Jurnal Menara Medika https://jurnal. id/index. php/menaramedika/index JMM 2023 p-ISSN 2622-657X, e-ISSN 2723-6862 ANALISIS FAKTOR RISIKO PENYEBAB PENULARAN COVID-19 PADA TENAGA KESEHATAN DI JAKARTA SELATAN Yenny Aulya* . Evania Sale Gegu. Retno Widowati Prodi Kebidanan. Fakultas Ilmu Kesehatan. Universitas Nasional Jl. Harsono RM No. 1 Ragunan. Jakarta Selatan 12550 e-mail : yenny. aulya@civitas. Artikel Diterima 8 September 2023. Direvisi : 25 September 2023. Diterbitkan : 29 September 2023 ABSTRAK Pendahuluan: Coronavirus disease 2019 (COVID-19 ) yaitu penyakit menular yang diakibatkan oleh virus Sars-Cov-2 yang penyebarannya dari manusia ke manusia melalui droplet yang keluar dari batuk dan bersin. Tenaga kesehatan merupakan profesi yang secara langsung melakukan interaksi dengan pasien yang terkonfirmasi COVID-19 sehingga sangat rentan terpapar bahkan tertular penyakit infeksi. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor risiko penyebab penularan COVID-19 pada tenaga kesehatan di Jakarta Selatan. Metode: Penelitian ini adalah penelitian observasional analitik dengan rancangan penelitian cross sectional. Sampel dalam penelitian ini berjumlah 60 orang tenaga kesehatan. Teknik pengambilan sampel menggunakan total sampling. Data dianalisis menggunakan uji chi-square untuk mengetahui hubungan antara variabel independen dan dependen. Hasil: Hasil uji statistik menunjukkan hasil bahwa yaitu ketepatan pemakaian APD p-value 0,061>0,05, cuci tangan pakai sabun p-value 0,141>0,05, kontak erat p-value 0,000<0,05, pengetahuan p-value 0,084>0,05, komorbid p-value 0,415>0,05 dan beban kerja p-value 0,001<0,05. Kesimpulan dan Saran: Diketahui faktor risiko yang berhubungan signifikan dengan penularan COVID-19 pada tenaga kesehatan yaitu kontak erat dan beban kerja, sedangkan faktor risiko yang tidak berhubungan yaitu ketepatan pemakaian APD, cuci tangan pakai sabun, pengetahuan dan komorbid. Diharapkan upaya tenaga kesehatan untuk tetap teliti dan mematuhi prosedur dalam menerapkan protokol kesehatan saat memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat agar tidak tertular virus COVID-19 . Kata Kunci: COVID-19 , faktor penularan, tenaga kesehatan Jurnal Menara Medika Vol 6 No 1 September 2023 | 91 Jurnal Menara Medika https://jurnal. id/index. php/menaramedika/index JMM 2023 p-ISSN 2622-657X, e-ISSN 2723-6862 ABSTRACT Introcuction: Coronavirus disease 2019 (COVID-19 ) is an infectious disease caused by the Sars-Cov-2 virus which is spread from human to human through droplets that come out of coughing and sneezing. Health workers are professions that directly interact with patients who are confirmed to be COVID-19 , so they are very vulnerable to exposure and even contracting infectious diseases. Objectives: This study aims to analyze the risk factors that cause COVID-19 transmission to health workers in South Jakarta. Method: This research is an analytic observational study with a cross sectional research design. The sample in this study amounted to 60 health workers. The sampling technique used was total sampling. The data were analyzed using the chi-square test to determine the relationship between the independent and dependent variables. Result: The results of statistical tests showed that the accuracy of using PPE p-value 0. 061>0. 05, hand washing with soap p-value 0. 141>0. close contact p-value 0. 000 <0. 05, knowledge p-value 0. 084 >0. 05, comorbid p-value 415>0. 05 and workload p-value 0. 001<0. Conclution and Recommendation: It is known that the risk factors significanttly associated with the transmission of COVID-19 to health workers are close contact and workload, while the unrelated risk factors are the accuracy of using personal protective equipment, washing hands with soap, knowledge and It is hoped that the efforts of health workers to remain thorough and comply with procedures in implementing health protocols when providing health services to the community so as not to contract the COVID-19 virus. Keywords: COVID-19 , factor of transmission, health worker Jurnal Menara Medika Vol 6 No 1 September 2023 | 92 Jurnal Menara Medika https://jurnal. id/index. php/menaramedika/index JMM 2023 p-ISSN 2622-657X, e-ISSN 2723-6862 yang lain (COVID-19 Media Center. PENDAHULUAN Coronavirus disease 2019 atau Penularan pada tenaga kesehatan di yang lebih dikenal dengan COVID-19 Amerika mencapai 370 orang per 10. merupakan penyakit menular yang kasus dengan angka kematian pada tenaga diakibatkan oleh virus Sars-Cov-2 atau kesehatan mencapai 5% (Black et al. Coronavirus (Kementerian Kesehatan RI. Satuan tugas COVID-19 Indonesia COVID-19 telah dinyatakan melaporkan bahwa setiap 100 orang yang sebagai pandemi dunia oleh WHO (Li et meninggal, terdapat 6-8 orang merupakan , 2. Pada masa pandemi COVID-19 tenaga kesehatan. Data yang masuk sejak ini tenaga kesehatan memiliki peranan Maret 2020 sampai Oktober 2021, jumlah penting, dimana tenaga kesehatan harus kematian tenaga kesehatan di Indonesia siap dengan tingkat resiko penularan yang akibat COVID-19 adalah 2. 032 kasus. tinggi untuk tetap menjalankan tugasnya Dampak dari penularan COVID-19 sebagai tenaga kesehatan dan memberikan pelayanan kesehatan sebaik mungkin meningkatnya kecemasan, takut akan setiap harinya (Suhamdani et al. , 2. Tenaga kesehatan merupakan meningkatnya beban kerja dengan sumber profesi yang secara langsung melakukan interaksi dengan pasien terkonfirmasi COVID-19 sehingga sangat rentan pengendalian infeksi (PPI) di bawah terpapar bahkan tertular penyakit infeksi standar (Schwartz et al. , 2. , serta (Qiu et al. , 2. Oleh sebab itu pada ketidakcukupan fasilitas kesehatan dan saat pandemi, peran tenaga kesehatan tenaga kesehatan yang menampung dan tidak dapat diabaikan karena tenaga memberikan perawatan (Bai et al. , 2. kesehatan merupakan salah satu tenaga Selain itu petugas kesehatan khawatir professional yang berada digaris terdepan tidak hanya dirinya yang terinfeksi tetapi atau garda terdepan untuk menangani juga menginfeksi rekan kerja dan anggota kondisi kedaruratan kesehatan dunia keluarganya (Sahu et al. , 2. akibat COVID-19 . Penyebaran COVIDKontak erat merupakan salah satu 19 sangat cepat karena penyebarannya faktor risiko penularan COVID-19 pada dari manusia ke manusia, transmisi terjadi tenaga kesahatan (Barrett et al. , 2. melalui droplet yang keluar dari batuk Penyebab lain penularan COVID-19 dan bersin (Han & Yang, 2. , selain itu adalah kurangnya ketersediaan alat penularan juga bisa melalui aerosol pelindung diri (APD) atau salah dalam (Doremalen et al. , 2. Penularan yang menggunakan dan melepas APD (Albegitu cepat dan radikal oleh virus ini zoubi et al. , 2. Selain itu faktor dipengaruhi dari faktor lingkungan, bekerja shif malam . ualitas tidur yang kondisi imunitas dan sifat dari virus itu renda. dan stress kerja berisiko terinfeksi sendiri (Ying et al. , 2. penyakit (Bai et al. , 2. Di Wuhan Pelaporan pada tanggal 24 Juli Cina, sebanyak seribu tujuh ratus dua 2022 jumlah kasus positif COVID-19 di puluh lima tenaga kesehatan yang berada dunia mencapai 486. 597 kasus di garis depan terinfeksi virus Sars-Cov-2 dengan CFR,3% dan di Indonesia total (Ran et al. , 2. Penularan yang terjadi kasus terkonfirmasi COVID-19 adalah pada tenaga kesehatan diasumsikan 909 kasus dengan CFR 2,6% tertular infeksi di Rumah Sakit (Dawei et (Kementerian Kesehatan RI, 2. Kasus , 2. COVID-19 pada tenaga kesehatan di Penyebab penularan COVID-19 dunia mencapai 25 ribu yang terdiri atas pada tenaga kesehatan tidak hanya terjadi dokter, perawat, bidan, analis, farmasi dan saat kontak dengan pasien yang positif Jurnal Menara Medika Vol 6 No 1 September 2023 | 93 Jurnal Menara Medika https://jurnal. id/index. php/menaramedika/index JMM 2023 p-ISSN 2622-657X, e-ISSN 2723-6862 COVID-19 tetapi bisa terjadi karena tanggal 02 Maret 2021, angka penularan kontak antar kolega dan kontak di luar kasus COVID-19 pada dokter sudah peraturan Rumah Sakit, misalnya saat 014 kasus dan pada tanggal mereka tidak merawat pasien, saat 07 Mei 2021 terjadi peningkatan yaitu istirahat makan siang dan saat rapat, 177 kasus sedangkan pada selain itu tenaga kesehatan bekerja di tanggal 13 Maret 2021 pada perawat ruang terbatas yang tidak memungkinkan 491 kasus dan pada tanggal menjaga jarak fisik atau physical 18 Mei 2021 terjadi peningkatan yaitu distancing (Belingheri et al. , 2. dan 682 kasus. tenaga kesehatan yang berkumpul tanpa Hasil penelitian yang dilakukan menggunakan masker dan pelepasan APD oleh Mastifah . dengan judul yang salah (Black et al. , 2. Penularan juga bisa terjadi karena menyentuh area coronavirus disease 2019 (COVID-19 ) yang terindikasi ada virusnya seperti di pada tenaga kesehatan, menunjukkan tempat umum dan fasilitas rumah sakit hasil bahwa faktor risiko penularan lainnya (Kang et al. , 2. Virus akan COVID-19 pada tenaga kesehatan adalah masuk ke saluran pernafasan jika usia, cuci tangan yang kurang optimal, seseoang menyentuh wajah dan hidung komorbid, kualitas tidur yang rendah, tanpa mencuci tangan terlebih dahulu kurangnya pengetahuan dan pelatihan, (Huang et al. , 2. stress kerja, kontak erat atau terpapar Peningkatan penularan COVID-19 pasien positif COVID-19 , kurangnya pada tenaga kesehatan terus bertambah APD, beban kerja dan iklim, suhu dan dari waktu ke waktu meskipun usaha Penelitian pencegahan telah dilakukan, menurut dilakukan oleh Nova dan Adisasmito hasil penelitian yang dilakukan oleh . dengan judul gambaran umum Mhango et al. di Afrika Selatan faktor risiko COVID-19 pada tenaga faktor risiko penularan COVID-19 pada kesehatan Rumah Sakit di Asia, tenaga kesehatan adalah usia, imunitas menunjukkan hasil tentang faktor risiko tenaga kesehatan dan penyakit komorbid tenaga kesehatan di Rumah Sakit selama seperti hipertensi, diabetes melitus. COVID-19 seperti ketersediaan alat penyakit kardiovaskuler dan penyakit paru pelindung diri (APD), paparan pasien obstruktif kronis (PPOK). Penularan yang terinfeksi, beban kerja yang COVID-19 tenaga kesehatan berlebihan, pelatihan PPI, kondisi medis merupakan hal yang bisa dicegah atau yang sudah ada sebelumnya dan faktor Tingkat pengetahuan petugas Kasus COVID-19 di Indonesia kesehatan tentang COVID-19 tergolong bukan hanya terjadi pada masyarakat baik, namun faktor seperti kategori tetapi juga pada tenaga kesehatan. Berdasarkan data 28 Januari 2021 dari mempengaruhi sikap dan perilaku mereka Amnesty Internasional, kematian tenaga sehingga faktor kecemasan, kelelahan dan kesehatan akibat COVID-19 di Indonesia stres cukup bervariasi. berada di peringkat 3, dengan total Studi pendahuluan yang dilakukan kematian tenaga kesehatan di Indonesia di Jakarta Selatan pada 30 April 2022, sebanyak 647 tenaga kesehatan, baik itu diperoleh data jumlah tenaga kesehatan di dokter, perawat, dokter gigi, sanitarian. Jakarta Selatan yaitu sebanyak 60 orang bidan, terapis gigi, petugas ambulan, tenaga kesehatan dan dari 60 orang tenaga rekam radiologi, apoteker dan lain-lain. kesehatan tersebut terdapat 42 orang Berdasarkan data Tim Mitigasi IDI . dan DPP PPNI . dimana pada terkonfirmasi COVID-19 . Berdasarkan Jurnal Menara Medika Vol 6 No 1 September 2023 | 94 Jurnal Menara Medika https://jurnal. id/index. php/menaramedika/index latar belakang tersebut, penulis tertarik untuk melakukan penelitian tentang analisis faktor risiko penyebab penularan COVID-19 pada tenaga kesehatan di Jakarta Selatan. JMM 2023 p-ISSN 2622-657X, e-ISSN 2723-6862 pada bulan Juni sampai Juli tahun 2022. Variabel penelitian yang di teliti yaitu independen dan dependen. Variabel independen yang diteliti dalam penelitian ini yaitu ketepatan pemakaian alat pelindung diri, cuci tangan pakai sabun, kontak erat, pengetahuan, komorbid dan beban kerja sedangkan Variabel dependen pada penelitian ini adalah penularan COVID-19 Instrumen penelitian yang dipakai yaitu berupa kuesioner. Lembar kuesioner digunakan untuk mengukur skala ordinal dan nominal. Pengolahan data dilakukan menggunakan software atau program SPSS. Analisis data univariat dan bivariat SPSS menggunakan uji chi-square dengan bantuan aplikasi komputer, dimana nilai p kemudian dibandingkan dengan nilai = 0,05 dimana p < 0,05 maka H0 ditolak. Ha Sedangkan jika p Ou 0,05 maka H0 diterima. Ha ditolak. dengan bantuan aplikasi komputer, dimana nilai p kemudian dibandingkan dengan nilai = 0,05 dimana p < 0,05 maka H0 ditolak. Ha Sedangkan jika p Ou 0,05 maka H0 diterima. Ha ditolak, untuk mengetahui hubungan dua variabel. Etika penelitian yaitu: menghormati harkat dan martabat kerahasiaan subjek, menghormati keadilan dan inklusivitas, memperhitungkan manfaat dan kerugian yang ditimbulkan. METODE Desain penelitian yang digunakan adalah observasional analitik dengan rancangan penelitian cross sectional. Populasinya adalah seluruh tenaga kesehatan yang berdinas di daerah Jakarta Selatan Laboratorium AuGAy yaitu sebanyak 60 Penelitian ini memakai teknik pengambilan sampel dengan sampel yang terlibat memiliki kriteria inklusi dan ekslusi sejalan dengan tujuan penelitia. Kriteria inklusi dalam penelitian ini yaitu: Berdinas di daerah Jakarta Selatan yang bertempatkan di Laboratorium AuGAy. Kooperatif dan mampu berkomunikasi dengan baik. Bersedia berpartisipasi Kriteria penelitian yaitu: Tenaga Kesehatan yang tidak kooperatif dan sedang cuti atau libur pada saat penelitian. Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini adalah total sampling. Total sampling adalah teknik pengambilan sampel dimana besar sampel sama dengan populasi (Sugiyono, 2. Alasan mengambil total sampling karena menurut HASIL DAN PEMBAHASAN Sugiyono . jumlah populasi yang Tabel 1 kurang dari 100 seluruh populasi Distribusi Frekuensi Berdasarkan dijadikan sampel penelitian semuanya. Karakteristik Responden Jadi, jumlah sampel dalam penelitian ini. Variabel Frekuensi Persentase yaitu 60 orang. Lokasi penelitian . (%) dilaksanakan di daerah Jakarta Selatan Usia yang bertempatkan di Laboratorium AuGAy. Waktu terlaksananya penelitian ini secara Tahun keseluruhan dimulai dari penyusunan proposal pada bulan Maret sampai Mei Tahun dilaksanakan pada bulan Mei sampai Juni Tahun tahun 2022, dan penyusunan laporan hasil Jurnal Menara Medika Vol 6 No 1 September 2023 | 95 Jurnal Menara Medika https://jurnal. id/index. php/menaramedika/index JMM 2023 p-ISSN 2622-657X, e-ISSN 2723-6862 Lanjutan Jenis Kelamin Laki-laki Perempuan Pendidikan SMK Di Profesi Bidan Perawat Analis Terkonfirma si COVID-19 Tidak Pernah Ou1 Kali Total Tabel 3 Hubungan Cuci Tangan Pakai Sabun dengan Penularan COVID-19 pada Tenaga Kesehatan Cuci Penularan COVID-19 Value Tangan Pakai Negatif Positif Sabun Tidak 18,5 22 81,5 0,14 Optimal Optimal 39,4 20 60,6 Tabel 2 Hubungan Ketepatan Pemakaian Alat Pelindung Diri dengan Penularan COVID-19 pada Tenaga Kesehatan Penularan COVID-19 Ketepatan Valu Negatif Positif Pemakaian APD Tidak Tepat Tepat Total Total 0,06 Tabel 2 menunjukkan penularan COVID19 lebih banyak pada responden yang tidak tepat dalam pemakaian APD . ,6%) dibandingkan dengan responden yang tepat dalam pemakaian APD . ,8%). Hasil Chi-Square menunjukkan tidak ada hubungan yang signifikan antara ketepatan pemakaian APD dengan penularan COVID-19 pada tenaga kesehatan di Jakarta Selatan (Pvalue > 0,. Tabel 3 menunjukkan penularan COVID19 lebih banyak pada responden yang tidak optimal dalam cuci tangan pakai sabun . ,5%) dibandingkan dengan responden yang optimal dalam cuci tangan pakai sabun . ,6%). Hasil uji Chi-Square menunjukkan tidak ada hubungan yang signifikan antara cuci tangan pakai sabun dengan penularan COVID-19 pada tenaga kesehatan di Jakarta Selatan (P-value > 0,. Tabel 4 Hubungan Kontak Erat dengan Penularan COVID-19 pada Tenaga Kesehatan Penularan COVIDP OR Val Konta Positif k Erat Negatif Tidak Total 0,000 205,000 Tabel 4 menunjukkan penularan COVID19 lebih banyak pada responden yang kontak erat . ,2%) dibandingkan dengan responden yang tidak kontak erat . ,3%). Hasil uji Chi-Square menunjukkan ada hubungan yang signifikan antara kontak Jurnal Menara Medika Vol 6 No 1 September 2023 | 96 Jurnal Menara Medika https://jurnal. id/index. php/menaramedika/index erat dengan penularan COVID-19 pada tenaga kesehatan di Jakarta Selatan (Pvalue O 0,. Tabel 5 Hubungan Pengetahuan Penularan COVID-19 pada Tenaga Kesehatan di Jakarta Selatan Pengeta Penularan COVID-19 Negatif Positif Valu Kurang 92,3 0,08 Baik Total Tabel 5 menunjukkan penularan COVID19 lebih banyak pada responden yang . ,3%) dibandingkan dengan responden yang pengetahuannya baik . ,8%). Hasil uji Chi-Square menunjukkan tidak ada pengetahuan dengan penularan COVID-19 pada tenaga kesehatan di Jakarta Selatan (P-value > 0,. Tabel 6 Hubungan Komorbid Penularan COVID-19 pada Tenaga Kesehatan di Jakarta Selatan Komorbid Tidak Total Penularan COVID-19 Negatif Positif Tabel 6 menunjukkan penularan COVID19 lebih banyak pada responden yang memiliki komorbid . ,5%) dibandingkan dengan responden yang tidak memiliki komorbid . ,3%). Hasil uji Chi-Square menunjukkan tidak ada hubungan yang signifikan antara komorbid dengan penularan COVID-19 pada tenaga JMM 2023 p-ISSN 2622-657X, e-ISSN 2723-6862 kesehatan di Jakarta Selatan (P-value > 0,. Dalam hal ini peneliti berpendapat bahwa tidak adanya hubungan antara komorbid dengan penularan COVID-19 pada tenaga kesehatan dikarenakan tenaga kesehatan yang terlibat dalam penelitian ini adalah mayoritas usia muda yang diperkirakan memiliki sistem kekebalan tubuh yang lebih baik. Tabel 7 Hubungan Beban Kerja dengan Penularan COVID-19 pada Tenaga Kesehatan Beban Kerja Penularan COVID-19 Ringan Negatif 15 53,6 Berat Total Positif 13 46, 29 90, 42 70, Val 0,00 11,15 Tabel 7 menunjukkan penularan COVID19 lebih banyak pada responden dengan beban kerja berat . ,6%) dibandingkan dengan responden dengan beban kerja ringan . ,4%). Hasil uji Chi-Square menunjukkan ada hubungan yang signifikan antara beban kerja dengan penularan COVID-19 pada tenaga kesehatan di Jakarta Selatan (P-value O 0,. PEMBAHASAN Hubungan Ketepatan Pemakaian Alat Pelindung Diri dengan Penularan COVID-19 Berdasarkan hasil penelitian dapat dilihat bahwa dari 26 orang tenaga kesehatan yang tidak tepat dalam pemakaian APD sebanyak 84,6% yang positif COVID-19 sedangkan dari 34 orang tenaga kesehatan yang tepat dalam APD sebanyak 58,8% dinyatakan positif COVID-19 . Hasil uji Jurnal Menara Medika Vol 6 No 1 September 2023 | 97 Jurnal Menara Medika https://jurnal. id/index. php/menaramedika/index JMM 2023 p-ISSN 2622-657X, e-ISSN 2723-6862 chi-square diperoleh p- value 0,061 tidak sesuai standar di Kabupaten (>0,. berarti tidak ada hubungan yang Jombang. Penelitian tersebut berbeda signifikan antara ketepatan pemakaian dengan penelitian yang dilakukan oleh alat pelindung diri dengan penularan Rizqullah . dengan judul pengaruh COVID-19 pada tenaga kesehatan di pemakaian APD lengkap terhadap Jakarta Selatan. terjadinya gejala klinis COVID-19 Upaya untuk mencegah petugas karyawan di RSMP, yang menunjukkan kesehatan terinfeksi COVID-19 adalah hasil bahwa terdapat pengaruh pemakaian dengan mematuhi praktik pencegahan dan APD lengkap terhadap terjadinya gejala pengendalian infeksi. Upaya ini meliputi klinis COVID-19 . P = 0,003 (P<0,. pengendalian administratif, lingkungan. Dalam hal ini peneliti berpendapat teknik/engineering dan penggunaan alat bahwa tidak selamanya kejadian COVIDpelindung diri (APD) yang tepat (Ayulia 19 pada tenaga kesehatan disebabkan oleh et al. , 2. APD adalah seperangkat alat APD, keselamatan yang digunakan oleh pekerja disebabkan oleh faktor-faktor lain seperti untuk melindungi seluruh atau sebagian tempat tinggal yang diluar Rumah Sakit, tubuhnya dari kemungkinan adanya yang lokasi tersebut sudah ada pemaparan potensi bahaya lingkungan masyarakat yang terkena COVID-19 , atau kerja terhadap kecelakaan dan penyakit tenaga kesehatan tersebut tinggal bersama akibat kerja (Panjaitan, 2. dengan keluarga yang terkonfirmasi APD bertindak sebagai penghalang COVID-19. antara bahan infeksius . isalnya virus Meskipun demikian, kepatuhan dan bakter. dengan kulit, mulut, hidung, penggunaan APD pada tenaga kesehatan atau mata . elaput lendi. tenaga yang manangani pasien COVID-19 , perlu kesehatan dan pasien (Direktorat Jenderal diperhatikan, dan tetap menerapkan Pelayanan Kesehatan RI, 2. APD protokol kesehatan yaitu memakai sangat penting bagi perawat, dokter dan masker, sering mencuci tangan dengan tenaga medis lainya. Setiap hari perawat, sabun sesuai yang dianjurkan WHO, dan dokter dan tenaga medis lainya selalu menjaga jarak serta menjauhi kerumuman berinteraksi dengan pasien dan bahayabaik ditempat kerja maupun di lingkungan bahaya di Rumah Sakit. Hal tersebut dimanapun berada, sehingga dapat membuat perawat, dokter dan tenaga mencegah penularan COVID-19 pada medis lainya berisiko terkena penyakit tenaga kesehatan tersebut. akibat kerja di rumah sakit (Azzahri & Ikhwan. APD memastikan bahwa seseorang aman dari bahaya fisik yang mungkin dihadapi di Hubungan Cuci Tangan Pakai Sabun lingkungan kerja. Penggunaan APD dengan Penularan COVID-19 dibutuhkan untuk membantu memberikan Hasil penelitian dapat dilihat bahwa pelayanan kesehatan dengan aman (John dari 27 orang tenaga kesehatanyang & Craig, 2. kurang optimal dalam mencuci tangan Hasil penelitian yang dilakukan oleh pakai sabun sebanyak 81,5% yang positif Setyarini & Dwianggimawati . COVID-19 sedangkan dari 33 orang dengan judul analisa faktor resiko tenaga kesehatan yang optimal dalam penularan pada petugas kesehatan di era mencuci tangan pakai sabun sebanyak pandemi COVID-19 di Kabupaten 60,6% dinyatakan positif COVID-19 . Jombang, menyatakan bahwa riwayat Hasil uji chi-square diperoleh p-value pemakaian APD sesuai SOP tidak bisa 0,141 (>0,. berarti tidak ada hubungan dianalisa dikarenakan pemakaian APD yang signifikan antara cuci tangan pakai Jurnal Menara Medika Vol 6 No 1 September 2023 | 98 Jurnal Menara Medika https://jurnal. id/index. php/menaramedika/index JMM 2023 p-ISSN 2622-657X, e-ISSN 2723-6862 sabun dengan penularan COVID-19 pada analisa faktor resiko penularan pada tenaga kesehatan di Jakarta Selatan. petugas kesehatan di era pandemi Salah satu cara yang dapat COVID-19 di Kabupaten Jombang, dilakukan dalam pencegahan penularan diperoleh hasil bahwa riwayat cuci tangan COVID- 19 ini yaitu Cuci Tangan. p-value 1,000>0,05 Perilaku cuci tangan harus diterapkan (OR=0,. yang berarti bahwa tidak ada oleh seluruh petugas kesehatan pada lima pengaruh cuci tangan pakai sabun dengan waktu, yaitu sebelum menyentuh pasien, penularan pada petugas kesehatan di era sebelum melakukan prosedur, setelah pandemi COVID-19 di Kabupaten terpajan cairan tubuh, setelah menyentuh Jombang. pasien dan setelah menyentuh lingkungan Dalam hal ini peneliti berpendapat Air sering disebut sebagai pelarut bahwa tidak adanya hubungan antara cuci universal, namun mencuci tangan dengan tangan pakai sabun dengan penularan air saja tidak cukup untuk menghilangkan COVID-19 pada tenaga kesehatan dikarenakan tenaga kesehatan sadar merupakan virus RNA dengan selubung bahwa perilaku cuci tangan pakai sabun lipid bilayer. Sabun mampu mengangkat adalah budaya kerja yang harus dan mengurai senyawa hidrofobik seperti diterapkan dengan baik dan menjadi salah lemak atau minyak (Riedel et al, 2. satu faktor pencegahan terjadinya Menurut Kusumawati . , cuci COVID-19 dibuktikan dengan mayoritas tangan pakai sabun adalah suatu tenaga kesehatan cuci tangan pakai sabun prosedur/tindakan membersihkan tangan secara optimal yaitu sebanyak 33 orang dengan menggunakan sabun dan air yang . ,0%) dibandingkan dengan yang tidak mengalir atau hand rub dengan antiseptik mencuci tangan pakai sabun secara . erbasis alkoho. Virus COVID- 19 optimal yaitu 27 orang . ,0%). yang keluar melalui droplet diperkirakan dapat bertahan dan menempel pada Hubungan Kontak Erat permukaan benda. Tangan merupakan Penularan COVID-19 media penghantar yang baik untuk Berdasarkan tabel 4. 4 dapat dilihat penyebaran Virus COVID-19 berkaitan bahwa dari 16 orang tenaga kesehatan dengan aktifitas kontak fisik baik dengan yang tidak kontak erat sebanyak 6,3% manusia maupun dengan benda. Oleh yang positif COVID-19 sedangkan dari 44 karenanya salah satu kunci keberhasilan orang tenaga kesehatan yang kontak erat dalam upaya pencegahan penularan virus sebanyak 93,2% dinyatakan positif COVID-19 adalah dengan mencuci tangan COVID-19 . Hasil uji chi-square secara konsisten sebelum dan sesudah diperoleh p-value 0,000 (<0,. berarti melakukan aktifitas. ada hubungan yang signifikan antara Berdasarkan Survei kontak erat dengan penularan COVID-19 Demografi dan Kesehatan Indonesia pada tenaga kesehatan di Jakarta Selatan. (SDKI) 2017, persentase rumah tangga Salah satu faktor risiko penyebab daerah tempat tinggal perkotaan perilaku penularan COVID-19 yang ditetapkan cuci tangan menggunakan sabun dan air oleh The Centers for Disease Control and sebesar 97,1%, hanya menggunakan air Prevention (CDC, 2. adalah kontak sebesar 2,1%, menggunakan sabun tanpa erat, termasuk tinggal satu rumah dengan air sebesar 0,4%, tempat cuci tangan tetap pasien COVID-19 dan riwayat perjalanan sebesar 87,3%, dan tempat cuci tangan ke area terjangkit. Kontak erat yaitu tidak tetap sebesar 8,5%. Penelitian yang seseorang yang melakukan kontak fisik Setyarini atau berada dalam satu ruangan dengan Dwianggimawati . dengan judul pasien diduga COVID-19 , kontak dengan Jurnal Menara Medika Vol 6 No 1 September 2023 | 99 Jurnal Menara Medika https://jurnal. id/index. php/menaramedika/index sesama tenaga kesehatan ditempat kerja . alam radius 1 meter dengan kasus tanpa Kontak erat dikategorikan menjadi 2, yaitu: Kontak erat risiko rendah, bila kontak dengan kasus pasien dalam Kontak erat risiko tinggi, bila kontak dengan kasus konfirmasi atau probable (Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia 07/Menkes/413/2. Profesi yang berisiko tinggi terinfeksi COVID-19 adalah tenaga Tenaga kesehatan merupakan salah satu populasi yang berisiko tinggi tertular karena kontak dengan pasien. Italia sekitar 9% kasus COVID-19 adalah tenaga medis, di China lebih dari 3. tenaga medis juga terinfeksi, dengan mortalitas sebesar 0,6% (Susilo et al. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Sirajuddin . yang berjudul pengaruh kontak erat terhadap kasus konfirmasi COVID-19 di Kota Makassar Tahun 2020, menunjukkan ada pengaruh kontak dekat terhadap kasus terkonfirmasi COVID-19 Kota Makassar tahun 2020, terbukti dari hasil uji statistik diperoleh nilai P=0,00 lebih kecil dari pada level 0,000 dengan nilai odd rasio 6,802. Penelitian tersebut sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Indriana . dengan judul analisis korelasi faktor risiko kejadian COVID-19 di Ruang Isolasi RSUD Sultan Imanuddin Pangkalan Bun Kalimantan Tengah yang menunjukkan hasil bahwa riwayat kontak memiliki hubungan yang signifikan dengan kejadian COVID-19 . Dalam hal ini peneliti berpendapat bahwa COVID-19 kesehatan disebabkan oleh adanya kontak erat dikarenakan tenaga kesehatan secara langsung melakukan interaksi dengan pasien terkonfirmasi COVID-19 sehingga sangat rentan terpapar bahkan tertular penyakit infeksi. JMM 2023 p-ISSN 2622-657X, e-ISSN 2723-6862 Hubungan Pengetahuan Penularan COVID-19 Berdasarkan tabel 4. 5 dapat dilihat bahwa dari 13 orang tenaga kesehatan dengan pengetahuan kurang sebanyak 92,3% yang positif COVID-19 sedangkan dari 47 orang tenaga kesehatan dengan pengetahuan baik sebanyak 63,8% dinyatakan positif COVID-19 . Hasil uji chi-square diperoleh p-value 0,084 (>0,. berarti tidak ada hubungan yang signifikan antara pengetahuan dengan penularan COVID-19 pada tenaga kesehatan di Jakarta Selatan. Pengetahuan adalah suatu hasil dari rasa keingintahuan melalui proses sensoris, terutama pada mata dan telinga terhadap objek tertentu (Donsu, 2. Pengetahuan menyebabkan seseorang memperoleh informasi tambahan melalui penggunaan akal sehat. Individu yang berpengetahuan akan dapat menentukan bagaimana bereaksi dan mengambil keputusan ketika menghadapi suatu Pengetahuan memiliki kaitan yang erat dengan keputusan yang akan diambil, karena dengan pengetahuan seseorang memiliki landasan untuk menentukan pilihan (Prihantana et al. Pengetahuan adalah salah satu komponen kompetensi yang harus dimiliki oleh tenaga kesehatan sebagai syarat untuk memiliki kinerja Pengetahuan pencegahan COVID-19 bagi tenaga kesehatan merupakan hal yang sangat penting, hal ini dibutuhkan agar jumlah tenaga kesehatan yang terpapar COVID19 bisa berkurang sehingga dengan adanya pengetahuan tentang pencegahan COVID-19 diharapkan akan terjadi perubahan sikap dan perubahan perilaku pada tenaga kesehatan khususnya di masa pandemi COVID-19 . Seorang tenaga kesehatan harus mengenal, mempelajari dan memahami segala aspek dari penyakit COVID-19 termasuk tanda dan gejala. Jurnal Menara Medika Vol 6 No 1 September 2023 | 100 Jurnal Menara Medika https://jurnal. id/index. php/menaramedika/index penatalaksanaannya (Riastri, 2. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Damayanti et al . , menyatakan bahwa tidak ada hubungan pengetahuan dengan kejadian COVID-19 . Penelitian tersebut sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Pascawati & Satoto . , yang menyatakan bahwa tidak pengetahuan dengan kejadian COVID-19 . Penelitian tersebut tidak sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Winandar dan Muhammad . , menunjukkan hasil bahwa ada hubungan pengetahuan petugas kesehatan dengan risiko transmisi penularan COVID-19 pada tenaga kesehatan di Puskesmas Kuta Alam Kota Banda Aceh Tahun 2021 (P-value 0. Dalam hal ini peneliti berpendapat bahwa tidak adanya hubungan antara pengetahuan dengan penularan COVID-19 dikarenakan responden adalah tenaga kesehatan yang pengetahuannya sudah baik tetapi tetap terpapar COVID-19 . Tingginya paparan COVID-19 ini dikarenakan padatnya jam kerja dan banyaknya pasien serta kecenderungan responden hanya sekedar paham dengan COVID-19 tanpa menerapkan praktik pencegahan dengan baik. JMM 2023 p-ISSN 2622-657X, e-ISSN 2723-6862 mempengaruhi organ lain (Sari et al. Adanya komorbiditas pada pasien dapat berdampak secara langsung terkait beban fisiologis dan juga secara tidak langsung yang mana dengan adanya komorbiditas akan berdampak pada pilihan pengobatan. Pasien COVID-19 dengan penyakit komorbid seperti diabetes mellitus, penyakit paru, penyakit ginjal, penyakit kanker, dan penyakit hati memiliki morbiditas dan mortalitas yang lebih tinggi dibandingkan pasien yang (Hidayani et al. , 2. Pasien yang memiliki komorbid ini lebih memerlukan perhatian karena kondisinya lebih rentan sehingga ketika tertular COVID-19 bisa berdampak fatal. Kementerian Kesehatan memuat 12 penyakit penyerta COVID-19 yang paling banyak pada pasien positif COVID-19 . Lima diantaranya adalah hipertensi, diabetes melitus, penyakit jantung, penyakit paru, dan penyakit ginjal. Orang yang telah memiliki penyakit ini harus kesehatan demi menghindari penularan COVID-19 (Kemenkes RI, 2. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Sanyaolu et al . , menyatakan bahwa tidak ada hubungan antara penyakit penyerta dengan kejadian COVID-19 . Penelitian lain yang Hubungan Komorbid dengan Penularan dilakukan oleh Mhango et al . di COVID-19 Berdasarkan tabel 4. 6 dapat dilihat Afrika Selatan, menyatakan bahwa faktor bahwa dari 52 orang tenaga kesehatan risiko penularan COVID-19 pada tenaga yang tidak memiliki komorbid sebanyak kesehatan adalah usia, imunitas tenaga 67,5% yang positif COVID-19 sedangkan kesehatan dan penyakit komorbid seperti dari 8 orang tenaga kesehatan yang hipertensi, diabetes melitus, penyakit memiliki komorbid sebanyak 87,5% kardiovaskuler dan dinyatakan positif COVID-19 . Hasil uji obstruktif kronis (PPOK). Penelitian lain chi-square diperoleh p-value 0,415 yang tidak sejalan dilakukan oleh (>0,. berarti tidak ada hubungan yang Setyarini dan Dwianggimawati . signifikan antara komorbid dengan dengan judul analisa faktor yang penularan COVID-19 pada tenaga mempengaruhi resiko penularan pada kesehatan di Jakarta Selatan. petugas kesehatan di era pandemi Komorbiditas yaitu terjadinya COVID-19 di Kabupaten Jombang, yang . menyatakan bahwa riwayat komorbid Jurnal Menara Medika Vol 6 No 1 September 2023 | 101 Jurnal Menara Medika https://jurnal. id/index. php/menaramedika/index hasil P-value 0,000<0,05 (OR = 33,. yang berarti terdapat pengaruh Riwayat komorbid dengan penularan pada petugas kesehatan di era pandemi COVID-19 di Kabupaten Jombang. Dalam hal ini peneliti berpendapat bahwa tidak adanya hubungan antara komorbid dengan penularan COVID-19 pada tenaga kesehatan dikarenakan tenaga kesehatan yang terlibat dalam penelitian ini adalah mayoritas usia muda yang diperkirakan memiliki sistem kekebalan tubuh yang lebih baik. JMM 2023 p-ISSN 2622-657X, e-ISSN 2723-6862 memiliki inisiatif, berperilaku kreatif serta memiliki wawasan yang luas dengan motivasi kerja keras, cerdas, ikhlas dan kerja berkualitas dan tetap mematuhi protokol kesehatan. Menangani pasien pada masa pandemi dapat dipandang sebagai tuntutan terhadap pelayanan kesehatan jika tidak dikelola dengan baik maka akan berakibat terjadinya stress kerja (Arif, 2. Penelitian yang dilakukan oleh Panuntun et al . dengan judul hubungan beban kerja dengan tingkat stres perawat saat pandemi COVID-19 di Rumah Sakit Paru Jember, diperoleh hasil sebagian besar perawat mengalami beban kerja sedang sebanyak 18 perawat . 6%) saat pandemi COVID-19 di Rumah Sakit Paru Jember. Penelitian tersebut sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Nova & Adisasmito . dengan judul gambaran umum faktor risiko COVID-19 pada tenaga kesehatan Rumah Sakit di Asia dengan hasil utama tentang faktor risiko penularan COVID-19 pada tenaga kesehatan di rumah sakit selama COVID19 seperti ketersediaan alat pelindung diri (APD), paparan pasien yang terinfeksi, beban kerja yang berlebihan, pelatihan PPI, kondisi medis yang sudah ada sebelumnya dan faktor psikologis. Tingkat pengetahuan petugas kesehatan tentang COVID-19 tergolong baik, namun pengalaman kerja mempengaruhi sikap dan perilaku mereka sehingga faktor kecemasan, kelelahan dan stres cukup Hubungan Beban Kerja dengan Penularan COVID-19 Berdasarkan tabel 4. 7 dapat dilihat bahwa dari 28 orang tenaga kesehatan dengan beban kerja ringan sebanyak 46,4% yang positif COVID-19 sedangkan dari 32 orang tenaga kesehatan dengan beban kerja berat sebanyak 90,6% dinyatakan positif COVID-19 . Hasil uji chi-Square diperoleh p-value 0,001 (<0,. berarti ada hubungan yang signifikan antara beban kerja dengan penularan COVID-19 pada tenaga kesehatan di Jakarta Selatan Beban kerja adalah dasar untuk mengetahui kapasitas kerja perawat supaya terdapat keseimbangan antara tenaga perawat dengan beban kerja (Purba, 2. Beban kerja perawat merupakan bagian dari pengembangan tenaga perawat yang dihitung berdasarkan jumlah waktu yang dibutuhkan untuk memberikan layanan kepada pasien per hari, dampak positif dan negatif beban kerja perawat merupakan masalah persepsi perawat itu sendiri (Hendianti. KESIMPULAN DAN SARAN Bekerja sebagai tenaga kesehatan Berdasarkan hasil penelitian dalam masa pandemi COVID-19 setiap yang telah dikemukakan, maka dapat kesempatan akan menemui pasien yang ditarik simpulan sebagai berikut: Ada bisa saja menularkan penyakitnya hubungan signifikan antara kontak erat dengan penularan COVID-19 pada tenaga berdampak pada kondisi dan beban kerja kesehatan di Jakarta Selatan. Ada yang berbeda. Untuk itu tenaga kesehatan hubungan signifikan antara beban kerja harus berperan sebagai tenaga serba bisa, dengan penularan COVID-19 pada tenaga Jurnal Menara Medika Vol 6 No 1 September 2023 | 102 Jurnal Menara Medika https://jurnal. id/index. php/menaramedika/index kesehatan di Jakarta Selatan. Tidak ada hubungan signifikan antara ketepatan pemakaian alat pelindung diri dengan COVID-19 kesehatan di Jakarta Selatan. Tidak ada hubungan signifikan antara cuci tangan pakai sabun dengan penularan COVID-19 pada tenaga kesehatan di Jakarta Selatan. Tidak ada hubungan signifikan antara pengetahuan dengan penularan COVID-19 pada tenaga kesehatan di Jakarta Selatan. Tidak ada hubungan signifikan antara komorbid dengan penularan COVID-19 pada tenaga kesehatan di Jakarta Selatan. Diharapkan tenaga kesehatan agar memberikan contoh atau menjadi role model bagi masyarakat dalam menyikapi pandemi COVID-19 dan vaksinasi untuk membentuk kepercayaan dan keyakinan masyarakat terhadap pentingnya vaksinasi COVID-19 JMM 2023 p-ISSN 2622-657X, e-ISSN 2723-6862 Health Sciences. Banjarnahor. Analisa Penularan COVID-19 Pada Perawat di Rumah Sakit. JPI : Jawa Tengah. Barrett. Horton. Roy. Gennaro, . Brooks. Tischfield. Greenberg. Andrews. Jagpal, . Reilly. Blaser. Carson. & Panettieri. Prevalence of SARS-CoV-2 infection in previously undiagnosed health care workers at the onset of the U. COVID-19 BMJ: MedRxiv : The Preprint Server for Health Sciences. Belingheri. Paladino. , & Riva, . Beyond the assistance: additional exposure situations to COVID-19 for healthcare workers. Journal of Hospital Infection, 105. KEPUSTAKAAN