Jurnal Budi Pekerti Agama Islam Volume. 3 Nomor. 4 Agustus 2025 e-ISSN: 3031-8343. p-ISSN: 3031-8351. Hal. DOI: https://doi. org/10. 61132/jbpai. Available online at: https://journal. id/index. php/jbpai Implementasi Nilai Keislaman dari Hikmah Kisah Anak dalam Al-QurAoan di TK Yahdina Panyabungan Selvina Armiah1*. Nurmaliana Harahap2. Nova Elliza3 Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri Mandailing Natal. Indonesia Email : selvinaarmiah1809@gmail. com, nurmalianaharahap652@gmail. novaeliza6526@gmail. Korespondensi penulis : selvinaarmiah1809@gmail. Abstract : This study aims to describe the implementation of Islamic values sourced from children's stories in the Qur'an in learning and habituation activities at Yahdina Panyabungan Kindergarten. A descriptive qualitative approach was used with observation, interview, and documentation techniques. The results showed that teachers used the story of Prophet Yusuf. Prophet Ismail, and the story of Luqman to convey the values of honesty, patience, and obedience to parents. These values are internalised through the storytelling method, daily habituation such as praying together, memorising hadith, and sharing activities. The main obstacle in this implementation is the lack of focus of some children during the activities. This research shows the importance of the narrative approach and habituation in instilling Islamic values from an early age. Keywords: Early Childhood. Literacy. Play Activities. Role. Teachers. Abstrak : Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan implementasi nilai keislaman yang bersumber dari kisah anak dalam Al-QurAoan dalam kegiatan pembelajaran dan pembiasaan di TK Yahdina Panyabungan. Pendekatan kualitatif deskriptif digunakan dengan teknik observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa guru menggunakan kisah Nabi Yusuf. Nabi Ismail, dan kisah Luqman untuk menyampaikan nilai kejujuran, kesabaran, dan ketaatan kepada orang tua. Nilai-nilai tersebut diinternalisasi melalui metode bercerita, pembiasaan harian seperti doa bersama, hafalan hadis, dan kegiatan berbagi. Kendala utama dalam implementasi ini adalah kurangnya fokus sebagian anak saat kegiatan berlangsung. Penelitian ini menunjukkan pentingnya pendekatan naratif dan pembiasaan dalam menanamkan nilai Islam sejak usia dini. Kata kunci: Nilai Keislaman. Kisah Anak. Al-QurAoan. Pendidikan Anak Usia Dini. Pembiasaan PENDAHULUAN Al-QurAoan bukan hanya sebagai kitab suci yang dibaca dalam ritual ibadah umat Islam, melainkan juga menjadi pedoman hidup yang menyeluruh dalam membentuk karakter dan kepribadian manusia. Di dalamnya terdapat banyak kisah inspiratif, termasuk kisah anak-anak, yang mengandung nilai-nilai moral dan spiritual yang relevan untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Kisah seperti Nabi Yusuf AS, yang sejak kecil diuji dengan berbagai cobaan namun tetap sabar dan jujur, serta kisah Nabi Ismail AS yang menunjukkan ketaatan kepada ayahnya Nabi Ibrahim dan kepasrahan kepada perintah Allah, menjadi contoh nyata nilai keislaman yang harus ditanamkan sejak dini dalam diri anak-anak (A Wahid, 2. Kisah-kisah anak dalam Al-QurAoan memberikan pelajaran yang mendalam tentang akhlak mulia, seperti kejujuran, kesabaran, ketaatan, serta kepedulian sosial. Luqman, seorang bijak yang dinasihati anaknya dalam Al-QurAoan, memberikan gambaran ideal tentang pendidikan moral melalui dialog yang sederhana namun penuh makna. Nilai-nilai Received: Juni 14, 2025. Revised: Juni 28, 2025. Accepted: Juli 12, 2025. Online Available: Juli 14, 2025 Implementasi Nilai Keislaman dari Hikmah Kisah Anak dalam Al-QurAoan di TK Yahdina Panyabungan seperti tauhid, bersyukur, tidak menyekutukan Allah, dan bersikap rendah hati diajarkan dengan pendekatan penuh kasih sayang. Ini memperlihatkan bahwa pendidikan moral dan spiritual sangat erat kaitannya dengan narasi kisah QurAoani (Haris, 2. Dalam konteks Pendidikan Islam Anak Usia Dini (PIAUD), pendekatan melalui kisah sangat efektif karena sesuai dengan karakteristik belajar anak yang senang dengan cerita dan visualisasi. Anak-anak usia dini lebih mudah memahami pelajaran melalui contoh konkret dan cerita yang menggugah imajinasi mereka. Oleh karena itu, penggunaan kisah-kisah anak dalam Al-QurAoan sangat relevan sebagai media untuk menanamkan nilainilai Islam yang luhur (Jariah et al. , 2. Penelitian ini dilakukan di Taman Kanak-Kanak (TK) Yahdina Panyabungan, sebuah lembaga pendidikan yang menerapkan pendekatan islami dalam kegiatan seharihari. Observasi dilakukan untuk menggali bagaimana nilai keislaman yang terkandung dalam kisah QurAoani diimplementasikan secara nyata dalam pembelajaran dan pembiasaan anak-anak. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif, sehingga fokus utama adalah menggambarkan realitas sosial secara holistik dan mendalam. Berdasarkan observasi, guru-guru di TK Yahdina secara aktif menggunakan metode bercerita . untuk mengenalkan kisah Nabi Yusuf. Nabi Ismail, dan Luqman kepada anak-anak. Guru menggunakan bahasa sederhana, ilustrasi, dan ekspresi wajah untuk menarik perhatian anak. Melalui cerita tersebut, anak-anak diajak merenungkan pesan moral seperti pentingnya berkata jujur, bersabar saat menghadapi masalah, dan taat kepada orang tua. Aktivitas ini membantu anak mengembangkan daya pikir sekaligus membentuk karakter Islami sejak dini. Selain kegiatan pembelajaran, implementasi nilai keislaman juga tampak dalam pembiasaan harian anak-anak di TK Yahdina. Anak-anak dilatih untuk berdoa sebelum belajar, mengucapkan salam, berbagi dengan teman, dan menunjukkan sikap sopan terhadap guru dan teman sebaya. Mereka juga menghafal doa-doa pendek, surah-surah AlQurAoan, serta hadis-hadis yang sesuai dengan perkembangan usia mereka, seperti hadis tentang menjaga kebersihan, menghormati orang tua, dan pentingnya bersikap jujur. Guru memiliki peran sentral dalam proses internalisasi nilai tersebut. Dalam wawancara, guru menyampaikan bahwa mereka menggunakan kisah anak dalam AlQurAoan tidak hanya untuk mengisi waktu belajar, tetapi juga sebagai media membangun kesadaran moral anak. Nilai-nilai tersebut diperkuat melalui diskusi ringan dan refleksi sederhana seperti. AuKalau kamu jadi Nabi Yusuf, kamu mau balas dendam atau memaafkan JBPAI Ae VOLUME. 3 NOMOR. 4 AGUSTUS 2025 e-ISSN: 3031-8343. p-ISSN: 3031-8351. Hal. saudaramu?Ay Dengan demikian, anak diajak berpikir kritis dan membentuk empati sejak Namun, tantangan juga dihadapi, terutama dalam menjaga konsentrasi anak-anak selama proses belajar. Sebagian anak masih sulit untuk fokus karena keinginan untuk bermain lebih dominan. Meskipun demikian, pendekatan berbasis kisah tetap menunjukkan efektivitas dalam meningkatkan pemahaman anak terhadap nilai-nilai Islam karena anak-anak cenderung meniru tokoh-tokoh yang mereka kagumi dari cerita yang mereka dengar. Penelitian ini membuktikan bahwa kisah dalam Al-QurAoan sangat efektif dalam membentuk karakter anak usia dini jika diimplementasikan secara sistematis melalui kegiatan pembelajaran dan pembiasaan. Dengan strategi yang tepat, nilai-nilai seperti kesabaran, kejujuran, dan ketaatan dapat membentuk dasar akhlak mulia pada anak. Lebih dari sekadar cerita, kisah anak dalam Al-QurAoan adalah wahana pendidikan karakter yang mendalam dan kontekstual. Dari hasil penelitian ini, disarankan agar para pendidik dan orang tua memperbanyak eksplorasi kisah dalam Al-QurAoan dan mengaitkannya dengan kehidupan anak sehari-hari. Dengan bimbingan dan keteladanan dari guru, anak-anak dapat tumbuh menjadi pribadi Muslim yang tidak hanya memahami ajaran agama, tetapi juga mengamalkannya dalam kehidupan nyata. Pendidikan Islam yang dimulai dari usia dini akan membentuk generasi yang memiliki integritas moral, spiritualitas kuat, dan kecintaan terhadap nilai-nilai QurAoani. METODOLOGI PENELITIAN Jenis penelitian yang digunakan dalam kajian ini adalah penelitian kualitatif deskriptif, yaitu pendekatan yang bertujuan untuk menggambarkan dan memahami fenomena secara mendalam berdasarkan realitas yang terjadi di lapangan tanpa manipulasi Pendekatan ini sangat sesuai digunakan untuk mengeksplorasi proses implementasi nilai keislaman dari kisah anak dalam Al-QurAoan pada anak usia dini. Peneliti berusaha menggali makna di balik aktivitas pembelajaran dan pembiasaan yang dilakukan guru dan murid di TK Yahdina Panyabungan dalam konteks pendidikan Islam anak usia dini. Penelitian kualitatif deskriptif juga memungkinkan peneliti memperoleh gambaran yang kaya dan mendalam mengenai persepsi, sikap, serta praktik yang diterapkan oleh guru, serta tanggapan anak-anak terhadap pendekatan tersebut. Dalam pendekatan ini. Implementasi Nilai Keislaman dari Hikmah Kisah Anak dalam Al-QurAoan di TK Yahdina Panyabungan peneliti menjadi instrumen utama yang mengumpulkan dan menafsirkan data secara langsung berdasarkan interaksi dengan subjek penelitian (Lexy, 2. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Implementasi Nilai Keislaman dalam Pembelajaran Dalam kegiatan pembelajaran di TK Yahdina Panyabungan, guru-guru mengoptimalkan metode storytelling atau bercerita dengan mengangkat kisah-kisah anak dalam Al-QurAoan seperti Nabi Yusuf. Nabi Ismail, dan Luqman. Strategi ini terbukti efektif dalam mengenalkan nilai-nilai Islam secara alami. Storytelling adalah pendekatan ideal dalam pendidikan moral anak usia dini karena mampu menyentuh emosi, merangsang imajinasi, dan meningkatkan pemahaman nilai agama (Nabihasnah & Alhayyu, 2. Guru menggunakan bahasa yang mudah dipahami oleh anak-anak, menghindari istilah kompleks, dan cenderung memanfaatkan kalimat sederhana serta visualisasi Cerita Islami yang disampaikan menarik minat anak dan membantu internalisasi nilai-nilai seperti kejujuran, tanggung jawab, dan disiplin. Dengan demikian, storytelling bukan sekadar hiburan, melainkan juga alat efektif dalam menanamkan moral keagamaan. Guru-guru tidak hanya sekadar menceritakan kisah Nabi, tetapi juga aktif mengaitkan pesan moral tersebut dengan kehidupan anak sehari-hari. Misalnya, usai mendongeng tentang sifat jujur Nabi Yusuf, guru menanyakan: AuKalau kamu menemukan dompet teman, apa yang harus kamu lakukan?Ay Pendekatan reflektif ini sesuai dengan strategi narasi. Kisah Nabi Ismail tentang ketaatan kepada orang tua kerap menjadi contoh, terutama saat anak mengalami konflik dengan saudara atau teman. Dengan meniru model Nabi Ismail, anak belajar pentingnya sabar dan taat nilai universal yang cocok untuk ditanamkan sejak dini. Storytelling bisa melatih empati, kejujuran, dan konsentrasi anak. Kisah Luqman dan sang anak juga dipilih karena memuat nasihat bijak dalam bentuk dialog sederhana. Guru menyampaikan nasihat Luqman, lalu mengajak anak berdiskusi: AuKenapa harus berbicara sopan pada orang tua?Ay Storytelling membuka jalur empati dan pemahaman moral dalam ingatan anak. Dalam praktiknya, storytelling dilengkapi dengan media sederhana seperti boneka, gambar, atau ilustrasi untuk memperkuat daya tarik dan keterlibatan anak. Media visual menjadi alat penguatan moral dan karakter anak usia dini. Guru kemudian meminta anak merefleksikan cerita melalui pertanyaan ringan, diskusi kelompok kecil, atau tugas sederhana misalnya, menggambar tokoh atau menuliskan pesan moral menurut mereka. JBPAI Ae VOLUME. 3 NOMOR. 4 AGUSTUS 2025 e-ISSN: 3031-8343. p-ISSN: 3031-8351. Hal. Aktivitas ini menegaskan teori bahwa storytelling membantu perkembangan psikomotor, kognitif, afirmatif, dan imajinatif anak (Zubaidah, 2. Secara keseluruhan, metode storytelling di TK Yahdina memperlihatkan bahwa kisah-kisah QurAoani bukan sekadar cerita moral, tetapi media edukatif yang menyentuh jiwa dan pikiran anak. Storytelling yang dikombinasikan dengan buku kisah Islami dan dongeng inspiratif berhasil membangun karakter religius, jujur, dan peduli sosial pada anak usia dini (Nurkhalizah & Ferianto, 2. Dengan demikian, praktik storytelling di TK Yahdina mendukung efektivitas metode ini dalam pembentukan nilai religius, karakter, dan moral anak menggunakan bahasa sederhana dan kontekstualisasi dalam kehidupan sehari-hari sebagai kekuatan Gambar 1. proses pembelajaran Pembiasaan Nilai Keislaman Anak-anak disemai untuk berdoa sebelum belajar sebagai rutinitas harian di kelas. Kebiasaan ini tidak hanya meneguhkan nilai spiritual, tetapi juga membangun kedisiplinan dan konsentrasi. Pembiasaan doa harian dengan dukungan media visual secara signifikan meningkatkan kemampuan anak melafalkan doa dan kedisiplinan seperti ketepatan waktu dan kerapihan saat belajar. Secara psikologis, berdoa sebelum belajar dapat membantu anak memfokuskan pikiran, menenangkan emosi, serta menginternalisasi makna doa yang mencakup rasa syukur, permohonan petunjuk, dan harapan kebaikan (Anggraini, 2. Pembiasaan mengucapkan salam saat memasuki kelas dan bertemu teman-teman serta guru, bukan hanya sekadar formalitas, tetapi menjadi aspek penting dalam mengembangkan adab dan tatakrama. Di TK Aisyiyah Bungkal, praktik menyapa dengan salam dan berjabat tangan terbukti menumbuhkan rasa hormat dan sopan santun pada anak-anak. Demikian pula di TK Islam Darunnajah Jakarta, guru menyambut anak dengan Implementasi Nilai Keislaman dari Hikmah Kisah Anak dalam Al-QurAoan di TK Yahdina Panyabungan ceria dan salam, menciptakan suasana hangat, meningkatkan hubungan interpersonal, dan menguatkan ingatan sosial bahwa salam adalah sunnah Nabi. Anak-anak juga terbiasa menghafal doa harian, surah pendek, serta rukun iman dan Islam sebagai bekal spiritual sejak dini. Di TK Adzkia II Padang, pembiasaan doa harian dan menghafal surah pendek berhasil meningkatkan nilai keagamaan anak melalui pengulangan rutin sebelum dan sesudah kegiatan. Kegiatan ini juga diterapkan dalam konteks menghafal Asmaul Husna, surat pendek Juz 30, dan hadis singkat membentuk fondasi keimanan dan membiasakan mereka menghayati dan mengamalkan ajaran Islam dalam bentuk doa, puasa, salat, dan amalan sosial. Selanjutnya, anak-anak menghafal hadis sederhana seperti tentang menjaga kebersihan, berbakti kepada orang tua, kesungguhan, dan berbagi. Hal ini memberi mereka pedoman moral yang jelas dalam kehidupan sehari-hari. Pengulangan hadis secara konsisten menanamkan pemahaman dan memperkuat perilaku yang sesuai semisal berkata jujur, menghormati orang yang lebih tua, dan berbagi terhadap teman (Ramadhani & Wirman, 2. Semua pembiasaan tersebut dirancang selaras dengan nilai QurAoani yang dituangkan melalui storytelling. Misalnya, kisah Nabi Yusuf diturunkan sebagai simbol kesabaran dan kejujuran. kisah Nabi Ismail mengajarkan tentang ketaatan kepada orang Pembiasaan doa, salam, hafalan surah, dan hadis memperkuat nilai tersebut sehingga tidak hanya dipahami secara teoretis, tetapi menjadi bagian dari kebiasaan anak yang pada akhirnya muncul dalam perilaku nyata seperti sabar saat bermain, mau membantu teman, atau menghormati guru. Gambar 2. guru TK Yahdina Respon Anak terhadap Kisah dan Nilai Dalam praktik pembelajaran di TK Yahdina Panyabungan, ditemukan bahwa respon anak terhadap kegiatan storytelling bervariasi. Sebagian anak memperlihatkan perhatian penuh ketika guru bercerita, menunjukkan fokus yang baik, serta kemampuan memahami isi kisah yang disampaikan. Anak-anak ini cenderung menginternalisasi nilai JBPAI Ae VOLUME. 3 NOMOR. 4 AGUSTUS 2025 e-ISSN: 3031-8343. p-ISSN: 3031-8351. Hal. yang disampaikan melalui cerita, misalnya dengan meniru perilaku jujur Nabi Yusuf, atau menghormati orang tua seperti Nabi Ismail. Hal ini menunjukkan bahwa storytelling sebagai metode penanaman nilai keislaman cukup efektif bagi anak-anak dengan rentang konsentrasi yang stabil dan lingkungan belajar yang mendukung. Namun demikian, tidak semua anak merespon seragam. Sebagian lainnya tampak mengalami kesulitan untuk tetap fokus selama sesi cerita berlangsung. Mereka lebih tertarik untuk bergerak, bercanda, atau mengeksplorasi lingkungan kelas, yang menandakan bahwa pada usia dini, dorongan untuk bermain masih sangat dominan dalam perilaku anak. Hal ini sesuai dengan teori perkembangan anak Jean Piaget yang menyatakan bahwa anak usia 4Ae6 tahun masih berada dalam tahap pra-operasional, di mana kegiatan bermain merupakan cara utama mereka belajar dan berinteraksi dengan dunia sekitar (Piaget, 1. Wawancara dengan guru menunjukkan bahwa perbedaan ini bukan semata-mata karena kurangnya minat terhadap cerita, melainkan karena perbedaan karakter, kemampuan konsentrasi, serta kebutuhan sensorik masing-masing anak. Anak dengan tipe kinestetik, misalnya, akan lebih mudah menangkap pesan ketika diberikan kesempatan untuk bergerak atau memerankan tokoh dari cerita, bukan hanya duduk diam Untuk menjembatani hal tersebut, guru mulai melakukan modifikasi dalam penyampaian kisah misalnya dengan menambahkan media boneka, alat peraga visual, dan sesi bermain peran singkat. Pendekatan ini tidak hanya meningkatkan fokus anak, tetapi juga memperluas daya serap terhadap pesan moral dari cerita yang disampaikan. Anakanak PAUD akan lebih mudah memahami nilai-nilai agama bila dikaitkan dengan aktivitas menyenangkan yang sesuai dengan dunia mereka, seperti bermain dan bercerita Gambar 3. Peserta didik TK Yahdina Implementasi Nilai Keislaman dari Hikmah Kisah Anak dalam Al-QurAoan di TK Yahdina Panyabungan KESIMPULAN Implementasi nilai-nilai keislaman dari kisah anak dalam Al-QurAoan di TK Yahdina Panyabungan dilaksanakan melalui berbagai pendekatan yang terintegrasi secara harmonis, yakni metode bercerita . , pembiasaan harian yang berulang secara konsisten, serta keteladanan langsung yang diperlihatkan oleh guru dalam keseharian Dalam proses pembelajaran, kisah-kisah seperti Nabi Yusuf yang mengajarkan nilai kejujuran dan kesabaran. Nabi Ismail yang menunjukkan ketaatan luar biasa kepada orang tua dan Allah, serta kisah Luqman yang sarat dengan hikmah dan nasihat bijak, digunakan sebagai media untuk menyampaikan ajaran Islam yang bersifat moral dan spiritual kepada anak-anak usia dini. Selain mendengarkan kisah, anak-anak juga diajak untuk mempraktikkan nilai-nilai tersebut melalui aktivitas rutin seperti berdoa bersama, memberi salam, bersikap sopan kepada guru dan teman, serta berbagi mainan atau Guru sebagai figur sentral di kelas tidak hanya menyampaikan cerita, tetapi juga menjadi contoh langsung dalam bersikap jujur, sabar, dan taat terhadap aturan, sehingga anak-anak secara tidak langsung belajar melalui pengamatan dan peniruan. Meskipun dalam pelaksanaannya terdapat tantangan, terutama dalam menjaga konsentrasi dan minat belajar anak yang secara alami masih cenderung ingin bermain dan mudah terdistraksi, namun secara umum metode ini terbukti mampu menanamkan nilai-nilai keislaman secara relevan dan efektif apabila diterapkan secara kontinu dan penuh kesabaran. Dengan pendekatan yang sesuai dan konsistensi dalam praktik, penanaman nilai Islam melalui kisah-kisah QurAoani menjadi media yang sangat potensial dalam membentuk karakter religius dan akhlak mulia pada anak usia dini di lingkungan pendidikan formal seperti TK Yahdina. DAFTAR PUSTAKA