Volume 2 Nomor 3 . Pages 402 Ae 412 Finotec: Journal of Islamic Finance and Economics Email: finotec. pen@gmail. Journal Web: https://onlinejournal. com/index. Rekonstruksi Konsep Produksi dalam Ekonomi Islam: Antara Nilai Ibadah. Keberlanjutan, dan Tanggung Jawab Sosial Nabila Zaskia Maharani1. Sofi Latifah2. Nandar Hermawan3 UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon. Cirebon. Indonesia Email : nabilaazs331@gmail. com1, sofilatifah826@gmail. hermawanandar21@gmail. Received: 2025-06-17. Accepted: 2025-06-20. Published: 2025-08-01 Abstract This research discusses the concept of production in the view of Islamic economics, which places humans as managers of resources for the common good. Unlike the conventional economic system that only pursues profit. Islamic economics emphasizes the importance of justice, sustainability, and religious values in every production This study was conducted through a literature study by collecting and analyzing information from various scientific sources related to the principles and factors of production in Islam. The results show that production in Islam is not only intended to fulfill physical needs, but also as a form of worship and social responsibility. The main factors in production include nature, labor, capital, and management, all of which must be carried out in accordance with Islamic rules. The products produced must be halal, good, and provide benefits without harming the environment or harming society. These principles have been applied in various fields, such as the halal food industry, environmentally friendly agriculture. Islamic financial services, and corporate social activities. The results of the analysis show that Islamic values in the production process are able to create an economic system that is more just, ethical, and prioritizes benefits. In conclusion, the concept of production in Islam is very relevant to current economic challenges and can be a solution to realize a more humane and sustainable global economic Keywords: Production concept. Islamic production. Islamic Economy Copyright A 2025 Finotec: Journal of Islamic Finance and Economics PENDAHULUAN Dalam kerangka ekonomi Islam, konsep produksi memegang peranan penting sebagai landasan bagi tercapainya kemaslahatan umat. Produksi bukan sekadar kegiatan menciptakan barang atau jasa demi keuntungan semata, melainkan setiap aktivitas harus berangkat dari niat untuk menggali dan memanfaatkan sumber daya ekonomi yang telah dianugerahkan oleh Allah SWT. Dengan demikian, esensi produksi dalam perspektif Islam adalah menjadikan bahan baku yang tersedia menjadi sesuatu yang bermanfaat dan halal, sehingga hasilnya benarbenar bersentuhan dengan kebutuhan masyarakat luas. Sistem produksi dalam ekonomi Islam tidak dapat dipisahkan menjadi dua komponen utama yaitu prinsip produksi dan faktor produksi. Prinsip produksi menegaskan bahwa setiap - 402 - https://onlinejournal. com/index. tahapan mulai dari pengadaan bahan baku hingga proses manufaktur atau penyediaan jasa harus memenuhi kaidah halal dan thayyib. Hal ini menjamin bahwa output yang dihasilkan tidak hanya memuaskan kebutuhan material, tetapi juga menjunjung nilai-nilai moral dan etika Islam. Di sisi lain, faktor-faktor produksi yakni sumber daya alam, tenaga kerja, modal, serta manajemen bersinergi untuk mendukung keberjalanan keseluruhan proses. Tanpa koordinasi yang baik antar faktor ini, tujuan produksi yang bersifat kebermanfaatan dan keberlanjutan tidak akan tercapai. Pengertian produk sendiri tidak dapat dilepaskan dari konsep kebutuhan manusia . Seperti dikemukakan oleh Gitosudarmo . , produksi seharusnya dirancang untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Dalam konteks bisnis, aktivitas produksi menjadi sarana untuk menjawab kebutuhan . dan keinginan . Hal ini semakin relevan mengingat, sebagaimana dijelaskan oleh Zaki Fuad Chalil . , manusia membutuhkan asupan makanan, minuman, pakaian, dan tempat tinggal sebagai prasyarat utama kelangsungan hidup. Oleh karenanya, tujuan utama produksi dalam ekonomi Islam bukan hanya memenuhi kebutuhan dasar, tetapi juga menyelaraskan prosesnya dengan prinsipprinsip keadilan, keberlanjutan, dan nilai-nilai spiritual. METODOLOGI PENELITIAN Penelitian ini menggunakan metode studi pustaka, yaitu pendekatan yang berfokus pada pengumpulan dan analisis data sekunder yang diperoleh dari berbagai sumber literatur yang Sumber-sumber tersebut mencakup buku teks, artikel jurnal ilmiah, laporan penelitian, tesis, disertasi, serta publikasi akademik lainnya yang memiliki keterkaitan erat dengan topik yang dikaji. Proses pengumpulan data dilakukan melalui penelusuran yang luas di berbagai database akademik, perpustakaan digital, dan repositori ilmiah, guna memperoleh cakupan informasi yang menyeluruh dan representatif. Melalui metode ini, peneliti tidak hanya mengumpulkan informasi, tetapi juga melakukan kajian kritis dan merangkum berbagai pandangan dari literatur yang tersedia. Tujuan utamanya adalah membangun pemahaman yang mendalam dan komprehensif terhadap topik yang dibahas, mulai dari teori-teori yang relevan, hasil-hasil penelitian sebelumnya, hingga tren dan isu terkini. Dengan demikian, peneliti dapat mengidentifikasi celah penelitian, memahami beragam perspektif, serta menempatkan studinya dalam konteks literatur yang lebih luas dan terstruktur. HASIL DAN PEMBAHASAN Definisi dan Tujuan Produksi dalam Perspektif Islam Produksi merupakan aktivitas mendasar yang berperan penting dalam menjaga kelangsungan hidup makhluk hidup dan telah berlangsung sejak manusia pertama kali diciptakan di bumi. Kemajuan peradaban manusia dan bumi tidak terlepas dari proses produksi yang terus berkembang. Keterkaitan manusia dengan alam semesta menunjukkan pentingnya - 403 - https://onlinejournal. com/index. kolaborasi antara keduanya, sebagaimana Allah Swt. menetapkan manusia sebagai khalifah di muka bumi. Dalam hal ini, bumi berfungsi sebagai tempat dan sumber daya, sementara manusia berperan sebagai pengelola yang bertanggung jawab untuk memanfaatkannya secara Tugas ini sesuai dengan pandangan para ekonom yang menekankan bahwa modal dan sistem sangat bergantung pada kerja dan usaha manusia. Sistem dan aturan sendiri berperan sebagai arahan dan rancangan. Yusuf Qordhawi menambahkan bahwa modal, termasuk alat dan infrastruktur, sebenarnya merupakan hasil dari kerja yang disimpan. Maka dari itu, faktor utama dalam proses produksi meliputi kualitas dan jumlah tenaga kerja manusia, serta sistem dan sarana penunjang yang mencakup teknologi dan modal. (Ummah. Dalam perspektif ekonomi Islam, kegiatan produksi berkaitan erat dengan peran individu dalam ranah ekonomi. Produksi dipahami sebagai proses menciptakan kekayaan melalui pemanfaatan sumber daya alam oleh manusia. Umumnya, produksi diartikan sebagai upaya untuk menciptakan nilai suatu barang atau menambahkan nilai pada produk, barang, dan jasa. Namun, dalam Islam, barang yang diproduksi harus memenuhi kriteria kehalalan dan kebermanfaatan . alal dan thayyi. sebagaimana ditegaskan oleh Mohamed Aslam Haneef . Menghasilkan barang yang bermanfaat berarti menyediakan produk yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat dan memiliki nilai jual yang tinggi, karena sejatinya manusia tidak mampu menciptakan sesuatu yang benar-benar baru dari ketiadaan. Produksi dalam hal ini bukan hanya tentang menciptakan sesuatu secara fisik, tetapi lebih kepada mengolah dan memanfaatkan apa yang sudah ada agar bernilai dan bermanfaat. Dalam Islam, kegiatan bisnis atau usaha yang diperbolehkan harus didasarkan pada prinsip keadilan, kejujuran, dan dijalankan dengan cara yang bijak. Sebaliknya. Islam mengecam segala bentuk usaha yang mengandung unsur ketidakadilan dan kesalahan, karena hal tersebut dapat menimbulkan ketidakpuasan di tengah masyarakat dan berpotensi membawa dampak negatif yang merusak. Oleh karena itu, mekanisme ekonomi dalam Islam terhindar dari kezaliman, eksploitasi sebagaimana diterapkan dalam ekonomi kapitalis, serta diktator model komunisme (Mujahidin, 2. Untuk mencapai tujuan dalam sistem ekonomi Islam, syariat memberikan kebebasan kepada individu, namun kebebasan tersebut tetap berada dalam batasan yang telah ditetapkan, tidak sebebas sistem kapitalis. Dalam sistem kapitalisme, dikenal pandangan bahwa setiap individu didorong untuk mengejar kekayaan sebebas-bebasnya dengan cara apa pun yang mereka pilih. Setiap orang memiliki hak penuh untuk memperjuangkan kepentingan ekonominya demi memperoleh kekayaan sebanyak mungkin, tanpa batasan moral atau etika - 404 - https://onlinejournal. com/index. yang ketat. Sebaliknya, perekonomian Islam tidak memiliki pengawasan yang ketat seperti komunisme, yang mengakibatkan kehilangan kebebasan secara keseluruhan karena Islam tidak melarang hak-hak tersebut. (Ummah, 2. Dalam proses produksi, produsen mengolah berbagai komponen menjadi barang dan Faktor-faktor produksi dikelompokkan menjadi dua, yaitu faktor produksi tetap . ixed inpu. dan faktor produksi variabel . ariable inpu. Faktor produksi tetap adalah elemen yang jumlah penggunaannya tidak berubah, terlepas dari besar kecilnya jumlah produksi, bahkan ketika produksi tidak berlangsung, faktor ini tetap harus tersedia. Sebaliknya, faktor produksi variabel disesuaikan dengan tingkat produksi, semakin tinggi tingkat produksi, semakin besar jumlah faktor produksi variabel yang dibutuhkan. Tujuan utama dari kegiatan produksi adalah untuk meningkatkan keuntungan, yang dapat diwujudkan melalui berbagai cara atau bentuk Memenuhi kebutuhan manusia dalam batas kewajaran memiliki dua implikasi Pertama, karena keinginan manusia tidak terbatas, produsen hanya dapat memproduksi barang dan jasa yang benar-benar dibutuhkan, meskipun tidak selalu mampu memenuhi seluruh keinginan konsumen. Hal ini menimbulkan ketidakjelasan antara apa yang diinginkan manusia dan apa yang sebenarnya menjadi kebutuhan Oleh karena itu, barang dan jasa yang dihasilkan harus memberikan manfaat nyata bagi kehidupan, bukan hanya memberikan kepuasan semu kepada Mengidentifikasi dan memenuhi kebutuhan masyarakat Produsen dituntut untuk bersikap inovatif, proaktif, dan kreatif dalam mengidentifikasi barang dan jasa yang benar-benar dibutuhkan oleh masyarakat, serta berupaya memenuhinya. Meskipun peran produsen lebih pada menyediakan sarana pemenuhan kebutuhan dasar, hal ini tidak berarti mereka bersikap pasif atau hanya merespons permintaan konsumen. Sebaliknya, produsen harus mengambil inisiatif dalam menentukan apa yang perlu diproduksi, lalu menyampaikan atau mempromosikan informasi tersebut kepada konsumen agar mereka menyadari keberadaan dan manfaat produk yang ditawarkan. Karena pelanggan tidak tahu apa yang akan mereka butuhkan di masa depan, produsen harus membuat sesuatu yang baru untuk memberi tahu pelanggan bahwa itu adalah kebutuhan dalam hidup mereka. Mempersiapkan ketersediaan barang dan jasa untuk masa depan juga menuntut sikap - 405 - https://onlinejournal. com/index. Pertama, produsen harus mampu menciptakan barang dan jasa yang akan memberikan manfaat nyata bagi kehidupan di masa depan. Produsen yang beroperasi dalam kerangka prinsip-prinsip Islam tidak akan memproduksi sesuatu yang bertentangan dengan syariah atau tidak memberikan nilai positif bagi masyarakat. Kedua, penting untuk diingat bahwa sumber daya ekonomi tidak hanya diperuntukkan bagi generasi saat ini, tetapi juga merupakan amanah bagi generasi yang akan datang. Pemenuhan sarana untuk ibadah kepada Allah SWT dan kegiatan sosial lainnya Tujuan produksi semacam ini sulit dicapai dalam sistem ekonomi konvensional yang tidak berlandaskan pada nilai-nilai moral. Dalam perspektif Islam, produksi ditujukan untuk menciptakan manfaat, meskipun manfaat tersebut mungkin tidak dirasakan langsung oleh produsen secara fisik. Tujuan ini memiliki dampak yang luas, karena produksi tidak hanya berfokus pada penciptaan barang yang bersifat unik, tetapi juga harus mampu memberikan manfaat bagi sesama dan mendukung nilai-nilai Produk islami dapat memaksimalkan keuntungan material sambil menguntungkan agama dan masyarakat. Faktor Produksi dalam Islam Dalam istilah ekonomi, produksi diartikan sebagai serangkaian kegiatan ekonomi yang bertujuan untuk menciptakan barang atau jasa tertentu dengan memanfaatkan berbagai faktor produksi dalam jangka waktu tertentu. Beberapa elemen yang berperan sebagai alat dalam proses produksi dijelaskan sebagai berikut: Faktor alam atau tanah Merupakan unsur utama dalam proses produksi. Faktor alam ini mencakup bumi dan segala sesuatu yang ada di atasnya dan di dalamnya. Semua ini dianggap sebagai sumber daya alam yang dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan kesejahteraan dan kemakmuran manusia (Said Sa'ad Marthon, 2. Dalam kitab Ihya Al-Mawat. Rasulullah Saw. memberikan perhatian khusus terhadap pemanfaatan tanah yang sebelumnya tidak produktif sebagai sumber daya untuk kebaikan bersama. Islam mengakui hak kepemilikan atas sumber daya alam dan selalu mendorong pemanfaatan dan pemeliharaan yang bertanggung jawab sebagai bagian penting dari proses produksi. Menurut Muhammad . , tujuannya adalah untuk mendorong orang untuk mengembangkan atau mengolah tanah. Selain itu. Islam memberikan izin kepada pemilik tanah untuk menggunakan sumber daya alam lainnya sebagai bahan produksi. Tenaga kerja - 406 - https://onlinejournal. com/index. Tenaga kerja merupakan faktor yang mengoptimalkan pemanfaatan faktor produksi sebelumnya, yaitu faktor alam. Keberhasilan produksi sangat bergantung pada kualitas sumber daya manusia, sehingga tenaga kerja menjadi aset penting bagi kesuksesan sebuah perusahaan. Tenaga kerja yang memiliki keahlian dan integritas yang tinggi merupakan modal utama dalam menjalankan sebuah bisnis. Tenaga kerja adalah elemen dasar dari semua faktor produksi, dan tidak ada barang atau jasa yang dapat diproduksi tanpa peran mereka. Oleh sebab itu, tenaga kerja berperan dalam mengubah bahan mentah menjadi produk akhir sesuai dengan tujuan perusahaan. Selain sekadar penyedia tenaga atau jasa, buruh atau karyawan juga merupakan bagian integral dari perusahaan yang mempekerjakan mereka, sehingga perusahaan memiliki tanggung jawab moral dan sosial terhadap mereka. Dengan demikian, penentuan besarnya upah harus diarahkan untuk meningkatkan kesejahteraan tenaga kerja, dengan tetap mempertimbangkan efisiensi kerja dalam rangka menekan biaya produksi (Indriyo Gitosudarmo, 2. Agar hak-hak pekerja terpenuhi, para pelaku harus mematuhi ketentuanketentuan sebagaimana tercantum dalam kontrak kerja yang telah disepakati. Hak-hak pekerja harus dijamin secara penuh. Menurut Djazuli. , dan Yadi Janwari, pekerja berhak atas beberapa hal, antara lain: menerima upah atau imbalan atas pekerjaan yang dilakukan, mendapatkan jaminan kerja dari pemberi kerja, mendapatkan layanan kesehatan dan berbagai tunjangan sosial lainnya, dan mendapatkan pendidikan atau pelatihan untuk meningkatkan kualitas dan kemampuan kerja mereka. Modal Modal merupakan komponen krusial dalam proses produksi, karena tanpa modal, produsen tidak akan dapat memproduksi barang atau jasa. Modal dapat didefinisikan sebagai sejumlah sumber daya yang dapat diperoleh atau diciptakan untuk mendukung kegiatan produksi, tanpa adanya modal, proses produksi dan pembangunan tidak bisa terlaksana (Mochtar Effend. Modal Islam harus berasal dari sumber yang bebas dari riba. untuk mencapai maslahah dan kebaikan dalam produksi (Ika Yunia Fauzia dan Abdul Kadir Riyad. Mochtar Effendi membedakan modal berdasarkan sumber modal, yaitu: Modal alam Ini adalah semua bahan yang berasal dari sumber daya alam yang tidak secara khusus dimiliki oleh perorangan atau badan hukum, dan dapat digunakan sebagai modal dalam produksi. - 407 - https://onlinejournal. com/index. Modal sendiri Segala sesuatu yang dimiliki oleh seseorang dapat digunakan sebagai modal untuk menjalankan usahanya, selama barang atau harta tersebut tidak dilarang atau dianggap haram menurut aturan agama. Mendapat uang . aya bel. dari pinjaman disebut modal pinjaman Uang atau daya beli yang diperoleh melalui pinjaman dari individu atau lembaga lain dan digunakan sebagai modal produksi. Pinjaman ini dapat membantu mengatasi kekurangan modal, asalkan sistem peminjamannya tersebut bebas dari riba dan sesuai dengan ketentuan syariat. Bahkan, seiring Manajemen Manajemen merupakan seni dan ilmu dalam mengelola sumber daya manusia dan sumber-sumber daya lainnya secara efektif dan efisien untuk mencapai suatu tujuan tertentu (Malayu S. Hasibuan, 2. Berdasarkan fungsi-fungsi manajemen seperti perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, dan pengendalian, manajemen pengorganisasian, pengarahan, dan pengendalian sumber daya keuangan, manusia, dan informasi dalam suatu perusahaan. Keterampilan mengatur Seorang manajer wajib memiliki kemampuan untuk mengatur dan membuat aturan dan konsep untuk membangun dan mengembangkan perusahaan mereka. Kemampuan untuk memimpin Kemampuan untuk menjalankan rencana yang telah disusun untuk mencapai tujuan tertentu dan untuk mengawasi atau mengendalikan prosesnya. Lima komponen utama kegiatan kepemimpinan adalah memahami konsep secara mendalam, mengkomunikasikan konsep tersebut, memberikan motivasi, mengarahkan atau memberi instruksi, serta memantau dan mengendalikan jalannya proses. Prinsip Syariah dalam Kegiatan Produksi Pada pandangan ekonomi Islam, prinsip-prinsip produksi tidak jauh berbeda dari sistem konvensional. Yang membedakan sistem Islam dengan sistem konvensional adalah nilai tambah yang didasarkan pada Al Qur'an dan Hadits Nabi Muhammad SAW, sebagai - 408 - https://onlinejournal. com/index. panduan prinsip-prinsip produksi (Mujahidin, 2. Ekonomi bergantung pada syariat Islam, dan seluruh aktivitasnya berorientasi pada konsumsi. Dalam pandangan Islam, konsep konsumsi berorientasi pada pencapaian falah . , sehingga tujuan produksi barang dan jasa adalah untuk menyediakan kebutuhan yang mendukung tercapainya kebahagiaan Di bawah ini tercantum implikasi penting terhadap aktivitas produksi dan Setiap proses pembuatan diatur oleh standar nilai dan teknik Islami Dalam manajemen produksi, manajemen harus sejalan dengan nilai-nilai luhur budaya dan moral Islam, mulai dari proses pembuatan produk hingga cara memasarkan produk tersebut kepada konsumen. Menurut Metwally . , jika produk barang dan jasa menyimpang dari nilai-nilai agama dan bertentangan dengan Syariah, maka keputusan manajemen perusahaan non-Muslim cenderung menerapkan kebijakan dan strategi ekonomi yang sangat berbeda dengan prinsip-prinsip Syariah, baik dari segi strategi maupun hasil produksi. Selain itu, ajaran Islam mengklasifikasikan kebutuhan konsumsi ke dalam tiga tingkatan . haruriyah, hajjiyah, dan tahsiniya. dan melarang konsumsi yang berlebihan atau tidak proporsional . Ketentuan ini juga melarang praktik produksi yang melanggar prinsip tersebut. Produksi harus mempertimbangkan elemen sosial-kemasyarakatan Dalam setiap kegiatan produksi, prinsip keseimbangan dan harmonisasi harus dilakukan selaras dengan lingkungan sosial dan ekosistem masyarakat, agar produk yang dihasilkan dapat dinikmati secara optimal oleh masyarakat. Dengan demikian, perhatian tidak hanya difokuskan pada kepentingan produsen atau investor saja, tetapi juga pada kepentingan masyarakat luas. Melalui penerapan mekanisme yang tepat, tujuan utama perekonomian dapat terwujud dengan mendistribusikan manfaat dan keuntungan produksi secara adil kepada seluruh masyarakat. Kelangkaan bukan satu-satunya penyebab masalah ekonomi - 409 - https://onlinejournal. com/index. Masalah ini lebih kompleks. Untuk memenuhi kebutuhan pokok, kekurangan sumber daya ekonomi bukanlah satu-satunya masalah internal. Faktor internal lainnya termasuk perilaku individu yang tidak berhati-hati dalam mengoptimalkan sumber daya alam dan manusia (SDA). Orang-orang yang berperilaku seperti ini dikategorikan sebagai zalim atau orang yang ingkar terhadap nikmat. Hal ini menunjukkan bahwa setiap prinsip produksi tidak hanya sekadar soal efisiensi semata. secara lebih luas, ketaatan manusia Tuhan dengan cara mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya ekonomi. Implementasi Produksi dalam Perspektif Islam di Dunia Nyata Implementasi produksi Islam di dunia nyata menunjukkan bahwa prinsip-prinsip syariah dapat diterapkan secara luas dalam berbagai sektor. Dari industri makanan halal hingga perbankan syariah, setiap sektor memiliki cara unik untuk menerapkan nilai-nilai Islam dalam praktik bisnis mereka. Dengan meningkatnya kesadaran akan pentingnya produk halal dan tanggung jawab sosial, diharapkan lebih banyak perusahaan akan mengadopsi prinsip-prinsip ini, menciptakan ekosistem ekonomi yang lebih adil dan berkelanjutan. Industri makanan halal Banyak perusahaan makanan halal yang berpartisipasi dalam pameran dan konferensi internasional untuk mempromosikan produk mereka dan menjalin kerjasama dengan distributor global. Sebuah perusahaan lokal di Indonesia yang memproduksi makanan ringan halal. Mereka memastikan bahwa semua bahan baku yang digunakan terjamin kehalalannya dan proses produksinya sesuai dengan syariah. Al-Falah juga berupaya memastikan bahwa konsumen menerima informasi yang transparan tentang kehalalan produk yang mereka tawarkan. Industri pertanian Program pelatihan bagi petani untuk meningkatkan pengetahuan tentang pertanian berkelanjutan dan kehalalan produk, serta akses ke pasar yang lebih luas. Pertanian Organik Di negara-negara seperti Malaysia dan Indonesia, banyak petani Muslim yang menerapkan metode pertanian organik. Mereka menggunakan pupuk alami dan teknik pertanian yang ramah lingkungan, seperti rotasi tanaman dan pengendalian hama secara alami. Ini tidak hanya memenuhi kriteria halal tetapi juga menjaga keberlanjutan lingkungan. Koperasi yang dikelola oleh petani Muslim sering kali menerapkan prinsip-prinsip syariah dalam pengelolaan dan distribusi hasil Mereka bekerja sama untuk mendapatkan sertifikasi halal dan memasarkan produk mereka secara kolektif. - 410 - https://onlinejournal. com/index. Perbankan syariah Program pembiayaan yang ditujukan untuk proyek-proyek sosial guna meningkatkan kesejahteraan masyarakat, seperti pembangunan fasilitas infrastruktur dan sektor pendidikan. Bank Muamalat, bank pertama yang menerapkan prinsip syariah di Indonesia. Mereka menawarkan produk pembiayaan untuk usaha kecil dan menengah (UKM) yang sesuai dengan syariah, seperti pembiayaan murabaha . ual bel. dan musyarakah . Selanjutnya ada Al Baraka Bank. Bank ini beroperasi di beberapa negara dan menyediakan layanan perbankan syariah yang mendukung pengembangan usaha halal. Mereka juga memberikan pelatihan dan dukungan kepada pengusaha untuk mengelola bisnis mereka sesuai dengan prinsip Kontribusi perusahaan Banyak perusahaan yang mengadakan program pelatihan dan workshop untuk meningkatkan keterampilan masyarakat, serta memberikan bantuan kepada mereka yang membutuhkan, terutama di daerah yang terkena bencana. Unilever, perusahaan ini memiliki program CSR yang berfokus pada keberlanjutan dan kesejahteraan masyarakat. Mereka berinvestasi dalam program pendidikan dan kesehatan di komunitas di mana mereka beroperasi, serta mendukung petani lokal untuk meningkatkan produksi pertanian yang halal. Danone: Perusahaan ini menjalankan program yang mendukung kesehatan anak-anak dan ibu di komunitas lokal, serta berkomitmen untuk menggunakan bahan baku yang halal dalam produk mereka. KESIMPULAN Dalam perspektif Islam, produksi bukan semata-mata aktivitas ekonomi untuk menciptakan barang dan jasa, melainkan merupakan bagian integral dari tugas manusia sebagai khalifah di muka bumi. Proses produksi harus dilandasi oleh prinsip-prinsip syariah yang menjunjung tinggi keadilan, kemanfaatan, dan keberlanjutan, serta menolak segala bentuk kezaliman dan kerusakan terhadap manusia maupun lingkungan. Tujuan utama produksi dalam Islam adalah untuk memenuhi kebutuhan umat secara seimbang, mendukung pelaksanaan ibadah dan aktivitas sosial, serta mendorong tercapainya kemaslahatan umum. Islam mengenal faktor-faktor produksi utama yakni alam, tenaga kerja, modal, dan manajemen yang seluruhnya harus dikelola secara etis dan sesuai dengan prinsipprinsip syariat. - 411 - https://onlinejournal. com/index. Dalam praktiknya, ekonomi Islam tidak membatasi kebebasan berproduksi, namun mengarahkan kebebasan tersebut dalam bingkai hukum ilahi yang mencegah eksploitasi sebagaimana dalam sistem kapitalis, maupun penindasan ala sistem komunisme. Produksi dalam Islam tidak hanya berorientasi pada efisiensi dan profit, tetapi juga pada nilai-nilai moral dan keseimbangan sosial. Penerapan nilai-nilai produksi Islam dalam dunia nyata telah terbukti relevan di berbagai sektor, seperti industri halal, pertanian berkelanjutan, sistem keuangan syariah, serta program tanggung jawab sosial perusahaan. Berbagai perusahaan lokal maupun multinasional telah mulai mengadopsi prinsip-prinsip syariah dalam operasionalnya, membuktikan bahwa etika Islam dapat menyatu dengan praktik bisnis modern untuk menciptakan tatanan ekonomi yang lebih adil, berkelanjutan, dan maslahat bagi seluruh umat. REFERENSI