Managerial: Jurnal Manajemen Pendidikan Islam Vol. 03 No. : Oktober Journal homepage https://ejournal. id/index. php/managerial/index IMPLEMENTASI METODE HABITUASI DALAM MENGUATKAN KARAKTER RELIGIUS PESERTA DIDIK DI SMAN 1 GONDANG MOJOKERTO Siti Khomsatin1. Maulana Nur Kholis2 1 Universitas KH. Abdul Chalim Mojokerto. Indonesia 2 Universitas KH. Abdul Chalim Mojokerto. Indonesia khomsatinsiti@gmail. com1, maulanaazhari84@gmail. Received: 22-06-2025 DOI: Accepted: 12-09-2025 Published: 30-10-2025 Abstrak : Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis implementasi metode habituasi dalam menguatkan karakter religius peserta didik di SMAN 1 Gondang Mojokerto serta menelaah implikasinya terhadap perkembangan nilai-nilai religius siswa. Metode habituasi dipandang sebagai strategi efektif dalam membentuk kebiasaan baik melalui pengulangan perilaku positif hingga menjadi bagian dari kepribadian siswa. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan studi kasus, teknik pengumpulan data berupa wawancara, observasi, dan dokumentasi, serta analisis data model Miles & Huberman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa implementasi habituasi di sekolah meliputi tiga dimensi menurut teori Lickona, yaitu moral knowing, moral feeling, dan moral action. Kegiatan pembiasaan religius di sekolah terdiri dari ibadah harian . holat berjamaah, tadarus, hafalan sura. , pembiasaan sopan santun . senyum, salam, sap. , kegiatan mingguan . ajian keagamaan, sholat Juma. , kegiatan bulanan (Semango Sholawa. , serta kegiatan keagamaan tahunan. Implikasi dari penerapan habituasi meliputi perubahan sikap religius siswa yang lebih positif, kendala berupa kurangnya motivasi dan kesadaran diri siswa, serta evaluasi rutin yang dilakukan guru. Penelitian ini menegaskan pentingnya strategi habituasi dalam pendidikan karakter religius, terutama di tengah tantangan degradasi moral generasi muda. Kata Kunci: Habituasi. Karakter Religius. Pendidikan Karakter. Implementasi. Abstract : This study aims to analyze the implementation of the habituation method in strengthening students' religious character at SMAN 1 Gondang Mojokerto and to examine its implications for the development of students' religious values. Habituation is viewed as an effective strategy to build good habits through repeated positive behaviors until they become part of the students' This research employed a descriptive qualitative approach with a case study Data were collected through interviews, observations, and documentation, and analyzed using Miles & Huberman's interactive model. The findings reveal that habituation at school covers three dimensions of Lickona's theory: moral knowing, moral feeling, and moral Religious habituation practices included daily worship . ongregational prayers. QurAoan recitation, short surah memorizatio. , courtesy practices . mile, greeting, respec. , weekly religious activities (Islamic studies. Friday prayer. , monthly events (Semango Sholawa. , and annual religious commemorations. The implications include studentsAo improved religious attitudes, challenges such as lack of motivation and self-awareness, and regular evaluations conducted by teachers. This study highlights the importance of habituation strategies in strengthening religious character, especially in facing moral degradation among youth. Keywords: Habituation. Religious Character. Character Education. Implementation. Managerial: Jurnal Manajemen Pendidikan Islam Vol. 02 No. : Oktober Siti Khomsatin. Implementasi Metode Habituasi Dalam Menguatkan Karakter Religius Peserta Didik Di SMAN 1 Gondang Mojokerto PENDAHULUAN Krisis moral pada generasi muda saat ini menjadi tantangan serius dalam dunia pendidikan. Fenomena seperti kekerasan remaja, pergaulan bebas, penyalahgunaan narkoba, dan menurunnya etika sosial menunjukkan adanya degradasi karakter (Agus Fitri, 2020, hlm. 15Ae. Sekolah sebagai salah satu institusi pendidikan memiliki tanggung jawab besar dalam membentuk kepribadian peserta didik. Salah satu nilai karakter yang sangat penting untuk ditanamkan adalah karakter religius, yang menjadi fondasi moral dalam menghadapi tantangan globalisasi (Thomas Lickona, 2019, hlm. 34Ae. Metode habituasi atau pembiasaan dipandang sebagai salah satu pendekatan efektif dalam menanamkan karakter religius. Melalui pengulangan perilaku positif, peserta didik dibiasakan untuk menjalankan aktivitas keagamaan sehingga berkembang menjadi kebiasaan yang mengakar kuat dalam kepribadian mereka(Ahsanulkhaq, 2019, hlm. 140Ae. Dalam konteks pendidikan Islam, metode habituasi juga sejalan dengan ajaran Al-QurAoan dan Hadis yang menekankan pentingnya istiqamah dalam amal ibadah (Q. ArRaAod: . Allah SWT Berfirman : a a e a AcEE aaE aO aO a aI aC eOI a NO aO aO a eO aI a eI aAN eI aOa a e a a a NA a Aa acI NA AcEE a aC eO sI aO U AaE aI a ac ENA s a a a a a AuSesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum hingga mereka mengubah apa yang ada pada diri merekaAy Dalam pembentukan karakter tentu ada tidak hanya satu hal yang mempengaruhinya diantaranya yaitu lingkungan keluarga, lingkungan sosial serta pendidikan. Salah satu pendidikan yang melalukan metode habituasi yaitu pada tingkatan SMA yang sebagaimana yang dilakukan oleh lingkungan Pendidikan sekolah SMAN 1 Gondang. Menurut Wauran dkk. Perkembangan anak usia dini dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain pengaruh lingkungan dan karakteristik bawaan anak (Chindy G Wauran, 2016, hlm. Hal ini terjadi karena lingkungan tinggal dan keluarga merupakan hal yang sangat dekat dengan kegiatan yang biasa dilakukan dengan begitu karakter yang kuat dapat terbentuk dengan kedekatan dan rutinitas. Sedangkan sekolah juga sangat berpengaruh dalam pembentukan watak siswanya ketika dalam masa mengenyam Pendidikan. Pada jenjang Sekolah Menengah Atas karakteristik mereka tentu berbeda dengan masa sebelumnya seperti menurut Sukintaka yaitu kebebasan yang lebih besar, kesadaran dan kepekaan terhadap lawan jenis, upaya untuk menghindari pengawasan orang dewasa dan bimbingan pendidikan, dan kenikmatan pembangunan sosial dari pertimbangan hal tersebut beberapa sekolah Negeri pun mulai menggiatkan kegiatan-kegiatan agama melalui jam belajar maupun ekstrakulikuler hal tersebut diharapkan dapat mengurangi resiko terjadinya tindakan menyimpang dari peserta didik. Salah satu Sekolah Managerial: Jurnal Manajemen Pendidikan Islam Vol. 03 No. : Oktober ISSN: 3031-0695 Journal homepage https://ejournal. id/index. php/managerial/index Siti Khomsatin. Implementasi Metode Habituasi Dalam Menguatkan Karakter Religius Peserta Didik Di SMAN 1 Gondang Mojokerto yang menggiatkan kegiatan agama guna membentuk karakter yang positif pada peserta didik adalah SMAN 1 Gondang. Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN) 1 Gondang adalah sekolah yang pada umumnya untuk berbagai kalangan dan agama, terbukti dengan adanya siswa Non Islam, seperti Kristen dan Hindu. Namun, sekolah tersebut menariknya memiliki fokus pembentukan karakter religius yang sangat baik. Terutama bagi siswa dari lingkungan sekitar yang mana mayoritas beragama Islam. Hal tersebut terbukti dengan kegiatan yang dilakukan di sekolah tersebut selama bertahun-tahun bahkan SMAN 1 Gondang sering dijuluki dengan SMAN bernuansa MAN (Rased Amirudin, 2. Selain kegiatan religius yang kuat di sekolah SMAN 1 Gondang juga berfokus pada peningkatan prestasi dalam bidang akademik yang dapat membentuk jiwa kompetitif di dalam jiwa siswa-siswanya dengan cara menggiatkan program pembelajaran yang berfokus pada pengembangan minat dan bakat siswa (Nurul Wakhidah, 2. Hal itu terbukti dengan diterimanya 22 siswa yang lulusan tahun itu telah diterima di berbagai perguruan tinggi dengan jalur prestasi dan tes. Dalam upaya meningkatkan karakter religius peserta didik, dari sekolah disediakan wadah yang bernama UKKI yaitu Unit Kegiatan Kerohanian Islam yang mana didalamnya terdapat kegiatan. Banjari . ersholawat bersam. Semanggu Sholawat, kajian kewanitaan, dan sholat JumAoat berjamaah serta jadwal kutbah bagi siswa putra. Bukan hanya fokus pada siswa yang beragama muslim saja tetapi bagi siswa non muslim juga diberikan kajian oleh guru agama dari masing-masing agama siswa di sekolah tersebut (Rased Amirudin. Penelitian ini dilakukan di SMAN 1 Gondang Mojokerto yang dikenal memiliki program pembiasaan religius yang kuat, seperti sholat berjamaah, kajian mingguan, hingga kegiatan Semango Sholawat. Penelitian ini bertujuan untuk menjawab dua pertanyaan utama: . bagaimana implementasi metode habituasi dalam menguatkan karakter religius peserta didik, dan . bagaimana implikasinya terhadap perkembangan karakter religius siswa. Kajian Teori Implementasi Implementasi adalah proses penerapan ide, kebijakan, atau program ke dalam tindakan nyata untuk mencapai tujuan tertentu (Charles O. Jones, 2018, hlm. Dalam pendidikan, implementasi mencakup langkah konkret dalam mengintegrasikan nilai-nilai ke dalam kegiatan belajar maupun budaya sekolah. Metode Habituasi Managerial: Jurnal Manajemen Pendidikan Islam Vol. 03 No. : Oktober ISSN: 3031-0695 Journal homepage https://ejournal. id/index. php/managerial/index Siti Khomsatin. Implementasi Metode Habituasi Dalam Menguatkan Karakter Religius Peserta Didik Di SMAN 1 Gondang Mojokerto Habituasi adalah proses pembiasaan perilaku positif melalui pengulangan hingga terbentuk kebiasaan (Mudjib, 2017, hlm. Dalam pendidikan Islam, habituasi memiliki dasar kuat pada konsep tarbiyah, di mana anak dibiasakan dengan amal ibadah sejak dini (Abdu Majid, 2020. Habituasi juga menekankan tiga syarat keberhasilan: kontinuitas, konsistensi, dan keteladanan (Arief, 2019, hlm. Pendidikan Karakter Pendidikan karakter bertujuan membentuk individu yang berakhlak mulia, memiliki integritas, dan bertanggung jawab (Kemdikbud, 2018, hlm. (Thomas Lickona, 2019, hlm. 51Ae. membagi pendidikan karakter menjadi tiga dimensi utama: moral knowing . engetahuan mora. , moral feeling . erasaan mora. , dan moral action . indakan mora. Karakter Religius Karakter religius adalah sikap dan perilaku yang mencerminkan nilainilai agama, seperti ketaatan beribadah, kejujuran, dan toleransi(Subandi, 2019, hlm. Menurut Glock dan Stark (Subandi, 2019, hlm. , karakter religius mencakup lima dimensi: keyakinan, praktik ibadah, pengalaman religius, pengetahuan agama, dan implikasi dalam kehidupan sosial. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan desain studi kasus. Lokasi penelitian adalah SMAN 1 Gondang Mojokerto. Subjek penelitian meliputi kepala sekolah, guru, dan siswa. Teknik pengumpulan data mencakup observasi dengan mengamati kegiatan habituasi di sekolah. Wawancara dengan menggali informasi dari guru, siswa, dan kepala sekolah. Dokumentasi dengan mengumpulkan dokumen pendukung seperti jadwal kegiatan religius. Analisis data menggunakan model interaktif (Matthew B. Miles. Michael Huberman & Johnny Saldaya, 2014, hlm. 31Ae. meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Uji keabsahan data dilakukan melalui triangulasi sumber dan metode. HASIL DAN PEMBAHASAN Implementasi Metode Habituasi Dalam Menguatkan Karakter Religius Peserta Didik Di SMAN 1 Gondang Implementasi dapat diartikan sebagai proses penerapan, pelaksanaan ataupun pemberlakuan suatu kegiatan yang sebelumnya memang sudah Selain itu, suatu proses penerapan ide, konsep, kebijakan, atau inovasi ke dalam praktik dengan cara yang menghasilkan perubahan bermanfaat dalam pengetahuan, keterampilan, nilai, atau sikap dikenal sebagai implementasi (E. Mulyasa, 2019, hlm. Dalam Mengimplementasikan metode pendidikan karakter agar dapat Managerial: Jurnal Manajemen Pendidikan Islam Vol. 03 No. : Oktober ISSN: 3031-0695 Journal homepage https://ejournal. id/index. php/managerial/index Siti Khomsatin. Implementasi Metode Habituasi Dalam Menguatkan Karakter Religius Peserta Didik Di SMAN 1 Gondang Mojokerto membentuk karakter yang baik sesuai dengan tujuan tentunya memiliki beberapa tahap terlebih dahulu. Hal itu sebagaimana yang telah dirumuskan oleh Lickona dalam bukunya yaitu dengan 3 tahap yaitu moral knowing, moral feelling dan moral action (Thomas Lickona, 2013, hlm. Moral Knowing Terdapat banyak jenis pengetahuan moral berbeda yang perlu kita ambil seiring kita berhubungan dengan perubahan moral kehidupan. Keenam aspek berikut adalah aspek penting yang di jadikan tujuan pendidikan karakter yaitu : . kesadaran moral, . mengetahui nilai moral, . penentuan perspektif, . pemikiran moral, . pengambilan dan . pengetahuan pribadi (Thomas Lickona, 2013, hlm. Moral knowing juga bisa diartikan tahap awal dalam melakukan pembiasaan yang baik pada seseorang. Sehingga tahap ini adalah salah satu tahap yang penting untuk memberi gambaran kepada seseorang terkait pengetahuan pada kegiatan yang akan dilaksanakan. Di SMA Negeri 1 Gondang sendiri. Moral knowing dilakukan dengan beberapa cara dan berkali-kali. Berdasarkan data yang didapat oleh peneliti melalui observasi maupun wawancara yaitu SMA Negeri 1 Gondang Moral knowing dilakukan melalui edukasi secara langsung dan tidak langsung. Berdasarkan wawancara di atas maka dapat disimpulkan bahwa kegiatan pembiasaan dalam penguatan karakter religi di SMAN 1 Gondang adalah program dari kebijakan sekolah yaitu melalui bagian kesiswaan, yang kemudian di dukung dengan adanya wadah kegiatan ekstrakulikuler UKKI. Hal itu dilakukan agar lebih efektif dengan kegiatan-kegiatan siswa lainnya. Sehingga karakter religius terbentuk dan tidak mengganggu kegiatan Di SMA Negeri 1 Gondang sendiri. Moral knowing dilakukan dengan beberapa cara dan berkali-kali. Berdasarkan data yang didapat oleh peneliti melalui observasi maupun wawancara yaitu SMA Negeri 1 Gondang Moral knowing dilakukan melalui edukasi secara langsung dan tidak Moral knowing juga bisa diartikan tahap awal dalam melakukan pembiasaan yang baik pada seseorang. Sehingga tahap ini adalah salah satu tahap yang penting untuk memberi gambaran kepada seseorang terkait pengetahuan pada kegiatan yang akan dilaksanakan. Di SMA Negeri 1 Gondang sendiri. Moral knowing dilakukan dengan beberapa cara dan berkali-kali. Berdasarkan data yang didapat oleh peneliti melalui observasi maupun wawancara yaitu SMA Negeri 1 Gondang Moral knowing dilakukan melalui edukasi secara langsung dan tidak langsung. Dalam melakukan moral knowing secara langsung yaitu pada saat masa orientasi siswa yang mana pada saat itu anak-anak dikenalkan pada peraturan dan tata tertib di lingkungan sekolah. Selain itu juga melalui sosialisasi di kelas ketika jam pelajaran dan bekerja sama dengan guru-guru Managerial: Jurnal Manajemen Pendidikan Islam Vol. 03 No. : Oktober ISSN: 3031-0695 Journal homepage https://ejournal. id/index. php/managerial/index Siti Khomsatin. Implementasi Metode Habituasi Dalam Menguatkan Karakter Religius Peserta Didik Di SMAN 1 Gondang Mojokerto terutama guru agama, seperti diadakannya Peringatan Hari Besar Islam dan Khutbah Jumat, serta ketika ada penyampaian amanat pembina upacara. Berdasarkan wawancara dan dokumentasi yang didapatkan oleh peneliti bahwa kegiatan pemberitahuan akan moral, dan sopan santun smemang dilakukan dengan sosialisasi yang dibarengkan dengan kegiatan Mendidik anak-anak agar bisa melakukan tugas dengan benar serta rutin didasari rasa tangungjawab dan rasa kesadaran diperlukan adanya Terutama pada kegiatan ibadah dan kegiatan sehari-harinya. Dalam buku tarbiyatul aulad dikatakan bahwa mendidik dengan kebiasaan akan membuat anak dapat mendapatkan hasil Pendidikan yang sangat baik. karena pengajaran didasarkan pada arahan dan bimbingan, dorongan dan ancaman, serta pengawasan dan perhatian. Tanpanya, para pendidik ibarat penulis di atas air mereka tidak meninggalkan jejak dan tidak membuahkan hasil (Abdullah, 2017, hlm. Dari pembahasan diatas dapat disimpulkan bahwa dalam melaksanakan habituasi perlu adanya sosialisasi dahulu, sebagaimana dalam buku Lickona bahwa dalam pembentukan karakter yang baik harus ada proses ini memiliki 6 aspek penting di dalamnya. kesadaran moral, . mengetahui nilai moral, . penentuan perspektif, . pemikiran moral, . pengambilan dan . pengetahuan pribadi. Maka ke enam hal ini dapat di capai dengan dilakukan sosialisasi terlebih dahulu dan dalam hal ini kebijakan dalam pelaksanaannya adalah kebijakan sekolah. Moral Feeling Dari segi emosional karakter telah amat diabaikan dalam pembahasan pendidikan moral, padahal hal tersebut justru sangatlah penting. Seberapa jauh kita peduli tentang bersikap jujur, adil dan pantas terhadap orang lain sudah jelas memengaruhi apakah pengetahuan moral kita mengarah pada perilaku moral. Sisi emosional karakter ini, seperti sisi intelektualnya, terbuka terhadap pengembangan oleh keluarga dan sekolah. Aspek-aspek berikut kehidupan emosional moral menjamin perhatian kita sebagaimana kita mencoba mendidik karakter baik. Moral feeling . erasaan mora. di dapat dari beberapa hal yaitu : . Hati nurani, . harga diri, . mencintai hal baik . kendali diri dan . kerendahan hati (Thomas Lickona, 2013, hlm. Berdasarkan wawancara di atas dapat disimpulkan bahwa penguatan karakter pada tahap moral feeling yaitu meningkatkan perasaan peserta didik pada lingkungan sekitar terutama pada lingkungan sekolah. Sebagaimana Lickona dalam bukunya mengatakan bahwa dalam moral feeling ini melibatkan hati nurani, harga diri, empati, mencintai hal baik, kendali diri dan kerendahan diri. Sebagimana upaya yang sudah dilakukan di SMAN 1 Gondang adalah dengan mempertemukan anak-anak dalam satu forum dan diawali dengan sosialisasi dan pengenalan terkait nilai-nilai yang Managerial: Jurnal Manajemen Pendidikan Islam Vol. 03 No. : Oktober ISSN: 3031-0695 Journal homepage https://ejournal. id/index. php/managerial/index Siti Khomsatin. Implementasi Metode Habituasi Dalam Menguatkan Karakter Religius Peserta Didik Di SMAN 1 Gondang Mojokerto Moral feeling di SMAN dilakukan di acara seperti acara PHBI dimana dalam acara tersebut biasanya akan dibuat sebagai kegiatan yang bisa menjadi ajang penyampaian moral feeling. Dalam Acara PHBI sebagiamana observasi dari peneliti kegiatan religi di gabung dengan peringatan hari peringatan lain yang mana mengajak semua siswa berpartisipasi, ada lomba drama islami, bazar dan karya seni dan ceramah dari kyai atau ustad/ustadzah. Sehingga dalam acara itu tidak hanya ada penumbuhan rasa toleransi tetapi juga kecintaan pada agama dan empati kepada orang Berdasarkan data wawancara di atas dapat disimpulkan bahwa di SMA Negeri 1 Gondang sendiri memang mayoritas muslim sehingga sangat kental dengan nilai religius. Namun dalam menyeimbangkan toleransi antar agama, sekolah juga memfasilitasi untuk peserta didik dengan agama lain yaitu dengan adanya guru-guru dari masing-masing agama disana. Tujuan awal dari pembiasaan ini sendiri adalah untuk kita memberikan pengertian dan penguatan dasar pokok pada pesserta didik bahwa ajaran agama itu penting dalam keseharian mereka, dan nantinya kebiasaan-kebiasaan seperti baca sholawat, membaca yasin itu sudah tertanam sejak sekarang. Selain itu dengan di rutinkan hafalan surat dan membaca surat berulang-ulang akan menimbulkan kecintaan pada Al-Quran, bisa lancar membaca dan menghafalkanya karena terbiasa membacanya. Hal ini didukung oleh adanya penjelasan dalam wawancaranya yang menjelaskan bahwa mereka mengetahui kenapa sesuatu kegiatan pembiasaan itu dilakukan. Salah satunya adalah membungkuk atau mengucapkan permisi saat lewat adalah bentuk dari adab dan adat yang ada di lingkungan tersebut dan mengapa mereka menuntun motor ketika sampai di depan gerbang dan tidak boleh menyalakan mesin di dalam sekolah yaitu sebagai bentuk toleransi agar tidak menganggu yang lain dan mengurangi polusi di lingkungan sekolah adiwiyata tersebut. Dengan kata lain penyampaian yang diberikan sudah tersampaikan pada peserta didik dan mereka memahaminya. Moral Action Tindakan moral untuk tingkatan yang besar merupakan hasil atau outcome, dari dua bagian karakter lainnya. Apabila orang-orang memiliki kualitas moral kecerdasan dan emosi yang baru saja kita teliti maka mereka mungkin melakukan apa yang mereka ketahui dan mereka rasa benar. Meskipun demikian, ada masa ketika kita mungkin mengetahui apa yang harus kita lakukan, merasa apa yang harus kita lakukan, namun masih gagal untuk menterjemahkan pikiran dan perasaan kita kedalam tindakan. Untuk benar-benar memahami apa yang menggerakan seseorang untuk melakukan tindakan moral atau mencegah seseorang untuk tidak melakukannya, kita perlu memerhatikan tiga aspek karakter lainnya yaitu : Managerial: Jurnal Manajemen Pendidikan Islam Vol. 03 No. : Oktober ISSN: 3031-0695 Journal homepage https://ejournal. id/index. php/managerial/index Siti Khomsatin. Implementasi Metode Habituasi Dalam Menguatkan Karakter Religius Peserta Didik Di SMAN 1 Gondang Mojokerto kompetensi, keinginan dan kebiasaan (Thomas Lickona, 2013, hlm. Dalam moral Action ini perlu memahami bagaimana konsep pengimplementasian yaitu bagaimana tindakan yang dilakukan setelah suatu kebijakan ditetapkan menjadi cara agar sebuah kebijakan dapat mencapai tujuannya (Mulyadi, 2015, hlm. Berdasarkan wawancara yang dilakukan dapat ditarik kesimpulan bahwa pengaplikasian pembiasan ini melalui pendidikan agama Islam secara umum dan secara khususnya di dalam bagian kesiswaan ini kaitannya dalam kegiatan ekstrakulikuler yang disebut UKKI. Artinya dalam pelaksanaannya juga sudah sesuai karena ada wadah yang menjadi tempat khusus dalam pelaksanaannya. Peneliti juga menemukan bahwa pengaplikasian kegiatan ini melalui beberapa kegiatan yang memang dilakukan dengan berulang-ulang sebagaimana yang dikatakan Abdul Majid (Abdu Majid, 2020, hlm. Sebagaimana hasil wawancara peneliti dengan narasumber bahwa kegiatan tersebut yaitu berupa sholat dhuhur berjamaah dan sholat ashar berjamaah yang mana dijadikan sebagai kegioatan harian. Sedangkan kegiatan rutin yang dilakukan yaitu setiap Jumat, berupa kegiatan membaca yasin, dan kajian rutin jumat bagi perempuan dan yang beragama non Islam dan acara bulanan kegiatan SMAGO . ersolawat bersam. Peringatan Hari Besar Islam juga ada. Kalau pembiasaan adat yang dilakukan seperti sopan santun, kalau ketemu guru misalnya, bersalaman, senyum, kemudian akhlak berbicara dengan guru yang baik seperti apa, itu juga diterapkan di sini. Selain kegiatan diatas ada juga kegiatan lain yang dilakukan didalam pembelajaran kelas serta di dalam ekstrakulikuler. Kegiatan tersebut yaitu berupa Kewajiban hafalan 20 surah-surah pendek sebagai setoran pada guru PAI dari kelas 10 hingga kelas 12 dan kegiatan tersebut menjadi syarat kelulusan sehingga dalam memantau perkembangan hafalan peserta didik diberi buku khusus hafalan 20 surah pendek. Sedangkan bagi anggota UKKI yaitu mengaji BTQ serta kajian keilmuan yang dilakukan anggota UKKI di hari Jumat serta bagi anggota akan diberi jadwal kutbah dan jadwal Adzan. Kegiatan-kegiatan UKKI tersebut sudah ada jadwal dan petugasnya sendiri. Hasil penelitian diatas yang dipaparkan peneliti sesuai dengan teori Muhammad Ihsan Karmedi bahwa pendidikan karakter dilakukan dengan latihan-latihan yang mendorong siswa untuk bersikap moral terhadap Tuhan Yang Maha Esa, orang lain, dan lingkungannya, sehingga manjadi manusia yang insanul kamil (Karmedi. Firman, & Rusdinal, 2021, hlm. 44Ae. Dimana anak didorong untuk melaksanakan kewajiban beribadah kepada Tuhan dan tetap di pantau diberi motivasi serta diberi sarana dalam penguatan karakter yang baik. Sebagaimana dalam hasil wawancara bahwa peserta didik diberi wadah penyaluran minat, diberi guru pembimbing serta di dorong dan diawasi agar anak tetap konsisten dan komitmen dalam hal yang mereka tuju. Berdasarkan Teori Lickona. dalam Abdul Majid bahwa Pendidikan karakter melalui 3 tahap yaitu Moral Knowing. Moral Feeling dan Moral Doing/ Managerial: Jurnal Manajemen Pendidikan Islam Vol. 03 No. : Oktober ISSN: 3031-0695 Journal homepage https://ejournal. id/index. php/managerial/index Siti Khomsatin. Implementasi Metode Habituasi Dalam Menguatkan Karakter Religius Peserta Didik Di SMAN 1 Gondang Mojokerto Moral Action (Abdul Majid, 2017, hlm. 112Ae. Maka tahap akhir ini menjadi kunci dari dua tahap sebelumnya sehingga dalam pelaksanaanya perlu adanya kerjasama dari banyak pihak sebagaimana yang terjadi di SMAN 1 Gondang yaitu Kebijakan kepala sekolah, program kesiswaan Guru-guru di sekolah serta warga sekolah lainnya. Salah satunya sebagai wadah bentuk toleransi di sekolah. Dari hasil penelitian peneliti di atas maka dapat disimpulkan bahwa Pendidikan karakter dengan melalui pembiasaan di SMAN 1 Gondang dang sudah baik karena sesuai dengan teori yang di paparkan oleh John Thomas Lickona yaitu melalui 3 tahap yaitu moral knowing, moral feeling dan moral doing/ moral action. Implementasi habituasi meliputi tiga tahap sesuai teori Lickona: Moral Knowing: siswa diberi pemahaman tentang pentingnya ibadah dan akhlak mulia. Moral Feeling: siswa didorong untuk memiliki kecintaan terhadap nilainilai religius melalui motivasi guru dan kegiatan keagamaan. Moral Action: siswa dibiasakan untuk melaksanakan praktik religius seperti sholat berjamaah, tadarus, dan kegiatan sosial. Kegiatan habituasi meliputi: Harian: sholat berjamaah, tadarus Al-QurAoan, hafalan surat pendek, sopan santun 3S . enyum, salam, sap. Mingguan: kajian keagamaan, sholat Jumat. Bulanan: Semango Sholawat. Tahunan: peringatan hari besar Islam, lomba religius. Tabel 1 Program Habituasi di SMAN 1 Gondang Mojokerto Jenis Kegiatan Contoh Program Tujuan Harian Sholat dhuha, dhuhur berjamaah, tadarus, doa sebelum belajar, 3S . enyum, salam, sap. Membiasakan ibadah dan sikap religius Mingguan Kajian keagamaan, sholat Jumat berjamaah Memperdalam pemahaman agama Bulanan Semanggo Bersholawat Meningkatkan kecintaan terhadap Rasulullah SAW Tahunan Peringatan hari besar Islam, lomba tahfidz, festival seni Islami Memperkuat nilai religius dan budaya Islami Managerial: Jurnal Manajemen Pendidikan Islam Vol. 03 No. : Oktober ISSN: 3031-0695 Journal homepage https://ejournal. id/index. php/managerial/index Siti Khomsatin. Implementasi Metode Habituasi Dalam Menguatkan Karakter Religius Peserta Didik Di SMAN 1 Gondang Mojokerto Implikasi Metode Habituasi dalam menguatkan Karakter Religius Peserta Didik di SMAN 1 Gondang Implementasi dapat diartikan sebagai proses penerapan, pelaksanaan ataupun pemberlakuan suatu kegiatan yang sebelumnya memang sudah Oleh karena itu dalam pelaksanaannya tentu memiliki implikasi atau dampak yang ditinggalkan dari pelaksanaan tersebut. Implikasi yang dimaksud dalam imoplementasi metode habitusi diantaranya respon, kendala dan solusi nya sebagai berikut: Respon Implementasi Metode Habituasi dalam menguatkan Karakter Religius Peserta Didik di SMAN 1 Gondang Dalam penerapan sebuah program maupun kegiatan tentunya akan ada timbal balik dari objek yang diinginkan seperti respon maupun tanggapan dari objek. Sebagiamana implementasi pendidikan karakter melalui Berdasarkan hasil dari wawanca ra yang peneliti dapatkan dapat disimpulkan bahwa setelah adanya penerapan dari pembiasaan di SMAN 1 Gondang, ada beberapa respon yang di hasilkan. Berdasarkan hasil penelitian dari peneliti bahwa respon yang didapatkan dari peserta didik, respon peserta didik yang berbeda-beda karena latar belakang mereka yang berbeda. Ada yang pro dan ada yang kontra yaitu ada sebagian yang memang sudah terbiasa dengan kegiatan pembiasaan sebagaimana yang ada di lingkungan SMAN 1 Gondang dikarenakan lingkungan mereka yang juga agamis. Sehingga mereka tidak keberatan dengan kegiatan yang ada dan justru menjadi ajang mereka Sedangkan yang kontra adalah peserta didik yang berlatar belakang lingkungan yang kurang agamis atau memang lingkungan pertemanannya yang tidak mendukung dalam melakukan kegiatan religius, sehingga habituasi yang dilakukan di SMAN membuat anak tersebut belum terbiasa. Respon yang didapatkan dari implementasi berbeda beda tergantung dari beberapa faktor sesuai yang disebutkan kapioru yaitu berdasarkan . Kondisi lingkungan . nvironmental condition. , . Hubungan antar organisasi . nter-organizational relationshi. , . Sumber daya . , . Karakter institusi implementor . haracteristic implementing agencie. Sehingga perlu adanya evaluasi lanjut dalam menentukan car penyampaian yang sesuai agar anak-anak dapat menerimanya (Kapioru, 2. Namun berdasarkan hasil wawancara diatas peneliti juga menyimpulkan bahwa saat pertama masuk tahun ajaran baru jika diberikan peraturan-peraturan rata-rata peserta didik bisa beradaptasi mengikuti dan mentaati peraturan yang ada. Dengan begitu hanya anak-anak yang kurang mampu menerima ataupun kontra dengan peraturan dan kebiasaan yang ada yang akan mendapatkan bimbingan khusus. Dampak pada implementasi Metode Habituasi dalam menguatkan karakter religius peserta didik di SMAN 1 Gondang. Berdasarkan Glock dan Stark dalam Subandi, terdapat lima dimensi atau unsur teologis, yaitu: (Subandi, 2019, hlm. 87Ae. Religius Belief Managerial: Jurnal Manajemen Pendidikan Islam Vol. 03 No. : Oktober ISSN: 3031-0695 Journal homepage https://ejournal. id/index. php/managerial/index Siti Khomsatin. Implementasi Metode Habituasi Dalam Menguatkan Karakter Religius Peserta Didik Di SMAN 1 Gondang Mojokerto (Dimensi Keyakina. yaitu dimana adalam tingkatan ini menunjukan seberapa dalam seseorang menerima dogma dari sebuah agama. Amalan Keagamaan (Lamanya Melaksanakan Tuga. Sentimen Spiritual (Tingkat Pengakuan yaitu dimensi pengalaman dan penghayatan keagamaan. Pengetahuan Keagamaan (Dimensi Pengetahua. yaitu Efek Religius (Dimensi Perilak. Dimensi ini mengukur sejauh mana ajaran agama mempengaruhi perilaku individu dalam konteks sosial. Maka peneliti menyimpulkan bahwa dari hasil penelitian ditemukan bahwa peserta didik sudah mampu menyerap bahkan menguatkan karaker religius dalam Hal tersebut dapat dilihat dari kegiatan adzan yang rutin dilakukan oleh anggota UKKI dan sholat anak2 rajin terbukti dengan tidak adanya teguran yang berlanjut hingga pemanggilan orang tua peserta didik. Dampak lain yang dapat dilihat adalah semakin semangatnya anak-anak dan disiplin dalam menjalankan ibadah sehari-hari di lingkungan sekolah. Kendala Implementasi Metode Habituasi dalam Menguatkan menguatkan karakter religius peserta didik di SMAN 1 Gondang. Dalam melaksanakan sebuah kegiatan tentunya memiliki tantangan atau kendala tersendiri dikarenakan faktor-faktor yang mengelilinginya. Berdasarkan faktor menurut (Kapioru, 2014, hlm. tersebut maka muncullah beberapa kendala dalam pelaksanaannya yaitu : Pertama, dari kesadaran diri siswa sendiri, siswa pasti masih banyak yang perlu dikoreksi, dari segi prakteknya, maupun kesiplinan waktu sholat. Jadi harus diingatkan. terutama untuk sholat Jumat kan, itu yang sering menjadi PR, kadang masih ada yang sembunyi di kelas dan sebagainya. Kedua, kurangnya motivasi, hal ini dikarena anak-anak berasal dari keluarga yang berbeda, ada yag memang broken home, ada yang memang lingkungannya bukan lingkungan yang agamis. Ketiga, lingkungan sekitar, kadang itu memang ada anak-anak yang lingkungan circle-nya itu memang malas kemudian bertemu dengan teman-temannya yang malas. ke empat adalah tempat kelas yang jauh dibelakang menjadi salah satu dari alasan siswa dalam menjalankan pembelajaran dan ibadah. Berdasarkan dari kendala-kendala yang dipaparkan diatas sekolah berupaya mengatasi kendala-kendala yang ada. Salah satunya, dalam upaya mengatasi pengaruh lingkungan sekolah sudah melakukan komunikasi dengan wali murid melalui wali kelas masing-masing meskipun tidak melakukan pemantauan secara khusus. Evaluasi pada implementasi Metode Habituasi dalam menguatkan karakter religius peserta didik di SMAN 1 Gondang. Dalam menghadapi kendala ketika menerapkan pembiasaan yang telah menjadi program sekolah maka guru-guru di SMAN 1 Gondang melakukan evaluasi disetiap minggunya. Sebagaimana hasil penelitian yang didapat bahwa untuk evaluasi kegiatan itu dilakukan sebulan sekali, namun untuk kegiatan yang berupa kegiatan mingguan seperti kegiatan setiap jumat itu Managerial: Jurnal Manajemen Pendidikan Islam Vol. 03 No. : Oktober ISSN: 3031-0695 Journal homepage https://ejournal. id/index. php/managerial/index Siti Khomsatin. Implementasi Metode Habituasi Dalam Menguatkan Karakter Religius Peserta Didik Di SMAN 1 Gondang Mojokerto dilakukan setiap hari senin ketika upacara. Dalam evaluasi setiap minggu itu dilakukan berdasarkan pada absen yang dilakukan di setiap kegiatannya. Hal tersebut sesuai dengan apa yang dikatakan Arief bahwa agar pembiasaan berhasil dan membuahkan hasil positif, harus memenuhi sejumlah syarat yaitu : . Membangun kebiasaan tersebut sejak dini untuk mencegah siswa mengembangkan kebiasaan buruk lainnya sebelum menjadi terbiasa dengan perilaku baru tersebut. Kebiasaan itu harus terus berlanjut yaitu, harus sering diulang hingga akhirnya menjadi otomatis. Pendidikan harus konsisten, tegas, dan teguh pendiriannya. Jangan berikan siswa kesempatan untuk menghentikan kebiasaan yang sudah . Pada mulanya kebiasaan-kebiasaan mekanistik perlu diubah secara bertahap menjadi kebiasaan-kebiasaan yang diiringi oleh hati nurani siswa itu sendiri (Ahsanulkhaq, 2019, hlm. Berdasarkan hasil penelitian bahwa di SMA Negeri 1 Gondang sudah menerapkan sesuai apa yang dikatakan Arief (Ahsanulkhaq, 2019, hlm. sehingga dalam pembentukan karakter melalui pembiasaan civitas akademik SMAN juga melakukan pengawasan dan pengawalan dalam setiap kegiatan. Hal itu dibuktikan dengan pernyataan siswa terkait adanya guru piket serta siswa yang bertugas piket menjaga di depan gerbang ketika kegiatan yang diprogramkan sekolah berlangsung, tujuannya agar siswa-siswa tidak ada yang keluar. Selain itu guru agama juga turut andil dalam mengajarkab kebiasaan pada siswa dengan konsekuensi pada nilai, apabila mereka tidak disiplin dan tidak mengikuti kegiatan pembiasaan tersebut terutama kegiatan keagamaan. Selain beberapa hal di atas ada Sanksi lain yang diberikan seperti dipanggil ke podium saat upacara, di beri bimbingan khusus, membeli AlQuran sebagai denda, menghafal surat pendek dan surah lainnya, menulis ulang yasin hingga sanksi terberat dipanggil orang tua dari peserta didik. Berdasarkan wawancara yang didapat bahwa Sanksi yang diberikan sudah cukup efektif karena belum ada yang sampai mendapatkan sanksi terberat yaitu sanksi di panggil orang tua nya ke sekolah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa habituasi berkontribusi besar terhadap penguatan karakter religius siswa. Dibandingkan dengan penelitian sebelumnya, hasil ini memiliki kemiripan dan perbedaan yang . Penelitian (Ahsanulkhaq, 2. : pembiasaan 3S dan sholat berjamaah efektif menumbuhkan religiusitas di SMP, serupa dengan temuan di SMAN 1 Gondang. Penelitian (Fajarwatiningtyas. Akbar, & Ishaq, 2. : habituasi menguatkan kemandirian siswa, sedangkan penelitian ini lebih menekankan aspek religius. Penelitian(Subandi, 2. : religiusitas mencakup dimensi keyakinan, pengalaman, dan praktik. Hasil penelitian ini membuktikan semua dimensi terealisasi melalui habituasi. Managerial: Jurnal Manajemen Pendidikan Islam Vol. 03 No. : Oktober ISSN: 3031-0695 Journal homepage https://ejournal. id/index. php/managerial/index Siti Khomsatin. Implementasi Metode Habituasi Dalam Menguatkan Karakter Religius Peserta Didik Di SMAN 1 Gondang Mojokerto Tabel 2. Perbandingan dengan Penelitian Terdahulu Peneliti Ahsanulkhaq Fajarwatiningtyas et al. Subandi . Fokus Penelitian Hasil Utama Relevansi dengan Penelitian Ini Sama-sama habituasi ibadah Pembiasaan 3S dan Membentuk Pembiasaan karakter mandiri Membentuk Habituasi juga berpengaruh pada Dimensi Meliputi Semua dimensi tercapai di SMAN 1 Gondang Temuan penelitian menunjukkan bahwa habituasi efektif dalam memperkuat karakter religius siswa. Hal ini sejalan dengan penelitian (Ahsanulkhaq, 2. yang menemukan bahwa pembiasaan religius seperti 3S, tadarus, dan sholat berjamaah dapat menumbuhkan kepribadian religius siswa secara berkelanjutan. Penelitian (Fajarwatiningtyas dkk. , 2. juga menegaskan bahwa pembiasaan mampu membentuk karakter mandiri dan religius ketika dilakukan secara konsisten. Kegiatan habituasi di SMAN 1 Gondang sejalan dengan teori Lickona . yang menekankan integrasi moral knowing, moral feeling, dan moral Selain itu, dukungan guru sebagai teladan berperan penting dalam keberhasilan program habituasi, sebagaimana ditegaskan oleh Majid . bahwa keteladanan adalah aspek kunci dalam pendidikan berbasis Kendala yang ditemukan, seperti rendahnya motivasi siswa dan pengaruh lingkungan, menunjukkan perlunya kolaborasi antara sekolah, keluarga, dan masyarakat. Hal ini sejalan dengan pendapat (Agus Fitri, 2020, 87Ae. bahwa pendidikan karakter membutuhkan sinergi tiga pilar: keluarga, sekolah, dan lingkungan sosial. KESIMPULAN Implementasi metode habituasi di SMAN 1 Gondang Mojokerto dilakukan melalui kegiatan harian, mingguan, bulanan, dan tahunan yang terstruktur dan konsisten. Penerapan habituasi terbukti efektif dalam membentuk karakter religius siswa melalui integrasi aspek kognitif, afektif, dan Implikasinya adalah meningkatnya ketaatan ibadah, sikap religius, serta solidaritas sosial siswa. Namun demikian, masih terdapat kendala berupa rendahnya motivasi dan pengaruh lingkungan luar sekolah. Oleh karena itu, perlu adanya dukungan berkelanjutan dari guru, keluarga, dan masyarakat agar habituasi dapat memberikan dampak jangka panjang Managerial: Jurnal Manajemen Pendidikan Islam Vol. 03 No. : Oktober ISSN: 3031-0695 Journal homepage https://ejournal. id/index. php/managerial/index Siti Khomsatin. Implementasi Metode Habituasi Dalam Menguatkan Karakter Religius Peserta Didik Di SMAN 1 Gondang Mojokerto DAFTAR PUSTAKA