4177 JCI Jurnal Cakrawala Ilmiah Vol. No. Juli 2023 ANALISIS PENGENDALIAN KUALITAS PRODUK STAN KONTAINER DENGAN METODE FMEA (FAILURE MODE AND EFFECT ANALYSIS) DI BENGKEL LAS MULIA UTAMA PERKASA Oleh Yanuar Syarifudin1. Ayik Pusakaningwati2 12Teknik Industri. Universitas Yudharta Pasuruan E-mail: madmadyanuar@gmail. com 1, ayikpusaka1234@gmail. Article History: Received: 12-06-2023 Revised: 20-06-2023 Accepted: 17-07-2023 Keywords: Pengendalian Kualitas. Produk Cacat. FMEA. Angka Prioritas Resiko Abstract: Bengkel Las Mulia Utama Perkasa memiliki permasalahan pada proses produksi stan kontainer yaitu adanya cacat pada pengelasan dan pengecatan. Maka dari itu dibutuhkanlah pengendalian kualitas, melalui pengendalian kualitas akan dapat dicari faktor-faktor yang menyebabkan kegagalan, yaitu dari faktor manusia, mesin , material. Tujuan dari penelitian ini agar dapat mengetahui jenis cacat terbesar, dapat mengetahui penyebab terjadinya kecacatan pengelasan dan pengecatan, dapat mengetahui hasil nilai RPN dari perhitungan menggunakan metode FMEA (Failure Mode And Effect Analysi. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat jenis cacat yang dominan yaitu welding tembus dalam pengelasan dengan 33% dan dalam pengecatan Bintik kasar dengan presentase 22. Nilai RPN tertinggi yaitu cacat welding tembus pada mode kegagalan arus las yang tinggi sebesar 392 yang didapat dari hasil perkalian nilai severity 8, nilai occurance 7 dan nilai Penyebab tingginya cacat welding tembus dari faktor mesin yaitu arus trafo las yang tidak stabil karena kurangnya perawatan perbaikan berkala pada trafo las. PENDAHULUAN Bengkel las Mulia Utama Perkasa merupakan usaha perorangan yang didirikan dari tahun 2013 yang bergerak di bidang pengelasan besi atau pembuatan produk kreatif yang berbahan dasar dari besi. Berbagai produk dihasilkan dari bengkel ini yaitu Kanopi. Stan Kontainer. Pagar. Terlalis, dll. Dari macam-macam produk yang diproduksi oleh bengkel las Mulia Utama Perkasa. Produk Stan Kontainer adalah sebuah produk yang paling banyak dipesan oleh Konsumen, karena produk ini yang berbentuk peti kemas fleksibel atau bangunan sementara yang memang dimanfaatkan untuk tempat menjual sesuatu di tempat yang ramai. Berikut ini salah satu contoh produk stan kontainer yang dihasilkan oleh Bengkel Las Mulia Utama Perkasa. http://bajangjournal. com/index. php/JCI JCI Jurnal Cakrawala Ilmiah Vol. No. Juli 2023 Gambar. 1 Produk stan kontainer Permasalahan pada Bengkel las Mulia Utama Perkasa yaitu adanya kendala dalam kualitas pengecatan dan pengelasan pada proses produksi stan kontainer kurang maksimal yang menyebabkan kecacatan dalam proses produksi. Untuk meminimalisir adanya kecacatan produk maka harus dilakukan pengendalian kualitas terhadap pada proses produksi tersebut agar perusahaan tidak mendapatkan komplain dari konsumen maupun kehilangan di sektor pangsa pasarnya perusahaan. Jika produk cacat dikirim ke konsumen dan kemudian menyebabkan kerusakan, perusahaan harus memberi kompensasi kepada Salah satu dampak negatifnya adalah runtuhnya citra perusahaan dimata konsumen, dan jika keadaan tersebut tidak segera diatasi maka perusahaan akan kehilangan Metode pengendalian kualitas diterapkan untuk mengurangi produk cacat. Salah satu metode yang dapat digunakan adalah FMEA (Failure Mode and Effect Analysi. FMEA (Failure Mode and Effect Analysi. adalah Suatu Metode yang diartikan sebagai tindakan terstruktur untuk mengidentifikasi dan penentuan penilaian potensi kegagalan yang terjadi pada suatu produk atau proses produksi. Tujuan penelitian ini yaitu agar dapat mengetahui jenis cacat terbesar yang terjadi pada proses produksi Stan Kontainer di Bengkel Las Mulia Utama Perkasa, dapat mengetahui penyebab terjadinya kecacatan pengelasan dan pengecatan pada produk Stan Kontainer di Bengkel Las Mulia Utama Perkasa, dapat mengetahui hasil nilai RPN dari perhitungan menggunankan metode FMEA di Bengkel Las Mulia Utama Perkasa. Terdapat penelitian terdahulu yang dilakukan untuk menganalisa pengendalian kualitas yang salah satunya dilakukan oleh yang menggunakan metode FMEA (Failure Mode and Effect Analysi. terhadap kualitas produk pagar di UD. Moeljaya. Penerapan menggunakan metode ini dapat mengetahui penyebab pada mode kegagalan pengelasan, painting, bentuk fisik tidak sesuai/tidak simetris dan berhasil mengetahui akar permasalahan yang menyebbkan cacat pada kualitas produk pagar di UD. Moeljaya. Berdasarkan latar belakang tersebut, pada laporan produksi stan kontainer di Bengkel Las Utama Perkasa terdapat sejumlah kecacatan pada periode bulan November 2022 sampai dengan bulan April 2023. Pengumpulan data historis dan hasil wawancara terhadap pekerja dan pemilik Bengkel Las Utama Perkasa, ditemukan tedapat kecacatan pada proses produksi stan kontainer. Pada hasil dan Proses Produksi Stan Kontainer terdapat dua jenis cacat yaitu pengelasan dan pengecatan. Dalam pengelasan didapati tiga jenis cacat atribut yaitu : Welding Tembus merupakan cacat dari hasil pengelasan yang menembus terbakar pada bagian base metal. http://bajangjournal. com/index. php/JCI JCI Jurnal Cakrawala Ilmiah Vol. No. Juli 2023 Spatter yaitu kecacatan las berupa bintik-bintik kecil logam yang diakibatkandari percikan pada saat pengelasan. Welding Meleset merupakan cacat las yang terdapat celah pada material atau kurang rapi yang tidak dapat menutupi sambungan yang dibentuk benda kerja. Sedangkan dalam pengecatan terdapat dua jenis cacat atribut yaitu : Sag/Meleleh yaitu cacat pengecatan yang disebabkan oleh terlalu banyaknya cat yang menempel di permukaan pada bidang posisi vertikal. Bintik kasar merupakan cacat yang disebabkan oleh partikel debu cat atau kotoran jatuh yang tertinggal didalam pada saat mengecat. Adapun data laporan produksi tersebut terlampir pada tabel di bawah ini. Tabel 1. Laporan Produksi Stan Kontainer di Bengkel Las Utama Perkasa periode November 2022-April 2023 Jenis cacat Jumlah Jumlah Tahun Bulan Cacat Pengelasan Pengecatan November Desember Januari Februari Maret April Total Sumber: Data di Bengkel Las Utama Perkasa METODE PENELITIAN Dalam penelitian ini menggunakan metode FMEA dengan mengidentifikasi kesalahankesalahan yang menyebabkan cacat produk dan mengidentifikasi prioritas perbaikan kegagalan. Pada tahap ini dilakukan analisis terhadap penyebab kegagalan yang menyebabkan cacat pada proses produk stan kontainer. Pengolahan data menggunakan metode FMEA ini akan dilakukan dengan empat tahapan, yang pertama adalah menentukan rating keparahan, yang kedua adalah menentukan rating kejadian, yang ketiga adalah menentukan rating deteksi, dan terakhir adalah menghitung nilai RPN. Terdapat tiga proses variabel utama dalam FMEA (Failure Mode and Effect Analysi. yaitu Severity. Occurance, dan Detection. Ketiga proses ini berfungsi untuk menentukan nilai rating keseriusan pada Potential Failure Mode. Untuk menentukan prioritas dari suatu bentuk kegagalan maka FMEA (Failure Mode And Effect Analysi. harus didefinisikan terlebih dahulu tentang Severity. Occurrence. Detection, serta hasil akhirnya yang berupa Risk Priority Number (RPN). Setiap mode kegagalan dievaluasi menggunakan tiga parameter, yaitu keparahan . everity Ae S), kemungkinan terjadinya . ccurrence Ae O), dan kemungkinan kegagalan deteksi . etection Ae D). Ketiga parameter itu kemudian digabungkan untuk menentukan signifikansi dari setiap modus kegagalan. Gabungan dari tiga parameter tersebut dikenal dengan Angka Prioritas Risiko (Risk Priority Number Ae RPN). Risk Priority Number (Angka Prioritas Risik. digunakan untuk mengurutkan tingkat kegagalan yang terjadi terhadap produk atau proses, selain fungsi tersebut nilai RPN tidak ada artinya. Severity adalah langkah pertama untuk menganalisis resiko yaitu menghitung seberapa a. http://bajangjournal. com/index. php/JCI JCI Jurnal Cakrawala Ilmiah Vol. No. Juli 2023 besar dampak/intensitas kejadian mempengaruhi output proses. Dampak tersebut diranking mulai 1 sampai 10. Tabel 2. Nilai Severity Ranking Kriteria (Negligible Severit. Pengaruh buruk yang dapat diabaikan. Kita tidak perlu memikirkan bahwa akibat ini akan berdampak pada kualitas Konsumen akhir mungkin tidak akan memperhatikan kecacatan ini. (Mild Severit. Pengaruh buruk yang ringan. Akibat yang timbul hanya bersifat ringan. Konsumen akhir tidak akan merasakan penurunan (Moderate Severit. Pengaruh buruk yang moderat. Konsumen akhir akan merasakan penurunan kualitas, namun masih dalam batas (High Severit. Pengaruh buruk yang tinggi. Konsumen akhir akan merasakan akibat buruk yang tidak akan diterima, berada diluar batas (Potential Saverity Problem. Masalah keamanan potensial. Akibat yang ditimbulkan berpengaruh terhadap kualitas lain. Konsumen tidak akan Sumber : Adopsi dari 5 Occurence adalah kemungkinan seberapa sering tingkat kegagalan suatu produk atau proses terjadi. Tingkat kejadian . dinilai berjenjang mulai dari rating 1 sampai Dimana untuk nilai Rating 1 memiliki kasus yang tidak mungkin terjadi sedangkan untuk nilai rating 10 memiliki kasus yang sering terjadi dan tidak bisa dihindari. Tabel 3. Nilai Occurrence Degree Berdasarkan frekuensi pada Rating Remote 0,01 per 1000 item Low 0,1 per 1000 item 0,5 per 1000 item 1 per 1000 item 2 per 1000 item 5 per 1000 item 10 per 1000 item 20 per 1000 item Moderate High a. http://bajangjournal. com/index. php/JCI JCI Jurnal Cakrawala Ilmiah Vol. No. Juli 2023 Very High 50 per 1000 item 100 per 1000 item Sumber : Adopsi dari 5 Detection merupakan penilaian kinerja kontrol yang dapat mengungkap kesalahan dalam kinerja suatu proses. Dapat diketahui bahwa skala penilaian detection 1-10 seperti contoh dibawah ini. Identifikasi metode-metode yang diterapkan untuk mencegah atau mendeteksi penyebab dari mode kegagalan. Tabel 4. Nilai Detection Rating Kriteria Metode pencegahan sangat efektif. Tidak ada Kesempatan bahwa penyebab mungkin muncul. 0,01 per 1000 item Kemungkinan penyebab terjadi sangat rendah. 0,1 per 1000 item 0,5 per 1000 item Kemungkinan penyebab terjadi bersifat moderat. Metode pencegahan kadang memungkinkan penyebab itu terjadi. Berdasarkan pada frekuensi kejadian 1 per 1000 item 2 per 1000 item 5 per 1000 item Kemungkinan penyebab terjadi masih tinggi. Metode pencegahan kurang efektif, penyebab masih berulang Kemungkinan penyebab terjadi sangat tinggi. Metode pencegahan tidak efektif, penyebab selalu berulang 10 per 1000 item 20 per 1000 item 50 per 1000 item 100 per 1000 item Sumber : Adopsi dari 6 Diagram pareto Merupakan metode dalam mengorganisasikan kesalahan, atau cacat untuk membantu fokus atau usaha penyelesaian masalah. Diagram Pareto digunakan untuk menerangkan kondisi yang terjadi terhadap jenis cacat produk dari yang terbesar sampai yang terkecil serta jumlah cacat pada tiap jenis kecacatan yang terjadi dan persentase kumulatif cacat 6 Hal Ini bisa membantu mengidentifikasi masalah paling mendesak yang perlu diselesaikan . rutan tertingg. hingga masalah yang tidak harus segera diselesaikan . ilai Bagan pareto juga dapat digunakan untuk mengidentifikasi masalah terpenting yang mempengaruhi peningkatan kualitas. Diagram sebab-akibat Untuk menganalisa dan mengorganisir kemungkinan penyebab yang berpotensi a. http://bajangjournal. com/index. php/JCI JCI Jurnal Cakrawala Ilmiah Vol. No. Juli 2023 timbul dari suatu efek spesifik dan memisahkan akar penyebabnya digambarkan di grafik tulang ikan, yang kemudian membantu mengidentifikasi akar penyebab masalah dan membantu menemukan solusi untuk masalah tersebut. Pada penelitian ini digunakan untuk mengetahui penyebab terjadinya jenis kecacatan pada saat produksi stan kontainer di bengkel las mulia utama perkasa. Maka dengan adanya penelitian ini dilakukanlah proses upaya penurunan produk cacat dengan menggunakan metode Failure Mode and Effect Anlysis (FMEA). FMEA adalah suatu prosedur terstruktur untuk mengidentifikasi dan mencegah sebanyak mungkin mode kegagalan atau kecacatan yang digunakan untuk mengidentifikasi sumber-sumber dan akar penyebab dari suatu masalah kualitas dengan memperhatikan pengukuran terhadap besarnya nilainya yaitu Severity. Occurance,dan Detection. HASIL DAN PEMBAHASAN Berdasarkan hasil observasi dan pengamatan secara langsung dilapangan, jenis produk yang akan dijadikan sebagai objek dalam penelitian ini, yaitu kualitas produk stan kontainer dalam hal proses pengelasan dan pengecatan. Data yang dikumpulkan untuk digunakan dalam pengolahan data merupakan data total produksi dan data total cacat. Data tersebut diperoleh dari data historis perusahaan selama 6 bulan, yaitu dari bulan November 2022 hingga bulan April 2023. Berikut ini merupakan data yang dikumpulkan untuk digunakan dalam pengolahan data, yang meliputi jenis-jenis cacat pada pengelasan dan pengecatan pada proses produk stan kontainer yang terjadi di Bengkel Las Utama Perkasa periode November 2022-April 2023. Tabel 5. Data jenis cacat pengelasan dan pengecatan Jenis Cacat Jenis Cacat Pengelasan Pengecatan No. Bulan Total Welding Welding Bitik Spatter Sag/Meleleh Tembus Meleset 1 November 2 Desember 3 Januari 4 Februari 5 Maret 6 April Total Cacat Sumber: Data di Bengkel Las Utama Perkasa Pada Tabel 5 jenis cacat tertinggi terdapat pada pengelasan dan pengecatan proses produksi stan kontainer adalah Welding Tembus berjumlah 9. Spatter berjumlah 5. Welding Meleset berjumlah 3. Cat Meleleh berjumlah 4 dan Cat Berbintik berjumlah 6. Jenis cacat pada pengelasan dan pengecatan dikarenakan produk tersebut tidak sesuai dengan standar yang Hasil data yang dikumpulkan baik data primer ataupun sekunder, data tersebut dikelola menggunakan analisa diagram pareto untuk mengatasi penyelesaian masalah yang Sehingga dapatlah data mana saja yang diprioritas pada masalah baik data yang tertinggi maupun yang terendah pada proses pengelasan dan pengecatan dari November 2022-April a. http://bajangjournal. com/index. php/JCI JCI Jurnal Cakrawala Ilmiah Vol. No. Juli 2023 Penentuan Jenis Cacat Dominan Untuk menentukan jenis cacat paling dominan yang sering terjadi, dilakukan dengan menggunakan diagram pareto yang berasal dari data yang telah dikumpulkan. Berikut ini merupakan hasil pengolahan data persentase cacat dan kumulatif pada proses produksi stan kontainer di Bengkel Las Utama Perkasa periode November 2022-April Tabel 6. Data Persentase Cacat dan kumulatif Jumlah No. Jenis Cacat % Cacat % Kumulatif Cacat Welding 33,33% 33,3% Tembus Spatter 18,52% 51,9% Welding 11,11% 63,0% Sag/Meleleh 14,81% 77,8% Bimtik kasar 22,22% 100,0% Total 100,00% Sumber : Pengolahan data, 2023 Berdasarkan hasil pengolahan data yang terdapat pada Tabel 4. 5, selanjutnya dilakukan analisis menggunakan diagram pareto untuk mengetahui jenis cacat paling dominan yang sering terjadi. Secara teori, prinsip diagram pareto yang digunakan dalam analisis ini adalah 80/20 yaitu dengan menyelesaikan 20% dari penyebab masalah diharapkan menyelesaikan 80% dari masalah lainnya atau jenis cacat lainnya. Dibawah ini merupakan diagram Paretto jenis-jenis cacat pada pengelasan dan pengecatan produksi stan kontainer. Gambar 2. Diagram Paretto jenis cacat pada pengelasan dan pengecatan Sumber : Pengolahan data, 2023 Berdasarkan diagram pareto pada Gambar 4. 3 dapat terlihat ada dua jenis cacat terbesar atau paling dominan yang memiliki tingkat presentase diatas 20%. Maka dari keseluruhan jenis-jenis cacat tersebut diketahui jenis cacat paling dominan yang paling sering terjadi ,antara lain yaitu : Welding tembus pada proses pengelasan dengan presentase 33% dan Bintik kasar pada proses pengecatan dengan presentase 22. Berdasarkan hasil presentase cacat dominan, maka perbaikan utama difokuskan pada kedua jenis cacat a. http://bajangjournal. com/index. php/JCI JCI Jurnal Cakrawala Ilmiah Vol. No. Juli 2023 Diagram Sebab Akibat (Fishbon. Setelah sudah mengetahui jenis cacat yang paling dominan, yaitu welding tembus pada proses pengelasan dan bintik kasar pada proses pengecatan, selanjutnya mengidentifikasi mode kegagalannya dengan bantuan diagram sebab akibat (Fishbon. Mode kegagalan merupakan apa saja yang mengakibatkan terjadinya cacat pada proses pengelasan dan pengecatan pada produk stan kontainer. Dari mode kegagalan potensial tersebut akan diketahui faktor apa yang menjadi penyebab cacat welding tembus dan cacat bintik kasar, efek yang ditimbulkan dari mode kegagalan potensial dan kemungkinan penyebab masalahnya. Berikut ini merupakan analisis jenis cacat welding tembus dan cacat bintik kasar pada pengecatan dengan menggunakan diagram sebab akibat : Gambar 3. Diagram sebab-akibat jenis cacat welding tembus Dari diagram sebab-akibat pada Gambar 3 diketahui beberapa faktor penyebab welding tembus terjadi pada saat produksi produk stan kontainer, diantaranya yaitu dari faktor manusia disebabkan oleh pekerja kurang konsentrasi dalam bekerja karena terlalu Pada faktor material disebabkan oleh kualitas bahan besi hollow terlalu tipis sehingga mudah berlubang saat pengelasan. Pada faktor mesin atau alat disebabkan oleh arus las yang terlalu tinggi dikarenakan arus mesin las tidak stabil. http://bajangjournal. com/index. php/JCI JCI Jurnal Cakrawala Ilmiah Vol. No. Juli 2023 Gambar 4. Diagram sebab-akibat jenis cacat bintik kasar Dari diagram sebab akibat pada Gambar 4 diketahui beberapa faktor penyebab cacat bintik kasar pada pengecatan terjadi pada saat produksi produk stan kontainer, diantaranya yaitu dari faktor manusia disebabkan oleh pekerja yang kurang berpengalaman dalam menggunakan spraygun. Pada faktor material disebabkan oleh pada benda kerja yang akan di cat terdapat white trust atau karat yang tebal di besi hollow yang tidak dibersihkan dengan Pada faktor mesin atau alat disebabkan oleh spraygun tidak dapat disetel dengan baik dikarenakan banyak cat sisa atau gumpalan yang menempel pada spraygun yang kotor. Metode FMEA (Failure Mode and Effect Analysi. Setelah melakukan analisis dengan perhitungan presentase cacat yang digambarkan di diagram pareto dan menganalisis menggunakan diagram fishbone selanjutnya adalah menentukan besarnya nilai severity, occurrence dan detection ditentukan nilainya oleh pihak-pihak yang terkait dengan proses produksi. Penentuan nilai yang akan diberikan mengacu pada teori yang terdapat pada Tabel 2 severity. Tabel 3 Occurrence, dan Tabel 4 Detection. Hasil dari penentuan nilai severity, occurrence, dan detection yang telah diberikan oleh masing-masing pihak terkait, analisis mengacu pada dua jenis cacat yang dominan yaitu welding tembus dan bintik kasar. http://bajangjournal. com/index. php/JCI JCI Jurnal Cakrawala Ilmiah Vol. No. Juli 2023 Tabel 7. Analisa FMEA (Failure Mode and Effect Analysi. Hasil Penilaian Severity. Occurrence. Detection dan Risk Priority Number (RPN) Prose Jenis Failure Effect of Cause of Control Cacat Mode Failure Failure Hasil Melakukan Arus las Mesin las n tidak tidak stabil pada trafo Jarak elek Pekerja Pekerja Istirahat Penge Weldin yang cukup (Weld Tembu base metal Benda Besi Kualitas Menggunaka n bahan yang lebih Terdapat Spraygun Pembersiha Semburan sisa cat cat tidak n spraygun lama atau sebelum dan menjani 5 gumpalan 4 Spraygun yang kotor Material Melakukan Prepare Penge Hasil catan Bintik n yang bagus n sebelum (Pain Kasar white trust 5 pada benda 4 100 n menjadi Output cat Pelatihan Pekerja Pekerja berupa teori tidak bisa 3 dan praktek 4 36 pekerja baru Sumber : Pengolahan Data , 2023 Dari data hasil analisa FMEA (Failure Mode and Effect Analysi. tersebut didapatkan nilai RPN (Risk Priority Numbe. dari mulai yang terbesar sampai yang terkecil. Terdapat a. http://bajangjournal. com/index. php/JCI JCI Jurnal Cakrawala Ilmiah Vol. No. Juli 2023 tiga mode kegagalan pada jenis cacat welding tembus dan terdapay tiga mode kegagalan pada cacat bintik kasar. Nilai RPN diperoleh dari hasil perkalian antara nilai severity, occurance, dan detection. Berdasarkan perhitungan perkalian dari hasil penilaian severity, occurance, dan detection nilai RPN tertinggi yaitu cacat welding tembus pada proses pengelasan dengan mode kegagalan arus las yang tinggi, dengan perhitungan S x O x D = 8 x 7 x 7 = 392. Kemudian dilakukan perbaikan dengan tujuan untuk mengurangi cacat pada proses pengelasan dan cacat pengecatan pada proses produksi stan kontainer di Bengkel las mulia utama perkasa. Adapun usulan perbaikan yang dapat dilakukan untuk melakukan proses perbaikan berdasarkan hasil analisa FMEA (Failure Mode and Effect Analysi. adalah sebagai Tabel 8. Usulan Perbaikan No. Proses Arus las terlalu Pengelasan Mode Kegagalan Pengecatan Penyebab kegagalan Trafo las tidak stabil yang menjadikan arus las menjadi tinggi Usulan Perbaikan Perbaikan pada mesin las secara berkala, dan pengecekan rutin pada kabel stang las dan kabel massa. Besi hollow terlalu Spraygun cat tidak dapat disetel dengan baik Pekerja terlalu kelelahan karena tidak menjaga kondisi Kualitas material kurang bagus. Terdapat sisa cat lama atau gumpalan pada Spraygun yang kotor Material besi hollow white trust atau berkarat tebal Prepare benda kerja sebelum pengecatan kurang bersih. Membersihkan benda kerja sebelum pengecatan dengan cara menggosok menggunakan gerinda halus dan lap kain kering. Pekerja kurang Pekerja tidak bisa menyetel spraygun Pelatihan berupa teori dan praktek kepada pekerja baru Pekerja kurang Istirahat yang cukup sebelum Menggunakan material besi hollow yang lebih tebal. Pembersihan spraygun sebelum dan sesudah proses pengecatan. Sumber : Pengolahan Data , 2023 Terdapat usulan perbaikan yang didasarkan dari hasil analisis menggunakan metode FMEA. Adapun usulanperbaikan yang dilakukan terhadap penyebab permasalahan yang mengakibatkan kecacatan pada proses produk stan kontainer yang bertujuan untuk membantu mengatasi masalah yang ada agar dapat diatasi dengan tepat dan memperbaiki pengendalian kualitas yang ada di bengkel las mulia utama perkasa. KESIMPULAN Berdasarkan hasil analisis menggunakan metode FMEA terkait pengendalian kualitas produk stan kontainer yang ada di bengkel las mulia utama perkasa, maka dapat ditarik tiga poin kesimpulan dari tujuan penelitian yang pertama yaitu Jenis cacat pada proses produksi stan kontainer di Bengkel Las Mulia Utama yaitu welding tembus dalam pengelasan dengan presentase 33. 33% dan dalam pengecatan Bintik kasar dengan presentase 22. Penyebab terjadinya kecacatan pada proses produksi stan kontainer di Bengkel Las Mulia Utama yaitu dari segi mesin/alat dan pekerja, dari segi mesin dikarenakan kurangnya a. http://bajangjournal. com/index. php/JCI JCI Jurnal Cakrawala Ilmiah Vol. No. Juli 2023 perawatan pada mesin las maupun alat pengecatan. pray gu. sedangkan dari segi pekerja dikarenakan kurangnya konsentrasi dan kurangnya pegalaman cara penggunaan alat/mesin yang kurang benar. Berdasarkan hasil analisis yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa dari beberapa jenis cacat yang di dapatkan pada proses pengelasan dan pengecatan produk stan kontainer diperoleh jenis cacat dengan nilai RPN tertinggi yaitu cacat welding tembus pada mode kegagalan arus las yang tinggi sebesar 392 yang didapat dari hasil perkalian nilai severity 8, nilai occurance 7 dan nilai detection 7. Penyebab tingginya cacat welding tembus dari faktor mesin yaitu arus trafo las yang tidak stabil karena kurangnya perawatan perbaikan berkala pada trafo las. DAFTAR PUSTAKA