Jurnal Peduli Masyarakat Volume 7 Nomor 4. Juli 2025 e-ISSN 2721-9747. p-ISSN 2715-6524 http://jurnal. com/index. php/JPM EDUKASI AUDIO-VISUAL TENTANG MOBILISASI DINI PADA PASIEN POST OPERASI DENGAN SPINAL ANESTESI Virginia Raida Cantika*. Magenda Bisma Yudha. Noor Yunida Triana Fakultas Kesehatan. Universitas Harapan Bangsa. Jl. Raden Patah No. Kedunglongsir. Ledug. Kembaran. Banyumas. Jawa Tengah 53182. Indonesia *virginiacantika120104@gmail. ABSTRAK Prosedur pembedahan pada ekstremitas bawah umumnya dilakukan bersamaan dengan tindakan anestesi spinal untuk menghilangkan rasa nyeri. Salah satu masalah yang sering muncul setelah prosedur tersebut adalah imobilisasi, yang dapat memperlambat proses pemulihan dan meningkatkan risiko komplikasi. Mobilisasi dini merupakan upaya yang dilakukan secara bertahap oleh pasien post operasi untuk mempercepat pemulihan dan mencegah komplikasi. Berdasarkan survei yang dilakukan pada 04 November 2024, menunjukkan bahwa beberapa pasien post operasi dengan spinal anestesi memiliki pengetahuan yang rendah mengenai mobilisasi dini dan merasa khawatir untuk melakukannya. Tujuan pengabdian ini untuk meningkatkan pengetahuan pasien tentang mobilisasi dini post operasi dengan spinal Metode yang digunakan dalam kegiatan ini adalah penyuluhan kesehatan melalui media audiovisual berupa video edukatif berdurasi A4 menit dan disertai leaflet sebagai penunjang informasi tertulis. Kegiatan dilaksanakan di ruang recovery room Rumah Sakit Islam Purwokerto dengan jumlah peserta sebanyak 30 orang. Evaluasi dilakukan melalui pre-test dan post-test menggunakan kuesioner untuk mengukur peningkatan pengetahuan. Hasil menunjukkan bahwa sebelum edukasi hanya 5 peserta . ,7%) berada pada kategori baik, sedangkan setelah edukasi meningkat menjadi 25 peserta . ,3%). Sebanyak 23 peserta . ,7%) mampu melakukan mobilisasi dini sesuai tahapan. Edukasi audio-visual terbukti efektif dalam meningkatkan pengetahuan dan motivasi pasien. Kata kunci: audio-visual. mobilisasi dini. spinal anestesi AUDIO-VISUAL EDUCATION ON EARLY MOBILIZATION IN POST OPERATIVE PATIENTS WITH SPINAL ANESTHESIA ABSTRACT Surgical procedures on the lower extremities are generally performed in conjunction with spinal anesthesia to relieve pain. One of the problems that often arise after the procedure is immobilization, which can slow down the recovery process and increase the risk of complications. Early mobilization is an effort made in stages by postoperative patients to speed up recovery and prevent complications. Based on a survey conducted on November 4, 2024, it shows that some postoperative patients with spinal anesthesia have low knowledge about early mobilization and feel worried about doing so. The purpose of this service is to increase patient knowledge about early postoperative mobilization with spinal The method used in this activity is health counseling through audio-visual media in the form of an educational video of A4 minutes and accompanied by leaflets to support written information. The activity was carried out in the recovery room of the Purwokerto Islamic Hospital with a total of 30 Evaluation is carried out through pre-test and post-test using questionnaires to measure knowledge improvement. The results showed that before education only 5 participants . 7%) were in the good category, while after education it increased to 25 participants . 3%). A total of 23 participants . 7%) were able to carry out early mobilization according to the stages. Audio-visual education has been shown to be effective in increasing patient knowledge and motivation. Jurnal Peduli Masyarakat. Volume 7 No 4. Juli 2025 Global Health Science Group Keywords: audio-visual. early mobilization. spinal anesthesia PENDAHULUAN Pembedahan adalah prosedur medis invasif yang dilakukan dengan cara membuka serta mengekspos bagian tubuh tertentu yang membutuhkan penanganan khusus. Umumnya, pembukaan ini dilakukan melalui sayatan, dilanjutkan dengan tindakan korektif, dan diakhiri dengan penutupan serta penjahitan luka (Kemenkes, 2. Berdasarkan data dari WHO . jumlah pasien yang menjalani tindakan pembedahan tercatat terus mengalami kenaikan yang cukup mencolok setiap tahunnya. Setiap tahunnya, diperkirakan sekitar 165 juta prosedur pembedahan dilakukan di berbagai negara di seluruh dunia. Pada tahun 2020, tercatat sekitar 234 juta pasien dirawat di berbagai rumah sakit di seluruh dunia. Operasi atau prosedur bedah mencapai angka 1,2 juta di Indonesia pada tahun 2020. Prosedur pembedahan pada bagian ekstremitas atas umumnya dilakukan dengan anestesi umum, sedangkan pada ekstremitas bawah lebih sering menggunakan anestesi spinal. Anestesi spinal adalah metode penghilang rasa nyeri yang dilakukan dengan menyuntikkan obat anestesi lokal ke dalam ruang subarachnoid, di mana pasien tetap sadar selama operasi berlangsung dan setelah operasi selesai pasien dapat dipindahkan ke ruang pemulihan (Dewi, 2. Setelah menjalani tindakan pembedahan, pasien akan dipindahkan ke ruang pemulihan, tempat di mana pemantauan ketat terhadap tanda-tanda vital, meliputi nadi, tekanan darah, suhu tubuh, dan saturasi oksigen, dilakukan hingga efek anestesi benar-benar hilang (Imanniarti et al. , 2. Salah satu permasalahan yang umum dialami oleh pasien setelah menjalani anestesi spinal adalah keterbatasan gerak. Kondisi ini dapat diatasi melalui pelaksanaan mobilisasi dini (Dewi, 2. Mobilisasi dini merupakan kegiatan menggerakkan tubuh secara bertahap setelah operasi. Kegiatan ini dimulai dengan menggerakkan anggota tubuh beberapa jam setelah operasi (Yuliana et al. , 2. Pasien setelah operasi sering kali menunda untuk bergerak atau mobilisasi, terutama karena merasa nyeri dan khawatir jahitan akan kendor atau luka akan terbuka kembali. Faktanya, hampir semua operasi memerlukan mobilisasi sesegera mungkin. Mobilisasi biasanya dapat dilakukan paling cepat 6 jam setelah prosedur operasi, ketika pasien telah sadar sepenuhnya atau sudah dapat menggerakkan anggota tubuhnya kembali (Hapipah et al. , 2. Pelaksanaan mobilisasi dini berperan krusial dalam mempercepat pemulihan pasien sekaligus mencegah munculnya berbagai komplikasi pascaoperasi. Tujuan pokok mobilisasi dini adalah mendukung optimalisasi fungsi fisiologis tubuh, memperlancar aliran darah, meningkatkan fungsi pernapasan, menjaga kekuatan serta tonus otot, dan memfasilitasi pasien agar dapat kembali beraktivitas sehari-hari untuk memenuhi kebutuhan geraknya (Sumberjaya & Mertha, 2. Keterlambatan dalam mobilisasi dini post operasi sering kali terjadi karena kurangnya edukasi dan ketidakpahaman pasien mengenai pentingnya mobilisasi dini (Kurniati et al. , 2. Edukasi merupakan proses atau upaya untuk menyampaikan informasi kesehatan kepada individu, kelompok, maupun masyarakat dengan harapan dapat meningkatkan wawasan dan pemahaman mereka terkait kesehatan (Senticha et al. , 2. Temuan penelitian oleh Jesicca et al. , . mengungkap bahwa pemberian edukasi melalui media audio-visual secara signifikan mampu meningkatkan pengetahuan pasien post anestesi spinal mengenai mobilisasi dini. Edukasi ini membantu pasien memahami pentingnya mobilisasi dini, sehingga dapat mempercepat pemulihan dan mencegah komplikasi post operasi. Berdasarkan survei yang telah dilakukan pada 04 November 2024 di Rumah Sakit Islam Purwokerto, tercatat 376 pasien yang menjalani operasi dengan spinal anestesi selama tiga bulan Jurnal Peduli Masyarakat. Volume 7 No 4. Juli 2025 Global Health Science Group Hasil wawancara dengan 10 pasien menunjukkan bahwa sebagian besar pemahaman mereka mengenai mobilisasi dini masih rendah, bahkan setengah diantaranya merasa khawatir melakukannya karena takut luka operasi terbuka. Meskipun penata anestesi telah menganjurkan mobilisasi dini, edukasi yang diberikan masih terbatas dan kurang mendetail. Oleh karena itu, diperlukan pelaksanaan kegiatan pengabdian kepada masyarakat melalui edukasi audio-visual guna meningkatkan pengetahuan pasien mengenai pentingnya mobilisasi dini setelah menjalani operasi dengan anestesi spinal. METODE Tahap persiapan dan koordinasi dilaksanakan pada tanggal 28 Oktober 2024. Tahapan ini mencakup pelaksanaan survei lapangan serta proses pengurusan perizinan kepada bagian Pusdiklat Rumah Sakit Islam Purwokerto. Kegiatan ini bertujuan untuk memberikan gambaran umum pelaksanaan pengabdian kepada masyarakat serta mengidentifikasikan faktor dan kendala sehingga dapat di antisipasi. Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat ini dilaksanakan pada tanggal 17 Maret-21 April 2025 di ruang recovery room Rumah Sakit Islam Purwokerto. Peserta dalam kegiatan ini berjumlah 30 orang pasien post operasi dengan spinal anestesi yang diseleksi melalui tahap skrining. Kriteria inklusi meliputi pasien berusia di atas 17 tahun, menjalani operasi elektif dengan anestesi spinal, bersedia menjadi peserta, mampu berkomunikasi dengan baik, dan bersikap kooperatif. Adapun kriteria eksklusi yaitu pasien yang tidak sadar, menjalani pembedahan pada kedua kaki, serta pasien yang menjalani prosedur Enhanced Recovery After Surgery (ERACS). Tahapan pelaksanaan kegiatan dimulai dengan pengajuan surat perizinan pra-survei kepada bagian akademik Universitas Harapan Bangsa dan permohonan persetujuan kepada pihak Rumah Sakit Islam Purwokerto. Setelah mendapat persetujuan, dilakukan survei awal untuk mengidentifikasi kondisi lapangan. Sebelum pelaksanaan edukasi, peneliti mengikuti proses etik sesuai prosedur yang berlaku di Rumah Sakit Islam Purwokerto. Koordinasi teknis berikutnya dilakukan bersama enumerator yaitu penata anestesi, guna mengkonfirmasi jadwal pelaksanaan operasi setiap harinya. Peserta yang memenuhi kriteria diberikan penjelasan mengenai kegiatan serta lembar informed consent sebagai bentuk persetujuan mengikuti kegiatan. Kuesioner pre-test diberikan untuk mengukur tingkat pengetahuan awal peserta mengenai mobilisasi dini. Kategori tingkat pengetahuan peserta dibagi menjadi tiga, yaitu baik . Ae100%), cukup . Ae75%), dan kurang (<56%). Edukasi kemudian disampaikan secara individual menggunakan media audio-visual berdurasi sekitar empat menit dan dilanjutkan dengan demonstrasi langsung mengenai tahapan mobilisasi dini. Kegiatan diakhiri dengan pemberian kuesioner post-test untuk mengevaluasi peningkatan pengetahuan setelah edukasi, serta membagikan leaflet sebagai bahan bacaan pendukung yang dapat dibawa pulang oleh peserta. HASIL DAN PEMBAHASAN Berikut merupakan pemaparan hasil kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat tentang Edukasi Audio-visual tentang Mobilisasi Dini pada Pasien Post Operasi dengan Spinal Anestesi Rumah Sakit Islam Purwokerto. Data penelitian diperoleh melalui analisis terhadap lembar kuesioner yang dirancang untuk mengukur sejauh mana tingkat pengetahuan peserta terkait mobilisasi dini. Pengumpulan data dilaksanakan pada tanggal 17 Maret-21 April 2025 dan didapatkan sebanyak 30 peserta. Jurnal Peduli Masyarakat. Volume 7 No 4. Juli 2025 Global Health Science Group Tabel 1 Distribusi Frekuensi Karakteristik Peserta Karakteristik Usia 25-35 tahun 36-45 tahun 46-55 tahun Ou56 tahun Jenis Kelamin Laki-laki Perempuan Total Pendidikan SMP SMA Pekerjaan Buruh IRT PNS Wiraswasta Jenis Operasi Sectio Caesarea URS TURP Hemorrhoidectomy 33,3% 26,7% 43,3% 56,7% 23,3% 26,7% 23,3% 6,7% Berdasarkan tabel distribusi hasil analisis frekuensi menunjukkan bahwa mayoritas peserta dalam kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat berada pada kelompok usia 25Ae35 tahun sejumlah 10 peserta . ,3%), jenis kelamin terbanyak perempuan sejumlah 17 peserta . ,7%), tingkat pendidikan terbanyak adalah SMA sejumlah 15 peserta . %), pekerjaan yang dominan wiraswasta sejumlah 9 peserta . %), dan jenis operasi terbanyak sectio caesarea sejumlah 15 peserta . %). Tabel 2. Distribusi Frekuensi Tingkat Pengetahuan Peserta Sebelum Edukasi Audio-visual tentang Mobilisasi Dini Pengetahuan Puasa Pre Operatif Baik . -100%) Cukup . -75%) Kurang (<55%) Pre-test Hasil distribusi frekuensi menunjukkan bahwa sebelum diberikan edukasi audio-visual mengenai mobilisasi dini, tingkat pengetahuan peserta memiliki tingkat pengetahuan pada kategori kurang sejumlah 12 peserta . %). Tabel 3 Distribusi Frekuensi Tingkat Pengetahuan Peserta Setelah Edukasi Audio-visual tentang Mobilisasi Dini Pengetahuan Puasa Pre Operatif Baik . -100%) Cukup . -75%) Kurang (<55%) Post-test 83,3% 16,7% Jurnal Peduli Masyarakat. Volume 7 No 4. Juli 2025 Global Health Science Group Distribusi frekuensi menunjukkan bahwa setelah pemberian edukasi audio-visual mengenai mobilisasi dini, sebanyak 25 peserta . ,3%) mencapai kategori pengetahuan baik. Karakteristik Peserta PkM Tabel 1 memperlihatkan bahwa mayoritas peserta kegiatan PkM berada pada kelompok usia 25Ae 35 tahun dengan jumlah 10 peserta . ,3%). Hal tersebut sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Berkanis et al. , . yaitu mayoritas responden yang menjalani operasi pada usia 25-35 tahun yaitu sejumlah 13 peserta . %). Penelitian serupa oleh Zanah et al. , . menemukan bahwa perempuan usia 20Ae35 tahun merupakan kelompok terbanyak yang menjalani tindakan Sectio Caesarea. Faktor risiko yang paling dominan meliputi riwayat persalinan sebelumnya. Cephalopelvic Disproportion (CPD), dan kondisi medis lainnya. Menurut Departemen Kesehatan RI . dari segi kesehatan reproduksi, perempuan yang berusia <20 tahun cenderung memiliki rahim dan panggul yang belum berkembang dengan baik. Sementara itu, pada usia >35 tahun kualitas kesehatan reproduksi, termasuk kondisi rahim, cenderung menurun dibandingkan usia 20-35 tahun, yang dianggap usia reproduktif optimal. Temuan dalam kegiatan PkM ini yang selaras dengan hasil penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa kelompok usia 25Ae35 tahun merupakan yang paling sering menjalani tindakan pembedahan, terutama Sectio Caesarea. Kondisi ini juga tercermin dari situasi di lapangan, di mana peserta dalam rentang usia tersebut menjalani operasi karena berbagai indikasi medis. Berdasarkan tabel 1 sebagian peserta PkM berjenis kelamin perempuan sejumlah 17 peserta . ,7%). Temuan ini sejalan dengan penelitian Berkanis et al. , . yang melaporkan bahwa mayoritas responden adalah perempuan, yaitu sebanyak 17 peserta . %). Menurut Setyarini et , . perempuan memang lebih sering menjalani tindakan pembedahan tertentu yang berkaitan dengan sistem reproduksi. Tingginya angka pembedahan pada perempuan disebabkan oleh kebutuhan akan tindakan obstetri dan ginekologi, yang secara biologis tidak dijumpai pada laki-laki. Temuan PkM ini, didukung oleh penelitian sebelumnya, menunjukkan bahwa dominasi peserta perempuan berkaitan erat dengan jenis tindakan operasi, khususnya sectio caesarea yang hanya dilakukan pada perempuan. Berdasarkan tabel 1 sebagian peserta PkM memiliki pendidikan yang paling dominan adalah SMA sejumlah 15 peserta . %). Hasil tersebut sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Putri . yang menunjukkan bahwa mayoritas responden berpendidikan SMA sejumlah 20 peserta . ,7%). Menurut Subandi . pendidikan dipandang sebagai salah satu tolak ukur esensial yang berperan penting dalam membentuk kualitas dan perjalanan hidup seseorang. Individu dengan tingkat pendidikan yang lebih tinggi biasanya memiliki jangkauan akses informasi yang lebih luas, khususnya terkait wawasan mengenai kesehatan dan proses persalinan. Hal ini didukung oleh Saelan et al. , . yang menegaskan bahwa pendidikan memiliki dampak terhadap pola perilaku hidup sehat, terutama dalam membentuk sikap serta meningkatkan motivasi untuk melakukan perubahan ke arah yang lebih positif. Hasil kegiatan PkM ini, yang juga didukung oleh temuan penelitian sebelumnya, menunjukkan bahwa mayoritas peserta berlatar belakang pendidikan SMA, yang mencerminkan tingkat kesiapan yang cukup baik dalam menerima materi edukasi. Berdasarkan tabel 1 sebagian peserta PkM memiliki pekerjaan yang paling dominan adalah wiraswasta sejumlah 9 peserta . %). Hal ini sejalan dengan penelitian Rahmatia . yang menunjukkan bahwa pekerjaan terbanyak responden adalah wiraswasta sejumlah 16 peserta . %). Pekerjaan memegang peranan penting dalam memenuhi kebutuhan hidup, mencakup berbagai sektor seperti pertanian, perdagangan, pegawai negeri sipil (PNS), pendidikan . , kewirausahaan, pekerjaan buruh, hingga peran sebagai ibu rumah tangga (IRT). Jenis pekerjaan Jurnal Peduli Masyarakat. Volume 7 No 4. Juli 2025 Global Health Science Group yang dijalani seseorang dapat memengaruhi kondisi kesehatannya, baik secara langsung maupun tidak langsung, melalui tingkat stres, kelelahan fisik, dan pola aktivitas harian (Arania et al. Menurut Razali et al. , . faktor pekerjaan sering dikaitkan dengan rendahnya akses terhadap informasi kesehatan, baik dari media maupun tenaga kesehatan, khususnya dalam hal risiko kehamilan. Dalam konteks IRT, keterbatasan interaksi sosial serta latar belakang pendidikan yang rendah dapat menghambat pemahaman terhadap pentingnya deteksi dini kehamilan dan komplikasi yang mungkin terjadi. Kondisi ini dapat meningkatkan risiko terjadinya tindakan operasi seperti Sectio Caesarea. Temuan dari kegiatan PkM ini, yang sejalan dengan hasil studi sebelumnya, menunjukkan bahwa mayoritas peserta yang bekerja sebagai wiraswasta memiliki keterkaitan dengan tingginya angka tindakan operasi, terutama Sectio Caesarea. Kemungkinan besar, fleksibilitas waktu yang dimiliki oleh kelompok wiraswasta membuat mereka lebih cenderung menjalani prosedur obstetri tersebut. Berdasarkan tabel 1 jenis operasi yang paling banyak dialami oleh peserta PkM adalah Sectio Caesarea sejumlah 15 peserta . %). Hasil tersebut sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Berkanis et al. , . yang menunjukkan bahwa sebagian besar responden menjalani tindakan Sectio Caesarea sejumlah 14 peserta . %). Penelitian yang dilakukan oleh Permatasari et al. , . di Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang menunjukkan bahwa tindakan Sectio Caesarea terjadi pada 69,2% responden. Faktor-faktor yang memiliki hubungan signifikan dengan kejadian Sectio Caesarea antara lain ketuban pecah dini, riwayat Sectio Caesarea, dan Hal ini menunjukkan bahwa tindakan operasi ini umumnya dilakukan karena indikasi medis yang terjadi pada perempuan dengan risiko obstetri. Selain itu, penelitian oleh Wathina et al. , . menyatakan bahwa angka persalinan melalui prosedur Sectio Caesarea di Indonesia mengalami tren peningkatan dari tahun ke tahun. Berdasarkan hasil PkM yang selaras dengan studi sebelumnya, prevalensi tindakan Sectio Caesarea erat kaitannya dengan peserta perempuan usia reproduktif, sedangkan URS dan TURP umum pada laki-laki usia dewasa hingga Hal ini menunjukkan bahwa usia dan jenis kelamin menjadi faktor penentu dalam jenis operasi yang dijalani. Tingkat Pengetahuan Sebelum Edukasi Audio-visual tentang Mobilisasi Dini Berdasarkan tabel 2, terlihat bahwa sebelum diberikan edukasi . re-tes. , sebagian besar peserta memiliki tingkat pengetahuan pada kategori cukup, yakni sebanyak 13 peserta . ,3%), kategori kurang sejumlah 12 peserta . %), dan hanya 5 peserta . ,7%) yang berada pada kategori baik. Hasil ini selaras dengan temuan penelitian Herlinadiyaningsih et al. , . yang melaporkan bahwa mayoritas responden berada pada kategori cukup, yakni sebanyak 13 peserta . ,3%), kategori kurang sejumlah 8 peserta . ,3%), dan kategori baik hanya 3 peserta . ,5%). Menurut Sitepu et al. , . tingkat pengetahuan seseorang dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti usia, tingkat pendidikan, dan pekerjaan. Faktor-faktor tersebut dapat memengaruhi kemampuan seseorang dalam menerima, memahami, dan mengolah informasi yang diberikan. Penelitian oleh Hasanah . juga menegaskan bahwa peningkatan tingkat pendidikan seseorang berbanding lurus dengan kemampuan yang lebih baik dalam memahami serta mengolah informasi yang Selain itu. Yuliana . menekankan bahwa penyampaian informasi yang dilakukan secara berulang dan disesuaikan dengan kemampuan pasien merupakan salah satu faktor penting dalam meningkatkan pemahaman. Dalam hal ini, pendekatan edukasi yang efektif sangat dibutuhkan, salah satunya melalui media audio-visual. Menurut Alini . pengetahuan terbentuk melalui proses penginderaan, terutama melalui visual dan auditori. Oleh karena itu, pendekatan edukasi menggunakan media audio-visual dinilai lebih efektif karena mampu menyampaikan informasi dengan cara yang menarik dan mudah dipahami. Didukung oleh penelitian sebelumnya, hasil PkM ini menunjukkan bahwa rendahnya skor pre-test peserta disebabkan oleh kurangnya paparan informasi yang komunikatif dan mudah dipahami, karena Jurnal Peduli Masyarakat. Volume 7 No 4. Juli 2025 Global Health Science Group sebagian besar belum pernah mendapatkan edukasi. Oleh karena itu, penggunaan media audiovisual menjadi metode yang efektif dalam meningkatkan pengetahuan tentang mobilisasi dini. Pelaksanaan Edukasi Audio-visual tentang Mobilisasi Dini Kegiatan edukasi dilakukan di ruang recovery room Rumah Sakit Islam Purwokerto dengan menggunakan media audio-visual berupa video edukatif berdurasi A4 menit. Materi dalam video mencakup pengertian, tujuan, faktor yang mempengaruhi, indikasi, kontraindikasi, dampak, kelompok pasien post operasi yang memerlukan mobilisasi dini, dan tahapan mobilisasi dini. Setelah pemutaran video, peserta diberi kesempatan untuk bertanya dan berdiskusi. Berdasarkan hasil pelaksanaan, kegiatan edukasi ini berjalan cukup efektif, ditunjukkan melalui respons positif dan partisipasi aktif dari peserta selama kegiatan berlangsung. Meskipun dilakukan di ruang recovery room yang bersifat terbuka dan terdapat gangguan dari lingkungan sekitar, peserta tetap mengikuti seluruh rangakaian edukasi dengan baik. Hasil ini juga diperkuat oleh adanya peningkatan signifikan pada tingkat pengetahuan peserta setelah edukasi diberikan. Temuan ini sejalan dengan penelitian Wahyuni & Rayasari . yang mengemukakan bahwa penggunaan media audio-visual mampu meningkatkan pemahaman serta daya ingat peserta terhadap materi yang diberikan. Pendekatan tersebut memadukan elemen visual dan auditori secara terpadu, sehingga informasi lebih mudah diserap dan diingat. Putri . juga menemukan bahwa penggunaan video edukasi pada pasien post operasi dapat meningkatkan kepatuhan terhadap anjuran mobilisasi dini serta membantu mempercepat proses pemulihan. Berdasarkan hasil PkM dan didukung studi sebelumnya, media audio-visual terbukti lebih efektif dibanding metode ceramah sebab informasi disampaikan dengan cara yang lebih atraktif dan mudah dicerna. Meskipun edukasi dilakukan di ruang yang kurang ideal dari segi kenyamanan dan privasi, peningkatan pengetahuan serta kesiapan pasien dalam mobilisasi dini tetap tercapai. Tingkat Pengetahuan Sesudah Edukasi Audio-visual tentang Mobilisasi Dini Berdasarkan tabel 3 diperoleh hasil bahwa terjadi peningkatan yang signifikan pada tingkat pengetahuan peserta setelah diberikan edukasi menggunakan media audio-visual. Sejumlah 25 peserta . ,3%) berada pada kategori baik, dan 5 peserta . ,7%) berada dalam kategori cukup. Tidak terdapat peserta dalam kategori kurang. Temuan tersebut konsisten dengan penelitian Herlinadiyaningsih et al. , . yang mengungkapkan bahwa setelah mendapatkan edukasi, sebagian besar responden berada dalam kategori baik sejumlah 14 peserta . ,3%), kategori cukup sejumlah 8 peserta . ,3%), dan kategori kurang hanya 2 peserta . ,3%). Penelitian oleh Sari et al. , . dan turut membuktikan bahwa pemberian edukasi kesehatan dengan media video secara signifikan dapat meningkatkan pengetahuan serta praktik mobilisasi dini pada pasien pasca sectio caesarea. Herlinadiyaningsih et al. , . menyatakan bahwa penggunaan video lebih efektif dibandingkan metode ceramah dalam meningkatkan perilaku mobilisasi dini. Selain itu. Arianti . menyatakan bahwa pemberian edukasi melalui video animasi terbukti mempercepat pemulihan kemampuan berjalan post operasi, menunjukkan hubungan antara pemahaman yang baik dan kesiapan untuk melakukan mobilisasi. Media video sebagai bentuk edukasi audio-visual dinilai mampu menyampaikan informasi secara lebih efektif melalui kombinasi gabungan unsur visual dan auditori. Kombinasi ini meningkatkan daya serap informasi dan membantu penyimpanan materi edukatif dalam memori jangka panjang (Herlinadiyaningsih et al. , 2. Hasil PkM yang didukung penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa keberhasilan edukasi dipengaruhi oleh kualitas video, yang disusun sistematis, menggunakan bahasa sederhana, dan menampilkan visualisasi mobilisasi dini. Pemutaran ulang juga membantu peserta memperkuat pemahaman secara mandiri. Jurnal Peduli Masyarakat. Volume 7 No 4. Juli 2025 Global Health Science Group SIMPULAN Peserta PkM berjumlah 30 peserta, dengan karakteristik usia terbanyak berada pada rentang 2535 tahun sejumlah 10 peserta . ,3%), jenis kelamin didominasi oleh perempuan sejumlah 17 peserta . ,7%), pendidikan terbanyak adalah SMA sejumlah 15 peserta . %), pekerjaan paling banyak adalah wiraswasta sejumlah 9 peserta . %), dan jenis operasi terbanyak adalah sectio caesarea sejumlah 15 peserta . %). Sebelum diberikan edukasi audio-visual mengenai mobilisasi dini, sebagian besar peserta memiliki tingkat pengetahuan dalam kategori cukup sejumlah 13 peserta . ,3%). Edukasi dilakukan menggunakan media video edukatif berdurasi A4 menit, secara individual di ruang recovery room. Setelah memperoleh edukasi melalui media audio-visual, terjadi peningkatan signifikan pada tingkat pengetahuan peserta, di mana mayoritas, yaitu 25 peserta . ,3%) berada pada kategori baik. DAFTAR PUSTAKA Alini. Hubungan Pengetahuan dengan Sikap Ibu Hamil Tentang Pemanfaatan Buku KIA. Jurnal Ilmiah Maksitek, 6. , 18Ae25. https://doi. org/10. 33867/c2byzp04 Arania. Triwahyuni. Prasetya. , & Cahyani. Hubungan Antara Pekerjaan Dan Aktivitas Fisik Dengan Kejadian Diabetes Mellitus Di Klinik Mardi Waluyo Kabupaten Lampung Tengah. Jurnal Medika Malahayati, 5. , 163Ae169. https://doi. org/10. 33024/jmm. Arianti. Efektifitas Edukasi Video Animasi Mobilisasi Dini Dengan Kecepatan Pemulihan Kemampuan Berjalan Pada Pasien Pasca Pembedahan. Jurnal Keperawatan Respati Yogyakarta, 5. , 14Ae18. Berkanis. Nubatonis Desliewi, & Lastari A. A Istri Fenny. Pengaruh Mobilisasi Dini Terhadap Intensitas Nyeri pada Pasien Post Operasi di RSUD S. Lerik Kupang Tahun 2018. CHM-K Applied Scientifics Journal. Vol. , 1Ae8. Departemen Kesehatan RI. Profil Kesehatan Indonesia. Dewi. Tingkat Pengetahuan tentang Mobilisasi pada Pasien Post Operasi dengan Spinal Anestesi di RSD Mangusada Badung. Jurnal Ilmiah Kesehatan, 9. , 1678Ae1680. Hapipah. Istianah. Rispawati. , & Riskawaty. Edukasi Mobilisasi Dini Post Operasi Untuk Mengurangi Rasa Nyeri dan Mempercepat Proses Penyembuhan. Selaparang: Jurnal Pengabdian Masyarakat Berkemajuan, 8. , 374Ae380. Hasanah. Hubungan Pengetahuan Pasien Tentang Informasi Pre Operasi Dengan Kecemasan Pasien Pre Operasi. Jurnal Ilmiah Kesehatan, 6. , 48Ae54. Herlinadiyaningsih. Arisani. , & Lucin. Efektivitas edukasi dengan media video terhadap perilaku mobilisasi dini pada ibu nifas post sectio caesaria. Jurnal Kebidanan Indonesia, 15. , 110. https://doi. org/10. 36419/jki. Imanniarti. MasAoudia. , & Saptono. Rancang Bangun Sistem Pengontrolan Ruang Pemulihan Pasca Operasi Berbasis Wireless Sensor Network. JARTEL, 8. Jesicca. Handayani. , & Firdaus. Pengaruh Pemberian Edukasi Mobilisasi Dini Terhadap Tingkat. Jurnal. Globalhealthscinegroup, 6. , 27714Ae29757. Jurnal Peduli Masyarakat. Volume 7 No 4. Juli 2025 Global Health Science Group Kemenkes. Riset Kesehatan Dasar. RISKESDAS. Kurniati. Rasyidah, & Maulani. Hubungan Mobilisasi Dini . Penyakit Penyerta Dengan Lama Hari Rawat Pasien Pasca Operative. , 100Ae104. Permatasari. Yunola. Amalia. , & Lestari. Faktor Ae faktor yang Berhubungan dengan Kejadian Sectio Caesarea. Jurnal Kebidanan : Jurnal Ilmu Kesehatan Budi Mulia, 12. Putri. Pengaruh Pemberian Pendidikan Kesehatan tentang Mobilisasi Dini Post Sectio Caesarea Terhadap Tingkat Pengetahuan Ibu Post Partum Sectio Caesarea Di RS Sentio Husodo. Rahmatia. Gambaran Tingkat Pengetahuan Tentang Puasa Pra Operasi Pada Pasien Di Rsud H. Padjonga Daeng Ngalle Kabupaten Takalar Provinsi Sulawesi Selatan. Jurnal Cakrawala Ilmiah, 2. Razali. Kulsum. Jasa. Indirayani. , & Safira. Profil Pasien Sectio Caesarea di Rumah Sakit Umum Daerah dr. Zainoel Abidin Banda Aceh Tahun 2019. Jurnal Kedokteran Syiah Kuala, 21. https://doi. org/10. 24815/jks. Saelan. Suparmanto. Teguh Kurniawan. , & Lestari. Pengaruh Edukasi Teknik Hemlich Manuver Terhadap Tingkat Pengetahuan Ibu Dalam Penanganan Tersedak Pada Anak Di Desa Ketro Pacitan. Jurnal Kesehatan Kusuma Husada, 14. , 51Ae57. https://doi. org/10. 34035/jk. Sari. Kasjono. , & Yuliantisari. Pengaruh Pendidikan Kesehatan Melalui Video terhadap Pengetahuan dan Praktik Mobilisasi Dini pada Pasien Post Sectio Caesarea. Jurnal SAGO Gizi Dan Kesehatan, 5. , 344Ae351. Senticha. Kesumadewi. , & Immawati. Penerapan Pendidikan Kesehatan Tentang Tanda Bahaya Kehamilan Untuk Meningkatkan Sikap Ibu Hamil Di Wilayah Kerja UPTD Puskesmas Purwosari Kec. Metro Utara. Jurnal Cendekia Muda, 2. , 248Ae253. Setyarini. Eliyana. Widayati. Sugiartini. Dewianti. Lontaan. Witari. Wulandari. Febriyanti. Hidayati. Siallagan. , & Wulandari. Obstetri dan Ginekologi untuk Kebidanan. In M. Dr. Neila Sulung. Pd. Ns. & K. Ilda Melisa. Md. (Eds. Obstetri dan Ginekologi untuk Kebidanan dan Keperawatan. PT GLOBAL EKSEKUTIF TEKNOLOGI. Sitepu. Primadiamanti. , & Safitri. Hubungan Usia. Pekerjaan dan Pendidikan Pasien Terhadap Tingkat Pengetahuan DAGUSIBU di Puskesmas Wilayah Lampung Tengah. Jurnal Ilmiah Wahana Pendidikan, 10. , 196Ae204. Subandi. Pengaruh Mobilisasi Dini terhadap Tingkat Nyeri pada Pasien Post Operasi Sectio Caesarea di Ruang Melati RSUD Gunung Jati Kota Cirebon Tahun 2017. Jurnal Ilmiah Indonesia, 2. http://medika. id/index. php/Medika/article/viewFile/36/34 Sumberjaya. , & Mertha. Mobilisasi Dini dan Penurunan Skala Nyeri pada Pasien Post Operasi TURP Benign Prostate Hyperplasia. Jurnal Gema Keperawatan, 13. , 43Ae50. https://doi. org/10. 33992/jgk. Jurnal Peduli Masyarakat. Volume 7 No 4. Juli 2025 Global Health Science Group Wahyuni. , & Rayasari. Pengaruh Edukasi Audiovisual Video Terhadap Kemampuan Mobilisasi Dini Pada Pasien Post Laparatomi Di Rumah Sakit Umum Pusat Persahabatan Jakarta Tahun 2019. Jurnal Media Kesehatan, 25. Wathina. Fajrin. QurrotulAoaini. , & Alif. Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Persalinan Sectio Caesarea. Prosiding Seminar Nasional Hi-Tech, 2. , 6. https://doi. org/10. 56922/mchc. WHO. World Health Statistics 2023 Monitoring health for the SDGs Sustainable Development Goals Health For All. Yuliana. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Tingkat Pengetahuan. Pustaka Ilmu.