ISSN: x-x Volume X. Nomor X. Bulan 20XX DOI XX-XX Psikoedukasi Untuk Meningkatkan Pengetahuan Dan Sikap Remaja Tentang Dampak Bullying Pada Sekolah X Di Surabaya Gita Ayodya Kelana A . Herlan Pratikto . Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya. Indonesia Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya. Indonesia Email : 1 gakayodya@gmail. com, 2 pratiktoherlan75@gmail. Abstract The passing of time, changes in the value system of life run so fast because of the role of These changes also occur within the scope of education, namely schools. Schools are expected to be a safe place for students both physically and mentally, but in reality many students are often involved in psychological problems. One of the psychological problems that occur in schools is bullying. The subjects in this intervention were all students of class VII Ae IX from school X in Surabaya. The method used to increase knowledge and attitudes about bullying behavior is through psychoeducation. As for the purpose of this study, namely to determine the effectiveness of psychoeducation in increasing knowledge and attitudes about bullying behavior in students. This research is a quasi-experimental study with a one group pre test Ae post test design. The results of data analysis using paired sample t-test analysis showed that there was a change. The difference is that the pre-test average score is 60. 43 and the post-test average score is 99. 11 with a significance level of 0. Because the significance level is <0. 01, it shows that there is a difference, meaning that the subject's knowledge of bullying behavior has increased after being given psychoeducation. Keywords : Psychoeducation. Bullying. Adolescence Abstrak Seiring berjalannya waktu, perubahan tata nilai kehidupan berjalan begitu cepat karena peran Perubahan Ae perubahan tersebut juga terjadi didalam ruang lingkup pendidikan yaitu sekolah. Sekolah diharapkan menjadi tempat yang aman bagi para siswa baik secara fisik maupun mental, namun realitanya banyak siswa seringkali terlibat dalam masalah Ae masalah psikologis. Salah satu permasalahan psikologis yang terjadi disekolah adalah tindakan perundungan. Subyek dalam intervensi ini adalah semua siswa kelas VII Ae IX dari sekolah X di surabaya. Metode yang digunakan untuk meningkatkan pengetahuan dan sikap tentang perilaku bullying yaitu melalui psikoedukasi. Adapaun tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui efektivitas psikoedukasi dalam meningkatkan pengetahuan dan sikap tentang perilaku bullying pada para siswa. Penelitian ini merupakan penelitian Quasi Eksperimental dengan desain One group pre test Ae post test. Hasil analisa data menggunakan analisis paired sampel t-test menunjukkan adanya perubahan. Adapun perbedaan tersebut yaitu rata-rata pre test menunjukkan skor 60,43 dan skor rata-rata post test yang menunjukkan skor 99,11 dengan tingkat signifikansinya adalah 0,000. Karena taraf signifikansi < 0,01 maka menunjukkan adanya perbedaan, dengan artian pengetahuan tentang perilaku bullying subyek mengalami peningkatan setelah diberikan psikoedukasi. Kata kunci : Psikoedukasi. Perundungan. Remaja Pendahuluan Sekolah merupakan wadah bagi anak untuk meraih pendidikan dan menjadi wadah petualangan yang menyenangkan dalam menentukan masa depannya, maka dari itu para siswa dan siswi harus dipersiapkan semenjak dini agar kelak di kemudian hari menjadi generasi cerdas yang menguasai ilmu pengetahuan sehingga mempunyai bekal dalam menentukan masa depannya. Selain mempunyai wawasan yang luas para siswa Psikologi Islam Fakultas Agama Islam Universitas Nahdlatul Ulama Blitar Psycho Aksara Jurnal Psikologi juga diharapkan memiliki budi pekerti yang baik dan berkarakter kuat. Sekolah juga menjadi rumah kedua bagi para siswa, hal itu dikarenakan sepertiga waktu bahkan lebih waktu anak dihabiskan disekolah ditambah dengan jumlah hari sekolah yang berdurasi lima sampai enam hari, maka tidak mengherankan jika sekolah menjadi harapan para orang tua demi menentukan masa depan anak-anaknya. Sebagai rumah kedua, tentunya sekolah diharapkan menjadi tempat yang aman dan nyaman dalam proses belajar, berinteraksi dan berekspresi. Namun untuk menjalankan fungsi tersebut tentunya tidak semudah itu, dibutuhkan kerjasama positif dan sinergi semua pihak baik dari kebijakan pemerintah, sekolah, guru, orang tua dan para siswa Ae siswi itu sendiri. Dalam proses pembentukan karakter siswa tentunya tidak selalu berjalan sesuai rencana, hal ini lantaran terkadang masih dijumpai berbagai permasalahan dan pelanggaran yang terjadi di sekolah. Salah bentuk permasalahan yang terjadi yaitu adanya tindakan perundungan yang dilakukan oleh sesama siswa itu sendiri. Dewasa ini tindak kekerasan di Indonesia cukuplah meningkat, berbagai macam tindak kekerasan yang dilakukan sangat bervariasi, berbagai informasi dan berita tentang kekerasan semakin banyak terdengar dan terlihat. Salah satu permasalahan yang menjadi perhatian adalah maraknya perilaku perundungan atau bullying yang terjadi dilingkungan pendidikan. Diantara banyaknya tindak kekerasan yang terjadi salah satunya terjadi dilingkungan pendidikan, baik dari level sekolah dasar sampai level perguruan tinggi, baik sekolah umum maupun sekolah yang berbasis keagamaan. Berdasarkan informasi Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), sejak tahun 2011 hingga tahun 2016 telah terjadi 23 ribu kasus kekerasan fisik dan psikis pada Bullying merupakan perilaku kekerasan atau tindakan menyakiti baik yang aktual maupun yang dipersepsi yang sengaja dilakukan oleh teman sebaya secara berulangulang dan melibatkan ketidakseimbangan kekuatan antara korban dan pelaku, (Olweus dalam Wolke & Lereya, 2. Bullying dapat dilakukan baik di kelas, maupun di area lingkungan sekolah (Sittichai & Smith, 2. AuBullying adalah penggunaan kekuasaan atau kekuatan untuk menyakiti seseorang atau kelompok, sehingga korban merasa tertekan trauma dan tidak berdaya. Tindakan negatif tersebut termasuk melukai atau mencoba melukai serta membuat korban merasa tidak nyaman. Tindakan bullying dapat dilakukan secara fisik misalnya, pemukulan, tendangan, mendorong, dan mencekik. secara verbal misalnya memanggil nama korban dengan sebutan yang buruk, mengancam, mengolok-olok, dan fitnahAy (Azis A, 2. Perilaku bullying melibatkan interaksi dinamis antara pelaku dan korban. Ketika melakukan perilaku bullying, pelaku meningkat kekuatannya, sebaliknya korban kehilangan kekuatannya dan hasilnya korban menjadi kesulitan untuk berespon atau melakukan coping pada permasalahan yang dihadapi (Smith dalam Menesini & Salmivalli, 2. Selain itu. Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) juga merilis data bahwa kasus bullying ditemukan sekitar 87,6 % dimana korban laki-laki lebih banyak dari perempuan dan perilaku bullying lebih rentan terjadi pada usia remaja awal. Psikologi Islam Fakultas Agama Islam Universitas Nahdlatul Ulama Blitar Psycho Aksara Jurnal Psikologi Salah satu permasalahan yang sering dihadapi para remaja berhubungan dengan penolakan teman sebaya adalah munculnya perilaku bullying yang merupakan bentuk khusus agresi di kalangan teman sebaya (Umasugi, 2. Remaja tidak mempunyai tempat yang jelas karena tidak termasuk golongan anak, tetapi tidak pula termasuk golongan orang dewasa. Remaja masih belum mampu untuk menguasai fungsi-fungsi fisik maupun psikisnya (Hosnan, 2. Bullying juga memberikan dampak terhadap korban secara psikologis. Ketika mengalami bullying, korban merasakan banyak emosi negatif . arah, dendam, kesal, tertekan, takut, malu, sedih, tidak nyaman, teranca. namun tidak berdaya Dalam jangka panjang emosi-emosi ini dapat berujung pada munculnya perasaan rendah diri bahwa dirinya tidak berharga. Para korban kesulitan menyesuaikan diri dengan lingkungan sosial, ingin pindah ke sekolah lain atau keluar dari sekolah itu, terganggu prestasi akademisnya atau sering sengaja tidak masuk Selain itu, bullying berdampak terhadap timbulnya gangguan psikologis, seperti rasa cemas berlebihan, selalu merasa takut, depresi, ingin bunuh diri, dan gejala-gejala gangguan stres pasca-trauma . ost-traumatic stress disorde. , merasa hidupnya tertekan, takut bertemu pelaku bullying, bahkan depresi dan berkeinginan untuk bunuh diri (Azis A, 2. Berdasarkan hasil wawancara dengan salah satu kepala sekolah X di surabaya dapat diketahui bahwa tindakan bullying kerap terjadi disekolahnya. Tindakan tersebut dilakukan oleh senior kepada junior atau sesama rekan kelas. Terdapat beberapa siswa yang menjadi dampak dari perilaku bullying diantaranya mereka menjadi merasa cemas, tertekan, stress dan takut. Bahkan ada beberapa siswa yang mengundurkan diri dari sekolah tersebut. Lanjut dikatakan, bahwa sejauh ini para tenaga pendidik sudah berupaya melakukan tindakan-tindakan terukur dan memberikan nilai-nilai moral kepada para siswa, namun diakui pula bahwa selama ini sekolahnya memang belum tersentuh oleh psikoedukasi-psikoedukasi tentang bullying. Selain itu, menurut siswa yang berinisial M dapat diketahui bahwa ia sering menjadi bahan bullying oleh kakak kelas dan sesama rekannya dikelas. M merasa tidak mengetahui alasan bullying yang terjadi kepada dirinya. Sebagai dampaknya. M merasa cemas dan takut, ia juga merasa kurang percaya diri dalam beraktivitas disekolah. Maka dari itu dibutuhkan pemberian materimateri tentang tindakan bullying beserta dampaknya yang bertujuan agar para siswa dapat meningkatkan pengetahuan dan sikapnya sehingga dapat mengurangi tindakan perilaku bullying. Metode Penelitian ini menggunakan penelitian Quasi Eksperimen dengan desain One group pre test Ae post test. Penelitian ini menggunakan satu kelompok saja yang dinamakan kelompok eksperimen tanpa ada kelompok pembanding atau kelompok kontrol (Arikunto, 2. Pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan Total Sampling dengan artian semua siswa yang ada di salah satu sekolah X di Surabaya sebanyak 47 siswa. Psikologi Islam Fakultas Agama Islam Universitas Nahdlatul Ulama Blitar Psycho Aksara Jurnal Psikologi Gambar 1. Design Penelitian Variabel X Ae Variabel Y : Pre Test : Treatment (Psikoedukas. : Post Test Sebelum dilakukan intervensi, peneliti terlebih dahulu memberikan pre test kepada para subyek berupa skala pengetahuan dan sikap perilaku bullying. Setelah diberikan skala pre test peneliti memberikan treatment berupa psikoedukasi tentang perilaku bullying. Setelah diberikan psikoedukasi, subyek diberikan post test yang bertujuan untuk mengetahui perubahan dan efektivitas psikoedukasi tersebut. Hasil dan Pembahasan Adapun hasil pre test Ae post test yang dilakukan pada proses intervensi adalah sebagai SUBYEK Tabel 1. Hasil Pre test Ae Post test PRE KATEGORI POST TEST TEST Tidak Paham Sangat Tidak Paham Tidak Paham Tidak Paham Tidak Paham Tidak Paham Tidak Paham Paham S10 S11 S12 Tidak Paham Tidak Paham Tidak Paham Tidak Paham S13 Tidak Paham S14 Tidak Paham S15 Tidak Paham S16 Tidak Paham S17 S18 Tidak Paham Paham S19 Tidak Paham S20 S21 Tidak Paham Tidak Paham S22 Tidak Paham KATEGORI Paham Paham Paham Paham Paham Paham Paham Sangat Paham Paham Paham Paham Paham Sangat Paham Paham Sangat Paham Sangat Paham Paham Paham Sangat Paham Paham Paham Sangat Paham Psikologi Islam Fakultas Agama Islam Universitas Nahdlatul Ulama Blitar Psycho Aksara Jurnal Psikologi S23 Tidak Paham S24 Tidak Paham S25 Tidak Paham S26 Paham S27 S28 Tidak Paham Paham S29 Tidak Paham S30 S31 Tidak Paham Tidak Paham S32 Paham S33 Tidak Paham S34 Tidak Paham S35 Tidak Paham S36 Tidak Paham S37 Paham S38 Tidak Paham S39 Paham S40 Tidak Paham S41 Tidak Paham S42 Tidak Paham S43 Tidak Paham S44 Paham S45 Tidak Paham S46 Tidak Paham S47 Tidak Paham Paham Sangat Paham Paham Sangat Paham Paham Paham Sangat Paham Paham Paham Sangat Paham Sangat Paham Paham Tidak Paham Paham Sangat Paham Paham Sangat Paham Sangat Paham Sangat Paham Sangat Paham Paham Sangat Paham Sangat Paham Sangat Paham Sangat Paham Ket : Skor < 34 35 > 69 70 > 103 STP Kategori Sangat Tidak Paham Tidak Paham Paham Sangat Paham Dari pelaksanaan intervensi yang dilakukan didapatkan hasil pengujian pre-test dan post-test skala bullying yang menggunakan uji analisis SPSS dengan menggunakan analisis paired sampel t-test menunjukkan adanya perubahan. Adapun perbedaan tersebut yaitu rata-rata pre test menunjukkan skor 60,43 dan skor rata-rata post test Psikologi Islam Fakultas Agama Islam Universitas Nahdlatul Ulama Blitar Psycho Aksara Jurnal Psikologi yang menunjukkan skor 99,11 dengan tingkat signifikansinya adalah 0,000. Karena taraf signifikansi < 0,01 maka menunjukkan adanya perbedaan, dengan artian pengetahuan tentang perilaku bullying klien mengalami peningkatan setelah diberikan psikoedukasi. Adapun setelah diberikannya materi tentang perilaku bullying, pemahaman para anggota komunitas tentang perilaku bullying menjadi bertambah, mereka juga mengerti dan memahami tentang jenis-jenis bullying, penyebab dan dampak perilaku bullying. Selain itu, para anggota komunitas juga mendapatkan wawasan tentang bagaimana menghadapi perilaku bullying dan bagaimana ketika menjadi korban bullying. Dari data post test pada 47 anggota komunitas, dapat diketahui sebanyak 20 siswa atau 42, 5 % siswa termasuk dalam kategori sangat paham. Kemudian sebanyak 26 siswa atau sekitar 55,5 % siswa termasuk dalam kategori paham dan sebanyak 1 siswa atau sekitar 2 % termasuk dalam kategori tidak paham. Setelah mendapatkan psikoedukasi, para siswa memahami tentang perilaku bullying dan dampak dari perilaku bullying tersebut. Dalam menghadapi perilaku bullying, selain adanya kegiatan psikoedukasi juga diperlukan dukungan positif dari berbagai pihak terkait untuk mencegah dan mengurangi perilaku bullying khususnya dilingkungan Dari hasil follow up yang dilakukan kepada para subyek, selain diberikan psikoeduasi juga dilakukan kegiatan penempelan poster tentang dampak perilaku bullying diberbagai sudut sekolah dengan tujuan dapat membawa pengaruh positif terhadap para siswa tentang bagaimana berperilaku yang baik, dan mengambil sikap yang tepat ketika dihadapkan dengan perilaku bullying serta agar para siswa lebih peduli terhadap sesama siswa sehingga dapat menurunkan itensitas perilaku bullying. Simpulan Kegiatan psikoedukasi dilakukan di aula sekolah X di Surabaya secara tatap muka dan dihadiri oleh anggota komunitas atau para subyek yang berjumlah kurang lebih 47 siswa sekolah X di Surabaya. Psikoedukasi ini diukur tingkat keberhasilannya dengan menggunakan skala pengetahuan perilaku bullying dan diuji dengan menggunakan analisis SPSS dengan uji paired sampel t-test. Dari hasil kegiatan psikoedukasi yang dilakukan menunjukkan adanya perubahan sebelum dan sesudah diberikannya psikoedukasi tentang perilaku bullying. Adapun perubahan tersebut yaitu terlihat dari rata-rata skor pre test yang menunjukkan skor 60,43 dan post test yang menunjukkan skor 99,11 dengan tingkat signifikansinya adalah 0,000. Karena taraf signifikansi < 0,01 maka menunjukkan adanya perbedaan, maka dapat disimpulkan bahwa pengetahuan tentang perilaku bullying siswa mengalami peningkatan setelah diberikan psikoedukasi. Referensi