Agrisaintifika. Vol. No. 3, 2025 https://journal. id/index. php/agrisaintifika ISSN 2580-0345 . , 2580-748X . DOI: 10. 32585/ags. Silvian, dkk, 2025 Komparasi Pendapatan dan Ketersediaan Pangan Pokok Rumah Tangga Petani Padi Rawa Lebak Berdasarkan Tipologi Lahan Di Kecamatan Kalidoni Kota Palembang Trissa Silvian. Yunita. Muhammad Iqbal. Fakultas Pertanian. Jurusan Sosial Ekonomi Pertanian Universitas Sriwijaya. Jl. Palembang-Prabumulih KM 32 Indralaya Kabupaten Ogan Ilir. Telp . 580739 *corresponding author : trissasilvian@fp. * Received for review September 3, 2025 Accepted for publication October 8, 2025 Abstract Lebak swamp land is a type of suboptimal land with high potential for the development of national rice production, although it is highly influenced by climatic conditions and the typology of water inundation. Variations in lebak swamp land typology lead to differences in productivity, as well as in household farmers' income levels and food availability. This study aims to analyze household income sources and staple food availability among rice farmers based on the typology of lebak swamp lands . hallow, middle, and dee. in Sei Selincah Subdistrict. Kalidoni District. Palembang City. A survey method was employed using proportional stratified random sampling, involving 60 respondents. Data were analyzed quantitatively to calculate income, expenditure, and food availability. The results showed that the highest income was earned by farmers in deep swamps (IDR 27,832,049/yea. , followed by middle swamps (IDR 26,221,862/yea. , and shallow swamps (IDR 24,609,383/yea. Non-agricultural income significantly contributed to household finances, particularly in shallow and middle areas. Non-rice farming activities, such as galangal cultivation, were only practiced in shallow and middle swamps. Household expenditures were primarily allocated to non-food needs, especially education and savings. Meanwhile, household food availability remains low and varies across land typologies. The highest food availability is found in the middle swamp at 443 kg/year, followed by the deep swamp at 425 kg/year, and the shallow swamp at 405 kg/year. Most of the surplus is sold to meet other household needs. These findings highlight the importance of income diversification and improving food storage capacity to enhance the economic and food security of lebak swamp rice farmers. Keywords: farmer welfare, food availability, household expenditure, household income, lebak swamp Abstrak Lahan rawa lebak merupakan lahan suboptimal yang memiliki potensi tinggi untuk pengembangan produksi padi nasional, meskipun sangat dipengaruhi oleh kondisi iklim dan tipologi genangan air. Variasi tipologi lahan rawa lebak menyebabkan perbedaan produktivitas, serta tingkat pendapatan dan ketersediaan pangan rumah tangga petani. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis sumber pendapatan dan ketersediaan pangan pokok rumah tangga petani padi berdasarkan tipologi lahan rawa lebak . angkal, tengahan, dan dala. di Kelurahan Sei Selincah. Kecamatan Kalidoni. Kota Palembang. Metode yang digunakan adalah survei dengan teknik proportional stratified random sampling, melibatkan 60 responden. Data dianalisis menggunakan pendekatan kuantitatif untuk menghitung pendapatan, pengeluaran, dan ketersediaan pangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendapatan tertinggi diperoleh petani di lebak dalam (Rp27. 049/tahu. , diikuti oleh lebak tengahan (Rp26. 862/tahu. dan lebak dangkal (Rp24. 383/tahu. Pendapatan non-pertanian memberikan kontribusi signifikan, terutama pada lahan dangkal dan tengahan. Usaha tani non-padi, seperti laos, hanya berkembang di lahan dangkal dan Pengeluaran rumah tangga lebih besar dialokasikan untuk kebutuhan non-pangan, khususnya pendidikan dan tabungan. Sementara itu, ketersediaan pangan rumah tangga tergolong rendah dan Ketersediaan pangan terbesar yaitu di lebak tengahan sebesar 443 kg/tahun, lebak dalam sebesar 425 kg/tahun, dan lebak dangkal sebesar 405 kg/tahun. Sebagian besar surplusnya dijual untuk memenuhi kebutuhan lain. Temuan ini menegaskan pentingnya diversifikasi sumber pendapatan dan Agrisaintifika. Vol. No. 3, 2025 https://journal. id/index. php/agrisaintifika ISSN 2580-0345 . , 2580-748X . DOI: 10. 32585/ags. Silvian, dkk, 2025 peningkatan kapasitas penyimpanan pangan untuk meningkatkan ketahanan ekonomi dan pangan petani rawa lebak. Kata kunci: ketersediaan pangan, kesejahteraan petani, pendapatan rumah tangga, pengeluaran rumah tangga, rawa lebak Copyright A 2025 The Author. This is an open access article under the CC BY-SA license PENDAHULUAN Lahan rawa lebak merupakan salah satu alternatif lahan suboptimal yang memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai sentra produksi padi nasional. Lahan ini memiliki karakteristik yaitu tergenangnya air pada periode tertentu dan rejim airnya dipengaruhi oleh curah hujan, baik yang turun di sekitar lahan maupun di daerah sekitarnya. Selain dari hujan, air pada rawa lebak juga berasal dari luapan banjir dari hulu sungai dan dari bawah tanah. Hal tersebut membuat lahan rawa lebak dikenal dengan lahan yang sangat bergantung dengan kondisi iklim, dimana lahan mengalami kekeringan pada musim kemarau dan kebanjiran pada saat musim hujan. Berdasarkan tinggi dan durasi genangan airnya, tipologi lahan rawa lebak dikelompokkan menjadi 3 yaitu lebak dangkal, lebak tengahan dan lebak dalam (Sumardi dan Chozin, 2. Perbedaan karakteristik dan kondisi lahan, produktivitas serta waktu tanam yang tidak seragam, menyebabkan perbedaan pendapatan di antara rumah tangga petani yang mengelola masing-masing tipe lebak. Setiap tipe lebak memiliki potensi dan tantangan tersendiri, yang memengaruhi hasil panen dan pendapatan yang diperoleh petani. Pendapatan yang relatif rendah pada beberapa rumah tangga petani dapat membatasi kemampuan mereka dalam memenuhi kebutuhan (Nasir et al. , 2. Pendapatan rumah tangga petani merupakan aspek penting yang perlu diperhatikan, terutama dalam konteks kesejahteraan ekonomi petani. Struktur pendapatan rumah tangga petani terdiri dari berbagai sumber yang saling melengkapi yaitu pendapatan dari kegiatan on farm, yang mencakup hasil pertanian yang dihasilkan langsung dari lahan yang dikelola. Selain itu, terdapat juga pendapatan dari off farm, yaitu kegiatan di luar pertanian yang dapat memberikan tambahan Terakhir, non-usaha tani atau pekerjaan sampingan lainnya juga berkontribusi pada pendapatan, memberikan alternatif bagi petani untuk meningkatkan kesejahteraan mereka. (Setiawan et al. , 2. Ketersediaan pangan di tingkat rumah tangga dipengaruhi oleh berbagai faktor yang saling berinteraksi, termasuk kemampuan rumah tangga dalam memproduksi pangan, daya beli dan sumber pangan yang diperoleh. Sumber pangan pokok bagi banyak keluarga umumnya berasal dari pembelian dengan harga normal, serta bantuan, yang sangat membantu dalam mencukupi kebutuhan dasar mereka. Meskipun ada upaya untuk memproduksi pangan melalui usaha tani, tidak semua rumah tangga memiliki lahan yang cukup untuk menghasilkan pangan secara mandiri. Di sisi lain, output pangan pokok biasanya dihasilkan dari penjualan tambahan yang dilakukan oleh rumah tangga, serta dari aktivitas sosial yang melibatkan pemberian kepada pihak lain, seperti tetangga atau kerabat. Kegiatan ini tidak hanya menciptakan rasa solidaritas, tetapi juga membantu dalam Agrisaintifika. Vol. No. 3, 2025 https://journal. id/index. php/agrisaintifika ISSN 2580-0345 . , 2580-748X . DOI: 10. 32585/ags. Silvian, dkk, 2025 memperkuat jaringan sosial yang dapat mendukung kebutuhan pangan keluarga (Marshya et al. Keterjangkauan pengeluaran rumah tangga terhadap bahan pangan dan non-pangan sangat dipengaruhi oleh daya beli mereka. Daya beli ini, pada gilirannya, ditentukan oleh besarnya pendapatan yang dimiliki serta harga komoditas pangan yang berlaku di pasar. Pengaruh pendapatan terhadap akses pangan dapat dianalisis melalui pengeluaran untuk bahan pangan, yang terlihat. dari proporsi pengeluaran rumah tangga yang dialokasikan untuk memenuhi kebutuhan pangan mereka. Pengeluaran ini mencakup berbagai jenis bahan makanan pokok, seperti beras, sayuran dan protein, serta pengeluaran untuk kebutuhan non-pangan, seperti sandang, perumahan dan pendidikan (Ifada dan Suslinawati, 2. Menurut Badan Pusat Statistik Kota Palembang . Kecamatan Kalidoni mencatatkan produksi padi sebesar 3. 619,2 ton dengan luas panen mencapai 624 hektar, yang menunjukkan tingkat produktivitas yang cukup tinggi di wilayah ini. Angka tersebut mencerminkan peran penting Kalidoni dalam penyediaan padi di daerah tersebut. Meskipun luas panennya tidak terlalu besar. Kalidoni berhasil menunjukkan efisiensi pertanian yang baik, mampu menghasilkan jumlah yang signifikan dari lahan yang lebih kecil. Data ini juga mengindikasikan potensi yang baik untuk pengembangan sektor pertanian padi di Kalidoni, baik melalui peningkatan teknik budidaya maupun perluasan area panen. Kecamatan Kalidoni dimanfaatkan secara optimal untuk pertanian, khususnya untuk budidaya padi. Di Kelurahan Sei Selincah, banyak petani yang sangat bergantung pada hasil pertanian mereka untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, menjadikan pertanian padi sebagai sumber pendapatan utama bagi masyarakat setempat. (Masnila et al. , 2. Petani di Kelurahan Sei Selincah. Kecamatan Kalidoni, memulai penanaman padi ketika genangan air mulai surut pada akhir musim hujan. Mereka mengikuti tahapan penanaman dari lebak dangkal, kemudian ke lebak tengahan dan akhirnya ke lebak dalam untuk memastikan hasil panen yang optimal. Genangan air di lahan rawa lebak tengahan dipengaruhi oleh pasang surut, yang berperan penting dalam kelembapan dan kondisi lahan, mendukung keberhasilan pertanian padi dan berdampak pada pendapatan serta kebutuhan hidup petani (Suparwoto dan Waluyo, 2. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis sumber pendapatan rumah tangga petani dari usaha tani padi dan non-padi serta ketersediaan pangan pokok berdasarkan tipologi lahan di Kelurahan Sei Selincah. Kecamatan Kalidoni. Kota Palembang. BAHAN DAN METODE Penelitian ini dilaksanakan di Kelurahan Sei Selincah. Kota Palembang. Pemilihan lokasi dilakukan secara sengaja dengan mempertimbangkan bahwa kelurahan ini merupakan salah satu daerah yang memiliki lahan padi rawa lebak, sebagai tempat mendukung perkembangan urban farming di Kota Palembang. Lahan rawa lebak yang terdapat di Kelurahan Sei Selincah memiliki tiga tipologi lahan yaitu lebak dangkal, tengahan, dan dalam. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan November 2024 sampai dengan bulan Januari 2025. Metode penarikan contoh dalam penelitian ini menggunakan metode penarikan sampel acak berlapis berimbang . roportional stratified random samplin. Jumlah responden pada penelitian ini adalah sebanyak 60 petani, yang terdiri dari 18 petani padi lebak dangkal, 30 petani padi lebah Agrisaintifika. Vol. No. 3, 2025 https://journal. id/index. php/agrisaintifika ISSN 2580-0345 . , 2580-748X . DOI: 10. 32585/ags. Silvian, dkk, 2025 tengahan, dan 12 petani padi lebak dalam. Responden yang diambil pada penelitian ini merupakan 10% dari populasi petani pada masing-masing tipologi lahan. Analisis data untuk menghitung biaya gabungan atau joint cost sebagai langkah awal dalam menghitung biaya usaha tani lainnya. Alokasi biaya gabungan dapat dihitung menggunakan persamaan berikut (Fadillah et al. , 2. yaeyaA = yaOyaC ya yaUyaU yaeyaU Keterangan: = Alokasi biaya gabungan untuk masing-masing usaha tani = Jumlah biaya bersama-sama = Total luas lahan = Luas lahan masing-masing usaha tani Selanjutnya, kontribusi masing-masing sumber pendapatan akan dianalisis dalam bentuk persentase untuk membandingkan pendapatan rumah tangga petani padi rawa lebak berdasarkan tipologi lahan dangkal, tengahan dan dalam. Rumus yang digunakan untuk pengolahan data adalah sebagai berikut (Ngamon et al. , 2. PD = TR - TC = (Y x P. Ae (TFC TVC) Keterangan: = Pendapatan usaha tani padi (Rp/tahu. = Total penerimaan (Rp/tahu. = Total biaya produksi (Rp/tahu. = Produksi yang diperoleh dalam suatu usaha tani . g/tahu. = Harga per unit (Rp/k. Analisis data menghitung pendapatan rumah tangga dari kegiatan usaha tani padi, usaha tani selain padi, dan non-pertanian petani rawa lebak berdasarkan tipologi lahan yaitu dangkal, tengahan dan dalam menggunakan rumus berikut: PdRT = Pd on farmpadi Pd off farmselain padi Pd non-farm Keterangan: PdRT Pd on farmpadi Pd off farmselain padi Pd non-farm = Pendapatan rumah tangga petani padi (Rp/tahu. = Pendapatan usaha tani padi (Rp/tahu. = Pendapatan usaha tani selain padi (Rp/tahu. = Pendapatan di luar pertanian (Rp/tahu. Setelah menghitung total pendapatan rumah tangga petani padi, selanjutnya menentukan kontribusi pendapatan rumah tangga petani padi rawa lebak berdasarkan tipologi lahan dengan menggunakan rumus berikut (Ngamon et al. , 2. yaA= yaA ya yayaya% yaC Keterangan: = Kontribusi pendapatan (%) = Pendapatan usaha tani padi (Rp/tahu. = Pendapatan rumah tangga petani . i luar usaha tani dan pendapatan anggota keluarga lai. (Rp/tahu. Agrisaintifika. Vol. No. 3, 2025 https://journal. id/index. php/agrisaintifika ISSN 2580-0345 . , 2580-748X . DOI: 10. 32585/ags. Silvian, dkk, 2025 Untuk kriteria pengambilan keputusan ditentukan dengan interval sebagai berikut (Fauziah dan Soejono, 2. Tabel 1. Persentase Tingkat Kontribusi Presentase Tingkat Kontribusi (%) Z > 35% 35% O Z O 70% Z > 70% Kriteria Kontribusi Rendah Sedang Tinggi Analisis data untuk menghitung pengeluaran rumah tangga untuk padi rawa lebak berdasarkan tipologi lahan di Kelurahan Sei Selincah Kecamatan Kalidoni Kota Palembang. Diperlukan rumus untuk menghitung pengeluaran rumah tangga, yang akan mencakup semua biaya yang dikeluarkan untuk kebutuhan sehari-hari. Setelah itu, analisis dilakukan untuk membandingkan pengeluaran rumah tangga petani padi rawa lebak berdasarkan tipologi lahan yaitu dangkal, tengahan dan dalam. Rumus yang digunakan untuk perhitungan tersebut adalah sebagai berikut: TP = Pp Pn Keterangan = Total pengeluaran rumah tangga petani (Rp/tahu. = Pengeluaran pangan (Rp/tahu. = Pengeluaran non pangan (Rp/tahu. Analisis data untuk menghitung ketersediaan pangan rumah tangga petani rawa lebak berdasarkan tipologi lahan dangkal, tengahan dan dalam di Kelurahan Sei Selincah. Kecamatan Kalidoni. Kota Palembang, data yang terkumpul selama penelitian akan diolah menggunakan metode tabulasi. Data tersebut selanjutnya akan dibandingkan antar tipologi lahan dan diuraikan secara deskriptif untuk memberikan gambaran yang jelas mengenai kondisi ketersediaan pangan pada masing-masing kategori lahan. Perhitungan ketersediaan pangan rumah tangga adalah selisih dari input dan output pangan (Pranata, 2. S = Input (I1 I2 I. Ae Output (O1 O2 O. Keterangan: = Ketersediaan pangan pokok . g/Kap/tahu. = Input pangan pokok dari produksi/sendiri/usaha tani . = Input pangan pokok dari pembelian = Input pangan pokok dari pemberian = Output pangan pokok yang digunakan untuk penjualan = Output pangan pokok yang digunakan untuk aktivitas sosial = Output pangan pokok yang digunakan untuk diberikan kepada pihak lain Kaidah Keputusan mengenai ketersediaan pangan pokok rumah tangga dapat dijelaskan sebagai Ketersediaan pangan pokok rumah tangga dikategorikan rendah jika selisih input dan output pangan berada pada 278-917 . g/tahu. Ketersediaan pangan pokok rumah tangga dikategorikan sedang jika selisih input dan output pangan berada pada 918-1. g/tahu. Ketersediaan pangan pokok rumah tangga dikategorikan tinggi jika selisih input dan output pangan berada pada 1. g/tahu. Agrisaintifika. Vol. No. 3, 2025 https://journal. id/index. php/agrisaintifika ISSN 2580-0345 . , 2580-748X . DOI: 10. 32585/ags. Silvian, dkk, 2025 HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil dapat dinyatakan dalam narasi. sekomprehensif mungkin. Usahakan untuk menampilkannya seringkas dan Analisis Pendapatan Usaha Tani Padi Rawa Lebak Berdasarkan Tipologi Lahan Pendapatan usaha tani padi merujuk pada total penerimaan yang diperoleh petani dari hasil penjualan padi setelah dikurangi dengan seluruh biaya produksi yang dikeluarkan selama proses Biaya produksi ini meliputi biaya tetap dan biaya variabel yang diperlukan untuk mengelola usaha tani padi. Dalam analisis ini, pendapatan usaha tani padi akan dibandingkan antara petani padi rawa lebak berdasarkan tipologi lahan dangkal, tengahan dan dalam untuk melihat perbedaan hasil yang diperoleh dari setiap jenis lahan tersebut. Biaya Tetap Usaha tani Padi Rawa Lebak Berdasarkan Tipologi Lahan Biaya tetap dalam usaha tani padi rawa lebak tengahan meliputi pengeluaran yang tetap. Petani rawa lebak pada tipologi lahan dangkal dan tengahan di Kelurahan Sei Selincah tidak hanya bergantung pada usaha tani padi, tetapi juga pada usaha tani laos. Peralatan cangkul juga digunakan dalam usaha tani laos, sehingga biaya peralatan ini dihitung dengan metode joint cost. Rincian biaya variabel pada usaha tani padi rawa lebak tengahan dapat dilihat pada Tabel 2. Tabel 2. Biaya Tetap Petani Padi Rawa Lebak Dalam Jenis Faktor Tetap Traktor Cangkul Arit Sprayer Ember Total Dangkal (Rp/tahu. Tengahan (Rp/tahu. Dalam (Rp/tahu. Sumber: Data Primer . , diolah Biaya Variabel Usaha Tani Padi Rawa Lebak Berdasarkan Tipologi Lahan Biaya variabel adalah biaya yang habis dalam satu kali masa tanam atau proses produksi. Pada usaha tani padi rawa lebak dalam, biaya variabel meliputi benih, sewa lahan, pengolahan, pupuk dan pestisida. Rincian biaya variabel dapat dilihat pada Tabel 4. Tabel 4. Biaya Variabel Petani Padi Rawa Lebak Dalam Jenis Faktor Variabel Benih Sewa Lahan Biaya Pengolahan Pupuk Urea Phonska NPK Organik Pestisida Herbisida Fungisida Insektisida Jumlah Dangkal (Rp/tahu. Tengahan (Rp/tahu. Dalam (Rp/tahu. Sumber: Data Primer . , diolah Agrisaintifika. Vol. No. 3, 2025 https://journal. id/index. php/agrisaintifika ISSN 2580-0345 . , 2580-748X . DOI: 10. 32585/ags. Silvian, dkk, 2025 Total Biaya Produksi Usaha Tani Padi Rawa Lebak Berdasarkan Tipologi Lahan Total biaya produksi adalah biaya yang dikeluarkan dalam proses produksi, mencakup biaya tetap dan variabel. Ini mencerminkan pengeluaran untuk menghasilkan padi di lahan rawa lebak dalam periode tertentu. Rincian total biaya produksi dapat dilihat pada Tabel 5. Tabel 5. Total Biaya Produksi Petani Padi Rawa Lebak Dalam Uraian Biaya Tetap Biaya Variabel Total Dangkal (Rp/tahu. Tengahan (Rp/tahu. Dalam (Rp/tahu. Sumber: Data Primer . , diolah Penerimaan Usaha Tani Padi Rawa Lebak Berdasarkan Tipologi Lahan Penerimaan usaha tani adalah pendapatan kotor dari produksi dikalikan harga komoditas. Pada padi rawa lebak, penerimaan dipengaruhi oleh kualitas, kuantitas, harga jual, dan tipologi Rincian penerimaan pada masing-masing tipologi lahan dapat dilihat di Tabel 6. Tabel 6. Penerimaan Petani Padi Rawa Lebak Berdasarkan Tipologi Lahan Tipologi Lahan Penerimaan (Rp/tahu. Petani Padi Rawa Lebak Dangkal Petani Padi Rawa Lebak Tengahan Petani Padi Rawa Lebak Dalam Sumber: Data Primer . , diolah Berdasarkan Tabel 6, rata-rata penerimaan petani padi rawa lebak berdasarkan tipologi lahan menunjukkan hasil yang berbeda. Petani padi lahan rawa lebak dangkal memperoleh penerimaan Rp29. 278/tahun, petani padi lahan tengahan Rp31. 667/tahun, dan petani padi lahan dalam Rp33. 000/tahun. Perbedaan ini disebabkan oleh faktor agroekosistem, di mana rawa lebak dangkal memiliki fluktuasi air lebih tinggi, masa genangan lebih singkat, dan lebih rentan terhadap suhu ekstrem serta kekeringan, yang membatasi pertumbuhan padi. Sedangkan, lahan tengahan dan terutama lahan dalam memiliki kondisi genangan air yang lebih stabil dan lama, sehingga pertumbuhan tanaman lebih optimal dan menghasilkan penerimaan lebih tinggi (Lusianti, 2. Pendapatan Usaha Tani Padi Rawa Lebak Berdasarkan Tipologi Lahan Pendapatan usaha tani adalah pendapatan bersih setelah mengurangi biaya produksi, yang mencakup pengeluaran untuk bibit, pupuk, pestisida, pengolahan lahan, dan penyusutan alat Besarnya pendapatan dari usaha tani dapat dilihat pada Tabel 7. Tabel 7. Pendapatan Usaha Tani Padi Rawa Lebak Berdasarkan Tipologi Lahan Uraian Penerimaan Biaya Produksi Total Pendapatan Petani Padi Rawa Lebak (Rp/tahu. Dangkal Tengahan Dalam Sumber: Data Primer . , diolah Agrisaintifika. Vol. No. 3, 2025 https://journal. id/index. php/agrisaintifika ISSN 2580-0345 . , 2580-748X . DOI: 10. 32585/ags. Silvian, dkk, 2025 Berdasarkan data pada Tabel 7, pendapatan usaha tani padi rawa lebak berdasarkan tipologi lahan menunjukkan perbedaan yang signifikan. Petani di lahan dangkal memperoleh pendapatan bersih sebesar Rp24. 383/tahun, di lahan tengahan Rp26. 862/tahun, dan di lahan dalam Rp27. 049/tahun. Perbedaan ini dipengaruhi oleh kualitas lahan. Lahan rawa lebak dalam lebih subur dengan kedalaman air optimal, menghasilkan produksi dan pendapatan lebih tinggi, sementara lahan dangkal dengan keterbatasan air menghasilkan panen dan pendapatan lebih Hasil analisis tersebut didukung dengan penelitian di Kabupaten Tanjung Jabung Barat oleh Adistya et al. yang membandingkan keuntungan usaha tani padi di berbagai tipologi lahan, termasuk lahan rawa lebak. Hasilnya menunjukkan bahwa perbedaan tipologi lahan menyebabkan variasi dalam pola budidaya dan keuntungan yang diperoleh. Lahan rawa lebak dengan karakteristik kesuburan tanah yang lebih baik cenderung menghasilkan produktivitas dan pendapatan lebih tinggi dibandingkan dengan lahan yang kurang subur atau memiliki keterbatasan air. Studi lainnya yang dilaksanakan di Jakabaring. Sumatera Selatan, menyebutkan bahwa tipologi lahan rawa lebak . angkal, tengahan, dan dala. memiliki potensi produksi yang berbedabeda karena perbedaan kondisi genangan air dan kesuburan tanah. Lahan lebak dalam memiliki potensi produksi padi yang lebih tinggi karena genangan air yang stabil dan kesuburan tanah yang lebih baik dibandingkan dengan lebak dangkal (Wildayana & Muhammad, 2. Analisis Pendapatan Usaha Tani Selain Padi Selain memiliki pendapatan utama dari berusaha tani padi, petani rawa lebak di Kelurahan Sei Selincah juga bergantung pada usaha tani lain yaitu tanaman laos. Saidi et al. menyatakan bahwa rotasi tanaman pada lahan rawa lebak dapat membantu memperbaiki kesuburan tanah dan mengurangi risiko serangan hama serta penyakit monokultur. Selain itu, diversifikasi tanaman adalah strategi penting untuk meningkatkan pendapatan petani dengan menciptakan variasi produk yang dijual, mengurangi risiko produksi, serta mengoptimalkan penggunaan lahan (Damanhuri et , 2. Usaha tani laos memberikan kontribusi signifikan, terutama di lahan dangkal dan tengah dengan drainase baik, berbeda dengan lahan dalam yang sering tergenang. Sejalan dengan hal itu. Ma et al. menyatakan bahwa faktor lingkungan seperti curah hujan, suhu, tekstur tanah, dan topografi juga berperan penting dalam menentukan produktivitas dan pilihan komoditas pertanian yang dapat diusahakan. Biaya Tetap Usaha Tani Laos Berdasarkan Tipologi Lahan Rawa Lebak Penyusutan peralatan cangkul dihitung menggunakan joint cost karena merupakan alat yang digunakan bersama untuk mengolah lahan berbagai tanaman, yaitu padi dan laos. Besarnya biaya tetap yang dikeluarkan dalam usaha tani ini dapat dilihat pada Tabel 8. Tabel 8. Biaya Tetap Usaha Tani Laos Alat Usaha Tani Garpu Tanah Cangkul Jumlah Dangkal Penyusutan Alat (Rp/tahu. Tengahan Dalam Sumber: Data Primer . , diolah Agrisaintifika. Vol. No. 3, 2025 https://journal. id/index. php/agrisaintifika ISSN 2580-0345 . , 2580-748X . DOI: 10. 32585/ags. Silvian, dkk, 2025 Biaya Variabel Usaha Tani Laos Berdasarkan Tipologi Lahan Rawa Lebak Biaya variabel adalah pengeluaran yang jumlahnya berubah sesuai dengan tingkat produksi dalam usaha tani. Rincian biaya variabel dalam usaha tani selain padi (Lao. dapat dilihat pada Tabel 9. Tabel 9. Biaya Variabel Usaha Tani Laos Jenis Faktor Variabel Pengolahan Lahan Pupuk Organik Padat Jumlah Dangkal Biaya Variabel (Rp/tahu. Tengahan Dalam Sumber: Data Primer . , diolah Biaya Total Usaha Tani Laos Berdasarkan Tipologi Lahan Rawa Lebak Biaya total adalah keseluruhan pengeluaran dalam kegiatan usaha tani, yang terdiri dari biaya tetap dan biaya variabel. Biaya ini mencakup semua pengeluaran untuk produksi, baik yang tidak dipengaruhi tingkat produksi . iaya teta. maupun yang berubah sesuai tingkat produksi . iaya Rincian biaya total usaha tani laos dapat dilihat pada Tabel 10. Tabel 10. Biaya Total Usaha Tani Laos Biaya Total Biaya Tetap Biaya Variabel Total Usaha Tani Laos (Rp/tahu. Tengahan Dangkal Dalam Sumber: Data Primer . , diolah Penerimaan Usaha Tani Laos Berdasarkan Tipologi Lahan Rawa Lebak Penerimaan adalah total pendapatan yang dihasilkan dari hasil penjualan usaha tani. Penerimaan dihitung sebagai hasil perkalian antara jumlah produk yang dijual dan harga jual. Keunggulan budidaya laos adalah daya simpan hasil yang lama, memungkinkan petani menjual saat harga tinggi. Berikut rincian penerimaan dalam usaha tani laos dalam dapat dilihat pada Tabel 11. Tabel 11. Penerimaan Usaha Tani Laos Tipologi Lahan Rawa Lebak Dangkal Tengahan Dalam Penerimaan (Rp/tahu. Sumber: Data Primer . , diolah Pendapatan Usaha Tani Laos Berdasarkan Tipologi Lahan Rawa Lebak Pendapatan adalah selisih antara total penerimaan dan total biaya yang dikeluarkan dalam suatu usaha tani. Pendapatan mencerminkan keuntungan bersih yang diperoleh setelah seluruh biaya dikurangi dari total penerimaan. Berikut ini adalah hasil rata-rata pendapatan petani rawa lebak berdasarkan tipologi lahan dari sektor usaha tani laos dapat dilihat pada Tabel 12. Agrisaintifika. Vol. No. 3, 2025 https://journal. id/index. php/agrisaintifika ISSN 2580-0345 . , 2580-748X . DOI: 10. 32585/ags. Silvian, dkk, 2025 Tabel 12. Pendapatan Usaha Tani Laos Pendapatan Biaya Produksi Penerimaan Total Petani Berdasarkan Tipologi Lahan (Rp/tahu. Dangkal Tengahan Dalam Sumber: Data Primer . , diolah Pendapatan usaha tani laos di Kelurahan Sei Selincah bervariasi berdasarkan tipologi lahan rawa lebak. Di lahan dangkal, yang subur dan tidak tergenang, pendapatan rata-rata mencapai Rp5. 905/tahun. Di lahan tengahan, pendapatan sedikit lebih rendah, yaitu sebesar Rp4. 296/tahun. Hal ini disebabkan lahan tengahan lebih sering tergenang air. Di lahan dalam, usaha tani laos kurang berkembang akibat genangan yang lebih lama, sehingga petani lebih bergantung pada padi. Penelitian Andriyanto . menyebutkan bahwa diversifikasi usaha tani merupakan strategi yang dapat meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan petani secara Petani di lahan dangkal dan tengahan dapat memanfaatkan pendapatan non-padi, sedangkan di lahan dalam, mereka lebih bergantung pada padi, yang membuat pendapatan lebih rentan terhadap fluktuasi pasar. Pendapatan Luar Pertanian Rumah Tangga Petani Padi Berdasarkan Tipologi Lahan Pendapatan luar pertanian rumah tangga petani padi adalah penghasilan yang diperoleh dari sektor non-pertanian, seperti perdagangan, jasa, atau pekerjaan lainnya. Pendapatan ini berperan sebagai sumber tambahan yang penting, terutama bagi petani dengan keterbatasan hasil pertanian. Diversifikasi pendapatan rumah tangga petani yang melibatkan berbagai mata pencaharian, termasuk pekerjaan di sektor industri dan perdagangan, memberikan ketahanan ekonomi yang lebih Keluarga petani menjalankan pola nafkah ganda . ombinasi on-farm, off-farm, dan non-far. untuk memastikan keberlangsungan ekonomi rumah tangga, terutama di tengah ketidakpastian hasil Diversifikasi ini juga memungkinkan keluarga petani mengoptimalkan aset dan modal yang dimiliki, termasuk tenaga kerja anggota keluarga (Ishak et al. , 2. Pendapatan Luar Pertanian Petani Padi Rawa Lebak Dangkal Pendapatan luar pertanian menjadi sumber utama bagi banyak rumah tangga petani untuk memenuhi kebutuhan hidup dan mengurangi ketergantungan pada hasil pertanian musiman. Ratarata pendapatan dari berbagai pekerjaan non-pertanian keluarga petani padi rawa lebak dangkal dapat dilihat pada Tabel 13. Tabel 13. Pendapatan Luar Pertanian Petani Padi Rawa Lebak Dangkal Pekerjaan Buruh Pabrik Guru Honorer Nelayan Pekerja Bangunan Pedagang Penyewa Traktor Ojek Sopir Jumlah Rata-Rata Rata-Rata Pendapatan (Rp/tahu. Persentase (%) 29,47 3,38 4,51 18,95 7,59 6,77 15,79 13,53 100,00 Sumber: Data Primer . , diolah Agrisaintifika. Vol. No. 3, 2025 https://journal. id/index. php/agrisaintifika ISSN 2580-0345 . , 2580-748X . DOI: 10. 32585/ags. Silvian, dkk, 2025 Pendapatan luar pertanian rumah tangga petani di Kelurahan Sei Selincah menunjukkan variasi yang signifikan berdasarkan jenis pekerjaan. Buruh pabrik merupakan penyumbang terbesar dengan rata-rata pendapatan sebesar Rp39. 000/tahun . ,47%). Sementara itu, guru honorer memberikan kontribusi pendapatan terkecil yaitu sebesar Rp4. 000/Tahun . ,38%). Keterlibatan anggota keluarga dalam berbagai pekerjaan di sektor industri, transportasi, dan perdagangan turut memperkuat perekonomian rumah tangga petani, menunjukkan pentingnya diversifikasi sumber Pendapatan Luar Pertanian Petani Padi Rawa Lebak Tengahan Pendapatan luar pertanian berperan penting dalam menopang ekonomi rumah tangga petani. Beragam pekerjaan di sektor non-pertanian memberikan kontribusi signifikan. Rata-rata pendapatan dari sektor ini pada petani padi rawa lebak tengahan dapat dilihat pada Tabel 14. Tabel 14. Pendapatan Luar Pertanian Padi Rawa Lebak Tengahan Pekerjaan Buruh Pabrik Guru Honorer Nelayan Pekerja Bangunan Pedagang Pramuniaga Penyewa Traktor Ojek Sopir Jumlah Rata-Rata Rata-Rata Pendapatan (Rp/tahu. Persentase (%) 28,60 2,64 5,63 15,14 7,33 13,20 6,60 6,34 14,52 100,00 Sumber: Data Primer . , diolah Pekerjaan sebagai buruh pabrik memiliki pendapatan tertinggi Rp39. 000/tahun . ,60% dari total pendapatan luar pertania. Pekerjaan dengan pendapatan kecil, seperti pedagang, penyewa traktor, nelayan, dan guru honorer juga penting meski kontribusinya lebih terbatas. Total pendapatan luar pertanian mencapai Rp136. 000/tahun, dengan rata-rata pendapatan per pekerjaan Rp15. 111/tahun, didominasi oleh sektor industri, transportasi, dan perdagangan. Pendapatan Luar Pertanian Petani Padi Rawa Lebak Dalam Pendapatan luar sektor pertanian berperan penting dalam meningkatkan kesejahteraan ekonomi rumah tangga, terutama bagi keluarga yang tidak sepenuhnya bergantung pada pertanian. Rincian rata-rata pendapatan non-pertanian rumah tangga petani rawa lebak dapat dilihat pada Tabel 15. Tabel 15. Pendapatan Luar Pertanian Petani Padi Rawa Lebak Dalam Pekerjaan Buruh Pabrik Guru Honorer Nelayan Pekerja Bangunan Pedagang Total Rata-Rata Rata-Rata Pendapatan (Rp/tahu. Persentase (%) 50,23 5,38 7,86 26,91 9,61 100,00 Sumber: Data Primer . , diolah Agrisaintifika. Vol. No. 3, 2025 https://journal. id/index. php/agrisaintifika ISSN 2580-0345 . , 2580-748X . DOI: 10. 32585/ags. Silvian, dkk, 2025 Berdasarkan Tabel 15. pekerjaan buruh pabrik menjadi kontributor utama dengan pendapatan rata-rata Rp39. 000/tahun, berkontribusi 50,23% dari total pendapatan non-pertanian pada petani padi rawa lebak dalam. Pekerjaan guru honorer memiliki pendapatan terendah, yaitu Rp4. 000/tahun . ,38%). Total pendapatan luar pertanian rata-rata Rp15. 667/tahun. Data pada tabel ini menunjukkan dominasi sektor industri, khususnya buruh pabrik, dalam mendukung perekonomian keluarga petani, meskipun sektor lain juga berperan penting. Pendapatan Total Rumah Tangga Petani Padi Rawa Lebak Berdasarkan Tipologi Lahan Pendapatan rumah tangga petani padi rawa lebak dipengaruhi oleh jenis usaha yang dijalankan, yang terbagi dalam tiga tipe lahan: dangkal, tengahan dan dalam. Setiap jenis usaha memberikan kontribusi berbeda terhadap total pendapatan, baik dari usaha pertanian padi, usaha non-padi, maupun usaha non-pertanian. Fatwa et al. menyatakan bahwa pendapatan memiliki peran krusial, tidak hanya dalam memenuhi kebutuhan dasar, tetapi juga dalam memungkinkan pengeluaran produktif serta peningkatan kualitas hidup. Berikut adalah data kontribusi masing-masing jenis pendapatan terhadap total pendapatan pada tiap tipe lahan lebak. Tabel 16. Pendapatan Rumah Tangga Petani Padi Rawa Lebak Berdasarkan Tipologi Lahan Tipe Lebak Dangkal Jenis Usaha Usahatani Padi Usahatani Non Padi Non Usahatani Jumlah Tengahan Usahatani Padi Usahatani Non Padi Non Usahatani Jumlah Dalam Usahatani Padi Usahatani Non Padi Non Usahatani Jumlah Sumber: Data Primer . , diolah Jumlah (Rp/tahu. Kontribusi (%) 52,88 11,40 32,72 100,00 56,72 10,51 32,77 100,00 64,07 0,00 35,93 100,00 Berdasarkan data pada Tabel 16, pendapatan rumah tangga petani padi rawa lebak di Kelurahan Sei Selincah sangat dipengaruhi oleh jenis usaha yang dijalankan dan tipologi lahan yang Terdapat tiga tipe lahan, yaitu dangkal, tengahan, dan dalam. Masing-masing jenis usaha dan tipologi lahan memberikan kontribusi yang berbeda terhadap total pendapatan petani, baik dari usaha pertanian padi, usaha non-padi, maupun usaha non-pertanian. Pada tipe lahan dangkal, usaha pertanian padi memberikan kontribusi terbesar dengan jumlah Rp24. 383/tahun atau 52,88% dari total pendapatan. Meskipun demikian, sektor non-pertanian juga memberikan kontribusi signifikan, yaitu Rp16. 000/tahun . ,72%), sementara usaha nonpadi hanya berkontribusi Rp5. 905/tahun . ,40%). Hal ini menunjukkan bahwa meskipun sektor Agrisaintifika. Vol. No. 3, 2025 https://journal. id/index. php/agrisaintifika ISSN 2580-0345 . , 2580-748X . DOI: 10. 32585/ags. Silvian, dkk, 2025 non-pertanian memberikan kontribusi yang cukup besar, pertanian padi tetap menjadi sumber utama pendapatan bagi petani pada tipe lahan ini. Pada tipe lahan tengahan, kontribusi terbesar juga datang dari usaha pertanian padi, dengan Rp26. 862/tahun . ,72%). Sektor non-pertanian berkontribusi Rp15. 111/tahun . ,77%), sementara usaha non-padi memberikan kontribusi sebesar Rp4. 296/tahun . ,51%). Di tipe lahan ini, sektor non-pertanian semakin penting sebagai sumber pendapatan tambahan, meskipun usaha pertanian padi tetap menjadi sumber utama. Pada tipe lahan dalam, hanya usaha pertanian padi yang memberikan kontribusi terhadap pendapatan, sebesar Rp27. 049/tahun . ,07%). Tidak ada pendapatan yang berasal dari usaha tani non-padi, yang mengindikasikan bahwa lahan dalam memiliki kedalaman air lebih optimal untuk pertumbuhan padi dan petani di lahan dalam lebih fokus pada produksi padi sebagai usaha utama mereka. Namun, sektor non-pertanian tetap berkontribusi sebesar Rp15. 667/tahun . ,93%), meskipun kontribusinya lebih kecil dibandingkan pada tipe lahan dangkal dan tengahan. Secara keseluruhan, usaha tani padi dominan di semua tipe lahan lebak dan usaha tani nonpadi memberikan kontribusi terkecil terhadap pendapatan total rumah tangga petani di lahan rawa Nasir et al. berpendapat bahwa pendapatan terendah terdapat pada usaha tani non padi yang merupakan usaha sampingan yang tidak diusahakan pada skala usaha yang ekonomis sehingga pendapatan yang diperoleh juga masih rendah. Namun, usaha non-padi dan sektor nonpertanian semakin berkontribusi terhadap kesejahteraan ekonomi keluarga. Watema et al. menyatakan bahwa pendapatan dari aktivitas non-pertanian . on-far. berkontribusi signifikan terhadap kesejahteraan rumah tangga, yang menunjukkan bahwa diversifikasi pendapatan memungkinkan alokasi yang lebih fleksibel terhadap pengeluaran non-pangan. Meskipun demikian, kontribusi usaha non-padi masih kecil, menunjukkan bahwa sektor ini belum berkembang optimal dibandingkan dengan pertanian padi dan sektor non-pertanian. Sejalan dengan hal tersebut. Mulyana et al. juga menegaskan bahwa sistem, tipologi lahan, dan sumber pendapatan berpengaruh terhadap total pendapatan dan ketahanan ekonomi rumah tangga petani rawa lebak. Pengeluaran Rumah Tangga Petani Rawa Lebak Berdasarkan Tipologi Lahan Pengeluaran rumah tangga mencakup jenis dan jumlah pangan yang dikonsumsi, serta perbandingan pengeluaran antara petani padi rawa lebak dangkal, tengahan dan dalam. Pengeluaran rumah tangga petani padi rawa lebak mencakup kebutuhan pangan seperti karbohidrat . eras, jagung, singkon. , protein . elur, daging, ikan, sus. , sayuran, buah-buahan, makanan instan, dan kebutuhan non-pangan seperti listrik, gas, pendidikan, transportasi, pakaian, rokok, dan Rincian pengeluaran dapat dilihat pada Tabel 17. Agrisaintifika. Vol. No. 3, 2025 https://journal. id/index. php/agrisaintifika ISSN 2580-0345 . , 2580-748X . DOI: 10. 32585/ags. Silvian, dkk, 2025 Tabel 17. Pengeluaran Pangan dan Non Pangan Rumah Tangga Petani Rawa Lebak Dangkal Jenis Pengeluaran Pangan Karbohidrat Protein Sayuran BumbuBumbuan Makanan Instan BuahBuahan Lain-Lain Jumlah Non Pangan Listrik Gas Pendidikan Transportasi Kesehatan Baju Topi Rokok Tabungan Kredit Jumlah Total (Rp/tahu. Tengahan (%) (Rp/tahu. Dalam (%) (Rp/tahu. (%) 3,38 4,04 2,72 5,92 4,47 2,92 7,39 4,19 2,93 1,45 1,56 1,48 1,75 2,09 1,87 1,12 1,24 1,22 2,90 17,36 3,19 21,39 3,33 22,41 3,20 1,40 19,12 8,18 0,05 0,86 0,00 8,19 22,40 19,24 82,64 100,00 4,32 2,32 26,68 8,78 0,03 0,65 0,01 8,73 22,25 4,84 78,61 100,00 4,59 2,63 28,52 9,10 0,00 0,75 0,01 6,93 15,22 9,83 77,59 100,00 Sumber: Data Primer . , diolah Total pengeluaran rumah tangga petani padi terbagi menjadi pengeluaran pangan dan nonpangan. Pengeluaran pangan mencakup kebutuhan makanan pokok dan pendamping, sedangkan non-pangan mencakup pengeluaran untuk kebutuhan lainnya seperti tabungan, pendidikan dan Total pengeluaran rumah tangga petani padi rawa lebak dangkal, tengahan, dan dalam masing-masing sebesar Rp45. 833/tahun. Rp41. 738/tahun, dan Rp42. 183/tahun. Pengeluaran untuk non-pangan mencakup sekitar 17-22%, dengan karbohidrat sebagai komponen Pengeluaran non-pangan terbesar adalah untuk tabungan dan pendidikan, yang dimana petani di lebak tengahan mengalokasikan lebih banyak untuk pendidikan. Rumah tangga petani di Kelurahan Sei Selincah mengalokasikan sebagian besar pendapatan mereka untuk pengeluaran non-pangan, yang mencerminkan kesejahteraan yang baik dan pengelolaan keuangan yang stabil. Sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Sugianto et al. yang menemukan bahwa pendapatan rumah tangga berpengaruh signifikan positif terhadap pengeluaran non-pangan. Artinya, makin tinggi pendapatan petani, makin besar kemungkinan mereka mengalokasikan dana untuk pengeluaran non-pangan seperti pendidikan, kesehatan, dan kebutuhan lainnya. Osarfo et al. juga menyatakan bahwa partisipasi rumah tangga petani di Agrisaintifika. Vol. No. 3, 2025 https://journal. id/index. php/agrisaintifika ISSN 2580-0345 . , 2580-748X . DOI: 10. 32585/ags. Silvian, dkk, 2025 aktivitas non-pertanian meningkatkan pendapatan dan status keamanan pangan. Dengan pendapatan yang lebih besar dari kombinasi usaha tani dan non-usaha tani, rumah tangga dapat mengalokasikan sebagian pendapatan mereka untuk kebutuhan non-pangan. Hal ini menunjukkan bahwa sebagian besar kebutuhan pangan mereka dapat dipenuhi secara mandiri melalui usaha tani padi dan pemanfaatan sumber daya lokal lainnya. Dengan kondisi ini, petani memiliki kemampuan untuk menabung dan memberikan pendidikan yang layak bagi anakanak mereka. Hal ini mencerminkan stabilitas ekonomi yang lebih baik. Keberhasilan mereka dalam memenuhi kebutuhan pangan dan non-pangan secara mandiri memperlihatkan kemajuan dalam peningkatan taraf hidup dan ketahanan ekonomi keluarga, sekaligus mencerminkan potensi keberlanjutan ekonomi yang lebih kuat di masa depan. Ketersediaan Pangan Pokok Rumah Tangga Petani Padi Berdasarkan Tipologi Lahan Rata-rata ketersediaan pangan pokok rumah tangga petani padi rawa lebak berdasarkan tipologi lahan dangkal, tengahan dan dalam di Kelurahan Sei Selincah menunjukkan perbedaan yang signifikan antara ketiga tipologi lahan tersebut. Setiap tipologi lahan memiliki karakteristik agroekosistem yang mempengaruhi hasil pertanian, terutama dalam hal produksi pangan pokok seperti beras. Berikut adalah data rata-rata ketersediaan pangan pokok rumah tangga petani padi rawa lebak berdasarkan tipologi lahan dapat dilihat pada Tabel 18. Tabel 18. Rata-rata Ketersediaan Pangan Pokok Rumah Tangga Petani Padi Rawa Lebak Berdasarkan Tipologi Lahan Keterangan Petani Padi Rawa Lebak Berdasarkan Tipologi Lahan . g/tahu. Dangkal Tengahan Dalam Input Usaha Tani Pembelian Pemberian Jumlah Output Penjualan Aktivitas Sosial Pihak Lain Jumlah Ketersediaan Rata-Rata Sumber: Data Primer . , diolah Ketersediaan pangan di rumah tangga petani padi rawa lebak berdasarkan tipologi lahan . angkal, tengahan, dan dala. masih tergolong rendah. Selisih antara input dan output pangan berada pada kisaran 278-917 kg/tahun, menunjukkan ketergantungan yang cukup besar pada pembelian dan penjualan pangan untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga. Yunita et al. menemukan bahwa meskipun rumah tangga petani memiliki beberapa produksi sendiri, pengeluaran pangan yang diperlukan belum sepenuhnya dipenuhi dari hasil panen sehingga terjadi ketergantungan pada pembelian. Ketersediaan pangan rumah tangga petani padi rawa lebak bervariasi berdasarkan tipologi Di lebak tengahan, ketersediaan pangan 443 kg/tahun, meski ada surplus, ketergantungan Agrisaintifika. Vol. No. 3, 2025 https://journal. id/index. php/agrisaintifika ISSN 2580-0345 . , 2580-748X . DOI: 10. 32585/ags. Silvian, dkk, 2025 pada penjualan pangan tetap tinggi. Ketersediaan pangan di lebak dalam sebesar 425 kg/tahun, dengan surplus yang juga dijual. Sementara di lebak dangkal, ketersediaan pangan sebesar 405 kg/tahun, dengan surplus yang sebagian besar dijual. Petani cenderung menjual sebagian besar hasil panen untuk memenuhi kebutuhan hidup seperti pendidikan dan tabungan, meskipun mereka memiliki surplus pangan. Keterbatasan fasilitas penyimpanan dan kebutuhan akan uang tunai yang mendesak menjadi faktor utama yang mempengaruhi ketersediaan pangan di rumah tangga petani. Ketersediaan pangan rumah tangga petani sangat berkaitan erat dengan ketahanan Berdasarkan penelitian oleh Rini et al. , faktor yang berpengaruh signifikan terhadap ketersediaan beras sebagai pangan pokok rumah tangga petani padi rawa lebak adalah pendapatan total rumah tangga. Pendapatan rumah tangga yang cukup memungkinkan ketersediaan pangan pokok yang memadai sehingga memperkuat ketahanan pangan di tingkat rumah tangga petani tersebut. SIMPULAN Penelitian ini mengungkapkan bahwa tipologi lahan rawa lebak . angkal, tengahan, dan dala. berperan signifikan dalam menentukan tingkat pendapatan rumah tangga petani padi di Kecamatan Kalidoni. Kota Palembang. Petani yang mengelola lahan lebak dalam cenderung memperoleh pendapatan lebih tinggi dibandingkan dengan petani di lahan dangkal dan tengahan karena kondisi agroekosistem yang lebih mendukung produktivitas padi. Meskipun demikian, diversifikasi sumber pendapatan melalui usaha non-padi dan sektor non-pertanian menjadi strategi utama bagi petani, khususnya mereka yang berada di lahan dengan produktivitas lebih rendah, untuk menjaga kestabilan ekonomi rumah tangga. Di sisi lain, ketersediaan pangan rumah tangga petani padi rawa lebak masih tergolong rendah dan bergantung pada pembelian serta penjualan hasil pertanian, dengan variasi ketersediaan pangan terbesar adalah di lebak tengahan sebesar 443 kg/tahun, lebak dalam sebesar 425 kg/tahun, dan lebak dangkal sebesar 405 kg/tahun. Sebagian besar surplus pangan dijual, didorong oleh keterbatasan fasilitas penyimpanan serta kebutuhan uang tunai untuk keperluan hidup seperti pendidikan dan tabungan. DAFTAR PUSTAKA