Meningkatkan kemampuan menerapkan prosedur kombinasi gerak dasar jalan, lari, lompat dan lempar dengan permainan olahraga yang dimodifikasi dan olahraga tradisional Meningkatkan Kemampuan Menerapkan Prosedur Kombinasi Gerak Dasar Jalan. Lari. Lompat dan Lempar dengan Permainan Olahraga yang Dimodifikasi dan Olahraga Tradisional di Kelas V . SDN 1 Sumengko Kecamatan Wringinanom Kabupaten Gresik Santje Wulansaria* aGuru Penjasorkes SDN 1 Sumengko Kecamatan Wringinanom Kabupaten Gresik *Koresponden penulis: sancee707@gmail. Abstract Sports and health physical education lessons are basically an integral part of the overall education system, aimed at developing aspects of health, physical fitness, critical thinking skills, emotional stability, social skills, reasoning and moral actions through physical and sporting activities. This study aims to: . Describe the activities of the teacher in improving the ability to apply a combination of basic road, running, jumping and throwing procedures with modified sports and traditional sports. Describing the activities of students in learning activities increases the ability to apply the procedure of a combination of basic road, running, jumping and throwing with modified sports and traditional sports. Describe learning with modified sports games and traditional sports in improving the ability to apply a combination of basic road, running, jumping and throwing procedures with modified sports and traditional sports. This research is a classroom action research conducted collaboratively. Designing problem situations, and ways to collaborate with children, is the main focus of meetings that occur between teachers and researchers. This research was conducted at Sumengko 1 Elementary School with the address Ds. Sumengko - Wringinanom- Gresik Postal Code: 61176 Tel. The subjects of this study were Class V students . of 30 children. The study was conducted in odd semester 2018/2019 academic year, for 3 months (September. October, and November 2. Procedures for cyclical action research are: . planning, . implementation, . observation, and . reflection, through a series of cycles. Data collection through observation . , artifacts and documents . and nonstandard tests. Test instrument items with validity test, reliability test, calibration test . evel of difficult. and distinguishing test. the entire process of data analysis is interactive using the Miles and Huberman models with the final mix method analysis. The results of the study concluded: . The teacher's activity experienced an increase in Pre-Action 57 percent and increasing in Cycle I by 74. 29 percent and increasing in Cycle II 57 percent. Activities of students experienced an increase in Pre-Action to obtain a result of 43. 57 percent and increase in Cycle I by 65. 71 percent and increase in Cycle II 14 percent. The average value of the test (Classical Absorptio. has increased in Pre-Action to get 7 percent and increased in Cycle I by 7. 51 percent and increased in Cycle II by 7. 76 percent. Classical Learning Completion has increased in Pre-Action obtained 67 percent and increased in Cycle I by 83. 33 percent and increased in Cycle II by 93. Keywords: Combination Of Basic Motion. Sports Games. Traditional Sports Pendahuluan Pelajaran pendidikan jasmani olahraga dan kesehatan pada dasarnya merupakan bagian integral dari sistem pendidikan secara keseluruhan, bertujuan mengembangkan ketrampilan berfikir secara kritis, stabilitas emosional, ketrampilan sosial, penalaran dan tindakan moral melalui aktifitas jasmani dan olahrahga (Santoso, 2017. Effendi, 2017. Putra. Dwiyogo & Supriyadi, 2. Depdiknas, . dalam Hendrayana. Adi & Lesmana, . mencantumkan Autujuan penjasorkes PROGRESSA Jurnal Ilmiah Pendidikan Agama Islam Vol. 3 No. 1 Pebruari 2019 ISSN 2579-9665 (Printe. , 2579-9673 (Onlin. pengelolaan diri dalam upaya pengembangan dan pemeliharaan kebugaran jasmani serta pola hidup sehat melalui berbagai aktivitas jasmani dan olahraga yang terpilih, selain itu juga dapat meningkatkan pertumbuhan fisik dan pengembangan psikis yang lebih baikAy Peranan pendidikan jasmani sangat penting, yang memberikan kesempatan pada peserta didik untuk terlibatkan langsung selama mereka belajar melalui aktifitas jasmani, bermain dan olahraga yang dilakukan secara Pembekalan pengalaman belajar itu membentuk gaya hidup sehat dan aktif sepanjang masa (Santoso, 2. Melalui pendidikan jasmani, olahraga dan kesehatan . meningkatkan serta mengembangkan ketiga ranah yang ada yaitu, kognitif, afektif, serta Proses pembelajaran merupakan inti dari proses pendidikan secara keseluruhan dimana guru sebagai pemeran utamanya. Peningkatan kualitas pembelajaran adalah salah satu upaya untuk meningkatkan mutu pendidikan (Hendrayana. Adi & Lesmana, 2. karena dalam memenuhi pendidikan formal, tentunya tidak dapat dilepaskan dari peran guru atau pendidik (Hasmara. Yunarta & Wahyudin, 2. Berkenaan dengan pendidikan Jasmani. Lu & De Lisio, . menjekaskan AuPendidikan jasmani adalah, secara harfiah, pendidikan melalui jasmani . Gerakan tubu. Program pendidikan jasmani yang berkualitas akan menyediakan berbagai kegiatan fisik yang terencana dengan baik untuk semua anak sambil mengakui pentingnya mengembangkan individu yang melek secara fisik yang mampu mempertahankan gaya hidup aktif dan sehat. Ada tiga domain pembelajaran yang tercakup dalam pendidikan jasmani: psikomotor, kognitif, dan afektifAy. Melalui pengalaman gerakan positif bahwa seorang pendidik fisik dapat mengatasi perkembangan seluruh anak. Clark Hetherington hampir seabad yang lalu. Pendekatan mendidik melalui fisik versus pendidikan fisik (Hetherington, 1910 dalam Lu & De Lisio, 2. melakukan lebih dari sekadar membahas aspek fisik pendidikan jasmani: itu mengadaptasi pendidikan jasmani dan mengoptimalkan kapasitas kurikulum dalam pengembangan suatu individu melalui pikiran, tubuh, dan jiwa mereka sebagai satu kesatuan yang utuh. Pendidikan jasmani mempunyai tujuan pendidikan sebagai . perkembangan organorgan tubuh untuk meningkatkan kesehatan dan kebugaran jasmani, . perkembangan neuro muscular, . perkembangan mental emosional, . perkembangan sosial dan . perkembangan intelektual. Pendidikan Jasmani dan Olahraga merupakan bagian dari kurikulum standar Lembaga Pendidikan Dasar dan Menengah. Dengan pengelolaan yang tepat, maka pengaruhnya bagi pertumbuhan dan perkembangan Jasmani. Rohani dan Sosial Peserta didik tidak pernah diragukan. Sayangnya Pendidikan Jasmani dan Olahraga di Lembaga-lembaga Pendidikan belum dapat memposisikan dirinya pada tempat yang strategis pada dunia pendidikan, bahkan masih sering di abaikan. misalnya pada masa-masa menjelang ujian akhir sesuatu jenjang Pendidikan. Maka Pendidikan Jasmani dan Olahraga dihapuskan dengan alasan agar para siswa dalam belajarnya untuk menghadapi ujian akhir Autidak tergangguAy (Bangun, 2. Berkenaan dengan hal tersebut, perlu adanya penelitian yang lebih dekat dengan praktik pendidikan sehari-hari yang mudah digunakan dalam peningkatan mutu dan praktik pendidikan, untuk itulah riset tindakan menjadi penting karena dekat dengan praktisi pendidikan sendiri (Suparno, 2008:. , bahkan dilaksanakan oleh para pelaku pendidikan itu sendiri yakni guru dan/atau kepala sekolah yang lebih mengenal dan memahami situasi Pemahaman Penjasorkes prosedur kombinasi gerak dasar jalan, lari, lompat dengan permainan olahraga yang dimodifikasi dan olahraga tradisional di sekolah terteliti yang pemecahan masalahnya segera diperlukan, karenanya observer atau peneliti berperan penting dalam proses pengumpulan data . enjadi instrume. secara umum bahwa kehadiran para peneliti memang memiliki meskipun ini berpotensi mendistorsi 'kebenaran' Meningkatkan kemampuan menerapkan prosedur kombinasi gerak dasar jalan, lari, lompat dan lempar dengan permainan olahraga yang dimodifikasi dan olahraga tradisional disebarluaskan sebagai hasil penelitian, kehadiran peneliti tetap bebas untuk kemungkinan perbedaan temuan (Tesch, 2. Berkenaan dengan penelitian kualitatif bentuk tindakan Stoddart . mencatat bahwa menjadi tidak terlihat difasilitasi dengan berpartisipasi dan membaur dengan objek penelitian, tanpa menyerukan perhatian khusus kepada diri sendiri, daripada mengadopsi postur peneliti terpisah yang mencari objektivitas, sebagaimana kata-kata Patton . yang dikutip Morehouse & Maykut, . AuTantangannya adalah untuk menggabungkan partisipasi dan pengamatan sehingga menjadi mampu memahami program . sebagai orang dalam sambil menggambarkan program untuk orang luarAy. Ini sering merupakan keseimbangan yang rumit, yang menjadi lebih mudah dicapai dengan pengalaman. Pembelajaran dengan metode yang monoton dapat menyebabkan siswa merasa bosan karena pembelajaran yang berlangsung hanya berpusat pada guru, sehingga mereka kurang diperhatikan. Dalam sebuah studi. Larson dan Richards . memberikan bukti bahwa kebosanan yang dilaporkan siswa di sekolah mungkin merupakan fungsi dari kepribadian mereka sebagai hasil dari tugas yang diminta untuk mereka selesaikan di sekolah (Hektner. Schmidt & Csikszentmihalyi, 2007:. Untuk itulah peneliti perlu mengadakan perbaikan pembelajaran tentang "Meningkatkan kemampuan menerapkan prosedur kombinasi gerak dasar jalan, lari, lompat dan lempar dengan permainan olahraga yang dimodifikasi dan olahraga tradisional di Kelas V . SDN 1 Sumengko Kecamatan Wringinanom Kabupaten Gresik agar berhasil sesuai yang di inginkan. Tujuan Penelitian Penelitian ini bertujuan: Mendiskripsikan aktifitas guru dalam meningkatkan kemampuan menerapkan prosedur kombinasi gerak dasar jalan, lari, lompat dan lempar dengan permainan olahraga yang dimodifikasi dan olahraga tradisional di Kelas V . SDN 1 Sumengko Kecamatan Wringinanom Kabupaten Gresik. Mendiskripsikan aktifitas siswa dalam kombinasi gerak dasar jalan, lari, lompat dan lempar dengan permainan olahraga yang dimodifikasi dan olahraga tradisional di Kelas V . SDN 1 Sumengko Kecamatan Wringinanom Kabupaten Gresik. Mendiskripsikan pembelajaran dengan permainan olahraga yang dimodifikasi dan olahraga tradisional dalam meningkatkan kombinasi gerak dasar jalan, lari, lompat dan lempar di Kelas V . SDN 1 Sumengko Kecamatan Wringinanom Kabupaten Gresik. Kajian Pustaka Pembelajaran Penjasorkes di Sekolah Dasar Pengertian Penjasorkes Penjasorkes merupakan salah satu mata pelajaran yang wajib diikuti pada jenjang pendidikan dasar maupun menengah (Swari. Adi & Dartini, 2. Suarnaya . juga berpendapat bahwa AuPenjasorkes hakikatnya melibatkan interaksi antara anak didik dengan lingkungan yang dikelola melalui aktivitas jasmani secara sistematik untuk meningkatkan keterampilan motorik dan nilai-nilai fungsional yang mencakup aspek kognitif, afektif, dan sosialAy. Kemudian menurut Agus S. Suryobroto . dalam Hidayat, . AuPenjasorkes adalah suatu proses pembelajaran yang didesain untuk meningkatkan kebugaran motorik, pengetahuan dan perilaku hidup aktif, serta sikap sportif melalui kegiatan jasmaniAy. Pada hakikatnya penjasorkes adalah proses pendidikan yang memanfaatkan aktivitas untuk menghasilkan perubahan holistik dalam kualitas individu, baik dalam hal fisik, mental, serta emosional (Nurina & Sukoco, . Penjasorkes mendorong perkembangan keterampilan motorik, kemampuan fisik, pengetahuan dan penalaran, penghayatan nilai-nilai . ikap, mental, emosional, spiritual, dan sosia. , serta pembiasaan pola hidup sehat yang bermuara PROGRESSA Jurnal Ilmiah Pendidikan Agama Islam Vol. 3 No. 1 Pebruari 2019 ISSN 2579-9665 (Printe. , 2579-9673 (Onlin. perkembangan yang seimbang (Sudijandoko. Berdasarkan pendapat-pendapat di atas. Widodo, . menyimpulkan Aubahwa penjasorkes memiliki arti pendidikan untuk jasmani dan pendidikan melalui aktivitas jasmani yang dilakukan secara sadar dan sistematik untuk memperoleh kemampuan, keterampilan, kesehatan, kesegaran jasmani, kecerdasan dan berpola hidup sehatAy. Penjasorkes memberikan kesempatan pada siswa untuk terlibat langsung dalam aneka pengalaman belajar melalui aktivitas jasmani, bermain, olahraga yang dilakukan secara sistematis, terarah, dan terencana. Adapun penjasorkes memiliki tujuan agar peserta didik memiliki kemampuan-kemampuan sebagai . Mengembangkan keterampilan pengelolaan diri dalam upaya pengembangan dan pemeliharaan kebugaran jasmani serta pola hidup sehat melalui berbagai aktivitas jasmani dan olahraga terpilih. Meningkatkan pertumbuhan fisik pengembangan psikis yang lebih baik. Meningkatkan keterampilan dasar. Meletakkan landasan karakter moral yang kuat melalui internalisasi nilai-nilai yang terkandung dalam penjas, olahraga, dan . Mengembangkan sikap sportif, jujur, disiplin, bertanggungjawab, keijasama, percaya diri dan demokratis. Mengembangkan menjaga keselamatan diri sendiri, orang lain, dan lingkungan. Memahami konsep aktivitas jasmani dan olahraga di lingkungan yang bersih sebagai informasi untuk mencapai pertumbuhan fisik yang sempurna, pola hidup sehat dan bugar, terampil, serta mampu membangun sikap dan perilaku positif (BSNP, 2. Ruang Lingkup Penjasorkes Ruang lingkup mata pelajaran penjasorkes di sekolah dasar menurut Depdiknas, . meliputi aspek-aspek sebagai berikut. Permainan dan olahraga meliputi: olahraga tradisional, permainan, eksplorasi gerak, keterampilan lokomotor non-lokomotor, dan manipulatif, atletik, kasti, rounders, kippers, sepakbola, bolabasket, bolavoli, tenis meja, tenis lapangan, bulutangkis, dan beladiri serta aktivitas lainnya. Aktivitas pengembangan meliputi: mekanika sikap tubuh, komponen kebugaran jasmani, dan bentuk postur tubuh serta aktivitas . Aktivitas senam meliputi: ketangkasan ketangkasan dengan alat, dan senam lantai serta aktivitas lainnya. Aktivitas ritmik meliputi: gerak bebas, senam pagi. Senam Kesegaran Jasmani, dan senam aerobik serta aktivitas lainnya. Aktivitas air meliputi: permainan di air, keselamatan air, keterampilan bergerak di air, dan renang serta aktivitas lainnya. Pendidikan piknik/karyawisata, lingkungan, berkemah, menjelajah, dan mendaki gunung. Kesehatan meliputi: penanaman budaya hidup sehat dalam kehidupan sehari-hari, khususnya yang terkait dengan perawatan tubuh agar tetap sehat, merawat lingkungan yang sehat, memilih makanan dan minuman yang sehat, mencegah dan merawat cedera, mengatur waktu istirahat yang tepat dan berperan aktif dalam kegiatan P3K dan UKS. Penjasorkes di Sekolah Dasar Kurikulum SD/MI terus berubah seiring dengan perubahan kurikulum. Khusus mata pelajaran penjasorkes, telah mengalami perubahan nama mata pelajaran dan substansinya, mulai dengan istilah Pendidikan Jasmani. Olahraga Kesehatan. Penjaskes. Penjas, dan terakhir Pendidikan Jasmani. Olahraga dan Kesehatan. Pergantian nama kurikulum penjasorkes ini, berkonsekuensi kepada perubahan berbagai infrastruktur pembelajaran mulai dari penentuan tujuan, penentuan isi, proses . trategi dan pendekata. serta evaluasinya. Namun demikian apapun Meningkatkan kemampuan menerapkan prosedur kombinasi gerak dasar jalan, lari, lompat dan lempar dengan permainan olahraga yang dimodifikasi dan olahraga tradisional istilahnya iklim belajar yang terjadi harus bersuasanakan ke SD-an. Adapun iklim belajar ke SD-an harus tercermin seperti dalam pembahasan sebagai berikut. Penjasorkes merupakan upaya sistematis untuk pengembangan kepribadian anak, seperti pengembangan hormat diri . , kepercayaan diri, toleransi sesama kawan, dan lain-lain. Isi dari tugas ajar . earning tas. diselaraskan dengan tingkat perkembangan anak. Kegiatan benyak ditandai oleh susasana kebebasan untuk menyatakan diri dan bermain secara leluasa untuk mengenal . Meskipun arah dari pengajaran, khususnya pendidikan jasmani juga peduli dengan pengembangan keterampilan suatu cabang olahraga, tetapi tekanannya lebih banyak pada pengembangan kemampuan gerak umum dan menyeluruh. Kalaupun kegiatan itu diarahkan bagi pengenalan suatu cabang olahraga, namun tugas gerak, alat dan pelaksanaannya diubah dan disesuaikan dengan kemampuan anak. Model pembelajaran lebih banyak ditandai oleh pemberian kesempatan bagi anak untuk mengekspresikan diri, berinisiatif dan memecahkan persoalan secara kreatif. Namun demikian, guru tetap memiliki peranan penting dalam mengelola proses belajar-mengajar. Meskipun tujuan intruksional umum dan khusus yang menjadi sasaran belajar, tetapi diupayakan agar dampak pengiring positif yang menyangkut perkembangan penalaran dan sifat-sifat lainnya seperti disiplin, kejujuran, dan lain-lain (Widodo, 2. Tugas yang paling utama dalam menyelenggarakan penjasorkes di SD/MI adalah bagaimana membantu para siswa untuk dapat menjalani proses pertumbuhan dan perkembangan secara optimal baik secara fisik, motorik, mental dan sosial. Perubahan perilaku yang diharapkan dari belajar bersifat melekat secara permanen. Proses belajar itu sendiri tidak dapat diamati secara langsung. Namun demikian keterlaksanaannya hanya dapat ditafsirkan berdasarkan perilaku nyata yang Selaras dengan upaya untuk mencapai tujuan pendidikan maka dalam penjasorkes bukan saja dikembangkan dan dibangkitkan potensi individu tetapi juga ada unsur pendidikan yang dikembangkan meliputi aspek kemampuan fisik, intelektual, emosional, sosial dan moral spiritual yang berorientasi kepada lifeskill. Sasaran pendidikan jasmani adalah peningkatan kebugaran jasmani dan keterampilan gerak dasar yang kaya dengan koordinasi otot-otot saraf yang halus yang akan bermanfat bagi kelangsungan hidup seharihari dan menjadi pondasi yang kuat. Selain itu, pembinaan pola hidup sehat anak melalui pembelajaran penjasorkes di sekolah menjadi pencapaian domain kognitif dan afektif yang selama ini kurang dominan dalam penjasorkes, sehingga diharapkan dapat diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari yang akan menjadi invenstasi penting bagi kehidupan Peningkatan Pemahaman Siswa Pelajaran Penjasorkes Pendidikan mempunyai peran dalam peningkatan kualitas sumber daya manusia, dimana sumber daya manusia nantinya akan menentukan perkembangan yang berkualitas bagi bangsa. Dalam mewujudkan mutu pendidikan yang berkualitas dapat dilakukan dengan adanya perubahan sehingga dapat bersaing di zaman sekarang ini. Dengan berkembangnya pendidikan yang sekarang ini terdapat kendala yang menjadi pemicu buruknya mutu pendidikan salah satunya mengenai kurangnya minat belajar anak sehingga mutu pendidikan yang diinginkan tidak sesuai dengan apa yang ingin dicapai. Meningkatnya kualitas pendidikan bangsa ditentukan oleh tingkat pendidikan yang dimiliki oleh sumber daya manusianya dan untuk meningkatkan sumber daya manusia tersebut sebagai tenaga pendidik/guru seharusnya lebih meningkatkan proses metode dan model yang disesuaikan dengan kebutuhan siswa. Dan pada saat era globalisasi ini Pendidikan sudah mulai mendapat perhatian dari pemerintah, karena pendidikan PROGRESSA Jurnal Ilmiah Pendidikan Agama Islam Vol. 3 No. 1 Pebruari 2019 ISSN 2579-9665 (Printe. , 2579-9673 (Onlin. merupakan suatu hal penting yang nantinya dapat meningkatkan kualitas kehidupan bangsa dan negara, begitu pentingnya peranan dan tujuan pendidikan, maka mutu pendidikan haruslah ditingkatkan. Pendidikan merupakan suatu masalah yang krusial yang sedang dihadapi oleh Negara-negara berkembang, termasuk Indonesia seperti masalah kuantitas, masalah efektivitas, masalah efisiensi, dan Penyelenggaraan pendidikan sebagaimana yang diamanatkan dalam Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 Sistem Nasional diharapkan dapat mewujudkan proses berkembangnya kualitas pribadi peserta didik sebagai generasi penerus bangsa di masa depan, yang di yakini akan menjadi faktor determinan bagi tumbuh kembangnya bangsa dan negara indonesia sepanjang zaman (Negara. Astra & Satyawan, 2. Model pembelajaran pendidikan jasmani menggunakan metode yang bervariasi, sumber belajar tidak bergantung sepenuhnya pada guru tetapi bisa sumber lain yang berkompeten, penilaian berdasarkan prestasi belajar siswa dan bukan dibandingkan dengan siswa lain. Memberikan nilai menekankan pada proses dan hasil belajar pencapaian Di samping itu pula model pembelajaran kuantum dalam pendidikan jasmani berisikan nilai-nilai pendidikan dengan semboyan bermain sambil belajar atau belajar sambil bermain untuk mengembangkan potensi gerak yang bermakna. Untuk melaksanakan suatu pembelajaran diperlukan pemahaman yang cukup mendalam tentang karakteristik dan kemampuan yang dimiliki oleh peserta didik. Dengan demikian akan memudahkan seluruh proses pembelajaran karena setiap peserta didik memiliki karakter yang berbeda satu sama lainnya. Oleh karena itu guru pendidikan jasmani yang bijak tidak memaksakan siswa melakukan program kebugaran fisik secara berlebihan, yang menimbulkan rasa mual dan nyeri otot akan tetapi memberikan instruksi yang menantang (Suherman, 2. Berdasarkan kurikulum Penjaskes tahun 1993 khususnya pada lampiran II tentang GBPP mata pelajaran Penjaskes, maka muatannya berisi tentang pengertian, fungsi, tujuan, ruang lingkup dan rambu-rambu pendidikan Untuk pijakan bahasan penulis rujuk kurikulum Penjaskes yang diterapkan di Sekolah Dasar (Depdikbud, 1994 dalam Suherman, 2. Dalam dokumen itu tersurat makna Penjaskes yakni: "suatu bagian dari pendidikan keseluruhan yang mengutamakan aktivitas jasmani dan pembinaan hidup sehat untuk pertumbuhan dan perkembangan jasmani, mental, sosial, dan emosional yang serasi, selaras dan seimbang". Atas dasar itu, maka fungsi penjaskes berfungsi untuk: Merangsang perkembangan jasmani yang serasi, selaras dan seimbang Merangsang perkembangan sikap, mental, sosial dan emosional yang serasi, selaras dan seimbang. Memberikan pemahaman tentang manfaat pendidikan jasmani dan kesehatan, serta memenuhi hasrat gerak. Memacu perkembangan dan aktivitas sistem peredaran darah, pencernaan, pernapasan dan syaraf. Memberikan kesegaran jasmani dan Kombinasi Gerak Dasar di Sekolah Dasar Menurut Sudarsini, . Pelaksanaan kombinasi gerak antara lain dapat dilakukan dengan memberikan bentuk-bentuk kegiatan sebagai berikut: Berbagai Kombinasi Jalan dan lari Anak-anak dijadikan beberapa barisan sesuai dengan keadaan tempat, kemudian ditugaskan melakukan hal-hal berikut: Jalan biasa dengan jarak beberapa meter. Bila mendengar landa berupa tepukan, peluit, atau suara maka anak harus berlari secepatcepatnya sampai batas-batas yang telah . Jalan dengan langkah panjang, kemudian lari Meningkatkan kemampuan menerapkan prosedur kombinasi gerak dasar jalan, lari, lompat dan lempar dengan permainan olahraga yang dimodifikasi dan olahraga tradisional secepat-cepatnya. Jalan dengan ujung kaki, kemudian lari secepat-cepatnya. Jalan dengan mengangkat lutut tinggi, kemudian lari secepat- cepatnya. Coba anda ciptakan beberapa kombinasi jalan dan lari dengan cara lain (Sudarsini, 2. Kombinasi Lari dan Lompat . Lari pelan-pelan, pada batas yang lelah ditentukan lompat ke atas setinggi-tingginya meraih sesuatu di atas. Lari beberapa langkah . -5 langka. , kemudian lompat ke atas ke depan. Lari secepat-cepatnya, kemudian melompat sejauh-jauhnya ke atas ke depan (Sudarsini. Kombinasi Lari dan lempar . Lari beberapa langkah . -5 langka. sambil membawa bola kasti, tenis atau plastik. Pada batas yang telah ditentukan lemparkan bola sejauh-jauhnya ke atas ke depan. Lari secepat-cepatnya sambil membawa bola. Pada batas yang telah ditentukan lemparkan bola sejauh-jauhnya. Perhatikan cara-cara melemparkannya pada gerakan dasar melempar (Sudarsini, 2. Kombinasi Jalan. Lari, dan Lompat Anak-anak disuruh jalan biasa, kemudian bila ada tanda, anak harus lari secepat-cepatnya sampai batas yang telah ditentukan, terus lompat sejauh-jauhnya ke atas ke depan . ada matras atau bak pasi. (Sudarsini, 2. Kombinasi Jalan. Lari, dan Melempar Anak-anak disuruh jalan beberapa meter, bila mendengar tanda, anak harus berlari secepat-cepatnya sampai batas yang telah ditetapkan, kemudian lemparkan bola sejauhjauhnya ke atas ke depan, melewati atas kepala atau melemparkan bola kesasaran yang telah ditentukan (Sudarsini, 2. Kombinasi Gerak Tangan. Lengan. Bahu dan Kaki Lakukan sikap permulaan dengan cara berdiri tegak, kaki agak dibuka, kedua tangan disamping badan, dan pandangan ke depan, gerakkanlah dengan hitungan berikut: Hitungan 1: Badan dibungkukkan ke depan, kedua tangan sejajar bahu, jari-jari/telapak tangan diletakkan ke lantai, kedua kaki tetap lurus, kepala mengikuti gerakan badan. Hitungan 2: Dalam posisi jongkok, tumit diangkat, kedua tangan sejajar bahu lurus ke . Hitungan 3 : Kembali bungkukkan badan ke depan, kedua tangan sejajar bahu, jari-jari atau telapak tangan diletakkan ke lantai dan kedua kaki lurus. Hitungan 4 : Posisi berdiri tegak, kemudian langsung lentingkan badan ke belakang, kepala tengadah, kedua lengan lurus sejajar, bahu tarik ke belakang. Hitungan 5-8 : lakukan lagi gerakan seperti pada hitungan 1 hingga 4 (Sudarsini, 2. Perbedaan utama antara gerak berjalan dengan gerak berlari adalah berjalan ditandai dengan kedua kaki yang selalu kontak dengan tanah, sedangkan untuk lari ditandai kaki kiri dan kanan bergantian melayang. Gerakan berjalan yang tepat dan harus dikuasai anak, yaitu pada setiap langkah diusahakan kaki melangkah secepat mungkin, kaki tetap bertumpu harus selalu kontak dengan tanah. Siku kedua tangan membentuk 90A dan mengayun seirama dengan langkah kaki. Pandangan mata diusahakan lurus kedepan dan leher tidak kaku. Gerakan yang perlu dikuasai untuk gerak berlari hampir serupa dengan gerakan berjalan. Namun, pada lari gerak melayang seseorang harus menolakkan kaki dengan cepat, kuat serta bergantian. Faktor-faktor yang berpengaruh pada gerakan lari dan jalan diantaranya ketahanan, kecepatan, kekuatan dan kelenturan. Namun, dalam proses kegiatan pengembangan gerak di SLB yang berusia dini tidak perlu mclatihkan komponen-komponen tersebut. Anak hanya perlu diperkenalkan dengan komponen ketahanan secara sederhana dan kegiatan bagi mereka harus selalu dilakukan dalam bentuk atau nuansa bermain yang menyenangkan, disesuaikan dengan perkembangan dan pertumbuhan fisik anak usia dini (Sudarsini. PROGRESSA Jurnal Ilmiah Pendidikan Agama Islam Vol. 3 No. 1 Pebruari 2019 ISSN 2579-9665 (Printe. , 2579-9673 (Onlin. Anak usia dini cenderung menyukai hal yang sifatnya cenderung baru. Bentuk-bentuk kombinasi dan modifikasi jalan dan lari selain dibuat untuk memperkenalkan gerakan dasar jalan lari selain dibuat untuk memperkenalkan gerakan dasar jalan lari yang benar, juga untuk mengingatkan kemampuan lari yang optimal. Tujuan pengajaran yang disampaikan untuk mereka mempunyai sifat yang sangat mendasar, yaitu memperkenalkan gerak secara baik sehingga dapat mengembangkan kemampuan gerak jalan dan lari secara tepat (Sudarsini, 2. Permainan Olahraga Yang Dimodifikasi dan Olahraga Tradisional Mata pelajaran pendidikan jasmani memiliki sejumlah bahan ajar yang meliputi: aktivitas permainan dan olahraga, aktivitas uji diri, aktivitas pengembangan, aktivitas akuatik, dan aktivitas luar kelas. Setiap bahan ajar tersebut memiliki kompetensi dasar meliputi aspek psikomotorik, kognitif, dan afektif. Penilaian dalam pendidikan jasmani adalah penilaian tentang aspek gerak . , yang dilakukan melalui tes praktek dan pengamatan terhadap sikap selama mengikuti pembelajaran dan di luar jam pelajaran, sedangkan aspek pengetahuan dapat dinilai melalui pemberian tugas (Suherman, 2. Pembelajaran pendiddikan jasmani suatu proses kegiatan belajar mengajar yang bcroricntsi kepada pendidikan jasmani yang diarahkan pada perbaikan kesehatan dan kesegaran jasmani serta keterampilan gerak dasar melalui berbagai aktivitas jasmani yang meliputi kegiatan pokok dan kegiatan pilihan. Kegiatan pokok terdiri dari pengembangan permainan dan kesehatan,sedangkan kegiatan pilihan terdiri dari pencak silat, renang, bulu tangkis, tenis meja, sepak takraw dan permainan tradisional. Secara lebih rinci pendidikan jasmani di Sekolah Dasar ditekankan pada: . memenuhi hasrat untuk bergerak,. merangsang pertumbuhan dan perkembangan gerak, . memelihara dan meningkatkan kesehatan serta kesegaran jasmani, . menanamkan disiplin. kcrja sama, sportifitas dan mengikuti peraturan dan ketentuan yang baik, . meningkatkan daya tangkal terhadap pengaruh buruk dari luar (Depdiknas,1994 dalam Suherman, 2. Pelaksanaan pembelajaran Pendidikan jasmani di Sekolah dapat dilakukan melalui modifikasi pembelajaran. Rusli Lutan . dalam Suherman, . mendefinisikan modifikasi sebagai perubahan dari keadaan lama yang semula menjadi keadaan baru. Perubahan itu dapat berupa bentuk, fungsi, cara penggunaan dan manfaat tanpa sepenuhnya menghilangkan karakteristik Untuk memodifikasi pembelajaran dalam mata pelajaran pendidikan jasmani peraturan, waktu, proses pembelajaran, situasi lapangan dan model pembelajaran yang Implementasi pembelajarannya dengan menekankan pada prinsip-prinsip kegembiraan, kesenangan dan mempersiapkan anak untuk menguasai keterampilan-keterampilan permainan orang dewasa (AIJSSIE: 1993:16 dalam Suherman, 2. Namun demikian tanpa dukungan dan kreativitas guru yang maksimal terhadap komponen-komponen tersebut, tujuan yang ingin dicapai tidak akan terpenuhi (Suherman, 2. Suasana pembelajaran modifikasi dalam model pembelajaran pendidikan jasmani di SD pada seting awal, pelaksanaan kegiatan belajar mengajar dan akhir berisikan suasana yang menyenangkan peserta didik melakukan aktivitas pendidikan jasmani dengan strategi bermain tanpa dipaksa akan tetapi inisiatif dan kreatif mereka sendiri. Posisi guru hanyalah sebagai fasilitator dan motivator pembelajaran, merekalah yang memutuskan dan mengambil kesimpulan pembelajaran (Suherman, 2. Proses pembelajaran pendidikan jasmani di Sekolah Dasar berorientasi pada kemampuan gerak dasar yang dimiliki siswa tersebut Kemampuan gerak dasar menunjukkan kapasitas untuk melakukan gerak yang relatif melekat setelah masa kanak-kanak. Kapasitas tersebut banyak dipengaruhi oleh faktor biologis, seperti kondisi daya tahan umum atau daya Lajan otot, tingkat kekuatan, dan sebagainya (Rusli hutan, 2005 dalam Suherman, 2. Berdasarkan pernyataan Meningkatkan kemampuan menerapkan prosedur kombinasi gerak dasar jalan, lari, lompat dan lempar dengan permainan olahraga yang dimodifikasi dan olahraga tradisional tersebut, kemampuan gerak menunjukkan kesanggupan seseorang melakukan gerak yang terjadi atas dasar gerak refleksi yang berhubungan dengan badannya yang dibawa sejak lahir dan terjadi tanpa melalui latihan. Rusli Lutan . menjelaskan bahwa: Tujuan utama pendidikan jasmani di Sekolah Dasar pada hakekatnya membantu peserta didik agar meningkat kemampuan gerak mereka, di samping agar mereka memiliki fondasi pemahaman kognitif, dan sikap yang positif terhadap aktivitas jasmani kelak akan menjadi manusia dewasa sehat dan berkepribadian yang mantap (Suherman, 2. Sejalan dengan asumsi Bucher . dalam Rusli Lutan . yang menyatakan dalam konteks di Amerika Serikat tujuan pendidikan jasmani di Sekolah Dasar adalah membantu siswa dalam meningkatkan kesegaran jasmani dan kesehatan melalui penanaman sikap positif serta kemampuan gerak dasar dan berbagai aktivitas jasmani. Sehingga materi pengajaran pendidikan jasmani di Sekolah Dasar terdiri dari berbagai macam keterampilan olahraga yang memiliki makna tersendiri, yaitu: . memenuhi tuntutan hasrat bergerak. berbagai perwujudan dan kegiatan rekreatif, dan . pengeluaran tenaga yang berlebihan (Suherman, 2. Permaianan tradisional berperanan penting dalam proses pengembangan karakter pada pendidikan usia dini dan pendidikan dasar karena permainan tradisional edukatif sangat sarat dengan nilai etika, moral dan budaya masyarakat pendukungnya. Di samping itu, permainan tradisional edukatif merupakan modal sosialbudaya yang berkontribusi dalam pengembangan karakter generasi muda seperti: kerja sama, kebersamaan, kedisiplinan, kejujuran, dan musyawarah mufakat terhadap nilai dan aturan permaianan yang disepakati bersama, serta kreativitas berpikir (Sutama & Adi, 2. Metode Rancangan Penelitian Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas yang dilakukan secara (Gultom, 2010:. Desain situasi masalah, dan cara-cara untuk kolaborasi dengan anak-anak, adalah fokus utama dari pertemuan yang terjadi antara guru dan Dimensi pengembangan, yang disebut sebagai refleksi atas tindakan oleh Bednarz, didasari pada diskusi mengenai situasi masalah, strategi yang digunakan untuk anakanak, pendekatan dan cara berpikir mereka, dan pengelolaan kegiatan guru di konteks Dalam proses refleksi, pertanyaan lain yang bersifat lebih umum muncul di antara para guru mengenai pemecahan masalah dan integrasinya ke dalam praktik mereka. Dimensi penelitian juga didorong oleh konstruksi bersama dari situasi masalah ini, khususnya oleh refleksi pada cara-cara di mana situasi (Clements. Bishop. Keitel-Kreidt. Kilpatrick & Leung, 2012:. Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan di SDN 1 Sumengko Kecamatan Wringinanom Kabupaten Gresik dengan alamat Ds. Sumengko Wringinanom Kabupaten Gresik Kode Pos: 61176 Telp. Penelitian dilaksanakan pada semester ganjil tahun pelajaran 2018/2019, penelitian dilaksanakan selama 3 Bulan (September. Oktober, dan Nopember 2. Prosedur Penelitian Prosedur penelitian tindakan bersifat siklikal dan, dalam kata-kata Kemmis dan McTaggart: AuPerlunya melakukan penelitian meningkatkan apa yang sudah terjadi, . rencana tersebut, . untuk mengamati efek tindakan dalam konteks di mana itu terjadi, dan . untuk merefleksikan efek ini sebagai dasar untuk perencanaan lebih lanjut, tindakan serangkaian siklus. (Kemmis dan McTaggart 1982:7 dalam Dickins & Germaine, 2014:. Siklus kegiatan ini membentuk spiral penelitian tindakan di mana setiap siklus meningkatkan pengetahuan peneliti tentang pertanyaan, tekateki, atau masalah asli, dan, diharapkan, mengarah pada solusinya. Kadang-kadang, siklus aksi ini diselesaikan dalam hitungan menit karena profesional selalu merencanakan PROGRESSA Jurnal Ilmiah Pendidikan Agama Islam Vol. 3 No. 1 Pebruari 2019 ISSN 2579-9665 (Printe. , 2579-9673 (Onlin. dan memikirkan kembali rencana dengan Di waktu lain, siklus tindakan mungkin berhari-hari, bermingguminggu, atau berbulan-bulan (Herr & Anderson, 2. untuk mengumpulkan data, metode harus dipilih yang sesuai untuk menjawab pertanyaan penelitian. Pendekatan kualitatif sesuai untuk memahami konteks spesifik ruang kelas dan menangkap kehidupan alami sebuah ruang kelas. Metode pengumpulan data umumnya jatuh ke dalam salah satu dari tiga kategori: Mengalami (Menggunakan indera kita untuk mengamat. Bertanya (Bertanya kepada orang lain tentang kepercayaan, ide. Memeriksa (Melihat dokumen dan artefa. (Wolcott, 1994. Goodnough, 2011:. Adapun pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan Teknik: Observasi (Mengamat. Artefak Dokumen (Pengujia. Tes Tidak Terstandar. Pengujian Instrumen Butir Soal Gambar 3. 1 The Action Research Spiral (Kemmis & McTaggart, 1982:. Subjek Penelitian Subyek penelitian ini adalah siswa-siswi Kelas V . SDN 1 Sumengko Kecamatan Wringinanom Kabupaten Gresik semester ganjil Tahun Pelajaran 2018/2019. Adapun yang menjadi sasaran penelitian adalah siswa sejumlah 30 anak. Teknik Pengumpulan Data Pada tahap ini, guru memulai dengan menginvestigasi fakta (Pengumpulan dat. seputar masalah pembelajaran dengan permainan olahraga yang dimodifikasi dan olahraga tradisional. Guru harus memeriksa Ausiapa, apa, di mana, dan kapan. Ay Guru harus mencatat penyimpangan apa pun dari apa yang biasanya dialami di masa lalu (Tomal, 2010:. Dengan cara ini, guru dapat membedah masalah dengan menunjukkan fakta yang tepat untuk situasi pembelajaran dengan permainan olahraga yang dimodifikasi dan olahraga tradisional. Penggunaan teknik pengumpulan data pengumpulan informasi secara sistematis tentang para peserta dan/atau konteks studi. Walaupun ada banyak cara Validitas konten mengacu pada pertanyaan apakah tes tersebut secara memadai mencakup dimensi yang akan diukur dan khususnya relevan dengan tes pencapaian. (Domino & Domino, 2006:. reliabilitas diukur dengan metode konsistensi interval dengan teknik reliabilitas alpha. untuk menguji reliabilitas data menggunakan investigasi nilai alpha Cronbach (Cronbach dan Shavelson. Kalibrasi (Tingkat Kesukara. adalah proses mengestimasi parameter tingkat kesukaran soal, yaitu menentukan posisi suatu soal dalam garis kontinum skala . esukaran soa. , skala yang digunakan biasanya skala logit (Hayat, dalam Tobari, 2014:. Daya Beda (DB) adalah kemampuan butir soal membedakan siswa yang memiliki kemampuan tinggi dan kemampuan rendah. Daya beda diusahakan positif dan setinggi mungkin. Teknik Analisis Data Analisis data adalah bagian penting dari proses penelitian tindakan kelas. Hanya pada tahap ini guru dapat yakin bahwa hasil yang diperoleh valid dan dapat dipercaya. Ketika guru-peneliti gagal menganalisis data mereka secara memadai, mereka tidak memiliki platform yang aman untuk bertindak. Empat tahap penelitian tindakan kelas adalah sebagai Pengumpulan data dan pembuatan kategori Meningkatkan kemampuan menerapkan prosedur kombinasi gerak dasar jalan, lari, lompat dan lempar dengan permainan olahraga yang dimodifikasi dan olahraga tradisional atau hipotesis. Validasi menggunakan teknik untuk kepercayaan, seperti triangulasi. Penafsiran dengan mengacu pada teori yang disepakati dengan kriteria, menetapkan praktik atau penilaian guru. Aksi untuk pengembangan yang juga dipantau oleh teknik penelitian tindakan kelas (Hopkins, 2014:162-. Di dalamnya mereka menggambarkan model interaktif analisis data sebagai berikut: Reduksi data: Reduksi data mengacu pada transformasi data 'mentah' yang muncul dalam catatan lapangan tertulis. Ketika pengumpulan data berlanjut, ada beberapa Reduksi . elakukan mencari tema, membuat kelompok, membuat partisi, menulis mem. Dan proses reduksi / transformasi data berlanjut setelah kerja lapangan sampai laporan akhir Data display / Tampilan data. Aliran utama kedua dari aktivitas analisis adalah tampilan 'tampilan' sebagai kumpulan informasi yang terorganisir yang memungkinkan penarikan kesimpulan dan tindakan. Melihat memahami apa yang terjadi dan melakukan sesuatu - analisis atau tindakan lebih lanjut berdasarkan pada pemahaman itu. Penarikan kesimpulan / verifikasi: Aliran ketiga kegiatan analitik adalah penarikan kesimpulan dan verifikasi. Dari awal pengumpulan data, . eneliti kela. mulai memutuskan apa artinya, keteraturan, pola, penjelasan, kemungkinan konfigurasi, aliran sebab akibat, dan proposisi (Hopkins, 2014:. Kriteria Keberhasilan Tindakan Sepanjang proses penelitian tetap fokus pada tujuan dan sasaran penelitian realistis dan mengadopsi perencanaan pragmatis dan strategi penelitian. Peneliti harus tahu kapan harus berhenti bahkan jika hasil akhir tidak seperti yang inginkan (Elton-Chalcraft. Hansen, & Twiselton, 2008:. Interval maksimum yang sangat panjang mengakomodasi sebagian besar puncak siklus ke siklus, dengan merancang interval siklus untuk Autingkat keberhasilanAy 95 persen, atau Auprobabilitas diizinkanAy (Parsonson, 1992:. Keberhasilan dari kinerja dalam penelitian tindakan ini yaitu apabila terjadi pemahaman yang mendalam tentang kecerdasan jamak, kemudian didesain dan diterapkan dalam meningkatnya kinerja berdasarkan indikator Aumemenuhi standarAy menggunakan informasi dari masing-masing bagan Perbandingan Temuan, seperangkat komposit temuan berpoin untuk dampak Ini adalah serangkaian temuan, menerapkan teori operan yang sama Ai dipersiapkan untuk menyampaikan presentasi yang akurat dari apa yang dipelajari tentang meningkatkan kinerja siswa melalui studi apabila . siswa menunjukkan pertumbuhan dalam kinerja (Sagor, 2. Pembahasan Berdasarkan tujuan awal penelitian tindakan kelas ini, maka hasil pelaksanaan dan observasi pada pra tindakan ini bertujuan untuk: . mendeskripsikan bagaimana aktifitas guru dalam meningkatkan kemampuan menerapkan prosedur kombinasi gerak dasar jalan, lari, lompat dan lempar dengan permainan olahraga yang dimodifikasi dan olahraga tradisional di Kelas V . SDN 1 Sumengko Kecamatan Wringinanom Kabupaten Gresik. mendeskripsikan bagaimana aktifitas siswa dalam kegiatan pembelajaran meningkatkan kemampuan menerapkan prosedur kombinasi gerak dasar jalan, lari, lompat dan lempar dengan permainan olahraga yang dimodifikasi dan olahraga tradisional di Kelas V . SDN 1 Sumengko Kecamatan Wringinanom Kabupaten Gresik. menganalisis apakah pembelajaran dengan permainan olahraga yang dimodifikasi dan olahraga tradisional dapat meningkatkan kemampuan menerapkan prosedur kombinasi gerak dasar jalan, lari, lompat dan lempar di Kelas V . SDN 1 Sumengko Kecamatan Wringinanom PROGRESSA Jurnal Ilmiah Pendidikan Agama Islam Vol. 3 No. 1 Pebruari 2019 ISSN 2579-9665 (Printe. , 2579-9673 (Onlin. Kabupaten Gresik. 80 persen. Adapun rekapitulasi hasil pada masingmasing suklus dapat dilihat pada tabel dibawah ini: Aktivitas guru selama proses pembelajaran pada pertemuan siklus II untuk aktifitas Pendahuluan Observer 1 memberikan penilaian 93,33 persen dan Observer 2 memberikan penilaian 86,67 persen. Untuk aktifitas Kegiatan Inti Observer 1 memberikan penilaian 88,57 persen dan Observer 2 memberikan penilaian 88,57 persen. Untuk aktifitas Penutup Observer 1 memberikan penilaian 85 persen dan Observer 2 memberikan penilaian 90 persen. Dan total penilaian adalah Observer 1 memberikan penilaian 88,57 persen dan Observer 2 memberikan penilaian 88,57 persen. Hal ini sudah tercapai sebagaimana yang diharapkan yaitu tercapai setidaknya sebesar 80 persen Tabel 1 Rekapitulasi Hasil Penelitian pada Pra Tindakan. Siklus I dan Siklus II Aspek yang Pra Tindakan Aktivitas guru 63,57 % Aktivitas siswa 43,57 % Nilai rata-rata tes (Daya Serap Klasika. Ketuntasan Belajar Klasikal Siklus Siklus 74,29 65,71 88,57 87,14 7,506 7,76 76,67 % 83,33 93,33 Peningkatan Aktifitas Guru Aktivitas guru selama proses pembelajaran pada pertemuan pra tindakanuntuk aktifitas Pendahuluan Observer 1 memberikan penilaian 73,33 persen dan Observer 2 memberikan penilaian 66,67 persen. Untuk aktifitas Kegiatan Inti Observer 1 memberikan penilaian 68,57 persen dan Observer 2 memberikan penilaian 62,86 persen. Untuk aktifitas Penutup Observer 1 memberikan penilaian 55 persen dan Observer 2 memberikan penilaian 55 persen. Dan total penilaian adalah Observer 1 memberikan penilaian 65,71 persen dan Observer 2 memberikan penilaian 61,43 persen. Hal ini masih belum tercapai sebagaimana yang diharapkan yaitu tercapai setidaknya sebesar 80 persen. Aktivitas guru selama proses pembelajaran pada pertemuan siklus I untuk aktifitas Pendahuluan Observer 1 memberikan penilaian 66,67 persen dan Observer 2 memberikan penilaian 80 persen. Untuk aktifitas Kegiatan Inti Observer 1 memberikan penilaian 77,14 persen dan Observer 2 memberikan penilaian 74,29 persen. Untuk aktifitas Penutup Observer 1 memberikan penilaian 70 persen dan Observer 2 memberikan penilaian 75 persen. Dan total penilaian adalah Observer 1 memberikan penilaian 72,86 persen dan Observer 2 memberikan penilaian 75,71 persen. Hal ini masih belum tercapai sebagaimana yang diharapkan yaitu tercapai setidaknya sebesar Adapun rekapitulasi aktifitas guru pada masing-masing siklus dapat dilihat pada grafik dibawah ini: 100,00 % 80,00 % Pra Tindakan . 63,57 % 60,00 % Siklus II . 88,57 % Siklus I . 74,29 % 40,00 % 20,00 % 0,00 % Grafik 1 Peningkatan Aktifitas Guru pada pra tindakan, siklus I dan Siklus II Dari grafik diatas dapat di ketahui bahwa: Aktivitas guru mengalami peningkatan pada Pra Tindakan memperoleh hasil 63,57 persen dan meningkat pada Siklus I sebesar 74,29 persen dan meningkat pada Siklus II sebesar 88,57 persen. Peningkatan Aktifitas Siswa Aktivitas siswa selama proses pembelajaran pada pertemuan pra tindakan untuk aktifitas Pendahuluan Observer 1 memberikan penilaian 53,33 persen dan Observer 2 memberikan penilaian 46,67 persen. Untuk aktifitas Kegiatan Inti Observer 1 memberikan penilaian 48,57 persen dan Observer 2 memberikan penilaian 42,86 persen. Untuk aktifitas Penutup Observer 1 memberikan Meningkatkan kemampuan menerapkan prosedur kombinasi gerak dasar jalan, lari, lompat dan lempar dengan permainan olahraga yang dimodifikasi dan olahraga tradisional penilaian 35 persen dan Observer 2 memberikan penilaian 35 persen. Dan total penilaian adalah Observer 1 memberikan penilaian 45,71 persen dan Observer 2 memberikan penilaian 41,43 persen. Hal ini masih belum tercapai sebagaimana yang diharapkan yaitu tercapai setidaknya sebesar 80 persen. Aktivitas siswa selama proses pembelajaran pada pertemuan siklus I untuk aktifitas Pendahuluan Observer 1 memberikan penilaian 73,33 persen dan Observer 2 memberikan penilaian 73,33 persen. Untuk aktifitas Kegiatan Inti Observer 1 memberikan penilaian 60 persen dan Observer 2 memberikan penilaian 54,29 persen. Untuk aktifitas Penutup Observer 1 memberikan penilaian 75 persen dan Observer 2 memberikan penilaian 75 persen. Dan total penilaian adalah Observer 1 memberikan penilaian 67,14 persen dan Observer 2 memberikan penilaian 64,29 persen. Hal ini masih belum tercapai sebagaimana yang diharapkan yaitu tercapai setidaknya sebesar 80 persen. Aktivitas siswa selama proses pembelajaran pada pertemuan siklus II untuk aktifitas Pendahuluan Observer 1 memberikan penilaian 80 persen dan Observer 2 memberikan penilaian 86,67 persen. Untuk aktifitas Kegiatan Inti Observer 1 memberikan penilaian 91,43 persen dan Observer 2 memberikan penilaian 94,29 persen. Untuk aktifitas Penutup Observer 1 memberikan penilaian 80 persen dan Observer 2 memberikan penilaian 80 persen. Dan total penilaian adalah Observer 1 memberikan penilaian 85,71 persen dan Observer 2 memberikan penilaian 88,57 persen. Hal ini sudah tercapai sebagaimana yang diharapkan yaitu tercapai setidaknya sebesar 80 persen Adapun rekapitulasi aktifitas siswa pada masing-masing siklus dapat dilihat pada grafik dibawah ini: 100,00 % Siklus II . 87,14 % 80,00 % 60,00 % Pra Tindakan . 43,57 % 40,00 % Siklus I . 65,71 % 20,00 % 0,00 % Grafik 2 Peningkatan Aktifitas Siswa pada pra tindakan, siklus I dan Siklus II Dari grafik diatas dapat di ketahui bahwa: Aktivitas siswa mengalami peningkatan pada Pra Tindakan memperoleh hasil 43,57 persen dan meningkat pada Siklus I sebesar 65,71 persen dan meningkat pada Siklus II sebesar 87,14 persen. Peningkatan Hasil belajar siswa Peningkatan pemahaman siswa diketahui melalui Nilai rata-rata tes (Daya Serap Klasika. dan Ketuntasan Belajar Klasikal: Nilai rata-rata tes (Daya Serap Klasika. mengalami peningkatan pada Pra Tindakan memperoleh hasil 7 persen dan meningkat pada Siklus I sebesar 7,51 persen dan meningkat pada Siklus II sebesar 7,76 persen. Ketuntasan Belajar Klasikal mengalami peningkatan pada Pra Tindakan memperoleh hasil 76,67 persen dan meningkat pada Siklus I sebesar 83,33 persen dan meningkat pada Siklus II sebesar 93,33 Adapun rekapitulasi Nilai rata-rata tes (Daya Serap Klasika. dan Ketuntasan Belajar Klasikal pada masing-masing siklus dapat dilihat pada grafik dibawah ini: 100,00 % Siklus I . Pra Tindakan . 83,33 % 76,67 % 80,00 % 60,00 % Siklus II . 93,33 % 40,00 % 20,00 % 0,00 % Pra Siklus II . Siklus I . Tindakan . 7,76 % 7,51 % 7,00 % Grafik 3 Peningkatan Hasil belajar siswa pada pra tindakan, siklus I dan Siklus II Penutup Aktivitas guru mengalami peningkatan pada Pra Tindakan memperoleh hasil 63,57 PROGRESSA Jurnal Ilmiah Pendidikan Agama Islam Vol. 3 No. 1 Pebruari 2019 ISSN 2579-9665 (Printe. , 2579-9673 (Onlin. persen dan meningkat pada Siklus I sebesar 74,29 persen dan meningkat pada Siklus II sebesar 88,57 persen. Aktivitas siswa mengalami peningkatan pada Pra Tindakan memperoleh hasil 43,57 persen dan meningkat pada Siklus I sebesar 65,71 persen dan meningkat pada Siklus II sebesar 87,14 persen. Nilai rata-rata tes (Daya Serap Klasika. mengalami peningkatan pada Pra Tindakan memperoleh hasil 7 persen dan meningkat pada Siklus I sebesar 7,51 persen dan meningkat pada Siklus II sebesar 7,76 persen. Ketuntasan Belajar Klasikal mengalami Pra Tindakan memperoleh hasil 76,67 persen dan meningkat pada Siklus I sebesar 83,33 persen dan meningkat pada Siklus II sebesar 93,33 Daftar Pustaka Ballock. Biancaniello. Biancaniello. Bisset. Bond. Carpenter. , . Leppo. Making classroom inquiry work: Techniques for effective action research. R&L Education. Bahasa Indonesia. Puskur Depdiknas:Jakarta. Depdiknas, . Garis-Garis Besar Program Pengajaran. Jakarta: Depdiknas. Dickins. , & Germaine. Managing evaluation and innovation in language teaching: Building bridges. Routledge. Domino. , & Domino. Psychological testing: An introduction. Cambridge University Press. Effendi. Penerapan permainan tradisional terhadap minat siswa dalam jasmani, olahraga dan kesehatan . tudi pada sdn pelem ii kecamatan kertosono, kabupaten nganju. Jurnal Pendidikan Olahraga dan Kesehatan, 6. Elliott. Signal processing for active Elsevier. Elton-Chalcraft. Hansen. , & Twiselton. Doing Classroom Research: A Step-ByStep Guide For Student Teachers: A step by step Guide for Student Teachers. McGraw-Hill Education (UK). Flood. Rethinking the fifth discipline: Learning within the unknowable. Routledge. Bangun. Peran Pendidikan Jasmani Dan Olahraga Pada Lembaga Pendidikandi Indonesia. Publikasi Pendidikan, 6. Goodnough. Taking action in science classrooms through collaborative action research. Springer Science & Business Media. Bridges. Fiction written under oath?: essays in philosophy and educational research (Vol. Springer Science & Business Media. Gultom. Rosdiana. Simbolon. R, 2010. Menjadi penulis penelitian tindakan di kelas dan di sekolah (PTN & PTS) action research. Medan: USU Press. BSNP. Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar Pendidikan Jasmani. Olahraga, dan Kesehatan Sekolah Dasar dan Madrasah Ibtidaiyah. Jakarta: BSNP. Gwet. Handbook of inter-rater reliability: The definitive guide to measuring the extent of agreement among raters. Advanced Analytics. LLC. Clements. Bishop. Keitel-Kreidt. Kilpatrick. , & Leung. (Eds. Third international handbook of mathematics education (Vol. Springer Science & Business Media. Hasmara. Yunarta. , & Wahyudin. Kinerja Guru Pendidikan Jasmani. Olahraga, dan Kesehatan Sman. Dan SMKN se-Kabupaten Mojokerto Berdasarkan Latar Belakang Pendidikan Tahun 2014. Journal Proceeding, 1. Cronbach. , & Shavelson. current thoughts on coefficient alpha and successor procedures. Educational and psychological measurement, 64. , 391-418. Davidson. Methods in nonlinear plasma Elsevier. Depdikbud, . Kurikulum Pendidikan Dasar: Kurikulum KTSP SD/MI Mata Pelajaran Hektner. Schmidt. , & Csikszentmihalyi. Experience sampling method: Measuring the quality of everyday life. Sage. Hendrayana. Adi. , & Lesmana, . Pengaruh Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Numbered Meningkatkan kemampuan menerapkan prosedur kombinasi gerak dasar jalan, lari, lompat dan lempar dengan permainan olahraga yang dimodifikasi dan olahraga tradisional Head Together (NHT) Terhadap Hasil Belajar Teknik Dasar Passing Bola Volisiswa Kelas Vi SMP N 3 Singaraja Tahun Pelajaran 2016/2017. Jurnal Pendidikan Jasmani. Olahraga dan Kesehatan Undiksha, 8. Henning. Stone. , & Kelly. Using action research to improve instruction: An interactive guide for teachers. Routledge. Herlanti. Tanya Jawab Seputar Penelitian Pendidikan Sains: Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan mahasiswa tingkat akhir yang sering muncul dalam penelitian pendidikan Yanti Herlanti. Herr. , & Anderson. The action research dissertation: A guide for students and Sage publications. Hidayat. Hubungan Antara Kecerdasan. Durasi Belajar Dan Nilai Penjasorkes Dengan Prestasi Akademik Siswa Kelas X. Pendidikan Jasmani Kesehatan dan Rekreasi, 3. Hopkins. A teacher's guide to McGraw-Hill Education (UK). Jamil. Askvik. , & Hossain. Administrative culture in developing and transitional countries. Taylor & Francis Kemmis. McTaggart. , & Nixon. The action research planner: Doing critical participatory action research. Springer Science & Business Media. Lu. , & De Lisio. Specifics for generalists: Teaching elementary physical International Electronic Journal of Elementary Education, 1. , 170-187. Martella. Nelson. Morgan. , & Marchand-Martella, . Understanding and interpreting educational Guilford Press. McNiff. Action research: Principles and Routledge. Miles. & Huberman. Analisis data Kualitatif. Terjemahan oleh Tjetjep Roehndi Rohidi. Jakarta: Penerbit Universitas Indonesia. Morehouse. , & Maykut. Beginning qualitative research: A philosophical and practical guide. Routledge. Morrow Jr. Mood. Disch. , & Kang. Measurement and Evaluation in Human Performance, 4E. Human Kinetics. Mustakin & Wiyanto. Panduan Karya Tulis Guru. Yogyakarta: Pustaka