SEGARA WIDYA Jurnal Penelitian Seni Volume 13 No. 1, 2025 P83-101 E-ISSN 2798-8678 Kehidupan Sosial Masyarakat Jawa Abad ke-9: Analisis Semiotika Relief Karmawibhangga di Candi Borobudur Nicholas Ferdeta Lakusa Pendidikan Seni Pertunjukan. Fakultas Seni Pertunjukan. Institut Seni Indonesia Bali Jl. Nusa Indah. Sumerta. Kecamatan Denpasar Timur. Kota Denpasar . Bali, 80235. Indonesia nicholaslakusa@isi-dps. Penelitian ini menganalisis kehidupan sosial masyarakat Jawa abad ke-9 melalui interpretasi semiotika terhadap relief Karmawibhangga di Candi Borobudur. Menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan kerangka semiotika triadik Peirce, penelitian ini mengungkap bagaimana elemen visual dalam relief merepresentasikan hierarki sosial, kegiatan ekonomi, nilai moral, peran gender, dan praktik Data dikumpulkan melalui analisis ikonografi dan studi pustaka. Hasil penelitian menunjukkan bahwa relief Karmawibhangga tidak hanya mencerminkan ajaran karma dalam konteks Buddhisme, tetapi juga menjadi cerminan struktur sosial masyarakat Jawa Kuno. Simbolisme yang terdapat dalam relief ini mengindikasikan adanya perbedaan status sosial berdasarkan pakaian, posisi tubuh, dan aktivitas yang digambarkan. Selain itu, penelitian ini menyoroti peran seni visual sebagai sarana edukasi moral dan alat legitimasi kekuasaan pada masa itu. Studi ini memberikan kontribusi dalam pemahaman mengenai filsafat seni Jawa serta menekankan pentingnya pelestarian warisan budaya sebagai sumber edukasi sejarah dan estetika. Kata Kunci: Relief Karmawibhangga. Semiotika. Jawa Abad ke-9. Borobudur This study analyzes the social life of 9th-century Javanese society through a semiotic interpretation of the Karmawibhangga reliefs at Borobudur Temple. Using a qualitative descriptive approach with PeirceAos triadic semiotics framework, this research examines how visual elements in the reliefs represent social hierarchy, economic practices, moral values, gender roles, and religious practices. Data were collected through iconographic analysis and literature review. The findings reveal that the Karmawibhangga reliefs depict the Buddhist concept of karma and reflect the social structure of ancient Javanese society. Symbolism in the reliefs indicates differences in social status through clothing, body posture, and depicted activities. Furthermore, this study highlights the role of visual art as a medium for moral education and a tool for legitimizing power. This research contributes to a deeper understanding of Javanese art philosophy and emphasizes the importance of cultural heritage preservation for historical and aesthetic education. Keywords: Karmawibhangga Reliefs. Semiotics, 9th-Century Java. Borobudur Nicholas Ferdeta Lakusa (Kehidupan A) Volume 13 No. 1, 2025 PENDAHULUAN Relief Karmawibhangga di Candi Borobudur merupakan warisan seni monumental yang merangkum dinamika sosial-budaya masyarakat Jawa pada abad Borobudur diakui sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO dan salah satu monumen Buddha terbesar di dunia, terkenal akan keunggulan arsitektural serta nilai spiritualnya (Soekmono, 1976, p. Relief-relief rumit yang menghiasi bagian dasar candi, khususnya panel Karmawibhangga, menawarkan narasi kaya namun masih kurang dieksplorasi tentang kehidupan sehari-hari, nilai moral, serta struktur sosial pada masa itu. Relief ini menggambarkan berbagai adegan, mulai dari aktivitas pertanian dan perdagangan hingga hukuman dan ganjaran, mencerminkan ajaran moral tentang karma yang tertanam kuat dalam budaya Jawa kuno. Kajian terhadap relief Karmawibhangga berkembang signifikan. Pada awal dari abad ke-20, penelitian yang dilakukan oleh para arkeolog seperti Krom dan Bosch masih berfokus pada aspek yang historis dan arsitektural. Mereka mendokumentasikan relief di dalam konteks struktur Candi Borobudur serta menelusuri hubungan relief dengan teks-teks Buddhis kuno seperti KarmavibhaIga. Pendekatan ini menekankan fungsi dekoratif relief. Dalam kerangka ajaran agama, pendekatan ini juga menekankan fungsi naratif relief. Saat memasuki pertengahan abad ke-20, fokus mulai bergeser ke arah studi tentang ikonografi juga simbolisme keagamaan. Para peneliti memandang relief sebagai media visualisasi doktrin karma, pencerahan, dan siklus kelahiran kembali. Temuan ini benar-benar memperkuat pandangan bahwa Candi Borobudur adalah sebuah mandala raksasa yang dirancang untuk membawa para peziarah menuju pencerahan spiritual. Di era kontemporer ini, muncul pendekatan yang lebih Hal ini terutama terjadi sejak awal abad ke-21. Kajian tentang semiotika, sejarah sosial, dan juga budaya menjadi lebih menonjol. Peneliti seperti John Miksic mulai melihat relief tersebut bukan hanya sebagai ekspresi keagamaan semata, tetapi juga sebagai cerminan struktur sosial dan nilai-nilai etika dari masyarakat Jawa abad ke-9. Dalam kerangka ini, relief ditafsirkan sebagai narasi visual tentang ketertiban sosial tertentu, peran gender tertentu, kekuasaan, serta pengawasan moral tertentu. Meskipun banyak kajian akademis telah menyoroti aspek keagamaan dan arsitektural Borobudur (Krom, 1927, p. , penelitian yang secara sistematis mengeksplorasi dimensi semiotik relief Karmawibhangga sebagai teks visual yang menyandikan etos sosial-budaya Jawa kuno masih terbatas. Literatur yang ada sering kali memperlakukan panel-panel di Borobudur sebagai pelengkap dari narasi kosmologis Buddha yang lebih besar, sehingga mengabaikan potensinya sebagai sumber utama dalam memahami pengalaman hidup dan estetika masyarakat Jawa pada masa itu. Penelitian ini bertujuan untuk mengisi kesenjangan tersebut dengan menerapkan kerangka semiotika triadik Peirce guna menafsirkan makna simbolik dan representasional dalam relief Karmawibhangga. Pendekatan ini memungkinkan analisis yang lebih mendalam mengenai bagaimana elemen visual dalam relief ini merepresentasikan nilai-nilai sosial-budaya yang lebih luas, sehingga dapat memahami lebih jauh interaksi antara seni, moralitas, dan tatanan sosial di Jawa abad ke-9. Studi ini memiliki dua tujuan utama: pertama, menganalisis narasi visual dalam relief Karmawibhangga sebagai cerminan kehidupan sosial masyarakat Jawa, dan kedua, berkontribusi pada diskursus yang lebih luas tentang seni sebagai media pelestarian budaya. Kebaruan penelitian ini terletak pada pendekatan interdisipliner yang menghubungkan sejarah seni, semiotika, dan kajian budaya untuk mengungkap pemahaman relief Karmawibhangga yang belum banyak diteliti Studi ini tidak hanya memperkaya wacana akademis tentang seni dan Nicholas Ferdeta Lakusa (Kehidupan A) Volume 13 No. 1, 2025 budaya Jawa, tetapi juga menegaskan pentingnya pelestarian dan kontekstualisasi bentuk seni historis sebagai bagian dari warisan budaya Indonesia. Relief Karmawibhangga memiliki makna yang sangat penting karena menghadirkan gambaran langka tentang kehidupan sehari-hari masyarakat Jawa pada masa Dinasti Sailendra. Periode ini sering disebut sebagai puncak kejayaan budaya klasik Jawa, yang tercermin dalam kemajuan seni, arsitektur, serta sistem sosial dan politiknya. Jika bagian atas Candi Borobudur lebih banyak menggambarkan konsep kosmologi Buddha dan ajaran spiritual, relief di bagian dasar justru menampilkan aktivitas manusia yang nyata, lengkap dengan berbagai dilema moral yang dihadapi. Kisah-kisah visual ini bukan sekadar representasi doktrin keagamaan, tetapi juga mencerminkan kehidupan sosial dan tatanan masyarakat saat itu. Dengan begitu, relief ini menjadi sumber yang sangat berharga untuk memahami bagaimana spiritualitas dan norma sosial saling berkelindan dalam kehidupan masyarakat Jawa Candi Borobudur, sebagai monumen Buddha yang penting, tidak hanya merepresentasikan aspirasi spiritual tetapi juga puncak sintesis seni dan budaya di Asia Tenggara (Miksic & Tranchini, 1990, p. Meskipun banyak penelitian sebelumnya lebih menyoroti aspek arsitektural dan keagamaan Borobudur, keunikan artistik dan makna simbolik yang terkandung dalam panel-panel Karmawibhangga masih jarang mendapat perhatian. Padahal, relief-relief ini menyimpan beragam cerita yang merefleksikan nilai-nilai sosial, moral, dan budaya masyarakat Jawa pada masanya. Dengan pendekatan yang lebih mendalam, kita dapat mengungkap bagaimana seni dan simbol dalam relief ini tidak hanya berfungsi sebagai dekorasi, tetapi juga sebagai sarana komunikasi dan ekspresi yang kaya akan makna. Para akademisi seperti Woodward . telah menganalisis elemen ikonografi candi-candi Jawa, tetapi penelitian mereka sering kali mengabaikan implikasi sosiologis yang tertanam dalam relief Karmawibhangga. Demikian pula. Holt . menekankan simbolisme spiritual dalam seni Asia Tenggara, namun kurang menyoroti narasi sosial-budaya yang disampaikan melalui penceritaan visual. Kurangnya fokus pada aspek ini menciptakan celah penelitian yang coba dijembatani dalam studi ini, dengan menelaah relief-relief Karmawibhangga sebagai sistem tanda yang kompleks yang dapat mengungkap dinamika kehidupan masyarakat Jawa abad ke-9. Pendekatan semiotika triadik Peirce menjadi sangat relevan karena memungkinkan analisis mendalam terhadap hubungan antara relief sebagai tanda, kehidupan sosial masyarakat Jawa sebagai objek, dan bagaimana relief ini dipahami oleh penontonnya. Dengan menguraikan elemen visual dalam relief menjadi ikon, indeks, dan simbol, penelitian ini berusaha mengungkap lapisan-lapisan makna yang tersembunyi dalam karya seni ini. Lebih dari sekadar menambah wawasan tentang relief Karmawibhangga, pendekatan ini juga menegaskan pentingnya semiotika dalam menafsirkan bentuk seni historis sebagai cerminan budaya dan nilai-nilai masyarakat masa lalu. Berdasarkan latar belakang tersebut, penelitian ini berangkat dari pertanyaan mengenai bagaimana makna simbolik visual dalam relief Karmawibhangga membedakan status sosial masyarakat Jawa abad ke-9, serta bagaimana representasi sosial, ekonomi, dan gender dalam relief tersebut dapat diinterpretasi melalui kerangka semiotika triadik Peirce. Lebih dari sekadar kajian akademis, temuan dalam penelitian ini memiliki relevansi yang nyata di masa kini. Di tengah laju urbanisasi dan tantangan pelestarian budaya, memahami nilai historis dari karya seni seperti relief Karmawibhangga menjadi semakin penting. Studi ini tidak hanya menyoroti keindahan estetika dan Nicholas Ferdeta Lakusa (Kehidupan A) Volume 13 No. 1, 2025 nilai edukatif relief-relief tersebut, tetapi juga berkontribusi dalam upaya menjaga warisan budaya agar tetap hidup dan bermakna bagi generasi mendatang. Selain memberikan sumbangan bagi dunia akademis, penelitian ini juga berupaya menjembatani kesenjangan antara kajian ilmiah dan keterlibatan publik. Dengan pendekatan interdisipliner, interpretasi terhadap relief Karmawibhangga diharapkan dapat lebih mudah dipahami dan diapresiasi oleh berbagai kalangan, mulai dari sejarawan seni, peneliti budaya, pendidik, hingga masyarakat umum. Lebih jauh, penelitian ini menegaskan pentingnya memasukkan analisis seni historis dalam pendidikan modern, agar generasi muda tidak hanya mengenal tetapi juga merasakan kebanggaan terhadap kekayaan budaya Indonesia. Dengan penyebarluasan wawasan ini, diharapkan warisan berharga seperti relief Karmawibhangga dapat terus relevan dan menginspirasi, baik dalam konteks akademis maupun kehidupan sehari-hari. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif untuk menggali lebih dalam dimensi sosial dan budaya yang tercermin dalam relief Karmawibhangga di Candi Borobudur. Pendekatan ini dipilih karena lebih fleksibel dalam menangkap makna simbolik dan interpretatif yang terkandung dalam seni. Dengan cara ini, penelitian dapat mengeksplorasi tidak hanya bentuk visual relief, tetapi juga bagaimana elemenelemen tersebut merefleksikan kehidupan dan nilai-nilai masyarakat pada masanya (Creswell & Creswell, 2022, p. Dengan menggunakan kerangka semiotika triadik Peirce, penelitian ini secara sistematis menguraikan elemen visual relief menjadi tanda . , objek . , dan penafsir . , sehingga memungkinkan analisis yang lebih mendalam mengenai signifikansi budaya dan sosialnya. Ikon merujuk pada kemiripan fisik dengan objek, indeks menunjukkan hubungan kausal atau keberadaan objek . isalnya, posisi atau perilaku yang menunjukkan statu. , dan simbol mengacu pada tanda yang berhubungan melalui kesepakatan sosial, seperti simbol status atau keagamaan. Teori ini lebih sesuai untuk memahami simbolisme kompleks dalam relief Karmawibhangga dan hubungan sosial yang digambarkan di Dalam penelitian ini, teori semiotik Peirce dipilih karena lebih cocok untuk menganalisis relief Karmawibhangga daripada pendekatan Barthes atau Saussure. Peirce mengembangkan teori triadik yang terdiri dari ikon, indeks, dan simbol, yang memberi kita alat untuk menggali lebih dalam makna sosial dan budaya yang terkandung dalam tanda visual. Jika Barthes lebih fokus pada denotasi dan konotasi dalam gambar, dan Saussure lebih menekankan hubungan antara signifier dan signified. Peirce menawarkan perspektif yang lebih luas dengan memperhitungkan hubungan antara tanda, objek yang diwakili, dan bagaimana audiens menafsirkannya. Pendekatan ini sangat relevan dalam konteks visual seperti relief, yang penuh dengan simbol-simbol sosial dan budaya yang memerlukan pemahaman lebih dari sekadar makna permukaan. Penelitian ini secara khusus berfokus pada relief Karmawibhangga yang terletak di bagian tersembunyi dari candi. Panel-panel ini menampilkan beragam adegan kehidupan sehari-hari, ajaran moral, serta konsekuensi dari perbuatan, yang secara langsung mencerminkan dinamika sosial dan budaya masyarakat Jawa pada abad ke-9. Dalam penelitian ini, dipilih lima panel dari relief Karmawibhangga menggunakan metode purposive sampling, dengan mempertimbangkan relevansi tematik serta kejelasan penggambarannya yang bisa memberikan pemahaman mendalam tentang struktur sosial, moral, dan budaya yang terkandung di dalamnya. Pemilihan ini bukanlah acak, melainkan berdasarkan pertimbangan bahwa beberapa panel secara khusus menggambarkan aspek-aspek Nicholas Ferdeta Lakusa (Kehidupan A) Volume 13 No. 1, 2025 penting yang sesuai dengan tujuan penelitian, seperti hierarki sosial, nilai-nilai moral, dan peran gender dalam masyarakat Jawa abad ke-9. Analisis semiotik pada elemenelemen visual di setiap panel relief dilakukan untuk menggali lebih dalam simbolisme visual tersebut menggambarkan relasi sosial, ekonomi, dan gender pada masa itu. Pendekatan ini memastikan bahwa panel-panel yang dianalisis benar-benar mewakili narasi sosial, moral, dan budaya yang ingin diungkap, sehingga hasil penelitian dapat memberikan gambaran yang lebih utuh mengenai kehidupan masyarakat pada masa itu (Patton, 2014, p. Pengumpulan data melibatkan kombinasi sumber primer dan sekunder. Foto resolusi tinggi dari relief diperoleh dari Balai Konservasi Borobudur untuk memastikan keakuratan data visual dalam analisis. Data sekunder dikumpulkan dari teks akademik, termasuk studi ikonografi (Krom, 1927, p. dan analisis budaya. Proses analisis data dalam penelitian ini dilakukan secara bertahap agar dapat menggali makna yang terkandung dalam relief Karmawibhangga secara Tahap pertama adalah pengkodean, di mana setiap elemen visual dalam panel relief diklasifikasikan berdasarkan kategori semiotik: ikon untuk elemen yang bersifat representasional, indeks sebagai petunjuk kontekstual, dan simbol untuk konsep-konsep abstrak yang lebih luas. Setelah itu, kode-kode ini dikelompokkan ke dalam tema yang lebih besar, seperti struktur sosial, nilai-nilai moral, serta aktivitas sehari-hari masyarakat Jawa kuno. Pada tahap akhir, temuan-temuan tersebut diinterpretasikan dalam konteks budaya dan sejarah Jawa, sehingga menghasilkan pemahaman yang lebih menyeluruh mengenai peran sosial dan spiritual dari reliefrelief ini dalam kehidupan masyarakat pada masanya (Corbin & Strauss, 2014, p. ANALISIS DAN INTEPRETASI DATA Bagian ini menyajikan hasil penelitian yang meneliti aspek sosial, budaya, dan ekonomi masyarakat Jawa abad ke-9 sebagaimana tergambar dalam relief Karmawibhangga di Candi Borobudur. Temuan ini disusun dalam beberapa subbagian, masing-masing membahas tema utama yang muncul dari analisis relief. Tema-tema tersebut mencakup hierarki sosial, nilai moral, praktik ekonomi, peran gender, dan simbolisme keagamaan. Dengan menggunakan pendekatan semiotik, penelitian ini mengungkap bagaimana elemen-elemen tersebut saling berhubungan dalam mencerminkan struktur dan nilai-nilai masyarakat pada masa itu. Hierarki Sosial Salah satu temuan utama dari penelitian ini adalah penggambaran stratifikasi sosial yang jelas dalam masyarakat Jawa abad ke-9 sebagaimana tercermin dalam relief Karmawibhangga. Relief tersebut menunjukkan perbedaan mencolok antara kaum elit dan rakyat biasa, dengan membedakan individu secara visual berdasarkan peran dan status sosial mereka. Para tokoh aristokrat dalam relief Karmawibhangga sering digambarkan dengan pakaian dan perhiasan yang megah, seperti mahkota, busana berhias, serta aksesori yang mencerminkan status sosial mereka. Tidak hanya dari pakaian, posisi mereka dalam relief pun menunjukkan kedudukan yang tinggi dan biasanya ditempatkan di bagian tengah atau area yang lebih mencolok dalam Sementara itu, masyarakat kelas pekerja, seperti petani, pengrajin, dan buruh, digambarkan dengan pakaian yang lebih sederhana dan sering kali terlihat melakukan aktivitas fisik, seperti bercocok tanam, membawa barang, atau mengolah bahan dengan alat kerja. Penggambaran ini memberikan gambaran nyata tentang struktur sosial masyarakat Jawa pada abad ke-9, di mana perbedaan status sosial terlihat jelas melalui cara mereka ditampilkan dalam seni relief. Diferensiasi visual ini mencerminkan sifat hierarkis masyarakat Jawa pada abad ke-9, di mana penguasa dan kaum bangsawan jelas dibedakan dari rakyat biasa (Santiko, 2016, p. Nicholas Ferdeta Lakusa (Kehidupan A) Volume 13 No. 1, 2025 Simbol-simbol dalam relief, seperti gerakan tangan terangkat dan sikap penghormatan, semakin menegaskan peran sosial yang tergambar dalam narasi Misalnya, tokoh kerajaan sering kali ditampilkan dengan tangan terangkat, yang melambangkan kekuasaan, otoritas, dan kendali atas rakyatnya. Sebaliknya, rakyat biasa lebih sering digambarkan dalam postur yang tunduk atau merunduk, mencerminkan sikap hormat dan kepatuhan terhadap penguasa. Diferensiasi simbolik ini tidak hanya memperjelas struktur sosial yang ada pada masa itu, tetapi juga sejalan dengan catatan sejarah mengenai sistem monarki terpusat di Jawa abad Dalam sistem ini, raja dan kaum bangsawan memiliki peran dominan dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk ekonomi, sosial, dan politik, yang tercermin dalam bahasa visual yang digunakan dalam relief Karmawibhangga (Upaya, 2010, pp. 1Ae. Bukti lebih lanjut mengenai hierarki sosial dalam relief Karmawibhangga dapat dilihat dari pengaturan spasial tokoh-tokoh dalam panel. Studi terbaru menunjukkan bahwa penempatan fisik individu dalam relief dilakukan secara sengaja untuk melambangkan kedudukan dan pengaruh mereka. Penelitian oleh Giessner . 7, p. menyoroti penggunaan posisi vertikal dan horizontal untuk menunjukkan superioritas dan subordinasi, di mana kaum elit menempati posisi sentral atau lebih tinggi, sedangkan rakyat biasa ditempatkan di pinggiran. Stratifikasi visual ini memperkuat sistem kelas yang ketat, di mana kekuasaan dan hak istimewa secara nyata dikodifikasi. Gambar 1. Karmawibhangga Relief nomor 42 (Sumber: (Santiko & Nugrahani, 2012, p. Gambar 1 menunjukkan beberapa individu yang berlutut seolah-olah sedang mengucapkan sumpah di bawah pengawasan seorang guru di depan mereka, yang menggambarkan adanya hierarki dalam kehidupan pada era tersebut. Selain itu, analisis oleh Nabila . 4, p. mengeksplorasi bagaimana hiasan, seperti penutup kepala dan perhiasan, tidak hanya digunakan sebagai elemen estetika, tetapi juga sebagai penanda otoritas politik dan makna religius. Sebagai contoh, pola rumit pada pakaian kerajaan dan penggunaan emas tidak hanya berfungsi sebagai elemen dekoratif tetapi juga memiliki makna simbolik yang mendalam. Kemewahan ini mencerminkan hubungan erat antara kekuasaan duniawi dan restu ilahi, memperkuat posisi para penguasa sebagai pemegang otoritas baik di ranah sekuler maupun Integrasi artistik dan simbolik semacam ini bukan sekadar estetika, melainkan strategi visual yang secara halus meneguhkan hierarki sosial dan memperkokoh dominasi kaum elit di Jawa kuno. Salah satu tema utama dalam relief Karmawibhangga adalah representasi individu dari berbagai lapisan sosial. Relief ini Nicholas Ferdeta Lakusa (Kehidupan A) Volume 13 No. 1, 2025 tidak hanya menampilkan raja, bangsawan, dan rakyat biasa dalam kehidupan seharihari, tetapi juga menggambarkan bagaimana mereka menerima pahala atau menghadapi hukuman berdasarkan tindakan mereka. Dengan menggunakan analisis semiotika Peirce, penggambaran tersebut dapat dikategorikan sebagai tanda indeksikal, di mana visualisasi kaum bangsawan dan orang-orang berbudi luhur bukan sekadar ilustrasi, melainkan refleksi dari struktur kekuasaan yang berlaku. Dalam konteks ini, indeks menghubungkan status sosial dengan konsekuensi karmis, mengisyaratkan bahwa kedudukan seseorang dalam masyarakat bukan hanya hasil dari keturunan, tetapi juga cerminan perbuatan mereka di masa lalu. Para bangsawan sering digambarkan dalam adegan yang mencerminkan kesejahteraan, berpesta, duduk dengan tenang, atau menerima penghormatan. Hal ini seolah menegaskan bahwa kebajikan kepemimpinan berbanding lurus dengan kemakmuran. Sebaliknya, individu dari lapisan sosial lebih rendah atau mereka yang melanggar norma moral ditampilkan dalam situasi penuh penderitaan, memperjelas pesan sosial bahwa setiap tindakan memiliki konsekuensi, dan ketertiban masyarakat dijaga melalui keyakinan akan hukum karma. Berikut tabel analisis semiotik dari adegan relief tersebut. Tabel 1. Analisis Semiotika Triadik Relief Karmawibhangga 42 Elemen Visual Panel Tokoh berpakaian berhias emas Posisi duduk lebih tinggi / berada di tengah panel Jenis Tanda Simbol Rakyat biasa sederhana dan melakukan kerja Ikon Gestur tangan terangkat dari tokoh elit Simbol simbol otoritas, kontrol, dan perintah dalam konvensi visual. Rakyat menunduk dan berlutut di depan tokoh yang lebih tinggi Adegan bangsawan berpesta dan duduk tenang, sementara rakyat menderita atau Perhiasan rumit, ornamen detail. Indeks memiliki hubungan sebab-akibat yang nyata. Indeks penderitaan sebagai penanda status moral dan sosial. Simbol tetapi simbol kejayaan dan kesakralan Indeks Penjelasan IkonAe IndeksAeSimbol tidak hanya elemen estetika, tetapi merupakan simbol status sosial dan kekuasaan. kedudukan superior dalam struktur sosial. posisi vertikal/horisontal sebagai indeks pakaian polos dan aktivitas kasar mengacu pada kelas pekerja. Makna Budaya Melambangkan status tinggi dalam masyarakat Jawa abad ke-9 Posisi sentral menandakan dominasi sosial dan politik kaum elit di masyarakat Jawa kuno. Cerminan kelas sosial bawah dan norma kerja. visualisasi kehidupan sehari-hari rakyat biasa dalam masyarakat Menggambarkan kekuasaan tokoh elit menyiratkan restu atau penghakiman moral dalam konteks karma. Merefleksikan hubungan kuasa dalam masyarakat Visualisasi konsep karma dalam budaya Jawa. struktur sosial dilihat sebagai akibat dari perbuatan dalam kehidupan sebelumnya. Representasi kerajaan dipandang sebagai berkah yang sah dari langit. Nicholas Ferdeta Lakusa (Kehidupan A) Volume 13 No. 1, 2025 dan dekorasi istana dalam latar menciptakan keabsahan ideologis atas kekuasaan Nilai Moral dan Religius: Peran Karma Tema utama dalam relief Karmawibhangga adalah representasi perilaku moral dan konsekuensinya, khususnya melalui konsep karma. Relief-relief ini menampilkan berbagai adegan yang menggambarkan perbuatan baik, seperti amal, kebaikan hati, dan pengabdian religius, berdampingan dengan adegan hukuman bagi tindakan tidak bermoral, seperti pencurian, penipuan, dan kekerasan. Penggambaran ini menegaskan doktrin Buddhis bahwa setiap tindakan, baik atau buruk, memiliki dampak yang melampaui kehidupan saat ini (Santiko, 2. Relief-relief ini bukan sekadar ukiran artistik di dinding candi, tetapi juga berfungsi sebagai media pembelajaran moral yang kuat. Setiap adegan menggambarkan bagaimana perbuatan baik membawa kebahagiaan, kesejahteraan, atau bahkan berkah spiritual, sementara perbuatan buruk berujung pada penderitaan dan kesengsaraan. Dengan cara ini, relief Karmawibhangga tidak hanya menyajikan kisah-kisah visual, tetapi juga menyampaikan pesan mendalam tentang sebab dan akibat dalam kehidupan manusia. Melalui analisis semiotik, dapat terlihat bahwa relief-relief ini dirancang lebih dari sekadar elemen dekoratif. Mereka berperan sebagai alat komunikasi visual yang bertujuan untuk menanamkan ajaran moral dan spiritual kepada siapa pun yang Setiap ukiran menjadi pengingat tentang pentingnya menjalani kehidupan yang berlandaskan kebajikan, dengan harapan dapat menciptakan harmoni sosial serta membawa individu menuju pencerahan spiritual. Selain itu, penggambaran hukuman karmis dalam relief ini memperlihatkan bagaimana seni memiliki peran dalam membentuk perilaku sosial. Dengan menampilkan konsekuensi dari berbagai tindakan manusia, relief ini seolah menegaskan bahwa ajaran Buddha tidak hanya berbicara tentang jalan menuju kebahagiaan batin, tetapi juga tentang menjaga keseimbangan dan ketertiban dalam kehidupan bermasyarakat. Ini menunjukkan bahwa di Jawa kuno, seni tidak hanya dinikmati untuk keindahannya, tetapi juga digunakan sebagai sarana edukatif yang memiliki dampak nyata bagi kehidupan sosial dan spiritual masyarakatnya (Santiko, 2016, p. Penelitian terbaru menyoroti tujuan instruksional dari relief Karmawibhangga dalam menanamkan nilai-nilai moral. (Lakusa & Pradoko, 2021, p. berpendapat bahwa detail-detail dalam adegan hukuman karmis dalam panel-panel ini berfungsi sebagai bentuk pedagogi visual, yang dirancang untuk mendidik masyarakat tentang konsekuensi dari tindakan mereka. Misalnya, adegan yang menggambarkan para pendosa yang disiksa memiliki keselarasan dengan ajaran Buddhis yang ditemukan dalam teks Jawa kuno, seperti Kakawin Nagarakretagama, yang menunjukkan bagaimana tradisi seni dan sastra saling berkaitan dalam menyebarkan ajaran moral. Gambar 2 menunjukkan bahwa berbuat baik kepada orang tua dapat membawa Nicholas Ferdeta Lakusa (Kehidupan A) Volume 13 No. 1, 2025 Gambar 2. Karmawibhangga Relief nomor 68 (Sumber: (Santiko & Nugrahani, 2012, p. Relief-relief yang menggambarkan pahala karmis ditempatkan dengan cermat di area yang mudah terlihat dalam kompleks Candi Borobudur, menandakan bahwa keberadaannya tidak sekadar sebagai elemen dekoratif, tetapi juga sebagai sarana untuk menanamkan nilai-nilai moral dan religius. Penempatan strategis ini memperlihatkan bagaimana relief ini dirancang untuk menginspirasi perilaku baik serta memperkuat etika komunitas dan pengabdian spiritual. Dengan kata lain, reliefrelief ini tidak bersifat pasif, melainkan berfungsi sebagai alat komunikasi visual yang interaktif, mengarahkan masyarakat untuk merenungkan tindakan mereka dan konsekuensi yang menyertainya. Pendekatan semiotika triadik Peirce yang mencakup representamen, objek, dan interpretan menjadi kerangka analisis yang tepat untuk memahami relief Karmawibhangga sebagai simbol sosial yang dinamis. Representamen dalam konteks ini adalah relief itu sendiri, yang mengilustrasikan berbagai adegan kehidupan, konsekuensi moral, serta tokoh-tokoh yang merepresentasikan ajaran karma. Misalnya, penggambaran individu yang mengalami penderitaan atau menerima pahala tidak hanya merupakan kisah visual, tetapi juga mencerminkan sistem sebab-akibat yang dipercaya oleh masyarakat Jawa saat itu. Objek dari simbol-simbol dalam relief ini tidak terbatas pada peristiwa yang digambarkan secara literal, tetapi juga mencerminkan struktur sosial dan nilai-nilai budaya yang mengatur kehidupan masyarakat. Penguasa, rakyat biasa, dan dunia spiritual digambarkan dalam relasi yang mencerminkan keteraturan kosmis, di mana setiap individu memiliki peran dan tanggung jawab dalam menjaga keseimbangan. Simbol-simbol ini secara tidak langsung menegaskan bahwa kehidupan sosial di Jawa abad ke-9 sangat dipengaruhi oleh pemahaman tentang karma dan keteraturan dunia. Sementara itu, interpretan dari relief ini dapat bervariasi tergantung pada latar belakang sosial dan perspektif penontonnya. Bagi kaum elit, seperti penguasa dan pendeta Buddha, relief ini bisa berfungsi sebagai pengingat akan tanggung jawab moral dalam memimpin dan membimbing masyarakat. Bagi rakyat biasa, relief ini menjadi sarana edukasi visual yang menggambarkan bagaimana tindakan mereka dapat membawa kebahagiaan atau penderitaan di kehidupan ini maupun di kehidupan berikutnya. Dengan demikian, relief Karmawibhangga tidak hanya berperan sebagai peninggalan sejarah, tetapi juga sebagai cerminan sistem sosial dan keyakinan yang masih memiliki relevansi hingga saat ini. Berikut tabel analisis semiotik dari adegan relief tersebut. Nicholas Ferdeta Lakusa (Kehidupan A) Volume 13 No. 1, 2025 Tabel 2. Analisis Semiotika Triadik Relief Karmawibhangga 68 Elemen Visual Anak berbakti pada orang tua Simbol kekayaan . erhiasan, benda Ekspresi bahagia pada wajah tokoh Hubungan sebab-akibat: tindakan baik Ie hasil Jenis Tanda Ikon Simbol Ikon Simbol Ikon / Indeks / Simbol Gambar langsung hubungan kasih Metafora pahala Makna Budaya Nilai kebajikan, hormat pada orang Kekayaan sebagai hasil perbuatan baik Cermin ketenangan Cerita visual hukum Kedamaian hasil dari tindakan baik Edukasi visual untuk masyarakat awam Kegiatan Perekonomian dan Pertanian Relief Karmawibhangga memberikan wawasan berharga mengenai praktik ekonomi masyarakat Jawa abad ke-9, khususnya dalam bidang pertanian dan Beberapa panel menggambarkan adegan pertanian, di mana individu terlihat membajak tanah, menanam padi, dan melakukan kegiatan irigasi. Penggambaran detail sawah, alat pertanian, dan saluran air menunjukkan bahwa pertanian merupakan tulang punggung ekonomi Jawa pada masa itu. Gambargambar ini menyoroti pentingnya budidaya padi, yang tidak hanya menjadi makanan pokok tetapi juga sumber ekonomi utama (Christie, 1995, p. Relief juga menampilkan adegan aktivitas pasar, di mana para pedagang menjual barang seperti tekstil, rempah-rempah, dan komoditas lainnya. Perdagangan digambarkan melalui sosok pedagang yang membawa barang dalam keranjang dan melakukan barter, mengindikasikan adanya ekonomi pasar yang berkembang. Penggambaran adegan pasar ini juga menunjukkan bahwa masyarakat Jawa telah memiliki jaringan perdagangan yang mapan, baik secara lokal maupun regional, yang mendukung pertukaran barang dan pertumbuhan ekonomi (Christie, 1995, p. Analisis semiotik mengungkap bahwa perdagangan bukan sekadar aktivitas ekonomi, tetapi juga aktivitas sosial yang menghubungkan berbagai kelas masyarakat dan mendorong interaksi antara kaum elit dan rakyat biasa. Interpretasi baru mengenai praktik ekonomi dalam relief ini menyoroti sistem irigasi maju yang digunakan dalam pertanian Jawa. Menurut Anggorojati . 3, p. , relief menggambarkan praktik pengelolaan air yang canggih, termasuk sawah terasering dan kanal irigasi, yang sangat penting bagi budidaya padi. Penggambaran ini menunjukkan bahwa masyarakat Jawa telah mengembangkan sistem distribusi air yang sangat terorganisir untuk mendukung ekonomi agraris mereka. Nicholas Ferdeta Lakusa (Kehidupan A) Volume 13 No. 1, 2025 Gambar 3. Karmawibhangga Relief number 65 (Sumber: (Santiko & Nugrahani, 2012, p. Gambar 3 menggambarkan keberadaan tanaman padi dalam kehidupan sehari-hari masyarakat. Temuan Anggorojati . menekankan peran perdagangan di Jawa abad ke-9. Penggambaran pasar dan adegan barter dalam relief nomor 1 menunjukkan bahwa pertukaran ekonomi tidak terbatas pada komunitas lokal, tetapi merupakan bagian dari jaringan perdagangan yang lebih luas yang menghubungkan Jawa dengan wilayah lain di Asia Tenggara. Integrasi ini terlihat dari penggambaran barang-barang seperti keramik dan tekstil, yang kemungkinan besar diimpor, menunjukkan bahwa candi berperan sebagai pusat aktivitas spiritual sekaligus Relief Karmawibhangga menampilkan kehidupan agraris sebagai bagian utama dari masyarakat Jawa. Adegan pertanian seperti menanam, merawat, dan memanen hasil bumi melambangkan peran penting sektor ini. Ikon-ikon ini merepresentasikan kerja keras dan kaitannya dengan hasil karmis, di mana kerja yang jujur membawa berkah, sedangkan tindakan curang berujung pada hukuman. Relief juga menyoroti pentingnya perdagangan dan kepemilikan lahan, mencerminkan masyarakat di mana praktik ekonomi terkait erat dengan moralitas, memperkuat gagasan bahwa keadilan ekonomi merupakan suatu kebajikan. Keseriusan dari kegiatan ini juga dapat ditunjukan dengan detail gambar hama tikus pada relief. Masyarakat telah menghadapi masalah hama dalam pertanian dan mungkin telah memikirkan solusi untuk menanganinya. Berikut tabel analisis semiotik dari adegan relief tersebut. Tabel 3. Analisis Semiotika Triadik Relief Karmawibhangga 65 Elemen Visual Tanaman rusak di bagian tengah kiri Tikus-tikus yang memakan Pasangan dalam rumah kecil sebelah Jenis Tanda Indeks Ikon / Indeks / Simbol Panen yang gagal akibat Ikon Tikus Ikon Orang melarat dan terhimpit Makna Budaya / Filosofis Indikator kehancuran ekonomi dan menjadi tanda langsung dari kelaparan yang diabaikan oleh pihak yang mampu. Representasi literal dari perusak hasil menjadi lambang ancaman yang merayap saat masyarakat lengah dan tidak peduli. Gambaran penderitaan akibat posisi tubuh yang menyempit dan ekspresi lelah mengindikasikan kesedihan dan kekurangan. Nicholas Ferdeta Lakusa (Kehidupan A) Anjing di bawah rumah Indeks & Ikon Kemiskinan Kelompok orang di bagian kanan atas Ikon Orang-orang kaya sedang Peti-peti di bagian bawah Simbol Harta atau Volume 13 No. 1, 2025 Bahkan hewan peliharaan pun digambarkan kurus dan terlantar. memperkuat gambaran visual tentang kemelaratan total. Ekspresi rileks, posisi duduk nyaman, dan pakaian yang baik menjadi tanda kenikmatan dan ketidaktahuan terhadap krisis yang terjadi di luar kelompok Simbol kelimpahan material yang tidak dibagi atau digunakan untuk menolong. menjadi lambang keserakahan dan ketidakpedulian sosial. Dalam kerangka teori kekuasaan Foucault, relief ini dapat dibaca sebagai sebuah dispositif visual yang mereproduksi struktur hierarki sosial dan moral yang harus dipatuhi. Mereka yang kaya namun lalai terhadap penderitaan masyarakat diposisikan sebagai pelaku adharma . elanggaran mora. , yang pada akhirnya akan berbuah pada kehancuran. Kekuasaan tidak hanya bekerja lewat institusi, tetapi lewat sistem nilai dan simbol religius yang menyebar lewat ikonografi seperti ini. Dengan demikian, agama bukan hanya menjadi sumber spiritualitas, tetapi juga mekanisme legitimasi kekuasaan moral. Para elit . alam bentuk borjuis awal atau penguasa loka. diingatkan bahwa kekuasaan harus digunakan untuk welas asih, bukan kesenangan Relief ini memperlihatkan bahwa Candi Borobudur tidak hanya situs ibadah, melainkan juga alat pengajaran dan kontrol sosial. Peran Gender dan Representasi Perempuan Relief Karmawibhangga memberikan gambaran kompleks tentang peran gender dalam masyarakat Jawa abad ke-9. Meskipun banyak figur perempuan ditampilkan dalam peran domestik tradisional, seperti merawat anak atau menyiapkan makanan, terdapat juga penggambaran perempuan yang berpartisipasi dalam aktivitas publik dan ritual. Dalam salah satu adegan, perempuan terlihat mengikuti upacara keagamaan, memberikan persembahan, dan melakukan ritual, yang menunjukkan bahwa mereka memiliki peran penting dalam kehidupan spiritual dan keagamaan masyarakat. Meskipun struktur sosial saat itu umumnya patriarkal, relief-relief ini mengungkap bahwa perempuan memiliki peran aktif baik dalam ranah domestik maupun dalam aktivitas sosial dan keagamaan yang lebih luas. Hal ini penting karena menantang pandangan tradisional yang menganggap perempuan sebagai sosok pasif atau subordinat dalam masyarakat Jawa kuno. Sebaliknya, penggambaran ini menunjukkan bahwa perempuan memiliki tingkat otonomi dan keterlibatan dalam ranah privat maupun publik. Selain itu, perempuan juga digambarkan ikut serta dalam pekerjaan pertanian dan aktivitas pasar, yang menegaskan kontribusi ekonomi mereka terhadap rumah tangga dan komunitas (Hanafi et al. , 2. Dengan menggunakan feminisme sebagai alat analisis, representasi perempuan dalam relief 159 melampaui partisipasi sosial untuk menunjukkan konstruksi ideologis yang mereproduksi peran gender tertentu. Representasi perempuan sebagai Aupermata berhargaAy dapat diinterpretasikan sebagai bentuk objekifikasi lembut, secara metaforis mengangkat tetapi secara sosial Sejalan dengan pandangan yang diajukan oleh Simone de Beauvoir, perempuan digambarkan sebagai Auyang lainAy yang berharga hanya sejauh mereka melayani fungsi yang diidealisasikan. Dari sudut pandang feminisme poststrukturalis seperti yang dikatakan oleh Judith Butler . , peran domestik dan dunia lain yang Nicholas Ferdeta Lakusa (Kehidupan A) Volume 13 No. 1, 2025 diberikan kepada perempuan bersifat performatif. mereka dikonstruksi dan diulang dalam budaya, bukan bawaan. Ini menyiratkan bahwa peran maternal dan moral bukan hanya fakta sosial, tetapi norma yang disetujui. Pertanyaannya adalah: siapa yang menciptakan gambar-gambar tersebut? Jika representasi tersebut adalah karya elit laki-laki, itu berarti agensi perempuan tetap terbatas. Dalam konteks yang lebih kontemporer, perspektif ini membantu dalam mengkritik media modern yang terus menerus memperpetuasi idealisasi serupa terhadap perempuan. Dengan demikian. Relief 159 dianggap bukan hanya sebagai artefak sejarah, tetapi sebenarnya, ia berfungsi sebagai proyeksi dari sistem representasi gender kontemporer yang memerlukan perhatian kritis saat ini. Gambar 4. Karmawibhangga Relief nomor 159 (Sumber: (Santiko & Nugrahani, 2012, p. Gambar 4 menggambarkan perempuan dalam relief sebagai sosok yang disamakan dengan permata berharga. Representasi ini menunjukkan pandangan yang lebih mendalam tentang peran gender, di mana perempuan tidak terbatas pada ranah pekerjaan rumah, tetapi juga menjadi peserta aktif dalam kehidupan ekonomi, sosial, dan spiritual masyarakat. Dengan demikian, relief-relief ini menawarkan pemahaman yang lebih kompleks tentang dinamika gender dalam masyarakat Jawa kuno, di mana peran perempuan tidak hanya ditentukan oleh tugas domestik, tetapi juga menjadi bagian integral dari keberlangsungan masyarakat secara keseluruhan. Penelitian terbaru memberikan wawasan lebih dalam mengenai representasi perempuan dalam relief Karmawibhangga. Studi yang dilakukan oleh Rostiyati . menyoroti bagaimana peran perempuan melampaui sekadar tugas domestik, dengan penggambaran mereka yang ikut serta dalam ritual dan upacara yang menjadi bagian penting dalam kehidupan spiritual masyarakat. Penggambaran ini menunjukkan bahwa perempuan bukan hanya sebagai penerus budaya, tetapi juga sebagai agen aktif dalam praktik keagamaan, yang menegaskan peran ganda mereka di ranah privat dan Hanafi . 9, p. meneliti makna simbolis figur keibuan dalam relief, dengan berpendapat bahwa kehadiran mereka mencerminkan konsep kasih sayang . dalam ajaran Buddha. Hal ini selaras dengan tema spiritual yang lebih luas dalam relief-relief Karmawibhangga, di mana peran mengasuh yang dijalankan oleh perempuan tidak sekadar tugas domestik, tetapi juga dipandang sebagai perwujudan nilai-nilai moral dan spiritual. Temuan ini menantang interpretasi sebelumnya yang cenderung menggambarkan perempuan sebagai sosok pasif dalam masyarakat Jawa Sebaliknya, relief ini menunjukkan bahwa perempuan memainkan peran yang lebih kompleks, baik sebagai individu berbudi maupun sebagai sosok yang mengalami konsekuensi karmis dari tindakan mereka. Dalam relief Karmawibhangga. Nicholas Ferdeta Lakusa (Kehidupan A) Volume 13 No. 1, 2025 perempuan sering kali dikaitkan dengan konsep karma, di mana tanda-tanda indeksikal menghubungkan tindakan mereka dengan ganjaran atau hukuman yang Representasi ini mencerminkan ekspektasi sosial yang kuat terhadap perempuan sebagai pengasuh dan penjaga nilai moral dalam komunitas. Namun, meskipun banyak adegan yang menampilkan perempuan dalam peran tradisional seperti ibu dan istri yang penuh kasih, ada juga penggambaran yang memperlihatkan mereka dalam peran yang lebih aktif dan berpengaruh. Ini menunjukkan bahwa peran perempuan dalam masyarakat Jawa abad ke-9 lebih dinamis daripada yang sering Menariknya, konsep karma dalam relief ini juga memiliki dimensi gender yang khas. Perilaku berbudi perempuan sering kali dikaitkan dengan peran mengasuh, kesetiaan, dan tanggung jawab domestik, yang memperkuat norma-norma sosial yang ada. Dengan kata lain, tindakan baik perempuan lebih sering diganjar dalam bentuk kebahagiaan keluarga atau kehormatan sosial, sementara penyimpangan dari peran ini dapat digambarkan sebagai penyebab penderitaan. Representasi ini bukan sekadar refleksi dari struktur sosial, tetapi juga menjadi alat untuk mempertahankan dan melegitimasi norma-norma yang mengatur peran perempuan dalam masyarakat. Dengan pendekatan semiotika, relief Karmawibhangga tidak hanya menampilkan perempuan sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari, tetapi juga sebagai aktor dalam sistem moral dan spiritual yang lebih besar. Gambaran mereka dalam relief mencerminkan bagaimana masyarakat Jawa kuno memahami hubungan antara tindakan individu, gender, dan keseimbangan kosmis yang diatur oleh karma. Berikut tabel analisis semiotik dari adegan relief tersebut. Tabel 4. Analisis Semiotika Triadik Relief Karmawibhangga 159 Elemen Visual Wanita yang berdiri di samping raja Jenis Tanda Indeks Raja duduk dengan anggun di takhta dengan kaki menjulur ke depan Indeks Kuda dan gajah di sebelah kanan Indeks Simbol Orang-orang di kiri dan kanan yang mendampingi raja Indeks Pohon besar yang menaungi beberapa bagian panel Simbol Posisi tubuh para wanita . nggun, bersandar, berdiri dekat raj. Ikon Ikon / Indeks / Makna Budaya / Filosofis Simbol Permata wanita Indikasi bahwa kecantikan, kasih, dan keharmonisan adalah bagian dari kekuasaan yang Posisi kerajaan Indeks status tertinggi. khusus dengan ceruk menunjukkan legitimasi dan keistimewaan kekuasaan spiritual maupun duniawi. Permata kuda Simbol kekuatan militer, dan permata kecepatan, dan keteguhan yang harus dimiliki oleh seorang raja Rakyat atau Menunjukkan dukungan sosial. pengikut setia kekuasaan raja lahir dari relasi yang harmonis dengan Perlindungan Elemen alam sebagai saksi dan kekekalan pohon melambangkan perlindungan kosmis dan umur panjang kerajaan yang adil. Kecantikan dan Visualisasi nilai estetik dan penghormatan terhadap pemimpin suci. Nicholas Ferdeta Lakusa (Kehidupan A) Volume 13 No. 1, 2025 menyimbolkan keseimbangan yin . dalam kekuasaan. Simbolisme Religius dan Budaya dalam Relief Relief Karmawibhangga kaya akan simbolisme religius dan budaya, mencerminkan eratnya hubungan antara seni, spiritualitas, dan nilai-nilai sosial dalam masyarakat Jawa abad ke-9. Adegan-adegan yang terpahat di batu tidak hanya sekadar dekorasi, tetapi juga menjadi media visual untuk menyampaikan ajaran dan nilai-nilai yang dianut pada masa itu. Dalam banyak panel relief, tampak figur-figur yang sedang berdoa, memberikan persembahan, bermeditasi, atau mengikuti ritual Simbol-simbol sakral seperti bunga teratai, stupa, dan mandala sering muncul, masing-masing membawa makna religius yang mendalam dalam filosofi Buddhis. Misalnya, bunga teratai, yang melambangkan kemurnian dan pencerahan, sering ditampilkan sebagai pengingat akan perjalanan spiritual menuju pembebasan. Stupa, sebagai simbol utama dalam Buddhisme, digambarkan dengan jelas dalam beberapa relief, mewakili kehadiran Buddha dan jalan menuju nirwana. Dari perspektif semiotik, simbol-simbol ini memiliki dua fungsi utama. Pertama, sebagai elemen visual dalam narasi, mereka membantu menggambarkan kehidupan dan keyakinan masyarakat pada masa itu. Kedua, sebagai penggambaran ajaran spiritual, mereka berfungsi untuk mengajarkan dan menanamkan nilai-nilai Buddhis kepada para penonton candi. Keberadaan ikonografi religius ini menunjukkan bahwa praktik keagamaan bukanlah sesuatu yang terpisah dari kehidupan sehari-hari, tetapi justru menjadi bagian integral dari tatanan sosial dan budaya. Lebih dari sekadar menggambarkan ritual Buddhis, relief Karmawibhangga juga memperlihatkan bagaimana ajaran agama memperkuat nilai-nilai sosial dan etika masyarakat. Adegan kehidupan sosial dan ekonomi yang disandingkan dengan simbolisme religius menunjukkan bagaimana agama berperan dalam membentuk moralitas, hubungan sosial, serta cara pandang masyarakat terhadap kehidupan dan karma. Relief-relief ini tidak hanya berfungsi sebagai ekspresi seni, tetapi juga sebagai panduan moral yang mengarahkan individu menuju kehidupan yang harmonis, sejahtera, dan penuh Dengan menampilkan simbol-simbol keagamaan dalam berbagai konteks kehidupan, relief Karmawibhangga menegaskan bahwa Buddhisme tidak hanya hadir dalam aspek spiritual, tetapi juga dalam kehidupan publik dan pribadi masyarakat Jawa kuno. Ini menunjukkan betapa dalamnya pengaruh ajaran agama dalam membentuk pola pikir dan tindakan mereka sehari-hari. Gambar 5. Karmwibhangga Relief nomor 30 (Sumber: (Santiko & Nugrahani, 2012, p. Nicholas Ferdeta Lakusa (Kehidupan A) Volume 13 No. 1, 2025 Gambar 5 menunjukkan bahwa merawat dan menghias biara akan membawa keindahan di kehidupan berikutnya. Dalam penelitian lain. Kowal . meneliti penggunaan citra mandala dalam relief, menyoroti signifikansinya dalam menggambarkan kerangka kosmologis Buddhis. Mandala, yang sering menampilkan lingkaran konsentris yang memancar dari titik pusat, ditafsirkan sebagai metafora visual bagi keterhubungan alam semesta, memperkuat ajaran spiritual candi sebagai mikrokosmos dari kosmos. Studi-studi ini menegaskan peran relief sebagai teks religius sekaligus artefak budaya yang merangkum esensi filosofis dan spiritual masyarakat Jawa abad ke-9. Hasil penelitian ini memberikan kontribusi yang signifikan terhadap pemahaman kita tentang masyarakat Jawa abad ke-9. Dengan menganalisis relief Karmawibhangga melalui lensa semiotika, studi ini menawarkan perspektif yang komprehensif mengenai dimensi sosial, ekonomi, religius, dan budaya kehidupan di Jawa kuno. Hasil penelitian menekankan pentingnya representasi visual dalam menyampaikan nilai-nilai masyarakat, ajaran moral, dan hierarki sosial. Selain itu, penelitian ini menyoroti peran seni dan simbolisme dalam mengatur perilaku sosial, memperkuat etika, serta menjaga ketertiban dalam masyarakat. Temuan ini juga mengungkap keterkaitan antara agama, seni, dan struktur sosial, memberikan pemahaman yang lebih mendalam tentang bagaimana elemen-elemen ini membentuk kehidupan sehari-hari masyarakat Jawa. Kemajuan terbaru dalam studi semiotika semakin mengungkap lapisan-lapisan simbolisme dalam relief Karmawibhangga. Nguyen . berpendapat bahwa penggambaran bunga teratai yang sering muncul tidak hanya melambangkan kemurnian spiritual, tetapi juga mencerminkan integrasi tradisi animisme lokal dengan filosofi Buddhis. Simbolisme ganda ini mencerminkan sifat sinkretis praktik keagamaan di Jawa kuno, di mana kepercayaan pribumi diakomodasi dalam ajaran Buddhisme. Penemuan terbaru ini memperkuat argumen bahwa relief Karmawibhangga memiliki berbagai fungsi, baik sebagai panduan moral, teks spiritual, maupun catatan organisasi sosial. Wawasan ini memberikan perspektif baru mengenai hubungan antara seni, budaya, dan agama di Jawa kuno, semakin menegaskan pentingnya Borobudur sebagai landmark budaya dan sejarah. Relevansi relief ini tetap bertahan karena kemampuannya dalam menyampaikan tema-tema universal, menjadikannya sumber penting untuk memahami budaya Asia Tenggara, baik dalam konteks sejarah maupun masa kini. Selain itu, keberadaan relief ini juga menunjukkan bagaimana seni visual digunakan sebagai media komunikasi yang efektif dalam menyampaikan ajaran moral kepada masyarakat luas. Hal ini mengindikasikan bahwa Borobudur bukan hanya pusat ibadah, tetapi juga pusat pembelajaran dan refleksi spiritual bagi para peziarah yang datang dari berbagai Dengan demikian, relief Karmawibhangga tidak hanya berfungsi sebagai representasi estetika, tetapi juga sebagai dokumen historis yang merekam dinamika sosial dan kepercayaan masyarakat Jawa pada masa itu. Berikut tabel analisis semiotik dari adegan relief tersebut. Tabel 5. Analisis Semiotika Triadik Relief Karmawibhangga 30 Elemen Visual Pria besar dengan kapak duduk di depan Jenis Ikon / Indeks Tanda / Simbol Indeks Aktivitas Makna Budaya Menunjukkan kerja keras fisik dan keterlibatan langsung dalam memperindah tempat ibadah. mencerminkan nilai spiritual dari kerja Nicholas Ferdeta Lakusa (Kehidupan A) Bangunan dengan banyak orang bekerja Bangunan yang polos dibanding Sosok pria duduk dengan dua wanita Lima pemuda sosok pria Aksi mengapur atau mengecat tempat suci Indeks Posisi duduk perhatian para Kontras antara sosok pekerja dan sosok guru Simbol Volume 13 No. 1, 2025 Gotong royong dan dedikasi Nilai sederhana namun sakral Menggambarkan kerja kolektif masyarakat demi mempercantik tempat nilai sosial dan spiritual bertemu. Simbol bahwa keindahan spiritual tidak harus identik dengan kemewahan, namun berasal dari niat dan usaha tulus. Kehadiran sosok menarik dengan pendamping menunjukkan pahala spiritual yang membawa kerupawanan dan ketentraman. Ikon Kecantikan dan hasil spiritual Indeks Proses transfer moral/spiritual Mengindikasikan pendidikan dan transformasi nilai melalui ajaran religius yang diwariskan antargenerasi. Simbol Kesalehan tindakan fisik Indeks Rasa hormat Keseimbangan dunia dan Tindakan fisik seperti mengapur memiliki nilai spiritual. bahwa keindahan luar adalah cerminan dari kebajikan batin. Menunjukkan posisi sosial dan spiritual memperkuat peran tokoh bijak dalam struktur masyarakat. Simbol Simbol bahwa kerja fisik dan mengajar sama-sama bernilai dalam proses pencapaian kebajikan dan keindahan. SIMPULAN Penelitian menyoroti bahwa relief Karmawibhangga di candi Borobudur adalah representasi visual yang kompleks dan canggih dari isu-isu sosial serta etika yang berkaitan dengan spiritualitas masyarakat Jawa di abad ke-9. Relief ini lebih dari sekadar pencapaian artistik, namun juga berfungsi sebagai perangkat pendidikan, membentuk dan menanamkan nilai-nilai moral dan budaya melalui citra yang kuat. Pendekatan semiotik mengungkapkan bahwa hierarki sosial, gender, ekonomi, dan religiositas tidak dipisahkan. melainkan saling berjalin dan bersatu dalam sistem representasional yang menyampaikan tatanan normal sosial dan spiritual. Kontribusi akademik dari studi ini terletak pada upaya untuk menafsirkan ulang relief Karmawibhangga sebagai teks visual yang berisi wacana naratif ideologis untuk justifikasi kekuasaan, pengaturan gender, dan etika buddhis lokal. Hal ini melintasi dialog lintas disiplin, termasuk studi budaya visual dan feminisme, dengan menganggap artefak sejarah sebagai medium diskursif. Temuan ini mendorong pembacaan yang lebih kritis terhadap artefak budaya sebagai penggambaran agen aktif yang tidak netral. Pada masa kontemporer seperti diskursus dominan mengenai visual digital dan renegosiasi identitas budaya, studi ini bertujuan untuk menggambarkan bagaimana warisan visual masa lalu dapat membentuk imajinasi sosial di masa kini. Untuk penelitian lebih lanjut, dapat dilakukan studi perbandingan antara relief Karmawibhangga dan ikonografi Buddha Asia Tenggara lainnya, penelitian tentang teknik produksi visual, dan sistem patronase seni di Jawa kuno, serta studi tentang penerimaan visual masyarakat modern dalam menafsirkan kembali relief dalam konteks pariwisata, pendidikan, dan identitas nasional. Dengan cara ini, studi ini tidak hanya memperkaya historiografi Borobudur tetapi juga Nicholas Ferdeta Lakusa (Kehidupan A) Volume 13 No. 1, 2025 merangsang refleksi kritis tentang pengendalian artefak budaya dan ruang publik DAFTAR RUJUKAN ANGGOROJATI. WIDAYAT. , & BUDI. Visualization of paddy in Panel 65 of the Karmawibhangga section of Borobudur Temple. Biodiversitas Journal Biological Diversity, 24. https://smujo. id/biodiv/article/view/11782 Butler. Gender Trouble: Feminism and the Subversion of Identity. Routledge. Christie. State formation in early maritime Southeast Asia: A consideration of the theories and the data. Bijdragen Tot de Taal-. Land-En Volkenkunde, 2de Afl, 235Ae288. Corbin. , & Strauss. Basics of Qualitative Research: Techniques and Procedures for Developing Grounded Theory. SAGE Publications. Creswell. , & Creswell. Research Design: Qualitative. Quantitative, and Mixed Methods Approaches. SAGE Publications. Giessner. , & Schubert. High in the hierarchy: How vertical location and judgments of leadersAo power are interrelated. Organizational Behavior and Human Decision Processes, 104. , 30Ae44. Hanafi. Ronda. , & Dua. Intertextuality Study on the Meaning of a WomanAos Body in the Relief Panels of Borobudur Temple. International Journal Business Social Science, 10. https://doi. org/10. 30845/ijbss. Kowal. The Borobudur temple: The Buddhist architecture in Indonesia. Budownictwo i Architektura, 18. , 5Ae19. Krom. Barabudur: Archaeological Description: Vol. Volume II. The Hague Martinus Nijhoff. Lakusa. , & Pradoko. Representation of Buddhism Teachings in the Show Sound of Borobudur: The Reconstruction of Karmawibhangga Relief in the Age of Hyperreality. 4th International Conference on Arts and Arts Education (ICAAE 292Ae298. https://w. com/proceedings/icaae-20/125957426 Miksic. , & Tranchini. Borobudur: Golden Tales of the Buddhas. Periplus Editions (HK) Limited. Nabila. Atribut Sosial Masyarakat Jawa Kuno Pada Relief Candi Borobudur Ditinjau Melalui Kerangka Teori Evolusi Sosial Morgan-Tylor. Jurnal Konservasi Cagar Budaya, 18. Article https://doi. org/10. 33374/jurnalkonservasicagarbudaya. Patton. Qualitative Research & Evaluation Methods: Integrating Theory and Practice. SAGE Publications. Rostiyati. Peran Perempuan Pada Upacara Tradisional Rahengan Di Desa Citatah Kecamatan Cipatat. Patanjala, 9. , 291948. Nicholas Ferdeta Lakusa (Kehidupan A) Volume 13 No. 1, 2025 Santiko. Identification of Karmawibhangga Reliefs at Candi Borobudur. Amerta, 34. , 129Ae138. Santiko. , & Nugrahani. Adegan dan Ajaran Hukum Karma pada Relief Karmawibhangga: Vol. Cet. BALAI KONSERVASI BOROBUDUR. Soekmono. Chandi Borobudur: A Monument of Mankind. Unesco Press. Tho. The Lotus: A symbol of Buddhist Philosophy in the SaddharmapuNsarka Stra. International Journal of Science and Research (IJSR), 8. Upaya. The Evolution of Javanese Kingship. Masyarakat Jurnal Sosiologi, 15. https://doi. org/10. 7454/MJS.