Jurnal Sabbhata Yatra Jurnal Pariwisata dan Budaya Volume 6 Nomor 2 Desember 2025 MAKNA SOSIAL DAN FUNGSI RITUAL PERLON BAGI KOMUNITAS TRAH BONOKELING. DESA PEKUNCEN. KABUPATEN BANYUMAS Tania Ridi Putri Mentari1. Aisha Cahyarani Nabila2. Naelu Salamah3. Fajar Widianto4. Muhammad Firmansyah Nuradha5. Puri Septiana Nursetiyawati6 Universitas Jenderal Soedirman mentari@mhs. nabila@mhs. salamah@mhs. widianto@mhs. nuradha@mhs. septiana@unsoed. Abstract This article discusses the meaning and function of Perlon ritual in Bonokeling lineage in Pekuncen village. Banyumas Regency. This research aims to understand the cultural values contained in Perlon ritual and its social function in strengthening solidarity among Bonokeling or non-Bonokeling lineage members. The research method used is qualitative method. Data collection techniques used in-depth interviews and documentation. The technique of determining informants used snowball sampling technique with a total of six informants. The results showed that the Perlon ritual has a function and meaning in each element performed by the Bonokeling lineage in carrying out the Perlon ritual. In addition. Perlon rituals can also affect social relations between Bonokeling and non-Bonokeling lineages in Pekuncen village, as well as the challenges faced by Bonokeling lineage in carrying out Perlon rituals. Keywords: Bonokeling Breed. Community. Perlon. Social Meaning PENDAHULUAN tradisi yang diwariskan secara turun-temurun Indonesia dikenal sebagai negara ini berasal dari nenek moyang terdahulu yang kaya akan tradisi dan kearifan lokal karena dianggap sebagai warisan leluhur yang tersebar di berbagai daerah. Setiap yang mengandung nilai-nilai moral, spiritual, daerah di Indonesia memiliki kekhasan dan jati diri dari suatu komunitas (SoAoimah et budayanya sendiri, mulai dari bahasa, , 2. Pewarisan ini sering dilakukan upacara adat, serta sistem nilai yang diwariskan secara turun-temurun. Tradisi- Jurnal Sabbhata Yatra Jurnal Pariwisata dan Budaya Volume 6 Nomor 2 Desember 2025 keluarga dan masyarakat, dan tradisi ini Komunitas trah Bonokeling di Desa masih tetap dijalankan hingga saat ini di Pekuncen. Kabupaten Banyumas, merupakan Indonesia, terutama di Pulau Jawa (Susanto kelompok masyarakat adat yang memiliki , 2. Nilai-nilai kehidupan yang struktur sosial khas, dengan garis keturunan yang disebut trah atau keturunan dari Eyang Jawa makna yang mendalam, dimana setiap Bonokeling. Mereka tahapan atau langkah-langkah dalam hidup memiliki arti tersendiri (Hamidi et al. , 2. spiritualitas lokal, dan kearifan budaya yang Salah satu daerah di Jawa yang masih diwariskan secara turun-temurun. Dalam menjaga kuat tradisi leluhurnya adalah sehari-hari. Kabupaten Banyumas. Kabupaten Banyumas merupakan Aboge nilai-nilai Islam salah satu daerah di Jawa Tengah yang masih Kejawen, memiliki banyak tradisi dan budayanya di antara agama dan budaya lokal (Dewi, 2. setiap sudut desa. Tradisi yang diwariskan Masyarakat di desa Pekuncen dikenal secara turun-temurun ini masih dibawa memiliki struktur sosial yang kuat di sampai saat ini karena dianggap sebagai komunitasnya, dimana nilai gotong royong, wujud rasa syukur kepada leluhurnya, dan rasa penghormatan kepada leluhurnya, dan merupakan perintah yang harus dijalani agar solidaritas sosial masih dijunjung tinggi. tradisi tersebut tidak hilang, serta merupakan Salah satu komunitas adat yang ada di Desa bentuk pelestarian budaya yang ada. Menurut Pekuncen Sholikhah et al. , pelestarian budaya Bonokeling, yang hampir semua ritual keagamaannya berorientasi pada pemujaan identitas lokal melalui pendidikan, partisipasi pundhen atau makam Bonokeling (NiAoam et nilai-nilai , 2. Hal ini menjadi unik karena Salah satu desa yang masih kehidupannya yang penuh dengan makna memegang erat nilai-nilai tradisional dari spiritual serta ritual-ritual adat yang dijalani budayanya yaitu Desa Pekuncen yang masih ada dari dulu sampai sekarang. memiliki suatu komunitas tersendiri yang Bonokeling. Komunitas Komunitas Adat Tokoh yang menyebarkan adat Bonokeling serta agama Islam di Desa Pekuncen merupakan Kyai Bonokeling, yang Jurnal Sabbhata Yatra Jurnal Pariwisata dan Budaya Volume 6 Nomor 2 Desember 2025 tidak diketahui nama aslinya hingga saat ini Perlon tetap eksis sebagai mekanisme (Saefudin et al. , 2. Ritual adat yang sosial yang memelihara keberlanjutan budaya Bonokeling di Desa Pekuncen adalah Ritual Berdasarkan latar belakang diatas. Perlon. Ritual Perlon biasanya dilakukan penulis tertarik untuk mengkaji lebih lanjut sebelum bulan Ramadhan, karena bulan ini menurut kepercayaan mereka merupakan Bonokeling bulan yang istimewa dan dinilai lebih tinggi mengangkat penelitian dengan judul AuMakna dari bulan-bulan lainnya (Pongbangnga et al. dan Fungsi Ritual Perlon Dalam Komunitas Rangkaian ritual Perlon biasanya trah Bonokeling. Desa Pekuncen. Kabupaten mencakup kegiatan seperti ziarah kubur. BanyumasAy. Penelitian ini bertujuan untuk selametan, serta penyampaian doa dan sesaji. menggali dan memahami makna dan fungsi Praktik ini menunjukkan sinkretisme antara yang terkandung dalam ritual Perlon bagi Islam Aboge dan tradisi lokal yang sudah Komunitas mengakar, mencerminkan identitas spiritual penelitian terdahulu yang juga meneliti khas dari komunitas ini (Sulaiman, 2. tentang tradisi di Komunitas trah Bonokeling. Salah satu ritual Perlon yang ada di Bonokeling Komunitas Bonokeling. Terdapat yaitu penelitian dengan judul AuMakna Perlon Simbolik Pada Ritual AuUnggah-UnggahanAy Unggahan. Kegiatan ritual tahunan seperti Masyarakat Bonokeling Di Desa Pekuncen. Perlon Unggahan bukan hanya menjadi Kecamatan Jatilawang Jawa TengahAy yang sarana spiritual, tetapi juga sebagai media mengidentifikasi dan menganalisis tentang penguat identitas kelompok (Amri, 2. arti dari tanda yang terdapat dalam ritual Terdapat simbolisme budaya dalam ritual Unggah-Unggahan Perlon, yaitu melalui berbagai atribut seperti Bonokeling di Desa Pekuncen (Pongbangnga blangkon, kain lurik, dan sesaji dalam ritual et al. , 2. Dari penelitian tersebut, terdapat Unsur-unsur tersebut menjadi research gap yang dapat dilengkapi oleh lambang identitas budaya sekaligus alat penulis, yaitu dengan menjelaskan fungsi dari komunikasi spiritual antara manusia, alam, ritual Perlon dalam konteks sosial-budaya. dan leluhur (Resticka et al. , 2. Di tengah Selain itu, penulis juga belum menemukan arus modernisasi dan pengaruh budaya luar, adanya penelitian yang membahas tentang pelestarian budaya Perlon masih tetap makna dan fungsi dari ritual Perlon dalam Jurnal Sabbhata Yatra Jurnal Pariwisata dan Budaya Komunitas Volume 6 Nomor 2 Desember 2025 Bonokeling Desa Pekuncen. bagaimana tradisi ini tidak hanya berfungsi sebagai praktik keagamaan, tetapi juga Terdapat sebagai sarana untuk memperkuat ikatan berjudul AuInklusivitas Masyarakat Desa sosial, identitas budaya, dan nilai-nilai yang Pekuncen Terhadap Komunitas Bonokeling dijunjung tinggi oleh masyarakat setempat. di Desa Pekuncen BanyumasAy. Penelitian Penulis juga berharap hasil dari penelitian ini tersebut masih hanya meneliti tentang proses diharapkan dapat menjadi referensi bagi penerimaan, pengakuan, dan keterbukaan antara sistem kepercayaan dan budaya wawasan yang lebih luas tentang pentingnya Desa pelestarian tradisi dalam konteks masyarakat Bonokeling. yang terus berkembang. Pekuncen Dengan penelitian penulis, tentunya penulis ingin METODE Penelitian AuMakna penjelasan mengenai makna dan fungsi sosial Fungsi Ritual Perlon dalam Komunitas Trah Bonokeling di Desa Pekuncen. Kabupaten Perlon Trah Bonokeling agar masyarakat Desa Pekuncen BanyumasAy dapat memahami lebih dalam tentang makna Mengacu pada pendapat Creswell dan fungsi dari ritual Perlon yang diadakan dalam Safarudin et al. , metode komunitas Trah Bonokeling (Permatasari kualitatif merupakan pendekatan penelitian , 2. dalam bidang pendidikan yang menekankan Dengan adanya penelitian berjudul AuMakna dan Fungsi Ritual Perlon Dalam Pendekatan ini dipilih karena tujuan utama Komunitas trah Bonokeling. Desa Pekuncen. Kabupaten BanyumasAy ini penulis berharap pengalaman subjektif para informan. dapat menggali lebih dalam mengenai ritual Penelitian Desa Perlon yang dilaksanakan oleh Komunitas Pekuncen. Kabupaten Banyumas. Jawa Tengah, yang Bonokeling Desa Pekuncen. Kecamatan Jatilawang. Kabupaten Banyumas. Melalui pemahaman Komunitas yang lebih mendalam tentang makna dan Bonokeling. Lokasi ini dipilih agar peneliti fungsi ritual ini, diharapkan dapat terungkap dapat memperoleh pemahaman yang lebih Jurnal Sabbhata Yatra Jurnal Pariwisata dan Budaya Volume 6 Nomor 2 Desember 2025 mendalam tentang kehidupan masyarakat Kepala Desa. Ketua dalam komunitas tersebut. Adapun sasaran Komunitas Bonokeling, anggota masyarakat penelitian mencakup anggota Komunitas trah trah Bonokeling, serta masyarakat umum. Bonokeling dan masyarakat umum yang juga dengan menelaah literatur yang relevan. tidak tergabung dalam komunitas tersebut, guna melihat perbedaan perspektif terhadap Makna Simbolis dari Setiap Elemen dalam keberadaan Komunitas Bonokeling. Ritual Teknik Perlon Masyarakat Bonokeling menentukan informan penulis adalah teknik Ritual Perlon merupakan ritual yang snowball sampling, yakni dimulai dari dilakukan oleh komunitas Bonokeling di Desa beberapa individu yang dianggap memahami Pekuncen. seluk-beluk Komunitas Bonokeling, lalu komunitas Bonokeling, mengatakan bahwa mereka merekomendasikan informan lain pada komunitas Bonokeling tidak menjalankan yang juga relevan (Subhaktiyasa, 2. ritual-ritual keagamaan agama Islam seperti Pengumpulan sholat, zakat, dzikir, dan lain-lain syariat Islam, wawancara mendalam dan dokumentasi. namun menggantinya dengan nama Perlon Data (Slameta. Perlon, dalam bahasa lokal, berarti Komunitas AoperluAo atau AobutuhAo yang memiliki makna Bonokeling. Kepala Desa yang juga bagian tentang kebutuhan manusia akan Tuhan, bukan dari komunitas, serta masyarakat non- sebaliknya (Hangno, 2. Ritual Perlon Bonokeling. Sementara itu, data sekunder memiliki beberapa sebutan tergantung pada hari berasal dari jurnal-jurnal ilmiah yang masih memperingatinya, seperti Perlon Rikat. Perlon relevan dengan tema pembahasan penulis. Unggahan. Perlon Turunan. Perlon Muji, dan Teknik analisis yang digunakan adalah model Perlon Ibadah. Ketua analisis interaktif dari Miles. Huberman, dan Saldana . alam Yuspi. Menurut KS. PB selaku masyarakat trah Bonokeling juga mengatakan bahwa perlon menjadi ibadah bagi umat bonokeling, sebelum menjalankan perlon biasanya keturunan trah Bonokeling penarikan kesimpulan secara berkelanjutan. Validasi hidangan tersebut memiliki makna bahwa membandingkan keterangan dari berbagai Menyiapkan Jurnal Sabbhata Yatra Jurnal Pariwisata dan Budaya Volume 6 Nomor 2 Desember 2025 keturunan trah Bonokeling. Selanjutnya, setelah untuk mengungkapkan rasa syukur dan sebagai hidangan makanan jadi, trah Bonokeling ajang pembersihan diri sebelum memasuki mengantarkan makanan tersebut ke bedogol. bulan Ramadhan. Setelah dilakukannya berdoa. Trah Bonokeling di desa pekuncen memiliki maka dilanjutkan dengan menyantap hidangan lima bedogol (Ubudiyah, 2. Lima bedogol yang telah mereka bawa. Menurut SL, selaku penganut Bonokeling, adanya slametan dengan memimpin komunitas Bonokeling (Suhardi & cara memasak dan memberikan makanan tidak Ulul, 2. PB mengatakan bahwa fungsi menjadikannya keberatan. SL menganggap bedogol yaitu untuk memudahkan koordinasi bahwa hal tersebut merupakan salah satu cara kepada juru kunci dan bedogol maupun untuk menambah amal ibadah, selain itu dapat anggotanya tersebut harus merupakan satu keturunan atau satu trah. Selain itu, kelima masyarakat penganut trah Bonokeling. orang-orang bedogol tersebut bertugas membantu kegiatan Bagi komunitas Bonokeling, ritual kyai utama, seperti dalam pelaksanaan adat Perlon mengandung elemen simbolis yang istiadat yang ada serta melayani tamu atau peziarah yang datang ke makam Kyai Menurut KS, ritual Perlon sendiri Bonokeling merupakan bentuk simbol dari rasa syukur (Arauf Ali, nilai-nilai kepada leluhur atas apa yang telah diberikan. dalam ritual Perlon terdapat simbol-simbol Bonokeling di desa Pekuncen berfungsi untuk khusus yang memiliki makna seperti kain jarik, mempermudah kegiatan adat yang ada di sana. busana beskap, tumpengan atau nasi ambeng. Setelah Bonokeling dan doa untuk keselamatan. Kain jarik yang membawa makanan ke bedogolnya masing- memiliki makna kesucian dan kemurnian. Menurut KS, nama jarik sendiri memiliki arti mengumpulkan makanan tersebut ke Balai yaitu aja gampang sirik yang dalam bahasa Malang. Menurut PB. Balai Malang merupakan Indonesia berarti jangan mudah iri, hal ini tempat yang digunakan untuk kumpul dan berdoa pada trah Bonokeling. PB mengatakan merupakan lambang status sosial. Dianggap bahwa ketika malam hari mereka melakukan doa, misalnya ketika saat Perlon unggahan penyembuhan, kain jarik dipercaya memiliki maka trah Bonokeling berdoa dengan tujuan kekuatan spiritual (Pongbangnga Rapa et al. Kemudian. Jurnal Sabbhata Yatra Jurnal Pariwisata dan Budaya Volume 6 Nomor 2 Desember 2025 Busana beskap yang dipakai oleh laki- latar belakang sosial dan budaya, juga terdapat laki menyimbolkan identitas budaya Jawa yang komunitas adat Bonokeling yang masih memiliki makna kesucian, keanggunan, dan mempertahankan nilai-nilai tradisi leluhur. Beskap biasanya digunakan dalam Komunitas ini dikenal akan ritual-ritualnya ritual keagamaan karena dianggap sebagai yang sakral, salah satunya adalah ritual Perlon. busana suci. Jarik dan Beskap merupakan Bagi masyarakat Bonokeling. Perlon bukan warisan budaya Jawa yang perlu dijaga agar sekadar upacara adat, melainkan manifestasi tidak hilang dan tetap hidup dari generasi ke dari nilai spiritual dan solidaritas sosial. Seperti Selanjutnya, terdapat tumpengan atau yang katakan oleh KS bahwa sebelum Perlon nasi ambeng yang mengandung makna ucapan dilaksanakan masak bersama untuk hidangan syukur kepada masyarakat desa Pekuncen atas pada ritual Perlon, adanya masak bersama dapat hasil usahanya. Nasi ambengan merupakan nasi putih yang dibungkus dengan daun pisang komunitas trah Bonokeling. Kebersamaan yang sebagai makanan suci yang wajib disajikan dalam ritual-ritual termasuk Perlon. Nasi ambengan dilengkapi dengan lauk-pauk seperti meningkatkan solidaritas sosial. Hal tersebut serundeng, mie goreng atau bihun goreng, juga dikatakan oleh kepala desa Pekuncen, yang oseng kacang panjang atau sayur lainnya, dan dimana beliau juga merupakan keturunan Menurut SL, nasi ambengan sebagai Bonokeling. Beliau mengatakan, ketika adanya Perlon atau slametan di rumah salah satu warga. Kemudian, terdapat doa keselamatan, doa ini maka warga yang lain akan membantu sebenarnya tulisan yang mengandung harapan menyiapkan hidangan. Sedangkan bagi warga dan makna yang indah, berisi nilai-nilai yang berhalangan untuk hadir maka makanan tuntunan supaya manusia menjadi insan yang tersebut akan diantar ke rumah nya. Hal tersebut Perlon Perlon memunculkan adanya solidaritas sosial yang Ritual Perlon Terhadap Hubungan Sosial Antar Anggota Komunitas Bonokeling dan Non-Bonokeling Di Desa Pekuncen, selain terdapat masyarakat umum yang hidup dengan berbagai Selain Pekuncen. Bonokeling juga tersebar di berbagai wilayah seperti Cilacap. Banjarnegara. Purbalingga. Jakarta. Yogyakarta, bahkan Papua. Setelah Jurnal Sabbhata Yatra Jurnal Pariwisata dan Budaya Volume 6 Nomor 2 Desember 2025 dilakukannya prosesi unggahan ketika sebelum untuk Perlon. Menurut SL adanya masak memasuki bulan suci Ramadhan, maka akan bersama tidak hanya mencari amal ibadahnya dilakukan prosesi turunan. Dimana prosesi saja, tetapi dapat mempererat hubungan tersebut dilaksanakan setelah bulan suci persaudaraan antara penganut Bonokeling. Ramadhan selesai. Menurut KS pada prosesi karena pada saat memasak pasti terjadi turunan tidak jauh beda dengan prosesi Namun, yang menarik yaitu adanya hubungannya semakin kuat. prosesi jalan kaki penganut Bonokeling dari Bagi Masyarakat Desa Pekuncen tidak hanya terdiri dari penganut atau trah Bonokeling saja. Bonokeling yang datang dari luar daerah Di desa ini juga tinggal masyarakat umum . on- Pekuncen. Bonokelin. dengan latar belakang agama, kabupaten lain, diharuskan datang ke Desa Pekuncen Keberagaman ini menciptakan dinamika sosial bisa mencapai puluhan kilometer atau bisa pelaksanaan ritual Perlon. Meski awalnya ritual ditempuh dalam waktu seharian (Dadan et al. ini bersifat internal dan hanya diikuti oleh Adanya tradisi jalan kaki bagi penganut penganut Bonokeling, seiring waktu kegiatan Bonokeling membuktikan bahwa adanya tradisi Perlon juga menarik perhatian masyarakat luar. Perlon menumbuhkan solidaritas sosial yang termasuk warga non-Bonokeling. Penganut Bonokeling tidak keberatan jika terdapat menambahkan bahwa saat terjadi Perlon masyarakat umum hadir dan menyaksikan turunan para penganut Bonokeling dari luar ritual Perlon tersebut. Menurut KS, penganut desa pekuncen membawa bahan makanan Bonokeling sangat terbuka jika terdapat mentah, seperti hasil bumi, hewan ternak dan masyarakat umum yang ingin mempelajar atau lain-lain. Kemudian ketika sudah sampai di hanya sekedar melihat tradisi Perlon khusus desa Pekuncen, bahan makanan tersebut KS menambahkan, walaupun semua dimasak oleh penganut Bonokeling di desa masyarakat umum boleh menghadiri ritual Pekuncen untuk dihidangkan saat Perlon tersebut, namun terdapat beberapa hal yang Adanya kerjasama tersebut membuat para penganut Bonokeling tidak merasa memakai alas kaki, larangan untuk memakai keberatan jika harus menyiapkan masakan hijab bagi perempuan, dan harus menggunakan Selain menggunakan alas kaki yang jarak tempuhnya Jurnal Sabbhata Yatra Jurnal Pariwisata dan Budaya Volume 6 Nomor 2 Desember 2025 pakaian adat. Hal tersebut merupakan bentuk Meskipun penghormatan dan agar tidak hilang Jawa-nya kemasyarakatan trah Bonokeling dengan trah ungkap KS. Kajoran sangat baik, namun tetap ada Tidak hanya itu, dalam kemasyarakat di pantangan atau larangan menikah antara desa Pekuncen antara trah Bonokeling dengan anggota trah Kajoran dengan trah Bonokeling. non- Bonokeling juga berjalan sangat baik. PK mengungkapkan bahwa larangan menikah Mereka saling menghargai satu sama lain. antara trah Bonokeling dengan trah Kajoran Bahkan sudah berlangsung lama dan turun-temurun. masyarakat non-Bonkeling di Desa Pekuncen. Larangan ini berakar dari hubungan antara Kyai beliau memiliki banyak sekali teman yang Bonokeling dan Ki Kajoran yang dikenal Beliau sebagai guru dan murid, yang masih dihormati mengungkapkan perasaan senang dengan hingga kini, khususnya dalam hal pernikahan adanya perbedaan tersebut. Selain PK. TL antar keturunan. Menurut kepercayaan yang berkembang di masyarakat, larangan tersebut sebenarnya bukan berasal dari Ki Kajoran, walaupun berbeda adat tetapi mereka saling melainkan dari salah satu leluhur bernama menghargai budaya masing-masing. TL pun Eyang Adipati Mruyung. Menurut Eyang menambahkan jika wilayah di tempatnya Adipati Mruyung, bahwa siapapun keturunan tinggal kebanyakan menganut trah Kajoran. dari Pekuncen yang melanggar larangan ini Bonokeling PK. Bonokeling. Pekuncen Trah Kajoran berasal dari ki Kejoran. akan menghadapi kesulitan hidup, bahkan Ki Kajoran merupakan seorang tokoh sakti dari Kepercayaan ini mencerminkan Kerajaan Mataram yang mengembara dan adanya konflik sejarah antara keturunan Kyai akhirnya menetap di Grumbul Kalisalak sejak Bonokeling tahun 1622 (Rachmadhani, 2. Menurut TL, kemungkinan dipicu oleh peristiwa pernikahan masih terdapat beberapa kesamaan dalam adat di masa lalu serta adanya perbedaan status seperti adanya Perlon. Dalam trah Kajoran juga sosial antara keduanya. Meskipun Kyai melaksanakan Perlon, namun bedanya tidak Bonokeling merupakan murid dari Ki Kajoran, sesering trah Bonokeling. TL menambahkan pengaruhnya dalam masyarakat justru lebih bahwa trah Kajoran hanya melaksanakan meluas dibandingkan gurunya (Rachmadhani. Perlon selama tiga bulan sekali dan jika terdapat Kajoran, hari-hari besar seperti Perlon unggahan dan Jurnal Sabbhata Yatra Jurnal Pariwisata dan Budaya Volume 6 Nomor 2 Desember 2025 Hal tersebut sudah mulai berkurang penghormatan terhadap leluhur. Ritual ini akibat perkembangan zaman. TL mengatakan senantiasa dijaga secara turun temurun oleh bahwa saat ini, khususnya generasi muda, sudah tidak terlalu memikirkan pantangan serangkaian adat, melainkan mengandung nilai- Perlon Namun kepercayaan itu mulai memudar sedikit demi Bonokeling Seiring dengan meningkatnya interaksi menghadapi berbagai tantangan dalam ritual sosial, pendidikan, dan keterbukaan informasi. Perlon. Tantangan yang dihadapi tidak hanya generasi muda cenderung lebih rasional dan dari dalam komunitas tetapi juga tantangan dari tidak lagi terikat secara kaku pada tradisi yang luar, diantaranya: dianggap membatasi pilihan hidup mereka. Semakin sedikitnya generasi muda termasuk dalam hal pernikahan. Selain itu, yang berperan aktif dalam kegiatan nilai-nilai kekeluargaan yang inklusif dan spiritual menjadi salah satu tantangan semangat hidup berdampingan di tengah dalam melaksanakan ritual perlon. masyarakat yang semakin heterogen juga ikut Menurut KS, generasi muda komunitas mendorong terjadinya perubahan pandangan Bonokeling semakin berkurang karena Meskipun mereka bersekolah di luar desa tempat demikian, sebagian masyarakat tua dan tokoh tinggal mereka, berbeda dengan kondisi adat tetap memegang teguh nilai-nilai tersebut zaman dahulu, anak-anak diarahkan sebagai bagian dari identitas budaya yang harus oleh orang tua untuk bekerja di kebun. Hal ini dapat terjadi karena perbedaan ketegangan antara pelestarian tradisi dengan pola pikir antara generasi muda dengan dinamika modernitas yang terus berkembang di tengah masyarakat Pekuncen. Hal pendidikan atau pekerjaan hingga ke Tantangan Yang Dihadapi Komunitas luar kampung halaman. Kondisi ini Bonokeling dalam Melaksanakan Ritual menyebabkan adanya perbedaan dalam Perlon Ritual Perlon merupakan salah satu nilai-nilai tradisi yang dilakukan komunitas Bonokeling simbol dan makna spiritual ritual sebagai bentuk ucapan syukur dan bentuk Perlon. Ketika jumlah generasi muda Jurnal Sabbhata Yatra Jurnal Pariwisata dan Budaya Volume 6 Nomor 2 Desember 2025 semakin sedikit dan mengurangnya kan berbagai festival kebudayaan (Iriawan. Bonokeling dukungan dari pemerintah, ritual Perlon resiko terputusnya warisan budaya yang mereka miliki. Tanpa akan mengalami kendala. Perkembangan zaman yang maju Kurangnya peran dari pemerintah terutama tekanan modernisasi dan daerah setempat untuk melestarikan globalisasi mengikis nilai-nilai kearifan dan menjaga ritual Perlon komunitas lokal yang terdapat dalam komunitas Bonokeling agar bertahan sebagai salah Bonokeling. Ritual-ritual adat seperti satu warisan budaya. Saat ini, ritual Perlon yang kaya akan nilai spiritual Perlon yang kaya akan nilai spiritual tersingkirkan karena perkembangan Bonokeling bertahan hanya karena para Generasi muda komunitas sesepuh dan upaya mandiri masyarakat Bonokeling dengan modernisasi melalui media dukungan dari pemerintah. Menurut sosial, mulai memandang bahwa tradisi KD, sudah ada surat masuk ke leluhur yang mereka lakukan sebagai pemerintah untuk meminta bantuan kepada pemerintah tapi belum ada ketinggalan zaman. Hal ini membuat balasan, mungkin sedang di proses. Pemerintah memiliki peran untuk turut mempelajari atau melestarikan ritual melestarikan budaya baik di tingkat Perlon. Padahal setiap ritual Perlon nasional maupun daerah. Pemerintah mengandung nilai-nilai yang baik dapat membantu dalam melestarikan seperti penghormatan kepada alam, rasa budaya dari segala aspek mulai dari kebersamaan, dan keseimbangan hidup pengakuan sebagai warisan budaya yang dibutuhkan di dunia yang mulai melalui undang-undang, memberikan Menurut SL, anak-anak pada anggaran khusus untuk pelestarian, zaman sekarang sudah banyak yang memberikan pelatihan agar generasi menggunakan HP dan terbawa budaya- budaya baru, sehingga mereka pada mempelajarinya,hinggamenyelenggara Jurnal Sabbhata Yatra Jurnal Pariwisata dan Budaya Volume 6 Nomor 2 Desember 2025 mengikuti budaya Bonokeling atau Namun. Bonokeling budaya lainnya. Mereka memiliki sekarang ini menghadapi sejumlah tantangan alasan-alasan yang rasional untuk memutuskan bergabung ke dalam Kurangnya keikutsertaan generasi muda, komunitas Bonokeling atau tidak. minimnya dukungan dari pemerintah, serta tekanan modernisasi dan globalisasi menjadi KESIMPULAN faktor yang mengancam keberlangsungan Ritual perlon merupakan bagian ritual Perlon. Meskipun demikian, para penting dari kehidupan spiritual dan sosial masyarakat Bonokeling di Desa Pekuncen. Bonokeling Ritual melestarikan dan menjaga nilai-nilai yang terkandung dalam ritual ini sebagai warisan budaya lokal. Dengan demikian, ritual Perlon kebersamaan, dan identitas budaya. Setiap tidak hanya penting dalam konteks spiritual aspek dalam ritual ini, mulai dari memasak dan budaya, tetapi juga berperan sebagai bersama, penggunaan kain jarik dan beskap, media pelestarian identitas dan penguat nilai-nilai pembacaan doa mengandung makna simbolis masyarakat yang terus berubah. yang memperkuat hubungan antara manusia, leluhur, alam, dan Tuhan. DAFTAR PUSTAKA