Reslaj: Religion Education Social Laa Roiba Journal Volume 6 Nomor 3 . 1723 -1736 P-ISSN 2656-274x E-ISSN 2656-4691 DOI: 10. 47476/reslaj. Pengaruh Dimensi Fraud Crowe Pentagon terhadap Kecurangan Akademik Mahasiswa Yolanda Apriyeni Sipayung1. Nila Aprila2 1,2Jurusan Akuntansi. Fakultas Ekonomi dan Bisnis. Universitas Bengkulu yolandaapriyenisipayung@gmail. com1, nilaaprila@gmail. ABSTRACT The purpose of this study was to determine how aspects of the Fraud Crowe Pentagon affect academic fraud among students. The sample in this study were undergraduate accounting students of the Faculty of Economics and Business. Bengkulu University. The sampling technique used was purposive sampling, with criteria including undergraduate accounting students who are still active, registered at Bengkulu University, accounting students who have taken behavioral accounting and auditing I and II courses, and accounting students in semesters 5, 7, and 9. The sample used was 100 participants obtained by distributing questionnaires via Google Form. SmartPLS 4 is the analysis tool used in this study. The results of this study indicate that fraud is not influenced by pressure, rationalization, competence, or arrogance, but is influenced by opportunity. Opportunity has a positive and significant effect of 001 on academic fraud of undergraduate accounting students at Bengkulu University. Keywords: Pressure. Opprtunity. Rationalization. Competence. Arrogance. Academic Fraud ABSTRAK Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana aspek-aspek dari Fraud Crowe Pentagon mempengaruhi kecurangan akademik di kalangan mahasiswa. Sampel dalam penelitian ini adalah mahasiswa S1 Akuntansi. Fakultas Ekonomi dan Bisnis. Universitas Bengkulu. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah purposive sampling, dengan kriteria antara lain mahasiswa S1 Akuntansi yang masih aktif, terdaftar di Universitas Bengkulu, mahasiswa akuntansi yang telah mengambil mata kuliah akuntansi keperilakuan dan pengauditan I dan II, dan mahasiswa akuntansi semester 5, 7, dan 9. Sampel yang digunakan sebanyak 100 partisipan yang diperoleh dengan menyebarkan kuesioner melalui Google Form. SmartPLS 4 adalah alat analisis yang digunakan dalam penelitian ini. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa fraud tidak dipengaruhi oleh tekanan, rasionalisasi, kompetensi, maupun arogansi, tetapi dipengaruhi oleh kesempatan. Kesempatan berpengaruh positif dan signifikan sebesar 0,001 terhadap kecurangan akademik mahasiswa S1 Akuntansi Universitas Bengkulu. Kata kunci: Tekanan. Kesempatan. Rasionalisasi. Kemampuan. Keserakahan. Kecurangan Akademik PENDAHULUAN Bisnis, menjadi pilar dalam perekonomian dunia yang berkembang sangat Secara signifikan, lingkungan bisnis telah berubah karena adanya perkembangan teknologi, perubahan perilaku konsumen dan perubahan tantangan 1723 | Volume 6 Nomor 3 2024 Reslaj: Religion Education Social Laa Roiba Journal Volume 6 Nomor 3 . 1723 -1736 P-ISSN 2656-274x E-ISSN 2656-4691 DOI: 10. 47476/reslaj. Saat ini, produksi dan penjualan bukan lagi menjadi titik fokus pada bisnis, melainkan telah mencakup strategi inovasi, manajemen sumber daya manusia, pemasaran digital, dan tantangan berkelanjutan. Namun, bisnis pun menjadi salah satu lingkungan yang tidak luput dari berbagai bentuk kecurangan dan praktik tidak Aksi merugikan pihak lain karena keperluan pribadi adalah kecurangan (Natalia & Coryana, 2. Tindakan menyimpang dari prosedur yang sebenarnya atau yang biasa disebut dengan kecurangan sangat sering terjadi di dalam bisnis, kecurangan akuntansi adalah salah satunya. Kecurangan tersebut berupa manipulasi atau penipuan dalam hal pelaporan data keuangan ataupun non keuangan (Irwansyah & Syufriadi, 2. Kecurangan akuntansi atau fraud bukan lagi suatu fenomena yang mengejutkan karena berbagai skandal kecurangan akuntansi perusahaan sudah banyak diungkapkan melalui berbagai saluran media. Fraud, apabila tidak dicegah dan dideteksi secara efektif akan menyebabkan kerugian serius bagi suatu organisasi (Surantha, 2. Certified Fraud Examiners Association (ACFE, 2. , menunjukkan data bahwa Departemen Keuangan merupakan pelaku kecurangan terbesar kedua dengan kasus sebanyak 46. Irianto . dalam (Artani & Wetra, 2. berpendapat bahwa dikarenakan keterlibatan akuntan dalam berbagai kasus kecurangan yang terjadi, integritas akuntan mendapatkan perhatian lebih oleh publik, maka kecurangan yang diakukan oleh akuntan harus menjadi perhatian mendalam bagi para pemutus peraturan pendidikan terkhusus pendidikan akuntansi. ACFE . mengungkapkan bahwa Fraudster atau pelaku kecurangan akuntansi di Indonesia memiliki gelar sarjana atau pendidikan tinggi. Oleh karena itu, ketidakjujuran akademik mahasiswa akuntansi haruslah menjadi suatu kekhawatiran di kalangan akademisi dan profesional (Priyastiwi et al. , 2. Tindakan curang yang dilakukan dalam proses akademik sangat tidak etis. Hal tersebut berarti seseorang sudah melanggar peraturan dan standar lembaga Kecurangan atau fraud didefinisikan sebagai tindakan melawan hukum yang melibatkan kesengajaan, keinginan yang jahat, penipuan, penyembunyian dan pelanggaran kepercayaan (Tuanakotta, 2. Tidak punya keinginan belajar, tidak mempunyai kepercayaan diri, dan hanya memiliki keinginan untuk mencapai nilai yang baik, adalah dalih mahasiswa untuk berbuat curang dalam dunia akademik (Halimatusyadiah & Nugraha, 2. Oleh karena itu, perbuatan yang sengaja dilakukan demi mencapai tujuan tanpa mau berusaha adalah definisi dari kecurangan akademik (Santoso & Yanti, 2. Bentuk-bentuk kecurangan akademik dapat berupa plagiarisme, menyontek, pemalsuan dokumen dan kegiatan lainnya yang bertujuan untuk menghasilkan nilai atau prestasi akademik yang tidak sesuai dengan kemampuan sebenarnya. Mahasiswa akuntansi menjadi fokus dalam penelitian ini, karena nantinya akan bekerja di bidang akuntansi. Menjadi seorang akuntan haruslah didasari oleh prinsip dasar etika. Jika mahasiswa akuntansi menghalalkan segala cara sejak duduk bangku perkuliahan demi kebaikan akademiknya, maka akan sangat bahaya apabila mahasiswa tersebut menjadi seseorang dengan tanggung jawab yang besar terkait 1724 | Volume 6 Nomor 3 2024 Reslaj: Religion Education Social Laa Roiba Journal Volume 6 Nomor 3 . 1723 -1736 P-ISSN 2656-274x E-ISSN 2656-4691 DOI: 10. 47476/reslaj. keuangan di perusahaan. Karna penipuan yang dilakukan akan merugikan banyak Crowe menyatakan lima dimensi Fraud Pentagon yang menjadi pendorong bagi seseorang untuk berbuat curang. Lima dimensi tersebut antara lain: pressure, opportunity, rationalization, competence dan arrogance (Yusof et al. , 2. dalam (Pertama & Anggiriawan, 2. Penelitian terdahulu yang menguji apakah terdapat dampak dari dimensi fraud pentagon terhadap kecurangan akademik menyatakan hasil yang bermacammacam. Misalnya seperti pada penelitian Pertama & Anggiriawan . yang menyebutkan hasil variabel peluang, rasionalisasi, serta kompetensi memiliki pengaruh yang positif signifikan, tekanan dan arogansi memiliki pengaruh namun tidak signifikan pada tindak kecurangan akademik. Alfian et al. mengungkapkan pengaruh positif dan signifikan dimiliki oleh tekanan, kompetensi dan etika pribadi. Muhsin et al. mengungkapkan tekanan, kesempatan dan rasionalisasi memiliki pengaruh positif yang signifikan terhadap ketidakjujuran akademik mahasiswa. Lain halnya dengan penelitian Utami & Adiputra . yang menyatakan lima dimensi fraud pentagon bersama-sama mempengaruhi kecurangan akademik secara signifikan dan positif. Penelitian dimensi fraud pentagon terhadap plagiarisme mahasiswa oleh Hendra & Deviani . menjadi acuan pada penelitian ini. Variabel dependen menjadi satu pembeda, dimana pada penelitian ini akan menguji apakah terdapat pengaruh dimensi fraud pentagon terhadap kecurangan akademik mahasiswa. Sampel yang digunakan berjumlah 100 orang, berbeda dengan sampel pada penelitian Hendra & Deviani . yang menggunakan 47 orang sebagai Berdasarkan penelitian-penelitian yang menyatakan bahwa terdapat perbedaan hasil penelitian fraud pentagon terhadap ketidakjujuran akademik mahasiswa, maka hal ini menjadi landasan peneliti untuk menguji langsung terkait ada atau tidaknya dimensi fraud pentagon memberikan pengaruh terhadap kecurangan akademik dengan melakukan penelitian kepada mahasiswa S1 Akuntansi. Universitas Bengkulu. Adanya penelitian ini, sekaligus menjadi wadah untuk mengidentifikasi kecurangan akademik yang ada pada mahasiswa S1 Akuntansi di Universitas Bengkulu. Kecurangan akademik yang tinggi akan berdampak fatal bagi sistem akademik dan akan menurunkan kualitas Perguruan Tinggi, sehingga harapan dari dilakukannya penelitian ini adalah dapat menjadi pedoman bagi Jurusan Akuntansi ataupun Universitas Bengkulu. KAJIAN TEORI Fraud Crowe Pentagon Theory Fraud, adalah tindakan curang atau kebohongan yang sengaja dilakukan demi mencapai tujuan bagi diri sendiri atau banyak orang dan membuat orang lain Banyaknya definisi kecurangan tergantung bagaimana seseorang mengartikannya, hal yang pasti adalah kecurangan dilakukan dengan unsur 1725 | Volume 6 Nomor 3 2024 Reslaj: Religion Education Social Laa Roiba Journal Volume 6 Nomor 3 . 1723 -1736 P-ISSN 2656-274x E-ISSN 2656-4691 DOI: 10. 47476/reslaj. kesengajaan (Sihombing & Budiartha, 2. Menurut Donald R. Cressey . dalam Hendra & Deviani . , pendorong kecurangan yang dilakukan seseorang ada tiga, yaitu tekanan, kesempatan, dan rasionalisasi. Tiga faktor ini kemudian dikenal sebagai Fraud Triangle. Lalu di tahun 2004. Wolfe & Hermanson mengemukakan Teori Diamond dengan mengenalkan variabel baru yaitu Jonathan Marks dalam Horwath . mengembangkan Teori Triangle dan Teori Diamond dan mengenalkannya melalui literatur AuWhy the Fraud Triangle is No Longer EnoughAy. Lima elemen dalam Fraud Crowe Pentagon yaitu, tekanan, peluang, rasionalisasi, kemampuan, dan arogansi atau keserakahan. Arogansi adalah unsur atau elemen baru yang ditambahkan oleh Jonathan Marks (Suryanto & Ridwansyah, 2. Fraud Crowe Pentagon menjadi teori yang akan lebih dalam mengulik faktor pendorong terjadinya fraud Kecurangan Akademik Yudiana & Lastanti . dalam Pramudyastuti et al. mengartikan tindakan curang pada akademik sebagai sebuah kebohongan besar yang dimiliki mahasiswa, dan dengan sadar dilakukan demi menghasilkan keuntungan dalam keberhasilan akademik. Mahasiswa dapat melakukan kecurangan akademik pada setiap proses akademis di kampus, dari tahap belajar sampai pembuatan tugas Burkhe et al. dalam Anindi et al. mengatakan bahwa kecurangan akademik sering terjadi pada bidang akuntansi karena memerlukan standar yang tinggi. Wood & Warnken . dalam Fadersair & Subagyo . , menyatakan aktivitas-aktivitas kecurangan akademik, yaitu: . Plagiat, hasil jerih payah orang lain yang ditiru dikutip dengan tidak mencantumkan identitas penulis aslinya dan mengakuinya sebagai hasil karya sendiri. Kolusi, beberapa pihak yang bekerja sama dalam mengerjakan tugas ataupun ujian. Falsification, hasil kerja orang lain diakui sebagai hasil kerjanya. Replikasi, menambahkan tugas yang sama ke banyak media, demi mendapatkan nilai tambah. Melakukan tindakan ilegal dengan menggunakan catatan ataupun perangkat. Mendapatkan soal serta jawaban dari ujian. Interaksi peserta saat berlangsungnya ujian. Menjadi perantara bagi orang yang berbuat curang atau membantu dengan pura-pura tidak tahu bahwa seseorang telah melakukan kecurangan. Faktor tekanan adalah faktor yang menempati urutan pertama sebagai pendorong mahasiswa melakukan kecurangan akademik. Menurut Wolfe dan Hermanson . dalam Fadersair & Subagyo . tekanan ialah keadaan terdesak yang terjadi pada seseorang sehingga perlu melakukan kecurangan agar dapat melewatinya. Faktor kedua adalah kesempatan. Albrecht et al. dalam Hendra & Deviani . mengartikan kesempatan sebagai kondisi yang memungkinkan seseorang melakukan kecurangan dan menutupi kecurangan tersebut, serta menganggap bahwa perilaku tersebut aman. Kesempatan misalnya kurangnya pengendalian dalam pencegahan dan pendeteksian kecurangan. Rasionalisasi menjadi faktor ketiga yang mendorong mahasiswa melakukan Putri & Amar . dalam Pramudyastuti et al. mengartikan 1726 | Volume 6 Nomor 3 2024 Reslaj: Religion Education Social Laa Roiba Journal Volume 6 Nomor 3 . 1723 -1736 P-ISSN 2656-274x E-ISSN 2656-4691 DOI: 10. 47476/reslaj. rasionalisasi sebagai perilaku atau anggapan pribadi bahwa melakukan hal yang curang tidaklah salah. Terjadinya rasionalisasi adalah di saat individu sudah bertindak dan membangun keyakinan yang nanti membuatnya merasionalkan tindak kecurangan (Cushman, 2. Mahasiswa melakukan kecurangan karena anggapan yang mereka miliki adalah setiap orang juga melakukan hal tersebut, dan bukan hanya dirinya aja (Purnamasari & Irianti, 2. Faktor kemampuan adalah faktor keempat yang mempengaruhi tindak kecurangan akademik. Pengertian kemampuan adalah kualitas dan kemampuan pribadi yang berperan besar terjadinya suatu kecurangan. Kecurangan tidak bisa terjadi jika seseorang tidak memiliki kemampuan yang tepat dalam melakukan kecurangan (Wolfe Hermanson, 2004 dalam Suryanto & Ridwansyah, 2. Crowe . dalam Utami & Adiputra . menyatakan bahwa arogansi atau keserakahan adalah faktor kelima yang mempengaruhi tindak kecurangan Arogansi adalah suatu sifat superioritas yang dimiliki pelaku kecurangan, pelaku mengabaikan konsekuensi yang ada atas tindakan yang ia lakukan. Tingginya tingkat arogansi yang dimiliki mahasiswa maka akan semakin tinggi pula keinginannya dalam melakukan kecurangan. Mereka merasa bahwa orang lain mengakui kualitas diri dan eksistensinya (Pertama & Anggiriawan, 2. Wolfe & Hermanson . dalam Oktarina . menyebutkan bahwa situasi yang mendorong seseorang berbuat curang adalah pengertian dari tekanan. Tekanan yang dimaksud yaitu tekanan yang berasal dari dalam diri pelaku kecurangan . dan tekanan yang berasal dari luar pelaku kecurangan, seperti tekanan ekonomi dan tekanan dari orang tua yang menginginkan nilai anaknya yang baik. Penelitian (Alfian et al. , 2. menemukan hasil tekanan yang berpengaruh positif dan signifikan pada kecurangan akademik. DAoArcy Becker et al. dalam Sihombing & Budiartha . juga menduga bahwa tekanan menjadi pemicu terjadinya sebuah kecurangan akademik. Penelitiannya pun memberikan hasil bahwa tekanan secara signifikan berpengaruh pada akademik mahasiswa bisnis yang merupakan sampelnya. Dari penjelasan tersebut dapat dirumuskan hipotesis pertama yaitu: H1 : Tekanan berpengaruh terhadap kecurangan akademik mahasiswa Penelitian (Pertama & Anggiriawan, 2. menunjukkan bahwa kesempatan berpengaruh positif. Kesempatan terjadi karena rendahnya pengendalian yang ada. Tidak adanya perhatian yang diberikan dosen atau pengawas ujian bahkan meninggalkan ruang ujian, di saat itulah mahasiswa akan menjadikannya sebagai sebuah kesempatan. Mereka akan dengan sangat cepat menciptakan ruangan yang hening menjadi berisik karena diskusi yang dilakukan dalam mengerjakan ujian. Kecanggihan teknologi berupa internet yang dimiliki mahasiswa juga membantu mudahnya menyelesaikan tiap soal dengan cara meng-copy-paste jawaban dan merasa itu adalah hasil dari mereka sendiri (Oktarina, 2. Dari penjelasan tersebut, dapat dirumuskan hipotesis ke dua, yaitu: H2 : Kesempatan berpengaruh terhadap kecurangan akademik mahasiswa 1727 | Volume 6 Nomor 3 2024 Reslaj: Religion Education Social Laa Roiba Journal Volume 6 Nomor 3 . 1723 -1736 P-ISSN 2656-274x E-ISSN 2656-4691 DOI: 10. 47476/reslaj. Penelitian sebelumnya (Pertama & Anggiriawan, 2. menghasilkan pengaruh positif dan signifikan rasionalisasi pada kecurangan akademik mahasiswa dengan nilai signifikan 0,043. Menurut Oktarina . membenarkan perbuatan curt ujian merupakan bentuk rasionalisasi. Banyaknya orang yang menyontek menjadikan mahasiswa memiliki anggapan bahwa kecurangan tersebut adalah sesuatu yang lumrah untuk dilakukan. Dari penjelasan tersebut, dapat dirumuskan hipotesis ke tiga, yaitu: H3 : Rasionalisasi berpengaruh terhadap kecurangan akademik mahasiswa Dalam penelitian Munirah & Nurkhin . 4,28% adalah besarnya nilai pengaruh yang diberikan kemampuan terhadap kecurangan akademik. Disebutkannya bahwa, tingginya tingkat kemampuan seseorang maka akan semakin memicu kecurangan yang dilakukan. Dengan memiliki trik-trik dan rasa tidak bersalah saat melakukan kecurangan membuat pelaku tidak segan untuk terus berbuat curang. Dari penjelasan di atas, dapat dirumuskan hipotesis ke empat, yaitu: H4 : Kemampuan berpengaruh terhadap kecurangan akademik mahasiswa Seseorang dengan kesombongan yang tumbuh di dirinya menjadi penyebab munculnya kepercayaan diri sehingga dapat melakukan kecurangan dengan tidak merasa takut akan sanksi yang mungkin diterimanya. Hendra & Deviani . Utami & Adiputra . juga menyatakan arogansi atau keserakahan memiliki pengaruh positif terhadap kecurangan akademik yaitu plagiarisme. Menurut Pertama & Anggiriawan . tekanan dan peluang yang ada membuat mahasiswa menggunakan kemampuannya untuk berbuat curang dalam akademik. Dari pengertian dan penelitian sebelumnya dapat dirumukan hipotesis ke lima, yaitu: H5 : Keserakahan berpengaruh terhadap kecurangan akademik mahasiswa Gambar 1. Kerangka Pemikiran METODE PENELITIAN Jenis Penelitian Penelitian ini menggunakan metodologi pendekatan kuantitatif. Merupakan bagian dari rangkaian penelitian yang menggunakan data primer. Data primer dikumpulkan langsung dari subjek penelitian yang dalam hal ini terdiri dari peserta program studi S1 Akuntansi. Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Bengkulu 1728 | Volume 6 Nomor 3 2024 Reslaj: Religion Education Social Laa Roiba Journal Volume 6 Nomor 3 . 1723 -1736 P-ISSN 2656-274x E-ISSN 2656-4691 DOI: 10. 47476/reslaj. Populasi dan Sampel Seluruh populasi penelitian merupakan mahasiswa Universitas Bengkulu. Purposive sampling digunakan untuk menentukan sampel penelitian ini dengan kriteria yang berkaitan pada tujuan penelitian, yaitu . Mahasiswa aktif S1 Akuntansi. Fakultas Ekonomi dan Bisnis. Universitas Bengkulu. Mahasiswa S1 Akuntansi Universitas Bengkulu yang telah menyelesaikan mata kuliah akuntansi keperilakuan dan auditing I dan II. Mahasiswa S1 Akuntansi Universitas Bengkulu semester 5, 7, dan 9. Teknik Pengambilan Data Dalam penelitian ini teknik pengambilan data adalah dengan menggunakan Kuesioner menanyakan serangkaian pertanyaan kepada responden atau memberikan mereka pernyataan tertulis untuk ditanggapi guna mengumpulkan Kuesioner yang digunakan yaitu kuesioner tertutupAiyaitu, kuesioner yang tanggapannya diberikan pada skala Likert 1 sampai 5. Definisi Variabel Kecurangan akademik menjadi variabel dependen penelitian. Skala Likert mulai dari 1 sampai 5 digunakan dalam penelitian ini untuk mengevaluasi variabel Skala tersebut menunjukkan Sangat Setuju (SS). Setuju (S). Tidak Setuju (KS). Tidak Setuju (TS), dan Sangat Tidak Setuju (STS). Tekanan, peluang, kemampuan, rasionalisasi, dan keserakahan merupakan variabel independen. Dalam variabel independen, skala yang digunakan yaitu skala Likert dengan rentang 1 sampai 5 untuk mengukur variabel independen. Skala tersebut menunjukkan Sangat Setuju (SS). Setuju (S). Tidak Setuju (KS). Tidak Setuju (TS), dan Sangat Tidak Setuju (STS). Teknik Analisis Data Perangkat lunak SmartPLS 4 digunakan dalam penelitian ini sebagai alat analisis untuk memastikan dampak dimensi Fraud Crowe Pentagon terhadap kecurangan akademik. Merancang inner model, merancang outer model, membangun kembali diagram jalur, memberi label diagram jalur pada persamaan, memperkirakan koefisien jalur dan nilai loading, mengevaluasi goodness of fit, dan menguji hipotesis merupakan tahapan yang dilakukan dalam analisis data ini (Ghozali, 2. HASIL DAN PEMBAHASAN 138 mahasiswa S1 Akuntansi Universitas Bengkulu menjawab survey yang dikirimkan melalui Google Form. 38 responden tidak dapat digunakan karena tidak memenuhi syarat. Hasilnya, data sebanyak 100 responden yang memenuhi syarat dan dapat dianalisis. Alat analisis SmartPLS 4 digunakan untuk menguji penelitian 1729 | Volume 6 Nomor 3 2024 Reslaj: Religion Education Social Laa Roiba Journal Volume 6 Nomor 3 . 1723 -1736 P-ISSN 2656-274x E-ISSN 2656-4691 DOI: 10. 47476/reslaj. Tabel 1. Responden Penelitian Jumlah Responden Responden yang memenuhi kriteria Responden yang tidak memenuhi Sumber: Kuesioner Google Form Total Hasil Model Pengukuran (Outer Mode. Convergent Validty Nilai validitas konvergen dalam uji validitas dapat didistribusikan dengan menggunakan Average Variance Extract (AVE) dan outer loading yang biasa disebut Loading Factor. Validitas penelitian ini diuji dengan menggunakan nilai validitas konvergen > 0,7. Indikator apa pun yang mencapai nilai > 0,7 dapat memenuhi persyaratan validitas konvergen dan dianggap sangat valid. Namun demikian, hasil uji validitas pada penelitian ini yang menggunakan SmartPLS 4. 0 menunjukkan bahwa 25 pernyataan yaitu X1. X1. X1. X2. X2. X2. X2. X3. X3. X5. X5. X5. X5. X5. X5. Y1. Y3. Y5. Y6. Y7. Y8. Y9, dan Y10 tidak dapat digunakan dalam pengujian tambahan karena nilai validitas konvergen kurang dari 0,7. Discriminant Validity Masing-masing variabel mempunyai nilai loading faktor yang lebih tinggi dibandingkan dengan nilai faktor pemuatan variabel lainnya. Hal ini menunjukkan terpenuhinya persyaratan validitas diskriminan. Hasil Uji Reliabilitas Hasil uji reliabilitas menunjukkan nilai CronbachAos Alpha pada variabel tekanan, peluang, rasionalisasi, kemampuan, dan keserakahan secara beurut sebesar 0,820, 0,857, 0,903, dan 0,795. Untuk variabel tekanan, peluang, rasionalisasi, kemampuan, dan keserakahan nilai Composite Reliability berturutturut adalah 0,877, 0,913, 0,929, 0,925, dan 0,907. Seluruh variabel yang ada dalam penelitian ini dianggap dapat dipercaya karena nilai CronbachAos Alpha dan nilai Composite Reliability yang sangat baik sama-sama lebih dari 0,7. Tabel 2. Nilai CronbachAos Alpha dan Nilai Composite Reliability Tekanan (X. Kesempatan (X. Rasionalisasi (X. Kemampuan (X. Keserakahan (X. CronbachAos Alpha Composite Reliability 0,820 0,877 0,857 0,913 0,903 0,929 0,898 0,925 0,795 0,907 Sumber: Output Smart PLS4 1730 | Volume 6 Nomor 3 2024 Reslaj: Religion Education Social Laa Roiba Journal Volume 6 Nomor 3 . 1723 -1736 P-ISSN 2656-274x E-ISSN 2656-4691 DOI: 10. 47476/reslaj. Hasil Uji Model Struktural (Inner Mode. R-Square Tsekanan, peluang, rasionalisasi, kemampuan dan keserakahan merupakan factor yang memberikan pengaruh terhadap kecurangan akademik, dan mempunyai nilai R-Square sebesar 0,603. Kategori nilai R-Square adalah 0,75 . , 0,50 . , dan 0,25 . (Sarstedt et al. , 2. Kecurangan akademik memiliki nilai R-square sebesar 60,3% yang berada pada kategori sedang hingga kuat. Sebanyak 39,7% pengaruh tersebut berasal dari faktor lain yang tidak dipertimbangkan dalam penelitian ini. Tabel 3. Nilai R-Square Academic Fraud R-Square 0,603 Sumber: Output Smart PLS R-Square adjusted 0,582 F-Square Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai variabel tekanan terhadap kecurangan akademik sebesar 0,009, nilai variabel peluang sebesar 0,134, nilai variabel rasionalisasi sebesar 0,013, nilai variabel kemampuan sebesar 0,031, dan nilai variabel keserakahan sebesar 0,037. Kelompok nilai F-Square sebesar 0,02 . 0,15 . dan 0,35 . (Sarstedt et al. , 2. Maka, dapat dikatakan bahwa terdapat pengaruh yang rendah dari faktor tekanan dan rasionalisasi, pengaruh yang moderat dari variabel peluang, dan besarnya pengaruh variabel kemampuan dan keserakahan terhadap kecurangan akademik. Hasil Uji Hipotesis Tabel 4. Path coefficients - Mean. STDEV. T Values, p Values H1 : Tekanan (X. > Kecurangan Akademik (Y) H2 : Kesempatan (X. > Kecurangan Akademik (Y) H3 : Rasionalisasi (X. > Kecurangan Akademik (Y) H4 : Kemampuan (X. > Kecurangan Akademik (Y) H5 : Keserakahan (X. > Kecurangan Akademik (Y) Original (O) 0,069 Sample (M) 0,067 Standard (STDEV) 0,157 T statistics (O/STDEV) P value 0,436 0,663 0,388 0,375 0,117 3,310 0,001 0,132 0,135 0,162 0,812 0,417 0,203 0,218 0,147 0,381 0,167 0,145 0,145 0,093 1,553 0,121 Sumber: Output Smart PLS4 1731 | Volume 6 Nomor 3 2024 Reslaj: Religion Education Social Laa Roiba Journal Volume 6 Nomor 3 . 1723 -1736 P-ISSN 2656-274x E-ISSN 2656-4691 DOI: 10. 47476/reslaj. Tabel hipotesis tidak menunjukkan adanya hubungan kecurangan akademik yang dilakukan mahasiswa, dengan variabel tekanan nilai t-statistik 0. 436 < 1. dan nilai signifikansi 0. 663 > 0. , rasionalisasi nilai t-statistik 0. 812 dan nilai 417 < 1,96, kemampuan nilai t-statistik 0,381 < 1,96 dan nilai signifikansi 0,167 > 0, nilai t-statistik keserakahan sebesar 1,553 < 1,96 dan nilai signifikansi 0,121 > menunjukkan bahwa variabel keserakahan tidak mempunyai pengaruh terhadap kecurangan akademik. Sebaliknya dengan nilai signifikansi sebesar 0,001 dan nilai t-statistik sebesar 3,310 > 1,96 maka variabel peluang berpengaruh signifikan terhadap ketidakjujuran akademik. Tekanan terhadap Kecurangan Akademik Nilai t-statistik sebesar 0,436 < 1,96 dan nilai signifikansi 0,663 > 0,5 maka temuan pengujian menunjukkan bahwa tekanan tidak mempunyai pengaruh terhadap kecurangan akademik pada mahasiswa S1Akuntansi Universitas Bengkulu. Maka H1 ditolak. Dapat disimpulkan bahwa tidak ada faktor pendorong yang melatarbelakangi keadaan depresi atau ketidakjujuran akademik mahasiswa S1 Akuntansi Universitas Bengkulu. Mahasiswa tidak dipaksa, baik secara internal maupun eksternal, untuk membenarkan penggunaan metode apa pun yang diperlukan demi keberhasilan. Temuan penelitian ini sejalan dengan temuan Oktarina . dan Anindi et al. yang tidak menemukan bukti bahwa ketidakjujuran akademik dipengaruhi oleh tekanan. Temuan penelitian ini bertentangan dengan hipotesis fraud pentagon, yang menyatakan bahwa tekanan dapat menyebabkan seseorang melakukan kecurangan. Karena data responden menunjukkan bahwa mahasiswa mampu menahan tekanan, maka hal ini tidak sejalan dengan pemikiran teori fraud pentagon. Peluang terhadap Kecurangan Akademik Dengan nilai t-statistik 3,310 > 1,96 dan nilai signifikansi 0,001 < 0,5 maka temuan pengujian menunjukkan bahwa peluang mempunyai pengaruh positif dan besar terhadap kecurangan akademik, sehingga H2 diterima. Hal ini disebabkan kurangnya pengawasan dan pengendalian oleh dosen atau pengawas ujian sehingga memberikan ruang bagi mahasiswa untuk melakukan kecurangan akademik. Mahasiswa akan memanfaatkan kesempatan ini. Mereka akan mengerjakan soal menggunakan ponsel atau berdiskusi dengan teman. Selain itu karena keterbatasan waktu dan banyaknya soal, mereka juga memanfaatkan kesempatan ini dengan baik agar dapat menyelesaikan pengerjaan soal dengan cepat. Temuan penelitian ini sejalan dengan penelitian Pertama & Anggiriawan . yang menemukan bahwa peluang memiliki dampak yang menguntungkan dan patut diperhatikan terhadap ketidakjujuran akademik. Rasionalisasi terhadap Kecurangan Akademik Dengan nilai t-statistik sebesar 0,812 dan nilai signifikansi 0,417 < 1,96, temuan pengujian menunjukkan bahwa rasionalisasi tidak mempunyai pengaruh terhadap kecurangan akademik, sehingga H3 ditolak. Menurut penelitian ini, mahasiswa yang memiliki integritas tidak akan membenarkan tindakannya untuk 1732 | Volume 6 Nomor 3 2024 Reslaj: Religion Education Social Laa Roiba Journal Volume 6 Nomor 3 . 1723 -1736 P-ISSN 2656-274x E-ISSN 2656-4691 DOI: 10. 47476/reslaj. melakukan ketidakjujuran akademik. Temuan penelitian ini bertentangan dengan teori fraud pentagon yang menyatakan bahwa seseorang berbuat curang karena Fakta yang membuktikan adalah, menyontek tidak mendorong mahasiswa lain untuk melakukan perilaku tidak jujur. Temuan tersebut sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Anindi et al. Oktarina . Fadersair & Subagyo . dan Alfian et al. , . Hal ini ditunjukkan dengan masih ada atau tidaknya mahasiswa yang menyontek tidak mendorong mahasiswa lain untuk melakukan perilaku tidak jujur. Dengan kata lain, meskipun mempunyai kesempatan, sebagian besar mahasiswa lainnya tidak memiliki sikap rasionalisasi tersebut. Faktor lain mungkin menjadi pendorong sehingga mahasiswa melakukan kecurangan di saat ada kesempatan. Temuan ini sejalan dengan penelitian Anindi et al. Oktarina . Fadersair & Subagyo . , dan Alfian et al. yang menunjukkan bahwa rasionalisasi tidak berdampak terhadap ketidakjujuran akademik. Kemampuan terhadap Kecurangan Akademik H4 ditolak karena temuan uji dengan nilai t-statistik sebesar 0,812 dan nilai signifikansi 0,417 < 1,96 menunjukkan bahwa kemampuan tidak mempunyai pengaruh terhadap kecurangan akademik. Berdasarkan teori fraud pentagon, mahasiswa dapat memantau lingkungannya dan faktor lainnya serta memiliki strategi untuk melakukan kecurangan. Tetapi mahasiswa dalam penelitian ini tidak menyontek karena mereka bisa menyontek. Melainkan karena mempunyai etika yang tinggi. Mahasiswa juga tidak menyalahgunakan keterampilannya. Temuan penelitian ini juga bertentangan dengan pernyataan Muhsin et al. yang menyatakan bahwa kemampuan berdampak terhadap ketidakjujuran akademik. Keserakahan terhadap Kecurangan Akademik H5 ditolak karena hasil pengujian dengan nilai t-statistik 1,553 < 1,96 dan nilai signifikansi 0,121 > 0,5 menunjukkan bahwa keserakahan tidak berpengaruh terhadap kecurangan akademik. Temuan penelitian ini konsisten dengan temuan Anindi et al. Temuan penelitian ini bertentangan dengan teori fraud pentagon, yang menyatakan bahwa ketidakjujuran adalah motivator penipuan. Dalam penelitian ini, mahasiswa tidak mengalami kesombongan, seperti rasa bangga, setelah melakukan tindakan ketidakjujuran akademik. Temuan ini juga bertentangan dengan penelitian Indrawati et al. Hendra & Deviani . Utami & Adiputra . dan Pertama & Anggiriawan . , yang menemukan bahwa kecurangan akademik dipengaruhi secara positif oleh keserakahan. KESIMPULAN DAN SARAN Penelitian ini melihat aspek Pentagon Fraud pada kecurangan akademik yang dilakukan oleh mahasiswa S1 Akuntansi Universitas Bengkulu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ketidakjujuran akademik di kalangan mahasiswa S1 Akuntansi Universitas Bengkulu tidak dipengaruhi oleh tekanan, rasionalisasi, kemampuan, 1733 | Volume 6 Nomor 3 2024 Reslaj: Religion Education Social Laa Roiba Journal Volume 6 Nomor 3 . 1723 -1736 P-ISSN 2656-274x E-ISSN 2656-4691 DOI: 10. 47476/reslaj. atau keserakahan. Sementara itu, kecurangan akademik dipengaruhi secara positif dan signifikan oleh peluang. Menjaga integritas pribadi sangat penting bagi mahasiswa akuntansi karena membantu mencegah aktivitas penipuan. Saat dipekerjakan sebagai lulusan akuntansi dalam berbagai kapasitas, mereka harus memiliki sikap profesional, integritas, akuntabilitas, dan kode etik yang mendasar. Sampel untuk penelitian ini dibatasi pada mahasiswa S1 Akuntansi Universitas Bengkulu, yang merupakan kelemahan penelitian ini. Hal ini dipertimbangkan bahwa sampel yang lebih besar, seperti mahasiswa non-akuntansi, dapat digunakan dalam penelitian masa depan. Variabel lainnya yang mungkin juga mempengaruhi ketidakjujuran akademik disarankan untuk digunakan dalam penelitian selanjutnya. DAFTAR PUSTAKA