Jurnal Teknologi. Vol. No. April 2026, 91-97 Perbandingan Laju Korosi Baja Mild Steel yang Dilapisi Galvanis dan Cat pada Limbah Sawit Muhammad Aidil Fitra Izmail*. Fatahul Arifin. Syamsul Rizal Program Studi Teknik Mesin Produksi dan Perawatan. Politeknik Negeri Sriwijaya. Jl. Srijaya Negara. Bukit Besar. Palembang 30139. Indonesia *E-mail : aidilftraa@gmail. Abstract Article history: Received: 16-03-2026 Accepted: 31-03-2026 Published: 23-04-2026 Keywords: mild steel. This study aims to quantitatively compare the corrosion rate of mild steel coated with galvanizing, black spray paint, silver spray paint, and white spray paint when exposed to palm oil mill effluent. The experiment was conducted using the weight loss method in accordance with ASTM G31 standards. Mild steel specimens with dimensions of 150 mm y 25 mm y 2 mm were prepared, coated, and immersed in 4 L of conditioned palm oil wastewater for 22 days. Environmental parameters, including pH . 5Ae5. and temperature . Ae34AC), were continuously monitored throughout the testing period. Each test was performed in triplicate to ensure data The results indicate that coating type has a significant effect on corrosion resistance. Galvanized specimens exhibited the best performance, with a corrosion rate approaching 0 mm/year and a mass loss of O1%. In contrast, black spray-coated specimens showed the highest corrosion rate of 0. 77 mm/year and mass loss exceeding 1. 8%, followed by silver and white coatings, each with a corrosion rate of 0. 26 mm/year. The superior performance of galvanizing is attributed to its sacrificial protection mechanism and the formation of stable passive layers such as ZnO and ZnCOCE, which effectively inhibit corrosion processes. In conclusion, galvanizing is the most effective coating method for protecting mild steel in aggressive environments such as palm oil mill effluent. Pendahuluan Perkembangan industri di Indonesia yang semakin pesat, khususnya pada sektor manufaktur dan pengolahan, mendorong peningkatan penggunaan material logam seperti baja karbon rendah . ild stee. Material ini digunakan karena memiliki sifat mekanik yang baik, mudah dibentuk, serta biaya yang relatif Namun, baja karbon rendah memiliki kelemahan utama yaitu rentan terhadap korosi, terutama ketika digunakan pada lingkungan agresif seperti limbah industri. Korosi merupakan proses degradasi material akibat reaksi elektrokimia antara logam dan lingkungannya yang dapat menyebabkan penurunan kekuatan, kerusakan struktur, serta meningkatkan biaya perawatan dan penggantian komponen. Pada industri kelapa sawit, limbah cair yang dihasilkan umumnya memiliki sifat asam serta mengandung senyawa organik dan ion-ion agresif yang dapat mempercepat proses korosi pada material logam. Oleh karena itu, diperlukan metode perlindungan yang efektif untuk meningkatkan ketahanan korosi baja pada lingkungan tersebut. Salah satu metode yang umum digunakan adalah pelapisan permukaan . , baik berupa pelapisan logam seperti galvanisasi maupun pelapisan non-logam seperti cat. Galvanisasi dikenal mampu memberikan perlindungan katodik melalui keberadaan lapisan seng yang bersifat lebih reaktif dibandingkan baja, sehingga dapat melindungi logam dasar dari korosi. Sementara itu, pelapisan cat bekerja sebagai penghalang . arrier protectio. yang membatasi kontak langsung antara logam dan lingkungan korosif . Penelitian sebelumnya umumnya hanya berfokus pada satu jenis pelapisan saja, seperti galvanisasi atau coating berbasis polimer, tanpa melakukan perbandingan langsung antar beberapa jenis pelapisan dalam kondisi lingkungan limbah industri yang sama. Selain itu, sebagian penelitian masih menggunakan pendekatan kualitatif berbasis pengamatan visual tanpa didukung oleh perhitungan laju korosi secara kuantitatif menggunakan standar yang baku seperti ASTM G31. Hal ini Jurnal Teknologi. Vol. No. April 2026, 91-97 mengevaluasi efektivitas relatif masing-masing metode pelapisan secara akurat. Berdasarkan kondisi tersebut, terdapat kesenjangan penelitian yaitu belum banyak kajian yang membandingkan secara langsung beberapa jenis pelapisan . alvanis dan ca. pada baja mild steel dalam lingkungan limbah kelapa sawit dengan pendekatan kuantitatif berbasis laju korosi. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk membandingkan laju korosi baja mild steel yang dilapisi galvanis serta cat pilox berwarna hitam, silver, dan putih dalam media limbah sawit. Pengujian dilakukan menggunakan metode kehilangan massa . eight los. berdasarkan standar ASTM G31, sehingga diperoleh nilai laju korosi dalam satuan mm/tahun. Kebaruan dari penelitian ini terletak pada pendekatan komparatif terhadap empat jenis pelapisan yang diuji secara simultan dalam lingkungan limbah kelapa sawit nyata dengan analisis kuantitatif berbasis standar ASTM G31. Penelitian parameter lingkungan seperti pH dan suhu limbah untuk memastikan validitas kondisi korosif yang diuji, sehingga hasil yang diperoleh lebih representatif terhadap kondisi aktual. Oleh karena itu, penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi dalam menentukan metode pelapisan yang paling efektif untuk meningkatkan ketahanan korosi baja pada lingkungan industri yang bersifat agresif. Metode Penelitian ini menggunakan metode eksperimen untuk mengevaluasi laju korosi baja mild steel yang dilapisi dengan empat jenis pelapis, yaitu galvanis, cat pilox hitam, silver, dan putih, pada lingkungan limbah sawit. Pengujian laju korosi dilakukan menggunakan metode kehilangan massa . eight los. mengacu pada standar ASTM G31. Diagram alir penelitian diperlihatkan pada Gambar 1. Spesimen yang digunakan berupa baja mild steel dengan dimensi 15 cm y 2,5 cm y 0,2 Sebelum pelapisan, permukaan spesimen diamplas dan dibersihkan untuk menghilangkan kotoran dan oksida. Pelapisan cat dilakukan sebanyak lima lapisan dengan metode spray, sedangkan spesimen galvanis menggunakan pelapisan seng. Spesimen sebelum pencelupan diperlihatkan pada Gambar 2. Gambar 1. Diagram alir penelitian Gambar 2. Spesimen sebelum pencelupan Pengujian dilakukan dengan merendam spesimen ke dalam 4 liter limbah cair kelapa sawit selama 22 hari . Parameter lingkungan selama pengujian dicatat, yaitu pH limbah berkisar antara 4,5Ae5,2 dan suhu lingkungan antara 28Ae34AC, dengan kondisi sistem terbuka . erasi alam. Untuk meningkatkan keandalan data, setiap jenis pelapis diuji sebanyak tiga spesimen. Proses pencelupan berlangsung selama 22 Selama masa pencelupan, pengamatan visual dilakukan pada hari ke 3, 5, 7, 10, 15, 17, 19, 20, dan 22. Setiap pengamatan didokumentasikan dalam bentuk foto guna mendukung proses analisis visual, yang mencakup perubahan warna, munculnya korosi, retakan, serta pengelupasan lapisan pelindung Jurnal Teknologi. Vol. No. April 2026, 91-97 pada permukaan spesimen. Proses pencelupan sampel diperlihatkan pada Gambar 3. terbaik dengan tingkat kerusakan paling rendah dibandingkan pelapisan lainnya. Hal ini disebabkan oleh mekanisme proteksi katodik yang dimiliki oleh lapisan seng, di mana seng akan teroksidasi terlebih dahulu sehingga melindungi logam dasar dari serangan korosi . Tabel 1. Hasil perhitungan laju korosi spesimen Gambar 3. Proses pencelupan Laju korosi dihitung menggunakan metode kehilangan massa . eight los. berdasarkan standar ASTM G31. Kehilangan massa spesimen dihitung menggunakan W = W awal Oe W akhir Selanjutnya, menggunakan persamaan: CR = yuU ycuyaycuyc Hasil dan Pembahasan Hasil diperlihatkan dalam Tabel 1, dan grafiknya diperlihatkan pada Gambar 4. Nilai laju korosi yang ditampilkan merupakan nilai rata-rata dari tiga pengujian . , dengan variasi data yang relatif kecil (A0,02 mm/tahu. Hal ini menunjukkan bahwa hasil pengujian memiliki tingkat konsistensi dan reproduktibilitas yang Berdasarkan data pada Tabel 1, terlihat bahwa setiap jenis pelapisan memberikan tingkat ketahanan korosi yang berbeda terhadap baja mild steel dalam lingkungan limbah sawit. Pelapisan galvanis menunjukkan performa Berat awal Berat akhir OIW . Laju korosi . m/tahu. OO 0. Laju Korosi Dimana CR adalah laju korosi . m/tahu. K adalah konstanta . ,76 y 10A). W adalah kehilangan massa . A adalah massa jenis baja . ,85 g/cmA). A adalah luas permukaan spesimen . mA), dan t adalah waktu . Perhitungan dilakukan untuk setiap spesimen, kemudian nilai rata-rata digunakan sebagai representasi laju korosi masing-masing Jenis Pelapisan Cat Pilox Hitam Cat Pilox Silver Cat Pilox Putih Galvanis Cat Pilox Hitam Cat Pilox Silver Cat Pilox Putih Galvanis Gambar 4. Grafik perhitungan laju korosi Nilai kehilangan massa negatif pada spesimen galvanis menunjukkan adanya pembentukan produk korosi yang melekat pada permukaan, sehingga massa akhir lebih besar dibandingkan massa awal. Kondisi ini mengindikasikan terbentuknya lapisan pasivasi yang bersifat protektif, sehingga laju korosi efektif dapat dianggap mendekati nol. Fenomena ini umumnya berkaitan dengan terbentuknya senyawa seperti ZnO dan ZnCOCE yang stabil dan mampu melindungi permukaan logam dari kontak langsung dengan lingkungan korosif. Sebaliknya, pelapisan cat pilox, khususnya warna hitam, menunjukkan tingkat kerusakan yang lebih tinggi. Hal ini mengindikasikan bahwa coating berbasis cat hanya berfungsi sebagai barrier protection, sehingga apabila terjadi cacat mikro atau retakan pada permukaan, media korosif dapat dengan mudah menembus lapisan dan mempercepat proses korosi pada substrat baja. Selain itu, kondisi lingkungan limbah sawit yang bersifat asam . H renda. dan Jurnal Teknologi. Vol. No. April 2026, 91-97 mengandung senyawa organik serta ion agresif juga berkontribusi dalam mempercepat laju Hal ini sejalan dengan penelitian lingkungan asam dapat meningkatkan aktivitas elektrokimia sehingga mempercepat degradasi material logam. Hasil yang ditunjukkan pada Tabel 1 juga konsisten dengan nilai laju korosi yang diperoleh melalui perhitungan metode weight loss berdasarkan standar ASTM G31, dimana pelapisan galvanis memiliki nilai laju korosi paling rendah, sedangkan pelapisan cat menunjukkan nilai yang lebih tinggi. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa jenis pelapisan memiliki pengaruh signifikan terhadap ketahanan korosi baja dalam lingkungan limbah sawit. Perbandingan berat awal dan berat akhir spesimen yang telah diberi pelapisan berbeda, yaitu cat pilox hitam, cat pilox silver, cat pilox putih, dan galvanis diperlihatkan pada Gambar 5. Hasil pengukuran menunjukkan bahwa seluruh spesimen yang dilapisi cat mengalami penurunan massa setelah proses perendaman, yang mengindikasikan terjadinya pengikisan material akibat proses korosi selama pengujian. Hal ini menunjukkan bahwa lapisan cat hanya berfungsi sebagai pelindung permukaan . arrier protectio. yang dapat lingkungan korosif. memberikan perlindungan katodik, di mana seng akan teroksidasi terlebih dahulu untuk melindungi logam dasar dari korosi. Hasil ini sejalan dengan penelitian yang menunjukkan bahwa pelapisan galvanis memiliki ketahanan korosi yang lebih baik dibandingkan coating berbasis cat, terutama pada lingkungan agresif, karena adanya kombinasi perlindungan barrier dan proteksi katodik yang lebih efektif. Selain itu, penelitian lain juga melaporkan bahwa ketebalan dan distribusi lapisan seng pada baja galvanis berpengaruh signifikan terhadap peningkatan ketahanan korosi, karena mampu membentuk lapisan pelindung yang lebih stabil dan homogen pada permukaan logam. Persentase perubahan massa spesimen diperlihatkan pada Gambar 6. Dari Gambar 1 menunjukkan persentase perubahan massa dari keempat jenis pelapisan sebagai bentuk kuantifikasi tingkat kerusakan material akibat Persentase perubahan massa dihitung berdasarkan selisih antara berat awal dan berat akhir terhadap berat awal spesimen. Hasil pengujian menunjukkan bahwa pelapisan galvanis memiliki nilai perubahan massa positif sebesar 1,61%, sedangkan pelapisan cat Penurunan massa terbesar terjadi pada cat pilox hitam sebesar Oe1,81%, diikuti oleh cat pilox putih sebesar Oe1,22%, dan cat pilox silver sebesar Oe0,61%. Berat Akhir Massa . Berat . Berat Awal Cat Pilox Cat Pilox Cat Pilox Galvanis Hitam Silver Putih Cat Pilox Hitam Cat Pilox Silver Cat Pilox Putih Persentase Galvanis Gambar 5. Perbandingan berat awal dan berat Gambar 6. Sebaliknya, spesimen dengan pelapisan galvanis menunjukkan peningkatan massa Kondisi mengindikasikan terbentuknya produk korosi atau lapisan pasivasi dari seng pada permukaan baja yang mampu meningkatkan ketahanan terhadap korosi. Lapisan seng pada galvanis Hasil ini menunjukkan bahwa spesimen dengan pelapisan cat mengalami kehilangan massa akibat proses korosi selama perendaman. Sebaliknya, peningkatan massa pada spesimen galvanis mengindikasikan terbentuknya produk korosi atau lapisan pasivasi berbasis seng yang melekat pada permukaan baja. Lapisan seng yang dihasilkan melalui proses hot-dip Jurnal Teknologi. Vol. No. April 2026, 91-97 galvanizing diketahui mampu meningkatkan perlindungan katodik dan pembentukan lapisan pelindung yang stabil. Selain itu, penelitian terbaru juga menunjukkan bahwa kualitas dan ketebalan lapisan seng yang lebih tinggi berkontribusi terhadap pembentukan lapisan pasivasi yang lebih homogen, sehingga mampu memperlambat laju korosi pada lingkungan yang bersifat agresif. Dengan demikian, hasil yang diperoleh memperkuat bahwa pelapisan galvanis merupakan metode yang paling efektif dalam menghambat korosi baja mild steel pada media limbah sawit selama 22 hari. Tren penurunan massa sejak hari ke-0 hingga ke-22 diperlihatkan pada Gambar 7. Dari Gambar 7 terlihat bahwa perubahan massa spesimen selama perendaman menunjukkan adanya perbedaan perilaku korosi pada empat jenis pelapisan, yaitu galvanis, cat pilox hitam, cat pilox silver, dan cat pilox putih. Spesimen dengan pelapisan galvanis menunjukkan kecenderungan peningkatan massa secara bertahap hingga hari ke-22. Kondisi ini disebabkan oleh terbentuknya produk korosi yang bersifat protektif seperti zinc oxide (ZnO) dan zinc carbonate (ZnCOCE) pada permukaan seng, yang membentuk lapisan pasivasi sehingga menghambat kontak langsung antara baja dan lingkungan korosif. hanya berfungsi sebagai barrier protection, sehingga apabila terjadi cacat mikro, media korosif dapat menembus lapisan dan mempercepat proses korosi pada substrat baja. Hasil ini sejalan dengan penelitian yang menyatakan bahwa pelapisan galvanis mampu memberikan perlindungan ganda, yaitu sebagai penghalang . sekaligus perlindungan meningkatkan ketahanan korosi baja karbon rendah pada lingkungan agresif. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa pelapisan galvanis memberikan perlindungan yang lebih efektif dibandingkan cat pilox dalam menahan korosi selama proses perendaman. Gambar 8 menunjukkan bukti visual berupa foto perubahan fisik spesimen dari tampak atas dan tampak bawah antara kondisi awal pengujian . ari ke-. dan kondisi akhir pengujian . ari ke-. Pada kondisi awal, seluruh spesimen menunjukkan permukaan yang relatif bersih dan utuh, di mana warna cat pada spesimen pilox hitam, silver, dan putih masih terlihat cerah, sedangkan lapisan galvanis tampak mengkilap dan merata. Hari Tampak Atas Tampak Bawah Hari Kei 0 Massa . Hari Kei 22 Cat Pilox Hitam Cat Pilox Silver Cat Pilox Putih Gambar 8. Dokumentasi visual sebelum dan sesudah pencelupan Setelah proses perendaman selama 22 hari, terlihat adanya perubahan fisik yang cukup signifikan pada hampir seluruh spesimen, seperti perubahan warna menjadi lebih gelap atau kusam, munculnya bercak korosi, serta indikasi retakan pada beberapa bagian Pada bagian tampak atas, perubahan tersebut menunjukkan degradasi lapisan pelindung akibat paparan langsung terhadap lingkungan korosif. Sementara itu, pada tampak bawah terlihat beberapa area dengan kerusakan yang lebih jelas, yang diduga disebabkan oleh akumulasi atau pengendapan media korosif sehingga mempercepat proses korosi pada permukaan logam. 0 2 4 6 8 10 12 14 16 18 20 22 Hari ke- Gambar 7. Tren peubahan massa spesimen selama perendaman Sebaliknya, spesimen yang dilapisi cat pilox mengalami penurunan massa yang menunjukkan terjadinya degradasi material akibat proses korosi selama perendaman. Penurunan massa paling signifikan terjadi pada cat pilox hitam, yang mengindikasikan bahwa kemampuan perlindungan lapisan cat tersebut lebih rendah dibandingkan pelapisan galvanis. Hal ini disebabkan karena coating berbasis cat Jurnal Teknologi. Vol. No. April 2026, 91-97 Perubahan visual ini menunjukkan terjadinya degradasi lapisan pelindung serta pembentukan produk korosi selama proses perendaman, yang ditandai dengan perubahan warna, munculnya retakan, dan terbentuknya lapisan oksida pada permukaan logam dalam lingkungan agresif. Hasil pengamatan visual ini juga konsisten dengan data kuantitatif laju korosi, di mana spesimen dengan tingkat kerusakan visual yang lebih besar cenderung memiliki nilai laju korosi yang lebih tinggi. Penelitian keterbatasan, diantaranya parameter kimia limbah seperti Chemical Oxygen Demand (COD), kandungan ion klorida, serta komposisi senyawa organik tidak dianalisis secara rinci. Padahal, faktor-faktor tersebut dapat berpotensi mempengaruhi laju korosi material. Oleh karena variabel-variabel keterbatasan dalam penelitian ini dan dapat dipertimbangkan pada penelitian selanjutnya Selain itu, variasi kondisi lingkungan seperti pH dan suhu selama pengujian juga dapat mempengaruhi hasil yang Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian, jenis pelapisan terbukti memberikan pengaruh signifikan terhadap laju korosi baja mild steel dalam lingkungan limbah kelapa sawit. Perhitungan menggunakan metode weight loss berdasarkan standar ASTM G31 menunjukkan bahwa pelapisan galvanis memiliki ketahanan korosi terbaik dengan laju korosi mendekati 0 mm/tahun. Sementara itu, pelapisan cat pilox hitam menunjukkan laju korosi tertinggi sebesar 0,77 mm/tahun, diikuti oleh cat pilox silver dan putih masing-masing sebesar 0,26 mm/tahun. Hasil ini menunjukkan bahwa pelapisan galvanis lebih efektif dibandingkan coating berbasis cat karena mampu memberikan perlindungan katodik selain sebagai penghalang. Sebaliknya, pelapisan cat hanya berfungsi sebagai barrier protection yang rentan terhadap kerusakan pada lingkungan korosif. Dengan demikian, galvanisasi direkomendasikan sebagai metode perlindungan yang paling optimal untuk baja mild steel pada lingkungan limbah sawit yang bersifat agresif. Daftar Pustaka