Afeksi: Jurnal Penelitian dan Evaluasi Pendidikan Volume 6 Nomor 6 Tahun 2025 https://afeksi. id/jurnal/index. php/afeksi e-ISSN: 2745-9985 Analisis Cara Pandang Anak Tunggal pada Parenting Otoriter (Strict Paren. : Studi Fenomenologi Gien Glorisa Pasae 1. Robertus Budi Sarwono 2 Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Indonesia Email: gienglorisapasae@gmail. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana anak tunggal menjalani strict parent dalam kehidupan sehari-hari, mengetahui bentuk-bentuk otoriter dari parenting orang tua yang diterapkan dalam kehidupan anak tunggal, mengetahui bagaimana cara anak tunggal memaknai parenting otoriter . trict paren. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode fenomenologi. Pengumpulan data melalui observasi dan wawancara. Terdapat 2 . subjek dalam yang sesuai dengan kriteria penelitian. Teknik analisis data dalam penelitian ini adalah transkip wawancara, lalu diubah menjadi bentuk naratif dan transkrip verbatim. reduksi data. dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kedua individu memiliki pandangan yang negatif pada parenting otoriter . trict paren. , kedua subjek menjalani strict parent berbeda-beda, namun dampak yang dirasakan keduannya sama. FS menjalani strict ibunya dengan iklash, sedangkan PS masih bisa berdiskusi dengan orang tuanya. Kedua subjek merasakan adanya batasan, tekanan, dan aturan yang berlebihan, meskipun kedua subjek mendapatkan parenting otoriter . trict paren. tetapi cara mereka memaknai hal tersebut berbeda. Subjek pertama (FS) memaknai dengan cara memendam perasaannya dan takut untuk mengungkapkan pendapatnya, sedangkan subjek kedua (PS) berani untuk mengungkapkan pendapatnya meskipun seringkali ditolak bahkan diabaikan oleh orang tuanya. Meskipun dalam cara memaknai berbeda, mereka tetap mendapatkan pola komunikasi yang buruk dari orang tua, sehingga keduanya merasakan pengalaman negatif meliputi tekanan, kurang percaya diri, dan sulit mengambil keputusan. Kata Kunci: Parenting Otoriter. Strict Parent. Anak Tunggal PENDAHULUAN Parenting adalah cara atau metode orang tua dalam mendidik, membimbing, serta mendisiplinkan anak untuk proses berinteraksi yang dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor. Parenting sangat penting dalam perkembangan anak, parenting yang baik akan menentukan sikap dan interaksi anak terhadap lingkungannya. Namun, terkadang dalam penerapannya orang tua cenderung menerapkan standar yang harus diikuti oleh anak, dan biasanya disertai dengan acaman-ancaman misalnya, dalam pendidikan jika nilai tidak memenuhi kriteria orang tua maka anak akan ditegur dan juga orang tua cenderung memaksa anak untuk belajar lebih giat tanpa adanya dukungan maupun apresiasi. Menurut Susanto dan Andirani . Parenting otoriter merupakan suatu bentuk pengasuhan yang mendeskripsikan suatu keadaan orang tua dalam membentuk peraturan yang harus dipenuhi oleh anak tanpa adanya Sutanto . menjelaskan bahwa indikator pada parenting ototiter, yaitu saat orang tua tidak memberikan alasan mengapa peraturan dibuat dan harus ditaati oleh anak, dan pada posisi tersebut anak juga tidak diberikan kesempatan untuk mengemukakan pendapat dan bertanya tentang peraturan yang ditetapkan oleh orang tua. Afeksi: Jurnal Penelitian dan Evaluasi Pendidikan Volume 6 Nomor 6 Tahun 2025 https://afeksi. id/jurnal/index. php/afeksi e-ISSN: 2745-9985 Istilah Strict Parent merupakan bagian dari parenting otoriter yang sering digunakan anakanak pada masa ini yang menunjukkan bahwa orang tuanya memiliki pengaturan yang ketat. Menurut Psikologi . alam Devanto, 2. strict parent adalah orang tua yang menempatkan standar tinggi dan menuntut anak, gaya pemgasuhan strict parent dikenal dengan adanya aturan yang ketat, kontrol tinggi, dan menekan anak pada kepatuhan sehingga mengurangi motivasi dan penerimaan akan tanggung jawab. Anak yang dibesarkan dengan parenting strict parent cenderung memiliki kepercayaan diri yang rendah, akibatnya kerena mereka sering merasa tidak mampu memenuhi ekspetasi orang tua dan mengalami ketakutan untuk gagal sehingga tidak dapat menumbuhkan kepercayaan dalam diri, hal ini diperkuat oleh penelitian yang dilakukan oleh Baumrind . alam Rodia, dkk 2. yang mengatakan bahwa anak dari orang tua yang otoriter . trict paren. cenderung memiliki tingkat kepercayaan diri yang lebih rendah dibandingkan dengan anak-anak yang memiliki orang tua otoritatif. Berdasarkan penelitian dari Lamborn et al. , anak-anak yang dibesarkan dengan pola asuh strict parents sering kali memiliki harga diri yang rendah, mereka cenderung merasa tidak pernah cukup baik dan selalu berusaha untuk memenuhi standar tinggi yang ditetapkan oleh orang tua. Orang tua yang tidak memberikan penghargaan atau pujian dapat menjadi menyebabkan anak merasa kurang pecaya diri. Adanya urutan kelahiran menjadi salah satu penyebab terbentuknya karakter seorang anak, yang cenderung memiliki karakter dan posisi yang berbeda berdasarkan urutan Dalam penelitian ini, anak tunggal memiliki peluang yang cukup berbeda dibandingkan anak yang memiliki saudara. Anak tunggal berpotensi mendapatkan semua perhatian orang tua namun, juga memiliki konsep pengembangan diri yang takut akan dunia luar, selalu dimanja dan diperhatikan oleh orang tua. Karena itu, beberapa orang tua menerapkan parenting otoriter . trict paren. kepada anak tunggal hanya semata-mata ingin menjaga anak, akan tetapi bentuk pengasuhannya terlalu berlebihan sehingga anak yang ingin merasakan kenyamanan justru mendapatkan tekanan. Hadibroto, dkk . menjelaskan bahwa anak tunggal adalah keturunan satu-satunya, tanpa memiliki saudara kandung, dengan begitu kepribadian emosional anak tunggal akan cepat matang dibandingkan dengan anakanak seusianya dikarenakan anak tunggal tumbuh menjadi lebih percaya diri, serta tegas, hal ini dikarenakan anak tunggal mendapatkan perhatian penuh dari orang tua. Hal ini juga sejalan dengan apa yang dikemukakan oleh Adler . yang mengatakan bahwa anak tunggal kurang baik dalam mengembangkan kerjasama dan minat sosial, mereka cenderung mengandalkan pertolongan dari orang lain. Menjalani kehidupan dengan adanya tuntutan dari orang tua menjadikan kehidupan seorang anak bergantung untuk memenuhi harapan orang tua, dimana anak mendapatkan sebuah arahan untuk mengikuti keinginan orang tuanya, sehingga menjadikan perasaan anak Sikap orang tua dalam menerapkan parenting otoriter . trict paren. terkadang tidak sesuai dengan kebutuhan sang anak, kurangnya motivasi serta kepekaan orang tua terhadap anak menjadikan kepribadian anak bergantung pada orang tua dan takut untuk mengambil keputusan dalam hidupnya, oleh sebab itu anak merasa tertekan dengan parenting yang diterapkan oleh orang tua. Makna hidup merupakan hal yang sangat berharga/bernilai, dan menentukan tujuan dalam hidup (The purpose in lif. , artinya apabila manusia menemukan Afeksi: Jurnal Penelitian dan Evaluasi Pendidikan Volume 6 Nomor 6 Tahun 2025 https://afeksi. id/jurnal/index. php/afeksi e-ISSN: 2745-9985 hidup yang bermakna maka akan menimbulkan perasaan bahagia. Keinginan untuk hidup bermakna merupakan sebuah motivasi dalam melakukan banyak kegiatan dalam hidup. Setiap orang tentunya memiliki cita-cita, harapan, dan tujuan hidup yang jelas dan tentuny hal itu harus bisa diwujudkan, tujuan hidup manusia akan menjadi sebuah pentunjuk dalam kehidupan selanjutnya. Namun, dalam hal ini jika dilihat dari cara orang tua menerapkan parenting otoriter dalam kehidupan sang anak, perilaku orang tua tidak memberikan kebebasan bagi anak untuk menemukan dan menentukan baik itu tujuan hidup maupun karir. Hal ini terjadi karena, orang tua dengan anak tunggal memiliki pikiran bahwa dengan memberikan fasilitas yang baik akan menunjang kesejahteraan anak dan lebih mudah untuk mengontrol anak mengikuti arahan mereka, maka semua aturan yang ditetapkan akan dilakukan oleh anak. Tapi realita yang terjadi, dalam penelitian ini anak tunggal tidak merasa puas dengan fasilitas yang diberikan orang tua justru mereka merasa tertekan dengan parenting otoriter yang diterapkan dalam kehidupan mereka. Hal ini sejalan dengan fenomena yang terjadi dimasa sekarang dan dijalani oleh subjek dalam penelitian ini. Istilah Strict Parent merupakan gaya bahasa anak jaman sekarang untuk mengungkapkan kondisi dari parenting orang tuanya yang otoriter. Dalam hasil wawancara peneliti bersama subjek, peneliti mengamati bahwa : Subjek 1 (FS) Subjek 2 (PS) Komunikasi dengan Ibunya buruk, bahkan Komunikasi dengan ayahnya hanya saat dirumah komunikasi dengan ibunya membahas pendidikan saja, selain itu PS berlangsung melalui Chat tidak pernah bercerita dengan ayahnya. Sehingga ia tidak begitu dengan dengan Membatasi FS untuk bekerj . Menuruti keinginan orang tua, bahkan jika terlalu khawatir, tidak memberikan menolak orang tuanya akan mendesak PS kebebasan baik itu perihal waktu dan untuk mengikuti kemauan mereka pekerjaan yang ingin dilakukan FS Ibunya lebih mementingkan prestasi Lebih mementingkan prestasi dibandingkan dibandingkan perasaannya . idak ada perasaan PS . idak ada dukungan maupun dukungan maupun apresias. Tidak diberikan kesempatan untuk Diberikan kesempatan untuk berpendapat, atau namun kesempatan tersebut tidak berguna karena PS akan didesak untuk mengikuti kemauan orang tuanya, bahkan jika mengungkapkan apa yang PS inginkan orang tua hanya menghiraukannya. Karena itu, peneliti tertarik untuk meneliti cara pandang anak tunggal dengan parenting otoriter . trict paren. yang mereka jalani dalam sepanjang kehidupan. Dari penjelasan subjek serta kaitannya dengan teori yang diterapkan peneliti dalam penelitian ini, dimana peran otoriter orang tua sangat berpengaruh dalam kehidupan kedua subjek sebagaimana teori Baumrind yang mengatakan bahwa Parenting otoriter tidak hanya pada kebebasan anak untuk Afeksi: Jurnal Penelitian dan Evaluasi Pendidikan Volume 6 Nomor 6 Tahun 2025 https://afeksi. id/jurnal/index. php/afeksi e-ISSN: 2745-9985 bisa berpendapat atau tidak, melainkan dilihat dari sisi orang tua merespom, apabila orang tua merespon namun menolak pendapat anak dan tidak mendengarkan anak, maka hal tersebut tergolong dalam parenting otoriter, dari teori Adler mengenai anak tunggal, pada dasarnya anak tunggal merupakan anak yang diratukan oleh orang tuanya, namun juga menjadi satu-satunya pusat harapan orang tua, oleh karena itu tidak sedikit orang tua yang memiliki anak tunggal menerapkan otoriter dalam parenting mereka. Pada penelitian terdahulu yang menunjukkan bahwa penelitian relevan yang berjudul dampak pola asuh otoriter . trict paren. terhadap perilaku anak di SMA Immanuel Bandar Lampung oleh (Devanto, 2. jika dilihat dari hasil penelitiannya menyatakan bahwa cara pandang orang tua dan anak terhadap pola asuh sangat berbeda. Orang tua memandang bahwa semua pola asuh baik bagi anak termasuk pola asuh otoriter, hal ini dinyatakan bahwa semua orang tua ingin mendidik dengan baik sehingga anak memperoleh keberhasilan dan membanggakan keluarga dengan pola asuh yang diterapkan. Sedangkan, pandangan anak merasa tertekan dengan pola asuh otoriter karena anak selalu dituntut untuk mengikuti semua keinginan orang tua, dan merasa tidak bebas serta merasa tidak nyaman dengan pola asuh Selanjutnya, penelitian relevan yang berjudul perilaku sosial mahasiswa dari keluarga dengan pola pengasuhan otoriter . trict paren. di kota makassar oleh (Rimaisya, dkk, 2. penelitian ini menunjukkan bahwa mahasiswa yang diasuh dengan pola asuh otoriter menunjukkan rasa kurang percaya diri dalam lingkungan sosial dan cenderung memiliki keterbukaan yang terbatas dengan orang tua, dan juga meskipun mereka menjalankan ibadah dengan baik, merka sering kali melanggar perintah orang tua dan suka berbohong. Dari fenomena yang telah dijabarkan, menerapkan parenting harus sesuai dengan kebutuhan anak bukan sesaui dengan harapan orang tua, dalam hal ini orang tua perlu memberikan ruang yang nyaman buat anak agar bertumbuh dengan baik dan mendukung keputusan sang anak dalam menentukan arah tujuan hidupnya. Karena itu, dalam penelitian ini peneliti tertarik untuk meneliti cara pandang anak tunggal pada parenting otoriter . trict paren. dengan fokus penelitian pada studi fenomenologi dimana peneliti akan menggali secara subjektif pengalaman-pengalaman subjek terkait bagaimana parenting otoriter . trict paren. yang dijalaninya selama ini, bagaimana anak tunggal memaknai parenting otoriter orang Sehingga tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui bagaimana cara anak tunggal memaknai parenting otoriter dalam kehidupan sehari-hari, untuk mengetahui bagaimana dan apa saja bentuk-bentuk otoriter yang diterapkan orang tua kepada anak, dan juga untuk mengetahui bagaimana cara anak menjalani kehidupan dengan perilaku orang tua yang Strict. METODE Penelitian ini dilaksanakan menggunakan jenis penelitian Kualitatif dengan metode Fenomenologi. Pendekatan fenomenologi merupakan sebuah penundaan dari segala bentuk penilaian terhadap pengalaman sampai ditemukan dasar yang jelas. Creswell . Pendekatan ini bertujuan untuk memahami secara mendalam pengalaman yang dialami oleh subjek anak tunggal dalam memaknai parenting otoriter . trict paren. yang diterapkan oleh orang tua. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara dan observasi non-partisipan, dimana peneliti saat melakukan observasi tidak terlibat langsung dalam kegiatan subjek, partisipan pada penelitian ini dipilih dengan kriteria anak tunggal yang mengalami parenting Afeksi: Jurnal Penelitian dan Evaluasi Pendidikan Volume 6 Nomor 6 Tahun 2025 https://afeksi. id/jurnal/index. php/afeksi e-ISSN: 2745-9985 otoriter . trict paren. Subjek pertama FS, peneliti melakukan wawancara sebanyak 2 kali pada hari Selasa, 29 Oktober 2024 lokasi wawancara dilakukan di Perpustakaan Universitas Sanata Dharma dan Sabtu, 30 November 2024 wawancara dilakukan pada Kos Putri Ibu Suharto. Subjek Kedua PS, peneliti hanya melakukan satu kali wawancara pada Jumat, 1 November 2024 wawancara dilakukan di Perumahan Polri Gowok. Disetiap subjek terdapat Significant Others yang digunakan peneliti untuk memperkuat data yang diperoleh dari kedua subjek. Data yang diperoleh dari hasil wawancara, dibuat dalam bentuk verbatim, reduksi data, setelah itu peneliti melakukan koding dengan aplikasi QDA Minner Lite dengan menentukan tema-tema dari hasil wawancara yang telah dilakukan, dalam penelitian ini tema yang dimasukkan dalam aplikasi seperti Strict Parent. Parenting Otoriter. Anak Tunggal dan terakhir peneliti menarik kesimpulan dari hasil penelitian yang dilakukan. HASIL DAN PEMBAHASAN Penjabaran Pengalaman Subjek Menjalani Strict Parent Cara FS menjalani strict parent dalam kehidupannya sebagai sebuah ancaman ia merasa bahwa Audengan adanya strict parent aku merasa diriku engga punya kebebasan, engga bisa keluar dari zona nyamanku, dan juga engga bisa berkembang kedepannya. Aku juga mikir kalau nanti aku kerja masih diatur sama mamaku, ya aku berharap nantinya engga diatur-atur lagi biar aku nemuin kehidupanku, belajar mandiri tanpa harus mengikuti kemauannya terusAy (RM1. S1. Sedangkan PS menjalaninya dengan cara Aumenurut aku sih, mungkin maksud orang tua baik yah tapi terkadang cara mereka mendidik saya tuh sama seperti apa yang mereka dapatkan sewaktu kecil, bahkan orang tua ku sering bilang ke aku bahwa zaman mereka engga ada anak yang membantah orang tuanya. Dan menurutku itu susah sih, untuk ngebandingin zaman mereka dengan zamanku sekarang. Aku ungkapkan sih, kalau semakin aku di larang maka jiwa ingin tahuku tuh semakin besar, dan juga dari mereka menerapkan strict dalam hidupku sampai sekarang aku tuh ngerasa bebas karena jauh dari merekaAy (S2. RM1. Bentuk-bentuk otoriter Kedua subjek merasa bahwa hidup mereka diatur secara ketat. Aumamaku tuh sangat menuntut, harus mendapatkan ipk bagus, dan kalau engga memenuhi standarnya akan di ungkit-ungkit terus dan hal itu membuat aku jadi risih, terus membatasi aku untuk mandiri, komunikasi sama mamaku tuh juga buruk bahkan kalau dirumah kita komunikasinya lewat chatAy (RM2. S1. , sama halnya dengan PS Auaku tuh selalu dibandingin dengan orang lain, bahkan kalau aku dapat nilai yang bagus orang tuaku tuh engga pernah mau memuji atau apresiasi gitu gak ada, biasanya memberikan kesempatan untuk ngomong tapi engga dipertimbangkan juga jadi jatuhnya orang tuaku tuh kamuannya harus di ikuti, aku selalu diragukan, bahkan komunikasi dengan papaku engga baikAy (RM2. S2. Pemaknaan Parenting Otoriter Subjek memaknai hidupnya dari parenting otoriter orang tua dengan perasaan yang FS memaknainya dengan Autidak nyaman, ada aturan yang tidak sesuai dengan Afeksi: Jurnal Penelitian dan Evaluasi Pendidikan Volume 6 Nomor 6 Tahun 2025 https://afeksi. id/jurnal/index. php/afeksi e-ISSN: 2745-9985 keinginanku tapi mau dibantahpun aku engga bisa yah, entalah dimarahi atau diungkit-ungkit lagi, tidak ada kebebasan juga, dan itu membuatku merasa engga bebas yahAy (RM3. S1. , sedangkan PS Aumerasa tertekan sih, terlebih lagi dari segi pendidikan yah dimana aku selalu dibanding-bandingin sama orang lain, aku merasa orang tuaku tuh lebih mementingkan prestasi dibanding perasaanku, terkadang dikasih kesempatan buat ngomong tapi menurutku itu percuma aja yah soalnya ujung-ujungnya tuh pasti harus mengikuti kemauan merekaAy (RM3. S2. Interpretasi Makna Pengalaman Makna dari stirct parent FS memaknai strict sebagai sebuah ancaman terhadap kebebasan dan kemandiriannya, ia merasa hidupnya terlalu banyak dikendalikan, sulit berkembang, dan takut terus menerus diatur bahkan saat dewasa. FS berharap bisa lepas dari kontrol orang tua agar dapat hidup Sementara PS, melihat bahwa strict sebagai sebuah warisan lama dari orang tua yang kurang relavan dengan zaman dan kehidupannya sekarang. Ia merasa semakin dilarang, semakin besar juga rasa ingin tahunya, jauh dari orang tua justru memberikannya kebebasan karena tidak ada yang mengatur kehidupannya. Strict parent adalah orang tua yang terlalu ketat dalam memberikan parenting kepada anak, menaruh standar tinggi, serta tuntutan penuh kepada anak, strict parent sangat membatasi anak dalam banyak hal seperti dalam pendidikan maupun sosialisasi pada lingkungan. Menurut Lamborn et al . mengatakan bahwa anakanak yang dibesarkan dengan pola asuh strict parent sering kali memiliki harga diri yang rendah, mereka cenderung merasa tidak pernah cukup baik serta selalu berusaha untuk memenuhi standar tinggi yang ditetapkan oleh orang tua. Makna pola otoriter Kedua subjek mengungkapkan pengalaman yang sama terkait dengan parenting FS merasa terus menerus ditekan dengan tuntutan orang tuanya, terutama dalam pencapaian akademik, yang membuatnya merasa risih dan terbatas dalam berkomunikasi serta mengembangkan kemandiriannya. Komunikasi yang buruk dengan ibunya, bahkan hanya melalui chat, dalam Kurniyatillah . menyatakan tentang gaya kepemimpinan otoriter yang ditetapkan oleh ibu FS dapat dikatakan egois karena bentuk kepemimpinannya menggunakan ancaman dan juga bersifat kaku. Sedangkan PS, juga merasakan perbandingan terus menerus dengan orang lain, meskipun ia sudah memperoleh nilai yang baik tetapi orang tuanya tidak pernah memberikan apresiasi, selalu diragukan, dan komunikasi yang buruk dengan ayahnya. Dari kedua pengalaman subjek mencerminkan parenting yang mengekang ruang kebebasan pribadi dan menghambat hubungan komunikasi yang sehat, sehingga kedua subjek memiliki perasaan negatif, dan keterbatasan dalam mengekspresikan diri serta mengembangkan kemandirian, hal ini sesuai dengan pendapat Susanto . mengatakan bahwa indikator pada parenting otoriter yaitu orang tua tidak memberikan alasan mengapa peraturan dibuat dan harus ditaati oleh anak, dan pada posisi tersebut anak tidak diberikan kesempatan untuk mengemukakan pendapatnya dan bertanya tentang peraturan yang ditetapkan orang tua. Meskipun PS mendapatkan kebebasan untuk mengungkapkan pendapatnya namun orang tuanya tidak pernah setuju dengan keputusan yang dibuat olehnya, hal ini sesuai dengan pemaparan Baumrind . orang tua yang otoriter menganggap Afeksi: Jurnal Penelitian dan Evaluasi Pendidikan Volume 6 Nomor 6 Tahun 2025 https://afeksi. id/jurnal/index. php/afeksi e-ISSN: 2745-9985 ketaatan sebagai suatu nilai atau kebijakan, dan orang tua tidak memberikan dialog terbuka kepada sang anak, bahkan ketika anak mengungkapkan pendapatnya. Baumrind juga menegaskan bahwa kunci dari parenting otoriter tidak hanya pada kebebasan anak untuk biasa berpendapat atau tidak, melainkan dilihat dari sisi orang tua merespon, apabila orang tua merespon namun menolak pendapat anak bahkan tidak mendengarkan anak hal tersebut tergolong dalam parenting otoriter, karena orang tua yang otoriter tidak ingin kehendaknya dibantah oleh anak. Pemaknaan dalam kehidupan subjek Kedua subjek memaknai parenting otoriter orang tua secara negatif. FS merasa terkekang oleh aturan yang tidak sesuai keinginanya dan merasa tidak memiliki kebebasan, khawatir dimarahi atau diungkit-ungkit jika membantah. Sedangkan. PS merasa tekanan, terutama dalam pendidikan, dimana ia selalu dibandingkan dengan orang lain dan merasa prestasi lebih dihargai daripada perasaannya. Meskipun diberikan kesempatan berbicara, ia merasa tetap harus mengikuti kemauan orang tuanya. Dalam Baumeister . membuat sebuah jenis kebutuhan untuk . he need for meanin. merupakan motivasi dalam memahami apa yang terjadi dalam kehidupan, dan juga membentuk jenis kebutuhan bagi manusia untuk menemukan makna hidup seperti, need for purpose . ebutuhan untuk tujua. , need for value . ebutuhan akan nila. , need for afficacy . einginan positif bagi lingkunga. , need for self worth . ebutuhan untuk merasa berharg. , kebutuhan akan makna ini tidak didapatkan kedua subjek dalam kehidupan mereka karena itu mereka merasakan perasaan negatif dari parenting orang tuanya. KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh dapat disimpulkan bahwa individu memiliki pandangan yang negatif terhadap parenting otoriter . trict paren. yang dialami, kedua individu merasakan adanya batasan dan aturan yang berlebihan dan membuat individu tidak nyaman dan merasa tertekan. Sebagai anak tunggal, individu merasakan tuntutan dan harapan yang sangat besar, individu merasa bahwa orang tua lebih mengutamakan prestasi akademik dan pencapaian lainnya dibandingkan dengan perasaan dan kebutuhan emosional individu. Namun, kedua subjek menjalani strict parent dengan cara yang berbeda-beda, akan tetapi dampak yang dirasakan oleh keduanya sama. FS menjalani strict ibunya dengan iklash, sedangkan PS masih bisa berdiksusi dengan orang tuanya. Terdapat perbedaan diantara individu dalam memaknai parenting otoriter orang tua. cenderung memendam perasaannya dan takut untuk mengungkapkan pendapat, sementara PS lebih berani mengungkapkan pendapatnya meskipun sering ditolak dan pendapatnya diabaikan oleh orang tua. Dalam hal berkomunikasi antara individu, mendapatkan pola yang Komunikasi FS dengan ibunya cukup buruk, tidak ada komunikasi yang hangat meskipun FS berada dirumah komunikasi dengan ibunya melalui chattingan, sedangkan PS komunikasi bersama ayahnya hanya satu arah saja yaitu, dalam pendidikan. Walaupun PS masih diberikan kehendak untuk mengungkapkan pendapatnya namun ia mengaggap kesempatan itu sia-sia saja karena orang tuanya tidak merespon bahkan menolak pendapat PS. Adanya pengalaman negatif yang individu rasakan meliputi perasaan tidak bebas, tertekan, kurang percaya diri, dan sulit untuk mengambil keputusan, salain itu perilaku Afeksi: Jurnal Penelitian dan Evaluasi Pendidikan Volume 6 Nomor 6 Tahun 2025 https://afeksi. id/jurnal/index. php/afeksi e-ISSN: 2745-9985 parenting otoriter . trict paren. dapat mendorong individu memiliki sikap berbohong. Dari hasil penelitian ini juga dapat memberikan sumbangsi kepada keluarga apalagi terhadap orang tua untuk belajar menerapkan parenting sesuai dengan kebutuhan anak, serta pentingnya membangun komunikasi yang positif antara orang tua dan anak. Sehingga anak merasa aman dan nyaman dalam lingkungan keluarga. Dan juga peneliti berharap, dari penelitian ini mendapatkan hal yang positif sehingga dapat melanjutkan penelitian dengan membandingkan penerapan parenting anak tunggal dari keluarga otoriter dan parenting keluarga yang demokratis. DAFTAR PUSTAKA Allen. George. , & Unwin LTD. The Individual Psychology of Alfred Adler. London Baumeister. Meanings of life. New York. NY: Guilford Press. Baumrind. Effects of authoritative parental control on child behavior. Child Development, 37, 887-907. Creswell. , & Poth. Qualitative inquiry and research design: Choosing among five approaches . th ed. SAGE Publications. Devanto . Natasya Olivia. AA Dampak Pola Asuh Otoriter (Strict Parent. Terhadap Perilaku Anak Di SMA Immanuel Bandar LampungAA (Skripsi- -Universitas Lampung, 2. Hadibroto. I, dkk. Misteri Perilaku Anak Sulung. Tengah. Bungsu dan Tunggal. Kurniyatillah. Rachmawati. SE. Amirah. , & Sulaiman. NS . Kepemimpinan Otoriter dalam Manajemen Pendidikan Islam. Al-Muaddib: Jurnal Ilmu-Ilmu Sosial dan Keislaman, 5. , 160-174. Lamborn. Mounts. Steinberg. , & Dornbusch. Patterns of competence and adjustment among adolescents from authoritative, authoritarian, indulgent, and neglectful Child Development. Rimaisya. Perilaku Sosial Mahasiswa dari Keluarga Pola Pengasuhan Otoriter (Strict Parent. (Kasus Mahasiswa Universitas Hasanuddi. = Social Behavior of Students from Families with Authoritarian Parenting Patterns (Strict Parent. (Case of Hasanuddin University Student. (Doctoral dissertation. Universitas Hasanuddi. Rodia, dkk. Dampak Pola Asuh Strict Parents Terhadap Perkembangan Psikologis Anak. Journal on Education, 7. , 3906. Santrock. John. Life-Spandevelopment : Perkembangan Masa Hidup. Jilid I. Edisi ke13. Jakarta: Erlangga. Sutanto. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Perbedaan Pola Asuh pada Anak. Jakarta: Pustaka Edukasi. Sutanto. , & Andriyani. Positive Parenting membangun karakter positif anak. Pustaka Baru.