Jurnal Kesehatan Terpadu (Integrated Health Journa. Vol. 15 No. November 2024 . ISSN 1978-7766 (Prin. and ISSN 2597-9566 (Onlin. Journal homepage: https://w. com/index. php/JKT Studi Kualitatif Permasalahan Ketersediaan Tenaga Kesehatan Pada Puskesmas Di Provinsi Maluku Qualitative Study of The Problem of Health Worker Availability In Puskesmas In Maluku Province Saidah Rauf1. Lisbeth Pattinasarany2. Betty Anthoineta Sahertian3. Hairudin Rasako4. Rony Alexander Latumenasse1. Santi Aprilian Lestaluhu5 Jurusan Keperawatan. Poltekkes Kemenkes Maluku. Ambon. Indonesia Dinas Kesehatan Provinsi Maluku. Ambon. Indonesia Jurusan Kebidanan. Poltekkes Kemenkes Maluku. Ambon. Indonesia Jurusan Kesehatan Lingkungan. Poltekkes Kemenkes Maluku. Ambon. Indonesia Jurusan Gizi. Poltekkes Kemenkes Maluku. Ambon. Indonesia E-mail: saidahrauf@poltekkes-maluku. ABSTRACT The Indonesian Ministry of Health's Medium-Term National Development Plan aims to ensure the availability of nine types of basic health workers in at least 83% of Puskesmas by 2024. However, the achievement in Maluku Province is far from the target . %). This study aims to examine the experiences of health worker placements in Puskesmas in Maluku Province. A qualitative research design was employed, with data collected through in-depth interviews. The factors contributing to the shortage of healthcare personnel in public health centers (Puskesma. include issues related to information systems healthcare workforce, economic factors, security and facilities, as well as factors of burnout and the imbalance in the production of healthcare personnel. The study concludes that the low availability of health workers in Puskesmas in Maluku is primarily caused by factors such as uneven distribution, lack of interest in serving remote areas, and issues related to data systems and technical competencies. It is recommended that the government enhance data systems and synchronization between health offices and Puskesmas, improve the equitable distribution of health workers, and provide incentives and training to improve the competencies and retention of health workers in remote areas of Maluku Province. Keywords: Maluku, health worker, goverment ABSTRAK Salah satu Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional Bidang Kesehatan (RPJMN) adalah tersedianya 9 jenis tenaga kesehatan dasar di Puskemas sebanyak minimal 83% pada tahun 2024. Namun, capaian di Provinsi Maluku masih jauh dari target . %). Tujuan. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengalaman penempatan kerja tenaga kesehatan pada Puskesmas pada Kabupaten/Kota di Provinsi Maluku. Metode. Penelitian dilakukan dengan menggunakan metode kualitatif. Data dikumpulkan dengan cara wawancara mendalam pada tiga kelompok informan yaitu kepala Dinas Kesehatan/Kepala Bidang Sumber Daya Kesehatan (SDK) Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota. Kepala Puskemas, serta Tenaga Kesehatan . yang bertugas di Puskesmas pada 3 Kabupaten di Provinsi Maluku. Hasil. Faktor yang menjadi penyebab permasalahan kekurangan tenaga kesehatan di Puskesmas faktor sistem informasi, faktor tenaga kesehatan, faktor ekonomi, kemaamanan, dan fasilitas, serta faktor kejenuhan dan ketidakseimbangan jumlah produksi tenaga kesehatan. Simpulan. Rendahnya ketersediaan tenaga kesehatan di Puskesmas Provinsi Maluku disebabkan oleh faktor-faktor seperti distribusi yang tidak merata, rendahnya minat tenaga kesehatan untuk mengabdi di daerah terpencil, dan masalah terkait sistem informasi serta kompetensi teknis tenaga kesehatan. Saran. Pemerintah agar meningkatkan sistem informasi dan sinkronisasi data antara Dinas Kesehatan dan Puskesmas, memperbaiki distribusi tenaga kesehatan secara merata, serta memberikan insentif dan pelatihan untuk meningkatkan kompetensi dan retensi tenaga kesehatan di DTPK di Provinsi Maluku. Kata kunci: Maluku, tenaga kesehatan, goverment Jurnal Kesehatan Terpadu (Integrated Health Journa. Vol. 15 No. November 2024 . ISSN 1978-7766 (Prin. and ISSN 2597-9566 (Onlin. Journal homepage: https://w. com/index. php/JKT PENDAHULUAN Rendahnya ketersediaan tenaga kesehatan khususnya di DTPK masih menjadi permasalahan kesehatan di Indonesia 1. Pemerintah Indonesia, baik pusat maupun daerah telah melalukan pembenahan, namun tidak dapat dipungkiri bahwa dari sisi sumber daya yang tersedia, jumlah tenaga kesehatan masih terkonsentrasi pada daerah tertentu termasuk pada fasilitas pelayanan kesehatan primer yaitu Puskesmas1,2. Berdasarkan data dari Direktorat Jenderal Tenaga Kesehatan Kementerian Kesehatan RI, hingga tahun 2023 terdapat sebanyak 450 Puskesmas di Indonesia. Lebih dari setengah jumlah tersebut . ,5 %) belum memiliki tenaga kesehatan lengkap. Lima Provinsi di Indonesia yakni Papua. Nusa Tenggara Timur. DKI Jakarta. Maluku, dan Papua Barat adalah Provinsi yang memiliki Puskesmas dengan tenaga kesehatan tidak lengkap terbanyak3. Penilaian kelengkapan tenaga kesehatan di Puskesmas di dasarkan pada Peraturan Menteri Kesehatan (PMK) Nomor 43 Tahun 2019 tentang Puskesmas4. Aturan ini mensyaratkan ketersediaan sembilan jenis tenaga kesehatan dasar yaitu dokter, dokter gigi, perawat, bidan, tenaga kefarmasian, analisis kesehatan, tenaga kesehatan lingkungan, tenaga gizi, tenaga kesehatan masyarakat, dan Ahli Tenaga Laboratorium Medik (ATLM) di setiap Puskesmas4. Jenis tenaga kesehatan ini diharapkan terpenuhi baik dari sisi jumlah maupun kualitas agar Puskesmas dapat memberikan pelayanan kesehatan yang optimal kepada masyarakat2,5. Optimalisasi tenaga kesehatan merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan ketersediaan, distribusi dan kualitas tenaga kesehatan seperti yang diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 47 Tahun 2016 tentang Pelayanan Kesehatan 6. PP Nomor 67 Tahun 2019 tentang Pengelolaan Tenaga Kesehatan 7 dan PMK Nomor 43 Tahun 2019 tentang Puskesmas. Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) bahkan mentargetkan kelengkapan jenis tenaga kesehatan di Puskemas ini pada angka 83% di tahun 20248. Dengan demikian. Indonesia masih perlu mengejar kelengkapan tenaga kesehatan hingga 25% di Puskesmas agar dapat mencapai target tersebut3,8, khususnya di Provinsi dengan kekurangan tenaga kesehatan di Puskesmas terbanyak, salah satunya di Provinsi Maluku3. Provinsi Maluku terletak di bagian timur Indonesia dan terdiri dari wilayah kepulauan yang luas dimana banyak diantaranya merupakan DTPK yang minim fasilitas dan tenaga kesehatan3,9. Secara keseluruhan. Provinsi Maluku memilik 242 puskesmas dengan distribusi dan jumlah yang bervariasi pada sebelas Kabupaten/Kota. Namun, berdasarkan data Dinas Kesehatan Provinsi Maluku per September 2023, kelengkapan 9 jenis tenaga kesehatan hanya tersedia pada 12% Puskesmas yang beroperasi di Provinsi ini10,11. Ketidaklengkapan tenaga kesehatan lebih banyak ditemukan pada kabupaten dengan Area DTPK yang cukup banyak dibandingkan pada area perkotaan12. Kekurangan tenaga kesehatan di Puskesmas telah terbukti sangat berdampak terhadap penurunan kinerja tenaga kesehatan dan kualitas pelayanan kepada masyarakat13Ae15. Beberapa faktor yang dilaporkan menjadi penyebab rendahnya ketersediaan dan tingkat retensi tenaga kesehatan di Puskesmas area DTPK atau pedesaan, khususnya di wilayah kepulauan adalah kurangnya jaminan keselamatan, kondisi hidup yang kurang memadai, rendahnya insentif keuangan, dan rendahnya peluang pengembangan karir16. Hasil yang serupa juga dilaporkan pada penelitian yang dilakukan pada dokter yang bertugas di fasilitas pelayanan kesehatan di Provinsi Maluku12. Namun, umumnya studi tentang ketersediaan tenaga kesehatan di Maluku masih difokuskan pada jenis atau profesi kesehatan tertentu12,17, sehingga kajian tentang pengalaman atau perspektif tentang permasalahan kronis kekurangan tenaga kesehatan di Puskesmas Provinsi Maluku jelas diperlukan. Penelitian ini bertujuan untuk menilai secara mendalam tentang pengalaman personal dan permasalahan penempatan tenaga kesehatan di Puskesmas yang ada di Provinsi Maluku dengan mewawancarai bukan hanya tenaga kesehatan namun juga pengambil kebijakan di Jurnal Kesehatan Terpadu (Integrated Health Journa. Vol. 15 No. November 2024 . ISSN 1978-7766 (Prin. and ISSN 2597-9566 (Onlin. Journal homepage: https://w. com/index. php/JKT daerah yang berkaitan dengan penempatan tenaga kesehatan di wilayahnya. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi yang komprehensif tentang permasalahan kekurangan tenaga kesehatan di Puskesmas Provinsi Maluku. METODE PENELITIAN Penelitian ini dilakukan dengan metode kualitatif menggunakan pendekatan fenomenologi untuk menilai pengalaman dan permasalahan penempatan tenaga kesehatan Puskesmas di Provinsi Maluku. Penelitian dilakukan selama empat bulan yaitu Agustus Ae November 2023. Lokasi pengumpulan data dilakukan pada tiga kabupaten yaitu Kabupaten Buru. Kabupaten Seram Bagian Barat (SBB), dan Kabupaten Maluku Tenggara (Malr. sebagai perwakilan tiga kepulauan besar dan kecil di Provinsi Maluku yaitu Pulau Seram. Pulau Buru, dan Kepulauan Kei dengan tenaga kesehatan di Puskesmas yang belum memenuhi kelengkapan 9 jenis tenaga kesehatan. Informan penelitian ini adalah Kepala Dinas Kesehatan/Kepala Bidang SDM Kabupaten dan Kepala Puskesmas. Beberapa nakes yang jenis profesinya teridentifikasi jumlahnya belum memenuhi 9 jenis tenaga di Puskesmas juga diwawancara dengan menggunakan pedowan Pengumpulan data dilakukan dengan cara wawancara mendalam . n deepth intervie. Peneliti melakukan wawancara secara lansung baik luring maupun daring sesuai ketersediaan waktu dan lokasi. Wawancara dilakukan oleh tiga orang peneliti yang telah dilatih dan memiliki pengalaman sebelumnya. Selanjutnya, untuk menjamin keabsahan data penelitian dilakukan proses triangulasi data dengan observasi dan juga membandingkan informasi tenaga kesehatan dengan informan lainnya yang mewakili pengambil kebijakan di Dinas Kesehatan Provinsi Maluku maupun Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota, serta data profil tenaga kesehatan yang tersedia di Kementerian Kesehatan3 maupun Bidang Sumber Daya Manusia Kesehatan Dinas Kesehatan Provinsi Maluku10. Hasil wawancara kemudian dilakukan transkripsi oleh tenaga professional. Data selanjutnya dianalisis menggunakan softwere Open Code untuk menentukan kategori dan tema sesuai dengan coding yang ditemukan. HASIL Penelitian ini menemukan sebanyak empat tema tentang permasalahan ketersediaan tenaga kesehatan pada Puskesmas di Provinsi Maluku yang menjadi penyebab belum terpenuhinya 9 jenis tenaga kesehatan di Puskesmas. Adapun empat tema tersebut adalah faktor sistem informasi data dan manajemen SDMK Puskesmas, faktor tenaga kesehatan, faktor ekonomi, fasilitas, dan keamanan, serta dan kejenuhan dan ketidakseimbangan jumlah produksi tenaga kesehatan dan institusi pendidikan. Faktor sistem informasi data dan manajemen SDMK Puskesmas Faktor sistem dan manajemen tata kelola Puskesmas terbentuk dari dua kategori yaitu. belum optimalnya sinkronisasi data antara Dinas Kesehatan Provinsi/Kabupaten/Kota dengan data Puskesmas dan masalah distribusi. Belum optimalnya sinkronisasi data antara Dinas Kesehatan Provinsi/Kabupaten/Kota dengan data Puskesmas Secara umum, data penyebaran tenaga kesehatan di Provinsi Maluku yang diperoleh dari Dinas kesehatan Provinsi Maluku 10 sudah sesuai dengan data faktual yang ada di Dinas Kesehatan Kabupaten dan Puskesmas. Namun, saat observasi dan wawancara di lapangan masih ditemukan Kabupaten yang memiliki satu Puskesmas dengan data jumlah tenaga kesehatan tertentu tidak sesuai atau belum sinkron dengan data sekunder yang tersedia dari Dinas Kesehatan. Jurnal Kesehatan Terpadu (Integrated Health Journa. Vol. 15 No. November 2024 . ISSN 1978-7766 (Prin. and ISSN 2597-9566 (Onlin. Journal homepage: https://w. com/index. php/JKT AuA. Jumlah data dokter ada dua itu di awal tahun, dari dua bulan yang satu sudah pindah, tinggal satu saja sekarangAy (Informan . Di sisi lain, persoalan yang ditemukan adalah penyediaan tenaga kesehatan berdasarkan keahlian atau profesi juga belum sesuai dengan kebutuhan dari Puskesmas. Aukadang-kadang yang kami minta itu tenaga perawat, tapi yang datang dalam jumlah banyak itu malah tenaga bidan. Akhirnya jumlah bidan di sini sudah berlebihan dibandingkan yang kami butuhkanAy (Informan . AuKalau penerimaan pegawai di puskesmas itu, hanya perawat-bidan, perawat bidan, sementara tenaga analis itu masih sangat kurangAy (Informan . Masalah distribusi Masalah distribusi merupakan salah satu faktor penyebab belum tercapainya 9 tenaga kesehatan di seluruh Puskesmas yang ada pada Kabupaten/Kota Provinsi Maluku. Tenaga kesehatan yang tersedia di Puskesmas seperti perawat dan bidan terindentifikasi jumlahnya berlebihan di Puskesmas tertentu, sementara di Puskesmas berbeda pada Kabupaten yang sama, tenaga kesehatan tersebut tidak tersedia atau belum terpenuhi. AuKita punya tenaga itu banyak sampai 70. Tapi bidan banyak, tenaga kesling hanya satu. Akhirnya beban kerja tinggi untuk jenis tenaga yang kurangAy (Informan . Saat perencanaan dan penerimaan pegawai, distribusi tenaga kesehatan telah diupayakan sesuai dengan kebutuhan puskesmas. Namun, setelah penempatan seringkali terjadi permintaan mutasi maupun adanya tenaga kesehatan titipan. Aukadang-kadang ada nakes-nakes titipan padahal jenis profesi tenaga kesehatannya sudah banyak tersedia di siniAy ((Informan . Hal lain yang terungkap dalam wawancara oleh beberapa informan yaitu: AuDi beberapa puskesmas misalnya, itu kan terjadi penampukan di situ. Karena sebenarnya ada juga mereka yang SK-nya itu ada di tempat terpencil, tempat daerah sulit. Tapi kemudian minta pindahAy (Informan . AuTapi biasanya itu pada saat yang penempatan ada yang pindah itu. Itu ada keinginan yang biasanya ingin pindah. Lalu kita melakukan analisis kalau dikeluarkan dari tempat itu bagaimana. Maksudnya jika disitu dipindahkan jadinya bermasalah kan dengan ketenagaanAy (Informan . Faktor Tenaga Kesehatan Retensi rendah Pada beberapa Puskesmas, terkadang ditemukan fluktuasi jumlah tenaga yang cukup Hal ini akibat retensi tenaga kesehatan yang rendah. AuDokter kami tinggal satu sekarang, tapi rencananya akhir tahun ini juga katanya mau minta pindah, katanya mau ikut keluargaAy (Informan . Beberapa informan juga menyatakan bahwa retensi yang rendah umumnya terjadi pada tenaga kesehatan yang bukan PNS misalnya hanya tenaga kontrak. Mereka juga mengatakan bahwa biasanya tenaga kesehatan mengajukan pindah bukan hanya karena alasan keluarga namun juga karena ingin melanjutkan pendidikan atau meningkatkan karir. Beberapa informan tenaga kesehatan yang diwawancarai juga menyatakan keinginananya untuk mutasi dari Puskesmas tempat mereka mengabdi saat ini. Jurnal Kesehatan Terpadu (Integrated Health Journa. Vol. 15 No. November 2024 . ISSN 1978-7766 (Prin. and ISSN 2597-9566 (Onlin. Journal homepage: https://w. com/index. php/JKT AuTidak mau di sini seterusnya. Planning lainnya saya ingin melanjutkan sekolah. Kalau sudah melanjutkan sekolah kan otomatis tidak di sini lagiAy (Informan . AuSaya tidak mau selamanya kerja di sini, pengennya pindah di BNN atau lanjut sekolah lagiAy (Informan . AuTidak ingin terus di sini. Mau pindah ke tempat yang lebih baikAy (Informan . Beban kerja tinggi Tidak meratanya atau tidak terpenuhinya 9 jenis tenaga kesehatan di Puskesmas menyebabkan beban kerja yang tinggi pada tenaga kesehatan, khususnya yang jumlahnya sangat kurang. AuA. Akhirnya beban kerja tinggi bagi tenaga kesehatan yang kurang (Informan Beberapa informan tenaga kesehatan menyatakan kewalahan melayani pasien. Seperti kutipan di bawah ini: AuKami kewalahan, pasien banyak tapi hanya sendiri yang melayaniAy (Informan Sementara itu, bagi tenaga kesehatan yang berlebihan malah tidak kebagian pekerjaan yang rentan menimbulkan kecemburuan yang berpotensi konflik di antara sesama tenaga kesehatan kesehatan Puskesmas. AuMisalanya saya sementara lakukan pelayanan sementara tenaga yang lain hanya duduk saja dan bercerita tidak membantuAy (Informan . Tidak tertarik Penelitian ini menemukan bahwa faktor lainnya yang menyebabkan tidak terpenuhinya 9 jenis tenaga kesehatan di puskesmas adalah tenaga kesehatan tidak tertarik atau tidak berminat untuk mengabdi di Puskesmas Kabupaten/Kota di Provinsi Maluku. Temuan ini terungkap pada wawancara yang dilakukan pada informan Kepala Dinas Kesehatan/Kepala Bagian SDM di Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota. AuSejak dua tahun yang lalu kami sudah membuka formasi P3K untuk tenagatenaga yang kami butuhkan misalanya dokter gigi, namun pendaftaran itu kan pakai aplikasi saja, jadi pemilihan lokasi atau tempat kerja itu sesuai keinginan Kita buka formasi banyak, tapi tidak ada yang daftarAy (Informan . AuKami membuka formasi untuk dokter umum sebanyak 6 orang, yang mendaftar hanya satu orangAy (Informan . Hasil wawancara dengan informan tenaga yang tenaganya masih kurang juga mendukung pernyataan ini: AuSaya pernah ajak teman-teman dokter gigi untuk ke sini kerja, cuman mereka lebih memilih di Jakarta karena daerahnya bagi mereka terlalu terpencil. Jadi padahal sudah presentasi soal gaji dan suasana keadaan di sini gimana tapi ya itu tetap jawaban mereka ya wilayahnya terpencil jadi kami memilih di sini ajaAy (Informan . AuPernah sih teman-teman dokter yang kasih tau kalau tidak mau kerja di tempattempat terpencil karena tidak mau jauh dari keluargaAy (Informan . AuBiasanya ada teman yang gak mau jauh-jauh kerja itu karena biasanya orang tua mau dekat sama orang tuaAy (Informan . Jurnal Kesehatan Terpadu (Integrated Health Journa. Vol. 15 No. November 2024 . ISSN 1978-7766 (Prin. and ISSN 2597-9566 (Onlin. Journal homepage: https://w. com/index. php/JKT Masalah kompetensi Hasil wawancara dengan salah satu informan tenaga kesehatan ditemukan bahwa tidak terpenuhinya salah satu jenis nakes adalah akibat ketidaklulusan pada saat seleksi Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja . K) maupun CPNS. AuSebenarnya tenaga kita itu ada karena waktu kita tes CPNS itu diminta 15 formasi yang daftar itu cukup banyak 13 orang, tapi memang yang lulus cuma 4 orang Karena memang sesuai passing grade nya kan memang agak naik, jadi mereka tidak mencukupi itu. Jadinya sebenarnya ada, ada juga tenaga kesehatan tapi itu mungkin karena belum ada diberi kesempatan untuk lulus Makanya belum bisa mengabdiAy (Informan . Faktor ekonomi, fasilitas, dan keamanan Beberapa informan menyatakan bahwa nominal gaji dan tunjangan atau insentif yang diterima belum memadai dibandingkan dengan beban kerja, lokasi penempatan, dan risiko pekerjaan yang besar. Berikut adalah penyataan beberapa informan yang berkaitan dengan pendapatan yang masih belum memadai sebagai nakes di Puskesmas Kabupaten/Kota Provinsi Maluku: AuKalau saya banyak faktor, dari pendapatan yang rendahAy (Informan . AuOrang tidak mau karena insentif di sini kecil dan tidak perbedaan insentif antara kota dan desaAy (Informan . AuInsentif yang diterima kecil dan sering dibayarkan tidak tepat waktuAy (Informan . AuTapi pasti balik lagi nanya, di sana bagaimana pendapatannya, bagaimana? Nah Akhirnya ujung-ujungnya pasti juga ngapain jauh-jauh. Kalau di sana lebih enakAy (Informan . Selain masalah pendapatan yang rendah, informan juga menyatakan bahwa belum tersedia fasilitas tinggal yang layak di Puskesmas yang menimbulkan masalah kenyamanan dan AuPuskesmas kami kan baru, tempatnya juga jauh di tempat dan sepi. Perjalanan ke sana itu sunyi, kemudian di puskesmas penerangan masih bermasalah. Ada rumah tinggal yang disediakan, tapi karena sunyi, kami jadinya belum berani tinggal di sanaAy (Informan . AuPernah pulang kesorean, pakai motor. Di tengah jalan ada laki-laki yang ganggu dan ikuti, untung tidak terjadi apa-apa karena ada yang tolong. Setelah itu kepala puskesmas perintahkan kami yang perempuan tidak boleh pulang sendiri, harus ada petugas laki-laki yang temani untuk antarAy (Informan . Kejenuhan dan ketidakseimbangan jumlah produksi tenaga kesehatan Permasalahan lain yang berkaitan dengan rendahnya jumlah nakes tertentu di Puskesmas Kabupaten/kota di Provinsi Maluku adalah realita bahwa jumlah lulusan tenaga kesehatan yang jarang atau belum tersedia di Kabupaten Kota. AuOh ya, itu karena kebetulan kan karena dokter gigi di Maluku Tenggara ini kan minim sekali yaA. karena dokter giginya sangat minim dan kalau untuk perawat gigi saja, bukan dokterAy (Informan . AuTenaga farmasi di sini memang belum banyak. Di whatsapp grup kami saja tidak sampai 30 orangAy (ITK. Jurnal Kesehatan Terpadu (Integrated Health Journa. Vol. 15 No. November 2024 . ISSN 1978-7766 (Prin. and ISSN 2597-9566 (Onlin. Journal homepage: https://w. com/index. php/JKT Sementara tenaga dokter, dokter gigi, farmasi yang memang kurang di Kabupaten, tenaga kesehatan lain seperti perawat dan bidan tersedia dalam jumlah yang melimpah. Hal ini menyebabkan tenaganya bahkan sudah melebihi kebutuhan di Puskemas. BAHASAN Penelitian ini menemukan bahwa terdapat 4 faktor utama yang menjadi penyebab permasalahan kekurangan tenaga kesehatan di Puskesmas. Faktor-faktor tesebut adalah adalah. faktor sistem informasi dan manajemen Sumber Daya Manusia Kesehatan (SDMK), faktor tenaga kesehatan, faktor ekonomi, kemaamanan, dan fasilitas, serta faktor kejenuhan dan ketidakseimbangan jumlah produksi tenaga kesehatan. Saat ini, penyusunan dan perencanaan kebutuhan SDMK di Provinsi Maluku maupun kesebelas Kabupaten/Kotanya telah dilaksanakan menggunakan sistem Aplikasi Perencanaan Kebutuhan SDMK (RENBUT). Aplikasi RENBUT menganalisis beban kerja untuk mengetahui kebutuhan SDM di setiap puskesmas18Ae20. Setelah puskesmas mengajukan kebutuhan melalui Renbut, dinas kesehatan kabupaten/kota melakukan verifikasi yang selanjutnya divalidasi di tingkat provinsi. Setelah diketahui jumlah kebutuhan SDMK, aplikasi tersebut memunculkan peta jabatan untuk formasi SDMK dengan mempertimbangkan diantaranya adalah status pegawai, keahlian dan pendidikan18. Namun, hasil wawancara di lapangan menunjukkan adalah ketidaksinkronan data. Ketidaksinkronan data ini kemungkinan disebabkan karena keterlambatan dalam update data oleh tenaga admin yang ada di Puskesmas, mengingat proses perencanaan kebutuhan SDMK ini membutuhkan waktu yang cukup lama dan sistem berjenjang, sehingga pengusulan rencana kebutuhan SDMK harus dilakukan sekaligus18,20. Situasi ini sesuai dengan kajian sebelumnya tentang permasalahan dalam perencanaan kebutuhan SDMK di Kabupaten/Kota di Indonesia yang menyatakan masih dibutuhkannya harmonisasi dan sinkronisasi antara pusat, provinsi, daerah, puskesmas terkait kebijakan SDMK dan teknis penginputan data19,21. Hal ini juga yang menyebabkan secara jumlah keseluruhan, tenaga kesehatan yang tersedia di Puskesmas itu sudah sangat berlebihan jika dibandingkan dengan standar ketenagaan berdasarkan jenis puskesmas baik rawat inap maupun rawat jalan. Bahkan ada puskesmas yang total tenaga kesehatannya sudah mencapai 108 nakes tetapi pemenuhan 9 jenis tenaga berdasakan profesi belum tercapai10. Biasanya daerah yang kurang tenaga adalah di area terpencil atau jauh dari perkotaan atau DTPK sementara tenaga berlebihan ditemukan di daerah perkotaan atau ibukota kabupaten. Kondisi geografis di daerah DTPK biasanyan masih sulit dijangkau dengan aksers terbatas akibat keterbatasan prasarana jalan, transportasi darat, sungai serta fasilitas publik lainnya1. Kondisi ini berdampak pada kondisi kesejahteraan sosial, ekonomi, pendidikan sehingga dapat menurunkan motivasi bagi tenaga kesehatan untuk mengembagkan diri di tempat tersebut12,14. Menurut Kristanti . , selain faktor lokasi yang terisolir, faktor yang dominan menyebabkan tenaga kesehatan minta pindah dari daerah penugasan DTPK adalah asal daerah, dimana tenaga kesehatan yang bukan putra asli daerah memiliki keinginan pindah yang lebih besar22. Hal ini perlu disikapi dengan penempatan tenaga kesehatan di DTPK dengan memfokuskan pada putra daerah serta perlu adanya pemberlakuan moraturium pemerintah daerah bagi PNS khususnya mereka yang ditempatkan pada area DTPK12,23 sehingga diharapkan tidak terjadi lagi permasalahan distribusi pada puskesmas. Faktor maldistribusi tenaga kesehatan di puskesmas yang telah dijelaskan sebelumnya sebagai salah satu permasalahan faktor manajemen SDMK yang menyebabkan tidak terpenuhinya 9 jenis tenaga kesehatan di puskesmas, juga dapat disebabkan oleh faktor yang berasal dari internal tenaga kesehatan itu sendiri. Temuan studi ini sejalan dengan hasil dari beberapa penelitian sebelumnya yang menyebutkan tentang faktor-faktor selain asal daerah yang menyebabkan tenaga kesehatan tidak bertahan pada tempat kerja sesuai penempatan Jurnal Kesehatan Terpadu (Integrated Health Journa. Vol. 15 No. November 2024 . ISSN 1978-7766 (Prin. and ISSN 2597-9566 (Onlin. Journal homepage: https://w. com/index. php/JKT pemerintah adalah faktor pendidikan, status perkawinan dan kesempatan mengembangkan diri 12,17,22 Penelitian ini juga menunjukan bahwa adanya beban kerja yang tinggi pada nakes dengan jumlah 9 dasar tenaga kesehatannya tidak lengkap atau sesuai. Hasil ini juga ditemukan pada penelitian yang dilakukan pada beberapa Puskesmas lainnya di Indonesia 24Ae26. Beban kerja yang tinggi menyebabkan kelelahan pada tenaga kesehatan 26 dan akhirnya berdampak pada rendahnya kualitas pelayanan kesehatan Puskesmas serta rendahnya motivasi tenaga kesehatan untuk tetap bekerja di Puskesmas 22,24. Dengan demikian, beban kerja yang tinggi akibat tidak terpenuhinya tenaga kesehatan sesuai kebutuhan di suatu Puskesmas dapat melemahkan motivasi kerja sehingga memunculkan keinginan untuk pindah yang pada akhirnya semakin memperumit pemenuhan kebutuhan 9 jenis tenaga kesehatan di suatu Puskesmas. Secara faktual, tenaga kesehatan yang kurang di Puskesmas Kabupaten/Kota di Provinsi Maluku adalah dokter gigi, dokter, tenaga farmasi, kesmas, dan ATLM 3,10. Provinsi Maluku secara geografis memiliki topografi wilayah yang sulit dengan banyak pulau-pulau kecil dan wilayah DTPK 9,27. Hasil penelitian baru-baru ini tentang analisis spasial fasilitas pelayanan kesehatan di Provinsi Maluku menemukan bahwa akses masyarakat ke beberapa Puskesmas terdekat di Maluku bisa menjadi sebuah perjalanan yang sulit. Rata-rata jarak yang harus di tempuh menuju suatu Puskesmas di Maluku adalah sekitar 13 KM. Situasi ini diperburuk dengan dengan tidak adanya infrastruktur transportasi yang memadai baik di area pegunungan maupun laut 28. Masalah kompetensi teknis bisa menjadi faktor lain tidak terpenuhinya 9 jenis tenaga kesehatan di Puskesmas Kabupaten/Kota di Provinsi Maluku. Permasalahan ini telah menjadi perhantian dari Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi sehingga passing grade kelulusan CPNS di Provinsi Maluku pernah diturunkan pada tahun Tindakan afirmatif seperti ini perlu dilakukan khususnya untuk tenaga kesehatan yang jumlahnya masih kurang di wilayah DTPK pada Provinsi Maluku sehingga kebutuhan tenaga kesehatan dapat terpenuhi. Hal ini sesuai dengan beberapa penelitian sebelumnya tentang faktor-faktor yang mempengaruhi keinginan tenaga kesehatan untuk bekerja diantaranya adalah gaji, fasilitas, dan keamanan 17,22,24,30,31. SIMPULAN Kekurangan tenaga kesehatan di Puskesmas Provinsi Maluku disebabkan oleh empat faktor utama: ketidaksinkronan sistem informasi, maldistribusi tenaga kesehatan, faktor ekonomi dan fasilitas yang kurang memadai, serta kejenuhan tenaga kesehatan akibat beban kerja yang tinggi. Untuk mengatasi permasalahan ini, diperlukan peningkatan perencanaan kebutuhan SDMK yang lebih sinkron, penempatan tenaga kesehatan yang lebih merata, serta pemberian insentif dan pelatihan untuk meningkatkan motivasi dan kompetensi tenaga kesehatan di daerah DTPK. SARAN