VitaMedica : Jurnal Rumpun Kesehatan Umum Vol. 2 No. 2 April 2024 e-ISSN: 3030-8992. p-ISSN: 3030-900X. Hal 52-60 DOI: https://doi. org/10. 62027/vitamedica. Hubungan Pengetahuan dan Sikap Masyarakat dengan Tindakan Pencegahan Rabies di Wilayah Kerja Puskesmas Molompar Pinkan F F Pote1,. Agusteivie A. J Telew2. Agustinus R Butarbutar3 Program Studi Ilmu Kesehatan Masyarakat Fakultas Ilmu Keolahragaan dan Kesehatan Masyarkat. Universitas Negeri Manado Email : pingkanpote3@gmail. Abstrak Rabies merupakan penyakit infeksi akut pada susunan saraf pusat akibat virus zoonotik yang menyebar melalui kontak langsung dengan luka atau mukosa dengan air liur atau cakaran hewan yang terinfeksi. Jenis penelitian ini adalah penelitian survey analitik dengan desain cross sectiona( Study Potong Lintang. Sampel penelitian ini sebanyak 82 yaitu Bpk. /Ibu yang memelihara anjing dan tidak memelihara anjing, bersedia menjadi responden dan mengisi kuesioner. Teknik yang digunakan adalah probability sampling dengan jenis pengambilan sampel yaitu simple random sampling. Analisis data yang digunakan adalah analisis univariat dan analisis bivariat, dengan menggunakan uji chi-square. Hasil Uji Chi-Square menunjukkan ada hubungan yang signifikan antara pengetahuan masyarakat dengan tindakan pencegahan rabies dengan nilai P-Value= 0,018 O a. ,05%), tidak ada hubungan yang signifikan antara sikap masyarakat dengan tindakn pencegahan rabies dengan nilai P-Value = 0,293 Ou a . ,05%), dengan demikian diharapkan agar pihak-pihak kesehatan dapat melakukan penyuluhan tentang penyakit rabies dan melakukan vaksinasi kepada hewan peliharaan agar dapat terhindar dari virus rabies. Kata kunci: Rabies. Pengetahuan. Sikap. Tindakan Pencegahan. Abstract Rabies is an acute infection disease of the central nervous sytem caused by a zoonotic virus which spreads through direct contact with wounds or mucosa with the saliva or scratches of infected animals. This type of (Cross-sectional Stud. The sample for this study was 82 namely Mr/Mrs. Who kept dogs and those who did not keep dogs, who where willing to be respondents and fill out the questionnaire. The technique used is probability sampling with the type of sampling, namely simple random sampling. The data analysis used was univariate analysis and bivariate analysis, using the chi-square test. The results of the Chi-Square Test show that there is significant relationship between community knowledge and rabies prevention measures with a P-Value = 0,018 O a . ,05%), there is no significant relationship between community attitudes and rabies prevention actions with the P-Value = 0. 293 Ou a . 05%), thus it is hoped that health parties can provide education about rabies and vaccinate pets so they can avoid the rabies virus. Keywords : Rabies, knowledge. Attitude. Preventive Measures. PENDAHULUAN Rabies adalah penyakit infeksi akut pada susunan saraf pusat yang disebabkan oleh virus rabies, dan ditularkan melalui gigitan Hewan Penular Rabies (HPR) terutama anjing Kementerian Kesehatan RI . Rabies merupakan penyakit zoonosis yang sangat berbahaya karena dapat mengakibatkan kematian pada hewan dan manusia yang terinfeksi virus rabies dalam air liur hewan. Di dunia bahkan di Indonesia, rabies masih dianggap penyakit zoonosis nomor satu karena selalu berakibat fatal yaitu kematian baik pada hewan maupun pada manusia Parwis dkk . Rabies merupakan masalah serius yang harus dikendalikan dengan berbagai upaya misalnya vaksinasi Arjentinia, et al. , 2018. Setiawaty et al . Received Maret 31,2024. Accepted April 17,2024. Published April 30, 2024 * Pinkan F F Pote, pingkanpote3@gmail. e-ISSN: 3030-8992. p-ISSN: 3030-900X. Hal 43-51 Mamalia yang paling sering dikaitkan dengan penyakit rabies adalah anjing peliharaan yang menularkannya kepada manusia Bharani et al . Kejadian rabies bersumber dari virus dalam genus Lyssa virus dan keluarga Rhabdoviridae yang menyerang sistem saraf mamalia Hamdani & Puhilan . Ada resiko yang sangat besar ketika manusia terjangkiti virus ini yakni kematian pada Kematian pada pasien rabies umumnya terjadi karena kurang tanggap dan cepatnya pengobatan yang seharusnya Pangkey et al . Virus ini bersifat menular dan dapat menyerang ke semua spesies mamalia. Meskipun pencegahan dan pengawasan rabies telah mengalami kemajuan, penyakit ini tetap merupakan ancaman besar bagi kesehatan masyarakat dan terus menambah kematian manusia di seluruh dunia. Bahkan World Health Organization (WHO) memperkirakan kematian manusia akibat rabies endemic mencapai 000 orang/tahun dan informasi yang terbatas menghambat akses pada perawatan yang tetap, terutama diarea rabies endemic WHO . Penyakit rabies telah menyebar luas secara global disemua benua di dunia kecuali Antartika, lebih dari 95% atau sebanyak 164. 403 kejadian rabies pada manusia terjadi di Asia dan Afrika. Jumlah kasus rabies pada manusia rata-rata pertahun di beberapa Negara Asia antara lain India 20. 000 kasus. China 2. 500 kasus. Filipina 20. 000 kasus. Vietnam 9. 000 kasus dan Indonesia 1. 168 kasus. Kasus kematian akibat rabies, untuk wilayah Asia menyebabkan 000 kematian per tahun. India 20. 000 kematian per tahun. China rata-rata 2. kematian per tahun. Vietnam 9. 000 kematian per tahun. Filipina 200-300 kematian per tahun dan Indonesia rata-rata sebanyak 143 kematian per tahun (World Health Organisation, 2. Berdasarakan data dari Biro Komunikasi dan Pelayanan Publik. Kementrian Kesehatan RI mengumumkan ada 11 kasus kematian yang disebabkan oleh rabies. 95% kasus rabies disebkan oleh gigitan anjing. Pada bulan april 2023 sudah ada 31. 113 gigitan hewan penular rabies, 23,221 kasus gigitan yang sudah mendapatkan vaksin anti rabies, dan 11 kasus kematian di Indonesia. Saat ini ada 26 provinsi yang menjadi endemis rabies tetepi hanya 11 provinsi yang bebas dari rabies yakni Kepulauan Riau. Bangka Belitung. DKI Jakarta. Jawa Tengah. Yogyakarta. Jawa Timur. Papau Barat. Papua. Papua Selatan. Papua Tengah, dan papau pegunungan. Situasi rabies di Indonesia tahun 2020- April 2023 rata/tahun kasus gigitan sebanyak 82,634, yang telah diberi vaksin anti rabies hampir 57. e-ISSN: 3030-8992. p-ISSN: 3030-900X. Hal 43-51 Data kasus gigitan hewan penular rabies (GHPR) yang diperoleh dari Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Utara dari tahun 2017-2021 dilaporkan berjumlah 24. 388 kasus gigitan dengan 67 diantaranya meninggal dunia, 2,089 kasus gigitan dengan 6 kasus kematian pada tahun 2022, dan kasus GHPR tertinggi terjadi pada tahun 2019 dengan jumlah kasus 092 kasus Dinkes Prov Sulut . Pada tahun 2019 Sulawesi Utara berstatus daerah tertular rabies berat dengan estimasi kisaran rasio manusia:anjing adalah . :1 dengan estimasi populasi anjing 5. Kementrian Pertanian . Berdasarkan penelitian Windy Patricya Stevani Lapian. Suryadi N. Tatura. Nurdjannah J. Niode 2023 di Desa Lompad Baru Kecamatan Ranoyapo Kabupaten Minahasa Selatan ditemukan terdapat hubungan yang bermakna antara pengetahuan dengan pencegahan kejadian rabies pada anak. Yuniarti Prihartini. Yendris K. Syamruth. Indriati A. Tedju Hinga 2023 di Puskesmas Nangapanda Ende Nusa Tenggara Timur di temukan terdapat hubungan antara pengetahuan dan sikap terhadap tindakan pencegahan penyakit rabies. METODE Jenis penelitian yang dilakukan ini adalah penelitian survey analitik. Desain yang digunakan adalah cross-sectional (Study Potong Lintan. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan januari-februari 2024 yang berlokasi di Wilayah Kerja Puskesmas Molompar tepatnya di Desa Molompar 2 Utara. Populasi dalam penelitian adalah 437 keluarga yang ada di Desa Molompar Dua Utara. Sampel dalam penelitian ini sebanyak 82 orang. Dalam penelitian ini, instrumen yang digunakan adalah berupa kuesioner yang berisi daftar pertanyaan maupun pernyataan meliputi variabel dependen dan independen yang akan dibagikan kepada Bpk/Ibu yang memenuhi kriteria sebagai sampel penelitian. Pengumpulan data primer yang dilakaukan oleh peneliti ialah melalui pengisian kuesioner oleh responden, sedangkan pengumpulan data sekunder dalam penelitian ini diambil dari hasil penelitian sebelumnya yang dianggap relevan dengan tujuan penelitian serta data dari buku-buku, jurnal ilmiah serta internet yang sejalan dengan penelitian ini. Analisis univariat menggunakan uji statistik deskriptif yakni untuk mengidentifikasi frekuensi distribusi responden, dan analisis bivariate menggunakan uji statistik chi square yakni untuk menganalisis hubungan antar variabel Hubungan Pengetahuan dan Sikap Masyarakat dengan Tindakan Pencegahan Rabies di Wilayah Kerja Puskesmas Molompar HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Karakteristik Responden Karakteristik responden adalah identitas yang terdiri dari nama, umur, jenis kelamin, dan Karakteristik responden dapat dilihat pada Tabel 1. Tabel 1. Karakteristik Responden Berdasarkan umur. Umur Jumlah 41,46% 24,39% 21,95% 10,98% 1,22% Total Sampel penelitian ini terdiri dari 82 responden. Jumlah tersebut mewakili umur 20-30 34 . ,46%) orang, 31-40 20 . ,39%) orang , 41-50 18 . ,95%) orang, 51-60 9 . ,98%), dan 61-70 1 . ,22%) orang. Tabel 2. Karakteristik Responden Berdasarkan Jenis Kelamin. Jenis Kelamin Jumlah Laki-laki 40,24% Perempuan 59,76% Total Sampel penelitian ini terdiri dari 82 responden. Jumlah tersebut terdiri dari lakilaki 33 . ,24%) dan perempuan 49 . ,76%) orang. VitaMedica : Jurnal Rumpun Kesehatan Umum. Volume 2 No. 2 April 2024 e-ISSN: 3030-8992. p-ISSN: 3030-900X. Hal 43-51 Tabel 3. Karaktetristik Responden Berdasarkan Pendidikan Pendidikan Jumlah 15,9% SMP 24,4% SMK/SMA 52,4% S1/S2 7,3% Total Sampel penelitian ini terdiri dari 82 responden. Jumlah tersebut terdiri dari sd 13 . ,9%) orang, smp 20 . ,4%), smk/sma 43 . ,4%), dan s1 6 . ,3%). Analisis Univariat Gambar 1. Distribusi Frekuensi Berdasarkan Pengetahuan Kurang Baik 39,0% 61,0% Tingkat pengetahuan dari 82 responden dapat dilihat bahwa mayoritas responden memiliki tingkat pengetahaun yang kurang sebanyak 32 dengan persentase 39,0%, sedangkan tingkat pengetahuan responden yang baik sebanyak 50 dengan persentase 61,0%. Gambar 2. Distribusi Frekuensi Berdasarkan Sikap Negatif Positif 42,7% 57,3% Sikap responden yang negatif sebanyak 47 dengan persentase 57,3%, sedangkan sikap responden positif sebanyak 35 dengan persentase 42,7%. Hubungan Pengetahuan dan Sikap Masyarakat dengan Tindakan Pencegahan Rabies di Wilayah Kerja Puskesmas Molompar Analisis Bivariat Tabel 4. Hubungan Pengetahuan dengan Tindakan Pencegahan Penyakit Rabies Pengetahuan Kurang Tindakan Pencegahan Kurang Baik P- v 22 68,8% 10 31,3% 0,018 Baik 21 42,0% 29 58,0% Berdasarkan hasil analisis menunjukkan nilai P-value . , artinya nilai P O . , maka dapat disimpulkan bahwa ada hubungan antara pengetahuan dan tindakan pencegahan rabies. Tabel 5. Hubungan Sikap dengan Tindakan Pencegahan Penyakit Rabies Sikap Positif Tindakan Pencegahan Kurang Baik P- v 16 45,7% 19 54,3% 0,293 Negative 27 52,4% 39 47,7% Berdasarkan hasil analisis menunjukkan bahwa nilai P-value . , artinya nilai P Ou . , maka dapat disimpulkan bahwa tidak ada hubungan antara sikap dengan tindakan pencegahan rabies. PEMBAHASAN Penelitian ini didapatkan jumlah responden sebanyak 82 orang. Dari 82 responden jumlah responden yang paling banyak umur 20-30 tahun 34 . ,46%) orang yang paling sedikit umur 61-7- tahun 1 . ,22%). Jenis kelamin yang paling banyak adalah perempuan 49 . ,76%). Pendidikan responden dikelompokkan dari tingkat SD. SMP. SMA, dan Sarjana. Kelompok pendidikan yang paling tinggi yaitu Smk/Sma 43 . ,4%) orang yang paling rendah S1/S2 6 . ,3%) orang. VitaMedica : Jurnal Rumpun Kesehatan Umum. Volume 2 No. 2 April 2024 e-ISSN: 3030-8992. p-ISSN: 3030-900X. Hal 43-51 Dari penelitian ini diketahui bahwa persentase pada masing-masing variabel menunjukkan bahwa responden yang memiliki tingkat Pengetahuan yang kurang sebanyak 32 dengan persentase 39,0%, sedangkan tingkat pengetahuan responden yang baik sebanyak 50 dengan persentase 61,0%. Hasil presentase sikap responden yang negative sebanyak 47 dengan persentase 57,3%, sedangkan sikap responden positif sebanyak 35 dengan persentase 42,7%. Dilihat dari hasil presentase tindakan pencegahan rabies yang memiliki tindakan pencegahan penyakit rabies kurang sebanyak 43 responden dengan persentase 52,4% sedangkan tindakan pencegahan penyakit rabies yang baik hanya dilakukan oleh 39 responden dengan persentase 47,6%. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara variabel pengetahuan dan sikap dengan tindakan pencegahan terhadap penyakit rabies. Hubungan Pengetahuan dengan Tindakan Pencegahan Rabies Dari hasil penelitian (Tabel . menunjukkan hubungan antara pengetahuan dengan tindakan pencegahan rabies. Proporsi hubungan pengetahuan dengan tindakan pencegahan rabies yang memiliki pengetahuan kurang dan tindakan pencegahan kurang sebanyak 22 . ,8%) responden, sedangkan responden yang memiliki pengetahuan kurang dengan tindakan pencegahan baik sebanyak 10 . ,3%). Sedangkan yang memiliki pengetahuan baik dan tindakan pencegahan kurang sebanyak 21 . ,0%) responden, dan responden yang memiliki pengetahuan baik dan tindakan pencegahan baik 29 . ,0%). Hasil analisis bivariat Chi-Square antara variabel pengetahuan dengan tindakan pencegahan rabies diketahui bahwa terdapat nilai p-value = 0,018 lebih kecil dari a = 0,05, maka dapat disimpulkan bahwa ada hubungan signifikan antara pengetahuan dan tindakan pencegahan rabies di wilayah kerja Puskesmas Molompar. Penelitian ini sejalan dengan pendapat Notoadmodjo . , bahwa tindakan seseorang terhadap masalah kesehatan, yang dalam hal ini masyarakat dalam program pencegahan rabies, pada dasarnya akan dipengaruhi oleh pengetahuan tentang masalah Begitu juga dengan penelitian yang dilakukan oleh Sutrisno . bahwa variabel yang mempunyai hubungan dengan rabies salah satunya adalah pengetahuan. Pengetahuan merupakan domain yang sangat penting dalam membentuk tindakan seseorang, yang dalam hal ini adalah partisipasi responden dalam program pencegahan rabies. Hasil penelitian ini juga sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Juliansyah E . dengan nilai PValue 0,018 maka P-Value O a. artinya ada hubungan yang signifikan antara pengetahuan dengan tindakan pencegahan rabies. Hubungan Pengetahuan dan Sikap Masyarakat dengan Tindakan Pencegahan Rabies di Wilayah Kerja Puskesmas Molompar Hubungan sikap dengan Tindakan Pencegahan Rabies Dari hasil penelitian (Tabel . menunjukkan hubungan sikap dengan tindak pencegahn rabies. Responden yang memiliki sikap positif tindakn pencegahan kurang 16 . ,7%) responden, sedangkan responden yang memiliki sikap positif tindakn pencegahan baik 19 . ,3%) responden. Responden yang memiliki sikap negative tindakan pencegahan kurang 27 . ,4%), dan sikap negative tindakan pencegahan baik 39 . ,6%) responden. Hasil analisis bivariat Chi-Square antara variabel pengetahuan dengan tindakan pencegahan rabies diketahui bahwa terdapat nilai p-value = 0,293 lebih besar dari nilai a = 0,05, maka, dapat disimpulkan bahwa tidak ada hubungan signifikan antara sikap dengan tindakan pencegahan rabies di wilayah kerja puskesmas molompar. Hasil ini sejalan dengan hasil yang dilakukan oleh Kemala . bahwa variabel sikap tidak memiliki hubungan dengan perilaku mahasiswa IPB terhadap penyakit rabies. sikap bukan merupakan predisposisi tidakan atau perilaku, sikap responden yang baik tidak selalu nyata dalam perilaku yang baik yaitu menghindari responden dari resiko penyakit. Hasil penelitian ini juga didukung oleh hasil penelitian yang dilakukan Wicaksono dkk . yang menunjukkan bahwa sikap tidak memiliki hubungan nyata dengan praktik penanganan rabies. sikap yang diyakini masyarakat tidak serta merta mendorong mereka untuk bertindak dan berpraktik yang baik. Hal ini dapat terjadi karena adanya faktor lain yang dapat memengaruhi praktik seperti tidak adanya fasilitas yang tersedia maupun aturan yang ada dilingkungan masyarakat tersebut. Hasil penelitian berbeda dilakukan oleh Laura dkk . mengenai sikap tentang pencegahan rabies di desa Marekau menunjukkan bahwa sikap memiliki hubungan dengan pencegahan rabies. KESIMPULAN Terdapat hubungan yang signifikan antara pengetahuan dengan tindakan pencegahan penyakit rabies pada masyarakat di Desa Molompa Dua Utara. Sesuai dengan hasil pembahasan menunjukkan bahwa pengetahuan yang kurang dengan upaya tindakan pencegahan yang kurang terdapat 22 . ,8%) responden, sedangkan tindakan pencegahan yang kurang dengan pengetahuan yang baik sebanyak 21 . ,0% ) responden Berdasarkan hasil uji statistik di dapatkan nilai P-Value sebesar 0,018 dari kebermaknaan O nilai a . , artinya H1 diterima adanya hubungan pengetahuan dengan tindakan pencegahan rabies dan Ho ditolak tidak ada hubungan antara pengetahuan dengan tindakan pencegahan rabies. VitaMedica : Jurnal Rumpun Kesehatan Umum. Volume 2 No. 2 April 2024 e-ISSN: 3030-8992. p-ISSN: 3030-900X. Hal 43-51 Hal ini dipengaruhi oleh tingkat pendidikan responden karena sesuai dengan karakterstik responden paling banyak memiliki pendidikan terakhir adalah SMK/SMA. Pada Demikian pula halnya dengan penanganan rabies, diharapkan semakin tinggi tingkat pendidikan responden semakin tinggi pula pengetahuan responden tentang pencegahan penyakit rabies. Tidak terdapat hubungan yang signifikan antara sikap dengan tindakan pencegahan penyakit rabies pada masyarakat di Desa Molompar Dua Utara nilai P-Value 0,293 dari kebermaknaan Ou nilai a . , artinya Ho diterima tidak ada hubungan antara sikap dengan tindakan pencegahan rabies dan H1 ditolak ada hubungan antara sikap dengan tindakan DAFTAR PUSTAKA