Tersedia di https://jurnal. id/index. php/JPMK/ Jurnal Pengabdian Masyarakat Kebidanan Volume 7 No 1, 2025, 11-19 PENYULUHAN DETEKSI DINI DAN PENANGANAN AWAL KEGAWATDARURATAN PADA ANGGOTA BARU PERHIMPUNAN MAHASISWA INDONESIA DI THAILAND (PERMITHA) SIMPUL KHON KAEN UNIVERSITY (KKU) HEALTH EDUCATION ON EARLY DETECTION AND INITIAL HANDLING OF EMERGENCIES FOR NEW MEMBERS OF THE INDONESIAN STUDENTS ASSOCIATION IN THAILAND (PERMITHA) SIMPUL KHON KAEN UNIVERSITY (KKU) Eko Prastyo1. Kusuma Estu Werdani2. Sheena Ramadhia Asmara Dhani3. Yeni Indriyani 4. Anisa Catur Wijayanti5. Rezania Asyfiradayati6. Erna Sunarti7. Dzakiyah Widyaningrum8. Nurul Ambardhani9. Indri Astuti Purwanti10* 2,3,4,5,6 1Program Studi S1 Kedokteran Gigi. Institut Ilmu Kesehatan Kediri Program Studi S1 Kesehatan Masyarakat. Universitas Muhammadiyah Surakarta 7Program Studi S1 Sastra Inggris. Universitas Sultan Agung 8Program Studi S1 Teknik Industri. Universitas Muhammadiyah Gresik 9Program Studi S1 Farmasi. Fakultas Sains dan Teknologi. Universitas Muhammadiyah Bandung 10*Program Studi Pendidikan Profesi Bidan. Fakultas Ilmu Keperawatan dan Kesehatan. Universitas Muhammadiyah Semarang Email: ia_purwanti@unimus. ABSTRAK Kegawatdaruratan pada mahasiswa Indonesia yang studi lanjut di Khon Kaen University (KKU) sudah terjadi dua kali sejak tahun ajaran baru 2024/2025. Oleh karena itu, kegiatan penyuluhan deteksi dini dan penanganan awal kegawatdaruratan terhadap mahasiswa baru anggota Perhimpunan Mahasiswa Indonesia di Thailand (Permith. simpul KKU perlu dilakukan. Tujuan kegiatan ini adalah meningkatkan pengetahuan mahasiswa baru anggota Permitha simpul KKU tentang deteksi dini dan penanganan awal kegawatdaruratan. Metode kegiatan ini adalah penyuluhan dan evaluasinya menggunakan metode kualitatif. Hasil analisis menunjukkan bahwa kegiatan penyuluhan deteksi dini dan penanganan awal kegawatdaruratan ini dapat meningkatkan pengetahuan peserta tetapi urutan langkah Danger. Response. Send. Airway. Breathing. Cardio-pulmonary Resucitation (DRSABC) belum tepat. Saran selanjutnya supaya melakukan kegiatan penyuluhan dan pelatihan deteksi dini dan penanganan awal kegawatdaruratan secara teratur, tidak hanya satu kali saja. Kata Kunci: Emergensi. Pengabdian Masyarakat. Metode Kualitatif ABSTRACK Emergencies in Indonesian students who are continuing their studies at Khon Kaen University (KKU) have occurred twice since the new academic year of 2024/2025. Therefore, counseling activities for early detection and initial handling of emergencies for new students who are members of the Indonesian Student Association in Thailand (Permith. KKU node need to be carried out. The purpose of this activity is to increase the knowledge of new students who are members of Permitha KKU node about early detection and initial handling of emergencies. The method of this activity is counseling and its evaluation uses qualitative methods. The results of the analysis show that the counseling activities for early detection and initial handling of emergencies can increase the knowledge of participants but the sequence of steps Danger. Response. Send. Airway. Breathing. Cardio-pulmonary Resuitation (DRSABC) is not right. The next suggestion is to carry out counseling activities for training and early detection and initial handling of emergencies regularly, not just Keywords: Emergency. Community Service. Qualitative Methods Copyright A 2025. JPMK, e-ISSN: 2654-7996 Jurnal Pengabdian Masyarakat Kebidanan 12 Volume 7 No 1, 2025 PENDAHULUAN World Health Organization (WHO) menyatakan bahwa lebih dari separuh kematian dan lebih dari sepertiga kecacatan di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah dapat ditangani dengan penerapan perawatan darurat dan kritis yang efektif. WHO juga memprioritaskan pendekatan terpadu untuk pengenalan dini, resusitasi, perawatan, dan pencegahan komplikasi dari kondisi akut untuk mengurangi kesakitan dan kematian dari berbagai macam penyakit sepanjang hidup. Dengan demikian, perawatan darurat berbeda dengan perawatan kritis karena perawatan darurat harus bersifat mudah diakses, berkualitas, dan tepat waktu untuk penyakit dan cidera akut sepanjang hidup sedangkan perawatan kritis merupakan perawatan intensif berkelanjutan yang diberikan kepada pasien dengan penyakit atau cidera yang mengancam jiwa yang memerlukan pemantauan dan dukungan yang (World Health Organization, 2024. Perawatan darurat . rgent car. dirancang untuk masalah yang tidak penanganan segera karena masalah kesehatan yang mendesak. Contoh perawatan darurat adalah cedera ringan, demam, atau infeksi. Adapun gawat-darurat . difokuskan untuk situasi kritis yang memerlukan penanganan segera dan mengancam jiwa, misalnya cedera parah, nyeri dada, atau kehilangan kesadaran (GamMed Urgent Care, 2. Stroke termasuk kasus gawat darurat dan menjadi penyebab 97,6% kematian umum di Thailand (World Health Organization, 2024. Stroke juga menjadi penyebab utama kematian umum di Indonesia dari kategori penyakit tidak menular (World Health Organization. Thailand dan Indonesia termasuk Kawasan Asia Tenggara dan faktor risiko stroke di kawasan ini meliputi usia lanjut, menderita hipertensi, diabetes mellitus, konsums tembakau dan alcohol, kurangnya aktivitas fisik, tingginya polusi udara, panas, dan kelembaban udara (Pandian et al. , 2. Kasus kehilangan kesadaran secara mendadak dan hipertensi berat telah terjadi pada dua mahasiswa Indonesia yang sedang studi lanjut di Khon Kaen University. Thailand. Ketika ada orang yang mendadak kehilangan kesadaran atau mengalami keadaan gawat darurat, tindakan yang harus dilakukan adalah mengenali tanda bahaya (Dange. , mengecek (Respons. , panggilan darurat supaya bantuan dikirim (Sen. , membuka jalan napas pasien dan mengecek ada-tidaknya benda asing yang menghambat jalan (Airwa. , pernapasan (Breathin. , melakukan resusitasi jantung-paru (CardioPulmonary Resuscitatio. , dan bila sudah sampai di rumah sakit bisa dilakukan defibrilasi (Defibrilatio. DRSABCD (McCulloch, 2. Dalam perbedaan nomor panggilan darurat di Indonesia dan di Thailand. Nomor panggilan darurat yang dianjurkan di Indonesia adalah 119 karena langsung meskipun sejak tahun 2020 sudah ada menggunakan nomor 112 sebagai nomor panggilan darurat yang nanti akan diteruskan ke damkar, ambulans, satpol PP, dll yang sesuai (Portal Layanan 112, 2. Adapun nomor panggilan darurat umum di Thailand adalah 191 (Office of the Official Information Comission, 2. Pada penyuluhan tentang deteksi dini dan penanganan awal kegawatdaruratan Mahasiswa Indonesia di Thailand (Permith. simpul Khon Kaen sudah kuesioner (Purwanti. Muryadi, & Rokhani, 2. Sayangnya, belum ada penyuluhan tentang penanganan mahasiswa baru Indonesia di Khon Kaen University. Thailand, yang Copyright A 2025. JPMK, e-ISSN: 2654-7996 Jurnal Pengabdian Masyarakat Kebidanan 13 Volume 7 No 1, 2025 memulai perkuliahan pada Juni 2024. Selain itu, instrument kuesioner yang digunakan sebelumnya hanya mampu mengukur pengetahuan secara superfisial dan tidak Oleh karena itu, pada November 2024 ini perlu dilakukan penyuluhan tentang deteksi dini dan penanganan awal kegawatdaruratan pada mahasiswa baru tersebut dengan metode kualitatif supaya lebih mendalam. METODE Metode yang digunakan dalam kegiatan Data dikumpulkan dengan teknik aksidental sampling, yakni setiap peserta yang datang otomatis menjadi Setelah semua peserta berkumpul, memberikan selembar kertas kosong dan pulpen kepada peserta, lalu memberikan pertanyaan tunggal: AuBila tiba-tiba ada orang mendadak pingsan di depan Anda, apa yang akan Anda lakukan?Ay. Selanjutnya peserta diberi waktu 5 menit untuk menuliskan jawabannya beserta identitas diri. Gambar 2. Pemberian Materi Semua kemudian diolah dengan diperiksa Bila data peserta tidak lengkap, maka data peserta tersebut tidak dianalisis. Metode analisis data kualitatif yang digunakan adalah reduksi data. Jawaban peserta kemudian diberi kode sebagai berikut: D: jika mengenali adanya bahaya (Dange. R: jika mengecek respon pasien (Respons. S: jika menghubungi nomor darurat untuk mengirim rujukan (Sen. A: jika memeriksa dan membebaskan jalan napas (Airwa. B: jika mengecek pernapasan (Breathin. C: jika melakukan resusitasi jantungparu (CPR). HASIL DAN PEMBAHASAN Gambar 1. Peserta menuliskan jawaban Jumlah peserta pengabdian masyarakat ini sebanyak 13 orang dengan rentang usia 21 Ae 45 tahun . Table 1. Karakteristik Peserta Setelah semua jawaban selesai dan dikumpulkan ke kembali, materi tentang deteksi dini dan penanganan awal dilanjutkan tanya-jawab dengan peserta. Sebagai evaluasi, peserta kemudian diberi link Google form untuk diisikan identitas, karakteristik . mur, bidang studi, tempat kegawatdaruratan yang pernah diikut. , serta jawaban mereka setelah mendapat materi No. Umur Bidang Tempat Inisial Nama Peserta Kesehatan MDS Kesehatan EDR Kesehatan Nonkesehatan Apartemen Apartemen Apartemen Apartemen Copyright A 2025. JPMK, e-ISSN: 2654-7996 Jurnal Pengabdian Masyarakat Kebidanan 14 Volume 7 No 1, 2025 Kesehatan Nonkesehatan HRA Nonkesehatan ATS Nonkesehatan Nonkesehatan Kesehatan Nonkesehatan Nonkesehatan Nonkesehatan Asrama Apartemen Asrama Apartemen Apartemen Apartemen Apartemen Asrama Apartemen Hampir semua peserta yang pernah kegawatdaruratan pasti pernah mengikuti pelatihan kegawatdaruratan juga, kecuali satu peserta berinisial NA . Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Hasil pretest peserta kegiatan ini dilakukan penyuluhan ini ada 2 peserta yang sama sekali belum mengerti tentang konsep DRSABC, ada 1 peserta yang sudah memahami konsep DRS dengan urutan yang benar, sedangkan peserta lainnya DRSABC dengan urutan yang belum benar . Table 3. Hasil Pretest Peserta No. Inisial Jawaban Pretest Nama Peserta - mendekati dan mencoba mengecek keadaan - meminta pertolongan Kode Jawaban MDS meminta tolong EDR panggil orang lain untuk membantu bersama pakai masker dulu, lalu coba membantu dan memanggil bantuan mendekati beliau, dan mencoba menyadarkan beliau, memanggil nama yang bersangkutan, atau teriakan yang keras meminta bantuan orang melakukan resusitasi Table 2. Pengalaman Penyuluhan dan Pelatihan Kegawatdaruratan Sebelumnya No. Inisial Nama Peserta Mengikuti Tidak Mengikuti Tidak MDS EDR Tidak Tidak Tidak Tidak membantu mengangkat HRA ATS HRA ATS Tidak Tidak saya biarkan, tidak mencoba menyadarkan Saya akan mengecek nadi dan detak jantung, lalu memindahkan ke posisi yang aman. Lalu apabila kondisinya berbahaya langsung menelepon Copyright A 2025. JPMK, e-ISSN: 2654-7996 Jurnal Pengabdian Masyarakat Kebidanan 15 Volume 7 No 1, 2025 sterilkan tempat. cek tanda-tanda vital --> bantuan hidup dasar . asic life suppor. panggil bantuan . --> jika mengecek pernapasan dipindahkan ke tempat yang lebih aman/ teduh/ cek pernapasan. dudukkan dan biarkan orang tsb beristirahat . ika kondisi tidak seriu. Jika kondisi serius mungkin bisa dilakukan RJP, etc membantunya, meminta pertolongan banyak orang juga, siapa tahu ada yang bisa memberikan pertolongan pertama, dan segera membawa ke RS Hasil posttest menunjukkan bahwa setelah dilakukan penyuluhan ini setiap peserta dapat menyebutkan konsep DRSABC tetapi belum sesuai urutan yang benar. HRA Table 4. Hasil Posttest Peserta No. Inisial Nama Peserta MDS EDR Jawaban Posttest Kode Jawaban Menghampiri melakukan pengecekan kondisi korban . eraba nadi korba. Lakukan . elakukan Jika membaik, maka segera meminta pertolongan Membawa korban ke mendapatkan pertolongan Amankan diri ATS Melihat response dengan R memanggil dan menepuk, kemudian apabila tidak ada respon panggil telpon S darurat tergantung daerah. Copyright A 2025. JPMK, e-ISSN: 2654-7996 Pakai masker, meminta bantuan sekitar utk menolong bersama Mengamankan diri dan lingkungan serta korban. Meminta bantuan orang sekitar atau tenaga profesional di sekitar. Bila perlu meminta mereka untuk menelpon ke layanan darurat (INA: Membaringkan korban dan mencoba menyadarkan korban. Jika korban adalah orang yang dikenal maka coba memanggil namanya, jika tidak maka mencoba menyadarkan dengan nada keras. Jika belum sadar, mecoba untuk memberikan sentuhan fisik dengan rasa nyeri seperti menepuk bagian pipi, bahu atau paha samping bagian atas. Memberikan bantuan resusitasi jantung-paru (RJP) MEMANGGIL NAMA YANG BERSANGKUTAN JIKA MASIH SADAR Mengecek kondisi pasien . anger atau tida. , jika aman memastikan jalan napas, jika tidak aman segera lakukan pertolongan pertama, menunggui pasien, menghubungi nomor gawat darurat menyadarkan dirinya Pertama mengecek tandatanda vital orang tersebut, melihat responnya, lalu amankan orang tersebut dan juga diri sendiri agar tidak di posisi yang Lalu melakukan CPR apabila Dan sebelum itu menghubungi ambulans atau rumah sakit untuk tindakan lebih Tetap tenang dan periksa lingkungan Periksa respons korban Jurnal Pengabdian Masyarakat Kebidanan 16 Volume 7 No 1, 2025 Panggil bantuan medis Periksa pernapasan dan Posisi pemulihan jika Tetap pantau kondisi Mendekati, memanggilnya dan badannya untuk mengecek kesadaran, memberi ruang bernapas Ditolong, diamankan, ditenangkan, lebih lanjut diberi CPR Segera menolongnya dan meminta bantuan yang lain, siapa tau ada yang bisa memberikan pertolongan pertama selagi mempersiapkan keberangkatan ke RS. Kode Jawaban Pretest Kode Jawaban Posttest MDS EDR Ada HRA ATS Simpulan Ada/ Peningkatan Pengetahuan Ada Tidak Table 5. Perbandingan Sebelum (Pretes. dan Setelah (Posttes. Kegiatan Penyuluhan Inisial Nama Peserta Perbandingan sebelum dan setelah kegiatan penyuluhan menunjukkan bahwa 8 dari 13 peserta mengalami peningkatan pengetahuan tentang kegawatdaruratan, terutama dalam hal deteksi dini dan penanganan awal. Kedelapan peserta tersebut adalah SK. EDR. MS. EE. HRA. SM. EP, dan KF. Meskipun demikian, belum ada peserta yang mampu menyebutkan langkah-langkah deteksi dini dan penanganan awal kegawatdaruratan secara lengkap dan urut . No. Tidak Ada Ada Tidak Ada Ada Ada Tidak Ada Tidak HASIL DAN PEMBAHASAN Penilaian secara kualitatif pada kegiatan penyuluhan deteksi dini dan penanganan awal kegawatdaruratan ini menunjukkan bahwa 8 dari 13 peserta mengalami peningkatan pengetahuan tetapi belum ada satu pun peserta yang mampu menjelaskan semua tahapan dengan lengkap dan Fenomena semacam ini menyerupai kejadian pendidikan kesehatan basic life support tahun 2023 pada komunitas nelayan bahwa dari 48 peserta hanya ada 2 yang mampu melakukan dengan baik di akhir sesi kegiatan(Fauziyah et al. Bahkan perawat komunitas pun masih ada yang belum komprehensif dalam penanganan kegawatdaruratan psikriatri pada anak Copyright A 2025. JPMK, e-ISSN: 2654-7996 Jurnal Pengabdian Masyarakat Kebidanan 17 Volume 7 No 1, 2025 dengan maltreatment dan hal tersebut berhubungan dengan rendahnya Sumber Daya Manusia (SDM) serta sarana dan prasarana (Hidayah. Seprian, & Florensa. Selain itu, dari 8 peserta yang menunjukkan peningkatan pengetahuan itu merupakan mahasiswa di bidang ilmu kesehatan adalah SK. EDR. MS. EP penyuluhan maupun pelatihan tentang kegawatdaruratan sebelumnya adalah MS. EE. HRA. SM. EP. Pelatihan kegawatdaruratan yang pernah diperoleh meningkatkan pengetahuan dan self-efficacy (Nurjanah. Syamsiah, & Suryanto, 2. Kader pos kesehatan pesantren pun dapat meningkat pengetahuannya sebelum dan sesudah mengikuti kegiatan (Fajri Marindra & Riki, 2. Bahkan di komunitas pun meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan, tetapi tetap harus dilakukan pelatihan dan simulasi secara berkala terkait evakuasi, stabilisasi, transportasi, dan mobilisasi sebagai rencana tidak lanjut (Santoso. Nugroho. Basirun. Septiwi, & Yuwono. Setidaknya, kegawatdaruratan itu diulangi satu kali setiap tahunnya dan bukan hanya teori melainkan juga praktik (Power & Rahma, 2. Meskipun pelatihan telah terbukti dapat meningkatkan pengetahuan, kelengkapan tindakan dan urutan tindakan itu penting diterapkan karena penanganan yang tidak benar dapat membuat kondisi korban lebih parah (Schneider, 2. Sayangnya, kondisi gawat-darurat di luar rumah sakit seringkali ditemukan oleh orang awam dan urutan penanganan kegawatdaruratan seringkali membingungkan sehingga AHA tahun 2020 membuat urutan (Faizah, 2. Bahkan sebuah penelitian pengembangan chatbot terus dilakukan supaya setiap orang dapat melakukan penanganan kegawatdaruratan secara urut meski belum memiliki ketrampilan (Ouerhani. Maalel, & Ghyzela. Urutan pertama dalam deteksi dini dan penilaian bahaya (Dange. , termasuk tindakan mengamankan diri atau kemudian mengamankan lingkungan, setelah itu standar DRSABC dapat dilanjutkan (Pearn, 2. SIMPULAN Kegiatan pengabdian masyarakat deteksi dini dan penanganan awal meningkatkan pengetahuan peserta tetapi secara kualitatif belum mencapai urutan yang benar. Oleh karena itu sebaiknya kegiatan pengabdian ini dilakukan lagi dengan frekuensi yang lebih sering, bukan hanya satu kali. DAFTAR PUSTAKA