah ditetapkan dan apabila program tersebut telah dievaluasi maka dapat menjadi masukan untuk perbaikan program BK selanjutnya dan dapat disusun suatu program tindak lanjut. Dari hasil penelitian yang telah selesai dilakukan mendukung penelitian yang dilakukan oleh Badrujaman . salah satu hasil penelitiannya menyatakan Penentuan materi yang diberikan masih belum sesuai dengan tugas perkembangan dan permasalahan siswa, ini dibuktikan dengan pada awal pandemi guru BK menggunakan materi esensial dalam pelaksanaan layanan BK, dimana materi esensial tersebut belum 48 | Satya Widya Jurnal Satya Widya Ae Vol. 39 No. 1 (Juni, 2. 40 Ae 50 sesuai dengan tugas perkembangan dan permasalahan peserta didik karena tidak disusun berdasarkan kebutuhan peserta didik secara nyata. Secara keseluruhan komponen konteks, input, proses dan produk pada pelaksanaan program BK di SMP Negeri 2 Ambarawa sudah berada dalam kategori yang baik, hal ini juga sejalan dengan penelitian yang telah dilakukan oleh Setiawan . dimana program BK yang telah diimplementasikan di SMA Negeri 2 Singaraja. SIMPULAN Berdasarkan evaluasi secara keseluruhan berdasarkan komponen konteks, input, proses dan produk secara umum sudah dapat dinyatakan dalam kondisi yang baik, namun masih ditemukan beberapa kekuatan dan kekurangan yang dapat diperbaiki dan ditingkatkan untuk pelayanan BK yang lebih baik. Pada aspek kekuatan, pelaksanaan layanan BK mendapatkan dukungan penuh dari pimpinan yaitu Kepala sekolah serta stakeholder di sekolah. Kepala sekolah menyatakan bahwa layanan BK menjadi salah satu AusenjataAy penting dalam mengatasi kebosanan, kemalasan ataupun mengantisipasi Austudent burnoutAy. Sekolah memberikan fasilitas yang mencukupi dalam hal pendanaan, penyediaan ruang BK yang cukup luas, ketersediaan komputer dan jaringan internet untuk memperlancar pelaksanaan layanan BK. Dukungan dari guru mata pelajaran menjadi hal yang penting dalam memberikan kelancaran pelaksanaan layanan BK dimana guru BK dan guru mata pelajaran senantiasa berkoordinasi dalam pembahasan tentang permasalahan peserta didik dalam pelaksanaan pembelajaran. SMP Negeri 2 Ambarawa belum memiliki ruang konseling secara khusus. Ruang konseling merupakan fasilitas yang benar benar diperlukan untuk memberikan layanan konseling individu maupun kelompok. Dengan adanya ruang khusus untuk pelaksanaan layanan konseling individu maupun kelompok dapat meminimalisir diketahuinya proses pelaksanaan layanan konseling dan tidak dapat diketahui tentang permasalahan peserta didik oleh pihak luar, jadi relatif prinsip kerahasiaan dapat terjaga. Sebelum dilaksanakan evaluasi program, guru BK dapat melaksanakan survei kepuasan terhadap layanan BK yang telah dilaksanakan. Apabila berbicara tentang BK Komprehensif, maka seharusnya survei dilaksanakan secara menyeluruh kepada seluruh warga sekolah, yaitu seluruh peserta didik, guru mata pelajaran, tenaga kependidikan dan serta orang tua peserta didik. Evaluasi dilakukan bermuara pada pemberian rekomendasi kepada penyusun dan pelaksana program. Pada akhir evaluasi peneliti menyusun suatu rekomendasi untuk perbaikan pelaksanaan program BK di SMP Negeri 2 Ambarawa, yaitu: . Penyusunan program diupayakan disusun berdasarkan kebutuhan stakeholder di sekolah secara keseluruhan, bukan hanya pada kebutuhan peserta didik. Guru BK memperdalam pengetahuan dan melaksanakan evaluasi program untuk mendapatkan hasil akurat mengenai pelaksanaan program di SMP Negeri 2 Ambarawa, dan melaporkannya sebagai bentuk akuntabilitas dalam pelaksanaan program BK yang telah dilaksanakan. Evaluasi kepuasan akan pelayanan BK perlu dilakukan kepada segenap warga sekolah baik kepada peserta didik, guru mata pelajaran, tenaga kependidikan, serta orang tua. Satya Widya | 49 Evaluasi Program Bimbingan dan Konseling Berbasis CIPP Pada Masa Pandemi Covid 19 DAFTAR PUSTAKA