Penggunaan Simbol Keagamaan Katolik Dalam Ritual Ilmu Kebal: Pratik Sinkritisme (Studi Kasus Literasi Keagamaan Di Kalimantan Bara. Arius Arifman Halawa1 Email: arif_hlw@yahoo. Lukas Ahen2 Email: ahenlukas66@gmail. Cenderato3 Email: cenderato67@gmail. Sekolah Tinggi Agama Katolik Negeri Pontianak Abstrak Abstrak Gereja Katolik sangat menghargai adat istiadat dan budaya manusia sebab Gereja mengakui bahwa adat dan budaya merupakan salah satu cara manusia mengungkapkan dan mengembangkan kemanusiaannya. Pada kenyataannya sering kali juga memasukan unsur-unsur seni budaya dalam simbol-simbol liturgis sebagai bentuk pengungkapan iman kepada Tuhan. Ada banyak nyanyian liturgis yang menggunakan nyanyian etnik, gambar dan bentuk bangunan yang bermotif adat dan budaya tertentu. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penggunaan simbolsimbol keagamaan Katolik yang dilakukan oleh sekelompok Orang Muda Katolik di Kalimantan Barat dalam melakukan praktik ilmu kebal. Praktik ini justru mengalami percampuran yang menciptakan suatu sinkretisme agama dan bertentangan dengan iman Katolik. Adapun persoalan yang diteliti adalah: Bagaimana penggunaan simbol keagamaan Katolik dalam pelestarian adat Dayak di Kalimantan Barat? Bagaimana pandangan pimpinan Gereja Katolik terhadap penggunaan simbol-simbol keagamaan Katolik dalam pelestarian adat Dayak di Kalimantan Barat? Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan instrument Wawancara dan Angket. Simbol-simbol memang sering digunakan dalam ritual kekebalan terutama saat kegiatan-kegiatan budaya Dayak, misalnya lambang salib. Rosario, patung Yesus/Buda Maria dengan berbagai Selain itu, juga digunakan doa-doa pokok Katolik, misalnya dibuka dengan tanda salib. Doa Bapa kami. Doa Salam Maria dan Doa Aku Percaya. Dari sisi gereja, kegiatan/praktik ilmu kekebalan dihargai karena merupakan kearifan local yang perlu diapresiasi. Namun, secara teologis penggunaan simbol-simbol tersebut bertentangan dengan ajaran Gereja karena penggunaannya tidak pada tempatnya, bertentangan dengan maksud dan tujuan keberadaannya. Peneliti akan melaksanakan penelitian di Kalbar yang tersebar di beberapa kabupaten: Kota Pontianak. Kubu Raya. Kabupaten Landak. Kabupaten Mempawah. Sanggau. Kabupaten Sintang dan Kabupaten Sekadau. Kata kunci: Simbol. Teologi Katolik. Literasi. Sinkretis Abstract Catholic churches highly appreciate human customs and cultures to recognize ways for humans to express and develop their humanity. They often include el- ements of art and culture in liturgical symbols as a form of expressing faith in God. Many liturgical songs use ethnic songs, images and building form with cer- tain traditional and cultural motifs. This study aims at examining the use of Catholic religious symbols by a group of Catholic Youths in West Borneo in prac- ticing invulnerability. The practice actually experienced a mix that creates a re- ligious syncretism and is contrary to the Catholic The work focuses on the use of Catholic religious symbols in the preservation of Dayak customs in West Borneo, the view of the leadership of the Catholic Church on the use of Catholic religious symbols to preservate Dayak customs in West Borneo. This study used a qualitative method with the instruments of Interview and Questionnaire. Some people used church symbols in invulnerability rituals, especially during Dayak cultural activities, such as the cross symbol, the Rosary, statues of Jesus/Mother Mary in various sizes. In addition, they also used Catholic prayers to open with the sign of the cross, the LordAos Prayer, the Hail Mary and the Prayer I Believe. From the churchAos perspective, invulnerability knowledge is local wisdom that needs to be apreciated. However, it is contrary to the teachings of the Church and is inappropriate to the intent and purpose of their existence. Keywords: Syncretism. Catholic Symbols. Invulnerability Rituals. West Borneo PENDAHULUAN Sinkritisme iman Katolik dengan kebudayaan lokal selalu mendapatkan kajian yang mendalam dan kadang kontroversial. Hal ini terjadi karena Gereja Katolik mengklaim dirinya Satu. Kudus. Katolik dan Apostolik yang ajarannya bersumber dari Tradisi Suci. Kitab Suci dan Magisterium. Iman Katolik juga diyakini oleh pemeluknya sebagai agama yang terjaga kemurnian ajaranya. Sedangkan dalam perkembangan kebudayaan manusia, iman Katolik selalu bertemu dengan kebudayaan yang berbeda. Pertemuan iman Katolik dengan budaya lokal tersebut, ternyata secara disadari atau tidak sudah mengarah kepada sinkretisme. Sinktretisme dapat diartikan sebagai upaya untuk mempersatukan keyakinan yang berbeda dan saling bertentangan tanpa memerdulikan benar atau salah (Emanuel Gerrit Singgih, 2000: . Salah satu tradisi masyarakat Dayak yang masih sering dilaksanakan oleh sekelompok Orang Muda Katolik (OMK) di Kalimantan Barat adalah pelestarian adat Dayak. Pelestarian adat Dayak ini merupakan bentuk aktivitas sosial berujud upacara yang dilakukan secara Dari hasil studi pendahuluan, peneliti menemukan sebuah ritual yang sinkretis yaitu dalam ritual ini terdapat simbol-simbol keagamaan Katolik seperti salib, lilin, rosario dan perlengkapan sesajen yang ditujukan pada objek yang gaib seperti roh para leluhur, makhluk penjaga tempat-tempat tertentu atau yang lainnya. Jika ditinjau dari segi teori, pelestarian adat Dayak ini termasuk sinkretisasi dalam aspek bentuk ibadat, adat kebiasaan dan praktek keagamaan (Petrus Citra, 2007:. Kegiatan ritual adat yang berupa penggunakan simbol-simbol keagamaan Katolik dengan maksud memperoleh ilmu kebal . apat dikategorikan sinkretism. ini dilakukan oleh sekelompok . orang muda di Kalimantan Barat yang beberapa diantaranya beragama Katolik. Penggunaan simbol keagamaan dalam praktik ilmu kebal melanggar keutamaan penyembahan kepada Allah, apalagi yang melakukannya adalah orang yang telah dibabtis secara Katolik, artinya yang bersangkutan telah melanggar janji babtis yang telah diikrarkan di hadapan Tuhan dan Gereja. Katekismus Gereja Katolik (KGK 2. AuSemua praktik magi dan sihir, yang dengannya orang ingin menaklukkan kekuatan gaib, supaya kekuatan itu melayaninya dan supaya mendapatkan suatu kekuatan adikodrati atas orang lain Ae biarpun hanya untuk memberi kesehatan kepada mereka Ae sangat melanggar keutamaan penyembahan kepada Allah. Tindakan semacam itu harus dikecam dengan lebih sungguh lagi, kalau dibarengi dengan maksud untuk mencelakakan orang lain, atau kalau mereka coba untuk meminta bantuan roh jahat. Juga penggunaan jimat harus ditolak. Spiritisme sering dihubungkan dengan ramalan atau magi. Karena itu Gereja memperingatkan umat beriman untuk tidak ikut kebiasaan Penerapan apa yang dinamakan daya penyembuhan alami tidak membenarkan seruan kepada kekuatan-kekuatan jahat maupun penghisapan orang-orang lain yang gampang percaya. Ay Masalah yang terjadi dalam kehidupan selayaknya menjadikan kita lebih bergantung kepada Tuhan dan mengandalkan Dia, dan bukannya membuat kita mengandalkan kekuatan sendiri dan mengadalkan kekuatan gaib. Jika kita bersikap demikian, kita malah menjauh dari Tuhan, dan sungguh Tuhan tidak berkenan . Yer 17:. Gereja Katolik sangat menghargai adat istiadat dan budaya manusia sebab Gereja mengakui bahwa adat dan budaya merupakan salah satu cara manusia mengungkapkan dan mengembangkan kemanusiaannya. Pada kenyataannya sering kali juga memasukan unsur-unsur seni budaya dalam simbol-simbol liturgis sebagai bentuk pengungkapan iman kepada Tuhan. Ada banyak nyanyian liturgis yang mengunakan nyanyian etnik, gambar dan bentuk bangunan yang bermotif adat dan budaya tertentu. Memasukan unsur budaya dalam praktik keagamaan dalam Gereja Katolik ini disebut inkulturasi. Menurut Artantio. InkulturasiAo ialah: Aupengintegrasian pengalaman Kristiani sebuah Gereja lokal ke dalam kebudayaan setempat sedemikian rupa sehingga pengalaman tersebut tidak hanya mengungkapkan diri di dalam unsur-unsur kebudayaan bersangkutan, melainkan juga menjadi kekuatan yang menjiwai, mengarahkan, dan memperbaharui kebudayaan bersangkutan, dan dengan demikian menciptakan suatu kesatuan dan AcommunioA baru, tidak hanya di dalam kebudayaan tersebut, melainkan juga sebagai unsur yang memperkaya Gereja sejagat. Ay Pada kenyataannya praktik inkulturasi ini terjadi terjadi pada agama-agama lain selain Gereja Katolik. Misalnya, bentuk dan gaya bangunan rumah ibadah dengan motif dan daya Dari beberapa uraian di atas, dapat ditegaskan bahwa pelestarian adat Dayak merupakan tradisi sinkretis karena bertentangan dengan iman Katolik dan tidak sepantasnya dilakukan oleh orang yang telah dibabtis secara Katolik. Namun kenyataan, di lapangan masih ada masyarakat yang mencampuradukkan kebudayaan yang dilarang oleh iman Katolik itu sendiri. Meskipun demikian, tradisi dan budaya yang sangat kental masih dipelihara sampai sekarang. Masyarakat Dayak masih hidup dalam lingkungan adat dan kebudayaan yang masih tinggi. Kehadiran agama Katolik tidak sepenuhnya menghapus kepercayaan agama suku Dayak yang sangat kuat termasuk kepercayaan terhadap eksistensi roh-roh nenek moyang. Dalam konsep pemikiran orang Dayak adat dan budaya merupakan hal yang sangat sulit untuk ditinggalkan, karena kedua hal ini mengikat seseorang mulai dari kelahiran sampai kematian. Maka dari itu, peneliti sangat tertarik membahas bagaimana sinkretisme terjadi dalam pelestarian adat Dayak ini serta bagaimana pelestarian adat Dayak ini dalam sudut pandang Teologi Katolik. METODE Penelitian kualitatif adalah upaya untuk menyajikan dunia sosial dan perspektif di dunia dari segi konsep, perilaku dan persepsi dan persoalan yang dihadapi oleh manusia. Artinya bahwa penelitian tersebut dilakukan untuk memahami fenomena tentang apa yang dialami oleh subyek penelitian misalnya perilaku, persepsi, motivasi dan tindakan lainnya. Pendekatan penelitian ini digunakan karena secara terperinci dapat memahami masalah sosial yang dihadapi oleh manusia yang diteliti secara langsung di 7 . Kabupaten/kota yaitu Kota Pontianak. Kubu Raya. Kabupaten Landak. Kabupaten Mempawah. Sanggau. Kabupaten Sintang dan Kabupaten Sekadau. Teknik pengumpulan data merupakan langkah yang paling strategis dalam penelitian, karena tujuan utama dari penelitian adalah mendapatkan data. Dalam penelitian kualitatif, pengumpulan data dilakukan pada natural setting . ondisi yang alamia. Sumber Data primer diperoleh dari observasi peran serta . articipant observatio. , wawancara mendalam . n depth intervie. , dokumentasi dan gabungan/triangulasi. Teknik pengumpulan data dalam penelitian kualitatif ada tiga, yaitu observasi, wawancara, dan dokumentasi. HASIL DAN PEMBAHASAN Penggunaan simbol keagamaan Katolik dalam ritual Ilmu Kebal Dalam suatu agama, kehadiran simbol memiliki arti yang esensial. Bisa dikatakan simbol adalah ciri khas suatu agama. Simbol dimaknai sebagai sebuah tanda yang dikultuskan dalam berbagai bentuk sesuai dengan kultur dan kepercayaan masing- masing agama. Agama membutuhkan simbol untuk menunjukkan eksistensi religiusitasnya sehingga ia menjadi tampak kepada common people. Misalnya KaAobah menunjukkan identitas Islam, bentuk salib menunjukkan Kristen, dan sebagainya. Simbol-simbol ini menghasilkan imagologi agama tertentu sebagai religi yang fundamental. Katolik misalnya merujuk kepada Salib Yesus. Rosario, tanda salib, patung Yesus dan Bunda Maria, ia menjadi bagian dari nilai kekatolikan, bukan nilai kultural. Simbol ini menjadi bagian dari tradisi Katolik yang khas. Selain agama, simbol juga terkait erat dengan budaya. Geertz mengatakan bahwa kebudayaan ialah sebuah pola dari makna-makna yang tertuang dalam simbol-simbol yang diwariskan melalui sejarah (Sobur, 2006: . Kebudayaan adalah sebuah sistem dari konsep-konsep yang diwariskan dan diungkapkan dalam bentuk-bentuk simbolik. Simbol ini menjadi bentuk komunikasi, mengekalkan, dan mengembangkan pengetahuan tentang kebudayaan dan bersikap terhadap kehidupan. Driyarkara mendefinisikan budaya adalah hasil dari manusia dalam mengolah atau mengikuti kosmos/alam semesta (Driyarkara, 2006:. Dapat dikatakan bahwa apa yang dimaksud dengan simbol agama adalah tanda yang memberikan gambaran mengenai identitas agama tertentu, melahirkan konotasi tertentu yang mengarah kepada ajaran, tempat, waktu, materi yang menyangkut agama tersebut. Sementara simbol budaya adalah tanda hasil kebudayaan tertentu yang merupakan produk yang bersumber dari manusia sendiri, berbeda dengan agama yang sumbernya berasal dari wahyu Tuhan. Simbol budaya di sini identik dengan lokalitas atau budaya sebagai produk lokal. Sehubungan dengan itu, bagaimana dengan penggunaan simbol agama Katolik dalam ritual untuk mendapatkan kekebalan yang merupakan bagian dari budaya Dayak sebagai produk lokal? Dalam bab ini peneliti akan membahas penggunaan simbol agama Katolik pada ritual untuk mendapatkan kekebalan yang merupakan hasil observasi dan wawancara terhadap para informan. Sesajian dalam Ritual Ilmu Kekebalan Dalam ritual adat diperlukan perlengkapan sebagai sarana untuk mencapai tujuan dari ritual tersebut. Berbagai sarana penunjang atau perlengkapan ritual adalah berupa sesaji. Sesaji memegang peranan sangat penting dalam ritual kekebalan karena merupakan sarana pengantar doa-doa manusia kepada jubata (Tuha. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, sesaji berasal dari kata saji yang berarti hidangan . akanan dan lauk pauk yang telah disediakan pada suatu tempat untuk dimaka. Sedangkan bersesaji adalah mempersembahkan sajian dalam upacara keagamaan yang dilakukan secara simbolis dengan tujuan untuk berkomunikasi dengan kekuatan-kekuatan gaib, dengan cara mempersembahkan makanan dan benda-benda lain yang melambangkan maksud dari komunikasi tersebut (KBBI, 1988: . Dalam wawancara dengan informan menyatakan bahwa sebenarnya Autidak ada yang namanya ritual untuk mendapatkan kekebalan, tetapi yang dilakukan adalah kegiatan untuk melestarikan tradisi leluhur masyarakat DayakAy. Artinya yang dilakukan bukan semata-mata untuk mendapatkan ilmu kebal, tetapi untuk melestarikan tradisi leluhur. Apabila seseorang mendapatkan kekebalan itu hanya bonus, sebuah anugerah dari Jubata (Tuha. karena keyakinannya kuat terhadap apa yang diimaninya. Karena faktanya tidak semua yang melakukannya mendapatkan kekebalan. Tradisi tersebut merupakan tradisi leluhur yang dilakukan turun temurun sebagai bentuk ucapan syukur kepada Jubata serta untuk menghormati para leluhur supaya dijauhkan dari bahaya, bala, serta memberikan hasil panen yang baik. Berkaitan dengan sesaji yang diperlukan untuk melakukan ritual adat tersebut yang harus dipersiapkan adalah sebuah Pelantar lengkap (Tempayan. Beras Pulut, beras biasa, beras kuning, telur, ayam, kapur, sirih, babi, pinang, daun nipah dan juga paku/loga. Semua sesaji tersebut dipersembahkan untuk menggambarkan kesejahteraan masyarakat Dayak yang hidup berkecukupan atas berkah dari Jubata (Tuha. Penggunaan Simbol Keagamaan Katolik Dalam Ritual Kekebalan Simbol adalah ciri khas agama, karena simbol lahir dari sebuah kepercayaan, dari berbagai ritual dan etika agama. Simbol dimaknai sebagai sebuah tanda yang dikultuskan dalam berbagai bentuknya sesuai dengan kultur dan kepercayaan masing- masing agama. Kultus ini kemudian melahirkan sebuah sistem dan struktur simbol yang dapat membentuk manusia menjadi homo simbolicus dalam tipe atau pola religiusnya (Hazrat: 2003, . Sebagai sebuah tanda yang dikultuskan. Simbol memiliki makna yang tersembunyi atau yang dapat dikiaskan dari makna harfiahnya ke makna yang sakral dan mendalam. Sementara sebagai sebuah Sistem yang terstruktur. Simbol memiliki logika tersendiri yang koheren . aling terkai. yang dapat dimaknai secara universal. Salah satu tradisi masyarakat Dayak yang masih sering dilaksanakan oleh sekelompok Orang Muda Katolik (OMK) di Kalimantan Barat adalah ritual ilmu kebal. Ritual ilmu kebal ini merupakan bentuk aktivitas sosial berwujud upacara yang dilakukan secara tradisional. Pada ritual ini selain pelatar yang disiapkan juga ada simbol-simbol keagamaan Katolik yang Menurut penuturan informan (OMK), simbol-simbol keagamaan Katolik yang digunakan antara lain Salib. Rosario, patung Yesus dan patung Bunda Maria. Kemudian, pada prakteknya sebelum ritual dilakukan selalu dibuka dengan doa-doa pokok Katolik seperti dibuka dengan tanda salib, doa Bapa Kami, doa salam Maria, lilin, doa Tobat dan juga doa Aku Percaya. Hal ini mereka yakini bahwa ritual yang dilakukan tidak bertentangan dengan agama Katolik karena Gereja Katolik menghargai adat istiadat dan budaya manusia sebab Gereja mengakui bahwa adat dan budaya merupakan salah satu cara manusia mengungkapkan dan mengembangkan kemanusiaannya dan ritual yang dilakukan ini merupakan salah satu budaya Dayak. Dari keterangan para informan penggunaan simbol keagamaan Katolik ini hanya dilakukan oleh anggota yang beragama Katolik, karena tidak semua yang ikut melakukan ritual tersebut beragama Katolik, ada yang beragama protestan, kepercayaan kaharingan dan agama lain kecuali yang beragama Muslim, karena jenis makanan khas Dayak tidak bisa dikonsumsi oleh saudara-saudara Muslim, mereka hanya simpatisan. Penggunaan simbolsimbol keagamaan Katolik dan doa-doa pokok agama Katolik ini merupakan inkulturasi dimana orang Dayak tidak bisa dipisahkan antara agama dan budaya. Orang Dayak merupakan manusia yang berbudaya dan beragama, jadi dalam mengekspresikan diri pun harus memperlihatkan manusia yang berbudaya dan beragama. Waktu dan Tempat pelaksanaan Ritual Pada dasarnya tidak ada tempat khusus ritual ini dilakukan. Karena kemampuan kebal ini diperoleh dengan cara menjalankan adat istiadat dan beribadah kepada Tuhan, maka di manapun tempatnya diberkati oleh Tuhan. Meskipun demikian berdasarkan penuturan informan, tempat ritual ini dilakukan hendaknya di tempat yang layak untuk berdoa, artinya tempat yang tenang jauh dari kebisingan. Tempat ini bisa dilakukan di rumah atau juga di Apabila kegiatan ini dilakukan di rumah, biasanya dilakukan oleh perorangan dengan menyediakan tempat khusus seperti di kamar. Meskipun ritual ini dilakukan di rumah, semua pelantar yang diperlukan tetap dipersiapkan lengkap seperti: Tempayan. Beras Pulut, beras biasa, beras kuning, telur, ayam, kapur, sirih, pinang, daun nipah, paku/logam dan juga benda-benda rohani Katolik seperti: salib Yesus, rosario, lilin. Apabila kegiatan dilakukan di luar rumah, biasanya dengan cara berkunjung ke hutan menanam Patung Pantak di dalam daerah. Pantak merupakan sebuah media yang dapat mewujudkan hubungan antara arwah leluhur . dengan keturunannya yang masih hidup, sekaligus sebagai sarana untuk menghormati leluhur . Hal ini menunjukan bahwa pantak yang merupakan media untuk berkomunikasi dengan leluhur merupakan bagian dari simbol, sebab setiap komunikasi yang menggunakan bahasa ataupun sarana yang lainnya merupakan bagian dari simbol-simbol. Perwujudan penghormatan kepada leluhur . tidaklah terlepas dari kehendak Yang Maha Kuasa, sebab hal itu merupakan bagian dari sistem kepercayaan yang mereka miliki. Media ini didasari oleh sistem kepercayaan yang dimiliki oleh suku Dayak sendiri, yaitu kepercayaan kepada roh nenek moyang dan kepada Tuhan yang satu. Masyarakat suku Dayak memiliki kepercayaan bahwa manusia memiliki jiwa dan roh yang tak luput dari maut. Kepercayaan ini pun sebenarnya didasari oleh keyakinan akan asal kehidupan yang mereka miliki, yaitu berasal dari alam dan kelak akan kembali ke alam. Orang Dayak membedakan antara jiwa dan roh. Jiwa merupakan kekuatan inti dari badan, sehingga ia dapat berpikir, merasa, dan bertindak. Sedangkan, roh yang dimiliki manusia sesudah ia mati akan pergi ke subayatn/surga . empat keilahia. Bagi suku Dayak, memberi tanda kehormatan kepada mereka yang berjasa dan rela mengorbankan diri demi kepentingan masyarakat merupakan suatu hal yang penting dan perlu untuk diaktualisasikan dan dikenang. Pantangan-pantangan Pantangan dalam istilah suku Dayak merupakan segala sesuatu yang tidak boleh dilakukan yang apabila dilanggar akan berakibat fatal. Tidak semua orang mampu memiliki ilmu kebal, sebab pantangan yang harus dijalani cukup berat bagi orang awam atau kecuali bagi mereka yang memiliki tekad kuat. Pantangannya adalah harus menjaga 5 . indera dari halhal negatif. seperti mata . enjaga mata dengan tidak melihat hal-hal yang berbau porn. , hidung . angan menghisap narkob. , telinga . angan mendengarkan gosi. , lidah . angan meminum minuman keras, jangan mengucapkan kata-kata kotor atau menghina orang lai. , kulit . angan berzinah, jangan mencuri, jangan merusak ala. Pantangan ini sebenarnya perilaku atau pantangan yang biasa diberlakukan dalam kehidupan orang Dayak jika memang berkeinginan menjadi orang yang baik. Kekebalan tubuh dari senjata tajam ini pun digunakan oleh masyarakat bukan sebagai aksi gagah-gagahan atau pamer kepada orang lain. Ritual ini berfungsi sebagai bekal untuk membela diri jika suatu saat menghadapi perkelahian yang tidak dapat dihindari. Tujuan ritual Kekebalan . Menjaga Tradisi Adat istiadat dan kearifan tradisi yang berlangsung dalam masyarakat itu, mereka lestarikan dan setiap waktu ada peristiwa adat, mereka laksanakan ritual adat sesuai ketentuan adat dan sebagai bentuk pemertahanan adat istiadat dan budaya yang mereka miliki, agar kearifan tradisi itu tetap ada dan diteruskan oleh generasi berikutnya sehingga tidak punah ditelan zaman. Bentuk pelestarian kearifan tradisi itu mereka hadirkan dalam setiap peristiwa sakral, seperti ritual untuk mendapatkan kekebalan, hal ihwal yang melingkupi prosesi adat istiadat mereka penuhi prosesi adat yang berlaku di dalam masyarakat setempat, yakni masyarakat Dayak. Selain itu, kearifan tradisi dalam masyarakat Dayak memiliki hubungan dengan masalah etiket telah menjadi bahan percontohan, khususnya bagi kehidupan masyarakat yang ada di Sebagaimana dikemukakan oleh informan, bahwa setiap anggota mengetahui hak dan kewajibannya masing-masing sesuai dengan tata peraturan dan adat istiadat itu lazim disebut kaidah, dan norma atau ukuran-ukuran yang menjadi pedoman, norma-norma tersebut mempunyai dua macam menurut isinya, yaitu . perintah yang merupakan keharusan bagi seseorang untuk berbuat sesuatu oleh karena akibatnya dipandang baik dan . larangan yang merupakan keharusan bagi seseorang untuk tidak berbuat sesuatu oleh karena akibatnya dipandang kurang baik (Zulkifli, 2010:. Artinya, norma merupakan ketentuan yang mengikat dipakai sebagai panduan, tatanan, dan pengendali tingkah laku yang sesuai dengan dan berterima (KBBI, 2016:. , norma juga memberikan petunjuk kepada manusia bagaimana seseorang harus bertindak dalam masyarakat serta perbuatan-perbuatan mana yang harus dijalankannya dan perbuatan- perbuatan apa dan bagaimana yang harus dihindarinya. Eksistensi diri Di era dewasa saat ini, pengaruh dari globalisasi sudah merambat masuk ke negara kita yaitu negara Indonesia. Masuknya arus globalisasi dapat membawa suatu pengaruh yang positif maupun juga negatif. Sebagaimana yang telah kita ketahui era globalisasi ini terdapat kebebasan hubungan antar bangsa sehingga membawa kebudayaan asing yang secara perlahan-lahan dapat menggeserkan kebudayaan lokal yang dimiliki masyarakat Indonesia. Ini sangat memprihatinkan dimana para generasi muda mulai mengikuti hal-hal yang kekinian yang sangat menyimpang dari karakter dan sifat yang lebih beradat dan beradab yang dimiliki masyarakat Indonesia. Dalam kaitan ini setiap individu atau masyarakat tentu tidak ingin kehilangan jati dirinya dari akar budaya yang dimilikinya. Berbicara tentang jati diri bangsa atau identitas atau suatu kelompok etnik tertentu tampaknya ditelusuri dari tradisi yang dimiliki oleh kelompok etnik bersangkutan (Giddens, 2. Sehubungan dengan itu, maka pemahaman terhadap kebudayaan etnik yang kaya akan nilai-nilai kearifan lokal dan pembahasan terhadap persoalan kesadaran kolektif lokal yang merefleksikan identitas suatu kelompok etnik atau bangsa perlu Pandangan Pimpinan Gereja Katolik Terhadap Penggunaan Simbol Keagamaan Katolik dalam Ritual Kekebalan Pandangan pimpinan Gereja Katolik, yang menjadi informan dalam penelitian ini berangkat dari ajaran resmi Gereja. Dokumen resmi Gereja yang menjadi sumber ajaran Gereja memang tidak berbicara secara spesifik bagaimana sikap Gereja terhadap ritual adat dan ritual keagamaan . lain, apa lagi secara khusus tentang ritual kekebalan. Dokumen Gereja Katolik yang menjadi rujukan pimpinan Gereja berupa pandangan dan sikap Gereja terhadap kepercayaan dan adat istiadat . lain di luar Gereja Katolik. Berikut pandangan pimpinan Gereja Katolik berdasarkan informan yang ada: Gereja Menghargai Kepercayaan. Adat Istiadat dan Kebudayaan Lokal Dari penuturan informan, bahwa Gereja Katolik sangat perbuka terhadap kepercayaan, tradisi, adat istiadat dan kebudayaan yang ada, yang sudah dipraktikan secara turun temurun. Sikap dan pandangan Gereja ini bersumber dan mengacu pada sikap Yesus Kristus Auyang datang bukan meniadakan hukum Taurat tetapi untuk menyempurnakan. Ay AuJanganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinyaAy (Matius 5:. Melanjutkan semangat dan sikap positif Yesus terhadap kepercayaan bangsa Israel yang mengakui hukum Taurat sebagai pedoman hidupnya. Gereja Katolik menghargai dan menjunjung tinggi apa yang baik dari kepercayaan dan budaya manusia demi keluhuran Lebih lanjut informan mengutip Dokumen Konsili Vatikan II dalam Nostra Aetate A 24:AuGereja Katolik tidak menolak apapun, yang dalam agama itu serba benar dan suci. Dengan sikap hormat yang tulus. Gereja merenungkan cara-cara bertindak dan hidup, kaidahkaidah serta ajaran-ajaran, yang memang dalam banyak hal berbeda dari apa yang diyakini dan diajarkannya sendiri, tetapi tidak jarang toh memantulkan sinar kebenaran, yang menerangi semua orang. Namun. Gereja tiada henti mewartakan dan wajib mewartakan Kristus, yakni Aujalan, kebenaran, dan hidupAy (Yoh 14: . dalam Dia manusia menemukan kepenuhan hidup keagamaan, dalam Dia pula Allah mendamaikan segala sesuatu dengan diriNya. Maka. Gereja mendorong para putraNya supaya dengan bijaksana dan penuh kasih, melalui dialog dan kerjasama dengan para penganut agama- agama lain, sambil memberikan kesaksian tentang iman serta peri hidup Kristiani, mengakui, memelihara, dan mengembangkan harta kekayaan moral serta nilai-nilai sosio-budaya, yang terdapat pada merekaAy. Sikap Gereja Katolik yang menghargai kepercayaan, adat istiadat dan kebudayaan setempat sebagai sikap yang mencerminkan rasa toleransi yang tinggi, saling menghargai dan membiarkan umat yang berkeyakinan lain untuk menjalankan peribadatan . sebagai sikap sembahsujudnya terhadap Sang Maha Kuasa. Gereja menaruh sikap hormat yang tulus dan mengakui bahwa Autidak jarang memantulkan sinar kebenaran, yang menerangi semua orangAy dari kepercayaan yang dianut di luar Gereja Katolik. Gereja mengakui, memelihara, dan mengembangkan kekayaan moral, nilai-nilai sosio-budaya yang terdapat pada umat berkepercayaan lain. Maka Gereja selalu mendorong Umat Katolik untuk berdialog dan bekerjasama dengan para penganut kepercayaan lain demi kemajuan dan kebaikan bersama. Terhadap praktik dan ritual kekebalan yang ada pada masyarakat Dayak. Gereja Katolik, berdasarkan penuturan informan merupakan suatu kearifan lokal yang sangat dijunjung tinggi. Setiap kelompok masyarakat memiliki adat istiadat yang mencirikan dan membedakannya dengan masyarakat lain. Bagi masyarakat Dayak salah satu kearifan yang dicoba diwariskan secara turun temurun adalah kekebalan. Ritual adat dengan maksud memperoleh kekebalan boleh saja dilakukan, sebab dengan cara itu masyarakat Dayak mewariskan kearifan lokal sekaligus sebagai cara berkomunikasi dengan para leluhur. Namun lebih lanjut informan menuturkan bahwa trend menuntut kekebalan mestinya sudah tidak zamannya lagi. Kekebalan tak banyak berarti apabila masyarakatnya tidak sejahtera. Mengusahakan kesejahteraan dan majuan masyarakat Dayak jauh lebih perlu dan mendesak daripada mengejar kekebalan badan. Apalagi kalau dalam rangka mengusahakan dan mempraktikkan kekebalan itu sampai merugikan keluarga dan orang-orang yang dicintai, dengan cara meninggalkan pekerjaan dan mengabaikan tanggungjawabnya menafkahi keluarga. Informan lain menambahkah bahwa pelestarian adat, termasuk menuntut kekebalan itu boleh saja tetapi bukanlah sesuatu yang dimutlakan. Penghargaan dan rasa hormat masyarakat lain terhadap masyarakat Dayak bukan ditentukan oleh seberapa banyak kebalnya orang Dayak, tetapi justeru ditentukan sejauh mana masyarakat Dayak berkontribusi bagi kemajuan masyarakat luas. Semakin banyak orang Dayak berpartipasi dalam berbagai bidang kehidupan untuk kemajuan dan kesejahteraan umum semakin dihargai dan dihormatinya masyarakat Dayak. Seharusnya Orang Muda Katolik Dayak memberdayakan diri dengan pendidikan yang tinggi, kesehatan yang baik, dan tingkat kesejahteraan ekonomi yang kuat demi mensejajarkan diri dengan masyarakat lainnya. Inkulturasi Budaya dalam Gereja Katolik Inkulturasi merupakan istilah antropolog enkulturasi, yang berarti penyesuaian diri seorang pribadi manusia ke dalam suatu budaya tertentu, agar dia menjadi bagian dari budaya itu. Sedangkan menurut Anscar J. Chupugco, inkulturasi merupakan perpaduan dua budaya berbeda sedemikian rupa sehingga menghasilkan satu budaya baru yang kristiani. Dalam konteks ini Gereja Katolik mau menyesuaikan diri dengan budaya dan adat istiadat setempat dimana Gereja Di sini inkulturasi merupakan transformasi mendalam dari nilai-nilai budaya asli yang diintegrasikan dalam kekatolikan ke dalam aneka budaya manusia yang berbeda-beda. Ketika Gereja Katolik masuk dan diterima oleh masyarakat Dayak maka ekspresi keberagamaan masyarakat Dayak yang beragama Katolik memasukan unsur-unsur kebudayaan Dayak di dalamnya. Banyak ekspresi kebudayaan yang dihidupi masyakarat Dayak diinkultasikan oleh Gereja Katolik yang berada di lingkungan masyarakat Dayak. Hal ini terlihat dari bangunan gereja yang memasukan ukiran-ukiran khas Dayak, pakaian liturgi . akaian untuk ritual keagamaan Katoli. yang bermotif Dayak, musik liturgi bernuansa Dayak, dan tarian pengantar persembahan yang bergaya Dayak. Memasukan unsur-unsur kebudayaan Dayak dalam ritual keagamaan Katolik sejalan dengan ajaran Gereja yang terdapat dalam Konstitusi Sacrosanctum Concilium art 123: AuGereja tidak menganggap satu corak kesenian pun sebagai khas bagi dirinya. Melainkan seraya memperhatikan sifat-perangai dan situasi para bangsa dan kebutuhan-kebutuhan pelbagai Ritus Gereja menyambut baik bentuk-bentuk kesenian setiap zaman, serta mengusahakan agar di sepanjang zaman khazanah kesenian dikelola denga Juga kesenian zaman kita sekarang, pun kesenian semua bangsa dan daerah, hendaknya diberi keleluasaan dalam Gereja, asal dengan khidmat dan hormat sebagaimana harusnya mengabdi kepada kesucian gereja-gereja dan ritus-ritus. Dengan demikian, kesenian diharapkan dapat menggabungkan suaranya pada kidung pujian yang mengagumkan, yang di masa lampau oleh para seniman yang ulung telah dianjungkan kepada iman KatolikAy Berdasarkan penuturan informan, dengan mengacu pada Ajaran Gereja mengatakan bahwa Audalam kebudayaan-kebudayaan terdapat . danya atau mengandung/tersira. benih-benih keselamatan sehingga Gereja sangat menghargai adat istiadat/kebudayaan yang ada. Ay Inilah yang mendasari mengapa Gereja yang hidup dan dikembangkan di tanah Dayak memasukan unsur-unsur kebudayaan Dayak ke dalam praktik peribadatan dan ekspresi keberagamaan orang Dayak yang Katolik. Sebagai contoh Gereja sangat menghargai AuBudaya Naik DangauAy yang merupakan upacara tahunan sebagai Aupesta syukuranAy . capan syuku. atas hasil panen yang diperoleh selama setahun berladang. Upacara syukuran yang setiap tahun dirayakan masyarakat Dayak oleh Gereja diberi makna AulebihAy dan memiliki unsur AubaruAy dengan ritual keagamaan Katolik yakni Misa Syukur . ang merupakan peribadatan resmi dalam Gereja Katoli. dalamnya terkandung rasa syukur atas rejeki dan berkat dari Tuhan berupa hasil panen yang berlimpah, sambil memohon berkat untuk rejeki di tahun-tahun mendatang. Upacara budaya diangkat ketaraf yang lebih luhur dan mulia: menjadi tanda dan ungkapan syukur atas kasih, penyertaan, berkat dan perlindungan Tuhan selama satu tahun ini. Oleh Gereja Aunilai-nilai adat dan budayaAy diberi makna baru, diberkati dan diberi nama baru: AuPesta Naik DangauAy menjadi AuMisa Syukur TahunanAy sebagai ungkapan rasa syukur atas berkatNya terutama berupa rejeki dari hasil panen. Semula AuPesta Naik DangauAy atau AuPesta Gawai DayakAy dibuka dengan pawai adat-budaya, dengan berkeliling di jalan- jalan utama kota, sekarang dibuka dengan Ibadat Resmi Gereja yaitu AuMisa SyukurAy yang dilanjutkan dengan makan bersama dalam suasana persaudaraan dan kerukunan. Berdasarkan penuturan informan bahwa penggunaan simbol-simbol keagamaan Katolik yang dalam arti tertentu berada di luar adat istiadat Dayak - dalam ritual/upacara adat termasuk di dalam berdampak/efek pada kekebalan bagi Ausekelompok masyarakat DayakAy merupakan cerminan AuketerbukaanAy orang Dayak terhadap orang luar, berikut dengan adat istiadat, budaya dan kepercayaannya. Bagi orang Dayak apa yang baik dari luar diterima dan dijadikan bagian dari Aumiliknya. Ay Simbol-simbol keagamaan Katolik oleh sekelompok pemuda Dayak yang beragama Katolik adalah sesuatu yang dianggap baik, dan dijadikan juga sebagai sarana dan alat yang dapat menghandar pada kekebalan. Ada anggapan bahwa penggunaan simbol-simbol keagamaan Katolik dalam ritual ilmu kebal dapat menambah keyakinan akan kekebalan badan. Penggunaan Simbol-Simbol Keagamaan Katolik dalam Ritual Kekebalan Bertentangan dengan Maksud dan Keberadaannya Keberadaan benda-benda keagamaan merupakan keharusan guna menunjang ekspresi Simbol-simbol keagamaan Katolik dimaksudkan sebagai sarana dan alat untuk mengungkapkan dan mengekspresikan sikap hormat dan sembah sujud kepada Tuhan. Berbagai simbol keagamaan Katolik yang lazim digunakan sebagai sarana mengungkapkan imannya kepada Tuhan, antara lain: . engan berbagai bentuk dan ukuranny. , digunakan dalam ibadat resmi publik maupun ibadat pribadi, yang biasanya diletakan menghadap ke orang yang beribadat dengan maksud dan tujuan membantu memusatkan perhatian kepada Yesus yang tergantung di kayu salib itu. Patung Yesus dan Patung Bunda Maria yang dipakai sebagai sarana peribadatan dengan maksud membantu si pendoa memusatkan perhatian kepada sosok pribadi yang tergambarkan dalam patung tersebut. Kalung Rosario yang digunakan sebagai sarana untuk berdevosi . emberi penghormatan dalam bentuk berdo. kepada Bunda Maria sekaligus pemodelan dalam hal beriman . ang pasrah dan taat secara total kepada kehendak Tuha. Lilin . ernyala/dinyalaka. sebagai sarana beribadat yang melambangkan terang Kristus yang menyinari hidup di pendoa. Seperti lilin yang bernyala yang mampu menyidari lingkungan sekitarnya, diharapkan si pendoa melalui teladan hidupnya dapat menyinari dengan cahaya kebaikan yang terpancar dalam sikap dan teladan hidupnya, menjadi diri terang bagi Penggunaan simbol-simbol keagamaan Katolik diluar maksud tersebut di atas bertentangan dengan hakikat keberadaannya, dan mengaburkan makna yang sesungguhnya. Menurut informan, yang merupakan salah satu pemimpin Gereja Katolik, bahwa penggunaan simbol-simbol Katolik seperti benda-benda rohani, doa-doa pokok dan doa- doa harian Katolik, tanda-tanda, misalnya membuat tanda salib, sikap-sikap tubuh yang mencerminkan penyerahan dan sikap pasrah diri sebagai orang Katolik merupakan sarana, prasarana dan cara pengungkapan imannya kepada Tuhan. Menjadi persoalan kalau dalam upacara-upacara adat, seperti dalam ritual kekebalan selain sesajian khas masyarakat adat Dayak, digunakan juga simbol-simbol keagamaan Katolik. Lebih lanjut menurut informan, bahwa praktik ritual kekebalan menggunakan dan menggabungkan simbol-simbol keagamaan Katolik dengan sesajian yang mencerminkan simbolsimbol adat Dayak sebagai bentuk pemujaan kepada Jubata (Tuha. dan penghormatan kepada leluhur . ntuk mengaja AurelasiAy yang baik dengan para leluhu. jelas tidak bisa diterima. Penggabungan simbol-simbol keagamaan Katolik dengan sesajian yang merupakan simbolsimbol adat Dayak dalam suatu ritual kekebalan merupakan bentuk AupenyimpanganAy atas hakikat keberadaan dan maksud dari simbol- simbol tersebut. Simbol-simbol keagamaan yang semula untuk memuliakan dan memuja Tuhan menjadi kehilangan maknanya, menjadi AuhanyaAy untuk memperoleh kekebalan tubuh. Lebih lagi bahwa menggunakan simbol-simbol keagamaan yang disatukan dengan sesajian khas adat istiadat untuk maksud pemujaan . epada Jubata dan para leluhu. termasuk dalam kategori praktik sinkretisme . uatu perpaduan/percampuran dari berbagai tradisi agama dan kepercayaan yang berbeda-bed. Dalam hal ini menurut informan. Gereja Katolik jelas menganggap hal ini sebagai AupersoalanAy dan yang tidak Audibenarkan. Ay Penggunaan simbol-simbol keagamaan Katolik yang digandengkan dengan sesajian khas adat istiadat dengan maksud memperoleh kekebalan tubuh menurunkan makna luhurnya dari simbolsimbol itu dan demi kepentingan praktis. Sikap Gereja terhadap praktik yang berbau sinkretisme ini berangkat dari ajaran Kitab Suci. Misalnya sikap Rasul Paulus seperti yang tertulis dalam suratnya kepada Jemaat di Kolose, yang menanggapi dan menyikapi praktik pencampuran iman akan Yesus Kristus dengan kepercayaan dan ajaran sesat serta tahyul, yang seolah menganggap bahwa iman akan Kristus belum cukup untuk keselamatan mereka. Rasul Paulus menegaskan bahwa: AuYesus Kristus adalah kepenuhan keAllahan dan kita telah dipenuhi di dalam Dia, berakar dan dibangun di dalam Dia. Oleh karena itu tetaplah hidup di dalam Dia, berakar dan dibangun di dalam DiaAy (Kol 2:6-. Paulus jelas sekali meminta Jemaatnya untuk berpegang teguh dan beriman kepada Kristus. Jangan ada sedikitpun keraguan akan kekuatan daya penyelamatan dari Yesus Kristus. Berpaling kepada ajaran lain, apa lagi yang berbau tahyul dan kesesatan berarti juga meragukan keselamatan yang datang dari Allah melalui Yesus Kristus. Merujuk pada ajaran Kitab Suci, informan menegaskan bahwa selaku salah seorang pemimpin umat Katolik dirinya prihatin dengan ilmu kebal. AuSaya minta khususnya Orang Muda Katolik, jangan ikut ilmu kebal, karena tidak ada ajaran Katolik, yang mengajarkan ilmu Tidak penting orang Dayak harus kebal, yang penting orang Dayak diberdayakan. Ay Selanjutnya informan menegaskan bahwa yang harus diperjuangkan oleh Orang Muda Katolik Dayak adalah keluar dari kebodohan dengan pendidikan yang tinggi, keluar dari kemiskinan dengan mengembangkan ekonomi kreatif dan mandiri secara ekonomi, dan keluar dari kerapuhan fisik karena penyakit dengan menjaga dan memelihara kesehatan raga dan jiwa. Situasi sekarang sudah berubah, tidak ada lagi perang antar suku, kekebalan fisik/badan sebagai unjuk kekuatan sudah harus ditinggalkan. Rasa hormat masyarakat luas terhadap masyarakat Dayak bukan pada kekebalan tubuh sebab semua manusia pasti mati. Penghargaan terhadap masyarakat Dayak justeru terjadi ketika banyak dari anggota komunitas Dayak berkontribusi dalam membawa kemajuan dan kemakmuran bersama. Menjaga Keharmonisan dan Persatuan Umat Menurut salah seorang informan, walaupun salah satu pimpinan Gereja Katolik secara tegas menghimbau bahkan pada suatu kesempatan secara terang-terangan melarang Orang Muda Katolik Dayak untuk ikut dan terlihat dalam praktik ilmu kebal . Namun secara umum Gereja tidak secara tegas dan tidak secara terang- terangan melarang. Hal ini dapat dimengerti bahwa Gereja selalu mengusahakan dan mendahulukan pendekatan yang bersifat humanis. Menjaga keharmonisan, persatuan, dan kerukunan umat jauh lebih penting daripada mengadakan AuperlawananAy yang terbuka terhadap mereka yang terlibat dalam praktikpraktik yang AumenyimpangAy bila dilihat dari sudut pandang Gereja Katolik. Pertimbangan Pastoral . astor = gembala, pastoral = penggembalaan uma. yakni dengan pembinaan yang berkelanjutan, dengan pendekatan yang humanis, pelayanan tulus dan tanpa pamrih, serta penyadaran yang tak berkesudahan lebih menjadi pilihan utama untuk ditempuh daripada melarang dengan tegas dan keras, yang pada akhirnya menimbulkan perlawanan yang tidak kalah kerasnya. Sikap Gereja ini mengacu pada pribadi Yesus Kristus. Sang Gembala yang Baik, yang menggembalakan kawanan domba kepada kemakmuran . e rumput yang hija. dan terhindar dari kesesatan dan bahaya . engan mencari yang tersesat dan tidak lari ketika domba- domba terancam oleh binatang bua. AuAkulah gembala yang baik. Gembala yang baik memberikan nyawanya bagi domba-dombanya. sedangkan seorang upahan yang bukan gembala, dan yang bukan pemilik domba-domba itu sendiri, ketika melihat serigala datang, meninggalkan domba-domba itu lalu lari, sehingga serigala itu menerkam dan menceraiberaikan domba-domba itu. Ia lari karena ia seorang upahan dan tidak memperhatikan domba-domba itu. Akulah gembala yang baik dan Aku mengenal dombadomba-Ku dan domba-domba-Ku mengenal Aku sama seperti Bapa mengenal Aku dan Aku mengenal Bapa, dan Aku memberikan nyawa-Ku bagi domba- domba-Ku. Tetapi Aku juga mempunyai domba-domba lain yang bukan dari kandang ini. domba-domba itu harus Kutuntun juga dan mereka akan mendengarkan suara-Ku dan mereka akan menjadi satu kawanan dengan satu gembala. Bapa mengasihi Aku, oleh karena Aku memberikan nyawa-Ku agar Aku menerimanya kembali. Tidak seorang pun mengambilnya dari Aku, melainkan Aku memberikannya menurut kehendak-Ku sendiri. Aku berkuasa memberikannya dan berkuasa mengambilnya kembali. Inilah perintah yang Kuterima dari Bapa-Ku. Ay (Yoh 10:11-. Terhadap AukasusAy ritual kekebalan yang menggunakan simbol-simbol keagamaan Katolik Gereja mengacu pada teks Kitab Suci di atas, yakni mau menjadi gembala yang baik, yang mau menyelamatkan semua dombanya dan mempersatunya menjadi satu kawanan domba. Sikap Gereja yang merangkul umat, termasuk di dalamnya Orang Muda Katolik Dayak yang terlibat dalam praktik ritual kekebalan meneladani Sang Gembala Agung, yang bahkan rela mengorbankan nyawaNya demi keselamatan dombaNya. Bagi Gereja menuntun umatnya ke jalan yang benar dan mempersatukannya menjadi satu kawanan jauh lebih berguna daripada mencerai-berainya dengan sikap dan bahasa yang mengecam, yang berakibat pada timbulnya Penegasan lebih lanjut dari informan bahwa pertimbangan pastoral . emi penggembalaan/pembinaan uma. lebih dikedepankan dari pada alasan dan pertimbangan teologis serta kepatuhan pada doktrin-doktrin Gereja. Bahwa mempersatukan umat beriman jauh lebih baik daripada mengecam mereka yang dianggap melanggar ajaran Gereja. Melalui pendekatan dan pembinaan yang berkelanjutan diharapkan praktik- praktik yang keliru perlahan-lahan akan diperbaiki dan diluruskan. Melihat AuBuah Baik yang DihasilkanAy Bukan AuApa yang TanamAy Gereja bersikap AutoleranAy atas penggunaan simbol-simbol keagamaan Katolik dalam ritual kekebalan, dalam arti tidak merang secara keras dan tegas sebagaimana telah diterangkan di atas karena melihat Aubuah-buah baikAy yang dihasilkan dari para Orang Muda Katolik Dayak yang AuterlibatAy di dalamnya. Melalui pemeliharaan adat istiadat dengan ucapara-upacara adat, termasuk di dalamnya ritual kekebalan, ditumbuhkembangkanlah sikap dan perilaku yang mulia dan terpuji dari Orang Muda Katolik Dayak. Misalnya mereka harus menahan diri dari sikap serakah dan tamak, peduli dan peka terhadap kebutuhan orang lain . aling membantu dan solide. , mempertahankan dan berjuang hak-hak adat, menjauhi narkoba dan miras, lebih giat berdoa dan beribadat. Gereja melihat perilaku dan sikap positif yang ditampilkan oleh Pemuda Katolik Dayak yang terlibat dalam ritual kekebalan dengan menggabungkan simbol-simbol keagamaan Katolik di dalamnya merupakan Aubuah-buah baikAy dan AubernasAy yang dihasilkan. Bahwa kekebalan yang coba diraih itu bukan untuk merusak dan tidak untuk unjuk kekuatan yang sifatnya menantang pihak lain. Bahwa kekebalan itu bukanlah suatu target akhir yang harus dikejar. Seluruh aktivitas yang adat istiadat diarahkan dalam rangka menumbuhkembangkan kecintaan akan budaya lokal, menggali nilai-nilai hulur dari adat istiadat untuk kebaikan bersama, dan sebagai ekpresi dari kearifan lokal. Hal ini terlihat, misalnya para pemuda berani tampil kompak dalam membela hak-hak adat dan masyarakat adat yang tertindas. Dalam beberapa kasus ketidakadilan yang dialami masyarakat adat para pemuda ini berani menjadi pelopor untuk menyuarakannya. Kelompok pemuda ini, misalnya yang berjuang membebaskan para petani yang dipenjarakan di kota Sintang karena dituduh sebagai pelaku pembakaran hujan hanya karena mereka pelaku peladang yang berpindah-pindah. Padahal sesungguhnya yang terjadi adalah pihak perusahaan sawit pelakunya, karena dengan cara itu mereka anggap cara yang paling mudah dan murah untuk pembersihan lahan. Pada kasus lain, para pemuda inilah yang mendesak salah seorang politisi untuk meminta maaf dan mengungkapkan rasa penyesalannya karena dianggap telah melecehkan adat istiadat Dayak, serta mendesak pengurus adat untuk menghukum adat yang bersangkutan. Politisi tersebut dihukum adat karena dalam usaha mendapat simpati dari sekelompok masyarakat, menjelek-jelek adat istiadat kelompok masyarakat lainnya. Terbuka untuk Dialog dan Kerjasama Akhirnya Gereja merasa perlu membuka dialog dan kerjasama dengan kelompok pemuda Dayak yang berusaha mengejar kekebalan fisik dengan ritual ilmu kebal. Perlu ada kesepahaman antara kedua belah pihak, dengan saling membuka diri untuk kebaikan yang lebih Gereja perlu menyadari bahwa diperlukan Orang Muda Katolik Dayak yang mempunyai kesadaran akan penting melestarikan adat istiadat, termasuk di dalamnya mengupayakan kekebalan fisik sebagai salah satu kearifan lokal masyarakat Dayak. Pada pihak lain. Orang Muda Katolik Dayak perlu menyadari bahwa Gereja perlu menegakan ajarannya, sesuai dengan doktrin-doktrin yang berlaku. Bahwa simbol- simbol keagamaan Katolik hanya boleh digunakan untuk tujuan-tujuan yang telah ditentukan sendiri oleh Gereja, bukan digunakan untuk tujuan-tujuan lain di luar konteks keagamaan Katolik. KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan pada bab sebelumnya, peneliti menyimpulkan: penggunaan simbol-simbol keagamaan Katolik dalam ritual kekebalan terlihat pada pelatar yang disiapkan selain sesajian khas adat istiadat Dayak juga ada simbol- simbol keagamaan Katolik yang Simbol-simbol keagamaan Katolik yang digunakan antara lain Salib. Rosario, lilin, patung Yesus dan patung Bunda Maria. Kemudian, pada prakteknya sebelum ritual dilakukan selalu dibuka dengan doa-doa pokok Gereja Katolik seperti dibuka dengan tanda salib, doa Bapa Kami, doa salam Maria, doa Tobat dan juga doa Aku Percaya. Hal ini mereka yakini bahwa ritual yang dilakukan tidak bertentangan dengan agama Katolik karena ritual ilmu kebal ini merupakan inkulturasi dimana orang Dayak tidak bisa dipisahkan antara agama dan adat. Orang Dayak merupakan manusia yang beradat dan beragama, jadi dalam mengekspresikan diri pun harus memperlihatkan manusia yang beradat dan beragama. Pandangan Pimpinan Gereja Katolik terhadap penggunaan simbol keagamaan Katolik dalam ritual kekebalan tercermin dalam sikap bahwa penggabungan simbol-simbol keagamaan Katolik dengan sesajian yang merupakan simbolsimbol adat Dayak dalam suatu ritual kekebalan merupakan bentuk AupenyimpanganAy atas hakikat keberadaan dan maksud dari simbol-simbol tersebut. Simbol- simbol keagamaan yang semula untuk memuliakan dan memuja Tuhan menjadi kehilangan maknanya, menjadi AuhanyaAy untuk memperoleh kekebalan tubuh. Lebih lagi bahwa menggunakan simbol-simbol keagamaan yang disatukan dengan sesajian khas adat istiadat untuk maksud pemujaan . epada Jubata dan para leluhu. termasuk dalam kategori praktik sinkretisme . uatu perpaduan/percampuran dari berbagai tradisi agama dan kepercayaan yang berbeda-bed. Namun guna menjaga keharmonisan dan kesatuan umat Gereja tidak secara tegas melarang. Pembinaan dan pendampingan yang terus menerus dan berkelanjutan diharapkan mampu memberi kesadaran bahwa praktik yang termasuk dalam kategori sinkretisime lambat laun dapat dihindari. DAFTAR PUSTAKA