Juraliansi : Jurnal Lingkup Anak Usia Dini ISSN . : 2715-7032. ISSN (Prin. : 2715-7024 Vol. No. 1, (Mei, 2. , pp. http://ejournal. id/index. php/Juraliansi MANAJEMEN PEMBELAJARAN INOVATIF BERBASIS BERMAIN-AKTIF DAN BERDIFERENSIASI (Studi Kasus Kendala Strategi Pembelajaran Guru Di TKIT Al-Hasan Gowa-Sulawesi Selata. St. Marwana Aisyah1*. Miftahurrahma Kaharuddin2 . Herman3. Syamsuardi4 Pascasarjana. Universitas Negeri Makassar. Indonesia marwanaaisyahst@gmail. com, miftahurrahma. kaharuddin@gmail. com, herman-hb83@unm. id, syamsuardi@unm. Article Info ABSTRACT Article History Accepted : Abstract: Innovative and differentiated learning is an important approach in Early Childhood Education (PAUD) because every child has different learning needs, interests, and abilities. This study aims to describe the implementation of innovative and differentiated learning, identify obstacles faced by teachers, and analyze efforts to improve the quality of learning at TKIT Al Hasan. Gowa Regency. The study used a descriptive qualitative approach with data collection techniques through observation, interviews, and documentation. The research subjects consisted of two PAUD teachers at TKIT Al Hasan. The results showed that teachers have implemented innovative learning through activities such as playing, singing, storytelling, role-playing, and environmental exploration. Differentiated learning has begun to be implemented through mentoring and assignments tailored to children's abilities, although it has not been implemented Obstacles encountered include learning media, teacher preparation time, a large number of students, and teachers' limited understanding of differentiated learning. In addition, child development assessments have not been systematically documented. The learning environment at TKIT Al Hasan is quite safe, comfortable, and conducive, but still requires the development of more varied learning media and facilities. Therefore, it is necessary to improve teacher competency through training, workshops, mentoring, and optimization of learning facilities so that the implementation of innovative and differentiated learning can run more effectively and in accordance with the developmental needs of early childhood. Abstrak: Pembelajaran inovatif dan berdiferensiasi merupakan pendekatan penting dalam Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) karena setiap anak memiliki kebutuhan, minat, dan kemampuan belajar yang berbeda. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan implementasi pembelajaran inovatif dan berdiferensiasi, mengidentifikasi kendala yang dihadapi guru, serta menganalisis upaya peningkatan kualitas pembelajaran di TKIT Al Hasan Kabupaten Gowa. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Subjek penelitian terdiri atas dua guru PAUD di TKIT Al Hasan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa guru telah menerapkan pembelajaran inovatif melalui kegiatan bermain, bernyanyi, bercerita, bermain peran, dan eksplorasi Pembelajaran berdiferensiasi mulai diterapkan melalui pemberian pendampingan dan tugas yang disesuaikan dengan kemampuan anak, meskipun belum dilakukan secara Kendala yang ditemukan meliputi variasi media pembelajaran, waktu persiapan guru, jumlah anak yang cukup banyak, serta pemahaman guru mengenai pembelajaran berdiferensiasi yang masih terbatas. Selain itu, penilaian perkembangan anak belum terdokumentasi secara Lingkungan belajar di TKIT Al Hasan sudah cukup aman, nyaman, dan kondusif, namun masih memerlukan pengembangan media dan fasilitas pembelajaran yang lebih variatif. Oleh karena itu, diperlukan peningkatan kompetensi guru melalui pelatihan, workshop, pendampingan, serta optimalisasi sarana pembelajaran agar implementasi pembelajaran inovatif dan berdiferensiasi dapat berjalan lebih efektif dan sesuai dengan kebutuhan perkembangan anak usia dini. 17 Mei 2026 Approved : 25 Mei 2026 Keywords: Manajemen pembelajaran inovatif. Bermain aktif. Berdiferensiasi Juraliansi : Jurnal Lingkup Anak Usia Dini, 7. , 2026 | 192 Copyright . 2026 Marwana aisyah, . PENDAHULUAN Pendidikan anak usia dini merupakan fondasi strategis dalam membentuk kualitas sumber daya manusia jangka panjang. Pada rentang usia dini, anak mengalami laju perkembangan yang sangat cepat dalam dimensi kognitif, bahasa, sosial-emosional, motorik, moral, dan kreativitas, sehingga memerlukan stimulasi yang tepat sasaran melalui proses pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik perkembangan anak. Oleh karena itu, pembelajaran di PAUD tidak dapat lagi dikelola secara konvensional, melainkan perlu dirancang secara inovatif, menyenangkan, dan berpusat pada anak agar seluruh potensi dapat berkembang secara optimal. Masa usia 0Ae6 tahun merupakan periode kritis yang sering disebut sebagai AuGolden AgeAy, yakni fase di mana struktur neural otak berkembang dengan intensitas tertinggi sepanjang hayat manusia. Kajian neurosains mutakhir mengonfirmasi bahwa kualitas stimulasi yang diterima anak selama fase ini akan meninggalkan jejak permanen pada kapasitas belajar, regulasi emosi, dan produktivitas anak di masa depan (Winandar,dkk. , 2. Implikasinya sangat nyata bagi praktik pendidikan. PAUD bukan sekadar tempat bermain atau penitipan anak, melainkan arena pendidikan yang paling strategis dan paling berpengaruh dalam membentuk fondasi perkembangan manusia (Inriani,dkk. ,2. Perkembangan lembaga PAUD di Indonesia khususnya di wilayah pinggiran kota masih mengandalkan model pembelajaran yang bersifat seragam dan instruktif. Dalam pola ini, seluruh anak menerima materi, media, dan target pencapaian yang identik tanpa mempertimbangkan perbedaan individual. Model pembelajaran semacam ini memiliki kelemahan mendasar dalam mengabaikan prinsip perkembangan anak yang bersifat individual, non-linear, dan sangat kontekstual (Fitriani & Fajriana. ,2. Pembelajaran yang menyamaratakan pengalaman belajar seluruh anak justru berisiko menekan potensi anak yang belajar lebih lambat maupun lebih cepat dari rata-rata, karena keduanya tidak mendapatkan tantangan atau dukungan yang sesuai (Relmasira. ,2. Kesadaran akademik global telah lama mendorong transisi menuju dua pendekatan yang lebih responsif, pembelajaran inovatif dan pembelajaran berdiferensiasi (Mandasari,dkk. ,2. Menurut sudut pandang Piaget & Vygostsky . alam Anne. , 2. menegaskan tentang konsep pembelajaran inovatif berpijak pada teori konstruktivisme kognitif dan sosial secara eksplinsit bahwa cara efektif anak dalam belajar membangun pengetahuannya melalui teknik eksplorasi, percobaan, dan interaksi sosial yang bermakna. Di sisi lain, pembelajaran berdiferensiasi yang dikembangkan Tomlinson . alam Gaitas,et al. ,2. kerangka kerja yang sistematis guru menyesuaikan konten, proses, produk, dan lingkungan belajar berdasarkan profil kebutuhan peserta didik. Pembelajaran inovatif dalam konteks PAUD menekankan pengalaman belajar aktif melalui bermain, eksplorasi langsung, proyek sederhana, interaksi sosial, dan pemanfaatan media konkret dengan tahap perkembangan anak (Jaya,dkk. ,2024. Armiaty & Khadafie. , 2. Pendekatan ini bertujuan menciptakan pengalaman belajar secara bermakna. Berbeda, pada pendekatan transmisi pengetahuan yang searah, pembelajaran inovatif menempatkan anak sebagai subjek aktif yang membangun pemahamannya melalui pengalaman konkret (Anne. , 2. Juraliansi : Jurnal Lingkup Anak Usia Dini, 7. , 2026 | 193 Copyright . 2026 Marwana aisyah, . Meskipun kerangka teoritis keduanya sudah mapan, implementasinya di lembaga PAUD masih jauh dari optimal. Sejumlah penelitian menunjukkan kesenjangan signifikan antara pemahaman konseptual guru tentang inovasi dan diferensiasi pembelajaran dengan kemampuan mengoperasionalkan secara sistematis dalam praktik sehari-hari (Pudyaningtyas. R, & Nurhayati. , 2. Banyak guru PAUD mengenal istilah diferensiasi, namun belum memiliki panduan praktis untuk menerapkannya di kelas yang heterogen dan bersumber daya terbatas. Pembelajaran berdiferensiasi merupakan pendekatan yang dirancang berdasarkan kebutuhan, minat, kemampuan, dan gaya belajar anak salah satunya dengan menggunakan metode bermain dalam eksplorasi media pembelajaran (Mahat,et al. ,2. Hasil pengamatan awal di TKIT Al Hasan Somba Opu-Gowa, ditemukan bahwa implikasi pembelajaran diferensiasi masih berada pada tahap sangat awal seperti memberikan pendampingan individual kepada anak yang membutuhkan dukungan kegiatan ekstra. Sementara, kegiatan pembelajaran masih berlangsung secara klasikal tanpa penyesuaian tingkat kesulitan maupun strategi pembelajaran. Sehingga, konsep diferensiasi belum terinternalisasi secara merata di antara para pendidik TKIT Al Hasan Gowa. Strategi pembelajaran berdiferensiasi berfokus pada empat elemen utama meliputi mempersiapkan konsep belajar yang akan diberikan, tahapan proses, mengembangkan project yang diharapkan dan suasana lingkungan belajar bersifat sistematis (Gaitas, et al. Dimensi manajerial pembelajaran inovatif sering kali luput dari perhatian pendidik. Manajemen pembelajaran inovatif di PAUD bukan sekadar memilih metode yang menarik, melainkan mencakup proses perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, dan evaluasi kegiatan belajar yang dirancan secara sistematis. Konsep ini, manajemen pembelajaran mencakup pengelolaan strategi pembelajaran, pengaturan lingkungan belajar, pengadaan dan pemanfaatan media edukatif, serta penilaian perkembangan anak bersifat berkelanjutan (Asyifah,dkk. ,2. Studi terdahulu Aryani,dkk. , . menjelaskan tentang kemampuan aspek pedagogis guru saat ini tidak mengintegrasikan dalam manajemen sumber daya manusia secara holistik, serta akan berdampak pada bentuk keberhasilan pembelajaran berdiferensiasi secara terencana dan Hal tersebut ditunjukkan pada saat guru tidak mengembangkan perangkat pembelajaran secara lebih jelas dan runtun. Lingkungan belajar memegang peran sentral dalam mendukung keberhasilan pembelajaran tersebut secara berkualitas dengan teknik stimulatif, inklusif, dan mampu mendorong perkembangan holistik anak (Fitriani & Rachmawati. ,2. Dalam konteks PAUD, lingkungan belajar tidak terbatas pada ruang kelas, melainkan mencakup area bermain indoor dan outdoor. Bentuk kualitas interaksi menjadi iklim emosional anak bentuk keterlibatan dalam memenuhi rasa aman dalam belajar dan mampu memberikan fasilitas anak melalui kegiatan belajar eksplorasi dan eksperimen yang memiliki potensinya secara lebih maksimal (Aryani,dkk. , 2. Oleh karena itu, manajemen strategi pembelajaran inovatif dalam belajar seranya bermain akan menujukkan kinerja guru secara professional. Kinerja guru merupakan variabel kunci dalam keberhasilan manajemen pembelajaran inovatif di PAUD. Kinerja guru PAUD yang profesional tidak hanya di ukur dari kemampuan Juraliansi : Jurnal Lingkup Anak Usia Dini, 7. , 2026 | 194 Copyright . 2026 Marwana aisyah, . mengajar semata, melainkan dari penguasaan empat pilar kompetensi utama (Utaminingsih,dkk. Nurfitriani & Haifaturrahmah. ,2. , meliputi kompetensi pedagogik . emampuan merancang dan melaksanakan pembelajaran sesuai perkembangan ana. , kompetensi profesional . enguasaan materi dan metode PAUD mutakhi. , kompetensi kepribadian . emampuan menjadi teladan dan membangun hubungan positif dengan ana. , serta kompetensi sosial . emampuan berkomunikasi dan berkolaborasi dengan orang tua dan komunita. Keempat pilar ini saling melengkapi dalam menciptakan manajemen pembelajaran yang inovatif, responsif terhadap keragaman anak secara holistik (Gatot. ,2023. Fitriani & Rachmawati. ,2. Namun, bentuk kendala yang sedang dihadapi pendidik mampu dalam kompetensi professional guru dalam menentukan metode pembelajaran secara muktahir. Kemudian, bentuk pembeljaaran diferensiasi masih terbatas karena kendala struktural seperti rasio guru-murid yang tinggi, keterbatasan media pembelajaran, serta minimnya perkembangan strategi diferensiasi dalam pembelajaran. Faktanya bahwa upaya inovasi sudah ada, namun sistem manajemen pembelajaran yang mendukungnya belum terbangun secara sistematis. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk manajemen pembelajaran inovatif berbasis bermain, untuk mengidentifikasi kendala spesifik dalam menerapkan pembelajaran berdiferensiasi pada anak usia dini, serta untuk mendeskripsikan solusi manajemen yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran inovatif dan berdiferensiasi di TKIT Al Hasan Somba Opu-Gowa. METODOLOGI PENELITIAN Penelitian ini menggunakan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif dengan rancangan mengidentifikasi studi kasus . ase stud. secara mendalam tentang Strategi pembelajaran inovatif dan berdiferensiasi guru di TKIT Al Hasan Kecamatan Somba Opu. Kabupaten Gowa. Sulawesi Selatan. Pemilihan rancangan studi kasus didasarkan pada karakteristik permasalahan yang bersifat kontekstual, kompleks, dan memerlukan pemahaman holistik terhadap praktik nyata di lapangan. Subjek penelitian terdiri atas dua guru, yaitu Ibu MW dan Ibu SY, sebagai purposif sampling yang bertugas dalam praktisi langsung dalam pembelajaran anak usia dini. Fokus aspek pada manajemen pembelajaran inovatif berbasis bermain, dan pembelajaran berdiferensiasi dalam membangun pengalaman belajar anak dengan strategi belajar yang berorientasi pada anak. Teknik pengumpulan data, meliputi data observasi terstruktur yang berfokus pada penggunaan metode pembelajaran, variasi media, bentuk pengelolaan kelas, penyesuaian tugas dan kemampuan interaksi guru-anak. data wawancara mendalam semi-terstruktur dalam segi cangkupan indikator manajemen pembelajaran inovatif . erencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, evaluas. berfokus pada teknik belajar melalui bermain, bermain dalam membangun pengalaman belajar anak, keterlibatan anak, dan strategi pembelajaran yang diciptakan oleh pendidik dan pembelajaran berdiferensiasi berkaitan . onten, proses, produk, dan lingkunga. rincian data konten berkaitan dengan menyusunan materi, proses dilakukan pengujian materi melalui teknik bermain, produk materi belajar berbasis project, sedangkan lingkungan belajar dapat dilakukan konsep kemitraan belajar. Serta, data dokumentasi kegiatan belajar. Data analisis Juraliansi : Jurnal Lingkup Anak Usia Dini, 7. , 2026 | 195 Copyright . 2026 Marwana aisyah, . menggunakan tiga tahap berdasarkan model Miles dan Huberman . alam Anto,dkk. ,2. melalui reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Keabsahan data di jaga melalui triangulasi sumber . embandingkan data dari dua guru, kepala sekolah, dan dokumentas. dan triangulasi teknik . embandingkan hasil observasi, wawancara, dan dokumentas. sehingga temuan yang diperoleh lebih valid dan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. HASIL DAN PEMBAHASAN Pembelajaran inovatif pada dasarnya merupakan upaya sistematis untuk menciptakan pengalaman belajar yang melampaui rutinitas konvensional yaitu pembelajaran yang aktif, kreatif, menyenangkan, dan berorientasi pada pengembangan potensi anak secara menyeluruh. Dalam konteks PAUD, pembelajaran inovatif tidak semata-mata berarti penggunaan teknologi mutakhir, melainkan mencakup setiap strategi, metode, atau pendekatan yang mampu membuat anak terlibat secara aktif dan bermakna dalam proses belajar (Julianti,dkk. ,2. Pijakan teoritis pembelajaran inovatif yang paling relevan dalam konteks anak usia dini adalah teori konstruktivisme kognitif dan sosial. Piaget menegaskan bahwa anak secara aktif membangun skema pengetahuannya sendiri melalui proses asimilasi dan akomodasi ketika berinteraksi dengan objek-objek di Implikasi pedagogisnya sangat jelas: anak harus diberi kesempatan untuk mengeksplorasi, memanipulasi benda konkret, bertanya, dan mencoba bukan sekadar mendengarkan penjelasan guru. Vygotsky, di sisi lain, menekankan dimensi sosial dari proses belajar: anak berkembang paling optimal ketika berada dalam zona perkembangan proksimal . one of proximal developmen. anak, yaitu saat anak mendapatkan bimbingan . dari orang yang lebih kompeten baik guru maupun teman sebaya (Winandar, et al. , 2. Karakteristik utama pembelajaran inovatif di PAUD meliputi orientasi yang berpusat pada anak . tudent-centere. , integrasi unsur bermain sebagai medium belajar utama, pengembangan kreativitas dan imajinasi melalui kegiatan terbuka, keterkaitan dengan konteks kehidupan nyata anak . , serta pemanfaatan media dan alat permainan edukatif yang Sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Anne, et al. , . menunjukkan bahwa strategi pembelajaran inovatif ketika dirancang dengan mempertimbangkan tahap perkembangan anak secara signifikan meningkatkan keterlibatan aktif, motivasi intrinsik, dan pencapaian perkembangan anak usia dini dibandingkan pendekatan konvensional yang pasif. Penerapan pembelajaran inovatif di TKIT Al Hasan sejalan dengan teori konstruktivisme yang dikemukakan oleh Piaget dan Vygotsky. Dalam teori tersebut dijelaskan bahwa anak membangun pengetahuannya melalui pengalaman langsung dan interaksi sosial dengan lingkungan sekitarnya. Anak usia dini belajar secara optimal ketika anak terlibat secara aktif dalam kegiatan bermain dan Oleh karena itu, pembelajaran inovatif sangat penting diterapkan dalam pendidikan anak usia dini karena mampu memberikan pengalaman belajar yang bermakna bagi anak. Pembelajaran inovatif merupakan pembelajaran yang dirancang secara kreatif dan menyenangkan sehingga mampu meningkatkan minat belajar dan keterlibatan aktif anak selama proses pembelajaran berlangsung. Selain itu, pembelajaran berbasis eksplorasi dan bermain dapat membantu meningkatkan kreativitas, kemampuan berpikir, dan perkembangan sosial emosional Juraliansi : Jurnal Lingkup Anak Usia Dini, 7. , 2026 | 196 Copyright . 2026 Marwana aisyah, . anak usia dini (Julianti,dkk. , 2. Adapun strategi pembelajaran inovatif dan berdiferensiasi melalui penyusunan balok mainan, terlihat pada gambar 4. 1, sebagai berikut : Gambar 4. 1 Pembelajaran Inovatif Melalui Bermain Balok Data hasil observasi tentang metode pembelajaran bervariatif menunjukkan bahwa Ibu guru SY lebih variatif dalam menggunakan metode dan media pembelajaran dibandingkan Ibu guru MW. Dalam kegiatan pembelajaran. Ibu guru SY memberikan kesempatan kepada anak untuk mengeksplorasi lingkungan sekitar, menggunakan bahan alam dalam kegiatan bermain, serta melibatkan anak secara aktif dalam proses pembelajaran. Anak terlihat lebih tertarik dan bersemangat mengikuti kegiatan belajar ketika guru menggunakan media yang konkret dan Guru juga memberikan kesempatan kepada anak untuk bertanya, mencoba, dan berinteraksi dengan teman sebaya sehingga pembelajaran menjadi lebih aktif dan menyenangkan. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan Lilis, dkk. , . yang menyatakan bahwa lingkungan belajar yang ramah ditandai dengan adanya hubungan interpersonal yang positif antara guru dan peserta didik sehingga anak merasa diterima dan dihargai selama proses pembelajaran. Namun demikian, implementasi pembelajaran inovatif di TKIT Al Hasan belum berjalan secara Berdasarkan hasil wawancara, guru masih mengalami keterbatasan dalam penggunaan media pembelajaran yang lebih kreatif dan interaktif. Sebagian besar kegiatan pembelajaran masih menggunakan metode sederhana seperti bercerita, bernyanyi, dan bermain biasa tanpa pengembangan aktivitas yang lebih variatif. Kondisi ini menyebabkan kesempatan anak untuk bereksplorasi dan mengembangkan kreativitas secara mandiri masih belum optimal. Selain itu, keterbatasan waktu persiapan pembelajaran menjadi salah satu kendala utama yang dihadapi guru dalam merancang kegiatan belajar yang lebih inovatif. Guru juga menyampaikan bahwa masih diperlukan pelatihan dan pendampingan terkait pembelajaran inovatif agar anak mampu mengembangkan metode dan media pembelajaran yang lebih kreatif sesuai kebutuhan anak usia Guru PAUD yang professional mampu menjadi teladan, membangun komunikasi positif, mengembangkan kreativitas pembelajaran dan meningkatkan kompetensi diri secara berkelanjutan (Fitriani & Rachmawati. ,2. Maka dari guru PAUD yang memiliki kinerja baik mampu menciptakan pembelajaran aktif, kreatif, menyenangkan dan sesuai tahap perkembangan anak sehingga mendukung perkembangan holistik anak usia dini secara optimal. Adapun pembelajaran inovatif melalui bermain matematika dengan flascard, dilihat pada gambar 4. 2, sebagai berikut : Juraliansi : Jurnal Lingkup Anak Usia Dini, 7. , 2026 | 197 Copyright . 2026 Marwana aisyah, . Gambar 4. 2 Pembelajaran Inovatif Matematika Melalui Media Flascard Pembelajaran inovatif pada gambar 4. 2, penelitian ini juga menemukan bahwa penerapan pembelajaran berdiferensiasi di TKIT Al Hasan masih berada pada tahap awal. Pembelajaran berdiferensiasi merupakan pendekatan pembelajaran yang disesuaikan dengan kemampuan, minat, kebutuhan, dan gaya belajar masing-masing anak. Dalam praktiknya, sebagian besar kegiatan pembelajaran masih diberikan secara sama kepada seluruh anak tanpa adanya penyesuaian tingkat kesulitan maupun strategi belajar yang berbeda. Ibu guru MW masih cenderung menggunakan pembelajaran klasikal sehingga semua anak memperoleh tugas dan aktivitas yang sama. Hal ini menunjukkan bahwa penerapan pembelajaran berdiferensiasi belum dilakukan secara optimal. Berbeda dengan Ibu guru MW. Ibu guru SY sudah mulai menerapkan diferensiasi dalam pembelajaran meskipun masih sederhana. Guru memberikan pendampingan lebih intensif kepada anak yang mengalami kesulitan belajar dan memberikan kegiatan tambahan kepada anak yang lebih cepat memahami materi pembelajaran. Guru juga berusaha memahami kemampuan masingmasing anak agar dapat memberikan bantuan yang sesuai dengan kebutuhan perkembangan anak. Menurut guru, setiap anak memiliki kemampuan dan karakteristik yang berbeda sehingga pembelajaran perlu disesuaikan agar anak dapat belajar secara optimal. Penerapan pembelajaran berdiferensiasi di PAUD sangat penting karena setiap anak memiliki gaya belajar, minat, dan tingkat perkembangan yang berbeda. Teori Carol Ann Tomlinson menjelaskan bahwa pembelajaran berdiferensiasi dilakukan dengan menyesuaikan konten, proses, produk, dan lingkungan belajar sesuai kebutuhan peserta didik (Gaitas, et al. , 2. Pembelajaran berdiferensiasi bertujuan memberikan kesempatan kepada seluruh anak untuk belajar sesuai kemampuan dan potensinya masing-masing. Pembelajaran berdiferensiasi dapat meningkatkan keterlibatan, rasa percaya diri, dan motivasi belajar anak dan media disesuaikan dengan kebutuhan pembelajaran (Pudyaningtyas & Nurhayati. ,2. Adapun pembelajaran inovatif melalui tv smart dengan eksplorasi materi matematika anak usia dini, terlihat pada gambar 4. 3, sebagai Juraliansi : Jurnal Lingkup Anak Usia Dini, 7. , 2026 | 198 Copyright . 2026 Marwana aisyah, . Gambar 4. 3 Pembelajaran Inovatif Dalam Eksprorasi Matematika Melalui Smart TV Meskipun guru sudah mulai memahami pentingnya diferensiasi belajar, implementasinya di TKIT Al Hasan masih menghadapi berbagai kendala. Jumlah siswa yang cukup banyak menyebabkan guru kesulitan memberikan perhatian individual kepada setiap anak, terutama dalam kegiatan kelompok kecil dan pembelajaran individual. Selain itu, guru masih memiliki keterbatasan dalam memahami strategi diferensiasi yang tepat untuk diterapkan pada anak usia Guru juga mengaku belum pernah mendapatkan pelatihan khusus terkait pembelajaran berdiferensiasi sehingga penerapan diferensiasi masih dilakukan secara sederhana dan belum Dalam aspek pengelolaan lingkungan belajar, hasil observasi menunjukkan bahwa TKIT Al Hasan memiliki lingkungan belajar yang cukup aman, nyaman, dan kondusif bagi anak usia dini. Ruang kelas tertata dengan rapi dan memiliki suasana yang cukup menyenangkan bagi Interaksi antara guru dan anak berlangsung dengan hangat sehingga anak terlihat nyaman dan percaya diri selama mengikuti kegiatan pembelajaran. Guru juga berusaha menciptakan suasana belajar yang ramah anak melalui komunikasi yang positif dan pendekatan yang penuh perhatian kepada peserta didik. Lingkungan belajar yang nyaman sangat penting dalam mendukung perkembangan anak usia dini. Menurut Aryani, dkk. , . lingkungan belajar yang ramah anak merupakan lingkungan yang mampu memberikan rasa aman, nyaman, dan stimulatif bagi perkembangan fisik maupun psikologis anak. Lingkungan belajar yang baik dapat meningkatkan kemampuan sosial, emosional, dan kreativitas anak dalam proses pembelajaran. Selain itu, lingkungan belajar yang menyenangkan dapat membantu anak lebih aktif berinteraksi dan bereksplorasi selama kegiatan belajar berlangsung. Walaupun lingkungan belajar di TKIT Al Hasan sudah cukup baik, hasil observasi menunjukkan bahwa area bermain dan media eksploratif masih perlu dikembangkan. Ketersediaan alat permainan edukatif dan media pembelajaran inovatif masih terbatas sehingga belum mampu mendukung pembelajaran yang lebih kreatif dan variatif. Anak masih membutuhkan lebih banyak media pembelajaran konkret yang dapat digunakan untuk bermain sambil belajar. Sarana dan