Jayapangus Press Jurnal Penelitian Agama Hindu Volume 8 Nomor 2 . ISSN : 2579-9843 (Media Onlin. Makna Mabebasan Geguritan Bima Suarga Dalam Perspektif Panca Sradha I Nyoman Subrata*. I Putu Sudarma. Pande Putu Toya Wisuda Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar. Bali. Indonesia *inym. subrata@uhnsugriwa. Abstract Entering the current era of digitalization, the Balinese Hindu community still adheres to local wisdom values, including the moral, social, philosophy . and religious values contained in geguritan . eligious son. Bima Suarga. This research aims to examine the meaning of Geguritan Bima Suarga in Panca Sradha perspective. Research data was obtained through document study by analyzing the Geguritan Bima Suarga text, observations and interviews with members of the group . santhi AuGangga Lingga Suara" and "Arsa Khanti". West Denpasar which was determined using purposive sampling. The collected data was analyzed descriptively interpretatively by applying hermeneutic theory. The results of the research show that mabebasan of the Geguritan Bima Suarga activities contain aesthetic meaning, social meaning and religious meaning which are able to strengthen the five basic beliefs (Panca Sradh. of Balinese Hindus, including: belief in the omnipotence of Hyang Widhi Wasa, belief in the existence of atma, karma phala, punarbhawa, and moksa, namely the union of the atma with paramatma (Go. as a place of eternal happiness. Keywords: Meaning. Geguritan Bima Suarga. Panca Sradha Abstrak Memasuki era digitalisasi dewasa ini, masyarakat Hindu Bali masih memegang teguh nilai-nilai kearifan lokal, termasuk nilai moral, sosial, filsafat . dan agama yang terkandung dalam Geguritan Bima Suarga. Penelitian ini bertujuan mengkaji makna mabebasan Geguritan Bima Suarga dalam perspektif Panca Sradha. Data penelitian diperoleh melalui studi dokumen dengan mengalanisis teks Geguritan Bima Suarga, observasi dan wawancara dengan anggota kelompok . santhi "Gangga Lingga Suara" dan AuArsa KhantiAy Denpasar Barat, yang ditentukan secara purposive sampling. Data yang terkumpul dianalisis secara deskriptif intepretatif dengan menerapkan teori Hasil penelitian menunjukkan bahwa kegiatan mabebasan Geguritan Bima Suarga mengandung makna estetis, makna sosial dan makna religius yang mampu memperkuat lima dasar keyakinan (Panca Sradh. umat Hindu Bali, meliputi: keyakinan akan kemahakuaasan Hyang Widi Wasa, keyakinan adanya atma, karmapala, punarbhawa, dan moksa, yakni menyatunya sang atma dengan paramatma (Tuha. sebagai tempat kebahagiaan yang abadi. Kata Kunci: Makna. Geguritan Bima Suarga. Panca Sradha Pendahuluan Masyarakat Bali sebagai bagian dari warga dunia, dewasa ini telah memasuki era globalisasi, yakni sebuah era yang diwarnai dengan perkembangan teknologi diberbagai sektor kehidupan, termasuk sektor perekonomian. pendidikan, pelayanan publik, bahkan kehidupan sosial keagamaan. Pesatnya perkembangan teknologi pada era revolusi 0 yang kini berkembang menjadi era society 5. Era Revolusi 4. 0 ini https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH merupakan hasil dari kemajuan teknologi yang memadukan segala sesuatu berkaitan dengan fisik, biologis, dan digital (Hamdan, 2. Selanjutnya, era society 5. 0 atau 0 adalah konsep yang dicetuskan oleh Jepang seiring semakin majunya perkembangan teknologi dan dinamika sosial. Dalam era society 5. 0 diharapkan kehidupan manusia dapat bertumbuh semakin maju dengan bantuan teknologi yang semakin canggih. Memasuki era society 5. 0, diharapkan kearifan lokal di tengah derasnya arus internasional dan kemajuan teknologi tetap terjaga (Zulfa & Ulfatun Najicha, 2. Walaupun Masyarakat Bali Tengah hidup di era society 5. 0 dengan menerapkan teknologi digital, namun mereka masih tetap memagang teguh nilai-nilai tradisi dan kearifan lokal warisan para leluhur. Diantara nilai-nilai luhur yang masih dipegang teguh oleh masyakat Hindu Bali masa kini adalah ajaran agama Hindu yang tertuang dalam Geguritan merupakan karya sastra tradisional tertuang dalam bentuk puisi, terangkai dalam sebuah cerita berbentuk prosa. Kesusastraan Bali tercipta sebagai hasil imajinasi orang Bali umumnya menggunakan bahasa Bali sebagai media komunikasinya, memuat kehidupan sosial masyarakat Bali. Menurut (Wiana, 2. , karya sastra Bali tradisional, berupa geguritan mempunyai nilai luhur, terkait dengan ajaran agama Hindu yang diyakini oleh masyarakat Hindu Bali. Karya sastra geguritan mengandung nilainilai kearifan lokal, mencakup nilai agama, pendidikan, moral, sosial, filsafat yang dapat dipakai pedoman hidup (Pradnyan, 2. Mengingat geguritan memiliki kandungan nilai luhur yang amat berharga, maka amatlah wajar bilamana pemerintah dan masyarakat Hindu Bali berupaya menggali, mempertahankan, bahkan mengembangkan apressiasi seni sastra tradisional, termasuk melalui pembinaan, festival dan lomba (Utsawa Dharma Git. mabebasan geguritan pada momen Festival Kebudayaan Bali (PKB) yang digelar setiap tahun. Sejak digelarnya Utsawa Dharma Gita oleh pemerintah diikuti dengan aktivitas penerjemahan, keberadaan sekaa-sekaa mabebasan di desa adat setempat terasa kembali menggeliat, khusunya penggunaan bahasa Bali Alus. Dewasa ini masyarakat Bali, di desa maupun di kota, menjadi semakin bergairah terhadap aktivitas budaya lama yaitu pesantian . ari kata AosantiAo yang bermakna dama. Penyampaian ajaran agama Hindu di Bali, terbungkus dalam kegiatan penyuluhan di desa maupun di kota yang menggunakan bahasa Bali terasa lebih mantap dibandingkan bila menggunakan Bahasa Indonesia. Geguritan Bima Suarga mengandung pendidikan Agama Hindu, khususnya dalam perilaku anak terhadap orang tua dalam bentuk acara pitra yadnya (Dibia, 2. Karya sastra tradisional (Bali Purw. berupa geguritan termasuk ke dalam kelompok tutur/tatwa/filsafat atau kelompok itihasa, karena geguritan berisi nasihat tentang moral yang dapat dijadikan pedoman dalam menjalani hidup dan kehidupan ini (Suwija, 1. Sebagai pedoman hidup, nilai-nilai luhur yang terkandung dalam geguritan tetap dipertahankan oleh masyarakat Bali, antara lain melalui kegiatan ngayah mabebasan Geguritan Bima Suarga pada waktu upacara pitra yadnya, yaitu sebuah rangkaian upacara ngaben untuk menghormati Hyang Atma. Tradisi ngayah mabebasan Geguritan Bima Suarga pada waktu upacara pengabenan di Bali dilakukan oleh sekaa santhi setempat, sebagaimana yang dilaksanakan oleh Seka Santhi "Gangga Lingga Suara" Banjar Mertha Gangga, dan Sekaa Santhi AuArsa KhantiAy Banjar Pemedilan. Denpasar Barat. Ngayah pada waktu upacara pengabenan (Pitra Yadny. berarti pelayanan atau orang yang bertugas melayani dan mengabdikan diri tanpa memperoleh imbalan. Ngayah dapat dikatakan juga sebagai ajang pemersatu masyarakat karena dengan menjalankan ngayah mereka bisa berkumpul dan bercengkrama satu sama lain. Tujuan atau fungsi utama ngayah yaitu untuk mensukseskan suatu acara, biasanya acara adat atau keagamaan terutama acara yang sifatnya besar. Konsep ngayah dalam ajaran agama Hindu mengajarkan sesungguhnya https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH hakekat hidup menjelma menjadi manusia di dunia ini adalah untuk melakukan kerja. Bekerja diamalkan sebagai suatu kewajiban dan kebajikan. Berbuatlah hanya demi kewajiban, bukan hanya hasil perbuatan yang selalu terpikirkan, janganlah semata-mata pahala menjadi motifnya. Sebagai umat Hindu jangan pernah berhenti untuk berkarma dengan landasan ketulusan. Sebagaimana ditegaskan dalam Yajur Veda (XL. , ngayah sebagai bentuk implementasi karma suci, niscaya akan memperoleh keberhasilan dan menikmati akan kemakmuran nantinya (Pudja, 1. Pada saat ngayah dilakukan, ada keyakinan bahwa segala yang mereka lakukan dengan ketulusan akan memperoleh pahala dari Tuhan Yang Maha Esa (Titib, 2. Selain itu, masyarakat saling membantu secara sukarela tanpa ada paksaan dari siapapun. Kegiatan ngayah yang didasari dengan ketulusan masyarakat dalam memperkuat persatuan dan berjalan sesuai dengan aturan dan tata cara yang telah disepakati secara musyawarah dan mufakat oleh masyarakatnya. Setiap orang dalam kegiatan ngayah mendapatkan perlakukan yang sama dan adil, tanpa adanya unsur pembeda satu dengan yang lainnya. Teringat sebuah ungkapan, berat sama dipikul, ringan sama dijinjing, memiliki makna rasa berat atau mudahnya pekerjaan, terasa semakin mudah jika dikerjakan bersama-sama. Kohesi sosial dan rasa kebersamaan antarsesama menjadi semakin menguat. Karya sastra geguritan mampu mengaktifkan emosi pendukungnya untuk memperkuat solidaritas sosial dan kebersamaan (Suadnyana & Putra, 2. Tradisi ngayah mabebasan Geguritan Bima Suarga mempunyai beberapa manfaat bagi pelakunya. Di samping mampu menguatkan rasa kebersamaan, tradisi ngayah mabebasan Geguritan Bima Suarga dapat menggugah kesadaran keimanan umat Hindu Bali, yakni lima dasar keyakinan (Panca Sradh. , meliputi: . keyakinan pada Brahman atau Tuhan. keyakinan terhadap . oh suc. yang memiliki sifat kekal dan sempurna. keyakinan terhadap Karmaphala atau hasil yang didapat dari perbuatan. keyakinan terhadap Samsara atau reinkarnasi, penjelmaan/kelahiran kembali. keyakinan terhadap Moksa, yakni bersatunya Brahman dengan Atman (Karmini, 2. Penelitian ini secara khusus akan membahas makna mabebasan Geguritan Bima Suarga dalam perspektif Panca Sradha. Metode Penelitian ini merupakan hasil dari penelitian yang dilakukan dengan menggunakan pendekatan kualitatif. Data penelitian diperoeh melalui beberapa metode, yaitu studi dokumen, observasi, dan wawancara. Studi dokumen dilakukan dengan mengalanisis teks Geguritan Bima Suarga, serta bahan kepustakaan pendukung lainnya yang terkait dengan topik penelitian. Teks Geguritan Bima Suarga merupakan naskah kesusastraan tradisional yang mengandung ajaran agar umat Hindu senantiasa berbakti kepada orang tua dan Tuhannya (Hyang Widi Was. Data penelitian juga diperoleh melalui hasil observasi dan wawancara dengan beberapa informan anggota sekaa santhi "Gangga Lingga Suara" Banjar Mertha Gangga. Desa Tegal Kerta. Denpasar Barat dan sekaa santhi "Arsa KhantiAy Banjar Pemedilan. Kelurahan Pemecutan. Denpasar Barat. Data yang terkumpul kemudian dianalisis secara deskriptif intepretatif dengan menerapkan teori hermeneutika, yakni teori yang memberikan penafsiran terhadap teks Geguritan Bima Suarga. Hasil dan Pembahasan Makna Mabebasan Geguritan Bima Suarga dalam Perspektif Panca Sradha Teks Geguritan Bima Suarga merupakan naskah kesusastraan tradisional yang mengandung ajaran agar umat Hindu senantiasa berbakti kepada orang tua dan Tuhannya (Hyang Widi Was. Geguritan Bima Suarga acap kali disenandungkan untuk mengiringi https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH upacara Pitra Yadnya, yaitu sebuah rangkaian upacara ngaben untuk menghormati Hyang Atma agar mendapat tempat yang layak sesuai karmanya. Secara intrinsik geguritan ini termasuk naskah tutur kearifan lokal yang disusun dalam bentuk puisi yang isinya saling terkait hingga berwujud prosa, diikat dengan aturan padalingsa. Padalingsa berarti jumlah baris . pada suatu pupuh di dalam satu pada . Guruwilang adalah jumlah wanda . uku kat. di dalam satu baris . Hukum ding dong yaitu jatuhnya vokal . uara = huruf hidu. pada setiap akhir kata (Gautama, 2. Ragam pupuh yang digunakan dalam Geguritan Bima Suarga adalah pupuh yang sudah biasa digunakan oleh masyarakat Hindu Bali. Jenis pupuh tersebut adalah pupuh dangdang sebanyak satu bait, pupuh sinom sebanyak dua bait, pupuh mijil sebanyak dua bait, pupuh ginada sebanyak lima bait, pupuh pangkur sebanyak empat bait, pupuh durma sebanyak delapan bait, pupuh maskumambang sebanyak dua bait, pupuh semarandana sebanyak dua bait, pupuh ginanti sebanyak tujuh bait, dan pupuh pucung sebanyak dua Teks Geguritan Bima Suarga dibagi menjadi tiga bagian, yaitu bagian pembuka berisi satu bait, bagian isi cerita tertuang 33 bait, dan bagian penutup satu bait, sehingga seluruhnya berisi 35 bait. Karakter pupuh dibuat mengikuti alur cerita yang ingin Geguritan Bima Suarga menceritakan perjalanan Sang Bima, putra kedua dari lima bersaudara (Panca Pandaw. untuk memenuhi tugas yang diberikan oleh ibunya (Dewi Kunt. Bima sebagai tokoh utama menerima tugas untuk menolong atma dari ayah (Sang Pand. dan ibu tirinya (Dewi Madr. dari siksa api neraka. Walaupun saudaranya yang lain bermaksud menghindar. Bima tetap kukuh menyelesaikan tugas yang diembankan oleh Ibu Kunti. Melihat kebulatan tekad Sang Bima, akhirnya seluruh saudaranya ikut mendampingi usaha Bima, membantu arwah Sang Pandu dan Ibu Madri (Rustiani & Dharma Pradnyan, 2. Setibanya di Tegal Penangsaran, tempat para atma menerima hasil perbuatannya selama hidup di bhur loka. Bima mendapat rintangan dari Hyang Suratma sebagai penjaga neraka. Terjadilah pertempuran sengit, namun Bima mampu lolos dan melanjutkan tugasnya mencari arwah ayah dan ibunya. Perjalanan Bima sampai di Kawah Tambra Goh Muka, salah satu tempat yang panas membara dan bau, berisikan arwah yang sedang menerima hukuman atas hasil perbuatannya selama hidup. Setelah lama dicari, akhirnya kedua atma dapat ditemukan juga. Awalnya Sang Bima tidak mau menyembah atma Sang Pandu dan Dewi Madri. Hal tersebut membuat atama berdua masih terlihat lesu. Dengan segala upaya ibu dan keempat saudaranya merayu Bima untuk memberi hormat kepada Sang Atma, namun usaha itu gagal. Bima menegaskan dirinya hanya mau menyembah Hyang Bayu. Sang Nakula dengan sigap menyiapkan tipu daya agar Sang Bima mau menyembah. Usaha Nakula berhasil membuat Bima mencakupkan kedua tangannya sehingga Hyang Atma bisa tegak kembali. Setelah Sang Atma berdua Kembali tegak. Dewi Kunti meminta kepada anakanaknya untuk melanjutkan upacara atma Sang Pandu dan Ibu Madri. Mendengar permintaan Ibu Kunti, kelima bersaudara terdiam kecuali Bima. Beliau segera berangkat mencari sarana upacara untuk Sang Atma berdua berupa tirta suci di Sorga. Setibanya di tempat tujuan. Bima dihalangi oleh para dewa, hingga Hyang Bayu pun turun tangan menghadang Bima. Dengan kebulatan tekadnya. Bima menghadapi semua tantangan walaupun akhirnya mati di tangan Hyang Bayu. Mengetahui kejadian tersebut Hyang Jagatnatha turun menengahi perselisihan yang terjadi di Sorga. Beliau memerintahkan Hyang Bayu untuk mengembalikan keadaan Bima seperti sedia kala. Setelah Sang Bima kembali seperti keadaan semula, kemudian menyampaikan maksud dan tujuannya mencari tirta . ir suc. sebagai pelengkap upacara https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH yadnya untuk kedua orangtuanya. Akhirnya Hyang Jagatnatha memberikan anugerah air suci yang diharapkan oleh Bima sebagai pelengkap sarana upakara yadnya bagi kedua Geguritan sebagai salah satu bagian dari dharma gita berfungsi sebagai nyanyian keagamaan bagi umat Hindu, yang mengiringi upacara ritual atau yadnya (Apriani, 2. Tembang ini dipergunakan untuk mengiringi kegiatan keagamaan, khususnya yang berhubungan dengan ritual/yadnya. Dua kelompok . santhi yang masih rutin . eminggu sekal. melaksanakan kegiatan mabebasan Geguritan Bima Suarga adalah Sekaa Santhi "Gangga Lingga Suara" Banjar Mertha Gangga. Desa Tegal Kerta. Denpasar Barat memiliki anggota sebanyak 20 orang, dan Sekaa Santhi "Arsa KhantiAy Banjar Pemedilan. Kelurahan Pemecutan. Denpasar Barat memiliki anggota sebanyak 10 orang. Gambar 1. Sekaa Santhi "Arsa KhantiAy Banjar Pemedilan. Kelurahan Pemecutan. Denpasar Barat (Sumber: Dokumentasi Peneliti, 2. Di samping mengadakan latihan rutin mabebasan Geguritan Bima Suarga. Sekaa Santhi "Gangga Lingga Suara" dan Sekaa Santhi "Arsa KhantiAy juga melaksanakan ngayah mabebasan Geguritan Bima Suarga pada waktu upacara pitra yadnya di lingkungan desa adat setempat. Secara umum, kegiatan mabebasan Geguritan Bima Suarga yang mereka laksanakan memiliki beberapa makna, yakni makna estetis . enyaluran bakat sen. , makna sosial, dan makna religius . ihat tabel . Tabel 1. Makna Mabebasan Geguritan Bima Suarga Makna Keterangan Estetis (Sen. Sebagai wahana ekpresi potensi seni yang dimiliki anggota sekaa Santhi setempat Sosial Menumbuhkan rasa kebersamaan dan solidaritas sosial Religius Memperkuat kesadaran lima dasar keyakinan (Panca Sradh. Sumber: Hasil Analisa Data Lapangan, 2023 Makna Estetis Sebagai salah satu bentuk ekspresi seni, kegiatan ngayah mabebasan geguritan Bima Suara memiliki makna estetika . Keindahan adalah rasa senang, rasa puas, rasa aman, nyaman dan bahagia, dan perasaan tersebut sangat kuat, merasa terpaku, terharu, terpesona serta menimbulkan keinginan untuk mengalami kembali perasaan itu, walaupun sudah dinikmati berkali-kali. Semua benda atau peristiwa seni atau kesenian pada hakikatnya mengandung tiga aspek yang mendasar dan dua tipe keindahan. Tiga aspek yang mendasar ini meliputi: . wujud atau rupa, . bobot atau isi, dan . penampilan atau penyajian. Selanjutnya, dua tipe keindahan, yaitu keindahan alami yang tidak dibuat oleh manusia dan keindahan yang dibuat oleh manusia yang secara umum https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH disebut sebagai produk kesenian (Djelantik, 2. Sesuai dengan teori hermeneutika Ricoeur . alam Syukri, 2. , tembang Geguritan Bima Suarga mengandung tanda yang bermakna keindahan . yang menambah suasana hidmat dalam kegiatan sosialkeagamaan umat Hindu Bali ini. Makna Sosial Kegiatan mabebasan Geguritan Bima Suarga merupakan bentuk seni sastra yang bisa menjadi media hiburan, media edukasi dan sebagai media untuk meneguhkan integrasi sosial. Dalam kaitan ini. A Mas Yoyok Artama . Ketua Sekaa "Arsa Khanti" Banjar Pemedilan. Kelurahan Pemecutan. Denpasar Barat menyatakan bahwa kegiatan ngayah mabebasan Geguritan Bima Suarga yang mereka lakukan mampu memperkuat rasa kebersamaan, solidaritas sosial, di samping sebagai wahana dalam mengekpresikan daya estetis dan potensi seni pelakunya. Semangat persahabatan, rasa kebersamaan, sentiment sosial antar anggota sekaa santhi mabebasan tersebut bisa diaktifkan dan diperkuat sebagaimana dituturkan oleh informan berikut ini. Melalui kegiatan latihan mabebasan Geguritan Bima Suarga secara berkala, rasa kebersamaan dan persaudaraan . enyame bray. diantara kami . nggota sekaa santh. menjadi semakin kuat. Kami pun siap melaksanakan ngayah mabebasan Geguritan Bima Suarga setiap kali ada acara pengabenan . pacara Pitra Yadny. di lingkungan Desa Adat seputar wilayah Denpasar ini (A. A Mas Yoyok Artama, 52 tahun. Ketua Sekaa santhi "Arsa Khanti" Banjar Pemedilan. Kelurahan Pemecutan. Denpasar Bara. Kegiatan mabebasan Geguritan Bima Suarga secara berkala, rasa kebersamaan sentiment sosial, dan kerja sama antar anggota sekaa santhi setempat bisa dikembangkan. Solidaritas sosial dan rasa kebersamaan antar anggota sekaa santhi mabebasan tersebut sesuai dengan tesis Max Weber . bahwa kegiatan keagamaan mengandung spirit untuk menentukan harmoni sosial dalam kehidupan bermasyarakat (Schefer, 1. Makna Religius Kegiatan mabebasan Geguritan Bima Suarga memiliki makna religius, yakni menumbuhkan rasa bhakti kepada Hyang Widi Wasa sehingga manusia memperoleh ketenangan dan keketenteraman hidup. Menurut I Wayan Suzen . Ketua Sekaa Santhi "Gangga Lingga Suara" Banjar Mertha Gangga. Desa Tegal Kerta. Denpasar Barat, secara mendasar kegiatan ngayah mabebasan Geguritan Bima Suarga yang mereka lakukan mampu memperkuat kesadaran dan keyakinan anggotanya, khususnya lima dasar keyakinan atau Panca Sradha. Panca Sradha, terdiri dari: keyakinan terhadap Sang Hyang Widhi, keyakinan adanya Atma, keyakinan adanya hukum Karmaphala, keyakinan adanya Punarbhawa, dan keyakinan adanya Moksa. Keyakinan terhadap Sang Hyang Widhi Wasa Anggota Sekaa Santhi "Gangga Lingga Suara" dan Sekaa Santhi "Arsa KhantiAy. Denpasar Barat meyakini adanya Sang Hyang Widhi/Yang Maha Kuasa dengan tiga prabawa sebagai pencipta . , pemelihara . , dan pelebur . Dalam pustaka suci Weda dan Upanisad dikatakan. Ekam Eva Adwityam Brahman, yang berarti hanya satu . kam ev. tidak ada duanya . Tuhan itu (Brahma. Eko Narayanad Na Dwityo Astikasscit, artinya hanya satu Tuhan, sama sekali tiada duanya. Beliau disembah dengan banyak nama untuk membantu manusia dengan segala keterbatasannya, menggambarkan kemahakuasaan Tuhan yang tak terbatas (Jaya et al. Untuk menjiwai keagungan Hyang Widhi dalam ketiga prabawanya, memberi simbol dalam aksara suci AoOmAo. Kata Om adalah akasara suci simbol perwujudan Brahma dengan aksara Ang. Wisnu dengan aksara Ung, dan Siwa dengan aksara Mang. Suara Ang-Ung-Mang disatukan menjadi AUM atau Om, yang berarti Sang Hyang Widhi. https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH Ungkapan suci AoOmAo tersurat pada bagian pembuka . dan penutup . arama sant. teks Geguritan Bima Suarga. Kutipan teks tersebut dapat disampaikan sebagai berikut: Sangkan meled, ngawerdiang dresta Mangkin titiang mangaturang gita Bima suarga gitany Mangda wynten anggyn suluh Kala nangun yadnya suci Ngupakara Sang Hyang Atma Mangda polih linggih ayu Swastiastu anggyn mungkah Mogi sueca ratu nuntun titiang ngurit Mangda luput sarwa wigna. (Pupuh Dangdang. Pamungka. Terjemahannya: Dari lubuk hati terdalam. Untuk melestarikan kebudayaan Sekarang saya akan melantunkan tembang Bima Suarga. Supaya nantinya bisa dijadikan suatu penerangan dalam melaksanakan upacara Dengan melaksanakan upacara suci ini, semoga Sang Hyang Atma nantinya dapat tempat yang terbaik Dengan mengucapkan Om. Swastiastu, semoga Tuhan senantiasa memberikan tuntunan dalam melantunkan tembang ini Supaya terhindar dari segala halangan Inggih para pamiarsa, asapunika sampun aturang titiang carita Bima Suarga Suksman critany mogi kaanggyn suluh olih alit-ality sami Pangaptin titiang mangda ipun setata sungkem bakti Inggih punika subakti majeng ring aji miwah i biang Prady wynten atur ten manut titian nglungsur ampura Ngiring puputang jantos iriki Tur maka cihna puput sineb antuk parama santi AuOm. Santi. Santi. Santi. OmAy Terjemahannya: Wahai hadirin semuanya, begitulah isi cerita dari Bima Suarga yang telah saya Semoga esensi dari ceritanya bisa dijadikan penerangan dan pedoman bagi anakanak kita semuanya Harapan saya semoga mereka selalu hormat dan bakti Yakni hormat dan bakti kepada bapak dan ibu selaku orang tuanya Mohon maaf sebelumnya, jikalau ada tutur kata saya yang kurang berkenan Lantunan tembang ini saya cukupkan sampai disini. Akhir kata saya tutup dengan Paramasanti Om. Santi. Santi. Santi. Om Anggota sekaa santhi sebelum mementaskan dharma gita di tempat pelaksanaan yadnya akan mohon ijin . atur unin. di tempat suci pada tataran keluarga . Hal ini dilakukan sebagai simbol memohon keselamatan agar terhindar dari berbagai halangan saat bertugas. Sesampainya di tempat bertugas sudah disiapkan banten pejati lengkap dengan aparatusnya. Salah satu bagian dari banten pejati adalah daksina sebagai simbol sthana Ida Sang Hyang Widhi Wasa/Tuhan Yang Maha Esa. Dengan media banten pejati, anggota sekaa santhi memusatkan pikiran menggambarkan Ida Hyang Widhi dalam manifestasi beliau sebagai Dewi Saraswati, penguasa ilmu pengetahuan. Memuja https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH Tuhan dengan sarana banten pejati adalah tergolong Apara Bhakti, yaitu bhakti bagi umat Sarana tumbuhan dan air sebagai unsur Panca Maha Bhuta dijadikan sarana memuja Tuhan, dilandasi dengan hati yang suci dan tulus. Sumber sastra Hindu yang dijadikan dasar membuat persembahan tersurat sebagai berikut: Patram puspam phalam toyam yome bhaktya prayascchati, tad aham bhakty-upahritam asnami prayataatmanas. (Bhagawad GtA. IX Ae . Terjemahannya: Siapapun yang dengan sujud bhakti kepad-Ku mempersembahkan sehelai daun, sekuntum bunga, sebiji buah-buahan, seteguk air. Aku terima sebagai bhakti persembahan dari orang yang berhati suci (Pudja, 2. Keyakinan Adanya Atma Di samping keyakinan terhadap Kemahakuasaan Hyang Widi Wasa, anggota Sekaa Santhi "Gangga Lingga Suara" dan Sekaa Santhi "Arsa KhantiAy. Denpasar Barat meyakini adanya sang Atma yang menghidupi setiap manusia. Atma sebagai manifestasi Hyang Widhi yang menghidupi setiap mahkluk disebut jiwatman. Atman adalah percikan terkecil dari Parama Atman yang tertinggi, bersemayam pada semua makhluk dan inti dari hidupnya semua makhluk. Dengan membaca Geguritan Bima Suarga, umat Hindu diingatkan akan sebuah cerita, dimana Sang Pandu dan Dewi Madri tercebur ke kawah Neraka karena kesalahannya membunuh kijang . enjelmaan Res. yang sedang berkasihkasihan. Akibat kutukan sang Resi akhirnya menjadi jalan kematian sang Pandu diikuti Dewi Madri karena ketidakmampuanya menahan indria. Ketika manusia mati, sang atma meninggalkan badan kasarnya yang menuju alam baka. Atma padasarnya adalah suci, bebas abadi dan mempunyai kesadaran sendiri, namun sang atma sangat dipengaruhi oleh indria dan pikiran, seperti yang disebutkan dalam pustaka suci berikut: Indriyani parany ahur Indriyebyah param manah. Manasas tu para buddhir Yo buddheh paratas tu sah (Bhagwad GtA, i Ae . Terjemahannya: Orang mengatakan panca indria itu lebih besar dari pada badan, lebih besar dari padanya adalah nurani, lebih besar dari nurani adalah intelek, tetapi lebih besar dari intelek adalah Dia . (Pudja, 2. Pada saat rangkaian prosesi melantunkan dharma gita, sekaa santhi terkadang dihadapkan pada keadaan yang kurang sesuai dengan rencana. Waktu pelaksanaan yadnya mendadak berubah, tempat yang kurang memadai atau hal-hal teknis lain yang dapat mempengaruhi kenyamanan anggota sekaa dalam melantunkan tembang. Dalam keadaan bagaimanapun, sekaa santhi yang sudah beritikad ngayah idealnya mampu menerima dengan lapang dada. Jangan muncul rasa keakuan bila ditempatkan pada posisi yang baik atau menerima sanjungan, pun juga tidak mengeluh ketika menerima kritikan. Diharapkan anggota sekaa santhi dapat berkaca dari sloka berikut: jitamanah prasantasya paramatma samahitah, sitosna-sukha-duhkhesu tatha manapamanayoh. (Bhagawad GtA. VI Ae . Terjemahannya: https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH Orang yang dapat menguasai jiwanya. Yang mencapai ketenangan paramatman. Akan tetap seimbang terhadap panas dan dingin, terhadap suka dan duka, terhadap pujian dan cacian (Pudja, 2. Keyakinan Adanya Hukum Karma Phala Selain keyakinan terhadap Sang Hyang Widi Wasa serta keberadaan Atma, anggota Sekaa Santhi "Gangga Lingga Suara" dan Sekaa Santhi "Arsa KhantiAy. Denpasar Barat juga meyakini adanya karma phala, yakni hasil dari setiap perbuatan seseorang. Dengan mempelajari ajaran karma phala umat Hindu dituntun untuk berbuat baik dalam kehidupan sehari-hari. Seseorang bekerja dengan baik karena meyakini setiap perbuatan baik . atau perbuatan buruk . yang dilakukannya, pasti akan mendapatkan hasil yang sesuai dengan tindakannya. Perbuatan baik yang ditanam seseorang, maka hasil yang dipetik juga baik . ubha karm. , begitu pula juga sebaliknya . subha karm. Dengan meyakini hukum karma phala seseorang tidak perlu bersedih atau menyesali orang lain karena mengalami penderitaan dan tidak perlu merasa jumawa saat mengalami Semua terjadi secara kodrati sesuai aturan-Nya (Jendra, 2. Kegiatan ngayah dengan sarana menembangkan dharma gita pada upacara yadnya merupakan salah satu perbuatan baik untuk membantu sesama. Anggota sekaa tidak memusatkan diri pada hasil kerja yang didapatkan, namun semata dilakukan untuk ikut mensukseskan upacara yadnya. Baik atau buruknya karma yang dilakukan sebagai manusia, akhirnya karma phala yang diterima. Hal tersebut tersurat dalam sloka pustaka suci berikut: karma bhumiriya brahman phalabhumirasau mata iha yat kurute karma tat paratropabhujyate (SArasamuccaya, . Terjemahannya: Sebab kelahiran menjadi manusia sekarang ini, adalah kesempatan melakukan kerja baik ataupun kerja buruk, yang hasilnya akan dinikmati di akhirat. kerja baik maupun kerja buruk sekarang ini, di akhirat sesungguhnya dikecap akan buah hasilnya itu. setelah selesai menikmatinya, menitislah pengecap itu lagi. maka turutlah bekas-bekas hasil perbuatnnya: wasana disebut sangskara, sisa-sisa yang tinggal sedikit dari bau sesuatu yang masih bekas-bekasnya saja, yang diikuti . hukuman yaitu jatuh dari tingkatan sorga maupun dari kawah neraka. adapun perbuatan baik ataupun buruk yang dilakukan di akhirat, tidak itu berakibat sesuatu apapun, oleh karena yang sangat menentukan adalah perbuatan baik atau buruk yang dilakukan sekarang juga. (Kajeng, 2. Pada bagian cerita Geguritan Bima Suarga. Bima selaku tokoh utama dengan segala keyakinan menyelesaikan tugas yang diberikan oleh ibunya (Dewi Kunt. untuk menolong atma ayah Pandu dan ibu Madri. Dengan menembangkan Geguritan Bima Suarga berguna untuk mengingatkan umat pada keutamaan pahala berbakti kepada orang tua, seperti terungkap dalam sloka berikut: pita mata ca rajendra tusyato yasya dehinah, iha pretya ca tasyatha kirtirbhawati sasvati. (SArasamuccaya, . Terjemahannya: Setia bakti terhadap orang tua, membuat orang tua itu sangat senang dan puas hatinya, pahalanya baik sekarang ini. maupun kemudian, tetap mendapat pujian tentang kebajikan (Kajeng, 2. https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH . Keyakinan Adanya Punarbhawa Kegiatan mabebasan Geguritan Bima Suarga mengandung makna ajaran tentang keniscayaan Punarbhawa, yakni kelahiran berulang atau reinkarnasi. Penyebab dari kelahiran yang berulang tidak lain karena jiwa atman masih dipengaruhi oleh kenikmatan dan kematian akan diikuti oleh kelahiran berikutnya. Kelahiran berikutnya bila masih berkesempatan menjadi manusia walau penuh kekurangan . idak sempurn. , namun sempurnakanlah untuk menjadi manusia yang berguna, penyebab kebahagiaan bagi Dalam susastra Hindu, keutamaan terlahir sebagai manusia disebutkan sebagai iyam hi yonih pratama yonihprapya jagatipate, atmanam sakyatetratum karmabhih shubhalaksanaih. (SArasamuccaya, . Terjemahannya: Menjelma menjadi manusia itu adalah sungguh-sungguh utama, karena yang bersangkutan dapat menolong dirinya dari keadaan sengsara . ahir dan mati berulang-ulan. dengan jalan berbuat baik. demikianlah keuntungannya dapat menjelma menjadi manusia (Kajeng, 2. Keyakinan Adanya Moksa Teks Geguritan Bima Suarga mengandung makna tentang orientasi atau tujuan hidup manusia Hindu yang bukan hanya mencapai sorga, tetapi juga dapat bersatu dengan sumber yang abadi (Moks. Moksa berarti kebebasan dari ikatan keduniawian, bebas dari karma phala, dan bebas dari punarbhawa (Badra, 2. Atman yang mencapai moksa tidak lagi terlahir ke dunia, karena tiada lagi yang mengikatnya untuk bersatu dengan Paramatman. Ibarat air sungai yang telah menyatu dengan air laut, maka air sungai akan kehilangan identitas, tidak ada lagi perbedaan antara air Sungai dan air laut (Suhardana. Sebagai tujuan hidup umat Hindu berdasarkan agama yaitu AuMoksartham Jagadhita Ya Ca Iti DharmahAy, dapat diartikan sebagai usaha untuk mencapai kesejahteraan jasmani, ketentraman batin dan kehidupan abadi dengan menunggalnya Roh dengan Ida Sang Hyang Widhi Wasa (Suhardana, 2. Usaha tersebut dapat dicapai dengan jalan berbakti kepada dharma untuk mendapat anugrah Tuhan. Salah satu cara bakti dapat diwujudkan dengan menerapkan Catur Yoga dengan teguh. Catur Yoga adalah empat cara mencari kesatuan dengan Tuhan, antara lain: . Bhakti Yoga artinya melakukan kebaikan yang tulus dan terus menerus, . Karma Yoga artinya melakukan perbuatan-perbuatan mulia bermanfaat tanpa pamrih, . Jnana Yoga artinya usaha menyatukan diri dengan melakukan pengabdian pengetahuan, . Raja Yoga artinya melakukan tapa brata dan semadhi. Kegiatan ngayah mabebasan, dengan menembangkan dharma gita dapat menjadi salah satu bentuk implemantasi dari Karma Yoga. Tanpa bermaksud untuk menggurui para pendengarnya, bukan hasil materi sebagai tujuan akhirnya, namun semata-mata ingin mengingatkan khalayak akan makna ajaran agama Hindu melalui tembang adalah kebahagiaanya (Darmayasa, 2. Bila orang-orang yang suka berbhakti menuju tempat-tempat suci yang dikenal dengan istilah Tirtayatra, maka melantunkan tembang kedamaian dikenal dengan istilah Gitayatra. Sri Krisna menyampaikan wejangannya dengan sangat indah dalam sloka berikut: karmani evadhikaras te ma phalesu kadacana ma karma-phala-hetur bhur ma te sango Aostv akarmani (Bhagawad GtA. II Ae . Terjemahannya: https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH Berbuatlah hanya demi kewajibanmu, bukan hasil perbuatan itu . ang kau pikirka. , jangan sekali kali pahala jadi motifmu dalam bekerja, jangan pula hanya berdiam diri tanpa kerja (Pudja, 2. Menyimak isi dari teks Geguritan Bima Suarga, perjuangan Bima menyelesaikan tugas yang diembankan padanya merupakan wujud dari hakekat kerja dalam Karma Yoga. Ia mampu melepaskan diri dari keterikatan kerja melalui keyakinan bahwa tugas yang dilakukannya semata-mata adalah perwujudan bhakti kepada orangtua. Bima mengerjakan tugas dan kewajibannya dengan keikhlasan tanpa keragu-raguan, walau dengan taruhan nyawa. Etos kerja Bima dalam mewujudkan bhakti sebagai usaha untuk mendekatkan diri dengan Tuhan tersurat dalam pustaka suci berikut: na karmanam anarambhan naiskarmyam puruso Aosnute, na ca samnyasanad eva siddhim samadhigacchati. (Bhagawad GtA, i Ae . Terjemahannya: Tanpa kerja orang tak akan mencapai kebebasan, demikian juga ia tidak akan mencapai kesempurnaan karena menghindari kegiatan kerja (Darmayasa, 2. Kesimpulan Kegiatan mabebasan Geguritan Bima Suarga secara umum memiliki beberapa makna, meliputi makna estetis, yakni sebagai bagian dari kegiatan seni-budaya masyarakat Hindu Bali, makna sosial, yakni mampu memperkuat rasa kebersamaan serta sentiment sosial, dan makna relegius, yakni menguatkan keyakinan tentang lima dasar keyakinan (Panca Sradh. umat Hindu Bali. Lima dasar keyakinan (Panca Sradh. ini meliputi: keyakinan terhadap kemahakuasaan Ida Sang Hyang Widhi Wasa, terlihat dari kebiasaan pelaku dharma gita yang menstanakan Dewi Saraswati sebagai manifestasi Tuhan pada daksina . agian dari banten pejat. , keyakinan akan adanya sang atma . oh suc. yang bersemayam dalam tubuh manusia, keyakinan akan adanya karma phala atau hasil perbuatan manusia ketika hidup di dunia, serta keyakinan adanya punarbhawa atau kelahiran berulang, dan keyakinan adanya moksa, yakni menyatunya sang atma dengan paramatma (Tuha. sebagai tempat kebahagiaan yang abadi. Daftar Pustaka