JURNAL AKUTANSI. AUDIT DAN SISTEM INFORMASI AKUTANSI (JAS. Vol. No. Juni 2017 PENGARUH BUDAYA ORGANISASI DAN PENGENDALIAN INTERNAL TERHADAP KUALITAS SISTEM INFORMASI AKUNTANSI MANAJEMEN (STUDI PADA DINAS PENANAMAN MODAL DAN PELAYANAN TERPADU SATU PINTU KOTA BANDUNG) Oleh: Ria Rahmawati Mahasiswa Jurusan Akuntansi FE Universitas Langlangbuana Email : ria. rahma19@gmail. Abstrak Keberhasilan penerapan sistem informasi tidak bisa diukur hanya dengan efisiensi dalam hal meminimalkan informasi biaya, namun keberhasilan harus diukur dengan budaya organisasi. Budaya organisasi adalah seperangkat nilai yang diakui oleh semua pemangku kepentingan di perusahaan. Pada dasarnya peranan penting pengoprasian sistem akan menjadi masalah dalam situasi pengendalian internal seperti kelemahan perangkat lunak, kesalahan dan kelalaian memasukkan data yang akan sulit diprediksi. Oleh karena itu, diperlukan suatu sistem informasi akuntansi manajemen yang handal. Dengan budaya organisasi bermutu akan menghasilkan sistem informasi akuntansi manejemen yang berkualitas sehingga menciptakan pengendalian internal yang optimal. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa budaya organisasi dan pengendalian internal terhadap kualitas sistem informasi akuntansi manajemen sudah baik pada Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu Kota Bandung. Data yang diperoleh dengan menyebarkan kuesioner kepada 38 responden. Budaya organisasi berpengaruh signifikan terhadap kualitas sistem informasi akuntansi manajemen dan pengendalian internal berpengaruh signifikan terhadap kualitas sistem informasi akuntansi manajemen. Kata Kunci : Budaya Organisasi. Pengendalian Internal. Kualitas Sistem Informasi Akuntansi Manajemen. Abstrack A successful implementation of information systems can not be measured only by efficiency in terms of minimizing cost information, but success should be measured by organizational culture. Organizational culture is a set of values recognized by all stakeholders in the company. Basically, the important role of operating systems will be a problem in internal control situations such as software weaknesses, errors and negligence of entering data that can be unpredictable. Therefore, a reliable accounting management information system is required. With good quality organization culture, will come a good quality accounting management information systems that create optimal internal control. The results of this study indicate the influence of organizational culture and internal control at Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu. Data obtained by distributing questionnaires to 38 respondents. Organizational culture has a significant effect on the management accounting information system quality and internal control has a significant effect on the management accounting information system quality. Keywords : Organizational Culture. Internal Control. Management Accounting Information System Quality JURNAL AKUTANSI. AUDIT DAN SISTEM INFORMASI AKUTANSI (JAS. Vol. No. Juni 2017 PENDAHULUAN Suatu organisasi memerlukan satu budaya yang merupakan kumpulan persepsi secara umum dari seluruh karyawan sebagai anggota organisasi. Pada umumnya, didalam suatu organisasi, yang menjadi budaya penentu atau yang memberi nilai utama . ore valu. adalah budaya yang dominan dari seluruh budaya yang dimiliki karyawan, yang diserap dari mayoritas anggota organisasi. Hal ini menggambarkan budaya secara makro yang dihasilkan suatu organisasi, dan secara khusus menggambarkan tentang suatu kepribadian . yang ada di dalam suatu organisasi (Manahan P. Tampubolon, 2012:. Senada dengan pendapat diatas Irham Fahmi . menyatakan bahwa budaya organisasi akan sangat berbeda dari satu perusahaan dengan perusahaan lain. Suatu kebiasaan yang telah berlangsung lama dan dipakai serta diterapkan dalam kehidupan aktivitas kerja sebagai salah satu pendorong untuk meningkatkan kualitas kerja para karyawan dan manajer perusahaan. Menurut Ernie Tisnawati & Kurniawan Saefullah . bahwa tidak setiap budaya organisasi harus dipertahankan. Adakalanya budaya organisasi justru harus diubah. Tetapi, seorang manajer perlu memahami benar budaya organisasi mana yang harus dipertahankan dan mana yang harus diubah. Pernyataan tersebut kemudian dipertegas oleh Alois A Nugroho . mengungkapkan bahwa perubahan budaya haruslah dimulai dari puncak karena mereka itulah yang perilakunya menjadi anutan dan teladan. Apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan dipelajari para anak buah dari atasan mereka. Atasan harus AymementaskanAy nilai dan budaya organisasi. ThereAos no business thatAos not a show Valery G. Kumaat . mengungkapkan bahwa pada dasarnya setiap pelaku bisnis Aoyang baikAo dari masa ke masa pasti memiliki kesadaran akan pentingnya Aupengendalian internalAy agar dapat sejalan dengan tujuan bisnis itu dan siap menghadapi peluang dan tantangan diluar institusi maupun di waktu mendatang. Alasan utama pengendalian untuk memberikan jaminan yang realistis bahwa tujuan setiap aktivitas perusahaan akan dicapai. Menghilangkan resiko terjadinya pelanggaran, bahaya, kehilangan yang disebabkan oleh kerugian, penyalahgunaan, dan aktivitas merugikan (Azhar Susanto, 2004:. Pada kenyataannya, pengendalian intern yang diterapkan masih ditemukan adanya kecurangan-kecurangan yang dilakukan secara sengaja dan tidak sengaja dalam memasukan kode atau ketidaktelitian (Lilis Puspitawati & Sri Dewi Anggadini, 2011:. Sumber informasi berasal dari berbagai sistem pengolahan data yang ada di suatu organisasi. Sistem informasi sebagai kumpulan dari subsistem apapun baik fisik maupun non fisik yang saling berhubungan satu sama lain dan bekerja sama secara harmonis untuk mencapai satu tujuan yaitu mengolah data menjadi infomasi yang berarti dan berguna (Azhar Susanto, 2004:. Menurut Kautsar Riza Salman & Mochammad Farid . bahwa sistem informasi akuntansi manajemen adalah sistem informasi yang menghasilkan keluaran . menggunakan masukan . dan berbagai proses yang diperlukan untuk memenuhi tujuan tertentu manajemen. Proses dideskripsikan melalui berbagai kegiatan seperti pengumpulan, pengukuran, penyimpanan, analisis, pelaporan, dan pengelolaan informasi. Keluaran mencakup laporan khusus, harga pokok produksi, biaya pelanggan, anggaran, laporan kinerja, dan komunikasi personal. Fenomena yang terjadi mengungkapkan bahwa Laporan Keuangan Pemerintah terus memburuk menggambarkan bahwa perbaikan sistem keuangan negara belum terjadi secara menyeluruh pada semua departemen/lembaga negara. Belum ada kesungguhan dan upaya yang mendasar, petunjuk maupun program terpadu dari pemerintah (Anwar Nasution, 2. Karena itu sistem informasi akuntansi manajemen dapat membantu manajer dalam pengendalian aktivitas dan pengurangan ketidakpastian sehingga JURNAL AKUTANSI. AUDIT DAN SISTEM INFORMASI AKUTANSI (JAS. Vol. No. Juni 2017 diharapakan dapat membantu perusahaan pencapaian tujuan (Karsiati dan Maskudi. Berdasarkan latar belakang penelitian di atas, maka tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui : Pengaruh budaya organisasi terhadap kualitas sistem informasi akuntansi Pengaruh pengendalian internal terhadap kualitas sistem informasi akuntansi KAJIAN PUSTAKA Budaya Organisasi Budaya merupakan unsur lain yang menjadi perekat hubungan sosial yang memadukan suatu organisasi sehingga bersatu. Budaya merupakan lingkungan . sehariAehari yang terlihat dan dirasakan oleh mereka yang bekerja Budaya juga menggambarkan bagaimana sumber daya manusia belajar untuk melakukan sesuatu dalam organisasi, ini merupakan bagaimana kebiasaan SDM di suatu perusahaan dan apa yang sebenarnya terjadi di perusahaan tersebut. Budaya memberi setiap organisasi ciri dan arti (Azhar Susanto, 2004:. Karenanya menurut Wibowo . dapat diharapkan bahwa individu dengan latar yang berbeda atau pada tingkat yang berbeda dalam organisasi akan cenderung menjelaskan budaya organisasi dengan terminologi yang sama. Namun, hal tersebut tidak berarti bahwa dalam suatu organisasi hanya terdapat satu budaya tunggal. Peranan dan Fungsi Budaya Organisasi Budaya menjalankan sejumlah fungsi di dalam sebuah organisasi. Pertama, budaya mempunyai suuatu peran menetapkan tapal batas. artinya, budaya menciptakan pembedaan yang jelas antara satu organisasi dan yang lain. Kedua, budaya membawa suatu rasa identitas bagi anggota-anggota organisasi. Ketiga, budaya mempermudah timbulnya komitmen pada sesuatu yang lebih luas daripada kepentingan diri pribadi seseorang. Keempat, budaya itu meningkatkan kemantapan sistem sosial. Budaya merupakan perekat sosial yang membantu mempersatukan organisasi itu dengan memberikan standarAestandar yang tepat untuk apa yang harus dikatakan dan dilakukan oleh para karyawan (Robbins, 2006:. Dimensi Budaya Organisasi Menurut Robbins . yang merupakan hakikat dari budaya suatu organisasi adalah : Inovasi dan pengambilan risiko. Sejauh mana para karyawan didorong untuk inovatif dan mengambil risiko. Perhatian ke rincian. Sejauh mana para karyawan diharapkan memperlihatkan presisi . , analisis, dan perhatian kepada rincian. Orientasi hasil. Sejauh mana manajemen memusatkan perhatian pada hasil bukannya pada teknik dan proses yang digunakan untuk mencapai hasil itu. Orientasi orang. Sejauh mana keputusan manajemen memperhitungkan efek hasilAehasil pada orangAeorang di dalam organisasi itu. Orientasi tim. Sejauh mana kegiatan kerja diorganisasikan sekitar timAetim, bukannya individuAeindividu. Keagresifan. Sejauh mana orangAeorang itu agresif dan kompetitif dan bukannya santaiAesantai. Kemantapan. Sejauh mana kegiatan organisasi menekankan dipertahankannya status quo daripada pertumbuhan JURNAL AKUTANSI. AUDIT DAN SISTEM INFORMASI AKUTANSI (JAS. Vol. No. Juni 2017 Maka dapat dikatakan bahwa pengukuran budaya organisasi pada penelitian ini menggunakan dimensi primer. Pengendalian Internal Pengendalian merupakan proses untuk meyakinkan bahwa hasil yang dicapai sesuai dengan rencananya. Dengan pengendalian, manajemen dapat mengenali masalah yang muncul untuk kemudian memberi penghargaan Pengendalian didasarkan pada konsep management by exception. Ini adalah konsep yang menyatakan bahwa perhatian managemen seharusnya diarahkan kepada prestasi yang menyimpang secara signifikan dari rencala semula (Slamet Sugiri, 2015:. Kemudian menurut Siti Kurnia dan Ely Suhayati . pengendalian intern adalah suatu proses, yang dipengaruhi oleh dewan komisaris, manajemen, dan personel lainnya dalam suatu entitas, yang dirancang untuk memberikan keyakinan memadai guna mencapai tujuan Ae tujuan seperti berikut: . Keandalan pelaporan keuangan . Menjaga kekayaan dan catatan organisasi . Kepatuhan terhadap hukum dan peraturan . Efektivitas dan efisiensi operasi. Dua pengelompokkan luas pengendalian sistem informasi, yaitu: Pengendalian umum (General Control. Pengendalian umum biasanya mencakup pengendalian atas operasi pusat data, perolehan dan pemeliharaan perangkat lunak sistem, keamanan akses, pengembangan dan pemeliharaan sistem aplikasi. Pengendalian umum ini meliputi: Struktur organisasi yang memenuhi kaidah pengendalian . Pengendalian terhadap pengembangan sistem dan dokumentasi . Hardware dan Software Controls . Access Controls & Data Controls. Contonya penggunaan online access password system. Pengendalian Aplikasi (Application Control. Pengendalian aplikasi berlaku untuk pengolahan aplikasi secara individual. Pengendalian ini membantu menetapkan bahwa transaksi adalah sah, sudah diotorisasi dan diolah secara lengkap dan akurat yang meliputi : Data Input Controls . Data Processing Controls . Output Controls Berdasarkan pengelompokkan luas diatas merupakan pengukuran dimensi pada penelitian ini. Sistem informasi Akuntansi Manajemen Hansen & Mowen . menyatakan bahwa sistem yang menghasilkan keluaran . dengan menggunakan masukan . dan berbagai proses yang diperlukan untuk memenuhi tujuan tertentu manajemen. Inti dari suatu sistem informasi akuntansi manajemen dan dipergunakan untuk mengubah masukan menjadi keluaran yang memenuhi tujuan suatu system. Tujuan sistem tersebut sebagai berikut : Menyediakan informasi yang dipergunakan dalam penghitungan harga pokok jasa, produk, dan tujuan lain yang diinginkan manajemen. Menyediakan informasi yang dipergunakan dalam perencanaan, pengendalian, pengevaluasian, dan perbaikan berkelanjutan. Menyediakan informasi untuk pengambilan keputusan. Chenhall dan Morris . dalam Arsono dan Muslichah . mengidentifikasikan empat karakteristik sistem informasi akuntansi manajemen (SIAM) terdiri dari: broad scope, aggregation, integration, timeliness. Broad Scope (Cakupan yang lua. JURNAL AKUTANSI. AUDIT DAN SISTEM INFORMASI AKUTANSI (JAS. Vol. No. Juni 2017 Didalam sistem informasi, broad scope mengacu kepada dimensi fokus, kuantifikasi, dan horison waktu dan lingkup Sistem Akuntansi Manajemen yang luas akan memberikan estimasi tentang kemungkinan terjadinya peristiwa di masa yang akan datang didalam ukuran probabilitas. Timeliness (Tepat Wakt. Kemampuan para manajer untuk merespon secara cepat atas suatu peristiwa kemungkinan dipengaruhi oleh timeliness Sistem Akuntansi Manajemen. Informasi yang timeliness meningkatkan fasilitas Sistem Akuntansi Manajemen untuk melaporkan peristiwa paling akhir dan untuk memberikan umpan balik secara cepat terhadap keputusan yang telah dibuat. Aggregation (Pengumpula. Sistem akuntansi manajemen memberikan informasi dalam berbagai bentuk agregasi yang berkisar dari pemberian bahan dasar, data yang tidak diproses hingga berbagai agregasi berdasarkan periode waktu atau area tertentu misalnya pusat pertanggungjawaban atau fungsional. Integration (Kesatuan Informas. Aspek pengendalian suatu organisasi yang penting adalah koordinasi berbagai segmen dalam subAesub organisasi. Karakteristik Sistem Akuntansi Manajemen yang membantu koordinasi mencakup spesifikasi target yang menunjukkan pengaruh interaksi segmen dan informasi mengenai pengaruh keputusan pada operasi seluruh subunit organisasi. Karakteristik diatas merupakan dimensi sistem informasi akuntansi manajemen pada penelitian ini. Pengaruh Budaya Organisasi terhadap Kualitas Sistem Informasi Akuntansi Manajemen. Penelitian membuktikan pengaruh budaya organisasi terhadap sistem informasi akuntansi manajemen dilakukan oleh Annisha Pratiwi . , dalam penelitiannya menyatakan bahwa seiring dengan semakin dibutuhkannya informasi, kebutuhan informasi juga berlaku dalam setiap organisasi. Keberhasilan pelaksanaan sistem informasi tidak dapat diukur hanya dengan Kemudian hasil penelitian dari Meida Maryana . , menyatakan bahwa budaya organisasi berpengaruh terhadap sistem informasi akuntansi dengan arah positif. Artinya dengan semakin sesuai budaya yang diterapkan dalam organisasi akan membuat sistem informasi akuntansi semakin baik dan keseluruhan sudah mendukung. Pengendalian Internal terhadap Kualitas Sistem Informasi Akuntansi Manajemen. Penelitian Rima Rachmawati . menyatakan bahwa informasi akuntansi manajemen berkualitas dihasilkan dari sistem informasi yang berkualitas. Pengendalian intern dapat meningkatkan kualitas sistem informasi akuntansi Pada dasarnya pengendalian intern adalah metode, kebijakan dan prosedur yang dirancang untuk memberikan jaminan atas tercapainya efisiensi dan efektivitas operasional, kehandalan laporan keuangan, pengamanan asset, ketaatan/kepatuhan terhadap undang-undang kebijakan dan peraturan lainnya. Agar pelaksanaan sistem informasi dapat mencapai tujuannya yaitu menghasilkan informasi yang berkualitas maka diperlukan alat/pengaman yang menjamin terealisasinya tujuannya tersebut adalah pengendalian intern. METODE PENELITIAN Data yang diperoleh melalui penelitian itu adalah data empiris . yang menggunakan kriteria tertentu yaitu valid. Valid menunjukan derajad ketepatan antara data yang sesungguhnya terjadi pada objek dengan data yang dapat dikumpulkan oleh JURNAL AKUTANSI. AUDIT DAN SISTEM INFORMASI AKUTANSI (JAS. Vol. No. Juni 2017 Pada umumnya kalau data itu reliabel dan objektif, maka terdapat kecenderungan data tersebut akan valid (Sugiyono, 2014:. Selanjutnya menurut Elvinaro . dalam melakukan penelitian ini metode yang digunakan adalah penelitian descriptiveAeverifikatif. Menjelaskan bahwa hubungan antar aspek yang diamati dan bukan hanya sekedar descriptive, namun juga dalam bentuk penelitian verifikatif yang digunakan untuk menguji hipotesis yang menggunakan perhitungan-perhitungan statistik (Erlina dan Sri Mulyani, 2007:. Dalam penelitian kuantitatif, populasi diartikan sebagai wilayah generalisasi yang terdiri atas objek/subjek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya. Populasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah karyawan Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Kota Bandung sejumlah 47 karyawan. Structural Equation Modeling (SEM) dengan penaksiran PLS (Partial least Squar. akan digunakan dalam penelitian ini untuk menguji hipotesis penelitian. Teknik analisis statistika (SEM) tersebut digunakan karena adanya hubungan kausal antar variabel dan setiap variabelnya unobserved. Menurut Hair et al . , ukuran sampel minimal untuk SEM-PLS dapat ditentukan dengan cara penentuan ukuran sampel minimal dengan Power Analysis. Lebih lanjut Hair et al . merekomendasikan beberapa ukuran sampel minimal yang dapat diambil untuk SEM-PLS dengan berbagai tingkat signifikansi 5%, jumlah arah panah menunjuk ke arah konstruk berjumlah 3 dan R2 = 0. 5, maka sampel minimal yang diambil sebesar 38 orang. Uji Validitas Uji validitas bertujuan untuk menentukan apakah kuesioner yang digunakan dalam penelitian dapat mengukur atribut yang dimaksud. Sebuah instrument dikatakan valid apabila dapat mengungkapkan data dari variabel yang diteliti secara tepat dan mempunyai validitas tinggi. Untuk menguji validitas dapat dihitung korelasi anatara masing Ae masing pertanyaan skor total dengan teknik korelasi Product Moment dari Pearson dalam (Sugiyono, 2008:. (Oc ) (Oc )(Oc ) { (Oc ) (Oc ) } {( Oc ) (Oc ) } Keterangan : r = koefisien korelasi pearson product moment rxy = koefisien korelasi n = Jumlah responden uji coba OcX = Jumlah skor tiap item X OcY = Jumlah skor tiap item X OcXY = Jumlah hasil kali skor X dan Y Setelah menghitung rhitung, selanjutnya bandingkan rhitung dengan rtabel dengan tingkat signifikansi 5%. Jika rhitung > rtabel = instrument penelitian valid, sebaliknya jika rhitung O rtabel = instrumen penelitian tidak valid. Suatu pernyataan dikatakan valid dan dapat mengukur variabel penelitian yang dimaksud jika nilai koefisien validitasnya lebih dari atau sama dengan 0,50 (Imam Ghozali 2016:. Uji Reliabilitas Menurut Sugiyono . mengatakan bahwa pengujian reliabilitas instrument secara internal dapat dilakukan dengan menggunakan rumus CronbahAos Alpha, dengan model matematisnya adalah sebagai berikut : Oc 1Oe Oe1 JURNAL AKUTANSI. AUDIT DAN SISTEM INFORMASI AKUTANSI (JAS. Vol. No. Juni 2017 Keterangan : R11 = Reliabilitas instrumen K = Banyaknya butir pertanyaan OcEb2 = Jumlah varians butir Et2 = Varians total dari keseluruhan item Uji reliabilitas digunakan untuk menunjukkan sejauh mana hasil pengukuran telah konsisten apabila dilakukan dua kali atau lebih terhadap gejala yang sama teknik CronbahAos Alpha sebagai koefisien reabilitas yang mengidentifikasikan kelayakan antara yang satu dengan yang lain. Suatu variabel dinyatakan reliable jika memberikan nilai CronbahAos Alpha > 0,60 (Sekaran, 2. Dalam penelitian ini dilakukan dengan dua jenis analisis untuk memperoleh hasil yang sesuai dengan tujuan penelitian, yaitu : Analisis deskriptif untuk menjelaskan karakteristik variabel yang diteliti guna mendukung pemecahan masalah untuk memperoleh sara secara operasional. Analisis melalui permodelan persamaan structural (Struktural Equation Modeling AeSEM) agar dapat menjawab rumusan masalah dan menjawab hipotesis. Variabel dalam penelitian ini yaitu implementasi pengaruh teknologi informasi dan budaya organisasi terhadap kualitas sistem informasi akuntansi manajemen diuji dengan pengajuan hipotesis yang termasuk kedalam model Dalam penelitian ini terdapat dua hipotesis dan diuji dengan menggunakan statistic uji t-student. Kriteria pengujian adalah H0 ditolak jika p-value lebih kecil dari . Perhitungan nilai Ae nilai t melalui bootsrapping (Hair et al, 2014 HASIL Prinsip kategorisasi rata-rata skor tanggapan responden. Sugiyono . yaitu berdasarkan rentang skor maksimum dan skor minimum dibagi jumlah kategori yang diinginkan menggunakan rumus sebagai berikut: Skor Maksimum Oe Skor Minimum Jumlah Kategori Sehingga dapat dibuat kategori skor sebagai berikut: Tabel 1 Pedoman Kategorisasi Rata-rata Skor Tanggapan Responden Skor Tanggapan Kategori 1,00 - 1, 80 Tidak Sesuai/Tidak Pernah/Tidak Memadai/Tidak Tepat 1,81 - 2, 60 Kurang Sesuai/Pernah/Kurang Memadai/Kurang Tepat 2,61 - 3,40 Cukup Sesuai/Kadang-Kadang/Cukup Memadai/Cukup Tepat 3,41 - 4,20 Sesuai/Sering/Memadai/Tepat/Efektif 4,21 - 5,00 Sangat Sesuai/Selalu/Sangat Memadai/Sangat Tepat Implementasi budaya organisasi diukur melalui 7 dimensi dan dioperasionalisasikan menjadi 7 indikator, berikut rekapitulasi distribusi implementasi budaya organisasi. JURNAL AKUTANSI. AUDIT DAN SISTEM INFORMASI AKUTANSI (JAS. Vol. No. Juni 2017 Tabel 2 Rekapitulasi rata-rata Skor Distribusi tanggapan DPMPTSP pada Implementasi Budaya Organisasi Distribusi Tanggapan Mean Indikator Kategori Skor Tingkat mendorong karyawan 1 bersikap inovatif dan 0% 47% 34% 18% 0% 3,29 Cukup tantangan kerja Dimensi Inovasi dan pengambilan risiko 3,29 Cukup Tingkat ketelitian pada rincian yang dituntut 47% 37% 11% 0% 3,47 Sesuai oleh organisasi sesuai kondisi yang nyata Dimensi Perhatian ke rincian 3,47 Sesuai Tingkat 3 pencapaian sasaran 5% 37% 39% 18% 0% 3,29 Cukup Dimensi Orientasi Hasil 3,29 Cukup Tingkat 37% 45% 18% 0% 3,18 Cukup . keputusan manajemen Dimensi Orientasi Orang 3,18 Cukup Tingkat mendorong kerja sama 5 antar dalam 3% 34% 34% 29% 0% 3,11 Cukup Dimensi Orientasi Tim 3,11 Cukup Tingkat memotivasi karyawan 11% 55% 21% 13% 0% 3,63 Sesuai Dimensi Keagresifan 3,63 Sesuai Tingkat pertahanan status quo 37% 37% 21% 0% 3,26 Cukup didalam pengambilan Dimensi Kemantapan 3,26 Cukup Grand Mean 3,32 Cukup JURNAL AKUTANSI. AUDIT DAN SISTEM INFORMASI AKUTANSI (JAS. Vol. No. Juni 2017 Berdasarkan tabel diatas dapat dilihat bahwa hasil perhitungan skor total ratarata secara keseluruhan . rand mea. dari variabel budaya organisasi sebesar 3,32 berada di antara interval 2,61Ae3,40. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa budaya organisasi pada DPMPTSP dikategorikan cukup. Grand Mean sebesar 3,32 ekuivalen dengan 66,4%. Artinya bahwa budaya organisasi pada sebagian besar DPMPTSP sudah berjalan dengan cukup sesuai karena indikator-indikator yang membentuk budaya organisasi. Gap antara skor ideal 100%, dengan skor aktual 66,4% adalah sebesar 33,6%. Seharusnya Gap ini dapat dieliminir sehingga kondisi dilapangan mengenai budaya organisasi berada pada level 100% yaitu skor optimal budaya organisasi. Implementasi pengendalian internal diukur melalui 2 dimensi dan dioperasionalisasikan menjadi 7 indikator, berikut rekapitulasi distribusi implementasi pengendalian internal. Tabel 3 Rekapitulasi rata-rata Skor Distribusi tanggapan DPMPTSP pada Implementasi Pengendalian Internal Distribusi Tanggapan Mean Indikator Kategori Skor Adanya pengendalian 18% 26% 39% 16% 0% 3,47 Sesuai aktivitas administrasi Tingkat pengendalian 18% 45% 34% 3,79 Baik pengembangan sistem dan dokumentasi Tingkat pengendalian 3 fisik hardware dan 29% 42% 24% 0% 3,16 Cukup Pengendalian 4 keamanan data dan 16% 32% 34% 18% 0% 3,45 Memadai Dimensi Pengendalian Umum 3,47 Baik 5 Pengendalian Input 21% 39% 29% 11% 0% 3,71 Baik 6 Pengendalian Proses 53% 39% 3,61 Efektif 7 Pengendalian Output 11% 32% 45% 13% 0% 3,39 Cukup Pengendalian Aplikasi 3,57 Baik Grand Mean 3,51 Baik Berdasarkan tabel diatas dapat dilihat bahwa hasil perhitungan skor total ratarata secara keseluruhan . rand mea. dari variabel budaya organisasi sebesar 3,51 berada di antara interval 3,41Ae4,20. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pengendalian internal sistem akuntasi manajemen pada DPMPTSP dikategorikan baik. Grand Mean sebesar 3,51 ekuivalen dengan 70,2%. Artinya bahwa pengendalian internal sistem informasi pada sebagian besar DPMPTSP sudah berjalan dengan baik karena pengendalian umum dan pengendalian aplikasi yang menunjang pengendalian internal sistem tersebut telah dilakukan sesuai dengan prosedur dan otorisasi yang Gap antara skor ideal 100%, dengan skor aktual 70,2% adalah sebesar 29,8%. JURNAL AKUTANSI. AUDIT DAN SISTEM INFORMASI AKUTANSI (JAS. Vol. No. Juni 2017 Implementasi kualitas sistem informasi akuntansi manajemen diukur melalui 4 dimensi dan dioperasionalisasikan menjadi 7 indikator, berikut rekapitulasi distribusi implementasi kualitas sistem informasi akuntansi manajemen. Tabel 4 Rekapitulasi rata-rata Skor Distribusi tanggapan DPMPTSP pada Kualitas Sistem Informasi Akuntansi Manajemen Distribusi Tanggapan Mean Indikator Skor Tingkat informasi dari 1 dalam dan luar 11% 50% 34% 3,66 Tingkat besarnya 2 pengaruh kombinasi 39% 45% 13% 0% 3,32 informasi non finansial Dimensi Broadscope / cakupan yang luas 3,49 Tingkat kecepatan 3 pelaporan informasi 34% 37% 24% 0% 3,21 secara sistematis Tingkat ketepatan 4 informasi yang sesuai 32% 47% 18% 0% 3,18 dengan aturan berlaku Dimensi Timeliness / ketepatan waktu 3,19 Tersedianya informasi 5 terhadap peristiwa 13% 45% 29% 13% 0% 3,58 pada waktu tertentu Tingkat fungsi yang 6 berkenaan dengan 29% 55% 11% 0% 3,29 hasil keputusan Dimensi Agregation / pengumpulan 3,43 Tingkat pengaruh keputusan terhadap 13% 50% 32% 3,71 informasi antar unit / Dimensi Integration 3,71 Grand Mean 3,42 Kategori Baik Cukup Baik Cukup Cukup Cukup Baik Cukup Baik Baik Baik Baik Berdasarkan tabel 4 diatas dapat dilihat bahwa hasil perhitungan skor total ratarata dari variabel kualitas sistem informasi akuntansi manajemen adalah 3,42 berada di antara interval 3,41 Ae 4,20 dengan kategori baik. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa kondisi kualitas sistem informasi akuntansi manajemen pada DPMPTSP baik. Grand mean sebesar 3,42 dengan ekuivalen 68,4%. Artinya tingkat kualitas sistem informasi akuntansi manajemen DPMPTSP tinggi, karena indikator pembentuk kualitas sistem informasi akuntansi manajemen. Gap antara skor ideal 100% dengan skor aktual 68,4% adalah sebesar 31,6%. Gap ini merupakan bentuk kuantifikasi atas kondisi aktual kualitas sistem informasi akuntansi manajemen, sehingga diharapkan JURNAL AKUTANSI. AUDIT DAN SISTEM INFORMASI AKUTANSI (JAS. Vol. No. Juni 2017 bisa berkurang agar tercapai kondisi yang ideal yaitu kualitas sistem informasi akuntansi manajemen yang sangat baik. Analisis Pengaruh Budaya Organisasi. Pengendalian Internal Terhadap Kualitas Sistem Informasi Akuntansi Manajemen Dimensi yang memiliki loading factor kurang 0,5 sebaiknya dikeluarkan dari Selain itu diperoleh t-value lebih besar 1,96 memiliki arti bahwa variabel manifest diketahui average varience extracted (AVE), dan composite reliability (CR) sebagai uji kecocokan variabel manifest yang mampu merefleksikan variabel Composite reability yang baik adalah yang memberikan nilai lebih besar dari 0,7 (CR>0,. sedangkan average variance extracted (AVE) yang baik adalah memberikan nilai lebih besar dari 0,5 (AVE>0,. Hasil penaksiran parameter model sebagai berikut: Tabel 5 Hasil perhitungan nilai-nilai loading factor Variabel Dimensi Budaya Organisasi Pengendalian Internal Kualitas Sistem Informasi Akuntansi Manajemen Inovasi dan pengambilan 0,859 Perhatian ke rincian 0,781 Orientasi hasil 0,747 Orientasi orang 0,730 Orientasi tim 0,756 Keagresifan 0,592 Kemantapan 0,914 Pengendalian umum 0,972 Pengendalian Aplikasi 0,979 Broadscope 0,951 Timeliness 0,761 Aggregation 0,860 Integration 0,915 Berdasarkan hasil penaksiran nila-nilai parameter model yang diperlihatkan dalam tabel diatas nilai lebih dari 0,5. Gambar 1 Diagram jalur loading factor JURNAL AKUTANSI. AUDIT DAN SISTEM INFORMASI AKUTANSI (JAS. Vol. No. Juni 2017 Penelitian ini pada PLS-SEM alghoritm mempunyai maximum number iteration adalah 300 dan the stop criterion adalah 10a . ,00. serta skema pembobotan menggunakan path dengan initial weight adalah 1,00. Model pengukuran budaya organisasi Variabel budaya organisasi dapat diukur menggunakan 7 dimensi yaitu Inovasi dan pengambilan risiko. Perhatian ke rincian. Orientasi hasil. Orientasi orang. Orientasi tim. Keagresifan. Kemantapan. Hasil estimasi parameter model pengukuran variabel ini diperhatikan pada gambar 2. Gambar 2 Diagram Jalur Budaya Organisasi Tabel 6 Hasil perhitungan model pengukuran budaya organisasi Loading Indicator Item t-hitung p-value Faktor Reliability Inovasi dan pengambilan risiko Perhatian ke rincian Orientasi hasil Orientasi orang Orientasi tim Keagresifan Kemantapan Average Variance Extracted (AVE) Composite Reliability (CR) 0,859 0,781 0,747 0,730 0,756 0,592 0,828 0,729 0,691 0,698 0,719 0,631 0,880 6,758 4,349 3,479 5,012 4,255 4,074 7,447 0,000 0,000 0,001 0,000 0,000 0,000 0,000 0,599 0,912 Outer loading dari kontruk reflektif pengukuran budaya organisai semuanya bernilai diatas 0,50. Dimensi inovasi dan pengambilan risiko mempunyai nilai loading 0,859 dan signifikan . =0,. pada taraf nyata 5%. Dimensi ini mempunyai nilai indicator reliability tertinggi . Kemudian dimensi perhatian pada rincian mempunyai nilai loading 0,781 dan signifikan . =0,. pada taraf nyata 5%. Dimensi ini mempunyai nilai indicator reliability tertinggi . JURNAL AKUTANSI. AUDIT DAN SISTEM INFORMASI AKUTANSI (JAS. Vol. No. Juni 2017 Selanjutnya dimensi orientasi hasil mempunyai nilai loading 0,747 dan signifikan . =0,. pada taraf nyata 5%. Dimensi ini mempunyai nilai indicator reliability tertinggi . Sedangkan dimensi orientasi orang mempunyai nilai loading 0. dan signifikan . =0,. pada taraf nyata 5%. Dimensi ini mempunyai nilai indicator reliability tertinggi . Kemudian dimensi orientansi tim mempunyai nilai 756 dan signifikan . =0,. pada taraf nyata 5%. Dimensi ini mempunyai nilai indicator reliability tertinggi . Selanjutnya dimensi keagresifan mempunyai nilai loading 0. 592 dan signifikan . =0,. pada taraf nyata 5%. Dimensi ini mempunyai nilai indicator reliability tertinggi . Sedangkan dimensi kemantapan mempunyai nilai loading 0. 914 dan signifikan . =0,. pada taraf nyata 5%. Dimensi ini mempunyai nilai indicator reliability tertinggi . Nilai composit reliability 0,912 diatas ambang atas 0,70 menunjukkan bahwa konstruk budaya organisasi mempunyai tingkat internal consistency reliability yang tinggi. Dilain pihak nilai AVE sebesar 0,599 diatas tingkat minimum yang diminta 0,50, maka ukuran-ukuran dari kontruk reflektif ini mempunyai tingkat convergent validity yang tinggi. Discriminant validity yang diuji melalui cross loading (Tabel 4. menunjukkan bahwa ketujuh dimensi mempunyai nilai loading tertinggi untuk konstruknya sedangkan semua cross loading dengan konstruk-konstruk adalah rendah, sehingga memberikan bukti untuk discriminant validity konstruk budaya organisasi. Tabel 7 Cross Loading (Konstruk Budaya Organisas. Item Ksiam Inovasi dan pengambilan risiko 0,859 0,290 0,398 Perhatian ke rincian 0,781 0,168 0,339 Orientasi hasil 0,747 0,247 0,242 Orientasi orang 0,730 0,260 0,303 Orientasi tim 0,756 0,348 0,315 Keagresifan 0,592 0,486 0,530 Kemantapan 0,914 0,332 0,401 Model pengukuran Pengendalian Internal Variabel pengendalian internal dapat diukur menggunakan dua dimensi yaitu pengendalian umum dan pengendalian aplikasi. Hasil estimasi parameter model pengukuran variabel ini diperhatikan pada gambar 4. Gambar 3 Diagram Jalur Pengendalian Internal JURNAL AKUTANSI. AUDIT DAN SISTEM INFORMASI AKUTANSI (JAS. Vol. No. Juni 2017 Tabel 8 Hasil perhitungan model pengukuran pengendalian internal Loading Indicator Item t-hitung p-value Faktor Reliability Pengendalian Umum 0,972 0,971 68,745 0,000 Pengendalian Aplikasi 0,979 0,979 139,156 0,000 Average Variance Extracted (AVE) 0,951 Composite Reliability 0,975 Outer loading dari kontruk reflektif pengukuran pengendalian internal semuanya bernilai diatas 0,50. Dimensi pengendalian umum mempunyai nilai loading 0,972 dan signifikan . =0. pada taraf nyata 5%. Dimensi ini mempunyai nilai indicator reliability tertinggi . Sedangkan dimensi pengendalian aplikasi mempunyai nilai loading 0,979 dan signifikan . =0,. pada taraf nyata 5%. Dimensi ini mempunyai nilai indicator reliability tertinggi . Nilai composit reliability 0,975 berada diatas ambang batas 0,70 sehingga menunjukkan bahwa konstruk pengendalian internal mempunyai tingkat internal consistency reliability yang baik. Nilai AVE sebesar 0,951 berada diatas tingkat minimum yang diminta 0,50, maka ukuran-ukuran dari konstruk reflektif ini mempunyai tingkat convergent validity yang Discriminant validity yang diuji melalui cross loading (Tabel 4. menunjukkan bahwa kedua dimensi mempunyai nilai loading tertinggi untuk konstruknya sedangkan semua cross loading dengan kontruk-kontruk adalah rendah, sehingga memberikan bukti untuk discriminant validity konstruk pengendalian internal. Tabel 9 Cross Loading (Konstruk Pengendalian Interna. Item Ksiam Pengendalian Umum 0,375 0,972 0,747 Pengendalian Aplikasi 0,442 0,979 0,854 Model Pengukuran Kualitas Sistem Informasi Akuntansi Manajemen Variabel kualitas sistem informasi akuntansi manajemen dapat diukur menggunakan 4 dimensi yaitu Broadscope (Cakupan yang lua. Timeliness (Ketepatan wakt. Aggregation (Pengumpula. Integration (Penggabunga. Dimensi ini adalah dimensi reflektif. Hasil estimasi parameter model pengukuran variabel ini diperhatikan pada gambar 4 Gambar 4 Diagram Jalur Kualitas Sistem Informasi Akuntansi Manajemen JURNAL AKUTANSI. AUDIT DAN SISTEM INFORMASI AKUTANSI (JAS. Vol. No. Juni 2017 Selanjutnya bisa dilihat dari analisis model pengukuran variabel kualitas sistem informasi akuntansi dengan melihat loading factor, indicator reliability, thitung, serta p-value seperti yang tersajikan dibawah ini : Tabel 10 Hasil perhitungan model pengukuran Kualitas Sistem Informasi Akuntansi Manajemen Loading Indicator Item t-hitung Factor Reliability Broadscope (Cakupan yang lua. Timeliness (Ketepatan Wakt. Aggregation (Pengumpula. Integration (Penggabunga. Average Variance Extracted (AVE) Composite Reliability 0,951 0,761 0,860 0,915 0,942 25,220 0,752 6,880 0,845 11,774 0,920 30,774 0,765 0,928 0,000 0,000 0,000 0,000 Outer loading dari kontruk reflektif pengukuran kualitas sistem informasi akuntansi manajemen semuanya bernilai diatas 0,50. Dimensi Broadscope atau cakupan yang luas mempunyai nilai loading 0,951 dan signifikan . =0. pada taraf nyata 5%. Dimensi ini mempunyai nilai indicator reliability tertinggi . Kemudian dimensi Timeliness atau ketepatan waktu mempunyai nilai loading 0,761 dan signifikan . =0,. pada taraf nyata 5%. Dimensi ini mempunyai nilai indicator reliability tertinggi . Selanjutnya dimensi aggregation atau pengumpulan mempunyai nilai loading 0,860 dan signifikan . =0,. pada taraf nyata 5%. Dimensi ini mempunyai nilai indicator reliability tertinggi . Sedangkan dimensi integration atau kesatuan informasi mempunyai nilai loading 0,915 dan signifikan . =0,. pada taraf nyata 5%. Dimensi ini mempunyai nilai indicator reliability tertinggi . Nilai composite reliability 0,928 diatas ambang atas 0,70 menunjukkan bahwa konstruk kualitas sistem informasi akuntansi manajemen mempunyai tingkat internal consistency reliability yang tinggi. Dilain pihak nilai AVE sebesar 0,765 diatas tingkat minimum yang diminta 0,50, maka ukuran-ukuran dari kontruk reflektif ini mempunyai tingkat convergent validity yang tinggi. Discriminant validity yang diuji melalui cross loading (Tabel 4. menunjukkan bahwa ketujuh dimensi mempunyai nilai loading tertinggi untuk konstruknya sedangkan semua cross loading dengan kontruk-kontruk adalah rendah, sehingga memberikan bukti untuk discriminant validity konstruk kualitas sistem informasi akuntansi manajemen. Tabel 11 Cross Loading (Konstruk Kualitas Sistem Informasi Akuntansi Manajeme. Item Ksiam Broad Scope (Cakupan yang lua. 0,451 0,697 0,951 Timeliness (Ketepatan Wakt. 0,285 0,632 0,761 Aggregation (Pengumpula. 0,457 0,615 0,860 Integration (Penggabunga. 0,525 0,888 0,915 Pengujian Collinearity Untuk mengevaluasi collinearity digunakan ukuran variance inflation factor (VIF), dalam konteks PLS-SEM, nilai toleransi 0,20 atau kurang dan nilai VIF 5 atau lebih menunjukkan terdapat problem collinearity (Hair et al, 2014:. JURNAL AKUTANSI. AUDIT DAN SISTEM INFORMASI AKUTANSI (JAS. Vol. No. Juni 2017 Tabel 12 Penilaian Collinearity Konstruk VIF Budaya Organisasi 1,215 Pengendalian Internal 1,215 Pengujian Hipotesis Kriteria pengujian adalah H0 ditolak jika p-value lebih kecil dari , dengan = 0,05. Hasil pengujian dirangkum pada tabel dibawah ini: Tabel 13 Hasil Pengujian Hipotesis Hipotesis Statistik H0 : 11 = 0 H1 : 11 O 0 H0 :12 = 0 H1 : 12 O 0 Koefisien Jalur P-values Keterangan 0,187 1,988 0,047 H1 diterima 0,746 10,841 0,000 H1 diterima Hasil Pengujian Hipotesis 1 Berdasarkan tabel 4. 27 dapat dilihat thitung variabel budaya organisasi 1,988 lebih besar dari tkritis . yang berarti hasil uji hipotesis 1 adalah H0 ditolak, maka kesimpulan statistiknya adalah budaya organisasi memberikan pengaruh signifikan terhadap kualitas sistem informasi akuntansi manajemen. Besar pengaruh budaya organisasi terhadap kualitas sistem informasi akuntansi manajemen sebesar 0,187. Koefisien besar pengaruh ini menunjukkan kenaikan budaya organisasi sebesar satu standar deviasi akan menyebabkan kenaikan kualitas sistem informasi akuntansi manajemen sebesar rata-rata 0,187 standar deviasi, dengan menganggap yang lain konstan. Berdasarkan hasil perhitungan diperoleh f2 sebesar 0,099. Karena nilai f2 dibawah 0,15 . atasan nilai effect size smal. maka dapat dinyatakan effect size untuk budaya organisasi terhadap kualitas sistem informasi akuntansi adalah Hasil Pengujian Hipotesis 2 Berdasarkan tabel 4. 27 dapat dilihat thitung variabel pengendalian internal 10,841 lebih besar dari tkritis . yang berarti hasil uji hipotesis 2 adalah H0 ditolak, maka kesimpulan statistiknya adalah pengendalian internal memberikan pengaruh signifikan terhadap kualitas sistem informasi akuntansi manajemen. Berdasarkan hasil perhitungan diperoleh f2 sebesar 1,573. Karena f2 diatas 0,35 . atasan nilai effect size tingg. maka dapat dinyatakan effect size untuk pengendalian internal terhadap kualitas sistem informasi akuntansi adalah large. Ukuran lain yang digunakan untuk mengevaluasi model struktural adalah koefisien determinasi (R. Hasil perhitungan R2 = 0,709. Sehingga dapat disimpulkan bahwa 70,9% varians dalam variabel kualitas sistem informasi akuntansi manajemen dijelaskan oleh variabel budaya organisasi dan pengendalian internal, sisanya dijelaskan oleh factor lain. JURNAL AKUTANSI. AUDIT DAN SISTEM INFORMASI AKUTANSI (JAS. Vol. No. Juni 2017 PEMBAHASAN Hasil pengujian kecocokan model untuk outer model yang dispesifikasikan berdasarkan operasionalisasi variabel dengan mempertimbangkan orientansi reflektif menunjukkan convergent validity yaitu kolerasi antara item score dengan construct score menunjukkan outer loading pada rentang 0,5-0,9. Hal ini memberikan arti bahwa variabel manifest memiliki kemampuan cukup tinggi dalam merefleksikan variabel latennya. Dan menunjukkan thitung diatas tkritis 1,96. Untuk discriminant validity yaitu validitas dari konstruk yang terbentuk dilihat berdasarkan nilai Average Variance Extracted (AVE) semua variabel berada pada rentang 0,599 Ae 0,961 dimana direkomendasikan nilai AVE adalah lebih besar dari 0,50. Selanjutnya evaluasi model pengukuran/measurement model . uter mode. juga dapat dilihat dari nilai composite reliability (CR) dimana nilai composite reliability lebih besar dari 0,70 hasil ini sesuai yang diharapkan. Semakin besar Gof (Goodness Of Fi. maka semakin fit suatu model. Hasil pengujian kecocokan model untuk inner model, hipotesis diterima dengan nilai thitung diatas nilai tkritis 1,96. KESIMPULAN Berdasarkan fenomena, rumusan masalah, hipotesis, dan hasil penelitian, maka kesimpulan penelitian ini adalah sebagai berikut: Penerapan budaya organisasi di Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Kota Bandung dinilai cukup baik. Hal ini berpengaruh terhadap kualitas sistem informasi akuntansi manajemen. Pengendalian internal berpengaruh terhadap kualitas sistem informasi akuntansi Sistem informasi akuntansi manajemen dinilai belum sepenuhnya berkualitas karena pengendalian umum dan pengendalian aplikasi belum berjalan secara sempurna. Hal ini dibuktikan tidak adanya jadwal pelaporan informasi yang dibutuhkan manajemen dan tidak ada bukti penerima laporan tidak melindungi password akses data. SARAN Penerapan budaya organisasi dinilai cukup baik, namun diharapkan organisasi tidak terlepas dari tindakan pimpinan yang mampu memotivasi karyawan dalam bekerja, melakukan pengawasan terhadap pekerjaan agar memberikan hasil maksimal sesuai yang diharapkan. Selain itu, memberikan keleluasaan dalam berinovasi, mengembangkan ide-ide baru serta mengkreasikan program-program baru dalam memberikan pelayanan bagi masyarakat. Juga pemberian penghargaan terhadap ketekunan karyawan dan ketaatan peraturan dalam melakukan pekerjaan. Pengendalian internal dapat berjalan secara efektif dalam menjamin kualitas sistem informasi akuntansi manajemen, tetapi harus mengoptimalkan jadwal pemeliharaan peralatan secara periodik baik hardware maupun software agar tidak terjadi error atau corrupt data dan mengoptimalkan pencatatan peralatan yang sudah usang maupun rusak serta peralatan tersebut diperbaiki tepat pada waktunya agar tidak menghambat serta meningkatkan proses pekerjaan. DAFTAR PUSTAKA